Thumbs up salah satu Budaya Indonesia (Seren Taun, Kuningan - Jabar)

gini gan ane mau bikin thread pertama ane nih, saling respect ya maaf juga kalo acak-acakan..maklum ane newbie maaf kalo repost hehe

langsung aja deh ya..

Upacara Adat Seren Taun (Cigugur, Kuningan - Jawa Barat)

Upacara seren taun adalah ungkapan syukur dan do’a masyarakat sunda atas suka duka yang mereka alami terutama di bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu dan tahun yang akan datang. Seren taun dilaksanakan setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender sunda. Selain ritual-ritual yang bersifat sakral, digelar juga kesenian dan hiburan. Dengan kata lain kegiatan ini merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan, dan juga dengan sesama mahluk atau alam baik lewat kegiatan kesenian, pendidikan, dan sosial budaya.

Upacara Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak ( Menjemput Padi ), pada tanggal 18 Rayagung yang dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi dan sebagai puncak acaranya pada tanggal 22 Rayagung. Ngajayak dalam bahasa sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 yang dalam bahasa sunda diucapkan “dalapan welas” berkonotasi welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.

Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung juga memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian bilangan 20 dan 2. Padi yang ditumbuk pada puncak acara sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat dan 2 kwintal digunakan sebagai benih. Bilangan 20 merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.

Baik laki-aki ataupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia, adalah : 1. getih atau darah, 2. daging, 3. bulu, 4. kuku, 5. rambut, 6. kulit, 7. urat, 8. polo atau otak, 9. bayah atau paru, 10. ari atau hati, 11. kalilipa atau limpa, 12. mamaras atau maras, 13. hamperu ataun empedu, 14. tulang, 15. sumsum, 16. lamad atau lemak, 17. gegembung atau lambung. 18. peujit atau usus. 19. ginjal dan 20. jantung.

Ke 20 sifat diatas menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati. Hukum adikodrati ini kemudian menjelma menjadi jirim ( raga ), jisim ( nurani ) dan pengakuan ( aku ). Sedangkan bilangan 2 mengacu pada pengertian bahwa kehidupan siang dan malam, suka duka, baik buruk dan sebaginya.


Dalam upacara seren taun yang menjadi objek utama adalah PADI. Padi dianggap sebagai lambang kemakmuran karena daerah Cigugur khususnya dan daerah sunda lain pada umumnya merupakan daerah pertanian yang berbagai kisah klasik satra sunda, seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi. Dalam upacara seren taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu, padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia diatas.

Dalam kesempatan Upacara Seren Taun kali ini menampilkan:
Damar Sewu merupakan sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat seren taun Cigugur. Merupakan gambaran manusia dalam menjalani proses kehidupan baik secara pribadi maupun sosial.



Tari Buyung yang merupakan tarian adat sunda yang mencerminkan masyrakat sunda dalam mengambil air




Pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Mayasih yang merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan antara positif dan negatif di alam, jadi pesta dadung merupakan upaya meruwat dan menjaga keseimbangan alam agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia.

Ngamemerokeun merupakan upacara sakral didalam tradisi Sunda Wiwitan yang masih dilaksanakan di daerah Kanekes ( Baduy ). Upacara ini berintikan “ mempertemukan dan mengawinkan “ benih padi jantan dan betina.

Tarawangsa yakni seni yang berasal dari mataram kira-kira abad ke XV, seni Tarawangsa disebut juga seni jentreng, menginduk kepada suara kecapi, juga ada yang menamai seni ngekngek, menginduk kepada suara tarawangsa. Mula-mula yang dipentaskan hanya tabuhan kecapi dan tarawangsa saja, tapi disertai penari, agar lebih menarik akhirnya Tarawangsa dilengkapi dengan tarian-tarian sederhana yang disebut tari Badaya.

Pwah Aci atau yang lebih dikenal dengan Dewi Sri merupakan tokoh yang telah melegenda dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat agraris khususnya tatar sunda. Tari Pwah Aci merupakan salah satu seni tari spiritual yang di dalamnya tersirat ungkapan rasa hormat dan bhakti kepada Sang Pemberi Hidup melalui gerak dan ekspresi.

Seribu Kentongan merupakan acara penutup rangkaian acara di bukit Situ Hyang. lebih dari 1000 orang terdiri dari masyarakat dan anak-anak sekolah serta seluruh peserta pendukung rangkaian acara seren taun menuju Paseban Tri Panca Tunggal ditutup dengan 10 orang rampak kendang. Dimulai dengan pukulan induk oleh Ketua Adat kemudian diikuti oleh ribuan peserta. Ini memiliki makna bahwa kentongan awi ( Bambu ) memiliki arti kita harus senantiasa ingat dan eling pada asal wiwitan atau hukum adikodrati yang menentukan nilai kemanusian dan kebangsaan.

Dilihat dari sisi budaya, upacara adat seren taun yang sudah berjalan tahunan di Kabupaten Kuningan ini, tentunya merupakan hal yang dapat dibanggakan oleh masyarakat karena setiap helatan Seren Taun ini dilaksanakan, dapat mendatangkan ribuan pendatang wisatawan domestik maupun mancanegara. Hanya saja dilihat dari sisi ekonomis belum dapat memberikan efek ekonomi kepada masyarakat sekitar.

Sehingga merupakan tugas kita semua, dalam setiap helaran yang rutin dilaksanakan setiap tahun ini dapat memberikan nilai ekonomi yang fositif kepada masyarakat sekitar. Seperti contoh masyarakat sekitar dapat membuat cendra mata khas Cigugur dan barang-barang yang mempunyai nilai khas sehingga para pendatang mempunyai kenangan tersendiri terhadap upacara seren taun ini dengan membeli barang tersebut.
Semoga di tahun-tahun yang akan datang hal ini dapat dimanfaatkan sebagai ajang peningkatan ekonomi masyarakat dan juga meningkatkan dunia pariwisata masyarakat Kabupaten Kuningan.



_bingung mau koment apa gan, yang jelas terima kasih udah mau menjaga budaya bangsa kita____

Quote:Thread yang gak kalah menarik

di kampung ane Maleber, namanya hajat Desa
di adakan pas hari kedua Idul Fitri, rame banget
karna di campur sama sunatan masal...
wah bangga akan kebudayaan indonesia ane gan heheh
hmmm... baru tw ane

keren ya gan





Best Regards,
WSSChanger
Yoi gan, ane di Kuningan Kota nya..
Seren Taun: Potret Keberagaman Masyarakat Cigugur
Selasa, 13 November 2012 20:39 Diaz | Rosyid


Keberagaman di Cigugur sudah dikenal di mana-mana. Momen di mana kita bisa melihat kebergaman tersebut secara lebih jelas adalah saat perayaan Seren Taun. Dalam acara tersebut ribuan orang dari berbagai agama tumpah ruah di Cigugur. Seren Taun sendiri adalah upacara adat panen padi masyarakat Cigugur yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung, bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda yang dipusatkan di Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840.

Istilah Seren Taun berasal dari kata dalam Bahasa Sunda “seren” yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan “taun” yang berarti tahun. Jadi Seren Tahun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda, Seren Taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini.

Lebih spesifik lagi, upacara ini merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba seperti kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Masyarakat agraris Sunda kuno memuliakan kekuatan alam yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak, kekuatan alam ini diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dan kesuburan.

Masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan tetap menjalankan upacara ini, seperti masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul, dan Cigugur. Kini setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam, di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang, ritual Seren Taun tetap digelar dengan doa-doa Islam. Upacara Seren Taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terlebih di kala menghadapi panen. Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang.

Ritual Seren Taun itu sendiri mulai berlangsung sejak tangal 18 Rayagung. Damar Sewu merupakan sebuah helaran budaya yang mengawali rangkaian upacara adat Seren Taun Cigugur. Setelah itu, pesta Dadung merupakan upacara sakral masyarakat dilaksanakan di Situ Hyang (daerah Mayasih) sebagai simbol membuang hama, agar hama dan unsur negatif tidak menggangu kehidupan manusia. Sehari setelah pesta dadung, diadakan pegelaran seni tradisional serta pameran kesenian dari berbagai masyarakat adat baik di wilayah tatar Sunda maupun luar Jawa Barat juga digelar guna menyambut upacara puncak Seren Taun.

Beragam Acara di Seren Taun

Yang menarik, selain acara seni, dalam rangkaian acara Seren Taun juga diadakan pula dialog atau seminar yang mengetengahkan tema seputar kerukunan umat beragama, diskriminasi umat beragama dan lain sebagainya. Rama Djati juga mengungkapkan bahwa dalam rangkaian Seren Taun ada juga doa bersama yang dilakukan oleh umat dari seluruh agama dan kepercayaan yang bertempat di Paseban Tri Panca Tunggal.

Kegiatan Seren Taun diadakan di gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kuningan. Ini merupakan salah satu gelar budaya tradisional mayarakat agraris sunda sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini biasa dilaksanakan setahun sekali setiap tanggal 22 Raya Agung yang kali ini berada pada tahun 1945 Saka Sunda, dengan tema “Berdaulat Dalam Berkebudayaan, Berdikari Melalui Sumber Daya Alam”.

Seperti Seren Taun tahun ini, dalam enam hari saja, secara berturut-turut beragam kegiatan diadakan. Dimulai dari hari Jumat (02/11) dan berakhir hari Rabu (07/11). Uniknya kegiatan ini diikuti dan dilaksanakan dari berbagai kalangan yang berbeda agama dan kepercayaan, mulai dari Sunda Wiwitan, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Dayak Losarang dan masyarakat adat lainnya yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nuantara, serta dari kalangan akademisi dan pejabat pemerintahan. Salah satunya dari peserta Short Course-Participatory Action Research (SC-PAR) 2012, pelatihan penelitian riset partisipatoris, live in bersama masyarakat bagi para dosen se-Indonesia dari Kemenag (Kementrian Agama) bekerjasama dengan ISIF (Institute Study Islam Fahmina), di mana Ahmad Syarifin selaku peserta berkesempatan menjadi MC acara Seren Tahun kali ini.

Pembukaan hari pertama dilakukan upacara Damar Sewu, dengan cara menyalakan api pada kuntum bunga tratai yang kemudian disebar dengan menggunakan obor ke 4 penjuru mata angin sebagai tanda semangat yang senantiasa akan selalu berkembang pada setiap generasi. Hari kedua diadakan kegiatan penanaman pohon, Seribu Kentongan (memukul kentongan dengan banyak orang yang di mulai dari pemangku adat Rama Djati Kusuma dari Sunda Wiwitan), seni tari anak ‘Kaulinan Barudak’. Di hari ketiga, Minggu (04/11) diadakan lokakarya mengenai pemanfaatan lahan terutama di daerah Taman Nasional Guning Ciremai (TNGC).

“Gerakan memanam pohon tidak akan berarti tanpa didasari membangkitkan gerakan kesadaran menanam pohon kehidupan itu sendiri,” ungkap Pangeran Rama Djatikusima, selaku pemangku adat Sunda Wiwitan. Hal ini menandakan harus ada keselarasan antara manusia dan alam dalam menjalani kehidupan. Kegiatan ini diikuti oleh warga, akademisi, dan pejabat pemerintahan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Kuningan, Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan Kementerian Kehutanan, BAPPEDA Kab. Kuningan dan lain-lain. Setelah itu diadakan lomba patikluk (egrang), Nyiblung (permainan musik air), Dayung Buyung (buyung adalah alat untuk mengambil air yang mirip dengan bejana), dan pagelaran seni Purwawirahma.

Pada hari Selasanya (06/11), diadakan forum dialog antara masyarakat adat dengan pemerintah Dinas Catatan Sipil, Dinas Pendidikan, Komnas Perempuan perihal masalah kependudukan baik ktp, surat nikah, dan akta lahir, serta diskriminasi dalam proses pendidikan dan lingkungan terhadap masyarakat adat.

Siang hari dilanjutkan Helaran Budaya keliling kota Kuningan menggunakan delman diiringi seni Kaulin Barudak & Angklung Buncis, kegiatan ini juga diikuti oleh wakil kepemerintahan negeri Brunei Darussalam. Selasa Malam diadakan doa bersama dan kidung spiritual dari berbagai agama dan aliran kepercayaan, dimana tiap-tiap dari mereka maju satu persatu mengumandangkan doa khas dari keyakian masing-masing. Doa-doa masyarakat adat seperti Sasak dari Nusa Tenggara Barat, Dayak Losarang Indramayu, Sunda Wiwitan, dll. Dari Islam doa diwakili oleh Abdul Muis S. dosen peserta SC-PAR asal pesantren Ciwaringin. Setelah itu pentas seni tari Pwah Aci, dan Ngareremokeun dari masyarakat Kanekes (Badui) sambil berdoa dimaksudkan agar bibit akan menghasilkan tanaman yang baik kualitas dan kuantitasnya.

Acara puncak diadakan Rabu, (07/11) mulai pukul 08.30.W.I.B. di alun-alun Paseban. Masyarakat sekitar, anak sekolah, pedagang, wartawan media, bupati Kuningan serta turis asing dan wakil negara Brunei Darussalam bernama PG Dato Sri Astana Haji Mohd Shah turut hadir meramaikan. Menurutnya Seren Taun adalah budaya yang patut dilestarikan, “Berbeda dengan Brunei, Indonesia memiliki lebih banyak budaya, oleh karena itu patut dijaga agar tidak hilang” ujar pelakilan negara tersebut.

Banyak orang yang mengikuti acara ini memakai baju adat masing masing daerah asalnya, termasuk fasilitator SC-PAR Ahmad Mahmudi yang memakai pakaian adat Solo. Pembukaan puncak acara dimulai dengan tari Buyung tarian khas yang melambangkan peribahasa ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’. Dilanjutkan Angklung Buncis dan kreasi seni masyarakat Memeron berupa patung Maung (macan) lambang dari manusia unggul, Naga dan Ibu Pertiwi lambang dari negara Indonesia, Garuda menandakan Pancasila dan filosofi bangsa ‘Bhinneka Tunggal Ika’, Ikan yang artinya makhluk hidup pasti butuh air, juga patung orang desa sedang menanam, memanen, menumbuk, dan mengayak padi yang bisa digerakkan. Siang hingga sore harinya acara penumbukkan padi serempak oleh masyarakat secara bergantian, padi yang berjumlah 22 kwintal, 20 kwintal ditumbuk, dan sisanya dijadikan bibit.

Malam hari diadakan pementasan wayang golek oleh dalang Asep S. dari Garut yang membawakan tema ‘Pancameda’ panca yang berarti lima (5) dan meda yaitu berbeda-beda. Maknanya walaupun banyak agama dan aliran kepercayaan namun tetap tujuannya sama menghamba pada Tuhan, meskipun berbeda tapi tetap satu ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Kegiatan berakhir pada pukul 24.00 W.I.B.

Menanggapi hal itu Mahrus El-Mawa salah satu fasilitator SC-PAR 2012 mengatakan bahwa kegiatan ini sangat baik dan patut diapresiasi karena benar-benar membuktikan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang nyata berbagai agama dan aliran kepercayaan berkumpul merayakan dan mengucap rasa syukur bersama-sama atas rahmat Tuhan YME. “inilah Bhinneka Tunggal Ika yang patut kita apresiasi, berbagai agama dan aliran kepercayaan dapat saling berdampingan mengucap rasa syukur atas rahmat Tuhan,” ujarnya. (Diaz&Rosyid)

http://www.fahmina.or.id/artikel-a-b...t-cigugur.html

Seren Taun
admin | 9 - Mar - 2008

Bulan Februari ini, ada hal yang menarik dari perayaan upacara “Seren Taun” masyarakat adat di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Upacara tahunan ini diselenggarakan dengan sangat meriah. Bupati Kuningan, para pejabat pemerintah daerah dan pejabat pariwisata juga ikut hadir. Kemeriahan ini juga bisa dilihat misalnya dari kibaran berbagai macam umbul-umbul sponsor produk-produk komersial di sepanjang jalan, pameran produk-produk lokal, dan sebagainya. Apalagi upacara juga dibanjiri oleh ribuan penonton yang bukan hanya datang dari masyarakat setempat tapi juga mereka yang datang dari kota-kota sekitarnya. Entahlah, mungkin mereka ingin sekadar menikmati pertunjukan upacara ini karena memang Seren Taun pernah dilarang penyelenggaraannya semasa Orde Baru. Gara-gara karena ritual ini dianggap bisa mengancam keberadaan agama-agama resmi. Setidaknya “Seren Taun” ini dikhawatirkan akan menjadi semacam “agama baru”.

“Seren Taun” kini benar-benar menjadi upacara yang dirayakan secara universal. Maksudnya ia tidak hanya dirayakan oleh penghayat kepercayaan atau mereka yang masih berpegang teguh pada tradisi atau keyakinan adat, tapi juga dirayakan oleh masyarakat agama lain baik dari Islam, Kristen, Katolik, dan lainnya. Bahkan mereka semua bersama-sama ikut terlibat dalam penyelenggaraan upacara tersebut. Ini tentu berbeda dengan masa-masa sebelumnya yang suram. Di mana Seren Taun dianggap oleh kalangan lain yang menganut agama resmi sebagai upacaranya penghayat Kepercayaan Cigugur yang menyesatkan, ritualnya orang yang sesat atau kafir dan lain sebagainya. Ditambah lagi kebijakan aparat birokrasi negara yang mendiskriminasi dan membatasi penghayat dan masyarakat adat Cigugur.

Keterlibatan kalangan agama-agama dan penerimaan serta keterbukaan masyarakat terhadap upacara ini menunjukkan perubahan penting dalam interaksi sosial masyarakat Cigugur, khususnya interaksi agama-agama dan budaya lokal dalam masyarakat Indonesia.

Hal penting yang hendak digarisbawahi di sini adalah bahwa masyarakat penghayat dan komunitas adat Cigugur benar-benar menyadari bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan yang sebelumnya tidak mereka peroleh adalah sesuatu yang harus mereka perjuangkan terus menerus. Kebebasan ini bukan hadiah, tapi perjuangan yang penuh pengorbanan melewati proses komunikasi, resistensi, negosiasi, dan keterbukaan-keterbukaan dalam interaksi. Persisnya, dalam penglihatan kami masyarakat Cigugur sangat tekun dan lihai dalam memainkan performen melalui siasat kebudayaan.

Kehadiran para pejabat daerah dan dinas pariwisata di satu titik bisa dipandang dengan agak sembrono sebagai “komersialisasi” upacara Seren Taun, yakni Seren Taun sebagai obyek pariwisata bagi pemda setempat. Tapi di sisi lain, ini adalah siasat budaya masyarakat untuk “universalisasi” budaya Cigugur atau yang lebih penting adalah pengakuan terhadap keyakinan dan kepercayaan masyarakat Cigugur, yang selama bertahun-tahun telah ditindas dan dipinggirkan. Ini sekaligus membalikkan pandangan umum sebelumnya yang stereotipe dan minor terhadap kepercayaan dan hasanah tradisi kebudayaan masyarakat setempat.

Sangat menarik apa yang dinyatakan Pangeran Djatikusumah dihadapan masyarakat dan para pejabat pemerintah daerah di perayaan upacara “Seren Taun” yang meriah itu, yang kurang lebih demikian: upacara “Seren Taun” jangan hanya menjadi sekadar objek pariwisata, tapi sebagai wujud ekspresi spiritualitas dan budaya masyarakat Cigugur yang adiluhung yang harus kita hayati bersama-sama. Desantara

http://www.desantara.or.id/03-2008/459/seren-taun/
CALON HT NIH
dirapihin gan biar lebih mantab

keren nih trit
seni budaya Indonesia, semoga bisa lestari
Quote:Original Posted By gorouken
seni budaya Indonesia, semoga bisa lestari


Setuju gan, dulu aja seren taun pernah dilarang karena dituduh menodai agama resmi
budaya indonesia emang beragam bangga deh
PERJUANGAN MELEPAS JATI DIRI SEMU


Oleh: I Made darmayasa W.,S.S*

Judul ini terinspirasi dari tulisan Rini Kustiasih yang dimuat dalam harian Kompas tanggal 21 November 2012, yang berjudul: “Seren Taun” Kependudukan Perjuangan Melepas Jati Diri yang Semu. Tulisan tersebut membuat saya bertanya apa sebenarnya jati diri komunitas Akur atau jati diri bangsa Indonesia pada umumnya?
Akur adalah sebuah komunitas di Kampung Cigugur kabupaten Kuningan Jawa Barat, yang berjumlah sekitar 2.000 warga. Baru-baru ini komunitas ini melaksanakan acara ‘Seren Taun’ yaitu sebuah acara sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang berlimpah. Kegiatan ini pernah dilarang pada masa Orde Baru sejak tahun 1982 – 1999 karena dianggap sebagai kegiatan keagamaan yang menyimpang dan dianggap sesat. Kegiatan serupa sebenarnya banyak terdapat di daerah lain di Indonesia.
Apa yang dimagsud jati diri semu dalam tulisan tersebut adalah identitas warga Akur sebagai pemeluk salah satu agama seperti yang tercantum dalam KTP mereka, sebenarnya tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Disebutka pula oleh Rini Kustiasih bahwa Ningsih (51) tercatat sebagai penganut agama Protestan tetapi ajaran Protestan sama sekali tidak terinternalisasi dalam dirinya. Demikian juga Karsih (57) ber-KTP Islam tetapi sejak kecil hingga dewasa tidak menyerap ajaran Islam. Lalu kenapa pada KTP mereka tercantum agama tersebut? Semuanya berawal dari tahun 1960-an; seiring dengan politik Negara yang kian memanas, warga komunitas Akur dipaksa memilih salah satu dari lima agama yang diakui oleh Negara saat itu. Hal yang sama juga terjadi di Banyuwangi seperti yang terungkap dalam acara bedah buku karya searang Doktor dari UGM: Sri Margana; Ujung Timur Jawa 1763 – 1813: Perebutan Hegemoni Blambangan, yang di laksanakan oleh Prodi Sejarah FIB UGM. Disebutkan bahwa Kompeni berkolaborasi dengan kekuatan Islam mengebiri kekuasaan Hindu dengan menciftakan system administrasi yang baru. Terungkap juga bahwa banyak penduduk Banyuwangi yang dipaksa untuk memeluk agama Islam yang didukung oleh Sultan Agung untuk menciftakan dunia Islam diseluruh pulau Jawa.
Lebih dari seabad yang lalu ditahun 1900 – 1908 seorang tokoh yang bernama Kiai Madrais di buang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Tanah Abang Papua karena tuduhan mengembangkan ajaran sesat. Ajaran Madrais sebenarnya mengutamakan ciri kepribadian orang sunda yang welas asih, hidup selaras dengan alam, bertata krama, dan berbudi pekerti yang baik. Nilai-nilai masyarakat agraris bertentangan dengan nilai eksploitatif dan diskriminatif yang diusung Belanda (Kustiasih: 2012). Pengikut Madrais menentang kebijakan sistem tanam paksa di Cirebon kala itu. Hal ini membuat berang pemerintah Belanda yang berujung pada pembuangan terhadap penyebar ajaran Madrais yaitu seorang tokoh kharismatik Kiai Madrais.
Kembali kepersoalan jati diri, banyak orang yang mengatakan bahwa Bangsa Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Jika hal ini benar kita sebagai warga Negara mesti mencari dan menemukan jati diri Bangsa yang sebenarnya dan melepas jati diri kita yang semu. Pertanyaannya kemudian adalah seperti apa jati diri Bangsa Indonesia yang sebenarnya? Pencarian jati diri ini mungkin bisa dirunut dari sejarah sejak kapan kita kehilangan jati diri Bangsa. Bila mengacu pada pernyataan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki jati diri, maka jelas bahwa kita kehilangan jati diri sejak bangsa kita tidak lagi besar, tidak lagi dikagumi bangsa lain atau bahkan oleh rakyatnya sendiri. Satu-satunya masa kejayaan Nusantara adalah pada masa kerajaan Majapahit. Saat itulah bangsa kita benar-benar memiliki jati diri. Namun sejak runtuhnya Majapahit, jati diri Bangsa mulai memudar. Masa ini dalam Dwijendra Tatwa disebut sebagai dimulainya zaman Kaliyuga di Nusantara. Perlawanan Dang Hyang Dwijendra (Seorang putra Rohaniawan di Kerajaan Majapahit) melawan perubahan zaman memaksa ia harus meninggalkan tanah Jawa (yang mulai meninggalkan kebudayaan sendiri dan meniru budaya bangsa lain), dan mempertahankan tradisi dan budaya leluhur di pulau Bali dan sebagian di Lombok.
Jati diri Bangsa kalau dilihat pada zaman Majapahit adalah Bangsa yang tidak membedakan rakyat apakah ia pemuja Siwa ataupun Budha, tidak ada agama yang sesat. Sebuah bangsa yang menjungjung tinggi tradisi luhur bangsa yang dijiwai ajaran Bagawad Gita bahwa bila tradisi telah ditinggalkan maka kehancuran pasti akan segera datang. Bentuk-bentuk perjuangan melepaskan jati diri semu seperti menghidupkan kembali tradisi Seren Taun, Aruh, Ngusaba, serta tradisi lainnya di berbagai daerah di Indonesia merupakan fenomena kebangkitan kembali masa-masa kejayaan Majapahit yang diiringi dengan ditemukannya kembali candi-candi dan bukti peninggalan sejarah lainnya di tanah Jawa juga Sumatra dan Kalimantan.
*( Mahasiswa PascaSarjana UGM)

http://wilantara-puasaataupuasin.blo...1_archive.html