KASKUS

Mantaft paman, tambahin lagi kisah perangnya. Ane mantau dipojokkan ini, biar tau kalo dah diupdate.
thanks buat ceritanya....
di tunggu lanjutannya..
Kaka pioneer ada lagi g???? Tanggung neh......
ada...banyak lagi..nanti kita cerita tentang dwikora
Quote:Original Posted By JAVers
[spoiler=Sisi ‘Gelap’ Operasi Seroja.]
Operasi Seroja ini merupakan operasi militer yang gagal, karena sejak awal tidak direncanakan secara jelas serta banyak kepentingan politik bermain di dalamnya. Bagi sebagian kalangan ABRI, operasi Seroja merupakan tempat latihan tempur ‘real time’ dan batu loncatan untuk karir, meski pun resikonya juga sangat besar. Bagi sebagian kalangan ‘lain’, operasi ini juga menjadi ladang korupsi yang sangat subur karena perhatian pemerintah pusat terhadap Tim-Tim berupa kucuran dana sangat besar. Perencanaan operasi militer ini pada awal dan selama integrasi tidak ada kejelasan. Oleh karena itu, tidak heran selama kurun waktu 24 tahun ABRI kehilangan sebanyak 3.315 orang yang gugur di medan penugasan serta cacat sebanyak 2.338 orang. 60% dari gugur dan cacat adalah anggota TNI-AD. Selain itu, operasi ini lebih banyak menonjolkan operasi ‘darat’ ketimbang suatu operasi ‘gabungan’ dengan melibatkan unsur ‘laut’ dan ‘udara’. Tidak heran, gerakan pro-kemerdekaan dengan mudah mendapat suplai senjata dari ‘pihak asing’ melalui laut dan udara. Selain itu, ‘pihak asing’ sering sekali kegiatan intelijen melalui laut dan udara, terutama menjelang referendum tahun 1999. Operasi ini tidak didukung oleh upaya diplomasi di panggung internasional secara serius. Padahal pada awal masuknya Indonesia ke Tim-Tim, ‘dukungan’ AS dan juga Australia serta beberapa negara ‘barat’ sangat kuat. Jika ditangani serius pada awal masa integrasi, seharusnya masalah bergabungnya Tim-Tim dengan Indonesia dapat selesai dengan ‘cepat’ dan ‘aman’. Sebagai bukti tidak seriusnya penanganan masalah Tim-Tim, sampai tahun 1999, PBB menganggap wilyah Tim-Tim sebagai koloni Portugis. Aspek lain yang tidak diperhatikan oleh operasi ini adalah aspek budaya lokal. Operasi ‘teritorial’ seperti AMD hanya menyentuh aspek ekonomi semata, sementara aspek budaya tidak tersentuh sama sekali. Pihak Gereja dan tokoh lokal jarang sekali dilibatkan dalam kegiatan ‘teritorial’, karena dicurigai memiliki hubungan erat dengan gerakan pro-kemerdekaan. Gereja merupakan sokoguru dalam kehidupan masyarakat Tim-Tim selama berabad-abad. Bila terjalin kerja sama yang erat, sudah barang tentu menjadi mitra pemerintah yang efektif. Tokoh-tokoh lokal juga sepertinya diabaikan. Padahal kerja sama dengan tokoh lokal dapat dimanfaatkan secara efektif, sebelum lembaga-lembaga yang lebih modern dapat berfungsi dengan baik. Aspek adminstratif pemerintahan akibat integrasi Tim-Tim ke Indonesia tidak diselesaikan secara tuntas serta mengabaikan budaya lokal. berdasarkan UU no 7/1976 tentang pengesahan Tim-Tim ke dalam NKRI disebutkan bahwa latar belakang budaya yang berlainan memerlukan ‘aturan khusus’. Hilangnya kekuasaan raja-raja lokal akibat penerapan UU tentang pemerintahan desa serta penghapusan hak kepemilikan ‘mutlak’ atas tanah, termasuk tanah gereja, dan hanya mempunyai hak guna usaha atau hak guna bangunan, merupakan bentuk kelalaian pemerintah dalam menyelesaikan ‘aturan khusus’ sebagaimana tertera pada UU no 7/1976. Pembentukan milisi yang semula tujuannya adalah untuk mempertahankan integrasi, namun kemudian melenceng menjadi aksi cowboy dan menjadi pemicu aksi-aksi kekerasan di Tim-Tim. Pembentukan milisi ini dimulai pada tahun 1978 dengan dibentuknya Wanra. Wanra ini diharapkan dapat membantu ABRI dalam upaya membasmi gerakan pro-kemerdekaan. Kelompok-kelompok wanra ini mendapat pelatihan militer dari Kopassus. Beberapa kelompok wanra yang dibentuk di awal: Halilintar, Makikit, Saka, Sera dan Alfa. Pada tahun 1989, dibentuk pula kelompok wanra bernama Garda Muda Penegak Integrasi atau Gardapaksi. Pembentukan kelompok ini merupakan ide dari Prabowo Subianto. Sejak dahulu sampai sekarang, Tim-Tim atau Timor Leste merupakan ajang ‘politik’. Jika ‘berhasil’ maka karir akan berkembang, namun bila ‘gagal’ maka karir akan ‘jalan di tempat’ atau ‘tersingkir’. Selain itu, nyawa juga menjadi taruhan dalam penugasan ke Tim-Tim. Bagi perwira yang bernasib baik, Tim-Tim merupakan ‘tiket’ untuk memuluskan karir. Jika kurang beruntung namun memiliki ‘kontribusi’ yang bagus, dapat ‘diselamatkan’ dengan berbagai cara. Kasus insiden Dili 12 November 1991 dapat dijadikan contoh kasus bagaimana para perwira yang terkait insiden tersebut ‘diselamatkan’. Inilah nama-nama perwira yang terkait dengan insiden tersebut: Mayjen Sintong Panjaitan; menjadi Pangdam Udayana pada saat insiden. Ia ‘diselamatkan’ oleh Habibie pasca peristiwa tersebut. Sempat menjadi Sesdalopbang pada saat Habibie menjadi Presiden. Brigjen Rudolf Warouw; menjadi Pangkolakops pada saat insiden terjadi. Ia ‘diselamatkan’ oleh Jenderal Wismoyo Arismunandar dan menjadi Sekjen KONI pasca peristiwa tersebut. Berdasarkan penelusuran penulis, beliau terakhir diketahui menjadi salah satu Direksi Dipasena Group, perusahaan pengelola tambak udang di Lampung. Kolonel JP Sepang; menjadi Danrem Tim-Tim pada saat insiden terjadi. Pasca insiden tersebut, ia ‘diparkir’. Ia muncul kembali, namun menjadi orang sipil dengan menjadi Kepala DLLAJ DKI Jakarta semasa Gubernur Sutiyoso. Ajang ‘politik’ menjadi jatah kelompok pamen ke atas. Bagaimana dengan kelompok perwira pertama, bintara dan tamtama? Kebanyakan dari mereka kini bergulat melawan kemiskinan. Janji untuk meningkatkan kesejahteraan para veteran seroja tidak terdengar lagi. Suara mereka pun tidak didengar oleh pemerintah dan dianggap angin lalu semata terkait dengan lepasnya Tim-Tim. Jika caranya seperti ini, kita bukanlah bangsa besar yang memberikan penghormatan pada pahlawannya.
Sumber: jadihansiplah.blogspot.

Read more at: http://curvautara.blogspot.com/2012/...ndi-untuk.html
Copyright instingblogs.blogspot.com Under Common Share Alike Atribution[/spoiler]

Parah jg kelakuan "petinggi" negeri..


begitulah kalau sudah namanya politik..tentara2, org lapangan tidak tau apa2 soal gituan semua.yang penting perintah keluar Siap! Laksankan!
Tentara memang kaya pengalaman yg ga ssmua orang bsa rassakan. Joss!! Lanjut baca...

DWIKORA : Kempen Ganyang Malaysia

credit for garudamiliter

Bila agan melewati kompleks Dwikora perumahan dinas TNI AU di Lanud Halim Perdankusuma, Jakarta, anda akan menemukan nama-nama asing seperti Kolatu, Kolada, Stradaga, Straudga dan lainnya. Ternyata nama-nama itu mengartikan nama operasi militer yang disingkat semasa Dwikora tahun 1962-1964. Kolatu adalah singtan dari Komando Mandala Satu, Kolada adalah Komando Mandala Dua, Stradaga adalah Strategi Darat Siaga, Straudga adalah Strategi Udara Siaga, dan Stralaga adalah Strategi Laut Siaga. Semua itu merupakan bagian operasi Dwikora (Dwi Komando rakyat) ketika Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia.

Waktu itu, Indonesia menentang dibentuknya negara federasi Malaysia yang merupakan gabungam Malaya dan Singapura di bagian barat, serta Sabah, Serawak dan Brunei di Kalimantan Utara. Negara federasi bentukan Inggris ini oleh Presiden pertama RI Soekarno, di beri nama 'Negara Boneka" Malaysia. Melalui negara federasi Malaysia itulah Inggris masih akan berpengaruh, sementara Indonesia melihatnya sebagai bentuk kolonialisme baru dan merupakan ancaman bagi kedaulatan RI.

Penentangan Indonesia ini direalisasikan dalam bentuk Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang dicanangkan Bung Karno. Intinya menggagalkan 'Negara Boneka' Malaysia dan untuk itu rakyat di minta bersedia menjadi sukarelawan. Tercatat, sekitar 21 Juta rakyat Indonesia mendaftar sebagai sukarelawan untuk di kirim ke Kalimantan Utara.


Terbesar di Asia Tenggara

Kekuatan udara merupakan sarana penentu dalam suatu operasi militer dan menjadi andalan utama dalam Operasi Dwikora guna melawan kekuatan udara gabungan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Kala itu Kekuatan udara TNI AU masih menjadi kekuatan yang terbesar di Asia Tenggara setelah pengembangan kekuatan saat membebaskan Irian Barat untuk kembali ke dalam wilayah RI tahun 1962.

Pesawat pengebom intai jarak jauh dan tercanggih saat itu, TU-16KS, B-25 Mitchell, B-26 Invader, pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, MiG 17, MiG 19 dan MiG 21, pesawat angkut C-130 Hercules, C-47 Dakota, Helikopter Mi-4 dan Mi-6, dikerahkan dan diarahkan ke Utara, Malaysia. sementara itu kekuatan personil selain 21 juta sukarelawan, pasukan TNI yang dilibatkan adalah Pasukan Gerak Tjepat (PGT), Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Marinir / Korps Komando (KKO) dan Brimob Pelopor Polri.


Berbagai Nama Operasi Militer
Selama lebih dua tahun konfrontasi, 1962-1964, operasi Dwikora telah melaksanakan berbagai operasi seperti: Operasi Terang Bulan, penerbangan pesawat TU-16KS dan pesawat angkut C-130 Hercules di wilayah udara Singapura, Malaysia dan Kalimantan Utara untuk show of force. Operasi Kelelawar, operasi untuk pengintaian dan pemotretan udara untuk memantau bila ada pergerakan kekuatan militer di wilayah Kepulauan Cocos dan Pulau Christmas, Australia di Samudera Indonesia.

Berbagai nama sandi operasi militer disesuaikan misi tugas seperti Operasi Rembes, untuk penyebaran pamflet, Operasi Nantung, untuk menguji kesiapan sendiri dan siaga atas kesiapan lawan. Operasi Tanggul Baja, operasi dengan menempatkan pesawat-pesawat tempur di daerah yang lebih dekat dengan mandala operasi. Untuk operasi penerjunan pasukan linud, diberi nama operasi sandi Antasari. Operasi Antasari I berhasil menerjunkan satu batalyon pasukan tempur ke Kalimantan Utara dengan menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules AURI. Operasi linud Antasari telah dilakukan sampai yang ke empat menggunakan pesawat C-130 Hercules dan pesawat C-47 Dakota.


Kisah Tragis Hercule T-1307
Pada saat melaksanakan operasi Antasari tanggal 2 September 1964, tiga pesawat angkut C-130 Hercules membawa satu kompi pasukan PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Suroso. Dalam pesawat Hercules dengan nomor ekor T-1307 yang diterbangkan Pilot Mayor Pnb Djalaluddin Tantu, ikut serta seorang perwira menengah pimpinan PGT Letkol Udara Sugiri Sukani, yang ikut sekalian untuk memberi semangat kepada pasukannya.

Hercules Tipe B tersebut diterbangkan oleh Mayor Pnb Djalaluddin Tantui berserta ko-pilot Kapten Pnb Alboin Hutabarat membawa delapan awak pesawat dan 47 personil PGT yang dipimpin Kapten Udara Suroso, untuk diterjunkan di daerah operasi Kalimantan Utara. Namun dari tiga pesawat Hercules, hanya dua pesawat yang kembali ke Halim Perdanakusuma. Satu akhirnya dinyatakan hilang bersama 55 orang yang ada didalamnya, yaitu T-1307 C-130B Hercules. Selama operasi Dwikora, pasukan PGT merupakan pasukan payung yang telah di terjunkan ke wilayah konfrontasi dengan kehilangan 83 orang anggotanya. Nama Sugiri Sukani akhirnya dinyatakan hilang dalam tugas dan di abadikan sebagai nama Pangkalan Udara di Jatiwangi, Cirebon dan Suroso menjadi nama lapangan bola di kompleks Dwikora, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.






Sepak Terjang Manusia Kodok

Di belahan dunia barat, Perang Korea, pada tahun 1950-1953, dikenal sebagai perang yang terlupakan (forgotten war). Di Asia Tenggara, peristiwa Konfrontasi ”Ganjang Malaysia” (1963-1966) juga menjadi perang terlupakan di antara Indonesia melawan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Persemakmuran Inggris Raya.

”Saya berulang kali menyusup ke Singapura dari pangkalan di Pulau Sambu dan Belakang Padang di sekitar Pulau Batam. Saya masuk lewat Pelabuhan Singapura dengan menyamar jadi nelayan biasa,” kata Iin Supardi (69), yang kala itu berpangkat kelasi dua pada satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut (AL), Selasa (4/1) di Tangerang.

Di Singapura, Iin menggelar operasi intelijen berupa agitasi, provokasi, hingga upaya sabotase.

”Saya mendatangi kelompok pemuda Tionghoa dan pemuda Melayu untuk membangun kecurigaan antara mereka. Saya menghasut kelompok melawan kelompok. Saya menyamar bekerja sebagai buruh pada taukeh Tionghoa di daerah Jurong,” kata Iin mengenang operasi intelijen tahun 1963-1965 itu.

Sambil mengantar barang dagangan berupa hasil bumi ke Singapura atau berlayar mengantar barang selundupan elektronik, celana, dan rokok dari Singapura ke Kepulauan Riau, Iin menyelundupkan bahan peledak berulang kali ke pelbagai lokasi aman di seantero Singapura.

”Saya sering kucing-kucingan dengan Es Ai Di (yang dimaksud adalah Reserse Kepolisian Singapura alias CID). Harus kasih uang suap hingga 50 straits dollar,” kata Iin yang fasih berdialek Melayu Semenanjung dan sedikit menguasai dialek Hokkian yang lazim digunakan di Singapura,

Sebelum bertugas di Kepulauan Riau, Iin melatih Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU) yang dikenal sebagai Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dia melatih TNKU di kamp pelatihan milik TNI di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Anggota Kopaska menyusup ke Singapura dari pangkalan di Kepulauan Riau di sekitar Batam, Tanjung Balai Asahan, dan daerah sekitarnya. Mereka biasanya menggunakan perahu kecil dengan motor tempel dan menyamar menjadi warga setempat yang memang biasanya memiliki kerabat di Semenanjung Malaya dan Singapura. Idjad (70), seorang kopral Kopaska asal Sulawesi Selatan, mengaku masuk ke kawasan perkotaan Singapura dan ke Johor di Semenanjung Malaya.

”Saya punya kontak agen lokal bernama Usman yang sangat pro-Indonesia. Usman tinggal di daerah Kampung Melayu. Ketika saya dan teman-teman tertangkap, dia juga ikut ditahan di Singapura,” kata Idjad, yang juga anggota Kopaska.

Idjad mengingat ketiga rekannya sesama Sukarelawan (Sukwan) Dwikora ditangkap di perbatasan Singapura - Johor di Causeway di dekat Kranji dan Woodlands. Ketika itu, para Sukwan sudah bersiap-siap mengebom pipa air yang memasok kebutuhan air di Singapura dari Johor.

Idjad pun masih teringat saat-saat terakhir ketika Sersan KKO (Marinir) Usman Djanatin akan menyeberang ke Singapura sebelum ditangkap, lalu akhirnya dihukum gantung karena mengebom pusat perbelanjaan di Orchard Road bersama rekannya yang bernama Harun. ”Dia minta dicukur kumis sebelum berangkat agar terlihat rapi,” kenang Idjad.

Ketika dibebaskan dari tahanan di Singapura setelah perjanjian damai Indonesia - Malaysia, Usman masih ditahan di Singapura. Idjad mengaku bertemu kembali dengan Usman pada tahun 1972 saat berlangsung latihan gabungan militer Indonesia - Malaysia dan Singapura. Usman tinggal di daerah Changi dan masih terlihat paranoid karena merasa selalu diawasi aparat. ”Meski begitu, dia yakin Merah Putih seharusnya berkibar di Singapura dan Malaysia,” ujar Idjad.

Seorang veteran lainnya, Liem Hwie Tek (71), asal Cirebon yang ditemui tahun lalu, mengaku, para veteran Dwikora di daerah asalnya semakin terlupakan. Liem masih menyimpan ribuan negatif foto konfrontasi di sektor Kepulauan Riau, tempatnya bertugas di seberang Singapura yang belum dipublikasikan hingga kini.

Meski peran mereka terlupakan, para veteran Konfrontasi di Indonesia bangga dan tetap yakin pada cita-cita politik Soekarno menentang neokolonialisme melalui pembentukan Malaysia kala itu.

Fakta hari ini memang membuktikan, tahun 2000-an, bentuk penjajahan baru dari imperialisme perusahaan-perusahaan asing asal negara maju memang menguasai bangsa-bangsa Asia-Afrika yang gagal membangun kemakmuran pascakolonialisme seusai Perang Dunia II. Kita pun boleh mengingat pesan Bung Karno, ”Djangan Sekali-kali Meloepakan Sedjarah”....(Iwan Santosa)

Peristiwa KD Sri Selangor

Keberanian seseorang memang dapat timbul disaat-saat kritis, apalagi bila menyangkut penentuan hidup dan mati. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan perang.

Sekali peristiwa pada 24 Juli 1964 satu kelompok anggota KKO sedang melakukan tugas patroli rutin diperbatasan di perairan Riau menggunakan motorboat.

Kepala Kelompok adalah prajurit K. Suratno dengan tiga orang anggotanya yaitu prajurit-prajurit Wahadi, Riyono dan Muhani, berangkat dari Nongsa (Batam). Ditengah laut, mesin mengalami kerusakan dan sampai terbawa arus ke arah Singapura. Selama enam jam mereka mendayung melawan arus.

Hari makin gelap. Tiba-tiba pada pukul 19.15 dalm suasana remang-remang terlihat sebuah kapal. Prajurit-prajurit muda tersebut menyangka kapal kawan dari Bea Cukai. Kapal segera merapat hingga perahu dengan berpenumpang empat prajurit laut tersebut menempel dinding kapal perang tersebut.

Ternyata mereka keliru, karena kapal perang tersebut milik lawan (Kapal Sri Selangor jenis B.S). dari atas kapal terdengar teriakan :

" Awak Siapa?"
- KKo mau pulang
" Angkat tangan!!!"

Sementara lampu sorot kapal menyinari mereka serta menanti jawaban menyerah, karena tidak dapat berbuat lain. Keadaan sangat tidak menguntungkan dan sangat terjepit. Namun jawaban tanda menyerah tidak kunjung keluar. Bahkan secara serentak empat prajurit KKO itu menjawab dengan tembakan salvo kearah personel lawan yang sudah merasa bahwa kemenangan ditangannya, dalam jarak yang sangat dekat.

Tentu saja mereka sangat terkejut dan sambil membalas dengan tembakan, kapal melakukan manuver untuk menjauh agar dapat membalas tembakan. Untuk menebus kekalahan dan korban yang diderita, kapal Sri Selangor berusaha menerjang motorboat, hingga sampan kecil tersebut terbalik.

Namun keempat prajurit tersebut dengan tangkas melompat ke laut sebelum sampannya tertumbuk dan terbalik. Mereka dengan cerdik bersembunyi dibalik perahu yang tertelungkup. Mengira lawannya sudah tenggelam dan tewas, Sri Selangor meninggalkan perairan Indonesia.

Ternyata dalam pertempuran laut singkat tersebut, tiga prajurit berhasil selamat kecuali Kepala Kelompok K. Suratno gugur, hilang dan tidak muncul dipermukaan laut. Sungguh tindakan ini sangat berani dan mampu bertindak dalam waktu yang sangat kritis. Kisah-kisah semacam ini banyak terjadi di medan Tugas. TSM

Sumber : Majalah TSM (Teknologi Strategi Militer) Nomor 29 Tahun III/Nopember 1989

Terganyang di Malaysia

untuk sang marinir telah usai berjam - jam lalu. Dia tengah mengayuh sampan nelayan menembus garis belakang pertahanan Malaysia di Tawao. Sampan itu dipenuhi kepiting untuk dijual. Siapa kira timbunan kepiting itu hanya kedok untuk menutupi senjata. Setelah tiga hari mengayuh dan berhasil melewati patroli kapal perang Inggris, sampan itu mendarat di pantai yang sepi di sebelah utara Tawao, Sabah. Target pertama si marinir: menemui seorang haji yang akan menjadi penghubung.

Sial! Haji itu ditangkap tentara Malaysia beberapa hari sebelumnya. Di penanggalan, tercatat waktu: Desember 1964.

Kenangan 42 tahun silam itu kembali berputar di kepala Pembantu Letnan Satu (Purnawirawan) Manaor Nababan, 64 tahun, ketika menuturkan nostalgia itu kepada Tempo, pekan lalu. Ia beruntung pulang dengan utuh seusai konfrontasi Ganyang Malaysia. Tapi teman-temannya? Jangankan nyawa, kerangka pun tidak. “Saya berat bicara soal ini,” ujarnya sembari terisak.

Manaor adalah anggota intelijen tempur Korps Komando (KKO) Angkatan Laut. Ia salah satu dari 30 marinir yang mendapat latihan intelijen di Pulau Mandul, selatan Tarakan, Kalimantan Timur. Mereka disaring dari sekitar 3.000 marinir yang bersiaga di perbatasan-menunggu titah untuk mengganyang Malaysia.

Tugas pun datang kepadanya pada akhir 1964. Pria dari Dolok Sanggul, Tapanuli, ini diperintahkan untuk memetakan posisi dan menghitung kekuatan lawan di sekitar Tawao. Seorang anggota KKO lain dan satu sukarelawan menemani Manaor. Mereka juga bertugas mencari tempat pendaratan terbaik-di wilayah yang berstatus protektorat Inggris kala itu.

Misi ini sejatinya "one way ticket" alias tak ada jaminan pulang dengan selamat. Maka, “Malam sebelum berangkat, saya dipestakan. Kami makan - makan dan diberi semangat,” kata bapak enam anak ini. “Barangkali juga itu perpisahan”.

Manaor dan kedua rekannya berhasil menyusup ke Tawao. Namun karena penghubungnya tertangkap, mereka masuk hutan. Dua bulan di belantara, Hendrik sukarelawan TNI bekas bajak laut tertangkap saat berbelanja makanan. Mereka tak berkutik ketika dikepung tentara Inggris dan Malaysia.

Sebelum Manaor, sekitar empat kompi marinir berhasil menyusup hingga ke Kalabakan, sekitar 50 kilometer di belakang perbatasan Sabah. Pasukan kecil itu dipimpin dua anggota KKO paling disegani, Kopral Rebani dan Kopral Subronto. Keduanya adalah anggota Ipam (Intai Para Ampibi, sekarang disebut Detasemen Jalamangkara) dan sudah kenyang asam - bergaram dalam aneka operasi tempur.

Pada 29 Desember 1963, unit kecil itu berhasil melumpuhkan pos pertahanan tentara Malaysia di Kalabakan. Dalam sejarah militer Malaysia, kejadian ini dikenang sebagai Peristiwa Kalabakan. Dari 41 anggota Rejimen Askar Melayu Diraja yang bersiaga di pos , 8 tewas dan 18 lainnya luka-luka. Salah satu yang mati adalah Mayor Zainal Abidin, komandan kompi. Tapi ajal juga menghadang Rebani dan Subronto di saat pulang.

Januari 1964. Di perairan Tawao, kapal patroli Inggris memergoki rakit mereka. Haram untuk menyerah kepada Inggris. Di bawah bulan yang sedang purnama, perang pecah: rakit versus kapal, senapan melawan meriam. Rebani, Subronto, dan 22 anggota KKO gugur. Tiga tentara berhasil meloloskan diri, yakni Kelasi Satu Rusli, Suwadi, dan Bakar, dicokok pasukan Gurkha di pantai.

Saat ditangkap, mereka sedang mengumpulkan mayat rekan-rekannya yang dapat diseret ke darat. Para Gurkha tak memberi mereka kesempatan untuk menguburkannya. Jenazah dibiarkan tergeletak di pantai!

Adalah Rusli yang menyampaikan cerita itu kepada Manaor. Ia bertemu Rusli sekilas saat keduanya diterbangkan dari kamp tawanan Jesselton (Kinibalu) ke Johor Bahru, Semenanjung Malaysia, awal 1966.

Di Semenanjung, keduanya ditahan di tempat terpisah. Rusli dan 21 tentara yang dijatuhi hukuman 11 - 13 tahun dibui di Negeri Sembilan. Manaor dikerangkeng di Detention Camp Johor. Sekitar 502 prajurit Indonesia dari berbagai angkatan dikurung di sini untuk digantung karena menjadi penceroboh (pengacau-Red).

Konfrontasi Indonesia - Malaysia yang dikenal sebagai Dwi Komando Rakyat (Dwikora) resmi diumumkan oleh Presiden Soekarno di Istana Negara, Jakarta, 3 Mei 1964. Muasalnya adalah upaya Inggris menggabungkan koloninya di Kalimantan (Sabah, Serawak, dan Brunei) dengan Semenanjung Malaya pada 1961. Soekarno, yang menganggap Malaysia sebagai boneka Inggris, memerintahkan tentara untuk menggagalkannya. Caranya, dengan membantu perjuangan rakyat setempat.

Waktu itu sekitar seribu tentara dan sukarelawan menyusup ke Malaysia. Jumlah ini tak sebanding dengan gembar - gembor pemerintah, yang mengatakan ada 22 juta sukarelawan Front Nasional Ganyang Malaysia dan sekitar 8.000 anggota TNI bersiap di perbatasan. Saat dilakukan normalisasi hubungan Indonesia - Malaysia pada Juni 1966, beberapa ratus pejuang tinggal nama. Mereka tak pernah kembali, seperti kisah Rebani - Subronto.

Manaor dan alumni Dwikora yang berhasil kembali hidup-hidup rupanya punya cita-cita memulangkan kerangka kawan mereka ke Tanah Air. Sayang, upaya yang telah dilakukan berpuluh - puluh tahun itu belum membuahkan hasil. Belakangan, hasrat untuk membawa pulang kerangka - kerangka itu makin menjadi. “Kami tak mungkin menunda lagi karena sudah tua,” kata Kolonel Marinir (Purn.) W. Siswanto, 68 tahun, Ketua Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora.

Kini usia rata - rata pelaku pertempuran itu di atas 60 tahun sudah di tubir makam. Jika mereka meninggal, ingatan akan pertempuran yang mereka alami akan ikut mati. “Ini menyulitkan identifikasi saat pemulangan kerangka dilakukan,” ujar mantan Komandan Tim Brahma I Marinir di sektor barat (Semenanjung Melayu) itu.

Maksudnya, kesaksian para alumni Dwikora dibutuhkan untuk mengidentifikasi kerangka rekan - rekan mereka. Sebab, prajurit Indonesia yang turut dalam operasi infiltrasi itu menggunakan nama - nama samaran Melayu, tidak ada identitas Indonesia yang dibawa. Pangkat, seragam, dan atribut yang dipakai umumnya milik Tentara Nasional Malaya.

Identifikasi kerangka jenazah bakal mudah jika pemulangan dilakukan lebih cepat. Tapi, itu muskil. Bukan karena mereka terlupakan oleh teman-teman seperjuangannya, “Namun karena situasi politik belum memungkinkan,” kata Siswanto.

Berbeda dengan rekan-rekannya dari Resimen Pelopor (sekarang Brigade Mobil) dan Angkatan Darat, nasib korban Dwikora dari KKO dan Pasukan Gerak Cepat (PGT, sekarang Pasukan Khas TNI Angkatan Udara) terlunta - lunta. Penyebabnya : kedua kesatuan dituduh terlibat pemberontakan PKI.

Tahun 1990-an, ketika sebagian pelaku konfrontasi sudah berpangkat dan menjadi pejabat teras kemiliteran, usaha mulai digulirkan. Saat itu salah seorang tokoh eks Dwikora, Mayor Jenderal Marinir (Purn.) Mohamad Anwar (almarhum), mengirimkan surat permintaan kepada Menko Polkam Laksamana (Purn.) Sudomo. Permintaan tersebut ditanggapi positif dengan pembentukan Tim Penelitian dan Inventarisasi Pemindahan Makam Pejuang Dwikora oleh Menteri Sosial Haryati Subadio.

Pemimpin tim itu adalah Mayor Jenderal (Purn.) Rudjito (almarhum). Hasil kerjanya segera terlihat. Ditemukan 168 prajurit dan sukarelawan yang gugur di Malaysia. Pada masa Menteri Sosial Inten Soeweno dua tahun kemudian, tim tetap dipertahankan dengan beberapa pembaharuan.

Tiba-tiba, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Mayor Jenderal Sudibyo memerintahkan penghentian inventarisasi pada 6 Januari 1996. Alasannya: upaya itu dikhawatirkan bakal merusak hubungan Indonesia - Malaysia.

Reformasi membawa angin segar. Ratusan pensiunan prajurit rendah, ditambah beberapa perwira menengah yang purnatugas, menghimpun diri dalam Ikatan Keluarga Eks Tawanan Pejuang Dwikora tahun 1999. Mereka menghidupkan kembali cita-cita memulangkan kerangka rekan - rekannya. Ketua Ikatan Eks Tawanan Pejuang Dwikora saat itu, Kolonel Mar (Purn.) Kadar Mulyono (almarhum) mengirim surat kepada Presiden Megawati pada Januari 2003. Surat itu hingga kini tak berbalas.

Lelah menunggu, dua tahun kemudian para pejuang “mengadu” ke DPR. Ketua DPR Agung Laksono menyatakan mendukung rencana pemulangan kerangka prajurit eks Dwikora di Malaysia. Pada saat bersamaan, muncul tanggapan positif dari Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. “Pak Menteri berjanji akan melakukan koordinasi dengan pejabat terkait dan presiden,” kata Siswanto. Lagi - lagi, janji tinggal janji.

Departemen Sosial belum melakukan langkah apa pun seperti dijanjikan menterinya. “Dulu memang pernah dibentuk tim, tapi sekarang belum ada koordinasi,” kata Toto Utomo, Direktur Kepahlawanan Departemen Sosial. Toto menunjuk Departemen Pertahanan atau Markas Besar TNI yang berwenang mengurusi soal tersebut. Apa kata Mabes TNI?

“Saya belum bisa berkomentar, karena baru dengar,” kata Laksamana Muda Sunarto Sjoekronoputra kepada Tempo, pekan lalu.

Kompleks makam di Kampung Kalabakan Lama, Sabah, tampak cukup terawat, kecuali di beberapa gundukan tanah mirip kuburan. Konon itulah makam Rabeni, Subronto, dan beberapa anak buahnya. Tanpa nisan, tanpa nama.

Adalah sesepuh Tawao, Dato Mamun, yang mengidentifikasi makam itu kepada Tempo. “Saya tahu dari mandor hutan yang ada di sana,” ujar mantan warga negara Indonesia yang kini telah dinobatkan sebagai Sultan Bulungan di Kalimantan Timur itu.

Tentara Indonesia yang gugur di Sebatik lebih beruntung. Jenazahnya dibawa ke Tawao dan dikuburkan di pemakaman Melayu, Masjid Wilis. “Kuburnya ada nisan, tapi tanpa nama,” ujar Dato Mamun. Polisi setempat sempat memotret jenazah mereka sebelum dikubur, lalu didokumentasikan.

Maka, harapan untuk menginventarisasi dan memulangkan kerangka pahlawan Dwikora sungguh bergantung pada Malaysia. Sayang, pemerintah negeri jiran itu belum bersedia memberikan tanggapan. Sebabnya, “Kami baru dengar kabar ini,” kata Hamidah binti Azhari, juru bicara Kedutaan Malaysia di Jakarta.

(Arif A. Kuswardono, Eduardus Karel Dewanto)
gan gw pnasaran dg judul kapal selam syapa ???

gw rasa itu mili ausie yah
knp bsa gak kedetek ama kita sih
dulu jg pernah gw nonton di tv tntara ausie nangkep nalayan kita
pas ditangkep nlayannya dithan bbrpa hari,trus kapalny dihancurin didpn congor tuh nlayan miris bgt gan liatny
wah lengkap banget

nyawa taruhannya kalo kerjaan ini mah

salut buat om-om yang membela negara
lanjut

Statistik Dwikora

credit for garudamiliter

Front Terpanjang
Medan perang itu berserak : di laut, di hutan, di sungai, membentang 2.000 kilometer dari Nunukan di Kalimantan Timur hingga Semenanjung Malaya.
Front Malaka Medan tempur dengan jumlah korban terbanyak bagi Indonesia.

Kekuatan : 1 brigade (sekitar 3.500 personel)
Gugur : 78 personel (2 dimakamkan di Kalibata, 18 tidak jelas makamnya)
Hilang (MIA) :70 personel
Ditawan : 217 personel (ditahan di penjara Johor Bahru, Malaysia)

Sektor Labis dan Pontian ( Johor )
Gugur : 6 personel PGT
Ditawan : 123 personel PGT
Makam : 6 personel PGT

Sektor Kuala Kelang ( Selangor )
Gugur : Tidak diketahui
Ditawan : 19 personel AD

Sektor Kota Tinggi ( Johor )
Gugur : 25 personel Pelopor/Brimob Polri
Ditawan : 55 personel Pelopor/Brimob Polri
Makam : 25 personel Pelopor/Brimob Polri

Sektor Johor Bahru ( Johor )
Gugur : 27 personel PGT
Makam : 27 personel PGT

Sektor Singapura
Gugur: 20 personel KKO
Ditawan: 19 personel KKO, 1 personel Pasukan Katak


Front Kalimantan Timur

Pertempuran paling sengit di front Kalimantan terjadi pada 28 Juni 1965, ketika Korps Komando (KKO) Angkatan Laut memasuki perbatasan Malaysia dari timur Pulau Sebatik.
Kekuatan : 3.500 personel (1 brigade)
Gugur : 15 personel (11 personel tak diketahui makamnya)
Hilang : 6 personel
Ditawan : 14personel (di kamp tahanan Tawao dan Kepayan)


Kekuatan Musuh (Inggris/Malaysia/Australia/Selandia Baru)
Brigade Barat dengan panjang wilayah sekitar 1.000km dengan kekuatan :
- 5 Batalyon 5000 personel ( 1 Inggris, 3 Gurkha, 1 Malaysia )
- Helikopter : 25 buah

Brigade Tengah panjang wilayah sekitar 500km dengan kekuatan :
- 2 Batalyon Gurkha
- Helikopter : 12 buah

Brigade Timur panjang wilayah sekitar 150km dengan kekuatan :
- 1 Batalyon Australia/Selandia Baru (1000 personel)
- 1 Skuadron Komando SAS
- 1 Satuan Tugas Kapal Perang ( Inggris/Australia/Selandia Baru)
- 10 Helikopter

Cat :
Dalam Operasi Dwikora, pasukan2 kita tidak berhadapan langsung dengan tentara Malaysia, melainkan berhadapan dengan tentara Inggris, komando SAS, Brigade Gurkha, dan negara2 persemakmuran.

Peristiwa Kalabakan

credit for garudamiliter

Masih dalam rangka politik konfrontasi guna memperoleh data intelejen di daerah lawan. Pada Desember 1963, Peleton X satuan khusus KKo/Korps Marinir yang bertugas di perbatasan Kaltim – Sabah yang operasional di bawah Basis VI Ops.A/Koti, bekerja sama dengan kesatuan tugas operasional. KKo/Korps Marinir didaerah Kaltim, telah ditugaskan melakukan raid ke Sabah (Sandakan, Lahat Datu dan Sempurna).

Sasaran pertama dipimpin oleh Kopral Mar Sukibat dan Prajurit Mar Subroto. Sasaran dua dipimpin Sersan Dua Mar Rebani dan sasaran tiga dipimpin Prajurit Mar Asmat. Masing-masing berkekuatan satu peleton.

Karena pada hakikatnya setiap anggota KKo/Marinir sudah dibekali latihan dasar komando, maka tugas-tugas raid yang memerlukan kemampuan komando mampu dipikul oleh mereka. Disamping nama Korps Komando memang merupakan ‘beban’ dan sekaligus kebanggaan, sehingga bila diperlukan untuk melakukan tugas selaku prajurit Komando, mereka berusaha melakukan tugas sebaik-baiknya.

Hal ini memang terbukti dalam banyak penugasan di berbagai operasi militer. Mereka mampu bergerak dalam satuan-satuan kecil, dalam medan yang cukup berat, rawa, pantai berbakau maupun dalam hutan lebat seperti Kalimantan.

Meskipun pihak pasukan Inggris di Sabah sudah berpengalaman dalam perang anti gerilya di Malaya (semenanjung), namun dalam menghadapi gerilya Indonesia ternyata tidak semudah yang disangka. Rebani dan kawan-kawannya dengan perlengkapan seringan mungkin, berhasil menerobos wilayah lawan dan berhasil menghancurkan kesatuan inggris yang ada di Kalabakan, menewaskan 8 orang termasuk seorang Mayor dan 38 serdadu lainnya luka-luka. Merampas 1 bren, 7 SMR, 10 sten gun dan 1 pistol. Kerugian Marinir, gugur 1 orang yakni Prajurit Gabriel.

Peristiwa kalabakan menunjukkan keberhasilan Peleton X melakukan raid melalui medan belantara di perbatasan. Padahal lawan memiliki kemampuan tinggi dengan perlengkapan yang lebih. Ini suatu prestasi yang sulit dilakukan.

Setelah keberhasilan penyusupan ini Rebani berusaha memimpin pasukannya kembali ke pangkalan. Sayang karena medan yang berat ditambah kekurangan makanan, sebagian tidak dapat sampai kembali ke basis, termasuk Sersan Rebani sendiri. Atas jasa dan keberaniannya Rebani dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Mayor Anumerta dan Pemerinta RI menganugerahkan Bintang Sakti kepadanya.

Dengan dilakukan patroli dan raid tersebut lawan kemudian mengurangi aktivitasnya. Sebaliknya raid yang dilakukan lawan di wilayah RI yang dijaga oleh Brigade Pendarat I KKo AL tidak pernah berhasil. Mereka bahkan lebih sering menderita kerugian lebih besar (periode 1965-1966 sampai tercapai persetujuan pengakhiran konfrontasi) terutama di Siglayan.

Korban Perwira Inggris
Pembunuhan terhadap komandan Inggris ini terjadi di kampung Kalabakan. Saat itu Kalabakan merupakan perkampungan yang menjadi salah satu pos keamanan daerah Tawau yang berdekatan dengan pelabuhan Cowie.

Ada 2 posisi pertahanan berstelling di Kalabakan, polisi setempat dan pasukan militer dari Royal Malay Regiment yang menempati 2 buah gubuk Pihak Malaysia sama sekali meremehkan kemampuan tempur pasukan Indonesia yang mengakibatkan lemahnya penjagaan dan kewaspadaan mereka di Kalabakan hal inilah yang dimanfaatkan sersan Rebani dan pasukannya untuk memulai serangan terhadap kedudukan musuh di Kalabakan.

Tapi berdasarkan beberapa catatan sejarah mengenai perwira-perwira Inggris yang tewas di Malaysia bisa diambil beberapa nama antara lain Mayor RM Haddow, Mayor R.H.D. Norman, dan Mayor H.A.I. Thompson, yang pasti pihak Inggris berusaha menutupi nama perwiranya yang tewas dalam kejadian ini, bahkan pihak inggris pun mengarang cerita kepada pemimpin Malaysia Tunku Abdul Rahman yang mengadakan inspeksi bahwa tentara persemakmuran yang tewas di Kalabakan walaupun kalah memberikan perlawanan yang gigih dan pantang menyerah dimana kenyataannya mereka benar-benar diserang mendadak dalam kondisi santai dan tidak siap atau istilah inggrisnya “caught with their trousers down”. Pemerintah Malaysia membangun monumen untuk menghormati korban mereka yang gugur disana.

Hal yang menarik dalam peristiwa ini ikut gugurnya seorang perwira inggris yang coba dicover oleh pemerintah inggris karena takut dipermalukan oleh dunia internasional, perwiranya tewas ditangan pasukan dunia ketiga disaat sedang santai pula.

Tambahan Info :
Pada masa Dwikora Pasukan persemakmuran khususnya Inggris sangat menjaga gengsi dan prestise mereka dimedan tempur, hal ini dilakukan oleh banyak covert operation yang mereka lakukan dimana covert operation ini sampai detik ini masih tergolong classified karena tidak semuanya berjalan mulus seperti yang mereka harapkan, bahkan SOP (Standart Operating Procedure) pasukan persemakmuran saat melakukan patroli dan raid mereka selalu sangat berhati-hati terutama dalam menutupi jejak-jejaknya, pasukan Indonesia banyak belajar mengenai teknik-teknik perang hutan yang sangat lihai diterapkan oleh musuh bahkan mereka tidak pernah meninggalkan korbankorban dari pihak mereka bila terjadi kontak senjata, biasanya acuan bagi pihak Indonesia bila ada korban dari suatu kontak senjata adalah barang-barang atau ransel yang ditinggalkan pemiliknya, hal inilah yang membuat perkiraan terhadap korban pasukan persemakmuran khususnya dari kalangan tentara non-Malaysia sangat sulit karena memang dalam setiap pergerakannya mereka menjaga benar eksistensinya dimedan tempur.

Kalabakan versi Malaysia

Bahasanya bahasa sono..jadi rada2 ribet memahaminya...tapi ane paham kok
dikit2


Satu peristiwa yang tidak mungkin dapat dilupakan, sekaligus menjadi satu titik hitam dalam lipatan sejarah 3 RAMD ialah Peristiwa Kalabakan. Dalam tragedi berdarah ini, seorang pegawai dan tujuh anggota Platun 1 Kompeni A3 RAMD terkoban, manakala 18 orang anggota lagi tercedera. Peristiwa berdarah ini berlaku pada tanggal 29 Disember 1963.

Tempat berlakunya tragedi berdarah yang menimpa 3 RAMD itu terletak tidak jauh dari tebing Sungai Kalabakan. Lokasinya kira-kira 30 batu ke utara Tawau dan 12 batu ke utara sempadan Kalimantan, Indonesia. Di situ terletak dua penempatan kecil Pasukan Keselamtan Malaysia yang terdiri daripada satu penempatan Pasukan Polis Hutan dan sebuah lagi penempatan tentera terletak di suatu lereng bukit.

Kedua-dua penempatan dipisahkan dalam jarak lebih 400 ela sahaja. Pos Polis yang dipagari dengan dawai berduri mempunyai kekuatan 15 orang anggota, manakala penempatan pasukan tentera tidak pula berpagar. Anggota Platun 1 Kompeni A dan kemudiannya disertai oleh seksyen dari Palatun 10 Kompeni C 3 RAMD ditempatkan di situ. Kawasan perkhemahan ini terletak suatu kawasan lereng tanpa sistem keselamatan serta pertahanan yang lengkap. Ini berlaku kerana ketiadaaan bekalan peralatan walaupun usaha mendapatkannya telah berulangkali dilakukan.

Seramai 41 anggota 3 RAMS terlibat dalam peristiwa di Kalabakan, mereka adalah;

1. 5415 Mejar Zainol Abidin Bin Hj. Yaacob
2. 11709 Leftenan Muda Raja Shaharudin bin Raja Rome
3. 2380 Pegawai Waran Dua Awaluddin bin Kamoi
4. 5237 Sarjan Ab.Aziz bin Meon
5. 6775 Koperal Hitam bin Mahmood
6. 9899 Koperal Hashim bin Hj. Ahmad
7. 9894 Lans Koperal Osman bin Darus
8. 33876 Lan Koperal Isa bin Bujang
9. 13960 Lans Koperal Abdullah bin Abdul Rahman
10. 6357 Prebet Hashim bin Abd. Ghani
11. 7966 Prebet Ibrahim bin Ahmad
12. 9542 Prebet Che Amat bin Che Leh
13. 9808 Prebet Mokhtar bin Hassan
14. 10385 Prebet Othman bin Hj. Budin
15. 10557 Prebet Ramli bin Awang
16. 10787 Prebet Othman bin Darus
17. 11020 Prebet Harun bin Abdullah
18. 11955 Ramli bin Salleh
19. 1386 Prebet Adnan bin Jabar
20. 14241 Prebet Zainuddin bin Yaacob
21. 14630 Prebet Ahmad bin Abu Yamin
22. 14185 Prebet Mat Sa’at bin Yaakob
23. 14626 Prebet Ahmad bin Hussin
24. 11245 Prebet Abdul Aziz bin Abdul Ghani
25. 11471 Prebet Ismail bin Mat
26. 11509 Prebet Mohamad Zain bin Yaacob
27. 13784 Prebet Ismail bin Mansor
28. 14447 Prebet Yusof bin Sulong
29. 14469 Prebet Shamsuddin bin Yasin
30. 10277 Prebet Abdul Ghani bin Mohamad
31. 10530 Prebet Shukri bin Suratman
32. 10586 Prebet Mohamed Nafiah bin Yahaya
33. 10587 Prebet Mohamad Nor bin Ahmad
34. 11051 Prebet Yaacob bin Ngah
35. 1164 Prebet Mohamad Arfah bin Almunir
36. 11244 Prebet Ariffin bin Yusof
37. 11957 Prebet Abdul Wahab bin Mat
38. 13885 Prebet Yahya bin Hj. Yaacob
39. 14346 Prebet Ab Karim bin Mat Johan
40. 14571 Prebet Bidin bin Abu
41. 14655 Prebet Mat Saad bin Othman
Menurut laporan, seramai 130 orang tentera Indonesia daripada pelbagai pasukan bergerak dari Kalimantan menyusup ke kawasan Malaysia pada pertengahan Disember 1963. Pasukan ini singgah di Serudong dalam perjalanan menuju ke Selimpopon dengan melewati Tarakan untuk ke kem balak Teck Guan dekat Kalabakan. Mereka bermalam di situ pada 28 Disember. Mejar Zainol Abidin bersama dua seksyen dari Kompeni C digerakkan ke penempatan Platun 1 Kompeni A di Kalabakan pada 29 Disember bagi memperkuatkan subunit berkenaan. Tiga buah kubu, setiap satu untuk tiga orang, dibina untuk tujuan pertahanan, Kubu berkenaan terletak di kiri dan kanan serta di Sebelah kanan belakang rumah atap dan digunakan untuk menempatkan senjata RISLB. Rumah berkenaan diberikan oleh Mr. Ress Pengurus Bombay Burma Timber Company Limited.

Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin menyatakan, beliau ada menerima maklumat yang menyatakan satu kumpulan tentera Indonesia sedang bergerak dari Kalimantan menyusup masuk ke kawasan Malaysia. Mereka dilaporkan telah merampas barang-barang dari sebuah kedai kepunyaan seorang peniaga Cina di kawasan Serudong Laut. Mereka dikatakan sedang bergerak ke arah kawasan Kalabakan.

Tidak lama selepas itu satu tembakan kedengaran memecah keheningan malam dan kemudiannya diikuti pula oleh tembakan yang bertubi-tubi. Ketika saya dan sebilangan anggota keluar dari rumah untuk ‘stand to’, anggota TNI telah pun mula melepaskan tembakan dan melemparkan bom tangan ke kedudukan kami, cerita Lettenan Kolonel (bersara) Raja Shaharudin. Semua anggota bertempiaran keluar dari rumah mencari perlindungan. Sarjan Abdul Aziz berjaya menerjunkan diri ke dalam kubu dan berada bersama ketua platun serta dua anggota lagi. Kami membalas tembakan dan turut melontarkan bom tangan ke arah anggota TNI, saya kemudiannya memerintahkan anggota agar mengambil perlindungan dan tidak melepaskan tembakan kecuali mereka melihat anggota TNI.

Tembak-menembak berhenti kira-kira pukul 11.00 malam, terang Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin. Mr. Ress, besama seorang lalaki datang menemui Leftenan Muda Raja Shaharudin sejurus selepas pertempuran berhenti. Pada lebih kurang pukul 3.30 pagi 30 Disember 1963 satu platun bantuan yang diketuai oleh Leftenan Muda Wan Nordin bnin Wan Mohammad (12176) sampai ke lokasi platun di Kalabakan. Anggotanya diarah mengumpulkan anggota yang terkorban dan tercedera sambil memberikan rawatan sekadar terdaya. Apabila matahari pagi 30 Disember 1963 mula menampakkan sinarnya, anggota mula melakukan penggeledahan kawasan secara terperinci bagi mengumpul mayat dan anggota yang tercedera untuk dimaklumkan kepada markas batalion. Lapan anggota termasuk ketua kompeni disahkan terkorban, manakala 18 anggota lagi tercedera.

Kalabakan versi Malaysia2

Anggota 3 RAMD yang terkorban ialah;

1. Pegawai Waran Dua Awaluddin
2. Sarjan Ab. Aziz
3. Las Koperal Osman
4. Las Koperal Isa
5. Prebet Che Amat
6. Prebet Abdul Ghani
7. Prebet Shukri
8. Prebet Mohamed Nafiah
9. Prebet Mohamad Nor
10.Prebet Yaacob
11. Prebet Mohamad Arfah
12. Prebet Ariffin
13. Prebet Abdul Wahab
14. Prebet Yahya
15. Prebet Mat Sa’at
16. Prebet Ab. Karim
17. Prebet Bidin
18. Prebet Mat Saad

Mengikut Leftenan Kolonel (Bersara) Raja Shaharudin, beliau menahan Sulaiman yang datang pada lebih kurang pukul 8.00 pagi itu. Saya mendapati tiga kelongsong peluru terselit di pinggangnya, ketika memeriksa laras senjatanya, saya mendapati laras senjara tersebut masih berbau serta ada kesan yang menunjukkan senjata tersebut telah digunakan. Sulaiman diserahkan kepada pihak Polis Kalabakan.

Sebelum itu, saya telahpun menahan seorang lelaki yang saya jumpai berjalan di hadapan pejabat Burma Timber Company pada pukul 4.oo pagi itu. Sebuah helikopter tiba ke tempat kejadian pada pukul 11.00 pagi dan 30 Disember bagi mengeluarkan anggota yang tercedera dan terkorban. Anggota tercedera diterbangkan ke Hospital Tawau, manakala yang terkorban diterbangkan pula dari Tawau ke Labuan dengan Pesawat Dakota. Pesawat Dakota sampai ke Labuan pada waktu malam. Penduduk tempatan di Labuan telah membantu memandi dan menyempurnakan jenazah sebelum jenazah diterbangkan balik ke Semenangjung keesokan paginya. Ketibaan jenazah di Lapangan Terbang sungai Besi disambut oleh para Menteri Kabinet dan Pegawai tinggi Tentera juga para pembesar negara. Dari Kuala Lumpur jenazah dibawa pula ke kampung halaman masing-masing untuk dikebumikan.

Pasukan 1/10 Gurkha pimpinan Lieutenant Colonel Burnett dikejarkan ke Kalabakan bagi membantu 3 RAMD membuat penggeledahan Kalabakan. Berikutan itu, pada 12 Januari 1964, seramai 22 orang Tentera Indonesia berjaya dibunuh disamping banyak yang telah ditangkap. Batalion ini berjaya menangkap 3 orang anggota TNI. Walaupun bilangan yang ditawan itu agak kecil jumlahnya, tetapi ia telah membantu pasukan dalam operasi selepas itu. Beberapa kawasan di Tawau telah diisytiharkan sebagai kawasan terhad bagi memudahkan operasi pasukan keselamatan. Pada 27 Januari, satu kumpulan ronda dari Kompeni B di bawah pimpinan Leftenan Muda Ishar bin Sham (12221) menjumpai satu perkhemahan anggota TNI dan pertempuran berlaku. Seorang anggota TNI berjaya dibunuh, dua pucuk senapang, 12 butir bom tangan dan sejumlah peluru berjaya dijumpai.

Platun 6 di bawah pimpinan Leftenan Muda Abdul Aziz bin Shaari (12178) ketika membuat serang hendap di Merotai Estet pada 28 Januari berjaya membunuh tiga orang anggota TNI, selepas mengalami satu pertempuran sengit dengan mereka. Sehingga 10 Februari, seramai 29 anggota TNI berjaya dibunuh, 33 ditawan, manakala 22 menyerah diri. Selain itu, operasi di Pulau Sebatik terus dilakukan. Pada 25 Januari, Presiden Soekarno bersetuju mengisytiharkan gencatan senjata. Walau bagaimanapun, anggota pasukan Keselamatan diperingatkan agar bersiap sedia menghadapi sebarang kemungkinan. Pemberhentian pertempuran telah dipersetujui di majlis perdamaian yang diadakan di Bangkok antara Malaysia dan Indonesia. Ketika operasi Malaysia secara haram.

Oleh kerana kegagalan persidangan damai di Bangkok, keadaan menjadi tegang semula dan perhatian penuh mula ditumpukan semula di perbatasan. Penyusupan dan tembakan anggota TNI di Pulau Sebatik menyebabkan Kompeni A dihantar membantu Kompeni C di situ. Kampung Sungai limau merupakan salah satu tempat yang menjadi pusat pergerakan anggota TNI. Pada 19 April seorang anggota TNI berjaya dibunuh oleh satu seksyen yang membuat serang hendap. Penyusup telah cuba menawan kedudukan satu platun yang ditugaskan di situ pada 20 April, tetapi gagal kerana platun terlibat telah membuat pertahanan yang teguh di kedudukan mereka.

Batalion kemudiannya kembali semula ke Alor Setar selepas lebih kurang lima bulan berkhidmat di Sabah. Sebagai penghargaan terhadap perkhidmatan cemerlang batalion ketika konfrontasi dua warga 3 RAMD, Pegawai Waran Dua Awaludin dan Prebet Mohamed Nafiah dikurniakan kepujian Perutusan Keberanian (KPK) sepanjang penglibatannya dalam era konftontasi, 3 RAMD, beroperasi dua kali di Tawau dan sekali di Sibu. Seramai lapan warganya terkorban, manakala 18 mengalami kecederaan. Dalam operasi bersama 1/10 Gurkha dan Trup 2 Peninjau sekitar Tawau, seramai 29 TNI berjaya dibunuh, 33 orang ditawan, manakala 22 lagi menyerah diri.
Cukup segini dulu untuk dwikoranya...mau fokus nyari kisah rajawali lagi.

Thumbs up 

Quote:Original Posted By pioneer1980
MEREKA memulai perjalanannya dari pelabuhan Armada Laut Timur Ujung di Surabaya. Sekitar 700-an serdadu dari Batalyon Infanteri 521/Dadha Yodha menyemut di bibir dermaga, menunggu giliran naik ke kapal Teluk Bayur. Mereka akan berlayar ke Aceh, medan perang yang jaraknya 3.000 kilometer, dari asrama mereka di Kediri. Di dermaga, seorang gadis berambut kepang mencari-cari sesosok wajah. Saat kapal beringsut meninggalkan Surabaya, pipinya basah dengan air mata. Suasana di atas kapal mirip pasar tumpah. Orang lalu lalang tapi ruang terbatas. Prajurit hanya diizinkan menggunakan anjungan geladak. Ada terpal besar yang menutup seantero geladak. Para serdadu ini sukar tidur nyenyak. Matras tak dapat diandalkan melawan permukaan dek yang keras. Ruangan sempit. Tidur berdesak-desakan. Punggung yang semestinya rebah di matras terganjal ransel. Hanya kaki yang bisa diluruskan.

Mereka mengisi waktu luang dengan bercengkerama atau bermain kartu. Sesekali mereka menyumpahi nenek moyangnya saat melihat kapal perang mereka disalip kapal barang di laut lepas. Kedongkolan itu bertahan sehari, dua hari, lima hari, sepekan .... hingga kapal Teluk Bayur merapat di pelabuhan Malahayati, Banda Aceh, 18 Juni 2002. Untuk pelayaran yang biasa ditempuh tiga hari dengan kapal komersial, para serdadu Kediri ini menghabiskan delapan hari. Sehari sebelum merapat di Banda Aceh, Teluk Bayur membongkar sebagian muatannya di Lhokseumawe. Pertimbangannya, perairan Malahayati relatif dangkal. Sukar merapat jika muatan kapal penuh.

Di Lhokseumawe, empat truk Mercedes-Benz, satu ambulans dan satu jip komandan batalyon diturunkan dan segera bergerak ke Banda Aceh, menyusul rekan mereka yang akan tiba di sana keesokan harinya. Prajurit Kepala Muhamad Khusnur Rokhim ditunjuk sebagai pemandu jalan.

"Kami berangkat," kata Rokhim,
"Dikawal tim khusus satu peleton. Tiga puluh orang. Senjata lengkap. Saya bilang ke anak-anak, di sini sudah masuk Aceh, jangan kaya' tugas di Ambon, Timor Timur. Tidak ada apa-apanya. Di Aceh, sejengkal tanah tidak ada yang aman."

"Keluar dari Lhokseumawe, kita menuju ke Bireun. Bireun 'kan rawan? Perjalanan Lhokseumawe ke Bireun aman. Lepas Bireun ke Peudada. Saya kasih tahu ini titik rawan. Medan terbuka. Waspada!"

"Masuk ke Bandar Dua. Saya kasih tahu juga."

"Uleglee, hati-hati!"

"Habis Trienggading masuk Luengputu. Nah di situ kelapa-kelapa 'kan banyak! Saya kasih tahu, 'Awasi ketinggian!'
Mobil jalan terus. Sampai Luengputu dua mobil yang mengawal sejak dari Lhokseumawe pulang. Alasannya sudah dekat kota. Sigli 100 persen aman. Saya tetap nggak yakin. Tidak ada di sini aman. Saya juga (pernah) di sini. Lama. Saya bilang ke kawan-kawan,
'Hati-hati di depan, samping kanan-kiri.'"

Sebelum bertolak ke Sigli, konvoi berhenti di kantor Komando Rayon Militer (Koramil) Geulumpang Minyeuk, kecamatan Geulumpang Tiga, kabupaten Pidie. Letnan Dua Ruben Rihi turun menanyakan kondisi perjalanan ke Sigli.
"Saya jamin sini ke Kodim Pidie," kata orang Koramil.
Ruben Rihi lega. Konvoi kembali bergerak. Ruben ikut truk Rokhim, jalan paling depan. Selepas sekitar 200-an meter, laju kendaraan yang berlapis baja tiga milimeter itu terganggu. Ada segerombolan sapi melintas. Perasaan Rokhim mendadak tak enak. Tapi dia tak ingin menurutinya. Medan di seputarnya berbicara lain: bukan medan kritis. Tak ada ketinggian. Di kiri jalan, ada pertigaan yang menghubungkan jalan besar dengan sekolah di sana. Dia melihat serombongan murid bergerak ke arah simpang itu. Tak jauh dari sekolah ada rimbunan pohon kelapa, sagu, dan nipah. Sapi telah lewat. Jalan telah bersih. Konvoi kembali bergerak. Truk paling belakang telah melewati simpang tiga itu. Lewat jendela, Rokhim melihat ada mobil penumpang dan sepeda motor bergerak dari arah berlawanan. Ada pompa bensin tak jauh di depan sana. Ramai orang di situ. Konvoi telah bergerak sekitar 500 meter meninggalkan Koramil.

Tiba-tiba .... rrrreetttttttttttt-ret-rettttttttt .... tang-tang-tang.

Ada AK-47 yang menyalak dari rimbunan kelapa tadi. Sekitar dua menit lamanya, menyasar bak truk paling depan. Baja pelindung tangki angin mobil Rokhim jebol.
"Tang-tang-tang .... tang-tang-tang."

Di bak belakang, Ruben Rihi dan beberapa serdadu pengawal terperanjat. Belum sehari mereka di Aceh sudah disiram tembakan. Seisi bak sontak menyembunyikan kepala.
"Peluru sejengkal di atas kepala," kata Ruben.

Sersan Satu Handoko ada di jip komandan. Dia berjuang mengatasi kekagetannya. Untung, peluru sudah di kamarnya. Buru-buru dia membuka kunci. Senjata otomatis Minimi buatan Belgia di tangannya menyalak. Sayang, sentakan gas mobil membuat tembakannya tak terarah. Dia terpelanting. Jatuh.

"Kami," kata Rokhim, "Mau turun (tapi) ngeri juga karena medan terbuka. Melarikan diri itu jalan satu-satunya."

Konvoi meninggalkan tempat penghadangan selekas mungkin. Tak ada yang celaka siang itu. Tapi ketegangan di wajah mereka baru cair sejam kemudian. "Goreng jagung" di siang bolong itu, demikian beberapa prajurit menyebut dentingan proyektil menghantam pelat baja mobil, membekas di benak banyak serdadu Indonesia yang ditugaskan di Aceh.

"Sejak itu saya ndak percaya lagi sama orang Aceh. Ini menyangkut nyawa. Kalau ada (orang) Koramil waktu itu, sudah saya hantam. Orang Aceh itu (memang) tidak bisa dipercaya," kata Letnan Dua Ruben Rihi.


Glumpang Minyeuk, simpang 3 itu dekat dengan kampung saya
Wah, cerita yang menarik, Keren, berasa jadi ikutan di medan perang..
Lanjut Kumendan..
Tenang, ane bukan GAM kok..
TS... lokasi ane dket seroja ney
pengungsi dri timtim emang pda di mari ko