KASKUS

Komando Teritorial Diminta Dikaji Ulang

Tentara Nasional Indonesia diminta mengkaji ulang keberadaan komando teritorial (koter), khususnya di pulau yang tidak berbatasan dengan negara lain, seperti Jawa. Hal ini dikarenakan para anggota TNI yang terlibat pelanggaran hukum mayoritas berada dalam kendali koter.

Hal itu disampaikan Koalisi Masyarakat Sipil saat jumpa pers di Kantor Imparsial, Jakarta, Selasa (23/4/2013). Mereka yang hadir dari Imparsial adalah Pungky Indarti, Al Araf, dan Erwin Maulana. Hadir pula Koordinator Kontras Haris Azhar, Ketua Setara Institute Hendardi, Anton Aliabbas dari Ridep Institute, dan aktivis lain.

Jumpa pers digelar untuk menyikapi kekerasan oleh para anggota Batalyon Zeni Konstruksi/13 yang memukul empat anggota staf PDI Perjuangan di Kantor DPP PDI Perjuangan pekan lalu. Kekerasan itu dilakukan di saat belum tuntasnya proses pengusutan kasus pembunuhan empat tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan, DI Yogyakarta, dan pembakaran Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Pungky mengatakan, sepanjang 2004-2013, telah terjadi 87 kasus kekerasan yang dilakukan anggota TNI. Sebanyak 85 persen di antaranya melibatkan pelaku di bawah koter, baik Komando Resor Militer (Korem), Komando Distrik Militer (Kodim), maupun Komando Rayon Militer (Koramil). Keberadaan prajurit di tengah masyarakat dinilai rentan terjadi gesekan, baik dengan warga maupun aparat dari institusi lain.

Pungky menambahkan, struktur koter kadangkala juga bisa digunakan untuk kepentingan politik, terutama ketika pemilu kepala daerah, pemilu legislatif, maupun pemilu presiden. Hal itu sudah disorot oleh Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri beberapa waktu lalu.

Dalam aspek strategis pertahanan, Koalisi Masyarakat Sipil menilai struktur koter juga tidak mencerminkan strategi pertahanan yang terintegritasi. Koter dinilai lebih mencerminkan kuatnya dominasi TNI AD dalam gelar kekuatan. "Koter tidak sejalan dengan Undang-Undang TNI yang menegaskan gelar kekuatan TNI sebaiknya tidak mengikuti struktur pemerintahan sipil," kata Pungky.

Selain itu, koter juga dinilai tidak efektif untuk pertahanan negara jika melihat kondisi geografis Indonesia. "Ngapain ada Koramil di Taman Menteng, sementara di perbatasan sedikit. Ini buat apa?" kata Anton.


sumber: http://nasional.kompas.com/read/2013...a.Dikaji.Ulang

======================

dan perdebatan lama dibuka kembali
beneerrr... tapi alasan ai cuma buat kurangi belanja pegawai, ganti dengan belanja peralatan... gak ada urusan sama pelanggaran.
Quote:Original Posted By cherrypopper
beneerrr... tapi alasan ai cuma buat kurangi belanja pegawai, ganti dengan belanja peralatan... gak ada urusan sama pelanggaran.


nyari-nyari celah,mumpung ada insiden gitu ya mas?

tapi emang bener juga sih, kadang kasian prajurit yg di koramil2 tentara tapi jarang pegang senjata, atau malah kadang ga kebagian pembagian
Quote:Original Posted By strictlyrude


nyari-nyari celah,mumpung ada insiden gitu ya mas?



saya gak mikir kesana mas...
apakah ini wacana untuk mengurangi jumlah pasukan TNI seperti yg diomongkan di jakartagreater?
Quote:Original Posted By tesla220volt
apakah ini wacana untuk mengurangi jumlah pasukan TNI seperti yg diomongkan di jakartagreater?

pasukan justru nambah dari koter-koter itu kayaknya...saya setuju dengan om Cherry. apa nanti strukturnya jadi seperti dulu Divisi-divisi ya. untuk pemanfaatan koter sebagai alat politik menurut sebuah sumber sudah terjadi pada waktu Pilkada Jateng yang lalu

koter dihilangkan, belanja peralatan dibanyakin, anggaran latihan digedein, mo nanya : apakah latihan itu termasuk operasi militer selain perang?
Quote:Original Posted By tesla220volt
apakah ini wacana untuk mengurangi jumlah pasukan TNI seperti yg diomongkan di jakartagreater?


Maybe gan..nunggu analisa sesepuh dimari aja
Quote:Original Posted By cherrypopper
beneerrr... tapi alasan ai cuma buat kurangi belanja pegawai, ganti dengan belanja peralatan... gak ada urusan sama pelanggaran.


IMO, jika tunjangan jabatan Danramil sekitar 500 rb/bulan dan tunjangan jabatan Dandim sekitar 1jt/bulan, hitung saja berapa dana yg bisa dihemat dan bisa dialihkan utk peralatan dari penghapusan dua unit komando itu saja. Mungkin sebulannya cukup utk membeli 1 unit anoa . Jika digabungkan dengan biaya operasional dua unit koter itu, bukan tidak mungkin dalam 2 tahun setiap korem di indonesia akan memiliki 1 unit anoa...
Dan bayangkan apa yg bisa dibeli TNI dalam 10 tahunnya...

*hanya seceng lecek dr ane...
menhabiskan anggaran aja , mending dialihkan ke yonif di taruh di perbatasan, kmren pangdam bilang kekurangan personil di kalimantan. kebanyakan personil tu AD
Quote:Original Posted By cherrypopper
beneerrr... tapi alasan ai cuma buat kurangi belanja pegawai, ganti dengan belanja peralatan... gak ada urusan sama pelanggaran.


second to that

Quote:Original Posted By yowa38

pasukan justru nambah dari koter-koter itu kayaknya...saya setuju dengan om Cherry. apa nanti strukturnya jadi seperti dulu Divisi-divisi ya. untuk pemanfaatan koter sebagai alat politik menurut sebuah sumber sudah terjadi pada waktu Pilkada Jateng yang lalu

koter dihilangkan, belanja peralatan dibanyakin, anggaran latihan digedein, mo nanya : apakah latihan itu termasuk operasi militer selain perang?


Quote:Original Posted By dodonk


IMO, jika tunjangan jabatan Danramil sekitar 500 rb/bulan dan tunjangan jabatan Dandim sekitar 1jt/bulan, hitung saja berapa dana yg bisa dihemat dan bisa dialihkan utk peralatan dari penghapusan dua unit komando itu saja. Mungkin sebulannya cukup utk membeli 1 unit anoa . Jika digabungkan dengan biaya operasional dua unit koter itu, bukan tidak mungkin dalam 2 tahun setiap korem di indonesia akan memiliki 1 unit anoa...
Dan bayangkan apa yg bisa dibeli TNI dalam 10 tahunnya...

*hanya seceng lecek dr ane...



sekedar menambahkan saja ... sebenarnya banyak yg tdk sadar bahwa kita kekurangan tentara yg benar2 kualifikasi kombatan . sdh saatnya semua di kembalikan kepada fungsinya msng2 sekalian efesiensi anggaran jg sih

dan saat ini jg merupakan saat yg bagus untuk meningkatkan dan memperluas matra intelejen ( murni intelejen lho )


Quote:Original Posted By strictlyrude


nyari-nyari celah,mumpung ada insiden gitu ya mas?



mbok tlng jangan apriori dulu dong mas ... kl ada mslh yaa mari kita diskusi bareng2
Quote:Original Posted By cherrypopper


saya gak mikir kesana mas...

oh..maaf, saya yang misread.

Quote:Original Posted By ravager


mbok tlng jangan apriori dulu dong mas ... kl ada mslh yaa mari kita diskusi bareng2

iya mas,saya salah interpret tadi..

Quote:Original Posted By dodonk


IMO, jika tunjangan jabatan Danramil sekitar 500 rb/bulan dan tunjangan jabatan Dandim sekitar 1jt/bulan, hitung saja berapa dana yg bisa dihemat dan bisa dialihkan utk peralatan dari penghapusan dua unit komando itu saja. Mungkin sebulannya cukup utk membeli 1 unit anoa . Jika digabungkan dengan biaya operasional dua unit koter itu, bukan tidak mungkin dalam 2 tahun setiap korem di indonesia akan memiliki 1 unit anoa...
Dan bayangkan apa yg bisa dibeli TNI dalam 10 tahunnya...

*hanya seceng lecek dr ane...


yup.. maksud ai juga begitu..

Quote:Original Posted By strictlyrude

oh..maaf, saya yang misread.

iya mas,saya salah interpret tadi..



he eh.. gapapa mas. id sepuh baru dipake posting buat quote komen saya.. its an honor to me..
Quote:Original Posted By ravager


second to that






sekedar menambahkan saja ... sebenarnya banyak yg tdk sadar bahwa kita kekurangan tentara yg benar2 kualifikasi kombatan . sdh saatnya semua di kembalikan kepada fungsinya msng2 sekalian efesiensi anggaran jg sih

dan saat ini jg merupakan saat yg bagus untuk meningkatkan dan memperluas matra intelejen ( murni intelejen lho )




mbok tlng jangan apriori dulu dong mas ... kl ada mslh yaa mari kita diskusi bareng2


dalam segi jumlah personil memang TNI AD sangat banyak yg sudah tidak lagi tergabung dalam kombatan berlimpahnya jumlah personil baik di KODIM,KORAMIL. tapi yg perlu di ingat adalah para Anggota yg sudah di tempatkan di koramil mereka juga adalah kombatan pada saat usia Produktif mereka, nah yg harus di perhatikan adalah bagaimana nasib para Prajurit yg usia nya sudah tidak mungkin di tempatkan di satuan-satuan tempur jika Koter di hapus?
oia masalah koter juga banyak tetangga yg Parno juga Lho

kalo sekiranya oot, gw mita ma`af ....
..
..
mengenai babinsa, sebenernya fungsinya apa sih...., gw bingung coz liat anggota babinsa yg masih muda2
dan jika liat jumlah desa di seluruh Indonesia, pasti jumlah babinsa puluhan ribu.
Quote:Original Posted By j4velin


dalam segi jumlah personil memang TNI AD sangat banyak yg sudah tidak lagi tergabung dalam kombatan berlimpahnya jumlah personil baik di KODIM,KORAMIL. tapi yg perlu di ingat adalah para Anggota yg sudah di tempatkan di koramil mereka juga adalah kombatan pada saat usia Produktif mereka, nah yg harus di perhatikan adalah bagaimana nasib para Prajurit yg usia nya sudah tidak mungkin di tempatkan di satuan-satuan tempur jika Koter di hapus?
oia masalah koter juga banyak tetangga yg Parno juga Lho


nah.. ini juga yg jadi masalah ntar. kelebihan personil dgn usia diatas rata2 mau dipake buat apa.. klo pensiun dini sepertinya hanya bisa jadi opsi terakhir.. apakah bisa di refresh atau recurrent training gak..? minimal kemampuan teknis. klo fisik gak perlu berharap, faktor umur gak bisa boong..
------------------------------------------------------------------------------------------
btw, baru sadar klo ternyata cara yg digunakan oleh koalisi terkait berita diatas itu gak elok alias busuk...
pensiun dini ky nya ide bagus,termasuk yg masih muda tapi sakit2an
Quote:Original Posted By j4velin


dalam segi jumlah personil memang TNI AD sangat banyak yg sudah tidak lagi tergabung dalam kombatan berlimpahnya jumlah personil baik di KODIM,KORAMIL. tapi yg perlu di ingat adalah para Anggota yg sudah di tempatkan di koramil mereka juga adalah kombatan pada saat usia Produktif mereka, nah yg harus di perhatikan adalah bagaimana nasib para Prajurit yg usia nya sudah tidak mungkin di tempatkan di satuan-satuan tempur jika Koter di hapus?
oia masalah koter juga banyak tetangga yg Parno juga Lho


jumlah banyak tp excessive fat sih ....

terus-terang saya ga ikhlas putra bangsa yg kita banggakan harus jd canon fodder jk kita brgkt perang hari ini ... mereka berhak mendapatkan yg lbh baik , baik peralatan , pelatihan dan jg kesejahteraan

Quote:Original Posted By cherrypopper


nah.. ini juga yg jadi masalah ntar. kelebihan personil dgn usia diatas rata2 mau dipake buat apa.. klo pensiun dini sepertinya hanya bisa jadi opsi terakhir.. apakah bisa di refresh atau recurrent training gak..? minimal kemampuan teknis. klo fisik gak perlu berharap, faktor umur gak bisa boong..
------------------------------------------------------------------------------------------
btw, baru sadar klo ternyata cara yg digunakan oleh koalisi terkait berita diatas itu gak elok alias busuk...


it's dirt cheap .... tp masalahnya memang riil...anggaran kita memang sdh tdk mampu menanggung inefisiensi politik masa lalu


btw , ol pk hp ....ternyata memang ribet
Quote:Original Posted By lonelwolf

kalo sekiranya oot, gw mita ma`af ....
..
..
mengenai babinsa, sebenernya fungsinya apa sih...., gw bingung coz liat anggota babinsa yg masih muda2
dan jika liat jumlah desa di seluruh Indonesia, pasti jumlah babinsa puluhan ribu.


1 babinsa= 1 desa
75.000 desa= 75000 babinsa

polisi juga punya babinkabtibmas yg fungsi nya sama kayak babinsa
belum lagi koramil tukang palak berseragam kalo di jumlah dlm bahasa malon
askar tak berguna ini sekitar 150.000 personel untuk gaji mereka sebulan + biaya operasional bisa beli pespur sekelas rafale atau sukhoi35bm tu
bubarin aja koter itu tumpang tindih kerja nya ama polisi

wah sebenarnya emang unit kombatan kita perlu diperbanyak

kalo yang koramil ane kok sengsi jarang megang senapan masalahnya
×