KASKUS

Quote:Original Posted By topx666


trus bagaimanakah nasib dari kerajaan Wura-Wari itu setelah Airlangga berhasil kembali ke Medang? apakah itu adalah orang Jawa juga?


Yang ada dalam prasasti Calcuta “Ri Prahara, haji Wurawari maso mijil sangka Lwaran”
Haji itu dalem bahasa jawa kuno artinya raja bawahan /vasal.
Walo begitu letak Wurawari masi diperdebatkan,kalo pendapatnya Hari Soewarno di Jawa Timur. Menurut Casparis di Semenanjung Malaka. Sedangkan yang terbaru menurut Ekspedisi Bengawan Solo ada peninggalan2 Wurawari di Blora tadi...Makanya saya lebih condong kalo Wurawari itu di Jateng.

Setelah Erlangga bangkit dia ngerebut lagi daerah2 yang pernah jadi kekuasaannya Dharmawangsa Tguh. termasuk Wengker, Wurawari dll...
Sewaktu masa pemerintahan Pu Sindok terdapat perpindahan pusat kekuasaan dari Jawa tengah ke Jawa Timur... Banyak Spekulasi mengenai penyebab perpindahan ini... Untuk lebih lengkapnya silahkan disimak,,,

Quote:PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN
Sumber: Some considerations of the problem of the shift of Mataram's center of government from Central to East Java in the 10th century A.D. by: Boechari.

Perkiraan perpindahan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa tengah ke Jawa Timur adalah sekitar abad ke-10 M. Asumsi ini diperkuat dengan temuan-temuan prasasti paling awal di daerah Jawa Timur adalah pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung (899-911) terdapat di belakang patung Ganesha di daerah Ketanen berangka tahun 826 saka. Beberapa prasasti lain yang terdapat di Jawa Timur contohnya, prasasti Sugihmenek (837 saka) oleh Raja Daka, prasasti Harinjin (726 saka) oleh Raja Rake Layan Dyah Tulodon, prasasti kinawe (849 saka) dan prasasti Sanguran (850 saka).
Menurut NJ. Krom, perpindahan pusat pemerintahan ini adalah dibawah pemerintahan Pu Sindok. Pandangan ini bersumber dari pendapat Poerbatjacaraka sesuai yang tertulis dalam prasasti Pu Sindok, prasasti Daksa, dan Wawa. Termaktub disana bahwasanya Istana Mdang ialah istana leluhur-leluhurnya yang selayaknya didewakan (Rhyan ta), dan oleh karena itu maka istananya harus dipindahkan ke wilayah lain.
Sedangkan menurut Dr. JG de Casparis, kemajuan perdagangan arab di abad 9 M menjadi faktor yang ikut andil dalam perpindahan pusat kekuasaan. Pada saat itu Indonesia khususnya di wilayah timur sebagai pusat penghasil rempah-rempah, kayu cendana, dan hasil-hasil pertanian lainnya menjadi pusat terjadinya transaksi perdagangan dengan wilayah-wilayah asing seperti Arab, China, India dan sebagainya. Ini menumbulkan kekhawatiran pada tubuh Sriwijaya, Sriwijaya takut wilayah itu akan tumbuh melahirkan kongsi dagang yang kuat dan pada akhirnya akan memonopoli perdagangan nusantara. Karena itu Sriwijaya memulai penyerangan ke wilayah Mataram pada tahun 925 M. Mereka mendarat di Jawa timur dan melakukan pergerakan hingga Nganjuk. Namun pasukan Sriwijaya dapat dipukul mundur oleh tentara dibawah kepemimpinan Pu Sindok. Keterangan ini berdasarkan prasasti Anjukladan (859 saka/937 M). Faktor ini pula yang menyebabkan Raja- raja Mataram member perhatian yang lebih pada daerah Jawa Timur.

Quote:



Dr. B Schrieke menambahkan pembangunan Borobudur juga ikut andil menjadi alasan pemindahan pusat pemerintahan ini. Pembangunan besar-besaran sudah menguras tenaga dan ekonomi kerajaan pada saat itu, karena itulah perpindahan masal ke Jawa Timur dilakukan.
L.C Damais berdasar prasasti kubu-kubu (827 saka) berpendapat bahwa Balitung tidak memindahkan wilayah kekuasaannya ke Jawa Timur namun wilayah itu hanyalah satu wilayah yang sudah ditaklukkan Balitung dalam rangka perluasan kekuasaan. Diperkuat pula banyaknya prasasti yang ditemukan di daerah Jawa Tengah.
NJ Krom yang masih mengacu pada pendapat Poerbatjaraka mengatakan bahwasanya kita harus menggali lebih dalam kata “Rhyan Ta” ini. Namun Boechari keberatan terhadap pendapat ini dikarenakan dalam inkripsi yang terdapat di prasasti Sugihmanek dan Sanguran tertulis keberhasilan mempertahankan Mdang dari serangan musuh.

Quote: Juga dalam prasasti Ajukladan dan Paradah yang terdapat di Watugaluh, Jombang di daerah delta sungai Brantas. Yang menjadi pertimbangan mendasar bagi Krom ialah tersebutnya istana Mdang dalam prasasti Mantyasih dan Siwagraha, bahkan dalam prasasti Siwagraha diceritakan pula bahwasanya Dyah Lokapala (Rakai Kayuwangi) pernah memerintah sebagai raja pada tahun 778 saka di Mdang Mamratipura.
Dalam banyak prasasti disebutkan Poh Pitu adalah istana para pendahulu Balitung, ini menandakan bahwa sebelum Pu Sindok naik tahta, para pendahulunya sudah banyak yang berhijrah ke Jawa Timur. Dari data epigrafi, sebelum periode kuno belum terdapat pemusatan pemusatan pemerintah. Pada tahun 1016 saat Haji Worawari menyerang Dharmawangsa Tguh, belum jelas siapa raja yang hijrah ke Jawa Timur. Apakah Dhaksa, Tulodhon, atau Wawa.
Prasasti Pucanan (963 saka) menjelaskan perihal peperangan tersebut dan diperoleh informasi bahwasanya ibukota Wwatan Mas berhasil dikalahkan oleh musuk. Dan hal ini mendesak Airlangga mengungsi ke daerah Platakan dan disana ia mendirikan istana Kahuripan (prasasti kamaglayan 959 saka). Dalam prasasti Tuhanaru (1245 saka) diceritakan bahwa penjelmaan dari Wisnu ialah orang yang terpilih dan diakui masyarakat. Dan sebagai bentuk pengabdiannya dibuatlah kuil atau istana yang bentuknya serupa dengan Mahameru.

Quote:Di bagian lain dijelaskan pula bahwasanya Raja Jawa Kuno bukanlah raja yang lalim dan otoriter. Ia memberi kesempatan kepada rakyatnya untuk berkeluh kesah dan menyampaikan keinginan dan harapan mereka. Dan juga dalam pembangunan Borobudur setiap lapisan kasta dari Brahmana hingga Sudra berperan aktif didalamnya. Dari perancangan, pembuatan dan penyusunan batu yang dilakukan kaum Sudra. Relief candi juga menceritakan kegiatan bercocok tanam, perdagangan hingga transportasi.
Sedangkan pendapat J.G de Casparis dan Dr. B Schrieke yang mengatakan perpindahan pusat pemerintahan adalah disebabkan faktor perdagangan yang lebih maju. Catatan sejarah memaparkan Pu Sindok yang sudah menjabat sebagai raja saat itu memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur di sekitar tahun 929 M. Tempat baru tersebut ialah Watugaluh yang terletak di tepian Sungai Brantas (Sekarang Jombang). Kerajaan baru ini tidak lagi disebut Mataram melainkan Medang. Meski dalam beberapa literatur masih disebut sebagai Mataram.
Sumber sejarah lain yang menceritakan peristiwa pemindahan pusat pemerintahan ini ada juga yang berpendapat pemindahan ini disebabkan konflik antara Mataram Kuno dan Sriwijaya yang dipicu semenjak Rakai Pikatan menyebabkan Balaputradewa hijrah ke Sriwijaya. Hal inilah yang memendam permusuhan antara kedua kerajaan selama berabad-abad lamanya.

Quote:Karna itu pula Wawa sebagai raja terakhir Mataram memerintahkan Pu Sindok untuk memimpin bala tentara dan bergerilya untuk mempertahankan kekuasaan. Dan kepercayaan ini dijawab dengan kemenangan yang gemilang. Karna ini pula Pu Sindok memperoleh tampuk kekuasaan sebagai raja bergelar Sri Maharaja Pu Sindok Sri Ishana Wikrama Dharmatunggadewa. Dan untuk menghindari serangan susulan dari Sriwijaya maka pusat pemerintahan dipindahkan ke Jawa Timur.
Seorang Ahli Geologi dr R.W Van Bemmelen mengindikasikan erupsi gunung merapi dimasa lalu menimbulkan kehancuran dibagian barat dan selatan gunung. Banyaknya gempa bumi, hujan abu dan banjir lava diidentikkan sebagai penyebab kehancuran pemerintahan Dharmawangsa Tguh di tahun 1016 yang disebut sebagai Pralaya pada prasasti Pucanan.
Seandainya saat itu Mataram benar-benar telah berpindah ke delta sungai brantas kemungkinan kecil Mataram tidak terkena dampak letusan tersebut. Butuh data yang otentik untuk memastikan bencana tersebut, namun seandainya data erupsi terbukti ada di sekitar perempat abad 10 hingga 11 maka dapat dipastikan perpindahan pusat pemerintahan yang terjadi tahun 929 M ini memang karena bencana Gunung Merapi.

Spoiler for Gunung Merapi:

Quote:Banyak pendapat maupun analisis tentang perpindahan pusat pemerintahan ini. Dari serangkaian perang, kemarahan dewa, bencana alam, over populasi, kesuburan alam bahkan faktor ekonomi. Namun Boechari menyatakan bahwa sistem kepercayaanlah yang berperan penting dalam peristiwa perpindahan ini.


Banyak penyebabnya,, bisa saja semua itu menjadi faktor perpindahan.
Quote:Original Posted By dcantripe

Yang ada dalam prasasti Calcuta “Ri Prahara, haji Wurawari maso mijil sangka Lwaran”
Haji itu dalem bahasa jawa kuno artinya raja bawahan /vasal.
Walo begitu letak Wurawari masi diperdebatkan,kalo pendapatnya Hari Soewarno di Jawa Timur. Menurut Casparis di Semenanjung Malaka. Sedangkan yang terbaru menurut Ekspedisi Bengawan Solo ada peninggalan2 Wurawari di Blora tadi...Makanya saya lebih condong kalo Wurawari itu di Jateng.

Setelah Erlangga bangkit dia ngerebut lagi daerah2 yang pernah jadi kekuasaannya Dharmawangsa Tguh. termasuk Wengker, Wurawari dll...


saya penasarannya gini kak.

di Jepang dulu sebelum jadi homogen orang Yamato semua, kan ada orang Jomon, Emishi dll. trus di China, sebelum jadi homogen orang Han semua, kan ada orang Yue, Baiyue, dll.

nah di Jawa, apakah juga begitu, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, apakah ada penduduk asli selain orang Jawa kah pada era Mataram Kuno?

dan apakah orang Wura-Wari ini mempunyai kebudayaan yg berbeda dengan Mataram Kuno?
Quote:Original Posted By topx666


saya penasarannya gini kak.

di Jepang dulu sebelum jadi homogen orang Yamato semua, kan ada orang Jomon, Emishi dll. trus di China, sebelum jadi homogen orang Han semua, kan ada orang Yue, Baiyue, dll.

nah di Jawa, apakah juga begitu, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, apakah ada penduduk asli selain orang Jawa kah pada era Mataram Kuno?

dan apakah orang Wura-Wari ini mempunyai kebudayaan yg berbeda dengan Mataram Kuno?


Lwaram yang ada di dalam prasasti pucangan/calcuta oleh para arkeolog diidentikkan dengan Desa Ngloram di Jawa Tengah. Jadi hal ini menepis pendapat2 yang mengatakan kalo Wurawari itu dari daerah Indocina atau Sumatra sebagai aliansinya Sriwijaya.

Kalo tentang masyarakat yang heterogen itu tetap memungkinkan, di sekitar pusat pemerintahan itu terdapat desa2 kecil yang biasa disebutnya wanua, nah gabungan dari banyak wanua ini disebut watek. Dan setiap watek memiliki pemimpin yang bernama Raka. Pemimpin2 ini biasanya ngasih pajak atau hadiah ke pemerintahan pusat.
Nah pemimpin2 watek inilah yang biasa memberontak, kaya kasusnya Majapahit yang diboikot ma negara2 kecil di pesisir utara..
Quote:Original Posted By dcantripe

Lwaram yang ada di dalam prasasti pucangan/calcuta oleh para arkeolog diidentikkan dengan Desa Ngloram di Jawa Tengah. Jadi hal ini menepis pendapat2 yang mengatakan kalo Wurawari itu dari daerah Indocina atau Sumatra sebagai aliansinya Sriwijaya.

Kalo tentang masyarakat yang heterogen itu tetap memungkinkan, di sekitar pusat pemerintahan itu terdapat desa2 kecil yang biasa disebutnya wanua, nah gabungan dari banyak wanua ini disebut watek. Dan setiap watek memiliki pemimpin yang bernama Raka. Pemimpin2 ini biasanya ngasih pajak atau hadiah ke pemerintahan pusat.
Nah pemimpin2 watek inilah yang biasa memberontak, kaya kasusnya Majapahit yang diboikot ma negara2 kecil di pesisir utara..


nah, kalo untuk soal budaya nya bagaimana ya? apakah kebudayaan Jawa yg sekarang di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu memang sudah nyaris sama sejak Mataram Kuno, ataukah baru menyebar setelah ekspansi Mataram Islam pada abad 17?

soalnya kan orang Osing, orang Tengger, mereka juga penduduk asli Jawa, tetapi kebudayaannya cukup berbeda dari orang Jawa kebanyakan (terutama dari segi bahasa)
Quote:Original Posted By topx666


nah, kalo untuk soal budaya nya bagaimana ya? apakah kebudayaan Jawa yg sekarang di Jawa Tengah dan Jawa Timur itu memang sudah nyaris sama sejak Mataram Kuno, ataukah baru menyebar setelah ekspansi Mataram Islam pada abad 17?

soalnya kan orang Osing, orang Tengger, mereka juga penduduk asli Jawa, tetapi kebudayaannya cukup berbeda dari orang Jawa kebanyakan (terutama dari segi bahasa)


1. Kalo detailnya saya kurang tau, tapi kalo dari segi etnografis keliatan sampai sekarang masi keliatan banget kebudayaan hindu-budha yang masi sangat dominan. Kaya persembahan sedekah bumi umpamanya. Jadi kemungkinan besar memang kebudayaan hindu sudah tertanam diberbagai wilayah di jawa sampai datangnya Islam barulah terjadi akulturasi.

Nah sejak datangnya Islam, masyarakat yang masi kokoh dengan kepercayaan Hindu perlahan2 mulai eksodus ke lereng bromo bareng ma masyarakat tengger yang udah ada sejak jaman majapahit ato ke bali dll...

2 Kalo masalah bahasa memang secara garis besar dialek bahasa jawa yang standar itu bahasa jawa solo dan yogyakarta,, tapi sebenernya banyak juga dialek2 di setiap wilayah. Biasa dibagi kelompok Jatim ma Jateng... Di kelompok Jawa Timur itu termasuk didalemnya dialek tengger ma osing..
Ane pernah tinggal beberapa bulan di banyuwangi, dan walo ane orang jawa tapi kaga paham bahasa mereka..
Kabarnya sih akarnya emang langsung dari bahasa jawa kuno dan ada pengaruh bahasa bali juga...
Quote:Original Posted By dcantripe

1. Kalo detailnya saya kurang tau, tapi kalo dari segi etnografis keliatan sampai sekarang masi keliatan banget kebudayaan hindu-budha yang masi sangat dominan. Kaya persembahan sedekah bumi umpamanya. Jadi kemungkinan besar memang kebudayaan hindu sudah tertanam diberbagai wilayah di jawa sampai datangnya Islam barulah terjadi akulturasi.

Nah sejak datangnya Islam, masyarakat yang masi kokoh dengan kepercayaan Hindu perlahan2 mulai eksodus ke lereng bromo bareng ma masyarakat tengger yang udah ada sejak jaman majapahit ato ke bali dll...

2 Kalo masalah bahasa memang secara garis besar dialek bahasa jawa yang standar itu bahasa jawa solo dan yogyakarta,, tapi sebenernya banyak juga dialek2 di setiap wilayah. Biasa dibagi kelompok Jatim ma Jateng... Di kelompok Jawa Timur itu termasuk didalemnya dialek tengger ma osing..
Ane pernah tinggal beberapa bulan di banyuwangi, dan walo ane orang jawa tapi kaga paham bahasa mereka..
Kabarnya sih akarnya emang langsung dari bahasa jawa kuno dan ada pengaruh bahasa bali juga...


jadi sebenernya kebudayaan Mataram Kuno dan Mataram Islam tu berbeda banget ya

apakah analogi Holy Roman Empire-Roman Empire juga berlaku di Mataram Islam-Mataram Kuno
Quote:Original Posted By topx666


jadi sebenernya kebudayaan Mataram Kuno dan Mataram Islam tu berbeda banget ya

apakah analogi Holy Roman Empire-Roman Empire juga berlaku di Mataram Islam-Mataram Kuno


Kalo beda banget si engga gan, cuman akulturasi aja. Sampai sekarang aja masi banyak budaya2 hindu di jawa dan diadopsi ma islam2 kejawen shg menimbulkan kontroversi.
Apalagi di kraton2 kesultanan/kasunanan. Masih kental banget pengaruh hindhunya bahkan sampai sekarang. Lingga yoni, patung siwa..masih ada kok di keraton mangkunegaran. Cuman mungkin fungsinya berbeda dan gek sesignifikan dulu.

Bisa juga dianalogiin ma holy roman empire, lagipula Ki Ageng Pemanahan mengklaim kalo doi keturunan ningrat Majapahit. Nama Mataram juga dipakai selain dari segi wilayah yang identik, tapi juga buat justifikasi ama pengharapan akan kembalinya romantisme keemasan masa lalu.
Dan bener2 emang Mataram Islam jadi gedeh ampe Madura./....

MDANG PERIODE JAWA TIMUR

Mpu Sindok adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur yang memerintah sekitar tahun 929 – 947, bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmottunggadewa.

Mpu Sindok dianggap sebagai pendiri dinasti baru bernama Wangsa Isana.

Istana Kerajaan Medang pada awal berdirinya diperkirakan terletak di daerah Mataram (dekat Yogyakarta sekarang). Kemudian pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dipindah ke Mamrati (daerah Kedu). Lalu, pada masa pemerintahan Dyah Balitung sudah pindah lagi ke Poh Pitu (masih di sekitar Kedu). Kemudian pada zaman Dyah Wawa diperkirakan kembali ke daerah Mataram.

Mpu Sindok kemudian memindahkan istana Medang ke wilayah Jawa Timur sekarang. Dalam beberapa prasastinya, ia menyebut kalau kerajaannya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Medang di Jawa Tengah. Misalnya, ditemukan kalimat Kita prasiddha mangraksa kadatwan rahyangta i Bhumi Mataram i Watugaluh.

Mpu Sindok memimpin penduduk Medang yang selamat pindah ke timur. Ia membangun ibu kota baru di daerah Tamwlang (prasasti Turyan, 929). Kemudian istana dipindahkan ke Watugaluh (prasasti Anjukladang, 937). Baik Tamwlang maupun Watugaluh diperkirakan berada di sekitar daerah Jombang sekarang.

Quote:MPU SENDOK

Mpu sendok naik tahta pada tahun 929 M dengan gelar Sri Ishana Wikrama Dharmotunggadewa (dinasti Ishana). Mpu sendok merupakan peletak dasar berdirinya kerajaan-kerajaan di jawa timur. Sendok mendirikan dinasti baru yang disebut dinasti ishana. Pusat pemerintahannya ada di watugaluh. Mengenai jalannya pemerintahan mpu sendok tidak diketahui secara pasti. Namun diperkirakan berjalan tertib dan aman. Hal ini dapat diketahui dari usaha-usaha yang dia lakukan seperti pembangunan irigasi, menghimpun kitab agama Budha Tantrayana “sang hyang kamahayanikan” yang tertulis oleh sambara surya warana. Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa toleransi beragama waktu itu cukup baik, sebab mpu sendok yang hindu ternyata mengijinkan ditulisnya kitab agama budha san hyang kamahayanikan.
Untuk mengetahui silsilah dan keturunan mpu sendok dapat dilihat dalam prasasti airlangga yang disebut prasasti Calcutta tahun 1042. Silsilahnya adalah sebagai berikut :
Raja sesudah mpu sendok adalah Sri Ishanatunggawijaya yang kimpoi dengan Lokpala mempunyai anak bernama Makutawangsawardana. Makutawangsawardana punya anak Mahendradata yang kimpoi dengan udayana dari Bali. Dari perkimpoian tersebut lahirlah airlangga.
Airlangga punya anak bernama Samarawijaya dan Panji Garakasan yang nantinya menjadi penumbuh berdirinya kerajaan Kediri.


Quote:DHARMAWANGSA TGUH

Dalam prasasti Calcutta status darmawangsa tidak diketahui secara jelas. Mungkin ia kakak mahendrata, anak makutawangsawardana dari isteri selir.
Darmawangsa merupakan seorang raja yang memiliki pandangan yang luas. Ia mempunyai perhatian yang besar terhadap negaranya, baik di bidang pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan. Untuk merealissikan cita-citanya ini darmawangsa melakukan usaha-usaha seperti berikut ini:

Kitab mahabarata disadur ke dalam bahasa jawa kuno woyasa kresna dwipayana.
Melakukan ekspansi ke sriwijaya (991) dan berhasil menguasainya. Bukti bahwa sriwijaya dikuasai dharmawangsa yaitu ketika utusan sriwijaya yang berkunjung ke china hendak pulang kembali tertahan di kanton karena negerinya (sriwijaya) sedang menghadapi serangan dari jawa. Tahun 992 utusan tersebut berusaha pulang lagi namun hanya sampai di campa saja karena negerinya diduduki oleh jawa.
Dengan jatuhnya wora-wari itu? Mungkin wora-wari adalah raja bawahan dharmawangsa atau wora-wari adalah alat sriwijaya untuk mebalas dharmawangsa.


Quote:AIRLANGGA



Pada tahun 1019 airlangga naik tahta atas permintaan para brahmana dengan gelar Sri Maharaja Rake Hulu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga. Dengan susah payah Airlangga akhirnya bisa menyatukan bekas reruntuhan kerajaan dharmawangsa. Ibu kota yang semula berada di Wutan Mas dipindahkan ke kahuripan 1037.
Airlangga adalah seorang raja yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan negarannya dan kemakmuran rakyatnya. Hal ini Nampak dalam usahanya seperti berikut :

Memperbaiki pelabuhan hujung galuh yang terletak di sungai brantas.
Pelabuhan kambang putih di tuban dibebaskan pajak.
Membuat tanggul di waringin pitu agar sungai brantas airnya tidak muntah.

Agama dan kebudayaan
Agama yang berkembang pada masa pemerintahan airlangga adalah agama hindu waisnawa. Hal ini Nampak pada candi belahan dimana airlangga diwujudkan sebagai sebuah arca sebagai wisnu menaiki garuda.
Untuk mengenang jerih payah airlangga mempersatukan kerajaan yang porak-poranda disusunlah kitab arjunawiwaha oleh mpu kanwa 1030. Inilah hasil sastra zaman airlangga yang sampai pada kita. Sementara airlangga sendiri sebelum mengundurkan diri jadi pertapa, ia telah membangunkan sebuah pertapaan bagi anaknya sangramawijaya di pucangan (gunung penanggungan).

Pembagian wilayah
Sebelum airlangga mengundurkan diri dari tahtanya, ia membagi wilayah kerajaannya menjadi dua bagian. Tugas ini desarahkan kepada Mpu Barada yang terkenal kesaktiannya. Dua kerajaan itu adalah jenggala (singasari) dengan ibukotanya di kahuripan dan panjalu (Kediri) dengan ibukotanya di Daha

Batas kedua kerajaan tersebut adalah gunung kawi ke utara dan keselatan pada tahun 1040 M

Atas pembagian wilayah menjadi dua oleh airlangga yaitu untuk menghindari perebutan kekuasaan diantara anak-anak Airlangga sendiri dari garwo selir sepeninggal Airlangga. Sebab Sanggramawijaya yang mestinya berhak atas tahta ayahnya tak bersedia menggantikannaya, dia memilih bertapa.


Spoiler for sumber:
PEMBAGIAN KEKUASAAN MASA AIRLANGGA

Quote:Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Mula-mula yang dilakukan Airlangga adalah menyusun kekuatan untuk menegakkan kembali kekuasaan Wangsa Isyana atas pulau Jawa. Namun awalnya tidak berjalan dengan baik, karena menurut prasasti Terep (1032), Watan Mas kemudian direbut musuh, sehingga Airlangga melarikan diri ke desa Patakan. Berdasarkan prasasti Kamalagyan (1037), ibu kota kerajaan sudah pindah ke Kahuripan (daerah Sidoarjo sekarang).

Airlangga pertama-tama mengalahkan Raja Hasin. Pada tahun 1030 Airlangga mengalahkan Wisnuprabhawa raja Wuratan, Wijayawarma raja Wengker, kemudian Panuda raja Lewa. Pada tahun 1031 putra Panuda mencoba membalas dendam namun dapat dikalahkan oleh Airlangga. Ibu kota Lewa dihancurkan pula. Pada tahun 1032 seorang raja wanita dari daerah Tulungagung sekarang berhasil mengalahkan Airlangga. Istana Watan Mas dihancurkannya. Airlangga terpaksa melarikan diri ke desa Patakan ditemani Mapanji Tumanggala, dan membangun ibu kota baru di Kahuripan. Raja wanita pada akhirnya dapat dikalahkannya. Dalam tahun 1032 itu pula Airlangga dan Mpu Narotama mengalahkan Raja Wurawari, membalaskan dendam Wangsa Isyana. Terakhir tahun 1035, Airlangga menumpas pemberontakan Wijayawarma raja Wengker yang pernah ditaklukannya dulu. Wijayawarma melarikan diri dari kota Tapa namun kemudian mati dibunuh rakyatnya sendiri.


Quote:Kerajaan yang baru dengan pusatnya di Kahuripan, Sidoarjo ini, wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya. Airlangga naik tahta dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga juga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah, bahkan pengaruh kekuasaannya diakui sampai ke Bali. Menurut prasasti Pamwatan (1042), pusat kerajaan kemudian pindah ke Daha (daerah Kediri sekarang).

Setelah keadaan aman, Airlangga mulai mengadakan pembangunan-pembangunan demi kesejahteraan rakyatnya. Pembangunan yang dicatat dalam prasasti-prasasti peninggalannya antara lain.

Membangun Sri Wijaya Asrama tahun 1036.
Membangun bendungan Waringin Sapta tahun 1037 untuk mencegah banjir musiman.
Memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh, yang letaknya di muara Kali Brantas, dekat Surabaya sekarang.
Membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir ke pusat kerajaan.
Meresmikan pertapaan Gunung Pucangan tahun 1041.
Memindahkan ibu kota dari Kahuripan ke Daha.

Ketika itu, Airlangga dikenal atas toleransi beragamanya, yaitu sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha.

Airlangga juga menaruh perhatian terhadap seni sastra. Tahun 1035 Mpu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan perjuangan Arjuna mengalahkan Niwatakawaca, sebagai kiasan Airlangga mengalahkan Wurawari.


Quote:Pada tahun 1042 Airlangga turun takhta menjadi pendeta. Menurut Serat Calon Arang ia kemudian bergelar Resi Erlangga Jatiningrat, sedangkan menurut Babad Tanah Jawi ia bergelar Resi Gentayu. Namun yang paling dapat dipercaya adalah prasasti Gandhakuti (1042) yang menyebut gelar kependetaan Airlangga adalah Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana.

Berdasarkan cerita rakyat, putri mahkota Airlangga menolak menjadi raja dan memilih hidup sebagai pertapa bernama Dewi Kili Suci. Nama asli putri tersebut dalam prasasti Cane (1021) sampai prasasti Turun Hyang (1035) adalah Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut Serat Calon Arang, Airlangga kemudian bingung memilih pengganti karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Mengingat dirinya juga putra raja Bali, maka ia pun berniat menempatkan salah satu putranya di pulau itu. Gurunya yang bernama Mpu Bharada berangkat ke Bali mengajukan niat tersebut namun mengalami kegagalan. Fakta sejarah menunjukkan Udayana digantikan putra keduanya yang bernama Marakata[rujukan?] sebagai raja Bali, dan Marakata kemudian digantikan adik yang lain yaitu Anak Wungsu.

Airlangga lalu membagi dua wilayah kerajaannya. Mpu Bharada ditugasi menetapkan perbatasan antara bagian barat dan timur. Peristiwa pembelahan ini tercatat dalam Serat Calon Arang, Nagarakretagama, dan prasasti Turun Hyang II. Maka terciptalah dua kerajaan baru. Kerajaan barat disebut Kadiri berpusat di kota baru, yaitu Daha, diperintah oleh Sri Samarawijaya. Sedangkan kerajaan timur disebut Janggala berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan, diperintah oleh Mapanji Garasakan.

Dalam prasasti Pamwatan, 20 November 1042, Airlangga masih bergelar Maharaja, sedangkan dalam prasasti Gandhakuti, 24 November 1042, ia sudah bergelar Resi Aji Paduka Mpungku. Dengan demikian, peristiwa pembelahan kerajaan diperkirakan terjadi di antara kedua tanggal tersebut.




SUMBER
SEKILAS PANJALU/DAHA/KADIRI & JENGGALA



KADIRI


SUMBER :
1. Cerita Calon Arang (1530)
2. Kitab Nagarakretagama (1366)
3. Prasasti Simpang Joko Dolok / Mahaksobhya (1289)

Kerajaan Kediri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang.
Quote:
RAJA-RAJA KERAJAAN PANJALU

SAMARAWIJAYA (1042-1052 prasasti Malenga)
AJI LINGGAJAYA
SRI JAYAWARSA (1104 prasasti Sirah Keting )
SRI BAMESWARA (1117 prasasti Pikatan,1130 prasasti Tangkilan)
SRI JAYABHAYA (1135 prasasti Ngantang, 1157 Kakimpoi Bharatayudha)
SRI SARWESWARA (1159 prasasti Padelegan II,1161 prasasti Kahyunan)
SRI ARYESWARA (1171 prasasti Angin)
SRI GANDRA (1181 prasasti jaring)
KAMESWARA (1185 prasasti Ceker)
SRENGGALANCANA (1194 prasasti Kamulan, 1205 prasasti Wates menyebut Kertajaya)
Sumber: Nagarakretabhumi 1.5


SILSILAH RAJA-RAJA KEDIRI
SRI JAYAWARSA DHIGJAYA SASTRAPRABHU
Memerintah Kediri pada tahun 1016 S - 1037 S / 1094 M - 1115 M

SANG KAMESWARA I

SRI MAHARAJA RAKE SIRIKAN SRI KAMESWARA SALAKABHUAWANA TUSTIKARANA

SARWWANIWARYYAWIRYA PARAKRAMA DIGJAYOTUNGGADEWA
Keturunan Prabhu Airlangga
Memerintah Kediri pada tahun 1037 S - 1052 S / 1115 M - 1130 M

SANG MAPANJI JAYABAYA SRI DHARMESWARA -
MADHUSUDANAWATARANINDRA SUHERTSINGHA
Memerintah Kediri pada tahun 1052 S - 1082 S / 1130 M - 1060 M
RAKE SIRIKAN SRI SARWWESWARA JANARDHANAWATARAWIJAYARAJA -
SAMASINGHANADANIWARYYAWIRYYA- PARAKRAMA

DIGJAYOTTUNGGADEWA
Memerintah Kediri pada tahun 1082 S - 1093 S / 1160 M - 1171 M

SANG RAKE HINO SRI ARYYESWARA MADHUSUDANAWATARARIYAYA -
MUKARYYAWIRYYA PARAKRAMOTTUNGGADEWA
Memerintah Kediri pada tahun 1093 S - 1103 S / 1171 M -1181 M

SRI KONCARYYADIPA HANDABHUWANAPALAKA -
PARAKRAMANINDITA DIGJAYOTTUNGGADEWA
(SRI GHANDRA)
Memerintah Kediri pada tahun 1103 S - 1107 S / 1181 M - 1185 M

SANG KAMESWARA II
Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa
Memerintah Kediri pada tahun 1107 S - 1116 S / 1185 M - 1194 M


Quote:
SILSILAH RAJA-RAJA KEDIRI
MENURUT PARATON DAN NAGARAKRETAGAMA

KERTAJAYA (1194-1222 M)
JAYASABHA (1227-1258 M)
SASTRAJAYA (1258-1271 M)
JAYAKATWANG (1271-1292 M)
CATATAN:
- Kediri memiliki negeri bawahan yaitu Tumapel.
- Tumapel memerdekakan diri dari Kediri pada masa Ken Arok dengan mengalahkan Kertajaya.
- Pasca Kertajaya, Kediri menjadi negeri bawahan Tumapel
- Tumapel pada masa Kertanegara menjadi Singhasari
- Pada masa Jatakatwang Kediri memerdekakan diri dari Singhasari dengan membunuh Kertanegara.

Quote:Runtuhnya Kadiri

Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama.

Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.

Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.




JENGGALA

Nama Janggala diperkirakan berasal kata "Hujung Galuh", atau disebut "Jung-ya-lu" berdasarkan catatan China. Hujung Galuh terletak di daerah muara sungai Brantas yang diperkirakan kini menjadi bagian kota Surabaya. Kota ini merupakan pelabuhan penting sejak zaman kerajaan Kahuripan, Janggala, Kediri, Singhasari, hingga Majapahit. Pada masa kerajaan Singhasari dan Majapahit pelabuhan ini kembali disebut sebagai Hujung Galuh.

Quote:Pembagian kerajaan sepeninggal Airlangga terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai.

Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah dari pada Kerajaan Kadiri. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:

Mapanji Garasakan, berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga (1052).
Alanjung Ahyes, berdasarkan prasasti Banjaran (1052).
Samarotsaha, berdasarkan prasasti Sumengka (1059).


Quote:Akhir Kerajaan Janggala

Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya. Menurut prasasti Ngantang (1035), Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh Sri Jayabhaya raja Kadiri, dengan semboyannya yang terkenal, yaitu Panjalu Jayati, atau Kadiri Menang.

Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan Kadiri. Menurut Kakimpoi Smaradahana, raja Kadiri yang bernama Sri Kameswara, yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri Janggala bernama Kirana.


Ane tertarik membahas kerajaan medang dalam naskah carita parahyangan. Secara garis besar, isinya sama dengan bukti dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Misalnya, kisah raja medang yang awalnya menganut agama siwa dan menyuruh anaknya pindah agama jadi buddha. Kejadian ini yang memunculkan teori adanya 2 wangsa yang berkuasa saat itu.

Naskah ini ditulis berabad-abad setelahnya. Penulisnya sakti kali, bisa menerawang
Quote:Original Posted By Bata.Merah.
Ane tertarik membahas kerajaan medang dalam naskah carita parahyangan. Secara garis besar, isinya sama dengan bukti dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Misalnya, kisah raja medang yang awalnya menganut agama siwa dan menyuruh anaknya pindah agama jadi buddha. Kejadian ini yang memunculkan teori adanya 2 wangsa yang berkuasa saat itu.

Naskah ini ditulis berabad-abad setelahnya. Penulisnya sakti kali, bisa menerawang


ditulis berabad2 setelahnya, dan dari daerah yg berbeda, karena Mataram kuno ada di Jawa Tengah-Jawa Timur, dan Carita Parahyangan ditulis di Jawa Barat
Quote:Original Posted By dcantripe


Yup Isyana itu dari gelarnya Pi Sindok..Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa
Doi aliran Hindu Siwa jadi diperkirakan masih kelanjutan dari wangsa Sanjaya..

Yah gimana lagi gan..Gak cuman di Indo.., dimana2 juga gitu, manusia terlalu silau ama kekuasaan
Tapi ada mitos kalo suatu negara/kerajaan bisa bertahan dari perang saudara, ke depannya negara/kerajaan ini bakal menjadi sangat besar...

yg ane garis bawahi, rada OOT seeh,,, apa Indo bisa yaak jd negara besar, seteLah di dera konflik antar suku berkpnjangan..? dLu wktu jman kerajaan juga seteLah perang sdr. ancur dech tu kerajaan. bhkn krjaan sbsar Majapahit skLipun...

Quote:Original Posted By Bata.Merah.
Ane tertarik membahas kerajaan medang dalam naskah carita parahyangan. Secara garis besar, isinya sama dengan bukti dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Misalnya, kisah raja medang yang awalnya menganut agama siwa dan menyuruh anaknya pindah agama jadi buddha. Kejadian ini yang memunculkan teori adanya 2 wangsa yang berkuasa saat itu.

Naskah ini ditulis berabad-abad setelahnya. Penulisnya sakti kali, bisa menerawang


parahyangan bukannya dri jabar? ini kn di jawa tengah dan jawa timur,,,

Quote:Original Posted By topx666


ditulis berabad2 setelahnya, dan dari daerah yg berbeda, karena Mataram kuno ada di Jawa Tengah-Jawa Timur, dan Carita Parahyangan ditulis di Jawa Barat


nhaa bner itu jawab agan...


#sorry mod... inet LoLa....
Quote:Original Posted By Bata.Merah.
Ane tertarik membahas kerajaan medang dalam naskah carita parahyangan. Secara garis besar, isinya sama dengan bukti dari prasasti-prasasti yang ditemukan. Misalnya, kisah raja medang yang awalnya menganut agama siwa dan menyuruh anaknya pindah agama jadi buddha. Kejadian ini yang memunculkan teori adanya 2 wangsa yang berkuasa saat itu.

Naskah ini ditulis berabad-abad setelahnya. Penulisnya sakti kali, bisa menerawang

Quote:Original Posted By topx666


ditulis berabad2 setelahnya, dan dari daerah yg berbeda, karena Mataram kuno ada di Jawa Tengah-Jawa Timur, dan Carita Parahyangan ditulis di Jawa Barat


Emang itu ditulisnya abad 16, sumber yang lumayan penting dipake buat acuan walau susah untuk dipake standar. Nyeritain asal muasal Sanjaya ampe matinya...

Tapi kayanya disitu Sanjaya terlalu dilebih2in.
Saya gak tau darimana sumbernya, tapi emang sangat disayangkan jaman klasik Indonesia itu minim sekali budaya menulis.
Mungkin sumbernya oral gan.. Cerita dari mulut ke mulut.

Quote:Original Posted By hastaantasena

yg ane garis bawahi, rada OOT seeh,,, apa Indo bisa yaak jd negara besar, seteLah di dera konflik antar suku berkpnjangan..? dLu wktu jman kerajaan juga seteLah perang sdr. ancur dech tu kerajaan. bhkn krjaan sbsar Majapahit skLipun...


Kemungkinan sih selalu ada gan..

Dunia toh terus berputar dalam siklus.
Dulu dinosaurus yang membahana kaya gitu sekarang berevolusi cuma jadi ayam2 yang dimakan ma kita2...

Ikutan OOT
Quote:Original Posted By dcantripe

Emang itu ditulisnya abad 16, sumber yang lumayan penting dipake buat acuan walau susah untuk dipake standar. Nyeritain asal muasal Sanjaya ampe matinya...

Tapi kayanya disitu Sanjaya terlalu dilebih2in.
Saya gak tau darimana sumbernya, tapi emang sangat disayangkan jaman klasik Indonesia itu minim sekali budaya menulis.
Mungkin sumbernya oral gan.. Cerita dari mulut ke mulut.

Kemungkinan sih selalu ada gan..

Dunia toh terus berputar dalam siklus.
Dulu dinosaurus yang membahana kaya gitu sekarang berevolusi cuma jadi ayam2 yang dimakan ma kita2...

Ikutan OOT


jangankan jaman klasik, jaman sebelum era kemerdekaan aja kalo yg masih di desa2 sekitar Jogja aja lah, juga gak tahu kejadian2nya trus asal-usul dll kayak gimana, dan yg diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut kadang2 malah yg lebih gak penting

mungkin tulisan itu sudah ada jauh sebelum Mataram Kuno, tapi budaya menulis hanya dimiliki oleh kaum bangsawan/pemuka agama, dan rakyat biasa cuma bisa menerima saja, makanya ya kadang2 subyektif banget
Quote:Original Posted By dcantripe



Emang itu ditulisnya abad 16, sumber yang lumayan penting dipake buat acuan walau susah untuk dipake standar. Nyeritain asal muasal Sanjaya ampe matinya...

Tapi kayanya disitu Sanjaya terlalu dilebih2in.
Saya gak tau darimana sumbernya, tapi emang sangat disayangkan jaman klasik Indonesia itu minim sekali budaya menulis.
Mungkin sumbernya oral gan.. Cerita dari mulut ke mulut.



Kemungkinan sih selalu ada gan..

Dunia toh terus berputar dalam siklus.
Dulu dinosaurus yang membahana kaya gitu sekarang berevolusi cuma jadi ayam2 yang dimakan ma kita2...

Ikutan OOT


ok dech gan,,, semog aja,,, amin...

kdang minus nya sejarah Indo bnyak yg dcrtain muLut ke muLut. akhirnya bnyak yg kga pcya trus yg td nya reaL history jd story.
Quote:Original Posted By topx666


jangankan jaman klasik, jaman sebelum era kemerdekaan aja kalo yg masih di desa2 sekitar Jogja aja lah, juga gak tahu kejadian2nya trus asal-usul dll kayak gimana, dan yg diceritakan turun temurun dari mulut ke mulut kadang2 malah yg lebih gak penting

mungkin tulisan itu sudah ada jauh sebelum Mataram Kuno, tapi budaya menulis hanya dimiliki oleh kaum bangsawan/pemuka agama, dan rakyat biasa cuma bisa menerima saja, makanya ya kadang2 subyektif banget


Di Jawa Bali simasi lumayan mendingan dibanding pulau2 lain di Indo.
Jadi inget Sriwijaya., Kemegahannya tenggelam karna minimnya literatur..
Ditambah lagi sedikit sekali ahli epigrafi di Indonesia..

Quote:Original Posted By hastaantasena


ok dech gan,,, semog aja,,, amin...

kdang minus nya sejarah Indo bnyak yg dcrtain muLut ke muLut. akhirnya bnyak yg kga pcya trus yg td nya reaL history jd story.


Tapi kekurangannya info yang disampein secara oral tuh berangsur2 menjadi bias. Akhirnya timbul banyak versi...
Dan versi mana yang paling mendekati kebenaran..
Ya walopun literatur tertulis juga belum tentu otentik sih...
Quote:Original Posted By dcantripe


Di Jawa Bali simasi lumayan mendingan dibanding pulau2 lain di Indo.
Jadi inget Sriwijaya., Kemegahannya tenggelam karna minimnya literatur..
Ditambah lagi sedikit sekali ahli epigrafi di Indonesia..



Tapi kekurangannya info yang disampein secara oral tuh berangsur2 menjadi bias. Akhirnya timbul banyak versi...
Dan versi mana yang paling mendekati kebenaran..
Ya walopun literatur tertulis juga belum tentu otentik sih...


nha,, ntu tmbah Lg,.. ada bnyak versi ttg sejarah2 di Indonesia ini,,, jd kLo kga Lhat sumber / versi yg pLing dekat ama kjadian2 sjrh tsbt jd ssah buat bedain story ap history..
Thread keren jangan sampai tenggelam