KASKUS

KJS, kartu sakti yg dilayani setengah hati...

Kartu Jakarta Sehat (KJS) menjadi satu lagi harapan masyarakat miskin mendapatkan akses dan layanan kesehatan. Tapi, praktik di lapangan tak selalu seindah harapan. Berbagai alasan bisa dikemukakan petugas rumah sakit untuk memberikan perhatian minimum pada pasien yang menyodorkan 'kartu sakti' itu saat mendapatkan fasilitas dan layanan kesehatan.

"Coba saja pakai KJS ke rumah sakit. Waktu pendaftaran, baru dikasih surat KJS sudah kelihatan perubahan ekspresi petugasnya," ungkap Siti Nurhasanah atau Mimin (41), warga RT 02 RW 10 Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, saat ditemui Kompas.com, Senin (11/3/2013). Dia adalah seorang pengurus PKK di wilayah Rawa Gatal, Sukapura Jaya, sebutan untuk wilayah di dekat Gading Griya Lestari dan Gading Orchad itu.

Warga yang bermukim di sepanjang kali kecil yang menjadi batas wilayah Cilincing dan Kelapa Gading tersebut umumnya berstatus warga kurang mampu. Bersama Tutu Handayani, istri Ketua RT setempat, Mimin kerap dipercayakan tugas untuk membantu urusan pasien KJS di rumah sakit swasta di wilayah Sukapura.

Pengalaman berkali-kali mendampingi pasien KJS membuat wanita berdarah Sunda ini mafhum, ada sikap yang berbeda terhadap mereka yang mendatangi rumah sakit berbekal KJS. "Kata ditolak tidak pernah disampaikan langsung. Tapi, dari pelayanan dan cara penanganan suster-susternya, kami jadi tahu, kami berbeda," ujar Mimin.

Walaupun sama-sama berstatus pasien, ada sikap berbeda yang diterima pasien dengan KJS dan pasien non-KJS. "Untuk tebus obat di apotek, saya harus tunggu dari jam 11 sampai jam 3 sore. Itu pun karena saya coba tiga kali tanya ke petugasnya. Ibu tua di samping saya malah sudah tunggu sejak jam 9 pagi. Hitung saja sudah berapa lama dia di situ hanya untuk nungguin obat," tutur Mimin, mengisahkan apa yang dialaminya pekan lalu.

Dan kata-kata kasar itu..

Kata-kata kasar, ujar Mimin, bukan pula barang baru yang dia dengar dari petugas rumah sakit. Mimin pun berkisah tentang pengalamannya mendampingi tetangganya yang buta aksara. Kata-kata kasar bermakna pengusiran sempat diterima perempuan tua tersebut dari sebuah rumah sakit swasta di Jalan Tipar Cakung, Sukapura, Cilincing.

Hanya lantaran perempuan tersebut tidak bisa membaca surat perpanjangan perawatan, suaminya nyaris dipulangkan paksa. Suaminya sudah terbaring lebih dari tiga minggu di rumah sakit tersebut sempat akan dipulangkan paksa. "Tanda tangan aja pakai jempol, udah Bu keluar aja, masih banyak yang ngantri kok. Saya masih banyak urusan dengan pasien yang lain," kata Mimin mengutip gerutuan petugas rumah sakit.

Pengalaman terbaru Mimin adalah saat membantu perawatan medis Ana Mudrika (14), putri bungsu pasangan Endang Lukmana (48) dan Royati (38). Bersama keluarga Endang dan Tuti, istri Ketua RT setempat, ia menghabiskan waktu dua hari untuk berkeliling mencari rumah sakit yang bersedia memberikan perawatan medis kepada Ana.

Pagi hingga dini hari berikutnya dijalani mereka dengan upaya mengetuk beberapa rumah sakit di Jakarta Utara. Sementara itu, rumah sakit yang sedang menampung Ana terus mengombang-ambingkan status rawat pasien KJS itu dalam ketidakpastian.

Ana akhirnya meninggal dunia, Sabtu (9/3/2013) pagi di RS Islam Jakarta Sukapura, lantaran penyakit infeksi saluran pencernaan yang dideritanya terlambat ditangani. Namun, kata-kata melecehkan dari petugas medis masih terngiang di ingatan Royati. "Udah, kalau pakai KJS untuk berobat enggak usah bawel," tutur Royati mengulang kalimat seorang petugas medis.

Entah sampai kapan penanganan medis pasien KJS akan dianaktirikan. Yang pasti, rumah sakit sebenarnya tidak dirugikan dengan kehadiran pasien yang bergaransi salah satu program unggulan Provinsi DKI Jakarta itu. Rumah sakit akan tetap mendapatkan ganti dan pembayaran untuk setiap rupiah dan segala layanan yang telah dikeluarkan bagi pasien.

Perbedaannya hanya terletak pada teknis pembayaran. Pasien KJS akan dibayar pemerintah, pasien non-KJS menyediakan uang pribadi untuk layanan dan penanganan medis-nonmedis yang diterima. "Yang jadi pertanyaan saya hanya satu, apa yang ada di nurani mereka saat melayani kami," pungkas Mimin
http://m.kompas.com/news/read/2013/0....--megapolitan
____________________________________
KJS sebuah niat baik Jokowi Ahok melawan kejahatan manusia, menurut kalian siapa yg akan menang?
human eror.... jangan salahkan sistem

Quote:Original Posted By bonjovu
human eror.... jangan salahkan sistem



butuh penyiraman rohani buat manusianya
nanti semua rumah sakit terbiasa dengan KJS kok, yang penting sekarang perlu di maintaining dengan cara kasar para perawat maupun dokternya
Quote:Original Posted By trioda
nanti semua rumah sakit terbiasa dengan KJS kok, yang penting sekarang perlu di maintaining dengan cara kasar para perawat maupun dokternya


kayaknya perlu di-maintain hercules ya gan
Ud jelas program kjs biayanya ditalangi pemerintah.
Intinya rs tetap dibayar sama pemerintah
Meskipun rakyat yg punya kjs berobat scara gratis.
mslh utamanya mngkn trletak di rs ato system yg perlu dibenahi lg
Kalo mau berkaca pada negara maju(korea selatan misalnya) orang sakit tidak bawa akses pihak rumah sakitnya malah bingung..bahkan nyuruh make askes orang lain (berkaca dari pengalaman pribadi)

lha ini dijakarta malah kebalikannya..orang yang make ksj(askes) malah di cemberutin:
yang salah manusianya atau apanya
Itu duit KJS juga duit rakyat para pembayar pajak, tapi yang bayar pajak malah gak ikut nikmatin.

Rakyat harusnya sadar biaya kesehatan itu memang mahal di mana-mana, jangan terus menerus memposisikan diri sebagai korban situasi.
Justru harus bekerja keras, menabung, dan sadar pentingnya punya asuransi. Jangan malah beli barang-barang di luar kemampuan plus anak dibanyakin.

Parahnya lagi, banyak orang yang bangga kalo bisa dapet sesuatu yang gratis ketimbang yang dari hasil kerja kerasnya.
".....Ana akhirnya meninggal dunia, Sabtu (9/3/2013) pagi di RS Islam Jakarta Sukapura, lantaran penyakit infeksi saluran pencernaan yang dideritanya terlambat ditangani. Namun, kata-kata melecehkan dari petugas medis masih terngiang di ingatan Royati. "Udah, kalau pakai KJS untuk berobat enggak usah bawel," tutur Royati mengulang kalimat seorang petugas medis.
......"


Astagfirullah AlAdzim masa sampe segitunya sih pelecehannya ? .
Mudah2 an pengurus RS Islam Jakarta Sukapura bisa memberikan pengarahan kepada staff mereka untuk memberikan pelayanan yang lebih manusiawi kepada semua pasien.
just curious, kalo RS RS yg nerima KJS itu pembayaran dr PEMDA DKI nya lancar gak?

kalo lancar pelayanan gak maksimal emang keterlaluan tuh
kalo dana dr pemerintahnya gak lancar, ya gak bisa nyalahin RS nya juga kalo agak gmn gitu ngelayanin KJS
dont hate the player

hate the game
Quote:Original Posted By wak88hu
".....Ana akhirnya meninggal dunia, Sabtu (9/3/2013) pagi di RS Islam Jakarta Sukapura, lantaran penyakit infeksi saluran pencernaan yang dideritanya terlambat ditangani. Namun, kata-kata melecehkan dari petugas medis masih terngiang di ingatan Royati. "Udah, kalau pakai KJS untuk berobat enggak usah bawel," tutur Royati mengulang kalimat seorang petugas medis.
......"


Astagfirullah AlAdzim masa sampe segitunya sih pelecehannya ? .
Mudah2 an pengurus RS Islam Jakarta Sukapura bisa memberikan pengarahan kepada staff mereka untuk memberikan pelayanan yang lebih manusiawi kepada semua pasien.


sorry gan, kalo menurut ane buat si petugas medisnya tuh pasien mau pake KJS ato bayar sendiri pun emang ada efeknya buat dia???
lha dia mah nerima gaji tok, ya segitu aja dapetnya mau pasennya pake KJS ato gak

kalopun muncul kata2 kayak gitu mungkin muncul karena emosi yg bisa disebabkan oleh berbagai hal
aduh kayaknya hatinya sudah digondol awewe semua pikirannya cuma uang dan uang
Quote:Original Posted By bonjovu
human eror.... jangan salahkan sistem



dont hate the player, hate the game
Emang tuh petugas rumah sakit ĞãЌ punya ati, gimana К̲̣̣Ŀºoº keluarganya sakit dan ngalamin kejadian yang sama
Mungkin ini sebuah proses belajar,buat yg pemda jakarta mesti tingkatkan pelayanan puskesmas spy semua gk lari ke RS, buat pasien jg mentang2 gratis jgn dikit2 lari ke RS,jaga kesehatan,buat tenaga medis jg mesti sadar dgn KJS ternyata bnyk jg org yg gk mampu butuh bantuan,jadi mesti bekerja dgn hati
contohnya mari kita ambil contoh aja dah saat ada kebijakan Busway dlo, langsung rame-kah?

kebijakan itu dimana2 grafik pemantapannya gak ∞
Memang sudah begini mental bangsa ini karena sudah kelamaan menikmati duit gelap, jadi giliran sekarang gak bisa menikmati duit gelap lagi ya jadinya begitu.kalo dulu mau urus ini itu kan duit duluan.

Semoga ke depannya SDM kita bisa berubah ke arah yang lebih baik lagi
Quote:Original Posted By koreawon.aja
Kalo mau berkaca pada negara maju(korea selatan misalnya) orang sakit tidak bawa akses pihak rumah sakitnya malah bingung..bahkan nyuruh make askes orang lain (berkaca dari pengalaman pribadi)

lha ini dijakarta malah kebalikannya..orang yang make ksj(askes) malah di cemberutin:
yang salah manusianya atau apanya


Bukan mau membela Rumah Sakit manapun yah, gan......cuman berkaca dari yang sudah2 termasuk emak ane yg seorang PNS dan dibekalin askes aja dicemberutin sama perawat2 di Rumah Sakit Pemerintah. Untung, temen ane yg dulu kuliah dibantu biaya sama emak ane praktek di R**M, dan menyarankan pindah kesana untuk dirawat intensif dibawah kendali temen ane.

Ane sebenernya pengen tau kenapa kalo segala hal yang berbau dengan pendanaan dari pemerintah untuk pelayanan kesehatan masyarakat, pasti Rumah Sakit di seluruh Indonesia bukan cuman di Jakarta pada alergi level dewa....

Ternyata................

Dari zaman dulu udah ada itu kemudahan pelayanan medis pemerintah non askes di rumah sakit-rumah sakit pemerintah. Pada awalnya, tenaga medis itu baik semua kok sama pasien-pasien kurang mampu. Tapi, setelah jatuh tempo pembayaran, pemerintah daerah seakan-akan melepas tanggung jawab dan menyuruh setiap rumah sakit lapor ke pusat.

Saat banyak RS lapor ke pusat, pemerintah pusat hanya iya-iya saja tanpa ada solusi pasti hingga akhirnya jasa medis yang telah bekerja menjaga pasien-pasien kurang mampu tidak dibayar. Temen ane sendiri mengaku pernah tidak dibayar lebih dari 6 bulan gajinya, karena ya itu tadi....pemerintah kita yg ugal-ugalan. Baik dari Kemenkes maupun pemerintah pusat !!!!
Untung aja dia buka praktek di RS Swasta dan pribadi. Walo setelah itu dibayar sih cuman setengah. Itupun nunggu selama 3 bulan.

Akibat traumatis kejadian ini lah para tenaga medis rame2 protes ke Kemenkes. Apa lacur, protes juga ga ditanggepin dengan alasan dana tidak ada / anggaran tidak mencukupi.

Nah, Jokohok dengan segala kebijakan barunya memang baik, tapi tidak memikirkan efek traumatis yg dialami tenaga medis dulu gara2 pemerintah kita hobi banyol omong kosong. Akhirnya, kembali lagi................pasien miskin dibentak-bentak diusir pulang. Karena para medis yakin kalo pemerintah bakal ugal2 an seperti taun2 sebelumnya............

So, dimaklumi saja dan pemerintah tolong sosialisasikan dengan para tenaga medis sejak mereka di bangku kuliah tentang program ini. Buktikan kepada para tenaga medis, kalo kalian bakal bayar tepat waktu !!!
Jadi, nanti tenaga medis juga engga segan2 mengulurkan tangan kepada pasien kurang mampu bahkan mereka di nomor satukan.............


Mungkin harus dilihat juga dari sudut pandang tenaga medisnya. Pasien membludak sampai2 subuh buta sudah banyak yg antri dan semua pengennya dilayani duluan. Gaji kecil, sangat kecil malah dan lain sebagainya.

Meskipun memang tidak bisa dijadikan alasan tetapi mau terima atau tidak, tenaga medis sekarang sudah jadi barang dagangan politik dengan janji manis pengobatan gratis tetapi kehidupan tenaga medis sendiri dilupakan oleh pemerintah.