pokoknya jangan ada foto beredar disini..
berani lempar gambar,.. mbah kirim bata
intropeksi dan evaluasi tetap harus dilakukan walau itu melalui jalan yang menyakitkan
nyanyi dolo ah
lagu dari ambon berjudul kole kole pake bahasa belande

http://www.wahrweb.org/_songs/windisch6/037.mp3
ditunggu kelanjutan ceritanya nih gan
Quote:Original Posted By erwin.parikesit
Pergi Ceramah Naik Panser


Wah, saya tidak menyangka rupanya banyak sekali yang memantau thread ini. Terima kasih sudah meluangkan waktunya mampir membaca isi thread ini. Sub Bab yang masih kosong sebentar lagi akan diupdate.

Yang sudah mendaratkan cendolnya juga terima kasih.
Quote:Original Posted By suromenggolo
pokoknya jangan ada foto beredar disini..
berani lempar gambar,.. mbah kirim bata
intropeksi dan evaluasi tetap harus dilakukan walau itu melalui jalan yang menyakitkan


sikat mbah...hehehehhe


sekalian , kalo ada yang berani uplod foto2, ane request banned permanen :
Kursus ke Bogor

Mungkin karena saya terlalu menyibukkan diri dikantor dan diluar kantor, tidak terasa sudah hampir 3 bulan saya bertugas di Ambon. Selama itu, nyaris saya tidak pernah mengontak kawan-kawan, hanya mengabari keluarga sekadarnya saja. Namun, entah siapa yang menyebar gosip, diantara rekan-rekan S*elapa 2000 saya dikabarkan tewas tertembak di Ambon.

Suatu hari, ketika konflik tembak menembak masih terjadi di daerah no man land dan saat itu saya tengah berada di kantor, Pabandiadik Mayor Art.Mursal memanggil saya menghadap.
" Dik, kamu sudah S*elapa kan?" tanyanya.
" Siap, sudah bang! Ada petunjuk bang?"
Kemudian beliau yang juga pejabat baru di Spers menyampaikan,
" Ini, ada permintaan Kursus Bintal untuk perwira berpangkat Kapten dan Mayor yang sudah S*elapa. Kamu mau saya ajukan?"
" Siap, mau Bang. Terimakasih Bang!" ucap saya dengan gembira.
" Ya, segera kamu siap-siap, surat perintah segera saya naikkan, dalam beberapa hari ini kamu akan berangkat, jangan sampai terlambat. Silahkan kembali!"
Sayapun berteriak lantang,
" Siap, kembali!" seraya memberi penghormatan.

Selanjutnya saya melaporkan rencana kursus ke Kabintaldam, Pak Thoyse. Beliau menyambut baik dan ikut merasa senang. Mungkin Kabintaldam beranggapan dengan pergi kursus saya bisa sedikit relaks dan refreshing keluar dari daerah konflik yang semakin hari belum juga kunjung membaik keamanannya. Dan dengan berkursus keberadaan saya meningalkan Ambon lebih bisa dipertanggungjawabkan keatatasan, ketimbang saya cuti atau berlama-lama seperti yang dilakukan beberapa rekan dengan alasan tidak mau mati konyol di Ambon.

Dengan menggunakan kapal laut saya meninggalkan Ambon menuju Makassar, selanjutnya menuju Surabaya. Dari Surabaya menuju ke Bandung dengan menggunakan KA. Sampai di Bandung, langsung pulang kerumah di KPAD Geger Kalong. Setelah melepas rindu dengan keluarga, sayapun berangkat ke Bogor. Tepatnya di Pusdikziad untuk mengikuti pendidikan Kursus Tenaga Inti Pembina Mental TNI (Susgati Bintal TNI) Angkatan ke XXV.

Diantara peserta kursus, saya terbilang yunior, karena kebanyakan persertanya berpangkat Mayor dan ada juga yang Letkol. Pendidikan ini disetarakan dengan susfung, oleh karena itu salah satu persyaratan pesertanya adalah perwira yang telah mengikuti pendidikan S*elapa. Kursus ini ternyata banyak diikuti oleh pejabat Komandan Pasukan, seperti Danyon. Wadanyon, Dandenma, bahkan salah satu diantaranya tengah menjabat sebagai Dandim dan tengah bersiap-siap menduduki jabatan Kasrem, sementara yang berlatar belakang Bintal seperti saya hanya beberapa orang saja.

Setelah sekitar 2 bulan menjalani pendidikan, tepatnya sejak 27 September hingga 5 Desember 2000, Susgati Bintal TNI itupun berakhir dan ditutup secara resmi oleh KaPusbintal TNI Brigjen TNI Mismar Anas. Saya senang bisa megikuti pendidikan tersebut karena sejak itu saya telah memiliki mos pendidikan setara dengan susfung, sehingga bila sudah sampai masanya kelak dapat dipromosikan untuk menduudki jabatan Golongan V.
Aparat Yang Terbelah

Usai pendidikan Susgati Bintal TNI dan setelah beberapa hari istirahat dirumah, akhirnya saat kembali ke Ambon pun tiba. Seperti waktu lalu saat meninggalkan keluarga, istri dan anak saya justru pamit meninggalkan pelabuhan terlebih dulu. Saya dapat memahami karena mereka berat hati dan tidak mampu menahan kesedihan bila menyaksikan keberangkatan saya. Lagi-lagi tidak ada lambaian tangan dipelabuhan melepas keberangkatan saya ke daerah tugas!

Tidak sebagaimana kedatangan saya pertama kali ke Ambon yang disambut oleh suara pertempuran dan tembakan senjata serta ledakan bom dimana-mana, kali ini suasana Ambon relatif lebih aman. Dan kedatangan saya dijemput oleh adik-adik yunior dari Bintaldam seperti, Letnan Malik, Letnan Syamsul, dan Letnan Hasibuan.

Meski kondisi Ambon relatif berngsur aman namun belum benar-benar kondusif, hampir setiap malam ledakan bom masih saja terdengar, sementara itu aparat baik TNI maupun Polri masih saja terbelah dan belum dapat disatukan. Sebagaimana msyarakat umum lainnya yang hidup dalam batas daerah sesuai komunitas agamanya masing-masing, begitu juga halnya dengan aparat TNI dan Polri, belum ada yang berani bermukim diluar komunitas agamanya. Aparat kenyataannya masih terbelah dua, hanya dikantor saja mereka bersama, diluar jam kantor belum ada yang memiliki nyali untuk sekedar berkunjung ke daerah yang bukan komunitas agamanya.

Belum kompaknya aparat yang berdinas di Ambon pada saat itu, dan rentannya aparat terkontaminasi serta terlibat dalam konflik, membuat Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI I Made Yasa mengambil kebijakan untuk mendatangkan satuan elit dari ketiga angkatan yang disebut Satgas Yongab (Batalyon Gabungan yang terdiri dari personil Kopasus AD, Marinir AL, dan Korpaskhas AU). Agar Yongab tidak turut terkontaminasi dan tidak memihak pada suatu kelompok gabungan yang tengah berkonflik, maka pasukan tersebut diisolasi. Tidak ditempatkan ditengah-tengah masyarakat sebagaimana Satgas Pamrahwan lainnya. Kedekatan Satgas Pamrahwan di Maluku dengan masyarakat disamping mempunyai sisi positif ternyata juga punya sisi negatif. Terutama pada saat konflik pecah, ada kecenderungan aparat akan memihak dan membela kelompok masyarakat yang selama ini terlanjur dekat dan menyatu dengan mereka.

Dengan diisolasinya YONGAB disebuah basis camp di daerah Airsalobar, maka ia hanya akan bergerak atas perintah Pangdam. Bahkan Pangdam memberi ancaman kepada satuan atau aparat keamanan yang secara pribadi terlibat konflik, akan berhadapan langsung dengan YONGAB. Ancaman Pangdam tersebut tidak main-main dan dibuktikan Pangdam dilapangan. Operasi YONGAB terhadap Hotel Wijaya di Batu Merah untuk melumpuhkan oknum TNI/Polri yang terindikasi terlibat konflik menjadi bukti. Operasi selepas senja dilancarkan oleh YONGAB dengan mengepung semua akses keluar-masuk Hotel Wijaya. Aparat keamanan yang selain YONGAB diperintahkan menyingkir menjauh dari area sasaran. Sempat terjadi perang kota dan door to door antara YONGAB dengan oknum-oknum tersebut sebelum semuanya berhasil dilumpuhkan.

Disamping itu kebijakan Pangdam lainnya adalah menolak rencana kedatangan Satgas Bintal TNI yang sudah dipersiapkan untuk dikirim ke Ambon. Karena pengalaman Satgas Bintal TNI sebelumnya menunjukkan ketidak kompakan di lapangan. Disamping para perwira rohani tersebut rentan terpengaruh untuk berpihak pada kelompok sesuai agamanya masing-masing, pada saat konflik sebelumnya mereka menunjukkan ketidak kompakan, saling menyelamatkan diri masing-masing, dan banyak yang meningalkan Ambon duluan tanpa perintah.
Dari Senjata Hingga Istri Rakitan

Dampak sosial yang ditimbulkan oleh konflik yang terjadi di Maluku sungguh sangat memprihatinkan dan membuat miris siapa saja yang menyaksikannya. Disamping banyaknya penduduk yang mengungsi meninggalkan rumah dan kampung halaman karena musnah dibakar perusuh, jula lantara kondisi keamanan yang tidak terjamin. Nyawa bisa terancam tiba-tiba. Tidak perduli dari kelompok mana, semua merasakan penderitaan akibat konflik ini. Mereka yang Muslim, tidak lagi aman berada didaerah yang mayoritas Nasrani, begitu juga sebaliknya mereka yang Nasrani, sangat bahaya berada dikawasan yang mayoritas Muslim. Ambon benar-benar sudah terbagi dua mengikut komunitas kelompok merah dan putih. Masing-masing memperkuat kantong-kantong wilayah mereka, bersiap-siap bertahan jika ada serangan, atau siap-siap untuk menyerang.

Hidup ditempat-tempat pengungsian sungguh jauh dari kenyamanan. Disamping kurangnya air bersih, seringnya listrik mati, tinggal berdempet-dempet dalam satu ruanagan yang sempit, makanan tidaka bergizi, dan bahkan tidak pasti apa yang akan dimakan hari itu, membuat mereka yang kurang sabar, lemah iman kemudiannya bertindak nekad. Seperti menghalalkan sesuatu yang sesunguhnya tabu dan memalukan untuk memperoleh sesuap nasi guna menyambung hidup. Mungkin karena seorang kepala keluarga tidak mampu lagi memberi nafkah keluarganya lantaran tidak lagi memiliki pekerjaan dan penghasilan, sakit atau tewas akibat kerusuhan, sementara kebutuhan hidup terutama sandang dan pangan harus tetap dipenuhi setiap hari.

Tidak sedikit diantara ibu-ibu muda dan remaja-remaja putri mengambil jalan pintas untuk mendapatkan sesuap nasi, dengan mengorbankan harga diri dan kehormatannya sebagai seorang wanita. Tidak jarang hanya dengan bermodalkan semangkok Bakso dan sedikit rayuan, seorang lelaki kemudian dapat menggauli perempuan yang bukan muhrimnya. Sungguh ironis, namun itulah realitas sosial dilapangan akibat negatif yang ditimbulkan oleh konflik yang berlarut di Maluku, dimana tidak sedikit kaum wanita yang akhirnya menjadi korban dan objek kekerasan seksual.

Bila saat kerusuhan banyak beredar senjata api rakitan, maka seperti itu pula lah kira banyaknya perempuan-perempuan di Ambon yang dengan keterpaksaan atau kerelaan bersedia untuk dijadikan sebagai “istri rakitan”, terutama bagi laki-laki yang sedang bertugas di Ambon dan jauh dari istri. Baik sebagai istri rakitan dalam hitungan hari, minggu, bulan dan mungkin ada juga yang bertahan hingga tahunan. Bahkan ada yang sampai mengabaikan istri sendiri di kampung halaman akibat sudah merasa kecocokan dengan istri rakitan ini.

Pernah suatu ketika saya dikenalkan dengan seorang wanita muda dan cantik, berambut pirang bergelombang, berkulit kuning langsat, bermata dan berhidung bagus karena memang keturunan Arab Portugis plus Ambon. Malam itu saya mentraktirnya disebuah restoran, ia datang dengan mengajak seorang teman wanita muda lainnya. Beberapa menu kami santap dengan lahapnya sambil ngobrol-ngobrol akrab, Anehnya, setelah kenyang ia minta dibungkuskan sate dan beberapa makanan lainnya. Ketika membayar, tentunya saya merasa kaget, karena ternyata nominalnya cukup besar juga, sekitar Rp 75.000,-. Namun karena gengsi saya bayar tanpa ada masalah. Setelah saya menghantarkan gadis itu ke kontrakannya, sayapun kembali ke kontrakan saya dengan sedikit kesal, karena persediaan uang yang langsung menipis. Bagi saya Rp 75.000,- saat itu cukup besar, oleh karena itu saya bertekad tidak mau lagi traktir cewek yang tidak jelas.

Ketika esok hari ada rekan yang menanyakan,
“ Kok, tidak diapa-apain?” saya pun bingung. Ternyata ketika kita sudah mentraktir seorang wanita, maka sudah lumrah bila si wanita tersebut membalasnya dengan sesuatu yang tentunya menyenangkan pria yang mentraktirnya. Pantasan, semalam waktu pamit, si wanita seperti bingung dan seakan tidak percaya. Dia tidak menduga saya meninggalkannya begitu saja padahal pintu kamar sudah dibukanya dengan lebar-lebar. Entah karena faktor kondisi Ambon yang saat itu kacau balau, jelas fenomena istri rakitan dan maraknya perselingkuhan telah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja ditengah masyarakat. Tidak ada yang mencibir dan memberikan sanksi moral, sehingga mereka melakukannya tanpa rasa malu lagi. Istilah istri rakita atau maitua sementara adalah dampak langsung akibat konflik yang tidak kunjung reda.

Kondisi sosial yang memprihatinkan tersebut juga menjadi tantangan yang tidak ringan bagi prajurit yang bertugas di Ambon, baik yang organik maupun Satgas. Bagi mereka yang tidak kuat imannya dan tidak mampu mengawal hawa nafsu, maka terjadilah kasus sebagaimana yang sempat dihebohkan lewat media massa pada waktu itu. Diceritakan bahwa seorang oknum prajurit yang bertugas di Ambon ada yang "burung-nya" sampai mekar sebesar tikus akibat disuntik cairan ramuan pembesar, namun setelah itu, si "burung-nya" tidak kunjung mau mengecil, hingga membusuk dan terpaksa sang oknum prajurit di evakuasi ke Jakarta untuk dilakukan tindakan medis.

Media Yang Memihak

Ada beberapa media massa yang terdapat di Ambon saat itu, baik media cetak mupun elektronika. Dari berbagai media massa yang ada, amat sulit bagi kita menentukan sebuah media massa yang netral pada saat itu. Contohnya dalam menanggapi suatu peristiwa yang menyangkut sebuah konflik yang terjadi melibatkan dua kelompok didalamnya. Media-media yang dikelola kelompok Putih dapat dipastikan akan memberi porsi yang besar bagi kelompoknya, tidak jarang mendiskreditkan kelompok Merah dalam komentarnya. Hal yang sama juga terjadi pada media massa Kelompok Merah, akan berupaya memnagkan kelompoknya dalam liputannya.

Karena porsi beritanya sering tidak berimbang dan tidak akurat serta memihak kelompok-kelompok tertentu, maka tidaklah menherankan kemudian ada yang beranggapan bahwa di Ambin, Maluku media massa berperan serta sebagai "provokator" yang membuat persoalan-persoalan yang terjadi semakin runyam dan konflik berlarut-larut.

Ketidakberimbangan berita tersebut kadangkala dapat dimaklumi dalam kondisi Ambon yang tengah dilanda konflik tersebut. Karena mereka yang menjadi reporter pada media massa yang dikelola oleh kelompok putih misalnya, tidak mungkin akan melakukan investigasi dan mendatangi TKP yang berada diwilayah komunitas kelompok Merah. Begitu juga sebaliknya, sehingga berita yang diperoleh cenderung tidak akurat dan memihak.

Anehnya saat itu, bila berita yang ditampilkan Koran tersebut biasa-biasa saja, maka jarang ada yang membelinya. Namun bila beritanya memuat konflik yang bersifat provokatif justru peminat dan pembelinya meningkat. Saya tidak tahu apakah hal ini kemudian dijadikan sebagai salah satu trik bisnis bagi pengelola koran di Ambon, secara sengaja memuat berita-berita yang bernada provokatif sehingga korannya laris manis?

Melihat fenomena keberpihakan media massa di Ambon tersebut, terfikir oleh saya untuk merintis media dalam bentuk Buletin dan Leflet renungan yang isinya difokuskan untuk persatuan dan kedamaian Maluku, terutama persatuan dikalangan warga Kodam XVI/Pattimura. Disamping itu isinya juga adalah hal-hal yang menyejukkan dan membangkitkan rasa optimisme sehingga tidak pesimis dalam memandang konflik Maluku kedepan nya. Buletin itu saya namakan "Pelita Rohani", sedangkan leafletnya saya namai "Renungan Jum'at" untuk kalangan yang Muslim dan " Renungan Minggu" untuk yang Nasrani. Hasilnya diluar dugaan, peminat dan pembaca semakin haris emakin melonjak drastis. Ini menjadi bukti bahwa kelompok-kelompok yang bertikai di Maluku, juga menginginkan perdamaian, kehidupan yang normal, tanpa perasaan dendam. Ini hal kedua yang saya rintis setelah RRI dan TVRI tempo hari.
Fenomena Laskar Jihad

Menurut informasi lewat berbagai media massa maupun ungkapan yang saya dengar langsung dari beberapa orang yang saya temui di Ambon, pada awal konflik (1999) posisi kelompok Putih atau umat Muslim tersudut dan terusir, serta banyak yang menjadi korban. Setahun telah berlalu namun konflik belum juga menunjukkan tanda-tanda berakhir. Meski janji damai sudah beberapa kali disepakati namun ada saja yang memungkirinya, sepertinya ada pihak-pihak tertentu ynag sengaja melanggengkan konflik.

Mulanya beberapa ormas islam di Jawa, Sulawesi dan lain-lain, menyerukan umat Islam berjihad ke Maluku dengan niat untuk menekan pemerintah, agar lebih serius dan bersikap tegas dalam menuntaskan konflik di Maluku. Untuk Jakarta sebagai pusat gerakan saat itu dikordinir oleh DPP Forum Pembela Islam yang mengawali kegiatan dengan demonstrasi besar-besaran agar pemerintah melakukan tindakan nyata untuk memulihkan keamanan di Maluku. Mereka menyebut diri Laskar Jihad dan akan berangkat sendiri ke Maluku dengan alasan untuk meringankan beban penderitaan yang menimpa umat Muslim di Maluku.

Pemerintah telah berupaya memulihkan kondisi di Maluku, tapi kondisinya sudah kelewat parah dan sulit diatasi sehingga membutuhkan waktu. Mungkin karena tidak sabar, secara pribadi atau kelompok sejak Januari 2000 mereka yang menyebut dirinya Laskar Jihad berangkat ke Maluku. Mungkin yang terakhir berangkat yang satu kapal dengan saya pada JUni 2000 itu, karena setelah itu, pemerintah menyatakan menutup wilayah Maluku untuk dimasuki orang luar.

Pada awal Juni 2000 jumlahnya telah mencapai ribuan orang. Mereka datang dengan berbagai latar belakang dan profesi. Tidak semuanya dengan tujuan berperang, ada yang bergerak dibidang pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, agama, dan lain-lain sebagainya. Ada yang tua, banyak juga yang muda.

Kehadiran Laskar Jihad di Maluku tersebut telah menyemangati umat Muslim yang sebelumnya dalam posisi bertahan. Sehingga Juni dan Juli 2000 tersebut berlangsunglah apa yang disebut dengan istilah "Badai Pembalasan" kaum Muslimin. Akibatnya, luluh lantaklah beberapa wilayah yang selama ini dikuasai oleh pihak Merah. Bila dulunya kelompok Putih dikejar-kejar, dibunuh, dan pemukimannya dibakar massa, situasi sekarang berbalik. Keadaan ini sebelumnya mungkin tidak diduga oleh kelompok Merah dan simpatisan RMS yang ingin menunjukkan eksistensinya kembali.

Kondisi yang memprihatinkan tersebut membuat pihak Merah minta tlolong ke Jakarta, bahkan ke PBB sehingga pemerintah merespon dengan mengeluarkan status Darurat Sipil di wilayah Maluku dan Mauku Utara terhitung mulai 27 Juni 2000.

Ketika situasi mulai mereda, disamping Laskar Jihad tersebut tetap berjaga-jaga diperbatasan, mereka lebih banyak melakukan aksi sosial dan dakwah, sesuatu yang diperlukan dan dibutuhkan oleh masyarakat Muslim Ambon dan Maluku saat itu.
Fenomena RMS
Quote:Original Posted By madokafc


berarti ada yang salah donk waktu itu dengan pembentukan profesionalisme anggota TNI, sebagian besar mungkin disebabkan terlalu besarnya intensitas keterlibatan TNI didalam ranah politik dan sipil waktu itu dan belum jelasnya pembagian tugas antara TNI dan Polri. Yang ane agak heran, kenapa waktu itu gak langsung diterjunin pasukan TNI dalam jumlah besar dari luar daerah yang mungkin bisa dianggap lebih profesional dan tentu saja berafiliasi pada merah putih saat konflik belum membesar dan langsung diadakan darurat militer apalagi disitu disebut-sebut ada gudang Brimob yang dijarah massa.

Terus ada hukuman internal tidak buat anggota TNI yang melakukan desersi dan kabur dari kewajibannya, karena bagaimanapun juga lari dari tanggung jawab dan meninggalkan daerah konflik seharusnya diganjar dengan hukuman? Soalnya di tulisan diatas saya menangkap cerita ada beberapa perwira yang dengan alasan keamanan kembali pulang kekampung halamannya dan sebagainya. Bukannya sebagai anggota militer mereka memang sudah dikontrak mati untuk bertugas dan berdinas dengan berbagai kondisi yang ada demi NKRI ?

Terus yang saya heran dimana peran TNI AL untuk memblokade jalur laut, karena kok banyak anggota laskar jihad dan laskar tempur dari berbagai kubu yang bertikai bisa keluar masuk dari daerah konflik dengan bebasnya? Belum lagi mengenai indikasi keluar masuknya amunisi, logistik dan persenjataan yang digunakan oleh kombatan dari konflik horizontal berasal dari luar pulau itu sangat dimungkinkan kalau menggunakan jalur laut.

Tapi yang jelas konflik Ambon ini sedikit banyak harus menjadi pembelajaran faktual bagi TNI dalam membentuk profesionalismenya. Karena disini terlihat jelas bahwa rantai komando TNI itu masih sangat lemah dan rentan terhadap degradasi moral bila terjadi suatu konflik horizontal yang melibatkan faktor lingkungan dan emosi terhadap hal-hal yang berbau SARA seperti ini. Bayangkan saja ada anggota TNI yang menjadi anggota Merah dan anggota Putih disaat mereka seharusnya tetap menjadi benteng MerahPutih ditengah-tengah konflik Ambon.


Nggak ada yang salah gan dengan profesionalisme TNI ... konflik Ambon begitu cepat merambah hingga elemen terbawah masyarakat. Apalagi jika ada keluarga atau harta benda yang jadi korban.... hati siapa yang tidak menjadi panas.Untuk itu perlu sekali dipikirkan kecepatan mobilisasi aparat penegak hukum dari luar daerah dan mobilisasi aparat serta keluarganya di daerah konflik untuk bisa mengantisipasi keterlibatan emosional (just my 2 cent point of view).
Dengan mengesampingkan ada pihak2 yang mengambil keuntungan dari konflik, aparat hukum serta pejabat pengambil keputusan di daerah harus bisa mengambil kasus Ambon ini sebagai model penanganan konflik internal. Apalagi konflik SARA cukup rawan digunakan oleh kelompok tertentu untuk membuat suatu daerah membara akhir2 ini.
Terima kasih TS telah menulis dari sudut yang lebih netral. Semoga keutuhan NKRI tetap terjaga.
Wah momod harus rajin memantau thread ini nih ... agar tidak ada flamer atau junker yang rajin jadi kompor masalah SARA.
Perjanjian Malino
Satuan Tugas Mutiara
Kasiter Korem Maluku Utara
Skep Pindah dan Perintah Berangkat Haji
Selamat Tinggal Ambon Manise
Quote:Original Posted By erwin.parikesit
Aparat Yang Terbelah

Belum kompaknya aparat yang berdinas di Ambon pada saat itu, dan rentannya aparat terkontaminasi serta terlibat dalam konflik, membuat Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI I Made Yasa mengambil kebijakan untuk mendatangkan satuan elit dari ketiga angkatan yang disebut Satgas Yongab (Batalyon Gabungan yang terdiri dari personil Kopasus AD, Marinir AL, dan Korpaskhas AU). Agar Yongab tidak turut terkontaminasi dan tidak memihak pada suatu kelompok gabungan yang tengah berkonflik, maka pasukan tersebut diisolasi. Tidak ditempatkan ditengah-tengah masyarakat sebagaimana Satgas Pamrahwan lainnya. Kedekatan Satgas Pamrahwan di Maluku dengan masyarakat disamping mempunyai sisi positif ternyata juga punya sisi negatif. Terutama pada saat konflik pecah, ada kecenderungan aparat akan memihak dan membela kelompok masyarakat yang selama ini terlanjur dekat dan menyatu dengan mereka.

Dengan diisolasinya YONGAB disebuah basis camp di daerah Airsalobar, maka ia hanya akan bergerak atas perintah Pangdam. Bahkan Pangdam memberi ancaman kepada satuan atau aparat keamanan yang secara pribadi terlibat konflik, akan berhadapan langsung dengan YONGAB. Ancaman Pangdam tersebut tidak main-main dan dibuktikan Pangdam dilapangan. Operasi YONGAB terhadap Hotel Wijaya di Batu Merah untuk melumpuhkan oknum TNI/Polri yang terindikasi terlibat konflik menjadi bukti. Operasi selepas senja dilancarkan oleh YONGAB dengan mengepung semua akses keluar-masuk Hotel Wijaya. Aparat keamanan yang selain YONGAB diperintahkan menyingkir menjauh dari area sasaran. Sempat terjadi perang kota dan door to door antara YONGAB dengan oknum-oknum tersebut sebelum semuanya berhasil dilumpuhkan.



ane pernah baca dari kaskus juga mengenai strategi ini dulu....dan memang efektif melibas sniper-sniper yang bersemayam di atas gedung...
nggak peduli dari satuan apapun itu...kalau dah terlibat dalam konflik SARA dan kehilangan netralitas langsung di "sekolahkan" ama YONGAB

kalau di angkatan bersenjata jerman pada WWII...YONGAB ini dah kayak waffen SS...kalau dah kehilangan loyalitas kepada satuan dan negara, langsung libas

lanjut ceritanya gan
tks bro erwin untuk sharenya yang sangat manfaat..
ceritanya..bermanfaat banget untuk ane yang "buta" kondisi real disana..krna byk brta yang gembar-gembornya memihak salah satu pihak jadinya bingung mana yang benar