[Diskusi] Keterlibatan RI/TNI baik secara Resmi atau Clandestine di Luar Negeri

Silahkan Bro All lanjut lg diskusinya klo yg pernah ane dengar disamping sbg pasukan Garuda/PBB secara diam2x kt zaman ORLA/BK dlu pernah bantu Al Jazair bahkan juga Mesir n Pakistan dlm mengusir Penjajah/kolonialisme bhkn klo ketemu Generasi Ortu dlm pertemuan Internasional mrk msh mengagumi BK


ngakakkiss


Sampai ada Jalan Ir. Soekarno, bahkan Mangga Soekarno dll (selain kirim TNI or Pilot bhkn sampai KS kelas Whiskey) dikirim ke Pakistan...slhkn dilanjut THX All

Bung Karno Mengharumkan nama Indonesia di Ajazair (dgn hdrnya TNI d sana)


Nama Bung Karno Melegenda di Aljazair


Siapa yang tak kenal Soekarno? Presiden pertama RI yang melegenda dan tak lekang oleh zaman di seantero dunia. Di Indonesia, Soekarno atau Bung Karno selalu dijadikan simbol bagi politisi dan pemikir yang berhaluan anti neoliberalisme dan berpaham kerakyatan.

Tapi di dunia, Soekarno tetap dikenang sebagai pejuang kemerdekaan bangsa-bangsa dunia ketiga dan sosok yang hangat, cerdas dan inspiratif. Demikian pula halnya sosok Soekarno yang tetap melegenda di belahan dunia bagian Utara Afrika yang berselisih 6 jam dengan Indonesia, Aljazair.

Di negeri ini, Soekarno memiliki nama dan posisi tersendiri yang tak mudah dihapus dan dihilangkan. Meskipun selama pemerintahan Orde Baru, hal-hal yang berbau Soekarno sempat diberangus dan ditiadakan.

Jika Anda sempat mengunjungi Aljazair, lalu Anda bertemu dengan orang-orang tua baik dari pejabat atau masyarakat dan tokoh-tokoh nasional, Anda akan mudah mengenalkan diri dan langsung disambut hangat karena berkah Bung Karno. Mereka akan langsung menyebut Soekarno sesaat Anda mengenalkan diri sebagai warga Indonesia.

Hal ini disebabkan peran Soekarno yang mengundang Aljazair untuk ikut dalam KTT Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Atas undangan itu membuat berdirinya tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan Aljazair melawan kolonialisasi Perancis. Berkat forum internasional yang dahsyat dan luar biasa yang digagas Soekarno itulah, nama Aljazair pertama kali dikenal dunia internasional.

Berkat pengakuan Soekarno dan back-up nya pasca pertemuan Bandung itulah, perjuangan kemerdekaan Aljazair dari penjajahan Perancis semakin meningkat sampai akhirnya 5 Nopember 1962 para pejuang Aljazair memproklamirkan kemerdekaan setelah berperang sejak 1954.

Bahkan menurut salah satu cerita mantan pejuang Aljazair yang baru saja meninggal dunia pada tanggal 30 Januari 2012, Abdelhamid Mehri, Soekarno tidak hanya mendukung dan mendorong kemerdekaan Aljazair dari sisi diplomasi internasional, tetapi juga menyuplai senjata untuk perang kemerdekaan yang dikirimkan dari Moskow, Uni Soviet saat itu. Selain memberikan bantuan senjata, Bung Karno juga mengirimkan perwira-perwira TNI dari berbagai angkatan untuk melatih pejuangn Aljazair.

Cerita ini banyak diketahui oleh para pejuang kemerdekaan Aljazair yang sekarang banyak menjadi pejabat atau mantan pejabat, sebagaimana juga diceritakan oleh staf lokal KBRI di Alger, Almunir Almuchtar.

Berdasarkan cerita ini, maka tak heran apabila para mujahidin dan mujahidah yang saat ini banyak duduk di pemerintah Presiden Abdelaziz Boeteflika memuji kebaikan Indonesia dan Soekarno. Warga negara Indonesia di Aljazair pun akhirnya mendapat simpati dan respons positif dari masyarakat Aljazair.

Duta Besar Niam berharap dengan modal dasar yang baik ini maka perlu dijaga dan terus tingkatkan dalam kerangka untuk membangun hubungan dua negara dan dua bangsa yang saling menguntungkan. Tidak hanya secara politik dan diplomasi, tetapi juga secara bisnis dan ekonomi yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan dan persahabatan kedua warga bangsa ini secara lebih luas.

"Kerjasama kedua negara dan bangsa ini harus lebih efektif dan saling menguntungkan secara nyata, baik di bidang politik, ekonomi, bisnis, diplomasi maupun saat menanggapi isu-isu internasional," kata Niam Salim lewat rilis yang dierima Koran Jakarta.com.

ngakakkiss


Silahkan yg lainnya lanjut crt Kakek Nenek Bokap Nyokap klo ad Reff bgus!?
Sebentar saya tambahkan yang di Bosnia.


Sejarah Divisi Kapal Selam Indonesia


“ Sekali menyelam, maju terus – tiada jalan untuk timbul sebelum menang. Tabah Sampai Akhir “
Bagian pidato Presiden Soekarno di atas kapal selam RI Tjandrasa pada 6 Oktober 1966 di dermaga Tanjung Priok, Jakarta.

"Tabah Sampai Akhir" atau “ Wira Ananta Rudhiro “ adalah moto kapal selam (KS) kita, moto yang dikenal sejak ALRI mengoperasikannya tahun 1959. Pengoperasian KS ini adalah keputusan politik yang jitu, sebagai negara maritim KS adalah sesuatu yang mutlak diperlukan. Untuk itu sejak Agustus 1958 Indonesia mengirim 110 personelnya ke Eropa Timur, berangkat dari Surabaya dengan kapal laut Heinrich Jensen berbendera Denmark.

Sesampainya di Reijeka (Yugoslavia), tombongan meneruskan perjalanan dengan kereta api ke Polandia lewat Ceko dan Hongaria secara nonstop. Selama 9 bulan mereka dilatih oleh personel Rusia agar menjadi awak kapal selam yang andal di Gdanks, sedang praktik berlayar dilakukan di Laut Baltik.

Selesai pendidikan mereka diangkut dengan kereta api Trans Siberia selama 9 hari menuju Vladivostok. Di sinilah dua KS kelas Whiskey menunggu untuk dilayarkan ke Indonesia lewat Samudera Pasifik. Dalam pengiriman ke Indonesia, kedua kapal selam tetap berbendera Rusia, sebagian besar ABK adalah orang Indonesia.

Pada 7 September 1959 sore, dua KS Panjang 76 meter bersenjata 12 torpedo merapat di dermaga Surabaya. Setelah berlatih lagi selama satu minggu di bawah instruktur Rusia, kedua KS resmi masuk jajaran kekuatan ALRI pada 12 September 1959 dan diberi nama RI Tjakra/S-01 dan RI Nanggala/S-02. Sejak saat itu Indonesia mempunyai KS yang berarti genaplah kemampuan angkatan laut, yaitu mampu beroperasi di atas air, di bawah air, di darat, dan di udara sesuai dengan konsepsi angkatan laut masa depan.

Bukan hanya dua KS yang dipesan Indonesia. Sebanyak 10 KS baru dari kelas yang sama juga didatangkan dari Rusia.

Untuk gelombang berikutnya, para ABK berlatig di Vladivostok, tempat di mana terdapat pangkalan kapal selam terbesar milik Rusia di Pasifik. Gelombang kedua sebanyak 4 KS datang pada Desember 1961 dan diberi nama RI Nagabanda, RI Trisula, RI Nagarangsang, dan RI Tjandrasa.

Sejalan dengan kampanye Trikora, satu tahun setelah itu tepatnya pada Desember 1962 datang lagi enam KS batu yang dipersenjatai torpedo jenis SEAT-50. Torpedo fire and forget ini merupakan torpedo terbaik pada zamannya dan hanya Rusia serta Indonesia yang memiliki torpedo jenis ini. Keenam KS tersebut diberi nama RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramasta, RI Pasopati, RI Tjundamani, dan RI Alugoro. Semua nama itu mengambil nama senjata dari dunia pewayangan.

Langsung bertugas

Kedatangan 12 KS ini langsung diterjunkan dalam recana operasi Jayawijaya, bagian dari gema Trikora. Dalam operasi yang dramatik tiga KS melakukan infiltrasi di pantai utara Irian Barat, tetapi ketahuan kekuatan laut Belanda. Hanya RI Tjandrasa yang dinakhodai Mayor Laut Mas Mardiono berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD di Tanah Merah, 30 kilometer utara pelabuhan udara Sentani pada 21 Agustus 1962.

Atas keberhasilan ini semua ABK RI Tjandrasa mendapat Bintang Sakti berdasarkan Keppres No.14/1963. Baru kali ini Indonesia menganugerahkan Bintang Sakti bagi seluruh anggota, biasanya bintang tertinggi ini dianugerahkan kepada perorangan atas jasa luar biasa di luar tuntutan tugas.

Memang tugas KS jauh dari publikasi dan jarang terlihat lawan maupun kawan. Selama dioperasikan Indonesia, satuan KS selalu dilibatkan dalam berbagai operasi senyap, termasuk tugas negara ke Pakistan pada 1965. Pada 17 Oktober 1965, dua KS, yaitu di bawah komandan Kapten Pelaut Basuki (RI Nagarangsang) dan Kapten Pelaut Jasin Sudirdjo (KS Bramasta) ditugaskan berangkat ke Pakistan dalam kesiagaan tinggu.

Hal ini merupakan tugas yang sangat mencekam, mengingat Indonesia baru saja dilanda tragedi G-30S. Antara Pakistan dan India waktu itu sedang terlibat perang. Kedua KS hanya diperintahkan secara lisan untuk menuju Karachi menyusul Gugus Tugas X yang telah berada di Chitagong, Pakistan Timur, yaitu dua kapal cepat serta sejumlah prajurit KKI (kini Marinir TNI AL).

Setelah kedua KS merapat di Sorong untuk mengisi bahan bakar dan makanan sebelum ke Pakistan, masuk dua perwira dari Pakistan Navy yang akan bertindak sebagai liaison officer. Kedua perwira tersebut yaitu Mayor Malik di RI Nagarangsang, sedang Kapten Senior M Sultan di RI Bramasta. Kelak Mayor Malik menjadi Commander in Chief Pakistan Navy sedang Kapten Senior M Sultan menjadi Commander in Chief Bangladesh Navy.

Hanya tinggal dua kapal selam

Saat ini TNI AL hanya mengoperasikan dua kapal selam kelas U-209 buatan Jerman Barat, yaitu KRI Cakra/401 dan KRI Nanggala/402. Kapal selam yang datang tahun 1981 ini terasa sudah uzur di tengah tuntutan tugas negara yang padat.

Keinginan TNI AL untuk menambah dua kapal selam lagi masih memunggu alokasi anggaran yang dijanjikan baru akan mengucur pada 2011.

Jenis apa, dari negara mana, dan dengan harga beraoa kapal selam baru nanti dibeli cukup petinggi negara yang tahu. Rakyat juga tidak perlu tahu di mana kapal selam TNI AL beroperasi. Yang terpenting mereka bertugas dalam senyap dan penuh dedikasi tinggi. Tugas mereka yang berat hanya mendapat perlakuan lebih dari negara, yaitu kenaikan gaji berkala yang datang setiap tahun, sedang prajurit TNI lainnya datang setiap dua tahun.

Selamat ulang tahun emas tanggal 12 September 2009 buat korps Hiu Kencana, mereka bertugas dalam senyap jauh dari publikasi … Wira Ananta Rudhiro, Tabah Sampai Akhir … !


ngakakkiss


Sumber

kapal selam era Dwikora..bisa liat di monumen kapal selam di Surabaya
Ikut ambil peran di unifil lebanon....

Quote:Original Posted By erwin.parikesit
Sebentar saya tambahkan yang di Bosnia.


Quote:Original Posted By Egabagus
Ikut ambil peran di unifil lebanon....




Sip Bro THX A LOT makasih banyak ayo lanjut dengan NARASI...TNI mkin JAYA

Dari berbagai sumber, A.Taufik Kompas

Soeharto Incognito di Bosnia
Inilah lawatan Presiden Suharto ke luar negeri yang paling mendebarkan, setelah ia menjadi presiden selama 25 tahun. Bosnia Herzegovina - siapa yang tak ngeri mendengar nama itu sekarang. Pemilik restoran Italia di kota mahal Kopenhagen, dan sopir taksi Thorsboe di Denmark yang saya temui, ketika mengetahui Presiden Indonesia setelah dari acara KTT Pembangunan Sosial akan pergi ke Sarajevo, rata-rata mereka berkata, “Is he crazy?!!”

Para wartawan Indonesia yang mengikuti rombongan Pak Harto pun, setelah melihat gelagat makin tak jelasnya kondisi di medan pertempuran Sarajevo, berani bertaruh uang (tak banyak hanya Rp 5000,- seorang). Ada yang berkeyakinan Presiden tak jadi pergi ke sana, namun sebagian mengatakan,

“Pasti Pak Harto nekat!”

Dan ternyata benar. Nekatnya Pak Harto tetap bersikeras berkunjung ke Sarajevo, bukan saja mencengangkan rakyat Indonesia di tanah air, tetapi juga membuat gemas para pengawalnya yang mendampingi selama perjalanan. Mayjen TNI Pranowo sesmil ( sekretaris militer) Presiden, misalnya. Sampai di Kroasipun masih tak enak makan.

“Pikiran saya selalu tertuju pada keselamatan Pak Harto,” ujarnya suatu malam, ketika bersama saya bersantap malam sebelum acara ke Bosnia dilaksanakan.

Begitu pula para ajudan dan pengawal pribadi. Semua was-was, antara pikiran jadi berangkat atau tidak. Apalagi, sehari sebelum Pak Harto berangkat, pesawat utusan khusus Sekjen PBB, Yasushi Akashi, sempat diusik tembakan oleh gerilya Serbia.

“Bayangkan, bagaimana kita tidak ngeri. Jaminan untuk Presiden kita apa dong, sedangkan Akashi saja diganggu ke Bosnia, ” ujar seorang sumber dengan nada was-was.

Bahkan, Presiden Turki maupun Paus, tak sempat singgah karena sudaha akan diterkam Serbia. Selama ini, barul Presiden Perancis dan Benazir Bhuto yang berhasil menginjak tempat itu.

Lain penampilan para pendamping pak Harto (antara lain Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, diplomat senior Nana Sutresna, para pengawal dan dokter pribadi), lain pula penampilan Kepala Negara RI ini. Sampai sehari menjelang keberangkatan ke Bosniapun, Pak Harto tetap berpenampilan tenang mengikuti acara di gedung parlemen Kroasia. Di ruangan yang sangat cantik dengan hamparan karpet Persia berwarna mahrun itulah Pak Harto dengan lancar menjelaskan kepada Ketua Parlemen Korasia, Nedjeljko Mihanovic dan seluruh stafnya, tentang sistem pemerintahan di Indonesia. Dalam acara santap malampun, tak nampak beban sama sekali pada raut muka Pak Harto. Ia banyak senyum sambil menikmati hidangannya yang disajikan oleh Perdana Menteri Kroasaia dan nyonya, Nikica Valentic di Istana Dvetce.

Senin tanggal 13 Maret pagi, Pak Harto masih sempat mengadakan pembicaraan empat mata dengan Franjo Tudman, Presiden Kroasia Sementara itu pada saat yang sama, di ruang lain, Ibu Tien diterima oleh istri Tudman sembari tukar menukar tanda mata - perak Jogyakarta untuk si nyonya rumah, dan sulaman Kroasia untuk si tamu.

Pembicaraan paralel lain dilakukan antara para pejabat Indonesia dan pejabat Kroasia, termasuk Pangab Faisal Tanjung . Dalam acara itu, berkali-kali Presiden Kroasia maupun Perdana Menterinya menyatakan terima kasih dan penghargaannya karena Pak Harto dan rombongan mau mengunjungi Kroasia dan apalagi.. Bosnia! PM Kroasia pada bulan Januari yang lalu memang sempat menyampaikan undangan ini saat ia berkunjung ke Jakarta.

Kepala Protokol Istana Basyuni dan Dirjen Protokol Konsuler Irsan dengan tertib tetap menunggu di luar ruangan istana, sembari menghitung, menerka, apakah keberangkatan tetap akan dilangsungkan atau tidak. Menjelang pukul 10.30 belum ada tanda-tanda pembatalan keberangkatan ke Bosnia, tetapi juga belum ada kata ‘okey’ - dan ini amat sangat membuat rombongan semakin was-was.

Sementara itu, di bandara Internasional Zagreb telah menunggu pesawat buatan Rusia jenis JAK-40 dengan nomor penerbangan RA 81439. Pesawat kecil berkapasitas 24 kursi inilah yang dipersiapkan untuk mengangkut ‘kenekatan’ Suharto, tanggal 13 Maret itu. Setelah pembicaraan di Istana usai sekitar pukul 10.30, rombongan menuju ke lapangan udara. Di sinilah ketegangan mulai muncul. Ali Alatas tampak putih bagaikan kapas! Moerdiono menyipitkan matanya. Boleh saja mereka, ketika ditanya bagaimana perasaannya saat berangkat, menjawab.

“Biasa-biasa saja”

Namun lain pula kenyataannya. toh mereka pucat pasi! Termasuk dua wartawan yang ikut dalam pesawat tersebut, teman-teman saya dari Kantor Berita Antara dan RRI. Semula wartawan akan diberangkatkan lebih dahulu dengan pesawat lain, sebanyak lima orang. Namun karena keadaan gawat, pesawat dihentikan , menurut salah satu tentara Indonesia yang tergabung dalam UNPROFOR.

Nice Thread

mantab nih Mas Bro Eagle..

Mohon izin ya Kawan/Kakak/Om/Tante .. untuk copas artikel yang dithread ini untuk blog dokumen saya ...

makasih ...
Angin kencang di tengah lapangan udara di awal minggu itu, dengan udara menggigit dingin (siang itu 8 derajat Celcius), menambah ketegangan. Pintu pesawat dari buntut terbuka. Para wartawan yang mengerumuni tangga tempat Presiden akan naik, ramai-ramai berseru,

“Selamat jalan Pak! Hati-hati bapak-bapak yang lain!!

Mereka menyambut tanpa senyum. Ketegangan di wajah Pak Harto mulai terasa. Berselimut mantel hitam pekat, rasanya ia tengah memendam segala perasaannya sekuat tenaga. Satu menit berlalu, rombongan segera menaiki pesawat. Pilot yang bertugas saat itu bernama Vononine Augueni. Anggota UNPROFOR membagikan lembaran kertas putih yang sudah dietak dengan pernyataan bahwa PBB tidak bertanggungjawab sama sekali atas keselamatan penumpang selama perjalanan.

Menurut sumber, Pak Harto saat itu tak perdul lagi dengan isi pernyataan itu.
“Dia main tandatangan saja lho!”, ujarnya.

Seorang wantia petugas PBB dan 14 orang Indonesia memenuhi pesawat kecil itu. Saidi, fotografer kesayangan Pak Harto tak luput dari tugasnya. Dialah yang kelak akan merekam dengan jurus kameranya.

Pak Harto duduk paling depan, berhadapan dengan Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden kolonel inf Sjafrie Sjamsoedin yang memang sudah berwajah tegang dari awal pagi. Sementara itu para pengantar di bawah tetap memandangi pesawat dengan perasaan seakan-akan baru saja mengantar para tentara yang akan berjuang dan harus menang.

Pesawat buatan Rusia itu lepas landas pukul 11.10, dan tiba di Sarajevo pukul 12.36.
“Selama di awan, kami sudah pasrah kok, ” ujar Moerdiono.

Lalu, mengawali perjalanan Pak Harto mengikuti instruksi memakai baju anti peluru.
“Sebab, seandainya pesawat ditembak dari luar, minimal penumpangnya tidak apa-apa,” kata Pranowo.

Tetapi ketika turun dari pesawat, Presiden mulai ‘membandel’ lagi. Dia lepas baju anti pelurunya, bahkan semalam sebelumnya ketika seseorang berusaha membujuk Pak Harto untuk tidak jadi berangkat, ia menjawab,

“Ah.., saya yakin kalau niat kita baik, InsyaAllah hasilnya juga baik,” katanya.

Pagar betis sebanyak 40 anggota pasukan perlindungan PBB UNPROFOR menyerbu memagari Pak Harto Akashi menyambut di bandara. Tanpa seremonial, tanpa lagu kebangsaan. Lalu Pak Harto dan rombongan buru-buru dijebloskan ke dalam panser putih bertulisan UN. Panser APC ini ( Armoureed PErsonal Carrier) menurut sumber hanya bisa dibuka pintunya oleh dua orang. Satu dari luar, satu lagi dari dalam. Perjalanan 25 menit menuju istana Presiden Bosnia Alija Lzetbegovic tampak sangat mengesankan, menurut Moerdiono.

“Bayangkan, kami hanya bisa melihat panser yang keras itu hanya dialasi selimut tebal. Dan bunyinya, MasyaAllah.. berisik banget di telinga!”, ujar Mensesneg merepotasekan kembali suasana yang dialaminya.

Panser anti peluru itu berjalan dikelilingi panser-panser lain sebagai pengawal. Menurut sumber lagi, Pak Harto dimasukkan ke dalam panser ke 7, sehingga dengan diacak begitu, tak mudah orang mengetahuinya. Dalam satu panser lazimnya ada satu sopir, satu komandan kendaraan, dan dua pengawal. Selebihnya, enam orang adalah penumpang. Pak Harto berada bersama ajudan dan pengawal pribadi. Yang juga mencengangkan, dalam perjalanan ke istana, rombongan panser harus melewati jalan-jalan yang di sebelah kanannya adalah bukit-bukit tinggi tempat sniper ( penembak gelap) Serbia mengintai.

Bukit-bukit yang disebut Sniper Alley memang sangat ditakuti di Bosnia. Bahkan tak segan-segan penduduk
Serbia menghantam penumpang trem (kereta api listrik) dari bukit itu. Pagar betis panser-panser dan satu pleton UNPROFOR tetap menjaga rombongan sampai tiba di Istana.

“Kami salut betul atas kesiapan UNPROFOR menjaga Pak Harto,” ujar Moerdiono.

Pengawal dari Indonesia memang akhirnya tak berfungsi selama kunjungan. Hanya ada beberapa anggota Paspampres dan bahkan anggota pasukan antiteror dari Detasemen 81 Kopassus pimpinan Kapten Andhika (menantu eks Pangdam Hendropriyono) yang berangkat dari Jakarta tanggal 9 Maret lalu, hanya sampai di Zagbreb saja. Padahal, Andhika dan kelima anak buahnya sudah bersiap diri untuk turut mengawal Pak Harto. Pasukan ini juga sebelumnya sudah menitipkan senjatanya di penerbangan DC 10 Garuda yang digunakan Presiden beserta rombongan. Mereka memang tidak berangkat dengan pesawat yang sama, melainkan dengan Lufthansa lewat Frankfurt menuju Zagreb.

Presiden Bosnia sesungguhnya amat ingin kunjungan bersejarah ini diliput sebanyak-banyaknya oleh wartawan asing dan Indonesia. Bahkan kepada tim advanced (tim pendahulu) Indonesia, sebelumnya ia mengatakan ingin diwawancarai secara terbuka oleh pers Indonesia. Oleh sebab itulah Moerdono begitu bersemangat mengajak 29 wartawan dari tanah air.

“Sayangnya, pihak UNPROFOR yang mengatur dan membatasi. Ini demi keselamatan,” ujar Pranowo.

Saat Pak Harto keluar dari panser di halaman Istana presiden Alija, ratusan penduduk Sarajevo berteriak sambil melambaikan tangan dengan hangat. Menurut sumber, suasana memang mengharukan, apalagi saat makan siang berlangsung.
“Terasa betul daging yang dihidangkan sudah lama disimpan di frisher. Lalu potongan kejunya… astaga… setipis potongan silet. Sunggh menyedihkan. Belum lagi para pengawal istana yang melihat hidangan kami dengan ngiler. Mereka sudah lama tidak mencicipi makanan enak. Mengharukan sekali sehingga membuat kami juga jadi tak enak makan. Pergi ke kamar mandi. WCnya tak ada air, hanya disediakan air dalam satu ember kecil saja. Istanapun seperti keadaan kantor biasa,” cerita sumber saya.

Pak Harto, lucunya juga ketika bersantap menanyakan kepada Alija, darimana mereka bisa memperoleh pengadaan sehari-hari, dan dijawab oleh Alija,

“Yaaa… dari badan-badan sosial resmi maupun cara yang tak resmi..!” Dan satu ruanganpun tertawa. “Kami bisa melihat bagaimana bahagianya Presiden Bosnia saat itu menyambut kedatangan Pak Harto,” kata Ali Alatas saat saya duduk di sebelahnya di pesawat, menuju ke Indonesia.
Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin saat mengawal penguasa 32 tahun itu ke Bosnia pada 1995.

Kala itu, di tengah baku tembak antara Bosnia dan Serbia, Pak Harto berkunjung ke Bosnia-Herzegovina menemui Presiden Bosnia Alija Izetbegovic. Pesawat Soeharto terus menerus diawasi senapan anti pesawat udara. Presiden ke-2 RI ini pun dibidik sniper. Namun Soeharto kalem saja.
Saat itu Sjafrie berpangkat kolonel dan menjabat Komandan Grup A Paspampres. Ketika masih berada di Kroasia, terdengar kabar pesawat yang ditumpangi Utusan Khusus PBB Yasushi Akashi ditembaki saat terbang ke Bosnia. Namun insiden penambakan itu tidak menyurutkan langkah Soeharto ke Bosnia.

Karena keterbatasan kursi, hanya Sjafrie dan Mayor CPM Unggul yang mengawal Soeharto dalam pesawat sewaan itu. Sjafrie juga menulis Soeharto enggan mengenakan rompi anti peluru dan helm baja. Padahal semua memakai rompi antipeluru seberat 12 kg yang bisa menahan proyektil M-16.

“Eh, Sjafrie, itu rompi kamu cangking (jinjing) saja,” ujar Soeharto pada Sjafrie.

Pak Harto tetap menggunakan jas dan kopiah. Sjafrie pun ikut-ikutan mengenakan kopiah yang dipinjamnya dari seorang wartawan yang ikut.

“Ini dilakukan untuk menghindari sniper mengenali sasaran utamanya dengan mudah,” terang Sjafrie.

Saat mendarat di Sarajevo, Sjafrie melihat senjata 12,7 mm yang biasa digunakan untuk merontokkan pesawat terbang terus mengikuti pesawat yang ditumpangi rombongannya. Saat konflik, lapangan terbang itu dikuasai dua pihak. Pihak Serbia menguasai landasan dari ujung ke ujung, sementara kiri-kanan landasan dikuasai Bosnia.

“Pak Harto turun dari pesawat dan berjalan dengan tenang. Melihat Pak Harto begitu tenang, moral dan kepercayaan diri kami sebagai pengawalnya pun ikut kuat, tenang dan mantap. Presiden saja berani, mengapa kami harus gelisah,” tulis Sjafrie.

Pak Harto kemudian naik panser VAB yang disediakan PBB. Mereka melewati sniper valley, sebuah lembah yang penuh diisi penembak jitu dari kedua pihak yang bertikai. Untungnya tidak ada apa-apa selama perjalanan. Soeharto pun tiba di istana kepresidenan Bosnia yang saat itu keadaannya memprihatinkan. Tidak ada air sehingga air bersih harus diambil dengan ember. Selama pertemuan, Sjafrie melaporkan ada tembakan meriam tak jauh dari istana.

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

“Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat,” jawab pak Harto.


Sjafrie terpesona mendengar jawaban ini.
Quote:Original Posted By erwin.parikesit
Soeharto Incognito di Bosnia
Inilah lawatan Presiden Suharto ke luar negeri yang paling mendebarkan, setelah ia menjadi presiden selama 25 tahun. Bosnia Herzegovina - siapa yang tak ngeri mendengar nama itu sekarang. Pemilik restoran Italia di kota mahal Kopenhagen, dan sopir taksi Thorsboe di Denmark yang saya temui, ketika mengetahui Presiden Indonesia setelah dari acara KTT Pembangunan Sosial akan pergi ke Sarajevo, rata-rata mereka berkata, “Is he crazy?!!”

Para wartawan Indonesia yang mengikuti rombongan Pak Harto pun, setelah melihat gelagat makin tak jelasnya kondisi di medan pertempuran Sarajevo, berani bertaruh uang (tak banyak hanya Rp 5000,- seorang). Ada yang berkeyakinan Presiden tak jadi pergi ke sana, namun sebagian mengatakan,

“Pasti Pak Harto nekat!”

Dan ternyata benar. Nekatnya Pak Harto tetap bersikeras berkunjung ke Sarajevo, bukan saja mencengangkan rakyat Indonesia di tanah air, tetapi juga membuat gemas para pengawalnya yang mendampingi selama perjalanan. Mayjen TNI Pranowo sesmil ( sekretaris militer) Presiden, misalnya. Sampai di Kroasipun masih tak enak makan.

“Pikiran saya selalu tertuju pada keselamatan Pak Harto,” ujarnya suatu malam, ketika bersama saya bersantap malam sebelum acara ke Bosnia dilaksanakan.

Begitu pula para ajudan dan pengawal pribadi. Semua was-was, antara pikiran jadi berangkat atau tidak. Apalagi, sehari sebelum Pak Harto berangkat, pesawat utusan khusus Sekjen PBB, Yasushi Akashi, sempat diusik tembakan oleh gerilya Serbia.

“Bayangkan, bagaimana kita tidak ngeri. Jaminan untuk Presiden kita apa dong, sedangkan Akashi saja diganggu ke Bosnia, ” ujar seorang sumber dengan nada was-was.

Bahkan, Presiden Turki maupun Paus, tak sempat singgah karena sudaha akan diterkam Serbia. Selama ini, barul Presiden Perancis dan Benazir Bhuto yang berhasil menginjak tempat itu.

Lain penampilan para pendamping pak Harto (antara lain Menlu Ali Alatas, Mensesneg Moerdiono, diplomat senior Nana Sutresna, para pengawal dan dokter pribadi), lain pula penampilan Kepala Negara RI ini. Sampai sehari menjelang keberangkatan ke Bosniapun, Pak Harto tetap berpenampilan tenang mengikuti acara di gedung parlemen Kroasia. Di ruangan yang sangat cantik dengan hamparan karpet Persia berwarna mahrun itulah Pak Harto dengan lancar menjelaskan kepada Ketua Parlemen Korasia, Nedjeljko Mihanovic dan seluruh stafnya, tentang sistem pemerintahan di Indonesia. Dalam acara santap malampun, tak nampak beban sama sekali pada raut muka Pak Harto. Ia banyak senyum sambil menikmati hidangannya yang disajikan oleh Perdana Menteri Kroasaia dan nyonya, Nikica Valentic di Istana Dvetce.

Senin tanggal 13 Maret pagi, Pak Harto masih sempat mengadakan pembicaraan empat mata dengan Franjo Tudman, Presiden Kroasia Sementara itu pada saat yang sama, di ruang lain, Ibu Tien diterima oleh istri Tudman sembari tukar menukar tanda mata - perak Jogyakarta untuk si nyonya rumah, dan sulaman Kroasia untuk si tamu.

Pembicaraan paralel lain dilakukan antara para pejabat Indonesia dan pejabat Kroasia, termasuk Pangab Faisal Tanjung . Dalam acara itu, berkali-kali Presiden Kroasia maupun Perdana Menterinya menyatakan terima kasih dan penghargaannya karena Pak Harto dan rombongan mau mengunjungi Kroasia dan apalagi.. Bosnia! PM Kroasia pada bulan Januari yang lalu memang sempat menyampaikan undangan ini saat ia berkunjung ke Jakarta.

Kepala Protokol Istana Basyuni dan Dirjen Protokol Konsuler Irsan dengan tertib tetap menunggu di luar ruangan istana, sembari menghitung, menerka, apakah keberangkatan tetap akan dilangsungkan atau tidak. Menjelang pukul 10.30 belum ada tanda-tanda pembatalan keberangkatan ke Bosnia, tetapi juga belum ada kata ‘okey’ - dan ini amat sangat membuat rombongan semakin was-was.

Sementara itu, di bandara Internasional Zagreb telah menunggu pesawat buatan Rusia jenis JAK-40 dengan nomor penerbangan RA 81439. Pesawat kecil berkapasitas 24 kursi inilah yang dipersiapkan untuk mengangkut ‘kenekatan’ Suharto, tanggal 13 Maret itu. Setelah pembicaraan di Istana usai sekitar pukul 10.30, rombongan menuju ke lapangan udara. Di sinilah ketegangan mulai muncul. Ali Alatas tampak putih bagaikan kapas! Moerdiono menyipitkan matanya. Boleh saja mereka, ketika ditanya bagaimana perasaannya saat berangkat, menjawab.

“Biasa-biasa saja”

Namun lain pula kenyataannya. toh mereka pucat pasi! Termasuk dua wartawan yang ikut dalam pesawat tersebut, teman-teman saya dari Kantor Berita Antara dan RRI. Semula wartawan akan diberangkatkan lebih dahulu dengan pesawat lain, sebanyak lima orang. Namun karena keadaan gawat, pesawat dihentikan , menurut salah satu tentara Indonesia yang tergabung dalam UNPROFOR.


Quote:Original Posted By abarky
mantab nih Mas Bro Eagle..

Mohon izin ya Kawan/Kakak/Om/Tante .. untuk copas artikel yang dithread ini untuk blog dokumen saya ...

makasih ...


MANTAP Bro PARIKESIT, slkn Bro Abarky dtgu sumbangan artikelnya THX



ngakakkiss

Mgkn ad crt ttg TNI di Vietnam, Kamboja n Filipina....NEXT PLEASE?! Pak Harto juga mantep yg Konferensi ASEAN di Manila pdhl lg ad KONFLIK dsna


Pertemuan ASEAN (dan Kenekadan Pak Harto dlm mendukung FILIPINA)


Keamanan adalah suatu persoalan di Manila saat itu, meskipun demikian Presiden Soeharto memutuskan untuk hadir dengan mengabaikan rekomendasi dari para penasehatnya. Menunjukkan rasa hormat terhadap sikap kepemimpinan dari peranan Indonesia ini, pertemuan ASEAN ke III berhasil dilaksanakan pada Desember 1987.
Hal itu adalah dorongan untuk solidaritas ASEAN dan dipandang sebagai jaminan terhadap stabilitas regional. Peristiwa ini mengkokohkan kepemimpinan Soeharto diantara para pemimpin ASEAN. Ini juga Indonesia yang merancang agenda pertemuan ASEAN ke-IV tahun 1992.
Ane tambahin poto, mbah harto waktu kunjungan ke bosnia


The smilling general anda Alija Izetbegović in Sarajevo, 1995
Jaman Pak Beye,...
Beli lontong Kilo trs di umpetin tanpa ketahuan,...
menurut analisa agan Eagleroaming,...

jaman Pak Harto:

Meminjamkan pesawt Cassa 212 plus kru nya untuk membantu presiden Marcos dari Filipina dalam rangka menumpas pemebrontakan komunis NPA (New People's Army).


Hercules TNI-AU terlibat dalam konflik di kamboja
http://www.acig.org/artman/publish/a...icle_348.shtml

Operasi komodo (sblm ops. seroja) di tanah timtim sebelum jadi bagian Indonesia,...

trs apalagi ya?

Quote:Original Posted By Egabagus
Ane tambahin poto, mbah harto waktu kunjungan ke bosnia




cuman pake kopiah sama mantel doang emng si mbah yg 1 ini memang patut di contoh keberanian nya.....

pasukan cakrabirawa yg dikirim trus ditahan koq ndak ada ceritanya nih......

infiltrasi ke papua new guinea ................

belum lagi dwikora trikora..........

ngirim senjata ke Afghanistan dan Laos.............

dst dsb................
pengiriman senjata ke mujahidin afghanistan era 80 an, pengiriman senjata utk pejuang bosnia dan palestina, yg masih clasified pembebasan staf Konga yg disandera serbia.........
Quote:Original Posted By erwin.parikesit

Setelah meninggalkan istana, Sjafrie pun bertanya pada Soeharto mengapa nekat mengunjungi Bosnia yang berbahaya. Termasuk menyampingkan keselamatan dirinya.

“Ya kita kan tidak punya uang. Kita ini pemimpin Negara Non Blok tetapi tidak punya uang. Ada negara anggota kita susah, kita tidak bisa membantu dengan uang ya kita datang saja. Kita tengok. Yang penting orang yang kita datangi merasa senang, morilnya naik dan mereka menjadi tambah semangat,” jawab pak Harto.


Sjafrie terpesona mendengar jawaban ini.


salut deh dengan pak Harto, dan miris dengan Indonesia waktu itu, ditengah gembar-gembor asian tiger... dan bener banget, 2 tahun sejak tahun itu Indonesia bokek banget
========================================
jadi inget omongan Gus Dur
"Pak Harto itu jasanya banyak, tapi dosanya juga banyak"
Woow tread mantab nih pak menhan, sekedar meramaikan ks kita di pakistan


Credit to Bro wira@multiply
Thanks atas infonya gan, bermanfaat !