Video Beberapa pendapat yang mempengaruhi gagalnya “G-30-S” dipandang dari sudut militer

awas, dokumen djadoel, jika ada yang ga faham, harap tanya ke agan wongdjadoel dari BP







BEBERAPA PENDAPAT JANG MEMPENGARUHI
GAGALNJA “G-30-S” DIPANDANG DARI SUDUT MILITER


Dokumen ini merupakan bagian dari berkas rekaman persidangan
Mahmilub untuk Supardjo pada 1967.
Petugas-petugas militer memperoleh
salinan dari dokumen asli mungkin ketika mereka menangkap
Supardjo pada Januari 1967 atau ketika mereka menyita dokumendokumen
yang diselundupkan ke dalam penjara. Anggota staf Mahmilub
menyalin dari aslinya dengan mengetik. Satu orang yang membaca
dokumen asli pada akhir 1960-an saat berada di dalam penjara bersama
Supardjo adalah Heru Atmodjo.














Motto: Dalam kalah terkandung unsur2 menang!
(Falsafah “Satu petjah djadi dua.”)



Kawan pimpinan,

Kami berada di “Gerakan 30 September” selama satu hari
sebelum peristiwa, “pada waktu peristiwa berlangsung” dan “satu hari
setelah peristiwa berlangsung.” Dibanding dengan seluruh persiapan,
waktu jang kami alami adalah sangat sedikit. Walaupun jang kami
ketahui adalah hanja pengalaman selama tiga hari sadja, namun adalah
pengalaman saat2 jang sangat menentukan. Saat2 dimana bedil mulai
berbitjara dan persoalan2 militer dapat menentukan kalah menangnja
aksi2 selandjutnja. Dengan ini kami sampaikan beberapa pendapat,
dipandang dari sudut militer tentang kekeliruan2 jang telah dilakukan,
guna melengkapi bahan2 analisa setjara menjeluruh oleh pimpinan
dalam rangka menelaah peristiwa “G-30-S.

Tjara menguraikannja mula2 kami utarakan fakta2 peristiwa
jang kami lihat dan alami, kemudian kami sampaikan pendapat kami
atas fakta2 tersebut.



Fakta2 pada malam pertama sebelum aksi dimulai:


1. Kami djumpai kawan2 kelompok pimpinan militer pada malam
sebelum aksi dimulai, dalam keadaan sangat letih disebabkan kurang
tidur. Misalnja: kawan Untung tiga hari ber-turut2 mengikuti rapat2
Bung Karno di Senajan dalam tugas pengamanan.

2. Waktu laporan2 masuk, tentang pasukan sendiri dari daerah2,
misalnja Bandung, ternjata mereka terpaksa melaporkan siap,
sedangkan keadaan jang sebenarnja belum.

3. Karena tidak ada uraian jang jelas bagaimana aksi itu akan
dilaksanakan maka terdapat kurang kemufakatan tentang gerakan
itu sendiri dikalangan kawan2 perwira di dalam Angkatan Darat.
Sampai ada seorang kawan perwira jang telah ditetapkan duduk dalam
team pimpinan pada saat jang menentukan menjatakan terang2-an
mengundurkan diri.

4. Waktu diteliti kembali ternjata kekuatan jang positip di fi hak kita
hanja satu kompi dari Tjakrabirawa. Pada waktu itu telah timbul keragu2-
an, tetapi ditutup dengan sembojan “apa boleh buat, kita tidak
bisa mundur lagi.”

5. Dengan adanja kawan perwira jang mengundurkan diri, maka
terasa adanja prasangka dari team pimpinan terhadap kawan lain di
dalam kelompok itu. Saran2 dan pertanjaan2 dihubungkan dengan
pengertian tidak kemantapan dari si penanja. Misalnja, bila ada jang
menanjakan bagaimana imbangan kekuatan, maka didjawab dengan
nada jang menekan: “ja, Bung, kalau mau revolusi banjak jang
mundur, tetapi kalau sudah menang, banjak jang mau ikut.” Utjapan2
lain: “kita ber-revolusi pung-pung kita masih muda, kalau sudah tua
buat apa.”

6. Atjara persiapan di L.B. [Lubang Buaya] kelihatan sangat padat,
sampai djauh malam masih belum selesai, mengenai penentuan code2
jang berhubungan dengan pelaksanaan aksi. Penentuan dari peleton2
jang harus menghadapi tiap2 sasaran, tidak dilakukan dengan
teliti. Misalnja, terdjadi bahwa sasaran utama mula2 diserahkan
pelaksanaannja kepada peleton dari pemuda2 jang baru sadja
memegang bedil, kemudian diganti dengan peleton lain dari tentara,
tetapi ini pun bukan pasukan jang setjara mental telah dipersiapkan
untuk tugas-tugas chusus.


Fakta2 pada hari pelaksanaan:


7. Berita pertama jang masuk bahwa Djenderal Nasution telah
disergap, tetapi lari. Kemudian team pimpinan kelihatan agak bingung
dan tidak memberikan perintah2 selandjutnja.

8. Menjusul berita bahwa Djenderal Nasution bergabung dengan
Djenderal Suharto dan Djenderal Umar di Kostrad. Setelah menerima
berita ini pun, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa2.


9. Masuk berita lagi bahwa pasukan sendiri dari Jon Djateng dan Jon
Djatim tidak mendapat makanan, kemudian menjusul berita bahwa
Jon Djatim minta makan ke Kostrad. Pendjagaan RRI ditinggalkan
tanpa adanja instruksi.

10. Menurut rentjana, kota Djakarta dibagi dalam tiga sektor, Selatan,
Tengah dan sektor Utara. Tetapi waktu sektor2 itu dihubungi,
semua semua tidak ada di tempat (bersembunji).

11. Suasana kota mendjadi sepi dan lawan selama 12 djam dalam
keadaan panik.

12. Djam 19.00 (malam kedua). Djenderal Nasution-Harto dan
Umar membentuk suatu komando. Mereka sudah memperlihatkan
tanda2 untuk tegenaanval [serangan balik] pada esok harinja.

13. Mendengar berita ini Laksamana Omar Dani mengusulkan
kepada Kw. Untung agar AURI dan pasukan “G-30-S” diintegrasikan
untuk menghadapi tegenaanval Nato cs (Nasution-Harto). Tetapi
tidak didjawab setjara kongkrit. Dalam team pimpinan G-30-S, tidak
memiliki off ensi-geest [semangat menyerang] lagi.

14. Kemudian timbul persoalan ketiga. Ja, ini dengan hadirnja Bung
Karno di Lapangan Halim. Bung Karno kemudian melantjarkan
kegiatan sbb:
a) Memberhentikan gerakan pada kedua belah pihak (dengan
keterangan bila perang saudara berkobar, maka jang untung
Nekolim).
b) Memanggil Kabinet dan Menteri2 Angkatan. Nasution-
Harto dan Umar menolak panggilan tersebut. Djenderal Pranoto
dilarang oleh Nasution untuk memenuhi panggilan Bung
Karno.
c) Menetapkan caretaker bagi pimpinan A.D.







ikut-ikutan erwin.parikesit, bikin terit buku



BERSAMBUNG.........


mantab ceritanyanya gan ....... lanjut !

siap sedia sambil ngudut klobot sama tembakau ...............

Quote:Original Posted By bismialif


mantab ceritanyanya gan ....... lanjut !

siap sedia sambil ngudut klobot sama tembakau ...............



cerita


rekaman persidangan Mahmilub
Satu keperhatinan sayasoal komunis...coba anda tlusuri blog2 yang membicarakan korban efek dr pembersihan G 30 S/PKI jelas sekali banyak blog2 yg menurut saya condong pada pembelaan kaum komunis...mengherankan Pemerintah diam saja terhadap blog-blog ini. Mereka berlagak jd korban padahal mereka yg memulai...Fuck PKI. ..Sorry agk emosi.

Back to topik pernah baca jg soal dokumen ini dan ulasannya. Penyebab kekalahan PKI ada beberapa :
1. Tidak bisa memanfaatkan momentum pada hr pertama hingga ke tiga. Tidak bisa menggerakan pasukan yg sudah ada ditangan (tjakra,paskhas,yon diponegoro dan brawijaya yg ada di monas, pasukan lain yg komandannya simpatisan PKI seperti beberapa komandan marinir dan kepolisian serta para militer PKI sendiri) untuk menghantam Kostrad dan RPKD yg dlm posisi lemah karena masih bingung dan blom koordinasi
2, Ternyata soal militer diserahkan ke Aidit dan wewenang penuh aidit utk memberikan masukan utk menggerakan pasukan dimana aidit pada 1-3 Okto tidak memberi printah strategis utk melanjutkan momentum G 30 S...hanya memberi perintah wait and see
3. Mayjend Pranoto pun yg telah ditunjuk menggantikan A Yani dimana dia org PKI jg tidak mengambil langkah strategis untuk menghalangi Nasution,Umar dan Suharto melakukan pemusatan keuatan di Kostrad demi mengjantam balik gerakan G 30 S bahkan pidato pun enggan enyusul pidato untung pd tanggal 1 okt...dia pun pidato sih tp etelah dipaksa supardjo sendiri
4. Ternyata laporan asal bapak senang telah menjalar ke PKI melalui Syam..dimana setiap ditanya sll menjawab kita siap, kita mampu dan kita pasti menang padahal kondisi lapangan tidak demikian ketika akan di adakan coup
5. Basis utama dan paling militan PKI hanya pada Jateng dan Jatim sperti motonya adalah Jawa kuncinya..namun meraka blom sempurna menggarap daerah jawa barat dan luar jawa kecuali medan dan bali meskipun mereka harusnya mampu mengingat pimpinan daerah dan militer luar jawa byk yang simpatisan PKI...pada saat itu PKI sudah merangsek ke setiap urat nadi bangsa ini.
6. PKI terlalu bergantung pada sosok Bung Karno seharusnya saat Bung Karno pasip terhadap penculikan Jendral bahkan menyetujui dg tanda menepuk pundak supardjo saat melapor maka jika Bung Karno pun menghalangi harusnya hantam skalian sehingga Pak Harto tidak sempat dpt angin
7. PKI gak punya plan B jika coup gagal
di tunggu update nya gan
Ngga ada comment nih?
Pada tiarap kalo ngomongin PKI, padahal enak kali kalo didiskusiin.
Quote:Original Posted By bigmack
Ngga ada comment nih?
Pada tiarap kalo ngomongin PKI, padahal enak kali kalo didiskusiin.


takut salah komen. karena hampir ato malah semua dari kita belum ada/lahir saat itu. kita hanya mendengar dari katanya saksi mata atupun sejarah, yg kita gak tau bener ato gak.. (history written by the victor)..
Quote:Original Posted By tedyimoet
Satu keperhatinan sayasoal komunis...coba anda tlusuri blog2 yang membicarakan korban efek dr pembersihan G 30 S/PKI jelas sekali banyak blog2 yg menurut saya condong pada pembelaan kaum komunis...mengherankan Pemerintah diam saja terhadap blog-blog ini. Mereka berlagak jd korban padahal mereka yg memulai...Fuck PKI. ..Sorry agk emosi.

Back to topik pernah baca jg soal dokumen ini dan ulasannya. Penyebab kekalahan PKI ada beberapa :
1. Tidak bisa memanfaatkan momentum pada hr pertama hingga ke tiga. Tidak bisa menggerakan pasukan yg sudah ada ditangan (tjakra,paskhas,yon diponegoro dan brawijaya yg ada di monas, pasukan lain yg komandannya simpatisan PKI seperti beberapa komandan marinir dan kepolisian serta para militer PKI sendiri) untuk menghantam Kostrad dan RPKD yg dlm posisi lemah karena masih bingung dan blom koordinasi
2, Ternyata soal militer diserahkan ke Aidit dan wewenang penuh aidit utk memberikan masukan utk menggerakan pasukan dimana aidit pada 1-3 Okto tidak memberi printah strategis utk melanjutkan momentum G 30 S...hanya memberi perintah wait and see
3. Mayjend Pranoto pun yg telah ditunjuk menggantikan A Yani dimana dia org PKI jg tidak mengambil langkah strategis untuk menghalangi Nasution,Umar dan Suharto melakukan pemusatan keuatan di Kostrad demi mengjantam balik gerakan G 30 S bahkan pidato pun enggan enyusul pidato untung pd tanggal 1 okt...dia pun pidato sih tp etelah dipaksa supardjo sendiri
4. Ternyata laporan asal bapak senang telah menjalar ke PKI melalui Syam..dimana setiap ditanya sll menjawab kita siap, kita mampu dan kita pasti menang padahal kondisi lapangan tidak demikian ketika akan di adakan coup
5. Basis utama dan paling militan PKI hanya pada Jateng dan Jatim sperti motonya adalah Jawa kuncinya..namun meraka blom sempurna menggarap daerah jawa barat dan luar jawa kecuali medan dan bali meskipun mereka harusnya mampu mengingat pimpinan daerah dan militer luar jawa byk yang simpatisan PKI...pada saat itu PKI sudah merangsek ke setiap urat nadi bangsa ini.
6. PKI terlalu bergantung pada sosok Bung Karno seharusnya saat Bung Karno pasip terhadap penculikan Jendral bahkan menyetujui dg tanda menepuk pundak supardjo saat melapor maka jika Bung Karno pun menghalangi harusnya hantam skalian sehingga Pak Harto tidak sempat dpt angin
7. PKI gak punya plan B jika coup gagal


hmm, PKI jg gagal dlm memanfaatkan dukungan kekuatan TNI AU, pdhl omar dhani sbg "KSAU", adlh pihak yg pro komunis pula.....

cmiiw.....
Quote:Original Posted By cherrypopper
(history written by the victor)..


itu kan kata pak jendral Shepherd

Cuplikan analisis dari Ketua Jurusan Sosiologi FISIP-UI
Drs. Iwan Gardono Sujatmiko, Ph.D

Masalah yang sekarang muncul adalah seandainya PKI tidak terlibat dalam peristiwa G-30-S apakah mereka boleh dihancurkan seperti yang telah terjadi selama ini? Pertanyaan ini tetap harus dilihat dalam gambar besar situasi masyarakat pada saat itu. Ada pihak yang berpendapat bahwa penghancuran PKI dianggap telah melanggar asas kemanusiaan (holocaust atau genocide). Sebaliknya terdapat pendapat bahwa penghancuran tersebut sah secara moral karena tidak terdapat alternatif lain. Pendapat terakhir ini sering dikemukakan oleh pihak non-PKI yang berada di daerah dan mengalami langsung konfrontasi hidup-mati dengan PKI. Menurut mereka, pilihannya hanya menghancurkan atau dihancurkan dan cepat atau lambat hal tersebut akan terjadi.

Penghancuran PKI bukanlah genocide atau holocoust dalam arti PKI sebagai pihak yang tidak bersalah (innocence), tidak berdaya serta tidak mengancam. Justru sebaliknya, PKI lebih tepat dianalogikan sebagai pihak yang berpotensi besar sebagai Nazi/Hitler atau Pol Pot yang akan melakukan holocaust dan genocide. Dengan kata lain, kasus Indonesia berbeda dengan Kamboja. Di Kamboja pembunuhan dilakukan untuk melaksanakan ideologi komunis yang totaliter sedangkan di Indonesia justru untuk mencegah pelaksanaan ideologi tersebut. Hanya orang yang naif saja (utamanya sebagian publik luar negeri atau generasi muda Indonesia) yang percaya bahwa pada saat itu PKI merupakan pihak yang naif dan pasif serta menjadi korban.

Untuk membahas apakah penghancuran PKI dapat dibenarkan secara moral atau tidak, dapat digunakan teori “just war” yang dikembangkan oleh Michael Walzer (1977) yang dapat diterapkan pada penghancuran PKI yang lebih merupakan “Internal Civil War.” Suatu perang dianggap sah dan benar secara moral jika dilakukan untuk: pertama, mengusir pihak yang melakukan agresi; kedua, dilakukan demi intervensi kemanusiaan; dan ketiga, merupakan suatu pre-emptive strike dan bela diri terhadap musuh yang sudah siap dan pasti akan menyerang.

Berdasarkan definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa tindakan non-PKI untuk menghancurkan PKI merupakan pre-emptive strike yang didasarkan oleh ancaman nyata atau strategi revolusioner PKI sejak 1963 (tuntutan untuk mempersenjatai buruh dan tani, utamanya dari pihak PKI, pelaksanaan aksi sepihak) yang telah menghasilkan korban. Sebaliknya, penghancuran PKI dapat disebut unjust internal war jika mereka tidak melakukan konsolidasi dan mengancam pihak non-PKI, misalnya penghancuran PKI pada pemilu 1955. Demikian pula penghancuran partai komunis non-revolusioner di Finlandia, Perancis dan Itali yang menganut pola peaceful road to socialism dapat dikategorikan sebagai unjust internal war.

Jelaslah bahwa pihak PKI merupakan pihak yang salah dan kalah. Sebagai akibatnya pihak yang salah harus siap menanggung akibatnya. Hal serupa dialami pula oleh pihak Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia ke 2 yang diadili sebagai pihak yang salah dan kalah. Jelaslah yang diadili dan dihukum (termasuk membayar pampasan perang) bukanlah pihak sekutu yang juga telah membunuh pihak Jerman dan Jepang. Bahkan pihak sekutu (Amerika) telah membunuh penduduk sipil (Hiroshima dan Nagasaki) yang bukan peserta perang. Sebaliknya, tuntutan secara hukum dapat diajukan pada pihak yang dianggap salah namun (pernah) menang seperti yang terjadi pada kasus Pinochet atau Pol Pot/Khmer Rouge (1975-1978). Singkatnya, pihak yang kalah dan menjadi korban maupun pihak yang menang dapat dituntut jika mereka dianggap sebagai pihak yang salah.

Berdasarkan pembahasan ini, pihak non-PKI tidak perlu meminta maaf apalagi ideologi komunisme yang dipaksakan PKI ternyata salah seperti yang telah terbukti dengan runtuhnya komunisme. (Indonesia juga tidak meminta maaf pada Jepang dan Belanda sebagai kolonialis yang salah). Permintaan maaf justru harus diajukan oleh pimpinan PKI terhadap pihak non-PKI karena mereka telah mencoba memaksakan ideologi yang ternyata salah yang jika diterapkan akan menghasilkan masyarakat totalitarian dengan Kamboja sebagai contoh terburuk. Dalam hal ini pihak non-PKI perlu memberi maaf kepada pihak PKI dan keturunannya sehingga pencapaian Masyarakat Indonesia Baru pada masa depan menjadi lebih mudah. Selain itu para bekas pimpinan PKI harus meminta maaf pada (bekas) anak buah mereka sendiri (anggota, simpatisan dan keluarga PKI) yang telah menjadi korban sebagai akibat salahnya strategi revolusioner PKI.
^
^
Yup harus dipahami kondusi saat itu...Nassionalis and Agama vs Komunis...dimana TNI dan birokrat telah terpecah pula menjadi 2. Prinsip pada waktu itu mendahului atau didahului lepas dr siapa yg menjadi dalang G 30 S namun jelas pada masa itu PKI berinisiatif mendahului dg Pidato Untung dan Pranoto yg makin membuat jelas siapa kawan maupun lawan di TNI bahkan sebelum itu seperti gerakan pembantaian Kediri,Bandar betsi maupun klaten terhadap kelompok nasionalis dan agama

Kejadian ini berulang setelah G 30 S terjadi pihak Nasonalis dan Agama kali ini mengambil inisiatif mendahului so ini soal hidup dan mati dlm keadaan chaos itu merupakan pilihan....jd inget cerita kakek dr istri kebetulan tokoh NU bahwa menjelang G 30 S itu dpn rumah kakek, oknum PKI udah gali lubang aja entah apa maksudnya tp jelas pd saat itu merupakan teror...dan itu hampir serentak dilakukan di dpn rumah tokoh agama atau birokrat yg anti komunis.

Hari kedua:


15. Kawan2 pimpinan dari “G-30-S” kumpul di L.B. Kesatuan
RPKAD mulai masuk menjerang, keadaan mulai “wanordelik”
[wanordelijk] (katjau). Pasukan2 pemuda belum biasa menghadapi
praktek perang jang sesungguhnja. Pada moment jang gawat itu, sadja
mengusulkan agar semua pimpinan sadja pegang nanti bila situasi
telah bisa diatasi, sadja akan kembalikan lagi. Tidak ada djawaban jang
kongkrit.


16. Kemudian diadakan rapat, diputuskan untuk memberhentikan
perlawanan masing2 bubar, kembali ke rumahnja, sambil menunggu
situasi. Bataljon Djateng dan sisa Bataljon Djatim jang masih ada akan
diusahakan untuk kembali ke daerah asalnja.


17. Hari itu djuga keluar perintah dari Bung Karno agar pasukan
berada di tempatnja masing2 dan akan diadakan perundingan. Tetapi
fi hak Nato tidak menghiraukan dan menggunakan kesempatan itu
untuk terus mengobrak-abrik pasukan kita dan bahkan P.K.I.
Demikianlah fakta2 jang kami saksikan sendiri dan dari fakta2
ini tiap2 orang akan dapat menarik peladjaran atau kesimpulan jang
berbeda-beda.

kalo ga salah ini ada di bukunya john rosa yg dalih pembunuhan massal ya om?
Quote:Original Posted By bigmack
Ngga ada comment nih?
Pada tiarap kalo ngomongin PKI, padahal enak kali kalo didiskusiin.


enak sih enak, sensitipnya itu lho..

atut dikarungin..
ikut urun pendapat ya gan..
Kalo saya sih lebih setuju pendapat sejarawan Taufik Abdullah yang menyebut malam 30 September adalah "Malam Jahanam", dimana pada malam itulah katup-katup kebencian yang ditahan selama ini meledak dan terjadilah pembantaian para pengikut PKI. Dalam hal ini masyarakat bawah terutama masyarakat Islam di pedesaan sudah lama berada dibawah teror PKI (mungkin yang mbahnya masih hidup bisa ditanya bagaimana sepak terjang simpatisan PKI). Momentum G 30 S inilah yang digunakan untuk menghantam balik PKI, mereka (PKI) bukan anak baik-baik yang tiba-tiba menjadi korban.
Saya sendiri gak ngerti masalah "gelut politik" di tingkat elit, tapi yang jelas Mbah dan pakdhe saya pernah mengalami jaman ini bahkan pakdhe saya sudah siap berangkat jadi "algojo" kalo tidak dicegah oleh mbah kakung saya.
g berani comment macem2 dah kalo yg ini..di kurikulum pendidikan nasional setelah 1999 itu materi ini cm di tulis G-30 S doang, sementara untuk tingkat akademisi di kampus ane dulu bahkan di tingkat dosen jg terjadi perdebatan soal ini..
ada yg berpendapat karena "dokumen gilchrist" yg dijadikan rujukan gerakan 30 September sebenarnya adalah dokumen yg sengaja disiapkan untuk memancing PKI melakukan gerakan yang merugikan mereka sendiri..analisisnya karena kedua pihak baik PKI atau AD sama2 "menunggu" siapa yang lebih dulu melakukan blunder...AD menunggu krn PKI punya Soekarno, sementara PKI g berani karena AD cukup kuat dan ada Soekarno yang meski sedikit "bertentangan" dengan beberapa pimpinan AD, tetapi membutuhkan AD dalam politik RI saat itu...nah kberadaan dokumen gilchrist saat itu membuat PKI melakukan "pre emptive strike" yang justru menjadikannya sebuah blunder karena posisi militer meeka di jawa saat itu jg g terlalu kokoh sebenanrnya..ditambah beberapa kasus di daerah terutama di jawa tengah dan timur dimana mereka bersinggungan langsung dengan kekuatan massa NU dan Masyumi..yg menyebabkan posisi mereka langsung tersudut setelah G-30S...
jk mau membahas soal sisi2 non militer dr kasus g30s/pki, mendingan membahas di topik tetangga;

Code:

http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000007296921/share-pengetahuan-anda-tentang-g30s-pki-disini/1


kalo disini, spt nya lbh fokus ke sisi militer nya....


cmiiw....
Quote:Original Posted By bigmack
Ngga ada comment nih?
Pada tiarap kalo ngomongin PKI, padahal enak kali kalo didiskusiin.


enak sih buat bahan diskusi, cuma ujung2 nya jadi ribut muncul tudingan pro komunis dsb, krn penulisan sejarahnya sendiri sudah dibuat kusut oleh mbah harto dan orde baru..
Quote:Original Posted By s1nch4n


enak sih buat bahan diskusi, cuma ujung2 nya jadi ribut muncul tudingan pro komunis dsb, krn penulisan sejarahnya sendiri sudah dibuat kusut oleh mbah harto dan orde baru..


coba baca saja bos, sejarah versi buku putih
mulai bermunculan kok
Quote:Original Posted By s1nch4n


enak sih buat bahan diskusi, cuma ujung2 nya jadi ribut muncul tudingan pro komunis dsb, krn penulisan sejarahnya sendiri sudah dibuat kusut oleh mbah harto dan orde baru..


bedanya apa sih gan komunis, marxis, leninis, maois dan sosialis ?
trus yang di indonesia yang sekarang ini muncul yang mana diantara merekja itu ?