Wong Pare Dadi Jenderal

Kita bertemu lagi dengan Biografi/Tulisan/Artikel berikutnya. Kali ini saya mengangkat kisah dengan judul " Wong Pare Dadi Jenderal ", sebuah otobiografi dari mantan KASAD Periode 2008-2009, Jenderal TNI Purn. Agustadi Sasongko Purnomo, terbitan Dinas Penerangan Angkatan Darat 2009.

Sekali lagi saya tidak akan mengutip semua secara keseluruhan 100 persen dari buku tersebut, cuma men-share apa-apa yang berkaitan dengan peristiwa/sejarah, taktis kemiliteran, dan pandangan, juga karir beliau secara ringkasnya.

Yang pernah/sudah membaca buku tersebut, anggap saja ketikan dithread ini sebagai penyegaran kembali, semoga sedikit sebanyak kita dapat memetik pelajaran yang bermanfaat dari thread ini. Selamat membaca.





Kehidupan Taruna AKABRI sebagai Pilihan

Agustadi Sasongko Purnomo termasuk anak yang terbiasa mandiri dengan usaha jualan layang-layang, bensin, beras, kain jarik untuk sekadar menghasilkan uang sendiri semasa masih kecil sampai remaja. Dia rajin menabung. Berkat kegemarannya menabung, maka ketika lulus dari SMA Negeri 1 Pare tahun 1970, nilai tabungannya berjumlah Rp 25.000. Jumlah yang cukup banyak pada jaman itu. Berbekal uang tabungan tersebut, kemudian oleh ibunya dimanfaatkan untuk kebutuhan pendaftaran AKABRI di Ajendam VIII/Brawijaya yang berlokasi di Jl. Sawahan No.58-60 Malang.

Pada mulanya ia ditawari oleh tantenya, seorang Dosen IKIP untuk meneruskan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dengan pertimbangan Aguk (nama panggilannya) tergolong anak yang cerdas dengan nilai selalu diatas rata-rata. Nmaun, hati nurani Aguk sudah mantap memauski dunia kemiliteran.

Menjadi seorang militer tidaklah mudah, banyak pemuda yang senang tapi kadang tidak memenuhi persyaratan. Namun kenyataan seperti itu tidak berlaku bagi Aguk yang kalem ini, ia mempunyai keinginan masuk kedunia militer dan langsung diterima pada kesempatan pertama. Putra Purnawirawan Kolonel tersebut mengikuti pendaftaran Taruna AKABRI tanggal 12 Agustus 1970.

Pilihan menjadi Taruna bukan karena dorongan keluarga atau orang lain, namun lebih karena dorongan hati nurani. Keniginanya ditunjang dengan doa restu orang tua dan menjadi modal utama untuk mengikuti seleksi penerimaan Calon Prajurit Taruna AKABRI 1970. Setelah menjalani Tes Jasmani, Mental Ideologi dan Psikologi, baik Panitia Seleksi Dearah maupun Panitia Seleksi Pusat, akhirnya pada saat Pantukhir, Aguk dinyatakan lulus pada kesempatan pertama.

Penerimaan Calon Taruna AKABRI merupakan bagian dari penyediaan tenaga yang bertujuan untuk mencapai sasaran kekuatan dengan memilih warga negara untuk dijadikan prajurit yang berkualitas. Mekanisme penerimaan diatur oleh Dephankam/ABRI meliputi Panitia Penerimaan Tingkat Dearah dan Pusat. Ketika Aguk mendaftar tahun 1970, para calon taruna yang lulus dari seleksi Komisi Werving ditingkat daerah, yang diketuai oleh Pangdam dan diikuti oleh tingkat pusat yang diketuai oleh Aspersman. Kemudian selanjutnya mengikuti seleksi akhir yang diketuai oleh Danjen AKABRI, Staf Personel Hankam, Angkatan/Polri dan AKABRI sebagai anggota dewan.

Sebelum mengikuti pendidikan, Aguk terlebih dulu berpamitan dan memohon doa restu kepada orang tuanya serta saudara-saudaranya. Keberangkatannya diantar oleh keluarga melalui rute Ringin Budho Pare, naik oplet ke Jombang, dan selanjutnya pindah naik ke KA menuju Yogyakarta karena pada masa itu angkutan langsung ke Magelang belum ada.

Kehidupan Taruna
Aguk akhirnya diterima menjadi Taruna AKABRI bagian Darat, dan digembleng di Lembaga Pendidikan Akademi Militer yang berlokasi di Magelang. Kehidupan tarunanya biasa-biasa saja, sebagaimana lazimnya para taruna lainnya. Namun dalam bidang prestasi dan kepribadian ada yang berbeda dalam diri Aguk. Ketika masih pendidikan dasar (Capratar) Aguk meraih prestasi terbaik dalam pelajaran ilmu medan. Ceritanya, pada saat latihan Kompas Medan sesampainya di finish ada 2 bendera, satu merah dan yang satunya putih. Ketika ditanya oleh Batih, Aguk menjawab posisinya "16 meter sebelah kanan bendera putih". Kebetulan hari itu tanggal 16 Maret dan bertepatan dengan hari ulang tahun adiknya. Oleh pelatih dinyatakan benar dengan nilai 100.

Aguk bukan tipe Taruna yang suka belajar sebagaimana lazimnya taruna lain, maksudnya belajar sesuai jadwal. Kegiatan yang dilakukan sehabis apel malam adalah langsung tidur. Ketika teman-temannya sudah tertidur pulas, jam 02.00 ia bangun, sholat tahajjud, selanjutnya belajar sampai jam 05.00. Hal semacam ini terbiasa dilakukan sampai mengikuti Sussarcabif.

Ada cerita menarik yang terjadi pada saat Tingkat I, ditunjuk oleh Pelatih TBI (Taktik Bertempur Infanteri) dalam latihan gerakan perorangan, Aguk diberi peluru hampa dengan senjata Garrand kemudian diperintahkan untuk memberikan tembakan saat serangan, namun tiba-tiba teman sebaraknya yang bernama Solikhin Effendi ingin juga melakukan tembakan, maka direbutlah senjata Garrand dari tangan Aguk. Alhasil senjata tersebut meledak dan mengenai dagunya. Karena peluru hampa dan berisi lilin sehingga lilin tersebut menempel didagunya. Ketika lilin dicabuti dari dagunya darah berceceran keluar, Solikhin meringis kesakitan.

Ketika Tingkat II banyak cerita tentang taruna Aguk. Diantaranya tatkala latihan Pramuka Yudha di Plempungan. Selesai gerakan ia menemukan 1 butir peluru 9mm. Dankinya pada saat itu Lettu Inf. Djamari Chaniago (Pensiun Letjen TNI), sedangkan Dantonnya Silvanus Nababan. Danton ini terkenal galak dan suka ngamplengan. Selesai latihan diberikan waktu istirahat siang jam 14.00, namun ketika Aguk mencoba-coba peluru yang ditemukan ternyata meledak, hampir menembus kepala Sersan Taruna Dermo. Akibat ulahnya, Aguk dikemplangi dan dihukum merayap punggung sejauh 600m, jungkir 600m bolak balik di lapbak. Kalau dihitung-hitung, total jaraknya menjadi 2.400m!

Cerita lain, pada suatu sore sekitar jam 16.00 latihan tinju. Aguk bercanda dengan teman-temannya termasuk Sertar Prapto, tinju tangannya dibungkus handuk dan bertinju-tinjuan dengan Prapto (Pensiun Mayjen TNI di BIN). Alhasil, ia tidak sengaja menonjok Prapto tepat pada gigi depannya sehingga patah. Jadilah Aguk dihukum menghadap Mayor.

Walau begitu, Sersan Taruna Aguk tergolong pintar. Tidak hanya pelanggarannya saja yang menonjol. Buktinya, ketika menjadi Danru pernyergapan ia mendapat nilai bagus cara memberi perintah operasi (PO), sehingga diberi hadiah minum kacang hijau.

Tingkat III Aguk mempunya teman yang bagus-bagus. Artinya, saling bersaing secara sehat. Suatu ketika latihan speed-mars ,Taruna Suprapto ambisi menyaingi Aguk. Ia memang tipe taruna yang ambisius. Saat speed mars di Glagah, Magelang, Suprapto dibelakang Aguk dan berusaha mendahului. Waktu dibelokan, Aguk lari dan pelatih tidak melihatnya. Melihat Aguk lari, Taruna Suprapto mengikuti lari juga dengan maksud tidak ketinggalan jauh. Apesnya pelatih melihatnya, sehingga ia disuruh jalan jongkok, 10 meter sebelum garis finish, Suprapto pingsan.
Alumnus Terbaik Tahun 1974
Setelah mengikuti pendidikan selama 4 tahun sampailah pada hari yang dinantikan, yaitu pelantikan perwira. Siang hari, Danyon nya Letkol Kav. Setyana yang berkumis tebal memanggil Aguk melalui staf PNS-nya. Disampaikan olehnya,
" Sermatar Agustadi dipanggil Danyon!"
Maka segeralah ia berlari menghadap.
Waktu menghadap, Danyon menatap heran, kemudian bertanya ke PNS-nya,
" Kamu gak keliru?"
" Siap, tidak Komandan!"
Kemudian bertanya tinggi dan berat badan Aguk. Dijawab,
" Siap, tinggi 163cm, berat 60kg!"
" Ok, saya kira bukan kamu" komentar Danyon
Karena masih belum yakin lagi, Danyon bertanya lagi,
" No Akademimu berapa?"
" Siap, Nomor Akademi 710364!"
Selanjutnya Danyon mengeluarkan perintah lisan,
" Besok menghadap Aspers jam 07.00!"

Besok harinya Aguk menghadap Aspers sesuai perintah, petunjuk Aspers "Gladi bersih menerima Adimakayasa". Karena seakan tidak percaya, Sermatar Aguk mohon ijin kepada Aspers agar perintahnya diulang. Dijawab Aspers, "Menerima Adimakayasa".
Bagi Aguk, tidak terpikir sama sekali oleh dirinya akan menerima penghargaan Adimakayasa.

Saat pelantikan perwira, yang dilantik diantaranya Prabowo Subianto, lulus dengan nomor urut 7. Peristiwa mengharukan ketika Aguk laporan:
" Nama, Agustadi Sasongko Purnomo, Nrp.27080.!"
Dari tempat yang jauh, bapaknya yang hadir berada dibawha tenda mendengarkan laporan anaknya menangis terharu, karena Nrp tiga angka dibelakang sama dengan sang Kolonel Purn, 10080.
Sussarcabif dan Paja Brigif Linud 17 Kostrad
Lulus AKABRI Darat tahun 1974 dengan predikat Adimakayasa, Letna Dua Infanteri Agustadi Sasongko Purnomo, Nrp.27080 langsung mengikuti Sussarcabif. Pendidikan Sussarcabif kebetulan bebas pesiar, sehingga Aguk main terus. Akibatnya saat pengumuman awal rankingnya ke-3. Rangking 1 dan 2 diduduki dari Capa. Hal ini langsung direspon oleh Korps Kediri yang berjumlah 11 orang untuk kumpul segera. Keputusannya hanya satu, ditujukan kepada Aguk. Kawan-kawannya berkata,
" Gus, kamu selaku penyandang Adimakayasa malu dapat urutan ke-3, sekarang kamu tidak boleh pesiar untuk mengejar nilai".

Keputusan Korps Kediri ditaati oleh Aguk. Setelah perkembangan 3 bulan dan penutupan Sussarcabif, akhirnya ia menduduki ranking 1 namun tidak menerima sangkur perak kareena nilai rata-ratanya 84.7, seharusnya rata-rata 85.0 sehingga kurang 0.3.

Analisa Pemeriksaan Psikologi terhadap Letda Inf. Agus Sasongko Purnomo yang dilakukan oleh Dinas Psikologi Angkatan Darat :
Tergolong cerdas, dengan pemikiran aspek-aspek kecerdasan yang merata. Mampu berfikir secara abstrak konseptual dan tetap dapat mengimplementasikan pemikirannya tersebut secara praktis dalam aktivitas sehari-hari. Daya analisa yang tajam dan saat menyelesaikan masalah kreatif serta mampu mencari berbagai alternatif penyelesaian masalah. Meskipun cenderung hati-hati, dapat mengambil keputusan yang relevan serta dapat menguraikan argumentasinya secara logis dan sistematis. Dengan kemampuan berpikir sedemikian, diperkirakan mampu menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan organisasi yang bersifat komplek, strategis dan memiliki dampak terhadap keberlangsungan organisasi dimasa mendatang.

Selesai Sussarcabif, ditugaskan di kesatuan Kostrad. Terhitung tanggal 1 Juli 1975 ditugaskan ke kesatuan tempur Yonif 305/Tengkorak dengan jabatan sebagai Komandan Peleton. Tahun 1975, yonif 305/Tengkorak baru saja pindah dislokasinya dari Tarogong Garut ke Teluk Jambe Karawang.

Disatuan baru, Letda Inf. Agustadi Sasongko Purnomo dipercaya menjadi Danton 3/A/305/17 Kostrad. Akhir September 1975 mendapat kesempatan mengikuti Diksar Para di Batujajar. Sebelum mendapatkan Wing Para, tatkala keluar masuk Yonif Linud 328/Dirgahayu tidak dihormati, tapi setelah memilik Wing ia dihormati, sehingga terasa kaget. Ternyata itulah tradisi Satuan Lintas Udara Brigade Infanteri 17 Kostrad.
Terjun Tempur Di Timor Timur
Selaku Danton, pekerjaannya banyak dan selalu mengikuti lomba peleton. Satu hari ketika mengikuti Ton Yudha Wastu Pramuka Jaya dari pusaka Ratu - Cikampek dengan jarak 25km, pagi itu tiba-tiba datang Lettu CPM mendekati dan memerintah,
" Ikut aku !"
Kemudian dibawa naik jeep ke asrama dan disuruh mengemasi barang-barangnya. Setelah dikemasi, selanjutnya dititipkan ke Korum Yonif Linud 305/Tengkorak.

Selanjutnya Aguk menghadap Danki A Kapten Inf. Shaleh, saat itu tanggal 3 Desember 1975. Petunjuknya sebagai Danton Kipan A/328, Batonnya adalah Sersan Tardi. Ia menyerahkan payung dan senjata yang masih dalam kotak. Anggota tonnya kebanyakanya orang Sunda, sehingga ia bertanya, "kumaha?". Sebagai Danton, ia dibekali amunisi 400 butir, logistik untuk 4 hari. Selanjutnya bertanya pada Baton,
" Masuk tentara tahun berapa?"
" Siap 1957 Komandan!"
" Pengalaman operasi?"
" Siap, PRRI/Permesta, Trikora, Dwikora, Penumpasan DI/TII!".
Ternyata anggotanya banyak yang sudah kenyang pengalaman tempur, namun komunikasi bahasa Indonesia kurang lancar. Mereka pandai mendeteksi musuh, dengan cara mencium dedaunan sebagai akan ada kontak atau tidak. Nah, untuk mengimbangi kehebatan para anggotanya, Aguk menggunakan referensi "Buku Primbon Adamakna".

Keberangkatan ke Timor Timur berdasarkan Surat Telegram Kasad nomor :STR/116/1975 tanggal 4 Desember 1975 tentang realisasi susunan tempur KOGASGAB SEROJA dan perintah untuk memperkuat susunan tempur KOGASGAB. Radiogram Pangkostrad nomor : TR/700/1975 tanggal 4 Desember 1975 tentang Pemberangkatan Brigif Linud 17/Kujang 1 Kostrad kedaerah operasi dan BP kepada Pangkogasgab Seroja.

Berdasarkan surat tugas diatas, maka pada tanggal 9 Desember 1975 terjun pertama kali ke timor Timur melaksanakan Operasi Serbuan Linud dalam satuan Yonif Linud 328/Dirgahayu. Didalam pesawat, sebelum terjun, nampak wajah-wajah mereka banyak yang takut, kumis meleleh. Untuk membangkitkan semangat tempur anggotanya, Aguk memerintahkan untuk menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung. Tamtamanya yang bernama Suharno belum pernah terjun, sehingga diperintahkan untuk menempelnya, jangan lebih dari 5 meter jaraknya.

Setelah mendarat ternyata sepi sekali, anggota banyak yang tercecer, terpisah, banyak yang cedera kaki. Dapat berkumpul pertama kekuatan 7 orang dari berbagai satuan. Aguk memerintahkan Kopralnya untuk mengaku sebagai Danton dan memerintahkan anggota dari berbagai satuan untuk berkumpul. Dia wajahnya lebih tua sehingga dipercaya, kalau Aguk masih sangat muda.

Peristiwa menarik ketika Agus tugas tempur di Timor Timur, yaitu waktu adiknya Bambang Setiawan sedang mengikuti proses seleksi penerimaan Taruna AKABRI Tingkat Pusat. Tiba-tiba orang tuanya menerima surat dari Kodim Kediri yang isinya, prajurit Agus Purnomo gugur terkena tembakan musuh. Sementara anak pertamanya, kakak Agus, Lettu Inf Ekanesti Aprilyanto (Pensiun Kolonel Inf.) juga sedang tugas tempur di Timor Timur. Mendapat kabar buruk ini, orang tua Aguk memutuskan agar Bambang Setyawan mengundurkan diri dari seleksi Pantukhir AKABRI. Bambang awalnya keberatan, namun demi orang tua dengan berat hati akhirnya ia mengundurkan diri. Setelah itu ada berita susulan dari Kodim Kediri yang mengabarkan bahwa yang gugur adalah salah alamat, bukan Agustadi Sasongko Purnomo, melainkan Agus Purnomo. Sama-sama beralamat Kediri.

Didaerah operasi Timor Timur, pada 16 Desember 1975, Aguk selaku Danton 3 Kompi A Yonif 328 melakukan persiapan serangan ke Vamasse, dalam hubungan Kompi untuk melakukan patroli pengintaian dengan sasaran jembatan Maoleden. Esok harinya, pada jam 04.00 WIT patroli tersebut berhasil menyergap pos musuh yang berkekuatan 15 orang dan menewaskannya.

Selanjutnya, 22 Desember 1975, gerakan Kompi dilanjutkan kearah barat untuk merebut, menduduki dan mempertahankan kota Manatuto dengan menyusun pemerintahan sementara dikota tersebut. Rencana gerakan berikutnya adalah merebut dan membersihkan kota Lalea yang diduduki musuh dengan kekuatan 1 Peleton. Setelah melakukan proses perkiraan yang cepat, lalu diputuskan akan didlakukan serangan Batalyon dengan serangan pokok disebelah kiri oleh Kompi C, dan disebelah kanan oleh Kompi B. Sedangkan jam "J" pukul 1100. Pada saat melintasi sungai Lalea (lebar 500 meter), Kipan C terhambat, Danton nya gugur tertembak musuh. Kipan B berhasil menembus dari sayap kanan sampai masuk kota, puluhan mayat musuh bergelimpangan tertembak atau terkena mortir. Dalam perebutan kota Manatuto tidak ada pertempuran dalam kota, karena sisa-sisa musuh sudah kabur meninggalkan kota. Kota Manatuto dikuasai TNI.

1 Tahun bertugas di Timor Timur kemudian kembali ke kesatuan di Cilodong- Jawa Barat, Batalyon Infanteri Lintas Udara 328/Dirgahayu dengan jabatan Komandan Peleton 3 Kompi A terhitung mulai 1 Oktober 1976.

Dari hasil pengamatannya sejak awal tanggal 3 Desember 1975, di Markas Yonif Linud 328/17/Kostrad dalam rangka serbuan Linud ke Timor Timur, ada hal-hal yang perlu menjadi catatan bagi satuan Linud.

Pertama, persiapan satuan operasi terkesan terburu-buru waktu sehingga tidak sempurna, indikasinya :
a. Personil satuan operasi (Yonif 328) tidak lengkap, kebutuhan terpaksa dipenuhi dari satuan Linud lainnya (dari Yonif 305,330, dan Mabrigif 17 sendiri).
b. Senjata yang digunakan masih baru (M16A1). Masih dalam kotak tersegel, sehingga prajurit tidak sempat "dasar senapan". Bahkan sebagian besar prajurit banyak yang tidak paham seluk beluk senapan M16A1.
c. Sarana angkutan udara terbatas, sehingga ada penggunaan pesawat komersial Fokker-28.
d. Marshalling Area di Madiun dan Kupang tidak siap betul (seadanya).
e. Data intelijen pendukung operasi serbuan linud ke Dilli dan Baucau tidak akurat, sehingga banyak jatuh korban.
f. Prajurit Linud yang diterjunkan di Dilli terkesan tidak profesional, banyak terjadi "salah lirik" dan baku tembak anta kawan, mungkin karena cuaca gelap saat itu, akibatnya banyak jatuh korban sia-sia.
g. 1 Kompi Kopasandha yang tidak di drop di Dilli, karena alasan 2 Jump Masternya tertembak (gugur) dari bawah, sementara pesawat Hercules banyak lubang tertembus peluru. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap dinamika operasi dan moril prajurit lainnya.
h. Operasi Serbuan Linud di Lapangan Terbang Villa Salazar Baucau dilaksanakan pada tanggal 9 Desemeber 1975, pukul 0900, sementara operasi Amfibi Marinir TNI-AL di Laga dan Pantai Baucau tanggal 8 Desember 1975, pukul 1800. Dari segi taktik maka hal ini dinilai kurang tepat, karena musuh yang dipukul oleh Marinir dalam operasi Amfibi mundur kearah selatan (Venilale) melalui Lapangan Terbang dan bertahan secara kuat diketinggian selatan Lapangan Terbang (di Letter S). Akibatnya, Yonif Linud 328 mendapatkan perlawanan yang ringan dalam perebutan Lapter Villa Salazar, sementara Yonif Linud 330 yang melalui Air Landed melalui pertempuran berdarah-darah yang sengit. Banyak personilnya yang gugur disini.

Operasi Serbuan Linud yang dilakukan TNI saat itu, adalah operasi linud terbesar (dengan jumlah yang terjun lebih kurang 4000 personil) setelah Operasi Merdeka di Padang dan Operasi Mandala di Irian Barat.
nambahin....
"ketika udah jadi KSAD, pak agus dapet penyematan wing kehormatan dari TNI AU.. naek pesawat F-16/B adalh salah satu proses pembaptisannya, pak agus duduk di kursi navigator. ketika track sudah dibuat dan dipaparkan di LANUD Isahjudi tiba tiba pak agus nyeletuk... bisa lewat rumah saya ndak?"
"alhasil pilot2 yg sudah bikin track harus ngrubah lagi dan nyari koordinat rumahnya pak agus dimana tepatnya..."
"setelah retracking... dan siap take-off, akhirnya pak agus nelpon dulu orang rumah.." "eh aku arep nyetir montor mabur jet... podo ndelok yoh! iki wes arep mangkat, ...iyo mengko tak nyetir sing rendah wes..."

sumber. ADC Jend.TNI Agustadi S
Tour of Duty ke Dua di Timor Timur
Pada tahun 1978, berangkat lagi untuk penugasan kedua kalinya ke Timor Timur. Dengan tetap berbekalkan buku Primbon sebagai pegangan bila akan bergerak di daerah operasi, misalnya jam sekian hidup atau mati, hati-hati dalam kontak. Ramalan-ramalan buku primbon tersebut ternyata banyak cocoknya, sehingga anggota banyak yang menurut atau patuh pada petunjukknya. Dengan referensi buku tersebut, Aguk dikenal dan disegani dikalangan prajurit Yonif Linud 328/Dirgahayu, 305/Tengkorak, dan 330/Tri Dharma.

Tugas pertama yang dibebankan adalah merebut dan menghancurkan Fahimehan, Alas, dan Fatoberliu Komplek. Dilanjutkan dengan merebut sasaran Matabean Komplek. Disini, komposisi kekuatan GPK terdiri dari Tropaz, Milisi, dan Secundalina dengan perkiraan jumlah senjata 274 pucuk. Sasaran lain adalah merebut sektor tengah utara GPK dari Brigade Choqeu sebagai pasukan komando dengan perkiraan kekuatan senjata 500 pucuk.

Langkah yang ditempuh oleh Kompi A dengan melakukan pengintaian visual terhadap Lororete KV 8739 dari KTG 1362, Fahisoi dari KTG 1343. Kemudian kelompok Kompi Bantuan bersama Kotis Yon bergerak bersama Kompi A. Selanjutnya Mo.81 ditempatkan di Sabona bersama Kompi C memberikan bantuan untuk tembakan senjata lintas lengkung atas sasaran Faninia dan Derohati.

Ketinggian tersebut pada akhirnya dapat direbut setelah Kompi A dapat merebut KTG 1219 pada tanggal 12 Juli 1978. Kemudian tanggal 24 Juli 1978 merebut Lilitei dan Fadanara dengan mendapat perkuatan 1 Peleton dari Kompi C. Hasil daripada operasi ini, 13 orang GPK tewas, 2 pucuk senjata direbut. amunisi, logistik, sepatu, dan magazen di dapatkan.

Suatu ketika, dalam pertempuran Kompi C yang dipimpin Kapten Inf. Syaiful Islam, Dantonnya gugur satu, dan minta bantuan ke Kotis Yon. Kotis menggerakkan peleton Aguk yang tidak jauh dari lokasi untuk merapat kesana. Aguk memerintahkan anggotanya bergerak cepat kesasaran dengan sandi "Biru Dua Datang...Biru Datang Ganti.." yang disampaikan melalui radio PRC. Ternyata sandi ini meningkatkan moril pasukan, sehingga Peleton yang mau tuspur (memutuskan pertempuran) tidak jadi mundur.

Dalam perkembangan selanjutnya, Danki C mengumpulkan para Danton dan memberi Perintah Operasi (PO) serangan malam. Ketika itu, Peleton Aguk di BKO di Kompi C. Ketika rencana berangkat, para Danton ditanya kesiapannya, tetapi banyak yang beralasan, sehingga hanya Peleton Aguk yang diperintahkan berangkat.

Dankipan C/328 Kapten Inf. Syaiful Islam bertanya kepada Aguk,
" Jam berapa berangkat?"
" Maaf Komandan, kalau untuk urusan jam berangkat belum bisa saya jawab sekarang, nanti saja jam 2200 saya akan laporkan kembali".
Tepat pukul 2200 Aguk melaporkan rencana keberangkatannya kepada Danki, yaitu pukul 00.03 (dua belas lewat tiga menit).
Danki bertanya,:
" Kenapa mestti lewat tiga menit?"
" Mbah bilang begitu Komandan, mohon doa restunya semoga berhasil"
Dankipan C/328 hanya terdiam.

Tepat pukul 00.03 Aguk bersama 20 orang prajuritnya berangkat menuju sasaran penyergapan di Ossoliro, dengan perhitungan taktis bahwa pada tengah malam musuh pasti sudah tertidur lelap.
Pada saat serangan malam, sektor kiri dipimpin oleh Lettu Inf. Sjamsul Mappareppa (Pensiun Mayjen). Ketika sudah dekat saran yang jaraknya 500 meter, gerakan peleton diperlambat. Kemudian Aguk menyampaikan berita kepada Sjamsul bahw amusuh berkedudukan di kampung Osoliro Matabean berbaur dengan rakyat, nanti kalau peleton saya merebut Ossoliro pasti musuh akan meloloskan diri ramai-ramai keraah Peleton 1/C/328 (Peleton Sjamsul). Musuh pasti akan berusaha menembus sektor kiri Kipan C/328. Bila butuh bantuan, segera tembakkan flare nanti Aguk akan membantu dengan tembakan SMR-M60.

Ternyata perkiraan taktis Aguk benar. Setelah melalui pertempuran sengit dan berhasil merenut Ossoliro, kekuatan musuh turun jurang ke arah kiri, berusaha menembus pertahanan Peleton Sjamsul. Setelah melihat isyarat flare dari Peleton Sjamsul, dengan sigap Aguk mengambil SMR-M60, diarahkan kedepan pertahanan Peleton Sjamsul. Musuh makin terdesak, dan memutuskan untuk turun jurang menuju Pos Marinir 10 di Quilicai. Malam itu, anggota Marinir disana turut berpesta ria. Musuh habis tidak tersisa. Dengan dikuasainya bukit Ossoliro, gerakan Yonif 328 ke depan semakin terbuka lebar dan lancar.

Dalam mengemban tugas operasi di Timor Timur, ia selalu dapat melaksanakan tugas dengan baik dan anggotanya mempunyai sugesti serta kepercayaan padanya, bahwa kalau bertugas dengan Lettu Inf. Agustadi Sasongko Purnomo, pasti akan berhasil!.

Setahun melaksanakan tugas tempur di Timor Timur, akhirnya pada 1979 kembali lagi kepangkalan satuannya. Selanjutnya pada tahun 1980 bersama Kapten Inf. Soesilo Bambang Yudhoyono ikut Latgab yang dipimpin oleh Jenderal Edy Sudradjat. Latgab ABRI 1980 menggunakan medan latihan Timor Timur, Maluku, dan Papua.

Setahun kemudian, menjadi Kapten Inf. dengan jabatan baru Kasi Pers-3/Pers/328/17, berangkat lagi ke Timor Timur dalam Kompi Kujang Teritorial Intelijen Kombat (KUTERINBAT) dengan jawabatan Wakil Komandan Kompi.
Mengawaki Kompi Khusus Kuterinbat
Kuterinbat adalah teori taktik yang diuji coba di Timor Timur pada tahun 1981. Teori taktik ini berasal dari mantan Komandan Brigif Linud 17 Kostrad, Mayjen M.Sanif sewaktu menjabat Asisten Operasi Mabes ABRI. Beliau melihat hasil-hasil operasi pasukan TNI yang berada di Timor Timur saat itu belum menunjukkan hasil yang maksimal. Berangkat dari pengalaman masa lalunya ketika memimpin berbagai operasi tempur, tercetuslah ide untuk melakukan ujicoba kembali suatu konsep operasi yang sudah berulang kali beliau laksanakan di daerah-daerah operasi lainnya, dan berhasil.

Dulu, Kuterinbat ini adalah kemampuan atau keterampilan yang wajib dilatihkan kepada setiap prajurit Kujang 1, dan telah terbukti dengan baik. Dimanapun prajurit jajaran Kujang 1 tang memiliki kemampuan tadi ditugaskan, yaitu Yonif Linud 305/Tengkorak, Yonif Linud 328/Dirgahayu, dan Yonif Linud 330/Tri Dharma, selalu berhasil dalam operasi-operasi yang dibebankan kepada mereka. Misalnya, operasi penumpasan DI/TII, PGRS Paraku, dan sebagainya. Kemudian yang paling khas untuk operasi teritorial dan intelijennya dijalankan bersama-sama yang kemudian biasa dikenal dengan sebutan adu bako.

Hanya sayangnya, untuk tahun-tahun selanjutnya, setelah berkurangnya operasi-operasi militer, kemampuan dan keterampilan ini dilupakan dan tidak dimanfaatkan lagi. Bahkan kemudian tidak lagi diprogramkan dan dilatihkan, sehingga pernah menghilang di agenda jajaran Kujang 1 sendiri. Sampai akhirnya Mayjen M. Sanif mencetuskan kembali gagasan baru untuk menggunakan pola operasi Kuterinbat di Timor Timur.

Untuk mewujudkan gagasan ini, Mabes ABRI menunjuk Brigif Linud 17 Kujang via Kostrad, agar menyiapkan satu satuan setingkat Kompi yang maish memiliki pengetahuan keterampilan dan kemampuan Kuterinbat untuk ditugaskan di Timor Timur. Adapun susunan operasi Kuterinbat ini berjumlah 150 orang, yang terdiri dari :
a. Pok Koki : Dari Mabrigif Linud 17 Kujang
b. Danki : Kapten Inf. Adam Damiri (Pensiun Mayjen TNI)
c. Wadanki : Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo
d. Anggota :
1) Dari Yonif Linud 305/Tengkorak sebanyak 2 Regu Senapan, Regu 1 dipimpin Serda Slamet Sudjarwo, Regu 2 dipimpin Serda Suharyono.
2) Dari Yonif Linud 328/Dirgahayu sebanyak 1 Peleton dengan Danton Letda Inf.M.Hafid yang membawahi 3 Regu Senapan.
3) Dari Yonif Linud 330/Tri Dharma sebanyak 1 Peleton dengan Danton Lettu Inf. Toni SB. Husodo membawahi 3 Regu Senapan.

Kronologi penunjukan Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo sebagai Wadanki adalah sebagai berikut :
Ketika itu tahun 1981 ia menjabat sebagai Kasi 3/Pers/328/17, Danyonif Linud 328/Dirgahayu dijabat Letkol Inf.Firdaus Jamal, sedangkan sopirnya bernama Abdullah. Dipanggil menghadap Pangdiv 1 Brigjen Faisal Tandjung, ditanya oleh beliau,
" Siapa Perwira di 328 yang jago perang?"
" Siap, Kasi Pers, Kapten Agustadi Sasongko Purnomo!" jawab Abdullah.
Maka dipanggila Aguk menghadap Pangdiv-1.
" Kamu, Agustadi, jago perang!"
" Siap Panglima!" jawab Aguk.
" Kamu si jago perang, kamu persiapkan dirimu ikut pemilihan Komandan Kuterinbat!"
" Siap, kerjakan!"
Alhasil, Danki dijabat oleh Kapten Inf. Adam Damiri, sedangkan Wadanki dijabat oleh Aguk. Kompi ini semacam satuan anti gerilya dengan kualifikasi Raiders. Setelah menerima petunjuk perencanaan (jukcan) dari Komandan, ia langsung mengumpulkan keterangan dan mempelajari daerah selama 7 hari.

Proses pemilihan anggota Kuterinbat cukup unik, yaitu diawali dengan apel Batalyon yang diambil oleh Kasipers, Kapten Inf. Agustadi Sasongko Purnomo. Kemudian para anggota ditanya oleh Aguk,
" Siapa yang mau mati di Timor-Timur?"
Tantangan itu direspon para Kopral dan Tamtama dengan mengangkat tangan secara serentak. Ini menunjukkan semangat dan kesediaan mereka secara ikhlas. Intinya para anggota mempunyai sugesti dan percaya kepada Komandannya yang pernah beberapa kali bertugas disana dan berhasil, pulang dengan selamat. Ternyata, Aguk memilih prajurit yang bandel-bandel, dan urakan, tetapi setia dan berani. Pilihan ini ternyata tepat setelah pembuktian nantinya dimedan operasi.

Sebelum diberangkatkan kedaerah operasi, mereka langsung berada dibawah kendali dan pengawasan Asops Pangab Mayjen M.Sanif, dimana beliau menjabat sebagai penanggungjawab dan pembina latihan. Kompi pilihan ini dilatih di Cipatat selama 1 bulan penuh. Para pelatih dalam latihan Kuterinbat terpadu ini direkrut dari mantan orang-orang Kujang yang qualified dan paham betul tentang Kuterinbat.

Keunikan komposisi organisasi satuan khusus setingkat Kompi ini adalah, terjadinya pembauran dan campuran antara orang-orang yang sudah sangat senior dan prajuritt-prajurit yang masih muda. Keistimewaan lainnya, ketika ditawarkan kepada anggota-anggota yang tergolong senior di masing-masing Batalyon, siapa yang menguasai Kuterinbat dan bersedia bergabung, banyak Bintara/Tamtama senior yang mendaftarkan diri, sehingga akhirnya diseleksi ulang. Bahkan dengan sukarela, ada beberapa yang sudah MPP pun masih bersedia dan bersemangat untuk bergabung. Mengingat dan menimbang pengalaman mereka semasa operasi-operasi terdahulu, akhirnya para sesepuh ini dijinkan juga ikut memperkuat Satuan Khusus Kuterinbat.

Fenomena semacam ini menunjukkan jiwa juang, jiwa korsa dan semangat persatuan serta kebanggaan selaku prajurit Kujang tidak bisa diukur dengan materi, batas usia, ataupun hal-hal lainnya, sehingga 6 bulan penugasa di Timor Timur saat itu, ada 3 personil yang pensiun disana, pulang dengan status purnawirawan.

Sebuah kebanggan yang tidak terkira bisa mencapai pensiun di daerah operasi.
Ane sekarang jadi penggemar ente gan... Banyak buku diluar yg agan share disini yg ane yakin banyak terinspirasi dari tokoh yg sampean jabarkan
Semangat gan...
Mayjen M. Sanif tidak sembarangan memilih personel. Walaupun yang turut diantaranya sudah tua-tua, tapi semua dalam rangka strategi untuk menurunkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan. Dengan didampingi orang-orang tua yang sarat pengalaman, minimal prajurit-prajurit muda ini bisa merekam semua tindakan, kesiapan, ketenangan, dan kesigapan para jago perang tua ini dalam saat-saat genting ketika berhadapan dengan musuh. Seluruh Bintaranya adalah orang-orang tua yang sudah banyak makan asam garam pertempuran. Sedangkan prajurit-prajuritnya adalah pilihan yang terbaik dari Batalyon masing-masing dengan seleksi kemampuan fisik, inteligensia, mental, kemahiran menembak dak taktis/teknis militer, serta tidak sombong.

Sementara Pasukan Khusus Kuterinbat masih tahap latihan di Cipatat, di Timor Timur sedang terjadi Opreasi Pagar Betis dengan mengerahkan seluruh pasukan dan rakyat yang ada disana untuk menggiring para GPK dari arah barat ke timur untuk selanjutnya dihancurkan di killing ground di daerah Gunung Matabean. Operasi ini melibatkan 34Batalyon tempur yang ada di Timor Timur, berbaris bersaf dari barat ke timur, dibantu oleh Hansip, Wanra serta penduduk setempat. Tapi karena operasi GPK bersifat gerilya, mereka pasti didukung oleh penduduk dan jaringan clandestine, maka walaupun operasi sudah dijalankan dengan semaksimal mungkin, hasilnya tetap minimal dan dipastikan terjadi banyak pelolosan.

Kelemahan operasi ini adalah, dengan pengerahan seluruh kekuatan pasukan dari barat ke timur, berarti terjadi kekosongan di daerah-daerah belakang pasukan, dan GPK ini malah menjadi bebas membentuk kantong-kantong dibelakang pasukan yang beroperasi. Celakanya lagi, mereka melakukan aksi-aksi balas dendam melalui teror, intimidasi, pemerkosaan dan pembakaran terhadap rumah-rumah penduduk yang mereka anggap sebagai simpatisan ABRI.

Hal semacam ini tidak berlangsung lama. Untuk mengimbangi aksi teror GPK di garis belakang, Mabes ABRI mengirim satuan khusus sebagai lawan tanding GPK digaris belakang, yaitu Operasi Kuterinbat ini. Melalui Surat Perintah Komandan Brigif 17/Kujang 1, Kolonel Inf. Kilian Sidabutar tanggal 21 Agustus 1981, berangkatlah kompi khusus ini menuju daerah operasi di Timor Timur dengan pesawat pesawat Hercules dan mendarat di Lapangan Terbang Baucau.

Setelah konsolidasi dan persiapan di Base Camp Baucau, 2 hari kemudian Kompi ini menerima Perintah Operasi (PO) untuk segera masuk ke pedalaman, yaitu Kecamatan Quilicai dikaki Gn.Matabean. Kemudian dengan Kotis dari Quilicai ini dilakukan operasi-operasi ke daerah-daerah sekitar Matabean untuk menghancurkan GPK yang lolos dari Operasi Pagar Betis.

Operasi ini dinilai cukup berhasil, menewaskan cukup banyak GPK, menawan sisanya hidup-hidup, dan menyita banyak senjata api. Nmaun dalam perjalanan operasi selanjutnya, Danki Kapten Inf. Adam Damiri jatuh sakit dan harus dievakuasi ke Bacau. Wadanki Kapten Inf. Agustadi SP mengambil alih pimpinan operasi Kuterinbat sampai selesai.

Operasi Kuterinbat di Timor Timur dikendalikan langsung oleh Komandan Korem 164/Wiradharma dengan segala dukungan logistik dan administrasi. Karena operasi berintikan personel yang sudah berpengalaman, maka satuan ini dalam pergerakannya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, yaitu 3-5 orang personil, tidak pernah lebih. Mereka memiliki kemampuan untuk mengendus jejak, mencari dan mendekati musuh, serta menghancurkannya. Anggota pasukan sudah siap moril untuk tidak mendapatkan dukungan dari satuan lainnya, karena mereka beroperasi terlepas dari induk pasukan.

Komando dan pengendalian hanya menggunakan hari. Yakni, ditentukan lebih dahulu sekian hari bergerak dihutan, kemudian harus berpindah kembali. Begitu juga urusan logistik selalu berpindah dan berubah-ubah. Alat komunikasi Radio Portable PRC pada saat itu tidak bisa terlalu diandalkan. Selain jumlahnya yang sangat sedikit, masalah baterai dan kemungkinan dimonitor musuh sangat besar, sehingga alat radio relatif sedikit digunakan dan tidak terlalu diandalkan.

Minggu demi minggu berlalu, keberhasilan demi keberhasilan dari masing-masing Peleton terus dilaporkan ke Korem 164/Wiradharma selaku pengendali. Paling menarik adalah timbulnya persaingan positif yang sehat dari masing-masing Peleton untuk membaw nama Batalyon masing-masing. Keberhasilan Peleton yang mewakili Yonif Linud 305/Tengkorak misalnya dianggap sebagai pemacu semangat bagi Peleton yang mewakili Yonif Linud 328/Dirgahayu dan Yonif Linud 330/Tri Dharma. Mereka berusaha saling mengimbangi dan saling berpacu untuk lebih baik lagi.Tidak jarang mereka kadang dipanas-panasi oleh Korem 164/Wiradharma selaku pengendali untuk bertugas seoptimal mungkin, tetapi tetap dalam batas sehat dan kewajaran.

Operasi Kuterinbat ini ternyata berhasil memecahkan rekor hasil pengumpulan senjata, tawanan, dan musuh yang tertembak. Catatan menunjukkan, 40 orang GPK tewas tertembak, 65 menyerahkan diri, dan 118 pucuk senjata berhasil direbut. Jika dibandingkan antara penugasan 1 Batalyon dengan 1 Kompi Khusus ini, maka kompi khusus ini menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.
Selain itu, masih ada hasil non combatan yang sebetulnya lebih besar artinya bagi operasi untuk tingkat yang lebih tinggi. Anggota Kompi Khusus ini berhasil menyergap tawanan hidup-hidup yang menbawa ransel berisi dokumen-dokumen yang ditandatangani oleh Mauhudu. Selanjutnya oleh Satgas Intel Korem 164/Wiradharma, dokumen ini dipelajari dan dikembangkan. Hasilnya diketahui bahwa para pimpinan GPK dari seluruh daerah Timor Timur akan mengadakan rapat umum disekitar Sungai Lalea.

Sebagai tindak lanjut, secara tertutup Yonif 744 dan 745 Kopasandha dan semua pasukan yang berada disekitar Kabupaten sasaran disamarkan untuk bergerak dan mengepung kordinat yang sudah diketahui. Lokasi tepatnya didaerah Lindau, setelah terjadi kontak senjata yang cukup sengit dan melelahkan, kekuatan mereka berhasil disapu bersih. Ratusan GPK tewas, 12 tokoh penting GPK turut tewas. Sebagian besar sisanya tertawan hidup-hidup, sedangkan hasil rampasan senjata berjumlah 78 pucuk.

Dari 12 tokoh GPK yang tewas, 8 orang diantaranya berasal dari Los Palos. Daerah tersebut pada masa itu termasuk daerah rawan. Data intelijen mengatakan bahwa menjelang hari Natal 1981, Los Palos akan dikuasai oleh GPK selama 6 jam, sebagai upaya menunjukkan kepada dunia luar bahwa eksitensi GPK Timor Timur masih ada. Untuk itulah pasukan khusus Kuterinbat digerakkan secara terus menerus tanpa henti, sekaligus sebagai show of force disekitar Los Palos dan hutan-hutan untuk mencegah tujuan politik tersebut.

Tugas lain yang terkandung dari operasi Kuterinbat ini bukan hanya sekadar combat and intelligent, tetapi semua berawal dari teritorial dengan metode adu bako. Dalam operasi teritorial ini, pimpinan Kuterinbat menyiapkan dan melatih rakyat dimedan operasi yang bersimpati terhadap NKRI. Mereka diseleksi terlebih dahulu rasa nasionalismenya, kesadaran berbangsa dan bernegara sampai yakin betul bahwa mereka merah putih, kemudian dilatih dengan ilmu kemiliteran. Setelah itu, setahap demi setahap mereka diikutkan dalam operasi penumpasan GPK. Pada awalnya hanya satu dua orang saja, tetapi selanjutnya meningkat menjadi banyak. Kompi Kuterinbat yang dalam pergerakannya selalu dalam kumpulan kecil sangat terbantu oleh simpatisan ini. Tidak jarang mereka tanpa senjata berani bergerak sendiri kehutan-hutan dengan tujuan menjadi mata dan telinga untuk mendapatkan informasi. Hasil laporan mereka dipilah-pilah untuk diteliti tahap keakuratannya. Inilah awal mulanya pelepasan panah-panah di medan operasi di Timor Timur.

Uji coba Satuan Khusus Kompi Kuterinbat ini dilaksanakan selama 6 bulan. 1 personel gugur dalam penugasan atas nama Serda Sutoyo dari Yonif Linud 330/Tri Dharma. Kompi Khusus ini pulang kepangkalannya menggunakan C-130 Hercules dan mendarat di Lanud Hussein Sastranegara Bandung. Turut menyambut pasukan di Lanud Hussein, Komandan Brigif Linud 17/Kujang Kolonel Inf. Killian Sidabutar, mendamping Panglima Divisi I Brigjen Faisal Tandjung.

Menurut pengasas Kuterinbat Letjen TNI Purn. M. Sanif, konsep ala Kuterinbat ini masih sangat relevan untuk setiap penugasan masa kini. Setinggi apapun teknologi, apapun prajurit-prajurit kita, secanggih apapun peralatan kita dewasa ini, Kuterinbat bukanlah fungsi staf. Ia adalah kekuatan ujung tombak dari setiap prajurit. Kuterinbat adalah pegangan-pegangan ilmu pragmatis yang harus bisa dipegang dan dijadikan model dasar bagi setiap prajurit.
Akhir'a di formil ada thread yang sangat amat menarik lagi
Lanjutkan bang
Quote:Original Posted By erwin.parikesit

Dari hasil pengamatannya sejak awal tanggal 3 Desember 1975, di Markas Yonif Linud 328/17/Kostrad dalam rangka serbuan Linud ke Timor Timur, ada hal-hal yang perlu menjadi catatan bagi satuan Linud.

Pertama, persiapan satuan operasi terkesan terburu-buru waktu sehingga tidak sempurna, indikasinya :
a. Personil satuan operasi (Yonif 328) tidak lengkap, kebutuhan terpaksa dipenuhi dari satuan Linud lainnya (dari Yonif 305,330, dan Mabrigif 17 sendiri).
b. Senjata yang digunakan masih baru (M16A1). Masih dalam kotak tersegel, sehingga prajurit tidak sempat "dasar senapan". Bahkan sebagian besar prajurit banyak yang tidak paham seluk beluk senapan M16A1.
c. Sarana angkutan udara terbatas, sehingga ada penggunaan pesawat komersial Fokker-28.
d. Marshalling Area di Madiun dan Kupang tidak siap betul (seadanya).
e. Data intelijen pendukung operasi serbuan linud ke Dilli dan Baucau tidak akurat, sehingga banyak jatuh korban.
f. Prajurit lInud yang diterjunkan di Dilli terkesan tidak profesional, banyak terjadi "salah lirik" dan baku tembak anta kawan, mungkin karena cuaca gelap saat itu, akibatnya banyak jatuh korban sia-sia.
g. 1 Kompi Kopasandha yang tidak di drop di Dilli, karena alasan 2 Jump Masternya tertembak (gugur) dari bawah, sementara pesawat Hercules banyak lubang tertembus peluru. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap dinamika operasi dan moril prajurit lainnya.
h. Operasi Serbuan Linud di Lapangan Terbang Villa Salazar Baucau dilaksanakan pada tanggal 9 Desemeber 1975, pukul 0900, sementara operasi Amfibi Marinir TNI-AL di Laga dan Pantai Baucau tanggal 8 Desember 1975, pukul 1800. Dari segi taktik maka hal ini dinilai kurang tepat, karena musuh yang dipukul oleh Marinir dalam operasi Amfibi mundur kearah selatan (Venilale) melalui Lapangan Terbang dan bertahan secara kuat diketinggian selatan Lapangan Terbang (di Letter S). Akibatnya, Yonif Linud 328 mendapatkan perlawanan yang ringan dalam perebutan Lapter Villa Salazar, sementara Yonif Linud 330 yang melalui Air Landed melalui pertempuran berdarah-darah yang sengit. Banyak personilnya yang gugur disini.

Operasi Serbuan Linud yang dilakukan TNI saat itu, adalah operasi linud terbesar (dengan jumlah yang terjun lebih kurang 4000 personil) setelah Operasi Merdeka di Padang dan Operasi Mandala di Irian Barat.


kita mengklaim TNI di Asteng lebih berpengalaman dalam hal Ops Linud,,,,,tapi apa pengaruhnya bagi kinerja TNI,,,,,gak ada kan,,,,,seharusnya pengalaman masa lalu bisa jadi pembelajaran untuk lebih baik kedepannya,,,kenyataannya malah gak lebih baik,,,,,

Waduh, baru tau ane kalo kita pernah punya satuan yang anggotanya sesepuh. Serasa nonton expendables aja
semoga bukan ajang pencitraan ajah..

parenya sebelah mana gan
Quote:Original Posted By erwin.parikesit
[color=green]
Bahkan dengan sukarela, ada beberapa yang sudah MPP pun masih bersedia dan bersemangat untuk bergabung. Mengingat dan menimbang pengalaman mereka semasa operasi-operasi terdahulu, akhirnya para sesepuh ini dijinkan juga ikut memperkuat Satuan Khusus Kuterinbat.

Fenomena semacam ini menunjukkan jiwa juang, jiwa korsa dan semangat persatuan serta kebanggaan selaku prajurit Kujang tidak bisa diukur dengan materi, batas usia, ataupun hal-hal lainnya, sehingga 6 bulan penugasa di Timor Timur saat itu, ada 3 personil yang pensiun disana, pulang dengan status purnawirawan.
Sebuah kebanggan yang tidak terkira bisa mencapai pensiun di daerah operasi.


orang2 tua itu memang badass.
that one alone can bring you to victory.....menggetarkan lawan !!! (disclaimer, bagian ini jangan sampe dibaca komisi I)
seru banget neh critanya gan parikesit.... ane request untold setories nya LB mordani ya gan
Dari Danyonif Hingga menjadi Panglima Divisi.
Kapten Inf. Agustadi Sasongko purnomo mengikuti pendidikan Susstafpur (sekarang kaskus) pada tahun 1984 di Secapa Bandung selama 6 bulan. Kemudian mendapatkan amanah sebagai Kasi Ops Org Litbag Pussenif di Bandung dengan pangkat Mayor Inf.. Beliau sangat nyaman mengemban tugas ini karena ingin lulus Seskoad. Untutk persiapan-persiapan menghadapi ujian, ditembok kamarnya ditempeli peta-peta dan teori taktik agar mudah dibaca dan dihapal. Selanjutnya konsultasi pemeriksaan Psikologi di Dispsiad. Hasilnya, pertama R.10, kedua R.7, dan terakhir Q.2. Kesempatan pertama mengikuti seleksi Seskoad langsung lulus.

Selesai mengikuti pendidikan di Seskoad, beliau sebetulnya ingin bertugas di komando teritorial karena sudah lama bertugas disatuan tempur. Tetapi, ternyata surat keputusan yang terhitung mulai tanggal 1 Juni 1989 menunjuk Letnan Kolonel Inf. Agustadi Sasongko Purnomo sebagai Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 100/PS Kodam I/Bukit Barisan, dan dilantik pada 28 Mei 1990.

Perintah Operasi (PO) yang harus dilaksanakan adalah operasi tempur di daerah Aceh Timur untuk menghadapi separatis GAM yang merampas senjata-senjata anggota Yonif 113. Pelaksanaan operasi dipimpin oleh Wadanyon Linud 100/PS Mayor Inf. Asep Pribadi. Namun, dalam pelaksanaan operasi di daerah Aceh Timur, 4 prajurit Yonif Linud 100/PS gugur dalam kontak senjata.Hal ini mengharuskan Danyonif Letkol Inf. Agustadi SP turun tangan langsung mengambil alih pimpinan operasi. Operasi tempur Yonif Linud 100/PS berlangsung selama 10 bulan, dari tahun 1990 hinga 1991.

Setelah melaksanakan operasi militer di Aceh, beliau diberi amanah memangku jabatan Kasi Ops Korem 011/Lilawangsa di Lhokseumawe terhitung mulai tanggal 1 Maret 1991. Pada saat memangku jabatan ini, 1 April 1991 Operasi Jaring Merah II dimulai, disambung Operasi Jaring Merah III, Operasi Jaring Merah IV, dan ditutup dengan Operasi Jaring Merah V yang mulai pada 1 April 1994.

Terhitung mulai tanggal 1 Oktober 1993, Letkol Inf. Agustadi Sasongko Purnomo menjabat Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah. Daerah wilayah Kodim ini terletak disekitar pegunungan Bukit Barisan, berbatasan langsung dengan daerah Aceh Barat, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara, sehingga berbagai karakteristik dan perkembangan-perkembangan daerah-daerah tersebut akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Aceh Tengah.

Dimasa jabatan ini, masih dengan pangkat Letkol Inf, teman satu lichting 1974 dan sekamar masa Taruna dulu, Prabowo Subianto sudah menjabat Wadanjen Kopasus dengan pngkat Brigadir Jenderal. Beliau menawari Letkol Inf. Agustadi SP untuk menjabat sebagai Kasbrig di Kostrad, tetapi tidak diindahkan. Selanjutnya, pada tahun 1994 Letkol Inf. Agustadi SP mendapat perintah mengikuti Sussospol ABRI selama 4 bulan. Kursus ini ditutup pada bulan Januari 1995.

Setelah Sussospol, jabatan Letkol Inf. Agustadi SP , masih dalam pangkat yang sama menjadi Waasops Kasdam I/Bukit Barisan terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1994. Namun tiba-tiba keluar perintah untuk menjadi Anggota DPR RI Fraksi ABRI. Sebelum melaksanakan perintah, sesuai prosedur beliau menghadap Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Arie J. Kumaat. Pangdam marah-marah karena Letkol Inf. Agustadi SP yang sudah diplot menduduki jabatan Asops Kasdam ternyata harus hengkang dari organisasi TNI-AD. Pangdam memerintahkan Kasdam I/Bukit Barisan Brigjen TNI Agum Gumelar mencari tahu dan mengecek kebenaran perintah yang diterima Letkol Inf. Agustadi SP. Hasil pengecekan ternyata benar, dengan berat hati Pangdam melepasnya untuk melaksanakan amanah sebagai wakil rakyat di DPR RI.

Allah SWT sangat melindungi hambanya yang selalu jujur dan ikhlas dalam mengemban tugas. Setelah meninggalkan Medan dan Asops Kasdam dijabat orang lain, di Medan terjadi kerusuhan yang cukup besar dan berakibat pencopotan dan penonaktifan pejabat Aspos Kasdam I/Bukit Barisan
Nama bapak ane disebut di salah satu cerita diatas.. hehehe..
salah satu Komandan Tim dari Yonif Linud 305 saat Kuterinbat..