Quote:Original Posted By Gathez

apakah klo si anak yg umur dibawah 7 tahun ini lulus di tes tersebut bisa masuk SD?
apakah secara administrasi boleh menggeser anak yg udah 7 tahun tapi gk lulus di tes tersebut?
soalnya ane pernah liat ada SD yg prioritas utama anak masuk SD itu di liat dr umurnya dulu.


secara otak sih 7 tahun udah matang,
tapi kalo masalah birokrasi ane engga tau apa apa

Quote:Original Posted By nekotsuki


nah ini yg penyelenggaraannya berbeda ditiap tempat, kalo sd negeri biasanya memang saklek 7 tahun baru bisa masuk
kecuali kalo maen belakang
kalo swasta biasanya membebaskan usia masuk sekolah asal lulus tes psikolgi dan tes tertulis ada juga sekolah swasta yg ngga pake tes masuk
cmiiw yaa


setujuuu mom....

Quote:Original Posted By nekotsuki


lah sd negeri dideket rumah gw sih strict 7 tahun baru bisa masuk, kalo dibawah itu mesti ada surat lampiran hasil tes kesiapan masuk sekolah

prasaan dari taun2 kamaren udah dicanangkan usia masuk sd 7 tahun tapi dilapangan ya sama aja usia 6,5 tahun pun bisa masuk


Setuju buat mom lagii......
Quote:Original Posted By d33k3y
btw, sharing aja
gw baru bisa baca pas mo naek kelas 2 SD



heeeee ane dari Tk O kecil, heeee
#curhat.com
Quote:Original Posted By d33k3y
btw, sharing aja
gw baru bisa baca pas mo naek kelas 2 SD



sama oom gw juga, abis itu dari kelas 4 - 6 sd dapet ranking 5 besar terus tapi smp turun drastis :'(
tapi guru jaman dl lebih telaten dibanding skrg, guru yg ngajarin gw calistung jg udah meninggal
Quote:Original Posted By nekotsuki


kalo di terminologi ilmu parenting mental hectic berkaitan dengan si anak stres secara mental, akibat menerima muatan melebihi kapasitas otaknya
kalo boleh diterjemahkan bebas adalah “keributan / kekacauan mental” dan anak bisa menjadi pemberontak

banyak ortu yg ributin sd ada tes calistung, dan mereka "takut" pada tes masuk tersebut
padahal ngajarin anak calistung dasar itu bentar kok asal intens, jadi kalo buat gw pribadi ngajarin calistung secara intensnya ntar aja anak umur 5 tahun

oiya tes masuk sd ada 2 lagi : tes psikologi dan kesiapan anak, ini menurut gw yg lbh penting disiapin jadi kalo anaknya dibawah usia 7 tahun ada tes untuk melihat apakah secara mental dia sudah cukup siap masuk sd?



Dari pengertian saya, kata "hectic" ini masuk kategori adjective yg menjelaskan kata benda (noun). In a simple construct, attributive adjective di English language mendahului kata benda yg diterangkan. Jadi "mental hectic" adalah construct yg keliru berdasarkan proper English grammar. Berdasarkan hal ini, saya menebak bhw terminology ini bukan diperkenalkan oleh native speakers of English. Melainkan oleh non-native speakers of English yg tidak mengerti proper English grammar. Dari google search yg saya lakukan, the term "mental hectic" hanya muncul di sites berbahasa Indonesia. Jadi saya berkesimpulan, terminology ini dipakai oleh speakers of Indonesian language. So it makes sense now kenapa kok grammar nya ngawur.

"hectic" sendiri berarti busy, frantic, full of activities ... namun tidak necessarily digunakan to express lack of organization (kekacauan). A "hectic mind" is a busy mind. Not necessarily a bad thing. A "hectic mental" ... well ... never heard of such term .... perhaps a "hectic mentality" makes more sense.

Kalau memang terminology ini ditemukan di Indonesia, kenapa sih harus pakai bahasa Inggris segala? Biar kedengaran keren? Biar tampaknya ahli, begitu? Mengapa tidak menggunakan terminology bahasa Indonesia saja?

Kalau membaca deskripsi anda ttg "mental hectic" <smile> ... saya melihat lebih pas bila disebut "mental overload". Tapi sebenarnya yg overload ini kan bukan mental si anak, melainkan otaknya. Kalau anak mengalami brain overload atau over-capacity, maka bisa dimengerti kalau anak2 menjadi lelah. Bila ini terus dipaksakan, sedangkan si anak tidak mampu utk mencapai milestones yg ditargetkan (oleh guru dan/atau orang tua), maka akan timbul rasa kecewa dan frustrasi pada si anak itu sendiri. Ini yg dapat mengakibatkan timbulnya depression pada anak, which is a mental state. So "mental exhaustion" (which I think is a more appropriate term than "mental hectic") is a secondary by-product created by overloading the kids' brain with various learning processes with intensity and quantity beyond their normal brain capacity in a continuous manner with inadequate rest and recuperation period.

Call me a skeptic ... cuma setiap kali saya membaca atau mendengar "ilmu parenting" ... saya mesem2 sendiri. Parenting itu common sense skills. Kalau manusia dewasa punya nalar dan hati nurani, maka mereka akan menjadi good parents dan akan menemukan "their own" parenting style yg effective utk "their own children & family". Apakah ini applicable to children in other family? Possibly, namun akan lebih baik bila parenting skills dan style ini dikembangkan oleh parents themselves. Parents bisa menimba pengalaman dari other parents, namun hendaknya digunakan hanya sebagai references, bukan models to copy.
Quote:Original Posted By d33k3y
btw, sharing aja
gw baru bisa baca pas mo naek kelas 2 SD



Nggak apa2 kok. Saya juga baru bisa baca lancar di kelas 1 SD. Toh selanjutnya saya dapat nilai tertinggi saat lulus SD, SMP, dan SMA. Saya menyelesaikan 2 jurusan S1 yg saya ambil secara bersamaan in 4 years dengan predikat Summa Cum Laude (IP 3.93), lalu S2 (IP 4.0), S3 (IP 4.0), dan sekarang berprofesi sbg Senior R&D scientist di salah satu US defense companies. No calistung for me sebelum SD and I am proud to say that I had a happy childhood where I played and explored my world as a kid. My parents allowed me to have all these fun and happy times without compromising my academic strength.

Saya menerapkan konsep yg serupa dalam membesarkan kedua putri saya. Kadang2 justru saya dan istri saya yg menyuruh mereka utk relax and move away from their school books for a while. Sejauh ini IP mereka berdua di SMP tetap 4.0 (all As).

Saya betul2 tidak mengerti dengan obsession from today's parents (terutama di Indonesia) yg ingin anak2 mereka menjadi superstar di sekolah dengan cara apapun. Ada thread sebelah yg membahas "bagaimana bikin anak jadi jenius" ... terus terang TS di thread itu bikin saya ngakak. Jenius kok bisa dibikin?? Dari diskusi di thread itu saya bisa meraba bagaimana orang tua masa kini ingin mendapat the prestige dengan menjadikan anak2 mereka lebih pandai dibanding anak2 lain.

Yg ingin saya tanyakan ke orang tua seperti ini ... bagaimana prestasi akademik anda di masa anak2 dan remaja dulu? Do you lead your children by examples? Or do you simply wish to make up for your failure to be an academic star when you were younger by forcing your kids to be one now? Remember, education is all about expanding the kids' minds ... not about bringing prestige to the parents so they can boast about how smart their children are.
Quote:Original Posted By TheLostSoul


Betul, ini yang aku dengar, di SD sekarang maunya guru kelas 1 ga usah susah2 ngajarin baca tulis, langsung ke materi hapalan dan logika.


Saya udah ngobrol dengan 4 guru kelas 1 SD di Jawa Timur (Malang dan Mojokerto), memang rasanya masih kurang, tapi setidak-tidaknya nggak semua guru kelas 1 seperti itu juga.

2 guru mengatakan itu adalah kebijakan dari sekolah. Saya tanya 'Sekolah' siapa ini ? Kepala sekolah dan team penerimaan katanya. Tapi dia sendiri nggak minta anak harus bisa calistung saat masuk SD, karena dia paham bahwa calistung itu memang baru bisa diajarkan di kelas 1. Syarat masuk SD'nya memang begitu (wajib mahir calistung), tapi pada kenyatannya, masih ada 4-5 siswa baru yang nggak bisa calistung tapi lulus juga akhirnya masuk SD negeri tersebut. Dan dia sama sekali nggak keberatan untuk ngajarin calistung mulai dari nol.

1 guru agak ngeselin jawabannya. Dia bilang memang harus bisa, saya tanya sumbernya dari mana ? dari kepala sekolah juga katanya. Dasar hukumnya mana ? Itu keputusan kepala sekolah dan wajib ditaati. Kalo memang nggak lulus ya suruh cari SD swasta aja.. (Mung iso ngelus dodo wae, kok yo ono model guru koyo ngene...)

1 orang lagi jawab memang harus bisa karena content dan indikator yang mesti dikejar untuk anak kelas 1 sudah berat. Seberat apa sih ? Kok sampe harus bisa calistung dulu ? Waktu yang terbatas nggak bisa ditambah dengan beban ngajarin calistung dulu. Emang ngajarin calistung anak kelas 1 lama ? Tergantung anaknya juga, tapi kalo gurunya cuma fokus ngajarin calistung beberapa anak saja, anak yang laen gimana pelajarannya ?.

So, beberapa guru emang paham, dan kayaknya masih banyak yang nggak paham-paham amat...

Ini yang baru dapat, nggak tahu dah disosialisasikan atau belum :
http://setkab.go.id/nusantara-6991-m...-masuk-sd.html
Quote:Original Posted By garandman



Dari pengertian saya, kata "hectic" ini masuk kategori adjective yg menjelaskan kata benda (noun). In a simple construct, attributive adjective di English language mendahului kata benda yg diterangkan. Jadi "mental hectic" adalah construct yg keliru berdasarkan proper English grammar. Berdasarkan hal ini, saya menebak bhw terminology ini bukan diperkenalkan oleh native speakers of English. Melainkan oleh non-native speakers of English yg tidak mengerti proper English grammar. Dari google search yg saya lakukan, the term "mental hectic" hanya muncul di sites berbahasa Indonesia. Jadi saya berkesimpulan, terminology ini dipakai oleh speakers of Indonesian language. So it makes sense now kenapa kok grammar nya ngawur.

"hectic" sendiri berarti busy, frantic, full of activities ... namun tidak necessarily digunakan to express lack of organization (kekacauan). A "hectic mind" is a busy mind. Not necessarily a bad thing. A "hectic mental" ... well ... never heard of such term .... perhaps a "hectic mentality" makes more sense.

Kalau memang terminology ini ditemukan di Indonesia, kenapa sih harus pakai bahasa Inggris segala? Biar kedengaran keren? Biar tampaknya ahli, begitu? Mengapa tidak menggunakan terminology bahasa Indonesia saja?

Kalau membaca deskripsi anda ttg "mental hectic" <smile> ... saya melihat lebih pas bila disebut "mental overload". Tapi sebenarnya yg overload ini kan bukan mental si anak, melainkan otaknya. Kalau anak mengalami brain overload atau over-capacity, maka bisa dimengerti kalau anak2 menjadi lelah. Bila ini terus dipaksakan, sedangkan si anak tidak mampu utk mencapai milestones yg ditargetkan (oleh guru dan/atau orang tua), maka akan timbul rasa kecewa dan frustrasi pada si anak itu sendiri. Ini yg dapat mengakibatkan timbulnya depression pada anak, which is a mental state. So "mental exhaustion" (which I think is a more appropriate term than "mental hectic") is a secondary by-product created by overloading the kids' brain with various learning processes with intensity and quantity beyond their normal brain capacity in a continuous manner with inadequate rest and recuperation period.

Call me a skeptic ... cuma setiap kali saya membaca atau mendengar "ilmu parenting" ... saya mesem2 sendiri. Parenting itu common sense skills. Kalau manusia dewasa punya nalar dan hati nurani, maka mereka akan menjadi good parents dan akan menemukan "their own" parenting style yg effective utk "their own children & family". Apakah ini applicable to children in other family? Possibly, namun akan lebih baik bila parenting skills dan style ini dikembangkan oleh parents themselves. Parents bisa menimba pengalaman dari other parents, namun hendaknya digunakan hanya sebagai references, bukan models to copy.



Ilmu parenting itu tidak menilik pada satu gaya pola asuh, tapi lebih gimana ortu mau "belajar" memahami anak, mengetahui gimana cara2 menghadapi ini ketimbang main pukul ketika emosi misalnya, atau menunjukkan kasih sayang dengan mengisi waktu bersama anak ketimbang memberikan materi sebagai pengganti waktu mereka

misalnya cek trit sebelah yang ts nya cerita tetangganya hobi kdrt anak, menurut gw itu adalah contoh ortu yang clueless walau gw yakin mereka pasti sayang anak, tapi caranya salah
di bekasi deket rumah gw pernah ada anak yang akhirnya meninggal akibat kdrt oleh kedua ortunya, ketika ditanya kedua ortunya mengatakan kalau itu cara mendidik anaknya, tapi ya kok anaknya sampe mati dianiaya?

kalo buat gw ortu wajib belajar, dan gaya parenting banyak, ngga ada juga orang yang jiplak sama sekali 1 gaya parenting, pasti campur2 disesuaikan dengan kondisi si anak

misalnya dl nyokap gw tipe diktator keras, segala hukuman dari sabet sampe sundut rokok pernah dan semua terjadi tanpa sepengetahuan alm bokap
sampe sekarang gw berharap nyokap bisa sedikit lebih demokratis,

jujur, gw ngga mau jadi ortu seperti nyokap, karena itu gw terus belajar untuk menjadi ortu yang baik
TSnya ngilang
padahal pembahasannya jadi melebar
dan tambah seru nih


nyimak aja deh sekalian belajar dr para sepuh
wah bahasan seru nih..

kebetulan anak gw (22 bulan) juga gak gw paksa untuk bisa calistung, kalau pun di kenal kan dengan alphabet dan angka itu pun dalam konteks bermain, gak di paksakan, lumayan sekarang dia udah bisa mengenali huruf A..

bersukur juga gw kenal forum anak di kaskus ini, karna gak ikut2 an bersaing seperti sepuh di atas bilang yg tetangga atau temen bilang anak nya udah bisa ini itu trus kita jadi ngiri atau maksa anak kita supaya bisa sama atau bahkan lebih dari itu..

tapi kalau liat lingkungan sekitar, masuk SD sudah harus bisa calistung gw ama bini jadi bingung gimana ini nanti pas anak mulai sekolah..

nubitol mantau di pojokan aja yak...
Quote:Original Posted By gunting kuku
wah bahasan seru nih..

kebetulan anak gw (22 bulan) juga gak gw paksa untuk bisa calistung, kalau pun di kenal kan dengan alphabet dan angka itu pun dalam konteks bermain, gak di paksakan, lumayan sekarang dia udah bisa mengenali huruf A..

bersukur juga gw kenal forum anak di kaskus ini, karna gak ikut2 an bersaing seperti sepuh di atas bilang yg tetangga atau temen bilang anak nya udah bisa ini itu trus kita jadi ngiri atau maksa anak kita supaya bisa sama atau bahkan lebih dari itu..

tapi kalau liat lingkungan sekitar, masuk SD sudah harus bisa calistung gw ama bini jadi bingung gimana ini nanti pas anak mulai sekolah..

nubitol mantau di pojokan aja yak...


mulai ajarin pas usia tk a atau b aja mulai 4,5 tahun
Quote:Original Posted By Ramley
Lanjuut..

PAUD/TK itu memang hanya pengenalan huruf angka, bukan sampe calistung, apalagi wajib bisa. Klo mas Coffee (panggil mas aja ya, umurnya hampir sama kok dng saya 30an jg) masukin bocah2nya ke preschool yg active learning (setau saya yg bagus metodenya active learning itu HS) ya asal cocok sama bocahnya ya monggo. Tapi active learning itu gurunya mesti capable tingkat dewa deh kayaknya. Nggak guru-guru yg ngasal karena metodenya butuh komitmen tinggi dari gurunya buat bantu anak explore capacity. Kalo emang sekolah di HS, saya tahu disana emang bagus kok.

Kalo mau ngajarin anak calistung yg mesti diperhatikan ya minimal kondisi kesiapan anak dan kondisi umum (asupan gizi komplit, istirahat cukup, keluarga harmonis, lingkungan kondusif) dan kalo masih masuk umurnya PAUD (0-6 tahun) minimal anak memang minta diajarin. Dan kita juga mesti paham background cara belajar anak lewat apa (bisa dites atau dicoba lewat 9 kecerdasannya Gardner, mana yg cocok dicoba semua juga nggak apa-apa, ini metode pembelajaran kok, bukan sufor, jadi boleh gonta ganti sampe cocok..hehehehe). DAN JANGAN PERNAH MENARGETKAN UNTUK BISA CALISTUNG DALAM JANGKA WAKTU TERTENTU.

Saya ada sedikit share mengenai keunikan 2 saja dari 8 ponakan yg semuanya sudah bisa calistung semenjak lulus TK dan alhamdulilah sampai sekarang nggak kena mental hectic..
1.Bn suka banget belajar huruf angka kalo diajarin kakeknya karena huruf angkanya lucu katanya (tulisan dan angka bentuk latin khas jaman doeloe), dan diajarinnya nulispun di bangku taman pake kapur warna warni, sore hari setelah dia mandi (jadi gampang kalo ngajakin mandi) dan nggak lebih dari 1 jam saja (sampe maghrib biasanya)
2.Hn sukanya nulis huruf angka di tembok dng spidol, alasannya karena dia nggak suka duduk dan luas aja temboknya, minta diajarin sama emaknya sambil makan siang sampe ngantuk (+- 1 jam jg).

Maksud saya share disini adalah, dari 2 kondisi bocah diatas dengan umur dan kelamin yang sama (cowok) punya 2 cara yang sangat berbeda dalam pola belajar yang dianggap pas buat mereka. Andaikata kita mau mengajarkan anak calistung sekalipun, kita mesti paham dulu kondisi anak, kesukaan, aktifitas, kegemaran, background'nya, timing focus, daya konsentrasi, daya tahan stress, dllll. Ya kita mesti menganalisis anak satu persatu, dan jangan anggap cara mudah menurut kita mudah juga buat anak. Seringkali metode yang lebih dianggap pas buat anak bukanlah metode yang kita perkirakan.

Kalo soal penekanan di SD, jujur saja benernya PAUD ma Dikdas juga 'perang dingin' aja soal ini. Satu sisi pak direktur dah comment gitu tapi kok ya nggak koar ke orang Dikdas. Coba republika'nya komparasi dengan Direktur Dikdas, klop apa nggak tuh commentnya?? Andaikata commentnya emang klop saya yakin SD nggak mewajibkan anak mesti bisa calistung biar masuk SD. Beberapa SD negeri juga sudah menerapkan ini (nggak wajib bisa calistung biar bisa masuk). Kalo sekolah (SD) swasta setau saya semua anak pasti diterima.

Kalo soal hapalan do'a, asalkan dilakukan dengan fun, bukan paksaan bisa, dan direpeat terus saya yakin bisa kok. Mau do'a atau Ayat Kursi sekalipun pasti bisa.


HS=High Scope?

ho'oh

Quote:Original Posted By garandman


Saya setuju sama om Wira. Modus pendidikan anak usia dini dengan merangsang rasa ingin tahu anak dan memfasilitasi keinginan anak jauh lebih baik daripada pola pendidikan yg dogmatic dimana anak dipaksa utk belajar sesuatu.

Kedua anak saya (usia 14 dan 12 sekarang) tidak diajarkan calistung secara khusus sebelum mereka masuk TK. Kami memperkenalkan mereka huruf alphabet dan angka2 sejak awal, namun pendekatan yg kami lakukan lebih merupakan "play to learn". Saat ini anak saya yg kecil baru selesai 6th grade. Reading skill dia sudah sama dengan 10th grade. Kakaknya lebih jauh lagi ... dia baru selesai 8th grade, namun reading levelnya sudah mencapai undergraduate college level. Anak2 ini sudah biasa membaca buku2 classic karya Jane Austen, Elizabeth Gaskell, Emily Bronte, just to name a few.

Mereka juga sangat kuat di math. Setiap kali ada parent-teacher conference, saya selalu dengar komentar dari guru math & algebra mereka adalah ... anak2 ini bikin repot gurunya, sebab mereka cepat sekali menangkap dan menyelesaikan tugas di kelas. Kalau tidak diberi kesibukan lain, mereka akan bikin ribut (ngobrol, cekikikan, dll). Jadi oleh gurunya mereka diberikan materi pelajaran lanjutan dan problem yg lebih kompleks yg seharusnya dipelajari several grade levels above them. This will keep them quiet. But this also gives extra work for their teachers (which they are happy to do).

No calistung for these kids before they entered kindergarten. No "les dan pelajaran tambahan" either. Yg ada hanya support dari saya dan istri di rumah. But they are still skyrocketing in academic performance.


nice share

tp kenapa gw yg dikuot ya? ada bagian yg mo disanggah om?

Quote:Original Posted By garandman


Dari pengertian saya, kata "hectic" ini masuk kategori adjective yg menjelaskan kata benda (noun). In a simple construct, attributive adjective di English language mendahului kata benda yg diterangkan. Jadi "mental hectic" adalah construct yg keliru berdasarkan proper English grammar. Berdasarkan hal ini, saya menebak bhw terminology ini bukan diperkenalkan oleh native speakers of English. Melainkan oleh non-native speakers of English yg tidak mengerti proper English grammar. Dari google search yg saya lakukan, the term "mental hectic" hanya muncul di sites berbahasa Indonesia. Jadi saya berkesimpulan, terminology ini dipakai oleh speakers of Indonesian language. So it makes sense now kenapa kok grammar nya ngawur.

"hectic" sendiri berarti busy, frantic, full of activities ... namun tidak necessarily digunakan to express lack of organization (kekacauan). A "hectic mind" is a busy mind. Not necessarily a bad thing. A "hectic mental" ... well ... never heard of such term .... perhaps a "hectic mentality" makes more sense.

Kalau memang terminology ini ditemukan di Indonesia, kenapa sih harus pakai bahasa Inggris segala? Biar kedengaran keren? Biar tampaknya ahli, begitu? Mengapa tidak menggunakan terminology bahasa Indonesia saja?


you've been away for too long..

udah jamak sekarang, banyak orang kita selip2in kata2 bahasa inggris yg sebenarnya bahasa indonesia nya ada dan sederhana..

mulai dari presiden ampe tukang jualan lontong..

gw sih gpp liat gitu, meski kadang tertawa sendiri... krn begitu (contoh) presiden pidato bahasa inggris, mata nya membaca terus, dan pronounciation nya ancor

you paham ga?

Quote:Original Posted By garandman
Call me a skeptic ... cuma setiap kali saya membaca atau mendengar "ilmu parenting" ... saya mesem2 sendiri. Parenting itu common sense skills. Kalau manusia dewasa punya nalar dan hati nurani, maka mereka akan menjadi good parents dan akan menemukan "their own" parenting style yg effective utk "their own children & family". Apakah ini applicable to children in other family? Possibly, namun akan lebih baik bila parenting skills dan style ini dikembangkan oleh parents themselves. Parents bisa menimba pengalaman dari other parents, namun hendaknya digunakan hanya sebagai references, bukan models to copy.


kalo seandainya anak2nya udah gede, iya kali, lu bisa pertanyakan apa yang mereka cari sebenernya dari 'parenting skills' itu..

ketika anak2 masi bayi? hot damn! banyak banget yg musti gw pelajarin

bukannya itu termasuk parenting skills?
Quote:Original Posted By nekotsuki



Ilmu parenting itu tidak menilik pada satu gaya pola asuh, tapi lebih gimana ortu mau "belajar" memahami anak, mengetahui gimana cara2 menghadapi ini ketimbang main pukul ketika emosi misalnya, atau menunjukkan kasih sayang dengan mengisi waktu bersama anak ketimbang memberikan materi sebagai pengganti waktu mereka

misalnya cek trit sebelah yang ts nya cerita tetangganya hobi kdrt anak, menurut gw itu adalah contoh ortu yang clueless walau gw yakin mereka pasti sayang anak, tapi caranya salah
di bekasi deket rumah gw pernah ada anak yang akhirnya meninggal akibat kdrt oleh kedua ortunya, ketika ditanya kedua ortunya mengatakan kalau itu cara mendidik anaknya, tapi ya kok anaknya sampe mati dianiaya?

kalo buat gw ortu wajib belajar, dan gaya parenting banyak, ngga ada juga orang yang jiplak sama sekali 1 gaya parenting, pasti campur2 disesuaikan dengan kondisi si anak

misalnya dl nyokap gw tipe diktator keras, segala hukuman dari sabet sampe sundut rokok pernah dan semua terjadi tanpa sepengetahuan alm bokap
sampe sekarang gw berharap nyokap bisa sedikit lebih demokratis,

jujur, gw ngga mau jadi ortu seperti nyokap, karena itu gw terus belajar untuk menjadi ortu yang baik


Saya dan istri membesarkan kedua putri kami secara mandiri. Karena kami hidup jauh dari sanak saudara (terutama orang tua kami) maka 'warna' pada anak2 kami adalah 100% dari saya dan istri. Saya dan istri banyak menggunakan refleksi dari pengalaman kami growing up sebagai references bagaimana mengatur strategy dan tactics utk membesarkan anak2.

Karena istri dan saya berasal dari keluarga militer dengan disiplin yg kuat maka kami banyak menggunakan framework yg diambil dari pola pembinaan dan leadership militer. Satu hal yg kami hilangkan dari pola pembinaan militer yg kami adopsi adalah corporal punishments. We don't hit our kids.

Yg pertama kami sepakati adalah the overall strategic objectives yg ingin kami capai, i.e. manusia seperti apa yg kami inginkan anak2 kami utk dewasa kelak. Selanjutnya kami compartmentalized the kids growth process berdasarkan jenjang usia mereka. Each growth compartment akan di telaah bersama dan kami tentukan apa yg kami anggap penting utk diajarkan ke anak2, why (we spend a lot of time to answer this question ... we discuss the issue, performed research, ... basically we must have a solid reason why the children must have a certain skill and/or knowledge at a specific growth period. We decide it, not based on what the neighbors' kids can or cannot do.), and how to do it (again, more R&D went here). Jadi kami menggariskan various tactical plans utk mencapai intermediate goals for each growth compartment.

Always have back-up plans (terutama on "how to do it"). The objective and the "why" tetap tidak berubah, namun the "how" kadang2 harus berubah menyesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing2 anak. Jadi kami tidak menerapkan metode yg sama 100% utk kedua anak kami karena mereka adalah dua individu yg memiliki karakter, ciri khas, strengths, and weaknesses masing-masing. Dengan kata lain, sebagai orang tua kita harus bisa flexible, nimble, and agile dalam membesarkan anak. Modifikasi dari tactical plan harus secepatnya dilakukan bila memang progress yg dicapai tidak sesuai dengan strategic objectives. Oleh sebab itu, parents harus selalu mengawasi, menganalisa, dan berkomunikasi secara terbuka dengan putra/putri mereka constantly. This is how we do it.

Selain approach diatas, satu teknik yg kami terapkan adalah application dari military leadership style dalam membesarkan anak. A good military commander will always spend the extra time to explain why a mission is important to his/her troops. Bila semua anggota dari atas hingga bawah mengerti betapa penting mission mereka, maka mereka akan lebih termotivasi utk bekerja bersama demi tercapainya mission objectives utk satuan mereka tsb. Kami memandang keluarga kami as a unit. We all have responsibilities and rights. Walaupun saya dan istri duduk sejajar in all aspects of family lives, namun kami sepakat bahwa in an emergency situation saya yg akan menjadi the person in charge. Saya dan istri menghabiskan waktu yg sangat banyak utk menjelaskan ke anak2 the "why" behind the rules that they have to follow, the tasks they have to carry out, and the prohibitions they have to obey. Tentunya semua ini disesuaikan dengan usia mereka (growth compartment). Jadi anak2 betul2 mengerti mengapa mereka harus melakukan semua itu.

Lead by example, always lead from the front so your men can see you. Ini motto yg kami pegang sebagai orang tua. We will not ask our kids to do what we ourselves cannot or refuse to do. Jadi utk para orang tua yg menggantungkan standard yg sangat tinggi utk anak2 mereka, I sure hope they (parents) can meet those standards themselves.

Semua usaha diatas harus berlandaskan pada cinta kasih. However, our love as parents is not unconditional. We must earn the love from every other family members. My kids are not obligated to love me unless I perform my responsibilities as a parent very well. Similarly, I don't expect my wife to love me if I fail to be a good husband. Karena sesuatu yg diperoleh atas hasil upaya dan kerja keras will taste better and sweeter than those we get for free with no consequences whatsoever. Ini bagian dari the lesson of consequences in life. Every choice we make today will have one or more consequences that affect us in the future. Ini yg kami tekankan kepada anak2. Yg kami lihat banyak terjadi in American families adalah tidak adanya pendidikan sebab-akibat dan personal accountability and responsibility pada anak2. Akibatnya anak2 ini tumbuh menjadi orang dewasa yg lack the sense of duty and responsibility both to themselves and towards others around them.

Saya dan istri tidak pernah mempelajari secara khusus ilmu parenting ... is there a textbook for it? Where are the journal and conference papers containing the research and results? Namun kami comfortable dengan parenting system yg kami kembangkan sendiri utk keluarga kami. Soal results ... I am very proud of my kids. Banyak teman2 saya yg impressed dgn karakter, disiplin, intelligence, academic strength, courtesy, self reliance, accountability, responsibility, and leadership quality dari anak2 ini ... A few years ago, seorang teman lama saya yg berdinas sebagai Lt. Col. di USAF bertanya "How did you raise them to be like that?" ... My answer: "Discipline".

Quote:Original Posted By coffee man


nice share

tp kenapa gw yg dikuot ya? ada bagian yg mo disanggah om?



"les dan pelajaran tambahan" ... ini saya beri quote karena bentuk dari les dan pelajaran tambahan utk anak yg menurut saya acceptable adalah yg diberikan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua yg berpikir they can boost their kids performance by pouring money into the process .... money used to pay for les dan pelajaran tambahan yg diberikan oleh orang lain. I don't buy that.

Quote:
you've been away for too long..

udah jamak sekarang, banyak orang kita selip2in kata2 bahasa inggris yg sebenarnya bahasa indonesia nya ada dan sederhana..

mulai dari presiden ampe tukang jualan lontong..

gw sih gpp liat gitu, meski kadang tertawa sendiri... krn begitu (contoh) presiden pidato bahasa inggris, mata nya membaca terus, dan pronounciation nya ancor

you paham ga?


Paham, and those people look and sound very foolish ... yeah, mungkin mereka tampak "keren" dan "educated" di hadapan orang2 yg awam. Namun kalau kita mulai membuka cakrawala dan berhubungan dengan orang2 lain yg datang dari background dan culture yg berbeda, apalagi mereka yg berkecimpung di bidang ini (education psychology, early childhood education, child psychology), those people will look like fools who try to impress others by saying things that are questionable at best, or worse, wrong. I have been called "expert" by many people in my area of research. But the deeper I dive into a scientific or engineering discipline, the more I realize how little I know. So I tend to keep my mouth shut and just listen quietly if the discussion and/or conversation is outside my field of expertise or something that I have no first hand experience on. In this thread, I feel that I have sufficient qualification to open my voice because I have raised two children who both turn to be beautiful, smart, and intelligent young ladies that *any* parent would be proud to have as daughters, and *any* teacher would enjoy having as students in his/her classroom.

Kalau mau pakai istilah dgn bahasa asing ... silakan, mau bikin istilah baru? Silakan. Namun pastikan istilah itu makes sense di kacamata orang yg menggunakan bahasa tsb sebagai bahasa baku mereka. Apalagi istilah "mental hectic" ini dipakai seolah-olah sudah jadi istilah yg scintific. Where is the paper that introduced this term? Where was it published? Was it reviewed by peers of expert in the area of education psychology or early childhood education?

Quote:
kalo seandainya anak2nya udah gede, iya kali, lu bisa pertanyakan apa yang mereka cari sebenernya dari 'parenting skills' itu..

ketika anak2 masi bayi? hot damn! banyak banget yg musti gw pelajarin

bukannya itu termasuk parenting skills?


Lho? Memangnya anak2 saya itu begitu lahir langsung gede?? Are you saying saya dan istri tidak mengalami masa2 membesarkan mereka as infants and then toddlers??

Parenting skills is all about creating your own program with certain objectives and how to reach those objectives. There will be problems along the way. So a good parent must also be a good troubleshooter who can identify a problem in the child development process as early as possible, and formulate a good solution (sometimes multiple solutions) to overcome and rectify the problem. So parenting skills is not that different from management skills.
ikutan share...

gue masuk sd usia 5 tahun lebih dikit
katanya udah bisa baca waktu itu....
note : mak gue guru sd kala itu

tapi pas gue lihat anaknya om gue yang paud tiap hari ada PR hitungan+menulis huruf sambung di buku, ngeliatnya malah gak tega
masa paud udah diajarin hitungan kek 84-46=.....
Quote:Original Posted By garandman


Saya dan istri membesarkan kedua putri kami secara mandiri. Karena kami hidup jauh dari sanak saudara (terutama orang tua kami) maka 'warna' pada anak2 kami adalah 100% dari saya dan istri. Saya dan istri banyak menggunakan refleksi dari pengalaman kami growing up sebagai references bagaimana mengatur strategy dan tactics utk membesarkan anak2.

Karena istri dan saya berasal dari keluarga militer dengan disiplin yg kuat maka kami banyak menggunakan framework yg diambil dari pola pembinaan dan leadership militer. Satu hal yg kami hilangkan dari pola pembinaan militer yg kami adopsi adalah corporal punishments. We don't hit our kids.

Yg pertama kami sepakati adalah the overall strategic objectives yg ingin kami capai, i.e. manusia seperti apa yg kami inginkan anak2 kami utk dewasa kelak. Selanjutnya kami compartmentalized the kids growth process berdasarkan jenjang usia mereka. Each growth compartment akan di telaah bersama dan kami tentukan apa yg kami anggap penting utk diajarkan ke anak2, why (we spend a lot of time to answer this question ... we discuss the issue, performed research, ... basically we must have a solid reason why the children must have a certain skill and/or knowledge at a specific growth period. We decide it, not based on what the neighbors' kids can or cannot do.), and how to do it (again, more R&D went here). Jadi kami menggariskan various tactical plans utk mencapai intermediate goals for each growth compartment.

Always have back-up plans (terutama on "how to do it"). The objective and the "why" tetap tidak berubah, namun the "how" kadang2 harus berubah menyesuaikan dengan kemampuan dan karakter masing2 anak. Jadi kami tidak menerapkan metode yg sama 100% utk kedua anak kami karena mereka adalah dua individu yg memiliki karakter, ciri khas, strengths, and weaknesses masing-masing. Dengan kata lain, sebagai orang tua kita harus bisa flexible, nimble, and agile dalam membesarkan anak. Modifikasi dari tactical plan harus secepatnya dilakukan bila memang progress yg dicapai tidak sesuai dengan strategic objectives. Oleh sebab itu, parents harus selalu mengawasi, menganalisa, dan berkomunikasi secara terbuka dengan putra/putri mereka constantly. This is how we do it.

Selain approach diatas, satu teknik yg kami terapkan adalah application dari military leadership style dalam membesarkan anak. A good military commander will always spend the extra time to explain why a mission is important to his/her troops. Bila semua anggota dari atas hingga bawah mengerti betapa penting mission mereka, maka mereka akan lebih termotivasi utk bekerja bersama demi tercapainya mission objectives utk satuan mereka tsb. Kami memandang keluarga kami as a unit. We all have responsibilities and rights. Walaupun saya dan istri duduk sejajar in all aspects of family lives, namun kami sepakat bahwa in an emergency situation saya yg akan menjadi the person in charge. Saya dan istri menghabiskan waktu yg sangat banyak utk menjelaskan ke anak2 the "why" behind the rules that they have to follow, the tasks they have to carry out, and the prohibitions they have to obey. Tentunya semua ini disesuaikan dengan usia mereka (growth compartment). Jadi anak2 betul2 mengerti mengapa mereka harus melakukan semua itu.

Lead by example, always lead from the front so your men can see you. Ini motto yg kami pegang sebagai orang tua. We will not ask our kids to do what we ourselves cannot or refuse to do. Jadi utk para orang tua yg menggantungkan standard yg sangat tinggi utk anak2 mereka, I sure hope they (parents) can meet those standards themselves.

Semua usaha diatas harus berlandaskan pada cinta kasih. However, our love as parents is not unconditional. We must earn the love from every other family members. My kids are not obligated to love me unless I perform my responsibilities as a parent very well. Similarly, I don't expect my wife to love me if I fail to be a good husband. Karena sesuatu yg diperoleh atas hasil upaya dan kerja keras will taste better and sweeter than those we get for free with no consequences whatsoever. Ini bagian dari the lesson of consequences in life. Every choice we make today will have one or more consequences that affect us in the future. Ini yg kami tekankan kepada anak2. Yg kami lihat banyak terjadi in American families adalah tidak adanya pendidikan sebab-akibat dan personal accountability and responsibility pada anak2. Akibatnya anak2 ini tumbuh menjadi orang dewasa yg lack the sense of duty and responsibility both to themselves and towards others around them.

Saya dan istri tidak pernah mempelajari secara khusus ilmu parenting ... is there a textbook for it? Where are the journal and conference papers containing the research and results? Namun kami comfortable dengan parenting system yg kami kembangkan sendiri utk keluarga kami. Soal results ... I am very proud of my kids. Banyak teman2 saya yg impressed dgn karakter, disiplin, intelligence, academic strength, courtesy, self reliance, accountability, responsibility, and leadership quality dari anak2 ini ... A few years ago, seorang teman lama saya yg berdinas sebagai Lt. Col. di USAF bertanya "How did you raise them to be like that?" ... My answer: "Discipline".



"les dan pelajaran tambahan" ... ini saya beri quote karena bentuk dari les dan pelajaran tambahan utk anak yg menurut saya acceptable adalah yg diberikan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua yg berpikir they can boost their kids performance by pouring money into the process .... money used to pay for les dan pelajaran tambahan yg diberikan oleh orang lain. I don't buy that.



Paham, and those people look and sound very foolish ... yeah, mungkin mereka tampak "keren" dan "educated" di hadapan orang2 yg awam. Namun kalau kita mulai membuka cakrawala dan berhubungan dengan orang2 lain yg datang dari background dan culture yg berbeda, apalagi mereka yg berkecimpung di bidang ini (education psychology, early childhood education, child psychology), those people will look like fools who try to impress others by saying things that are questionable at best, or worse, wrong. I have been called "expert" by many people in my area of research. But the deeper I dive into a scientific or engineering discipline, the more I realize how little I know. So I tend to keep my mouth shut and just listen quietly if the discussion and/or conversation is outside my field of expertise or something that I have no first hand experience on. In this thread, I feel that I have sufficient qualification to open my voice because I have raised two children who both turn to be beautiful, smart, and intelligent young ladies that *any* parent would be proud to have as daughters, and *any* teacher would enjoy having as students in his/her classroom.

Kalau mau pakai istilah dgn bahasa asing ... silakan, mau bikin istilah baru? Silakan. Namun pastikan istilah itu makes sense di kacamata orang yg menggunakan bahasa tsb sebagai bahasa baku mereka. Apalagi istilah "mental hectic" ini dipakai seolah-olah sudah jadi istilah yg scintific. Where is the paper that introduced this term? Where was it published? Was it reviewed by peers of expert in the area of education psychology or early childhood education?



Lho? Memangnya anak2 saya itu begitu lahir langsung gede?? Are you saying saya dan istri tidak mengalami masa2 membesarkan mereka as infants and then toddlers??

Parenting skills is all about creating your own program with certain objectives and how to reach those objectives. There will be problems along the way. So a good parent must also be a good troubleshooter who can identify a problem in the child development process as early as possible, and formulate a good solution (sometimes multiple solutions) to overcome and rectify the problem. So parenting skills is not that different from management skills.


taukah oom kalo apa yg lo jabarkan itu juga juga gaya parenting berdasarkan cara lo?
intinya lo share, sempurna sekali, i get it....

semua ortu tentu merasa bangga, sukses dan berhasil apalagi kalo ada pujian dari orang sekitar
tapi pastikan kalo anak juga merasakan kebahagiaan yg sama, ngga cuma membawa beban sebagai kebanggaan ortu aja

dl gw juga dipuji anak anteng, ngga macem2, cukup berprestasi dan disiplin
oh sayang aja mereka ngga tau kenakalan yg gw lakukan dibelakang ortu dan betapa gw ngga sangat merasa kurang perhatian
kalo ortu gw sih karena ngga tau isi hati gw sampe gw teriak2 dulu dan membangkang mereka bangga2 aja sama anak2nya dan menerima pujian dari org lain sebagai keberhasilan pengasuhan mereka

get it? ngga usah panjang2 kok kalo mau share keberhasilan sebagai ortu, yang penting hasil nyata, di dunia nyata, bukan di forum....
makin rame saja
ijin ndeprok
Quote:Original Posted By garandman

"les dan pelajaran tambahan" ... ini saya beri quote karena bentuk dari les dan pelajaran tambahan utk anak yg menurut saya acceptable adalah yg diberikan oleh orang tua mereka sendiri. Banyak orang tua yg berpikir they can boost their kids performance by pouring money into the process .... money used to pay for les dan pelajaran tambahan yg diberikan oleh orang lain. I don't buy that.


gw setuju lah... in general..

tapi kalo anaknya yg minta ndiri, gw ga ragu2 untuk ngabulin sii..

contoh, die pengen bisa maen piano.. nah gw ga bisa.. just because I can't, should I deny my kids of their interest? take a guess..

sama hal nya kek balet...

if I have the money for it, there are good education center for it and my kids are interested... why not?

Quote:Original Posted By garandman
Paham, and those people look and sound very foolish ... yeah, mungkin mereka tampak "keren" dan "educated" di hadapan orang2 yg awam. Namun kalau kita mulai membuka cakrawala dan berhubungan dengan orang2 lain yg datang dari background dan culture yg berbeda, apalagi mereka yg berkecimpung di bidang ini (education psychology, early childhood education, child psychology), those people will look like fools who try to impress others by saying things that are questionable at best, or worse, wrong. I have been called "expert" by many people in my area of research. But the deeper I dive into a scientific or engineering discipline, the more I realize how little I know. So I tend to keep my mouth shut and just listen quietly if the discussion and/or conversation is outside my field of expertise or something that I have no first hand experience on. In this thread, I feel that I have sufficient qualification to open my voice because I have raised two children who both turn to be beautiful, smart, and intelligent young ladies that *any* parent would be proud to have as daughters, and *any* teacher would enjoy having as students in his/her classroom.


fantastic! good for you!

tapi bukan berarti orangtua lain ga boleh sharing apa yang mereka hadapi dan jalani masing2 kan?

gw percaya bahwa anak2 ini mirror dari orangtua nya, ada yg menurun karena genetik, ada yang mereka dapat karena melihat dan mencontoh orangtua nya... ga ada yang sama kok.

apa yang bisa lu terapin sama anak2 lu, udah pasti ga bisa semua diterapin sama gw ke anak2 gw...

jadi, bukan karena lu berhasil sama anak2 lu, lu jadi bisa justify, iya, gw boleh share karena gw berhasil

lalu yang laen ga bole share gitu? bahkan yg gagal sekalipun?

I don't think so
Quote:Original Posted By garandman
Kalau mau pakai istilah dgn bahasa asing ... silakan, mau bikin istilah baru? Silakan. Namun pastikan istilah itu makes sense di kacamata orang yg menggunakan bahasa tsb sebagai bahasa baku mereka. Apalagi istilah "mental hectic" ini dipakai seolah-olah sudah jadi istilah yg scintific. Where is the paper that introduced this term? Where was it published? Was it reviewed by peers of expert in the area of education psychology or early childhood education?


bahasa Indonesia itu bahasa yang tergolong masih muda, terdiri dari sangad sangad banyak pengaruh bahasa lain..

bahasa arab dan bahasa belanda setau gw paling banyak mendominasi bahasa indonesia, tapi gw ga kaget semisal ada bahasa2 lain kek spanyol ato inggris didalamnya.

kursi, dari bahasa arab, dan gw yakin banyak sekali kata2 lain kita diadopsi dari bahasa arab.

kamar, dari bahasa belanda kamer, kantor, dari bahasa belanda kantoor... begitu juga dengan kulkas=>koelkast, BH/beha => borsthouder, knalpot, etc etc etc

bahkan ampe ke kata yg tadinya gw pikir bahasa jawa, saklek ==>zakelijk

om, tante, opa, oma => semua bahasa belanda

sangat bisa dipahami kok bahasa yang baru itu akan menyerap kata2 dari bahasa2 lain untuk mendeskripsikan sesuatu yang belum ada di bahasa itu sendiri.

bahasa kita masih akan sangat berkembang... gw ga tau apakah term yg lu bahas disini "mental hectic" itu akan bertahan atau tidak.. bisa jadi berubah, bisa jadi akan terus ada dan digunakan..

dan melihat bahwa bahasa indonesia sendiri memang bahasa yang sangat muda dan akan ikut berevolusi seiring perkembangan jaman...

gw ragu sih orang bakal repot2 tanya ini basis nya dari mana? ada penelitiannya apa kaga? apa ada scientific paper yang mendukung, etc etc..

misal, di permainan bulutangkis, ada satu kata serapan, smash

emang apa yg mendukung itu? pronounciation yg sering gw denger aja jadi 'semes' kok

Quote:Original Posted By garandman
Lho? Memangnya anak2 saya itu begitu lahir langsung gede?? Are you saying saya dan istri tidak mengalami masa2 membesarkan mereka as infants and then toddlers??

Parenting skills is all about creating your own program with certain objectives and how to reach those objectives. There will be problems along the way. So a good parent must also be a good troubleshooter who can identify a problem in the child development process as early as possible, and formulate a good solution (sometimes multiple solutions) to overcome and rectify the problem. So parenting skills is not that different from management skills.


nah itu dia..

gw banyak sekali belajar waktu anak2 gw blon umur setaon... kenapa anak bisa gumoh, kenapa kulitnya bintik2 merah.. dan segala macem yg laennya..

kenapa juga gw ga belajar dari yg udah ngalamin atau lebih tau dibidang itu?

karena gw pengen belajar dan pengen jadi ortu yang lebih baik, lu anggep gw ga punya nalar dan hati nurani???

I'm being honest when I say that I like to read what you shared in our little community..

but, sometimes you could come off as judging others and using this holier than thou tone
Quote:Original Posted By coffee man


gw setuju lah... in general..

tapi kalo anaknya yg minta ndiri, gw ga ragu2 untuk ngabulin sii..

contoh, die pengen bisa maen piano.. nah gw ga bisa.. just because I can't, should I deny my kids of their interest? take a guess..

sama hal nya kek balet...

if I have the money for it, there are good education center for it and my kids are interested... why not?



fantastic! good for you!

tapi bukan berarti orangtua lain ga boleh sharing apa yang mereka hadapi dan jalani masing2 kan?

gw percaya bahwa anak2 ini mirror dari orangtua nya, ada yg menurun karena genetik, ada yang mereka dapat karena melihat dan mencontoh orangtua nya... ga ada yang sama kok.

apa yang bisa lu terapin sama anak2 lu, udah pasti ga bisa semua diterapin sama gw ke anak2 gw...

jadi, bukan karena lu berhasil sama anak2 lu, lu jadi bisa justify, iya, gw boleh share karena gw berhasil

lalu yang laen ga bole share gitu? bahkan yg gagal sekalipun?

I don't think so


bahasa Indonesia itu bahasa yang tergolong masih muda, terdiri dari sangad sangad banyak pengaruh bahasa lain..

bahasa arab dan bahasa belanda setau gw paling banyak mendominasi bahasa indonesia, tapi gw ga kaget semisal ada bahasa2 lain kek spanyol ato inggris didalamnya.

kursi, dari bahasa arab, dan gw yakin banyak sekali kata2 lain kita diadopsi dari bahasa arab.

kamar, dari bahasa belanda kamer, kantor, dari bahasa belanda kantoor... begitu juga dengan kulkas=>koelkast, BH/beha => borsthouder, knalpot, etc etc etc

bahkan ampe ke kata yg tadinya gw pikir bahasa jawa, saklek ==>zakelijk

om, tante, opa, oma => semua bahasa belanda

sangat bisa dipahami kok bahasa yang baru itu akan menyerap kata2 dari bahasa2 lain untuk mendeskripsikan sesuatu yang belum ada di bahasa itu sendiri.

bahasa kita masih akan sangat berkembang... gw ga tau apakah term yg lu bahas disini "mental hectic" itu akan bertahan atau tidak.. bisa jadi berubah, bisa jadi akan terus ada dan digunakan..

dan melihat bahwa bahasa indonesia sendiri memang bahasa yang sangat muda dan akan ikut berevolusi seiring perkembangan jaman...

gw ragu sih orang bakal repot2 tanya ini basis nya dari mana? ada penelitiannya apa kaga? apa ada scientific paper yang mendukung, etc etc..

misal, di permainan bulutangkis, ada satu kata serapan, smash

emang apa yg mendukung itu? pronounciation yg sering gw denger aja jadi 'semes' kok



nah itu dia..

gw banyak sekali belajar waktu anak2 gw blon umur setaon... kenapa anak bisa gumoh, kenapa kulitnya bintik2 merah.. dan segala macem yg laennya..

kenapa juga gw ga belajar dari yg udah ngalamin atau lebih tau dibidang itu?

karena gw pengen belajar dan pengen jadi ortu yang lebih baik, lu anggep gw ga punya nalar dan hati nurani???

I'm being honest when I say that I like to read what you shared in our little community..

but, sometimes you could come off as judging others and using this holier than thou tone


agree :

tapi kita juga udah melebar bgt topiknya, nanti gw bikin trit tentang Parenting deh
soalnya topik ini bagus banget untuk dibahas, nanti kumpulin bahan dulu
wew rame
jarang2 fenomena ini terjadi...
sepuh fw turun n om garand juga





seduh dolo ah di pojokan

Menarik..

Usia 7 tahun itu mumayyiz / tamyiz..
Tuntunan berapa belas abad yang lalu ternyata diteliti dari sisi psikologi anak oleh orang sekarang

Gw baru ngeuh
Quote:Original Posted By moethell
wew rame
jarang2 fenomena ini terjadi...
sepuh fw turun n om garand juga





seduh dolo ah di pojokan



geser dikit dunk ho
Quote:Original Posted By nekotsuki


agree :

tapi kita juga udah melebar bgt topiknya, nanti gw bikin trit tentang Parenting deh
soalnya topik ini bagus banget untuk dibahas, nanti kumpulin bahan dulu


Ditunggu threadnya.