KASKUS

hukuman apa yang layak bagi "pemerkosaan" dan "pembunuhan diana, bocah 6 tahun

Spoiler for pelaku:

* Antisipasi Kemarahan Warga, Rekonstruksi Dialihkan ke Mapolresta

dan ni ada foto simulasi dari para mahasiswa dan mahasiswi IAIN Ar-Raniri Unsyiah Darussalam Banda Aceh
Spoiler for simulasi:


BANDA ACEH - Ratusan warga Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja dan warga dari berbagai gampong lainnya di Kota Banda Aceh, Kamis (4/4), menyesaki lokasi pemerkosaan dan pembunuhan Diana (6), bocah asal Peualanggahan. Warga berduyun-duyun ke lokasi itu untuk menyaksikan proses reka ulang atau rekonstruksi yang digelar aparat Polresta Banda Aceh.

Warga terlihat sangat ingin mengetahui secara detil proses rekonstruksi kasus pemerkosaan dan pembunuhan Diana, yang dilakukan pamannya sendiri, Hasbi, dibantu oleh temannya Amiruddin, pada Selasa 19 Maret 2013 lalu. Ini terlihat dari warga yang sudah tiba di lokasi sebelum proses rekonstruksi itu dimulai.

Proses rekonstruksi itu sendiri dimulai sekitar pukul 09.30 WIB. Dimulai dengan adegan pertama yang berlokasi di rumah orang tua Diana. Adegan pertama, Amiruddin datang ke rumah Diana untuk menemui Hasbi, yang tinggal di rumah orang tua Diana, Mawardy (39). Dari rumah ini, Amiruddin mengajak Diana ke Taman Sari.

Lalu, kedua tersangka dibawa ke Taman Sari dengan pengawalan ketat pihak kepolisian, untuk melakukan rekonstruksi di taman itu. Sebagian warga ikut serta ke Taman Sari. Namun, ratusan warga lainnya memilih menunggu di lokasi pemerkosaan dan pembunuhan itu terjadi, yaitu di Gampong Peulanggahan.

Sementara di Taman Sari petugas polisi sedang melakukan rekonstruksi, di Gampong Peulanggahan, ratusan warga sudah menunggu kedua tersangka dibawa kembali ke gampong itu. Dari kerumunan warga, banyak yang melontarkan caci maki terhadap perbuatan kedua tersangka. Banyak juga warga yang berharap kedua tersangka itu dihukum dengan hukuman seberat-beratnya.

Usai rekonstruksi di Taman Sari, polisi berencana membawa kembali kedua tersangka ke Peulanggahan, tepatnya ke lokasi pemerkosaan dan pembunuhan terjadi. Namun, karena polisi mendapat informasi bahwa semakin banyak warga yang mendatangi lokasi pembunuhan itu, maka polisi mengambil kebijakan mengalihkan lokasi pelaksanaan rekosntruksi itu ke Mapolresta Banda Aceh.

Pemindahan lokasi ini dilakukan untuk menghindari kemarahan warga terhadap kedua tersangka. Pasalnya, dari kerumunan warga yang datang, banyak yang terlihat emosi. Bayaknya warga yang datang ke lokasi rekonstruksi ini, di luar dugaan polisi.(mir)

Rekonstruksi Dialihkan ke Polresta
KEPOLISIAN yang sebelumnya telah menetapkan Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, sebagai salah satu lokasi rekonstruksi, terpaksa mengalihkan lokasi ke Mapolresta Banda Aceh.

“Untuk menghindari gejolak dan kemarahan warga yang mungkin sudah memuncak, kami pun memutuskan untuk menggelarnya di Polresta,” kata Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Moffan MK SH didampingi Kasat Reskrim Kompol Erlin Tangjaya SH SIK, kepada Serambi, kemarin.

Pun demikian, pihaknya sempat melaksanakan lima adegan dari 26 adegan yang direncanakan, yang dimulai dari rumah almarhumah Diana yang kini hanya ditempati oleh ayahnya sendiri Mawardi (39) di Jalan Blang Lam Ujong I, Dusun Syahbandar, Gampong Peulanggahan, Banda Aceh, sampai Diana ditemukan tewas mengenaskan.(mir)

Editor : bakri




berita - berkaitan hal pembunhan diana

Diana Ibarat Tongkat Bagi Sang Ayah yang Buta

Spoiler for keluarga:






Baitul Mal Santuni Orang Tua Diana


Spoiler for keluarga:

Kabid Perwalian Baitul Mal Aceh, Drs Hamdani M Ali (kiri) disaksikan Keuchik Gampong Peulanggahan, Husaini (paling kanan) serta tokoh gampong lainnya, Kamis (29/3) menyerahkan bantuan uang sebesar Rp 5 juta kepada Mawardi (39) orang tua almarhumah Diana, yang mengalami kebutaan akibat glaukoma sejak 10 tahun lalu.

* Untuk Seumur Hidup

BANDA ACEH - Baitul Mal Aceh akan menyantuni seumur hidup kedua orang tua almarhumah Diana (6), bocah malang warga Peulanggahan, Banda Aceh, yang Selasa (26/3) malam diperkosa dan dibunuh pamannya, Hasbi, dibantu seorang residivis kasus serupa, Amiruddin (28).

Kedua orang tua almarhumah Diana kini didera sakit. Ayahnya, Mawardi (39), buta karena glukoma sejak sepuluh tahun lalu, sedangkan ibunya, Agus Mawar (31), sakit berat di perutnya, sehingga menggembung sejak beberapa tahun terakhir. Duka mereka kian bertambah, karena anak semata wayangnya diperkosa dan dibunuh sang paman.

“Ini kepedulian Baitul Mal Aceh yang berkewajiban menyalurkan santunan seumur hidup kepada kedua orang tua Diana, bocah malang yang ditakdirkan di usia mudanya menghadap Allah,” kata Kepala Baitul Mal Aceh, Dr Armiadi Musa MA, kepada Serambi saat memberikan bantuan uang Rp 5 juta kepada orang tua almarhumah Diana di rumah duka, Jumat (29/3).

Dalam satu bulan, Baitul Mal Aceh akan menyantuni kedua orang tua Diana sebesar Rp 200 ribu.

Menurutnya, santunan seumur hidup kepada kedua orang tua bocah malang itu merupakan bagian dari Program Fakir Uzur Baitul Mal Aceh. Program ini memang diprioritaskan bagi fakir uzur. “Mawardi buta dan istrinya sakit keras. Mereka tak bisa bekerja lagi, sehingga pantas disantuni,” pungkas Armiadi.

Hadir saat penyerahan santunan dari Baitul Mal Aceh itu, Drs Hamdani M Ali (Kabid Perwalian), Syamsuddin SH (Kabag Hukum dan Hubungan Umat), Jusma Ery (Kasubdit Hukum dan Investigasi), serta Murdani Tijue (Kasubdit Pendistribusian).

Penyerahan itu disaksikan Keuchik Gampong Peulanggahan, Husaini. “Sebelumnya berbagai bantuan juga datang dari anggota DPRK Banda Aceh, Pak Amrulsyah, Usman Abon, dan Tgk Januar Hasan. Selain itu juga ada dari Pak Abu Bakar Pante Pirak, dari BP3A, dan Yayasan Kasih Mama,” rinci Husaini.

Dukung hukuman mati
Keuchik Peulanggahan itu juga menyebutkan berbagai dukungan agar kedua pelaku pemerkosaan dan pembunuhan bocah Diana, yakni Hasbi (sang paman) dan residivis kasus serupa Amiruddin (28) agar dihukum mati. “Berbagai dukungan sms masuk ke hp saya agar kedua pelaku dihukum mati. Kami seluruh warga Gampong Peulanggahan juga akan mengawal proses persidangan di pengadilan dari awal hingga akhir untuk tegaknya keadilan di negeri ini,” sebut Husaini.

Hukum berat
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali berharap hakim menjatuhkan sanksi seberat-beratnya kepada pemerkosa dan pembunuh Diana, bocah kelas 1 SDN 17 Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh itu.

Pelaku harus dihukum berat untuk memberi efek jera agar kasus serupa tidak terulang pada orang lain. “Semestinya pelaku itu dicambuk sampai mati kemudian digantung di persimpangan jalan. Tetapi, karena hukum ini belum ada pengaturannya, maka gunakan saja hukum yang sudah ada untuk menimbulkan efek jera,” kata Faisal Ali menjawab Serambi dalam pengajian yang digelar KWPSI di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (27/3).

Faisal Ali yang akrab dipanggil Lem Faisal pada malam itu memaparkan tentang berbagai hal terkait penguatan akidah serta peran ulama dalam menegakkan kebajikan.

lanjut kehalaman berikutnya yang dibawah
Saat ditanya tentang pembunuhan terhadap anak-anak kemudian bermuara pada pemerkosaan, Lem Faisal menilai ini terjadi karena pengawasan dari pemerintah masih lemah. Ia berpendapat, punca persoalan sehingga muncul sadisme disebabkan oleh apa yang dilihat di dunia maya melalui internet. Semestinya, pemerintah proaktif menertibkan warnet serta tempat-tempat yang menyediakan akses internet. “Kalau Padang bisa, kenapa Aceh tidak?” gugatnya.

Seperti diberitakan, Diana (6), bocah yang masih duduk di bangku kelas 1 SDN 17 Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, diperkosa dan dibunuh Hasbi (17) yang tak lain adalah pamannya sendiri. Jenazah korban ditemukan Rabu (27/3) pagi di semak-semak dekat tanggul kawasan Peulanggahan.

Petaka berujung maut yang menimpa Diana berawal Selasa (19/3) malam saat korban diajak pamannya, Hasbi jalan-jalan ke Taman Sari, Banda Aceh. Bersama mereka juga ikut Amirudin (28), asal Lhokseumawe, teman Hasbi. pria ini ikut memerkosa korban. Amiruddin sendiri merupakan residivis kasus serupa di Lhokseumawe tahun 2004 lalu. (mir/swa)

Editor : hasyim


Dan Sang Ibu Menyusul Diana

Laporan Misran Asri | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Belum reda kesedihan Mawardi (39) yang menghadapi kenyataan anak semata wayangnya Diana (6), diperkosa lalu dibunuh oleh Hasbi dibantu oleh Amiruddin (28), pagi tadi kedukaan Mawardi, yang mengalami kebutaan akibat glaukoma, bertambah setelah Istri tercintanya Agus Mawar (31), menyusul sang anak.

"Kemarin sore selepas Ashar kami sempat membawanya ke rumah sakit. Tapi, tadi pagi sebelum shalat Subuh, sekitar jam 05.00 WIB, Allah telah menjemputnya," kata Keuchik Gampong Peulanggahan, Banda Aceh, Husaini, kepada Serambinews.com, Senin (01/04/2013).

Kesedihan yang dihadapi Mewardi bertambah lengkap dengan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kesedihan bermula dari kehilangan putri semata wayangnya Diana yang diperkosa lalu dibunuh secara sadis oleh pamannya Hasbi dibantu oleh Amiruddin (28).

Kini Mawardi, harus kembali kuat menghadapi kenyataan kehilangan istri tercintanya, Agus Mawar. "Selain sakit keras, kehilangan Diana, anak mereka, juga menjadi beban pikiran berat bagi Agus Mawar, yang mulai sakit berat," kata Keuchik Peulanggahan itu.

Editor : RezaMunawir




Warga Kota Galang Dana untuk Diana

* Anak-anak Ikut Kumpulkan Sumbangan

BANDA ACEH - Puluhan warga Kota Banda Aceh terdiri atas orangtua dan anak-anak serta aktivis peduli anak dan perempuan, Minggu (31/3) pagi), menggelar aksi simpatik dan solidaritas untuk Mardiana atau Diana (6), bocah Gampong Peulanggahan, Banda Aceh, yang diperkosa lalu dibunuh oleh pamannya sendiri, beberapa hari lalu.

Aksi bertajuk “Pray for Diana” yang dimotori oleh Gerakan Orangtua Perduli Anak, Yayasan Kita dan Buah Hati Jakarta dan Habib Alby Homeschooling Community, digelar di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. Aksi ini mendapat perhatian dan antusias warga kota yang sedang berolahraga di lapangan tersebut.

Panitia menggelar aksi penggalangan dana yang nantinya disumbangkan kepada keluarga Diana. Selain itu, panitia juga menyediakan selembar kain putih untuk ditandatangani oleh warga kota sebagai bentuk aksi menolak kekerasan terhadap anak dan perempuan.


Koordinator Aksi Gerakan Orangtua Perduli Anak, Flora Rosalia, mengatakan, angka kekerasan terhadap anak dan perempuan, terus meningkat di Aceh. Ada sekitar 1.060 kasus seperti dilansir Gerakan Perempuan Aceh. Dari jumlah itu, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sangat mendominasi.

Menurut Flora, pelaku-pelaku utama kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, umumnya dilakukan orang-orang terdekat dalam keluarga. Seperti ayah kandung, abang, paman, kakek, tetangga, dan teman.

Aksi ini, kata Flora, bukan hanya untuk menarik simpati dan empati warga kota terhadap kasus yang menimpa Diana. Tapi juga untuk menggugah kesadaran dan kepedulian orang tua terhadap anaknya. Selain itu juga untuk mengajak pemerintah agar membuat regulasi yang lebih berpihak pada perempuan dan anak.

“Mungkin hari ini tidak menimpa keluarga kita. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi ke depan. Karena itu sangat penting melindungi dan menjaga keluarga kita. Kita berharap keluarga menjadi benteng pertama. Orang tua harus lebih peduli lagi pada anak-anaknya,” ujar Flora.(saf/*)

PGRI Minta Pelaku Dihukum Berat
KETUA Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh, Ramli Rasyid meminta pihak penegak hukum di Banda Aceh untuk menghukum kedua tersangka pemerkosa dan pembunuh Diana, murid kelas I SD Peulanggahan, Banda Aceh, seberat-beratnya.

“Kita sangat berharap aparat menghukum kedua pembunuh itu semaksimal mungkin hingga mampu memberikan keadilan bagi kenyamanan hidup masyarakat di Banda Aceh,” tandas mantan guru teladan Aceh itu.

Ramli berpendapat, hukuman seumur hidup pantas diberikan kepada kedua pelaku. Sebab Hasbi pamannya, yang seharusnya menjaganya malah membunuh keponakan sendiri. Sementara pelaku lainnya adalah residivis (pernah dihukum) dalam kasus yang sama.

Untuk membantu orangtua Diana, tambah Asisten II Setda Kota Banda Aceh ini, Pemko Banda Aceh akan menggalang dana untuk keluarga almarhumah. Apalagi ayahnya Mawardi (dalam keadaan buta) dan ibunya, Agus Mawar kini dalam kondisi sakit-sakitan.(sir)

Editor : bakri





Ribuan Warga Doakan Diana

Spoiler for keluarga:

WARGA berebut mengabadikan foto Almarhumah Diana, bocah korban perkosaan dan pembunuhan di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. Kesedihan semakin membuncah setelah ibunda korban juga meninggal dunia, Senin (1/4) pagi akibat sakit yang dideritanya.

BANDA ACEH - Ribuan warga dari berbagai penjuru Banda Aceh dan Aceh Besar serta daerah lainnya berkumpul di ruas Jalan Blang Lam Ujong I, Dusun Syahbandar, Gampong Peulanggahan, Kecamatan Banda Aceh, Senin (1/4) sore. Mereka takziah dan mendoakan Diana (6), bocah malang yang diperkosa dan dibunuh Hasbi, pamannya, dibantu residivis kasus serupa, Amiruddin (28) beberapa hari lalu.

Kesedihan warga kian bertambah saat mengetahui ibunda Diana, Agus Mawar (31) yang sebelumnya sakit berat, meninggal Senin (1/4) sekira pukul 05.00 WIB. Wanita ini menyusul kepergian putrinya yang semata wayang.

Illiza juga menyuarakan empatinya terhadap Mawardi yang dalam waktu yang nyaris beruntun kehilangan anak dan istrinya. “Belum reda dukanya karena kehilangan anaknya almarhumah Diana yang diperkosa dan dibunuh oleh pelaku biadab dan jahiliyah itu, hari ini beliau harus kembali menghadapi kenyataan yang begitu menyedihkan, kehilangan istri tercinta, Agus Mawar,” kata Illiza yang tak kuasa membendung air matanya.

Pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Diana, lanjut Illiza, harus pula menjadi teguran bagi semua anggota masyarakat untuk merenung. “Jangan ada lagi pihak-pihak yang selalu memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya sendiri, sehingga advokasi terhadap kasus seperti yang menimpa Diana, bocah malang yang diperkosa dan dibunuh itu, menjadi terabaikan,” ujarnya lirih.

“Ada pula yang bereuforia di luar sana dengan segala kepentingannya. Tapi perhatian serta penguatan terhadap kasus yang menimpa Diana, terabaikan. Kejadian ini sangat amat biadab. Sehingga kita harus melihat permasalahan ini sebagai hal penting dengan hati nurani. Karena itu, kami juga minta agar kedua tersangka dihukum seberat-beratnya. Untuk proses hukum kasus yang menimpa Diana ini, kami akan kawal sampai ke pengadilan,” ujar Illiza yang disambut teriakan kaum ibu.



Illiza juga menjanjikan bahwa minggu depan Mawardi (31) yang mengalami kebutaan akibat glukoma, akan diperiksa kondisi matanya. Ia berharap Mawardi yang telah hilang penglihatannya sejak 10 tahun lalu itu kembali bisa melihat.

Usai takziah dan doa bersama dipanjatkan untuk almarhumah Diana dan ibunya Agus Mawar, warga berdesak-desakan ingin menyalami Mawardi, ayah Diana. Kesedihan kian memuncak ketika foto close up Diana yang telah dibingkai berukuran 10 inci dibawa ke luar rumah untuk diperlihatkan kepada warga. Sambil menangis banyak pengunjung yang mengabadikan foto bocah malang itu.

Illiza juga melaporkan, dari aksi penggalangan dana yang dilakukan Senin (1/4) pagi, terkumpul dana lebih dari Rp 90 juta. Selain itu Baitul Mal Kota Banda Aceh akan menyantuni Mawardi seumur hidup sebesar Rp 250 ribu/bulan.
“Kami juga berharap masyarakat mau membantu Pak Mawardi yang tak mampu berbuat banyak karena kebutaan yang beliau alami. Dalam hal ini saya percayakan pengelolaan dananya kepada Pak Keuchik,” demikian Illiza.
Sebelum mengembuskan napas terakhir Senin (1/4) pagi, Agus Mawar yang didera komplikasi penyakit meminta agar dikebumikan di samping putrinya, Diana, di Kompleks Pemakaman Umum Tgk Dianjong, Gampong Peulanggahan, Banda Aceh. Permintaannya dikabulkan warga setempat kemarin.

“Sejak kepergian Diana, almarhumah setiap malam mengigau dan selalu memanggil nama anaknya itu. Ternyata tadi pagi (kemarin -red), sebelum shalat subuh, sekitar pukul 05.00 WIB, Allah menjemputnya, menyusul sang anak tercinta,” ujar Keuchik Peulanggahan, Husaini, kepada Serambi.

Selain sakit keras, kata Keuchik Husaini, kehilangan Diana merupakan pukulan berat bagi Agus Mawar. Juga menjadi ujian terberat bagi Mawardi yang kini tanpa anak dan istri di sisinya, sementara matanya buta. (mir)

Editor : bakri



Spoiler for berharap:


Spoiler for jangan kasih:
Ditusbol rame2 orang seKaskus.

Ayo ayo siapa yang ikutan buruan daftar :maho
hukuman mati eeeee buat pembunuh tu
Innalilahi wa inna ilaihi rajiun

semoga diana mendapat tempat yang layak di sisi Allah S.W.T

turut prihatin dengan apa yang dialami... merinding gw bacanya
Residivis?? kasus yang sama?? korban baru umur 6 tahun, simple aja hukumannya, serahkan ke warga beresin.

Serahkan saja sama masyarakat, biarlah di perlakukan seburuk buruknya. Ane baca sampe sakit dada ane.
Biadabbbb bgt ne org....siap2 aja lo dipenjara ditusbol mpe mampusss
Quote:Original Posted By mrjack
Innalilahi wa inna ilaihi rajiun

semoga diana mendapat tempat yang layak di sisi Allah S.W.T

turut prihatin dengan apa yang dialami... merinding gw bacanya



Innalilahi wa inna ilaihi rajiun

potong titit dan tangan aja kaga cukup
Quote:Original Posted By ngopidulugan
Serahkan saja sama masyarakat, biarlah di perlakukan seburuk buruknya. Ane baca sampe sakit dada ane.


setuju nih ama agan biar di serahin aja ke masyarakat
Di rajam aja sampai mokat, sesuai syariat islam yang ada di Aceh....
bukti kalo penjara gak bakalan nyelesain masalah... dilepas langsung nyari mangsa lagi kan
hukuman mati.. hidup pun buat apa klw hanya meresahkan masyarakat..
tembak rudalnya, tembak kedua lututnya, lalu tembak kepalanya
Quote:Original Posted By japek
tembak rudalnya, tembak kedua lututnya, lalu tembak kepalanya


kalau seperti itu apa bedanya kita dgn mrk yg sadis dan kejam?

hukum mati dgn cara cepat (tanpa penyiksaan) jauh lbh baik.
dikebiri dan dipenjara seumur hidup
uhh parahh tuh pelaku....

mudah2an keluarga korban diberikan kesabaran dan diberikan ganti yang lebih baik dari yang maha kuasa...Amin
Dipenjara di ruang kaca yg tebal, taruh di pusat kota
serahkan saja k pengadilan berharap hkuman mati gan bravo
×