KASKUS

Para Pegawai Muslim, Silakan Masuk, Simak Kajiannya (bisa juga tanya-jawab)

Selamat datang -Ahlan wa Sahlan- para Pegawai Muslim -Semoga Allah memberkahi pekerjaan anda semua.
Dalam Thread ini, insya Allah akan rutin kami sajikan kajian seputar Kepegawaian dari sisi Hukum Islam.
Sebagai sumber tulisan, kami pilihkan dari berbagai referensi yang shahih (selamat) -insya Allah-, tentu sejauh ilmu yang ada pada kami.
Kami juga membuka sesi tanya-jawab, terkait tema diatas.

Oke sebagai kajian perdana berikut kami sajikan tulisan "Lalai untuk Belajar Agama"

Lalai untuk Belajar Agama

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan. Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.

Merenungkan Ayat

Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)

Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut, “Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar, syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir, 4/125)

Itulah gambaran dalam ayat yang menerangkan kondisi yang menjangkiti sebagian dari kaum muslimin. Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.

Bahaya Jahil akan Ilmu Agama

Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.

Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

"Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu" (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu, dimana Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Beri Porsi yang Adil

Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum mencukupi orang yang capable dalam ilmu tersebut. Misalnya di suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah kebutuhan masyarakat.

Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan, namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah, bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz. Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih Islam, sangat baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana. Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan, terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)

Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian mereka. Wallahu waiyyut taufiq. (*)

Riyadh-KSA, 14 Rabi’uts Tsani 1432 H (19/03/2011)

referensi : ]www.rumaysho.com
Quote:Original Posted By hoodiesgan






selamat bos

Post 

Terima kasih komentarnya..

Nantikan kajian menarik lainnya, untuk pembahasan tema Fikih, Tazkiyatun Nufuz (upaya pembersihan hati), Tarbiyah, Kisah-kisah, Fatwa-fatwa Ulama, dan tema lainnya..

Insya Allah di up-date tiap Jum'at, hari besar pekanan kita para pegawai Muslim.
[Kajian ke-2]
Tema : Nasehat


Catatan Ulama Bagi Pegawai


Didalam syari'at Islam, pekerjaan secara garis besar terbagi atas 2, yakni

1. Pekerjaan haram, seperti bekerja sebagai penyanyi, dukun, penjual khamr, pekerja di bank riba, pelacur, pencuri dan sejenisnya dari pekerjaan-pekerjaan yang dilarang oleh syari’at Islam.

2. Pekerjaan mubah, contohnya banyak sekali, hanya saja sebagian ulama meneyebutkan bahwa “Pokok pekerjaan itu ada tiga: Tani, dagang, industri.” (Al-Hawi Al-Kabir 19/180, Al-Mardawi).

Syaikh Masyhur bin Hasan menambahkan: “Dan diantara pokok pekerjaan pada zaman kita sekarang -selain tiga di atas- adalah bekerja sebagai “pegawai” dengan aneka macamnya. Hanya saja terkadang sebagiannya bercampur dengan hal-hal yang haram atau makruh tergantung keadaan jenis pekerjaan itu sendiri.

Beliau juga memberikan catatan (peringatan), bahwa para pekerja secara umum mempunyai banyak dampak negatif, yakni:

1. Banyak mengeluh sehingga kurangnya barakah

Sebagian dari mereka, kebanyakan sering menuntut hak-haknya, dengan mengabaikan (melalaikan) kewajiban-kewajibannya. Sehingga muncullah keluhan-keluhan, yang tak sedikit keluhan-keluhan tersebut berujung kepada aksi anarkis terhadap perusahaannya, demonstrasi-demonstrasi tak terkendali, memfitnah para pejabatnya, menghibahnya tanpa ada keperluan, dan aksi buruk lainnya.

Keluhan mereka umumnya berkisar antara harta dan tahta. Mereka mengeluh karena pendapatan atau bonus mereka tak sebanding dengan pekerjaannya (menurut akal mereka), atau tak sebanding dengan pegawai di instansi lain yang sejenis, atau perbandingan lainnya. Mereka juga mengeluh karena tahta, kedudukan, atau jabatannya yang tak pernah sepadan dengan lamanya ia bekerja, tak sepadan dengan rekan sekerjanya dan seterusnya.

Sadarilah, bahwa pekerjaan sebagai pegawai adalah amanah, walaupun engkau diperbolehkan mengadukan kesenjangan-kesenjangan yang dialami dengan cara yang arif dan hikmah sesuai ketentuan kepada mereka yang berkewenangan, namun simpanlah keluhan tersebut kepada orang lain yang sekiranya hanya kan menimbulkan keburukan-keburukan yang telah disebutkan diatas. Dan sebaik-baik keluhan adalah engkau keluhkan dirimu kepada Allah. Lihatlah Nabiyullah Yaqub,Ya'qub berkata,

إنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إلَى اللَّهِ

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." (QS. Yusuf: 86)

Dan sebaliknya, seburuk-buruknya keluhan adalah engkau keluhkan Rabb-mu, Allah (yang termasuk didalamnya ketetapan takdir-Nya atas dirimu) kepada makhluk.

2. Kurangnya tawakkal kepada Allah dalam rezeki

Tawakkal adalah kesungguhan hati dalam bersandar kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan kemaslahatan serta mencegah bahaya, baik menyangkut urusan dunia maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Apa bukti kurangnya tawakkal para pegawai kepada Allah? Mereka terlalu menggantungkan diri mereka kepada gaji dan bonus yang ia terima secara rutin, ia tidak sadar walaupun gaji tersebut mereka anggap 'pasti' dan merupakan kewajiban perusahaan, namun sadarilah bahwa gaji tersebut sepenuhnya merupakan karunia dari Allah, adapun perusahaan hanya wasilah (perantara) semata. Dan sungguh Allah Maha Kuasa untuk menghilangkan itu semua, baik dari sisi zatnya maupun keberkahannya.

Salah satu buah dari tawakkal tersebut, adalah "Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya.” (Al Qurtubhi rahimahullah dalam menafsirkan surat Ath Tholaq ayat 3). Sehingga dapat meredam keluhan-keluhan hamba, karena muara dari keluhan adalah nafsu hamba yang tak pernah merasa cukup.

3. Banyaknya korupsi dan suap

Sungguh, pekerjaan sebagai pegawai adalah pekerjaan yang "basah" terhadap korupsi dan suap. Barangsiapa yang tidak berhati-hati maka ia akan tergelincir.

Seorang pegawai, terikat dengan peraturan-peraturan yang ada. kapan ia harus masuk kerja, dan kapan waktunya istirahat, apa yang menjadi pekerjaan dan tanggung jawabnya, dan sebagainya. Sehingga, perlu disadari bahwa menjadi pegawai, bermakna menyerahkan sepenuhnya waktu dan tenaganya untuk perusahaannya.

Barangsiapa yang di dalam waktu kerjanya ia manfaatkan untuk keperluan pribadinya (yang tidak bersifat mendesak atau tanpa izin) dengan meninggalkan pekerjaan dan tanggung-jawabnya, maka ia telah melakukan korupsi. Barangsiapa yang mendapatkan imbalan (bonus) dari pekerjaan yang ia tidak melaksanakannya (atau tidak sempurna pelaksanaannya), maka ia juga dikatakan telah melakukan korupsi.

Begitu juga dengan suap, barangsiapa yang ia memberi atau menerima imbalan dari/ke seseorang atas dasar jabatan bukan atas dasar personal, maka ia telah melakukan suap, baik ada atau tidaknya keperluan atas imbalan tersebut. Adapun bila terdapat keperluan didalamnya (seperti imbalan agar diutamakan urusannya), bahkan yang dengannya melanggar hak-hak orang lain, maka tingkatan (dosa) suapnya lebih besar.

4. Malas dalam bekerja dan kurang perhatian

Tak sedikit dari pegawai berkata, "Ah, kerja nggak kerja kan gaji tetep dibayar..." atau "... masuk nggak masuk kan tetep gajian..". Inilah fenomena yang ada, yang tak lain merupakan buah dari kurangnya sifat amanah dan ikhlas dari pekerja. Seandainya ia sempurna dalam keikhlasannya dan dalam menjaga amanahnya tentu ia kan berujar, "Sekalipun gaji terlambat, ku kan tetap bekerja melayani dengan penuh tanggung-jawab..."

5. Sangat ambisi dengan gajian akhir bulan

Berharap dengan harta merupakan naluri dan kodrat manusia, namun bila harapan atau ambisi tersebut berlebihan maka ini yang dicela. Sungguh malang seorang pegawai yang menggantungkan keimanannya kepada gajiannya, bila ia berada di awal bulan maka berkurang keimanannya, bila ia berada diakhir bulan maka bertambah keimanannya (walaupun sebagian mengalami kebalikannya).

Ia habiskan waktunya hanya tuk aktifitas "menunggu" dan "menghabiskan" gajian. Hal ini kan lebih tampak bagi mereka yang berani mengambil kredit barang mewah (yang bahkan tak sedikit didalamnya tercampur akad ribawiyah) dengan kredit yang lama. Sehingga pikirannya hanya kan dipenuhi dengan target, 'kapankah barang ini lunas??', maka jadilah hidupnya begitu berambisi untuk segera mendapatkan gaji, sehingga berlalulah waktu-waktunya yang berharga, kosong (atau minim) dari dzikrullah.

6. Banyaknya sifat nifaq di depan atasan

Yakni, perkataannya di depan atasan bertentangan dengan hatinya, atau bertentangan dengan kebenaran di dalam hatinya. Ini tak lain agar ia mendapat perhatian lebih dari atasannya, sungguh tidaklah hal ini dilakukan kecuali oleh mereka para pegawai yang cacat sifat tawakkalnya kepada Allah. Maka ketahulah, bahwa Dia-lah Allah yang memberinya kecukupan, bukan atasannya.

Jadilah pegawai yang jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Dan ingatlah kaedah berharga bagi para pegawai bahwa, tidak boleh taat kepada makhluk jika diajak bermaksiat kepada Allah (terambil dari hadits nabi, dan dalam hadits lain juga disebutkan “Kewajiban taat (kepada makhluk) hanya dalam perkara-perkara yang ma’ruf (baik-baik)”. [HR al- Bukhâri]).

Inilah beberapa catatan beliau, rahimahullah, yang semoga dengannya kita, penulis khususnya, dapat mengambil manfa'at yang ada, sehingga jadilah diri-diri ini seorang pegawai yang di ridhai Allah Ta'ala...

Dan sesungguhnya Ia adalah ar-Rozzak (Maha Pemberi Rizki) dan Al-Ghany (Maha Kaya)

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan".[Hud : 15, 16].

_________
Note: Poin-poin diatas penulis cuplik dari artikel salah satu situs, yang merupakan catatan dari Syaikh Masyhur bin Hasan di dalam kitab beliau Al-Muru’ah wa Khowarimuha hal. 193-206, dengan tambahan penjelasan tiap poinnya dari penulis pribadi. Wallahu'alam
harus ingat terus sama Tuhan gan
Quote:Original Posted By tzuzurea
harus ingat terus sama Tuhan gan


bener Gan, kalo kita juga mau diinget terus sama Tuhan..
[Kajian ke-3]
Tema : Fatwa Ulama


Baca Buku Agama Saat Jam Kerja

Saat pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang karyawan telah diselesaikan dengan baik, bolehkah seorang karyawan menggunakan waktu yang tersisa untuk membaca al-Qur'an, buku-buku agama, majalah keislaman atau kegiatan semisal sampai jam kantor berakhir? Temukan jawaban dalam tulisan berikut ini.

Menjadi kewajiban para pekerja, pegawai dan karyawan untuk bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dan dengannya dia berhak mendapatkan gaji atau upah.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman laksanakanlah perjanjian-perjanjian kalian.” (QS. Al-Maidah: 1).

Termasuk dalam ayat di atas, perjanjian atau kontrak kerja.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Yang artinya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah.” (QS. An-Nisa: 58).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang yang diberikan kepada kalian sedangkan kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 27).

Amanah pekerjaan itu termasuk dalam dalil-dalil di atas.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar.” (QS. An Nisa: 29)

Jika seorang karyawan telah menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik boleh baginya untuk memanfaatkan waktu kosong yang tersedia dengan membaca al Qur'an, buku atau pun majalah keislaman yang bermanfaat.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Jika seorang karyawan telah melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya lalu dia ingin memanfaatkan jam kantor yang tersisa dengan membaca al Qur'an atau membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat atau pun tertidur sejenak agar badan fresh apakah dia berdosa?

Jawaban beliau, “Karyawan tersebut tidak berdosa jika dia telah menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Namun jika dia kerjanya asal selesai atau tidak maksimal dalam bekerja maka 'pemanfaatan jam kantor yang tersisa' itu hukumnya tidak boleh dan haram. Sedangkan ngantuk dalam kerja itu tidak mengapa karena seseorang itu tidak memiliki diri dan jiwanya oleh karena itu terkadang seorang itu tertidur saat kerja tanpa dia sadari.” (Fatawa al Huquq yang dikumpulkan oleh Khalid al Juraisi hal 59).

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dengan teks sebagai berikut, “Saya seorang karyawan. Saat ada waktu longgar dalam jam kerja kumanfaatkan untuk membaca al Qur'an akan tetapi pimpinan menegurku dengan mengatakan bahwa sekarang adalah jam kerja bukan waktu untuk membaca al Qur'an. Apa hukum agama dalam kasus semacam ini?

Jawaban beliau, “Jika pekerjaan anda memang benar-benar sudah tuntas maka tidak mengapa jika anda manfatkan untuk membaca al Qur'an, membaca tasbih, tahlil atau pun kalimat dzikir lainnya. Hal ini lebih baik dari pada bengong.

Akan tetapi jika kegiatan membaca al Qur'an dilakukan sebelum pekerjaan benar-benar tuntas maka hal itu tidak diperbolehkan karena jam kerja diperuntukkan untuk kegiatan kerja. Sehingga saat jam kerja anda tidak boleh memanfaatkannya dengan kegiatan yang menghalangi berjalannya pekerjaan dengan baik.” (Fatawa Syaikh Ibnu Baz 8/361).

Meski memanfaatkan waktu kosong saat jam kerja dengan membaca al Qur'an atau buku agama itu diperbolehkan akan tetapi yang lebih baik jika waktu kosong tersebut digunakan untuk kegiatan yang menunjang pekerjaan misal pekerjaan mengharuskan karyawan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik maka yang lebih baik saat senggang dalam jam kerja adalah memanfaatkannya dengan membaca buku yang bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

Dikutip dari tulisan Ustadz Aris Munandar
Sumber : pengusahamuslim.com
truskan berdakwah akhi!
[Kajian ke-4]
Tema : Tazkiyyatun Nufus


Ketika Hasad Menjangkiti
Bagian 1 dari 2 tulisan

Pernahkah terbetik dalam hati agan sekalian...
"Dia lagi-dia lagi yang dapet, padahal aku khan gak kalah pinter, gak kalah cakep, gak kalah ..." atau..
"Kemaren Laptop, kemarennya lagi PS3, sekarang TV LCD 3D 42 inchi, wah.. Allah gak adil nih, padahal aku khan lebih sering ngaji.." atau yang ini..
"Kenapa dia yang dapat promosi jabatan, bukankah kami se-level?? Gak adil nih bos.."
(He..he..he.. hayo ngaku.., penulis aja merasa gak lebih 'selamat' dari yang agan yang mbaca)

Kalo iya, waspadalah.. karena dikhawatirkan kita terjangkiti penyakit hasad..
Apa itu??

Makna dan Hakekat Hasad

Hasad dalam bahasa kita dikenal dengan istilah dengki atau iri hati.
Al-Jahizh rohimahulloh berkata : “Hasad adalah merasa sakit hati dari apa yang dia lihat pada orang lain berupa keutamaan dan kenikmatan. Orang yang hasad akan berusaha menghilangkan nikmat orang yang dia benci. Hasad adalah akhlak yang tercela pada setiap orang.” (Tahdzib al-akhlaq hlm.34)
Namun... bukankah setiap orang itu memiliki harapan, maka wajar dan manusiawi jika kemudian ia merasa iri karena nikmat yang ia harapkan justru didapat oleh orang lain. Dan siapa pula yang bisa terbebas dari rasa hasad?

Benar sekali, membebaskan hati dari hasad adalah perkara yang sangat berat. Tidak akan terbebas darinya kecuali mereka yang dijaga Allah. Maka sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, “Jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya (baik dengan ucapan maupun perbuatan) dan yang mulia adalah yang menyembunyikannya.” (Al-Fatawa)
Lebih rinci lagi, Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahulloh berkata : “Hasad ada tiga tingkatan :
Pertama : Berangan-angan untuk melebihi orang lain. Maka ini boleh, bukan hasad.
Kedua : Membenci nikmat Alloh yang diberikan kepada orang lain. Akan tetapi dia tidak berusaha untuk menghilangkan nikmat itu dari orang yang ia dengki. Bahkan selalu berusaha untuk menolak dan melawan gejolak hasadnya. Hasad semacam ini tidak membahayakan, sekalipun yang sebelumnya lebih sempurna.
Ketiga : Hatinya terjangkiti penyakit hasad, dan dia berusaha menurunkan martabat (atau menghilangkan nikmat) orang yang ia dengki, maka ini adalah hasad yang diharamkan. Pelakunya terkena dosa.” (Syarah al-Arba’in an-Nawawiyyah hal. 343)

Malapetaka dan Bahaya Hasad

Orang yang hasad secara sadar maupun tidak telah terjatuh dalam beberapa perkara dan malapetaka yang tidak bisa dianggap ringan (diringkas dari Kitabul-Ilmi, Ibnu Utsaimin):
Pertama : Membenci takdir Alloh, karena apabila dia benci terhadap apa yang Alloh berikan kepada orang lain, pada hakekatnya penentangan terhadap takdir Alloh juga.
Kedua : Hasad menghapus kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu bakar. Karena pada umumnya, orang yang hasad akan menganiaya orang yang ia dengki. Dia akan menyebutkan sesuatu yang dibencinya, menghasud manusia agar menjauhinya dan lain-lain. Ini adalah dosa besar yang menghapuskan kebaikan. Hingga akhirnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut kelak di akhirat. (karena orang-orang yang ia dengki akan mengambil kebaikan-kebaikannya, hingga bila tidak tersisa padanya kebaikan, maka kejelekan orang-orang yang ia dengki akan di timpakan kepadanya)
Ketiga : Akibat di dunia, ketahuilah (!), bahwa sekuat apapun hasad-nya, tidak akan menghilangkan nikmat orang yang ia dengki dan tidak akan beralih nikmat tersebut kepadanya, bahkan orang yang hasad akan merasa sesak dada ketika melihat orang lain mendapat nikmat. Acapkali kita melihat orang dengki hatinya gundah, sedih dan dadanya sesak. Dia akan selalu mengawasi saingannya. Kesedihannya akan bertambah dan dunia terasa sempit bila saingannya (semakin) mendapatkan nikmat.
Keempat : Hasad menafikan kesempurnaan iman. Berdasarkan sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam yang berbunyi :
Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintainya untuk dirinya. (HR. Bukhori : 13, Muslim : 45)
Kelaziman hadits ini, seharusnya engkau benci apabila nikmat Alloh hilang dari saudaramu, bukan malah senang. Apabila engkau senang nikmat Alloh hilang darinya, berarti engkau belum mencintai saudaramu apa yang dicintai oleh dirimu sendiri. Dan hal ini jelas mengurangi kesempurnaan iman.
Kelima : Hasad akan menyeret pelakunya berpaling meminta keutamaan dari Alloh. Orang yang hasad akan selalu mengawasi nikmat Alloh yang diberkan kepada orang lain, sementara dirinya sendiri lupa meminta keutamaan dari Alloh. Alloh berfirman (yang artinya) :
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Alloh sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa [4]:32)
Keenam : Hasad akan membawa peremehan terhadap nikmat Alloh. Orang yang hasad akan melihat dirinya seakan-akan tidak memperoleh nikmat sedikitpun. Dia selalu melihat bahwa orang yang dia dengki berada dalam nikmat yang besar. Akibatnya secara tidak langsung dia telah meremehkan nikmat Alloh dan lupa bersyukur kepada-Nya.
Ketujuh : Hasad adalah akhlak tercela, karena selalu mengawasi nikmat Alloh yang diberikan kepada orang lain. Dia selalu berusaha menghalangi kebanyakan manusia dari orang yang dia dengki.

Lalu bagaimana kiat-kiat mencegah dan meredam hasad? Simak pada kajian pekan depan -insya Allah-

Note:
Karena Jum'at kemaren penulis belum sempet posting, maka postingan berikut sebaai penggantinya, semoga berkenan bagi agan-agan sekalian...
[Kajian ke-5]
Tema : Tazkiyyatun Nufus


Ketika Hasad Menjangkiti
Bagian 2 dari 2 tulisan (Akhir)

Melanjutkan tulisan pekan lalu...

Kiat-kiat Mencegah dan Meredam Hasad

Pertama : Mendiamkan dan menyembunyikannya. Janganlah sekali-kali kita tampakkan rasa hasad kita, baik kepada orang yang kita dengki maupun pada orang lain. Cegahlah agar jangan sampai hasad tersebut terwujud menjadi usaha untuk menghilangkan nikmat dari orang yang kita dengki. Baik hanya sekedar menghilangkan atau agar nikmat itu berpindah pada diri kita. Ketahuilah, ini adalah sejelek-jelek hasad!

Kedua : Berdoa memohon kepada Allah agar hasad itu dihilangkan dari hati kita. Bagaimanapun rasa hasad tidak boleh dibiarkan tetap ada. Karena bisa jadi ketika iman kita sedang lemah, maka setan akan berupaya agar kita berbuat jahat disebabkan rasa hasad tersebut.

Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Hasyr: 10)

Ketiga : Berusaha ridho dengan takdir Allah. Orang yang hasad berarti ia menentang takdir dan ketetapan Allah. Setiap manusia yang lahir ke dunia, telah Allah tetapkan rezekinya. Dan sesungguhnya Allah membagi rezeki dan nikmat-Nya dengan ilmu-Nya. Dengan hikmah-Nya Allah Memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki, dan dengan keadilan-Nya Dia tidak memberi kepada siapa saja yang Dia hendaki. Dia berbuat sekehendak-Nya, namun tidaklah sekali-kali Dia mendzalimi hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,

Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al Furqon: 2)

Pupuklah rasa qona’ah dan syukur dalam diri. Janganlah resah dengan sesuatu yang memang bukan untuk kita. Apa yang diberikan Allah, itulah yang terbaik. Apa yang tidak diberikan -Nya, bisa jadi memang bukan hal yang kita butuhkan, bahkan bisa menimbulkan kemudharatan (keburukan). Kita memohon kepada Allah hati, lisan dan badan yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya. Kita memohon pula agar Allah menjadikan hati kita ridha dengan takdir-Nya.

Keempat : Berbuat baik kepada orang yang kita dengki. Tersenyumlah! Pasanglah wajah yang cerah, ucapkan salam dan ucapkanlah perkataan yang baik padanya! Berbuat baik kepada orang yang kita dengki memang perkara yang sulit, tetapi insya Allah ini adalah salah satu obat mujarab untuk mengobati penyakit hasad dalam hati.

Semakin terasa penyakit hasad tersebut bertambah parah, maka semakin berusahalah untuk bersikap baik padanya. Awalnya memang terasa sulit dan harus dipaksakan. Tapi begitulah, meski pahit tetapi ia menyembuhkan. Bahkan bila mau, berilah hadiah. Karena hadiah bisa lebih mendekatkan hubungan. Jika tidak mampu, maka ada hadiah lain yang tak kalah istimewa, yakni doakanlah kebaikan baginya. Dan semoga kita pun akan mendapatkan kebaikan sebagaimana kebaikan yang kita inginkan bagi dirinya.

Kelima : Jadikanlah surga dan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi. Salah satu sebab hasad adalah karena kesempitan hati dalam memandang dunia. Karena itu, cara mengobatinya adalah berusaha zuhud dengan dunia dan membawa diri ke alam akhirat. Ambillah dunia hanya sebatas kebutuhan serta hanya digunakan dalam rangka berbuat ketaatan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Thoha: 131)

Ketika seseorang telah menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hidupnya, maka buat apa lagi ia hasad terhadap nikmat yang didapat orang lain. Karena pikiran, hati dan tubuhnya telah tersibukkan dengan upaya untuk mendapatkan ridha Allah, mendapatkan keselamatan di akhirat serta mendapatkan kenikmatan Surga. Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi. Surga, yang di dalamnya tersimpan berbagai kenikmatan yang menyedapkan mata.

Sesungguhnya memelihara hasad hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ia hanyalah akan menjadi penambah beban hati. Maka, buanglah ia jauh-jauh dari hati. Hidup dengan hati yang qona’ah dan selalu bersyukur dengan nikmat Allah … Inilah yang lebih indah dan menentramkan.

Renungkan dan sadarilah, setiap dari kita sangat menginginkan surga. Maka, jadikanlah usahamu untuk membebaskan diri dari hasad sebagai salah satu usaha untuk menggapainya.

Disukainya Hasad Hanya untuk Dua Perkara

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak boleh ghibtoh (hasad yang dianjurkan) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.

An Nawawi rahimahullah menjelaskan,"Ghibthoh adalah berangan-angan agar mendapatkan nikmat seperti yang ada pada orang lain tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang. Jika ghibthoh ini dalam hal dunia, maka itu dibolehkan. Jika ghibthoh ini dalam hal ketaatan, maka itu dianjurkan. Sedangkan maksud dari hadits di atas adalah tidak ada ghibtoh (hasad yang disukai) kecuali pada dua hal atau yang semakna dengan itu." (Syarh Shahih Muslim)

Semoga bermanfa'at bagi penulis dan pembaca. Wallohul 'alam.
[Kajian ke-6]
Tema : Tazkiyyatun Nufus


Tiga Makna Zuhud

Betapa banyak orang yang salah mengartikan makna zuhud. Bahkan beranjak dari kesalah-fahaman tersebut, sebagian orang malah ber-antipati dengan makna ini. Zuhud oleh sebagian orang yang melenceng pemahaman agamanya, yang sebagian besar dari kalangan sufi-tasawuf, memaknainya dengan pengharaman dunia beserta perhiasannya. Sehingga banyak dari mereka memilih untuk hidup menyendiri dengan maksud tuk semata-mata beribadah, tidak mau bekerja hingga menelantarkan keluarganya, berpakaian kumal, bahkan ada pula yang hidup membujang.

Mereka beranggapan orang yang berusaha mencari nafkah yang halal, orang yang memiliki harta, memiliki jabatan bahkan orang yang menikah, bukanlah orang yang zuhud???

Ketahuilah, bahwa zuhud adalah termasuk amalan hati. Kata zuhud sering disebut-sebut ketika kita mendengar nasehat dan seruan agar mengekang ketamakan terhadap dunia dan mengejar kenikmatannya yang fana dan pasti sirna, dan agar jangan melupakan kehidupan akhirat yang hakiki setelah kematian.

Oleh karenanya, Abu Sulaiman mengatakan,
Janganlah engkau mempersaksikan bahwa seorang itu telah berlaku zuhud (secara lahiriah), karena zuhud itu letaknya di hati

Berkata Ibnu Rajab rahimahullah,
Kesimpulannya, zuhud terhadap dunia bisa ditafsirkan dengan tiga pengertian yang kesemuanya merupakan amalan hati dan bukan amalan tubuh.

Makna pertama

Zuhud adalah hamba lebih meyakini rezeki yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.

Hal ini tumbuh dari bersih dan kuatnya keyakinan, karena sesungguhnya Allah telah menanggung dan memastikan jatah rezeki setiap hamba-Nya sebagaimana firman-Nya (yang artinya),
Dan tidak ada suatu binatang melata-pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya." (QS. Huud: 6)

Dia juga berfirman (yang artinya),
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz Dzaariyaat: 22)

Maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia. (QS. Ankabuut: 17)

Al Hasan mengatakan,
Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Allah adalah anda lebih meyakini apa yang ada ditanganmu daripada apa yang ada di tangan-Nya”.

Abu Hazim Az Zahid pernah ditanya, “Apa hartamu”, beliau menjawab,
Saya memiliki dua harta dan dengan keduanya saya tidak takut miskin. Keduanya adalah ats tsiqqatu billah (yakin kepada Allah) dan tidak mengharapkan harta yang dimiliki oleh orang lain. [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].

Pernah juga beliau ditanya,
“Tidakkah anda khawatir akan kefakiran?” Beliau menjawab, “Bagaimana bisa saya takut fakir sementara Pemelihara-ku memiliki segala yang ada di langit, bumi, apa yang ada diantara keduanya, dan di bawah tanah.

Al Fudhai bin ‘Iyadh mengatakan,
Akar zuhud adalah ridha terhadap apa yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla.” [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu 'Abdirrahman As Sulami dalam Thabaqatush Shufiyah (10)].

Dengan demikian, setiap orang yang merealisasikan rasa yakin kepada Allah, mempercayakan segala urusannya kepada Allah, ridha terhadap segala pengaturan-Nya, memutus ketergantungan kepada makhluk baik rasa takut dan harapnya, dan semua hal tadi menghalanginya untuk mencari dunia dengan sebab-sebab yang dibenci, maka setiap orang yang keadaannya demikian sesungguhnya dia telah bersikap zuhud terhadap dunia. Dia termasuk orang yang kaya meski tidak memiliki secuil harta dunia sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ammar,

Cukuplah kematian sebagai nasehat, yakin kepada Allah sebagai kekayaan, dan ibadah sebagai kesibukan.” [Diriwayatkan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (10556) dari 'Ammar bin Yasar secara marfu'].

Ibnu Mas’ud mengatakan,
Al Yaqin adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan kemurkaan Allah, engkau tidak memuji seseorang demi mendapatkan rezeki yang berasal dari Allah, dan tidak mencela seseorang atas sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu. Sesungguhnya rezeki tidak akan diperoleh dengan ketamakan seseorang dan tidak akan tertolak karena kebencian seseorang. Sesungguhnya Allah ta’ala –dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya- menjadikan ketenangan dan kelapangan ada di dalam rasa yakin dan ridha kepada-Nya serta menjadikan kegelisahan dan kesedihan ada di dalam keraguan dan kebencian.” [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].

Dulu, ‘Atha Al Khurasani tidak akan beranjak dari majelisnya hingga mengucapkan,
Ya Allah, berilah kami rasa yakin terhadap diri-Mu sehingga mampu menjadikan kami menganggap ringan musibah dunia yang ada, sehingga kami meyakini bahwa tidak ada yang menimpa kami kecuali apa yang telah Engkau tetapkan kepada kami, dan meyakini bahwa rezeki yang kami peroleh adalah apa yang telah Engkau bagi kepada kami.” [Driwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (108)].

Diriwayatkan kepada kami secara marfu’ bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan,
Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya, maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya.” [Diriwayatkan Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha'i dalamMusnad Asy Syihab (367 & 368) dari hadits 'Abdullah bin 'Abbas].

Makna Kedua

Zuhud adalah apabila hamba tertimpa musibah dalam kehidupan dunia seperti hilangnya harta, anak, atau selainnya, maka dia lebih senang memperoleh pahala atas hilangnya hal tersebut daripada hal itu tetap berada di sampingnya

Hal ini juga muncul dari sempurnanya rasa yakin kepada Allah.

Diriwayatkan dari ‘Ibnu ‘Umar bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam do’anya,

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.” [HR. Tirmidzi (3502); An Nasaai dalam 'Amalul Yaum wal Lailah (402); Al Hakim (1/528); Al Baghawi (1374). At Tirmidzi mengatakan, "Hadits hasan gharib"].

Do’a tersebut merupakan tanda zuhud dan minimnya kecintaan kepada dunia sebagaimana yan dikatakan oleh ‘Ali radhiallahu ‘anhu,
Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya.

Allah berfirman (yang artinya),
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuuraa 42 : 20)

Makna Ketiga

Zuhud adalah hamba memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran

Hal ini merupakan tanda bahwa dirinya zuhud terhadap dunia, menganggapnya sebagai sesuatu yang remeh, dan minimnya kecintaan dirinya kepada dunia.

Sesungguhnya setiap orang yang mengagungkan dunia akan cinta kepada pujian dan benci pada celaan. Terkadang hal itu menggiring dirinya untuk tidak mengamalkan kebenaran karena takut celaan dan melakukan berbagai kebatilan karena ingin pujian.

Dengan demikian, setiap orang yang memandang sama orang yang memuji dan mencelanya ketika dirinya berada di atas kebenaran, maka hal ini menunjukkan bahwa jabatan/kedudukan yang dimiliki manusia tidaklah berpengaruh di dalam hatinya dan juga menunjukkan bahwa hatinya dipenuhi rasa cinta akan kebenaran serta ridha kepada Allah. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud,

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ

Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguh Allah telah memuji mereka yang berjuang di jalan-Nya dan tidak takut akan celaan."

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah bersabda,
Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah engkau terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya mereka mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan Albani menshohihkannya) .

Sumber : Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hlm. 644-646 (dengan beberapa editan)

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id

Note :
Karena kesibukan kami setiap diakhir pekan, insya Allah kajian diposting setiap Senin/Selasa.
mantap gan lanjutkan gan
[Kajian ke-7]
Tema : Tarbiyah


Ayat-ayat Mulia dan Hadits-hadits Rasulullah seputar Menunaikan Amanah

Mengingat begitu pentingnya menjaga amanah, terkhusus bagi seorang pegawai, maka pada kajian pekan ini akan penulis bawakan sekelumit dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang berbicara tentang hal ini. Kami katakan sekelumit, karena begitu banyaknya firman Allah Subhana wata’ala dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengingatkan akan pentingnya menjaga amanah.

Diantara ayat yang berisikan anjuran untuk menjaga amanah dan tidak berbuat khianat adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yang artinya), “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An-Nsaa’: 58)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “ Allah Subhana wata’ala mengabarkan (dalam ayat ini) bahwa Dia memerintahkan untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Dalam hadits al-Hasan, dari Samurah radiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang mempercayakan amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Imam Ahmad)

Amanah tersebut mencakup seluruh amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang, baik berkaitan dengan hak-hak Allah Azza wa Jalla yang wajib ditunaikan oleh hamba-hamba-Nya, seperti sholat, zakat, puasa, macam-macam kafarah, nadzar dan yang lainnya dari amanah-amanah yang dia diamanati dengannya meskipun para hamba tersebut tidak menyadarinya. Maupun yang berkaitan dengan hak-hak seorang hamba terhadap sesamanya, seperti, titipan dan yang lainnya dari hal-hal yang dia diamanahi dengannya, meskipun dia tidak sadar akan hal tersebut. Allah Subhawa wata’ala memerintahkan untuk menunaikan amanah tersebut. Barangsiapa yang tidak melakukannya di dunia, maka amanah tersebut akan dituntut darinya pada hari Kiamat.”

Dan firman Allah Subhana wata’ala (yang artinya), “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.” (QS Al-Anfaal: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dan perbuatan khianat itu mencakup dosa-dosa kecil dan besar, baik yang bersifat lazim (tidak berdampak kepada orang lain) maupun muta’addi (yang berdampak kepada orang lain). Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu Abbas radiyallahu’anhu, “ (Firman Allah yang artinya, ‘Dan (juga) janganlah kamu mengkhianatai amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu.’) Amanah tersebut adalah amalan-amalan yang Allah percayakan kepada para hamba-Nya, yakni kewajiban-kewajiban. Dia (Allah Azza wa Jalla) mengatakan, ‘Janganlah kalian mengkhianati’ artinya ‘Janganlah kalian melepaskan’. Dan dia (Ibnu Abbas radiyallahu’anhu) mengatakan dalam riwayat lain, (firman Allah, ‘Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad)!’) Dia (Ibnu Abbas radiyallahu’anhu) mengatakan, ‘(Artinya) jangan kamu tinggalkan sunnah-sunnahnya dan jangan melakukan kedurhakaan kepadanya.’.”

Allah Subhana wata’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat jahil (bodoh).” (QS Al-Ahzab: 72)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah setelah menyebutkan beberapa pendapat tentang tafsir amanah, yang diantaranya ketaatan, kewajiban-kewajiban agama, hutang dan hukum had. Beliau mengatakan, “Semua pendapat ini tidaklah saling bertentangan, bahkan saling berkaitan dan kembali kepada pendapat bahwa yang dimaksud dengan amanah tersebut adalah beban syari’at, penerimaan perintah serta larangan, disertai syarat-syaratnya. Apabila dia mengerjakan amanah tersebut, maka dia akan diberi pahala dan apabila dia meninggalkannya dia akan disiksa, kemudian diterimalah amanah tersebut oleh manusia bersamaan dengan keadaan dia yang lemah lagi jahil, serta zalim, kecuali orang-orang yang diberi taufiq oleh Allah Azza wa Jalla. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.”

Dan firman Allah Subhana wata’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS Al-Mu’min: 8)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yakni, apabila mereka diberi amanah tidak mengkhianatinya dan apabila mereka berjanji, tidak mengingkarinya. Ini merupakan sifat-sifat orang-orang Mukmin dan lawannya adalah sifat-sifat orang-orang munafik. Sebagaimana telah warid (diketahui) dalam hadits yang shahih, ‘Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga (yakni), apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila diberi amanah berkhianat.’ (HR Bukhari-Muslim). Dalam riwayat lain, ‘Apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila bertengkar berbuat curang (berlebihan).’.”

Adapun diantara hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang berisikan tentang menjaga amanah dan peringatan keras dari menyia-nyiakannya (diantaranya),

Dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu, dia berkata, “Tatkala Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sedang bermajelis menyampaikan pembicaraan kepada sekumpulan orang, tiba-tiba saja datang seorang Arab badui seraya mengatakan, ‘Kapan hari kiamat itu (Wahai Rasulullah!)?
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam –pun terus meneruskan pembicaraannya, hingga sebagian orang mengatakan, ‘Beliau mendengar, namun (kelihatannya) beliau tidak suka dengan apa yang ditanyakannya.’ Sebagian yang lain menimpali, ‘Bukan, beliau tidak mendengarnya.
Hingga tatkala beliau selesai dari pembicaraannya, beliau bertanya, ‘Dimana orang yang aku lihat bertanya tentang Hari Kiamat tadi?’ dia (orang yang bertanya tadi) menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!
Beliau bersabda, ‘Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah Hari Kiamat.
Orang tadi bertanya lagi, ‘Bagaimana bentuk disia-siakannya (Wahai Rasulullah!)?
Beliau menjawab, ‘Apabila urusan diserahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah Hari Kiamat.’.” (HR. Bukhari, 59)

Kemudian, hadits dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tunaikan amanah kepada orang yang mempercayakan amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud, 3535); At-Tirmidzi, 1264)

Hadits dari Anas bin Malik radiyallahu’anhu, ia mengatakan, Rasullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Awal mula yang hilang dari agama kalian adalah amanah dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR. Kharaithi dalam Makarimul Akhlaq, hal.28)

Hadits dari Abu Hurairah radiyallahu’anhu, dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “‘Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga (yakni), apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari dan apabila diberi amanah berkhianat.’ (HR Bukhari, 33 dan Muslim, 107)


[Sumber: “Kaifa Yuaddi Al-Muwadhifu Al-Amanah”, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Edisi terjemahan “Cermin Pegawai Muslim, dalam Bimbingan Al-Qur’an & As-Sunnah”, penerjemah Abu Hudzaifah, penerbit Maktabah Al-Ghuroba, cetalan ke-2, Juni 2009.]
kita mengingat DIA , maka DIA juga mengingat kita
bantu up aja smoga pada baca yg muslim
ya ampun..ane bgt ini..maafin ya Alloh..
[Kajian ke-8]
Tema : Tarbiyah


Seorang Pegawai yang Ikhlas dan Sungguh-sungguh dalam Menunaikan Pekerjaannya akan Mendapat Pahala di Dunia & Akhirat

Apabila seorang pegawai/karyawan menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dengan mengharap pahala dari Allah Subhanawata’ala, maka dia telah melepaskan tanggungannya dan berhak mendapatkan upah amalannya di dunia serta mengusung pahala di negeri akhirat. Telah warid (tetap) nash-nash (dalil-dalil) syar’iyah yang menunjukkan bahwa balasan dan pahala itu didapatkan atas amalan/ pekerjaan yang dilakukan oleh setiap insan, namun harus disertai dengan mengharap pahala dan wajah Allah Subhanawata’ala. Allah Subhanawata’ala berfirman (yang artinya),

Tidaklah ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridha’an Allah, maka kelak Kami memberikan kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 144)

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Mas’ud Radiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang laki-laki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dari Allah Azza wa Jalla, maka hal itu terhitung shadaqah baginya.” (HR. Bukhari : 55, Muslim : 1002)

Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu’anhu, “Tidaklah kamu memberikan nafkah dengan mengharap wajah Allah, melainkan kamu akan diberi pahala atasnya, hingga sesuap makanan yang kamu masukkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari : 5354, Muslim : 1628)

Nash-nash ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila menunaikan kewajibannya kepada sesama muslim, berarti dia telah lepas dari tanggungannya dan bahwasanya balasan dan pahala itu didapat dengan ihtisab (mengharap balasan dari Allah) dan (ikhlas) mengharap wajah Allah Azza wa Jalla.

[Sumber: “Kaifa Yuaddi Al-Muwadhifu Al-Amanah”, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Edisi terjemahan “Cermin Pegawai Muslim, dalam Bimbingan Al-Qur’an & As-Sunnah”, penerjemah Abu Hudzaifah, penerbit Maktabah Al-Ghuroba, cetalan ke-2, Juni 2009.]
[Kajian ke-9]
Tema : Tarbiyah


Kriteria Memilih Karyawan dan Pegawai

Asas utama dalam memilih setiap karyawan dan pegawai adalah hendaknya orang tersebut adalah orang yang mampu dan terpercaya, dengan kekuatan dia akan mampu menyelesaikan pekerjaan yang dituntut darinya, dan dengan amanah dia akan menjalankan tugasnya sesuai dengan semestinya, yang dengan hal itu dia telah terbebas dari tanggungan. Sebab dengan amanah dia akan meletakkan tiap perkara pada tempatnya masing-masing dan dengan kekuatan dia akan memapu menyelesaikan kewajibannya. Allah Subhana wata’ala telah mengabarkan tentang salah satu putri saudara kaum Madyan (yakni Syu’aib) bahwasanya dia berkata kepada ayahandanya ketika Nabi Musa ‘Alaihissalam membantu keduanya meminumkan ternaknya (yang artinya),

Wahai Ayahanda ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang ayahanda ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashash: 26)

Allah Subhana wata’ala mengisahkan tentang ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin yang menawarkan kesanggupannya kepada Sulaiman ‘Alaihissalam untuk mendatangkan singasana Ratu Balqis (yang artinya),

Aku akan datang kepadamu dengan membawa singasana itu kepadamu, sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 39)

Maknanya, bahwasanya dia (‘Ifrit) mengumpulkan pada dirinya antara kekuatan membawa singasana tersebut dan menghadirkannya dengan tetap menjaga keutuhannya.

Dan Allah Subhana wata’ala mengabarkan tentang Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bahwasanya dia mengatakan kepada sang Raja (yang artinya),

Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Sedangkan lawan dari kekuatan dan amanah adalah kelemahan dan khianat, keduanya merupakan asas dasar untuk tidak menunjuk/mengangkat seseorang menjadi pegawai/karyawan dan merupakan alasan yang bersifat mendasar untuk menurunkan seseorang dari jabatan/pekerjaan.

Tatkala ‘Umar bin Al-Khathab Radiyallahu’anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu’anhu sebagai gubernur Kufah, kemudian sebagian orang-orang bodoh menjarah kehormatannya dan senantiasa menggunjingnya (menjelek-jelekkan, -pent) di sisi ‘Umar bin Al-Khathab Radiyallahu’anhu, maka ‘Umar Radiyallahu’anhu –pun memiliki pandangan adanya maslahah (manfa’at, -pent) ketika menurunkannya dalam rangka menutup pintu fitnah dan agar tidak ada seorangpun yang menyakitinya.

Akan tetapi ketika ‘Umar Radiyallahu’anhu sakit menjelang kematiannya, beliau menunjuk enam shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk dipilih sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan dalam enam kandidat tersebut salah satunya Sa’ad bin Abi Waqqash Radiyallahu’anhu. Beliau khawatir timbul prasangka ‘Umar menurunkannya dari jabatan gubernur Kufah dikarenakan ketidak-cekatannya dalam memimpin wilayah, maka beliau menafikan semua sangkaan itu dengan ucapan beliau Radiyallahu’anhu, “Apabila pimpinan jatuh kepada Sa’ad, maka kepemimpinan itu miliknya, apabila tidak maka mintalah bantuan kepadanya bagi siapa saja diantara kalian yang terpilih menjadi pemimpin. Karena sesungguhnya aku menurunkan dia bukan dikarenakan dia lemah dan berkhianat.” (HR. Bukhari, 3700)

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar Radiyallahu’anhu, ia berkata, “Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak mengangkatku menjadi pegawai?” Abu Dzar (periwayat hadits) melanjutkan perkataannya, “Maka beliau (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam) menepukkan tangannya ke pundakku, kemudian berkata, ‘Wahai Abu Dzar! Sesungguhnya kamu itu lemah, sedang apa yang kamu minta itu adalah amanah, tidak lain hal itu hanyalah kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban di dalamnya.’.” (HR. Muslim, 1825)

Juga dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar Radiyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Abu Dzar! Aku melihat kamu orang yang lemah. Sedangkan aku mencintai untukmu apa-apa yang aku cintai untuk diriku sendiri. Janganlah kamu memimpin dua orang dan janganlah kamu mengurusi anak yatim.” (HR. Muslim, 1826)

(Note : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa Shahabat Abu Dzar Radiyallahu’anhu terkenal gemar bersedekah, sehingga dikhawatirkan bila ia menjadi pemimpin, akan menghabiskan baitul mal / uang negara untuk dia sedekahkan, -pent)

[Sumber: “Kaifa Yuaddi Al-Muwadhifu Al-Amanah”, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Edisi terjemahan “Cermin Pegawai Muslim, dalam Bimbingan Al-Qur’an & As-Sunnah”, penerjemah Abu Hudzaifah, penerbit Maktabah Al-Ghuroba, cetalan ke-2, Juni 2009.]
[Kajian ke-10]
Tema : Tarbiyah


Menjaga Jam Kerja Untuk Meningkatkan Kualitas Kerja

Wajib bagi setiap pegawai dan keryawan untuk menggunakan jam kerjanya untuk menjalankan tugas khususnya, sehingga dia tidak menyibukkan diri pada jam kerja tersebut dengan urusan lain selain tugas yang wajib dia kerjakan serta tidak menggunakan seluruh jam kerja atau sebagiannya untuk kepentingan pribadi dan tidak pula untuk kepentingan orang lain, apabila memang tidak ada hubungan kerja dengannya. Sebab jam kerja bukanlah milik pegawai dan karyawan, bahkan jam kerja tersebut untuk meningkatkan kualitas kerja yang dia mengambil upah darinya sebagai imbalan.

Syaikh Al-Mu’ammar bin ‘Ali Al-Baghdadi rahimahullah (wafat tahun 507 H) memberikan wejangan dan nasehat kepada para pejabat sipil kerajaan, diantara yang beliau ucapkan pada awal nasehat tersebut adalah, “Sudah menjadi perkara yang maklum –wahai para pemuka Islam!-, bahwasanya salah seorang rakyat memiliki pilihan dalam tujuan dan pelaksanaan (urusan mereka sendiri), apabila mereka mau, mereka meneruskan dan apabila mau, mereka bisa menghentikan. Adapun orang yang memegang wilayah, sama sekali tidak memiliki kebebasan dalam keinginan dan pelaksanaan. Sebab siapa yang diangkat sebagai pemimpin, pada hakekatnya dia adalah pegawai, dia telah menjual waktunya dan telah mengambil harganya., sehingga tidak tersisa lagi baginya dari siangnya waktu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan pilihannya, tidak ada waktu baginya untuk shalat nafilah (sholat sunnah) dan tidak pula masuk i’tikaf...., sebab hal itu hanyalah tambahan, sedangkan ini (yakni tugas yang ia emban) adalah kewajiban yang pasti.

Diantaranya pula ucapan beliau ketika memberikan nasehat, “Makmurkan kuburmu sebagaimana engkau memakmurkan istanamu.” [Dzail Thabaqat Al-Hanabilah karya Ibnu Rajab (1/107)]

Sebagaimana manusia itu senang mengambil upahnya dengan penuh dan sempurna serta tidak suka apabila dikurangi sedikit saja, begitu pula wajib baginya untuk tidak mengurangi sedikit saja dari jam kerjanya untuk dia gunakan selain mengurusi pekerjaannya. Allah Subhana wata’ala telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam menakar dan menimbang, yakni orang-orang yang meminta hak-haknya dipenuhi, namun dia sendiri suka mengurangi hak-hak orang lain.

Allah Subhana wata’ala berfirman (yang artinya), “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (QS. Al-Muthaffifin: 1-6)

[Sumber: “Kaifa Yuaddi Al-Muwadhifu Al-Amanah”, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad. Edisi terjemahan “Cermin Pegawai Muslim, dalam Bimbingan Al-Qur’an & As-Sunnah”, penerjemah Abu Hudzaifah, penerbit Maktabah Al-Ghuroba, cetalan ke-2, Juni 2009.]
wah ditunggu postingan selanjutnya gan cntrl d dulu nih