KASKUS

solawat serta salam senantiasa terucap untuk jungjunan alam nabi besar muhammad saw.
Quote:Original Posted By ayu.tinting
Allahummasholli ala Muhammad


Muhammad adalah Rosul Allah
Nabi terakhir penutup para nabi
Yang membawa kebenaran hakiki
Mengikutinya berarti selamat dunia akhirat




Semoga kita mendapat syafaat dari beliau dan dikumpulkan bersama beliau di hari akhir nanti..

Quote:Original Posted By da4053fa
med milad nabi besar Muahammad Saw
¸.•*´¨*•.¸¸.•*´¨*•.¸¸.•*´¨*•.¸¸.•*´¨*•.¸
★  ┊ <3
┊   ★ ┊    ★ ┊
┊   ┊ ☆   ☆┊   ★┊
☆┊ ☆ <3
┊ ┊   ★ ☆
┊ <3   ☆ ┊ ★ ‎


:

Quote:Original Posted By anaksehat.
Sejak kapan nabi merayakan ulang tahunya???


Bukan merayakan gan
Tetapi memperingati..
Karena bagi muslim semua hal bisa menjadi sarana berdzikir (mengingat)

Quote:Original Posted By vexaz
met hari maulid nabi jg gan


:

Quote:Original Posted By nidhi
kalau kita mengaku mencintai Rasulullah salallahualaihuwassalam maka peliharalah sunnah

dan ucapkan shallawat setiap mendengar namanya disebut dan bershalawat di setiap shallat



Tepat sekali
Thanks sist

Quote:Original Posted By MayorSemrangat


hai tan..
pakabar ?


eniwei, met maulid Nabi Muhammad Salallahualaihuwassalam




Semoga kita semua mendapat syafaat dari beliau, dan masuk ke dalam golongan kekasihnya
Quote:Original Posted By zzvar
solawat serta salam senantiasa terucap untuk jungjunan alam nabi besar muhammad saw.


Thanks gan :

Semoga kita menjadi pengikut beliau yang kita cintai
met maulid nabi muhammad SAW....
dengan segala hormat
seburuk-buruknya perkara adalah yang baru, setiap perkara yang baru adalah

bid'ah
bid'ah
bid'ah
bid'ah

tidak perlu dirayakan

bid'ah

bid'ah tidak ada yang hasanah

bid'ah adalah bid'ah

Selama merayakan maulid tidak dibilang ibadah, maka bukan bid'ah jatuhnya
Quote:Original Posted By dedeorok
Selama merayakan maulid tidak dibilang ibadah, maka bukan bid'ah jatuhnya


tasyabuh bilkuffar
Quote:Original Posted By dedeorok
Selama merayakan maulid tidak dibilang ibadah, maka bukan bid'ah jatuhnya


Nabi tidak pernah menyuruh hari wafat, lahir, peristiwa gua hira dan lain-lain harus dirayakan.

ishtigfar wahai kaum muslimin

Quote:Original Posted By nidhi


tasyabuh bilkuffar


Tasyabuhnya sebelah mana?

Nabi Muhammad saw, berpuasa dihari senin karena pada hari itu beliau dilahirkan.

Nih tulisan sahabat tentang tasyabuh
Quote:
Mengikuti kafir
Maka perlu kami sampaikan di sini bahwa adakalanya dalam beribadah dan penampilan muslimin sedikit menyerupai kaum kafir di sana sini. Sebenarnya hal ini bukan hal yang aneh dan bukan meniru mereka.

Adapun mengenai asal muasal kemiripan ini disebabkan karena sesungguhnya pada awalnya agama ini berasal dari Allah yang satu dan tentu saja semua agama manusia ini pun satu. Tidak pernah Allah itu plin plan atau mencla mencle. Tidak benar orang yang mengatakan bahwa Allah menurunkan agama yang bermacam-macm. Hanya saja setelah wafatnya Nabi dan Rasul yang di utus ke suatu kaum dan suatu bangsa, setelah berlalu nya waktu, manusia mengubah agama Allah itu sesuai selera hawa nafsunya. Maka jadilah agama manusia ini bermacam-macam dan berbeda satu sama lain.

Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih (Q.S. Yunus [10] : 19)

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu (Q.S. Al-Mukminuun [23] : 52)

Telah kami jelaskan masalah ini pada tulisan kami ajaran semua nabi sama. Silakan di- cek di http://seteteshidayah.wordpress.com/2011/12/03/ajaran-semua-nabi-sama/

Rasulullah  s.a.w pernah bersabda bahwa dalam sejarah manusia ini keseluruhan telah diturunkan 124.000. orang Nabi dan 312 Rasul. Dimana para Nabi dan wali Allah itu diturunkan kepada setiap suku dan bangsa di dunia ini untuk menjelaskan ajaran yang sama yaitu men-tauhid-kan atau meng-esa-kan Allah.

Demikian pula jika kita lihat agama para Nabi sejak Nabi Adam a.s. sampai Nabi Muhammad s.a.w. sebenarnya sama yaitu ada perintah ber-syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji yaitu bertawaf mengelilingi ka’bah . Hanya saja perincian dan detil teknis nya berbeda-beda antara Nabi yang satu dengan Nabi berikutnya.

Misalnya saja, syariat Allah untuk menikah dan berketurunan, telah ada sejak Nabi Adam a.s. diturunkan ke muka bumi, hanya saja pada masa Nabi Adam a.s. dibolehkan nikah dengan saudara kandung dan pada syari’at Nabi-Nabi berikutnya hal itu tidak dibolehkan. Dalam hal puasa semua Nabi diperintahkan untuk berpuasa. Oleh karenanya di dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 183)

Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad s.a.w. juga diperintahkan berpuasa. Untuk itulah kita tahu ada puasa Nabi Daud yang sehari puasa sehari berbuka, sepanjang tahun. Atau puasa umat Nasrani pada jaman sekarang selama 40 hari sebelum hari paskah (hanya orang Katolik yang melaksanakan ini). Kita yakin ini semua merupakan sisa-sisa syari’at para Nabi yang pernah diutus kepada mereka, hanya saja mereka mengubahnya bahkan sudah tidak melaksanakannya lagi.

Dari segi busana, tidak mustahil pula terdapat kemiripan di sana sini. Misalnya busana biarawati Nasrani pada jaman dulu sangat tertutup dan mirip dengan busana muslimah dengan kerudung. Demikian pula  kupyah haji kaum muslim yang menyerupai topi khas kaum yahudi yang berbentuk bulat menutupi ubun ubun kepala.  Lalu jika kita cermati, pakaian ihram  (haji atau umroh) muslim juga mirip dengan pakaian bhiksu budha. Hanya saja pakaian ihram muslim berwarna putih sedangkan bhiksu budha berwarna kuning. Tidak mustahil ini semua merupakan puing-puing sisa sisa ajaran para Nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Maka kesamaan atau kemiripan dengan orang kafir atau ahlul kitab, tidak serta merta menunjukkan hal itu adalah tasyabuh (meniru) perilaku orang kafir. Maka tidak selalu yang mirip orang kafir itu haram. Karena duduk permasalahannya bukanlah kita meniru mereka. Adapun peringatan agar tidak meniru orang kafir, karena akan dianggap bagian dari suatu kaum, maka yang dilarang adalah meniru perilaku yang ciri khas peribadatan dan simbol-simbol agama mereka yang sesat. Sedangkan sisa-sisa risalah para nabi yang pernah diutus kepada mereka maka hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan bukan hasil dari tiru meniru.

Sebagai contoh pada mulanya kaum muslimin tidak melakukan puasa hari Asysyura’ namun ketika diceritakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang puasa Asysyura’ maka Rasulullah s.a.w. pun mengatakan bahwa kaum muslimin lebih berhak terhadap Nabi Musa a.s. daripada kaum Yahudi. Maka diperintahkan lah kaum muslimin juga berpuasa Asy-Syuraa. Ini menunjukkan bahwa untuk hal-hal yang baik dan positif tidaklah dilarang meniru atau mengambil inspirasi dari Ahlul Kitab.

Telah menceritakan kepada kami Ziyab bin Ayyub telah menceritakan kepada kami Husyaim telah menceritakan kepada kami Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata; “Setibanya Nabi s.a.w.  di Madinah, beliau mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Mereka ditanya tentang masalah itu, lalu mereka menjawab; “Ini adalah hari di saat Allah memenangkan Musa ‘a.s. dan Bani Isra’il atas Fir’aun. Dan kami berpuasa untuk mengagungkan hal itu.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “Kami lebih berhak kepada Musa daripada kalian.” Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari ‘Assyura`. (H.R. Bukhari No. 3649)

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Abu ‘Umais dari Qais bin Muslim dari Thoriq bin Sihab dari Abu Musa r.a. berkata: “Hari ‘Asyura’ telah dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai hari raya mereka, maka Nabi s.a.w. bersabda: “Berpuasalah kalian pada hari itu“. (H.R. Bukhari No. 1866)

Demikian pula suatu ketika Rasulullah s.a.w. meniru strategi perang dari orang Majusi Persia yaitu menggali parit di sekeliling kota Madinah, pada perang Khandaq. Ide ini diajarkan oleh sahabat Salman Al-Farisi yang memang berasal dari Persia. Namun karena ini bukan merupakan perkara peribadatan maka Rasulullah s.a.w. tidak segan-segan menirunya.

Quote:Original Posted By bacajiwa


Nabi tidak pernah menyuruh hari wafat, lahir, peristiwa gua hira dan lain-lain harus dirayakan.

ishtigfar wahai kaum muslimin



Bergembira atas kelahiran Rasulullah
mengenang sejarah beliau
bershalawat kepadanya
mendengarkan nasihat keagamaan
berdoa

itulah isi maulid.. ada yang salah ?
Quote:Original Posted By dedeorok


Tasyabuhnya sebelah mana?

Nabi Muhammad saw, berpuasa dihari senin karena pada hari itu beliau dilahirkan.

Nih tulisan sahabat tentang tasyabuh



Udah nemu dasarnya koq di pejwan, ayo kita rayakan ulang tahun nabi Muhammad sesuai sunnah abu jahal
Quote:Original Posted By dedeorok


Tasyabuhnya sebelah mana?

Nabi Muhammad saw, berpuasa dihari senin karena pada hari itu beliau dilahirkan.

Nih tulisan sahabat tentang tasyabuh



ulang tahun nabi memangnya bukan ibadah kafir?
Quote:Original Posted By dedeorok


Bergembira atas kelahiran Rasulullah
mengenang sejarah beliau
bershalawat kepadanya
mendengarkan nasihat keagamaan
berdoa

itulah isi maulid.. ada yang salah ?


ada, yang salah adalah itu perkara baru yang diada-adakan dalam beragama.
kembalilah kepada sunnah.
khususnya sunnah yang shahih
tidak pernah satu kali pun ahli hadist menganjurkan untuk merayakan maulid. Begitu juga dengan para shahabat.

bahkan di jaman khalifah yang 4, tidak pernah sedikitpun disinggung tentang merayakan maulid. Maulid dirayakan bukan di era Nabi, melainkan jauh setelahnya di mesir yang berhaluan syiah.

Maulid, Ied, dan Natal

MAULID, IED DAN NATAL
                                                                 

Mereka yang menentang maulid mengatakan bahwa letak kebid`ahan maulid adalah  karena maulid  telah dijadikan sebagai salah satu hari  Ied (Hari Raya) umat Islam, padahal hari Ied adalah bagian dari syariat. Untuk menetapkannya, harus ada sumber yang datang dari Rasulullah. Ied yang  ditetapkan oleh Rasulullah hanyalah Idul Fitri dan Idul Adha saja. Rasulullah sendiri tidak pernah menjadikan hari kelahirannya sebagai hari Ied dan tidak pernah memerintahkan hal ini.

Selain itu, mereka yang melakukan maulid berarti telah meniru perbuatan orang Nasrani yang menjadikan kelahiran Nabi Isa sebagai hari Ied mereka (Natal).
Padahal Rasulullah pernah bersabda :
 

 
“Setiap orang yang meniru-niru suatu kaum, maka orang tersebut termasuk di dalamnya.” (HR Abu Dawud)
 
Kami Menjawab

Kesalahan anggapan ini terletak pada pemahaman yang salah mengenai makna Ied. Mereka menganggap Ied sebagai perayaan yang harus diperingati secara rutin setiap tahun. Padahal menurut bahasa, Ied adalah hari berkumpulnya manusia. Menurut orang Arab, Ied adalah waktu ketika berulangnya kegembiraan atau kesedihan. Dinamakan hari raya ini sebagai Ied karena di hari itu kegembiraan yang baru  berulang tiap tahunnya(1).
 
Jadi dari segi bahasa, tidak ada masalah jika kita menamakan hari-hari berkumpulnya manusia atau perayaan momen-momen yang menggembirakan seperti maulid dan sebagainya sebagai hari Ied. Dalam Al-quran sendiri Nabi Isa menamakan hari ketika hidangan dari langit  turun sebagai hari Ied. Allah SWT berfirman :
 

Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau. Beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki yang paling utama.”(QS Al Maidah : 144)
 
Jika Nabi Isa menjadikan  hari datangnya hidangan dari langit sebagai hari yang patut dirayakan, maka datangnya Rasulullah yang merupakan rahmat bagi semesta alam ke muka bumi ini tentu lebih patut untuk dirayakan ketimbang hanya sekedar makanan.
 


Bahkan Ibnu Abbas mengatakan bahwa hari turunnya ayat  اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي adalah hari ketika terkumpul didalamnya dua Ied, yaitu hari Jum`at dan Hari Arafah seperti yang dikisahkan dalam hadits  :
 
 
Dari Ammar bin Abi Ammar berkata bahwasanya Sahabat Ibnu Abbas membaca ayat ini (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى ) sampai akhir ayat, sedangkan  disampingnya ada seorang yahudi, dia berkata, “Andai ayat ini diturunkan kepada kami (yahudi) maka kami akan menjadikannya hari turunnya sebagai hari Ied.” Maka Ibnu Abbas berkata : “Sesungguhnya ayat ini turun di dua hari Ied yaitu Jum`at dan Hari Arafah.” (HR Thabrani)

Tidak diragukan lagi bahwa kelahiran Rasulullah ke muka bumi ini merupakan hari gembira bagi manusia, bahkan bagi semesta alam. Beliau diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Maka mengingatnya sebagai hari kegembiraan bukan hanya dibolehkan, bahkan diperintahkan Allah sesuai dengan firmanNya :
  
Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus : 58)
 
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira atas karunia dan rahmat yang Allah berikan pada kita. Ini berarti kegembiraan atas kelahiran Rasulullah yang merupakan rahmat bagi semesta alam adalah hal yang harus tertanam dalam diri setiap Muslim.
 
Maka menjadi jelaslah bahwa pengertian Ied sangat luas dan tidak hanya terbatas pada Idul Fitri dan Idul Adha saja.  Hari Jum`at bisa kita katakan Ied, juga Hari Arafah, Hari turunnya hidangan dari langit dan semua hari-hari gembira yang lain.
 
Kita melihat maulid juga sebagai salah satu hari Ied. Mereka yang merayakan maulid tidak memandang hari maulid ini sebagai hari Ied seperti halnya Idul Fitri atau Idul Adha, tetapi hanya memandangnya sebagai hari untuk mengenang Rasulullah dan mengungkapkan kegembiraan atas kelahiran beliau. Jadi, apa yang mereka musykilkan mengenai maulid dan kaitannya dengan Ied sama sekali tidak terbukti.
 
Ada pun pernyataan yang mengatakan bahwa perayaan maulid termasuk bentuk meniru perbuatan kaum Nasrani, adalah tuduhan yang tidak berdasar.
 

Pertama, karena di hari Natal umat Nasrani memperingati kelahiran Tuhan atau anak tuhan mereka dan mengagungkannya. Kita memperingati kelahiran Nabi kita sama sekali bukan  sebagai anak tuhan. Jelas ini perbedaan yang sangat besar.
 
Kedua, karena peringatan kelahiran Rasulullah justru merupakan hal yang dicontohkan oleh Rasulullah walau pun dengan cara yang berbeda.
Ketika ditanya mengenai puasa hari Senin, Rasulullah menjawab :
 
 
“Hari itu hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan kepadaku wahyu.”   (HR Muslim)(3)
 
Inti dari hadits tersebut adalah, bahwa Rasulullah memperingati hari kelahirannya setiap hari Senin dengan berpuasa. Hadits ini menjadi dasar dibolehkannya memperingati hari kelahiran beliau.
 
Apakah ini berarti Rasulullah bertasyabuh dengan kaum Nasrani karena memperingati hari kelahirannya ?
 


Mengagungkan hari kelahiran bukanlah kekhususan kaum Nasrani sehingga orang yang melakukannya dapat dikatakan bertasyabuh dengan mereka. Hari kelahiran memiliki keistimewaan tersendiri bagi seseorang.

Bergembira di hari kelahiran bukanlah hal yang tercela asal diisi dengan ibadah.

Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kita untuk memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa.
 
Mungkin sebagian orang akan bertanya, bukankah Rasulullah memperingati kelahirannya dengan berpuasa mengapa kita malah memperingatinya dengan makan-makan atau lainnya ?
 
Yang menjadi fokus dari hadits di atas adalah, Apakah syariat memberikan perhatian pada hari kelahiran beliau atau tidak? dan jawabannya adalah ya, buktinya Rasulullah sendiri melakukannya dengan berpuasa di hari itu.
 


Ada pun tata-cara pengungkapannya maka itu merupakan permasalahan ijtihadiyah, Sebab Rasulullah tidak menyatakan bahwa puasa merupakan satu-satunya cara untuk bersyukur atas kelahiran, artinya rasulullah membebaskan tata-cara hal ini kepada ijtihad. Hal yang sama juga berlaku pada Al Qur`an, Syariat telah menetapkan mengenai keutamaan belajar dan mengajarkan Al Qur`an juga keutamaannya membaca dan menghapalkannya, tetapi adalah metode yang wajib diikuti dalam masalah ini ? Tidak .(4)  
 

Puasa merupakan salah satu,
bukan satu-satunya cara mengungkapkan kegembiraan kita atas kelahiran Rasulullah, dan memang pada kenyataannya  mereka yang melakukan maulid tidak pernah mengingkari kesunahan untuk berpuasa di hari senin. Perbedaannya selain memperingatinya dengan berpuasa setiap hari senin dan berusaha untuk menjalankan sunahnya, mereka juga mengungkapkan kegembiraan itu dengan hal-hal lain yang dianjurkan syariat seperti bersedekah dengan makanan atau lainnya, memperbanyak shalawat, dan mempelajari serta mengenalkan Rasulullah melalui pembacaan riwayat kehidupan Rasulullah. Adakah yang salah dengan ini ?.
 
Kembali kepada masalah hari kelahiran.
Salah satu hal yang membuat Jum`at menjadi hari istimewa adalah karena pada hari itu Nabi Adam diciptakan . Rasulullah bersabda :
  
“Hari terbaik dimana matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum`at. Di situ diciptakan Adam, dan di situ dimasukkan Adam ke surga dan dikeluarkan dari  nya.” (Hr Muslim)
 
Di dalam Al Qur`an, Allah SWT melimpahkan kesejahteraan di hari-hari kelahiran para nabi. Di antaranya kelahiran Nabi Isa :
  
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam : 33)
 
juga kelahiran nabi Yahya :
  
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal, dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam : 15)
 
Tentu kesejahteraan yang Allah limpahkan kepada Rasulullah di hari lahirnya lebih istimewa lagi.
 
Jadi jelaslah bahwa perayaan maulid bukanlah tindakan menyerupai orang-orang Nasrani. Dasar amalan ini cukup kuat, dan justru mereka yang melarang maulid lah yang tidak memiliki sumber hukum yang jelas, baik dari Al-Qur`an mau pun Al Hadits. Adakah dalil yang melarang kita memperingati kelahiran beliau?
 



Syaikh Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya Iqtidha berkata :
“ Begitu juga apa yang dilakukan sebagian manusia (maulid) ini bisa jadi merupakan tindakan  yang  menyerupai orang Nasrani dalam merayakan hari kelahiran Nabi Isa, atau bisa jadi merupakan perbuatan yang didorong oleh rasa cinta kepada Nabi saw dan mengagungkan beliau, dan Allah memberi pahala atas kecintaan dan usaha ini bukan atas bid`ah dengan menjadikan maulid nabi saw sebagai hari Ied. "


Pernyataan Syaikh Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa mereka yang merayakan maulid karena kecintaan kepada Rasulullah akan mendapatkan ganjaran yang baik atas kecintaannya. Berbeda dengan mereka yang menjadikannya sebagai hari Ied. Telah kita bahas di atas bahwa tidak ada satu pun dari orang-orang yang merayakan maulid ini yang menyetarakan maulid dengan Idul Adha dan Idul Fitri. Keduanya tetap merupakan hari raya umat Islam, sedangkan maulid adalah hari untuk mengagungkan Nabi Muhammad.
Quote:Original Posted By nidhi


ulang tahun nabi memangnya bukan ibadah kafir?


Bukan tuh, itu mah dari jaman nabi adam juga ada yg namanya memperingati hari lahir
Quote:Original Posted By dedeorok


Tasyabuhnya sebelah mana?

Nabi Muhammad saw, berpuasa dihari senin karena pada hari itu beliau dilahirkan.

Nih tulisan sahabat tentang tasyabuh



ulang tahun bang mamed memangnya bukan ibadak kafir !
bah..kafir kaw laek
melonggos lengges dg gagak perkosak di ulang tahun dek mamed sodalag sodalag
hmmm..
happy bertdey mahomad
×