KASKUS

Pos TNI AL, Penjaga Wilayah Perbatasan Perairan Kepulauan Nias

Tugas pengamanan perairan Kepulauan Nias, selain Polairud, juga menjadi tanggung jawab TNI, yakni Pos TNI Angkatan Laut (Pos AL). Menjaga garis batas wilayah perairan kepulauan Nias tentu tidaklah mudah. Berbagai tantangan dan hambatan harus siap dihadapi oleh para personel TNI AL yang bertugas di Kepulauan Nias. Apa hambatan dan tantangan hadapi dalam menjaga kedaulatan NKRI di perairan kepulauan Nias?

Kepulauan Nias terletak di jajaran terdepan kepulauan Indonesia bagian barat. Provinsi Sumatera Utara mencatat ada sedikitnya 156 pulau berada di wilayah pantai barat. Kepulauan Nias pun dikepung oleh ratusan pulau kecil, baik berpenghuni maupun tidak berpenghuni.

Untuk kepulauan Nias tercatat memiliki sedikitnya 132 pulau. Dua di antaranya adalah pulau terdepan, yakni pulau Simuk dan pulau Wunga di Samudera Hindia yang berbatasan langsung dengan India.

Letda Laut (P) TB Gunawan

Pos AL Gunungsitoli dan Pos AL Nias Selatan adalah bagian dari Pangkalan TNI AL (Lanal) Sibolga di bawah komando Letkol Laut (P) Ivan Gatot Prijianto, SE. Sebagai salah satu jajaran di bawah Komando Armada RI Wilayah Barat (Koarmabar). Keberadaan Posal memiliki arti penting dalam menjaga kedaulatan NKRI di wilayah perairan kepulauan Nias.

Khusus untuk Posal Gunungsitoli menjaga perairan Kabupaten Nias Barat—ada Pos AL Sirombu, Nias Utara—Pos AL Lahewa, Kabupaten Nias, dan Kota Gunungsitoli. Dengan didukung hanya dengan 7 personel TNI AL yang menjaga seluruh wilayah tersebut tentu bukanlah hal yang mudah.

Komandan Pos TNI AL Gunungsitoli Letda Laut (P) TB Gunawan, kepada NBC mengatakan, “Fungsi dan tugas TNI AL di kepulauan Nias adalah sebagai aparat militer angkatan laut tugasnya menjaga keamanan di perairan kepulauan Nias. Mengingat kepulauan Nias memiliki kekayaan laut yang luar biasa, serta letaknya yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, membuat kepulauan Nias sangat rawan dengan keberadaan kapal-kapal asing yang melewati kepulauan Nias dengan tujuan yang beraneka ragam.”

Kerawanan Patut Diwaspadai

Belum lama ini kita telah mengetahui dari pemberitaan NBC tentang 58 pengungsi dari Sri Lanka yang terdampar di Pulau Wunga, Kecamatan Afulu, Kabupaten Nias Utara. Kepada NBC, TB Gunawan mengatakan, “Kejadian pengungsi atau imigran gelap yang terdampar di kepulauan Nias itu sebenarnya sudah sering terjadi. Kejadian kemarin itulah yang baru terekspose oleh media. Biasanya mereka adalah pengungsi atau orang-orang tertindas di negara-negara konflik, seperti Irak, India, Sri Lanka, dan Banglades, yang mencari suaka ke sejumlah negara yang berdekatan wilayahnya dengan mereka.”

Menurut TB Gunawan, selain kedatangan kapal nelayan asing yang dipenuhi oleh pengungsi atau imigran gelap, kepulauan Nias sangat rawan dengan kedatangan nelayan asing yang mencuri ikan di wilayah perairan kepulauan Nias.

“Kapal nelayan asing ini biasanya menggunakan bom ikan, pukat harimau atau potas alias racun ikan. Di wilayah Nias Barat kami akui masih banyak terjadi pencurian ikan dengan menggunakan bom ikan dan pukat harimau. Ini kalo dibiarkan, bisa mengganggu biota laut dan ekosistem laut kepulauan Nias, “

“Kasihan kan nelayan kita, mereka yang terkena dampaknya. Rata-rata nelayan dari kepulauan Nias menangkap ikan dengan menggunakan perahu di bawah 5 gross ton (GT). Ada juga yang memakai perahu 5 GT, tetapi jumlahnya tidak banyak. Bila tangkapan mereka sedikit akibat ikan yang tidak mau mendekat karena ekosistem rusak dan dampak penggunaan potas,” ujarnya.

Selain itu, kata Gunawan, masih ada bentuk kerawanan lain yang sering terjadi di kepulauan Nias, yaitu penyelundupan barang, perdagangan manusia (human trafficking), dan terorisme.

Kendala Utama Pos AL Gunungsitoli

Menjaga perairan kepulauan Nias tentu bukan perkara mudah. Apalagi bila melihat kondisi cuaca kepulauan Nias yang cepat berubah. Selain itu Pos AL Gunungsitoli ternyata tidak didukung sarana yang cukup memadai.

“Kami melakukan patroli rutin di laut seminggu 2-3 kali dengan menyewa kapal nelayan. Meski anggaran terbatas, kegiatan itu tetap kami laksanakan demi menjaga batas perairan kepulauan Nias. Saat ini kami hanya memiliki sebuah perahu karet yang digunakan bila cuaca cerah dan jarak tempuh dekat,” ujarnya.

Mengingat terbatasnya jumlah personel dan begitu luasnya wilayah yang perairan kepulauan Nias, Komandan Posal Gunungsitoli TB Gunawan— yang baru menjabat sebagai Komandan Pos AL Gunungsitoli selama 2 bulan ini—mengatakan, “Selama ini kami berkoordinasi dengan Muspida, Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP), dan Polisi Air dan Udara (Polairud) juga masyarakat khususnya nelayan dalam melakukan kegiatan.”

Tertangkapnya 58 imigran gelap, beberapa waktu lalu, kata Gunawan, merupakan salah satu bentuk koordinasi yang sangat baik dengan berbagai pihak. “Awalnya kami mendapat telepon dari anggota KPLP yang berada di Kecamatan Afulu. Lalu setelah berkoordinasi dengan pihak kepolisian juga Polairud dan Pemkab Nias Utara, semua imigran gelap dapat dievakuasi dari Pulau Wunga. Semoga saja hal ini dapat terus berlanjut, mengingat keterbatasan dalam menjaga peraiaran wilayah kepulauan Nias,” ujar TB Gunawan.

TB Gunawan mengimbau, masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah pesisir agar turut menjaga keamanan di perairan kepulauan Nias. Bila mencurigai kapal asing dapat menghubungi petugas KPLP terdekat atau dapat melapor ke Pos AL terdekat. Menjaga keamanan perairan kepulauan Nias adalah tanggung jawab kita bersama.

sumber: http://www.nias-bangkit.com/2013/05/...epulauan-nias/

============================

miris dengan perlatan yg dimiliki. semoga segera ada perbaikan
pos terdepan yang mengawasi ZEE pake kapal nelayan?
wow pake kapal nelayan, ternyata multirole juga kapal nelayan
nyewa kapal nelayan? apakah ini teknik penyamaran?

kadang lebih miris dari yang dibayangkan
duh piye mosok patroli pake kapal nelayan sewa meneh??
BTW OOT om nyot barusan tadi ada flight helicopter lewat daerah ane, dari arah selatan menuju utara, isinya bnyk ada mi 17(camo UN) mi 35 dll yg depan gak kelihatan ?? apakah di jakarta ada LATGAB jg om??
ngetawain malaysia yg di deketin PLAN, giliran nengok ZEE sendiri...yg jaga pake kapal nelayan

akibat ketidak tersediaan kapal patroli? ato tempat maintenance terlalu jauh sehingga tingkat kesiapan menurun?


ampe keselek aer baca ini,,, patroli rutin seminggu 2-3 kali dengan nyewa kapal nelayan yang dilengkapi darto 2000, n cal 5,56,,
*floreal nya,, floreal nya,, murah,, murah,, ditawar,, ditawar,, *
Quote:Original Posted By dr.retro26
ngetawain malaysia yg di deketin PLAN, giliran nengok ZEE sendiri...yg jaga pake kapal nelayan



ironis dan miris
Quote:Original Posted By 18s

*floreal nya,, floreal nya,, murah,, murah,, ditawar,, ditawar,, *


aji mumpung...
kalo TNI bawa perahu nelayan itu namanya sishankamrata, rakyat dan TNI bersatu padu dalam patroli
Quote:Original Posted By cherrybombers


aji mumpung...



*floreal on the way*
Quote:Original Posted By 18s



*floreal on the way*


disalip sama fremm ditengah jalan

back to the topic :
klo gini ceritanya, buat nguber maling ikan juga susah to
Quote:Original Posted By 18s


ampe keselek aer baca ini,,, patroli rutin seminggu 2-3 kali dengan nyewa kapal nelayan yang dilengkapi darto 2000, n cal 5,56,,
*floreal nya,, floreal nya,, murah,, murah,, ditawar,, ditawar,, *

sales strooooong

nyumbang peta citra



POS SIRAMBU
KORDINAT | lat : 0.942153
long : 97.410282
Spoiler for Pos sirombu:


POS Gunungsitoli
Lat : 1.289655
long : 97.620315
Spoiler for Pos gunungsitoli:


Pos lahewa
lat : 1.396433
long : 97.171025
Spoiler for pos lahewa:
kurasa ini yg namanya asimetris warfare ya?
Quote:Original Posted By cherrybombers
akibat ketidak tersediaan kapal patroli? ato tempat maintenance terlalu jauh sehingga tingkat kesiapan menurun?


udah kapalnya terbatas, maintenance ny juga terbatas, BBM nya juga terbatas IMHO K-40 mungkin cocok untuk kondisi seperti ini. yang penting patroli rutin.
buset, miris amat.
mau patroli aja, harus sampe nyewa kapal nelayan
Quote:Original Posted By princeville


udah kapalnya terbatas, maintenance ny juga terbatas, BBM nya juga terbatas IMHO K-40 mungkin cocok untuk kondisi seperti ini. yang penting patroli rutin.


ho oh.. melas bener denger nya.. K 40 itu kyk apa sih?
Quote:Original Posted By cherrybombers


ho oh.. melas bener denger nya.. K 40 itu kyk apa sih?


KCR 40, brhubung cuman 28 knot jadi C nya hilang dan karena tidak bawa rudal maka R nya hilang. cocokkan buat patroli tp selama radar, navigasi, sistem komunikasi terintegrasi dengan KRI