KASKUS

Video [Surabaya, 1942] "Mereka tentara yang gagah berani"

"Mereka tentara yang gagah berani"
Terbit 25 April 2013, 16:01 AEST



Mayjen (Purn) TNI, Sukotjo Tjokroatmodjo, dari Legiun Vetaran RI (LVRI) mengatakan tentara Australia yang berperang melawan Jepang di Indonesia dikenal dengan citra mereka sebagai tentara yang sangat berani dalam pertempuran.

Quote:
War vetarans from Indonesia and Australia shake each other's hands
Mayjen (Purn) TNI, Sukotjo Tjokroatmodjo (membelakangi kamera) duduk di samping seorang veteran perang Australia dalam hari peringatan Anzac Day, 25 April 2013. (Credit: ABC)


Sukotjo mengenang aksi kepahlawanan tentara Australia dalam pertempuran di Jembatan Porong, sebelah Selatan Surabaya pada tahun 1942.

“Ada tentara Australia itu mengikat dirinya diatas kereta api, badannya dililitkan dengan senapan mesin dan ia memuntahkan peluru ke arah tentara Jepang sampai pelurunya habis sampai dia gugur di tempat. Aksi itu sangat terkenal dan menjadi buah bibir. Orang-orang seusia saya pasti tahu cerita itu."

Reputasi baik ini menurutnya bukan hanya di medan perang -tentara Australia dikenal sangat dekat dengan warga Indonesia.

“Waktu itu kan Indonesia masih jajahan Belanda, dan mereka menganggap kedatangan tentara Australia ya memang untuk membantu kita agar tidak dijajah Jepang."

Dukungan Australia, menurut mantan ajudan Bung Karno ini, terus berlanjut hingga sesudah masa kemerdekaan, di mana Indonesia kembali menunjuk Australia sebagai perwakilan Indonesia dalam komisi Tiga Negara untuk memfasilitasi perundingan di PBB.

“Saya kenal baik orang Australia yang memimpin delegasi Australia dalam Komisi Tiga Negara itu namanya Thomas Critchley. Ia membela Rakyat Indonesia mati-matian dalam perundingan itu. Ia membantah klaim negatif Belanda mengenai Indonesia di meja perundingan. Sampai akhirnya Indonesia memenangkan perundingan tersebut dan pendudukan Belanda di Indonesia berakhir."

Dukungan atas kemerdekaan Indonesia tersebut juga ditunjukkan oleh masyarakat Australia. Di saat Indonesia berjuang memperoleh pengakuan Internasional sebagai negara merdeka pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, buruh pelabuhan di Australia melancarkan aksi mogok massal dan menyandera kapal-kapal Belanda yang berisi amunisi, senjata, dan sebagian tentara yang hendak diberangkatkan ke Indonesia untuk melakukan agresi militer merebut Indonesia kembali.

Aksi solidaritas buruh pelabuhan ini kemudian semakin meluas. Para buruh transportasi ikutan menggelar aksi serupa, disusul oleh buruh cat, buruh mesin, dan bahkan pegawai kantor dermaga yang sehari-hari mengurusi kapal-kapal Belanda pun akhirnya ikutan melakukan mogok kerja.

Aksi dukungan moral ini akhirnya mengalir dari negara lain dan perjuangan Indonesia untuk merdeka terus menuai dukungan internasional.

Dan pagi ini, di upacara peringatan Anzac Day, berbagai kenangan tersebut kembali hidup di benak para saksi sejarah.

http://www.radioaustralia.net.au/ind...berani/1121748

================================================

jaman segitu MG rambonya (peluru dililitkan di badan) pake apa ya? masa vickers

ga apal senjata Commonwealth PD II
Vickers .30MG ==> Belt-feed
Bren LMG ==> Magazine-feed
Lewis LMG ==> Drum-pan feed

Nggak ada keterangannya kalau itu belt-feed, kan?
Jadi pasti antara ketiga senapan mesin itu, atau alternatifnya M1919 LMG atau Hotchkiss M1909 Benet-Mercie.
Quote:Original Posted By stuka1788
Vickers .30MG ==> Belt-feed
Bren LMG ==> Magazine-feed
Lewis LMG ==> Drum-pan feed

Nggak ada keterangannya kalau itu belt-feed, kan?
Jadi pasti antara ketiga senapan mesin itu, atau alternatifnya M1919 LMG atau Hotchkiss M1909 Benet-Mercie.


wah, iya yang M1909 ....

ternyata yang belt feed itu juga
Mereka sebenarnya kawan kita yang paling dekat kok, dan memang ada kalanya seorang kawan berselisih dan bertengkar hebat atas pandangannya masing-masing terhadap sebuah isu. Dan uniknya, banyak Australia hater dimari hanya melihat Australia dari apa yang mereka lakukan terhadap isu Timor Leste, tapi melupakan esensi sesungguhnya apa yang sebenarnya terbaik buat kita atas masalah Timor Leste itu (Dan menurut ane kemerdekaan Timor Leste mungkin akan terasa sakit di hati para pahlawan dan prajurit yang pernah bertempur di Timor Leste, tetapi sesungguhnya dalam jangka panjang hal itu akan menjadi obat bagi kita karena sesungguhnya sejak awal mula deklarasi Balibo isu Timor Leste adalah duri dalam daging bagi posisi Indonesia secara keseluruhan). Semoga di masa depan hubungan Indonesia Australia akan menjadi lebih baik dan harmonis dalam taraf yang lebih adil dan bijaksana dalam menyikapi sebuah isu bersama.
Ternyata dulunya Aus-Indo mesra ya sampai aksi mogok segala

sejak trikora apa dwikora ya mulai renggang

justru sebenarnya di teater pasifik lebih banyak kontribusi tentara australia.

banyak org australi bete ama amerika karena kebanyakan film WW 2 termasuk the pacific yg jarang menonjolkan kehebatan tentara australia.
tapi yah namanya juga film buatan holywood
"Melawan Jepang tanpa makan": Kenangan veteran perang Australia di Timor Barat
Diperbaharui 25 April 2013, 16:10 AEST

“Kami mendarat di Timor Barat dengan 1000 orang personil dan hanya 23 orang yang berhasil selamat. Kami bertempur tanpa henti melawan tentara Jepang selama 4 hari berturut-turut tanpa makanan dan amunisi,“ kenang Thomas Frederick Smith, 90 tahun, satu dari 23 orang yang selamat di Timor Barat dalam sebuah episode Perang Dunia II tersebut.

Quote:
Thomas Frederick Smith, war veteran
“Saya pernah tinggal di kamp tahanan di Jawa, Birma, Thailand dan Malaysia. Selama menjadi tahanan perang, saya kerja paksa membangun jalan kereta api di Birma Thailand dan Jawa.” (Credit: ABC)




Tembok yang tertutup tanaman adalah satu-satunya penghalang antara keramaian kota Jakarta dengan sebuah upacara khidmat dalam Taman Makam Pahlawan negara-negara persemakmuran di Menteng Pulo –Kuningan, Jakarta Selatan. Upacara tersebut adalah peringatan Hari Pahlawan bagi warga Australia dan Selandia Baru, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Anzac Day, yang dihadiri oleh sanak keluarga tentara yang dimakamkan dan perwakilan diplomatik negara-negara persemakmuran, seperti Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty.

Upacara dimulai pada pukul 05.30 WIB -jam yang sama dengan saat-saat pendaratan tentara Australia dan Selandia Baru di Teluk Gallipolli,Turki, pada tahun 1915. Pendaratan itu mengawali pertempuran sengit yang berakhir dengan kekalahan dan gugurnya lebih dari 8 ribu tentara Australia dan Selandia Baru.

Dalam sambutannya Greg Moriarty mengatakan Hari Pahlawan ini adalah hari untuk mengenang pengorbanan terakhir tentara Australia dan Selandia Baru yang memungkinkan kita semua hidup dalam damai dan bahagia.

Sementara itu veteran perang Australia, Thomas Frederick smith (90) yang menghadiri langsung acara di Jakarta mengaku sangat bahagia bisa mengunjungi makam rekannya di kesatuan batalion infanteri 2/40 di Taman Makam Pahlawan (TMP) negara-negara persemakmuran ini.

“Kawan saya gugur dalam pertempuran melawan Jepang di jalur kereta api di Sumatera, hanya 3 bulan sebelum perang berakhir. Saya melihat pusaranya di utara makam ini tadi,” tuturnya, dan kemudian menambahkan, "banyak orang dari [kepulauan] Indonesia yang juga tewas dalam peperangan itu."

Pada waktu dia masih berusia 19 tahun, Frederick dikirim ke Timor Barat dan ditugaskan melawan tentara Jepang di Timor Barat pada tahun 1942. Ia mengenang perang melawan Jepang itu sebagai pertempuran yang brutal.

“Kami mendarat di Timor Barat dengan 1000 orang personil dan hanya 23 orang yang berhasil selamat. Kami bertempur tanpa henti melawan tentara Jepang selama 4 hari berturut-turut tanpa makanan dan amunisi,“ kenangnya.

“Waktu itu sangat berat dan sangat mengagetkan, karena saya baru berusia 19 tahun ketika itu, dan kami belum pernah juga meninggalkan tanah kelahiran kami. Tapi kami dipaksa langsung terjun ke medan perang, menghadapi tentara Jepang yang brutal,” tuturnya.

Setelah kalah melawan Jepang di Timor Barat, Frederik menjadi tahanan perang tentara Jepang selama 3,5 tahun. Ia ditempatkan di sejumlah kamp tahanan dan menjadi romusha, tenaga kerja paksa Jepang.

“Saya pernah tinggal di kamp tahanan di Jawa, Birma, Thailand dan Malaysia. Selama menjadi tahanan perang, saya kerja paksa membangun jalan kereta api di Birma Thailand dan Jawa.”

Memberi pengetahuan sejarah

Sementara itu, Ben, salah satu warga Australia yang kakeknya gugur dalam perang di Ambon, mengaku sangat terharu dengan peringatan Hari ANZAC di Jakarta tahun ini karena dihadiri lebih banyak orang. Ben kini bekerja di Jakarta, dan sudah beberapa kali menghadiri upacara ANZAC tersebut.

“Ini upacara ANZAC day ke-3 yang saya ikuti. [Sebelumnya] tidak pernah seramai ini sebelumnya. Ada lebih banyak perwakilan diplomatic yang hadir itu bagus sekali, sangat mengharukan bagaimana mereka sangat menghargai jasa dan pengorbanan pahlawan kita. “ ucapnya.

Ben hadir bersama isteri dan dua anaknya yang masih kecil. Ia juga ingin mengingatkan kedua anaknya atas jasa kakek buyutnya yang juga kut berperang melawan Jepang dalam PD II di Ambon.

Dalam upacara tersebut, suasana persahabatan juga terasa. Dan Thomas Frederick Smith mengatakan kepada Radio Australia mengenai kenangannya atas orang-orang dari Jawa yang bersama-sama dirinya menjadi tahanan perang Jepang.

"Dulu, banyak orang Jawa dalam ketentaraan Belanda, dan mereka pernah bilang ke saya, 'kalau perang [dengan Jepang] ini sudah selesai, kita akan ada perang lagi -melawan Belanda'," kenang Thomas.

Dan, sambil tertawa, Thomas menyelesaikan ceritanya: "Dan mereka menang pada akhirnya."
Warga Australia Peringati Gugurnya 229 Tentara Australia di Balikpapan
Tribunnews.com - Kamis, 25 April 2013 07:34 WIB


Tribun Kaltim/Purnomo Susanto

Warga Australia, Selandia Baru, dan Indonesia memperingati Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) Day di Monumen Tank Mathilda, Pasir Ridge Balikpapan, Kamis (25/4/2013) pagi.

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Purnomo Susanto






TRIBUNNEWS.COM, BALIKPAPAN - Warga Australia, Selandia Baru, dan Indonesia memperingati Australian and New Zealand Army Corps (ANZAC) Day di Monumen Tank Mathilda, Pasir Ridge Balikpapan, Kamis (25/4/2013) pagi.

Keharuan mewarnai upacara yang dimulai pukul 06.00 Wita itu. Upacara dihadiri Atase Darat Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia Col Andrew Mayfield, Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi serta perwakilan dari angkatan bersenjata dan veteran dari Indonesia dan Australia.

ANZAC Day adalah peringatan gugurnya 229 tentara Australia saat bertempur membebaskan Kalimantan dari pendudukan Jepang, 1945 silam. Saat itu, ratusan tentara dari Divisi VII Australia mengikuti operasi sekutu pada masa perang dunia kedua (PD II).

http://www.tribunnews.com/2013/04/25...-di-balikpapan
dulu Sabre kita itu hibah ato beli ya?
wah.. baru tau peran ausie di indo ternyata banyak juga..
Quote:Original Posted By madokafc
Mereka sebenarnya kawan kita yang paling dekat kok, dan memang ada kalanya seorang kawan berselisih dan bertengkar hebat atas pandangannya masing-masing terhadap sebuah isu. Dan uniknya, banyak Australia hater dimari hanya melihat Australia dari apa yang mereka lakukan terhadap isu Timor Leste, tapi melupakan esensi sesungguhnya apa yang sebenarnya terbaik buat kita atas masalah Timor Leste itu (Dan menurut ane kemerdekaan Timor Leste mungkin akan terasa sakit di hati para pahlawan dan prajurit yang pernah bertempur di Timor Leste, tetapi sesungguhnya dalam jangka panjang hal itu akan menjadi obat bagi kita karena sesungguhnya sejak awal mula deklarasi Balibo isu Timor Leste adalah duri dalam daging bagi posisi Indonesia secara keseluruhan). Semoga di masa depan hubungan Indonesia Australia akan menjadi lebih baik dan harmonis dalam taraf yang lebih adil dan bijaksana dalam menyikapi sebuah isu bersama.

gak salah jg kok generasi muda

di smp sma kan gak dijelasin sejarah secara detail gt

contoh operasi jayawijaya taunya indo strong,pdhl dpt alutista dr uni copet
Quote:Original Posted By pipop78
dulu Sabre kita itu hibah ato beli ya?


tukeran tambah gan sama MiG21, MiG17, MiG15, Tu16KS
Quote:Original Posted By Chisana

gak salah jg kok generasi muda

di smp sma kan gak dijelasin sejarah secara detail gt

contoh operasi jayawijaya taunya indo strong,pdhl dpt alutista dr uni copet


propaganda pemerintah
Quote:Original Posted By Bowo1908
Ternyata dulunya Aus-Indo mesra ya sampai aksi mogok segala

sejak trikora apa dwikora ya mulai renggang



dulu waktu jaman Paul Keating berkuasa Indonesia & Australia adem ayem semeasa pemerintahan John Howard aja Australia jadi songong . . . pake ngomong mau beli Rudal Patriot yang di arahkan ke Jakarta segala dan bisa menjadi Pre Emptive Strike kaya bos nya si Amerika . . . wkwkwkkw John thor cuma bisa ngomong doang bahkan Bush sendiri ngga terlalu demen sama si John Homo ini
hubungan australia ini selalu naik turun grafiknya....tergantung siapa yang jadi PM di australia
ane pernah baca buku yg aksi buruh, tp lupa judulnya apa...
Quote:Original Posted By alexander hagal
hubungan australia ini selalu naik turun grafiknya....tergantung siapa yang jadi PM di australia


yup kalo kayak si howard sich.....
Quote:Original Posted By wahyubison


yup kalo kayak si howard sich.....


howard ngopo?
Quote:“Ada tentara Australia itu mengikat dirinya diatas kereta api, badannya dililitkan dengan senapan mesin dan ia memuntahkan peluru ke arah tentara Jepang sampai pelurunya habis sampai dia gugur di tempat. Aksi itu sangat terkenal dan menjadi buah bibir. Orang-orang seusia saya pasti tahu cerita itu."

Sounds as true as a myth

Sama seperti cerita propaganda Soviet bahwa T-34 kamerad Ivanov dengan gagah berani mendekati tank Tiger Jerman menghindari tembakan-tembakan musuh dan akhirnya berhasil bertatap muka dengan Tiger lalu menghancurkannya dengan tembakan point-blank.

Quote:Original Posted By chawpituta
justru sebenarnya di teater pasifik lebih banyak kontribusi tentara australia.

banyak org australi bete ama amerika karena kebanyakan film WW 2 termasuk the pacific yg jarang menonjolkan kehebatan tentara australia.
tapi yah namanya juga film buatan holywood


Ooooooooooo...... gitu ya...

Ane jarang banget nonton pelem dari Lohhywood tapi ane tau yang pertama kali memberikan pukulan telak kepada armada laut Jepang di Coral Sea adalah Carrier Task Force nya Amerika, yang tujuannya melindungi pasukan Australia yang kewalahan menahan pasukan Jepang di Kokoda Trail menuju Port Moresby. Pada akhirnya pasukan darat Jepang mundur dari Kokoda karena bantuan armada lautnya sudah musnah.

Ane juga tau kalo yang merebut pangkalan udara Jepang di Guadalcanal adalah pasukan USMC & US Army, dibantu US Navy, lagi-lagi untuk melindungi Australia dari terpotongnya jalur suplai logistik dg Amerika.

Ane juga tau kalo yang melakukan riset VLR (Very Long Range) Bomber dan serangan2 bom incendiary ke kota2 besar Jepang adalah fleet bomber Amerika, agar moral perang rakyat Jepang & kapabilitas industrinya hancur.

Ane juga tau kalo strategi frog-leaping yang memakan korban puluhan ribu prajurit sekutu untuk mengakuisisi pulau2 strategis di pasifik (sejalan dengan program VLR Bomber), dilakukan oleh Amerika yang berdarah-darah merebut kepulauan Ogasawara & Okinawa.

Ane juga tau kalo riset Proyek Manhattan untuk mengembangkan senjata nuklir yang akan dijatuhkan ke Jepang adalah dari Amerika.

Bahkan rencana Operasi Olympic untuk menginvasi homeland Jepang dilakukan Amerika dengan basis staging-area di Okinawa.

STAKE Amerika dalam Perang Pasifik JAUH lebih besar daripada Australia. Jika blok negara Imperialis Barat yang dikepalai Inggris dan Amerika kehilangan sumber daya mineral & nabati dari Asia Tenggara, maka kemampuan Industri & Ekonomi mereka bakal collapse total, karena mereka SANGAT bergantung terhadap sumber daya alam Asia Tenggara untuk bahan mentah industri manufaktur mereka (tungsten, karet, timah, nikel, minyak bumi, kopra, serat manila, kina, dsb). Selain itu Asia Tenggara dan Cina adalah pasar konsumen terbesar produk manufaktur mereka, yang jika pasar ini dikuasai Jepang habis sudah income ekspor Amerika. Jadi wajar saja kalau Amerika lah yang lebih ALL-OUT menghajar Jepang.

Kalaupun Indonesia mau berterima kasih kepada yang telah mengusir Jepang, maka lebih pantas berterima kasih kepada Amerika, bukan Australia.

Tapi, apakah kita harus berterima kasih karena telah mengusir Jepang??

Apa salahnya Jepang sampai kita membenci mereka?

Bukankah Jepang melakukan Perang Pasifik karena provokasi Amerika yang sengaja memotong jalur hidup bangsa Jepang, mulai dari embargo minyak, pembekuan aset Jepang di luar negeri, sampai pemotongan impor bahan kebutuhan pokok?

Bukankah Jepang yang merupakan negara kecil miskin sumber daya alam itu benar2 desperate untuk bertahan hidup pada tahun 1930an, hingga akhirnya harus membuka pasar konsumen & lahan sumber daya alam di Cina, yang selanjutnya terjadi antagonisme dengan Amerika & negara Barat yang selama ini sudah memecah belah dan meng-exploitasi Cina?

Bukankah Jepang sudah berjasa menghancurkan hegemoni & penjajahan Barat di negara-negara Asia yang sudah bercokol selama lebih 200 tahun? Hingga akhirnya negara-negara itu bisa menghirup udara kemerdekaan?

Bukankah rakyat Indonesia dengan tangan terbuka dan senang hati menerima pasukan Jepang di Indonesia?

Bukankah Jepang dengan baik hati melatih pemuda-pemuda kita dalam hal militer dan bahkan membentuk satuan bersenjata pribumi sebagai cikal bakal TNI yang selanjutnya berperan mengusir serangan2 Belanda pasca proklamasi?

Bukankah Jepang telah membantu para pendiri negara kita ini dalam hal kemerdekaan dengan membentuk tim persiapan kemerdekaan?

Bukankah Sukarno sendiri dia adalah kolaborator Jepang, bahkan anak mas Jepang selama pendudukan?

Bukankah Jepang adalah yang pertama kali mencanangkan wajib sekolah bagi anak-anak warga pribumi sehingga mereka bisa membaca & menulis, yang sebelumnya pada zaman Belanda anak2 petani itu hanya bisa bermimpi sekolah seperti pribumi keturunan ningrat?

Bukankah akuisisi paksa beras rakyat Indonesia oleh Jepang lebih karena posisi Jepang sudah jauh terdesak dalam Perang Pasifik sehingga suplai logistik militer mereka amburadul? Yang bahkan warga asli Jepang sendiri mengalami krisis bahan pangan akut demi suplai logistik militer Jepang?

Bukankah isu jugun-ianfu itu baru keluar besar2an pada tahun 90an ketika wanita-wanita jalang tidak punya muka mengaku-ngaku sebagai korban pelecehan sexual tentara Jepang, hanya untuk mendapat imbalan & kompensasi dari pemerintah Jepang (yang mana pemerintah Jepang pun dipaksa untuk melakukan kompensasi ini dari kaum liberalis feminist)?

Bukankah jugun-ianfu kala itu diambil dari nona-nona Belanda dan pelacur profesional yang diimpor dari Singapura, Cina, Taiwan, dan Jepang? Bahkan pelacur-pelacur itu mendapat imbalan profesi, pelayanan kesehatan, dan perlindungan yang kesemuanya dari militer Jepang?

Bukankah romusha itu sejatinya adalah tentara pekerja (workforce) yang diberikan imbalan & akomodasi oleh Jepang, namun karena kekalahan Jepang di Perang Pasifik mereka para romusha juga harus ikut menderita tanpa pangan, sebagaimana tentara Jepang yang harus bertahan hidup dengan bangkai tikus dan kanibalisme?

Bukankah Bung Karno pun MENGANJURKAN agar rakyat Indonesia ikut dalam workforce romusha ini melalui iklan di poster2 kala itu?

Bukankah dahulu kala rakyat kita selama berpuluh-puluh tahun pernah diperbudak oleh imperialis Barat dengan metode tanam paksa dan kerja rodi? Bahkan tidak tanggung2 rakyat kita dibawa sebagai budak ke berbagai belahan dunia seperti Afrika Selatan, Suriname, Kaledonia, dsb?

Bukankah banyak mantan prajurit & komandan Jepang yang ikut membantu perjuangan tentara pribumi kita pasca proklamasi dalam perang melawan Belanda?

Bukankah prajurit Jepang dengan suka rela dan kooperatif menyerahkan alutsista mereka kepada prajurit kita pasca proklamasi untuk selanjutnya digunakan melawan sekutu?

Bukankah Jepang tidak pernah melakukan konflik senjata melawan tentara kita dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan? Justru kita melawan Australia, Inggris, dan Belanda yang berusaha menanamkan cakar imperialisme mereka sekali lagi di Indonesia?

Sumber:

1. To Have and Have Not - Southeast Asian Raw Materials and the Origins of the Pacific War
2. The Japanese Experience in Indonesia - Selected Memoirs of 1942-1945
3. The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War
4. Japan at War - An Oral History
5. Kogun - The Japanese Army in the Pacific War