KASKUS

Thumbs up Nyi. HIROMI KANO, PESINDEN ASAL JEPANG ( lestarikan budaya kita )

Salam Sejahtera gan! Selamat Datang dan Selamat Membaca
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gan!

supaya thread ini tidak tenggelam dan penghargaan buat ts atas pembuatan thread ini
bagi ente yang udah ISO,supaya ane makin semangat sharing ilmu
KOMENG supaya jumlah post ente bertambah,dan semakin cepat menuju ke jurang ke-ISOan


"HIROMI KANO PESINDEN ASAL NEGERI SAKURA"


Quote:Original Posted By harap di baca

GENDING “Ketawang Kinanthi Sandhung Pelog Barang” itu terdengar bening. Lantunan sandhung pelog barang-nya terdengar panjang dan bulat. Diselingi suwuk, suara jernih perempuan itu kembali meliuk melantunkan macapat dhudhuk wuluh “Ayak-ayakan Mijil Sulastri Wolak-walik, beralih ke srepeg slendro manyura (jenis laras nada pentatonis). Ketika sampai pada bagian cengkok miring, penonton seperti menahan napas, terkesima lantunan nada-nada pentantonis yang dibawakan dengan sempurna oleh perempuan bertubuh mungil yang duduk di dekat dalang Ki Manteb Soedharsono di panggung pentas wayang kulit lebar tapi pendek itu. Perempuan itu Hiromi Kano, salah satu pesinden yang sering tampil bersama “dalang setan” Ki Manteb Soedharsono. Dari namanya sudah bisa ditebak ia perempuan Jepang. Namun kecuali nama yang menjadi tanda “kejepangannya” itu, sepintas memang hampir tak tampak lagi tanda-tanda lain bahwa ia berasal dari Negeri Sakura, meski kulit perempuan itu putih dan matanya sipit. Sosoknyanya sebagai orang Jepang seperti menguap, terlebih ketika ia nyinden dengan busana kebesarannya; kebaya lengkap dan sanggul besar khas Jawa.

Hiromi Kano namanya. Lahir di Chiba, Jepang, 31 Januari 1967. Sejak kecil ia menyukai musik. Ia belajar piano klasik sejak duduk di sekolah dasar. Tahun 1991, Hiromi adalah mahasiswa seni jurusan musik barat dan piano di Tokyo Ongaku Daigaku (Universitas Musik Tokyo).

Ketika menginjak semester akhir, Hiromi takjub ketika seorang dosennya memainkan gamelan Jawa. Sebenarnya kekagumannya tertuju pada gamelan Bali, yaitu saat masih SMA. Ketika itu ia secara tak sengaja menemukan sebuah gelombang radio yang khusus menyiarkan musik tradisional Indonesia.

“Sejak itu saya tergila-gila dengan gamelan , tapi di kampus tidak ada jurusan itu. Ketika semester akhir ada mata kuliah pilihan gamelan Jawa, saya langsung masuk kelas itu. Tidak ada gamelan Bali, gamelan Jawa juga boleh,” kata Hiromi dengan logat Jawa.

Tahun 1988 ia mengisi liburan semesterannya dengan datang ke Indonesia, khusus untuk melihat gamelan Jawa lengkap, saat ada perhelatan Pekan Wayang di Jakarta. Selama dua bulan ia keliling Jawa Tengah untuk belajar gamelan. Hiromi bahkan sempat nyantrik (belajar) nyinden antara lain pada dalang Ki Sutarman (almarhum) dan Supadmi (sinden dan dosen Insititut Seni Indonesia, ISI, Surakarta).

“Delapan tahun setelah itu saya baru bisa kuliah di ISI dengan beasiswa Pemerintah Indonesia. Sebelumnya saya mencari beasiswa ke mana-mana, tapi selalu gagal. Orang tua tidak setuju, tapi saya nekat berangkat. Saya benar-benar jatuh cinta dengan gamelan. Piano saya tinggalkan, ” tutur Hiromi.

Tak hanya gamelan, di Jurusan Karawitan ISI Surakarta, Hiromi sekaligus belajar beberapa seni-budaya Jawa lain, seperti sinden dan pewayangan. Secara otomatis perempuan itu juga belajar berbahasa Jawa.

“Di Solo saya kembali bertemu Nyi Supadmi, kemudian Nyi Sudarti dan KRT Prajanegara yang mengajari nyinden secara privat,” ujar Hiromi sambil merapikan kertas-kertas berisi jadwal pentas nyinden di meja ruang tamu rumahnya.

Ada cerita menarik mengenai kursus sinden itu. Awalnya, satu-satunya alasan Hiromi menjadi sinden adalah agar bisa diajak dalang yang mendapat tanggapan pentas. Honor dari nyinden itu digunakan untuk biaya hidup sehari-hari di Solo.

“Uang beasiswa tidak besar dan hanya untuk setahun. Saya harus mencari tambahan untuk menutup yang empat tahun. Kalau bisa nembang gending Jawa kan bisa untuk mendari uang,” kata perempuan berperawakan kecil itu.

Sinden Supadmi, menurut Hiromi, sangat berperan mempromosikan dirinya ke para dalang. Hingga akhirnya ajakan dalang Ki Purbo Asmoro merupakan pengalaman pertama Hiromi menjadi sinden profesional. Sejak pengalaman pertama itu, Hiromi menjadi langganan nyinden oleh dalang-dalang kondang. Saat masih kuliah, Hiromi terpaksa menolak beberapa ajakan dalang, karena waktu pentas sering kali bertabrakan dengan jadwal kuliah.

“Saya tidak ingin kuliah berantakan. Saya ke Indonesia untuk kuliah. Saya malu kalau kuliah tidak selesai.”

Hiromi benar-benar mempunyai banyak waktu setelah kuliahnya rampung. Tawaran menjadi sinden pun semakin banyak. Selama 13 tahun terakhir, ia malang melintang dari panggung ke panggung pertunjukan wayang di hampir seluruh wilayah Indonesia bersama dalang-dalang kelas satu, seperti Anom Suroto, Manteb Soedharsono, Purbo Asmoro, Slamet Gundono (Solo), Gito Purbo Carito (Banyumas), Enthus Susmono (Tegal), Sokron Sowondo (Blitar), Suparno Wonokromo (Sumatera). Jadwal tanggapan nyinden Hiromi memang cukup padat. Dalam sebulan setidaknya ada 10 undangan pentas yang sebagian besar di luar kota Solo. Untuk bulan Juli ini, misalnya, ia hanya sekali pentas di Solo, yaitu pada 29 Juli mendatang. Beberapa undangan lainnya datang dari luar kota, seperti Semarang, Yogyakarta, Tegal, serta sejumlah kota di Jawa Timur dan Sumatera.

Hiromi mengakui, sinden -termasuk gamelan dan pewayangan- telah menjadikan kehidupannya lebih baik. Namun kecintaan perempuan Jepang itu terhadap seni sinden kini bukan semata-mata karena uang. Hiromi juga selektif dalam menerima tawaran pentas.

“Saya tidak mau kalau musik campursari. Bukan menyepelekan, tapi nada campursari itu diatonik, sehingga bisa merusak nada pentatonik yang masih saya pelajari,” kilahnya.

Sejurus kemudian, Hiromi melantunkan beberapa potong lirik tembang macapat Pocung, yang berisi pesan bahwa segala ilmu baru akan bisa bermanfaat jika di amalkan. Ilmu hendaknya digunakan untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku/Lekase lawankas/

Tegese kas nyantosani/Setya budya pangekese dur angkara..

“Saya suka nadanya yang unik (pentatonik). Apalagi lirik tembangnya mengandung banyak kearifan budaya, piwulang (ajaran) tentang nilai-nilai moral. Ini kesenian Jawa yang luar biasa,” kata perempuan yang pernah tampil dalam Festival Sinden Internasional 2009 di TMII Jakarta.

Dengan belajar sinden, lanjut Hiromi, otomatis akan belajar juga mengenal dunia pewayangan, tembang-tembang macapat, gendhing dan gamelan yang menyimpan banyak falsafah kehidupan Jawa. Di rumahnya yang sederhana di kawasan Mojosongo, Solo, kini Hiromi tinggal bersama suaminya, Wiyono, yang menikahinya tahun 2002. Meski bersuamikan orang Indonesia, namun Hiromi tetap memilih kewarganegaraan Jepang. “Bagaimana pun leluhur saya ada di sana. Saya masih punya adik di Jepang, sehingga kalau sewaktu-waktu ingin menengok gampang,” kata perempuan santun dan ramah itu.


sumber

Lanjut Di Bawah gan

Nyi. HIROMI KANO, PESINDEN ASAL JEPANG

Quote:Original Posted By lanjutan
Waranggana Asing Bernama Hiromi Kano
SINDEN tak hanya diminati oleh bumiputera. Orang asing pun sangat menyukai dunia waranggana. Salah satu sinden asing itu bernama Hiromi Kano. Sebagai warga Jepang, perempuan ini nyaris tak memiliki bayangan jika namanya akan berkibar sebagai seorang sinden di Solo.

Ketika ditemui di rumahnya yang asri di Kampung Bonoroto, Plesungan, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Sabtu (21/5), ia memang tak tampak sebagai sinden. Pagi itu dia sudah harus bersiap pergi ke Banjarmasin, Kalimantan Timur. Di sana ia akan peye nyindhen untuk pertunjukan wayang kulit Ki Manteb Soedharsono. Demikian hari-hari perempuan kelahiran Chiba (Jepang) 31 Januari 1967 itu memang selalu disibukkan dari satu pentas wayang ke pentas wayang yang lain.

”Saya selalu mencatat setiap ikut pementasan wayang. Sampai sekarang sudah ada 162 dalang yang pernah saya sindheni,” ujarnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Dalam jagad wayang saat ini, nama Hiromi Kano memang sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai sinden mancanegara yang mampu memberikan warna di setiap pertunjukan wayang.

Tapi bagaimana sebenarnya sampai dia bisa menjadi seorang sinden? Semua berawal dari sebuah tembang macapat, ”Pocung”. Dari tembang yang ditemui ketika menempuh matakuliah pilihan di Tokyo College of Music itulah awal jatuh dia cinta pada musik gamelan. Lalu membuat dia ingin datang ke negeri asal usul gamelan.

”Atas saran teman, pada 1996 akhirnya saya belajar di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia:sekarang ISI) Surakarta. Tapi di sekolah itu saya tidak langsung belajar menjadi waranggana, namun saya belajar karawitan dengan mengambil jurusan yang sama,” ujarnya.

Tak Terduga

Lalu bagaimana Hiromi kemudian tertarik belajar menjadi waranggana? Menurut dia, itu terjadi melalui jalan yang tak terduga. Di STSI dia kemudian bertemu dengan Supadmi, seorang sinden senior yang sekaligus juga menjadi dosen. Dari sanalah kemudian Hiromi mulai belajar tembang-tembang Jawa seperti yang sering dinyanyikan para waranggana.

”Saya masih ingat betul, yang saya pelajari kali pertama adalah sindhenan untuk ”Ketawang Brantamenta”,” ujar dia.

Menariknya, setelah itu Padmi mempromosikan Hiromi kepada para mahasiswa Pedalangan di STSI Surakarta agar diikutkan dalam pementasan wayang. Demikian dari satu dalang ke dalang yang lain, kemampuan Hiromi semakin terasah. Hingga kemudian sampai sudah ada ratusan dalang yang dia ikuti termasuk dalang kondang seperti Ki H Anom Suroto, Ki H Manteb Soedharsono, Ki Enthus Susmono dan Ki Purbo Asmoro.

”Tapi sayang sekarang saya melihat generasi muda di sini justru berjarak dengan kesenian tradisionalnya termasuk dunia waranggana. Karena itu saya ingin menjadi jembatan untuk menyatukan kembali generasi muda dengan keseniannya,” ujar perempuan yang juga mahir memainkan instrumen gamelan tersebut.

Itulah Hiromi Kano, potret dari warga asing yang jatuh cinta pada kesenian tradisional Jawa. Tentu Hiromi bukanlah satu-satunya warga asing yang kepincut dengan gamelan atau pun wayang. Sebab di luar dia, masih ada banyak nama lain.

Di dunia waranggana sebut saja dengan nama Ester dari Inggris, atau juga dengan Kagi dari Honggaria. Atau sebelum generasi mereka, juga sudah ada para pendahulu yang juga jatuh cinta dengan gamelan dan wayang.

”Dari negara asal saya, sebelumnya sudah ada Khauru Serizawa yang belajar gamelan. Sementara di dunia tari ada nama Kumy Ozawa dan juga Michi Tamioka,” tandasnya.

Kehadiran para sinden asing di panggung wayang ternyata juga mampu memberikan warna lain. Simak saja seperti yang dikatakan oleh Ki H Manteb Soedharsono, dalang kondang yang juga sering mengajak sinden asing. Menurutnya, sinden asing mampu menjadi daya tarik dalam setiap pementasan. Sebab selain asal usulnya, biasanya para sinden asing juga lumayan bagus karena mereka benar-benar belajar sungguh-sungguh.

”Dan lagi saya sekaligus juga ingin menunjukkan kepada generasi sekarang, ini lo warga asing saja mau belajar kesenian kita. Lalu mengapa kita yang menjadi pemiliknya terkadang malah seperti melupakannya,” kata dia.

Dan Hiromi Kano adalah keindahan yang diupayakan oleh Manteb sebagai inspirator bumiputera untuk mencintai kembali dunia sinden.
sumber

Quote:Original Posted By Pict dan video

Spoiler for Picture:

Spoiler for videonya gan:

Quote:Original Posted By berharap

bagi nya gan bila bermanfaat
mohon di ya gan
jangan di timpuk sakit gan

wah yang asing kaya....pemudi aslinya pada kemana neh
Hebat.., malah warga asing yang suka budaya Indonesia.
Quote:Original Posted By bnursasongko
wah yang asing kaya....pemudi aslinya pada kemana neh

orang asing senang budaya kita dan pemuda pemudinya seneng k-semprot bantu gan
Quote:Original Posted By 100100100
Hebat.., malah warga asing yang suka budaya Indonesia.

malahan di tokyo banyak yg menggemari gan bantu gan
Quote:Original Posted By ****5
ane klo denger sinden malah ngantuk gan
keren juga ni org jepang bisa nyinden






jiah emang si gan bikin ngantuk, tapi seenggaknya kita ikut melestarikan dah
bantu gan
Hebat.., malah warga asing yang suka
budaya Indonesia.
Quote:Original Posted By profesor.suga
Hebat.., malah warga asing yang suka
budaya Indonesia.


dan kita yg harus melestarikan gan, jgn sampe di klaim lgi ama tetangga
bantu gan
ane malu gan, masa orang luar negri antusias ama budaya dalam negri tp kita sebagai warga negri sendiri sebagian besar kurang menghargai budaya sendiri
ungkapan rumput tetangga terlihat lebih hijau adalah ironi
ane sedih gan
Saya sebagai anak Indonesia keturunan Jawa merasa malu dengan tante Hiromi. Saya belum bisa apa2x untuk ikut melestarikan budaya Indonesia.
ane aja yang orang jawa kagak terlalu ngarti bahasa wayang
lah ini malah orang jepun jadi sinden,
gk kebayang kalo ini orangnya nyinden pake bahasa jepun
saatnya anak muda lestarikan budaya

*Ingkang Ngepost Asli Saking Juragan Lorpok
miris juga ya liatnya, disaat orang asing suka sama budaya kita, kita sendiri malah seolah2 melupakan kebudayaan kita sendiri
ayo generasi muda lestarikan budaya kita sendiri
Quote:Original Posted By rooney.tahu
ane malu gan, masa orang luar negri antusias ama budaya dalam negri tp kita sebagai warga negri sendiri sebagian besar kurang menghargai budaya sendiri

iye gan, malah pada mengagung agungkan budaya asing dri pada budaya kita bantu gan
Quote:Original Posted By perempuandekil
ungkapan rumput tetangga terlihat lebih hijau adalah ironi

di sana menggemari di sini, disini menggemari k-semprot bantu :rate 5 gan
Quote:Original Posted By myahoo
ya itu kadang terbalik ya gan
semoga warga kita lebih cinta

nitip ya gan

mari lestarikan budaya indonesia gitu lah :bantu :rate 5 gan
Quote:Original Posted By yuda22
ane sedih gan

salut dan campur sedih ane gan bantu :rate 5 gan
Quote:Original Posted By banana_kick
Saya sebagai anak Indonesia keturunan Jawa merasa malu dengan tante Hiromi. Saya belum bisa apa2x untuk ikut melestarikan budaya Indonesia.

terkadang ane berpikir spt itu, toh lebih baik kita menyukai dan mendukung terus budaya kita bantu :rate 5 gan
Quote:Original Posted By sh1nt0g3ndh3ng
ane aja yang orang jawa kagak terlalu ngarti bahasa wayang
lah ini malah orang jepun jadi sinden,
gk kebayang kalo ini orangnya nyinden pake bahasa jepun

tonton video ke 1 gan tu lg di istana merdeka di tonton pak beye, terus nyinden juga pake bahasa japan tapi gak banyak, mungkin susah juga kali bantu gan
Quote:Original Posted By lorpok
saatnya anak muda lestarikan budaya

*Ingkang Ngepost Asli Saking Juragan Lorpok


marilah kawan kita berangkat bantu :rate 5 dolo gan
Quote:Original Posted By zhedh
miris juga ya liatnya, disaat orang asing suka sama budaya kita, kita sendiri malah seolah2 melupakan kebudayaan kita sendiri
ayo generasi muda lestarikan budaya kita sendiri


ya berawal dri menyukai budaya dari hati untuk kemajuan negri bantu gan
Quote:Original Posted By andirangon

marilah kawan kita berangkat bantu :rate 5 dolo gan

mantaph gan

Quote:Original Posted By sh1nt0g3ndh3ng

mantaph gan



kalah HT gan dan nya blm ada masih abu abu ane cendolin dah
cek gan
saatnya anak muda lestarikan budaya
×