KASKUS

Filosofi Kujang(Urang sunda asub)

mohon mangap sebelumnya, ane newbie, mudah mudahan ga repost

KAJIAN FILOSOFIS DAN SIMBOLIS KUJANG

Pengertian Kujang

Kujang dalam kaidah keilmuan termasuk ke dalam kategori Tosan Aji. Kedudukan tosan aji berada diatas senjata dan perkakas. Tosan Aji menurut berbagai sumber, mengandung pengertian dasar besi yang dimuliakan , diagungkan atau disakralkan.

Kujang diciptakan oleh seorang Guru Teupa (Djati Sunda Anis, 1996-2000), setingkat dengan seorang Mpu pencipta keris. Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa ada beberapa nama Mpu dari zaman Pajajaran, seperti Mpu Windu Sarpa Dewa (Pajajaran Mangukuhan/Pajajaran Awal (Kuntjoro Slamet, 2000), Mpu Ni Mbok Sombro, Mpu Kuwung, Mpu Loning, selain menciptakan keris juga menciptakan Kujang

Kujang dan berbagai jenis tosan aji lainnya diciptakan dalam waktu yang lama, bahkan menurut berbagai sumber, ada yang diciptakan hingga memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini sebuah bukti sejarah bahwa Kujang diciptakan untuk kepentingan fungsi Simbolis, dimana Nilai-Nilai luhur “Ditanamkan” di dalam perupaannya.

Berbagai jenis tosan aji (kujang, keris, dan sebagainya) berfungsi simbolis dan bermaknafilosofis, tidak diperuntukan secara aplikatif atau praktis.

Sebuah kujang atau jenis tosan aji lainnya, diciptakan untuk kepentingan individu dalamsistematika negara purba (Nagara Kartagama), di mana riwayat hidup seseorang terekam di balik perupaannya.

Kujang bagi orang Sunda merupakan piandel atau berfungsi sebagai penguatan karakter ataujati diri, karena kujang merupakan simbol dari kosmologi Sunda (mikrokosmos/jagat leutik dalam bahasa Sunda) dan Kosmogoni Sunda (makrokosmos/jagat gede dalam bahasa Sunda).

Selain dari fungsi piandel, kujang dinal juga dengan sebutan gagaman atau sebuah perlambang bagi manusia Sunda yang sudah memiliki ageman atau disiplin ilmu tertentu. Kujang berfungsi pula sebagai simbol dari etika /atikan Sunda dan estetika/anggitan Sunda.

Kujang dijadikan sebagai lambang berbagai lembaga, seperti: Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Pemda Bogor, Lembaga Pendidikan besar (UNPAD dan UNPAS), Divisi Angkatan Darat dan sebagainya, juga berbagai tugu Kujang didirikan (Badung, Bogor, Depok, Tasikmalaya dan berbagai tempat lainnya) merupakan sebuah bukti bahwa kujang berfungsi secara simbolis dan bermakna filosofis yang luhur.

Sisi tajam yang ada pada bilah kujang merupakan lambang dari “ketajaman

ilmu”, yang sama sekali tidak berfungsi secara aplikatif (sebagai alat tikam atau alat iris) atau bentuk mengikuti fungsi (forms follow function).

Berdasarkan observasi penulis bahwa kujang diciptakan dengan latar belakang kearifan budaya Sunda, yang secara umum sama dengan berbagai jenis tosan aji lainnya di Indonesia.

Disiplin Penamaan Kujang

Penamaan dapuran kujang harus menjadi sebuah kesepakatan untuk sebutan akan sesuatu berdasarkan bentuk, jenis, fungsi, atau berbagai hal yang berkaitan erat dengan sejarah kujang itu sendiri.

Penamaan dapuran kujang memiliki disiplin tersendiri. Etika penempatan kata “KUJANG” HARUS disimpan di DEPAN, dan kemudian keterangan DAPURANNYA atau disiplin perupaannya.

Seperti contoh:

KUJANG CIUNG, KUJANG BADAK, KUJANG KUNTUL,

KUJANG NAGA, KUJANG WAYANG,KUJANG BANGO,

KUJANG CANGAK KUJANG BALATI, KUJANG BANGO dan lain Sebagainya. Secara umum keberadaan Tosan Aji (termasuk KUJANG) di Indonesia DAKUI oleh PBB.

Adalah sebuah KERANCUAN YANG NYATA apabila kujang di katagorikan sebagai SEBILAH PISAU (Pisau kujang), berdasarkan hasil kajian dan analisa penulis (dalam penelitian berupa tesis), hal ini merupakan isltilah yang SANGAT KELIRU. Penggunaan istilah tersebut merupakan buktiKETIDAKPAHAMAN dan tidak berlandaskan pada ANALISA ILMIAH yang konprehensif. Hal ini pun akan berdampak pada KETERSINGGUNGAN MASYARAKAT SUNDA dan MASYARAKAT PECINTA TOSAN AJI yang sangat menjunjung tinggi nilai Budaya.

Apalagi bila dihubungkan kepada penggunaan LAMBANG KUJANG pada berbagai Instansi yang menggunakannya, seperti; UNPAD, UNPAS, PEMDA PROVINSI JABAR, KOTA BOGOR, PAGUYUBAN PASUNDAN, DIVISI TNI AD, BERBAGAI PERGURUAN SILAT, SANGGAR SENI, PT.PUPUK KUJANG, LEMBAGA BUDAYA dan berbagai lembaga lainnya.

Sumber : [url]http : // atlantissunda. wordpress.com/ 2011/10/17/kajian-filosofis-dan-simbolis-kujang/[/url]
Quote:Original Posted By kurniaanggarosa
Sekilas Tentang Kujang

Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi. Manusia yang sempurna dihadapan Allah dan mempunyai derajat Ma’rifat yang tinggi. Pantas ageman (agama) Kujang menjadi icon Prabu Siliwangi. Sebagai Raja yang tidak terkalahkan.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Kujang sebagai sebuah senjata andalan (gagaman) umumnya mempunyai ciri-ciri khusus sebagai kelebihannya, umumnya berbahan pamor. Pamor adalah motif, corak, atau kontur tertentu pada bilah sebuah senjata tajam yang dihasilkan dari penggunaan berbagai material, pembakaran, dan teknik penempaan logam. Kujang pamor sebagai sebuah gagaman atau pusaka, umumnya tidak digunakan secara langsung dalam sebuah perkelahian. Kujang biasanya dijadikan sebagai teman berperang (batur ludeung) atau senjata pamungkas di samping sebagai simbol dari si pemegangnya.

Kujang sebagai sebuah perkakas di antaranya adalah sebagai pisau dapur, kujang bangkong yang penulis dapatkan dari Wanaraja Garut dan sekarang menjadi koleksi Museum Sri Baduga Jawa Barat; sebagai kelengkapan upacara di antaranya adalah kujang yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut; dan sebagai sebuah simbol di antaranya adalah kujang jago (bentuknya mirip dengan figur ayam jago yang sedang berkokok), penulis dapatkan sebagai hadiah dari seorang kerabat.

Bagian-bagian kujang

wah pembahasan yang sangat menarik kang,sy pingin tanya..
kan disebut tosan aji,di atas perkakas dan senjata..
nah bisa disambungkan ga sama misalnya gaya hidup,cth. yg punya kujang zaman dulu adalah para raja gt kang?
request gbr kang boleh,kujang ciung,kujang badak, dll,heheh
maap bnyk tanya,nubie kang..
Quote:Original Posted By kurniaanggarosa
mohon mangap sebelumnya, ane newbie, mudah mudahan ga repost

KAJIAN FILOSOFIS DAN SIMBOLIS KUJANG

Pengertian Kujang

Kujang dalam kaidah keilmuan termasuk ke dalam kategori Tosan Aji. Kedudukan tosan aji berada diatas senjata dan perkakas. Tosan Aji menurut berbagai sumber, mengandung pengertian dasar besi yang dimuliakan , diagungkan atau disakralkan.

Kujang diciptakan oleh seorang Guru Teupa (Djati Sunda Anis, 1996-2000), setingkat dengan seorang Mpu pencipta keris. Dalam berbagai sumber dinyatakan bahwa ada beberapa nama Mpu dari zaman Pajajaran, seperti Mpu Windu Sarpa Dewa (Pajajaran Mangukuhan/Pajajaran Awal (Kuntjoro Slamet, 2000), Mpu Ni Mbok Sombro, Mpu Kuwung, Mpu Loning, selain menciptakan keris juga menciptakan Kujang

Kujang dan berbagai jenis tosan aji lainnya diciptakan dalam waktu yang lama, bahkan menurut berbagai sumber, ada yang diciptakan hingga memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini sebuah bukti sejarah bahwa Kujang diciptakan untuk kepentingan fungsi Simbolis, dimana Nilai-Nilai luhur “Ditanamkan” di dalam perupaannya.

Berbagai jenis tosan aji (kujang, keris, dan sebagainya) berfungsi simbolis dan bermaknafilosofis, tidak diperuntukan secara aplikatif atau praktis.

Sebuah kujang atau jenis tosan aji lainnya, diciptakan untuk kepentingan individu dalamsistematika negara purba (Nagara Kartagama), di mana riwayat hidup seseorang terekam di balik perupaannya.

Kujang bagi orang Sunda merupakan piandel atau berfungsi sebagai penguatan karakter ataujati diri, karena kujang merupakan simbol dari kosmologi Sunda (mikrokosmos/jagat leutik dalam bahasa Sunda) dan Kosmogoni Sunda (makrokosmos/jagat gede dalam bahasa Sunda).

Selain dari fungsi piandel, kujang dinal juga dengan sebutan gagaman atau sebuah perlambang bagi manusia Sunda yang sudah memiliki ageman atau disiplin ilmu tertentu. Kujang berfungsi pula sebagai simbol dari etika /atikan Sunda dan estetika/anggitan Sunda.

Kujang dijadikan sebagai lambang berbagai lembaga, seperti: Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Pemda Bogor, Lembaga Pendidikan besar (UNPAD dan UNPAS), Divisi Angkatan Darat dan sebagainya, juga berbagai tugu Kujang didirikan (Badung, Bogor, Depok, Tasikmalaya dan berbagai tempat lainnya) merupakan sebuah bukti bahwa kujang berfungsi secara simbolis dan bermakna filosofis yang luhur.

Sisi tajam yang ada pada bilah kujang merupakan lambang dari “ketajaman

ilmu”, yang sama sekali tidak berfungsi secara aplikatif (sebagai alat tikam atau alat iris) atau bentuk mengikuti fungsi (forms follow function).

Berdasarkan observasi penulis bahwa kujang diciptakan dengan latar belakang kearifan budaya Sunda, yang secara umum sama dengan berbagai jenis tosan aji lainnya di Indonesia.

Disiplin Penamaan Kujang

Penamaan dapuran kujang harus menjadi sebuah kesepakatan untuk sebutan akan sesuatu berdasarkan bentuk, jenis, fungsi, atau berbagai hal yang berkaitan erat dengan sejarah kujang itu sendiri.

Penamaan dapuran kujang memiliki disiplin tersendiri. Etika penempatan kata “KUJANG” HARUS disimpan di DEPAN, dan kemudian keterangan DAPURANNYA atau disiplin perupaannya.

Seperti contoh:

KUJANG CIUNG, KUJANG BADAK, KUJANG KUNTUL,

KUJANG NAGA, KUJANG WAYANG,KUJANG BANGO,

KUJANG CANGAK KUJANG BALATI, KUJANG BANGO dan lain Sebagainya. Secara umum keberadaan Tosan Aji (termasuk KUJANG) di Indonesia DAKUI oleh PBB.

Adalah sebuah KERANCUAN YANG NYATA apabila kujang di katagorikan sebagai SEBILAH PISAU (Pisau kujang), berdasarkan hasil kajian dan analisa penulis (dalam penelitian berupa tesis), hal ini merupakan isltilah yang SANGAT KELIRU. Penggunaan istilah tersebut merupakan buktiKETIDAKPAHAMAN dan tidak berlandaskan pada ANALISA ILMIAH yang konprehensif. Hal ini pun akan berdampak pada KETERSINGGUNGAN MASYARAKAT SUNDA dan MASYARAKAT PECINTA TOSAN AJI yang sangat menjunjung tinggi nilai Budaya.

Apalagi bila dihubungkan kepada penggunaan LAMBANG KUJANG pada berbagai Instansi yang menggunakannya, seperti; UNPAD, UNPAS, PEMDA PROVINSI JABAR, KOTA BOGOR, PAGUYUBAN PASUNDAN, DIVISI TNI AD, BERBAGAI PERGURUAN SILAT, SANGGAR SENI, PT.PUPUK KUJANG, LEMBAGA BUDAYA dan berbagai lembaga lainnya.

Sumber : [url]http : // atlantissunda. wordpress.com/ 2011/10/17/kajian-filosofis-dan-simbolis-kujang/[/url]


Kan atos aya di payun kang.
nembe terang nu model kieu ... pami tiasa gambarna sakantenan kang ...
nuhun ah
lanjut gan
yoi agan.. pami aya gambarna sakantenan

waruga kujang

FYI

lamun bade tumaros tentang Kujang jeung sajabana anu berkaitan dina eta kujang... tiasa ditaros keun ka kang Budi Dalton Ketua Bikers Brotherhood...



dy punya koleksi nya byk gan... klo mw ayo ane ikut gan... klo mw PM aja... ane jg penasaran sie sbnr nya ingin tw lbh byk lg soal kujang...
sundul weh ah kang
mun tiasa bahasan kujang na make foto kang
ngiringan ngariung sareng baraya didieu ah ...
Punten yeah ka akang akang sadayana, sebenarnya saya juga awam sama yang namanya Kujang. berhubung saya punya dirumah peninggalan alm bapak saya, makanya saya nyari tau buat apa sih piso kujang sebenarnya. setelah tau, dari pada saya tau sendiri mending saya bagi bagi. jadi kalo pengen tau lebih dalam mungkin bisa tanya sama dedengkot Brother Hood.CMIIW
Quote:Original Posted By kurniaanggarosa
Punten yeah ka akang akang sadayana, sebenarnya saya juga awam sama yang namanya Kujang. berhubung saya punya dirumah peninggalan alm bapak saya, makanya saya nyari tau buat apa sih piso kujang sebenarnya. setelah tau, dari pada saya tau sendiri mending saya bagi bagi. jadi kalo pengen tau lebih dalam mungkin bisa tanya sama dedengkot Brother Hood.CMIIW


Coba kang dipaparkan disini penjelasan dr aa budinya..
Quote:Original Posted By DoyanTretes
lamun bade tumaros tentang Kujang jeung sajabana anu berkaitan dina eta kujang... tiasa ditaros keun ka kang Budi Dalton Ketua Bikers Brotherhood...



dy punya koleksi nya byk gan... klo mw ayo ane ikut gan... klo mw PM aja... ane jg penasaran sie sbnr nya ingin tw lbh byk lg soal kujang...


Quote:Original Posted By BramDerisco


Coba kang dipaparkan disini penjelasan dr aa budinya..


Boleh tuh kang, kang budinya di undang kesini. kali aja jadi banyak orang

yang lebih mengerti tentang budaya yang menjadi lambang daerahnya....

Btw, maaf yah, saya ga pake susundaan. soalnya basa sunda saya mah

basa sunda jalanan...., takut menyinggung...

Quote:Original Posted By kurniaanggarosa
Punten yeah ka akang akang sadayana, sebenarnya saya juga awam sama yang namanya Kujang. berhubung saya punya dirumah peninggalan alm bapak saya, makanya saya nyari tau buat apa sih piso kujang sebenarnya. setelah tau, dari pada saya tau sendiri mending saya bagi bagi. jadi kalo pengen tau lebih dalam mungkin bisa tanya sama dedengkot Brother Hood.CMIIW


mulia pisan si akang niatna...



Quote:Original Posted By divergirl
mulia pisan si akang niatna...




mulia mah ade saya kang, saya kakaknya

tur nuhun kang
ngantosan apdetan perkawis kujang...
Sekilas Tentang Kujang

Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi. Manusia yang sempurna dihadapan Allah dan mempunyai derajat Ma’rifat yang tinggi. Pantas ageman (agama) Kujang menjadi icon Prabu Siliwangi. Sebagai Raja yang tidak terkalahkan.

Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406)

Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.

Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.

Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

Kujang sebagai sebuah senjata andalan (gagaman) umumnya mempunyai ciri-ciri khusus sebagai kelebihannya, umumnya berbahan pamor. Pamor adalah motif, corak, atau kontur tertentu pada bilah sebuah senjata tajam yang dihasilkan dari penggunaan berbagai material, pembakaran, dan teknik penempaan logam. Kujang pamor sebagai sebuah gagaman atau pusaka, umumnya tidak digunakan secara langsung dalam sebuah perkelahian. Kujang biasanya dijadikan sebagai teman berperang (batur ludeung) atau senjata pamungkas di samping sebagai simbol dari si pemegangnya.

Kujang sebagai sebuah perkakas di antaranya adalah sebagai pisau dapur, kujang bangkong yang penulis dapatkan dari Wanaraja Garut dan sekarang menjadi koleksi Museum Sri Baduga Jawa Barat; sebagai kelengkapan upacara di antaranya adalah kujang yang tersimpan di Kabuyutan Ciburuy di Kecamatan Cigedug Kabupaten Garut; dan sebagai sebuah simbol di antaranya adalah kujang jago (bentuknya mirip dengan figur ayam jago yang sedang berkokok), penulis dapatkan sebagai hadiah dari seorang kerabat.

Bagian-bagian kujang
Kujang dengan berbagai bentuknya, baik itu sebagai benda yang dipergunakan dalam tataran fungsional ataupun simbolik, menarik untuk dikaji lebih lanjut. Salah satu aspek di antaranya adalah bentuk kujang itu sendiri. Sebagai sebuah pisau, kujang tampil dengan estetis sehingga menarik untuk dilihat. Bentuk kujang tidak mengintimidasi mata dan perasaan penikmatnya, berbeda jika kita melihat bentuk pisau lainnya: mengerikan karena seolah bisa menyayat dan mengoyak tubuh kita.

Lambang Kebanggaan

Untuk mengangkat kembali citra kujang sebagai senjata tradisional masyarakat Sunda dalam tataran bentuk yang kongkrit diperlukan sebuah upaya untuk menghadirkan kembali produk kujang yang dapat memberikan kesan atau impresi mengagumkan. Jika kesan indah yang bersifat feminim yang hendak ditampilkan, maka ketika memperlihatkan sebuah kujang berikut dengan kelengkapan lainnya seperti pegangan, sarung, dan kotaknya, maka yang diperlihatkan itu adalah bilah kujang yang meliuk indah bak seorang putri sedang menari dengan kelenturan tubuhnya, pegangan (ganja atau landean) dan sarungnya (kopak atau kowak) yang menambah pantas bak pakaian yang dikenakan oleh putri yang sedang menari tadi, pun dengan kotaknya yang mengemas secara utuh dan menyeluruh berikut dengan menambah nilai kujang itu sendiri.

Untuk menghadirkan sebuah kujang yang dapat dibanggakan tersebut, maka diperlukan sebuah penghayatan yang mendalam tentang hal-ihwal tentang kujang itu sendiri. Terlebih jika hendak menghadirkan kujang sebagaimana kujang yang dibuat oleh para empu terdahulu, kujang pamor tangguh Pajajaran misalnya.

Berkaitan dengan kujang pamor tangguh Pajajaran, beberapa narasumber menyatakan bahwa ciri-cirinya dapat dikenali dari karakteristik bilah kujang yang cenderung tipis, bahannya bersifat kering, berpori, dan banyak mengandung unsur logam alam. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri tersendiri yang berbeda dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh senjata tradisional lainnya dari periode yang sama, terlebih dari periode yang lebih muda.

Macam-Macam Kujang
macam2 ujang
.

Adalah satu tantangan tersendiri untuk menghadirkan kembali kujang pamor tangguh Pajajaran karena semua aspek yang melingkupi teknik pembuatannya belum dapat dilacak sepenuhnya, yang ada hanya berupa perkiraan berdasarkan pengamatan atas artefak-artefak yang sampat pada saat ini.

Dilihat dari tampak bilah kujang pamor tangguh Pajajaran, bahan bakunya diperkirakan langsung mengambil dari alam yang lokasinya belum diketahui secara pasti, bahan baku tersebut berupa pasir besi pilihan. Di samping bahan baku, berita atau sumber yang menyebutkan teknik pengerjaannya pun tidak ada.

Adapun wujud sebilah Kujang memiliki bagian-bagian seperti : Papatuk atau congo (bagian ujung yang runcing, digunakan untuk menoreh atau mencungkil), Eluk atau Siih (lekukan-lekukan pada bagian kujang gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh), Waruga (badan Kujang), Mata (lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan Kujang. Mata ada yang jumlahnya 9 dan minimal 5 lubang (menggambarkan lima sila Pancasila – seperti yang digunakan pada lambang Propinsi Jawa Barat) atau tanpa lubang yang disebut “kujang buta”.

Bagian lainnya adalah Pamor, yakni garis-garis atau bintik-bintik pada badan Kujang disebut Sulangkar atau tutul konon mengandung racun dan gunanya untuk memperindah bilah Kujang, Tonggong (sisi yang tajam di bagian punggung Kujang, biasanya untuk mengerat atau mengiris), Beuteung (sisi yang tajam di bagian perut Kujang), Tadah (lengkung kecil pada bagian bawah perut Kujang), Paksi (bagian ekor Kujang yang lancip), Selut (ring pada pada ujung atas gagang Kujang), Combong (lubang pada gagang Kujang), Ganja (nama khas gagang Kujang), Kowak (nama khas sarung Kujang).

Setiap pemakai kujang ditentukan oleh status sosial masing-masing. Bentuk kujang untuk raja tidak akan sama dengan kujang balapati atau barisan pratulap, dan seterusnya. Melalui pembagian tersebut akan tergambar tahapan fungsi para pejabat yang tertera dalam struktur jabatan Pemerintahan Negara Pajajaran Tengah, seperti Raja, Lengser dan Brahmesta, Prabu Anom, Bojapati; Bopati Panangkes atau Balapati, Geurang Seurat, Bopati Pakuan diluar Pakuan; Patih termasuk Patih Tangtu dan Mantri Paseban; Lulugu; Kanduru; Sambilan; Jero termasuk Jero Tangtu; Bareusan,guru, Pangwereg dan Kokolot. Jabatan Prabu Anom sampai Berusan, Guru juga Pangwereg, tergabung didalam golongan Pangiwa dan Panengen.

Dalam pemakaian kujang, ditentukan kesejajaran tugas dan fungsinya masing-masing, misalnya Kujang Ciung Mata-9, dipakai hanya oleh raja; Kujang Ciung Mata-7, dipakai oleh mantri dangka dan Prabu Anom; Kujang Ciung Mata-5, dipakai oleh Geurang Seurat, Bopati Panangkes dan Bupati; Kujang Jago, dipakai oleh balapati, lulugu dan sambilan; Kujang Kuntul, dipakai oleh patih (patih puri, patih taman, patih tangtu, patih jaba dan patih palaju). Juga digunakan oleh mantri (mantri paseban, mantri majeuti, mantri layar, mantri karang dan mantri jero).

Kujang Ciung

Kujang Bangkong, dipakai oleh guru, sekar, guru tangtu, guru alas dan guru cucuk; Kujang Naga, dipakai oleh kanduru, jaro (jaro awara, jaro tangtu, jaro gambangan); Kujang Badak, dipakai oleh pangwereg, pangwelah, bareusan, prajurit, pratulap, pangawin, sarawarsa dan kokolot. Selain diperuntukan bagi para pejabat tadi, kujang juga digunakan oleh kelompok agamawan. Namun kesemuanya hanya satu bentuk yaitu Kujang Ciung, yang perbedaan tahapnya ditentukan oleh banyaknya “mata”.

Varian Kujang Naga

Kujang Ciung bagi Bramesta (pandita agung) bermata sembilan sama dengan milik raja. Pandita, bermata tujuh. Geurang bermata tiga. Guru Tangtu Agama, bermata satu. Golongan agamawan menyimpan pula kujang pangarak yang bertangkai panjang yang dipakai pada upacara-upacara tertentu seperti Bakti Arakan, Kuwera Bakti dan sebagainya. Dalam keadaan darurat, kujang pangarak bisa saja dipakai untuk menusuk musuh dari jarak yang agak jauh. Fungsi utama kujang bagi golongan agamawan adalah sebagaipusaka pengayom kesentosaan seluruh negara.

Kelompok lain yang juga mempunyai kewenangan memakai kujang yaitu perempuan bangsawan pakuan dan golongan yang memiliki fungsi tertentu, seperti: putri raja, putri kabupatian, ambu sukla, ambu geurang, guru aes, dan sukla mayang (dayang kaputren). Kujang bagi para perempuan ini biasanya hanya terdiri dari jenis Ciung dan Kuntul karena bentuknya yang langsing. Demikian pula ukurannya biasanya setengah lebih kecil dari ukuran kujang untuk kaum laki-laki.

Untuk membedakan status pemiliknya biasanya ditentukan oleh banyaknya mata, pamor, dan bahannya. Kujang untuk putri kalangan bangsawan Pakuan biasanya bermata lima, pamor salangkar dan bahannya besi kuning pilihan. Wanita golongan lainnya menggunakan kujang bermata tiga kebawah sampai yang tidak bermata dengan pamor tutul dan bahannya dari besi pilihan.

Kaum perempuan Pajajaran itu, selain menggunakan kujang ada pula yang memakai perkakas “khas perempuan” lainnya, yaitu kudi. Alat ini kedua sisinya berbentuk sama, seperti tidak ada bagian perut dan punggung, juga kedua sisinya tajam bergerigi seperti pada kujang. Ukurannya rata-rata sama dengan kujang bikang (kujang pegangan kaum perempuan). Panjangnya kira-kira satu jengkal termasuk gagangnya. Bahannya dari besi baja, lebih halus dan tidak ada yang memakai mata
Sumber: http://goedangdjadoel.com/2009/07/tentang-kujang/
sebagai tambahan, pendapat ane yang ane dapat dari berbagai pendapat yang pernah ane dapat dari orang2 yang mendapat kesimpulan dari berbagai caranya masing masing (muter2 ya gan ngomongnya )

ada beberapa kujang yang mempunyai nilai historis, ato untuk mengapresiasikan suatu kejadian dalam pemaknaan kujang itu sendiri..

ada pula kujang yang menjadi suatu dasar filosofi dalam tatanan kehidupan, tingkah, dan perilaku..

ada pula kujang yang digunakan sebagai "pakarang" (alat bertani)

ada pula kujang yang difungsikan sebagai pusaka

dll

maaf ya gan, ane agak so tau