KASKUS

Kebohongan pemerintah tentang subsidi BBM (kalo mimin peduli, wajib hot thread!)

Kreativitas Fiskal dan Pembodohan Terhadap Masyarakat (Bagian 1)

Oleh: Anthony Budiawan
Direktur Eksekutif – Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA)
Rektor – Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII)


Seorang Sultan dari Negeri RI memiliki tanah yang sangat subur tetapi awalnya tidak sadar atas karunia tersebut. Sultan didatangi oleh orang asing yang ingin mengelola tanah nan subur tersebut dengan cara bagi hasil dengan pembagian 30% untuk asing dan 70% untuk Sultan.
Spoiler for sultan:

Spoiler for orang asing:

Dari pengelolaan tanah tersebut diperoleh hasil sebanyak 100 unit Produk MB per tahun dengan pembagian 30 unit untuk pengelola (mitra asing) dan 70 unit untuk Sultan. Dengan demikian, Sultan memperoleh 70 unit MB tanpa mengeluarkan biaya sama sekali (biaya = Rp 0). Sultan merasa sangat beruntung dengan kerja sama tersebut.

Sultan sadar bahwa Produk MB ini sangat dibutuhkan oleh rakyatnya, dan berjanji akan menggunakannya demi kepentingan, dan untuk kesejahteraan, Rakyat RI. Oleh karena itu, Sultan memutuskan untuk menjual Produk MB tersebut di dalam negeri dengan harga jual eceran Rp 1.000 per unit, sehingga Sultan memperoleh Pendapatan sebesar Rp 70.000 (untuk 70 unit), tanpa mengeluarkan biaya pengelolaan tanah (produksi). Untuk menjual Produk tersebut kepada masyarakat, Sultan memerlukan Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) sebesar Rp 10.000 per tahun, sehingga tingkat keuntungan Sultan menjadi sebesar Rp 60.000, seperti perhitungan berikut ini:

Pendapatan (Penerimaan) Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 -/-
Laba (atau Surplus) Rp 60.000

Penciptaan istilah “Subsidi”

Sultan diberitahu oleh Para Pembantunya bahwa harga Produk MB di luar negeri ternyata Rp 2.000 per unit. Namun, Sultan sadar sekali bahwa harga jual tersebut terlalu tinggi untuk di dalam negeri.

Spoiler for pembantu keuangan sultan, ali wardhana/orde baru, jb soemarlin/orde baru, boediono/reformasi, sri mulyani/reformasi:


Sultan adalah seorang yang sangat kreatif, dan berpikir untuk mendirikan sebuah perusahaan, PT Pert-MB, yang ditugaskan khusus untuk menjual dan mendistribusikan Produk MB di dalam negeri. Karena harga Produk MB di luar negeri sebesar Rp 2.000 per unit, maka Sultan memutuskan untuk menjualnya kepada PT Pert-MB dengan harga internasional tersebut. Tetapi, Sultan sangat sadar bahwa rakyatnya tidak mampu membeli Produk MB dengan harga Rp 2.000 per unit, dan menginstruksikan kepada PT Pert-MB untuk menjualnya kepada rakyat dengan harga Rp 1.000.
Spoiler for pt pert mb:

PT Pert-MB tidak ada pilihan lain dan harus mentaati keputusan ini, yaitu membeli Produk MB dari Sultan dengan harga Rp 2.000 per unit dan menjualnya kepada masyarakat dengan harga Rp 1.000 per unit. Oleh karena itu, PT Pert-MB tentu saja akan mengalami kerugian sebesar Rp 1.000 per unit atau Rp 70.000 untuk 70 unit. Ditambah Biaya Operasional sebesar Rp 10.000 per tahun maka total kerugian PT Pert-MB akan menjadi Rp 80.000, di mana kerugian ini akan diganti sepenuhnya oleh Sultan dengan istilah “Subsidi MB”. Dengan bangga Sultan kemudian berkata kepada rakyatnya bahwa sekarang Sultan memberi “Subsidi MB” kepada masyarakat (melalui PT Pert-MB) sebesar Rp 80.000 per tahun. “Subsidi MB”inilah yang selalu dikomunikasikannya kepada masyarakat, dan masyarakat sangat senang atas kebaikan hati Sultan.

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
Pembelian MB dari Sultan Rp 140.000 (70 unit @ Rp 2.000) -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 70.000
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 80.000
“Subsidi” dari Sultan Rp 80.000 -/-
Total Rp 0 (nihil)

Akan tetapi, benarkah demikian? Seorang ekonom, KKG, yang sangat kritis terhadap hitung-hitungan seperti ini dibuat terheran-heran, dan bertanya-tanya, mengapa negeri nan subur ini memerlukan subsidi Produk MB dari Sultan: pada awalnya Sultan memperoleh Laba (Surplus) sebesar Rp 60.000, tetapi kemudian berbalik menjadi memberi “Subsidi” sebesar Rp 80.000 (yang dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai Kerugian), sedangkan di dalam praktek sehari-hari KKG tidak melihat ada perubahan apapun pada penjualan Produk MB di dalam negeri, baik dalam jumlah produksi, konsumsi maupun harga per unit produk MB.
Spoiler for ekonom kkg:

Selidik punya selidik, KKG kemudian memperoleh fakta dari Nota Keuangan Sultan di mana tercatat ada Pendapatan yang berasal dari penjualan Produk MB kepada PT Pert-MB sebesar Rp 140.000 per tahun, yaitu 70 unit @ Rp 2.000. Di samping itu, dalam Nota Keuangan yang sama KKG juga melihat ada Belanja “Subsidi MB” kepada PT Pert-MB sebesar Rp 80.000 per tahun.

Dengan demikian, Sultan seharusnya masih memperoleh Surplus sebesar Rp 60.000 (persis seperti pada awal transaksi sebelum PT Pert-MB didirikan).
Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 140.000 (70 unit @ Rp 2.000)
“Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 80.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
Laba (Surplus) Rp 60.000

Oleh karena itu, KKG kemudian mengambil kesimpulan bahwa subsidi yang di-claim oleh Sultan selama ini sebenarnya hanyalah sebuah ilusi saja, imajinasi saja. Subsidi tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Faktanya, Sultan malah memperoleh Laba (Surplus) sebesar Rp 60.000 per tahun seperti perhitungan yang ada dalam Nota Keuangan Sultan yang ditampilkan oleh KKG di atas.

Istilah “Subsidi” yang Semakin Populer, dan Pembodohan terhadap Masyarakat
Spoiler for penipuan:

Sangat mengejutkan, harga Produk MB di luar negeri naik pesat menjadi Rp 2.400 per unit pada tahun berikutnya. Melihat perkembangan tersebut, Sultan kemudian meminta PT Pert-MB untuk membeli Produk tersebut dengan harga yang sama dengan harga luar negeri, yaitu Rp 2.400 per unit, tetapi menginstruksikannya untuk menjualnya di pasar domestik dengan harga yang sama, yaitu Rp 1.000 per unit, di mana total Kerugian PT Pert-MB tersebut akan diganti sepenuhnya (dengan kata lain, di-“subsidi”) oleh Sultan. Oleh karena itu, total kerugian PT Pert-MB yang akan “disubsidi” oleh Sultan menjadi Rp 108.000 seperti perhitungan berikut:

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan Produk MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
Pembelian Produk MB dari Sultan Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400) -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 98.000
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 108.000
“Subsidi” dari Sultan Rp 108.000 -/-
Total Rp 0 (nihil)

Sultan kemudian dengan bangga mengumumkan kepada Rakyat RI bahwa “Subsidi” yang diberikan oleh Sultan kepada masyarakat (melalui PT Pert-MB) meningkat dari Rp 80.000 menjadi Rp 108.000 karena harga Produk MB di dalam negeri tidak dinaikkan sesuai harga di luar negeri (artinya, harga Produk MB di dalam negeri tetap Rp 1.000 per unit). KKG sekali lagi mengintip Nota Keuangan Sultan, dan menyajikan data tersebut sebagai berikut.

Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400)
“Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 108.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) ./-
Laba (Surplus) Rp 60.000

Kesimpulan

Ternyata, KKG melihat fakta (dari Nota Keuangan Sultan) bahwa Sultan masih tetap memperoleh surplus sebesar Rp 60.000: yaitu, penjualan kepada PT Pert-MB sebesar Rp 168.000 (70 unit @ Rp 2.400) dikurangi “Subsidi MB’ kepada masyarakat sebesar Rp 108.000).

KKG mengangguk-angguk tanda mengerti, dan dalam batin dia mengatakan: tentu saja surplus tersebut tidak berubah, yaitu tetap Rp 60.000, karena kondisi di dalam negeri juga tidak berubah, dan sangat jelas bahwa kondisi di luar negeri tidak ada hubungannya dengan di dalam negeri.

Tetapi, kebanyakan masyarakat, termasuk para intelektual, sudah sangat terpikat dengan pencitraan Sultan yang dianggap sangat bermurah hati karena memberi “Subsidi MB” kepada masyarakat dalam jumlah besar.

Tetapi, sangat sayang bagi Sultan bahwa pembodohan ini tidak akan berlangsung lama lagi karena masyarakat sudah mulai tersentak dan tersadar dengan data yang disajikan oleh KKG, bahwa selama ini mereka dibodohi saja dengan istilah “Subsidi MB”. Kita tunggu saja reaksi masyarakat selanjutnya.

Bersambung ke Bagian 2 …..

Kreativitas Fiskal dan Pembodohan Terhadap Masyarakat (Bagian 2)

Oleh: Anthony Budiawan
Direktur Eksekutif – Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA)
Rektor – Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII)


Selang akhir tahun, harga Produk MB di pasar internasional naik lagi dengan pesat dan pada puncaknya mencapai Rp 3.000 per unit. Pembantu Sultan yang menangani masalah keuangan diminta nasehatnya mengenai dampak kenaikan harga Produk MB di pasar internasional terhadap keuangan Sultan.

Pembantu Keuangan Sultan mengerti keinginan Sultan bahwa harga jual Produk MB kepada PT Pert-MB adalah berdasarkan harga internasional, yaitu Rp 3.000 per unit, tetapi, harga jual dari PT Pert-MB kepada masyarakat adalah Rp 1.000 per unit (yang disebut sebagai harga ber-“subsidi”). Harga jual Produk MB kepada PT Pert-MB dengan harga pasar internasional, meskipun hanya sebagai ilusi, sudah dilakukan sejak lama (karena itulah yang selalu dikatakan oleh Pembantu Keuangan terdahulu, dengan alasan bahwa Sultan sesungguhnya dapat menjual Produk MB di luar negeri dengan harga pasar internasional karena Produk MB sudah menjadi komoditas vital dunia yang paling dicari).
Spoiler for harga pasar internasional/new york mercantile exchange:

Atas dasar asumsi harga jual tersebut, Pembantu Keuangan Sultan kemudian menghitung, dan sangat terkejut sekali melihat hasil hitungannya sendiri. Dengan tergopoh-gopoh, Pembantu Keuangan menghadap Sultan dan mengatakan apabila Sultan tidak menaikkan harga MB di dalam negeri maka Sultan akan mengalami kesulitan keuangan, alias keuangan Sultan akan jebol, karena Sultan harus menanggung beban ”Subsidi MB” yang sangat luar biasa besarnya, yaitu dari Rp 108.000 menjadi Rp 150.000, naik hampir 50%, seperti terlihat dalam perhitungan berikut:

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan MB kepada masyarakat Rp 70.000 (70 unit @ Rp 1.000)
Pembelian MB dari Sultan Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000) -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 140.000
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 150.000
“Subsidi” dari Sultan Rp 150.000 -/-
Total Rp 0 (nihil)

Melihat hasil perhitungan tersebut, Sultan langsung tampil di depan publik dan berpidato (sambil berkeluh kesah) bahwa sekarang ini keuangan Sultan sedang mengalami permasalahan yang sangat serius akibat kenaikan harga Produk MB di pasar internasional. Beban “Subsidi MB” yang harus ditanggung oleh Sultan menjadi sangat berat, dan oleh karena itu, Sultan berharap Rakyat RI dapat memakluminya apabila harga Produk MB di dalam negeri dengan terpaksa dinaikkan untuk menyelamatkan keuangan Sultan, seraya menambahkan: “Sultan mana yang senang atau gembira menaikkan harga MB di pasar domestik?”

Sekali lagi, ekonom KKG terheran-heran dibuatnya, dan tidak mengerti bagaimana kondisi di dalam negeri yang tidak berubah dapat mengakibatkan “Subsidi MB” meningkat seiring dengan meningkatnya harga internasional.

Berdasarkan perhitungannya, Produk MB itu merupakan hasil dari tanah nan subur milik sendiri, milik Rakyat RI, oleh karena itu, tidak ada hubungannya dengan Produk MB di luar negeri, dan tidak ada hubungannya dengan gejolak harga internasional. KKG sempat berpikir, apa saya yang bodoh sehingga tidak dapat mengikuti perhitungan yang disajikan oleh Para Pembantu Sultan.

Dengan rasa heran dan penuh rasa ingin tahu, KKG sekali lagi mengintip Nota Keuangan Sultan yang terbaru. Setelah mempelajarinya, KKG terperangah karena melihat fakta bahwa sebenarnya Sultan masih mengalami Laba (atau Surplus) sebesar Rp 60.000, persis sesuai prediksinya, yaitu surplus tersebut tidak mengalami perubahan apapun dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. KKG mengutip hitungan dalam Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB yang kemudian disajikan seperti berikut ini:

Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000)
“Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 150.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
Laba (Surplus) Rp 60.000

Tetapi, siapa yang mau mendengar KKG yang dianggap oleh banyak kalangan tidak mengerti permasalahan keuangan negara yang sangat rumit. Melalui Perwakilan Para Rakyat, maka disetujui harga Produk MB di pasar domestik naik dari Rp 1.000 per unit menjadi Rp 1.500 per unit untuk mempersempit perbedaan harga domestik dengan harga internasional, demi menyelamatkan Anggaran Keuangan Sultan.

Menurut Pembantu Keuangan Sultan, dampak kenaikan harga domestik tersebut dapat mengurangi “Subsidi MB” dari Rp 150.000 menjadi Rp 115.000 (lihat hitungan di bawah), tetapi tetap lebih tinggi dari jumlah “subsidi” sebelumnya yang sebesar Rp 108.000.

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan MB kepada masyarakat Rp 105.000 (70 unit @ Rp 1.500)
Pembelian MB dari Sultan Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000) -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 105.000
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 115.000
“Subsidi” dari Sultan Rp 115.000 -/-
Total Rp 0 (nihil)

Secara diam-diam, karena masih merasa tidak mengerti alur pikirin Sultan serta pembantunya terkait “Subsidi MB”, sekali lagi KKG mencoba melihat dampak kenaikan harga Produk MB di pasar domestik terhadap Nota Keuangan Sultan, dan menemukan sebagai berikut:

Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 210.000 (70 unit @ Rp 3.000)
“Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 115.000 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas)
Laba (Surplus) Rp 95.000

Ternyata, setelah kenaikan harga Produk MB di pasar domestik menjadi Rp 1.500 per unit, Laba (Surplus) yang diperoleh Sultan mengalami kenaikan dari Rp 60.000 (sebelum kenaikan harga) menjadi Rp 95.000. Kenaikan Surplus ini sebesar kenaikan harga domestik dikalikan jumlah unit penjualan (Rp 500 x 70 unit = Rp 35.000).

KKG melihat bahwa konsep penyusunan anggaran seperti yang disajikan oleh Sultan dengan istilah “Subsidi” merupakan pembodohan yang luar biasa terhadap masyarakat, karena sebenarnya Sultan mengalami Surplus dari pengeloaan tanah yang dilakukan Mitra Asing yang menghasilkan Produk MB, meskipun harga jual di dalam negeri lebih rendah dari harga internasional.
Oleh karena itu, istilah “Subsidi MB” dapat dikatakan pembohongan besar terhadap masyarakat.

Intinya, KKG mengatakan bahwa pengeluaran “Subsidi MB” dalam Anggaran Belanja Sultan adalah tidak riil karena tidak ada uang yang dikeluarkan.

“Subsidi MB” ini akan dikompensasikan dengan penerimaan dari PT Pert-MB (yang juga tidak riil). Satu-satunya yang riil dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Sultan adalah Surplus (atau Laba) sebesar Rp 60.000 sebelum terjadi kenaikan harga di pasar domestik, atau Rp 95.000 setelah terjadi kenaikan harga. Tetapi, anehnya Surplus yang riil ini tidak pernah disebut secara eksplisit di dalam Nota Keuangan Sultan, melainkan harus dicari dan dihitung sendiri, seperti yang dilakukan oleh KKG. Benar-benar sebuah usaha pengaburan perhitungan yang sempurna.

Bersambung ke Bagian 3 …..

Kreativitas Fiskal dan Pembodohan Terhadap Masyarakat (Bagian 3)

Oleh: Anthony Budiawan
Direktur Eksekutif – Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA)
Rektor – Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (IBII)


Ringkasan bagian sebelumnya, Sultan Negeri RI bekerja sama dengan Mitra Asing mengelola tanah nan subur ini, dan menghasilkan 100 unit Produk MB per tahun dengan pembagian 30%, atau 30 unit, untuk Mitra Asing dan 70%, atau 70 unit, untuk Sultan. Pada awalnya, 70 unit Produk MB ini jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Tetapi, perkembangan akhir-akhir ini cukup membuat Sultan pusing. Pasalnya, produksi dalam negeri menurun, sedangkan Mitra Asing juga meminta bagi hasil produksi dirubah akibat biaya kelola tanah (yang dinamakan cost recovery) meningkat: bagi hasil yang pada awal kesepakatan sebesar 30% untuk Mitra Asing dan 70% untuk Sultan minta dirubah menjadi 33,33% (atau 1/3 bagian) untuk Mitra Asing dan 66,67% (atau 2/3 bagian) untuk Sultan. Selain itu, permintaan konsumsi Produk MB di dalam negeri meningkat sehingga kebutuhan dalam negeri tidak dapat lagi dipenuhi oleh produksi dalam negeri, tetapi harus dipenuhi juga dari impor. Negeri RI sekarang sudah menjadi negara Net Importir Produk MB.
Spoiler for impor minyak, minyak nya dari perut bumi indonesia sendiri:

Dari data terakhir tercatat bahwa hasil produksi pengelolaan tanah hanya mencapai 90 unit Produk MB. Dengan kesepakatan bagi hasil yang terakhir, Mitra Asing memperoleh 1/3 bagian atau 30 unit Produk MB, sedangkan Sultan akan memperoleh 2/3 bagian atau 60 unit Produk MB. Seluruh Rakyat RI tidak ada yang mengetahui, secara sadar atau tidak sadar, bahwa penurunan produksi hasil kelola Mitra Asing dari 100 unit menjadi 90 unit tidak membuat bagian perolehan Mitra Asing turun: Mitra Asing tetap memperoleh 30 unit. Artinya, seluruh penurunan produksi tersebut dibebankan kepada Sultan melalui kesepakatan bagi hasil yang baru akibat cost recovery naik.

Bukan sulap dan bukan magic, tetapi nyata terjadi di Negeri RI yang tercinta ini: penurunan produksi yang dilakukan oleh Mitra Asing sebagai pengelola tanah tidak membuat perolehan mereka turun.

Seperti diuraikan di atas, konsumsi Produk MB di dalam negeri meningkat terus dari 70 unit per tahun menjadi 75 unit per tahun. Karena Sultan sekarang hanya memperoleh 60 unit dari pengelola Mitra Asing, maka Sultan harus mengimpor Produk MB sebanyak 15 unit untuk memenuhi total kebutuhan dalam negeri.

Nasib baik tidak berpihak pada Sultan, harga Produk MB di luar negeri naik sangat pesat belakangan ini, menjadi rata-rata Rp 4.000 per unit dari (harga sebelumnya sebesar Rp 3.000 unit). Melihat perkembangan yang sangat mengkhawatirkan ini, Pembantu Keuangan Sultan mulai menghitung apakah keuangan Sultan masih aman. Seperti biasa, Pembantu Keuangan sangat terperanjat melihat hasil perhitungannya, dan segera menghadap Sultan, melaporkan bahwa posisi keuangan Sultan dalam bahaya besar dan akan jebol apabila harga Produk MB di dalam negeri (yang sebesar Rp 1.500 per unit) tidak dinaikkan: “Subsidi MB” akan melonjak lagi, dan kali ini tidak tanggung-tanggung, dari Rp 115.000 pada tahun sebelumnya menjadi Rp 197.500 pada tahun ini, seperti terlihat dalam perhitungan di bawah ini.

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan MB kepada masyarakat (75 unit @ Rp 1.500) Rp 112.500
Pembelian MB dari Sultan (60 unit @ Rp 4.000) Rp 240.000
Pembelian MB Impor (15 unit @ Rp 4.000) Rp 60.000 +/+
Total Pembelian MB Rp 300.000 -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 187.500
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 197.500
“Subsidi” dari Sultan Rp 197.500 -/-
Total Rp 0 (nihil)

Mendengar laporan tersebut, Sultan langsung segera tampil di depan publik, tentu saja sambil berkeluh kesah seperti biasanya, menyampaikan bahwa keuangan negara sedang mengalami kesulitan yang maha dahsyat akibat kenaikan harga Produk MB di luar negeri yang sangat tinggi, ditambah jumlah impor yang cukup tinggi karena konsumsi dalam negeri meningkat sedangkan produksi dalam negeri menurun sehingga seluruh kebutuhan dalam negeri tidak dapat dipenuhi dari hasil produksi dalam negeri.

Sekali lagi, Sultan mohon dengan sangat agar Rakyat RI dapat mengerti bahwa harga Produk MB di pasar domestik terpaksa harus dinaikkan lagi, menjadi Rp 2.500 per unit, demi menyelamatkan keuangan Sultan. Dengan cara ini diharapkan beban “Subsidi MB” dapat ditekan untuk tidak naik terlalu tajam, hanya naik dari Rp 115.000 menjadi Rp 122.500, seperti terlihat pada perhitungan di bawah ini:

Pembukuan PT Pert-MB
Penjualan MB kepada masyarakat (75 unit @ Rp 2.500) Rp 187.500
Pembelian MB dari Sultan (60 unit @ Rp 4.000) Rp 240.000
Pembelian MB Impor (15 unit @ Rp 4.000) Rp 60.000 +/+
Total Pembelian Rp 300.000 -/-
Rugi Penjualan sebelum Biaya Operasional Rp 112.500
Biaya Operasional (Logistik, Distribusi, dll) Rp 10.000 +/+
Total Kerugian yang harus di-“subsidi” Rp 122.500
“Subsidi” dari Sultan Rp 122.500
Total Rp 0 (nihil)

Setelah sekian lama mengikuti alur pikiran Sultan dan para pembantunya terkait “Subsidi MB” ini, KKG sudah paham benar bagaimana cara Para Pembantu Sultan menyampaikan dan menyembunyikan informasi yang membodohi masyarakat ini. Lagi-lagi KKG mengintip Nota Keuangan Sultan dan membeberkannya sebagai berikut:

Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB
Pendapatan (dari PT Pert-MB) Rp 240.000 (60 unit @ Rp 4.000)
“Subsidi MB” (kepada PT Pert-MB) Rp 122.500 (lihat pembukuan PT Pert-MB di atas) -/-
Laba (Surplus) Rp 117.500

Dari Nota Keuangan Sultan dapat dibaca bahwa keuangan Sultan sebenarnya mengalami Surplus yang lebih besar dari tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 95.000 menjadi Rp 117.500, akibat kenaikan harga domestik yang disesuaikan dengan kenaikan harga internasional, yaitu Rp 1.000 per unit, meskipun jumlah Produk MB yang diterima oleh Sultan (dari bagi hasil kelola tanah dengan Mitra Asing) turun dari 70 unit menjadi 60 unit dan jumlah impor naik dari 0 unit menjadi 15 unit.

Para Pembantu Sultan sekali lagi mensosialisasikan bahwa Sultan sebenarnya sangat bermurah hati karena meningkatkan jumlah “Subsidi MB” dari Rp 115.000 menjadi Rp 122.500, meskipun ada kenaikan harga domestik menjadi Rp. 2.500 per unit. Artinya, kenaikan harga domestik tersebut sebenarnya tidak terlau besar untuk dapat mencukupi kenaikan harga internasional serta kenaikan jumlah impor, di mana dapat dilihat dari jumlah “Subsidi MB” yang masih meningkat. Tetapi, informasi bahwa Surplus Produk MB mengalami peningkatan dari Rp 95.000 menjadi Rp 117.500 seperti terbaca dari Nota Keuangan Sultan, tidak akan pernah terungkap apabila ekonom yang bernama KKG tidak menelanjanginya.

Masyarakat kini sudah mengerti benar duduk perkaranya, dan segera akan meminta pendapat Majelis Para Rakyat atau Majelis Konstitusi Rakyat untuk menurunkan fatwanya apakah Sultan boleh dengan seenaknya menaikkan harga domestik Produk MB sesuai dengan harga internasional sedangkan nyata-nyata Surplus di dalam Nota Keuangan Sultan terkait Produk MB malah bertambah besar akibat kenaikan harga tersebut.

Kita tunggu jawaban Majelis Para Rakyat atau Majelis Konstitusi Rakyat, dan kita lihat apakah mereka masih mempunyai rasa empati terhadap Rakyat, dan pantas menyandang kata Rakyat dibelakang kata Majelis.

--selesai--

hitung-hitungan ekonom KKG


sumber
Spoiler for hati nurani rakyat:

Spoiler for hati nurani sultan:


Spoiler for kampanye sultan 2014:


kaskuser yang baik adalah yang meninggalkan jejak
LOGIKA KEBUN CABE

Rakyat yang tidak berpendidikan tinggi dengan segera dapat menangkap konyolnya pikiran para elit kita dengan penjelasan sebagai berikut.

Rumah tempat tinggal keluarga pak Amad punya kebun kecil yang setiap harinya menghasilkan 1 kg. cabe. Keluarganya yang ditambah dengan staf pegawai/pembantu rumah tangga cukup besar. Keluarga ini membutuhkan 1 kg. cabe setiap harinya.

Seperti kita ketahui, kalau produksi cabe yang setiap harinya 1 kg. itu dijual, pak Amad akan mendapat uang sebesar Rp. 15.000 setiap harinya. Tetapi 1 kg. cabe itu dibutuhkan untuk konsumsi keluarganya sendiri.

Biaya dalam bentuk uang tunai yang harus dikeluarkan oleh pak Amad untuk menyiram dan memberi pupuk sekedarnya setiap harinya Rp. 1.000.
Pak Amad setiap harinya ngomel, menggerutu mengatakan bahwa dia sangat sedih, karena harus mensubsidi keluarganya sebesar Rp. 14.000 per hari, karena harus memberi cabe hasil kebunnya kepada keluarganya.

Akhirnya seluruh keluarga sepakat megumpulkan uang (urunan) sebanyak Rp. 5.000 yang diberikan kepada pak Amad sebagai penggantian untuk cabenya yang tidak dijual di pasar. Pak Amad masih menggerutu mengatakan bahwa dia memberi subsidi untuk cabe sebesar Rp. 10.000 setiap hari.

Lantas tidak hanya menggerutu, dia menjadi sinting betreriak-teriak bahwa dompetnya akan jebol, karena uang tunai keluar terus sebanyak Rp. 10.000 setiap harinya. Dalam kenyataannya, dia keluar uang Rp. 1.000 dan memperoleh Rp. 5.000 setiap harinya.

Ketika saya (KKG) menceriterakan ini, rakyat jelata yang minta penjelasan kepada saya (KKG) mengatakan : “Iya pak, kok aneh ya, punya cabe di kebunnya sendiri, harganya meningkat tinggi kok sedih, ngamuk, mengatakan kantongnya jebol, uang mengalir keluar, padahal yang keluar hanya Rp. 1.000 per hari, dia memperoleh Rp. 5.000 per harinya.”

Saya (KKG) katakan kepada rakyat jelata : “Ya itulah otak banyak sekali dari pemimpinmu yag sudah berhasil dicuci sampai menjadi gendeng seperti itu.”


Spoiler for mimpi bangsa indonesia yg tdk akan prnh trwujud:


Spoiler for nih bukti negara kita diperkosa chevron amrik:


Quote:Original Posted By Guakelelawar
Gan ane bikin infografis dari thread ente. Tapi hanya menjelaskan "dari mana biaya subsidi" saja. Soalnya kalo sampe ke kenaikan harga minyak dan sharing lahan bakal terlalu ribet. Kalo ada masukan silahkan pm ane. Thanks gan thread nya! bener bener bikin ane napsu




“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,
perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”


~ Soekarno ~


jangan lupa cendol nya ya gan/sist

sekian dari robicstalingrad


Spoiler for komen terbaik:


Spoiler for komen terbaik 2:


Spoiler for pembelaan buat ane:


Spoiler for Alhamdulillah sadar:


Spoiler for contoh yang tidak peduli terhadap bangsanya:


Spoiler for makasih gan udah di apresiasi:


Quote:Original Posted By Rakyat.MISKIN
siarkan kepada seluruh rakyat indonesia
bahwa pihak istana sedang mengkhianati bangsa & negaranya sendiri

hukuman yg pantas bagi para pengkhianat negara adalah DIHUKUM MATI !!!!




Quote:Original Posted By summerfinn
Jadi Kapan Kita Turun Ke jalan ni gan?? Demo besar2an kek `98
cuma bedany sekarang fokus ke pemerintah bukan ke yg lain


[flash]


[flash]


Perlu kita samakan dulu pemikiran kita

barang yang paling penting di dunia akherat is MINYAK! . anak/istri/keluarga, kedelai/bawang putih tidak penting!.

oleh karena pentingnya itu , banyak orang yang ingin menguasai nya, karena luar biasa keuntungannya bila berhasil mendapat dan mengendalikannya.

dari situ lah terbentuk sultan , orang asing , pt pert mb, ekonom kkg, subsidi, harga nymex, impor, kebun cabe, TS, thread bermutu, komen bermutu, dst..

dan yang ingin saya tekankan adalah MINYAK=BARANG VITAL , kita harus peduli karena ini super vital hingga akhir Zaman! kalo kita peduli pada nasib energi bangsa indonesia di masa depan, kita harus peduli minyak!=emas hitam.

RUMUS PASTI
BBM NAIK, SEMUA PASTI NAIK ! P A S T I ! P A S T I ! P A S T I . . . ! ! !

Quote:Original Posted By romses_aj
BBM NAIK SEMUA PASTI NAIK...

tp penghasilan blm tentu naik gan...
hiks..


komen terbaik lainnya di #16 / masih di page 1

komen selalu di pantau oleh TS, jadi jangan males2 komen ya!. komen cerdas mejeng di page 1.

thread bermutu lainnya
Sri Mulyani dan Berkeley Mafia (Para Perusak Ekonomi Indonesia)

agt.unila
kurang ngerti gan
Quote:Original Posted By 999devil999
kurang ngerti gan

sama gan
lanjuuuut...
klo emang beneran.,arah bgt berarti moral si Sultan..Kapan negara bisa maju klo pemimpinnya aja pada mikirin kekayaannya senidiri..
kalau pure 100% negeri kita yang ngolah minyak gak mungkin ada subsidi2 gan
padahal sultan udah gonta ganti terus.
kenapa sistem nya masih sama ya gan?
ga bisa komeng apa2... sdh nasib rakyat kecil yang hanya bisa mengikuti
trima sajalah hidup ini
berkedok membela rakyat, tapi malah menimbun kekayaan sendiri?
emang bener ya gan produksi minyak kita bisa mencukupi kebutuhan dalam negri??
ane kira kita masi harus import, cz kebutuhan dalam negri yang tinggi..
cz pernah denger, buat minyak, produksi kita emang kurang, tapi gas melimpah..
ternyata selama ini kita swasembada minyak ya gan??
hebat juga ya Indonesia..
rakyatnya udh bodoh dibodoh2in lg sm sultannya, yg pd pinter mulutnya pd disumpelin duit dan jabatan. kekayaan bumi negara diperkosa pihak asing , smg jd ht gan biar pd melek
komen2 dari kaskuser yang lain


Quote:Original Posted By Exc88
semoga pejabat negri ini bahkan sultan tersebut baca thread ini...
miris liat kelakuan pemimpin bangsa yang kita pilih saat pemilu malah sibuk ngurusin partai nya yg lg kena kasus korupsi

lowongan pekerjaan
dibutuhkan pemimpin yang rela kerja demi bangsa dan rakyat nya.
kriteria :
1. Lebih mementingkan rakyat miskin.
2. Rela keluarga sendiri dihukum apabila melakukan kesalahan.
3. Berani melawan bangsa lain yang memiliki niat membodohi bangsa!.
4. walaupun Lulusan SMA jika berpikiran nasionalis dan juga agamis maka niscaya akan membawa kemajuan! tidak perlu s2,s3,s4 bahkan S3 mini pun jika yg jadi prioritas utama nya hanya perut sendiri dan juga partai
5. Punya amarah yang besar apabila ada yang mengganggu NKRI!
6. G suka dikasih mobil dinas, rumah dinas dan juga tunjangan jika itu semua hanya membebani rakyat!
7. Suka melakukan pembunuhan kepada para koruptor!
8. Jika berkunjung keluar negeri g suka pakai jas, lebih diutamakan yang suka memakai "BATIK"!!!!!


kirim lamaran anda ke alamat jl. Semoga bangsa ini berubah blok. Koruptor mati semua Rt. 17 Rw. 08 No. 1945
dengan format MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!


jika berkenan taro di pejwan


Quote:Original Posted By onepers0n
Ini thread ane setuju bagus banget gan

emank kalo liat pembukuan yang udah di audit pasti udah bisa di manipulatif, maupun auditor independent makanya Pak KKG mau liat sendiri data yg belom di audit , seperti yang di katakan Pak KKG bahwa kalo mengikuti basis penghitungan "Cash Basis" yang tadi artinya adalah Negara mengeluarkan uang untuk subsidi itu tidak benar .. kan kita dapet minya SEBAGIAN BESAR dari produksi dalam negeri sendiri , jadi adanya ada SURPLUS penjualan BBM dari Pemerintah kepada PERTAMINA yang dipaksa membeli seharga HARGA PASAR, wong kita dapetnya bagi jatah gak keluar BIAYA yg di sebut sebut 8000/ liter .. (Penjelasan TS udah cukup menjelaskan perhitungannya)

Untuk yg masih belom mengerti / pro sultan
Kalo rumah orang tua ente punya pohon mangga, apa saudara bila memetik dan menkonsumsi itu bayar sejumlah harga yg dipasaran ke ortu ente ? buat apa ? kan pasti begitu kan ..
(credit by dosen Perekonomian Indonesia ane )

makanya INDONESIA YAH INDONESIA tidak usah mengikuti model perhitungan yg tidak benar, minyak indonesia diuntukan untuk rakyat indonesia
Sistem Keuangan di Amerika dan barat sana sudah kacau gan, ngapain kita mengikuti yg kayak begitu ? Masa mau belajar dari yg jelas2 tidak benar .. Tinggal tunggu waktu kapan sampe dampak ke indo dan para koruptor dengan cadangan keuangan yg banyak bebas dari dampak yg menyesengsarakan rakyat

Oh iya setelah baca komen2 yg di tampil di pejwan ane dukung pernyataan bahwa Sistem yg dipakai sultan nya pasti itu atas suruhan negeri yg suka berkonspirasi dan superrior, gak mungkin sultan dan gegedug nya yg menciptakan sistem seperti itu (gali lubang lalu tutup lubang )
Oleh karena itu mengapa kita harus mengikuti tuntutan konspirasi dari negara2 tersebut ? Pemerintah mestinya TEGAS dan BERANI dalam membela kepenting2an NEGARA NYA, bukan malah negara lain .. Jelas dikatakan bahwa NEGARA MEMPUNYAI HAK UNTUK MENENTUKAN HARGA BBM untuk KEGUNAANNYA SENDIRI, dan MENGIKUTI SUPPLY - DEMAND MARKET (HARGA PERMINTAAN PASAR) ITU TIDAK SAH seperti kata Pak KKG di video ..

note : Harga Demand Supply terus meningkat itu karena konspirasi dibalik semua itu, jadi itu hanya ulah ulah konspirator yg ada, sesuai judul video nya NEGARA KITA ITU AUTO-PILLOT atau kasarnya pemerintah itu cuma boneka nya negara2 asing (ini bila dikaitkan dengan konspirasi2 free***** sangat mungkin benar adanya, bahkan negara U*A saja pemerintahan nya mungkin berada dibawah petunjuk free****) wah jadi oot

MARI SEMUANYA BUKA MATA DAN PIKIRAN
CERDASLAH DALAM BERPIKIR DAN MENGANALISA


sekali lagi nice thread bro


Quote:Original Posted By abu_ashif
ane kemaren2 udah ikutan demo gan tolak kenaikan bbm..

walaupun gak ngaruh, tetep kudu di apresiasikan, supaya gak jadi setan bisu
yang diam ketika kedzaliman berlangsung



Quote:Original Posted By chodhote
mau nambahin gan, ni berdasarkan pengalaman ane di lokasi drilling baik di pert##mna maupun tmpat lain sprti petro**na . Yang jelas untuk pelaporan cost recovery yang di bilang pemerintah itu nilainya gila2an juga, karena nilainya di lapangan sangat2 di mark-up, dan tentunya tidak efektif. Contoh kasus,, pada saat drilling ane sering ngeliat alat2 berat yang di gunakan untuk operasi drilling itu kencing sembarangan, apalagi di tengah malam saat sepi dari aktivitas. Dan ada pula yang terang2an dan tentunya dari bawahan (sopir truck, sopir crane, dll) ,sampai orang material dan bahkan orang yang ditunjuk perusahaan sebagai pimpinan drilling (Companyman) ikutan bermain. Terkadang penggunaan material lumpur suka gak efisien, alias perusahan lumpur bermain dengan orang company dalam memanipulasi jumlah material yang nilai nya milyaran.

Contoh kasus, misalkan dalam operasi drilling membutuhkan jumlah material 10 palet, tetapi yang dilaporkan 15 palet, entah 5 palet nya kemana, kabarnya c di jual lagi ke orang material perusahaan tu juga. Nah jangan dikira 5 palet nya itu yang rugi perusahaan minyaknya loh,,,itu ntar di tagihkan lagi ke negara berupa cost recovery yang semuanya ntar di akhir pengerjaan akan di total. Belum lagi orang2 semcam BPMIGAS, itu mah mayoritas tukang palak tuh,,,sering malakin perusahaan services drilling,,, dengan cara2 liciknya, contoh case, sebelum nya perusahaan A sudah mengerjakan drilling beberapa sumur sebelumnya, kemudian waktu mau ngerjakan sumur next nya, si perusahaan A tu semua engineer dan alat2nya disuruh pulang, karena waktu inspeksi di nyatakan tidak layak, ada beberapa item yang tidak memenuhi syarat2 keamanan, nah loh,,, padahal khn yang audit kemaren2 gimana? lha wong perusahaan A ni udah langganan ngerjain sumur2 di oil company itu,,, masa gak ada SOP yang jelas di awal? usut punya usut, ternyata mereka minta per unit di perusahaan A itu 7,5juta /unit, sedangkann waktu tu ada 2 unit jalan paralel di 2 sumur, so tu orang BPMIGAS nya menang 15juta lah bawa pulang ke rumah, dan itu baru 1 services yang jelas2 services murah meriah, belum lagi malakin services yang kastanya tertinggi seperti logging, dan directional.

Sekarang BPMIGAS udah ganti nama, setelah di bubarin MK, tp dalam kenyataanya tu gak akan berubah, alias cuman ganti baju doank,,, lha yang masalah tu bukan bajunya kok,,,tp orang2nya mental korup,,,, klo ada yang bener jalanya bakal di sikat,,,udah jadi lingkaran iblis,,,

Kasus juga yang ane lihat berita di kaskus juga,,, klo si Cepot juga melakukan manipulasi cost recovery, dimana dana kampanye nya alias biaya iklan nya juga dimasukkan ke cost recovery, ada juga dana pengabdian masyarakat yang disitu jelas2 pakai spanduk si cepot (cari nama di masyarakat) yang dikiranya masyarkat itu adalah kebaikan dari si cepot, eh tetep aja dana itu di tagihkan ke negara berbentuk cost recovery,,,nah loh yang bego sebenernya sapa c?

Denger2 dari geologist senior petro**na , perusahaan petro**na termasuk perusahaan yang bagus menurut negara, karena dana cost recoverynya paling murah meriah (jelas2 disini ane liat senidri banyak markup dan ketidak jelasan penggunaan material, truck dan crane suka kencing senidri, baik dari bawah sampai atas didalam lingkungan perusahaan petro**na). Jadi kesimpulanya, si petro**na yg ane liat senidiri dengan mata kepala sendiri kinerjanya yang corupt, eh dianggap negara udah paling bagus, so gimana si cepot? si exxx? si totot? dsb,,,, Denger2 untuk pembelian minuman bir untuk bule2 di perusahan2 itu juga dimasukkan ke dana recovery, nah loh,,,, gimana coba? ni mah yang ngerampok bukan dari luar doank, tp dari dalam juga di gerogotin,,,, memang lah negara bedebah,,,,


Quote:Original Posted By poebystar
agan TS, ane ngerti banget dg apa yg agan TS jabarin,,

permasalahannya itu ekonom KKG dapat data bijimane caranya?

apa emg dr yg di publish oleh sultan trus di ubek2 buat dapetin logikanya atau cuma berdasarkan opini aja nih..??

trus 1 lagi nih agan TS, itu kasunya kan si pert-MB beli dr sultan, sementara sultan dpt BM dari bagi hasil ama asing, kenyataannya pert-MB juga produksi sendiri, nah itu gmn hitung2annya n penglogikaannya..

terus, pernah gak sih KKG jabarin kaya gini di TV ataupun di buku, kalo ada bagi infonya dong TS,,biar ane teliti juga nih kenyataannya...

ane sendiri juga miris liat pemimpin negeri ane ini..di bilang jendral sih jendral,,tapi kok kayak gak punya power ya,,kayak "tersandera" sesuatu...

hehehe..ane mau jabarin sesuatu, cm ane gak punya faktanya..tp klo diliat dg hati kayaknya berkaitan...

di mulai di tahun 2008, waktu itu Ibu Sri dr menteri keuangan jd menko perekonomian dan pak Budi dr menko perekonomian menjadi sebagai gub BI...
nah, karena 2009 bakal ada pemilu, Sultan kayanya mau nyalon lagi u/ jd Sultan yg kedua kalinya..maka di naikanlah harga MB sama sultan 33% ( 4500 --> 6000),,terus dikeluarin kebijakan yang namanya BLT dimana ini jd cara si sultan u/ bisa mendapatkan simpati dr masyarakat gol. tidak mampu...tiap orang gak mampu dikasih duit dg nominal tertentu,,nah, biar lebih hebatnya lagi, si sultan nurunin harga MB 3x berturut2 sebesar 500,500,500..HEBAT kan? Gimana gak hebat, udah di kasih BLT, gol. tdk mampu di kurangi bebannya dg penurunan harga MB..berasa jadi malaikatlah si sultan bagi gol. tdk mampu..biar tambah besar peluang jadi sultan, maka dibikinlah iklan buat kampanye bahwasanya hanya sultanlah satu2nya sultan yg pernah ada di Indonesia yg bisa bikin harga MB turun 3x berturut2 dg besaran yg sama n waktu relatif singkat...( Yaiyalah, di zaman JENDRAL BESAR harga MB cuma 200an,,trus 600an,trus 1200,,air aja lebih mahal drpd MB,,.trus baru di zaman buk Mega jd 2400,,pas di zaman sultanlah baru lebih gila jd 4500)

kebetulan waktu itu negara barat lagi kena krisis,takut perbankan kena imbas krisis dr negeri barat maka sultan lewat pembantunya bikin keputusan u/ ngebantu bank yg terindikasi bakalan jd pembuat kerugian di negeri ini..takut berdampak sistemik kayak tahun 1998, di tambal deh itu bank ama dana 6,7 T oleh pemerintahan sultan..

Pertanyaannya..
a. apa bener itu bank terindikasi bakal hancurin ekonomi perbankan di negeri ini jika gak di bantu?
b. Apa bener duitnya beneran bantuin itu bank?

kalo menurut ane ini mah jadi celah bagi sultan u/ nyari duit kampanye nyalonin jadi sultan lagi...bisa aja sultan bikin seolah2 bank "Centaur" terindikasi bakal berpengaruh terhadap perbankan,terus ditalangin deh..padahal sebenernya gak bakalan berdampak sistemik klo itu bank gak dibantu..biar diem yg punya bank disuruh keluar negeri,asetnya ngambang gak jelas atau palingan dikasih hidup enak diluar, terus duit talangan dijadiin sultan u/ dana kampanye..

Nah,kembali ke pernyataan awal.,"di mulai di tahun 2008, waktu itu Ibu Sri dr menteri keuangan jd menko perekonomian dan pak Budi dr menko perekonomian menjadi sebagai gub BI..."disini letak kunci permainan si sultan.

Setelah pemilihan legislatif, partai Sultan menang gede, tapi dirasa masih kurang sultan melakukan perpolitikan tingkat odong2..dimana sultan bikin koalisi rame2, janjiin siapa teman koalisinya yg punya suara rakyat yg gede, maka akan diangkat wakil presiden dr partainya n menteri d kabinetnya juga bakal diisi sama partai2 koalisi..wuidih..maka beramai2lah partai suaranya yg lumayan gede berkoalisi odong2 ama sultan...ternyata partai yg suaranya terbanyak ke2 adalah partai PKS yg ada d koalisi odong2 sultan..PKS menyodorkan bbrp nama u/ jd wakil sultan..hari berjalan.,di detik2 terakhir sebelum nentuin wakil, sultan melakukan pengkhianatan..dia gak milih wakil dr partai koalisi tapi malah ngangkat Gub BI jd wakilnya..hebat kan pengkhianatan sultan...tapi apalah daya,PKS udh terlanjur berkoalisi jadilah PKS duri dalam daging..

terus dilakukanlah pemilu,n ternyata sultan menang besar..WOW..LUAR BIASA...Menang 1 putaran...

kemudian sultan membentuk kabinetnya yg kedua, pertama2 ibu sri masih jd menko perekonomian di kabinet si sultan(kalo gak salah),,tapi karena ada indikasi kesalahan kebijakan dalam bantuan u/ bank "Centaur" ibu sri sudah terlebih dahulu dikirim ke negeri jauh u/ jd direktur di bank dunia(diselamatkan)..

disini letak indahnya permainan yg dilakukan oleh sultan...
1. pak budi diangkat dr menko perekonomian menjadi Gub. BI
2. Ibu sri diangkat dr menkeu menjadi menko perekonomian
3. MB di naikin, kasih BLT terus BM diturunin lagi
4. ibu sri n pak budi berduet bikin kebijakan u/ bantuin bank "centaur"
5. pak Budi dijdiin wapresnya sultan
6. sultan jebol jd sultan kedua kali
7. takut kebijakannya disalahin, ibu sri ditendang keluar negeri (diselamatkan)
8. terus kalo pak budi dituntut, takut pemerintahan gak jalan(karena kalo diselidiki maka harus jd wakil sultan non aktif)
9. maka selamatlah permainan sultan sesi pertama..

karena takut tercium n ini bakalan bikin sultan hancur, sultan membuat strategi kedua..

Pak agus dijadiin menteri keuangan, n pak Hatta dijadiin menko perekonomian...biar selamat,dibikinlah perkimpoian politik antara sultan ama pak hatta,karena sultan udah jd dedengkot d partainya n pak hatta juga udh jd ketua di partainya, maka cara yg paling baik adalah jd besanan...dikimpoikanlah anak mereka masing2..siip..disini selesai skenario awal bagian kedua...
btw, ambisi pak hatta u/ jd sultan selanjutnya dijadiin celah u/ menyelamatkan diri ama sultan yg sekarang..

terus skenario selanjutnya, bbrp waktu yg lalu menkeu (pak agus) dijadiin gub. BI..s

tebakan ane nih gan...
1. bsk pak hatta akan dijadiin tumbal ama sultan sekarang..gmn caranya..?
a. pertama udah dijadiin menko perekonomian, terus besanan, terus partai sultan akan membantu partai pak hatta dalam pencalonan pak hatta menjadi sultan selanjutnya
b. kalo jebol jd sultan, maka pak hatta akan melakukan praktek balas budi dg cara nyelamatin sultan skrg ini...ditambah mereka besanan, maka akan ada rasa kekeluargaan yg dibawa...
2. pak agus disiapin u/ menutupi boroknya sultan, pertama dijadiin menteri keuangan, terus dijadiin gub. BI...

terus pertanyaan besar yg ada di otak ane,,skenario kaya gini gak mungkin dibikin ama org2 kita...pasti ada org asing yg bermain pada skenario ini..nah, pasti ente semua dapat poin yg ane maksud..

nah, karena mgkn ini skenario bukan dr sultan atau org2nya sultan..maka pastilah si tukang pembuat skenario ingin keuntungan dari si sultan....caranya ya lewat kebijakan2, terus pemberian ladang2 n sumur2 minyak di negara ini..dll,
terus gak lupa melakukan ancaman ama sultan., ini ane selamatin si ibu sri, ane bantuin bikin skenario lanjutan, dll tapi awas kalo sultan gak bisa ngasih prospek yg cerah ama perusahaan2 minyak asal pemberi skenario..maka semuanya bakal di bongkar...

maka jadilah sultan seorang jendral yg tidak tegas...mau belain rakyat salah, karena bisa dibongkar boroknya..kalo gak bantuin dibilang gak pro rakyat..

MENURUT ANE HAL INI YANG MENYEBABKAN JENDRAL KITA INI MENJADI SEORANG SULTAN YANG TIDAK TEGAS.

TS, taro pejwan kalo hal ini mencerahkan...



Quote:Original Posted By kriegs
ane ninggalin jejak dlo gan..

ane kurang paham masalah perminyakan dan ekonomi,
tapi dalam hati ane sadar, kalo ada yang ga beres ama negara ini..

ane jadi inget kejadian tahun 60-70an di Iran dulu gan, yang pada saat itu pro terhadap amerika, dan minyaknya juga diperkosa ama mereka..
tapi rakyat sadar, dan terjadilah revolusi, dimana perusahaan2 asing di nasionalisasikan (perusahaan minyak kalo g salah ye CMIIW)

Iran pun di embargo ma amerika, tapi lihat Iran sekarang..
mereka dah maju gan, bisa bikin mobl sendiri, ga selalu impor GMC
bisa bikin senjata dan roket sendiri, ga perlu ngimpor dari negara2 NATO
banyak orang pinter bermunculan dan bisa buat nuklir reaktor sendiri (yang amerika gembar gemborkan sebagai senjata nuklir)
ni yang ditakuti negara2 barat, dimana independensi negara kita mulai terbentuk

seakan2 kita ini KETERGANTUNGAN ama negara barat
padahal kita bisa seperti negara Iran

ane ga ngerti ekonomi, tapi tau dikit tentang sejarah meski ane masih muda gini
taro pejwan kalo berkenan gan


Quote:Original Posted By davasuv
Pakai logika sederhana...

Kalau seandainya minyak indonesia itu sedikit (tidak cukup untuk memenuhi kuota dalam negeri), menurun dan akan habis dalam waktu yang tidak terlalu lama...kenapa makin banyak perusahaan minyak asing yang masuk kesini?dengan hanya mendapatkan 30% minyak mereka harus investasi triliunan rupiah...pastinya mereka tahu kalau bisa mengeruk untung yang luar biasa dari ladang-ladang minyak negeri ini...prinsip ekonomi dasar kan biaya produksi sekecil-kecil raih untung sebesar-besarnya

dan saya yakin sekali kalau minyak Indonesia tidak mencukupi kebutuhan lokal adalah kebohonongan saja

sebegitu bodohnya kah pertamina tidak bisa mengeruk minyak sendiri...di negeri sendiri....sehinga harus menggantungkan harapan pada pihak-pihak luar.

semoga pemimpin mendatang bisa benar-benar pro rakyat....




kalau kita mau menyalahkan orang, yang paling bersalah atas kemiskinan bangsa indonesia adalah pak harto, 32 tahun broo..., masa` selama itu cuma ninggalin krismon, utang. jepang/jerman yg hancur2an setelah PD2 saja majunya minta ampun.

anak jepang lahir = ngliat robot asimo yg super canggih bisa meniru manusia

anak indonesia lahir = ngliat robot rakitan murahan, teknologi rendahan, komponennya impor lagi , yg ngrakit songong lagi. tertinggal jauh kita

bayangkan jika malaysia 20 th lagi seperti jepang , kita masih dibodohi sultan. apa gk miris kita melihat anak cucu kita iri dg anak malaysia yg bisa melihat hal2 canggih di negaranya.

realita di negri kita

Quote:Original Posted By tommyhanura10
Ni gan..

Perlu kita mencontoh kebijakan pemerintah bolivia yang melakukan nasionalisasi perusahaan minyak yang dikelola asing..

Spoiler for Pengalaman Nasionalisasi Di Bolivia :


Spoiler for Sumber:




Quote:Original Posted By trianynovita
Ane paham sedikit doang dari itung2an di atas
Dosen ane punya temen yang jabatannya udah kepala di PU
dari kisahnya dan lika - liku perjalanan duit haram ( duit rakyat, sogokan2, dll )
Entah pemerintah, polisi, pns, dan oknum2 yang lain.
ane simpulin :
- Gajinya saja udah cukup banyak untuk menghidupi keluarganya. ( kalo keluarganya demen hura2 dan jadi haus duit, itu salah dia yang ga bisa memimpin/mengatur keluarganya, jangan duit orang lain lu embat )
- Seandainya duit rakyat tidak ada (paling tidak sangat minim) yang dikorupsi,
- Bermilyar2 duit yang ga berguna cuma dihambur2in beli rumah, mobil, dn segala fasilitas pribadi yang mewah, bisa didistribusikan untuk pengeluaran2 yang jelas fungsinya dan yang kekurangan dana.
- Atau lebih baik sebagian bisa dicicil melunasi hutang2 negara
- dan sebagian lagi untuk membantu rakyat yang memang sejatinya dari rakyat untuk rakyat. Bukan DARI RAKYAT UNTUK PEJABAT.

Tapi saya/anda bisa saja bilang kalau saya/anda menjadi pejabat ga bakal korupsi2 kaya yang lain, its a bullshit!
Politik di Indonesia ga ada yang bersih.
Kalau pun ada 1 : 1000 ato mungkin banding sejuta.
kalau cuma 1 pihak yang bergerak tidak korupsi, lalu pilihannya ditentang dengan jalan ancaman dsb atau dihasut untuk ikut korupsi oleh ribuan pihak yang korupsi. Maka hasilnya adalah anda bisa jawab sendiri


Orang migas bicara

Quote:Original Posted By arthalita.S
Ane praktisi migas gan. Yang TS bilang tentang negara yang masih untung dari sektor migas itu memang benar adanya, namun negara membutuhkan keuntungan dari sektor migas untuk APBN. jika semua penghasilan migas dikembalikan untuk migas saja, pemerintah tentu tidak perlu menaikkan harga tapi apakah keputusan ini yang terbaik? Perlu diingat masih ada sektor lain yang membutuhkan dana tersebut seperti pendidikan, militer, dll. Harus dipikirkan solusi yang terbaik dan dapat diterima kita semua.

Sementara untuk masalah perusahaan minyak asing perlu TS tau bahwa hampir semua keuntungan pertamina itu diambil negara untuk APBN sementara biaya operasional migas terutama eksplorasi itu sangat besar dan resikonya tinggi. Pertamina kesulitan dalam hal keuangan, karna itulah pertamina kalah bersaing di negri sendiri dibanding asing, tetapi memberi banyak dana kepada pertamina juga akan berakibat penerimaan negara merosot tajam, Disitulah pemerintah merasa perlu dengan adanya perusahaan asing. itulah dilemanya Pertamina dituntut menjadi tulang punggung negara sementara pemerintah kurang mendukung pertamina untuk maju.

Profil produksi lapangan minyak akan terus menurun seiring berjalan waktu. Saat ini lapangan minyak di Indonesia adalah lapangan2 tua yang sangat sulit memproduksikannya untuk itu diperlukan teknologi yang tinggi untuk menghambat laju penurunan produksi yang imbasnya meningkatnya cost recovery tapi jika kita melakukan hal tersebut minyak yang keluar akan jauh lebih sedikit, inilah sebab mengapa cost recovery terus meningkat sementara produksi terus menurun. Penemuan lapangan baru sangat sedikit dan biaya eksplorasinya sangat besar, maka itu jangan heran kalo perusahaan asinglah yang banyak mendapat wilayah kerja dan menemukan lapangan baru.

Dalam hal bagi hasil migas dengan asing pemerintah akan mendapat 85:15 untuk minyak dan 70:30 untuk gas. Saat ini produksi nasional sekitar 850rb barel dan kebutuhan 1,1jt barel, itulah mengapa Indonesia masih mengimpor. Kapasitas kilang Indonesia masih kurang karena beberapa memang dibangun tidak cocok untuk minyak Indonesia sehingga sebagian minyak kita ekspor dan impor jenis yang cocok. Ane juga kurang paham masalah ini tp setau ane ini dikarenakan kita butuh hasil pengolahan minyak dari luar yang tidak didapat dari minyak Indonesia.

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa Indonesia bukanlah negara kaya minyak, kita sudah seharusnya belajar untuk berhemat dan mengurangi ketergantungan kepada minyak bumi.



semoga ada solusi yang tidak membebani rakyat
lagi2 rakyat yg jd korban.
Ts nya sok tau... Sultan dapat 70% dalam bentuk mentah jadi si sultan dinegeriny ga bs olah dia kirim keluar negri buat di olah. Dengan kata lain si sultan cuman dapat mentah tetapi mentah tidak dapat di pakai langaung jadi sultan olah ke luar negri baru masuk ke dalam negri dalam bentuk siap pakai. Ada biaya kelolah, biaya distribusi, logistik buat ke luar dan dalam negri. Artiny minyak dr negeri sultan tetao serupa biayanya dgn minyak harga dunia.