Perbedaan Candi Jawa Timur dan Candi Jawa Tengah


Perbedaan Candi Jawa Timur dan Candi Jawa Tengah

Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah peninggalan masa lampau yang berasal dari agama hindu – budha. Digunakan sebagai tempat pemujaan dewa – dewa. Namun demikian, istilah candi tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja. Banyak situs – situs purbakala lain dari masa hindhu – Buddha atau klasik Indonesia, baik sebagai istana,pemandian/petirtaan, gapuradan sebagainya. candi dari asal katanya CANDIKAGHRA. Candika = Dewi maut (di Indonesia dikenal Bethari Durga = Durga Sura Mahesa Mardhani) dan GRHA = GRAHA = GRIYA/GRIYO yang artinya rumah. Jadi Candi menurut mereka adalah rumah untuk bethari Durga = rumah dewi maut. Wujud Ciwa Durga Sura Mahesa Mardhani dapat kita jumpai di candi Prambanan pada Candi Ciwa, pada wujud patung yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Roro Jonggrang. Jadi pada masa klasik candi dipahami sebagai tempat suci untuk bakti kepada para dewa. Namun dalam perkembangannya istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah dengan bentuk bangunan layaknya bangunan peribadatan saja. Hampir semua situssitus purbakala dari masa HinduBudha atau Klasik Indonesia, baik sebagai istana, pemandian/petirtaan, gapura, dan sebagainya, disebut dengan istilah candi.

Hampir semua ahli sejarah sependapat bahwa konsep dan arsitek candi berasal dari pengaruh Hindu dari India yang menyebar pengaruhnya hingga ke Nusantara sekitar abad ke 4 hingga abad ke 15. Pengertian pengaruh Hindu di sini adalah untuk menyebut semua bentuk pengaruh yang berasal dari India yang masuk ke Nusantara pada periode yang disebutkan di atas. Pengaruhpengaruh itu diantaranya agama/kepercayaan Hindu dan Budha dengan tata cara ritualnya, Bahasa dan tulisan (Sansekerta dan Palawa), Konsep kasta dalam masyarakat (stratifikasi sosial), sistem pemerintahan feodal dan arsitektur bangunan. Dari tempat asalnya, fungsi candi merupakan bangunan suci untuk pemujaan/upacara ritual kepada para dewa. Setibanya di Nusantara fungsi candi tidak hanya difungsikan untuk pemujaan (bangunan suci) tetapi juga untuk tempat perabuan (baca=kuburan). Dimasa kerajaan Hindu - Budha berjaya di tanah air, jenazah para raja yang diyakini sebagai titisan dewa setelah dikremasi (diperabukan=dibakar) ditanam di candi pada suatu wadah yang disebut peripih. Dalam istilah kuno proses ritual demikian diistilahkan dengan kata dicandikan, artinya dimakamkan di candi.



lajutan di bawah gan
Pengenalan Candi Jawa Timur

Candi di Jawa Timur jumlahnya mencapai puluhan, umumnya pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Belum semua candi dimuat dalam situs web ini. Masih banyak candi, terutama candi-candi kecil yang belum terliput, di antaranya: Bacem, Bara, Bayi, Besuki, Carik, Dadi, Domasan, Gambar, Gambar Wetan, Gayatri, Gentong (dalam pemugaran), Indrakila, Jabung, Jimbe, Kalicilik, Kedaton, Kotes, Lemari, Lurah, Menakjingga, Mleri, Ngetos, Pamotan, Panggih, Pari, Patirtan Jalatunda, Sanggrahan, Selamangleng, Selareja, Sinta, Songgoriti, Sumberawan, Sumberjati, Sumberjati, Sumbernanas, Sumur, Watu Lawang, dan Watugede.

Berbeda denga candi-candi Jawa Tengah, selain sebagai monumen candi di Jawa Timur diduga kuat juga berfungsi sebagai tempat pendarmaan dan pengabadian raja yang telah meninggal. Candi yang merupakan tempat pendarmaan, antara lain, Candi Jago untuk Raja Wisnuwardhana, Candi Jawi dan Candi Singasari untuk Raja Kertanegara, Candi Ngetos untuk Raja Hayamwuruk, Candi Kidal untuk Raja Anusapati, Candi Bajangratu untuk Raja Jayanegara, Candi Jalatunda untuk Raja Udayana, Pemandian Belahan untuk Raja Airlangga, Candi Rimbi untuk Ratu Tribhuanatunggadewi, Candi Surawana untuk Bre Wengker, dan candi Tegawangi untuk Bre Matahun atau Rajasanegara. Dalam filosofi Jawa candi juga berfungsi sebagai tempat ruwatan raja yang telah meninggal supaya kembali suci dan dapat menitis kembali menjadi dewa. Keyakinan tersebut berkaitan erat dengan konsep “Dewa Raja” yang berkembang kuat di Jawa saat pada masa yang sama. Fungsi ruwatan ditandai dengan adanya relief pada kaki candi yang menggambarkan legenda dan cerita yang mengandung pesan moral, seperti yang terdapat di Candi Jago, Surawana, Tigawangi, dan Jawi.


Candi Badhaut
Candi Badut terletak di kawasan Tidar, Arah ITN[institutTeknologi Nasional] ke barat kota Malang. Dapat ditempuh dengan kendaraan umum jurusan Tidar. Lokasinya bisa dilihat di Wikimapia. Candi ini diperkirakan berusia lebih dari 1400 tahun dan diyakini adalah peninggalan Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi.
Kata Badut di sini berasal dari bahasa sansekerta “Bha-dyut” yang berarti sorot Bintang Canopus atau Sorot Agastya. Hal itu terlihat pada ruangan induk candi yang berisi sebuah pasangan arca tidak nyata dari Siwa dan Parwati dalam bentuk lingga dan yoni. Pada bagian dinding luar terdapat relung-relung yang berisi arca Mahakal dan Nadiswara. Pada relung utara terdapat arca Durga Mahesasuramardhini. Relung timur terdapat arca Ganesha. Dan disebelah Selatan terdapat arca Agastya yakni Syiwa sebagai Mahaguru. Namun di antara semua arca itu hanya arca Durga Mahesasuramardhini saja yang tersisa.
Candi ini ditemukan pada tahun 1921 dimana bentuknya pada saat itu hanya berupa gundukan bukit batu, reruntuhan dan tanah. Orang pertama yang memberitakan keberadaan Candi Badut adalah Maureen Brecher, seorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dibangun kembali pada tahun 1925-1927 di bawah pengawasan B. De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dilakukan pada saat itu diketahui bahwa bangunan candi telah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih dapat dilihat susunannya.



Candi Singhasari
Candi Singhasari atau Candi Singasari atau Candi Singosari adalah candi Hindu - Buddha peninggalan bersejarah Kerajaan Singhasari yang berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Indonesia.
Cara pembuatan candi Singhasari ini dengan sistem menumpuk batu andhesit hingga ketinggian tertentu selanjutnya diteruskan dengan mengukir dari atas baru turun ke bawah. (Bukan seperti membangun rumah seperti saat ini). Candi ini berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, (sekitar 10km dari Kota Malang) terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna di ketinggian 512 m di atas permukaan laut.



kalo jawa barat gimana gan ? ada bedanya gak ?


Mau Dolar ??? ke sini gan
Quote:Original Posted By junet99
kalo jawa barat gimana gan ? ada bedanya gak ?


Mau Dolar ??? ke sini gan


seementara buat candi jawa tengah sama jawa timur dlu gan
trit selanjutnya mungkin bisa
untuk membahas candi jawa barat.

trimakasih gan udah mampir
kalo candi peralihan ada gak ya ??
kalo candi peralihan ada gak ya ??
thanks informasinya gan , nambah ilmu pengetahuan banget
Candi = Rumah Dewi Maut?

baru tau ane..


Nice share gan
mana perbedaanya gan !!
Quote:Original Posted By Dcoplaxmaniax
kalo candi peralihan ada gak ya ??


ada gan tapi tidak ane bhas di sini

Quote:Original Posted By oon89
thanks informasinya gan , nambah ilmu pengetahuan banget


ok gan
di tunggu mya

Quote:Original Posted By skacore
Candi = Rumah Dewi Maut?

baru tau ane..


Nice share gan


makasih gan udah mampir

Quote:Original Posted By duabelaspass
mana perbedaanya gan !!


nie gan lanjut lagi
Pengenalan Candi di Jawa Tengah
Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat sebuah kerajaan Hindu bernama Kalingga. Pada akhir paruh pertama abad ke-8, diperkirakan th. 732 M, Raja Sanjaya mengubah nama Kalingga menjadi Mataram. Selanjutnya Mataram diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya). Selama masa pemerintahan Raja Sanjaya, diperkiraka telah dibangun candi-candi Syiwa di pegunungan Dieng. Pada akhir masa pemerintahan Raja Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya (di Palembang) yang berhasil menguasai wilayah selatan di Jawa Tengah. Kekuasaan Mataram Hindu terdesak ke wilayah utara Jawa Tengah.
Candi di Jawa Tengah umumnya menghadap ke Timur, dibangun menggunakan batu andesit. Bangunan candi umumnya bertubuh tambun dan terletak di tengah pelataran. Di antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar, yang berfungsi sebagai tempat melakukan ‘pradaksina’ . Di atas ambang pintu ruangan dan relung terdapat hiasan kepala Kala (Kalamakara) tanpa rahang bawah. Bentuk atap candi di Jawa tengah umumnya melebar dengan puncak berbentuk ratna atau stupa. Keterulangan bentuk pada atap tampak dengan jelas.


Candi Barabudhur terletak di Kabupaten Magelang, sekitar 15 km ke arah Baratdaya Yogyakarta. Candi Buddha terbesar di Indonesia ini telah warisan budaya duniadan telah terdaftar dalam daftar warisan dunia (world heritage list), yang semula diberi nomor 348 dan kemudian diubah menjadi 582 pada tahun 1991. Lokasi Candi Barabudhur yang merupakan bukit kecil dikelilingi oleh pegunungan Menoreh, G. Merapi dan G. Merbabu di timurlaut, serta G. Sumbing dan G. Sindoro di baratlaut.
Sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara para pakar tentang nama Barabudhur. Dalam Kitab Negarakertagama (1365 M.) disebut-sebut tentang Budur, sebuah bangunan suci Buddha aliran Vajradhara. Menurut Casparis dalam Prasasti Sri Kahulunan (842 M) dinyatakan tentang “Kawulan i Bhumi Sambhara”. Berdasarkan hal itu ia berpendapat bahwa Barabudhur merupakan tempat pemujaan. Bumi Shambara adalah nama tempat di Barabudhur. Menurut Poerbatjaraka, Barabudhur berarti Biara Budur, sedangkan menurut Raffles, ‘bara’ berarti besar dan ‘budhur’ merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti Buddha.
Berdasarkan tulisan yang terdapat di beberapa batu di Candi Barabudhur, para ahli berpendapat bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 780 M, pada masa pemerintahan raja-raja Wangsa Sanjaya. Pembangunannya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan baru selesai sekitar tahun 830 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Konon arsitek candi yang maha besar ini bernama Gunadharma, namun belum didapatkan informasi tertulis tentang tokoh ini. Pada tahun 950 M, Candi Barabudhur terkubur oleh lava letusan G. Merapi dan baru ditemukan kembali hampir seribu tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1814. Penemuan kembali Candi Barabudhur adalah atas jasa Sir Thomas Stamford Raffles.
Perbedaan Candi – Candi di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah

Kebanyakan candi yang ada di Indonesia berada di wilayahJawa, khususnya di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur,yang memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun sekarang ini JawaTengah, Yogyakarta dan Jawa Timur merupakan tiga provinsiyang berbeda, namun dalam sejarahnya ketiga wilayah tersebut termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Hindu dan Budha.Berdasarkan ciri-cirinya, candi di Jawa Tengah dan Yogyakartadapat dikelompokkan dalam candi-candi di wilayah utara dancandi-candi di wilayah selatan. Candi-candi yang terletak diwilayah utara, yang umumnya dibangun oleh Wangsa Sanjaya,merupakan candi Hindu dengan bentuk bangunan yangsederhana, batur tanpa hiasan, dan dibangun dalam kelompoknamun masing-masing berdiri sendiri serta tidak beraturanberaturan letaknya. Yang termasuk dalam kelompok ini, diantaranya:
Candi Dieng dan Candi Gedongsanga. Candi diwilayah selatan, yang umumnya dibangun oleh WangsaSyailendra, merupakan candi Buddha dengan bentuk bangunan yang indah dan sarat dengan hiasan. Candi di wilayah utara ini umumnya dibangun dalam kelompok dengan pola yang sama, yaitu candi induk yang terletak di tengah dikelilingi oleh barisan candi perwara. Yang termasuk dalam kelompok ini, di antaranya:
Candi Prambanan,
Candi Mendut,
Candi Kalasan,
Candi Sewu,
dan Candi Borobudur.

Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit. Bahan dasar, gaya bangunan, gaya dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.Salahsatu bagian paling penting dari candi-candi tersebut adalah relief. Relief termasuk hiasan pada bidang candi yang biasanya terdapat pada candi-candi besar di Jawa Tengah bagian selatan dan beberapa candi besar di Jawa Timur.

Relief adalah hiasan berupa cerita yang dipahatkan pada bagian kaki atau bagian tubuh candi, khususnya pada candi-candi berukuran besar. Adegan-adegan cerita dalam bentuk relief bersumber dari kitab-kitab sastra Hindu, Budha atau agama lain. Dari relief ini dapat diketahui agama apa yang melandasi pendirian candi.

Relief pada candi sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahanbangunan bahan bangunan, gaya, dan isi cerita. Dalam trit ini akan dibahas mengenai perbedaan relief candi yang berada di wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta dan wilayah Jawa Timur yang dapat dibedakan menjadi gaya JawaTengah dan gaya Jawa Timur.Dalam wacana arkeologi Indonesia, terdapat 2 gayapercandian yakni gaya Jawa Tengah (abad 5-10 M) dan gayaJawa Timur (abad 11-15 M), dimana masing-masing memilikigaya serta karakteristik berbeda. Candi bergaya Jawa Tengahtermasuk yang berada di wilayah Yogyakarta, umumnya memilikitubuh yang tambun, berdimensi geometris vertikal dengan pusatcandi terletak di tengah, bahan bangunan terbuat dari batuanandesit sedangkan gaya Jawa Timur bertubuh ramping, bahanbangunan terbuat dari batu andesit dan batu bata merah,berundak horisontal, serta bagian paling suci terletak dibelakang. Gaya candi tersebut secara otomatis akan mempengaruhibentuk relief yang ada, sehingga gaya reliefnya juga dapatdibagi menjadi 2 sesuai dengan gaya candi yang ada di Jawa,yaitu relief candi gaya Jawa Tengah dan gaya Jawa Timur.
wah bagus banget nih tritnya

nambah wawasan ane yang selama ini menganggap tiap candi sama aja... ternyata menyimpan perbedaan juga
[QUOTE=marbun;50fa7e577c12430825000014]wah bagus banget nih tritnya

nambah wawasan ane yang selama ini menganggap tiap candi sama aja... ternyata menyimpan perbedaan juga [/QUOTE
trimakasih gan udah mampir

pantau aja terus

masih d update terus
Candi-candi di Jawa Timur umumnya usianya lebih muda dibandingkan yang terdapat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, karena pembangunannya dilakukan di bawah pemerintahan kerajaan-kerajaan penerus kerajaan Mataram Hindu, seperti Kerajaan Kahuripan, Singasari, Kediri dan Majapahit.

Bahan dasar, gaya bangunan, corak dan isi cerita relief candi-candi di Jawa Timur sangat beragam, tergantung pada masa pembangunannya. Misalnya, candi-candi yang dibangun pada masa Kerajaan Singasari umumnya dibuat dari batu andesit dan diwarnai oleh ajaran Tantrayana (Hindu-Buddha), sedangkan yang dibangun pada masa Kerajaan Majapahit umumnya dibuat dari bata merah dan lebih diwarnai oleh ajaran Buddha.

Adapun ciri candi Langgam Jawa Timur yang penting adalah:
(a) bentuk bangunannya ramping,
(b) atapnya merupakan perpaduan tingkatan,
(c) Makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala Kala,
(d) reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit, dan
(e) letak candi bagian belakang.


candi Langgam Jawa Timur jumlah tingkatan atapnya lebih dari tiga dan berangsur-angsur tiap tingkatan tersebut mengecil hingga puncaknya, begitupun pradaksinapathanya sempit hanya muat untuk satu orang saja, oleh karena itu kesan bangunannya berbentuk ramping.
Sedangkan Kala di candi-candi dengan Langgam Jawa Timur digambarkan mempunyai rahang bawah (berdagu), jelas mempunyai sepasang cakar di kanan-kiri kepalanya dalam artian mengancam kejahatan yang akan mengganggu kesucian candi, pada beberapa candi zaman Singhasari dan Majapahit kepala Kala dilengkapi sepasang tanduk dan sepasang taring yang mencuat dari pipi kanan-kirinya. Kala tidak lagi dipasangkan dengan bingkai Makara, melainkan dengan ular atau Naga yang diletakkan di samping kanan-kiri Kala. Dalam penggambaran relief Kala disepadankan dengan sepasang kepala kijang (mŗga) yang menghadap ke arah luar. Pada akhirnya kesan yang didapatkan apabila memperhatikan Kala candi-candi Jawa Timur adalah sebagai kepala raksasa, bukannya wajah singa.
Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:




1. Pemahatan relief rendah
2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28—29).
9. Bangunan candi di wilayah Jawa bagian timur yang relatif masih utuh kebanyakan berasal dari periode Singhasari (abad ke-13 M) dan Majapahit (abad ke-14–15 M). Candi-candi yang dihubungkan dengan periode Kerajaan Singhasari yang masih bertahan hingga kini adalah Candi Sawentar (Blitar), Kidal, Singhasari, Stupa Sumberawan (Malang), dan candi Jawi (Pasuruan).
10. Adapun candi-candi dari era Majapahit yang masih dapat diamati wujud bangunannya walaupun banyak yang tidak utuh lagi, adalah:


1. Candi Sumberjati (Simping) Abad ke-14 M Blitar
2. Candi Ngrimbi (Arimbi) s.d.a Jombang
3. Candi Panataran (Rabut Palah) s.d.a Blitar
4. Candi Surawana s.d.a Kediri
5. Candi Tegawangi s.d.a Kediri
6. Candi Kali Cilik s.d.a Blitar
7. Candi Bangkal s.d.a Mojokerto
8. Candi Ngetos s.d.a Nganjuk
9. Candi Kotes s.d.a Blitar
10. Candi Gunung Gangsir s.d.a Pasuruan
11. Candi Jabung s.d.a Probolinggo
12. Candi Kedaton Abad ke-15 M Probolinggo
13. Candi Brahu s.d.a Trowulan/Mojokerto
14. Candi Tikus s.d.a s.d.a
15. Gapura Bajang ratu s.d.a s.d.a
16. Gapura Wringin Lawang s.d.a s.d.a
17. Candi Pari Abad ke-14 M Sidoarjo
18. Candi Pamotan Abad ke-15 M Mojokerto
19. Candi Dermo s.d.a s.d.a
20. Candi Kesiman Tengah s.d.a s.d.a
21. Candi Sanggrahan Abad ke-14 M Tulungagung
22. Candi Mirigambar s.d.a s.d.a
23. Candi Bayalango s.d.a s.d.a
24. Punden berundak di Penanggungan Abad ke-15—16 M Mojokerto
12. Berdasarkan wujud arsitektur yang masih bertahan hingga kini,

maka bangunan suci Hindu-Buddha di wilayah Jawa Timur yang berkembang antara abad ke-13—16 M dapat dibagi ke dalam 5 gaya, yaitu
(1) Gaya Singhasari,
(2) Gaya Candi Brahu,
(3) Gaya Candi Jago,
(4) “Candi Batur”, dan
(5) Punden berundak.

Untuk lebih jelasnya ciri setiap gaya tersebut adalah sebagai berikut:
13. 1.Gaya Singhasari
14. Dinamakan demikian karena wujud arsitektur yang menjadi ciri gaya ini mulai muncul dalam zaman kerajaan Singhasari dan terus bertahan hingga zaman Majapahit.

Ciri yang menonjol dari Gaya Singhasari adalah:
Bangunan candi utama terletak di tengah halaman, atau di daerah tengahnya yang sering tidak terlalu tepat.
Bangunan candi terbagi 3 yang terdiri dari bagian

kaki (upapitha),
tubuh (stambha), dan
atap yang berbentuk menjulang tinggi dengan tingkatan yang berangsur-angsur mengecil hingga puncak.

Seluruh bangunan candi terbuat dari bahan tahan lama, seperti batu, bata, atau campuran batu dan bata.
Ruang atau bilik utama terdapat di bagian tengah bangunan, terdapat juga relung di dinding luar tubuh candi tempat meletakkan arca dewata.

16. Contoh gaya Singhasari adalah:

Candi Sawentar,
Kidal,
Jawi,
Singhasari (memiliki keistimewaan),
Angka Tahun Panataran,
Kali Cilik,
Ngetos, dan
Bangkal.


Gaya Brahu
Brahu adalah nama candi bata yang terletak di situs Trowulan, bentuk bangunannya unik, karena arsitekturnya baru muncul dalam zaman Majapahit. Dalam masa sebelumnya baik di era Singhasari atau Mataram Kuno bentuk arsitektur demikian belum dikenal.

Dapat dipandang sebagai corak arsitektur tersendiri karena selain Candi Brahu candi yang sejenis itu masih ada lagi dalam zaman yang sama. Ciri Gaya Brahu adalah:

Bagian kaki candi terdiri atas beberapa teras (tingkatan),
teras atas lebih sempit dari teras bawahnya).

Tubuh candi tempat bilik utama didirikan di bagian belakang denahnya yang bentuk dasarnya empat persegi panjang.

Seluruh bangunan dibuat dari bahan yang tahan lama, umumnya bata.

Termasuk kelompok Gaya Brahu adalah
Candi Brahu,
Jabung, dan
Gunung Gangsir.

Dalam pada itu di wilayah Padang Lawas, Sumatra Utara terdapat sekelompok bangunan suci dengan Gaya Brahu pula, dinamakan dengan Biaro Bahal yang jumlahnya lebih dari 3 bangunan. Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas tersebut didirikan dalam masa perkembangan Majapahit pula.

Gaya Jago
22. Candi Jago terletak di Malang, arca-arcanya berlanggam seni Singhasari dengan adanya tokoh yang diapit oleh sepasang teratai yang keluar dari bonggolnya, namun gaya bangunannya tidak sama dengan dua macam gaya yang telah disebutkan terdahulu. Menilik bentuk bangunannya yang berbeda dengan dua gaya lainnya, maka Candi Jago bersama beberapa candi lainnya yang sejenis termasuk ke dalam gaya seni arsitektur tersendiri. Untuk memudahkannya gaya arsitektur itu dinamakan dengan Gaya Jago, dengan Candi Jago sebagai contoh terbaiknya. Ciri-ciri penting Gaya Jago adalah:

Kaki candi berteras 1, 2 atau 3 dengan denah dasar empat persegi panjang.
Bilik utama didirikan di bagian tengah teras teratas atau bergeser agak ke belakang teras teratas.

Atap tidak dijumpai lagi, diduga terbuat dari bahan yang cepat rusak (ijuk, bambu, kayu, dan lain-lain), bentuknya menjulang tinggi bertingkat-tingkat dalam bahasa Jawa Kuno dikenal dengan prasadha. Bentuk seperti ini masih dikenal di Bali dan digunakan untuk menaungi bangunan meru, pelinggih dan pesimpangan di kompleks pura.

Bangunan candi yang termasuk kelompok Gaya Jago adalah:
Candi Jago,
Candi Induk Panataran,
Sanggrahan, dan
Kesiman Tengah.


“Candi Batur”
Dinamakan demikian karena bentuknya hanya merupakan suatu bangunan 1 teras sehingga membentuk seperti siti inggil atau batur.

Sekarang hanya tersisa batur itu saja dengan tangga di salah satu sisinya, denahnya bias berberntuk bujur sangkar dan dapat pula berbentuk empat persegi panjang. Di bagian permukaan batur biasanya terdapat objek sakral, antara lain berupa lingga-yoni, altar persajian, pedupaan berbentuk candi kecil atau juga arca perwujudan tokoh yang telah meninggal.

Contoh bangunan candi seperti itu adalah
Candi Kedaton di Probolinggo,
Candi Kedaton di Trowulan,
Candi Miri Gambar,
Tegawangi,
Surawana,
Papoh (Kotes), dan
Pasetran di lereng utara Gunung Penanggungan.

Punden berundak
Adalah bangunan teras bertingkat-tingkat meninggi yang menyandar di kemiringan lereng gunung. Ukuran teras semakin mengecil ke atas, jumlah teras umumnya 3 dan di bagian puncak teras teratas berdiri altar-altar persajian yang jumlahnya 3 altar (1 altar induk diapit dua altar pendamping di kanan-kirinya. Tangga naik ke teras teratas terdapat di bagian tengah punden berundak, terdapat kemungkinan dahulu di kanan kiri tangga tersebut berdiri deretan arca menuju ke puncak punden yang berisikan altar tanpa arca apapun. Contoh yang baik bentuk punden berundak masa Majapahit terdapat di lereng barat Gunung Penanggungan, penduduk menamakan punden-punden itu dengan candi juga, misalnya Candi Lurah (Kepurbakalaan No.1), Candi Wayang (Kep. No.VIII), Candi Sinta (Kep.No.17a), Candi Yuddha (Kep.No.LX), dan Candi Kendalisada (Kep.No.LXV).

Selain di Gunung Penanggungan terdapat pula beberapa punden berundak di lereng timur Gunung Arjuno, hanya saja dinding teras-terasnya disusun dari batu-batu alami, tanpa dibentuk dahulu menjadi balok-balok batu.

Penggolongan bentuk arsitektur candi-candi di Jawa Timur tersebut berdasarkan pengamatan terhadap sisa bangunan yang masih ada sekarang, mungkin di masa silam lebih banyak lagi bentuk arsitektur yang lebih unik dan menarik, hanya saja tidak tersisa lagi wujudnya. Terdapat juga bangunan candi yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk arsitektur manapun, misalnya Candi Pari yang bangunannya melebar dan tinggi, mirip dengan bangunan suci yang terdapat di Champa (Indo-China). Mungkin saja dahulu terdapat pengaruh gaya bangunan Champa yang masuk ke Majapahit, hal itu agaknya sejalan dengan berita tradisi yang mengatakan bahwa raja Majapahit pernah menikah dengan seorang putri Champa.Bangunan lain yang juga unik adalah Candi Sumur di dekat Candi Pari, dinamakan demikian karena ruang utamanya berupa lubang sumur yang berair. Candi Sumur mempunyai padanannya pada Candi Sanggariti di Batu, Malang, namun dari kronologi yang jauh berbeda.

Dalam hal pemahatan relief yang menghias dinding candi, jika disimak dengan seksama terdapat perbedaan yang lebih terinci lagi. Memang secara prinsip di candi-candi Langgam Jawa Tengah pemahatan reliefnya tinggi dan bersifat naturalis, namun terdapat sejumlah ciri lainnya lagi yang bersifat spesifik. Dengan demikian jika diuraikan secara lengkap ciri relief di candi-candi Jawa Tengah adalah:

1. Pemahatan relief tinggi
2. Penggambaran bersifat naturalis
3. Ketebalan pahatan ½ sampai ¾ dari media (balok batu)
4. Terdapat bidang yang dibiarkan kosong pada panil
5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan kepada pengamat (enface)
6. Cerita acuan berasal dari kesusastraan India
7. Tema kisah umumnya wiracarita (epos)
8. Cerita dipahatkan lengkap dari adegan awal hingga akhir.


Mengenai ciri-ciri penggambaran relief pada candi-candi Langgam Jawa Timur adalah:
1. Pemahatan relief rendah
2. Penggambaran figur-figur simbolis, tokoh manusia seperti wayang kulit
3. Dipahatkan hanya pada ¼ ketebalan media (batu/bata)
4. Seluruh panil diisi penuh dengan berbagai hiasan, seperti terdapat “ketakutan pada bidang yang kosong”.
5. Figur manusia dan hewan wajahnya diarahkan menghadap ke samping
6. Cerita acuan dari kepustakaan Jawa Kuno, di samping beberapa saduran dari karya sastra India.
7. Tema cerita umumnya romantis (perihal percintaan)
8. Relief cerita bersifat fragmentaris, tidak lengkap hanya episode tertentu saja dari suatu cerita lengkap (Munandar 2003: 28—29).
oh ternyata ada perbedaanya yah
mata ane sampe sakit gan mbacanya