KASKUS

Thumbs up Impor Dibatasi, Buah Lokal Kembali Merajai Pasar

Posted: 01/02/2013 09:30

Liputan6.com, Jakarta : Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyatakan pembatasan impor buah oleh pemerintah sangat menguntungkan buah lokal. Pasalnya, buah dalam negeri bisa kembali membanjiri pasar domestik, sehingga ikut menguntungkan petani lokal.

"Ada impor dibatasi, ya nggak masalah.Kan bisa diganti dengan buah lokal yang tidak kalah bersaing, malah lebih enak," ungkap Sekretaris Jenderal APPSI, Ngadiran ketika dihubungi Liputan6.com, Jumat (1/2/2013).

Meski begitu, Ngadiran mengaku penjualan buah impor di pasar tradisional tidak terpengaruh dengan aturan tersebut. Berbeda dengan toko modern yang menjual buah impor sekitar 80%.

"Toko modern kan mengeluh pembatasan impor karena menjual mayoritas buah impor. Tapi kalau pasar tradisional nggak terlalu banyak," tuturnya.

Dia mengungkapkan kualitas produk lokal dapat dibuktikan karena tidak mengandung bahan-bahan pengawet atau kimia lainnya. Bahkan dari sisi kesehatan, buah lokal mempunyai kandungan gizi yang tinggi.

"Coba saja buah impor bisa bertahan lama, juga kulitnya licin. Bisa begitu diapakan, pakai pengawet atau tidak. Mestinya buah impor di cek dulu melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan. Berbeda dengan buah dari misalnya Malang, Indramayu, Lampung dan daerah lain," imbuhnya.

Dari sisi harga, harga buah lokal terbilang lebih tinggi sekitar Rp 2.000-Rp 3.000 dibanding buah impor. "Contohnya jeruk medan dijual Rp 14 ribu-Rp 15 ribu per kilogram (kg), sedangkan jeruk mandarin hanya Rp 12 ribu per kg," ungkap dia.
sumber :
http://bisnis.liputan6.com/read/5015...-merajai-pasar

Tanpa Pengawet, Saingi Thailand dan Malaysia
Minggu, 27 Januari 2013

Singkawang – Kalbar lagi menyaingi Jakarta soal banjir. Hanya saja, Bumi Khatulistiwa ini lagi dibanjiri berbagai jenis buah. Dari durian hingga lengkeng, dan buah naga pun jadi produk Singkawang serta Kabupaten Pontianak.

“Memang sekarang Singkawang sedang musimnya buah naga dan lengkeng di samping buah-buahan lainnya,” tutur A Ket, pemilik toko buah di Jalan Kom Yos Sudarso Singkawang berbincang dengan RK, kemarin (26/1).

Harap dimaklumi, lengkeng produksi Singkawang atau Anjungan Kabupaten Pontianak sudah menyaingi produksi impor dari Thailand. “Untuk buah naga memang dipasok pemilik kebunnya di Singkawang. Toko buah saya didatangkan dari daerah Sejangkung,” kata A Ket.

Harga lengkeng Singkawang atau Anjungan di Kota Pontianak lebih mahal Rp5-10 ribu dari lengkeng Thailand yang Rp25 ribu. Menangnya, lengkeng lokal kulitnya tipis garing dan manis tanpa pengawet serta aman buat balita.

Buah naga memang ditanam warga Kota Singkawang, terutama yang isinya berwarna merah muda (pink), kalau isinya warna putih biasanya dipasok dari Malaysia. Buah naga lokal Rp30 ribu per kg. “Banyak konsumen yang menginginkan buah naga ini, karena rasanya unik dan lebih enak kalau dijadikan jus,” ungkap A Ket.

Unggulnya produk buah naga lokal adalah awet tanpa pengawet. Buah jenis kaktus ini bisa tahan tanpa masuk kulkas atau ruang pendingin hingga dua minggu. Buahnya besar, biasanya 2-3 buah sudah seberat 1 kg.

Lengkeng Singkawang dijual A Ket Rp35 ribu/kg khusus untuk Lengkeng dari luar Singkawang. Sedangkan lengkeng impor harganya Rp35 ribu.

Seorang warga Jalan Veteran Singkawang, Wawan Husaini, yang sedang membeli buah naga sangat menggemari buah tersebut. “Rasanya enak, manis. Apalagi kalau dijus akan lebih enak lagi, saya lebih suka dibuatkan jus daripada langsung memakannya,” katanya.

Buah naga masuk orde cactus marga Hylocereus dan Selenicereus. Wawan mengatakan menurut beberapa literature, buah ini berasal dari Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tetapi sekarang sudah banyak dibudidayakan di berbagai negara.

Di Asia, negara yang membudidayakannya di antaranya Taiwan, Vietnam, Filipina, Indonesia, dan Malaysia. Dapat pula ditemui di Okinawa, Israel, Australia Utara, dan Tiongkok Selatan.

Sebagai informasi, pada 1879, buah naga ini dibawa orang Prancis dari Guyana ke Vietnam sebagai tanaman hias. Bagi warga Vietnam dan Cina, buah ini dianggap membawa berkah. Oleh karenanya selalu diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar.

Warna merah buah terlihat mencolok di antara warna naga-naga yang hijau. Dari kebiasaan inilah di kalangan warga Vietnam yang sangat terpengaruh budaya Cina dikenal sebagai thang loy (buah naga). Kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris disebut dragon fruit.

Wawan mengatakan buah naga ini rasanya memang unik, sangat khas, dan berbeda dari buah-buah lainnya. “Kalau Adik (kepada wartawan koran ini, red) belum pernah mencicipinya, coba dibayangkan, kalau buah pear berpadu dengan strawberry dalam mulut, begitulah rasa buah naga,” katanya.

Dia tidak mengakui secara pasti manfaat buah naga, tetapi dari informasi yang didapatnya, buah ini dapat mengobati diabetes mellitus (kencing manis), penghalau kanker, memperbaiki sistem peredaran darah, dan menetralisasi zat-zat beracun dalam tubuh.

15 ton per hektare

Kini saatnya jeruk siam digantikan oleh produksi lengkeng, buah naga, pisang, rambutan yang tak putusnya kendati sebagai buah musiman.

Kabupaten Pontianak pun memiliki beragam potensi buah yang menjanjikan. Para petani di Desa Malikian, Kecamatan Mempawah Hilir, mampu menghasilkan 15 ton pisang nipah setiap kali panen. Namun, selama ini pemerintah daerah belum fokus melakukan pembinaan kepada petani hortikultura.

“Hasil produksi pisang di Desa Malikian kurang lebih 10-15 ton setiap bulannya,” ungkap Kepala Desa (Kades) Malikian Sayuti kepada koran ini, Sabtu (26/1) sore.

Selama ini petani hortikultura di desanya mengembangkan perkebunan buah dengan segala keterbatasannya, mandiri tanpa campur tangan dari pemerintah daerah.

“Semuanya dilakukan oleh petani sendiri. Mulai dari bibit, pemeliharaan, hingga panen dilakukan secara mandiri. Belum ada bantuan ataupun semacam bimbingan dari pemerintah daerah,” aku Sayuti.

Terkait pola penanaman, dia menerangkan petani lebih cenderung menerapkan pola tumpang sari. Dalam satu lahan yang ada terdapat dua jenis tanaman. Yakni pohon kelapa dan pisang. Sehingga lahan yang ada efektif digunakan petani untuk mendapatkan dua jenis hasil kebun.

“Awalnya merupakan kebun kelapa, namun untuk memanfaatkan lahan yang masih kosong ditanami pohon pisang. Sehingga petani tidak hanya mendapatkan hasil buah kelapa melainkan juga pisang setiap bulannya,” tuturnya.

Sayuti senantiasa mendorong petani di daerahnya agar lebih giat mengembangkan dan meningkatkan hasil perkebunan tersebut. Hanya saja yang menjadi kendala yakni sulitnya mendapatkan pupuk.

“Hampir tidak ada masalah, hanya saja petani kerap mengeluhkan sulit mendapatkan pupuk di pasaran. Jika pemerintah daerah bisa membantu pupuk tentu akan sangat baik,” pendapatnya.

Ditanya mengenai pemasaran hasil panen, dia mengaku tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan di Kabupaten Pontianak saja melainkan juga daerah lain di Kalbar. Misalnya terutama daerah perhuluan Kalbar.

“Biasanya hasil panen pisang langsung diambil oleh pedagang yang datang langsung ke kebun warga. Atau ada juga petani yang sekaligus merangkap pedagang. Harga jualnya Rp 1.000 per kilogram,” tukasnya.

Sementara itu, Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan (P3K) Agus Sukmadi mengaku pihaknya belum maksimal melakukan pengembangan terhadap bidang hortikultura di masyarakat.

“Belum ada program khusus untuk pengembangan hortikultura. Masalahnya masih terbentur anggaran. Tahun 2012 lalu ada beberapa program yang dilaksanakan provinsi di Desa Antibar. Ada sepuluh hektare yang dikelola untuk sepuluh jenis tanaman buah,” sebutnya.

Saat ini kata Agus, dinasnya mengelola potensi pengembangan buah naga seluas 20 hektare di Kecamatan Segedong yang anggarannya dialokasikan melalui dana tanggap darurat beberapa tahun lalu.

“Buah naga itu akan kita panen Februari mendatang. Jika maksimal, satu hektare akan memproduksi kurang lebih 500 kg buah naga,” ujarnya. (dik/fia)
sumber :
http://www.equator-news.com/utama/20...iland-malaysia

semoga petani indonesia makin sejahtera dan buah lokal merajai pasar indonesia
kalau sayuran dan buah 2 an bagusnya yang dalam negeri soalnya kalau yang impor itu lama di perjalanan jadi nga segar lagi
Alhamdulillah.. ane dr dulu makan buah lokal..
buah inpor dari china itu murah dan rasanya ngalahin buah lokal sejenis termahal sekalipun,
Menurut instruksi presiden jangan lupa budidaya buah lokal mesti ditingkatkan lagi biar kebijakan ini gak sia2 dan tolong pemerintah juga budidayakan buah2 lokal yang mulai langka kayak salak condet di jakarta dan buah2 langka lainnya
buah lokal emang anti bahan pengawet
tapi secara kualitas masih harus ditingkatkan
terutama agar tampilannya menarik
serta harganya minimal sama dengan buah impor atau lebih murah gitu
buah lokal juga gak kalah sebenernya.

btw, masih ada yg jual buah kesemek gak ya
makanya gw pengen kalau perlu pemerintah bikin bumn khusus untuk sektor pertanian. jadi petaninya ntar kaya kerja, sebulan terima gaji. yang jadi masalah besar sekarang itu generasi petaninya yang kurang karena hantaman badai teknologi. anak2nya udah gaul, udah kenal ama yang namanya bebeh ama pesbuk. udah pada males pegang cangkul, pengennya kerja di yomart, indomaret, biar gaul dan bisa pacaran. anak2 cewenya juga udah ogah pacaran ama orang yg profesinya petani ngga keren katanya

kasus nyata terjadi ditempat almarhum nenek gw di nagrek, dulu gw inget betul hampir satu kampung itu profesinya petani, sekarang hampir ngga ada. katanya anak2nya ngga mau jadi petani pengennya jadi buruh di pabrik, swalayan, dll.

udah banyak yang dulu tanahnya sawah, perkebunan, dll sekarang berubah jadi villa punya orang2 berduit, jadi perumahan, dll.

jadi inti permasalah kenapa harus impor2 ya salah satunya karena produsen / petaninya udah berkurang

gw mendukung program transmigrasi di jaman orba untuk dimulai lagi, pulau jawa itu udah sumpek, banyak pengangguran, mending para pengangguran ini didata, trus ditransmigrasi ke suatu daerah dipulau lain, disediakan tanah untuk digarap, dll

bisa jadi kasus daging sapi ala pks ga yah? pengusaha yg biasa impor buah terkpasa nyuap agar diberikan quota impor
mantap, buah2 lokal kmbali mmbanjiri pasar domestik di tanah air.....
wah, ngomongin buah ane jadi ingin belimbing nih
Quote:sehingga ikut menguntungkan petani lokal.

mau ada buah impor atau kaga,
yg UNTUNG BESAR CUMAN TENGKULAK :

petani mah kayak gitu2 aja
itulah negeri ini,
begitu melindungi TENGKULAK daripada PETANI :
buah lokal kan keuntungannya gak pakai pengawet
oke sip, semoga buah lokal merajai lagi

"buah lokal"
IYA MERAJAI DENGAN HARGA MAHAL

SEHINGGA RAKYAT INDONESIA HARUS MENDERITA MEMBELI BUAH DENGAN HARGA LEBIH MAHAL

wah dukuhnya mahal banget skrg

komering 25rb/kilo

ajiiibbb mampus
Quote:Original Posted By masteroforb
IYA MERAJAI DENGAN HARGA MAHAL

SEHINGGA RAKYAT INDONESIA HARUS MENDERITA MEMBELI BUAH DENGAN HARGA LEBIH MAHAL


jngan salahkan PETANI, tapi salahkan TENGKULAK!
pantes sekarang dimana2 duren montong kegusur
mulai dr kaki 5 sampai mall diisi duren medan, palembang, petruk sampai duren kalimantan
Quote:Original Posted By GayusTambunan.

jngan salahkan PETANI, tapi salahkan TENGKULAK!



tengkulaknya calo partai yg diuntungkan dgn kebijakan seperti ini....kasus daging sapi ala pks udh bukti, kebijakan seperti ini bs dimanfaatkan sebagian org utk memperkaya diri...ane bukan ga dukung buah lokal, tapi jalur distribusi dll harusnya diperhatikan dulu supaya harga buah lokal terjangkau dan tidak memberatkan kantong rakyat
Quote:Original Posted By GayusTambunan.

jngan salahkan PETANI, tapi salahkan TENGKULAK!


tengkullak masiih wajar nyarri untung masbro, yg dibelli juga produk dalam negeri
ituung2 ngurangi pengangguran