Organisasi Dokter Pecah Dua? Kelompok "DIB" Lakukan Demo ke Istana. Dimana IDI?



Ratusan Dokter Demo Istana
20/05/2013 11:01

Liputan6.com, Jakarta : Ratusan dokter yang tergabung dalam Dokter Indonesia Bersatu (DIB) menggelar aksi di depan kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Mereka menuntut pemerintah untuk memperbaiki sistem kesehatan nasional dan memperhatikan nasib para dokter. Ketua Presidium DIB Agung Sapta Adi mengatakan, profesi dokter saat ini sudah dicampuri kepentingan politik. Dokter ingin profesinya terlepas dari segala kepentingan apapun. "Kami ingin profesi dokter sama dengan yang lain. Tidak ada intervensi baik di bidang politik, ekonomi, atau apapun," kata Agung ditemui di lokasi demo, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2013).

Menurutnya, saat ini sistem kesehatan di Indonesia sudah dicampuri dengan kepentingan yang tidak bertanggung jawab. Hasilnya, dokter yang kerap disalahkan. "Di rumah sakit yang selalu disalahkan dokter. Padahal sistem pelayanan terkait banyak hal bukan hanya dokter. Ada alat kesehatan dan obat. Ini kan tidak serta-merta dikendalikan oleh dokter," ujar dia. Untuk itu, DIB akan mengirimkan petisi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan para bawahannya terkait perbaikan sistem kesehatan di Indoneia. Petisi itu semata-mata agar pemerintah memperhatikan nasib para dokter. "Agar ada perbaikan bagi kesejahteraan dokter. Tak hanya soal biaya, tapi perlindungan hukum," tegas Agung.

Aksi unjuk rasa ini bertepatan dengan Hari Bakti Dokter Indonesia. Presiden SBY dalam akun twitter resminya menyampaikan selamat Hari Bakti Dokter Indonesia. "Saya yakin kualitas dokter Indonesia. Saya percaya kualitas bahan obat Indonesia. #IndonesiaBisa. *SBY*" tulis SBY dalam akun twitter @SBYudhoyono.
http://www.waspada.co.id/index.php?o...ukum&Itemid=91

Puluhan dokter Demo Tolak Politisasi
Aksi yang digelar di Bundaran HI ini juga menuntut perbaikan sistem pendidikan kedokteran & kesehatan nasional.


source pic: ©2013 Merdeka.com/imam buhori

"Jangan asal tuduh Malpraktek", isi dari salah satu tulisan poster yang dibawa oleh puluhan dokter dari Dokter Indonesia Bersatu (DIB) saat menggelar aksi tolak politisasi dokter di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Senin (20/5). Aksi dokter tersebut menuntut perbaikan sistem kesehatan nasional, perbaikan sistem pendidikan kedokteran secara fundamental, dan penolakan politisasi dokter.
http://www.merdeka.com/foto/peristiw...s-nugroho.html

DIB Desak IDI Kembalikan Eksistensi Dokter
Rabu, 10 April 2013 | 23:40 WIB



Metrotvnews.com, Jakarta: Realitas sosial yang semakin menyudutkan profesi dokter menjadi pemicu munculnya gerakan moral melalui grup sosial media, Dokter Indonesia Bersatu (DIB). DIB pun mengaku masih menunggu kesediaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk bergabung. "DIB ini gerakan moral, bukan organisasi profesi seperti IDI. Kami (DIB) masih menunggu IDI mau bergabung," kata aktivis DIB, dr Agung Sapta Adi, saat ditemui metrotvnews.com, Rabu (10/4).

Agung mengaku DIB ini murni mengawal sistem kesehatan nasional demi kepentingan bangsa dan negara. Selama ini, dokter dianggap sebagai tokoh utama dan paling bertanggung jawab atas kesembuhan pasien. Namun harus disadari bahwa seringkali dokter mengalami keterbatasan dalam menjalankan profesinya. Selain menjalankan tugas utama pada jam kerja, sebagian besar dokter terpaksa membuka praktik tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Ketergantungan dokter dengan praktik sangat besar sehingga dokter tidak fokus. Gaji seorang dokter honorer hanya Rp1,9 juta, dokter PNS golongan III di daerah sekitar Rp3 juta. Ini berbeda jauh dengan gaji sopir bus TransJakarta yang mencapai Rp7,7 juta," ujarnya.

Keberadaan IDI sebagai organisasi profesi diharapkan pulih kembali setelah sekian lama tak mampu mempertahankan amanah profesi dokter. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya perhatian IDI dan informasi yang jelas kepada masyarakat atas dugaan kasus malpraktik oleh sejumlah tenaga medis. "Untuk mengembalikan eksistensi dokter, IDI perlu mengadakan pembinaan dan pencerahan, jangan sampai anggotanya (dokter) melanggar kode etik. Selain itu IDI harus berani melindungi anggotanya agar dapat menjalankan tugas secara profesional. Harus ada keseimbangan antara sanksi dan perlindungan profesi," lanjut Agung. Untuk itu, DIB mendesak IDI untuk bergabung menuju reformasi pelayanan kesehatan dan kedokteran. "Jika IDI tidak bersedia, DIB akan berjalan sendiri. Perjuangan ini harus dilanjutkan," pungkasnya.
http://www.metrotvnews.com/metronews...istensi-Dokter


Komentar Anggota DPR dari PDIP yang Bikin Para Dokter tersinggung Profesinya:
Dokter Dianggap Lebih Jahat Dibanding Polantas
Kamis, 07 Maret 2013 , 17:42:00



dokter Ribka Tjiptaning, anggota DPR dari PDIP

JAKARTA - Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning mengatakan dalam banyak hal dan kesempatan dokter itu lebih jahat dibanding polisi lalu lintas (Polantas). Seorang Polantas menurut Ribka Tjiptaning mengeluarkan surat bukti pelanggaran (Tilang) kepada pelanggar lalu lintas dalam keadaan sehat. "Kalau dokter orang sakit yang dia "Tilang"," kata Ribka Tjiptaning, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema "Rakyat Miskin Sakit, Siapa" Bertanggungjawab," di press room DPR, gedung Nusantara III, komplek Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (7/3).

Belum lagi dalam proses memastikan penyakit yang diderita oleh seseorang. Menurut Ribka, terlihat sekali seorang dokter tidak mempercayai ilmu yang dia peroleh selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. "Semua pendeteksian penyakit termasuk hanya masalah panas badan harus melalui hasil laboratorium. Setelah ditelusuri, ternyata siapa pun dokter yang mengeluarkan perintah pemeriksaan laboratorium terhadap pasien karena mendapat bagian sebesar 15 persen dari keseluruhan biaya laboratorium yang dibayar oleh pasien," kata politisi PDI Perjuangan itu.

Ribka juga menceritakan temuannya di salah satu rumah sakit yang neoliberalisme dengan memberlakukan syarat khusus dalam merekrut tenaga dokter spesialis. "Dokter spesialis bisa dia terima bekerja di sebuah rumah sakit kalau dalam satu bulan dia menyatakan sanggup mencari sedikitnya lima pasien yang pengobatannya harus melalui bedah atau operasi," tambahnya. Selain itu, dia juga menceritakan sikapnya selaku pimpinan di Komisi IX DPR yang dari awal menolak keberadaan claster rumah sakit berlabel internasional yang dibangun dalam areal kawasan rumah sakit milik pemerintah seperti yang terjadi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

"Satu ruang fasilitas bagi rumah sakit internasional yang dibangun dengan biaya APBN itu sesungguhnya bisa dimanfaatkan oleh lima orang pasien di kelas III. yang diperuntukkan bagi pasien tidak mampu. Tapi karena berlabel internasional maka fasilitas tersebut hanya dinikmati oleh satu pasien. Ini tindakan menzalimi orang namanya," tegas dokter Ribka Tjiptaning.
http://www.jpnn.com/read/2013/03/07/...ding-Polantas-

--------------------------

Dokter Indonesia Bersatu (DIB) kayaknya mau mereformasi orang-orang di pengurusan IDI, yang memang terkenal konservatif dengan alasan professi kedokteran harus dijaga ketat professionalimenya. Tapi 'idealisme' IDI tak selamanya cocok dengan dokter-dokter yang baru lulus dan masih muda usia, misalnya saja tentang uji kompetensi dokter itu sebagai syarat memperoleh izin praktek. Akibat aturan ini, secara nasional setiap tahunnya bila dilakukan uji kompetensi terhadap 7.000 hingga 7.500 dokter, yang tidak lulus rata-rata mencapai 30-35 persen (source). Gara-gara aturan ketat dari IDI itu, banyak dokter-dokter yang baru lulus (terutama dari fakultas kedokteran PTS), menjadi menganggur selama bertahun-tahun karena tak bisa buka praktek dokter umum. Bahkan terhadap dokter yang sudah senior pun ikut-ikutan berkomentar, kalau uji kompetensi dokter secara berkala itu (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia atau UKDI)), seperti menganggap professi dokter tak bedanya dengan professi dukun saja (source). Itu belum aturan tak tertulis dikalangan professi dokter itu, mana kala ada dokter baru yang akan buka lapak di sebuah kota (terutama dokter spesialis). Dokter-dokter baru itu harus mendapat "restu" dulu dari dokter senior di kota itu, baru boleh buka lapak. Dan itu berarti bisa menyangkut setoran upeti kepada 'dokter bahurekso' di kota itu. Semua itu, ditambah liberalisasi rumah sakit, pabrik obat, pedagang farmasi, dan aturan Pemeritah yang lembek di dalam mengatur manajemen kesehatan di daerah dan pusat, terutama pasca Reformasi lalu, menyebabkan kekecewaan dokter-dokter itu sampai di ubun-ubun. Makanya, kalau mereka demo, dan bikin "IDI-Perjuangan", jangan disalahkanlah!
mangkanya ngapain ke dokter. ke kyai atau wak haji aja udah jelas halal.



Dokter Indonesia, Bagai Dewa Tanpa Tangan dan Kaki
Penyakit Menular Bernama Malpraktek
DOKTER = Dewa.
Sekedar anekdot, menurut masyarakat kita : dokter tidak boleh miskin dan tidak akan miskin!

Jumat, 05 April 2013 WIB
Dr Agung Sapta Adi

Dokter pasti pintar karena itu Kepala Puskesmas, Direktur Rumah Sakit lazimnya dokter, tidak perlu ahli-ahli lain dokter bisa merangkap tugas dan jabatan. Dokter bisa urus posyandu, penyuluhan, urus PKK, KB sampai membina masyarakat desa. Tanpa disadari, bertahun-tahun profesi ini dijadikan DEWA di Indonesia.

Dewa selalu digambarkan posisinya terhormat, mempunyai banyak tangan dan kaki sehingga punya banyak kemampuan. Dokter pasti kaya, makanya banyak orang tua pingin anak atau mantunya dokter, sekolah dokter harus mahal sampai spesialispun harus punya modal besar. Baju dokter harus bagus, rumah besar, mobil mewah. Dokter pasti sehat tidak pernah capek, makanya bisa kerja 24 jam. Dokter tidak boleh menolak pasien walau fasilitas terbatas, harus selalu ramah murah senyum, tidak boleh marah.

Dokter tidak boleh salah, kalau salah berarti malpraktek. Gaji ??? “Dokterkan sudah kaya, bisa buat uang sendiri. Gaji kecilkan bisa praktek. Kerja dobel-dobel mah sudah biasa. Kalau cari sumbangan ke dokter aja....Kalau dokter tidak mau diatur saya sikat” itulah dokter Indonesia....DEWA tanpa kaki & tangan.....

Sejarah dunia mencatat bahwa keberadaan dokter memiliki keunikan tersendiri terutama adanya kepercayaan yang dimiliki pengobat (dokter).

Kepercayaan ini terus berkembang hingga terbentuknya sifat fundamental dokter. Masyarakat mengenal seorang dokter yang baik memiliki sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran budi, kerendahan hati, kesungguhan kerja, integritas ilmiah dan sosial serta kesejawatan yang tidak diragukan.

Perkembangan ini juga menyentuh kehidupan sosial seorang dokter, tidak terbatas pada masalah terapi penyakit namun juga menyangkut masalah sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Profesi ini memikul kewajiban memerangi kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik ataupun merusak dalam masyarakat. Profesi kedokteran tidak pernah menyerah pada tekanan-tekanan sosial yang didorong oleh permusuhan atau dendam pribadi, politis atau militer.

Kondisi inilah yang membuat profesi kedokteran harus "dijaga" tidak hanya oleh dokter sendiri tapi juga masyarakat luas. Para negarawan harus berbuat baik dengan melindungi integritas profesi kedokteran dan melindungi kedudukannya terhadap permusuhan atau sikap yang tidak bersahabat.

Realita Dokter Indonesia
Bagaimana dokter Indonesia ? Dalam perkembangan sejarah Indonesia mencatat peran dokter baik sebagai pribadi maupun kelompoknya. Bagaimana dokter Indonesia sekarang ? Timbulnya permasalahan yang menyangkut etika dokter dan internal profesi ini menunjukkan kondisi yang paradoks ! Masyarakat Indonesia mengenal penampilan dokter sebanding dengan keluhuran profesinya dan tanggung jawab sosial yang diembannya. Sayang beberapa dekade ini tampak dokter Indonesia tidak selalu menampakkan ciri tersebut. Untuk bisa dikatakan seorang dokter yang ideal, dokter harus terbebas dari masalah sosial dan ekonomi, namun untuk mencapai itu semua bukan hal yang mudah !

Selain menjalankan tugas utamanya pada jam kerja, sebagian besar dokter "terpaksa" harus praktek tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai contoh di Jakarta yang sedang asyik dengan KJS-nya, gaji seorang dokter honorer hanya Rp1,9 juta atau gaji PNS dokter golongan III di daerah sekitar Rp3 juta. Ini berbeda jauh dengan gaji sopir bus transjakarta yang mencapai Rp7,7 juta.

Mantan Ketua IDI Dr Prijo Sidipratomo Sp.Rad saat menjabat menyebutkan, dari 110 ribu anggota IDI, sekitar 70 persen yang tidak sejahtera. Hidup pas-pasan dengan gaji sekitar Rp1,8 juta sampai Rp5 juta per bulan. Bandingkan dengan pegawai keuangan golongan III/a mendapat tunjangan sampai Rp4.750.000,- diluar gaji perbulan atau dengan hakim yang mendapat tunjangan Rp8.500.000,- sampai dengan Rp40.000.000,- ditambah tunjangan lainnya setiap bulannya.

Kesejahteraan dokter yang tidak terjamin ditambah dengan tuntutan gaya hidup stereotip (dokter harus kaya tidak boleh miskin) menimbulkan permasalahan baru, yaitu sebuah persaingan dalam profesi dokter sendiri.

Hal ini merupakan musibah bagi masyarakat sebagai konsumen karena yang mereka dapatkan adalah gambaran komoditas praktek kedokteran beserta persaingannya sebagaimana persaingan bisnis lainnya. Pada akhirnya biaya kesehatan menjadi mahal dan orang sakit menjadi obyek untuk diperebutkan.

Kemampuan dokter Indonesia untuk berkembang terbatas oleh fenomena sosial yang menimpanya. Jangankan turut menyumbangkan pemikiran/ karya terbaiknya untuk bangsa ini, mempertahankan fundamental profesi dokter sebagaimana layaknya menjadi hal yang terabaikan. Ironis ketika banyak orang membutuhkan pelayanan kesehatan, dokter sendiri tidak sanggup bertahan menghadapi persaingan hidup bahkan pemerintah membiarkan hutan rimba belantara bernama pelayanan kedokteran terjadi. Di saat dokter minim penghasilan, banyak praktek-praktek ilegal yang berbau medis maupun alternatif bertebaran dengan biaya pengobatan yang jauh lebih mahal.

Bencana Besar
Ketika pasien tidak percaya lagi dengan dokternya, selalu curiga dengan tindakan dan terapi yang dilakukan dokter. Bahkan sekedar medical chek-up saja rela keluar negeri seperti halnya rakyat Indonesia tercinta saat ini. Ketika dokter Indonesia mendapat sebutan “tidak becus”, “tidak profesional” bahkan dengan mudahnya anggota DPR yang notabene juga dokter menyatakan bahwa dokter lebih rendah daripada polantas yang suka menilang atau bahkan lebih kejam daripada teroris, maka sesungguhnya itu semua tanda-tanda bencana besar dunia kedokteran Indonesia.

Betapapun, keberhasilan upaya penyembuhan pasien amat bergantung pada rasa percaya yang imbal balik antara pasien dan dokter. Kepercayaan inilah yang harus selalu dijaga oleh penyedia layanan medis. Tanpa ada rasa percaya dari pasien, tidak mungkin upaya penyembuhan akan berhasil. Kecuali jika tujuan penyediaan layanan bukan untuk membantu kesembuhan pasien, tetapi semata-mata untuk mencari keuntungan sebanyak dan secepat mungkin dengan memanfaatkan ketidaktahuan pasien.

Bukan kesengajaan kalau dokter Indonesia harus lebih hati-hati terhadap tuntutan malpraktek sehingga untuk suatu diagnosis harus ditegakkan dengan berbagai macam pemeriksaan. Kalau harga obat dan alat kesehatan mahal tentunya bukan keinginan dokter. Hal ini adalah akibat persaingan bisnis dan ketidakmampuan pemerintah melakukan regulasi farmasi. Kalau tarif rumah sakit mahal....sekali lagi bukan dokter yang menentukan!

Komitmen Bersama
Semestinya semua pihak menyadari termasuk dokter sendiri bahwa kemuliaan profesi ini harus dijaga. Dokter tidak mungkin menyelesaikan permasalahan kesehatan sendiri. Perubahan mungkin terjadi kalau dokter Indonesia dapat kembali menjadi tuan "di negerinya sendiri", eksistensinya kembali utuh sehingga dokter mampu menjadi agent of change tidak hanya terhadap masalah kedokteran/ kesehatan tapi juga masalah-masalah sosial yang dihadapi bangsa ini.

Disahkannya UU No. 24 tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), yang merupakan perintah langsung UU No. 40 tentang SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) telah membawa kabar gembira bagi seluruh rakyat Indonesia, yang mendambakan pelayanan kesehatan yang berkeadilan sosial. Dengan ditetapkan UU ini diharapkan tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang terpaksa harus mengeluarkan uang dari dompetnya sendiri ketika ia membutuhkan pelayanan kesehatan dasar. Permasalahannya adalah rendahnya besaran anggaran Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang hanya Rp15.500 per orang dan perbulan. “Idealnya Rp50 ribu per orang tapi pemerintah beralasan kondisi finansial tidak mendukung,” kata Prof Hasbullah Thabrany, pakar kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Menurutnya, angka ini terlalu kecil karena biaya dokter saja membutuhkan anggaran Rp20 ribu per orang. Penghasilan para tenaga medis yang memberikan pelayanan kesehatan kepada setiap pengguna Sistem Jaminan Sosial Nasional harus memadai, mengutip Prof. Hasbullah Thabrany.

"Penghasilan para dokter yang memadai nantinya akan membantu penyaluran tenaga medis di lokasi-lokasi terpencil," ujar Hasbullah (AntaraNews, 23 Januari).

Dokter bukan dewa, bukan wakil Tuhan di bumi yang membantu kesembuhan manusia. Dokter juga manusia yang perlu hidup, dokter perlu istirahat, perlu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya. Dokter tidak ingin disakralkan, karena memang dokter punya kelemahan. Dokter butuh rasa aman dalam bekerja, dan hal itu akan sulit tercapai apabila dalam melakukan tindakan selalu dibayang-bayangi dengan ancaman tuntutan. Manusia adalah makhluk yang holistik dan variatif, kesembuhan pasien tidak semata-mata karena tangan dokter.

Saat ini para dokter yang tergabung dalam gerakan moral DIB (Dokter Indonesia Bersatu) sedang memperjuangkan eksistensi profesi dokter yang telah sekian lama tersudutkan. Keberadaan IDI sebagai organisasi profesi diharapkan pulih kembali setelah sekian lama tak mampu mempertahankan tradisi luhur dokter.

Sesungguhnya dokter tidak ingin menjadi DEWA, perjuangan ini semata-mata ingin mencari peluang untuk menjadi manusia mulia.*
http://www.metrotvnews.com/front/kol...dan-Kaki/kolom
ane setuju gan, emang dokter indonesia itu dewa tanpa tangan dengan berbaju pengemis, selalu dipolitisasi. Abang ane ada cerita waktu dosennya pertemuan di luar negeri ditanya tentang penghasilan oleh dokter dari negara lain mereka semua pada kaget alhasil setiap jalan mau makan atau kegiatan yang mengeluarkan uang mereka gak mau dibayarin ama dosen abang ane, dibilang mereka bahwa penghasilan dosen abang ane itu tidak sampai sepertiga mereka jadi mereka yg bayarin. Jadi sedih dengarnya gan
Huawhahahahaha...
Pokoknya di indo itu dokter harus goblok, harus tolol, kerjanya nipu masyarakat, ngisep duit orang dengan jualan obat, males gunakan obat generik dan senangnya malpraktek.

Kalau ada yang sembuh setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti memang sudah saatnya sembuh. Kalau ada yang mati setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti karena dokternya bego, cuek, jualan obat dan salah tindakan.

Yuuuk di bully dokter indo, dan marilah pergi kalian rame2 ke dokter Singupr atau Malaysia. Kan kalian semua memang orang Malaysia dan Singapur, masak berobat ke dokter indonesia.

Iya nggak?



Spoiler for Gagal Paham...:


Gua teringat kata2 moyang gua, kalau luw isa buat karyawan luw seneng, percaya, usaha luw bakal maju. Orang seneng kalau kerja bakal lebih hati2, lebih telaten, lebih peduli, karena mereka merasa bahagia dan diorangkan.

Nah sekarang, kalau gaji tenaga kesehatan (apa juga lah, dokter spesialis, dokter umum, perawat, pembantu perawat, apoteker, praktisi laboratorium, tec.) dibuat tinggi, percaya ama gua mereka kerja juga seneng, MELAYANI LUW PADA juga baik.

Tanya kenapa dokter di SILOAM, di Mt. Elisabeth bisa enak ngobrol, dengerin curhatan pasien? Yah karena JUMLAH PASIEN DIBATASI dan take home pay mereka tinggi.

Lah kalau per-pasien masih segitu, take home pay tenaga kesehatan masih di bawah buruh dan JAM KERJA YANG PANJANG (percaya apa nggak, dokter di salah satu rumah sakit RUJUKAN NASIONAL di JAKARTA kalau lagi giliran jaga malam artinya mereka nggak tidur kuirang lebih 36 JEM! Nggak NGERI luw ditangani tenaga kesehatan yg nggak liat bantal 36 jem?) ya mana bisa menuntut layanan seperti di Mt. Elisabeth kan?

Gua sempet assessment medical service yang ngasih proposal ke tempat gua, kalau luwyg gawe di migas pernah denger SOS atau yg dari UK...FrontierMedex? Nah mereka pasang tarif untuk medical doctornya 3000 USD/monthly - 8000 USD/monthly. It's okay for our company.

Mikirnya dibalik yang nuntut segala macem dari tim medis tapi ogah ngsih take home pay mereka tinggi.

Masak toolpusher di Apexindo minta diservice macam toolpusher di ENSCO?
(itu analogi pake dunia gua ya?)

Masak luw bayar tiket Sriwijaya Air minta nasi ayam panas + kacang+free flow water seperti di kelas bisnis GARUDA?

Masak bayar ceban minta wagyu well done di Ritz Carlton?

Ada harga ada layanan...
Ada harga ada service lah...
(luw sendiri yang masih BEKERJA dan CARI DUWIT BUAT MAKAN ANAK BINI juga sama kan prinsipnya?)

Kalau luw cuma RELA ngelempar recehan 23 rebu sebulan (atau 15 rebu sebulan) BUAT BAYAR PREMI KESEHATAN LUW...masak luw minta premium servicenya ALLIANZ?

Orang jaman dulu bilang, LU NGELEMPAR KACANG, YANG DATANG YA MONYET.

Masak lu cuma rela ngelempar kacang, ngarepin Tom Cruise yang datang?

yahhh. INdonesia mau diharapin gimana? masak gaji dokter kalah sama gaji PNS atau gaji supir TransJakarta... ini yang salah siapa ya .. Menkes kah? Presiden kah? atau pemda?

Susah pemerintahan sekarang.. kebutuhan dasar masyarakatnya gak bener2 diperhatikan kayak, sandang-pangan (harga2 pada naik), perumahan (harga naik tiap bulan), kesehatan (gak diperhatikan), dll...

Ini pemerintah ngapain aja ya? kalau cuma bias twitteran doang.. mending gw aja jadi presiden lah...
Quote:Original Posted By ErnestoGuevara.
Huawhahahahaha...
Pokoknya di indo itu dokter harus goblok, harus tolol, kerjanya nipu masyarakat, ngisep duit orang dengan jualan obat, males gunakan obat generik dan senangnya malpraktek.

Kalau ada yang sembuh setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti memang sudah saatnya sembuh. Kalau ada yang mati setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti karena dokternya bego, cuek, jualan obat dan salah tindakan.

Yuuuk di bully dokter indo, dan marilah pergi kalian rame2 ke dokter Singupr atau Malaysia. Kan kalian semua memang orang Malaysia dan Singapur, masak berobat ke dokter indonesia.

Iya nggak?


Nggak

Sok tau

Quote:Original Posted By ErnestoGuevara.
Huawhahahahaha...
Pokoknya di indo itu dokter harus goblok, harus tolol, kerjanya nipu masyarakat, ngisep duit orang dengan jualan obat, males gunakan obat generik dan senangnya malpraktek.

Kalau ada yang sembuh setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti memang sudah saatnya sembuh. Kalau ada yang mati setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti karena dokternya bego, cuek, jualan obat dan salah tindakan.

Yuuuk di bully dokter indo, dan marilah pergi kalian rame2 ke dokter Singupr atau Malaysia. Kan kalian semua memang orang Malaysia dan Singapur, masak berobat ke dokter indonesia.

Iya nggak?


Sok tau banget ente gan.. Ane doain mudahan pas ente sakit kagak ada dokter yang mau bantuin..
Quote:Original Posted By ErnestoGuevara.
Huawhahahahaha...
Pokoknya di indo itu dokter harus goblok, harus tolol, kerjanya nipu masyarakat, ngisep duit orang dengan jualan obat, males gunakan obat generik dan senangnya malpraktek.

Kalau ada yang sembuh setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti memang sudah saatnya sembuh. Kalau ada yang mati setelah berobat ke dokter indonesia itu pasti karena dokternya bego, cuek, jualan obat dan salah tindakan.

Yuuuk di bully dokter indo, dan marilah pergi kalian rame2 ke dokter Singupr atau Malaysia. Kan kalian semua memang orang Malaysia dan Singapur, masak berobat ke dokter indonesia.
Iya nggak?

Ngomong kyk ga pakai otak..
Yg anda lihat hanya bbrp% aja...


Quote:Original Posted By bhiineekaa
yahhh. INdonesia mau diharapin gimana? masak gaji dokter kalah sama gaji PNS atau gaji supir TransJakarta... ini yang salah siapa ya .. Menkes kah? Presiden kah? atau pemda?

Susah pemerintahan sekarang.. kebutuhan dasar masyarakatnya gak bener2 diperhatikan kayak, sandang-pangan (harga2 pada naik), perumahan (harga naik tiap bulan), kesehatan (gak diperhatikan), dll...

Ini pemerintah ngapain aja ya? kalau cuma bias twitteran doang.. mending gw aja jadi presiden lah...


kalo yg PNS ya sesuai golongan ditambah tunjangan fungsional, dan dokter itu d RS dpt JM alias Jasa Medis, jmlnya bs jutaan bahkan puluhan juta.
kl gk gajinya disama2in sm PNS biasa, ya gak usah jadi PNS, jadi dokter di RS Swasta trus buka praktek atau skalian bk RS sndiri
mane ane tau gan IDI kemana
gue sebagai calon dokter

cukup perihatin dengan nasib dokter sekarang..
gaji sedikit, sekolahnya susah, serba banyak dapet tuntutan, salah dikit langsung di fonis malpraktek
Quote:Original Posted By hobi_linux


kalo yg PNS ya sesuai golongan ditambah tunjangan fungsional, dan dokter itu d RS dpt JM alias Jasa Medis, jmlnya bs jutaan bahkan puluhan juta.
kl gk gajinya disama2in sm PNS biasa, ya gak usah jadi PNS, jadi dokter di RS Swasta trus buka praktek atau skalian bk RS sndiri

Buktikan perkataan anda disini..
Dan lihat ada brp dokter PNS yg kerja di RS yg bs spt itu..

entah kemarin entah hari ini, gw baca status temen gw yang seorang dokter "daripada demo mendingan gw ngadain sunatan masal "
kira2 begitu statusnya..

rupanya tentang ini toh
dokter demo
buruh demo

berikutnya apa?!?
Quote:Original Posted By coding.kumat
dokter demo
buruh demo

berikutnya apa?!?

programmer mau ikut demo juga?


Quote:Original Posted By coding.kumat
dokter demo
buruh demo

berikutnya apa?!?


Quote:Original Posted By pzUH

programmer mau ikut demo juga?




hush jangan semua gan... ntar pak SBY jadi ikutan demo masak..
IDEALISME" ?

Sejak kapan IDI, Dinkes, Depkes, KKI, BPOM, Puskesmas lokal, punya yg namanya "IDEALISME" ?

Kerja mereka hanya meras dokter2 di lapangan, pungli segudang dgn embel2 "sertifikat", "surat rekomendasi", dll

Saya saja beralih kerja di perusahaan, kerja non klinis yang tidak pegang pasien, sehingga saya tidak dipungli oleh Depkes, Dinkes, IDI, dst (korek saja keterangan lebih dalam, males saya jabarkan satu per satu)

Sekarang saya punya karir dan jabatan, ga perlu ngemis2 atau bayar pungli ke macam2 organisasi siluman kesehatan di Indonesia
Quote:Original Posted By dewasurya123
gue sebagai calon dokter

cukup perihatin dengan nasib dokter sekarang..
gaji sedikit, sekolahnya susah, serba banyak dapet tuntutan, salah dikit langsung di fonis malpraktek


salahnya kenapa itu gan?

yang ane tahu, ilmu kedokteran itu ilmu pasti bukan untuk coba-2

mengobati 10 pasien meninggal 1 berarti gagal..