KASKUS

Repost Korupsi BJB Menggoyang (LHI menelepon Gubernur Jabar sebagai kuasa pegang saham BJB)

Korupsi BJB Menggoyang
Senin, 25/02/2013 | 10:55 WIB


BANDUNG - Posisi Ahmad Heryawan (Aher)-Deddy Mizwar terus melesat meninggalkan pasangan lainnya dalam real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat (Jabar). Hingga pukul 07.30, Senin (25/2), Aher-Deddy unggul sementara dengan meraih 3.124.510 suara atau 32,3%. Bahkan hasil 9 quick count telah menasbihkan Aher-Deddy sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar 2013-2018.

Ironisnya, di tengah euforia kemenangan, gubernur incumbent ini malah tersandung dugaan korupsi Bank Jabar Banten Tbk (BJB/BJBR). Dia diduga terlibat pencairan kredit bermasalah untuk Koperasi Bina Usaha bentukan PT Alpindo Mitra Baja di Sukabumi senilai Rp 38,7 miliar pada 2012.Aher juga diduga terlibat dengan pencairan kredit PT Cipta Inti Parmindo yang bertempat di Surabaya, dimiliki seorang bernama Yudi Setiawan senilai Rp 250 miliar.

Ketua Budget Government Watch Dedi Haryadi menyatakan ada dugaan kredit bermasalah Bank Jabar untuk Koperasi Bina Usaha bentukan PT Alpindo Mitra Baja. Pinjaman sebesar Rp 38,7 miliar pada 2012 itu rencananya dipakai untuk usaha simpan-pinjam 600-an karyawan perusahaan suku cadang alat berat tersebut dan 6.200 nasabahnya. “Pencairan kreditnya begitu mudah karena diduga ada campur tangan Gubernur sebagai pemilik saham mayoritas,” ujar Dedi dikutip dari majalah tempo, Senin (25/2).

Kecurigaan Dedi bersandar pada pemeriksaan Bank Indonesia (NI) pada Agustus-Desember 2012. Dalam audit itu, bank sentral menemukan pemberian kredit tak disertai dokumen yang valid. Data Koperasi, misalnya, tak disahkan oleh Dinas Koperasi Kabupaten Sukabumi. Ada dugaan gaji karyawan dan skala usaha PT Alpindo digelembungkan. Ketika kredit disetujui, uang tak disalurkan langsung ke rekening karyawan, tapi ditarik pejabat Koperasi.

Para auditor bank sentral memberi catatan, Bank Jabar tak memverifikasi laporan keuangan PT Alpindo dan Koperasi Bina Usaha serta tak mengecek kebenaran slip gaji karyawan. Faktanya, gaji karyawan PT Alpindo yang diajukan ke bank jauh di atas upah minimum regional Sukabumi.

Upah minimum di kabupaten ini Rp 890 ribu, sementara Alpindo menyebut gaji minimal pekerjanya Rp 3,8 juta. Akibatnya, total gaji yang dibayarkan Alpindo setahun mencapai Rp 37,9 miliar. Padahal, dalam laporan keuangan, perusahaan hanya mengeluarkan Rp 14,8 miliar.

Skala usaha juga naik fantastis. Dari empat lini usaha senilai Rp 20,9 miliar pada 2010 naik menjadi 17 lini senilai Rp 288,8 miliar setahun kemudian. “Saat diperiksa, memang ada masalah,” kata Lucky Fathul Azis Hadibrata, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Bandung saat kredit dicairkan dan auditor turun lapangan. Lucky kini deputi komisioner Otoritas Jasa Keuangan.

Saat dicek hasil pemeriksaan itu ke PT Alpindo. Perusahaan ini lumayan besar di Cisaat, Sukabumi. Terletak di tengah permukiman penduduk, salah satu pabrik Alpindo berdiri di atas tanah 1,5 hektare.

Menurut Pramudya, seorang pekerja, bekerja dua tahun di Alpindo sebagai pembuat mesin bubut, Pramudya mengaku tak mendapat kredit dari Koperasi Bina Usaha. Bergaji Rp 1,2 juta sebulan, ia kaget ketika diberi tahu gaji minimal karyawan Alpindo Rp 3,8 juta seperti tertera dalam dokumen kredit.

Meski mereka tak mengajukan permohonan pinjaman, rumah Sutisna ikut disigi karena dimasukkan ke daftar peminjam. Sebagai uang tutup mulut, “Saya diberi Rp 200 ribu,” kata Sutisna seperti ditirukan Cecep.

Umumnya karyawan mendapat pinjaman dengan rasio cicilan melewati 30 persen gaji--batas maksimal yang dibolehkan bank. Dedi Junaedi, manajer produksi pengelasan yang bergaji Rp 6,5 juta, misalnya, mendapat pinjaman Rp 100 juta. Tiap bulan gajinya dipotong perusahaan Rp 2.575.000 atau sekitar 40 persen. “Uang pinjaman saya ambil tunai ke Koperasi,” ujarnya.

Ayep Zaki, pemilik PT Alpindo, tak ada di empat pabriknya ketika disambangi. Begitu pula adiknya, Yodi Sirojudin--pemilik saham dan direktur pemasaran. Para karyawan mengatakan bos-bos mereka sedang punya urusan bisnis ke Thailand. Nomor telepon para bos juga tak aktif.

Beralih cerita ke kredit ajaib di BJB Surabaya. Januari 2011, Yudi berkenalan dengan Ahmad Fathanah (AF) dan Elda Adiningrat. Fathanah dan Luthfiah Hasan Ishaaq (LHI) mantan presiden PKS, kini menjadi tersangka suap impor sapi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sementara, Kejaksaan Agung (Kejagung) juga telah menetapkan Komisaris PT Radina Niaga Mulia, Elda Devianne Adiningrat, sebagai tersangka kasus dugaan penyelewengan kredit modal di BJB.

AF,LHI dan Elda mengaku kepada Yudi bisa membantu muluskan kredit di BJB. Yudi saat itu ajukan kredit Rp 76 miliar dengan agunan yang sebenarnya meragukan. Aneh bin ajaib, kreditnya malah disetujui Rp 250 miliar oleh BJB. Yudi menceritakan kuncinya suksesnya adalah lobi intensif dengan petinggi PKS. Ia misalnya rajin bertemu AF dan LHI. Dalam satu pertemuan LHI bahkan tawarkan kredit hingg Rp 500 miliar. Dalam pertemuan itu, LHI,AF & Yudi merancang dana tambahan untuk garap proyek lain senilai Rp 3 triliun di kementerian dan daerah yang dipimpin kader PKS. Yudi mengutip omongan Luthfi : sekarang saatnya mencari dana untuk Pemilu 2014.

Kemudian LHI menelepon Gubernur Jabar sebagai kuasa pegang saham terbesar BJB. Eher dikabarkan berjanji temukan Yudi dengan Komisaris BJB untuk bicarakan kredit baru itu. Dari Rp 250 miliar permintaan kredit, BJB mencairkan Rp 100 miliar .

Ahmad Heryawan menyangkal terlibat dalam pencairan kredit di Bank Jabar. Aher -begitu ia biasa disapa, semula bersedia memberi waktu wawancara dengan syarat pertanyaannya hanya yang berkaitan dengan pemilihan gubernur.

Tapi, ketika didesak pertanyaan seputar kredit Bank Jabar, ia meradang. “Kalau soal itu, saya tak mau,” ujarnya. “Soal kredit itu fitnah besar, gua bisa lawan.”

Dalam debat calon gubernur di sebuah stasiun televisi nasional pekan lalu, Ahmad Heryawan juga pernah pula memberikan keterangan. Atas pertanyaan calon wakil gubernur Teten Masduki tentang dugaan pelanggaran prosedur pengangkatan anggota direksi Bank Jabar, ia menjawab,”Proses seleksi ketiga anggota direksi Bank Jabar dilakukan perseroan bersama tim independen yang anggotanya termasuk pakar manajemen Rhenald Kasali. Saya cuma melantik hasil seleksi mereka.”

Sekadar diketahui, saat BJB RUPS luar biasa untuk tentukan direksi, Gubernur Jabar (kuasa pemegang 38,26% saham) paksakan dua nama meski menurut fit and proper test mereka bukan yang terbaik. Perlawanan datang dari para bupati, pemilik saham minoritas di BJB Herman Sutrisno, Walikota Banjar misalnya mengancam akan menarik dana daerahnya jika kedua kandidat terpilih. Menurut Herman, salah satu direksi yang dijagokan adalah yang setujui kredit Alpindo.

Sumber: http://www.surabayapost.co.id/?mnu=b...067f89cc14862c

Babak baru dimulai...
Sebentar lagi warga Jabar akan memiliki gubernur yang berasal dari kalangan artis



Spoiler for Tambahan Berita Dari Agan:
Quote:Original Posted By RajaBolon
Korupsi BJB Menggoyang

Babak baru dimulai...
Sebentar lagi warga Jabar akan memiliki gubernur yang berasal dari kalangan artis


ini baru halaman pertama,
Gubernur dari kalangan artis, masih jauh halamannya.

jangan terlalu ngebet dulu,
Quote:Original Posted By reyvan3


ini baru halaman pertama,
Gubernur dari kalangan artis, masih jauh halamannya.

jangan terlalu ngebet dulu,


Tenang aja Akhi, KPK sudah mulai mendalami hal ini. KPK itu conviction rate nya 100%, jadi akhi juragan beras tinggal tunggu waktu aja...
sip la Deddy Mizwar jadi gubernur......
Serahkan semuanya ke proses hukum..

Presedennya sudah banyak. Gubsu dulu pas pilkada juga terindikasi korupsi. Setelah dilantik dan kemudian dijadikan tersangka, yang gantiin dia adalah wakilnya.

Di salah satu provinsi juga pernah kejadian, cagub yang menang pilkada batal dilantik karena menjadi tersangka korupsi. Yang dilantik jadi gubernur kemudian adalah runner upnya.

Dalam kasus Aher, jika diasumsikan Aher menang Pilaka, kalo Aher ditetapkan tersangka:

1. Sebelum pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan jadi Gubernur adalah RDP dan wagubnya Teten.

2. Sesuadah pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan naik jadi gubernur adalah Demiz dan wagubnya lowong (biasanya di-PLH-i oleh Sekda Provinsi).

Jadi, kapanpun Aher ditetapkan sebagai tersangka, sepertinya rakyat Jabar memang akan dipimpin oleh artis sinetron hehehehe.

Quote:Original Posted By w4j3g1l3
sip la Deddy Mizwar jadi gubernur......


I
I
I
V


Quote:Original Posted By badass77
Serahkan semuanya ke proses hukum..

Presedennya sudah banyak. Gubsu dulu pas pilkada juga terindikasi korupsi. Setelah dilantik dan kemudian dijadikan tersangka, yang gantiin dia adalah wakilnya.

Di salah satu provinsi juga pernah kejadian, cagub yang menang pilkada batal dilantik karena menjadi tersangka korupsi. Yang dilantik jadi gubernur kemudian adalah runner upnya.

Dalam kasus Aher, jika diasumsikan Aher menang Pilaka, kalo Aher ditetapkan tersangka:

1. Sebelum pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan jadi Gubernur adalah RDP dan wagubnya Teten.

2. Sesuadah pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan naik jadi gubernur adalah Demiz dan wagubnya lowong (biasanya di-PLH-i oleh Sekda Provinsi).

Jadi, kapanpun Aher ditetapkan sebagai tersangka, sepertinya rakyat Jabar memang akan dipimpin oleh artis sinetron hehehehe.



Nice info gan. Apapun yang terjadi, mudah2an yang terbaik utk urang Jabar
ya kalau terbukti salah silahkan di jebloskan ke penjara
yg penting gubernurnya bukan rieke
Wah asyiikk, gubernurku dari kalangan artis sinetron... Horeeeeyyy

-AOC-
Rajamandala, Cianjur
Quote:Original Posted By .kandahar
ya kalau terbukti salah silahkan di jebloskan ke penjara
yg penting gubernurnya bukan rieke


Baca dulu komentar agan diatas loe gan, jangan hepi dulu

Kalo Aher dijadiin tsk pas belom dilantik, yang akan naik adalah runner up pilgub
Lagian yang oon ya yang milih. Udah tau terindikasi korup masih juga dicoblos, hanya karena wakilnya sering nongol di PPT pas bulan puasa

Kalo kaya gitu mindsetnya, kapan Jawa Barat mau maju?!?!?!
890rb di gelembungkan jadi 3,8.jt ,

Banyak bener yg ditilepnya ,


Quote:Original Posted By badass77
Serahkan semuanya ke proses hukum..

Presedennya sudah banyak. Gubsu dulu pas pilkada juga terindikasi korupsi. Setelah dilantik dan kemudian dijadikan tersangka, yang gantiin dia adalah wakilnya.

Di salah satu provinsi juga pernah kejadian, cagub yang menang pilkada batal dilantik karena menjadi tersangka korupsi. Yang dilantik jadi gubernur kemudian adalah runner upnya.

Dalam kasus Aher, jika diasumsikan Aher menang Pilaka, kalo Aher ditetapkan tersangka:

1. Sebelum pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan jadi Gubernur adalah RDP dan wagubnya Teten.

2. Sesuadah pelantikan pada Juni 2013, maka yang akan naik jadi gubernur adalah Demiz dan wagubnya lowong (biasanya di-PLH-i oleh Sekda Provinsi).

Jadi, kapanpun Aher ditetapkan sebagai tersangka, sepertinya rakyat Jabar memang akan dipimpin oleh artis sinetron hehehehe.



Hmm make a sense.

Sekarang bola nya berarti di KPK kalo gitu. Setahu ane KPK paling demen kalo ada kasus gede macem gini, penyidik2nya pasti akan memprioritaskan, bukan karena siapa terindikasi tersangkanya tapi juga besarnya uang negara yang berpotensi hilang/dikorup.
Aahhhhhh nyesel jadinya nih nyoblos nomor sial (angka 4)
semua BUMN dan BUMD pasti diisi ama orang yg ada dlm lingkaran pemimpin negara atau daerah...ga percaya,silakan cari tau sendiri
Quote:Original Posted By firewallshop
td pagi tanya ke adik gw yg di BJB,bener ga yg jd direksi orang Aher semua
jawabnya BENERRRRR


Ya pasti bener lah gan..
KPK mana mau mendalami isu/laporan yang nggak bener?
Bentar lagi juragan beras masuk bui, assoyyy

TEMPO? Tukang Tipu jadi narasumber | Investigasi by @ridlwanjogja

Pagi ini mau ngetweet dg hastag #fiktif ah ..maklum lagi booming yang #fiktif #fiktif
Bismillah dulu supaya berkah, aktivitas apapun kita mulai dengan bismillahirahmanirahiim..
Udah baca Tempo yang soal Aher? Pemenang quickcount pilgub Jabar itu “dicitrakan” sudah membobol Bank Jabar.
Bagi yang belum , bs baca kultwit mas @arifz_tempo di link ini soal kredit http://chirpstory.com/li/56441
Hal 40-42 Tempo artikel berjudul Transfer Rahasia Buat Ustad dengan foto AF, LHI dan Yudi Setiawan sbg narasumber utama.
Foto itu sudah tayang di web tempo saat kasus Sapi. Tapi wajah Yudi masih “disimpan”. link http://www.tempo.co/read/news/2013/0...-Rapat-Beredar
Apakah foto itu hasil cctv? saya kurang yakin, kurang tinggi, tampaknya memang sengaja dipotret diam-diam.
Sebenarnya siapa sih Yudi Setiawan itu? Selain tersangka kasus BJB rupanya dia juga tersangka di kasus2 lain.
Selain kasus korupsi pengadaan alat peraga di Kalsel dia juga tersangka pembobol Bank Jatim di Surabaya.
Warga Klampis Surabaya itu, menurut penyidikan Polda Jatim, memang spesialis pembobol kredit.
Yudi buat 25 CV fiktif dan 6 diantaranya digunakan utk ajukan kredit modal kerja ke Bank Jatim Cab HR Muhammad Srby
“Direktur” CV-CV tersebut tidak lain adalah para karyawan Yudi di PT CIP, mulai staf biasa hingga sopir.
Pengajuan kredit pada Desember 2010 hingga Maret 2011. Kasus sudah disidik Polda Jatim, status Yudi tersangka.
Total terdapat 21 pengajuan yang dilakukan enam CV #fiktif milik Yudi itu.
Hal itu dilakukan karena limit pengajuan kredit yang bisa disetujui oleh cabang hanya Rp 2 miliar.
Total dana kredit yang dicairkan Bank Jatim Cabang HR Muhammad untuk CV palsu Yudi adalah Rp 50,4 miliar.
Setelah kredit cair ke rekening masing-masing debitur, selanjutnya uang tersebut ditransfer ke rekening Yudi.
Bagaimana cara Yudi mendapat persetujuan kredit? Ketua penyidiknya AKBP Indarto menjelaskan begini...
Yudi memalsukan dokumen dari empat Pem kabupaten, yakni Lamongan, Mojokerto, Situbondo, dan Pamekasan.
Yudi dan timnya ahli buat akta palsu, surat palsu, nota palsu, dan kuitansi palsu. Seakan2 mendapat bnyk proyek.
Mereka juga memalsukan stempel yang diperlukan untuk pengajuan kredit. Yudi punya ratusan stempel palsu. Ratusan bro.
Saat gelar perkara di Polda Jatim, ratusan stempel itu dibeber. “Stempel” tandatangan Gub Jatim pun Yudi punya.
Kasus ini dirunning terus semua media (cetak,tv dan online) di Surabaya mulai Oktober 2012. Polda terbuka.
Ketua Penyidiknya pak Indarto dulu Kasubdit Fiskal Moneter dan Devisa Polda Jatim sekarang Kapolres Blitar.
Semalam sdh kontak dan : ”Semua yg diucapkan Yudi susah dipercaya. Ojok gampang percoyo arek iku”
“Yudi iku ahli awu-awu “ Awu-awu bahasa Suroboyoan artinya abal-abal alias palsu. Saat diperiksa pun dia sesumbar.
Kata Indarto, sblm ketangkep, Yudi jadi buron sejumlah Polda. Yudi memiliki stempel #fiktif seluruh Pem Daerah di Indonesia.
Saat ditangkap tim Polda Kalsel di JKT polisi menyita pula sepucuk senpi Yudi yang masa izinnya habis dan 0,2 gram sabu.
Di Klampis Regency srby, Yudi misterius. Seperti AF, hidupnya gelap, tak kenal tetangga. Agen nih ? Satu kantor ? #eaa
Oh ya, penyidik Polda Jatim sudah menyita sepuluh mobil Yudi. Sekarang masih di Polda Jatim.
Lima di antara mobil Yudi itu mewah : Mercedes Benz tipe SL (dua unit), type CLS, Toyota FJ Cruiser, dan Lexus.
Mobil2 Yudi itu disita dari Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Lombok. Selain mobil, uang tunai Rp 5 Miliar juga disita.
Ini dokumen pemuatan berita penyitaan harta Yudi di Jawa Pos 9 -12- 2012.
Apa Gubernur Jatim lantas tersangkut Yudi? Tidak. Kesalahan ada di pimcab Bank Jatim cabang HR Muhammad.
Mantan Kepala Bank Jatim Cabang HR Muhammad yg setujui kredit #fiktif Yudi sudah ditahan bersama stafnya.
Saat diperiksa, mereka mengaku kejar prestasi penyaluran kredit. Proposal Yudi diterima.
Mrk ingin dianggap sukses menyalurkan kredit supaya dapat poin dimata pimpinan. Padahal CV Yudi #fiktif.
Yudi juga menyuap kepala cabang Bank Jatim Jalan HR Muhammad itu sebesar Rp 20 juta saja.
Nah, di berita Tempo, Yudi dikesankan sebagai korban: “Ada yang ingin saya masuk penjara” (halaman 41).
Seolah2 Yudi ini orang bersih, difitnah dan ditahan tiba-tiba saja oleh Polda Kalsel.
Padahal, simple, gugle saja “Yudi Setiawan Bank Jatim “ keluar semua berita dugaan kejahatan Yudi sebelumnya. Coba deh.
Ini sudah saya guglekan, silahkan pilih baca yg mana https://www.google.com/search?q=Yudi...ient=firefox-a
Tapi Kenapa Tempo tdk menuliskan fakta rekam jejak hitam Yudi di Bank JatimSurabaya, dll ini ? Hehe..karena oh karena..
Saya tanya rekan peliput kasus Yudi di Polda Jatim, teman Tempo juga meliput kok soal Yudi di Bank Jatim.
Sbg muslim, yuk kita Husnudzon saja, mungkin karena halaman Tempo yang terbatas, jd fakta siapa Yudi kurang lengkap.
Oh ya..ini penting..ada berita saat Yudi ditangkap sdg bareng Asisten Staf Khusus ehm ehm . http://batam.tribunnews.com/2012/10/...-buron-korupsi
Dlm keterangn Kabidhumas Polda Metro, Yudi adalah “teman lama” Wisnu yang ditulis sbg : Asisten Staf Khusus Presiden !
Skrg terserah Anda, percaya Yudi tersangka kasus korupsi, pemalsuan dll di Kalsel dan Jatim dsb ? atau kang Aher nih ?
Kalau saya sih percaya Kang Aher yg hafidz saja . Anda silahkan lho ya, mau percaya Yudi si master kredit #fiktif monggo, bebas.
Demikian ttg Yudi Setiawan master kredit #fiktif, narasumber utama artikel Tempo utk Aher. Selebihnya mari kita istighfar..

NB:
‏@bangparman_ : Bank Jateng juga kena.... Eva TSK nya.... Mabuuuuurrrrr.... Yg masalah bukan Bank nya.. Tp Krediturnya..

sumber sumbernya

biar berimbang, hehehehe
Quote:Original Posted By mau2kali
Pagi ini mau ngetweet dg hastag #fiktif ah ..maklum lagi booming yang #fiktif #fiktif
Bismillah dulu supaya berkah, aktivitas apapun kita mulai dengan bismillahirahmanirahiim..
Udah baca Tempo yang soal Aher? Pemenang quickcount pilgub Jabar itu “dicitrakan” sudah membobol Bank Jabar.
Bagi yang belum , bs baca kultwit mas @arifz_tempo di link ini soal kredit http://chirpstory.com/li/56441
Hal 40-42 Tempo artikel berjudul Transfer Rahasia Buat Ustad dengan foto AF, LHI dan Yudi Setiawan sbg narasumber utama.
Foto itu sudah tayang di web tempo saat kasus Sapi. Tapi wajah Yudi masih “disimpan”. link http://www.tempo.co/read/news/2013/0...-Rapat-Beredar
Apakah foto itu hasil cctv? saya kurang yakin, kurang tinggi, tampaknya memang sengaja dipotret diam-diam.
Sebenarnya siapa sih Yudi Setiawan itu? Selain tersangka kasus BJB rupanya dia juga tersangka di kasus2 lain.
Selain kasus korupsi pengadaan alat peraga di Kalsel dia juga tersangka pembobol Bank Jatim di Surabaya.
Warga Klampis Surabaya itu, menurut penyidikan Polda Jatim, memang spesialis pembobol kredit.
Yudi buat 25 CV fiktif dan 6 diantaranya digunakan utk ajukan kredit modal kerja ke Bank Jatim Cab HR Muhammad Srby
“Direktur” CV-CV tersebut tidak lain adalah para karyawan Yudi di PT CIP, mulai staf biasa hingga sopir.
Pengajuan kredit pada Desember 2010 hingga Maret 2011. Kasus sudah disidik Polda Jatim, status Yudi tersangka.
Total terdapat 21 pengajuan yang dilakukan enam CV #fiktif milik Yudi itu.
Hal itu dilakukan karena limit pengajuan kredit yang bisa disetujui oleh cabang hanya Rp 2 miliar.
Total dana kredit yang dicairkan Bank Jatim Cabang HR Muhammad untuk CV palsu Yudi adalah Rp 50,4 miliar.
Setelah kredit cair ke rekening masing-masing debitur, selanjutnya uang tersebut ditransfer ke rekening Yudi.
Bagaimana cara Yudi mendapat persetujuan kredit? Ketua penyidiknya AKBP Indarto menjelaskan begini...
Yudi memalsukan dokumen dari empat Pem kabupaten, yakni Lamongan, Mojokerto, Situbondo, dan Pamekasan.
Yudi dan timnya ahli buat akta palsu, surat palsu, nota palsu, dan kuitansi palsu. Seakan2 mendapat bnyk proyek.
Mereka juga memalsukan stempel yang diperlukan untuk pengajuan kredit. Yudi punya ratusan stempel palsu. Ratusan bro.
Saat gelar perkara di Polda Jatim, ratusan stempel itu dibeber. “Stempel” tandatangan Gub Jatim pun Yudi punya.
Kasus ini dirunning terus semua media (cetak,tv dan online) di Surabaya mulai Oktober 2012. Polda terbuka.
Ketua Penyidiknya pak Indarto dulu Kasubdit Fiskal Moneter dan Devisa Polda Jatim sekarang Kapolres Blitar.
Semalam sdh kontak dan : ”Semua yg diucapkan Yudi susah dipercaya. Ojok gampang percoyo arek iku”
“Yudi iku ahli awu-awu “ Awu-awu bahasa Suroboyoan artinya abal-abal alias palsu. Saat diperiksa pun dia sesumbar.
Kata Indarto, sblm ketangkep, Yudi jadi buron sejumlah Polda. Yudi memiliki stempel #fiktif seluruh Pem Daerah di Indonesia.
Saat ditangkap tim Polda Kalsel di JKT polisi menyita pula sepucuk senpi Yudi yang masa izinnya habis dan 0,2 gram sabu.
Di Klampis Regency srby, Yudi misterius. Seperti AF, hidupnya gelap, tak kenal tetangga. Agen nih ? Satu kantor ? #eaa
Oh ya, penyidik Polda Jatim sudah menyita sepuluh mobil Yudi. Sekarang masih di Polda Jatim.
Lima di antara mobil Yudi itu mewah : Mercedes Benz tipe SL (dua unit), type CLS, Toyota FJ Cruiser, dan Lexus.
Mobil2 Yudi itu disita dari Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Lombok. Selain mobil, uang tunai Rp 5 Miliar juga disita.
Ini dokumen pemuatan berita penyitaan harta Yudi di Jawa Pos 9 -12- 2012.
Apa Gubernur Jatim lantas tersangkut Yudi? Tidak. Kesalahan ada di pimcab Bank Jatim cabang HR Muhammad.
Mantan Kepala Bank Jatim Cabang HR Muhammad yg setujui kredit #fiktif Yudi sudah ditahan bersama stafnya.
Saat diperiksa, mereka mengaku kejar prestasi penyaluran kredit. Proposal Yudi diterima.
Mrk ingin dianggap sukses menyalurkan kredit supaya dapat poin dimata pimpinan. Padahal CV Yudi #fiktif.
Yudi juga menyuap kepala cabang Bank Jatim Jalan HR Muhammad itu sebesar Rp 20 juta saja.
Nah, di berita Tempo, Yudi dikesankan sebagai korban: “Ada yang ingin saya masuk penjara” (halaman 41).
Seolah2 Yudi ini orang bersih, difitnah dan ditahan tiba-tiba saja oleh Polda Kalsel.
Padahal, simple, gugle saja “Yudi Setiawan Bank Jatim “ keluar semua berita dugaan kejahatan Yudi sebelumnya. Coba deh.
Ini sudah saya guglekan, silahkan pilih baca yg mana https://www.google.com/search?q=Yudi...ient=firefox-a
Tapi Kenapa Tempo tdk menuliskan fakta rekam jejak hitam Yudi di Bank JatimSurabaya, dll ini ? Hehe..karena oh karena..
Saya tanya rekan peliput kasus Yudi di Polda Jatim, teman Tempo juga meliput kok soal Yudi di Bank Jatim.
Sbg muslim, yuk kita Husnudzon saja, mungkin karena halaman Tempo yang terbatas, jd fakta siapa Yudi kurang lengkap.
Oh ya..ini penting..ada berita saat Yudi ditangkap sdg bareng Asisten Staf Khusus ehm ehm . http://batam.tribunnews.com/2012/10/...-buron-korupsi
Dlm keterangn Kabidhumas Polda Metro, Yudi adalah “teman lama” Wisnu yang ditulis sbg : Asisten Staf Khusus Presiden !
Skrg terserah Anda, percaya Yudi tersangka kasus korupsi, pemalsuan dll di Kalsel dan Jatim dsb ? atau kang Aher nih ?
Kalau saya sih percaya Kang Aher yg hafidz saja . Anda silahkan lho ya, mau percaya Yudi si master kredit #fiktif monggo, bebas.
Demikian ttg Yudi Setiawan master kredit #fiktif, narasumber utama artikel Tempo utk Aher. Selebihnya mari kita istighfar..

NB:
‏@bangparman_ : Bank Jateng juga kena.... Eva TSK nya.... Mabuuuuurrrrr.... Yg masalah bukan Bank nya.. Tp Krediturnya..

sumber sumbernya


biar berimbang, hehehehe


Silakan membela diri, karena setiap orang yang (akan) jadi tersangka bahkan terdakwa diberi ruang untuk membela diri

Yang pasti, bola nya sudah di KPK, dan pasti akan bergulir...... :
Pasukan Korup Sapi mati-matian membela jagoannya hahahaha..

Let's see aja laah dan kita serahkan semuanya kepada KPK.
Quote:Original Posted By RajaBolon


Silakan membela diri, karena setiap orang yang (akan) jadi tersangka bahkan terdakwa diberi ruang untuk membela diri

Yang pasti, bola nya sudah di KPK, dan pasti akan bergulir...... :


Kalo soal membela diri dan main klaim, kan memang mereka tuch jagonya gan kikikikikik..

Yang pasti gue nyesel kemarin milih gubernur yang ternyata calon jadi pesakitan KPK.
Menambah Info kalau Elda saksi kasus suap impor daging sapi menjadi tersangka di kasus korupsi benih dan kredit BJB.


Quote:Original Posted By soipon
Saksi Di KPK Jadi Tersangka Di Kejagung
Diduga Selewengkan Fasilitas Kredit BJB Rp 55 Miliar

Senin, 25 Februari 2013 , 09:52:00 WIB


RMOL. Kejagung menetapkan Elda Devianne Adiningrat (EDA) tersangka kasus dugaan penyelewengan kredit modal Rp 55 miliar. Padahal, nama Eda juga mencuat dalam kasus yang melibatkan bekas Presiden PKS Lutfhi Hasan di KPK.

Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Setia Untung Arimuladi mengatakan, EDA merupakan Komisaris PT Radina Niaga Mulia (RNM). Dalam kasus ini, perusahaan tersangka diduga menerima kredit Bank Pembangunan Jawa Barat dan Banten (BJB).

Namun oleh tersangka, dana yang semestinya dipergunakan untuk kepentingan perusahaannya, disalurkan sebagai modal kerja ke PT Cipta Inti Permindo (PT CIP). Disebutkan, fasilitas kredit RNM semula ditujukan untuk kegiatan pengadaan bahan baku pakan ternak.

Akan tetapi RNM tidak melaksanakan kegiatan tersebut. RNM justru menyerahkan pengadaan bahan baku pakan ternak kepada tersangka YS. Penyertaan modal kerja tersebut, dilatari dugaan bahwa Eda mengenal YS, Dirut PT CIP. “Ada aliran dana dari RNM ke CIP,” ujarnya.

Tentu saja, hal ini menyalahi ketentuan kredit yang diajukan Eda. Terlebih, proses pengembalian kredit itu belakangan diduga bermasalah. Tapi Untung tak mau menjelaskan teknis atau mekanisme pengiriman uang tersebut.

Dia hanya menginformasikan, uang untuk kepentingan produksi bahan baku pakan ternak diduga dimanfaatkan PT CIP untuk mengalihkan pekerjaan sebagai disributor sarana pendidikan ke bisnis pembuatan bahan baku pakan ternak.

“Bukti pengiriman dana sudah disita,” tandasnya. Untung yang dikonfirmasi ikhwal Eda yang diusut KPK dalam kasus korupsi kuota impor daging sapi, menegaskan, persoalan di KPK berbeda dengan yang ditangani kejaksaan.

Dia memastikan, sekalipun nama Eda diduga kesrimpet perkara di KPK, hal itu tak menghalangi pengusutan perkara atas nama tersangka ini. Dengan kata lain, kejaksaan akan tetap mengusut perkara ini hingga tuntas.

Apalagi, selain Eda dan YS, dalam kasus ini Kejagung sudah menetapkan tiga tersangka lain. Tiga tersangka lain dalam kasus ini adalah, bekas Dirut PT E-Farm Bisnis Indonesia (EFBI), DY, Direktur Komersil EFBI, DPS, dan Manajer Komersil BJB cabang Surabaya, ESD.

Mereka ditetapkan sebagai tersangka 22 Januari 2013 lalu. “Tersangkanya sudah lima orang. Yang terakhir, Eda,” tandasnya. Eda ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan, surat perintah penyidikan (sprindik) nomor print-22/F.2/Fd.1/02/2013 tanggal 21 Februari 2013. “Dia ditetapkan sebagai tersangka karena keterangan dari tersangka sebelumnya.”

Untung belum mau merinci secara mendetil, kaitan perusahaan milik tersangka Eda dengan perusahaan tersangka dari EFBI. Menurut dia, masih banyak hal yang perlu dikembangkan. Lagipula, dalam persidangan nanti hal-hal menyangkut hubungan antar perusahaan dan tersangka akan terungkap secara terbuka.

Yang jelas, sampai sejauh ini kejaksaan masih mendalami dugaan keterlibatan pihak lain. Untung bilang, tidak tertutup kemungkinan, tersangka dalam kasus ini bertambah. Pada pengusutan perkara, lanjutnya, Kejagung sudah menggeledah kantor PT CIP dan PT Cipta Terang Abadi (CTA) di Jalan Cipaku I nomor 14 Jaksel, Rabu, 20 Februari 2013.

Dari penggeledahan tersebut, kejaksaan menyita 19 dokumen, tiga hard disk, dan satu keping VCD. Sampai akhir pekan, tim penyidik masih mengidentifikasi barang bukti apakah ada kaitan dengan perkara atau tidak.

Sementara Kepala Biro (Karo) Humas KPK Johan Budi SP menyatakan, penetapan status tersangka Eda oleh kejaksaan sama sekali tidak mempengaruhi penyidikan kasus kuota sapi impor di KPK.

Menurut dia, kasus yang ditangani KPK dan kejaksaan berbeda. Jika KPK memerlukan keterangan Eda, penyidik KPK akan berkoordinasi sebaik-baiknya dengan kejaksaan. Begitupun sebaliknya, KPK membuka kesempatan buat Kejagung untuk menindaklanjuti apa-apa yang terkait dengan perkara Eda.

“Dalam kasus itu dia saksi. Statusnya sudah dicegah ke luar negeri.”

Source

KORUPSI BIBIT
Elda Susul Kaharuddin sebagai Tersangka

Senin, 25 Februari 2013


JAKARTA (Suara Karya): Kejaksaan Agung menetapkan satu tersangka baru dalam kasus korupsi pengadaan bibit tanaman hibrida di Kementerian Pertanian periode 2008--2012, yakni Elda Adiningrat yang merupakan Komisaris PT Radina Niaga Mulia.

Direktur Penyidikan pada Jampidsus, M Adi Toegarisman, Jumat, menyatakan bahwa penetapan tersangka baru itu berdasarkan surat Norint-22/F.2/Fd.1/02/ 2013 tanggal 21 Februari 2013. "EA diduga terlibat bersama empat tersangka lainnya mengingat kedudukan perusahaannya selaku vendor penerima kredit," katanya.

Sebelum Elda, Pidsus Kejagung telah menetapkan empat tersangka dalam kasus yang sama, yakni berinisial Kaharuddin (mantan Direktur Utama PT Sang Hyang Seri), S (karyawan PT Sang Hyang Seri), serta H (Manajer Kantor Cabang PT Sang Hyang Seri Tegal).


Jumat kemarin, penyidik memeriksa 10 saksi, di antaranya Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Utara, Selatan, Barat, Timur, Pringsewu, Tanggamus, Way Kanan, Tulang Bawang, Metro, dan Bandar Lampung.

"Pemeriksaan itu dalam rangka untuk mengetahui pelaksaan pengadaan benih di Provinsi Lampung yang dilakukan oleh PT SHS melalui kantor regional dan cabangnya," kata Adi.

Sebelumnya, penyidik Kejagung telah memeriksa dua pejabat eselon II di lingkungan Kementerian Pertanian, Kamis. Mereka diperiksa intensif oleh penyidik pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus terkait dugaan korupsi pengadaan bibit tanaman hibrida di Kementerian Pertanian periode 2008-2012.

Dua pejabat tersebut adalah Rahman Pinem, mantan Direktur Perbenihan Ditjen Tanaman Pangan yang saat ini menjabat Direktur Budidaya Serelia, dan Bambang Yudianto, Direktur Perbenihan Tanaman Pangan.

Pokok pemeriksaan tersebut untuk mengetahui rencana alokasi kebutuhan kegiatan yang berhubungan dengan program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) sesuai dengan tugas dan kewenangan yang dijabat oleh masing-masing saksi.

Elda juga ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi penggunaan kredit DPD Jawa Barat dan Banten cabang Surabaya kepada PT Cipta Inti Permindo (CIP) yang merugikan negara Rp 55 miliar.

"EA diduga keras terlibat bersama empat tersangka lainnya mengingat kedudukan perusahaannya selaku vendor penerima kredit," katanya. (Jimmy Radjah)

Source

Lengkap sekali Elda yang satu ini, selain jadi saksi kasus suap daging impor di KPK, Elda juga jadi tersangka atas korupsi kredit BJB dan korupsi benih.

Dan kebetulan sekali kasus yang menjerat Elda terkait kementan yaitu daging sapi impor dan bibit.


×