KASKUS

Thumbs up ISU : Kudeta "Ala" Jenderal LB. Moerdani (1983-1988)




Jendral Leonardus Benny Moerdani adalah orang kuat di lingkungan ABRI pada awal dekade 80-an. salah satu "legenda" dalam sejarah ABRI ini lulusan Candradimuka tahun 1950. Tampilnya ia ke permukaan merupakan simbol peralihan tongkat estafet dari generasi 45 ke generasi penerus.

Awal karirnya, ia berjuang sebagai prajurit komando. Bersama Letkol Untung Syamsuri (kelak dikenal sebagai pemimpin G30S/PKI), Benny Moerdani menorehkan prestasi membanggakan saat perjuangan merebut Irian Barat. Lantaran prestasinya itu sempat ditawari Presiden Soekarno untuk masuk Resimen Tjakrabhirawa. Tetapi ia menolak, sesuatu yang langka terjadi pada saat itu, karena kebanyakan tentara menganggap melayani Presiden Soekarno adalah suatu kebanggaan.

Hampir seluruh karir militernya dihabiskan untuk mengurus soal-soal intelijen. Setelah berselisih pendapat dengan Letjen Ahmad Yani, LB Moerdani harus meninggalkan korps baret merah kebanggaannya (baca LB Moerdani dan Baret Merah). Ia pun memulai karir sebagai perwira intelijen. "Medan perang" nya mula-mula adalah Malaysia, kemudian dipindah tugaskan ke Seoul, Korea selatan.

Setelah Peristiwa Malari 1974, ia dipanggil ke Jakarta oleh Ali Moertopo untuk menangani masalah-masalah intelijen Hankam. Brigjen LB Moerdani adalah generasi intelijen berikutnya yang dipercaya Soeharto setelah Ali Moertopo dan Yoga Soegomo. Jendral Moerdani bersama-sama Ali Moertopo terlibat dalam CSIS (Center for Strategic and International Studies) (lembaga studi yang banyak membantu Soeharto dalam merumuskan kebijakan-kebijakan Orde Baru. Peran CSIS kelak tersaingi ICMI yang diketuai BJ Habibie). Sampai tahun1998, nama Jendral LB Moerdani masih dikait-kaitkan dengan agenda pihak oposisi untuk menggantikan kekuasaan Soeharto.



☆ Cemerlangnya Bintang LB Moerdani



Peristiwa Malari dilatarbelakangi kecurigaan tentang ambisi-ambisi politik Jendral Sumitro, Wapangab/Pangkopkamtib. Presiden Soeharto melikuidasinya. Tongkat komando Pangkopkamtib dia pegang sendiri, sebelum ia menemukan orang yang dipercayainya, yaitu Laksama Sudomo.

Antara tahun 1974 hingga 1978, situasi agak tenang. Keputusan Presiden membubarkan lembaga ASPRI direspons banyak kalangan sebagai iktikad baik untuk menciptakan situasi kondusif. Pada periode inilah terjadi konsolidasi ulang lembaga intelinjen dibawah Brigjen LB Moerdani. Hanya dalam beberapa tahun, LB Moerdani telah menguasai jalur-jalur intelijen utama di negeri ini.

Sebagai Asintel Hankam / Kepala Pusintelstrat / Asintel Kopkamtib, Letjen LB Moerdani memperoleh fasilitas-fasilitas khusus yang izinnya diberikan sendiri oleh Presiden Soeharto. Umpamanya, ia satu-satunya pejabat di Hankam yang bisa menggunakan pesawat-pesawat milik Pelita Air Service untuk keperluan pelaksanaan tugas-tugasnya. Lokasi kantornya di kawasan Tebet sudah lama menjadi semacam "wilayah kekuasaannya" sejak ia diangkat pada jabatan itu tahun 1974.

Naiknya posisi Letjen LB Moerdani dipengaruhi oleh situasi pada tahun 1978-1983, dalam era kepemimpinan Menhankam / Pangab M. Jusuf, dimana banyak purnawirawan jenderal yang mulai kritis terhadap kepemimpinan Soeharto. KSAD aktif Jendral Widodo, yang ditunjuk pada saat Menhankam / Pangab dijabat Jenderal M. Pangabean, membentuk Forum Studi dan Komunikasi (Fosko) TNI AD, sebuah lembaga yang dinilai terlalu keras mengritik Soeharto.

Pada tanggal 1 Juli 1978 sejumlah tokoh mendirikan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB). Yang menarik, LKB berhasil melibatkan dua tokoh penting republik ini, yaitu Proklamator Drs. Muhammad Hatta dan Jenderal (Purn) Abdul Haris Nasution. Kemudian pada tahun 1980, muncullah Petisi 50, sebuah "Pernyataan Keprihatinan" yang ditandatangani lima puluh orang tokoh yang mengritik penyalah tafsiran Pancasila sebagai alat mempertahankan kekuasaan. Pidato tanpa teks Presiden Soeharto dalam rapim ABRI di Pekanbaru, 27 Maret 1980, dan pada HUT Kopassandha 16 April 1980, berisi kecaman terhadap Petisi 50.

Lawan-lawan politik Presiden Soeharto mulai menampakan diri. Mereka justru berasal dari almamaternya sendiri, yaitu Angkatan Darat. Saat itulah Presiden Soeharto memang memerlukan sosok yang kuat untuk melindunginya, tetapi tidak mungkin mengkhianatinya.

Letjen LB Moerdani memenuhi kriteria itu.




☆ Pembajakan Woyla, Naiknya Sintong Panjaitan



Nama Moerdani kian cemerlang karena berhasil mengatasi pembajakan pesawat Garuda Woyla di Bangkok, Thailand. Keberhasilan menggagalkan pembajakan ini melambungkan nama Letkol Sintong Panjaitan sebagai komandan pasukan. Letjen LB Moerdani yang terjun langsung dalam operasi itu, juga menuai pujian dari mana-mana.

Beberapa pihak menganggap, karena LB Moerdani menikmati pujian lebih banyak dari panglimanya, Jenderal M. Jusuf. Kivlan Zen menulis bahwa konflik Jusuf - Moerdani muncul tahun 1981 setelah peristiwa pembajakan itu. Saat itu, Letjen Moerdani menjabat Asintel dan Kepala BAIS (Badan Intelijen Strategis). Pada tanggal 30 Maret, Jenderal M Jusuf melakukan commanders call ABRI di Ambon. Letjen Moerdani tidak mengikutinya, karena ada pembajakan pesawat Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok.

Menurut buku Sumarkidjo, sebetulnya Letjen Moerdani mengikuti rapat pimpinan ABRI itu. Bahkan ia punya satu sesi tersendiri dalam rapat pimpinan, dimana ia menyampaikan analisis dan evaluasi mengenai situasi keamanan nasional dan regional. Berita pembajakan itu dilaporkan pertama kali oleh Wapangab / Pangkopkamtib Laksamana Soedomo. Hampir pada saat yang bersamaan, laporan serupa di sampaikan oleh staf Benny Moerdani. Dan menurut Sumarkidjo, Menhankam/Pangab Jenderal M Jusuf langsung memanggil Letjen Moerdani dan memerintahkannya menangani masalah pembajakan itu personally. Artinya, Benny pribadi yang diperintahkan untuk pergi. Jusuf memerintahkan Moerdani pergi dari Manado dengan mengunakan pesawat komando yang biasa dipergunakan Jusuf. Saat itu juga Letjen LB Moerdani terbang dengan pesawat C-130 Komando ke Makasar, kemudian pindah ke pesawat jet milik Pelita Air Service yang terbang dari Jakarta khusus untuk menjemput Benny.

M.YUSUF


Begitu mendengar ada berita pembajakan terhadap Indonesia di luar negeri, Letjen LB Moerdani langsung terbang ke Jakarta via Makasar. Malam itu juga, ia menghadap Presiden Soeharto di Cendana untuk melaporkan langsung pembajakan itu, serta menerima sejumlah instruksi.

Dalam drama pembajakan ini, Letjen Benny menggalang pasukan sendiri dengan bantuan pasukan Kopassus yang di rekrut mendadak. Letkol Sintong Panjaitan dan Mayor Subagyo HS adalah perwira yang terlibat dalam operasi ini, sehingga mendapat anugerah kehormatan. Dan diberitakan bahwa Subagyo HS sempat kecewa karena tidak terpilih mengikuti pendidikan antiteror di Jerman bersama Luhut Panjaitan dan Prabowo Subianto, tapi kemudian malah mendapat kesempatan terlibat dalam operasi yang berharga itu.

SINTONG . P


SUBAGYO HS


Operasi pembebasan sandera itu meraih sukses besar. Para pembajak di taklukan dalam serbuan yang taktis dan kilat. Peristiwa ini membuka mata dunia bahwa Indonesia pun memiliki pasukan khusus (special forces) yang kemampuan setara dengan SWAT (Strategic Weapon and Tactics) milik Amerika Serikat.

Tapi, segala pujian dan kredit diarahkan kepada Letjen Benny Moerdani, intelijen yang ada dalam kendalinya, serta Kopassus. Ini konon membuat Jenderal M Jusuf tidak berkenan. Muncul tudingan bahwa BAIS sengaja menggalang kekuatan ekstrem Islam untuk menggerakkan aksi pembajakan, untuk kemudian ditumpas sendiri oleh Letjen Benny Moerdani.

Menanggapi isu bahwa pembajakan itu rekayasa BAIS, Menhankam/Pangab Jenderal M Jusuf di dampingi Letjen LB Moerdani memberikan keterangan di depan rapat kerja gabungan komisi-komisi DPR RI. Sambil menoleh kepada Benny yang duduk di sampingnya, Jenderal M Jusuf berkata, "Bukan dia yang bikin. kalau dia yang bikin...., saya pecat dia hari ini juga." Benny Moerdani diam, tidak memberikan reaksi.

Pasca drama pembajakan Woyla, nama LB Moerdani langsung meroket. Juga nama Sintong Panjaitan dan Subagyo HS. Tetapi dalam level elit politik, Benny Moerdani lah yang mendapat kredit poin terbesar. Presiden Soeharto menjadi sangat memercayainya, karena jasanya yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di jagat Internasional.

Menurut Prof. Robert Edward Elson, naiknya Moerdani disebabkan oleh karena Soeharto memerlukan aliansi baru, setelah pudarnya Ali Moetopo akibat serangan jantung pada 1978 dan meninggal dunia tahun 1984, serta semakin surutnya pengaruh Sudjono Humardani setelah masuknya para birokrat profesional. Sejalan dengan hal itu, Soeharto mulai mencari-cari gaya kepemimpinan militer yang baru.



SOURCE



PART 1 ==> BERSAMBUNG

Thumbs up ISU : Kudeta "Ala" Jenderal LB. Moerdani (1983-1988) PART-2






☆ Soeharto Marah kepada LB Moerdani



Pada tahun 1983-1985, Mayor Prabowo menjadi staf khusus bagi Jenderal Moerdani. Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo mendapatkan penjelasan tentang agenda Jenderal Benny untuk menhancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis. Karena merasa tidak cocok dengan rencana tersebut, Prabowo melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, termasuk rencana Benny untuk menjadi Presiden RI. Jenderal Moerdani juga dicurigai punya agenda untuk membersihkan ABRI dari orang-orangnya M. Jusuf.

PRABOWO


Mendengar laporan menantunya, mula-mula Presiden Soeharto tidak percaya. Tetapi berdasarkan informasi lanjutan yang didapatkan sendiri, dia akhirya percaya. Tapi, yang lebih menetukan nasib sang Jendral mungkin adalah keberaniannya "menegur" Presiden Soeharto tentang sepak terjang anak anak Presiden di bidang bisnis.

Ketika Pak Harto dan Benny sedang main bilyar berdua, Benny mengatakan sesuatu yang membuat Pak Harto sangat tersinggung. Benny berkata bahwa untuk menjaga keamanan pribadi presiden, memang sudah cukup dengan satu batalyon Paspampres. Tetapi untuk pengamanan politik Presiden, mutlak harus didukung oleh keterlibatan keluarga dan juga Presidennya sendiri. "Begitu saya angkat masalah tentang anak-anaknya tersebut, Pak Harto langsung berhenti main. Segera masuk kamar tidur, meninggalkan saya di ruang bilyar, ... sendirian."

Versi Sudomo lain lagi. Menurut Wapangab/Pangkopkamtib Laksamana Sudomo, Jenderal LB Moerdani pernah menyampaikan suatu saran kepada Pak Harto agar mempertimbangkan untuk mengundurkan diri secara sukarela, karena telah memimpin 20 tahun, masa bakti yang terlalu lama. Pak Harto mengonfirmasi saran tersebut kepada Sudomo. Lantas Sudomo mengatakan, "Memang, intelijen harus berani mengungkapkan fakta yang sebenarnya, meski yang tidak enak sekalipun.

SOEDOMO


Benny sendiri, usai bertemu Soeharto berkata kepada Sudomo, "Wah, bapake kethoke nesu banget (Wah, beliau nampak marah sekali). Jadi [karir] saya pasti sudah selesai, hanya akan sampai di sini."

Jenderal Moerdani merasa pasti tidak akan masuk ke jajaran kabinet lagi.


☆ Sekali lagi Dicurigai Kudeta

Pergantian Panglima ABRI dari Jendral LB Moerdani ke Letjen Try Sutrisno berlangsung tanggal 24 Februari 1988, seminggu sebelum Sidang Umum MPR digelar. Ini adalah sesuatu yang ganjil, sama sekali di luar kebiasaan. Biasanya, siapa yang menduduki jabatan Panglima ABRI diumumkan bersamaan dengan pengumuman sususnan kabinet, karena jabatan ini adalah setara menteri. Diberhentikannya Jendral LB Moerdani sebagai Pangab berarti satu hal, Presiden Soeharto mencoba membatasi ruang gerak Benny.

Menurut Kivlan Zen, dimajukannya pergantian Pangab untuk mencegah LB Moerdani memaksa Ketua Fraksi ABRI di MPR, Letjen Bambang Triantoro, untuk mengajukan namanya sendiri sebagai calon Wakil Presiden. Cara ini dianggap mendahului kehendak Soeharto, dapat membuat malu, dan terkesan tidak demokratis bila Soeharto menolaknya dalam Sidang MPR.

Sidang Umum MPR 1988 memang agak menegangkan dibanding sebelumnya. Ada beberapa alasan :

Presiden Soehato belum menunjuk sosok yang dipilihnya untuk menjadi Wakil Presiden. Ini menimbulkan banyak spekulasi di kalangan elit politik maupun masyarakat luas. Kekuatan-kekuatan politik yang ada saat itu kian berani mengelus-elus jagonya masing-masing. Situasi pun kian meruncing.
Dari PPP (Partai Persatuan Pembangunan) muncul kandidat Cawapres Dr. H.J. Naro. Motivasinya hanya untuk "meramaikan" saja, dan kalau bisa, memaksa agar sidang melakukan voting. Saat itu voting dianggap tabu, karena dinilai bertentangan dengan budaya musyawarah mufakat. Soeharto selalu menginginkan mufakat bulat untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden.
Ada indikasi bahwa ABRI dan Golkar menghendaki nama yang berbeda menjadi Cawapres. Nama Pangab Jenderal LB Moerdani sering disebut-sebut sebagai kandidat ideal di pihak ABRI. Sedangkan nama Sudharmono merupakan favorit Golkar.

Baik Jenderal LB Moerdani maupun Sudharmono sama-sama kuat posisisnya untuk menjadi Wapres. Sikap Presiden Soeharto lah yang akan menentukan mana Cawapres yang akan terpilih. Presiden Soeharto sudah tidak menyukai LB Moerdani. Jadi, untuk menutup kemungkinannya maju sebagai Cawapres dari jalur Fraksi ABRI, dia memutuskan untuk mengajukan waktu pergantian Pangab.

☆ "Saya Bukan Lagi ketua Partai ABRI..."

Makna di balik pergantian Pangab yang dipercepat itu diterima oleh Benny Moerdani. Terbukti, dua jam setelah prosesi pergantian Pangab, terjadi dialog antara Benny Moerdani, Soegiarto (Kassospol Hankam), dan Mayjen Harsudiono Hartas (Assospol Hankam).

Kedua perwira tinggi itu mengajukan pertanyaan, "Pak, siapakah yang nanti akan kita ajukan sebagai calon Wakil Presiden?"
"Lho, koq tanyanya sama ABRI"
"Memang, semuanya tanya sama kita. Semua bertanya, siapa yang bakal dicalonkan ABRI untuk menjadi wakil presiden," begitu desak Soegiarto dan Hartas hampir serentak.
Benny, kemudian menanyakan, bagaimana dengan floor?
Dijawab, nama Benny sering di sebut-sebut, Tetapi dengan suara mantap, sambil menunjuk Try Sutrisno yang duduk disebelahnya, Benny langsung menegaskan, "Bagus kalau demikian... kalau saya masih jadi ketua partai ABRI. tetapi sejak dua jam yang lalu, ketua partai sudah bukan di tangan saya lagi, melainkan Try ..."
"Jadi?"
"Jadi, ya yang ini saja saya usulkan, glundhungkan saja Try sebagai calon Wakil Presiden..."



Jenderal Try Soetrisno diam tidak bereaksi. Tentu saja, usulan itu tidak mungkin dilaksanakan. Try baru beberapa jam menjabat Panglima ABRI secara resmi. Kata-kata Benny Moerdani hanya mengindikasikan bahwa dengan dicopotnya dia sebagai Pangab, harapan ABRI untuk mendudukkan kadernya di kursi Wapres telah sirna.

Lebih dari itu, kata-kata itu berarti Benny telah bisa menerima isyarat yang diberikan Presiden Soeharto, agar dirinya jangan maju sebagai Cawapres. Bahwa dia tidak boleh macam-macam, apalagi menggangu proses pemilihan Wapres.

Sudharmono lah yang kemudian menjadi Wapres.

Dicopot dari jabatan Pangab, gagal menjadi Wapres, membuat nasib Benny Moerdani terkatung-katung. Disinilah Sudomo melakukan terobosan. Ia mengingatkan Presiden Soeharto tentang nasib Park Chung hee, Jenderal yang menjadi Presiden Korea Selatan, yang tewas ditembak oleh bekas kepala intelnya. Menurut Sudomo, "Saya lihat Pak Harto kaget ... Mungkin beliau mulai merasa takut dan berpikir, bagaimana kalau nanti Benny mbambung (berarti menggelandang, karena tak punya pekerjaan), nekad karena merasa di kecewakan?"

Tiga minggu setelah Sidang Umum MPR selesai, sususnan lengkap Kabinet Pembangunan IV di umumkan. Jenderal Moerdani di tunjuk menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan.

☆ Lagi-lagi Dicurigai Kudeta

Sidang Umum MPR 1988 akhirnya memang berjalan mulus. Namun sebelumnya, sikap paranoid muncul di kalangan perwira-perwira yang lima tahun sebelumnya pernah mencurigai LB Moerdani melakukan kudeta. Kivlan Zen menuturkan, Prabowo mempersiapkan satu Batalyon Kopassus, Batalyon Infanteri Linud 328, Batalyon Infanteri 303, Batalyon Infanteri 321, dan Batalyon Infanteri 315, yang dapat dipercayainya untuk melakukan kontra-kudeta, sebagaimana Soeharto melakukan kontra-kudeta terhadap G30S/PKI tahun 1965. Saat SU MPR digelar, jabatan Pangab memang telah di serahterimakan kepada Jenderal Try Sutrisno. Tapi Jenderal LB Moerdani masih memegang jabatan strategis sebagai Pangkopkamtib dan Kepala BAIS.

Kecurigaan kudeta tidak terbukti. Tapi tetap saja Jenderal LB Moerdani dicurigai mengonsolidasikan kekuatan untuk merongrong pemerintah. Di baliknya ada tokoh-tokoh penandatangan Petisi 50, sejumlah purnawirawan jenderal atau pejabat tinggi yang tidak puas. Menurut Kivlan Zen, ungkapan Presiden Soeharto itu terjadi karena adanya informasi seorang Letkol melalui Mayor Gleni Kairupan kepada Titiek Prabowo agar sampai kepada Soeharto. Informasi itu berupa dokumen hasil pertemuan beberapa jenderal untuk melakukan suksesi dengan minta dukungan Ismail Hasan Metareum di MPR.

Pengamat politik Christianto Wibisono mengungkapkan, Benny pernah jadi anak emas sekaligus korban Soeharto. Di angkat naik seperti roket jadi jenderal bintang empat, tetapi dicampakkan dari jabatan Panglima ABRI secara mendadak, mirip cara memecat tenaga kerja Indonesia. Bulan madu Soeharto - Benny hanya berumur sekitar 10 tahun. setelah masa "bulan madu" itu, justru nama Benny Moerdani sering dikait-kaitkan dengan upaya merongrong kewibawaan pemerintah.

Tahun 1989, dalam perjalanan pulang kunjungan kenegaraan ke Beograd Yugoslavia, Presiden Soeharto berkata, "Biar jenderal atau menteri yang bertindak inkonstitusional akan saya gebuk." Konon kata-kata itu ditunjukan pada faksi Jenderal LB Moerdani yang melancarkan isu-isu suksesi.

Sekali lagi, Jenderal LB Moerdani dicurigai akan melakukan kudeta. Maka semakin gencarlah upaya de-Benny-isasi, sebuah gerakan "pembersihan" terhadap perwira-perwira militer yang berafilasi ke group Benny.

Mayjen Sintong Panjaitan adalah yang tersingkir. Karir militernya tamat empat tahun setelah LB Moerdani tidak jadi Pangab lagi.


SOURCE


Thumbs up OTOBIOGRAFI LB Moerdani




Leonardus Benyamin Moerdani, atau L.B. Moerdani, atau kerap disebut Benny Moerdani (lahir di Cepu, Blora, Jawa Tengah, 2 Oktober 1932 – meninggal 29 Agustus 2004 pada umur 71 tahun) adalah salah satu tokoh militer Indonesia yang terkenal pada masanya. Benny Moerdani dikenal sebagai perwira TNI yang banyak berkecimpung didunia intelijen, sehingga sosoknya banyak dianggap misterius.

L.B. Moerdani merupakan perwira yang ikut terjun langsung di operasi militer penanganan pembajakan pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 206 di Bandara Don Mueang, Bangkok, Kerajaan Thai pada tanggal 28 Maret 1981, peristiwa yang kemudian dicatat sebagai peristiwa pembajakan pesawat pertama dalam sejarah maskapai penerbangan Republik Indonesia dan terorisme bermotif jihad pertama di Indonesia.

Dalam posisi pemerintahan, selain sebagai Panglima ABRI, beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan dan juga Pangkopkamtib.

Karier militer

Moerdani mulai mengangkat senjata sebagai Tentara Pelajar saat masih 14 tahun. Sebagai anak muda yang belum berpengalaman, beliau nyaris tewas dua kali saat pletonnya diserang dari sisi dan saat melarikan diri di Sekarpace. Dua kakaknya juga turut berjuang, salah satunya menjadi pasukan pengawal Slamet Rijadi.

Setelah penyerahan kedaulatan, Moerdani melanjutkan sekolah dan masuk sekolah kader infanteri TNI-AD. Dia direkrut dalam kompi Kesatuan Komando Angkatan Darat. Satu-satunya kompi komando tersebut memerangi DI/TII, terjun di PekanBaru dan Padang memerangi PRRI, dan melakukan operasi amfibi di Menado memerangi Permesta. Moerdani kembali nyaris gugur saat jeepnya ditembak bazooka. Setelah mengikuti sekolah lanjutan di Amerika, Mayor Moerdani memimpin pasukan gabungan RPKAD dan Kostrad terjun dalam Operasi Naga di Irian Jaya, dalam operasi ini beliau nyaris gugur lagi saat pasukannya disergap marinir Belanda dan Moerdani diincar penembak runduk (sniper). Moerdani juga memerangi pasukan Inggris di konfrontasi Malaysia. Kelak setelah menjadi Panglima TNI, Moerdani mengunjungi markas SAS di Inggris dan baru diberitahu beliau juga pernah dibidik sniper SAS saat menyusuri sungai dengan sampan.

Kariernya di RPKAD terhenti karena perselisihan dengan Jenderal Ahmad Yani mengenai kelanjutan karier anak buah Moerdani yang terluka. Moerdani masuk Kostrad dan oleh Letkol Ali Moertopo ditugaskan sebagai perwira inteljen di Bangkok. Moerdani menjalin kontak dengan Malaysia untuk menjembatani perdamaian. Karier inteljen dilanjutkan menjadi atase di Korea. Setelah kejadian Malari, Moerdani dipanggil Soeharto kembali ke Jakarta menjadi Brigjen untuk memegang komando inteljen. Penugasan kontroversial adalah operasi terselubung menjelang Operasi Seroja. Nama Moerdani terkenal saat berhasil membujuk pemerintah Kerajaan Thai (yang beliau kenal saat menjadi perwira inteljen di Bangkok) untuk mengizinkan operasi militer Den81 menyerang pesawat Woyla.

Peristiwa Tanjung Priok

Kontroversi Moerdani dalam keterlibatannya dalam Peristiwa Tanjung Priok pernah membuat Moerdani diadili di mahkamah militer dalam skandal militer Indonesia di kala rezim Orde Baru.

Perselisihan dengan Soeharto

Dalam buku 'Tragedi Seorang Loyalis', saat menjabat Panglima ABRI Moerdani memberi komentar mengenai bisnis anak-anak Soeharto. Soeharto marah dan mecopot jabatan Moerdani. [3] Dalam buku Sintong Panjaitan (komandan Den81 yang menyerbu Woyla), disebutkan Kapten Prabowo Subianto (menantu Soeharto) pernah merencanakan menculik Moerdani karena tuduhan makar. Prabowo Subianto tidak memberi komentar mengenai peristiwa ini dalam bukunya.



Kisah Benny Moerdani bubarkan tawuran Kopassus-Marinir

Beberapa anggota marinir diduga mengamuk dan menghajar kader Nasional Demokrat di dekat Gambir, Jakarta Pusat. Bentrok antara TNI dengan warga sipil maupun TNI dengan sesama TNI memang cukup sering terjadi sejak dulu.

Dulu tahun 1964, Jakarta mencekam. Puluhan anggota Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD sekarang menjadi Kopassus) tawuran dengan anggota Korps Komando Operasi (KKO sekarang disebut Marinir). Bukan hanya pakai sangkur, mereka semua menggunakan senapan serbu AK-47. Ada beberapa yang menyandang bazooka dan siap menembak. Kawasan Kwini hingga Senen, Jakarta Pusat tak ubahnya seperti medan pertempuran.

Ceritanya saat itu Komandan Batalyon I RPKAD Mayor Benny Moerdani baru pulang main tenis dari Senayan. Begitu sampai di dekat Markas Kopassus dia heran melihat konvoi truk RPKAD penuh sesak. Tapi tidak ada yang menggunakan seragam. Benny melihat mereka berasal dari Batalyon II RPKAD. Karena bukan anak buahnya, Benny kurang tertarik untuk mencari tahu.

Benny baru sadar setelah mau masuk asrama. Petugas piket berteriak panik. "Pak, anak-anak keluar semua. Anak-anak Batalyon II keluar semua," teriaknya.

Sadar ada yang tidak beres, Benny langsung putar haluan. Dia berusaha mengejar konvoi truk itu. Benar saja, di sepanjang jalan masyarakat tampak panik. Di Jatinegara dan Kramat, suasana mencekam. Truk RPKAD berhenti di Kramat Raya sementara dengan gaya siap bertempur para penumpangnya berlarian menuju Simpang Lima Senen.

"Kacau, Pak. RPKAD gontok-gontokan dengan KKO," ujar seorang warga yang berkerumun dengan panik.Benny mendapat informasi banyak korban jatuh. Dia menuju Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Di sana dia melihat korban jatuh di kedua pihak. Selain beberapa KKO dan RPKAD, beberapa warga sipil juga tewas.

"Saya tengok ke ruang perawatan. Kira-kira ada tiga RPKAD dan 10 KKO ngglethak. Terbaring berlumuran darah dikerumuni para petugas kesehatan," ujar Benny seperti ditulis Julius Pour dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis terbitan Kata.

Benny mendapat informasi, ternyata penyebab bentrok berdarah itu cuma masalah sepele. Pagi harinya Tjakrabirawa eks KKO dan RPKAD sedang berlatih baris berbaris di Lapangan Banteng. Setelah latihan, anggota RPKAD belajar menyetir mobil. Entah siapa yang memulai tiba-tiba kedua satuan elite ini saling ejek. Lalu berkembang jadi perkelahian. Karena dekat dengan markas Marinir, RPKAD kalah jumlah. Mereka lalu mengontak kawan-kawan mereka di Markas RPKAD Cijantung.

Tanpa ragu dan takut Benny kemudian menuju asrama KKO Kwini. Benny sadar masalah ini harus segera diselesaikan. Benny tidak bawa senjata dan berseragam. Dia hanya mengenakan kaos dan celana pendek sehabis main tenis.

Di pos jaga dia melihat puluhan Tjakrabirawa eks KKO siap tempur dengan senjata terkokang. Seorang anggota KKO itu ternyata anak buah Benny saat operasi militer di Irian dulu. Tentu prajurit itu ingat Benny, komandan Gerilya se-Irian. Benny minta prajurit itu memanggil komandannya. Tak lama munculah Mayor KKO Saminu, Komandan Batalyon II Resimen Tjakrabirawa. Kebetulan Saminu adalah teman akrab Benny sejak dulu.

"Waduh, Ben! Bagaimana ini? Kok malah jadi seperti ini?" keluh Saminu.

"Sudahlah. Jaga pasukanmu, jangan keluar asrama. Saya akan tertibkan anak-anak yang di sana. Kalau kamu diserang silakan saja, mau nembak atau apa. Terserah. Tapi saya minta jangan ada anggotamu yang keluar asrama," ujar Benny.

Saminu menyetujui usul ini. Dia memerintahkan anak buahnya tetap di asrama.

Ternyata di kubu RPKAD, malah beredar kabar Benny ditangkap KKO. Mereka segera bergerak cepat, menduduki asrama perawat putri RSPAD. Dari atas asrama perawat, mereka sudah siap menembakkan bazooka ke arah markas KKO.

Suasana tegang. Satuan elit baret merah itu sudah siap menembak. Anehnya tidak ada KKO yang keluar.

Tiba-tiba malah Benny yang muncul. Benny berteriak pada prajurit-prajurit itu. "Sudah, sudah. Pulang kalian semua," teriak Benny. RPKAD ini kebingungan. Loh kok ada Pak Benny? Pikir mereka. Walau bingung, mereka menurut.

Anggota yang kebingungan segera didorong Benny masuk ke dalam truk. Benny memerintahkan mereka segera kembali ke Cijantung.

Warga yang berkerumun bingung, siapa pria bercelana pendek yang berani menghentikan bentrok berdarah ini. Bahkan berani teriak-teriak menyuruh semua anggota RPKAD naik truk.

Belakangan Benny dan Saminu serta komandan satuan lainnya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan ini. Kabar soal keberanian Benny, sampai pula ke telinga Soekarno. Dia meminta Benny bergabung menjadi Komandan Tjakrabirawa, alias Paspampres. Benny yang masih ingin berkarir di pasukan, menolaknya. Akhirnya malah Mayor Untung yang menjadi Tjakrabirawa. Kelak Untung pula yang menjadi komandan Gerakan 30 September.

Thumbs up Tambahan Dari Agan : Epstein

Oleh Kristanto Hartadi



Ini sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang mayor jenderal yang kini masih aktif. Dia pernah sangat dekat dengan almarhum Jenderal (purn) Leonardus Benny Moerdany, mantan Menhankam dan mantan Panglima ABRI, orang paling kuat kedua di Republik Indonesia setelah Presiden Soeharto pada periode 1983-1993.

Menurut jenderal itu, ketika Benny Moerdany sudah berada di puncak sakit stroke yang dideritanya, Soeharto datang menjenguk mantan pembantu dekatnya itu dan ada ucapan khusus yang disampaikan kepada Benny, dalam bahasa Jawa: "Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasihatmu ora koyo ngene" (memang kamu yang betul, Ben. Kalau saya menuruti nasehatmu mungkin keadaan tidak seperti sekarang). Benny yang sudah sulit bicara karena sakitnya, hanya menangis sesenggukan.

Menurut sumber itu, ucapan Soeharto itu diulang kembali di depan jenazah ketika melayat LB Moerdani yang akhirnya meninggal dunia karena strokenya itu pada 29 Agustus 2004.



Episode itu, yang mudah-mudahan bisa dituangkan secara lebih terperinci dalam sebuah buku oleh sang saksi mata, akan lepas begitu saja bila kita tidak melihat kaitan-kaitan di belakangnya.

Tentu saja yang dimaksud Soeharto adalah situasi hiruk-pikuk dan kacau-balau yang terjadi dalam kancah kehidupan sosial politik di Indonesia seusai kejatuhannya pada 21 Mei 1998, yang memulai Era Reformasi. Mereka yang menikmati "kemapanan" semasa kekuasaan Orde Baru pastilah pusing kepala melihat segala tatanan dijungkirbalikkan di Orde Reformasi ini. TNI tidak lagi punya gigi, pemerintah juga seperti tak berdaya, kerusuhan pecah di mana-mana, Timor Timur merdeka, dan seterusnya, dan seterusnya.

Menurut catatan penulis biografi, Julius Pour, dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis, perpecahan Soeharto dan Benny berawal di suatu malam dari sebuah insiden di ruang bilyar di Jalan Cendana, kediaman Soeharto, saat kedua orang kuat di republik ini main bilyar bersama. Ketika itu Benny mengingatkan Soeharto bahwa untuk pengamanan politik presiden, seluruh keluarga dan presiden harus mendukung dan terlibat. "Begitu saya angkat masalah tentang anak-anaknya tersebut, Pak Harto langsung berhenti main. Segera masuk kamar tidur, meninggalkan saya di ruang bilyar… sendirian," kata Benny seperti dituturkan oleh dr Ben Mboi, mantan gubernur NTT.

Sejak saat itu posisi Benny surut di mata Soeharto, karena berani mengingatkan presiden untuk secara sukarela mundur karena telah memimpin lebih dari 20 tahun. Dia dicopot sebagai Panglima ABRI pada tahun 1988, digantikan Jenderal Try Sutrisno, mantan ajudan presiden, namun masih diberi jabatan sebagai Menteri Pertahanan (1988-1993), karena Soeharto khawatir Benny berontak.

Ketika sudah tidak di pemerintahan, Benny berkata bahwa masa pemerintahan Soeharto yang kelima adalah yang terakhir. "Masak setelah 25 tahun masih terus?" itu katanya. Namun tidak pernah dijelaskan bagaimana cara Soeharto akan atau harus mengakhiri kekuasaannya, karena kesadaran itu harus datang dari Soeharto sendiri. Dan akhirnya memang Soeharto diturunkan oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998.

Melindungi Anak-anaknya



Melindungi anak-anaknya mungkin merupakan salah satu alasan kenapa Soeharto enggan melepaskan jabatannya, atau mempersiapkan cara-cara menjalankan suksesi. Padahal wacana suksesi sudah banyak dilontarkan berbagai pihak dan berbagai skenario sudah disusun, termasuk oleh Mabes TNI di Cilangkap. Tetapi tidak ada yang berani melawan Soeharto.

Memang, ketika Benny mengingatkan Soeharto dan keluarganya agar menjaga dan melindungi kepresidenan, anak-anak Soeharto beserta kroni mereka baru mulai membesarkan kerajaan bisnis masing-masing dengan memanfaatkan kekuasaan sang ayah.

Mengenai hal ini, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew menuturkan dalam buku memoarnya From Third World to First: The Singapore Story, dia secara pribadi pernah bertemu dengan anak-anak Soeharto pada 25 Desember 1997 di Singapura, yang juga dihadiri oleh PM Goh Chok Tong. Dia mengingatkan mereka agar berhenti menjalankan praktik bisnis yang tidak sehat, karena mereka diincar oleh para fund manager yang gerah dengan tingkah polah itu dan bisa saja memainkan nilai tukar rupiah. "Perilaku anak-anak Soeharto menyumbang kejatuhan orang tuanya," tulis Lee dalam memoar yang diluncurkan pada September 2000 tersebut.

Memang, bisnis anak-anak dan kroni Soeharto begitu merajalela, memasuki hampir setiap sektor kehidupan, mulai dari pengadaan barang bagi TNI/Polri dan berbagai instansi pemerintah, real estate, otomotif, jalan tol, bank, minyak, perkebunan, telekomunikasi, properti, impor beras, bungkil, kedelai, peternakan, ritel, komputerisasi SIM dan STNK, stiker halal, penerbangan, taksi, pertambangan, kehutanan, dan lain-lain.

Mereka tidak berbisnis sendiri, dan pada umumnya mereka juga menggandeng sejumlah konglomerat yang menjadi kroni. Banyak pihak yang menilai pada masa itulah Soeharto sudah seperti raja Jawa, dan membiarkan anak-anak maupun kroni-kroninya berbuat sesukanya. Negara seperti milik keluarganya dan dia melindungi.



Salah satu modus lainnya untuk mengumpulkan uang adalah dengan mendirikan berbagai yayasan, atau mereka menjadi calo untuk menggolkan berbagai proyek pemerintah, atau mereka menguasai tata niaga, mulai dari cengkih, jeruk pontianak, cukai minuman keras, dan lain-lain.

Misalnya saja, untuk PT Sarpindo yang sahamnya dikuasai Hutomo Mandala Putra, Bob Hasan dan Lim Sioe Liong, satu-satunya perusahaan yang mengimpor kedelai untuk Bulog, pemerintah harus menyubsidi perusahaan ini senilai US$ 21 juta per tahun. Dan ketika Menteri Pertanian Wardoyo (ketika itu) meminta pemerintah mengakhiri monopoli impor ini karena sangat tidak kompetitif, Soeharto hanya berkata: "Kalau mau membunuh Sarpindo, silakan." Ujung-ujungnya, semua yang mengusulkan deregulasi impor bungkil ini akhirnya mundur teratur. Hal yang sama terjadi dengan impor gandum yang ketika itu dimonopoli perusahaan milik Lim Sioe Liong. (Adam Schwarz, A Nation in Waiting, hal 133-134).

Monopoli dan menjadi calo adalah cara yang ditempuh anak-anak dan para kroni Soeharto untuk membesarkan kerajaan bisnis mereka. Siapa yang tidak kenal dengan kelompok bisnis anak-anak Soeharto seperti Bimantara (Bambang Trihatmojo), Citra Lamtoro Gung (Siti Hardiyati Rukmana), Humpuss (Hutomo Mandala Putra), bahkan sampai cucu Soeharto pun ikut terjun berbisnis. Bahkan di antara mereka pun berebut proyek. Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa yang paling transparan di Indonesia pada masa itu adalah korupsi! Majalah Time pernah menyebut dari berbagai bisnis ini keluarga Soeharto berhasil mengumpulkan kekayaan hingga US$ 15 miliar.



Bisnis anak-anak Soeharto, seperti Bank Andromeda dan mobil "nasional" merek Timor yang sebenarnya buatan perusahaan Korea KIA, termasuk dalam kegiatan usaha yang diminta oleh IMF untuk diakhiri sebagai salah satu syarat dalam letter of intent ketika Indonesia akhirnya minta bantuan kepada dunia internasional karena krisis ekonomi 1997.

Namun hebatnya, meski ditengarai banyak hal yang tidak wajar dari bisnis anak-anak Soeharto, hanya Tommy saja yang tersandung di sana dan di sini. Lima anak Soeharto yang lain sampai hari ini aman-aman saja. Yang menjadi pertanyaan, kini, setelah Soeharto tiada, apakah anak-anaknya masih bisa tenang menikmati kekayaan yang pernah mereka jarah dari Indonesia? Kita lihat saja...

Saat Meninggalnya Sang Jenderal




PEMAKAMAN LB MOERDANI - Anggota Korps Pasukan Khusus TNI AD
mengusung jenazah mantan Menhankam/Panglima ABRI, Jend (Purn) LB Moerdani saat pemakaman di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (29/8).
Moerdani wafat dalam usia 74 tahun setelah menderita sakit. (Inset) Jend
(Purn) LB Moerdani.

JAKARTA - Markas Besar (Mabes) TNI mengeluarkan perintah kepada seluruh
markas di jajaran TNI untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang
selama tujuh hari, sebagai belasungkawa atas tutup usianya mantan
Menhankam/Pangab Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin (LB) Moerdani.
Pengibaran bendera setengah tiang tujuh hari ini sekaligus menunjukkan duka
yang mendalam atas meninggalnya tokoh militer sekaligus tokoh intelijen
Indonesia itu akibat penyakit yang dideritanya selama ini.
LB Moerdani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan,

Minggu (29/8) pukul 13.50 WIB dalam upacara militer yang dipimpin langsung
oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Mantan Pangkopkamtib itu
meninggal pada Minggu dini hari pukul 01.30 WIB di RSPAD Gatot Subroto,
Jakarta.

Sebelumnya, Moerdani yang dirawat sejak 7 Juli 2004 karena stroke dan
infeksi paru-paru sempat dibesuk sejumlah tokoh penting, antara lain mantan
pejabat tinggi negara dan militer termasuk mantan Presiden Soeharto, Jumat
(27/8). Ketika itu Benny Moerdani masih dalam kondisi sadar. Hal menarik, menurut beberapa sumber, saat mantan orang nomor satu di
republik ini bertemu di sisi ranjang, Benny sempat memegangi tangan
Soeharto. Keduanya sempat hanyut dalam keharuan bersama, dan saling menitikkan air mata.

Penghormatan tembakan salvo oleh 10 personel TNI menandai diturunkannya peti jenazah LB Moerdani ke makamnya di Blok W bagian selatan Kompleks TMP Kalibata. Sebelumnya, Panglima TNI membacakan riwayat hidup LB Moerdani yang pernah memimpin Operasi Naga pasukan elite RPKAD pada 4 Juni 1962 untuk merebut Irian Barat dari Belanda.

Mayor Inf Benny Moerdani yang mendapat Bintang Sakti langsung oleh Presiden
Soekarno karena peran pentingnya dalam Operasi Naga di Irian Barat melapor
ke Kostrad yang dipimpin oleh Mayjen TNI Soeharto. Inilah perkenalan
langsung antara LBM dengan Soeharto yang akan berlanjut secara dinamis
sampai 30 tahun sesudahnya.

Sebagai perwira yang relatif junior tentu di Kostrad ia tidak mempunyai
banyak peran penting, lebih-lebih antara tahun 1963-1965 Kostrad, termasuk
Panglimanya tidak banyak dikenal di masyarakat. Tetapi bagi Benny itu adalah waktu pembelajaran yang berharga, karena selain ia belajar banyak hal selain operasi komando, ia juga mengenal orang-orang seperti Letkol Yoga Soegama dan terutama Letkol Ali Moertopo yang adalah orang-orang penting di Kostrad.



Senin, 30 Agustus 2004

JAKARTA (Media): Jenazah Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Timur, kemarin. Sebagai wujud dukacita dan penghormatan atas jasa-jasa almarhum,

Sejumlah anggota Kopassus mengusung jenazah
mantan Menhankam-Pangab Jenderal (Purn) LB Moerdani, untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, kemarin. Pendiri Badan Intelijen
Strategis (Bais) ABRI ini meninggal dalam usia 72 tahun karena telah lama
menderita stroke.

Markas Besar TNI menginstruksikan seluruh markas di lingkungan TNI
mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari berturut-turut.

Moerdani menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto sekitar pukul 02.00 WIB, dini hari kemarin. Beliau dirawat di rumah sakit itu sejak 7 Juli 2004 karena menderita stroke dan infeksi paru-paru.

Upacara pemakaman secara militer berlangsung sekitar pukul 13.50 WIB
dipimpin Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Saat upacara
berlangsung, tiga kepala staf TNI tampak mendampingi keluarga dan sanak
saudara, yaitu KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, dan KSAU Marsekal Chappy Hakim.

Tembakan salvo terdengar saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat yang
berada di Blok W, di bagian selatan kompleks pemakaman tersebut. Disusul
dengan doa dan upacara kerohanian secara Katolik yang dipimpin oleh Romo
Soewito Pandito.

Dalam amanatnya, Panglima TNI menegaskan, upacara itu dilakukan untuk
menghormati dan menghargai jasa-jasa almarhum. ''Indonesia kembali
kehilangan salah satu putra bangsa terbaik karena dia telah menjadi suri
teladan bagi semua, meski selama hidupnya sebagai manusia almarhum tidak
luput dari kesalahan,'' ujar Endriartono.

Almarhum juga mendapat penghormatan terakhir di Mabes TNI-AD Jl Veteran,
Jakarta Pusat, dalam sebuah upacara yang dipimpin KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu. Sebelumnya, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jl Terusan Hang Lekir IV No 4/43, Jaksel.

Hadir melayat di Mabes TNI-AD, Presiden Megawati Soekarnoputri bersama
suami, Taufiq Kiemas. Terlihat pula Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta
istrinya, Sinta Nuriyah, dan mantan capres dari Partai Golkar Jenderal
(Purn) Wiranto yang juga mantan Menhamkam/Pangab.

Sedangkan di rumah duka, tampak melayat mantan Presiden Soeharto yang
didampingi putrinya, Siti Hardijanti Rukmana, dan capres Susilo Bambang
Yudhoyono.

Moerdani termasuk tokoh yang paling berpengaruh dalam perjalanan bangsa ini. Selain karena jasanya terhadap kemajuan TNI, beliau juga dikenal sebagai
salah satu tokoh yang kontroversial karena disebut-sebut berada di balik
rangkaian kerusuhan di beberapa daerah. Bahkan, dianggap berada di balik
peristiwa Tanjung Priok.

Moerdani juga sering disebut-sebut berada di belakang mutasi besar-besaran
di tubuh TNI (ketika itu sebutannya ABRI). Istilah perwira "hijau" atau
perwira Islam juga berdengung di era kepemimpinannya. Semasa beliau memegang tongkat komando, para perwira hijau disebut-sebut sering digeser olehnya.

Namun, jasanya yang besar terhadap bangsa ini menenggelamkan begitu
gunjingan-gunjingan seperti itu. Ketokohannya juga membuat orang sulit
melupakan figur ini begitu saja. Bahkan Gus Dur yang menulis pengantar pada
biografi "Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, 1993", menyebut
jenderal ini sebagai guru politiknya.

Dia juga dikenal sebagai negarawan yang besar hingga dijuluki kalangan
diplomat asing sebagai The only Statesman in Indonesia. (Nur/Tia/X-8)
di buku kok ada foto prabowo
apa emang ada hubungannya
--
atau karena isu jaman orba yg mengatakan prabowo akan kudeta Pak Harto

Thumbs up INTELIJEN

Perkenalannya dengan dua perwira menengah Kostrad di atas membawa Benny ke bidang penugasan baru: intelijen. Secara perlahan ia mulai dipercaya oleh Soeharto "bosnya" yang karirnya menaik setelah peristuwa G-30-S, yaitu mula-mula menjadi Men/Pangad menggantikan Yani yang tewas, dan tahun 1968 menjadi Pejabat Presiden RI.

Keterlibatan LBM dalam tataran nasional bisa dibagi atas tiga tahapan
penting. Pertama, antara 1965 - 1974 yaitu sampai ia dipanggil oleh
Soeharto. Kedua, antara 1974-1988 yaitu sampai ia diberhentikan secara
mendadak sebagai Panglima ABRI hanya satu bulan sebelum Sidang Umum MPR. Ketiga, tahun 1988 -1993, yaitu sampai berakhirnya jabatannya sebagai
Menteri Hankam.

Seperti diketahui, Presiden RI sangat tidak puas dengan kinerja aparat
intelijen dalam menangani peristiwa keresahan para mahasiswa yang berpuncak dengan huru-hara 15 Januari 1974 yang populer dengan istilah ''Malari''. Badan dan organisasi intel itu terbawa oleh persaingan antara Kepala Operasi Khusus (Opsus) yang adalah sebuah badan intel tidak resmi di bawah Mayjen Ali Murtopo versus Panglima Kopkamtib Jenderal TNI Soemitro sehingga tidak bisa berfungsi efektif.

Soeharto menugaskan langsung Benny Moerdani untuk mengendalikan tiga aparat intelijen sekaligus, yaitu menjadi Asisten Intelijen Hankam merangkap
Asisten Intelijen Kopkamtib. Dan juga mereorganisasi sebuah badan intel baru
yaitu Pusat Intelijen Strategis (Pusintelstrat) sebagai pengembangan Satuan
Tugas Intelijen Hankam.

Sementara badan intel non-militer, yaitu Bakin (Badan Koordinasi Intelijen
Negara) juga diberikan kepada pejabat baru, yaitu Mayjen Yoga Soegama yang juga dipanggil mendadak dari penugasannya di Perwakilan RI di PBB, New York.Kabakin yang lama "di-Dubes-kan" ke Belanda dan Soemitro mengundurkan diri sementara Ali Moertopo mulai dikendalikan geraknya.

Tidak banyak yang tahu betapa pentingnya jabatan tersebut Seperti diketahui
di Indonesia pada waktu itu, Soeharto mengandalkan keamanan dan stabilitas
negara hanya pada dua badan penting: ABRI dan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib). ABRI mempunyai tentara dan senjata dalam organisasinya juga mempunyai satuan intelijen di bawah kendali Asintel. Sementara itu, Kopkamtib juga punya organisasi terpisah (meskipun pejabatnya juga tentara) yang intelnya terpisah pula.

Dengan kedua badan itu ada di satu tangan, tidak mungkin terjadi persaingan
antar-lembaga. Benny dikenal baik oleh Yoga dan juga Ali sehingga tidak
mungkin lagi terjadi saling curiga antarpejabat tertinggi intelijen.

Organisasi Intelstrat dikembangkan untuk menghadapi berbagai ancaman yang bersifat strategis dan terutama mempunyai komunikasi langsung dengan para Atase Pertahanan RI di seluruh dunia. Dalam situasi yang mengharuskannya, ia juga bisa mempergunakan satuan Kopasandha untuk operasi khusus. Padahal pergerakan pasukan untuk operasi militer menurut ketentuan hanya boleh dilakukan oleh Panglima ABRI.

Jabatan yang dipegang oleh LBM tidak boleh diotak-atik oleh siapa pun. Ia
diangkat di era kepemimpinan Menhankam Jenderal TNI Maraden Panggabean, dan ketika pada tahun 1978 ada Kabinet baru dengan Menhankam/Pangab nya M. Jusuf dan Panglima Kopkamtib Laksamana TNI Soedomo, Benny tetap aman dengan tiga jabatan tersebut.

Sementara itu, Yoga tetap kukuh dengan jabatan Kabakin, tetapi Ali Murtopo
dipereteliti secara lihai dari organisasi Opsusnya oleh Soeharto dengan
mengangkatnya menjadi Menteri Penerangan RI.

LB Moerdani dengan pangkat Letnan Jenderal TNI juga bertanggung jawab atas keamanan Presiden, dan organisasi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ada di bawah kendalinya. Dalam daftar rombongan Presiden Soeharto yang pergi ke daerah-dan lebih-lebh ke luar negeri, nama Asintel Hankam selalu ada. Benny yang selalu ikut mengawasi perjalanan Presiden secara langsung, meskipun berusaha bersikap low profile sehingga sering pejabat di daerah tidak mengenali wajahnya.

Ketika Jenderal Jusuf yang sangat populer di mata rakyat, makin dekat dengan akhir jabatannya sebagai Menhankam/Pangab, sudah jelas bahwa jabatan Panglima ABRI berikutnya harus diberikan kepada orang yang bisa dipercaya penuh oleh Soeharto. Presiden kedua RI yang tidak pernah ingin ada tokoh yang sekiranya bisa menyaingi popularitasnya, kemudian menunjuk Benny Moerdani untuk memimpin ABRI pada tahun 1983.

Memang ia tidak merangkap jabatan sebagai Menteri Hankam seperti Jusuf
(posisi ini diberikan kepada Jenderal Poniman), tetapi Soeharto untuk
pertama kalinya mempercayai dua institusi sngat vital yang secara
tradisional selalu dipisahkannya, yaitu Panglima ABRI dan Panglima Kopkamtib kepada satu orang

Tahun 1973, jabatan Menhankam/Pangab diberikan kepada Panggabean tetapi Kopkamtibnya dipercayakan kepada Soemitro. Tahun 1978, Jusuf dipercaya memimpin ABRI tetapi Kopkamatib dipegang oleh Soedomo.
Kepercayaan Soeharto dengan menyandingkan jabatan Panglima
ABRI/Pangkopkamtib kepada Benny menunjukkan betapa besar kepercayaan
Presiden kepada LBM.

Kesetiaan

Para pengamat asing melihat bahwa kesetiaan LB Moerdani kepada Presiden
Soeharto adalah segala-galanya dan cenderung membabi-buta dan ini membuat ia mampu bertindak keras dan tegas kepada siapa pun yang bisa mengancam kedudukan Soeharto.

Operasi penangkapan para mahasiswa tahun 1978, dikendalikan oleh Benny
Moerdani sebagai Kepala Pusintelstrat dan demikian pula penangkapan berbagai tokoh garis keras setelah itu. Sejumlah perwira tinggi yang bergabung dalam ''Petisi 50'' pun ia cekal dengan keras, tidak peduli jabatan atau jasa yang dipunyai orang itu sebelumnya.

Namun, para pengamat sering salah taksir mengenai hubungan pribadinya dengan sejumlah tokoh tentara yang lain. Ia bisa bertindak keras terhadap perwira tinggi senior semacam Letjen HR Dharsono dengan menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara. Secara mendasar ia juga tidak senang dengan tokoh yang dekat dengan Soeharto, seperti Soedharmono atau kepada sejumlahperwira yang mencoba berpikir sebagai demokrat.

Tapi secara intuitif LB Moerdani bisa hormat kepada sejumlah jenderal lain
yang juga tidak senang dengan Soeharto secara pribadi seperti Jenderal
Soemitro. Pernah Benny secara khusus mengirimkan perwira kepercayaannya
untuk memberi penjelasan kepada Soemitro setelah ia mendengar bahwa ia
mengkritik salah satu kebijakannya.

Contoh lain adalah hubungannya dengan Jenderal M. Jusuf. Kivlan Zen dalam
bukunya Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004) menulis sebuah bab tentang
adanya konflik antara LBM dan Jusuf yang memuncak dengan ketidakhadiran
Benny dalam Rapim ABRI di Ambon. Padahal faktanya adalah Benny baru saja memberikan briefing kepada peserta Rapim ketika terjadi peristiwa pembajakan pesawat DC-9 Woyla milik Garuda Indonesia tahun 1981. Jusuf memerintahkan Benny untuk memimpin operasi penumpasan, dan malah Benny disuruh untuk mempergunakan pesawat Hercules Komandonya supaya bisa kembali pulang ke Jakarta secepatnya.

Ketika keduanya sudah pensiun, mereka masih saling berhubungan. Benny pernah terbang secara khusus ke Australia sewaktu mantan Menhankam itu harus mengalami operasi jantung. Dan ketika LBM diserang sakit, Jusuf yang
menanyakan keadaan kesehatannya secara terus-menerus.

Yang unik dan menarik dikaji adalah hubungan LBM dengan Letjen (Purn)
Prabowo Soebianto ketika yang belakangan masih berpangkat Mayor.
Keduanya berasal dari generasi yang berbeda jauh, dan normalnya tidak
mungkin seorang perwira menengah mampu melakukan gerakan atau menyatakan ketidaksukaan terhadap seorang yang begitu powerful seperti Benny.

Buku Kivlan Zen menyatakan, hubungan keduanya memburuk sejak tahun 1985, Tetapi faktanya, Prabowo sudah menunjukkan sikap curiga terhadap Benny Moerdani sejak sebelumnya, yaitu tahun 1983. Pernah sewaktu Prabowo meminta bertemu ke kediaman M. Jusuf di Jl Teuku Umar, tetapi sebelum berbcara, ia memeriksa beberapa tempat di rumah Jusuf takut kalau Asintel Hankam itu memasang peralatan penyadap atau kamera mata-mata di rumah sang bos.

Prabowo jugalah yang mengundang Jusuf untuk bertemu dengan sejumlah perwira menengah Korps Baret Merah di Cijantung setelah mendengar informasi bahwa Jusuf akan diganti oleh Moerdani. Jusuf yang masih Menhankam menyetir sendiri mobilnya diikuti Prabowo dari belakang untuk menenangkan mereka.

Hubungan antara LBM dan Soeharto yang oleh seorang pengamat disebut mirip "hubungan anak dengan bapak" memang mulai menyurut sejak tahun 1985. Ada tiga faktor yang menyebabkan itu. Pertama, kegelisahan LBM bahwa Soeharto mulai kehilangan pengendalian diri dan akan lebih memprcayai keluarganya daripada orang lain. Perubahan "kesetiaan" LBM itu mulai dirasakan oleh Soeharto. Presiden yang ahli strategi itu mengambil langkah cepat dan secara mendadak mengganti kedudukan LBM sebagai Panglima ABRI sebelum Sidang Umum MPR tahun 1988. Padahal biasanya jabatan itu diganti berbareng dengan pembentukan Kabinet baru yang dilakukan sesudah MPR mengangkat Presiden.

Kedua, suksesi yang direncanakan oleh Soeharto dianggap tidak cocok olehnya, lebih-lebih dengan akan diajukannya Soedharmono sebagai Wapres periode 1988-1993. Peristiwa interupsi Brigjen Ibrahim Saleh dalam Sidang Umum MPR sering dianggap sebagai bagian dari ketidaksenangan LBM.

Ketiga, dan yang ini barangkali yang mampu menjelaskan mengapa perubahansikap LBM "mudah" dibaca oleh Soeharto, adalah munculnya faktor Prabowo Soebianto. Ia adalah "anggota baru" keluarga Soeharto yang sejak awal tidakcocok dengan LBM dan karenanya mampu menyampaikan informasi jenis lain langsung kepada Presiden Soeharto. Paling tidak ini dikemukakan oleh dua orang dekat dengan Prabowo, yaitu Kivlan Zen dan Fadli Zon yang masing-maisng menulis buku mengenai itu.

Ketiga alasan itu agaknya akan tetap menjadi bagian dari misteri sejarah
yang dibawa oleh almarhum LB Moerdani.

Penulis adalah pengamat militer pada RIDEP Institute, kini bekerja di
''RCTI''

Cool Hubungan Dengan Prabowo

Kontroversi



Bagaimanapun, urusan culik-menculik ini bisa jadi bukan hal baru bagi Prabowo. Dirunut ke belakang, pada 1983, Prabowo – saat masih berusia 32 tahun, berpangkat Kapten – pernah dikabarkan akan menculik sejumlah perwira tinggi, termasuk LB Moerdani. Cerita itu dimuat di buku memoar Sintong Panjaitan, “Perjalanan Seorang Prajurit Parakomando” (Kompas, 2009).

Ketika itu Prabowo masih berposisi sebagai Wakil Komandan Detasemen 81/Antiteror ( yang merupakan semacam satuan elit antiteror), sementara Benny adalah Asisten Intelijen Hankam/Kepala Pusat Intelijen Strategis/Asisten Intelijen Kopkamtib. Prabowo baru saja pulang dari Timor Timur dengan segenap keberhasilan operasi militernya, dan menjelang akan menikahi Titiek Soeharto.



Semula Prabowo adalah pendukung Benny yang memang sedang digadang-gadang akan menjadi Menhankam/Panglima ABRI. Namun, menurut Sintong, karena Prabowo curiga Benny akan melakukan kudeta setelah ia memasukkan pasokan senjata - yang belakangan diketahui sebenarnya akan disalurkan untuk membantu pasukan Mujahidin di Afghanistan—Prabowo percaya bahwa Presiden Soeharto harus diselamatkan dari manuver Benny. Bahkan semula ada sejumlah nama besar lain yang kabarnya akan diciduk atas perintah Prabowo, termasuk Sudharmono, Ginanjar Kartasasmita dan Moerdiono.

Rencana penculikan itu akhirnya gagal dijalankan karena tak ada satupun dukungan signifikan diperoleh Prabowo. Luhut Pandjaitan yang menjadi atasan Prabowo menolak mengikuti saran Prabowo untuk menggerakkan pasukan. Jenderal M. Jusuf yang ketika itu adalah Menhankam/Panglima ABRI juga mengabaikan kecurigaan Prabowo. Luhut sendiri menganggap bahwa Prabowo ketika itu ‘stress berat’.

Bagaimanapun ada versi lain tentang konflik Prabowo dan Benny. Dalam versi ini, karena kedekatannya dengan Benny, Prabowo menjadi tahu tentang agenda Benny – yang sedang harum namanya antara lain setelah sukses menumpas kelompok teroris berbendera Islam yang membajak pesawat Woyla – untuk menghabisi kelompok-kelompok Islam dan berencana menggantikan Soeharto yang ketika itu sudah memimpin Indonesia selama 15 tahun. Prabowo berusaha mencegah itu dengan berencana menculik Benny.



Benny sendiri tidak terlalu curiga dengan Prabowo bisa jadi karena latar belakang Prabowo adalah sekuler tulen. Ayah Prabowo adalah seorang sosialis, ibunya penganut Kristen dari Manado.

Sejarah menunjukkan Benny kemudian tetap menjadi Panglima ABRI, namun hubungannya dengan Soeharto terus memburuk. Pada 1988, Benny akhirnya diganti oleh Try Soetrisno. Meskipun Benny tetap diberi jabatan sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan, semua orang tahu Benny sudah habis. Karier Prabowo, sebaliknya, terus melaju.

Mana versi yang benar, itu tetap menunjukkan bahwa Prabowo memang tak asing dengan operasi-operasi militer di luar jalur konstitusional.

Dihitung-hitung, kecenderungan ini bisa dipahami mengingat Prabowo bisa dikatakan memang dibesarkan dalam medan militer tidak dalam suasana damai. Bagaimanapun ia adalah seorang komandan dari pasukan elit Indonesia yang terkenal efektif. Kariernya sendiri dimulai dengan keberhasilannya di Timor Timur ketika – sebagai Kapten – memimpin pasukan Den 28 Kopassus yang membunuh pendiri Fretilin, Nicolau dos Reis Lobato.

Sebagai tentara, reputasi Prabowo memang sangat harum. Bahkan ketika mengikuti pelatihan Special Forces Officer Courses di Fort Benning, AS, ia banyak dipuji para pelatih Amerika.



Menurut Nur Iman Subono, pengalaman semacam itu memang punya jebakan tersendiri. Secara psikologis, Prabowo adalah tipe pemimpin yang sangat percaya diri bahwa ia pintar, hebat dan benar. “Sikap semacam ini bisa membuat dia merasa dapat melakukan apapun selama ia merasa dirinya benar,” kata Nur Iman. “Yang penting baginya adalah menyelesaikan tugas sebaik-baiknya.”

Karena itulah tindakan-tindakannya bisa kontroversial.

Ketika menjadi Wakil Komandan Kopassus yang beroperasi di Timor Timur saat daerah itu bergejolak pada 1995, Prabowo dikabarkan menggerakkan pasukan ilegal berpakaian ninja di luar kesatuan TNI yang melancarkan teror ke warga sipil dalam rangka melawan kelompok gerilyawan Xanana Gusmao. Pembentukan kelompok paramiliter itu bertujuan untuk membangun kesan bahwa aksi tersebut bukan dilakukan oleh militer sehingga TNI tidak dituduh membunuh rakyatnya sendiri oleh masyarakat internasional.

Cerita keberadaan pasukan sipil di luar TNI ini antara lain diakui oleh Kiki Syahnakri, Komandan Korem Timor Timur pada 1995, dalam buku ‘The Untold Story’. Kiki diketahui memang terlibat konflik dengan Prabowo akibat perbedaan pandangan mereka tentang pasukan paramiliter itu.

Prabowo sendiri mengakui bahwa ia memfasilitasi pembentukan pasukan yang terdiri dari kalangan pendukung pro-integrasi, tetapi ia membantah bahwa pasukan paramiliter itu membunuhi masyarakat sipil

Hubungan Dengan Prabowo-- Part-2




Ambisi untuk memerintah negri ini memang begitu membara dan cara yg ditempuhnya agak radikal. Prabowo tak peduli dengan fatsun politik diantara para mantan jenderal yang menabukan menjelekkan teman seangkatan. Dengan vokal Prabowo menceritakan kekurangan, kegagalan dan ketakbecusan SBY. Bukan dengan bahasa yang mumpuni, tetapi dengan bahasa yang membakar. Hal ini tidak dilakukan oleh koleganya yaitu Wiranto yang dengan bahasa yang santun membeberkan visi dan misinya tanpa menjatuhkan nama SBY.

Riwayat Prabowo sebenarnya tidak terlepas dari cerita pembangkangan, dan ketidak patuhan. Dimulai ketika dia masih menjadi taruna AKABRI waktu itu. Ketika para taruna liburan mereka diperintahkan untuk tidak boleh meninggalkan kota Jogjakarta tetapi Prabowo secara diam-diam terbang ke Jakarta. Hal ini kemudian ketahuan dan dia mengalami penurunan pangkat.

Setelah berdinas di Kopassandha di Den 81 anti terorpun, Prabowo tersandung dengan atasannya langsung Mayor Luhut Panjaitan. Kala itu Maret 1983 kapten Prabowo sebagai wakil komandan Den 81 menyiagakan seluruh pasukan Den 81 untuk melakukan kontra kudeta dengan cara menculik letjen. LB. Murdani dkk yang kala itu menjabat ass intel Hankam dan mengamankan Soeharto di markas Kopassandha Cijantung. Untunglah usaha ini keburu ketahuan oleh mayor Luhut yang kemudian membatalkannya dan menegur Prabowo atas kelancangannya dan memperingatkan bahwa Luhutlah “matahari” di Den 81 Kopassus. “Jangan ambil tindakan tanpa sepengetahuan dan persetujuan saya” kata Luhut.



Dalam usaha untuk membela diri dan meyakinkan atasannya ini Prabowo sampai perlu memata-matai komandannya sendiri, Brigjen Jasmin dan kemudian menuding-nudingkan tangannya kepada komandannya karena tak mempercayainya. Amat tragis jika usaha Prabowo itu jadi dilaksanakan, maka sejarah hitam angkatan darat akan tercipta dan terlebih dampak buruknya bagi presiden Soeharto dan negara ini. Prabowo kemudian diberikan cuti oleh Luhut, dan Luhut sendiri mendatangi ayah Prabowo yaitu Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan mengatakan bahwa Prabowo sedang stress. Kecurigaan Prabowo ternyata tidak terbukti karena dikemudian hari letjen LB. Moerdani oleh Soeharto ditunjuk sebagai menhankam/pangab menggantikan jend. M. Jusuf.



Beberapa tahun kemudian Prabowo dipindah tugaskan ke Kostrad atas perintah KSAD Rudini dan menjadi wakil komandan batalyon disana. Alasan pemindahan sudah jelas karena usaha percobaan penculikan para jenderal yang pernah ingin dia lakukan. Atas surat perintah inipun Prabowo mempertanyakannya kepada pimpinannya yaitu brigjen. Sintong Panjaitan. Mempertanyakan keputusan pimpinan adalah hal tabu bagi kalangan militer dan bisa berakibat pemecatan, tetapi Prabowo melakukannya. Protes Prabowopun kemudian disampaikan Sintong kepada petinggi ABRI, tetapi saran mereka agar Sintong melupakannya.

Di Kostrad Prabowo diperlakukan seperti raja. Prabowo sudah dicap sebagai putra mahkota untuk menggantikan Soeharto di kemudian hari. Disini banyak pejabat militer yang antri untuk diperkenalkan kepada Prabowo. Biasalah, walaupun pangkat Prabowo baru mayor, tetapi sampai para jenderalpun ingin berkenalan dengannya. Prabowo punya link khusus dengan Soeharto dan mampu mempengaruhi keputusan beliau. Karir Prabowo pun bersinar hingga ia menjadi komandan brigade di kostrad hingga kemudian ia ditarik kembali ke kesatuan Kopassandha dan menjadi komandan pada tahun 1995 dengan pangkat Brigjen. Suatu promosi yang sangat baik untuk mengejar jenjang tertinggi dibidang militer. Tidak hanya itu, Prabowo pun mendapat mandat untuk mengembangkan Kopassandha yang semula 3000 an orang menjadi 6000 an dan Kopassndha berubah nama menjadi Kopassus.



Disinilah suatu skenario sudah dirancang untuk karir Prabowo oleh sang mertua. Dengan 6000 an prajurit maka pangkat Prabowopun segera diangkat menjadi Mayjen dan jabatannya menjadi komandan jenderal Kopassus. Hal ini menyalahi prosedur kepangkatan ditubuh ABRI yang melaksanakan evaluasi kepangkatan hanya dua kali dalam setahun kecuali dalam hal kenaikan luar biasa. Prabowo naik pangkat dua kali dalam tempo delapan bulan, dan itu bukanlah karena prestasi luar biasa. Selain itu pengembangan Kopassus menjadi 6000 an personil menyalahi rencana strategis (renstra) angkatan darat yang telah menciutkan jumlah kodam dan menghapus peran kowilhan di tanah air.

Penciutan Kopassus juga dilakukan seiring dengan renstra AD tersebut pada tahun 1985. Dari 6644 jumlah personil kemudian diciutkan menjadi 2300 an. Setelah Prabowo menjadi komandan Kopassus, jumlah personilnya kemudian ditambah lagi. Tentu saja hal ini dilakukan untuk mengatrol bintang Prabowo
. Tak sulit untuk menduga kemana setelah ini Prabowo akan dibawa oleh sang mertua. Ya tak salah lagi, komandan Kostrad dengan tiga bintang di bahu. Setelah itu, ya kepala staf angkatan darat (KSAD), lalu panglima ABRI dengan empat bintang di bahu.

Selanjutnya suksesi Soeharto kepadanya menjadi orang nomor satu di negara ini. Di tengah jalan karir Prabowo tersendat karena sang mertua dipaksa lengser oleh aksi reformasi yang dimotori oleh mahasiswa dan menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya BJ. Habibie pada 21 Mei 1998. Tak puas dengan perlakuan yang dialami mertua, Prabowo kemudian memerintahkan kastaf Kostrad mayjen. Kivlan Zein dan danjen Kopassus mayjen Muchdi PR untuk meminta surat sakti kepada jenderal besar AH. Nasution yang isinya agar menunjuk KSAD Soebagyo HS sebagai pangab, Prabowo sebagai KSAD, dan posisi Wiranto cukup sebagai menhankam saja. Hal ini perlu dilakukan Prabowo karena sebagai presiden yang baru dilantik, Habibie harus segera menyusun kabinet. Kemudian surat ini diantar kepada presiden Habibie.

Hubungan Dengan Prabowo-- Part-3




Usulan ini tidak disetujui, yang mana Habibie tetap mempertahankan Wiranto sebagai menhankam/pangab. Lihatlah bagaimana sepak terjang Prabowo yang dengan bebasnya hendak mempengaruhi keputusan presiden seperti yang biasa dia lakukan kepada mertuanya. Atau dia ingin menakut-nakuti presiden yang baru karena sebagai presiden pengganti, posisi Habibie gamang terhadap aksi penolakan oleh masyarakat dan terlebih oleh kalangan militer. Alah bisa karena biasa, kata pepatah.

Suasana demonstrasi memang sedang puncak-puncaknya di ibukota dan Prabowo tanpa melaporkannya kepada menhankam/pangab kemudian mengimpor pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan Kariango Sulsel. Tak hanya itu dia juga mengerahkan para prajuritnya untuk bergerak di ibukota dengan dalih menjaga keamanan tanpa dibawah perintah B/P pangdam Jaya mayjen. Syafri Samsudin. Hal inilah yang dilaporkan oleh Wiranto kepada Habibie bahwa terdapat pasukan tak dikenal berkeliaran di Jakarta, terlebih disekitar kediaman presiden. Tak senang atas perlakuan Prabowo, presiden pun memberikan perintah kepada Wiranto untuk mencopot jabatan Prabowo sebelum matahari terbenam dan menggantinya dengan pejabat yang baru. Walaupun dengan tegas memerintahkan menhankam/pangab untuk mengganti Prabowo, Habibie juga mempunyai kekhawatiran kalau keputusannya ini berdampak penolakan dari kalangan militer sehingga loyalitas ABRI terhadap presiden yang baru tidak ada.

Atas saran Sintong Panjaitan, keputusan ini tetap dilaksanakan dan tidak akan berdampak negatip buat pak presiden karena orang-orang yang dekat dengan Prabowo hanyalah berdasarkan kepentingan pribadi, bukan karena kesepahaman idealisme, jelas Sintong. Tahu bahwa dirinya akan dipecat, Prabowopun dengan disertai dua belas orang pengawalnya menerobos masuk istana presiden tanpa aturan protokoler istana. Para pengawal istana tidak berani membendung Prabowo karena tahu siapa dia. Dengan pistol dipinggang Prabowo memaksa untuk bertemu presiden. Untunglah usahanya ini keburu ketahuan oleh Sintong Panjaitan yang merupakan staf ahli hankam Habibie yang segera menanyakan maksud kedatangannya. Prabowopun diminta oleh Sintong untuk menanggalkan pistolnya sebelum bertemu presiden. Keluar dari kamar kerja presiden, Prabowo membanting pintu yang membuat presiden terkejut oleh tingkahnya ini. Sekali lagi Prabowo mempertanyakan dan mendebat keputusan atasannya yang tabu dilakukan oleh seorang prajurit. Tak hanya itu, ayah Prabowopun ingin bertemu presiden untuk mendapat kejelasan mengenai keputusan ini yang mana hal ini kemudian dilakukan melalui telepon kepada pak presiden. Banyak orang dibuat geleng kepala oleh sepak terjang Prabowo, terlebih ketika Prabowo bisa memberikan perintah kepada komandan Kopassus, Mayjen Muchdi PR hal mana tidak terdapat dalam garis komando dan mengatur posisi jenderal atasannya. Bagaimana mungkin seorang bintang tiga bisa mengatur jenderal bintang empat. Prabowo mau kudeta, bisa jadi tapi atas tindakannya ini Prabowo tak pernah diadili. Lantas Prabowo dicopot dan mendapat posisi baru sebagai Dan Seskoad di Bandung.



Posisi yang diluar jalur komando, non tempur, tdk mempunyai pasukan dan cukup jauh dari Jakarta sehingga pengaruhnya bisa direduksi. Disinilah kemudian Prabowo dituduh ikut terlibat dalam operasi Mawar, yaitu operasi intelijen untuk menculik dan menghabisi para aktivis semasa dia menjabat sebagai danjen kopassus. Oleh DKP, SBY termasuk anggotanya, Prabowo diusulkan kepada Pangab agar diberhentikan dari dinas militer. Alasannya adalah prabowo ikut bersalah karena tdk mengetahui sepak terjang yang dilakukan oleh anak buahnya. Seperti diketahui umum, operasi mawar dilakukan oleh team mawar yang berasal dari kesatuan Kopassus.

Secara garis komando, komandan Kopassus tdk menentukan operasi yang dilakukan oleh anggotanya. Komandan Kopassus hanya bertugas dalam hal menyiapkan pasukan tetapi setiap penugasan haruslah dilaporkan kpd komandan Kopassus, sebelum atau sesudah operasi. Usulan pemberhentian ini kemudian disetujui pangab. Wiranto. Prabowo diberhetikan dari dinas militer dalam usia 47 tahun dengan bintang tiga dipundak. Suatu karir yang cemerlang, dan kalau segalanya sesuai rencana bukan tak mungkin pada usia 48 tahun dia meraih bintang keempatnya karena dia sdh menjadi panglima kostrad selama 2 tahun

Cool Info Ini Supaya Berimbang Saja




Upaya-upaya penghancuran Islam tak pernah henti hingga Orde Baru tumbang pada 1998. Cara yang dilakukan umumnya sama, merangkul umat Islam dan dikemudian mediskeditkannya dengan berbagai rekayasa. Tokoh-tokoh yang terlibat pun semakin banyak, yang semuanya merupakan orang-orang Orde Baru yang mungkin saja termasuk 'orang-orang binaan' Pater Beek. Satu di antaranya yang sangat terkenal adalah LB Moerdani.

Tentang tokoh yang satu ini, George J. Aditjondro dalam artikel berjudul “CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo dan L.B. Moerdani” memberikan uraian sebagai berikut;

“Selama Ali masih menjadi orang penting di sekitar Soeharto, salah seorang kadernya disimpan di Korea Selatan sebagai Konjen. Itu lah L.B. Moerdani. Sudah sejak di Kostrad pada zaman konfrontasi dengan Malaysia, para senior di Kostrad kabarnya sudah melihat tanda-tanda adanya rivalitas diam-diam antara Ali dan Moerdani. Banyak yang menduga perbedaan mereka pada gaya. Ali suka pamer kekuasaan, sedang Moerdani pada kerahasiaan dan misteri. Persamaan mereka adalah semua haus kekuasaan. Tapi dalam ingin berkuasa ini juga ada perbedaan. Ali ingin menjadi orang yang berkuasa, sementara Moerdani hanya ingin menjadi orang yang mengendalikan orang yang berkuasa”.

Meski permusuhan antara Ali Moertopo dan LB Moerdani membuat karir Moerdani terhambat, namun akhirnya Moerdani kemudian muncul juga ke permukaan.

Karir Moerdani meroket setelah peristiwa Malari pada 1974. Apalagi karena setelah itu Soeharto membubarkan Aspri (Asisten Presiden), lembaga yang dikuasai penuh oleh Ali Moertopo. Tentang hal ini George J. Aditjondro mengungkapkan begini;

“Tapi setelah terjadi Malari, Ali Moertopo tidak bisa lagi menghalangi Moerdani untuk tampil ke depan. Sejak ini lah bintang Moerdani mulai menanjak. Moerdani boleh berbeda style dengan Ali, tapi karena sama-sama ingin berkuasa, keduanya perlu tanki pemikir. Maka CSIS yang mulai cemas karena merosotnya posisi dan peran Ali Moertopo pada masa pasca Malari, Berjaya lagi oleh naiknya Moerdani”.

L.B. Moerdani beragama Katolik dan sangat membenci Islam. Ini lah yang membuat dia mudah diterima CSIS. Bahkan masuknya Moerdani ke lembaga yang dibentuk Pater Beek itu ibarat ikan menemukan air. Tentang hala ini, George J. Aditjondtro berkata begini;

“Moerdani adalah orang Katolik yang kebetulan secara pribadi sangat benci kepada Islam. Karena itu lancar saja kerjasama Moerdani dengan CSIS. Sebagai orang Katolik ekstrim kanan, Moerdani di CSIS merasa di rumah sendiri. Itu lah sebabnya mengapa Moerdani sekarang tenang bisa berkantor di CSIS (menggunakan bekas kantor Ali Moertopo)”.

Dalam memilih kader, cara Moerdani dan Ali Moertopo relatif tak berbeda. Jika Moertopo ‘memukul’ Islam dengan menggunakan orang Islam juga, Moerdani pun begitu. Cara ini terbukti efektif karena selama Moerdani ‘merajalela’, Islam di Indonesia benar-benar berada dalam suasana suram karena terdiskreditkan dan terpojokan.

Salah satu peristiwa yang dicurigai melibatkan Moerdani adalah kasus ‘Jamaah Imran’ yang berlanjut pada pembajakan pesawat Garuda bernomor penerbangan GA 206 tujuan Medan pada 28 Maret 1981 yang kemudian dikenal dengan kasus Pembajakan Wolya. Kecurigaan ini muncul karena seperti kasus meletusnya G-30 S/PKI yang menguntungkan Soeharto, kasus Jamaah Imran dan Pembajakan Woyla juga menguntungkan Moerdani.

Dalam biografi LB Moerdani yang ditulis Julius Pour terdapat kronologis awal kasus itu yang bunyinya sebagai berikut;

“Sabtu 28 Maret 1981, pesawat terbang Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 206 tujuan Medan, tinggal landas dari Bandar Udara Talangbetutu, Palembang …. Mendadak, terdangar keributan kecil dari arah kabin penumpang. Co-Pilot Hedhy Juwantoro juga mendengar suara ribut yang masuk ke ruang kokpit. Ia baru saja akan memalingkan kepalanya ketika tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kekar menyerbu ke dalam kokpit sambil berteriak; “Jangan bergerak, pesawat kami bajak ….””

Pembajakan itu dilakukan oleh lima laki-laki. Pemerintahan Orde Baru menyebut, para pembajak ini merupakan bagian dari Jamaah Imran, sebuah jamaah radikal yang didirikan di Bandung, Jawa Barat, dan dipimpin oleh Imran.

Dalam buku ‘Pater Beek, Freemason dan CIA’. Sembodo menjelaskan bahwa Jamaah Imran adalah kelompok yang dibentuk setelah Komando Jihad ‘dilumpuhkan’ Ali Moertopo.

Tiga bulan setelah jamaah ini terbentuk, seorang anggota intelijen dari kesatuan TNI Yon Armed Cimahi, yang menurut Umar Abduh bernama Najamuddin, menyusup dan memprovokasi agar kelompok ini melakukan gerakan radikal untuk melawan pemerintahan Soeharto secara terbuka. Anggota intel ini bahkan menunjukkan senjata jenis apa saja yang cocok untuk dipakai setiap anggota Jamaah Imran, dan meminta setiap anggota Jamaah itu difoto sambil memegang senjata yang ia perlihatkan. Bodoh, anggota jamaah itu mau saja tanpa menelaah dulu apa maksud dan tujuan si penyusup. Tentang hal ini, diuraikan Umar Abduh sebagai berikut;

“Gerakan pemuda Islam Bandung pimpinan Imran terpedaya, terjebak dalam isu provokasi intelijen tersebut, apalagi setelah Najamuddin menjanjikan akan memberikan suplai berbagai jenis senjata organic ABRI, seraya menunjukkan contoh konkret senjata mana yang yang diperlukan dan pantas untuk masing-masing orang. Bodohnya, ketika beberapa anggota kelompok ini diminta agar masing-masing difoto seraya memegang senjata hasil pemberian yang dijanjikan dan berlangsung hanya sesaat oleh Najamuddin itu, tidak seorang pun dari anggota gerakan Imran keluar sikap kritisnya”.

Setelah menunjukkan senjata-senjata yang layak dipakai Jamaah Imran, Najamuddin kemudian memprovokasi jamaah itu agar segera melakukan gerakan terbuka melawan pemerintahan Soeharto. Cara pertama yang disarankan adalah menyerang kantor polisi-kantor polisi dan merebut senjatanya agar dengan demikian jamaah itu memiliki senjata sendiri sebagai bekal melawan pemerintah. Bodohnya lagi, provokasi itu termakan pimpinan dan anggota jamaah, dan Polsek Cicendo, Bandung, diserang.

Soal penyerangan ini, Umar Abduh menjelaskan sebagai berikut; “Dengan bermodalkan sebuah Garrand tua itulah kelompok ini terjebak dalam skenario premature melalui provokasi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung. Melalui modus operasi penyerangan pos polisi yang dilengkapi dengan seragam militer sebagai akibat, entah sengaja atau kebetulan, telah menahan sebuah kendaraan bermotor roda dua bernomor polisi sementara (profit) milik anggota jamaah. Momentum ini dimanfaatkan Najamuddin untuk merealisir terjadinya aksi kekerasan bersenjata, antara lain menyiapkan magazine dan amunisi senapan Garrand hasil curian, satu hari menjelang penyerangan pos polisi tersebut. Penyerangan akhirnya berlangsung brutal, dengan bermodalkan satu pucuk senjata Garrand hasil curian (pemberian Najamuddin), Salman dan kawan-kawan berhasil menembak mati 3 polisi serta melukai satu orang di Polsek tersebut, dan merampas senjata genggam sebanyak 3 buah”.

Info Ini Supaya Berimbang Saja-- Part-2



Roda selalu berputar dan sinar bintang tak selalu benderang. Begitupula dengan karir seseorang, termasuk karir LB Moerdani. Pada 1988, Soeharto mencopotnya dari jabatan sebagai Panglima ABRI, dan sejak itu karirnya meredup

Setahun setelah pencopotan dilakukan, atau sekitar pertengahan 1989, dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke Beograd, Yugoslavia, Soeharto mengatakan begini; “Biar jenderal atau menteri, yang bertindak inskonstitusional akan saya gebuk”.

Pernyataan Soeharto ini kontan membuat orang percaya bahwa yang dimaksud ‘Bapak Orde Baru’ itu adalah LB Moerdani. Apalagi karena sebelum pemecatan terjadi, Moerdani sempat menyarankan agar Soeharto jangan maju lagi sebagai presiden pada pemilu 1993, sehingga hubungan antara keduanya menjadi tegang.

Salah seorang yang percaya bahwa Moerdani akan melakukan kudeta adalah Mayjen (Purn) Kivlan Zen. Terkait hal ini, majalah Tempo edisi 10 Februari 2008 memberitakan begini; “Mayjen (Purn) Kivlan Zen, bekas Kepala Staf Kostrad malah mengatakan Benny akan melakukan kudeta. Informasi ini menurut Kivlan Zen dilaporkan Prabowo Subiyanto kepada mertuanya (Soeharto) yang berujung pada pemecatan Benny dari jabatan Panglima ABRI seminggu sebelum Sidang MPR 1988”.

Menurut Sembodo dalam buku ‘Pater Beek, Freemason, dan CIA’, pasca pemecatan, Moerdani ‘bermain’ melalui dua orang kepercayaannya, yakni Try Soetrisno yang menggantikan dirinya sebagai Panglima ABRI, dan Harsudiono Hartas yang menjabat sebagai Kasospol ABRI. Berkat manuver politik Harsudiono pada pemilihan presiden 1993, BJ Habibie yang sempat digadang-gadang bakal menjadi wakil Soeharto, tersingkir, dan Try Sutrisno naik menjadi wakil presiden.’Permainan’ Moerdani berhasil, karena selama Try Sutrisno menjadi pendamping Soeharto, sepak terjang Moerdani yang selama bertahun-tahun mendiskreditkan dan membunuhi umat Islam, tak pernah diungkit-ungkit. Meski dia sempat diadili oleh Mahkamah Militer karena kasus Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984 yang menurut Solidaritas Nasional untuk Tragedi Tanjung Priok (SONTAK) menelan korban tewas hingga sekitar 400 umat Islam, namun dia tidak menjadi tersangka dan tetap dapat menghirup udara bebas. Padahal seperti disebut Janet Steele dalam buku berjudul "Wars Within, Pergulatan Tempo, Majalah Berita Sejak Zaman Orde Baru", kasus berdarah di kawasan Jakarta Utara ini jelas merupakan hasil operasi intelijen. Bahkan saat diwawancarai majalah Tempo untuk edisi 19 Januari 1985, Moerdani mengakui kalau ia menyebut Tanjung Priok sebagai "asbak". Ini lah kutipan kata-kata LB Moerdani ketika itu.

"Ibarat seperti orang merokok, abunya tentu saja tidak boleh dibuang di sembarang tempat. Asbak diperlukan untuk tempat abu. Nah, Tannjung Priok memang sengaja dijadikan semacam 'asbak', tempat penyaluran emosi".

Untuk diketahui, Tanjung Priok merupakan salah satu basis Islam di Jakarta dan menurut Sembodo, kawasan itu juga sedang dijadikan salah satu basis Kristenisasi. Tak heran jika dalam waktu singkat di situ didirikan sejumlah gereja yang pembangunannya pun tidak dirundingkan dulu dengan warga.

Kasus Tanjung Priok meledak setelah anggota Babinsa Koja Selatan, Jakarta Utara, bernama Sersan Satu Hermanu, meminta warga mencopot poster berisi imbauan agar wanita mengenakan jilbab yang dipasang di Mushala As-Saadah. Ketika permintaan ditolak, anggota Babinsa itu mencopot poster, namun tanpa mencopot sepatu dahulu kala memasuki mushala. Warga pun marah, dan kasus berkembang menjadi pembataian massal di Jalan Yos Sudarso, jalan utama di Jakarta Utara, yang dilakukan oleh militer. LB Moerdani sendiri kala itu sempat mengklaim bahwa yang tewas hanya 18 orang dan yang luka-luka 53 orang. Namun banyaknya warga yang hilang setelah kejadian itu membuat klaim ini tak dipercaya. Apalagi setelah SONTAK melakukan pendataan, yang tewas dan hilang ternyata mencapai sekitar 400 orang, sementara yang luka juga mencapai ratusan orang. Banyaknya warga yang hilang karena setelah pembantaian berlangsung, jasadnya diangkut dengan kendaraan militer dan kemudian dibuang entah kemana, dan hingga kini masih menjadi tanda tanya besar.

Sembodo menyebut, dengan naiknya Try Sutrisno menjadi wapres, Moerdani bahkan tetap dapat ‘mengendalikan’ Orde Baru.

LB Moerdani meninggal pada 29 Agustus 2004 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, akibat stroke dan infeksi paru-paru dan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, dengan diiringi upacara milite
Numpang baca dulu gan, ane tertarik ma threadnya.
woow panjang sekali..boleh dijadikan catatan ringan nih..nanti di teruskan lagi ya gan..
nyimak dulu gan..alias ninggalin jajak dulu..masih baca..!!
abies banyak banget sih
ternyata dari jaman dulu udah ada konspirasi

apa jaman dulu mamarika , wahyudi , sama si onis udah ikutan juga
Quote:Original Posted By backlist
ternyata dari jaman dulu udah ada konspirasi

apa jaman dulu mamarika , wahyudi , sama si onis udah ikutan juga


konspirasi tingkat tinggi..canggih dan halus..

engga seperti sekarang intel-nya aja sembarangan ngomongnya..

Operasi Alpha

Quote:Original Posted By backlist

apa jaman dulu mamarika, wahyudi, sama si onis udah ikutan juga

So pasti

“Mengecewakan! Rencana terbang yang susah payah kususun rapi langsung dibatalkan pagi-pagi. Aku mendapat perintah untuk menghadap komandan skadron. Yang terpikir, aku tidak lulus latihan terbang di Israel dan pulang ke Indonesia sebagai pilot pesakitan. Semua bayangan buruk musnah sudah. Aku ternyata menerima perintah baru untuk terbang dalam format sama, tetapi berbeda rute. Sebuah peta disodorkan lengkap dengan titik-titik rute. Ada sebuah garis merah yang wajib diterobos masuk dan dalam waktu dua belas menit harus kembali ke luar. Yang membuatku gugup, garis merah itu adalah garis perbatasan antara Israel dan Suriah”

Cerita diatas adalah sepenggal kisah dari seorang pilot yang tergabung dalam operasi alpha, operasi alpha adalah operasi klandestin terbesar yang dilakukan oleh TNI AU, dimana TNI AU melatih pilot dan melakukan pembelian 32 pesawat A-4 Skyhawk dari Israel. Berikut adalah kutipan tentang operasi alpha yang diambil dari buku otobiografi Djoko F Poerwoko “Menari di Angkasa”.

Memasuki tahun 1979, isu tentang bakal dilakukannya pergantian kekuatan pesawat-pesawat tempur TNI AU sudah mulai bergulir. Hal ini sebenarnya wajar saja, mengingat kondisi pesawat tempur F-86 dan T-33 memang sudah tua. Sehingga, kemudian pemerintah harus mencari negara produsen yang bisa menjual pesawatnya dengan segera. Amerika Serikat ternyata bisa memberikan 16 pesawat F-5 E/F Tiger II. Tetapi ini masih belum cukup untuk mengisi kekosongan skadron-skadron tempur Indonesia.
Dari penggalian intelijen, Mabes ABRI ternyata kemudian mendapatkan berita, bahwa Israel bermaksud akan melepaskan armada A-4 yang mereka miliki. Indonesia dan Israel memang tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi pada sisi lain, pembelian armada pesawat tersebut akhirnya terus diupayakan secara klandestin, oleh karena pasti akan menjadi polemik dalam masyarakat apabila tersiar di media massa.

Menuju Arizona
Usai tugas menerbangkan F-86 Sabre aku sempat terbang lagi dengan T-33. Namun pada kenyataannya, kondisi kedua pesawat tempur tersebut sudah sangat jauh menurun. Kami semua akhirnya bersyukur, setelah dibuka dua proyek besar untuk mendatangkan kekuatan baru melalui Operasi Komodo yakni pesawat F-5 E/F Tiger II serta Operasi alpha untuk menghadirkan pesawat A-4 Skyhawk.

Kerahasiaan tingkat tinggi sudah terlihat dari tata cara pemberangkatan personel. Saat kami semua sudah siap untuk berangkat, tidak seorang pun tahu, kemana mereka harus pergi. Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11. Setelah tujuh gelombang teknisi, maka berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari sepuluh penerbang untuk belajar mengoperasikan pesawat.

Sebagai tim terakhir, kami mendapat pembekalan secara langsung di Mabes TNI AU. Awalnya hanya mengetahui bahwa para penerbang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar terbang disana. Informasi lain-lain masih sangat kabur.

Setelah mengurus segala macam surat-surat dan beragam kelengkapan berbau “Amerika”, akhirnya kami berangkat menuju Singapura, dengan menggunakan flight garuda dari Bandara Halim Perdanakusuma.
Kami mendarat pada senja hari di Bandara Paya Lebar, Singapura, langsung diantar menuju hotel Shangrila. Dihotel tersebut ternyata telah menunggu beberapa petugas intel dari Mabes ABRI, berikut sejumlah orang yang masih asing dan sama sekali tidak saling dikenalkan. Kami akhirnya mulai menemukan jawaban bahwa arah sebenarnya tujuan kami bukan ke Amerika Serikat melainkan ke Israel. Sebuah negara yang belum terbayangkan keadaannya dan mungkin paling dibenci oleh masyarakat Indonesia.
Saat itu salah satu perwira BIA (Badan Intelojen ABRI, BAIS sekarang) yang telah menunggu segera mengambil semua paspor yang kami miliki dan mereka ganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP). Keterkejutanku semakin bertambah dengan kehadiran Mayjen Benny Moerdani, waktu itu kepala BIA, mengajak rombongan kami makan malam. Dalam kesempatan tersebut beliau dengan wajah dingin dan kalimat lugas, tanpa basa-basi langsung saja mengatakan, ” Misi ini adalah misi rahasia, maka yang merasa ragu-ragu, silahkan kembali sekarang juga. Kalau misi ini gagal, negara tidak akan pernah mengakui kewarganegaraan kalian. Namun, kami tetap akan mengusahakan kalian semua bisa kembali dengan jalan lain. Misi ini hanya akan dianggap berhasil apabila sang merpati telah hinggap…”
Mendengar ucapan beliau, perasaanku langsung bergetar. Wah, ini sudah menyangkut operasi rahasia beneran mirip James Bond. Bahkan sekalanya lebih besar. Bagaimana mungkin membawa satu armada pesawat tempur masuk ke Indonesia tanpa diketahui orang? Rasa terkejut semakin besar, oleh karena kami bersepuluh kemudian langsung berganti identitas yang mesti kuhapal diluar kepala saat itu juga.

Setelah acara makan malam, kami harus segera bergegas menuju Bandara Paya lebar dan terbang menuju Frankfurt dengan menggunakan Boeing 747 Lufthansa. Mulai sekarang, kami tidak boleh bertegur sapa, duduk saling terpisah, namun masih dalam batas jarak pandang.

Begitu mendarat di Bandara Frankfurt, kami harus berganti pesawat lagi untuk menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel. Semakin aneh perjalanan, baru berdiri bengong karena masih jet lag, tiba-tiba seseorang langsung menyodorkan boarding pass untuk penerbangan ke Tel Aviv pada penerbangan berikutnya. Sampai di Bandara Ben Gurion, sesudah terbang sekitar empat jam, aku pun turun bersama para penumpang lain dan teman-temanku. Saling pandang dan cuma melirik saja, harus kemana jalan, mengikuti arus penumpang lain menuju pintu keluar.

Tetapi tanpa terduga, kami malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, sebagai bagian dari operasi intelijen. Kami langsung ditangkap dan digiring petugas keamanan bandara. hanya pasrah, oleh karena memang tidak tahu skenario apalagi yang harus dijalankan, yang ada hanya manu dengan hati berdebar.

Tamat riwayatku kini. Kubayangkan, betapa hebatnya agen rahasi Mossad yang dapat dengan cepat mengendus penumpang gelap tanpa paspor, berusaha menyelundup masuk ke negaranya.Meski dengan sopan si Mossad memperlakukan kita, tetap saja kami berpikir buruk. Kami semua akan langsung dideportasi atau dihukum mati minimal dipenjara seumur hidup. Sebab tidak ada bukti, siapa memberi perintah datang ke Israel. Sampai diruang bawah tanah, persaan kami tenang setelah melihat para perwira BIA yang dilibatkan dalam Operasi Alpha. Kemudian baru aku tahu, kami memang sengaja diskenariokan untuk ditangkap dan justru bisa lewat jalur khusus, guna menghindari public show apabila harus ke luar lewat jalur umum.
Kami langsung menerima brifing singkat mengenai berbagai hal yang harus diperhatikan selama berada di Israel. Yang tidak enak adalah kegiatan sesudahnya yaitu sweeping segala macam barang bawaan yang berlabel made in Indonesia. Kami juga diajarkan untuk menghapal sejumlah kalimat bahasa Ibrani, Ani tayas mis Singapore yang artinya aku penerbang dari Singapura. Ada sapaan boken tof berarti selamat pagi dan shallom sebagai sapaan saat bertemu dengan kawan.

Eliat, pangkalan udara rahasia
Semalam tidur dihotel, kami kemudian diangkut dalam satu mobil van menuju arah selatan menyusuri Laut Mati. Setelah dua hari perjalanan, kami sampai dikota Eliat. Perjalanan dilanjutkan kembali ditengah padang pasir, setelah melewati beberapa pos jaga, akhirnya van masuk ke sebuah pangkalan tempur besar diwilayah barat kota Eliat. Di Israel, pangkalan tidak pernah memiliki nama pasti. Nama pangkalan hanya berupa angka dan bisa berubah. Bisa saja nama pangkalan itu adalah base number nine di hari tertentu, namun esoknya bisa diganti dengan angka lain. Sesuai kesepakatan bersama, kami menyebut tempat ini dengan Arizona, oleh karena dalam skenario awal kami memang disebutkan akan berlatih terbang di Amerika.
Total waktu rencana pelatihan selama empat bulan. Selama itu para penerbang melaksanan kegiatan pelatihan, dari ground school hingga bina terbang, agar mampu mengendalikan pesawat A-4 Skyhawk. Latihan terbang diawali dengan general flying sebanyak dua jam, ditemani instruktur israel. Setelah itu, kami semua sudah boleh terbang solo. latihan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran yang lebih tinggi tingkat kesulitannya. kali ini kami harus mampu mengoperasikan pesawat A-4 sebagai alat perang.
Selama di Eliat, walau terjadi berbagai macam masalah, namun tidak sampai mengganggu kelancaran latihan. Masalah utama tentunya bahasa, sebab tidak semua penerbang Israeli Air Force (IAF) bisa berbahasa Inggris, sedangkan kami tidak diajari berbahasa Ibrani secara detail. Masalah lain adalah telalu ketatnya pengawasan yang diberlakukan kepada para penerbang. Bahkan kami semua selalu dikawani satu flight pesawat tempur selama berlatih.

Pelajaran terbang yang efektif. Misalnya terbang formasi tidak perlu jam khusus tetapi digabung latihan lain seperti saat terbang navigasi atau air to air. sehingga dengan jam yang hanya diberikan sebanyak 20 jam/20 sorti, kami semua dapat mengoperasikan A-4 sebagai alutsista. Dalam siklus ini pula, aku pernah menembus sistem radar Suriah dengan instruktur ku.

Latihan terbang kami berakhir tanggal 20 Mei 1980 dengan dihadiri oleh beberapa pejabat militer Indonesia yang semuanya hadir dengan berpakaian sipil. Kami mendapat brevet penerbang tempur A-4 Skyhawk dari IAF. Rasanya bangga, oleh karena kami dididik penerbang paling jago didunia. Namun kegembiraaan selesai pendidikan segera berubah sedih, oleh karena brevet dan ijasah langsung dibakar didepan mata kami oleh para perwira BIA yang bertindak sebagai perwira penghubung. kami dikumpulkan di depan mess dan barang-barang kami disita dan segera dibakar. Termasuk brevet, peta navigasi, catatan pelajaran selama dipangkalan ini. Mereka hanya berpesan, tidak ada bekas atau bukti kalau kalian pernah kesini. Maka hapalkan saja dikepala, semua pelajaran yang pernah diperoleh.

continue...

Wing day di Amerika
Selesai pendidikan di Israel, kami tidak langsung pulang ke Indonesia, namun diterbangkan dulu ke New York. semalam di New York, kemudian diajak ke Buffalo Hill di dekat air terjun Niagara. Ternyata kami sengaja dikirim kesana untuk bisa melupakan kenangan tentang Israel. kami diberi uang saku yang cukup banyak menurut hitungan seorang Letnan Satu.Aku juga dibelikan kamera merek Olympus F-1 lengkap dengan filmnya dan diwajibkan mengambil foto-foto dan mengirim surat atau kartu pos ke Indonesia, untuk menguatkan alibi bahwa kami semua benar-benar menjalani pendidikan terbang di AS.Akhirnya selama ada objek yang menunjukkan tanda medan atau bau AS, pasti langsung dipakai sebagai background foto. Tidak terkecuali pintu gerbang hotel, nama toko bahkan sampai tong sampah bila ada tulisan United State of America pasti dijadikan sasaran foto.



Aku dibawa lagi ke New York, para penerbang kemudian diberikan program tur keliling AS selama dua minggu, mencoba tidur di sepuluh hotel yang berbeda dan mencoba semua sarana transportasi dari pesawat terbang hingga kapal.
D Yuma, Arizona, kami telah diskenariokan masuk latihan di pangkalan US Marine Corps (USMC), Yuma Air Station. Tiga hari dipangkalan tersebut, kami dibekali dengan pengetahuan penerbangan A-4 USMC, area latihan dan mengenal instrukturnya. Kami juga wajib berfoto, seakan-akan baru diwisuda sebagai penerbang A-4, skaligus menerima ijasah versi USMC. Ini sebagai penguat kamuflase intelijen, bahwa kami memang dididik di AS. Salah satu foto wajib adalah berfoto di depan pesawat-pesawat A-4 Skyhawk USMC.
Sebelum pulang ke tanah air, aku juga mendapat perintah untuk menghapalkan hasil-hasil pertandingan bulu tangkis All England. Tambahannya, aku juga diharapkan menghapal beberapa peristiwa penting yang terjadi di dunia, selama aku diisolasi di Israel. Pelajaran mengenai situasi dunia luar tersebut terus diberikan, meskipun kami sudah berada di perut pesawat Branif Airways dengan tujuan Singapura.

Sang Merpati Hinggap
Tanggal 4 Mei 1980, persis sehari sebelum pesawat C-5 Galaxy USAF mendarat di Lanud Iswahyudi, Madiun, mengangkut F-5 E/F Tiger II, paket A-4 Skyhawk gelombang pertama, terdiri dua pesawat single seater dan dua double seater tiba di Tanjung Priok. Pesawat-pesawat tersebut diangkut dengan kapal laut langsung dari Israel, dibalut memakai plastik pembungkus, cocoon berlabel F-5. Dengan demikian, seakan-akan satu paket proyek kiriman pesawat terbang namun diangkut dengan media transportasi berbeda.
Nantinya, ketika sudah kembali lagi di Madiun, kepada atasan pun kukatakan bahwa pelatihan A-4 di Amerika. Sebagai bukti kuperlihatkan setumpuk fotoku selama berada di Amerika. Ingin melihat foto New York, aku punya. Mau melihat foto Akademe AU di Colorado, aku punya. Karena percaya, atasanku di Wing-300 malah sempat berkata, “Saya kira tadinya kamu belajar A-4 di Israel, enggak tahunya malah di Amerika. Kalau begitu isu tersebut enggak benar ya?”

Last but not least, gelombang demi gelombang pesawat A-4 akhirnya datang ke Indonesia setiap lima minggu, lalu semuanya lengkap sekitar bulan September 1980.

Berprestasi Tapi Harus Menutup Diri
Saat F-5 datang ke Indonesia, ternyata masih belum dilengkapi dengan persenjataan. Sedangkan A-4 justru sudah dipersenjatai dan langsung bisa digunakan dalam tugas-tugas operasional. Sehingga apa saja kegiatan TNI AU baik operasi maupun latihan selalu identik dengan F-5, walau kadang-kadang yang melakukannya adalah pesawat A-4.

A-4 tetaplah A-4 dan samasekali bukan F-5. Kondisi serba rahasia bagi armada A-4 bertahan samapi perayaan HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1980, dimana fly pass pesawat tempur ikut mewarnai acara tersebut. Pesawat A-4 tampil bersama-sama F-5 dimana untuk pertama kalinya pesawat A-4 dipublikasikan dalam event besar. Setelah ini, sedikit demi demi sedikit mulailah keberadaan A-4 dibuka secara jelas. Tidak ada lag tabir yang sengaja dipakai untuk menutupi keberadaan pesawat A-4 di mata rakyat Indonesia.

Mencari detail tentang operasi Alpha susahnya minta ampun, karena tidak ada penerbang yang berangkat ke Israel selain Djoko Poerwoko yang mau menceritakan pengalamannya. Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau yang mau menceritakan pengalamannya didalam 3 buku, walaupun mencari buku tersebut juga susahnya bukan main. Buku “My Home My Base” hanya untuk kalangan internal TNI AU, Buku “Fit Via Vi” yang merupakan otobiografi dari beliau juga merupakan cetakan untuk kalangan terbatas. Buku “Menari di Angkasa” adalah buku “Fit Via Vi” yang dicetak untuk umum, walaupun begitu tetep aja susah nyarinya (saya merasa beruntung memilikinya). Bahkan dibuku otobiografinya benny Moerdani ga dibahas sama sekali. Terimakasih juga untuk Metro tv yang beberapa bulan lalu juga menayangkan tentang operasi alpha dalam acara special operation (di liputan tersebut ada wawancara dengan Djoko Poerwoko dan satu orang pilot lagi, tapi lupa namanya).

Kontroversi tentang pengungkapan pembelian A-4 dari Israel ke publik juga diungkap oleh beliau dibukunya, beliau menulis:

“Saat buku “My Home My Base” diluncurkan, ada polemik yang menyisakan kenangan, yaitu cerita tentang keterlibatan ke Israel untuk mengambil A-4 Skyhawk. Banyak orang mempertanyakan, mengapa aku mengumbar rahasia negara. Dengan singkat hanya kujawab, “Siap, saya sudah minta ijin Kasau dan beliau mengijinkan, karena kita sebagai prajurit tidak boleh selamanya membohongi rakyat. Maka mereka yang bertanya punt idak lagi berkomentar.
Memang, didalam buku “My Home My Base” kutulis sedikit tentang perjalanan ke Israel untuk berlatih terbang A-4. Bukan untuk mencari sensasi, aku sudah menimbangnya masak-masak unung dan ruginya. Namun sebelumnya. tentu saja aku minta ijin KASAU sebagai salah satu senior A-4 dan pemimpin tertinggi Angkatan Udara. Beliau (pak Hanafie) ternyata mengizinkan, sehingga tulisan itu go ahead.”

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini bahkan setelah A-4 digrounded pada tahun 2004, Mabes TNI AU tidak pernah mengakui operasi alpha pernah terjadi.

Sumber: Poerwoko, Djoko F. Menari di Angkasa. Kata hasta pustaka. Jakarta. 2007

mangstabhhh LB. Moerdhani

mangstabhhh LB. Moerdhani tapi ingattt jangann gan,,, tolong sertakan bukti otentiknya bkn OPINI PRIBADI yaaa
×