Magno Radio, Radio Kayu Produksi Temanggung yg Mendunia


Berfikir kreatif, itulah kunci sukses seseorang. Hal inilah yang dilakukan Singgih di daerah asalnya. Setiap pagi di pinggir Jalan Desa di Dusun Krajan 1, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, suara pemotong dan penghalus kayu menderu-deru membelah keheningan. Di sebuah bangunan berlantai dua seluas 300 meter persegi tiga puluh pekerja sibuk dengan alat masing-masing.

Di bengkel kerja itulah, kayu pinus, mahoni, sengon, dan sonokeling disulap selama enam belas jam menjadi radio. Sebatang sengon yang biasa dijadikan kayu dihargai Rp 10 ribu, bernilai ratusan dollar Amerika setelah diolah dibengkel kerja milik Singgih Susilo Kartono itu. Sebuah radio kayu dijual dengan harga US$ 250-300 atau Rp 2,3-2,8 juta di Amerika dan Eropa.




Singgih memilih mengeluti usaha kayu karena merasa sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia dibesarkan di desa yang dirimbuni pokok-pokok yang menjulang. Dari kayu juga, sebagian warga Kandangan menggantungkan hidup mereka menjual gelondongan kayu yang sudah dipotong-potong. Itulah yang membuat lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu prihatin.

Menjodohkan kayu dengan radio juga bukan tanpa alasan. Bagi ayah dua anak ini radio merupakan alat yang bisa menjadi teman manusia. Perjodohan inilah yang syarat nilai dan makna inilah yang melambungkan Singgih dan radionya ke panggung dunia.
Desain yang menjadi tugas akhir kuliahnya ini memenangi Internasioal Design Resauce Award 1997 di Seattle, Amerika Serikat.
Ketika itu radio yang ia buat masih prototype. Komponen radio berasal dari radio yang sudah jadi. Selama tujuh tahun ia bekerja di sebuah perusahaan furnitur. Pada tahun 2004 setelah perusahaannya gulung tikar, Singgih pulang kampung dan memulai usaha sendiri.

Singgih menyulap ruang tamu rumah orang tuanya menjadi bengkel kerja, bersama istri dan empat karyawannya ia membuat alat-alat kantor, seperti tempat pulpen, stapler, dan tempat selotip dari kayu, juga kaca pembesar gagangnya dari kayu. Ia pun membuat radio kayu. Magno, demikian ia menyebut radio itu berasal dari kata magnifying (kaca pembesar) produk pertama yang ia buat.

Pengrajin asal Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini mulai fokus merintis usaha membuat radio kayu pada tahun 2005. Ia membuat desain sederhana dengan memasukkan unsur filosofi yang bisa membuat pemilik radio memiliki hubungan personal dengan radio tersebut. Berkat kegigihan dan kreativitasnya, produk Radio Kayu Magno diterima pasar.



Karena permintaan terus meningkat, saat ini, Singgih mengaku bisa memproduksi sebanyak 300 radio dalam sebulan. Radio Kayu Magno ini kemudian dikirim ke berbagai negara. Presentasenya, 95% produk radio kayu magno memasuki pasar ekspor, dan sisanya menyebar di Jakarta, Temanggung, dan Bali. “Sejak awal memang saya sudah berorientasi pada pasar ekspor,” ujar Singgih

Spoiler for pic:
Gilaaa, bisa dibikin dari kayu keren matabelo












original bost by ekyzone.com
sangatlah indah produk ini dan mempunyai nilai seni yang antik
luarnya kayu....
dalamnya tetep aja dari prangkat elektronika...

tapi cakep bentuknya...

perpaduan klasik modern...pantas di ekspor tu....
hehehe keren nih orang Temanggung...
kreatif banget gan
keknya pernah masuk tipi ni radio
wah tetangga nih
btw ane di maron sekip baru.kalo soal kayu kayuan emang temanggung ahlinya,pabrik2 kayu lapis lagi menjamur di sudut kab temanggung,apalagi di daerah kranggan-pringsurat
kalo boleh,ane minta catalog sama detail barang dan harganya dong
keren gan radionya...
jadi pengen punya neh
jadi penegen beli nih radio,ada dijual ga sih di indonesianya sendiri kira2
wow keren
unik dan klasik

Bravo Indonesia

Quote:Original Posted By uink123

Berfikir kreatif, itulah kunci sukses seseorang. Hal inilah yang dilakukan Singgih di daerah asalnya. Setiap pagi di pinggir Jalan Desa di Dusun Krajan 1, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, suara pemotong dan penghalus kayu menderu-deru membelah keheningan. Di sebuah bangunan berlantai dua seluas 300 meter persegi tiga puluh pekerja sibuk dengan alat masing-masing.

Di bengkel kerja itulah, kayu pinus, mahoni, sengon, dan sonokeling disulap selama enam belas jam menjadi radio. Sebatang sengon yang biasa dijadikan kayu dihargai Rp 10 ribu, bernilai ratusan dollar Amerika setelah diolah dibengkel kerja milik Singgih Susilo Kartono itu. Sebuah radio kayu dijual dengan harga US$ 250-300 atau Rp 2,3-2,8 juta di Amerika dan Eropa.




Singgih memilih mengeluti usaha kayu karena merasa sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia dibesarkan di desa yang dirimbuni pokok-pokok yang menjulang. Dari kayu juga, sebagian warga Kandangan menggantungkan hidup mereka menjual gelondongan kayu yang sudah dipotong-potong. Itulah yang membuat lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu prihatin.

Menjodohkan kayu dengan radio juga bukan tanpa alasan. Bagi ayah dua anak ini radio merupakan alat yang bisa menjadi teman manusia. Perjodohan inilah yang syarat nilai dan makna inilah yang melambungkan Singgih dan radionya ke panggung dunia.
Desain yang menjadi tugas akhir kuliahnya ini memenangi Internasioal Design Resauce Award 1997 di Seattle, Amerika Serikat.
Ketika itu radio yang ia buat masih prototype. Komponen radio berasal dari radio yang sudah jadi. Selama tujuh tahun ia bekerja di sebuah perusahaan furnitur. Pada tahun 2004 setelah perusahaannya gulung tikar, Singgih pulang kampung dan memulai usaha sendiri.

Singgih menyulap ruang tamu rumah orang tuanya menjadi bengkel kerja, bersama istri dan empat karyawannya ia membuat alat-alat kantor, seperti tempat pulpen, stapler, dan tempat selotip dari kayu, juga kaca pembesar gagangnya dari kayu. Ia pun membuat radio kayu. Magno, demikian ia menyebut radio itu berasal dari kata magnifying (kaca pembesar) produk pertama yang ia buat.

Pengrajin asal Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini mulai fokus merintis usaha membuat radio kayu pada tahun 2005. Ia membuat desain sederhana dengan memasukkan unsur filosofi yang bisa membuat pemilik radio memiliki hubungan personal dengan radio tersebut. Berkat kegigihan dan kreativitasnya, produk Radio Kayu Magno diterima pasar.



Karena permintaan terus meningkat, saat ini, Singgih mengaku bisa memproduksi sebanyak 300 radio dalam sebulan. Radio Kayu Magno ini kemudian dikirim ke berbagai negara. Presentasenya, 95% produk radio kayu magno memasuki pasar ekspor, dan sisanya menyebar di Jakarta, Temanggung, dan Bali. “Sejak awal memang saya sudah berorientasi pada pasar ekspor,” ujar Singgih

Spoiler for pic:



kalo dijadiin interior kamar keren juga nih
wah, temanggung mendunia nih
keren abis
Dimana yaa bisa beli radio magno ini..?
di bloomberg indonesia tadi masuk di acara made in Indonesia gan, keren banget & punya visi & misi 90% keuntungan buat perbaikan lingkungan
Bikinnya ngak gampang tuch
~Eater of Dark Soul~
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


makin cinta ama produk indo jadinya.. cakep cakep dan gak kalah sama luar


Quote:SILAHKAN MAMPIR KE TRIT ANE
Quote:Ular ini mempunyai kaki!!!


Latihan kiper yang tak biasa!!!


Jangan gantung ini di sini [BB+17]


Posted by ErikXGTA


~Eater of Dark Soul~
Quote:unik gan, bagus dibuat pajangan deh

dulu pernah masuk kick and* kan nih org sama produknya..

cakep emang...

indonesia emg kreatif gan