Konflik Sabah, Kesempatan Indonesia Merebut Kembali Sipadan-Ligitan

Kolonialisme dalam berbagai pengejawantahannya, termasuk kapitalisme imperialistik dalam usianya yang masih belia pada ujung abad ke-18, sangat ganas meninggalkan bekas yang tak bisa hilang sama sekali sampai abad ke-21 ini. Bentrokan antara para penyusup yang mengaku sebagai keturunan Kesultanan Sulu (Filipina) dan aparat Malaysia di Sabah telah memakan korban lebih dari 60 orang.

Konflik bersenjata menggunakan peralatan tempur canggih di pihak Malaysia dan pergerakan para penyusup ke wilayah Sabah menyeberang lewat Laut Sulawesi memberi kejutan, baik bagi Filipina, Malaysia, maupun negara-negara anggota ASEAN lainnya, termasuk Indonesia. Kita terkejut ketika tak ada komentar atas korban jiwa yang jatuh dalam peristiwa ini dalam upaya menyelesaikan persoalan ratusan tahun dengan melepaskan butir-butir peluru.

Malaysia tanpa ragu mengerahkan secara penuh kekuatan senjatanya. Filipina, yang menjadi penguasa kedaulatan atas wilayah Sulu di bagian selatan, terkesan tidak terlalu menghiraukan tindak kekerasan yang menghilangkan nyawa manusia dalam sekejap. Perlu disikapi bahwa persoalan klaim wilayah Kesultanan Sulu di wilayah Sabah, yang kini menjadi bagian dari wilayah Malaysia, adalah warisan kolonialisme yang pelik dan memerlukan beberapa generasi untuk menyelesaikannya.

Banyak faktor yang menyebabkan tersulutnya insiden di wilayah Sabah, kawasan seluas 74.000 kilometer persegi yang diklaim sebagai wilayah Kesultanan Sulu. Para pengikut Sultan Sulu itu mengklaim Sabah dari titik wilayah Sungai Pandassan di pesisir barat laut sampai seluruh pesisir pantai timur hingga Sungai Sibuco di bagian selatan. Keturunan Kesultanan Sulu mengklaim wilayah ini mencakup daerah Paitan, Sugut, Bangaya, Labuk, Sandakan, Kina Batangan, sampai ke selatan di Teluk Darvel.

Semua faktor ini terkait dengan imperialisme Inggris di kawasan Asia Tenggara, termasuk beralihnya kekuasaan penjajahan di wilayah Filipina dari Spanyol ke Amerika Serikat. Faktor lain adalah ketika Sabah menjadi obyek manipulasi kapitalisme imperialis melalui perjanjian sewa yang dikeluarkan Sultan Sulu Sri Paduka Maulana A1 Sultan Mohammed Jamalul Alam pada 22 Januari 1878, yang dibuat dalam bahasa Arab dan terjadi kesalahan interpretasi kata pajak pada perjanjian itu dengan leased (disewakan) dan ceded (diserahkan).

Faktor-faktor ini memunculkan pertanyaan, apakah Kesultanan Sulu memiliki hak untuk mengklaim sebagian wilayah Sabah yang dihadiahkan Sultan Brunei pada tahun 1658. Pertanyaan yang menimbulkan perdebatan ini juga berlanjut pada pertanyaan lain, apakah pewaris takhta Sultan Sulu Jamalul Kiram III (74) berhak melakukan invasi ke Sabah.

Akan banyak reaksi dan penolakan, khususnya dari Malaysia, untuk membuka kembali klaim Kesultanan Sulu atas sebagian wilayah timur Sabah ini. Perubahan status klaim kedaulatan akan menghadirkan juga pertanyaan apakah mungkin seseorang (Sultan Jamalul Kiram III) yang menjadi warga sebuah negara (Filipina) juga memiliki kedaulatan di tempat lain (wilayah Sabah yang dikuasai Malaysia).

Akan muncul reaksi kemarahan, khususnya dari kalangan rakyat Sulu, atas wilayah miliknya yang tak boleh ditinggali. Perubahan klaim status Sabah juga berdampak luas, termasuk keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) atas wilayah Sipadan-Ligitan yang dianggap milik Kesultanan Sulu dan berada dalam wilayah administrasi Malaysia dengan menggunakan argumentasi chain of title (rangkaian kepemilikan dari Kesultanan Sulu) dalam sidang sengketa dengan Indonesia di mahkamah tersebut pada tahun 2002.

Insiden Sabah bisa mendorong Indonesia membuka kembali klaim atas Sipadan-Ligitan karena Malaysia menyatakan bahwa kepemilikannya merupakan pewarisan dari Kesultanan Sulu. Penolakan penyelesaian masalah Sabah akan menihilkan berbagai klaim tumpang tindih kedaulatan di Asia Tenggara, termasuk di Laut China Selatan. Insiden Sabah akan menjadi kotak pandora baru. Pelik!

http://m.kompas.com/news/read/2013/0...-international

Ya saatnya Indonesia membuka kembali tuntutan atas pulau Sipadan-Ligitan.
kalo ane bilang , biarlah sipadan ligitan di ambil & di kelola negri Jiran,,, kasian rakyat indonesia yg kaya akan potensi alam yg tidak bisa dikelola dengan baik & benar,, kasian rakyat indonesia yg tidak di makmurkan oleh pemerintahnya ... masih lebih baik & teratur negara di kelola sesama melayu yg bisa menata negara & pemerintahan dengan baik ...
berarti hampir setengah negara malasia milik kerajaan sulu (masuk negara filipina). kok ane jadi bingung berita ini
Betul juga ente gan..
Ane dukung pengganyangan malaysial
Burung di tangan dilepas, burung terbang hendak ditangkap.

Tidak perlu memikirkan hal yang jauh, urus saja dulu warga perbatasan yang masih miskin, sembako mahal, listrik belum masuk, prasarana jalan yang tidak layak, dan permasalahan lainnya -- supaya warga kita tidak perlu lagi membeli sembako di tetangga, berobat di klinik tetangga, bahkan siaran televisinya punya tetangga.
Quote:Original Posted By muslimah.indo
Burung di tangan dilepas, burung terbang hendak ditangkap.

Tidak perlu memikirkan hal yang jauh, urus saja dulu warga perbatasan yang masih miskin, sembako mahal, listrik belum masuk, prasarana jalan yang tidak layak, dan permasalahan lainnya -- supaya warga kita tidak perlu lagi membeli sembako di tetangga, berobat di klinik tetangga, bahkan siaran televisinya punya tetangga.

Betul nih gan urusin dulu perbatasan kita yg ga jelas, masa perbatasan udah kaya "Lo Bukan Orang Indonesia" Orang indonesia udah punya ini lo belum punya
Quote:Original Posted By stoving
kalo ane bilang , biarlah sipadan ligitan di ambil & di kelola negri Jiran,,, kasian rakyat indonesia yg kaya akan potensi alam yg tidak bisa dikelola dengan baik & benar,, kasian rakyat indonesia yg tidak di makmurkan oleh pemerintahnya ... masih lebih baik & teratur negara di kelola sesama melayu yg bisa menata negara & pemerintahan dengan baik ...


@ stidakna ada jg bisa bilang begini jikalau tanah warisan anda di srobot orang lain.....kecuali anda org malay...yg udh tipikal............?
jangan, malaysia udeh punya dasar yuridis atas kedaulatannya di sipadan ligitan lewat ICJ, menurut gue udeh lah biarkan saja itu buat malaysia. pulau kita yang ga keurus banyak kok, pulau terluar dan masyarakat perbatasan aje yang masih miskin itu mending ya diurusin
Quote:Original Posted By musliawan
berarti hampir setengah negara malasia milik kerajaan sulu (masuk negara filipina). kok ane jadi bingung berita ini


bukannya indon neh sial dicetuskan wilayahnya sampai mencangkup kepulauan fliphine sampai semenanjung Tai land oleh sang pabak penemu indon neh sial
wkkwkwkwk.....akhirna malingna...kluar juga....pke kloningan.....tipikal maling bs na hit and run........ Dunia jg udah tau tipikal tukang klaim...wkwkkwkk....
saya setuju ama komen pertamax...
pas udah direbut malay baru dah kita nangis2...
dulu pas masih punya indo terbengkalai aja tuh...sekrang udah dijadiin area wisata yang wow ama malay.....
klo misalnya mau nya komentar pertamax seperti itu

berarti lo lebih mendukung teroris di banding pemerintah...

klo misalnya begitu...

klo ada teroris di indonesia lebih baik kita tutup mulut aja...

wong target terorisnya sudah jelaskan...

biar pemerintah indonesia sadar dan juga tau kesalahan yang mesti di bangun oleh Pemerintah itu seperti apa...

dan gw sebenernya kecewa banget dengan SYSTEM PEMERINTAH

yang bisanya cuma ngambil duit rakyat gak ada kerjaan lain apa...

bikin susah segalanya...

gw berharap indonesia masih di huni dengan Kematian

biar indonesia berfikir uang itu tidak segala - gala nya
hayo buka semua ke internasional
memangnya mau bantu sulu demi sipadan-ligitan?
Voting aja, warga sulu pada setuju gak?, klo gak setuju ya sudah terpaksa kibarkan bendera putih lalu Pulang Kampung
Quote:Original Posted By victim.of..gip

Ya saatnya Indonesia membuka kembali tuntutan atas pulau Sipadan-Ligitan.


nasi sudah jadi tai mau di jilat lagi
Quote:Original Posted By lizard_yopu
Voting aja, warga sulu pada setuju gak?, klo gak setuju ya sudah terpaksa kibarkan bendera putih lalu Pulang Kampung


sok bijak lue yop

*ketemu teman lama di trit ini
Quote:Original Posted By twibirespect

Betul nih gan urusin dulu perbatasan kita yg ga jelas, masa perbatasan udah kaya "Lo Bukan Orang Indonesia" Orang indonesia udah punya ini lo belum punya


Malaysia menganggap perbatasan sebagai teras depan sementara Indonesia menganggapnya dapur.
Quote:Original Posted By zxoozx


nasi sudah jadi tai mau di jilat lagi


Perjuangan harusnya tidak boleh mengenal kata berakhir gan.
klo ad mobilisasi umum ane siap