KASKUS

[Reborn] The Great PAMSWAKARSA 1998

PAM SWAKARSA '98










Pam Swakarsa atau Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa adalah sebutan untuk kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk oleh TNI untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung Sidang Istimewa MPR (SI MPR) tahun 1998, yang berakhir dengan Tragedi Semanggi. Selama SI MPR, Pam Swakarsa berkali-kali terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa yang menentang SI. Juga terlibat bentrokan dengan masyarakat yang merasa resah dengan kehadiran Pam Swakarsa.

Sikap Pam Swakarsa ditambah dengan perlakuan diskriminatif aparat terhadap massa mahasiwa dibanding dengan pasukan Pam Swakarsa ini, membuat masyarakat antipati. Sejak sebelum dimulai SI MPR saja sudah menimbulkan bentrokan fisik antara masyarakat dengan Pam Swakarsa yang dilindungi aparat. Pangab/Menhankam Jenderal TNI Wiranto, tetap bersikeras untuk mempertahankan eksistensi pasukan swasta tersebut. Padahal berbagai kecaman dan peringatan akibat negatif keberadaan mereka pun sudah dilontarkan berbagai pihak. Misalnya dalam Deklarasi Ciganjur, yang disampaikan oleh empat tokoh: Gus Dur, Megawati, Sultan Hamengkubuwono X, dan Amien Rais.

Pam Swakarsa tak hanya mengamankan Gedung DPR/MPR Senayan, tapi juga dikirimkan dengan truk-truk ke lokasi yang potensial menjadi daerah demonstrasi dan orasi mahasiswa, seperti Tugu Proklamasi atau Taman Ismail Marzuki. Mereka juga berunjuk kekuatan dengan berpawai melintasi kampus-kampus yang aktif. Mereka bahkan melakukan patroli malam diiringi dengan sedan polisi. Di lingkungan Senayan mereka beraksi menghalau para pejalan kaki dan pengendara sepeda motor yang lewat.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengumpulkan dan menyerahkan barang bukti kepada polisi berupa 40 bambu runcing dari kawasan Taman Ismail Marzuki, 132 bambu runcing dari Tugu Proklamasi, sebuah samurai, satu batang besi bengkok, empat ikat kepala, dan selembar saputangan.

Latar belakang

Susana politik menjelang SI memang dipanaskan oleh retorika yang menajam antara kelompok pro-SI dan anti-SI. Berbagai elemen gerakan mahasiswa menyatakan tidak mempercayai Habibie menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil, sedangkan SI tak ada artinya jika semua anggota masih orang Orde Baru, serta menuntut peradilan terhadap Soeharto dan pencabutan dwifungsi ABRI. Sedangkan hampir semua ormas Islam memiliki pandangan yang umumnya sama, bahwa SI merupakan tahap penting menuju Pemilu 1999, yang diharapkan menjadi tonggak untuk mengayuh demokratisasi dan reformasi berikutnya.

Menjelang SI sejumlah pertemuan silaturahmi yang digagas para pemuka Islam, mulai acara yang sifatnya intern, berskala kecil, sampai aksi pamer kekuatan massa. Ada Apel Akbar Umat Islam 1998 oleh Forum Silaturahmi Ulama-Habib dan Tokoh Masyarakat se-Jabotabek, yang menghimpun puluhan ribu massa, di Stadion Utama Senayan. Lalu disusul Kongres Umat Islam Indonesia, yang dihadiri sekitar 1.500 peserta dari 30-an ormas Islam di seluruh Nusantara, sampai yang berskala kecil, Silaturahmi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Hasil pertemuan-pertemuan ini bisa dibaca dari pernyataan sikap dan spanduk-spanduk yang dibentangkan. Intinya sama: mendukung dan menyukseskan Sidang Istimewa MPR 1998 serta menentang pihak-pihak yang ingin menggagalkan Sidang Istimewa MPR.

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Ulama di Senayan menghasilkan pernyataan sikap hasil yang dibacakan K.H. Syaifuddin dan diakhiri tepukan tangan 100 ribu massa dan sejumlah tokoh yang hadir, seperti Ketua Pelaksana Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) Ahmad Sumargono dan Sekjen Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) H. Husein Umar. Pengusaha nasional Fadel Muhammad malah bersuara lebih lantang, bila imbauan tak diindahkan, umat Islam siap menghadapi dengan segala risiko.

Kegiatan pasukan swakarsa muslim ini bisa ditengok sejak sepekan sebelum Sidang Istimewa. Awal November 1998, para aktivis pro-SI ini diangkut dengan 50-an truk yang mangkal untuk salat lohor di Masjid Istiqlal. Di kanan kiri badan truk diselempangkan spanduk putih bertuliskan huruf merah: "PAM Swakarsa SI MPR 98". Di tiap-tiap truk, berjubel anak berusia tanggung. Mereka mengenakan ikat kepala berwarna hijau bertuliskan huruf Arab. Tangan mereka menggenggam erat tongkat bambu runcing. Sekali dalam sehari berkeliling kota. Bukan untuk takbiran, tapi mengampanyekan perlunya SI. Pasukan muda ini agaknya tak termasuk sekitar 12 ribu massa yang telah mendaftar ke Kepolisian Daerah Metro Jaya untuk melangsungkan sejumlah kegiatan mendukung SI. Ahmad Sumargono, Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam atau KISDI mengatakan pasukannya sudah siap dan berkekuatan sekitar 5.000 orang.

Anggota

Pasukan Pam Swakarsa ini terdiri dari beberapa barisan. Ada yang di bawah koordinasi kepolisian, ada yang di bawah komando Furkon (Faisal Biki), ada yang dari Masyarakat Madura di bawah koordinasi Chalil Badawi, tak ketinggalan onderbrouw ICMI, yakni CIDES ikut bermain. Unsur-unsur Pam Swakarsa dapat juga disebut terdiri dari antara lain Furkon yang berada di bawah tanggung jawab MUI (dibentuk pada Kongres Umat Islam, tanggal 7-11 November 1998), KISDI (yang dipimpin Ahmad Sumargono yang pernah tercatat sebagai petinggi Partai Bulan Bintang), Brigade Hizbullah BKUI, GPI, Remaja Masjid Al-Furqon Bekasi, dan Mahasiswa Islam Bandung. Para komandannya umumnya adalah jawara-jawara silat yang sebagian didatangkan dari Banten. Milisi Pam Swakarsa juga diisi oleh kalangan pendekar betawi dan juga ormas-ormas Islam. Beberapa lokasi yang dijadikan markas barisan Pam Swakarsa adalah Mesjid Istiqlal, Manggala Wanabhakti, Mesjid Al Azhar dan sebuah tempat dekat Mabes ABRI di kawasan Cilangkap. Tidak semuanya datang dari kalangan Islam.

Kepolisian Daerah Metro Jaya menyebut Pemuda Pancasila, Pemuda Pancamarga, FKPPI, dan berbagai organisasi lainnya juga berhimpun dalam pasukan paramiliter yang ikut mengamankan SI. Pemuda Pancasila, Pemuda Pancamarga, dan Warga Wijaya Indonesia bermarkas dalam kompleks Gedung DPR/MPR. Namun jumlah yang lebih banyak, yang bermarkas di Masjid Istiqlal dan Masjid Al Banna, Senayan, datang dari kalangan Islam. Mereka tak hanya berasal dari wilayah Jabotabek, melainkan dari daerah lain seperti Banten, Bandung, Pandeglang, Yogyakarta, Surabaya, dan Madura.

Majelis Dakwah Islamiah, sebuah forum pengajian yang dibina Golkar, menurunkan 600 anggota dengan tugas memblokir Tugu Proklamasi yang sedianya menjadi ajang digelarnya parlemen jalanan oleh mahasiswa dan kelompok penentang SI MPR. Ada juga kelompok dari Menteng, Kalipasir, dan Gondangdia. Dengan kekuatan 200 orang, bersama kelompok lain mereka bertugas menjaga Taman Ismail Marzuki.

Kelompok yang besar digerakkan oleh Faisal Biki, adik kandung almarhum Amir Biki, tokoh peristiwa Tanjungpriok. Bersama kelompok Forum Umat Islam Penegak Keadilan dan Konstitusi (Furkon) yang didirikan Komarudin Rahmat, Daud Poliraja, dan Furqon. Faisal sendiri mengaku, dananya antara lain dikucurkan oleh Menhankam Pangab Jenderal Wiranto dan Wakil Ketua DPR/MPR Abdul Gafur. Pasukan yang dirangkul Furkon berasal dari berbagai daerah. Jakarta, misalnya, banyak disumbang pasukan dari wilayah Tanahabang, Tanjungpriok, dan Kwitang. Dari luar daerah, kebanyakan dari Serang, Rangkasbitung, dan Pandeglang. Ada pula yang datang dari Yogyakarta, seperti diakui Ketua Tarbiyah Islamiah Yogyakarta, Djalaludin Syukur.

Bentrokan

Pengaman swakarsa yang beratribut ikat kepala bertuliskan huruf Arab tersebut bahkan telah dinilai oleh sejumlah kalangan masyarakat justru telah merusak citra Islam karena ternyata kebanyakan dari mereka merupakan preman bayaran. 9 November 1998, ratusan massa pam swakarsa berkumpul di Tugu Proklamasi. Sebagian anggota Pam Swakarsa mengaku berpartisipasi karena diundang untuk tahlilan wafatnya Ketua MUI K.H. Hasan Basri, meskipun tempatnya agak aneh: Tugu Proklamasi. 10 November 1998, sejak siang hari warga mengepung duaribuan pasukan Pam Swakarsa yang berkumpul ditengah-tengah lapangan Tugu Proklamasi. Masyarakat yang marah melempari dengan batu. Akhirnya pasukan pam swakarsa ini dievakuasi tentara sekitar pukul 19.30 WIB. Pam Swakarsa terlibat bentrokan di sekitar Hotel Hilton dengan massa rakyat Bendungan Hilir dan sekitarnya.

13 November 1998, siang hari sebelum terjadinya Tragedi Semanggi, 3 orang anggota pam swakarsa tewas dikeroyok massa. Peristiwanya bermula ketika sekitar 30 orang (rata-rata bertubuh gempal, berwajah keras, dan berikat kepala hijau) menghadang ratusan mahasiswa di jembatan Cawang, Jakarta Timur. Sekelompok Pam Swakarsa ini, bersiaga berbaris di depan barikade polisi dan tentara, menyerupai tameng. Melihat hal ini, massa setempat yang awalnya hanya menonton mahasiswa berdemonstrasi, serta merta melempari pam swakarsa dengan batu. Pasukan pam swakarsa sempat membalas dengan lemparan batu pula, seraya mengacung-acungkan badik, sebelum akhirnya lari. Lima dari mereka terjebak di sebuah tanah lapang berawa-rawa tak jauh dari jembatan itu, di tengah kepungan massa yang bersenjatakan kayu, batu, dan besi. Tinju, tendangan, pukulan kayu, dan besi serta hunjaman batu menghajar mereka. Dua orang dilarikan ke rumah sakit setelah babak belur. Tiga lainnya tewas.
Pengakuan

Pada 2004, para mantan anggota pasukan pengamanan swakarsa (pam swakarsa) meminta Jenderal TNI (Purn) Wiranto selaku mantan Panglima TNI mengakui keberadaan mereka dan pernah mengeluarkan kebijakan terkait pengerahan pams wakarsa pada Sidang Istimewa (SI) MPR tahun 1998. Mereka juga mendesak Wiranto merevisi tulisannya dalam buku "Bersaksi Di tengah Badai", yang menafikkan sekaligus menyakiti hati mereka lantaran tidak mengakui adanya pamswakarsa. Menurut para mantan anggota Pam Swakarsa ini, Pam Swakarsa dibentuk sebagai bagian dari Operasi Mantap yang digelar TNI menjelang Sidang Istimewa, dengan Mayjen Kivlan Zen dan Brigjen Adityawarman sebagai perwira yang mengkoordinir di lapangan.

Para mantan anggota pasukan pam swakarsa juga menjelaskan bahwa mereka diketuai seorang panglima. Panglima itu dibantu sejumlah asisten di antaranya asisten intelijen, asisten operasional, dan asisten personalia dan logistik. Struktur ini mirip dengan struktur kemiliteran. Anggota pam swakarsa di lapangan yang banyaknya sekitar 30 ribu orang dibayar Rp10 ribu per hari per orang. Dalam acara pembubaran pada 21 November 1998 di vila Haji Embay di Ciomas, Banten, Kivlan mengucapkan terima kasih atas nama Panglima ABRI Wiranto dan Presiden Habibie.

Pengakuan Kivlan Zen


Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein


Jumlah anggota Pam Swakarsa sampai 30 ribu orang, didatangkan dari berbagai kota. Kivlan Zen ditunjuk karena sebelumnya dia pernah berhasil mengalahkan aksi mahasiswa yang menyerbu ke Gedung MPR Senayan, juga dengan mengerahkan massa tandingan. Setelah terbentuk Pam Swakarsa, Wiranto terlibat pertemuan yang mengkoordinasikan pergerakan pasukan milisi itu. Pada 9 November 1998, sekitar pukul 09.00-10.00, dilakukan rapat di rumah dinas Wiranto di Kompleks Menteri, Jalan Denpasar Raya, Jakarta. Hadir dalam pertemuan itu antara lain: Pangab Jenderal Wiranto, Pangdam Jaya Mayjen Djadja Suparman, Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajoesman, dan Mayjen Kivlan Zen. Soal pendanaan awal, Wiranto mengarahkan Kivlan untuk bertemu pengusaha Setiawan Djody dan staf wakil presiden, Jimmly Ashiddiqie.

Kivlan Zen mengatakan bahwa Presiden BJ Habibie berdasarkan pengakuannya telah memberikan sejumlah dana untuk pam swakarsa, November 1998, melalui Wiranto, yang saat itu menjabat Panglima ABRI. Tanggal 4 November 1998, Kivlan mengaku dipanggil Wiranto di Mabes ABRI Jalan Merdeka Barat sekitar pukul 15.30. Ketika itu Wiranto meminta untuk mengerahkan massa pendukung Sidang Istimewa sambil mengatakan bahwa itu juga merupakan perintah Presiden BJ Habibie. Perintah ini bersifat rahasia.

OLD Thread
Credit for OLD Thread : Jazed
Quote:
Goed.adit :
Hohoho...
Jaman itu masih terlalu kecil untuk paham ketiakjujuran orang kuat. ternyata PAM Swakarsa pake atribut yang mirip DPI yagh? Atau jangan2? Eh, yang main dibelakangnya beda kok katanya temennya Mbel Mbel


Quote:
Inreallife :
Thred bagus!

Ni saya tambahin dari sumber berikut:

http://m.politikana.com/baca/2010/06...it-tentang-fpi

saya kutipkan beberapa bagian, karena banyak yg mirip dengan artikel TS:

Quote:Seperti pada kutipan di awal berita inilah..com di atas, FPI didahului oleh lahirnya Pam Swakarsa, dan didukung bahkan dibentuk oleh Wiranto, Menteri Pertahanan Keamanan dan Panglima TNI pada waktu itu, yang diberhentikan oleh Abdurrahman Wahid. Meskipun begitu, dalam bukunya, Bersaksi di Tengah Badai, Wiranto mengelak pernah memerintahkan pembentukan Pam Swakarsa.

...

Sumber lain misalnya sebuah artikel di Asia Times, bisa dilihat di paragraf ke-10.

"However, the most vocal of these organizations is the FPI. It was once part of a government-sponsored civilian security force known as PAM Swakarsa. This unit was formed to fight against student demonstrators opposed to the administration of former president B J Habibie and the military's role in politics. PAM Swakarsa had a special charter at that time to prevent pro-democracy activists from marching to parliament to voice their aspirations."

Tulisan Imam Brotoseno di blognya, juga menyinggung kedekatan FPI dan gerakan fundamentalisme Islam lainnya dengan petinggi-petinggi TNI. Imam menulis:

"FPI memang dekat sekali dengan petinggi militer dan kepolisian. Ini tak terlepas dari proses pembentukan Pam Swakarsa – Massa pendukung Sidang Istimewa MPR tahun 1998. Setelah menguasai ABRi dan TNI – AD, Jend Wiranto tak berdaya menahan desakan untuk mengganti pemerintahan BJ Habibie. Untuk mengawal transformasi secara demokratis, termasuk perubahan jadwal pemilu yang tadinya akan dilakukan tahun 2002 menjadi 1999. Maka diperlukan Sidang Istimewa MPR."

Mengenai keterlibatan POLRI, dalam paragraf yang lain Imam Brotoseno menulis:

"Mantan Kapolda Jakarta Nugroho Djayoesman dalam memoarnya “Meniti Gelombang reformasi“ mengatakan, kedekatannya dengan FPI dalam rangka tugas pembinaan. Ia bukan Jendral Taliban sebagaimana dituduhkan orang. Menurutnya 'Betapapun sepak terjang meresahkan masyarakat, organisasi seperti FPI semestinya dirangkul dan diajak bicara mengenai persoalan sosial-kemasyarakatan yang terjadi.'"


Quote:Berdasarkan artikel Radical Islam: Suharto proxies or al Qaeda?, sumber pendanaan FPI waktu itu adalah Mochsin Mochdar, suami dari Sri Rahayu, adik Habibie. Mochdar, bersama istrinya merupakan pemilik Citra Harapan Abadi Group, yang digadang sebagai tangan kanan ketiga yang berkuasa dalam klan Habibie. Dukungan dari masyarakat, muncul lewat Yayasan Al-Kautsar, yang memberi bantuan uang serta transportasi kepada petani di Jawa Barat untuk direkrut menjadi Pam Swakarsa dan berangkat ke Jakarta untuk melawan aksi mahasiswa, pada November 1998.

Dua orang saudara Muchsin, Aziz dan Hamid, terlibat dalam beberapa perusahaan milik Bambang Trihatmodjo, seperti Bimantara Group, membuat spekulasi bahwa klan Cendana juga ada di belakang aksi FPI. Fuad Bawazier, juga diduga sebagai salah satu pendukungnya. Bawazier dikenal dekat dengan Suharto, dan ia pun pernah menjadi Menteri di kabinet Suharto. Ia pernah menjadi presiden komisaris PT Satelindo, yang dimiliki bersama oleh Bambang Trihatmodjo, Tomy Winata dan Yayasan Kartika Eka Paksi, sebuah yayasan milik tentara.

Yang menarik adalah keberadaan KISDI (Komite Indonesia Untuk Solidaritas Dunia Islam). KISDI pernah mendapat sejumlah besar uang, melalui Panitia Nasional Solidaritas Muslim Bosnia, atau PNSM Bosnia yang pernah menyalurkan sukarelawan ke sana. Berdasarkan penelusuran George Aditjondro, penggalangan dana yang menggunakan rekening Probosutedjo di Bank Jakarta, entah raib kemana. Pada saat krisis 1997 dan Bank Jakarta ditutup, tercatat masih ada uang sebesar $292,000.

Tidak jelas apakah KISDI punya kaitan dengan FPI, dan keseluruhan artikel Radical Islam: Suharto proxies or al Qaeda? itu mungkin perlu dikaji ulang, apakah datanya valid atau tidak. Artikel itu tertulis bersumber di Laksamana.net, tetapi kalau Anda tengok situs itu sudah berubah total. Tidak jelas siapa pengelolanya, dan isinya pun tak berhubungan dengan topik di atas.




Quote:
BlackShirt :
latar belakang na sie sebenernya mudah di tebak -LAPAR-
ketika kehidupan sedang banyak masalah, kita kadang sulit berpikir sehat, apalagi dgn di iming2 Agama yg akan memberi surga atas perbuatannya,, klo ada diantara agan2 yg FPI coba baca artikel ini, dan semoga tindakan Nabi kita bisa ditiru. dlm menyelesaikan masalah.

Ada perkataan Abu Bakar Dan Aisyah ra. yang diubah dari putri, kekasihku, ayah, diubah menjadi Aysiah, sahabatku, engkau, maaf saya mengubahnya, saya gak mau ada orang non muslim yang ngatain Nabi Muhammad Saw.
Nabi Muhammad dan Seorang Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah al-Munawarah, ada seorang pengemis Yahudi buta yang mangkal. Hari demi hari, apabila ada orang yang mendekatinya, ia selalu berkata, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya."

Sementara itu, tanpa disadarinya, setiap pagi Nabi Muhammad saw. mendatanginya dengan membawa makanan, lalu tanpa berkata sepatah kata, Beliau menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Nabi Muhammad melakukan hal itu hingga menjelang Beliau wafat. Setelah Beliau wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari sahabat Abu Bakar ra. berkunjung kerumah istrinya Rasulullah, Aisyah ra. Beliau bertanya kepada istrinya Rasulullah,

Abu Bakar ra: Wahai Aisyah, adakah sunnah Rasulullah yang belum aku kerjakan?

Aisyah ra: Wahai Abu Bakar, engkau adalah seorang ahli sunnah. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum engkau lakukan kecuali satu sunnah saja.

Abu Bakar ra: Apakah itu?

Aisyah ra: Setiap pagi Rasulullah saw. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.

Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar untuk memberi makan seorang Yahudi buta yang sering diberi makan oleh Rasulullah saw. Ketika Abu Bakar menyuapkan makanan kepada seorang pengemis Yahudi buta itu, pengemis itu marah sambil berteriak,

Pengemis Yahudi Buta: Siapakah engkau?

Abu Bakar: Aku orang yang biasa datang memberimu makan.

Pengemis Yahudi Buta: Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku, tidak perlu tangan ini memegang dan tidak perlu mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu baru ia suapkan padaku.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,

Abu Bakar: Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, ia pun menangis sambil berkata,

Pengemis Yahudi Buta: Benarkah demikian? (kata pengemis tua itu terkejut). Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, namun ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Sungguh, ia begitu mulia....(kata pengemis Yahudi buta itu sambil menangis tersedu-sedu).

Akhirnya, pengemis Yahudi itu bersyahadat di hadapan Abu Bakar. Ya, pengemis buta itu masuk Islam berkat kemuliaan ahlak Nabi Muhammad saw. yang luar biasa dan berkat kekuasaan Allah Swt.

tp FPI pun ada bukan tanpa fungsi,, dgn ada FPI yg melakukan usaha maksiat akan berpikir dua kali(ga terlalu bebas mksd na) dgn merusak tempat judi, pelacuran dll,, walau kadang cara menindak nya dgn emosi bukan karena perintah yg di atas,, setidaknya ada yg mengontrol



Quote:
B4T4X :

wow pam swakarsa...
langsung membangkitkan kenangan sewaktu ane sempat menjadi mahasiswa yg kampusnya ditengah kota sebelum "diungsikan" kenegara tetangga dibawah sana krn situasi yg tidak menentu

lumayan ane pernah merasakan langsung baku pukul dgn pam swakarsa ( maklum masih muda wkt itu )
dan bagaimana seramnya konvoi mereka, mereka itu dimobilisasinya dengan truk hijau tentara !? gimana gak ngeper ?
dgn sangarnya mereka diatas truk tentara dgn mengancungkan bambu runcing sambil teriak2


@TS : nice trit TS. sejarah memang gak boleh dilupakan :



Quote:
Inreallife :

dari majalah Ummat, tahun 1998. Warning: DP news.

http://www.mail-archive.com/indonews.../msg01166.html

Quote:Majalah UMMAT

EDISI No.25 Thn. IV/ 28 Des 98

Kisah Tercecer PAM Swakarsa

Trauma Pam Swakarsa telanjur menyertai gagasan Ratih (rakyat terlatih). Tapi pembantaian terhadap anggota Pam Swakarsa sendiri seperti dilupakan.

Pam Swakarsa. Kepada nama itulah ingatan masyarakat terhadap kehadiran pasukan sipil kental melekat. Dan kini, ketika Ratih dijajakan Jenderal
Wiranto, file tentang Pam Swakarsa kembali diungkit. Dan, apa boleh buat, kebanyakan disertai dengan kenangan buruk seperti berikut: massa yang bergerombol dan konvoi keliling kota dengan bambu runcing mengacung.

Kenangan macam itu bahkan ikut mengubur fakta lain atas
perlakuan mengerikan terhadap empat orang anggotanya pada 13 November silam. Itulah saat meletusnya Tragedi Semanggi yang memakan korban belasan mahasiswa dan anggota masyarakat akibat tindak kekerasan aparat keamanan—belakangan para korban ini disemati julukan pahlawan reformasi.

Tapi pada hari itu sebenarnya terjadi pula pembantaian lain yang tak kalah mengerikan atas empat orang yang dicap sebagai anggota Pam Swakarsa di sekitar Jembatan Cawang, Jakarta Timur. Sesuatu yang—barangkali atas nama kemanusiaan—tetap tak layak ditimpakan kepada mereka.

Empat anak manusia itu dibantai massa menyusul sebuah kontak fisik beberapa saat sebelumnya. Hasilnya, sungguh mengerikan bagi empat korban: mata tercungkil, muka remuk, isi kepala terburai akibat hantaman besi, kayu, atau batu besar. Massa bahkan masih berlaku brutal sekalipun jasad mereka tak bernyawa lagi. Mansur Ulu (32 tahun), Iwan Nurlete (34 tahun), Sulhan Lestahulu (24 tahun), dan Budi Muarasabesy (24 tahun), akhirnya menemui ajal untuk sebuah keyakinan yang sah-sah saja dimilikinya.

Seperti dipahami, Pam Swakarsa memilih sikap mengamankan pelaksanaan SI MPR pada medio November tersebut. Itu yang menyebabkan mereka harus
berhadap-hadapan dengan mahasiswa dan kekuatan lain yang bersikap sebaliknya. Tapi, seperti mahasiswa yang tak layak ditembaki karena sikapnya, aksi pembantaian itu seharusnya juga tak patut ditimpakan kepada anggota Pam Swakarsa.

Diobok-obok. Tapi, siapakah sejatinya anak-anak muda itu? "Mereka adalah
adik-adik saya," kata Muhammad Sangaji (35 tahun), Ketua Ikatan Pemuda
Maluku Muslim di Jakarta. Bapak tiga anak yang sehari-hari disapa Ongen ini mengaku, dialah yang menggerakkan para pemuda Muslim Ambon—yang biasa ia sebut dengan "adik-adik"-nya—pada 13 November itu. Bahkan, dia sendiri ikut dalam kelompok yang terjebak di kawasan Cawang pada hari naas tersebut.

Hanya saja ia menolak kalau kelompoknya dicap sebagai bagian dari Pam Swakarsa. "Saya tak tahu Pam Swakarsa. Saya murni membawa adik-adik saya asal Ambon berjihad membela negara yang tengah diobok-obok pihak lain," tegasnya kepada UMMAT. Dalam pemahamannya, upaya menggagalkan perhelatan SI MPR sama dengan mengacaukan negara. "Tanggal 13 November itu adalah saat yang kritis. Mereka sudah terlalu jauh memporak-porandakan bangsa."

Pada hari itu ia mengerahkan 200 anak buahnya untuk menahan laju mahasiswa yang tengah menuju gedung DPR/MPR. "Tak satu pun di antara kami yang membawa senjata," akunya. Di sekitar jembatan Cawang, kelompoknya berhadapan dengan ribuan massa mahasiswa dan masyarakat. Tapi karena kalah banyak, kelompok Ongen lalu kocar-kacir
tidak karuan. Ongen bersama sembilan orang lainnya lari ke arah perkampungan. Dan beruntung, di sana ia diselamatkan oleh warga sekitar.

Setelah beberapa saat, ia lalu meloloskan diri ke sebuah jalan dan langsung naik ke sebuah mikrolet yang kebetulan lewat. "Saya paksa sopirnya mengantar kami sampai ke rumah. Saya terpaksa menurunkan seorang ibu yang tengah menumpang di jalanan," urainya. Sesampai di tempat, ia meminta maaf kepada sopir bersangkutan.

Tapi nasib tragis dialami keempat "adik"-nya yang gagal meloloskan diri. Mereka terjebak di sebuah tanah lapang dan dihabisi secara mengenaskan.
Belakangan, Ongen-lah yang mengurus penguburan dan mengabari keluarga korban di Ambon. "Semasa hidupnya, mereka dekat dengan saya. Seperti kepada yang lain, mereka semua saya anggap adik-adik saya. Mereka menaati semua perintah saya sepanjang itu benar," katanya.

Pemain Persija. Ongen tampaknya memang tokoh yang disegani di kalangan pemuda Muslim perantauan dari Maluku. Konon, ia yang
acap mencarikan pekerjaan untuk para perantau itu. Di sekitar tempat
tinggalnya di kawasan Klender, Jakarta Timur, ada sekitar 400 orang perantau
asal Ambon. UMMAT memperoleh namanya setelah menghubungi beberapa di
antara mereka. Keempat anak buahnya yang tewas tersebut juga tinggal tak jauh dari rumahnya.

"Mansur dan Iwan sudah saya carikan pekerjaan. Budi masih menganggur. Sedangkan Sulhan adalah salah seorang pemain Persija," kisah Ongen, yang
rumahnya penuh dengan poster tokoh-tokoh Islam dan ayat-ayat Al-Qur’an. Iwan Nurlete sebenarnya anak seorang raja di Maluku. Menurut Ongen, seluruh keluarga korban di Ambon sudah mengikhlaskan kepergian kerabatnya itu. "Mereka yakin, kematian itu syahid, karena membela kepentingan bangsa,
agama, dan negara," papar Ongen.

Ia juga membantah bahwa keempatnya dibantai oleh warga masyarakat yang tinggal di sekitar Cawang. Mencontohkan yang terjadi pada dirinya, justru
warga setempatlah yang telah menyelamatkan. "Kami cuma 200 orang. Kalau tidak diselamatkan, barangkali lebih dari empat yang jadi korban," katanya berlogika.

Ia menengarai ada kelompok lain yang telah melakukannya secara terencana. Dari rekaman video, ia melihat adanya pola tertentu dari pengerahan massa itu. "Saya yakin mereka telah disiapkan untuk menghabisi kami," tutur anak ketujuh dari delapan bersaudara ini.

Jenderal Swakarsa. Adanya "kelompok lain" itulah yang agaknya diyakini pula oleh massa Pam Swakarsa pada umumnya. Yaitu, sebuah
kelompok yang tak menghendaki kekuatan Islam berperan dalam pemerintahan. Mohammad Saleh Ardiyansah (33 tahun), salah seorang Komandan Bataltyon Pam Swakarsa, termasuk yang meyakini hal itu. "Apa yang terjadi akhir-akhir ini adalah konspirasi untuk melawan kekuatan Islam di
Indonesia," ujarnya ketika ditemui November silam di Parkir Timur
Senayan—salah satu konsentrasi Pam Swakarsa saat itu.

Seorang penggerak massa Pam Swakarsa lain yang ditemui
UMMAT pada waktu berbeda, juga mengamini hal itu. Hanya saja ia menyatakan, tema tersebut terus dikembangkan oleh para pemuka Pam Swakarsa. "Dan, itulah yang membikin militan massa Pam Swakarsa," tutur Siman (30 tahun)--sebut saja demikian.

Siman mengaku dekat dengan dua jenderal aktif yang merancang Pam Swakarsa. Salah seorang jenderal itulah, menurutnya, yang telah memelintir isu pro-kontra SI MPR menjadi isu Islam versus Kristen. "Sebuah tema yang mujarab untuk memprovokasi massa Pam yang kebanyakan datang dari
kalangan santri dan aktivis pencak silat itu," katanya. Meski diakuinya juga bahwa tak sedikit preman dan anak jalanan yang direkrut menjadi anggota
Pam Swakarsa. "Dalam setiap rapat-rapat, jenderal itu selalu memakai bahasa provokatif. Misalnya, ‘Semua ini demi umat Islam,’" ujarnya.

Siman sendiri mengaku lalu menarik diri dari gerakan Pam Swakarsa dua hari menjelang Tragedi Semanggi. Alasan utamanya adalah, pembentukan Pam
Swakarsa adalah bagian dari permainan elite politik. "Saya kecewa karena ternyata tujuannya tidak murni lagi," keluh mantan aktivis mahasiswa tersebut. Ia merasa sakit hati karena ternyata tujuan akhirnya adalah mengadu kalangan sipil dengan sipil.

Mohammad Saleh menolak anggapan terbentuknya Pam Swakarsa adalah rekayasa kekuatan lain. Menurutnya, Pam Swakarsa dibentuk bukan untuk adu fisik melawan kelompok yang anti-SI MPR.

"Ini semua timbul dari rasa tanggung jawab kami sebagai warga negara ketika bangsa ini tengah memiliki hajat lewat SI MPR. Jadi, kami bukan alat
militer," tegasnya.

Keterangan Saleh ini didukung oleh Faisal Biki, salah seorang ketua Furkon (Forum Umat Islam untuk Keadilan dan Konstitusi). Menurut tokoh dari
Tanjung Priok ini, pembentukan Pam Swakarsa dimaksudkan untuk membela konstitusi. Toh, ia lalu meluruskan bahwa bukan Furkon langsung yang membentuk Pam Swakarsa. "Ia dibentuk atas prakarsa anak buah saya untuk kepentingan pengamanan SI MPR," jelasnya. Sedang aktivitas Furkon sendiri adalah menyelenggarakan berbagai apel akbar.

Kini nama Pam Swakarsa telah menjadi bagian dari masa lalu yang kembali mengusik ingatan gara-gara gagasan pembentukan Ratih. Tentu menarik
menyimak komentar Faisal Biki mengenai soal terakhir ini. "Saya tidak setuju kalau pembentukan itu digunakan untuk melawan demonstran," tegasnya.

Tapi ia akan mendukung jika Ratih dimaksudkan untuk pengamanan daerah terpencil, misalnya lokasi transmigrasi. "Lebih penting dari itu, Ratih jangan untuk kepentingan golongan tertentu," imbaunya,

Pam Swakarsa dan Ratih—yang nota bene dari kalangan sipil—barangkali memang berbeda. Tapi, yang dihadapi adalah sama belaka: masyarakat sipil.

Tulus Widjanarko, Meifil Eka Putra, Yuyu Hadiwiratmo, Ahmad Muayad


Beberapa point:
-Salah satu unsur PAM SWAKARSA adalah kelompok Maluku Muslim pimpinan Ongen Sangaji.
-Selanjutnya pembunuhan 4 anggota Sangaji menjadi satu dari banyak konflik awal yang berujung "perang antar-agama" di Maluku.
-Ongen Sangaji sekarang duduk sebagai Ketua DPD Partai Hanura DKI.
-Faisal Biki sampai sekarang masih jadi tokoh masyarakat di Tanjung Priok.

Quote:
Inreallife :

Arsip '98: KONTRAS mengenai PAM SWAKARSA... tulisan almarhum Munir.

http://www.minihub.org/siarlist/msg01253.html

Quote:KOMISI ORANG HILANG DAN KORBAN TINDAK KEKERASAN

Konspirasi dalam Politik Adu Domba

"Kami tak mau ribut dengan Pam Swakarsa karena mereka juga bagian dari
rakyat ini"

(Ucapan seorang mahasiswa sebagaimana dikutip dari Pos Kota, 10 November
1998)

Beberapa insiden yang nyaris melahirkan korban jiwa di kalangan rakyat
sipil memang terhindarkan, namun beberapa hal patut diajukan guna
menggugat kembali cara-cara dalam unsur-unsur negara dan para elit politik
dalam mengukuhkan legitimasi Sidang Istimewa.

Pertama, perlu ditegaskan bahwa kalau yang dianggap mengganggu keamanan
adalah aksi mahasiswa maka hal itu tidak benar sama sekali, kenyataan
menunjukkan bentrokan terjadi justru antara masyarakat umum Jakarta akibat
merasa terganggu dengan prilaku Pam Swakarsa.

Kedua, pernyataan Kapolri bahwa Pam Swakarsa bukan di bawah komandonya
(Kompas 11 November 1998) mengindikasikan beberapa soal serius mengingat
fakta bahwa; baik melalui media cetak maupun televisi, paling tidak Kapolda
Metro Jaya berulang kali menegaskan bahwa Pam Swakarsa memang sengaja
diorganisir guna keperluan "bela negara" sesuai pasal 30 UUD 45, aparat
kepolisian bahkan sempat menyebutkan bahwa kalau perlu mereka dipersenjatai
gas air mata; fakta lain juga menyebutkan adanya upaya mobilisasi yang
serius, sistematis dan massal untuk menarik masyarakat di luar Jakarta
untuk keperluan pengamanan SI, seperti ditemukannya sejumlah bus yang gagal
mengangkut sejumlah anggota masyarakat di daerah Karawang.

Ketiga, dari dialog dengan sejumlah anggota Pam Swakarsa yang berhasil
diselamatkan dari keroyokan masyarakat, KONTRAS menemukan fakta bahwa
secara personal mereka memang dibiayai untuk ikut dalam Pam Swakarsa,
namun tidak ada maksud untuk menyerang mahasiswa. Sebagian malah merasa
diadu domba. Kenyataan ini makin dikuatkan dengan berlangsungnya evakuasi
dari Taman Proklamasi secara damai, tanpa adanya bentrokan dengan mahasiwa
yang tengah melakukan aksi unjuk rasa.

Melalui fakta-fakta di atas KONTRAS berkesimpulan bahwa:

Pertama, ada upaya-upaya yang kasar dan kasat mata dari sejumlah elit
politik, yang dalam rangka keperluan-keperluan politik mereka di Sidang
Istimewa, melakukan cara-cara yang :

a. Membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, melalui upaya pembenturan
sesama sipil.
b. Membahayakan kemanusiaan (crimes againts humanity), melalui usaha dengan
sengaja mempersenjatai dan mengadu domba untuk menimbulkan luka, korban
jiwa bahkan kekacauan dalam masyarakat.

Kedua, berbagai bentrokan yang terjadi berikut situasi tidak aman dalam
masyarakat merupakan implikasi langsung dari upaya-upaya itu, sehingga
dengan demikian adalah menjadi tanggung jawab penuh dari pihak-pihak
penyelenggara Sidang Istimewa, khususnya POLRI selaku pihak yang telah
secara sengaja, sistematis dan terorganisir melibatkan sipil dalam PAM
Swakarsa tersebut.

Ketiga, dengan demikian patut dipertanyakan baik dari aspek moral
kemanusiaan, maupun keabsahan politik : "perhelatan Sidang Istimewa macam
apakah yang tengah terjadi ini , kalau untuk itu pemerintah sendiri rela
dan sengaja rakyat diadu domba ?"

Keempat, akibat pri laku adu domba horisontal semacam ini, secara langsung
bisa menghantarkan masyarakat pada pra-duga dan wasangka terhadap
pemerintah terutama aparat kemanan, mengingat berbagai kasus dengan modus
operandi lebih halus dalam "adu domba horisontal" seperti kasus Banyuwangi
tengah menjadi sorotan. Apakah modus ini dipakai sebagai daur ulang dan
kelanjutan cara penciptaan "para ninja" Banyuwangi ataukah sekadar meminjam
keahlian yang sama untuk menyodorkan sipil dalam pembantaian lebih terbuka
? Yang jelas keduanya adalah praktek yang memalukan bangsa.

Kelima, bahwa ada perbedaan aspirasi dalam kelompok-kelompok masyarakat
seputar Sidang Istimewa harus dianggap sebagai dinamik dalam usaha
berdemokrasi dalam masyarakat yang plural, yang tidak benar adalah mengocok
plaralitas dan perbedaan aspirasi menjadi konlik antar warga.

Dengan beberapa catatan tersebut, dengan ini KONTRAS menyatakan :

1. Polda Metro Jaya bertanggungjawab atas berkembangnya pola PAM Swakarsa
bersenjata yang justru membangun siatusi konfik antar masyarakat;

2. Segera ditanggalkannya bentuk-bentuk militerisasi untuk pengamanan SI
dan dipulihkannya suasana aspiratif untuk warga yang mendukung maupun
menolak Sidang Istimewa dalam rangka membangun pluralitas dan demokrasi.

Jakarta, 11 November 1998
ttd.
M U N I R, SH
Koordinator Badan Pekerja KONTRAS




Quote:
Kevinbali06 :

oh ternyata bentukan para jenderal yah ?? baru tau nh...kala fpi bentukan siapa sih gan ? dan siapa beking nya ? kok kuat sekali yah ..sampe2 orang no 1 di negeri kita berani di gertak

Quote:
Jazed :

Berdasarkan wikipedia sih iya. Untuk tau jelasnya coba deh kamu bikin namanya "Political Map" , iseng aja spy tau posisi2 dari orang yang ngomong2 itu gimana...

FPI memiliki pola yang sama kok dari mulai "provokasi-nya" dan "goloknya". Untuk financing dan backing saya kira referensi-nya banyak beredar di web kok silahkan browse





Quote:
Index. :

Wiranto = Jenderal Hijau/Kanan/Islam

Habibie/Golkar = Centrist-Kanan
Megawati/PDIP = Kiri

Kammi = Kanan
HMI = Centrist
GMNI = KIRI
FORKOT = KIRI

Sebenarnya golongan kanan sudah diatas angin sejak Habibie jadi wapres, tinggal nunggu Soeharto mati, dan berkuasa sudah. Namun muncul krisis ekonomi dan buyar sudah rencananya.

Amien Rais? orang kanan anti-pak harto mau jadi centrist (Via PAN).

gagal total.

Indonesia 1998-2004 itu penentuan kita mau jadi negara sosialis dan sekuler, atau sekuler saja, atau tidak sekuler.

Siapa yang menang ? Bekingannya US dan "pengusaha" (US nyari yg pro-ekonomi liberal dan sekulerist). Megawati jelas bukan, dia sosialis. Wiranto ? orang kanan. Habibie ? mati kena blunder sediri. Gus Dur ? kurang waras. Prabowo ? dia mah mau bunuhin golongan "pengusaha"

Pada awalnya mereka ngandalin Amien Rais (pro-pasar, federalist, centrist-kanan), tapi ternyata tidak prospek. Selanjutnya ya you know who.

"pengusaha"? Ya lihat sja top 20 orang terkaya di Indonesia. Yang berkuasa di Indonesia adalah yang punya uang.



Quote:Inreallife :

diangkat lagi karena ada berita duka:

http://nasional.kompas.com/read/2012...ono.Tutup.Usia


Ahmad Sumargono di Masjid al-Azhar Jakarta tahun 2008

Quote:Ahmad Sumargono Tutup Usia
| Pepih Nugraha | Jumat, 24 Februari 2012 | 09:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan anggota DPR Ahmad Sumargono meninggal dunia, Jumat (24/2/2012) dini hari tadi di Sukabumi, Jawa Barat. Demikian Radio Silaturahmi (Rasil) mengabarkan pagi ini. Mantan anggota DPR yang dikenal karena pembelaannya yang gigih terhadap Islam itu berpulang pukul 02.00 WIB.

Berdasarkan catatan Pusat Informasi Kompas, Ahmad Sumargono lahir di Jakarta 1 Februari 1949. Ia mukim di Jalan H Baping Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Semasa hidupnya, ia pernah menjabat Direktur Pusat kajian Strategi Politik dan Pemerintahan.

Sebagai anggota Dewan dari Fraksi Bulan Bintang (Partai Bulan Bintang/PBB) Legislatif periode 1999-2004, ia menjadi anggota Bamus DPR RI dari Fraksi PBB, anggota Pansus Buloggate dari Fraksi PBB, anggota Pansus Program Pembangunan Nasional, anggota Sub Komisi Luar Negeri DPR RI dari Fraksi PBB, anggota Pansus Aceh dari Fraksi PBB, anggota Pansus RUU Perjanjian Internasional dari Fraksi PBB, dan anggota Komisi I dari Fraksi PBB.

Mantan Ketua Pelaksana Harian Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam semasa mudanya itu meninggalkan istri, Yoon Sumargono, lima anak, yakni Muhammad Rido, Salman Alfarisi, Fatia Ulfa, Khusnul Khotimah, dan Shilbi Kaafah. Pria yang akrab disapa Gogon ini adalah anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan R Sumantri dan RR Sumariah.


Apa kaitannya? Lihat post berikut...


Quote:
Inreallife :

Wawancara TEMPO dengan Ahmad Sumargono, 1998

http://majalah.tempointeraktif.com/i...W97596.id.html

Quote:17 NOVEMBER 1998
Ahmad Sumargono "Kalau Status Quo Ini Menguntungkan Islam, Mengapa Tidak?"

Dunia di mata Ahmad Sumargono terdiri dari "mereka" dan "kami". "Mereka" adalah yang memerangi perjuangan Islam, dan "kami" adalah umat Islam, meski tidak semua umat Islam belum tentu merasa diwakili olehnya. Sepak terjang Ahmad Sumargono terbaca dengan mudah dan selalu meninggalkan jejak yang jelas. Pada saat Soeharto berhenti sebagai presiden dan Habibie naik menggantikannya, serta-merta ia dan kelompoknya unjuk rasa menunjukkan dukungannya terhadap Habibie, yang dianggap sebagai simbol Islam. Belum lagi protes-protesnya terhadap berbagai pihak, mulai dari majalah Jakarta-Jakarta, harian Kompas, dan CSIS. Tak mengherankan jika Ahmad Sumargono dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) dianggap banyak pihak sebagai kelompok yang garang.

Kelompok warga sipil yang tampil mendadak ini dibentuk dan digerakkan oleh berbagai organisasi, salah satunya adalah KISDI. "Kami bergerak karena kepentingan umat Islam terancam," kata Ahmad Sumargono, yang menjabat Wakil Ketua KISDI. Dan bukan kali ini saja Gogon, demikian ia biasa disapa, mengerahkan massa. Salah seorang ketua Partai Bulan Bintang itu tidak mengelak dari anggapan ini. Bahkan ia sendiri menyebut anak buahnya sebagai demomaniak. Beberapa kali, Ahmad Sumargono dengan bendera Islam menjadi motor KISDI dalam unjuk rasa protes terhadap berbagai kasus.

Rumah berlantai tiga miliknya yang nyaman di kawasan Ciracas, Jakarta Selatan, adalah tempat berkumpul para pengunjuk rasa sebelum bergerak. Rumah ini tampak cukup terbuka. Bekas Pangkostrad Letjen Prabowo dan Mayjen Kivlan Zein pernah berkunjung ke rumah ini.

Saat TEMPO berkunjung ke sana, salah satu papan tulis di lantai dua menyajikan syair lagu yang berisi hujatan terhadap salah satu tokoh politik.

Bapak lima anak ini mengaku cukup dekat dengan pimpinan militer saat ini. Alasannya, Sumargono melihat wajah militer yang lebih bersahabat ketimbang era sebelumnya.

Tumbuh dari keluarga yang menganut kejawen, Sumargono, yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 1 Februari 1943, tidak mengira bahwa ia akan tampil seperti sekarang. Di samping mengaji, Sumargono remaja lantas belajar kanuragan seperti ilmu tidak mempan dibacok. Setelah ia belajar agama secara lebih mendalam dari Buya Malik Achmad, segala ilmu kebal bacok itu dibuangnya, karena ia menganggap itu termasuk syirik. Ia juga mulai berdakwah ketika duduk di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sumargono mengaku bahwa banyak yang menganggapnya garang. Padahal, menurut dia, ia hanya bersikap tegas. "Saya ini orang moderat," ujar Sumargono. Ia mencontohkan bahwa selama bekerja pada Jan Darmadi maupun Bambang Yoga Soegomo, ia tidak serta-merta mencela apa yang dilakukan rekan kerjanya. "Saya bukannya tak pernah tergoda untuk main wanita bila tugas luar, tapi bila sesudah bermaksiat, pesawat saya jatuh bagaimana?" kata Sumargono.

Ia menerima Arif Zulkifli, Darmawan Sepriyossa, Wahyu Muryadi, dan Yusi A. Pareanom dari TEMPO saat hari pertama Sidang Istimewa MPR berjalan, dan menjawab semua pertanyaan dengan blak-blakan dan tuntas. Berikut petikannya.

Kenapa pada sidang istimewa ini Anda dan organisasi Anda menjadi salah satu kelompok penggerak massa dalam wujud pasukan Pam Swakarsa?

Begini, ada semacam analisis yang menyebutkan adanya gerakan yang selalu memandang apriori terhadap Habibie. Bahkan ini terjadi sebelum gerakan reformasi berlangsung. Nah, gerakan ini dianggap oleh umat Islam sebagai gerakan anti-Islam. Kasarnya, ada yang pro dan anti-Islam. Kelompok yang anti ini selalu curiga dan suudzon (bersangka buruk) terhadap umat Islam. Sejak Soeharto lengser dan pemerintahan beralih ke Habibie sesuai dengan Pasal 8 UUD 45, ada sekelompok mahasiswa yang apriori menolak. Timbullah pro-kontra tentang legitimasi Habibie. Kebetulan kelompok-kelompok ini disinyalemen dilatarbelakangi beberapa kelompok. Inilah yang menjadi daya panggil bagi umat Islam yang ikut ke DPR pada tanggal 22 Mei silam. Saat pemerintah Orde Baru, kelompok yang anti-Islam ini sudah pernah berkuasa selama 24 tahun, tepatnya tahun 1966-1990. Saat itu, umat (Islam) termarginalkan dan dianggap fasis. Kami tahu siapa yang ada di dalam dapurnya. Soeharto juga saat itu anti-Islam karena terkooptasi beberapa tokoh. Dulu, orang takut mengaku muslim, takut mengucap assalamualaikum, dan membuat baitul mal (sistem asuransi dalam Islam) dicurigai. Ahmad Tirtosudiro mengumpulkan sarjana Islam karena ingin membentuk Himpunan Sarjana Muslim, tapi tidak jadi. Pokoknya, bila mau membuat sesuatu dengan nama-nama Islam selalu dihindari karena takut digusur. Soeharto akhirnya berubah. Mulai 1993, suasana berubah kondusif bagi umat Islam, ada Bank Muamalat, ICMI lahir, kabinet dan parlemen menjadi ijo royo-royo. Namun Soeharto berubah sebetulnya bukan untuk Islam, tapi lebih untuk kepentingan politiknya. Nah, kelompok yang dahulu berkuasa itu sekarang giliran termarginalkan, maka wajarlah bila mereka kecewa.

Jadi, menurut Anda, persoalannya bukan pada sosok Habibie?

Bukan, tetapi pada simbolnya. Bagi kami, Habibie itu simbol Islam. Kabinet Soeharto itu sejak 1993 kan ijo royo-royo. Kelompok mereka mengharapkan pada periode berikutnya kabinet akan berubah warna. Tetapi ternyata tetap saja, bukan? Jadi wajar saja mereka cemburu karena tidak terakomodasi. Dan karena itu mereka bareng-bareng menggoyang.

Kami juga menganggap Habibie punya banyak kelemahan yang tak mengakomodasi keperluan kami.

Apa saja kelemahan Habibie di mata Anda?

Tahanan politik kelompok Islam tidak dibebaskan. Dewan Dakwah minta Masyumi direhabilitasi, tetapi tidak dipenuhi. Soal penganugerahan gelar pahlawan bagi Pak Natsir juga diberikan belakangan. Namun Habibie tetaplah simbol kami. Waktu kami dulu ke DPR, kami diisukan membela Soeharto, padahal yang kami lihat adalah Habibie sebagai simbol Islam. Kami berjuang untuk ideologi Islam, dan kalau sudah begitu tidak ada cerita lagi untuk kompromi. Asal Anda tahu, saya sampai sekarang saja belum pernah menginjak Istana.

Jadi, menurut Anda, anti-Habibie adalah anti-Islam?

Ya, dia sekarang menjadi simbol, meskipun masih banyak kekecewaan. Kami melihat Habibie cukup berhasil dalam waktu yang singkat walau digoyang terus. Tidak ada orang kelaparan kan? Itu hanya isu.

Sepertinya Anda menginginkan status quo?

Kalau status quo ini menguntungkan Islam, mengapa tidak? Kami merasakan trauma selama 24 tahun ini.




reserved
lengkap...

sy sbgai anak baru yg tidak ngerti waktu pritiwa itu terjadi (maklum mash kecil) sungguh ngeri di jaman itu, kebayang klo sy sdh spt skrg (aktifis kampus)
Kalo di PAMSWAKARSA ini apakah ada kekuatan mahasiswa? Bukan mahasiswa secara individual ya, tapi organisasi mahasiswa, baik yang intra kampus macam senat/bem atau ekstra kampus, atau resimen-resimen, apakah ada? Atau mahasiswa secara umum satu suara semua?
Quote:Original Posted By .Mekanin.
Kalo di PAMSWAKARSA ini apakah ada kekuatan mahasiswa? Bukan mahasiswa secara individual ya, tapi organisasi mahasiswa, baik yang intra kampus macam senat/bem atau ekstra kampus, atau resimen-resimen, apakah ada? Atau mahasiswa secara umum satu suara semua?


Teringat legenda FORKOT....

weleh, nanti malah OOT.
bentar2, pam swakarsa ala wiranto ini adlh slh satu penyebab awal mula munculnya FPI dkk di tanah air.... ??
agak terganggu dengan judulnya 'the great'? cuma opini aja tetap menyimak
koq baca nya seperti sekumpulan orang2 yang dipergunakan oleh para elit politik aja yah, kelewat bodoh atau kelewat nasionalis ? kesannya seperti abis manis sepah dibuang oleh sang jendral
Quote:Original Posted By gtwins2
koq baca nya seperti sekumpulan orang2 yang dipergunakan oleh para elit politik aja yah, kelewat bodoh atau kelewat nasionalis ? kesannya seperti abis manis sepah dibuang oleh sang jendral


gw rasa it is inevitable oom ditengah negara berkembang yg lagi terpuruk masalah disegala sisi sosial, ekonomi, identitas, budaya, dll. Jd lebih mudah diadu domba oleh berbagai pihak.
Quote:Original Posted By D7K
agak terganggu dengan judulnya 'the great'? cuma opini aja tetap menyimak


ini cuma thread reborn,,dan tidak mengubah judul asli threadnya

mungkin maksud TS terdahulu ingin mengatakan bahwa PAMswakarsa sangat superior
gan, ane baru pertama kali liat-liat ini. ane sih ga begitu ngerti. tapi kok rasanya dengan bikin yg beginian rasanya ada yang berusaha bikin konflik horizontal di Indonesia. (secara pamswakarsa dan warga maupun mahasiswa kan sama-sama sipil)
permisi agan2, saya mau tanya,,

katanya yang jarah2 itu dari organisasi ini juga yah?

bener gak sih?? jawabannya boleh di PM untuk mengurangi desas desus
Quote:Original Posted By ojongonole
bentar2, pam swakarsa ala wiranto ini adlh slh satu penyebab awal mula munculnya FPI dkk di tanah air.... ??


Iya kek Nya sih gt yah maksudnya kan ?
Gue sih inget fpi Ada lah bentuk an sewaktu 98 utk menahan gejolak masyarakat. Mah Pam swakarsa ini yg saya lupa namanya.
Tp skrg udah inget sih,dulu emang Ada yg namanya Pam swakarsa Kok.
Quote:Original Posted By pandu saksono
gan, ane baru pertama kali liat-liat ini. ane sih ga begitu ngerti. tapi kok rasanya dengan bikin yg beginian rasanya ada yang berusaha bikin konflik horizontal di Indonesia. (secara pamswakarsa dan warga maupun mahasiswa kan sama-sama sipil)


Bukannya kesan lagi gan. Tp emang Ada Kok dan terlihat dgn jelas buat saya malahan.

Quote:Original Posted By Jettz
permisi agan2, saya mau tanya,,

katanya yang jarah2 itu dari organisasi ini juga yah?

bener gak sih?? jawabannya boleh di PM untuk mengurangi desas desus


Hmmm,,.....agak susah cari bukti nya. Kemungkinan sudah di kubur buktinya. Kelihatan Nya memang sengaja di ciptakan. Krn memang bnyk keanehan alur kejadian waktu 98 itu
×