KASKUS

Lightbulb Orangtua Pilih Kasih, Wajar atau Tidak??

Orangtua Pilih Kasih,
Wajar atau Tidak?



Bagi orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, masalah yang paling sering dihadapi mungkin adalah bagaimana supaya mereka tidak terlihat lebih sayang pada salah satu anak. Banyak cara yang ditempuh oleh orangtua agar tidak terlihat pilih kasih. Misalnya dengan membelikan barang yang serupa untuk setiap anaknya.






Pilih kasih atau favoritisme dianggap sebagai kelemahan atau kegagalan orangtua dalam mengasuh anaknya. Namun menurut Ellen Weber Libby, seorang psikolog kinik dan psikoterapis dari Washington, DC, dan penulis The Favorite Child, sebenarnya favoritisme itu hal yang wajar dialami orangtua.

"Sudah menjadi dorongan alami bagi setiap manusia untuk memiliki preferensi tertentu. Tidak hanya terhadap barang, tempat, makanan, hingga anak-anaknya," kata Libby.

Setiap orangtua punya kepribadian tertentu, demikian juga dengan anak-anaknya. Ada orangtua yang merasa sangat cocok dengan anak yang satu, namun kurang bisa rukun dengan yang lain karena berbeda karakter. Ini adalah fakta hidup yang perlu dipahami.

Libby menganjurkan para orangtua untuk tidak menghukum diri sendiri karena punya anak favorit. "Kebanyakan orangtua juga kurang mengerti bedanya cinta dengan favoritisme. Kita boleh punya satu anak yang paling favorit, tapi pada dasarnya kita mencintai semua anak kita dan punya ikatan batin dengan mereka," jelas Libby lagi.

Jika kita mau mengakui bahwa pilih kasih itu memang terjadi di keluarga, sebenarnya kita malah berada di posisi yang lebih baik. Karena kita akan dengan sadar berusaha lebih baik dalam menjalin hubungan dengan anak yang kurang dianggap favorit.

Inilah beberapa cara untuk melakukannya:

1. Luangkan waktu berkualitas dengan anak yang kurang favorit
Menurut Libby, kebanyakan orangtua akan langsung menyangkal bahwa mereka pilih kasih. Tapi begitu salah satu anak menjerit bahwa orangtuanya lebih sayang pada adiknya daripada dirinya, mereka sebaiknya menjadikan hal ini sebagai bahan perenungan, alih-alih vonis hukuman mati. Cobalah evaluasi, apa yang membuat Anda lebih suka pada anak yang satu daripada yang lain. Lalu, carilah cara agar Anda bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak yang merasa kurang disayang.

"Seringkali anak yang kurang favorit ini memiliki kepribadian, minat, atau hobi yang berbeda dengan orangtuanya. Tapi, Anda akan selalu bisa mencari kesamaan di antara Anda berdua," kata Libby. Jadikan kesamaan itu sebagai titik awal untuk menjalin kedekatan lebih, agar dia tidak merasa ditelantarkan.

2. Jangan pernah akui pada anak-anak Anda
Libby menyarankan agar para orangtua tidak pernah menyatakan bahwa dia lebih menyukai anak yang satu dibandingkan yang lain, karena ini jelas akan melukai hati mereka. Saat ada yang protes, alih-alih Anda berkata, "Memang, si adik lebih disayang karena lebih pintar", lebih baik bersikap tenang dan mengendalikan diri. Katakan bahwa Anda mencintai semua anak-anak, karena memang itulah fakta yang perlu diketahui anak-anak.



sumber: http://female.kompas.com/read/2013/0...ar.atau.Tidak.

Lightbulb Bahayanya Pilih Kasih Pada Anak






Coba perhatikan, sikap apa yang akan anak Anda tunjukkan bila ia mendapat perlakuan pilih kasih dari orangtuanya? Tak ada manusia yang sempurna, demikian juga dengan Anda sebagai orangtua.


Bagi Anda yang memiliki buah hati lebih dari satu, tentu saja secara manusiawi tak mungkin dapat membagi kasih sayang secara merata kepada Si Kecil satu demi satu.

Terkadang, kesibukan yang melanda Anda dan pasangan sehari-hari, tidak memungkinkan bagi Anda berdua mempunyai waktu yang cukup untuk mengenal kepribadian setiap buah hati. Padahal, walaupun lahir dari rahim yang sama, buah hati sama halnya dengan setiap manusia yang memiliki perbedaan-perbedaannya tersendiri. Kelebihan pasti dibarengi dengan kelemahan.

Salah satu contohnya bisa dilihat pada anak-anak yang dilahirkan kembar. Seringkali Anda sebagai orangtua terkecoh dengan kemiripan yang hampir serupa dari segi paras dan postur sang anak. Semua pakaian diberikan yang sama persis agar tak ada salah satu yang menunjukkan rasa iri terhadap yang lain.

Sebetulnya, justru ada yang terlewatkan oleh Anda sebagai orangtua, walaupun secara biologis dapat dikatakan anak kembar indetik memiliki kesamaan nyaris 100 persen, namun sebagai seorang individu – sekalipun mereka terlahir sebagai anak kembar – tidak memiliki kepribadian yang sama.

Masing-masing dari mereka pasti memiliki keunikan dan kelebihan, sekaligus kekurangannya sendiri. Uniknya, mereka saling melengkapi. Itulah azas utama dari penciptaan manusia oleh Sang Pencipta.

Tak sedikit orangtua yang memperlakukan setiap buah hatinya berbeda-beda. Ada orangtua yang memberikan perilaku sangat istimewa hanya pada salah satu buah hatinya saja karena ia adalah anak lelaki pertama dalam keluarga, atau buah hati tadi memiliki kekurangan dibandingkan saudaranya yang lain.

Padahal, dengan memberikan kasih sayang yang berbeda justru akan membuat pertumbuhan psikis maupun perkembangan kejiwaan sang buah hati menjadi tak seimbang. Mengapa demikian? Jangan mengira anak-anak tak akan pernah tahu perbedaan yang Anda berikan, walaupun saat itu mereka masih dianggap terlalu kecil untuk mengetahui ini dan itu, perilaku dari kedua orangtuanya.

Nah, berikut ini adalah kiat-kiat bagi para orangtua agar tidak pernah salah langkah dalam memperlakukan buah hati Anda secara adil, dan dalam kadar kasih sayang yang sama.

1. Kenalan Yuk!
Tidak saja proses berkenalan dilakukan oleh Ada saat bertemu dengan klien baru, rekan kerja baru, atau bahkan tetangga baru. Bila Anda dapat dengan lugas, ramah dan begitu terkesan memahami orang-orang baru di sekeliling Anda, mengapa tidak melakukan hal yang sama terhadap buah hati Anda sendiri.

Bukankah buah hati Anda merupakan sosok manusia baru yang patut dikenali lebih dalam lagi, karena ia telah yang hadir dalam kehidupan Anda? Oleh karena itu, sediakan waktu untuk mengenali buah hati sejak ia masih dalam kandungan.

Jika Anda mampu mengatur waktu luang untuk sekadar bertemu dengan teman lama di kedai kopi atau arisan bersama ibu-ibu lainnya, mengapa Anda tak mampu menyediakan waktu untuk mengetahui karakter utama dari setiap buah hati Anda. Pengenalan terhadap karakter, serta sifat dan sikap Si Kecil akan lebih efektif jika dilakukan sejak dini.

2. Kekurangan = Kelebihan
Lho, kok, bisa sih kekurangan sama dengan kelebihan? Ya, tentu saja. Kekurangan yang ada pada setiap diri seorang individu justru dapat menjadi kekuatannya atau kelebihannya, bila diasah dan dilatih dengan baik.

Contohnya, bila Anda memiliki anak yang luar biasa aktif, atau sering disebut hiperaktif, tak jarang orangtua justru menjadi kesal dan marah, bahkan cenderung malu. Anak mereka tak dapat terkendali, tak bisa diam, dan hal ini menjadikan hidup Anda lebih repot. Padahal, kekurangannya ini bisa diarahkan menjadi kekuatan, yang hasil akhirnya positif bagi perkembanga buah hati anda sendiri.

Jadi, cari tahu secara cermat apa yang menjadi kesukaan dari setiap buah hati Anda. Ikutkan mereka dalam setiap kegiatan yang melibatkan anak-anak lain, sehingga dapat melatih sistem sosialisasi dalam diri buah hati Anda sejak dini. Misalnya kusrus karate, taekwondo, alat musik, olah raga, memasak, presenter cilik, dan sebagainya.

3. Saudaraku, Anak Kesayangan!
Jangan pernah memperlakukan buah hati Anda berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, bila Anda terus menerus memanjakan sang kakak daripada adiknya, lambat laun akan membuat perkembangan sang kakak menjadi lebih egois, mau menang sendiri, dan tak punya rasa toleransi.

Hal ini tentu sangatlah kurang baik. Anak akan makin membesar dan ia akan mengarungi kehidupan dalam masyarakat, sehingga dampak yang diperoleh dari ia kecil akan mengakibatkannya tak bisa berinteraksi baik dengan lingkungan sekitarnya. Ia selalu hidup dalam kemenangan dan pemakluman yang selalu Anda berikan sejak ia kecil.

Sementara sang adik, akan selalu hidup dalam perasaan kecewa yang terpendam di dalam hati kecilnya hingga dewasa nanti. Dan secara tak sadar ataupun tak langsung, sebagai orangtua Anda pasti akan merasa sudah tak bisa membahagiakannya.

Nah, jangan pernah ada dalam kamus Anda sepenggal kalimat, “Ini memang anak kesayangan Mama dan Papa”. Semua buah hati Anda adalah anak kesayangan Anda berdua, tanpa terkecuali.

4. Sepintar Apapun, Tetaplah “Anak Mama”
Jangan pernah membuat pengecualian terhadap salah satu dari Si Kecil. Misalnya, sang adik karena usianya lebih muda, maka ia menjadi anak kesayangan, sementara sang kakak diharuskan mengalah terus. Atau sebaliknya, sang kakak yang Anda ketahui memiliki kelemahan dibandingkan sang adik, selalu Anda dahulukan dalam berbagai hal.

Dalam benak Anda tentu berpikir, Si Bungsu merupakan anak cerdas dan pintar, jadi pastilah ia dapat berdiri di kakinya sendiri atau lebih mandiri suatu saat nanti. Sedangkan sang kakak, Anda merasa selalu khawatir untuk melepaskannya berdiri sendiri. Anda takut ia gagal, atau takut ini dan itu.

Padahal, semakin Anda terus menggenggamnya, ia pun semakin tak akan pernah bisa keluar dari tempurung kemanjaannya itu. Layaknya menemukan sebuah batu di dasar sungai, bila Anda terus menyimpannya dalam kotak perhiasan, tak akan membuat batu tadi menjadi berlian yang begitu indahnya.

Namun, ketika Anda menggosoknya setiap hari, mengasahnya dengan sekuat tenaga dan mengukirnya dengan kesabaran, maka ia akan mengeluarkan kilau keindahannya dan jadilah mahal harganya. Sehingga, batu itu janganlah disimpan di dalam kotak perhiasan Anda, namun sebaiknya dengan bangga akan Anda pakai terus.

5. Life’s goes on!
Sebagai manusia, sering kali kita luput dan waktu terus berjalan dengan sangat cepat. Arahnya pun selalu ke depan, tak pernah mundur. Demikian juga halnya dengan perkembangan buah hati Anda. Tiba-tiba saja mereka beranjak semakin besar. Oleh karena itu, perlakukanlah semua buah hati Anda dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan isilah mereka dengan air pengetahuan akan kehidupan.

Kelak mereka akan membutuhkannya, sebab manusia hidup tidak sendirian. Manusia hidup dalam kebersamaan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Didiklah anak-anak Anda dalam iklim yang sarat dengan kepekaan sosial yang baik, dan tumbuhkan rasa tanggung jawab pada diri mereka sejak dini.

Bertanggung jawab sama artinya dengan mampu melakukan segala sesuatu yang baik, dan mampu pula bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Jika salah satu anak Anda selalu hidup dalam “kemanjaan”, maka akan sangat disayangkan kelak ketika ia telah besar dan berkeluarga. Buah hati yang paling Anda sayangi ini cenderung tak bisa bertahan menghadapi ombak kehidupan yang tak jemu menerjang keras.

Jadi, sebelum hal-hal negatif terjadi sebaiknya Anda mulai memberikan kesama-rataan dalam kasih sayang, isilah setiap gelas yang kosong dengan air yang sama tinggi. Dan biarkan mereka menentukan jalannya atau masa depannya masing-masing, dengan segala kelemahan yang dapat menjadi dorongan positif agar memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik.


sumber: http://www.untukku.com/artikel-untuk...k-untukku.html

Ketika Anak Menilai Orangtua Pilih Kasih




SETIAP orangtua ingin memberi perhatian sama besar kepada anak-anaknya. Niat demikian ternyata tidak selamanya diterima baik oleh anak dan menilai orangtua pilih kasih.

Kebutuhan anak usia 1-6 tahun jelas berbeda dengan 7-12 tahun dalam berbagai aspek, di antaranya fisik, pola pikir, emosi, dan sosial. Anak 1-6 tahun secara fisik masih canggung dan belum sempurna dibandingkan anak 7-12 tahun. Secara pola pikir, anak 1-6 tahun baru bisa menerima sebuah ide konkrit dan sederhana berbeda dengan anak 7-12 tahun yang bisa menerima ide rumit dan abstrak.
Sebagai contoh, Moms menyuruh mereka minum susu. Kepada si kecil, Moms harus mendampinginya sementara pada anak usia 7-12 tahun, Moms cukup mengingatkannya sambil tetap beraktivitas.

Dari sudut sosial, anak 1-6 tahun memusatkan perhatian pada diri sendiri sedangkan usia 7-12 tahun sudah lebih tertarik dengan keadaan di luar diri.
Dan dari aspek emosi, anak 1-6 tahun belum mahir mengontrol emosi, misal mereka cenderung berguling-guling ketika memaksakan suatu keinginan, berbeda dengan anak 7-12 tahun yang lebih dapat mengendalikan emosi dan memahami keinginannya. Perbedaan inilah yang kerap melahirkan perbedaan perlakuan orangtua pada anak.

Masalahnya, anak kerap menilai tindakan orangtua sebagai pilih kasih. Tak ayal bila akhirnya terjadi pertengkaran antara kakak dan adik; kakak menilai orangtua membatasi keinginan dan lebih mementingkan kebutuhan adik.

“Mestinya tidak seperti ini. Bila kita tahu bahwa apa yang diberikan ke anak berbeda, maka kita harus berikan cinta yang sama, tapi bentuknya harus dibedakan sesuai kebutuhan,” kata Anna Ariani Surti Psi, psikolog usai media briefing “Inovasi Terbaru Frisian Flag Susu Cair Tepat Usia” di FCone fX, Jakarta, Selasa (10/5/2011).

“Kualitas cinta sama, tapi bentuk berbeda. Setelah itu, anak akan melihat bahwa orangtuanya tidak seperti yang ia sangka,” tambah wanita yang akrab disapa Nina ini.

Dan ketika orangtua bekerja hingga tidak bisa memberikan perhatian penuh, Nina menuturkan, budaya keluarga Indonesia yang melibatkan orang lain dalam pengasuhan anak memiliki nilai positif. Kehadiran extended family bisa mencukupi kebutuhan anak akan cinta.

“Ini uniknya keluarga Indonesia, kita mengasuh anak biasanya tidak sendirian dan bisa menambah kebutuhan cinta untuk anak, entah dari mertua, orangtua, bahkan juga tetangga. Tapi, orangtua tidak boleh menyerahkan anak begitu saja pada orang lain,” tukasnya.

Orangtua punya nilai pengasuhan sempurna menurut pandangannya, tapi ditegaskan Nina, saat pola asuh orang lain dinilai kurang sreg oleh orangtua, ada tindakan bijak yang bisa diambil.

“Kita enggak boleh memaksakan bahwa nilai disiplin yang paling benar adalah menurut nilai kita. Orangtua bekerja harus bijak berpikir bahwa orang lain yang diserahkan untuk mengasuh anak punya bentuk kedisiplinan seperti yang dia tahu. Yang penting, kita tahu bahwa dia menyayangi anak kita. Selebihnya, kita berikan perhatian yang diperlukan anak selepas kita bekerja,” ujarnya.


sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/20...ua-pilih-kasih

Lightbulb Anak EMAS??





Sindroma anak emas merupakan hal jamak dan nyaris terjadi pada setiap keluarga, baik keluarga tradisional maupun modern sekalipun. Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari kedekatan emosi, komunikasi yang nyambung, penurut, atau karena status dan kondisi anak (anak bungsu, anak sakit-sakitan, satu-satunya anak perempuan/lelaki dalam keluarga), dan sebagainya. Biasanya, orang tua akan merasa lebih suka atau lebih nyaman berdekatan dengan anaknya yang easy-going , kooperatif, atau “tak banyak ulah”.

Namun, hampir semua orang tua tak mau disebut menganakemaskan anaknya atau pilih kasih. Mereka akan bilang bahwa mereka memberi perlakukan yang sama kepada semua anak-anaknya. “Hubungan saya dengan Si Sulung sangat dekat karena kami mirip. Kami lebih mudah saling memahami, tapi tidak berarti saya pilih kasih, lho,” aku seorang ibu.

Kedekatan hubungan antara orang tua dengan anak emasnya tentu tak bisa lepas dari perhatian anggota keluarga lain, khususnya anak-anak lain. Ini yang harus dicermati. Pasalnya, bisa-bisa anak yang tidak difavoritkan orangtua akan merasa menjadi “anak tiri” dan menganggap orang tua pilih kasih.

Akibat lebih buruk, perasaan ini akan terus tersimpan di dirinya hingga dewasa dan menciptakan hubungan yang kurang baik dengan orang tua maupun dengan saudaranya yang menjadi anak kesayangan.

A Can Do Attitude

Sebetulnya, apa sih, untungnya menjadi anak emas? Salah satu keuntungannya adalah anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi karena ia merasa telah memenangkan pertarungan memperebutkan perhatian orangtuanya. Dengan keyakinan diri semacam ini, anak akan memiliki “a can do attitude ,” bahwa apapun bisa ia lakukan, tak ada yang tidak.

Akan tetapi, ada juga sisi tidak untungnya menjadi anak emas. Anak emas akan tumbuh dalam sebuah situasi di mana mereka akan selalu memperoleh apa yang mereka inginkan, tanpa pernah memperoleh konsekuensi negatif. Pokoknya semua keinginan mereka selalu dikabulkan. Dan, orang tua mereka membuat standar berbeda untuk dia dan anggota keluarga lainnya.

Ketika Bill Clinton menjadi presiden AS, banyak orang bertanya-tanya, kenapa ia mengambil risiko mengencani Monica Lewinsky, yang bukan siapa-siapa? Jawabannya sederhana: karena dia adalah anak emas ibunya. Untuk tetap menjaga “hubungan” dengan sang ibu, dia memelihara sifat “apa yang saya mau” ini, tanpa pernah memperhitungkan konsekuensinya.

Jadi, tugas orangtua adalah tetap memberikan standar yang sama antara anak kesayangan dan anggota keluarga lainnya. Dengan begitu, anak kesayangan pun akan tetap bisa memperoleh pengalaman yang sama dengan anggota keluarga lain, dan tahu konsekuensi negatif yang bisa timbul akibat tindakannya.

Mau Mendengar

Apa lagi yang harus dilakukan orang tua agar tak dianggap pilih kasih? Orang tua harus mau mendengar. Ya, meskipun ini bukan hal yang mudah, apalagi jika persepsi anak berlawanan dengan kemauan orang tua.

Jadi, metode terbaik untuk menghindari “konflik” akibat sindroma anak emas ini adalah dengan mendengarkan, mengenali, dan memahami reaksi berbeda dari setiap anggota keluarga. Juga, berlakukan aturan yang sama untuk semua anggota keluarga.

Pada keluarga yang sehat, perbedaan ini bisa dieksplor bersama-sama tanpa masalah ketika orang tua menerima persepsi anak, tanpa menyalahkan anak. Anak, sesuai usianya, juga akan mampu tumbuh dan memahami dan menghormati sikap dan keinginan orang tua.

Dengan cara ini, jangan heran jika anak akan justru meneriaki kakaknya dengan candaan, “Kakak kan, anak kesayangan Mama..!”

Beri Cinta

Setiap orang tua pasti akan mencintai anak-anaknya, tak peduli apakah anak itu anak kesayangannya atau bukan. Sayangnya, seringkali orang tua tidak mampu menunjukkan cinta dan perhatiannya yang besar itu kepada setiap anaknya. Akibatnya, ketika orang tua dekat dengan salah satu anaknya, tudingan pilih kasih pun muncul dan anak lainnya akan merasa tersisihkan.

Jadi, cobalah lebih tunjukkan cinta dan perhatian Anda pada anak-anak. Mengajak anak melakukan hobinya, mendampinginya saat anak butuh bantuan, memperhatikan hal-hal kecil yang seringkali luput dari perhatian, akan membuat anak merasa dicintai dan diperhatikan ayah-ibunya.

Individu atau anak yang merasa dicintai, dihargai, dan diakui oleh orang tuanya biasanya tidak akan merasa begitu terganggu, sekalipun dia bukanlah “anak emas” di keluarganya. “Ibu dan kakak perempuanku lengket banget. Kayak pot dan bunganya. Jelas bahwa ibu lebih suka dia. Tapi, aku tahu ibu sangat mencintaiku juga, jadi buatku tidak masalah, kok,” kata seorang anak tentang sang ibu.


sumber: http://www.tabloidnova.com/Nova/Kelu...ok-Pilih-Kasih

Smile Share Pengalaman Pribadi

Pengalaman sendiri sebagai orangtua belom ada , karena anak baru 1

kalo pengalaman sebagai anak, ane ada .

Awalnya sih enak jadi anak emas (anak yang paling di sayang ortu).
Apa-apa deket...apa-apa dinomor satukan.

Tapi suatu saat pasti saudara kita iri atas ketidakadilan ini.
Beneran...!
Kami sempet rame tuh di rumah, terutama kakak ane yang mungkin dia merasakan sebagai "anak yang dinomor duakan".
Pernah ampe musuhan
tapi..., seiring dengan bertambahnya umur dan kedewasaan kita, akhirnya kami akur lagi

Kesimpulannya: Gak baek jadi ortu yang suka pilih kasih. Apapun kondisi dan keadaan anak, adalah ciptaan dari Yang Maha Kuasa. Kelebihan dan Kekurangannya adalah sesuatu yang menempel di setiap individu dari lahir sampai mereka mati . Jadi, harus pandai-pandailah orangtua mengelola dirinya untuk berbagi kasih terhadap anak-anaknya .

Memang ane sadari..., susah jadi orangtua yang ADIL terhadap anak-anaknya. Ane sendiri juga masih perlu berlatih dan berlatih lagi


Share yuukk, sapa tau para Omho-Omho dan Makho-Makho sekalian kalo ada pengalaman tentang Anak Emas atau Orangtua yang suka pilih kasih



Quote:Original Posted By coffee man
nice thread!


anak gw 2, masih kecil2, yang pertama cw, 4,5 tahun, yang kedua cowo, 3 tahun.. sekilas kalo diliat dari luar, gw yakin banyak yg nganggep gw dan bini pilih kasih, lebih meng-'anak emas'kan anak yang pertama.

tapi, gw dan bini sering banget ngobrolin ni anak dua.. mereka memang diperlakukan secara berbeda, ini semata2 karena karakter mereka yang memang berbeda.

baca trit ini, lumayan bikin gw untuk merenung dan introspeksi balik... sepertinya gw memang ada salah... gw ga pernah mukul/spank/cubit ato apapun perlakuan fisik sama anak cw gw... sebaliknya, anak co gw dah bbrp kali gw spank

sepertinya ini harus gw rubah, gw memang ga boleh pake fisik.. harus lebih tahan emosi.. kalau si kakak ga pernah dipukul, si adik pun layak menerima perlakuan yang sama.

anak gw yang pertama memang jauh lebih penurut... makanya die juga paling jarang dihukum.. sementara si adik, yang cowo... bengal nya ruar binasa .. seringkali, gw yakin ni anak bandel bukan karena emang bandel... die cuman pengen nantang aja ato karena dia memang ga suka sama otoritas... shit.. that sounds just like me

tapi, ada juga sifat yang lain, anak gw yang pertama sedikit egois dan pelit.. sementara anak yg kedua sama sekali ngga pelit sama kakaknya

duh..

jadi sangat sangat merasa bersalah baca ini..

anak yg cw ga pernah mukul adiknya, sebaliknya malah sering..

jangan2 karena cuman die doank yg kena spank ma gw kalo bandel



sorry kids... I'll do my best to be a better dad.. promise!


Quote:Original Posted By coffee man

sama2 belajar laa puh



yaa... gw ga perna nyubit sii.. itu emaknya yg doyan nyubit

mukul pun mukul pelan... dan gw pilih2 tempatnya... makanya paling sering sii spank.. krn gw pikir 'daerah aman' laa..

ni kejadian semalem..

abis makan malem, gw naek ke kamar sama anak2, bini masi dibawah, nyuci2+bersih2...

anak2 gw kasi jatah mereka nonton tv dikamar gw (disney junior), emaknya kalo dah kelar beres2, bakalan bikinin susu buat mereka dan abis itu mereka tidur..

abis gw setel tu tv, mereka duduk manis, nonton... gw lanjut mandi.. pas gw baru beres mandi, masih handuk'an, gw denger yg cw jerit2, nangis2.. "aauu! Will!! don't hit me!! it hurts!!".. beberapa kali disertai tangisan2..

gw tergopoh2 keluar dengan kolor doank.. si kakak lagi dikejar2 muter2in kamar dan digebuk2in adiknya (kakaknya emang ga pernah bales mukul).. gw tereak, "Oi!!"

si kakak lari ke gw, si adiknya begitu liat gw langsung berhenti ngejar.. die balik lagi jalan ke sofa, duduk dan nonton... seakan2 ga ada kejadian apa2

gw cek kakaknya, ga kenapa2 laa, ga ada bakal bekas ato memar ato apa2.. gw tenangin dari nangisnya, dan gw tanya kenapa... die cerita kalo mereka rebutan tempat duduk, dan akhirnya die digebukin...

gw suru die duduk dulu tempat lain sambil nunggu gw.. gw pake baju, abis itu gw duduk.. ga jauh tapi juga ga telalu dekat dari tempat mereka duduk.. gw panggil adiknya.. "William, come here, daddy needs to talk to you"

die belaga ga denger... gw panggil lagi, "William... I know you heard me, come here, now!" gw matiin tu tv..

die samperin gw dengan muka cuek

gw tanya, "Did you hit your sister?"
die jawab, "owh yes! hahaha!"

abis ngejawab die malah mo ngelengos pegi gw tahan badannya, "hey! I'm not done talking yet, look at me"

die tendang muka gw!

gw, "hey! don't hit or kick people! that hurts! you want daddy to hit or kick you back?!"

diem deh die.. mikir..

baru abis itu gw ceramahin laa.. bahwa mereka cuman berdua, dia cuman punya kakaknya satu, ga punya sodara yang lain, mereka main berdua, makan berdua, tidur sekamar.. mereka harus saling sayang dan saling jaga..

setelah kekna ni anak aga2 sadar apa yang die bikin salah (I hope so), gw suru die minta maaf sama kakaknya, die samperin kakaknya trus bilang, "I'm sorry Anne" trus peluk kakaknya, dijawab kakaknya sambil meluk, "it's ok Will, I love you"

hhh...

gw suka serba salah memang sama anak gw yg cowo... karena seringkali memang gw mikir ni anak ga salah apa2... die anak gw.. dia bawa gen gw.. dan gw waktu kecil pun ga beda jauh kelakuannya ma dia




Quote:Original Posted By Yog4


hemm, karena anak ane masih satu
jd kek nya belum terkait sama isi trit

tapi kalau menurut pemikiran ane,,
misal, kalau mau ngasih sesuatu sama anak,,
semisal uang jajan,,
yg musti di bedain kan
anak yg udh smp, sama anak yg sd, ngga mungkin dikasih jatah uang jajan yg sama
jelas kebutuahan nya udh beda

jd kalau kita memberi uang jajan lebih besar sama anak yg smp, itu aritnya kita ngga pilih kasih kan >
*maaf kalau OOT

wah, wah, dah lama kejang bareng,, masih belum hafal gaya postingan ya



tant key ini
jd malu
hafal bener gaya postingan ane


Quote:Original Posted By ZAFIRA101
Untung mami ku tak seperti itu. Hasilnya semua anak berlomba2 memberikan sayang dan cinta setelah mami skrg berumur 71thn. Yg perlu di ingat org tua adalah, apa yg kalian tanam itu jg yg akan kalian petik di masa yg akan datang.


Quote:Original Posted By gunting kuku
anak ane baru 1 ho..

kalo merasakan jadi anak sih pernah..

ADIL disini kalo ane bilang bukan berarti kalo kakak dapet 2 ane juga harus dapet 2, lebih ke kebutuhan aja, kebutuhan kakak ane dengan ane kan beda..

selama ini sih ane menganggap ortu ane gada pilih kasih dan itu yg nanti akan ane terapkan ke anak ane nanti nya..

boleh bagi nya donk puh ho...


anak aj baru 1
mgkn bwh ane taw
v
v
v
Quote:Original Posted By wiraspy
pesen tempat dulu buat apdet




Quote:Original Posted By wiraspy
pesen tempat lagi dulu buat apdet




Quote:Original Posted By wiraspy
pesen tempat lagi dulu buat apdet




Quote:Original Posted By wiraspy
pesen tempat lagi dulu buat apdet


ntar ane pasti dateng lagi..., mau nguli dulu


reserved smp 4 biji
ane baca2 dulu deh
komennya nyusul ntar
pesen tempat nye banyak neber
Quote:Original Posted By derryll
reserved smp 4 biji
ane baca2 dulu deh
komennya nyusul ntar




Quote:Original Posted By moethell
pesen tempat nye banyak neber


alibi die..













Quote:Original Posted By derryll














reserved smp 4 biji
ane baca2 dulu deh
komennya nyusul ntar


Quote:Original Posted By moethell
pesen tempat nye banyak neber


Quote:Original Posted By omtopan






alibi die..















udah ane apdet tuh
dan udah ane share pengalaman ane
bagi dunk Puh
baru 1 tuan putri kecil ane kk. palingan pilih kasih sama emaknya
Quote:Original Posted By canbul
baru 1 tuan putri kecil ane kk. palingan pilih kasih sama emaknya


ada pengalaman laen gak Puh?
misalnya sodara atau pengalaman pribadi di rumah waktu Puh masih jadi anak-anak


kalo pilih kasih ama emaknya mah wajar...., apalagi soal jatah
Yang parah kadang ada orang tua (khusus nya ibu) yg gak sadar klo dia "pilih kasih". Bagus klo anak nya bisa protes "kok mama/papa pilih kasih sih" jadi si ortu bisa introspeksi diri.
Weleh...topiknya bagus, dah lumayan komprehensif.

Kalo yang sering saya perhatikan benernya masalah ini mirip sama aspek 'agresifitas'. Aspek suatu tindakan dikatakan agresifitas apabila ada 4 aspek atau unsur. (1) Tujuan untuk melukai atau mencelakakan, (2) Individu yang menjadi pelaku, (3) Individu yang menjadi korban dan (4) Ketidakinginan si korban menerima tingkah laku si pelaku.

Sama halnya dengan topik ini. Cinta atau kasih sayang yang kita berikan yang kita anggap sudah sesuai dengan keinginan kita, namun sebenarnya belum sepenuhnya memenuhi keinginan anak. Kalo dari pengalaman (kisaran umur 6 - 12 tahunan), saya dulu merasa bahwa bentuk 'cinta' yang sebenarnya diberikan oleh orang tua kepada anak bukanlah 'perhatian' ataupun 'bentuk kebersamaan', tapi bentuk cinta yang saya butuhkan adalah semacam 'pembiaran' untuk saya dalam melakukan berbagai 'eksperimen'. Ini mungkin contoh ekstrimnya.

Namun yang coba saya tekankan disini, semua anak mungkin membutuhkan cinta dan kasih sayang yang 'umum', tapi juga nggak menutup kemungkinan juga kebutuhan 'bentuk kasih sayang yang sangat tidak biasa' dari anak yang dibutuhkannya dari orang tua. So, keempat unsur diatas (ambil maknanya, jangan literal'nya), tadi memang menjadi pertimbangan untuk memberikan kasih sayang dan cinta kepada anak.

Editan...sebelum mandi...hehehe....

TUJUAN KASIH SAYANG
Bahwa kita memang berniat secara tulus untuk memberikan kasih sayang kepada anak. Bukan semata untuk ‘balance’ kasih sayangnya kepada anak-anak atau saudaranya, tapi memang tujuan kita untuk memberikan kasih sayang dan cinta yang dibutuhkannya dalam bentuk yang memang diinginkannya. Bisa sekedar kuantitas yang berbeda, kualitas atau memang bentuk yang sangat berbeda.
Misalnya: kakak butuh kebersamaan tapi nggak butuh perhatian, pada saat bersama adik butuh perhatian namun nggak butuh kebersamaan. Bukan lalu kita berikan kakak dan adik dibarengin semua dikasih kebersamaan dan perhatian. Namun diberikan yang memang sesuai kebutuhan. Jadi masing-masing bisa ‘terisi sesuai tujuan’ kebutuhan kasih sayangnya.

INDIVIDU PELAKU PEMBERI KASIH SAYANG
Bahwa orang tua ada 2 pelaku. Emak dan bapak. Nggak semua butuh perhatian secara bersama, kadang hanya satu individu yang dibutuhkan, dimana anak merasa hanya ‘individu’ tertentu yang bisa mengerti kebutuhannya. Atau malah nggak butuh keduanya. Jenis kasih sayang yang dibutuhkan kakak dan adik bisa beda dari pelaku yang diinginkannya.
Misalnya: kakak sedang membutuhkan emak untuk kasih sayangnya, namun pada saat bersamaan adik juga butuh perhatian. Bukan berarti ‘tugas’ emak digantikan bapak, karena memang yang dibutuhkannya adalah emak.

INDIVIDU PENERIMA KASIH SAYANG
Bahwa memang benar individu satu dengan yang lain adalah berbeda meski pasangan kembar sekalipun. Maka bentuk kasih sayang yang dibutuhkannya akan berbeda satu sama lain. Bisa kuantitas, bisa kualitas, atau malah bentuk yang sama sekali berbeda satu sama lain.
Misalnya: kakak butuh nilai 10, tapi adik cukup 7 untuk kebersamaan, namun kakak hanya butuh nilai 8 untuk perhatian dan adik butuh 11. Dan mungkin kakak butuh bantuan akademik senilai 10 dan nggak butuh sama sekali main bersama, dan adik butuh main bersama senilai 10 dan nggak butuh sama sekali untuk bantuan akademik.

KETIDAKINGINAN ATAU KEINGINAN PELAKU PENERIMA KASIH SAYANG
Intinya begini, kasih sayang dan cinta, berikan secara spesifik dari jenis, takaran, kebutuhan, dan keinginan kepada kakak dan adik. Jangan berikan berlebihan, dan jangan sampai kurang untuk mereka. Jangan terlalu lebay untuk dikit-dikit peluk, namun jangan ja’im juga untuk menunjukkannya jika memang dibutuhkan dari mereka dimuka publik.

InsyaAllah.. Kalo semua 'pas', maka kakak & adik nggak 'ngiri' satu sama lain..
Quote:Original Posted By grasakgrusuk123
Yang parah kadang ada orang tua (khusus nya ibu) yg gak sadar klo dia "pilih kasih". Bagus klo anak nya bisa protes "kok mama/papa pilih kasih sih" jadi si ortu bisa introspeksi diri.

bold: iya sih Puh. Yang ane alami juga sang ibu yang sering pilih kasih.
Tapi gak setiap ibu loh yaa...


Quote:Original Posted By Ramley
Weleh...topiknya bagus, dah lumayan komprehensif.

Kalo yang sering saya perhatikan benernya masalah ini mirip sama aspek 'agresifitas'. Aspek suatu tindakan dikatakan agresifitas apabila ada 4 aspek atau unsur. (1) Tujuan untuk melukai atau mencelakakan, (2) Individu yang menjadi pelaku, (3) Individu yang menjadi korban dan (4) Ketidakinginan si korban menerima tingkah laku si pelaku.

Sama halnya dengan topik ini. Cinta atau kasih sayang yang kita berikan yang kita anggap sudah sesuai dengan keinginan kita, namun sebenarnya belum sepenuhnya memenuhi keinginan anak. Kalo dari pengalaman (kisaran umur 6 - 12 tahunan), saya dulu merasa bahwa bentuk 'cinta' yang sebenarnya diberikan oleh orang tua kepada anak bukanlah 'perhatian' ataupun 'bentuk kebersamaan', tapi bentuk cinta yang saya butuhkan adalah semacam 'pembiaran' untuk saya dalam melakukan berbagai 'eksperimen'. Ini mungkin contoh ekstrimnya.

Namun yang coba saya tekankan disini, semua anak mungkin membutuhkan cinta dan kasih sayang yang 'umum', tapi juga nggak menutup kemungkinan juga kebutuhan 'bentuk kasih sayang yang sangat tidak biasa' dari anak yang dibutuhkannya dari orang tua. So, keempat unsur diatas (ambil maknanya, jangan literal'nya), tadi memang menjadi pertimbangan untuk memberikan kasih sayang dan cinta kepada anak.

Editan...sebelum mandi...hehehe....

TUJUAN KASIH SAYANG
Bahwa kita memang berniat secara tulus untuk memberikan kasih sayang kepada anak. Bukan semata untuk ‘balance’ kasih sayangnya kepada anak-anak atau saudaranya, tapi memang tujuan kita untuk memberikan kasih sayang dan cinta yang dibutuhkannya dalam bentuk yang memang diinginkannya. Bisa sekedar kuantitas yang berbeda, kualitas atau memang bentuk yang sangat berbeda.
Misalnya: kakak butuh kebersamaan tapi nggak butuh perhatian, pada saat bersama adik butuh perhatian namun nggak butuh kebersamaan. Bukan lalu kita berikan kakak dan adik dibarengin semua dikasih kebersamaan dan perhatian. Namun diberikan yang memang sesuai kebutuhan. Jadi masing-masing bisa ‘terisi sesuai tujuan’ kebutuhan kasih sayangnya.

INDIVIDU PELAKU PEMBERI KASIH SAYANG
Bahwa orang tua ada 2 pelaku. Emak dan bapak. Nggak semua butuh perhatian secara bersama, kadang hanya satu individu yang dibutuhkan, dimana anak merasa hanya ‘individu’ tertentu yang bisa mengerti kebutuhannya. Atau malah nggak butuh keduanya. Jenis kasih sayang yang dibutuhkan kakak dan adik bisa beda dari pelaku yang diinginkannya.
Misalnya: kakak sedang membutuhkan emak untuk kasih sayangnya, namun pada saat bersamaan adik juga butuh perhatian. Bukan berarti ‘tugas’ emak digantikan bapak, karena memang yang dibutuhkannya adalah emak.

INDIVIDU PENERIMA KASIH SAYANG
Bahwa memang benar individu satu dengan yang lain adalah berbeda meski pasangan kembar sekalipun. Maka bentuk kasih sayang yang dibutuhkannya akan berbeda satu sama lain. Bisa kuantitas, bisa kualitas, atau malah bentuk yang sama sekali berbeda satu sama lain.
Misalnya: kakak butuh nilai 10, tapi adik cukup 7 untuk kebersamaan, namun kakak hanya butuh nilai 8 untuk perhatian dan adik butuh 11. Dan mungkin kakak butuh bantuan akademik senilai 10 dan nggak butuh sama sekali main bersama, dan adik butuh main bersama senilai 10 dan nggak butuh sama sekali untuk bantuan akademik.

KETIDAKINGINAN ATAU KEINGINAN PELAKU PENERIMA KASIH SAYANG
Intinya begini, kasih sayang dan cinta, berikan secara spesifik dari jenis, takaran, kebutuhan, dan keinginan kepada kakak dan adik. Jangan berikan berlebihan, dan jangan sampai kurang untuk mereka. Jangan terlalu lebay untuk dikit-dikit peluk, namun jangan ja’im juga untuk menunjukkannya jika memang dibutuhkan dari mereka dimuka publik.

InsyaAllah.. Kalo semua 'pas', maka kakak & adik nggak 'ngiri' satu sama lain..

puh Ramley
makasih Puh udah nambahin penjelasannya di mari

Lightbulb Orang Tua yang Pilih Kasih Pengaruhi Kesehatan Mental Seluruh Keluarga




Jakarta, Jangan membeda-bedakan kasih sayang untuk anak-anak Anda. Dampak buruk psikologis tidak hanya mempengaruhi anak yang kurang diistimewakan saja dibanding anak yang lebih dimanja, tetapi berpengaruh terhadap kesehatan mental seluruh anggota keluarga.

Para peneliti dari University of Toronto, McMaster University, dan University of Rochester melakukan sebuah penelitian yang mempelajari efek dari sikap orangtua yang pilih kasih diantara anak-anaknya dengan kesehatan mental seluruh keluarga. Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Child Development.

"Hal ini sungguh mengejutkan, dimana semua orang hanya menduga bahwa efek pilih kasih dalam keluarga hanya dirasakan oleh anak yang kurang beruntung saja," kata Jenny Jenkins, penulis studi.

Para peneliti melakukan studi terhadap 400 keluarga di Kanada, yang masing-masing memiliki 2 hingga 4 orang anak yang berusia rata-rata 2 sampai 5 tahun. Penelitian sebelumnya dilakukan dengan mengkaji perbedaan cara asuh anak yang difokuskan pada keluarga dengan 2 anak saja.

Peneliti menemukan bahwa anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang atau mendapatkan perlakukan yang sedikit berbeda dari saudara kandungnya, lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental dari waktu ke waktu daripada saudaranya yang mendapat perlakuan yang lebih baik.

Tetapi peneliti juga menemukan bahwa efek buruk terhadap kesehatan mental tersebut juga dirasakan oleh saudara-saudara kandung yang lain dalam keluarga. Keluarga yang pilih kasih terhadap anak-anaknya cenderung memiliki anak-anak yang mudah mengalami masalah kesehatan mental dibanding keluarga lain yang lebih adil dalam membagi kasih sayang.


Masalah kesehatan mental terutama meliputi masalah perhatian dan masalah dengan hubungan sosial. Peneliti juga menganalisis faktor risiko apa saja yang menjadi alasan orang tua pilih kasih terhadap anak-anaknya, antara lain seperti orang tua tunggal, pendapatan rendah, dan riwayat penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol.

Pengasuhan anak yang optimal mungkin sulit untuk diwujudkan jika keluarga dihadapkan dengan berbagai faktor risiko, seperti kemiskinan, penyakit mental, dan sejarah pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan.

"Orang tua harus tahu cara terbaik untuk mencegah agar Anda tidak membandingkan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Hal ini dapat memicu perasaan berat sebelah kepada anak yang lebih berprestasi atau lebih patuh dibanding saudaranya yang lain," kata Jenkins, seperti ditulis Naturalnews


sumber: http://health.detik..com/read/2013/0...luruh-keluarga



UPDATE
1. Ini Akibatnya Jika Orangtua Punya Anak Kesayangan: http://www.kaskus.co.id/show_post/51...nak-kesayangan
kalo menurut pengalaman ane sih ke anak semua sayang lah, ga ada kadar lebih banyak ato lebih sedikit, toh semua anak ane yg lahirin..cuma mungkin cara penyampaiannya berbeda karena penanganan ke anak yg satu sama yg laen kan beda...jadi selalu ungkapkan kepada anak bahwa kita memiliki kadar cinta yg sama
wah, wah,, um wira bikin trit
baca dl ya um
habis nya panjang bener >
Quote:Original Posted By tiena.jo
kalo menurut pengalaman ane sih ke anak semua sayang lah, ga ada kadar lebih banyak ato lebih sedikit, toh semua anak ane yg lahirin..cuma mungkin cara penyampaiannya berbeda karena penanganan ke anak yg satu sama yg laen kan beda...jadi selalu ungkapkan kepada anak bahwa kita memiliki kadar cinta yg sama

Anaknya udah 2 ya Mak
Ane seniri baru 1 , insyaallah taon depan program anak ke 2 .
Perlu menimba ilmu yg banyak nih biar vesok lebih siap
Quote:Original Posted By Yog4
wah, wah,, um wira bikin trit
baca dl ya um
habis nya panjang bener >

silakan Puh
Abis baca..., share juga ya kalo ada pengalamannya ..




Btw..., ini sapa yak