13 Final Paling Memilukan di Sepak Bola [Serba 13]
TS
bata.lion
13 Final Paling Memilukan di Sepak Bola [Serba 13]
No Repost :
Spoiler for Check:
Yang namanya babak final selalu berujung pada dua hal: Kemenangan di satu sisi, dan kekalahan di sisi lain. Nah, kesedihan apa saja yang pernah terjadi saat laga final? Kami akan merangkum beberapa kejadian memilukan favorit kami.
Sunderland-Leeds dengan skor 1-0 di final FA Cup 1973
Spoiler for :
Sunderland membuat kejutan besar saat mereka melibas Leeds United 1-0 dalam laga final FA Cup di Wembley.
Leeds adalah tim besar dalam Divisi Satu yang diperkuat dengan 10 pemain internasional dan tampil sebagai juara bertahan, yang meraih tiga gelar juara dari empat laga finalnya, di sisi lain, Sunderland, adalah tim tingkat kedua yang menduduki peringkat ketiga terbawah.
Tidak ada tim dari Divisi Kedua yang pernah memenangkan kompetisi tersebut selama lebih dari 40 tahun, namun tendangan kaki kanan pemain tengah Ian Porterfield berhasil memberikan gol kemenangan, dengan penjaga gawang Sunderland, Jimmy Montgomery yang berjuang melakukan sejumlah penyelamatan gemilang.
Steaua Bucharest kalahkan Barcelona lewat penalti dalam final Piala Eropa 1986
Spoiler for :
Steaua menjadi tim Eropa Timur pertama yang pernah memenangi Piala Eropa di 1986 saat mereka secara luar biasa berhasil menundukkan raksasa Spanyol, Barcelona, yang diunggulkan saat mereka bertanding di Seville.
Penjaga gawang tim asal Rumania, Helmuth Duckadam melakukan banyak aksi penyelamatan gemilang terhadap tendangan yang dilakukan pemain asuhan Terry Venables, yang melatih Barca. Dengan menepis empat tendangan penalti Barcelona, Helmuth membuat timnya meraih kemenangan.
Steaua yang belum pernah memenangkan kompetisi Eropa, di tahun berikutnya langsung berhasil merebut gelar Super Cup, dan menjadi juara kedua dalam Piala Eropa 1989, di bawah AC Milan.
Yunani libas Portugal 1-0 di final Euro 2004
Spoiler for :
Pencapaian Yunani saat memenangkan Euro 2004 dianggap sebagai salah satu kekecewaan terbesar dalam sejarah sepak bola setelah mereka berhasil mengalahkan tuan rumah Portugal dalam pertandingan mendebarkan.
Tim asuhan Otto Rehhagel itu sebelumnya kalah dalam dua pertandingan di babak kualifikasi, serta ditumbangkan Rusia dalam penyisihan grup di Portugal, namun kemenangan mengejutkan atas Spanyol, menundukkan Prancis yang pernah menjadi jawara, lalu melibas Republik Ceko, pada akhirnya membuat mereka menjadi jawara.
Itu adalah pencapaian sebuah tim olahraga yang tidak diduga, membuat para pemainnya mendapatkan pengakuan serta medali dari presiden Yunani saat itu, peringkat sepak bola negara itu juga melejit dari sebelumnya yang menempati posisi 35 saat awal kompetisi menjadi peringkat ke-14.
Uruguay tumbangkan Brazil 2-1 di final Piala Dunia 1950
Spoiler for :
Tidak seperti Piala Dunia lainnya, pemenang Piala Dunia 1950 ditentukan lewat pertandingan final penyisihan grup, dan Brazil sebenarnya hanya perlu menghindari kekalahan untuk mendapatkan trofi kemenangan. Namun Uruguay secara mengejutkan berhasil mengalahkan Brazil di Rio de Janeiro.
Brazil memimpin di babak kedua untuk membalikan permainan, namun Uruguay kembali bangkit dengan gol yang dicetak Juan Alberto Schiaffino dan Alcides Ghiggia, yang diciptakan 11 menit menjelang laga berakhir.
Hasilnya dianggap sebagai kekecewaan terbesar dalam sejarah sepak bola, dan istilah “Maracanazo” yang diidentikkan dengan pertandingan tersebut, tempat tim Uruguay mengangkat trofi penghargaannya di hadapan 173.850 penonton.
Southampton kalahkan Manchester United 1-0 di final FA Cup 1976
Spoiler for :
United tampil sebagai unggulan, yang berada di posisi ketiga dalam Divisi Pertama pada musim itu dengan melawan Southampton yang berada di posisi keenam dalam kompetisi tingkat dua.
Penjaga gawang Southampton, Ian Turner, berhasil melakukan penyelamatan gemilang dari serangan-serangan tim asuhan Tommy Doherty tersebut sampai babak perpanjangan waktu.
Namun Southampton membuat peluang terakhir saat pemain sayap kirinya, Bobby Stokes mencetak gol setelah menerima umpan Jim McCalliog dan menyarangkannya ke gawang Alex Stepney dan membuat kemenangan pertama dalam untuk Southampton dalam kompetisi utama.
Aberdeen bungkam Real Madrid dengan skor 2-1 di final Piala Winners’ Cup 1983
Spoiler for :
Tim asuhan Sir Alex Ferguson muda, Aberdeen, berhasil mengalahkan raksasa Spanyol, Real Madrid dengan skor 2-1 dalam babak perpanjangan waktu di Gothenburg, menjadikannya salah satu kesedihan dalam sejarah kompetisi sepak bola.
Skor yang dicetak Eric Black diimbangkan oleh tendangan Juanito di babak normal, sebelum akhirnya John Hewitt berhasil mencetak gol untuk tim asuhan Fergie tersebut, yang sebelumnya juga meraih kemenangan dengan mengalahkan Bayern Munich di babak perempat final dengan skor 3-2.
Aberdeen menjadi satu-satunya tim Skotlandia yang memenangkan dua gelar Eropa, serta mengalahkan jawara Piala Eropa, Hamburg dan memenangkan Super Cup. Itu juga menjadi kemenangan kedua dan terakhir bagi tim Skotlandia, menyusul kemenangan Ranger di 1972.
Zambia libas Pantai Gading di final African Cup of Nations 2012
Spoiler for :
Kemenangan luar biasa Zambia dalam African Cup of Nations 2012 bukan tanpa alasan.
Sementara tidak satupun pemain Zambia yang merupakan pemain ternama, kecuali Chris Katongo yang menjadi satu-satunya bintang terbesar di tim tersebut, mereka bukanlah tim yang memiliki kemampuan individu yang baik, dengan kemenangan menakjubkan setelah membuat frustrasi tim Pantai Gading dan memenangi adu penalti.
Mungkin gambar yang paling mengharukan adalah saat pelatih Herve Renard mengangkat pemain belakangnya yang cedera, Josep Musonda ke bangku pemain agar bisa bergabung bersama rekan-rekannya saat merayakan kemenangan mereka, pemain belakang senior tersebut menangis setelah mengalami cedera pergelangan kaki di awal pertandingan. Aksi Herve membuat perasaan terharu, dan ia akan selalu dikenang sebagai seorang pahlawan di negara Afrika.
Conventry City pecundangi Tottenham Hotspur 3-2 dalam final FA Cup 1987
Spoiler for :
Spurs tampil dalam final ketiga mereka dalam tujuh musim, mereka telah memenangkan kompetisi itu di 1981 dan 1982 dan menjadi tim favorit saat berhadapan dengan Coventry di ajang final pertama mereka dalam kompetisi domestik.
Dalam salah satu pertandingan terbaik sepanjang waktu, Tottenham langsung memimpin di menit kedua, melalui penyerangnya, Clive Allen, dan Coventry harus menyeimbangkan kedudukan dua kali saat mereka terpuruk.
Pertandingan mereka mengalami perpanjangan waktu, dan sebuah gol dari Gary Mabbitt mengantarkan kemenangan dramatis untuk Coventry seiring gawang Ray Clemence yang sempat dibobol Spur. Para pendukung Coventry masih menyebut “Garry Mabbut’s Knee sebagai penghormatan atas kemenangan timnya.