Makna Puisi Antara Karawang dan Bekasi Karya Chairul Anwar

Quote:

Quote:Kami yang kini terbaring antara Karawang – Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kami mati muda.
Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa

Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan

Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat

Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian

Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang – Bekasi

Oleh: Chairil Anwar


Quote:Pembantaian Rawagede 1947 dan Puisi Karawang-Bekasi

Mungkin sekarang ini kita yang hidup zaman sekarang sudah lupa dengan bait-bait sebuah puisi perjuangan yang ditulis oleh maestro penyair modern Indonesia, Chairil Anwar.

Yah, puisi itu adalah Karawang-Bekasi, sebuah puisi yang memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat sekitar Karawang sampai Bekasi. Puisi yang menggambarkan bagaimana beratnya mempertahankan kemerdekaan yang diproklamirkan oleh kedua Bung besar kita, Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945.

Puisi itu adalah bukti nyata bagaimana pedihnya kesedihan yang dirasakan oleh para anggota keluarga yang ditinggalkan sekaligus juga bukti nyata bagi kesadisan perang yang dilakukan oleh tentara NICA Belanda.




Tiga Bapak Karawang-Bekasi – Bung Syahrir, Bung Karno & Bung Hatta



Para pejuang kita yang ditawan Penjajah Belanda di Rawa Gede Karawang

Quote:Demikianlah sajak yang ditulis oleh Chairil Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949) pada tahun 1948, untuk mengungkapkan perasaannya terhadap situasi perang melawan tentara Belanda waktu itu. Sajak ini dapat diresapi dan dimengerti maknanya, apabila kita berdiri di hadapan makam dari ratusan korban pembantaian tentara Belanda di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, dekat Karawang, dan mendengarkan berbagai kisah pilu dari para korban, janda korban dan anak-cucu korban pembantaian.

Quote:Pada 9 Desember 1947, dalam agresi militer Belanda I yang dilancarkan mulai tanggal 21 Juli 1947, tentara Belanda membantai 431 penduduk desa Rawagede, yang terletak di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, ketika tentara Belanda menyerbu Bekasi, ribuan rakyat mengungsi ke arah Karawang, dan antara Karawang dan Bekasi timbul pertempuran, yang juga mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa di kalangan rakyat. Pada 4 Oktober 1948, tentara Belanda melancarkan “sweeping” lagi di Rawagede, dan kali ini 35 orang penduduk dibunuh.





Monumen rawagede Karawang-Bekasi Tempat para pejuang kita melakukan perlawanan sengit melawan penjajah belanda.


Tugu kebulatan tekad Karawang-Bekasi


Quote:Makna dari puisi Karawang-Bekasi adalah :

Para pahlawan yang dimakamkan sepanjang jarak Karawang-Bekasi seakan mengatakan pada kita bahwa mereka sudah tidak dapat berteriak lagi. Tetapi mereka merasa yakin bahwa tidak ada yang lupa terhadap deru semangat saat mereka maju ke medan perang. Mereka telah tidur panjang di pemakaman sepanjang Karawang-Bekasi.

Walaupun mereka mati muda, tetapi semangat mereka tetap membara. dan terus membahana di langit malam yang sepi. Mereka selalu berharap agar pada malam- malam sepi dan hening, keberadaan mereka tetap dikenang sebagai sosok-sosok yang tiada henti berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan negara ini. Mereka menyadari bahwa mereka hanya tulang-tulang belulang yang berserakan, dan kita yang menentukan nilai dari tulang-tulang tersebut.

Semangat perjuangan mereka begitu bergelora, walau kemudian mereka terpaksa harus mati muda. Tetapi, semangat kepahlawanan mereka tidak pernah padam. Setiap saat, rasanya mereka bangkit dan ikut maju ke medan perang. Bagi mereka, pekerjaan belumlah selesai. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi kematian telah menyergap mereka sehingga tidak dapat lagi membuat perhitungan atas gugurnya 4 sampai 5 ribu sahabat mereka.

Kenang, kenanglah kami, adalah sebagian ungkapan yang dituliskan oleh Chairil Anwar sebagai bentuk harapan tulus. Mereka hanya ingin keberadaan mereka tidak dilupakan begitu saja sebab bagi mereka negeri ini adalah jiwanya.

Pengharapan para pahlawan tidak pernah berbatas. Mereka tetap berharap untuk dapat menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir. Mereka tidak rela para pimpinan negeri mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itulah, mereka menitipkan dan berharap agar para pimpinan tetap dijaga.

Dan, meskipun mereka telah terbaring dalam pemakaman sepanjang jarak antara Karawang-Bekasi, tetapi mereka tetap memberikan semangat perjuangan yang tidak ada habisnya. Inilah pengharapan tak berbatas yang sepertinya ingin mereka katakan. Walaupun sebenarnya, mereka telah menjadi tulang belulang yang berserakan antara Karawang-Bekasi.


Quote:Biografi Chairil Anwar

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku ) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC. Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.


Quote:Karya tulis yang diterbitkan
Deru Campur Debu (1949)
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
"Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
Derai-derai Cemara (1998)
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck


Sumber 1

Sumber 2


Quote:Jangan lupa kasih cendolnya gan

Quote:Ga nerima
received update ah

Pertamax di thread sendiri
cia cia cia cia cia

gagal maning rek rek...

sek ta raba dulu tulisannya gan...
ane pernah diceritain guru ane tapi tetep aja gak mudeng
setelah lihat thread ini jadi lebih mudeng gan
Quote:Original Posted By Hirokita.Maki
cia cia cia cia cia

gagal maning rek rek...

sek ta raba dulu tulisannya gan...


maap ya gan kedahuluan pertamaxnya


Quote:Original Posted By mylife99
ane pernah diceritain guru ane tapi tetep aja gak mudeng
setelah lihat thread ini jadi lebih mudeng gan


makasih gan dah mampir. kata bung karno JAS MERAH gan. jangan skali2 melupakan sejarah.

Calon HT ini sampe sedih ane baca puisi itu
calon HT nih.

terakhir kali baca puisi itu pas ane smp gan, 9 tahun yg lalu.
Quote:Original Posted By tmpx...sudo
Calon HT ini sampe sedih ane baca puisi itu


iya gan, itu tentang perjuangan pahlawan kita.

Quote:Original Posted By Riproduction
calon HT nih.

terakhir kali baca puisi itu pas ane smp gan, 9 tahun yg lalu.


wah udah lama jg ya gan.
Quote:Original Posted By mylife99
ane pernah diceritain guru ane tapi tetep aja gak mudeng
setelah lihat thread ini jadi lebih mudeng gan


Sama gan.

Ternyata memang ada hubungannya sama peristiwa rawagede, yg bbrp waktu lalu jadi berita. Waktu ane sekolah dulu itu puisi sering dibahas di pelajaran bhs ind, tapi soal rawagede taun 1947 ngga dibahas di pelajaran sejarah.

Makanya, ane baru bisa ngerti isi puisi itu skrg2 ini.
waktu ane sd di jelasin ini gak mudeng tapi ane baca dari tread ini baru ane pahammatabelomatabelo
bagus gan threadnya, ane bantu vote ya biar HT
teringat guru ane gan
wah baru sadar bermakna bgt
wah tentang perjuangan ya gan
Quote:Original Posted By Jombloholik


Sama gan.

Ternyata memang ada hubungannya sama peristiwa rawagede, yg bbrp waktu lalu jadi berita. Waktu ane sekolah dulu itu puisi sering dibahas di pelajaran bhs ind, tapi soal rawagede taun 1947 ngga dibahas di pelajaran sejarah.

Makanya, ane baru bisa ngerti isi puisi itu skrg2 ini.

iya, wah ada berita di tv gan? ane g tau ada beritanya.
nah itu dia dulu kan sejarah masih dibawah orde baru. jadi yg bagus2 di orde lama dihilangkan.

Quote:Original Posted By kucing.kentir
waktu ane sd di jelasin ini gak mudeng tapi ane baca dari tread ini baru ane pahammatabelomatabelo

wah, emang dulu diajarinnya gimana gan?

Quote:Original Posted By yudhabcasd
bagus gan threadnya, ane bantu vote ya biar HT

makasih ya gan udah di vote..

Quote:Original Posted By wewonit5times
teringat guru ane gan

pasti dulu dipanggil baca puisi di depan kelas ya gan?


Quote:Original Posted By 4cloverfield
wah baru sadar bermakna bgt


iya gan, puisi chairul anwar emang dalem maknanya

Quote:Original Posted By anti.munyuk
wah tentang perjuangan ya gan


yup, betul gan. puisi2 jaman dulu bertemakan perjuangan gan.
sepi nih.
ane merinding gan bacanya.
Quote:Original Posted By lkaisar
ane merinding gan bacanya.


Kenapa merinding gan?
mantap ni ... gw sebagai pendatang jadi tau tentang karawang
jadi tau gw sebagai pendatang