KASKUS

Post ::tafakkur:: Bunga kredit di Bank Konvensional Indonesia,halal atau riba dikonsumsi?

Hmm... Benarkah bunga Kredit di bank konvesional tu adalah riba? Apakah jasa kredit bank syariah di indonesia menggunakan sistem riba atau sistem bagi hasil? Berarti perekonomian indonesia menggunakan sistem riba dong?apakah ini yang menyebabkan indonesia makin terpuruk?

________________________________________________________________
Riba adalah Haram

Islam membenarkan pengembangan uang dengan jalan perdagangan. Seperti dalam firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu." (an-Nisa': 29)
Islam sangat memuji orang yang berjalan di permukaan bumi untuk berdagang. Firman Allah,
"Orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah." (al-Muzammil: 20)
Akan tetapi Islam menutup pintu bagi siapa yang berusaha akan mengembangkan uangnya itu dengan jalan riba. Maka diharamkannya riba itu sedikit maupun banyak. Mencela orang-orang Yahudi yang menjalankan riba padahal mereka telah dilarangnya. Diantara ayat-ayat yang paling akhir diturunkan, ialah firman Allah dalam surat al-Baqarah,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya." (al-Baqarah:278-279)
Allah telah memproklamir kan perang untuk memberantas riba dan orang-orang yang meribakan harta serta menerangkan betapa bahayanya dalam masyarakat, sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi saw.,
"Apabila riba dan zina sudah merata di suatu daerah, maka mereka telah menghalalkan dirinya untuk mendapat siksaan Allah." (Riwayat Hakim; dan yang seperti itu diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dengan sanad yang baik)
Dalam hal ini Islam bukan membuat cara baru dalam agama-agama samawi lainnya. Dalam agama Yahudi, di Perjanjian Lama terdapat ayat yang berbunyi,"Jikalau kamu memberi pinjaman uang kepada saudaramu, yaitu baginya sebagai penagih hutang yang keras dan jangan ambil bunga daripadanya." (Keluaran 22:25)
Dalam agama Kristen juga terdapat demikian. Misalnya dalam Injil Lukas dikatakan, "Tetapi hendaklah kamu mengasihi seterumu dan berbuat baik dan memberi pinjam dengan tiada berharap akan menerima balik, maka berpahala besarlah kamu..." (Lukas 6: 35)
Sayang sekali tangan-tangan usil telah sampai pada Perjanjian Lama, sehingga mereka menjadikan kata Saudaramu dikhususkan buat orang-orang Yahudi, sebagaimana diperjelas dalam Eksodus 19-23, "Untuk orang asing, engkau pinjami dengan mengambil riba, tetapi untuk saudaramu jangan kau pinjami dengan riba."

Hikmah Diharamkannya Riba
Islam dalam memperkeras persoalan haramnya riba, semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, masyarakat, maupun perekonomiannya. Kiranya cukup untuk mengetahui hikmahnya seperti apa yang dikemukakan oleh Imam ar-Razi dalam tafsirnya sebagai berikut:
  1. Riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti. Sebab orang yang meminjamkan uang 1 dirham dengan 2 dirham, misalnya, maka dia dapat tambahan satu dirham tanpa imbalan ganti. Sedang harta orang lain itu merupakan standar hidup dan mempunyai kehormatan yang sangat besar, seperti apa yang disebut dalam hadis Nabi,
    "Bahwa Kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya."
    Oleh karena itu mengambil harta kawannya tanpa ganti, sudah pasti haramnya.

  2. Bergantung kepada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan mengentengkan persoalan mencari penghidupan. Sehingga hampir-hampir dia tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang, dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Sedang hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi, bahwa kemaslahatan dunia seratus persen ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan. (Tidak diragukan lagi bahwa dua poin ini logis dipandang dari aspek perekonomian)

  3. Riba akan menyebabkan terputusnya sikap yang baik (ma'ruf) antara sesama manusia dalam bidang pinjam-meminjam. Sebab kalau riba itu diharamkan, maka seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka sudah pasti orang akan menganggap berat dengan diambilnya uang satu dirham dengan diharuskannya mengembalikan dua dirham. Sehingga akan terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (Ini suatu alasan yang dapat diterima, dipandang dari segi etika atau moral)

  4. Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Sedang tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (Ini ditinjau dari segi sosial)

Ini semua dapat diartikan, bahwa riba terdapat unsur pemerasan terhadap orang yang lemah demi kepentingan orang kuat, dengan suatu kesimpulan:
yang kaya bertambah kaya, sedang yang miskin tetap miskin. Hal ini akan mengarah kepada membesarkan satu kelas masyarakat atas pembiayaan kelas lain, yang memungkinkan akan menimbulkan golongan sakit hati dan pendengki; dan akan berakibat berkobarnya api pertentangan di antara anggota masyarakat serta membawa kepada pemberontakan oleh golongan ekstrimis dan kaum subversi.
Sejarah telah mencatat bagaimana bahayanya riba dan para pelakunya terhadap politik, hukum, keamanan nasional dan internasional.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pemberi Riba dan Penulisnya
Pemakan riba ialah pihak pemberi piutang yang memiliki uang dan meminjamkan uangnya itu kepada peminjam dengan rete yang lebih dari pokok. Orang semacam ini tidak diragukan lagi akan mendapat laknat dari Allah dan laknat seluruh manusia. Akan tetapi, Islam dalam tradisinya tentang masalah haram, tidak hanya membatasi dosa itu hanya kepada yang makan riba, bahkan terlibat dosa orang yang memberikan riba itu, yaitu yang berhutang dan memberinya rente kepada piutang. Begitu juga penulis dan dua orang saksinya. Seperti yang dinyatakan dalam hadis Nabi,
"Allah akan melaknat pemakan riba, yang memberi makan, dua orang saksi dan juru tulisnya." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah)
Tetapi apabila ada suatu keharusan yang tidak dapat dihindari dan mengharuskan kepada si peminjam untuk memberinya rente, maka waktu itu dosanya hanya terkena kepada si pengambil rente saja. Namun Dalam hal ini diperlukan beberapa syarat:
  1. Adanya suatu keadaan yang benar-benar darurat, bukan hanya sekedar ingin kesempurnaan kebutuhan. Sedang apa yang disebut darurat, yaitu satu hal yang tidak mungkin dapat dihindari. Apabila terhalang akan membawa kebinasaan. Seperti makanan pokok, pakaian pelindung, atau berobat yang mesti dilakukan.

  2. Kemudian perkenan ini hanya sekedar dapat menutupi kebutuhan, tidak boleh lebih. Maka barangsiapa yang kiranya cukup dengan 90.000 misalnya, tidak halal berhutang 100.000.

  3. Dari segi lain, dia harus terus berusaha mencari jalan untuk dapat lolos dari kesulitan ekonominya. Dan rekan-rekan seagamanya pun harus membantu dia untuk mengatasi problemnya itu. Jika tidak ada jalan lain kecuali meminjam dengan jalan riba, maka barulah dia boleh melakukan, tetapi tidak boleh dengan kesengajaan dan melewati batas. Sebab Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.

  4. Berbuat seperti itu harus dengan perasaan tidak senang, Sehingga Allah memberikan jalan keluar kepadanya.


Semua orang mengenal Aku, Tapi sedikit pun Aku tak ingat mereka. Itu ANEH.
Trit ajib ne gan,,
Tapi kok gak ada yg ngasih komeng ya??

Ane dah mulai gencarkan anti riba di fb ane gan, mudah2an bs istiqomah.. :beer
nays impoh gan

Sapa tahu berkenan mau menambah wawasan ilmunya,, diberi tanpa pamrih kok. :3

Quote:Original Posted By aksa87
Trit ajib ne gan,,
Tapi kok gak ada yg ngasih komeng ya??

Ane dah mulai gencarkan anti riba di fb ane gan, mudah2an bs istiqomah.. :beer


Quote:Original Posted By nishikunigawa
nays impoh gan

Keutamaan Halal dan Ketercelaan Haram
Allah Swt. berfirman:
"Makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh." (QS. Al-Mu'minun: 51)
Allah Swt. memerintahkan untuk makan dari yang baik-baik sebelum beramal. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengannya adalah sesuatu yang halal.
Dan Allah Swt. berfirman:
"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil". (QS. Al-Baqarah: 188)
Allah Swt. berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS. An-Nisa': 10).
Allah Ta'ala berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 278)
Allah juga berfirman:
"Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu." (QS. Al-Baqarah: 279)
Dan firman-Nya:
"Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu" (QS. Al-Baqarah: 279)
Dia juga berfirman:
"Barangsiapa yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 275)
Dia (Allah) menjadikan pemakan riba kali pertama diumumkan sebagai orang yang memusuhi Allah dan akhirnya dicampakkan ke neraka. Dan ayat-ayat yang datang mengenai halal dan haram itu tidak terhitung jumlahnya.
Ibnu Mas'ud ra. meriwayatkan dari Nabi Saw. bahwasannya beliau bersabda:
"Mencari barang halal itu fardhu (wajib) atas setiap muslim."
Dan tatkala Nabi Saw. bersabda:
"Mencari ilmu itu fardhu atas setiap muslim."
Maka sebagian ulam ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengannya adalah mencari atau menuntut ilmu halal dan ilmu haram. Dan menjadikan maksud dari dua hadits itu satu.
Nabi Saw. bersabda:
"Barangsiapa yang berusaha untuk keluarganya dari yang halal, maka ia seperti orang yang berjuang di jalan ALlah. Dan barangsiapa mencari dunia yang halal dan menjaga diri (dari yang haram), maka ia berada di dalam derajat orang-orang yang mati syahid". (HR. Thabrani)
Dan beliau Saw. bersabda:
"Barangsiapa makan yang halal, selama empat puluh hari, maka Allah menerangi hatinya dan Dia akan mengalirkan sumber-sumber hikmah dari hatinya atas lidahnya." (HR. Abu Na'im).
Dan dalam riwayat lain disebutkan:
"Allah menjadikan ia zuhud di dunia".
Dan diriwayatkan:
"Bahwasannya Sa'ad mohon kepada Rasulullah Saw. agar beliau memohonkan kepada Allah Ta'ala supaya menjadikan dia (Sa'ad) diperkenankan do'anya. Kemudia beliau bersabda kepadanya: Baikkanlah makananmu, niscaya do'amu diperkenankan". (HR. Thabrani).
Ketika Rasulullah Saw. menyebutkan orang yang tamak kepada dunia, beliau bersabda:
"Banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, lari-lari dalam perjalanan, sementara makanannya haram, busananya haram, dan ia makan dengan barang haram, mengangkat kedua tangannya, kemudia ia berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, maka bagaimana mungkin (dalam kondisinya yang serba haram itu) do'anya diperkenankan."?" (HR. Muslim).
Di dalam hadits Ibnu Abbas dari Nabi Saw:
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat di Baitul Muqaddas di mana ia menyeru setiap malam: 'Barangsiapa makan haram, maka tidak diterima keutamaan dan keadilan daripadanya'."
Ada yang berpendapat kata "sharfun" itu maksudnya adalah sunnah (an-nafilah), sedangkan kata "adlun" maksudnya ialah fardhu.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Barangsiapa membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham padahal di dalam harganya itu ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima shalatnya selama masih ada padanya sesuatu dari dirham yang haram itu". (HR. Ahmad)
Nabi Saw. Bersabda:
"Setiap daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih utama dengannya (lebih baik membakarnya)." (HR. Tirmidzi)
Dan beliau Saw. Bersabda:
"Barangsiapa tidak memperdulikan dari mana ia mengusahakan harta, maka Allah tidak memperdulikan dari mana Dia memasukkannya ke dalam neraka." (HR. Ad Dailami)
Dan beliau Saw. Bersabda:
"Ibadah itu sepuluh bagian, sembilan dari padanya adalah dalam mencari yang halal".
Hadits ini diriwayatkan dengan marfu' dan maquf atas sebagian sahabat. Dan Nabi Saw. Bersabda:
"Barangsiapa masuk waktu sore dalam kondisi kelelahan karena mencari yang halal, maka ia bermalam dengan diberi ampunan dan ia masuk pagi mendapat ridha dari Allah Swt." (HR. Thabrani)
Nabi Saw. juga bersabda:
"Barangsiapa mendapatkan harta dari dosa lalu dengannya ia menyambung tali persaudaran (bersilaturahmi) atau bersedekah atau membelanjakannya (infaq) di jalan Allah, maka Allah menghimpun seluruhnya, kemudian Dia melemparkannya ke dalam api neraka". (HR. Abu Dawud)
Dan beliau bersabda:
"Sebaik-baik agamamu adalah wara' (menjauhkan diri dari segala dosa)".
Nabi Saw. juga bersabda:
"Barangsiapa bertemu dengan Allah dalam keadaan wara', maka Allah memberinya pahala Islam seluruhnya".
Diriwayatkan bahwa Allah Swt. berfirman di dalam sebagian kitab-Nya: "Adapun orang-orang yang wara', maka Aku malu untuk memperhitungkan (menghisap amal) mereka".
Nabi Saw. bersabda:
"Satu dirham dari riba itu adalah lebih dahsyat di sisi Allah dari pada tiga puluh zina dalam Islam". (HR. Ahmad)
Dan di dalam hadits Abu Hurairah ra:
"Perut itu telaga badan dan urat-urat itu datang kepadanya. Apabila perut itu sehat, maka keluarlah urat-urat itu dengan sehat. Dan apabila perut sakit, maka keluarlah urat-urat itu dengan sakit" (HR. Thabrani)

Perumpamaan makanan terhadap agama adalah seperti pondasi dari suatu bangunan. Apabila pondasi itu teguh dan kuat maka tegaklah bangunan itu. Dan apabila asas itu lemah dan bengkok, maka bangunan itu akan roboh.
Dan Allah 'Azza wa Jalla (Yang Maha Luhur lagi Maha Agung) berfirman:
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim."
Dan di dalam hadits disebutkan:
"Barangsiapa yang mengusahakan harta dari haram, jika ia menyedekahkannya maka sedekah itu tidak diterima dan jika ia meninggalkan di belakangnya, maka harta itu menjadi modalnya ke neraka". (HR. Ahmad)
Kami telah menyebutkan sejumlah hadits-hadits di dalam kitab Tata Krama Usaha, yang menjelaskan keutamaan usaha yang halal.
Source:
Halal dan Haram Dalam Islam. Imam Al Ghazali. Hal. 1-17.

Bonus dari info tambahan: http://www.agustiantocentre.com/?p=378



Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil
Sangat banyak masyarakat umum dan bahkan intelektual terdidik, yang belum memahami konsep bagi hasil yang diterapkan dalam perbankan syariah. Secara dangkal dan keliru, mereka mengklaim, bahwa bagi hasil hanyalah nama lain dari sistem bunga. Tegasnya, bagi hasil dan bunga sama saja. Pandangan ini juga masih terdapat dikalangan sebagian kecil ustadz yang belum memahami konsep dan operasional bai hasil.

Untuk meluruskan kesalahpahaman itu, perlu dibahas pebedaan bunga dan bagi hasil dalam ruangan yang terbatas ini.

Dalam bank syariah, ada tiga produk pembiayaan yang dipraktekkan, Pertama, bagi hasil, Kedua, jual-beli dan Ketiga, ijarah dan jasa.

Bagi hasil, terdiri dari mudharabah dan musyarakah. Jual beli, terdiri dari produk ba’i murabahah, ba’i istisna’, dan ba’i salam. Sedangkan jasa, terdiri dari wakalah, kafalah, hiwalah, ijarah, ba’i at-takjiri dan al-ijarah muntahiyah bit tamlik.

Jadi, dalam perbankan syariah, bagi hasil hanyalah salah satu produk pembiayaan perbankan syariah. Saat ini bank syariah di Indonesia, masih dominan menerapkan produk jual beli, khususnya, jual beli murabahah dan istisna’.

Sistem bagi hasil, sebagai ciri khas utama bank syariah belum diterapkan secara menyeluruh dalam operasi bank muamalah, karena memang, bagi hasil (mudharabah dan musyarakah) hanyalah salah satu dari konsep fikih muamalah. Namun harus dicatat, meskipun bagi hasil belum diterapkan secara dominan, tetapi praktek bunga sudah bisa dihindarkan secara total.

Tujuh Perbedaan

Setidaknya, ada tujuh perbedaan penting antara bungan dan bagi hasil. Tujuh perbedaan ini sudah terlalu cukup bagi kita untuk memahami konsep bagi hasil dan bedanya dengan bunga.

Pertama, penentuan bungan ditetapkan sejak awal, tanpa berpedoman pada untung rugi, sehingga besarnya bunga yang harus dibayar sudah diketahui sejak awal.

Misalnya, si A meminjam uang di sebuah bank konvensional sebesar Rp. 10.000.000,- dengan jangka waktu pelunasan selama 12 bulan. Besar bunga yang harus dibayar si A, ditetapkan bank secara pasti, misalnya 24 % setahun. Dengan demikian si A harus membayar Rp. 200.000 per bulan, selain pokok pinjaman.

Sedangkan pada sistem bagi hasil, penentuan jumlah besarnya tidak ditetapkan sejak awal, karena pengemblian bagi hasil didasarkan kepada untung rugi dengan pola nisbah (rasio) bagi hasil. Maka jumlah bagi hasil baru diketahui setelah berusaha atau sesudah ada untungnya.

Misalnya, si A menerima pembiayaan mudhrabah sebesar Rp. 10.000.000,- dengan jangka waktu pelunasan 12 bulan. Jumlah bagi hasil yang harus dibayarkan kepada Bank belum diketahui sejak awal. Kedua belah pihak hanya menyepakati porsi bagi hasil misalkan 80 % bagi hasil dan 20 % untuk bank syariah.

Pada bulan pertama si A mendapatkan keuntungan bersih misalnya, sebesar Rp. 1.000.000,- maka bagi hasil yang disetorkannya kepada bank syariah ialah 20 % x Rp. 1.000.000,- = Rp. 200.000,- jadi bagi hasil yang harus dibayarkan ialah Rp. 200.000,- ditambah pokok pinjaman.

Pada bulan kedua, keuntungannya meningkat, misalnya menjadi Rp. 1.500.000,- maka bagi hasil yang disetorkan sebesar 20 % x Rp. 1.500.000,- = Rp. 300.000,- maka jumlah setoran bagi hasil pada bulan kedua sebesar Rp. 300.000,-

Pad bulan ketiga, keuntungan mungkin saja menurun, misalkan Rp. 750.000,- maka bagi hasil yang dibayarkan pada bulan tersebut ialah 20 % x Rp. 750.000,- = Rp. 150.000,-

Dengan demikian, jumlah bagi hasil selalu berfluktuasi dari waktu ke waktu, sesuai dengan besar kecilnya keuntungan yang diraih mudharib (pengelola dana / pengusaha). Hal ini tentu berbeda sekali dengan bunga.

Kedua, besarnya persentase bunga dan besarnya nilai rupiah, ditentukan sebelumnya berdasarkan jumlah uang yang dipinjamkan. Misalnya 24 % dari besar pinjaman. Sedangkan dalam bagi hasil, besarnya bagi hasil tidak didasarkan pada jumlah pinjaman (pembiayaan), tetapi berdasarkan keuntungan yang pararel, misalnya, 40 : 60 (40 % keuntungan untuk bank dan 60 % untuk deposan) atau 35 : 65 (35 % untuk bank dan 65 % untuk deposan) dan seterusnya.

Ketiga, dalam sistem bunga, jika terjadi kerugian, maka kerugian itu hanya ditanggung si peminjam (debitur) saja, berdasarkan pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan, sedangkan pada sistem bagi hasil, jika terjadi kerugian, maka hal itu ditanggung bersama oleh pemilik modal dan peminjam. Pihak perbankan syariah menanggung kerugian tenaga, waktu dan pikiran.

Keempat, pada sistem bunga, jumlah pembayaran bunga kepada nasabah penabung / deposan tidak meningkat, sekalipun keuntungan bank meningkat, karena persentase bunga ditetapkan secara pasti tanpa didasarkan pada untung dan rugi. Sedangkan dalam sitem bagi hasil, jumlah pembagian laba yang diterima deposan akan meningkat, manakala keuntungan bank meningkat, sesuai dengan peningkatan jumlah keuntungan bank.

Kelima, pada sistem bunga, besarnya bunga yang harus dibayar di peminjam, pasti diterima bank, sedangkan dalam sistem bagi hasil, besarnya tidak pasti, tergantung pada keuntungan perusahaan yang dikelola si peminjam, sebab keberhasilan usahalah yang menjadi perhatian bersama pemilik modl (bank) dan peminjam.

Keenam, sestem bunga, dilarang oleh semua agama samawi. Sedang sistem bagi hasil tak ada agama yang mengancamnya. Bunga dilarang dengan tegas oleh agama-agama Yahudi, Nasrani dan Islam, seperti terungkap dibawah ini :

“Jika kamu meminjamkan harta kepada salah seorang putra bangsaku, jangan kamu bersikap seperti orang yang menghutangkan, jangan kamu meminta keuntungan untuk hartamu (Kitab Keluaran Perjanjian Lama, Ayat 25 pasal 22).

“Jika saudaramu membutuhkan sesuatu, maka tanggunglah, jangan kau meminta dirinya keuntungan dan manfaat” (Kitab Imamat ayat 35 pasal 25).

“Jika kamu meminjamkan kepada orang, yang kamu mengharapkan bayaran darinya, maka kelebihan apa yang diberikan olehmu. Tetepi lakukanlah kebaikan-kebaikan dan pinjamkanlah tanpa mengharapakan pengembaliannya. Dengan begitu pahalamu melimpah ruah. (Injil Lukas, ayat 34, 35 pasal 6).

Berdasarkan nash ini, para gerejawan sepakat mengharamkan riba secara total. Scubar mengatakan, “Sesungguhnya orang yang mengatakan riba bukan maksiat, ia di hitung sebagai orang atheis yang keluar dari agama”. Sementara itu, Paus Pius berkata, “ Sesungguhnya para pemakan riba, mereka kehilangan harga diri dalam hidup di dunia dan mereka bukan orang yang pantas dikafankan setelah mereka mati”.

Ketujuh, pihak bank dalam sistem bunga, memastikan penghasilan debitur di masa yang akan datang dan karena itu ia menetapkan sejak awal jumlah bunga yang harus dibayarkan kepada bank. Sedangkan dalam sistem bagi hasil, tidak ada pemastian tersebut, karena yang bis memastikan penghasilan di masa depan hanyalah Allah. Karena itu, bunga bertentangan dengan surah Luqman ayat 34. “Tak seorangpun yang bisa mengetahui apa (berapa) yang dihasilkannya besok”. Sedangkan bunga sudah ditetapkan jumlahnya sejak awal. Kesimpulan point ini adalah kalau bunga bertentangan dengan surah Luqman ayat 34, sedangkan bagi hasil merupakan penerapan surat Luqman ayat 34 tersebut. (Agustianto)
baca dulu dehh, sebelum baca saya rate 5 dulu yah
gan ane ga ngerti,ortu ane pinjam uang di bank syariah tapi ttep ada bunga yg sudah disepakati dari awal,sudah ada kesepakatan tiap bulan setorannya segini segini,tplong pencerahannya
Nice trit ts
Ijin share ya
Yg kredit motor dll juga udah riba tuh..ada bunganya.
×