KASKUS

Quote:Original Posted By wekaweka


kalo gue ditanya, gue bakal pilih mendekat ke US, se setan2nya US dia setan yang udah kita kenal, dan setan yang lebih mature

kalo china (excluding opini 50 cent crew) ya belum2 aja udah grasa grusu


setan itu kalo udah dapet apa maunya ya kagak grasa grusu lagi

ibarat korban yg udah lama diperkosa oleh setan, keknya emang lebih adem dengan setan yg memperkosanya, daripada diperkosa setan baru.:
Quote:Original Posted By Pitung.Kw


setan itu kalo udah dapet apa maunya ya kagak grasa grusu lagi

ibarat korban yg udah lama diperkosa oleh setan, keknya emang lebih adem dengan setan yg memperkosanya, daripada diperkosa setan baru.:


gembel bener..
cuman bisa jadi korban doang... kali kali jadi setan juga napa...
Quote:Original Posted By 18s


gembel bener..
cuman bisa jadi korban doang... kali kali jadi setan juga napa...


dulu kan udah pernah, cuma setelah baru kena beberapa jab ke muka aja, udah emoh jadi setan. Ndak gampang loh jadi setan, harus tahan kena jab2 dari sesama setan yg lebih besar. Kalo tak kuat dan pandai, bisa2 jadi setan beneran kek saddam
kita kan pemrakarsa non-blok..politik bebas aktif..
mau bikin pakta pertahanan ASEAN? buat hadapi siapa?
beberapa negara asean lagi bersitegang dengan China..
kita mau diseret ngadepin raksasa? ngapain?

indonesia sudah dikenal jadi buffer di kawasan asia tenggara..di berbagai konflik..kita diminta jadi penengah..ini yang bikin indonesia dianggap penting di pentas dunia..harusnya ini dipertahankan.. ga usah bikin pakta pertahanan..jangan berpihak
Quote:Original Posted By Pitung.Kw


setan itu kalo udah dapet apa maunya ya kagak grasa grusu lagi

ibarat korban yg udah lama diperkosa oleh setan, keknya emang lebih adem dengan setan yg memperkosanya, daripada diperkosa setan baru.:


ya kalo situ lebih milih negara lo diperkosa tanah leluhur lo sih silahkan aja, kan udah terpola di diri njenengan kalo tanah leluhur njenengan adalah beacon dunia baru dan harapan umat manusia

kalo gue sih seandainya harus milih diantara 2 yang buruk males disuruh milih yang ke depannya masih ngeraba, susah kalo harus bikin contingency plan
Quote:Original Posted By wekaweka


ya kalo situ lebih milih negara lo diperkosa tanah leluhur lo sih silahkan aja, kan udah terpola di diri njenengan kalo tanah leluhur njenengan adalah beacon dunia baru dan harapan umat manusia

kalo gue sih seandainya harus milih diantara 2 yang buruk males disuruh milih yang ke depannya masih ngeraba, susah kalo harus bikin contingency plan


kalo korban perkosaan bisa milih pemerkosanya, itu bukan perkosaan, tapi ngelonte namanya

makanya klo ga mau jadi lonte + diperkosa ya dari sekarang mesti berbenah... coba jadikan rekan2 senasib jadi partner seperjuangan meski ada dosa di masa lalu. thdp Cina maupun US, jangan mau lagi dijadikan kacung ditendang2... berusaha spy lbh disegani... jelas ya saat ini dan kedepan pun ya ga bisa sendiri... emang Rambo?
Quote:Original Posted By Kernet.Merkava


trus usulan musuhnya mana??


Quote:Original Posted By clay.keys


emang cina ga bisa jadi common enemy om?

yg penting ga usah vulgar gitu sih biar si "common foe" ga tersinggung n teriak2...

khan yg udah nyata2 gencet 5 negara mslh territorial di LCS aja si china. blom soal tekanan ekonomi juga.


Quote:Original Posted By 18s


cina common enemy asean?? lha terus myanmar laos cambodia mo gimana kabar?

napa gak ameriki aja....


Quote:Original Posted By nembakbebek


cina bukan common enemy, jadi g perly bikin pakta pertahanan gaaan



tanggung, napa g somali aja jadi common enemy


Quote:Original Posted By Juche.Guidance


tapi Singapoo temen Amerika

gimana kalau musuhan sama Somalia aja


Quote:Original Posted By airmaniac
beraaaaat
-historis & kultural aja jelas beda dgn NATO
-interest juga beda-beda
-common enemy? terlepas dr LCS lha RRC sendiri rajin invest di negara ASEAN, & ada negara ASEAN yg menganggap RRC sbg Big Brother..


Our future Common Enemy
Spoiler for External Threat:


bisa stop kata2 perkosa? Nyakitin hati tuh! Cukup oknun aja ya yang konyol!
Nanya doang nih sebelum seato jilid 2, bisa mulai dari industri militer bersama seperti eads. Asean mil inc.
Quote:Original Posted By clay.keys

ya saya ga tau apa Pakta nanti lbh punya implikasi negatif ato apa... mungkin lbh baik semacam bentuk Kerjasama militer yg solid, dan ga harus semua ASEAN ikut dulu. bisa start dari Vietnam-Indo-Singpore-Malay-Thai.
ya ini bisa jadi cikal bakal kalo memang pakta itu memang benar2 diperlukan.


Ini mungkin lebih praktis daripada langsung mengembangkan pakta pertahanan dengan 10 anggota. Sebab kalau dipikir-pikir, pasti akan ada banyak pihak yang ingin melihat dulu bagaimana jalannya pakta ini sebelum memutuskan gabung atau tidak. Tapi secara geografis kalau anggotanya cuma 5 ini, posisi Vietnam jadi tidak nyaman lho. Dia yang berhadapan langsung dengan Cina, tapi 4 negara lainnya tidak bisa memberikan bantuang langsung ke dia karena faktor jarak dan perbatasan.

Quote:Original Posted By toonarm
Nanya doang nih sebelum seato jilid 2, bisa mulai dari industri militer bersama seperti eads. Asean mil inc.


Sulit, sebab tidak ada jaminan pembelinya bakal mau. Biasanya ada organisasinya dulu yang lalu memprakarsai standarisasi, baru industri militernya mengikuti. Kalau dibalik tidak bisa, sebab tiap-tiap negara cenderung akan menginginkan versi mereka sendiri, dan tanpa ada wadah yang bisa mencari titik temunya, standarisasi gagal. EADS sendiri bisa muncul karena ada standarisasi NATO, sehingga pangsa pasar mereka bukan 20-an negara yang masing-masing menuntut varian sendiri, tapi satu pasar raksasa yang nilai ekonominya tinggi.
Quote:Original Posted By madokafc


IMHO, common enemy yang bisa dijadikan sebagai colloctive threat dan alasan utama pembentukan pertahanan bersama ada dua, yaitu China dan India. Kedua negara itu cukup agresif akhir-akhir ini dalam memaksakan tapal batas teritorial mereka (walaupun India hingga saat ini belum memiliki land border dengan salah satu anggota ASEAN). Tetapi keduanya bisa dan memang memiliki background yang cukup logis untuk dijadikan common enemy oleh negara-negara anggota ASEAN.

Pembentukan pakta pertahanan bersama ASEAN lebih baik didahului oleh negara-negara yang merasa memiliki common enemy dalam hal ini yang cukup potensial dirasakan adalah PRC (dianggap potensi musuh setidaknya oleh lima negara ASEAN, seperti Singapore, Malaysia, Vietnam, Filiphina dan Brunei Darussalam). Posisi Indonesia sendiri sebenarnya akan lebih baik bila ikut tergabung dalam pakta pertahanan bersama itu sendiri, karena Indonesia memiliki isu Natuna dengan PRC dan Batas ekonomi eksklusif dengan India di utara Pulau We (dimana dia memegang kontrol atas Andaman dan Nicobar). Seandainya nanti pembentukan pakta pertahanan bersama ini berjalan lancar dan menguntungkan, niscaya negara anggota ASEAN lainnya seperti Myanmar, Thailand, Laos dan Kamboja pasti juga akan tertarik dan ikut serta dalam aliansi ini.


Ada dua aspek yang menurut gw agak sulit menjadikan PRC dan India sebagai "common enemy" of ASEAN.

Pertama dari segi ekonomi, kedua negara itu merupakan negara yang berkontribusi besar sebagai pemasok, investor, dan target pasar hasil produksi negara-negara ASEAN. Dengan kata lain, negara-negara ASEAN punya interest yang besar terhadap kedua negara itu dalam bidang ekonomi. Makanya kita memiliki China-ASEAN free trade agreement.

Kedua, interest China dan India, hanya spesifik di wilayah tertentu, bukan keseluruhan wilayah ASEAN, tidak seperti negara-negara NATO yang memiliki terrorist (sebelumnya Soviet Block) sebagai "common enemy" yang memang "menarget" semua negara-negara anggota NATO. Sebagaimana yang anda sebutkan China bersengketa wilayah hanya dengan "beberapa" negara ASEAN saja, tidak dengan "semua", jadi apabila terjadi serangan terhadap negara tersebut, apa untungnya negara lain untuk terlibat dalam konflik? toh China tidak melanjutkan klaim wilayah atas negara-negara ASEAN.

Ketiga, AFAIK ancaman yang nyata dari India dan China AFAIK terhadap negara ASEAN adalah ekpansi ekonominya yang luar biasa agresif, untuk menyikapi masalah itu sebenernya sih ASEAN memang mau dijadiin semacam "Europe Common Market", jadi nanti kita bisa produksi "goods, service, dll" yang memiliki kemampuan bersaing dengan China dan India. Arah ke sana sih udah kelihatan, seperti bebas keluar masuk antar negara ASEAN bagi warga negara-negara ASEAN, pembentukan AFTA, ini kan arahnya kepada "free movement goods, capital, services, and people" seperti di Europe Common Market .

Quote:Original Posted By EIJA

Ketiga, AFAIK ancaman yang nyata dari India dan China AFAIK terhadap negara ASEAN adalah ekpansi ekonominya yang luar biasa agresif, untuk menyikapi masalah itu sebenernya sih ASEAN memang mau dijadiin semacam "Europe Common Market", jadi nanti kita bisa produksi "goods, service, dll" yang memiliki kemampuan bersaing dengan China dan India. Arah ke sana sih udah kelihatan, seperti bebas keluar masuk antar negara ASEAN bagi warga negara-negara ASEAN, pembentukan AFTA, ini kan arahnya kepada "free movement goods, capital, services, and people" seperti di Europe Common Market .


Betul. Tapi suatu gabungan kekuatan ekonomi jika tidak diikuti dengan gabungan kekuatan politik, ya tarafnya cuma sekadar free-trade zone. Nggak bakal bisa memaksakan standar kesehatan, atau standar kelestarian lingkungan, dll. Posisi tawar juga kurang kuat, sebab bukannya ada satu kekuatan besar, akan ada sepuluh kekuatan kecil yang masing-masing saling sikut. Jadi kalau ingin lebih dari sekadar free-trade zone, harus ada penggabungan secara politik. Tapi penggabungan secara politik jika tidak ada backing secara militer sama juga bohong. Sebab kalau benar terjadi konflik, maka akan dikalahkan satu persatu. Dari Masyarakat Ekonomi Eropa tahun 1960-1980an bisa jadi Uni Eropa yang sekarang itu karena ada backing militer dalam bentuk NATO. Nah, saat ini ASEAN belum punya backing militer. Backing militer itu bisa kita dapatkan dari Amerika atau dari China, tapi bisa juga digalang sendiri. Kalau digalang sendiri ya pikiran saya mau tidak mau harus ada pakta pertahanan.
Gak bakalan terwujud bro lagian masih ada negara2 tetangga disekeliling yang masih menggantungkan keamanan nasionalnya kepada kekuatan bekas penjajahnya dulu, malaysia,singapura,australia,new zeland dan inggris tergabung dalam pakta militer FPDA, adalagi SEATO yang beranggotakan philiphine,thailand dan USA. Diantara anggota ASEAN sendiri masih banyak konflik disbute area dan saling ketidakpercayaan. Lagian politik luar negeri RI sesuai amanat konstitusi adalah bebas aktif dan tidak mau/ mengenal ada blok2an atau pakta militer, yang ada adalah kerja sama militer utk membangun rasa saling percaya. Selama ini RI yang paling tegas tegas menolak adanya arah ke pakta militer dan adanya pangkalan militer asing di ASEAN walau negara ASEAN lainnya berkehendak sebaliknya, cmiiw.

berarah pd alasan berdirinya NATO tak terlepas dr pengaruh perang dingin.. lawan potensial jls Pakta Warsawa. skrg NATO lbh difungsikan sbg perisai keamanan Uni Eropa dan alat Amerika buat membantu usahanya menancapkan kekuasaan di wilayah strategis.

tuk ASEAN, sptnya alasan lawannya mshlah blm terlalu urgent. bs jad China, tp RRC g bkl mungkinberbuat bodoh mengorbankan pasar industrinya di Asteng. utk saat sekarang lbh asyik klo dibentuk kemitraan militer n kerjasama dlm hal pelatihan, alih teknologi, dsb.
secara organisasi, Indo jlas bs jd pemimpin ato lokasi markas nya.

so, sbh pakta pertahanan di Asteng dirasa msh sulit terwujud, dmn anggotanya sendiri msh terlibat "permusuhan" dan adu gengsi. Lawan yg hrus dihadapi negara2 ASEAN adlh diri mereka sendiri dan para penguasa ekonomi nakal..
Quote:Original Posted By tonnyc


Ini mungkin lebih praktis daripada langsung mengembangkan pakta pertahanan dengan 10 anggota. Sebab kalau dipikir-pikir, pasti akan ada banyak pihak yang ingin melihat dulu bagaimana jalannya pakta ini sebelum memutuskan gabung atau tidak. Tapi secara geografis kalau anggotanya cuma 5 ini, posisi Vietnam jadi tidak nyaman lho. Dia yang berhadapan langsung dengan Cina, tapi 4 negara lainnya tidak bisa memberikan bantuang langsung ke dia karena faktor jarak dan perbatasan.



Rasanya mau ga mau Vietnam ya memang terpaksa ikut gabung. Krn toh kenyataannya masih ga yakin Russia yg sekarang mau stand up for Vietnam. bahkan saking cemasnya viet nyari dukungan dari US juga. daripada ditinggal digebukin sendirian, mending cari temen yg deket2 dan lbh cepat dan memungkinkan untuk ngebantu.
Quote:Original Posted By rocketer
Gak bakalan terwujud bro lagian masih ada negara2 tetangga disekeliling yang masih menggantungkan keamanan nasionalnya kepada kekuatan bekas penjajahnya dulu, malaysia,singapura,australia,new zeland dan inggris tergabung dalam pakta militer FPDA, adalagi SEATO yang beranggotakan philiphine,thailand dan USA. Diantara anggota ASEAN sendiri masih banyak konflik disbute area dan saling ketidakpercayaan. Lagian politik luar negeri RI sesuai amanat konstitusi adalah bebas aktif dan tidak mau/ mengenal ada blok2an atau pakta militer, yang ada adalah kerja sama militer utk membangun rasa saling percaya. Selama ini RI yang paling tegas tegas menolak adanya arah ke pakta militer dan adanya pangkalan militer asing di ASEAN walau negara ASEAN lainnya berkehendak sebaliknya, cmiiw.



sulit bukan berarti ga mungkin.
Secara sejarah NATO ga kurang musuhan gmana di dalem? ada Jerman, Perancis, Inggirs, Italy dari jaman medieval dah bunuh2an... bisa aja tuh gabung.
Common enemy? ya didepan hidung klo mau di ada2in ya bisa, tapi Pakta ini juga bagus buat menaikkan daya tawar politik IMO
ide yang masuk akal akan tetaipi sulit diemlementasikan
karena ada faktor di dalam dan di luar tubuh ASEAN sendiri
Mungkinkah adaASEAN version of FREMM kalo pakta ini berdiri?









Quote:Original Posted By tonnyc


Betul. Tapi suatu gabungan kekuatan ekonomi jika tidak diikuti dengan gabungan kekuatan politik, ya tarafnya cuma sekadar free-trade zone. Nggak bakal bisa memaksakan standar kesehatan, atau standar kelestarian lingkungan, dll. Posisi tawar juga kurang kuat, sebab bukannya ada satu kekuatan besar, akan ada sepuluh kekuatan kecil yang masing-masing saling sikut. Jadi kalau ingin lebih dari sekadar free-trade zone, harus ada penggabungan secara politik. Tapi penggabungan secara politik jika tidak ada backing secara militer sama juga bohong. Sebab kalau benar terjadi konflik, maka akan dikalahkan satu persatu. Dari Masyarakat Ekonomi Eropa tahun 1960-1980an bisa jadi Uni Eropa yang sekarang itu karena ada backing militer dalam bentuk NATO. Nah, saat ini ASEAN belum punya backing militer. Backing militer itu bisa kita dapatkan dari Amerika atau dari China, tapi bisa juga digalang sendiri. Kalau digalang sendiri ya pikiran saya mau tidak mau harus ada pakta pertahanan.


Kekuatan politiknya akan datang dari "perjanjian" untuk membuat "kekuatan ekonomi" tersebut, karena berdasarkan prinsip "pacta sunt servanda" negara-negara yang membuat perjanjian harus mentaati isi perjanjian tersebut, yakni dengan cara mengimplementasikan isi perjanjian pada kebijakana politik negara2 pembuat perjanjian. Jadi negosiasi buat menentukan standar, syarat, dll ini akan ditentukan pada saat mebuat perjanjian, dan akan memaksa ketika para negara anggota telah terikat perjanjian tersebut.

Jadi pembentukan satu badan politik untuk memaksa negara-negara mematuhi isi perjanjian internasional atau membentuk standar, dll ngak di butuhkan.

Begitu juga pada saat membentuk EEC, negara-negara eropa itu terikan treaty of rome untuk menjalankan isi perjanjianntersebut yang pada akhirnya mebentuk EEC.
Quote:Original Posted By EIJA
Kekuatan politiknya akan datang dari "perjanjian" untuk membuat "kekuatan ekonomi" tersebut, karena berdasarkan prinsip "pacta sunt servanda" negara-negara yang membuat perjanjian harus mentaati isi perjanjian tersebut, yakni dengan cara mengimplementasikan isi perjanjian pada kebijakana politik negara2 pembuat perjanjian. Jadi negosiasi buat menentukan standar, syarat, dll ini akan ditentukan pada saat mebuat perjanjian, dan akan memaksa ketika para negara anggota telah terikat perjanjian tersebut.

Jadi pembentukan satu badan politik untuk memaksa negara-negara mematuhi isi perjanjian internasional atau membentuk standar, dll ngak di butuhkan.

Begitu juga pada saat membentuk EEC, negara-negara eropa itu terikan treaty of rome untuk menjalankan isi perjanjianntersebut yang pada akhirnya mebentuk EEC.


(mikir...) hmmm ya, benar juga. Saat saya menulis itu saya memikirkan Amerika Serikat yang cukup sering menolak meratifikasi perjanjian yang sudah disetujui diplomatnya sendiri, tapi setelah dipikir ulang, masalah itu ada di politik internalnya AS, bukan di badan politiknya. Ada badan politiknya pun kalau internalnya nggak beres ya percuma.

Oke, badan politik tidak perlu, tapi tidak berarti tidak berguna sama sekali. Adanya Parlemen Eropa dan institusi-institusi serupa mungkin bisa dipakai sebagai blueprint untuk ASEAN ke depannya nanti. Tapi itu bukan urusannya formil. Jadi lewatkan dulu.

Bagaimana pendapat anda dengan argumen bahwa jika ASEAN tidak didukung oleh kekuatan militer yang mumpuni, maka akan hancur begitu ada tekanan yang cukup kuat dari luar? Keretakan ini sudah mulai terlihat di konferensi tahun lalu yang gagal menghasilkan resolusi bersama.

Argumen yang mengatakan agar negara-negara ASEAN harus melepaskan diri dari superpower lain dulu baru bisa mendirikan pakta tidak masuk akal. Justru mereka merapatkan diri ke negara-negara superpower karena mereka tidak punya alternatif lain. Filipina, misalnya. Jelas mereka bakal minta perlindungan Amerika, sebab belum ada pihak lain yang menawarkan talangan. Kalau Filipina mau berdiri sendiri melawan Cina, jelas kalah. Kalau mau tunduk kepada keinginan Cina, ZEE Filipina banyak yang diambil Cina. Ide pakta pertahanan justru saya harapkan bisa menjadi alternatif sehingga negara-negara Asia Tenggara tidak harus merapat ke blok asing.


EDIT: FREMM pingin, tapi ngimpinya nggak usah kejauhan dulu deh.