KASKUS

Baja dan Bahan-Bahan Lain Yang Umum Digunakan Sebagai Bilah Pisau

Saya bukan Ahli Metalurgi, Ahli Tempa, ataupun Pembuat Pisau. Saya kebetulan sangat menggemari pisau sehingga ikut mempelajari baja-baja pisau dengan cara membaca.

Berikut sedikit tulisan yang sedianya bisa membantu teman-teman untuk mulai mengerti hal-hal mendasar mengenai baja, dan bahan pisau lain.

Berikut beberapa sumber referensi tulisan ini:



BAJA

Baja adalah logam paduan dengan kandungan utamanya adalah besi yang di padu dengan unsur karbon. Untuk bisa disebut baja, kandungan karbon tidak boleh kurang dari 0.2 - 0.25% dan tidak lebih dari 2.1 - 3%. Bila kandungan karbon kurang dari 0.2 - 0.25%, logam ini tidak bisa di harden (diperkeras dengan proses hardening/nyipuh), dan disebut wrought iron. Bila kandungan karbon lebih dari 2.1 - 3% logam ini akan menjadi getas (gampang patah), dan disebut cast iron(besi cor).

Aturan mengenai kandungan karbon diatas; dalam beberapa tahun terakhir telah tidak sesuai lagi. Beberapa tahun terakhir beberapa pabrik baja telah menemukan baja jenis baru sebagai contoh: baja H1 yang digunakan oleh beberapa perusahan pisau kandungan karbonnya adalah 0.15% (sebagian besar orang masih tidak menganggap H1 sebagai baja/steel, karena H1 dengan kandungan karbon serendah ini tidak bisa di harden). Begitu juga kandungan karbon dari baja ZDP189 yang 3.0%. CPM Rex 121 yang mempunyai kandungan karbon 3.4%.

* Satu hal yang harus diingat. Baja apapun yang digunakan sebuah pisau, yang paling penting adalah Proses Heat Treatment-nya (HT) (dari hardening sampai tempering). Sebagai contoh baja dengan bahan baja D2 yang tidak melalui proses HT atau tidak melalui proses HT yang benar akan menjadi kalah jauh kemampuannya dibanding baja D2 dengan HT yang benar.
UNSUR/KANDUNGAN DALAM BAJA

Sederhananya, baja adalah besi dengan kandungan karbon di dalamnya. Campuran lainnya ditambahkan untuk membuat baja untuk mempunyai kemampuan yang lebih.

Berikut adalah campuran penting dalam baja (termasuk karbon)sesuai urutan abjad, dan beberapa contoh baja yang berisi paduan tersebut:

Karbon: Hadir dalam semua baja, itu adalah unsur yang paling penting untuk proses hardening/pengerasan, juga meningkatkan kekuatan baja tetapi, semakin banyak kandungannya, ketangguhan baja akan semakin berkurang dan membuat getas/gampang patah.

Kromium: Ditambahkan untuk ketahanan aus, membantu proses hardening, dan (yang paling penting) untuk ketahanan karat. Sebuah baja dengan setidaknya 13% kromium biasanya dianggap baja tahan karat/stainless steel, meskipun definisi lain mengatakan baja harus memiliki minimal 11,5% kromium lepas (sebagai lawan yang diikat di karbida) dianggap "stainless". Meskipun namanya stainless steel, semua jenis baja ini dapat berkarat jika tidak dipelihara dengan baik. Menambahkan kromium dalam jumlah tinggi mengurangi ketangguhan. Kromium adalah karbida-mantan, yang karena itu meningkatkan ketahanan aus.

Mangan: Sebuah elemen penting. Mangan membantu memperbaiki struktur butir baja, dan memberikan kontribusi untuk proses pengerasan/hardening. Juga kekuatan & ketahanan aus. Meningkatkan kemampuan baja melawan proses oksidasi selama proses pembuatan baja. Hadir dalam hampir semua baja pisau kecuali untuk A2, L-6, dan CPM 420V.

Molibdenum: pembuat struktur karbida, mencegah kerapuhan & mempertahankan kekuatan baja pada suhu tinggi. Hadir dalam banyak baja, terutama pada baja yang mengeras dengan udara (misalnya, A2, ATS-34) selalu memiliki 1% atau lebih molibdenum - molibdenum adalah apa yang memberi mereka kemampuan baja mengeras di udara.

Nikel: Menambahkan ketangguhan. Hadir dalam L-6 dan AUS-6 dan AUS-8. Nikel secara luas diyakini memainkan peran dalam ketahanan karat juga.

Fosfor: Hadir dalam jumlah kecil di sebagian besar baja, fosfor adalah salah satu unsur yang mengurangi ketangguhan.

Silicon: Berkontribusi pada kekuatan. Seperti mangan, unsur ini memperbaiki struktur baja.

Sulfur/Belerang:
Biasanya tidak diinginkan di sendok garpu baja, membuat baja mudah dibentuk, namun menurunkan ketangguhan.

Tungsten: Juga merupakan pembuat struktur karbida, sehingga meningkatkan ketahanan aus. Ketika dikombinasikan dengan baik dengan kromium atau molibdenum, tungsten akan membuat baja menjadi baja tahan panas (high Speed Steel). Baja M2 memiliki jumlah tungsten yang tinggi. Unsur ini merupakan pembuat struktur karbida terkuat setelah vanadium.

Vanadium: Berkontribusi untuk ketahanan aus dan pengerasan, dan sebagai pembuat karbida. Unsur ini memurnikan butiran baja, dan memberikan kontribusi untuk ketangguhan baja dan memungkinkan pisau untuk diasah sampai sangat tajam. Beberapa baja memiliki vanadium. khusus untuk M2, Vascowear, dan CPM T440V dan 420V (dalam urutan meningkatnya jumlah) memiliki kandungan Vanadium yang tinggi. Perbedaan terbesar antara baja BG-42 dengan ATS-34 adalah kandungan vanadium.
SEPINTAS BEBERAPA ISTILAH BAJA YANG UMUM

KODE dan TIPE BAJA

Spoiler for Menurut aturan SAE (Society of Automotive Engineers):


Spoiler for Menurut aturan AISI (American Iron and Steel Institute):


Baja-baja ini mempunyai kode yang berbeda di Eropa, Jepang, ataupun RRC, bahkan beda Pabrik pun nama menjadi beda. Untuk mencari persamaannya, bisa menggunakan bantuan link berikut: http://zknives.com/knives/steels/steelchart.php
Baja Karbon (Carbon Steel)

Sebetulnya baja adalah besi yang mempunyai kandungan karbon, jadi sebetulnya cukup disebut baja saja, dan yang tidak mengandung karbon, adalah besi biasa (iron).

Spoiler for Jenis-jenis Baja Karbon yang umum digunakan sebagai Bahan Pisau:

Baja Tahan Karat (Stainless Steel)

Untuk sebagian Eropa menyebut Inox steel. Baja jenis ini paling umum digunakan pada pisau lipat. Seperti halnya Baja Karbon. Baja antikarat juga sebenarnya mengandung karbon. Dimulai dari kandungan karbon berkadar 0.15% sampai yang 3%. Makin tinggi kandungan Karbon, makin baik juga ketahanan ketajamannya (edge holding), akan tetapi makin sulit diasahnya. Untuk bisa disebut baja tahan karat, baja harus mengandung chromium minimal sebanyak antara 10.5% - 11% (paham Perancis), dan minimal 13% (paham Amerika).

Spoiler for Jenis-jenis Baja tahan karat yang sering digunakan pada Pisau:

Damascus dari Baja Karbon

Baja Damascus sebetulnya mengacu/hendak meniru struktur baja yang digunakan pedang-pedang arab pada jaman perang salib (asal dari sebutan Damascus)., padahal kenyataannya jauh berbeda. Ciri-cirinya adalah mempunyai alur urat-urat yang menyerupai aliran air/atau urat pada kayu. Pada dasarnya Baja jenis ini adalah hasil gabungan beberapa lembar baja dengan kandungan karbon yang berbeda-beda yang ditempa menjadi satu (makin tinggi kandungan karbon, cenderung makin gelap warnanya) sehingga menghasilkan urat-urat damascus. Baja jenis ini mempunyai konstruksi yang mirip dengan baja keris Indonesia.
Spoiler for Contoh Pisau dengan bahan Baja Karbon Damascus:

Damascus dari Baja Tahan Karat

Baja jenis pada dasarnya mirip dengan Damascus dari baja karbon. Perbedaan yang pasti adalah Baja Jenis ini dibuat dari beberapa lembar baja tahan karat yang mempunyai kandungan karbon berbeda. Secara kasat mata bisa dibedakan dari Damascus Baja Karbon karena warnanya yang cenderung lebih terang (karena kandungan Chromium).
Spoiler for Contoh Pisau dengan bahan Baja Stainless Damascus:

KERAMIK

Bahan ini bukan Baja, dan tidak mengandung besi sedikitpun. Biasanya bahan keramik yang digunakan sebagai pisau adalah Zirconium Oxide (ZrO2), kadang-kadang juga disebut Zirconia. Kekerasan bahan ini sangat tinggi hingga mencapai angka 8.5 di skala Mochs berbanding dengan baja yang hanya mencapai sekitar 6 sampai 6.5 di skala Mochs. Karena kekerasannya, pisau jenis ini sangat jarang perlu untuk diasah, dan untuk mengasahnya diperlukan asahan yang mengandung serbuk intan.
Spoiler for Contoh Pisau dengan bahan Keramik:



TITANIUM

Titanium bukan bahan yang biasa digunakan sebagai bahan bilah pisau. Bahan Titanium itu harganya lebih mahal dari baja. Umumnya Titanium hanya digunakan sebagai bagian handle pisau.

  • Kalau Titanium itu sangat hebat, kenapa hanya dijadikan handle pisau?
  • Kalau harganya sangat mahal, kenapa orang masih bisa membelinya dan menggunakannya sebagai bahan handle pisau.

Ini seharusnya yang ditanyakan orang ketika berkeinginan membuat pisau/pedang dari Titanium.

Keterangannya:
  • Titanium adalah logam yang ringan, akan tetapi mempunyai kekuatan yang sama dengan beberapa jenis baja. Titanium adalah logam yang tahan panas (mencair pada suhu 1668 °C berbanding dengan baja yang mencair pada suhu 1200 - 1400 °C tergantung jenis baja-nya). Dengan ketahanan panas tinggi ini, titanium sangat sulit ditempa, karena butuh tungku yang sangat panas.
  • Titanium mempunyai kekerasan sekitar 40 HRC sehingga gampang tumpul dan tidak bisa di harden (tidak bisa di ht untuk menjadi lebih keras) berbanding baja yang pada saat belum di harden mempunyai kekerasan mulai dari 30 HRC, tetapi bisa di harden sampai sekitar 50 - 75 HRC (tergantung jenis baja). Dengan kekerasan seperti itu, Titanium sulit untuk dibentuk dengan alat gerinda.
  • Titanium adalah bahan yang lebih tahan karat (oksidasi) dibanding baja.
  • Dengan kesulitan seperti ini, dan dengan kekerasan yang hanya sekitar 40 HRC, akan sangat tidak logis untuk menggunakan Titanium untuk membuat pisau yang bagus.
  • Satu hal yang masih bisa dibilang masuk akal dalam menggunakan titanium sebagai bahan pisau adalah sebagai bahan bilah pisau selam, karena pisau selam butuh ketahanan karat yang tinggi, dan bagi pisau selam, ketahanan tajam tidak terlalu penting. Untuk jaman sekarang, lebih masuk akal untuk membuat pisau selam dari baja H1 karena baja ini juga sangat tahan karat, tapi mempunyai daya tahan ketajaman lebih tinggi dibanding Titanium.


http://en.wikipedia.org/wiki/Titanium
OBSIDIAN

Obsidian juga bukan baja, dan adalah jenis bebatuan yang mempunyai kandungan silica yang tinggi. Batu jenis ini cukup keras dan getas, sehingga ketika pecah, akan menjadi tajam. Bebatuan ini pada jaman pra-sejarah digunakan sebagai bahan pisau/tombak.

Metode yang digunakan dalam membentuk bilah pisau/tombak dari bebatuan disebut "knapping".

Spoiler for Contoh Batu Obsidian:


Beberapa link yang berhubungan dengan Pisau Obsidian.

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang sering (Frequently Asked Question)

* Apakah pisau bubut baik untuk dibuat pisau?
  1. Baja jenis ini termasuk dalam kelompok HSS (High Speed Steel/baja yang bertahan ketika digunakan dalam pekerjaan yang cepat dan juga panas)
  2. Pisau bubut biasanya dibuat dengan kandungan karbon tinggi. Mengandung Tungsten, dan Molibdenum yang cukup tinggi, dan kadang kadang sangat tinggi.
  3. Molibdenum membuat baja tetap kuat dalam suhu tinggi, sekaligus membuat baja ini butuh panas yang sangat tinggi pada saat ditempa/dibentuk, dan proses HT. Untuk perbandingan, baja per, dan baja O1 hanya butuh suhu sekitar 700-900 celcius untuk ini, sedangkan baja jenis ini butuh suhu sekitar 1000 sampai 1200 celcius.
  4. Tungsten membuat baja menjadi keras, dan tahan aus/tahan kikis. membuatnya sulit untuk diasah atau stock removal.
  5. Kandungan Karbon tinggi, dan HT untuk pisau bubut, membuat baja jenis ini menjadi lebih getas (gampang patah).
  6. Selama kandungan Molybdenum, dan Tungsten masih rendah, dan tungku HT dengan panas tinggi juga stabil, pisau bubut masih pantas untuk dijadikan bahan pisau biasa. Dengan kandungan karbon yang cukup tinggi, sebaiknya pisau jangan terlalu besar (sebaiknya hanya untuk pisau ukuran kecil sampai sedang).

* Untuk menjawab semua pertanyaan "Apakah ........ bisa tajam?"
  1. Semua benda dengan kekerasan cukup, bisa dibuat/diasah menjadi tajam. sebagai contoh, kertaspun bisa tajam, apalagi logam-logaman (eh... Air raksa gak bisa yah )
  2. yang jadi masalah biasanya adalah "seberapa sulit membuatnya tajam?", "Berapa lama ketahanan ketajamannya ketika digunakan?" Nah.... ini baru tergantung dari masing-masing benda.

* Apakah Titanium merupakan bahan bilah pisau yang baik?
  1. Bisa disebut baik bila yang dibutuhkan adalah daya tahan karat yang tinggi.
  2. Bisa disebut buruk bila yang dibutuhkan adalah daya tahan ketajaman/kekerasan. Sebagai perbandingan: Titanium hanya bisa mempunyai kekerasan sampai sekitar 40 HRC, berbanding dengan baja per yang bisa mencapai kekerasan sampai sekitar 64 HRC

Apakah yang disebut baja per?
  1. Baja yang bisa disebut sebagai spring steel/baja per adalah baja yang mempunyai kemampuan pegas tinggi. Biasanya mempunyai kandungan karbon dari 0.50% sampai dengan 1.00%.
  2. Baja per mobil/truk biasanya mempunyai kandungan karbon sekitar 0.50% sampai 0.65% (baja 1060, 1055, 9260, 5160)
  3. Baja yang biasanya disebut baja per di Indonesia adalah baja per daun mobil/truk.
  4. Baja per Andong/Jeep Willys kemungkinan adalah baja jenis 5160 (kandungan karbon 0,60%). Kemungkinan ini karena pada masa dahulu, baja per mobil lebih sering dibuat dari baja 5160. Sekarang harga baja 5160 semaking tinggi, sehingga banyak produsen per mobil mencari alternatif lain yang lebih murah, tetapi masih cukup untuk memenuhi tugasnya dengan baik.
  5. Baja per jam biasanya mempunyai kandungan karbon antara 0.90 - 1:00% (baja 1095)

Kenapa Indonesia tidak bisa menghasilkan baja dengan kandungan karbon lebih tinggi?
  1. (Jawaban dari Giaartcraft)Seharusnya bisa, karena bahan dasar baja yang digunakan di pabrik baja seperti Karakatau Steel adalah baja cor dengan kandungan karbon sampai 4.00%. Baja cor ini kemudian dikurangi kandungan karbonnya dengan cara dipanaskan temperatur tinggi sambil di semprot oksigen sehingga kandungan karbon pada bahan baja akan terbakar/berkurang karena ber-reaksi menyatu dengan oksigen menjadi karbondioksida. Proses ini terus dilakukan sampai kandungan karbon banyak berkurang dan mencapai 0.45%. Alasannya dilakukan ini karena adanya perjanjian sewaktu proses transfer teknologi bahwa produk KS tidak boleh berkandungan karbon lebih dari 0.45%.
  2. (Jawaban Jarumberputar)Kemungkinan karena kebutuhan baja di indonesia yang sangat banyak adalah untuk baja konstruksi, dimana kandungan karbon untuk baja konstruksi adalah 0.45%.

Apakah dalam proses tempa kandungan karbon akan bertambah?(pertanyaan ini agak keluar sedikit dari topik)
Jawabannya : Tidak akan bertambah dan malah akan berkurang, karena seperti pada penjelasan diatas, ketika baja dibakar dengan panas tinggi, dan adanya oksigen, maka kandungan karbon pada baja akan ber-reaksi dengan oksigen menjadi karbondioksida, sehingga kandungan karbon pada baja akan berkurang. Jadi bila tidak ingin kandungan karbon pada baja berkurang banyak, sebaiknya waktu untuk proses penempaan, jangan lama.

Apakah gunanya baja ditempa?(juga sedikit keluar topik)
Saya mengerti bahwa masing-masing pande mempunyai penjelasan masing-masing, cuma menurut Saya jawaban berikut yang paling masuk akal.
  1. Baja ditempa untuk membentuknya.
  2. Baja ditempa agar mendapatkan motif tempa.
  3. Baja ditempa agar dalam pembuatan pisau, bahan baja tidak banyak yang terbuang (dibanding dengan metode stock removal, dengan penggunaan kikir atau gerinda).
  4. Baja ditempa untuk meratakan kandungan karbonnya (homogenisasi kandungan karbon)diseluruh bagian bilah. Dilakukan dengan cara ditempa sambil dilipat secara berulang-ulang (biasa dilakukan pada baja tamahagane, karena baja jenis ini dalam bentuk mentah, kandungan karbonnya tidak rata)
  5. Baja ditempa untuk mengurangi kandungan karbon-nya agar sesuai dengan yang dibutuhkan. Sebagai contoh. Anda punya baja 1084, tapi sebetulnya membutuhkan baja berkandungan karbon setara dengan 1075, maka Anda perlu melakukan tempa lipat berulang-ulang agar kandungan karbon menjadi berkurang dan jadi merata. Hal ini sering juga dilakukan pada baja tamahagane.

Apakah baja putih itu?
Istilah baja putih ini hanya populer diantara pande-pande lokal. Yang dimaksud sebenarnya adalah baja tahan karat/stainless steel. Kebalikannya, baja non stainless disebut sebagai baja hitam.

Sering monel disalah artikan sebagai baja putih. Monel ini bukan baja karena mengandung 67% Nikel dan hanya sedikit kandungan besi. Logam ini sebetulnya tidak bisa disebut sebagai baja karena hanya mengandung besi sedikit dan tidak mempunyai kandungan karbon yang keduanya adalah komponen penting agar dapat disebut sebagai baja. Monel tidak bereaksi terhadap magnet.
Yesss.... bisa book halaman pertama
Sedikit memberikan wacana hasil gugling... maaf saya sebenrnya tidak bisa dan tidak hafal, cuman duluan gugling saja

bila Fe yang digunakan sebagai acuan maka bahan untuk pisau saya bagi atas 1. Ferro dan 2, Non Ferro. Ferro, bahannya jelas mempunyai kadar Fe, yaitu Baja dan Paduannya, sisanya ya non Ferro, contoh Perunggu, Keramik, Batu, Tulang

Bila Logam yang dijadikan acuan maka bahan dibagi atas Logam(metal) dan nonlogam (non metal) yang termasuk dalam logam adalah Baja dan seluruh turunan FeC, Logam Keramik (Cermet/Ceramic Metal), dan seluruh bahan yang termasuk logam dalam daftar periodik unsur, yang bukan logam seluruh turunan hidrokarbon, Batu, Tulang dan lain sebagainya

Kenapa saya tulis ini ? karena saya senang untuk selalu mencontohkan pembuatan pisau yang mengiringi tingginya tingkat teknologi suatu masa, katakanlah saat teknologi Baja Damascus merupakan tingkat tertinggi pembuatan baja pada satu masa, luarbiasanya teknologi ini tidak ditemukan pada struktur bangunan tetapi pada sebuah pedang. saat Baja INFI terlalu mahal untuk menjadi struktur sebuah jembatan kita bisa peroleh pada pisau (buatan mana hayoh ??) dan Saat teknologi Keramik Metal digunakan sebagai lapisan penahan panas pada pesawat Ulak-Alik, Jreng-jreng !!!!! ibu-ibu memakainya untuk memotong bawang di dapur.

Oleh karena itu dengan memohon maaf yang amat sangat sudi kiranya TS bisa memperluas pembahasan bukan hanya pada baja, tetapi pada bahan lain,
Salam Hamba semoga tidak dimarahi
Gia..
Ngopi dulu pa !!
contoh salah satu bahan favorit untuk pembuatan pisau:
Hitachi SGT
alias AISI O1
alias JIS SKS-3
alias BOHLER AMUTIT-S

Spoiler for plat baja stok:


terimakasih untuk pak yudi dari palangka raya, minta ijin dokumentasi bajanya ya pak...
mumpung masih berhubungan dengan baja...
kalo stainless steel yan ada tulisannya 420j, itu untuk kualitas jika dijadikan pisau bagaimana ya??
tadi iseng2 ke ace cempaka putih, ada pisau dengan merek krischef mencantumkan jenis stainless stell 420j... (lupa huruf belakangnya).
penasaran banget pengen tau mas... semoga ada reviewnya...
Quote:Original Posted By kusumahari
mumpung masih berhubungan dengan baja...
kalo stainless steel yan ada tulisannya 420j, itu untuk kualitas jika dijadikan pisau bagaimana ya??
tadi iseng2 ke ace cempaka putih, ada pisau dengan merek krischef mencantumkan jenis stainless stell 420j... (lupa huruf belakangnya).7
penasaran banget pengen tau mas... semoga ada reviewnya...
Baja stainless 420, sus420 atau 420 j2, kurang lebih adalah jenis yang sama.

Baja ini termasuk baja yang biasa digunakan sebagai bahan pisau. Baja ini mempunyai kandungan karbon terendah dibanding baja-baja pisau lain (0.32%). Mempunyai kandungan chrom berkisar antara 12% - 14% sehingga baja ini masuk dijajaran baja tahan karat.

Baja ini mempunyai daya tahan ketajaman terendah (gampang tumpul) dibanding baja-baja pisau lain. Mempunyai daya tahan karat yang tinggi, dan toughness (keliatan/kealotan) yang tinggi juga.

Quote:Original Posted By SteelEnthusiast
Baja stainless 420, sus420 atau 420 j2, kurang lebih adalah jenis yang sama.

Baja ini termasuk baja yang biasa digunakan sebagai bahan pisau. Baja ini mempunyai kandungan karbon terendah dibanding baja-baja pisau lain (0.32%). Mempunyai kandungan chrom berkisar antara 12% - 14% sehingga baja ini masuk dijajaran baja tahan karat.

Baja ini mempunyai daya tahan ketajaman terendah (gampang tumpul) dibanding baja-baja pisau lain. Mempunyai daya tahan karat yang tinggi, dan toughness (keliatan/kealotan) yang tinggi juga.
yaaah ane kia bahan yang cukup baik untuk sebuah pisau... :-(
berati bukan baja yank cukup baik untuk jadi pisau?
Quote:Original Posted By kusumahari
yaaah ane kia bahan yang cukup baik untuk sebuah pisau... :-(
berati bukan baja yank cukup baik untuk jadi pisau?


untuk jadi pisau buat saya 420 series udah ngga cocok. 420 sendiri kadang dipakai untuk laminasi pada beberapa pisau Spyderco (Mule Cruwear misalnya)

bukan berarti tidak baik untuk pisau,tapi dengan harga yang telah ditekan pastinya bahan 420 lebih terjangkau (you get what you paid for) . 8cr13mov bisa juga jadi alternatif baja murah, dan 8Cr13Mov menurut saya setara AUS8 dalam kategori wear resistance... kalau menurut review Ankerson (bladeforums), 8cr sendiri menang diatas 420J steel. disini belum membahas heat treatment ya

referensi saya untuk 8cr dan Aus8: spydie kiwi3, persistence, sanrenmu 710, dan ontario RAT1
Quote:Original Posted By 762cal


untuk jadi pisau buat saya 420 series udah ngga cocok. 420 sendiri kadang dipakai untuk laminasi pada beberapa pisau Spyderco (Mule Cruwear misalnya)

bukan berarti tidak baik untuk pisau,tapi dengan harga yang telah ditekan pastinya bahan 420 lebih terjangkau (you get what you paid for) . 8cr13mov bisa juga jadi alternatif baja murah, dan 8Cr13Mov menurut saya setara AUS8 dalam kategori wear resistance... kalau menurut review Ankerson (bladeforums), 8cr sendiri menang diatas 420J steel. disini belum membahas heat treatment ya

referensi saya untuk 8cr dan Aus8: spydie kiwi3, persistence, sanrenmu 710, dan ontario RAT1


ikut nimbrung ah
beberapa info yang saya dapat mengenai AUS-8 dan 8Cr13MoV

kata tante Wiki soal AUS-8 / AUS-8A :

"AUS-8 (8A) is comparable to 440B with a carbon content close to 0.75%.[6] AUS-8 is often used instead of 440C.[6] SOG knives uses AUS-8 extensively."

Chemical Composition

Spoiler for AUS 8:

Spoiler for 8Cr13MoV:


Perbandingan Kandungan Pada Kedua Baja

Spoiler for AUS8 vs 8Cr13MoV:
Quote:Original Posted By kusumahari
mumpung masih berhubungan dengan baja...
kalo stainless steel yan ada tulisannya 420j, itu untuk kualitas jika dijadikan pisau bagaimana ya??
tadi iseng2 ke ace cempaka putih, ada pisau dengan merek krischef mencantumkan jenis stainless stell 420j... (lupa huruf belakangnya).
penasaran banget pengen tau mas... semoga ada reviewnya...

Quote:Original Posted By 762cal

untuk jadi pisau buat saya 420 series udah ngga cocok. 420 sendiri kadang dipakai untuk laminasi pada beberapa pisau Spyderco (Mule Cruwear misalnya)


kebetulan punya beberapa pisau dengan bahan 420HC dari buck, bahkan yang 110 dan 102 malah menjadi EDC favorit. menurut pengalaman selama ini cukup memuaskan kok.selain ketahanan mempertahankan edge nya lumayan, termasuk mudah juga untuk diasah. dan tentu saja yang penting biasanya lebih murah
Setujuh dengan agan diatas, baja merupakan salah satu unsur saja dalam membentuk pisau yang baik selain Heat treatment dan desain pisau.

sepakat juga dengan pak SteelEnthusiast dan bro 762cal, kalo baja 420j2 karbonnya tergolong rendah rendah untuk dijadikan pisau, tapi masih lumayan juga kok kekerasannya masih bisa mencapai 58HRC

http://www.cliffstamp.com/knives/rev...materials.html

dan lagi biasanya ketika produsen mencantumkan jenis bahan bajanya berarti mereka PD dengan bahan pisaunya. jadi menurut ane masih lebih baiklah dibandingkan jenis pisau abal abal dengan bahan stainless steel yang ga jelas.
ono rego ono rupo/ada harga ada barang
Quote:Original Posted By ardharaja80



kebetulan punya beberapa pisau dengan bahan 420HC dari buck, bahkan yang 110 dan 102 malah menjadi EDC favorit. menurut pengalaman selama ini cukup memuaskan kok.selain ketahanan mempertahankan edge nya lumayan, termasuk mudah juga untuk diasah. dan tentu saja yang penting biasanya lebih murah
Setujuh dengan agan diatas, baja merupakan salah satu unsur saja dalam membentuk pisau yang baik selain Heat treatment dan desain pisau.

sepakat juga dengan pak SteelEnthusiast dan bro 762cal, kalo baja 420j2 karbonnya tergolong rendah rendah untuk dijadikan pisau, tapi masih lumayan juga kok kekerasannya masih bisa mencapai 58HRC

http://www.cliffstamp.com/knives/rev...materials.html

dan lagi biasanya ketika produsen mencantumkan jenis bahan bajanya berarti mereka PD dengan bahan pisaunya. jadi menurut ane masih lebih baiklah dibandingkan jenis pisau abal abal dengan bahan stainless steel yang ga jelas.
ono rego ono rupo/ada harga ada barang
Ingin menambahkan sedikit 420HC dan 420/420J2 bukan baja yang sama. Huruf HC sendiri adalah kependekan dari "High Carbon", jadi pantes kalo lebih baik daya tahan ketajamannya.

Setuju kalo 420 bisa bagus juga, salah satu bukti adalah baja 420J2 yang di heattreat oleh dewa heattreat "Paul Bos". Sampe-sampe produk yang di hettreat beliaw jadi produk yang dicari-cari, cuma ya begitu...... Harga pun jadi mahal.

Tabel berikut adalah tabel yang terdapat pada buku Pengetahuan Bahan Teknik, karangan Prof. Ir. Tata Surdia MS. Met.E dan Prof. DR Shinroku Saito, halaman 89 dan 90.
Tabel pertama adalah tabel Contoh komposisi kimia dan penggunaan Baja Perkakas Dingin setara dalam bahasa Inggris mungkin Cold Work Tool Steel, kenapa bagian ini karena untuk pisau jenis-jenis ini umum digunakan. jenis penyebutan mungkin tidak sama dengan jenis pisau di pasaran tetapi sedikit banyak bisa disetarakan seperti contoh Untuk baja Per (spring steel) menggunakan baja Karbon sesuai dengan perkiraan kadar karbon, dan baja stainless steel masuk ke baja paduan.
Tabel komposisi kimia dan penggunaan baja perkakas dingin dilihat di bawah.

Spoiler for tabel 1:

sumber : Tata Surdia, Shinroku Saito ,1995:89

dari tabel diatas untuk mereka yang menggunakan Stainles steel disesuaikan kadar Cr dan bahan lain seperti Wolfram (W) atau Molybdenum (Mo) nah apa guna tabel ini, sebenarnya hanya untuk acuan tabel berikutnya.
Tabel Penempaan dan kondisi perlakuan panas Baja Perkakas Dingin Sesuai dengan tabel 2.5
Spoiler for tabel2:


Sumber : Tata Surdia, Shinroku Saito, 1995:90

Okey sedikit penjelasan membaca tabel diatas, sederhana saja, saya ambol contoh baja Per dengan kadar karbon 0,65%. sesuai tabel 2.5 baja tersebut digolongkan ke dalam Baja Karbon 2 nah dari sini tinggal diurut ke arah kanan, langsung loncat ke penganilan bahwa untuk penganilan suhu yang dibutuhkan 750-780 derajat celcius diikuti oleh pendinginan lambat. Untuk pendinginan lambat ini sederhananya matikan tungku HT dengan benda kerja tetap berada di dalam tungku, dengan asumsi proses ini lebih lambat dibanding pendinginan udara terbuka, diharapkan akan mendapatkan benda kerja yang lebih lunak dibandingkan kondisi ternormalilsasi, dari tabel diperoleh perkiraan kekerasan hasil anil sebesar 179-201 Hard Brinell.
Sementara masih untuk baja yang sama dengan pencelupan dingin pada suhu pengerasan 760-820 akan diperoleh kekerasan diatas 54 HRC.
Beberapa perhatian yang diberikan pada proses Pengerasan Baja Karbon tinggi adalah terjadinya dekarburisasi, lapisan dekarburisasi ini sangat rentan menjadi penyumbang utama keretakan. Pada proses pendinginan yang terlalu lama juga akan meningkatakan kadar austenit dan selanjutnya-selanjutnya yang sederhananya akan mengakibatkan penurunan kekerasan, untuk menghilangkannya maka harus dilakukan penrlakuan dibawah nol (sub-zero treatment) dengan menurunkannya perlahan melalui alkohol dan kemudian CO2 padat.
Pusing ??? sama dong kalo nggak mau pusing beli aja pisau yang sudah jadi..
Semoga berkenan (seperti ditulis pisauku)
Quote:Original Posted By jarumberputar
Keramik

Bahan ini bukan Baja, dan tidak mengandung besi sedikitpun. Biasanya bahan keramik yang digunakan sebagai pisau adalah Zirconium Oxide (ZrO2), kadang-kadang juga disebut Zirconia. Kekerasan bahan ini sangat tinggi hingga mencapai angka 8.5 di skala Mochs berbanding dengan baja yang hanya mencapai sekitar 6 sampai 6.5 di skala Mochs. Karena kekerasannya, pisau jenis ini sangat jarang perlu untuk diasah, dan untuk mengasahnya diperlukan asahan yang mengandung serbuk intan.
Spoiler for Contoh Pisau dengan bahan Keramik:


Tambahan, konon katanya term keramik hanya digunakan untuk karena meminjam prosesnya yang sama, proses yang digunbakan dalam pembuatan pisau ini Mirip dengan proses keramik, yang membedakan dengan keramik 'tradisional' adalah bahannya. Keramik tradisional didominiasi oleh silika yang disinter sehingga 'hampir' menjadi kaca maka dengan teknik yang sama logam disinter untuk membentuk satu ikatan (penikahan ??)
Secara umum teknik yang digunakan akan bisa ditemukan bila mengguggling kata powder metalurgy. dimana bahan logam yang akang dikerjakan dibentuk serbuk, lalu dibentuk menjadi benda yang diinginkan dan disinter pada suhu dibawah titik leleh.
Proses ini berlaku untuk logam tunggal atau paduan. dan hal ini menjadi salah satu kelebihan dari metalurgi bubuk dimana dapat membuat paduan antara dua logan yang memiliki rentang suhu tinggi seperti W dengan Ag, dimana seperti diketahui W mempunyai suhu leleh 3.300 derajat celcius dan Ag 900 derajat, yang dengan teknik biasa bisa dilihat bahwa saat W mulai leleh mungkin Ag sudah berada di fasa gas. (maaf belum pernah coba hanya logika saja)
sekalian book saja lagi mudah-mudahan bisa membuka perdebatan baru, biar tidak hanya debat urusan keindahan pisau aja... sekali-kali hal yang agak jauh dari pisaunya..


bahan piso

sebelumnya ane minta maaf kalao oot gan,,,,
kira2 kalau bahan jenis ini bagus nggak di buat pisau gan?
tentang ketajaman dan ketahanannya baik terhadap karat maupun daya tahannya.g[/img]
di situ tertulis HS/HSS 18%/W
itu bahan dari mata ketam planner panjang 60 cm gan,,,
ane tggu masukannya gan
Quote:Original Posted By isaanshori
sebelumnya ane minta maaf kalao oot gan,,,,
kira2 kalau bahan jenis ini bagus nggak di buat pisau gan?
tentang ketajaman dan ketahanannya baik terhadap karat maupun daya tahannya.g[/img]
di situ tertulis HS/HSS 18%/W
itu bahan dari mata ketam planner panjang 60 cm gan,,,
ane tggu masukannya gan
Pertama-tama HSS hanya berarti High Speed Steel. Baja ini baja tahan panas tinggi yang dibutuhkan untuk pekerjaan dengan gesekan yang tinggi. 18%W kemungkinan besar berarti baja ini mengandung 18% Wolfram(Tungsten).

Karena baja ini adalah HSS maka sulit ditempa karena butuh tungku pembakar yang mempunyai kemampuan panas yang sangat tinggi, kemudian bara baja ini akan cepat meredup ketika dikeluarkan dari tungku pembakar, sekali lagi kondisi ini membuatnya sulit ditempa.

Kandungan Wolfram/tungsten yang tinggi membuat baja ini sangat keras, dan getas, sehingga kalaupun berhasil melewati kesulitan menempa dan membuat baja ini menjadi pisau, pisau itu akan mudah patah.

×