Quote:Original Posted By Hashimi
gan ane mau diskusi nih soal klaim kekuasaan majapahit:

Menurut lo kekuasaan majapahit sampai sulawesi, maluku, dan irian gak? Menurut gw enggak karena, tidak ada konfirmasi balik dari wilayah tsb.

Lo setuju gak usak jawa yg dimaksud syair nan sarunai dayak adalah kerajaan majapahit?

Apakah majapahit benar2 menaklukan sumatera? Adakah bukti konfirmasi dari Sriwijaya?

Kenapa majapahit tdk meninggalkan prasasti atau bangunan yg banyak?

Kenapa konfirmasi kebesaran majapahit dari luar negri kalah dgn sriwijaya?

Mana yg lebih besar majapahit atau sriwijaya?



Bused masih penasaran si Has
Dulu saya punya katalog jurnal southeby's, sayangnya hilang, kayanya dikilo ke tukang loakkan.
Di pasar lelang terbuka dan blackmarket asal ada duid sih bisa dapetin sisa2 peninggalan Majapahit ini Has, malah ada plakat emas prasasti peninggalan wilaktikta yang berisi tanda takluk champa dan penempatan garnisun wilaktikta di wilayah Kamboja selatan yang ditemukan di selatan kamboja.
Tapi anggap aja ini self proclaim, saya gak bisa ajukan ke kamu buktinya secara langsung.
Quote:Original Posted By Hashimi
gan ane mau diskusi nih soal klaim kekuasaan majapahit:

Menurut lo kekuasaan majapahit sampai sulawesi, maluku, dan irian gak? Menurut gw enggak karena, tidak ada konfirmasi balik dari wilayah tsb.

Lo setuju gak usak jawa yg dimaksud syair nan sarunai dayak adalah kerajaan majapahit?

Apakah majapahit benar2 menaklukan sumatera? Adakah bukti konfirmasi dari Sriwijaya?

Kenapa majapahit tdk meninggalkan prasasti atau bangunan yg banyak?

Kenapa konfirmasi kebesaran majapahit dari luar negri kalah dgn sriwijaya?

Mana yg lebih besar majapahit atau sriwijaya?


[QUOTE=joeraygaul;50c3009c2675b44812000000]

:makasih ya bro udah bantu jawab

ini saya nemu artikel dari kompas mudah2 an bisa bantu jawab diskusi sama agan hass
mengagumkan, ternyata wilayah Majapahit lebih luas dari yang diperkirakan selama ini oleh sejarawan. Riset terbaru tentang penempatan prajurit Majapahit di luar Jawa menemui fakta yang menakjubkan. Uniknya, pleton-pleton kawal Majapahit beranggotakan prajurit beragama Islam. Peninggalannya pun masih bisa dibuktikan hingga sekarang.

Adanya penempatan prajurit Majapahit di Kerajaan Vasal (bawahan) yang terdiri dari 40 prajurit elite beragama Islam di Kerajaan Gelgel-Bali, Wanin-Papua, Kayu Jawa-Australia Barat, dan Marege-Tanah Amhem (Darwin) Australia Utara pada abad ke 14 memperkuat bukti bahwa Gajah Mada adalah seorang Muslim. Silakan anda berkunjung ke daerah tersebut, terutama ke Bali Utara sebelum anda memberi komentar tanpa dasar.

Prajurit Islam ini berasal dari basis Gajah Mada dalam merekrut prajurit elite yang terdiri dari 3 (tiga) kriteria: Mada; Gondang (Tenggulun-Lamongan) dan Badander (Jombang) yang diketahui sebagai basis teman-teman lama beliau. Dari desa-desa ini pemudanya direkrut menjadi Bhayangkara angkatan II dan seterusnya. Tuban, Leran, Ampel, Sedayu sebagai basis Garda Pantura. Pahang-Malaya, Bugis-Makasar, dan Pasai sebagai basis tentara Laut Luar Jawa.

Hal ini adalah wajar, karena di Jawa, Islam telah berbaur sejak abad ke 10 yang dibuktikan dengan penemuan Prasasti nisan Fatimah binti Maimun (wafat 1082 M) di Leran, Gresik yang bertuliskan huruf Arab Kufi. Dan Prasasti Gondang - Lamongan yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Keduanya merupakan peninggalan zaman Airlangga. Sedangkan orang Islam sudah masuk ke Jawa sejak zaman Kerajaan Medang abad ke 7. Islam baru berkembang dengan pesat di Jawa pada abad ke 15, atas peran tak langsung dari politik Gajah Mada, putra desa Mada-Lamongan, politikus abad ke 14.

Pembentukan Satuan Elite, Pabrik Senjata dan Dinar Emas

Satuan tentara elite Majapahit sudah dibangun sejak masa Jayanegara (1319), yaitu pasukan kawal raja – Bhayangkara, yang dipimpin oleh bekel Gajah Mada. Pada masa selanjutnya satuan elite terus berkembang, terutama pada masa Gajah Mada menjabat sebagai mahapatih amangkubhumi dari tahun 1334 sampai 1359, sejak masa Tribhuwana Tunggadewi hingga masa Hayam Wuruk.

Menurut “Hikayat Raja-raja Pasai”, ketika Majapahit menyerang Pasai, dan dipukul mundur (1345), lalu menyerang kembali dan meluluh lantakan istana Sultan Ahmad Malik Az Zahir (1350), Gajah Mada yang juga seorang muslim, membawa tawanan orang Pasai yang terdiri dari para ahli, insinyur lulusan Baghdad, Damaskus dan Andalusia. Sedangkan Sultan Pasai melarikan diri dari istana. Setibanya di Majapahit, Gajah Mada membebaskan tawanan tersebut setelah bernegosiasi dengan Prabu Hayam Wuruk. Kemudian orang Pasai ini bekerjasama dengan Gajah Mada untuk membangun kejayaan Majapahit. Sebagai balas jasa, Majapahit memberi otonomi kepada Kerajaan Pasai Darussalam, dan menempatkan orang Pasai di komplek elite di ibukota Majapahit – Trowulan. Hal ini dibuktikan, pada 1377 Majapahit menghancurkan Kerajaan Budha Sriwijaya dan menguasai seluruh Pulau Sumatera, kecuali Pasai.

“Maka titah Sang Nata akan segala tawanan orang Pasai itu, suruhlah ia duduk di tanah Jawa ini, mana kesukaan hatinya. Itulah sebabnya maka banyak keramat di tanah Jawa tatkala Pasai kalah oleh Majapahit itu” (Kutipan dari “Hikayat Raja-raja Pasai”).

Dengan adanya orang Pasai yang ahli dalam bidang tempa logam, baik itu baja maupun emas, maka didirikanlah bengkel senjata dan alat pertanian yang sempurna (standar baja Damaskus) , saluran irigasi model Andalusia di Trowulan dan pabrik koin dinar emas Majapahit. Seiring dengan perluasan wilayah Majapahit untuk mewujudkan “Sumpah Palapa”, Gajah Mada membentuk pleton-pleton khusus yang didominasi oleh prajurit Islam.

Prajurit Islam Majapahit di Bali

Penempatan 40 orang prajurit Islam Majapahit di Kerajaan Gelgel – Klungkung, Bali dimulai ketika Raja Gelgel I, Dalem Ketut Ngulesir (1320 – 1400) berkunjung sowan abdi ke Trowulan, tak lama setelah deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel tahun 1383. Beliau didampingi oleh Patih Agung, Arya Patandakan dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) yang menghadap Prabu Hayam Wuruk saat upacara Cradha dan rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit. Ketut Ngulesir memohon dukungan dari Maharaja Majapahit, yang dikabulkan dengan pemberian 1 (satu) unit pleton khusus binaan Almarhum Gajah Mada. (“Kitab Babad Dalem”, manuskrip tentang Raja-raja Bali).

Prajurit Islam ini menikah dengan wanita Bali, dan beranak-pinak disana. Mereka sangat setia membentengi Puri Gelgel – Klungkung. Bahkan meskipun pada akhirnya imperium Majapahit runtuh (1527), tapi Prajurit Islam tetap menjadi tentara elite Kerajaan Gelgel, dari generasi ke generasi. Begitu pula di Kerajaan Buleleng, prajurit Islam membentengi Puri Buleleng dari serangan Raja Mengwi dan Raja Badung dari Kerajaan di Bali Selatan.

Faktanya, saat ini kita masih dapat saksikan di Bali, keturunan prajurit Islam Majapahit yang telah mencapai ribuan orang Islam asli Bali (mereka menggunakan nama Bali, untuk membedakan dengan muslim pendatang) tepatnya di desa Gelgel, Klungkung dan di desa Pegayaman, Buleleng – 70 km arah utara Denpasar. Mereka adalah penduduk mayoritas di desa-desa kuno tersebut.

Pertanyaannya : Kenapa Hayam Wuruk mengirimkan pleton prajurit Islam untuk mengawal negeri bawahan Majapahit ?

Jawabannya: Pertama, almarhum Gajah Mada (wafat 1364) telah membangun sistem perekrutan satuan tentara elite yang beranggotakan prajurit Islam, dibekali dengan senjata pamungkas, dan berperang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW. Kedua, Prabu Hayam Wuruk diduga telah mengetahui bahwa Gajah Mada bukan Sudra, melainkan seorang Muslim. Kemungkinan info yang rahasia ini diperoleh dari Ibunda Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Untuk menghormati almarhum Gajah Mada, beliau tidak mencerai-beraikan pleton-pleton Muslim yang berjumlah 40 orang, karena dalam Madzhab Imam Syafi’i, syarat minimal untuk mendirikan sholat Jumat adalah 40 orang. Ketiga, kemampuan tempur 40 orang prajurit Islam dapat menghancurkan 200-400 orang tentara reguler musuh. Karena mereka dibekali kemampuan militer yang menguasai berbagai jenis senjata. Hal ini dibuktikan dalam perang mempertahankan Puri Buleleng dari serbuan pasukan gabungan dua Kerajaan Mengwi dan Badung, yang terletak di Bali Selatan. Keempat, Hayam Wuruk kagum atas kesetiaan dan ketetapan janji orang Islam. Mereka tidak terpengaruh godaan harta, wanita dan tahta yang bukan haknya. Mereka tidak pernah mabuk, berjudi, maling dan berzina ( kebiasaan buruk di Majapahit adalah mabuk dan berjudi, dan agak permisif dalam hal seks ). Panutan mereka adalah Gajah Mada, yang diklaim oleh orang-orang Majapahit sebagai orang Hindu berkasta Sudra?

Ketika pleton prajurit Islam Majapahit ini mengawal pulang rombongan Raja Gelgel, Ketut Ngulesir, mereka dibekali oleh Hayam Wuruk berupa puluhan ribu koin cash Cina dan koin Gobog Wayang (koin kepeng tembaga) serta ratusan koin dinar emas Majapahit. Ini sebagai balasan atas penyerahan upeti dari Kerajaan Gelgel Klungkung berupa hasil bumi, hewan ternak dan tangkapan, perhiasan dan kerajinan tangan rakyat Gelgel. Hayam Wuruk berharap, stok koin-koin tersebut mampu merangsang tumbuhnya ekonomi di Gelgel. Sejak saat itu Pura Klungkung dan Pura Buleleng telah akrab dengan koin dinar emas dalam ritual ibadah mereka.

Prajurit Islam Majapahit di Wanin – Papua

Saat Prof. JH Kern dan NJ Krom meneliti kitab Nagarakertagama yang ditemukan (dijarah) oleh JLA Brandes dari istana Cakranagara, Lombok (1894). Prof. Kern dan Krom, 1920, mendapati fakta bahwa kekuasaan Majapahit di Papua Barat dibuktikan dengan adanya penempatan prajurit Islam di Wanin – Papua. Berdirinya Kerajaan Wanin di Fak-fak hingga Biak merupakan vasal Majapahit. Sampai sekarang, Raja-raja dan rakyat di Wanin dan Fakfak sangat kental nuansa Islamnya dan sangat fasih menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Tak seperti di Bali, prajurit Islam Majapahit ini membawa istri mereka yang dinikahi di Jawa, Bugis, Seram dan pulau Maluku, sebelum akhirnya menetap di Wanin. Saat Majapahit runtuh, pada abad ke 16, Kerajaan Wanin bergabung dengan Kerajaan Ternate Darussalam di Maluku Utara, yang dulunya juga merupakan bawahan Majapahit. Diperkirakan situs Majapahit di Papua tersebar luas di Fak-fak, Biak dan Raja Ampat. Keturunan mereka berbeda dengan ras Papua.




Artikel 2
Prajurit Islam Majapahit di Marege – Australia

Sejarah resmi negeri kangguru, sepertinya harus segera direvisi. Sebab Prof. Regina Ganter, sejarawan dari University of Griffith, Brisbane, Australia – belum lama ini meriset suku Aborigin Marege yang berbahasa Melayu Makasar. Marege adalah desa kuno di tanah Arnhem, di daerah Darwin, Australia Utara. Regina mendapat fakta yang menakjubkan , bahwa komunitas Muslim kuno Aborigin berasal dari Kerajaan Gowa Tallo, Makasar, sudah ada sejak abad ke 17 (1650 an), dan menyebarkan Islam di Australia Utara hingga ke desa Kayu Jawa di Australia Barat.

Orang Marege hingga hari ini menyebut rupiah untuk kata ganti uang, padahal mata uangnya adalah dollar. Juga menyebut dinar untuk koin emas Australia. Dahulu sempat ditemukan koin Gobog Wayang di desa Marege Darwin. Padahal koin Gobog merupakan koin resmi Majapahit. Dan ini menunjukkan adanya jejak prajurit Majapahit abad ke 14 yang dikirim ke Marege, namun hal itu masih perlu pembuktian lebih lanjut.

Dalam risetnya, Prof. Regina menuturkan bahwa sejak masa Sultan Hasanuddin (1653-1669) kapal-kapal Pinisi dari Makasar menguasai perairan teluk Carpentaria – Darwin, mereka mencari tripang. Di tanah Arnhem, Marege, orang Makassar berhubungan dengan suku Aborigin, menikah dan beranak pinak membentuk komunitas Aborigin Muslim. Dalam kebudayaan Marege, nampak jelas mereka menggambar kapal Pinisi Makasar dalam karya seni kuno mereka. Uniknya, kapal bercadik Majapahit pun terpahat dalam seni ukir dan lukis mereka yang berusia ratusan tahun.

Ketika orang Inggris menjajah rayah desa Marege dan desa Kayu Jawa, mereka nyaris menghancurkan budaya Islam suku Aborigin Marege pada abad ke 20 seiring arus Westernisasi di negeri Kanguru. Karya seni Marage banyak yang diboyong ke Eropa. Orang Marege menyebut orang Inggris sebagai ‘Balanda’, sedangkan orang Kayu Jawa menyebutnya ‘Walanda’, dan perang melawan orang Inggris disebut ‘Jihad Kaphe’.

Semoga riset yang akan dilakukan oleh Tim Riset Yamasta ( beranggotakan Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi, Drs. Mat Rais dan Farhaz Daud ) untuk program yang akan datang, dapat mengungkap keberadaan situs Majapahit di Marege, Kayu Jawa dan tempat lainnya di Australia. Sesungguhnya kita adalah Bangsa yang besar dan jaya, pernah membangun perdaban Superpower – Nusantara. Mari bersatu, hilangkan egoisme SARA dan sinisme, marilah kita bangkit dan membangun kembali Nusantara [SF].
besaran mana sriwijaya sama majapahit ini agan bisa baca artikel ini:

Dalam sejarah terdapat tesis bahwa kerajaan yang berhasil adalah
kerajaan yang menguasai seluruh aliran sungai dari hulu sampai hilir
sebab ini mengkombinasi pedalaman yang agraris dan muara sungai sampai
laut yang maritim. Sejarah Indonesia telah membuktikan kerajaan-kerajaan
yang berhasil semacam itu, yaitu Kahuripan Erlangga, Singhasari
Kertanegara, dan Majapahit Raden Wijaya-Hayam Wuruk.

Indonesia masa kini : sektor agraris terbengkalai sehingga kedelai dan
beras harus diimpor, laut yang luas banyak didatangi kapal2 asing
pencuri ikan dan tepi wilayah lautnya dirongrong terus banyak negara
tetangga mengganggu kedaulatan wawasan Nusantara. Seharusnya kita
menggali kembali kejayaan masa lalu. Masa lalu adalah benar bahwa
“jalesveva jayamahe” – justru di laut kita jaya !

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, laut menghubungkan
sekitar 17.000 pulau-pulaunya. Maka, seharusnya budaya bahari mengakar
kuat di setiap manusia Indonesia.

Kejayaan bahari pertama dalam skala besar ditunjukkan oleh Kerajaan
Sriwijaya. Bagaimana konstruksi kapal mereka saat itu (abad ke-7) bisa
dilihat di sebuah relief di dinding Candi Borobudur yang terkenal itu.
Van Erp, seorang ahli arkeologi zaman Belanda di Indonesia, pernah
khusus mempelajari sebelas relief kapal laut di candi Budha terbesar di
dunia ini. Ia berkesimpulan bahwa kapal2 itu dapat digolongkan ke dalam
tiga kelompok : perahu lesung sederhana, perahu lesung yang dipertinggi
dengan cadik, dan perahu tanpa cadik.

Bagaimana Sriwijaya bisa menguasai lautan Nusantara di wilayah seluruh
Sumatra sampai Malaya sekarang adalah karena kebijaksanaannya dalam
memperkerjakan suku Orang Laut yang piawai dalam teknologi pembuatan
kapal dan strategi perang laut. Suku Orang Laut mendiami daerah muara
sunga-sungai dan hutan bakau di pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau,
dan pantai barat Semenanjung Malaya. Waktu itu, Sriwijaya telah berhasil
menjadi kekuatan perdana dalam sejarah Nusantara yang mendominasi
wilayah sekitar perairan timur Pulau Sumatera, yang merupakan jalur
kunci perdagangan dan pelayaran internasional (sampai saat ini). Ia
bergerak ke perairan Laut Jawa untuk menguasai jalur pelayaran
rempah-rempah dan bahan pangan hasil pertanian.

Sayang, Sriwijaya hanya negara maritim dan bukan agraris juga, maka ia
tak bertahan lama. Seperti saya sebutkan di awal, pengalaman sejarah
menunjukkan bahwa kota pelabuhan harus ditopang oleh hasil pertanian
yang menjadi komoditas unggulan dari wilayah pedalaman. Ketangguhan
agraria dan maritim adalah pilar-pilar utama untuk kejayaan Nusantara.

Ketangguhan agraris dan maritim pertama kali ditunjukkan oleh Singhasari
di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Cikal bakal kerajaan
ini sejak abad ke-10 oleh Medang, Kahuripan, lalu Kediri telah punya
basis yang kuat menguasai seluruh aliran sungai Brantas dari hulu sampai
hilirnya, meramu kekuatan agraria dan maritim. Maka saat Kertanegara
tampil, politik ekspansinya menguasai lautan Nusantara menjadi mulus.

Dalam Kakimpoi (babad, cerita, kitab) Negarakertagama Kertanegara telah
mendengungkan perluasan cakrawala mandala ke luar Pulau Jawa, yang
meliputi daerah seluruh dwipantara. Dengan kekuatan armada laut yang
tidak ada tandingannya, pada tahun 1275 Kertanegara mengirimkan
ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin
persahabatan agar bersama2 dapat menghambat gerak maju Kerajaan Mongol
ke Asia Tenggara. Tahun 1284, ia menaklukkan Bali dalam ekspedisi laut
ke timur. Dua pilar utama kekuatan agraris dan maritim telah membawa
Kertanegara menaklukan : Pahang, Melayu, Gurun (Indonesia Timur),
Bakulapura (Kalimantan BD), Sunda, Madura, dan seluruh Jawa. Sekalipun
lautan menjadi perhatian utamanya, Kertanegara tidak pernah “luput ing
madal” (lupa daratan), ia memperkuat sektor agrarianya.

Puncak kejayaan bahari tercapai pada abad ke-14 ketika Majapahit
menguasai seluruh Nusantara bahkan pengaruhnya meluas sampai ke
negara-negara asing tetangganya. Kerajaan Majapahit di bawah Raden
Wijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada telah berkembang pesat menjadi
kerajaan besar yang mampu memberikan jaminan bagi keamanan perdagangan
di wilayah Nusantara.

Visi dan keinginan kuat untuk membangun kerajaan yang mengedepankan
kekuatan maritim dan agrarian telah menjadi tekad Raden Wijaya, anak
menantu Kertanegara. Visi itu diwujudkan dengan memilih lokasi ibukota
Kerajaan Majapahit di daerah Tarik di hilir sungai Brantas dengan maksud
memudahkan pengawasan perdagangan pesisir dan sekaligus dapat
mengendalikan produksi pertanian di pedalaman.

Penyatuan Nusantara oleh Majapahit melalui ekspedisi2 bahari dimulai tak
lama setelah Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa yang
terkenal itu pada tahun 1334 : tan amukti palapa, “Sira Gajah Mada
pepatih amungkubumi tan ayun amukita palapa. Sira Gajah Mada lamun huwus
kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring
Seram, ring Doran, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring
Bali, Sunda, Palembang,Tumasik, samana ingsun amukti Palapa”

Ekspansi bahari ini tercatat dalam Negara Kertagama anggitan Mpu
Prapanca pada tahun 1365. Buku ini membagi wilayah kekuasaan Majapahit
dalam empat kelompok wilayah : (1) wilayah2 Melayu dan Sumatera : Jambi,
Palembang, Samudra dan Lamori (Aceh), (2) wilayah2 di Tanjung Negara
(Kalimantan) dan Tringgano (Trengganu), (3) wilayah2 di sekitar Tumasik
(Singapura), (4) wilayah2 di sebelah timur Pulau Jawa (Bali, Nusa
Tenggara, Sulawesi, Maluku sampai Irian). Daftar lengkap nama2 wilayah
taklukan Majapahit tersebut ada di buku Fruin-Mess (1919) “Geschiedenis
van Java” halaman 82-84 (Fruin-Mess mengumpulkannya berdasarkan
Pararaton, Negara Kertagama, dan Hikayat Raja-Raja Pasai). Fruin-Mess
(1919) menulis di halaman 84 (diterjemahkan dari bahasa Belanda),
“Dengan demikian, orang akan melihat bahwa luas wilayah Majapahit kurang
lebih sama dengan wilayah Hindia Belanda dikurangi dengan Jawa Barat
karena dalam daftar tak disebutkan nama Pasundan”

Bahkan juga terungkap dalam catatan sejarah bahwa pengaruh Kerajaan
Majapahit telah sampai kepada beberapa wilayah negara asing : Siam,
Ayuthia, Lagor, Campa (Kamboja), Anam, India, Filipina, China.

Keberhasilan Kerajaan Majapahit mewujudkan visi Sumpah Palapa, selain
dibakar semangat kebangsaan patriotik di bawah komando Mahapatih Gajah
Mada, juga banyak disumbang oleh keberhasilan Majapahit dalam
mengembangkan teknologi bahari berupa kapal bercadik yang menjadi
tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Gambaran model konstruksi kapal
bercadik sejak zaman Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit telah terpahat
rapih pada relief Candi Borobudur seperti diterangkan di atas. Armada
laut Majapahit ini didukung oleh persenjataan andalan berupa meriam
hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri
(atas tipudaya Raden Wijaya) dan roket (sekarang peluru kendali) yang
ditiru Majapahit dari peralatan perang Kubilai Khan itu. Peralatan
militer Majapahit ini dapat dibaca lebih lanjut di buku Jawaharlal Nehru
(1964) : A Glimpses of World History – Oxford University Press, New
York, atau Pramudya Toer (1998) : Hoakiau di Indonesia – Garba Budaya,
Jakarta. Sementara kapal2 armada zaman Sriwijaya-Singhasari bisa dilihat
di buku Anthony Reid (1996) : Indonesian Heritage : Early Modern History
- Archipelago Press, Jakarta, atau Djoko Pramono (2005) : Budaya Bahari
- Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tradisi Kerajaan Majapahit tidak banyak mendirikan candi, di pusat
kerajaannya pun dan di seluruh Jawa Timur tak banyak candi yang
ditinggalkannya, tak sampai lima candi telah ditemukan (misalnya candi
Tikus di utara Tulung Agung dan Bajang Ratu di Trowulan), itu pun sangat
sederhana, terbuat dari bata merah, tanah lempung yang dibakar; berbeda
dengan candi-candi Mataram Budha, Hindu atau Syiwa di Jawa Tengah yang
raja-rajanya gemar mendirikan candi yang massif dan besar terbuat dari
batuan andesit. Maka, di wilayah pusat Kerajaan Majapahit pun langka
ditemukan candi2 atau bentuk bangunan peninggalan lain, apalagi di
daerah taklukannya. Kalaupun ada, seberapa besar daya tahan bangunan
terbuat dari bata merah dibandingkan andesit ? Bukti2 wilayah penaklukan
Majapahit tercatat dalam babad-babad sejarah yang sezaman atau hampir
sezaman dengan periode penaklukannya.

Demikian, semoga kejayaan bahari masa lalu membuat kita menghargai
lautan dan sekitar 17.000 pulau yang menyusun Nusantara.

Kenapa majapahit tdk meninggalkan prasasti atau bangunan yg banyak?

Sangat dimaklumi jika Majapahit tidak banyak meninggalkan bangunan-bangunan bersejarah. Spt sifat org Jawa yg “amenang kang tanpa ngasorake” (menang/menaklukan tapi tidak menindas/memperbudak). Orang-orang Jawa banyak mempengaruhi Nuswantara (tmsk Thailand & Champa) melalui budaya. Alhasil alat2 musiknya pun terpengaruh unsur2 alat musik gamelan Jawa meskipun tdk sempurna. Orang2 Jawa memperkenalkan cara bercocok-tanam yg terorganisir dg baik. Senjata tikam khas Jawa yaitu keris jg mempengaruhi sampai ke pelosok Nusantara. Begitu juga budaya makan sirih.
Dalam manuskrip2 kuno Siam (Thailand) dan Champa (Kamboja-Vietnam) disebutkan mereka harus menghadap ke Jawa setiap tahun. Bahkan Siam berkali-kali meminta bantuan Jawa utk menahan gempuran China.
Singkat cerita orang2 Jawa kuno telah banyak berguguran di Laut Cina Selatan dan Selat Malaka demi menjaga keamanan dan kedaulatan bangsa2 di Asia Tenggara umumnya dan Nusantara khususnya.
Quote:Original Posted By joehan84
Kenapa majapahit tdk meninggalkan prasasti atau bangunan yg banyak?

Sangat dimaklumi jika Majapahit tidak banyak meninggalkan bangunan-bangunan bersejarah. Spt sifat org Jawa yg “amenang kang tanpa ngasorake” (menang/menaklukan tapi tidak menindas/memperbudak). Orang-orang Jawa banyak mempengaruhi Nuswantara (tmsk Thailand & Champa) melalui budaya. Alhasil alat2 musiknya pun terpengaruh unsur2 alat musik gamelan Jawa meskipun tdk sempurna. Orang2 Jawa memperkenalkan cara bercocok-tanam yg terorganisir dg baik. Senjata tikam khas Jawa yaitu keris jg mempengaruhi sampai ke pelosok Nusantara. Begitu juga budaya makan sirih.
Dalam manuskrip2 kuno Siam (Thailand) dan Champa (Kamboja-Vietnam) disebutkan mereka harus menghadap ke Jawa setiap tahun. Bahkan Siam berkali-kali meminta bantuan Jawa utk menahan gempuran China.
Singkat cerita orang2 Jawa kuno telah banyak berguguran di Laut Cina Selatan dan Selat Malaka demi menjaga keamanan dan kedaulatan bangsa2 di Asia Tenggara umumnya dan Nusantara khususnya.


2. Kenapa tidak ada bangunan yg megah seperti keraton dll?
Disamping sering terjadinya banjir, longsor dan gunung meletus. di era majapahit saat itu bangunan kebanyakan berbahan baku kayu, seperti pilar, pintu yg berukir, genteng dll. bisa pula kayu2 itu hancur dimakan usia dan habis terbakar akibat perang paregrek dan serangan dari demak. Kota Majapahit banyak terdiri dari rumah padat penduduk yg ditata rapi dan di kelilingi tembok tinggi. di Jombang,disini banyak juga peninggalan Majapahit seperti bekas pondasi dan tembok. semuanya rusak gara2 para petani yg kurang mempunyai pengetahuan. Mereka sering menemukan batu bata kuno, tetapi sering dibiarkan begitu saja.
mengenai usak jawa di syair nansarunai ini isi syair nya gan

NANSARUNAI USAK JAWA
syair pertama

Nansarunai takam rome usak Jawa
Ngamang talam takam lulun unggah Gurun

Nansarunai takam galis kuta apui
Ngamang talam takam jarah sia tutung

Nansarunai takam wadik jari danau
Ngamang talam takam wandui janang luyu

Hang manguntur takam galis em'me angang
Kuda langun takam jarah mangalongkong

Suni sowong kala tumpuk tanan olun
Wayo wotak alang gumi Punei Lului
syair kedua

Batang Nyi'ai ka'i hawi tamurayo
Telang nyilu ne'o jaku taleng uan

Anak nanyo ka'i hawi nganyak kaleh
Bunsu lungai ne'o jaku ngisor runsa

Ngunu ngugah pasong teka watang tenga
Hamen bingkang kilit iwo pakun monok

Muru pitip Nansarunai ngunu hulet mengalungkung
Ngamang talam takam tantau nuruk nungkai

Hang manguntur takam kala harek jatuh
Kudalangun takam alang rakeh riwo

Hang manguntur takam kala buka payung
Kudalangun takam alang bangun tang'ngui

Jam'mu ahung takam kawan rum'ung rama
Luwai hewo padu ipah bawai wahai

Karena adanya Nansarunai terdapat pada periode sebelum munculnya kerajaan Nagara Dipa maka, saya meyakini tradisi yang menyebutkan ”Nansarunai usak Jawa” yang banyak diasumsikan sebagai serangan pihak Jawa (besar kemungkinan dari pecahan kerajaan Majapahit) yang membuat Nansarunai pecah dan tercerai berai. Hal tersebut memang tercermin dari syair diatas yang menggambarkan sebuah kerusakan dan kehancuran yang datang dari luar. Namun saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, dimana Nansarunai Usak jawa adalah sebuah kekalahan budaya. Bukan dalam bentuk peperangan, karena saya berasumsi kalaupun ada peperangan harusnya dicatat oleh pihak Penyerang dalam hal ini adalah Jawa, karena pihak Jawa yang terpengaruh kebudayaan besar Majapahit sudah mapan dari segi budaya dan mengenal baca tulis pastilah mencatat tentang kejadian penting seperti itu. Kekalahan budaya masyarakat Ma’anyan di Nansarunai terjadi karena mereka dalam hal ini masyarakat Nansarunai kaget dengan hadirnya kebudayaan yang jauh lebih besar dan mapan untuk ukuran saat itu. Sehingga mereka berangsur-angsur meninggalkan Nansarunai. Namun intinya Usak jawa adalah sebuah kesedihan, ratapan dan rasa tersingkir oleh sebuah kekuatan dari luar, yang menyebabkan orang Maanyan merasa sangat kehilangan.


Laki-laki dengan sumpit yang terdapat direlif candi Borobudur yang menurut para Antropolog adalah orang-orang Dayak yang berhubungan dengan orang-orang Jawa
Spoiler for relief:


Jejak-jejak meninggalkan Nansarunai bisa terlacak pada suku Merina di Madagaskar Afrika, Dayak Tumang di Samihim dan di Warukin Tabalong dan bahkan didaerah seperti di Pasar Arba Kalua (banua lawas). Selanjutnya tentu saja dimana tempat bekas berdirinya Nansarunai, maka orang-orang dari Jawa mendirikan Kerajaan dan itu tercatat dalam sejarah disebut dengan Negara Dipa yang bercorak Hindu yang dalam Hikayat Banjar disebutkan dipimpin oleh Empu Jatmika ayah dari Lembu Mangkurat dan Negara Dipa datang suatu tempat yang bernama Keling yaitu suatu daerah sekitar Kediri utara, Nagara Dipa kemudian berlanjut ke Nagara Daha dan Kesultanan Banjar. Lahirnya kesultanan Banjar yang awalnya Negara Daha yang bercorak hindu menjadi Islam, dikarenakan konsekwensi dari perjanjian Sultan Suriyansah pada kerajaan Demak, dalam upayanya merebut takhta kerajaan dari pamannya. Perpindahan keyakinan tersebut juga berimbas pada disingkirkannya keyakinan-keyakinan lama baik itu Hindu maupun keyakinan lokal seperti Kaharingan, yang dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai normatif Islam yang berlaku dalam cerita lisan Banjar ada ditemukan, seorang ulama kharismatik yang bernama Khatib Dayyan dikirimkan kerajaan Demak untuk mengajarkan Islam secara intensive. Dan proses Islamisasi lebih diperkuat pada abad ke-18, ketika Syekh Arsyad al-Banjarai, yang menuntut ilmu agama di Mekkah, dan pulang serta menjadi penasehat dari Sultan Tamjidillah. Sehingga tamatlah riwayat jejak-jejak Nansarunai.
Akibat pecahnya Nansarunai juga berimbas kepada, Suku Dayak Maanyan terbagi dan tersebar menjadi beberapa sub suku kecil, yaitu: (1) Maanyan Siung yang bermukim di Telang, Paju Epat, dipimpin oleh Uria Napulangit, (2) ma’anyan Kampung sapuluh (paju sapuluh) dipimpin oleh Uria Biring (3) Uria Magaί yang memimpin Banua Lima. (Hudson, dalam Padju Epat 1967). Namun sekarang suku Dayak Ma’anyan sebagian besar bermukim didaerah Barito Timur dan Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Siapa pemimpin Nansarunai, sekali lagi inilah sulitnya melacak tokoh tersebut karena tidak ada sejarah tertulis yang valid dan bisa digunakan sebagai rujukan. Hanya saya meminjam tulisan dari Sutopo Ukip (Sutopo Ukip 1998)yang menyebutkan Raden Japutra layar pada kurun 1309-1329 M, penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Nan Sarunai adalah Raden Neno (1329-1349) dan kemudian Raden Anyan (1349-1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah pemimpin terakhir Nan Sarunai. Dan istilah Raden nampaknya sangat kental berbau budaya Jawa, jadi saya lebih beranggapan istilah Raden lebih kepada serapan dari budaya Jawa
Mantap bro,

Dulu saya bawa makalah ini ke DC tapi sepi peminat, dan banyak yang beranggapan kekuasaan Majapahit adalah hoax tanpa mempelajari bentuk pemerintahan di masa itu dan hanya karena minimnya peninggalan Imperium ini.
Sebenarnya bila rajin baca, teliti, dan memiliki daya ingat yang baik, smenjak dahulu tersebar berita mengenai peninggalan2 Majapahit yang bernasib malang ini yang berakhir tanpa ketahuan rimbanya (ke tangan kolektor dan black market).
Quote:Original Posted By joeraygaul
Mantap bro,

Dulu saya bawa makalah ini ke DC tapi sepi peminat, dan banyak yang beranggapan kekuasaan Majapahit adalah hoax tanpa mempelajari bentuk pemerintahan di masa itu dan hanya karena minimnya peninggalan Imperium ini.
Sebenarnya bila rajin baca, teliti, dan memiliki daya ingat yang baik, smenjak dahulu tersebar berita mengenai peninggalan2 Majapahit yang bernasib malang ini yang berakhir tanpa ketahuan rimbanya (ke tangan kolektor dan black market).


Iya gan makasih kasihan peninggalan2 yg diperjualbelikan pihak yg mementingkan uang sudah seharusnya pemerintah dan kita semua lebih concern melindungi dan merawat cagar budaya peninggalan sejarah

Salam
Quote:Original Posted By joeraygaul
Mantap bro,

Dulu saya bawa makalah ini ke DC tapi sepi peminat, dan banyak yang beranggapan kekuasaan Majapahit adalah hoax tanpa mempelajari bentuk pemerintahan di masa itu dan hanya karena minimnya peninggalan Imperium ini.
Sebenarnya bila rajin baca, teliti, dan memiliki daya ingat yang baik, smenjak dahulu tersebar berita mengenai peninggalan2 Majapahit yang bernasib malang ini yang berakhir tanpa ketahuan rimbanya (ke tangan kolektor dan black market).


Jangan asal mantap2 lo
coba dibasa baik2, masa gajahmada diklaim muslim

bentar ane butuh research dulu :
Quote:Original Posted By Hashimi


Jangan asal mantap2 lo
coba dibasa baik2, masa gajahmada diklaim muslim

bentar ane butuh research dulu :

Ini kan bukan DC has, mengenai benar atau tidaknya tentang apa yang dianut oleh Gajah Mada memang perlu riset lanjutan, karena Islam memang sudah lama masuk Nusantara dan para saudagar Muslim sudah menjalin hubungan dagang dengan wilayah2 Nusantara, apalagi Majapahit termasuk toleran terhadap pemeluk agama lain walau menerapkan doktrin surya majapahitnya.
Apa sopan kalau saya langsung mengajukan argument frontal dan malah disangka flaming?
Quote:Original Posted By Hashimi
gan ane mau diskusi nih soal klaim kekuasaan majapahit:

Menurut lo kekuasaan majapahit sampai sulawesi, maluku, dan irian gak? Menurut gw enggak karena, tidak ada konfirmasi balik dari wilayah tsb.

Lo setuju gak usak jawa yg dimaksud syair nan sarunai dayak adalah kerajaan majapahit?

Apakah majapahit benar2 menaklukan sumatera? Adakah bukti konfirmasi dari Sriwijaya?

Kenapa majapahit tdk meninggalkan prasasti atau bangunan yg banyak?

Kenapa konfirmasi kebesaran majapahit dari luar negri kalah dgn sriwijaya?

Mana yg lebih besar majapahit atau sriwijaya?


Maaf ikutan ya gan ...

Mungkin banyak yg meragukan kekuasaan Majapahit di Nusantara karna sedikit meninggal jejak berupa prasasti ataupun bangunan lain di luar Pulau Jawa. Tetapi sebenarnya kekuasaan Majapahit akan daerah lain juga tercatat dalam Catatan China.

Seperti Ming Shilu (Catatan Dinasti Ming) dibawah ini. Kekuasaan Majapahit atas Brunei (Boni) dicatat sbb :

Hong-wu: Year 4, Month 8, Day 13 (22 Sep 1371)

Bo-ni is in the great ocean of the South-west and it controls 14 administrative divisions (zhou). It is subject to She-po ...

She-po adalah sebutan Pulau Jawa dalam bahasa China saat itu, dan dalam hal ini merujuk pada Majapahit. Pada bagian lain dari Ming Shilu dicatat sbb :

Yong-le: Year 6, Month 11, Day 4 (21 Nov 1408)
The posthumous title of "Gong-shun" (Respectful and According) was conferred upon Ma-na-re-jia-na-nai, the deceased king of the country of Bo-ni. It was ordered that his son Xia-wang inherit the fief as king of the country of Bo-ni. Xia-wang and his uncle Shi-li Nan-na-na-nuo said: "Our country yearly provided to Java 40 jin of "pian-nao" camphor. It is requested that Imperial orders be sent to Java ordering it to cease requiring this tribute.

Pada tahun 1408 ketika Majapahit mulai melemah, Brunei (Boni) meminta bantun Kerajaan Ming untuk melepaskan diri sebagai Vasal State dari Majapahit.

Kekuasaan Majapahit terhadap Sumatera juga diakui oleh Dinasti Ming seperti yg tertulis pada Ming Shilu berikut ini :

Hong-wu: Year 30, Month 8, Day 27 (18 Sep 1397)

I have heard that San-fo-qi is subject to Java ... San-fo-qi is a subject of Java and will trust its words. If they are able to change their ways and follow the correct path, then together with all the countries, they will be treated with propriety like before, and will not have to be filled with apprehension

San-fo-qi merujuk kepada kerajaan Srivijaya di Sumatera, yg pada tahun 1397 berada dibawah Darmasraya. Catatan China ini menunjukan bahwa Kerajaan Ming mengakui kekuasaan Majapahit atas Sumatera (San-fo-qi) saat itu.

Dan masih ada beberapa lagi catatan dari Ming Shilu mengenai kekuasaan Majapahit di Sumatera hingga masa berdirinya Kesultanan Malaka.
sejarah yg terlalu d besar2kan dan d klaim dan d tulis oleh suku jawa sendiri.. tnpa ada nya bukti yg otentik itu sendiri..

kerajaan majapahit yg ktanya pada masa nya mengusai nusantara itu cuma hoax doank..

bukti2 sejarah d daerah kekuasaan nya tak ada sama skali..

coba buktikan peninggalan dari prasasti atau lain nya di daerah yg d jajah majapahit.?
Quote:Original Posted By Ngwang


Maaf ikutan ya gan ...

Mungkin banyak yg meragukan kekuasaan Majapahit di Nusantara karna sedikit meninggal jejak berupa prasasti ataupun bangunan lain di luar Pulau Jawa. Tetapi sebenarnya kekuasaan Majapahit akan daerah lain juga tercatat dalam Catatan China.

Seperti Ming Shilu (Catatan Dinasti Ming) dibawah ini. Kekuasaan Majapahit atas Brunei (Boni) dicatat sbb :

Hong-wu: Year 4, Month 8, Day 13 (22 Sep 1371)

Bo-ni is in the great ocean of the South-west and it controls 14 administrative divisions (zhou). It is subject to She-po ...

She-po adalah sebutan Pulau Jawa dalam bahasa China saat itu, dan dalam hal ini merujuk pada Majapahit. Pada bagian lain dari Ming Shilu dicatat sbb :

Yong-le: Year 6, Month 11, Day 4 (21 Nov 1408)
The posthumous title of "Gong-shun" (Respectful and According) was conferred upon Ma-na-re-jia-na-nai, the deceased king of the country of Bo-ni. It was ordered that his son Xia-wang inherit the fief as king of the country of Bo-ni. Xia-wang and his uncle Shi-li Nan-na-na-nuo said: "Our country yearly provided to Java 40 jin of "pian-nao" camphor. It is requested that Imperial orders be sent to Java ordering it to cease requiring this tribute.

Pada tahun 1408 ketika Majapahit mulai melemah, Brunei (Boni) meminta bantun Kerajaan Ming untuk melepaskan diri sebagai Vasal State dari Majapahit.

Kekuasaan Majapahit terhadap Sumatera juga diakui oleh Dinasti Ming seperti yg tertulis pada Ming Shilu berikut ini :

Hong-wu: Year 30, Month 8, Day 27 (18 Sep 1397)

I have heard that San-fo-qi is subject to Java ... San-fo-qi is a subject of Java and will trust its words. If they are able to change their ways and follow the correct path, then together with all the countries, they will be treated with propriety like before, and will not have to be filled with apprehension

San-fo-qi merujuk kepada kerajaan Srivijaya di Sumatera, yg pada tahun 1397 berada dibawah Darmasraya. Catatan China ini menunjukan bahwa Kerajaan Ming mengakui kekuasaan Majapahit atas Sumatera (San-fo-qi) saat itu.

Dan masih ada beberapa lagi catatan dari Ming Shilu mengenai kekuasaan Majapahit di Sumatera hingga masa berdirinya Kesultanan Malaka.


makasih gan dibantu
Quote:Original Posted By joehan84


makasih gan dibantu


Sekedar melengkapi penjelasan ente aja ko bro ... sedikit tambahan lagi dari Catatan China ...

Tidak seperti di China, dimana Catatan Kerajaan sangat lengkap. Di Indonesia tidak cukup banyak Catatan yg bisa didapat. Sehingga seringkali kita harus mengandalkan Catatan dari China untuk merekonstruksi Sejarah Masa Lalu di Indonesia.

Salah satu Catatan China yg menarik mengenai Majapahit adalah seperti Catatan yg ditulis oleh Zhi Shen Utusan dari Dinasti Ming dgn judul Boniguo Rugong Ji (1371 AD). Pada saat Utusan dari Dinasti Ming dikirim ke Brunei memerintahkan Brunei untuk mengirim Utusan ke China sebagai tanda tunduk. Terjadi perdebatan antara Utusan Ming, Utusan Majapahit dan Raja Brunei :

Pada mulanya Raja Brunei menolak mengirim Utusan ke China dgn alasan sbb :

"... The next day the king made excuses saying : "Recently Sulu has raised arms and has invaded us, and they robbed my people and treasures completely. We should wait for three years, after which the conditions of the country will have improved, and we will build a vessel, to submit tribute .."

Kemudian dijawab oleh Utusan Ming sbb :

" .. I replied: "The Emperor is rich owning the four seas, so what should he be asking from your highness ? What he wants is, that your highness declares yourself vassal, to demonstrate that you have no other obligation ..."

Tetapi kemudian Utusan Majapahit membalas dgn mengatakan :

" ... When Sulu attacked Your Highness, our army repulsed them. Now I learn that you turn your true feeling towards China and you don't have any for Shepo ! ... "

Utusan Ming kemudian mengancam Raja Brunei :

" ... If I would return this morning (to the imperial court), a great army would arrive this evening, and even all your remose would be to no vail ! ... "

Akhirnya Raja Brunei mengirim Utusan ke China dgn jawaban sbb :

"I, your vassal Mahemosha, King of Boni ... I have learned that the emperor has ascended to imperial position and now is the ruler of all under heavean. My hearts is full of Joy. My country is an insignificant place under the administration of Shepo. So how could I have been worthy of the Emperor's attention ? ... May Your Majesty live 10,000 times ten thousand years, and may the Crown Prince live one thousand times and one thousand years. Have pity on me and do not think me as strange. Memorial by your subject Mahemosha, king of Boni, in the fifth month of th fourth year of Hongwu era "

Akhirnya Raja Brunei memilih jalan diplomatis, di satu sisi tetap mengirim Utusan ke China tapi di sisi lain tetap mengakui bahwa Kerajaan Brunei berada dalam kekuasaan Majapahit. Sehingga dalam Catatan Resmi Dinasti Ming (Ming Shilu) tercatat, pengakuan Dinasti Ming terhadap kekuasaan Majapahit di Brunei sbb :

Hong-wu: Year 4, Month 8, Day 13 (22 Sep 1371)
Bo-ni is in the great ocean of the South-west and it controls 14 administrative divisions (zhou). It is subject to She-po ...

Dari pembicaraan antara Utusan Ming, Utusan Majapahit dan Raja Brunei ini setidaknya kita bisa mendapat sedikit gambaran bagaimana hubungan antara Kerajaan-Kerajaan yg ada pada masa itu.

---

Tetapi yg jelas Catatan Sejarah di atas bukan ditulis oleh suku Jawa tetapi dari China, setidaknya ini menunjukan klaim Negarakertagama dibenarkan oleh Chinese Sources ... so kurang tepat lah kalo dibilang Sejarah Majapahit ditulis oleh suku Jawa saja ...
Quote:Original Posted By virgose
sejarah yg terlalu d besar2kan dan d klaim dan d tulis oleh suku jawa sendiri.. tnpa ada nya bukti yg otentik itu sendiri..

kerajaan majapahit yg ktanya pada masa nya mengusai nusantara itu cuma hoax doank..

bukti2 sejarah d daerah kekuasaan nya tak ada sama skali..

coba buktikan peninggalan dari prasasti atau lain nya di daerah yg d jajah majapahit.?


@virgos:Jejak Majapahit di Malaysia.ada desa bernama Kampong Majapahit dan sungai kecil ('alor' dalam bahasa Melayu) bernama Alor Manjapahit (Manjapahit sini adalah ejaan korup Majapahit) di kota Kedah di perbatasan Thailand.

Spoiler for Kampung Majapahit:


di kota Kedah Kampong Majapahit dan Alor Manjapahit adalah. Tidak ada yang tahu bagaimana Majapahit nama diabadikan di sini. Tetapi menurut para tetua disana,tentara Majapahit banyak menetap di sini dan menikahi perempuan lokal, dan akhirnya mereka dan keturunan mereka menjadi bagian dari Kedah Melayu.

Era Majapahit dimulai pada sekitar periode yang sama dengan penurunan Khmer kerajaan untuk Cham dan kemudian siam invasi. Jadi pada saat itu era Angkor sudah berlalu dan Kamboja sudah lemah, namun masih disebutkan dalam Nagarakretagama. Namun sekutu penting dari Majapahit adalah Champa. Ada kisah banyak dan catatan menghubungkan Champa dan Majapahit, seperti kisah (mungkin salah satu sejarah) dari pernikahan putri Champa dengan Prabu Brawijaya atau Bhre Kertabhumi

DEPOK, KOMPAS.com - Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N Miksic mengatakan, pengaruh Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur sampai hingga Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit, lanjutnya, dapat dikatakan menjajah daerah tersebut.

"Dalam kitab Negarakertagama yang ditulis Prapanca, Tumasik (Singapura) juga termasuk dalam jajahan Majapahit," kata Miksic dalam seminar Internasional Epigrafi dan Sejarah Kuna Indonesia di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu (5/12/2012).

Miksnic menambahkan, kerajaan di Semenanjung Malaya mencari perlindungan dengan tunduk pada raja Jawa.

Sebenarnya, lanjutnya, sejak masa Raja Kertanegara dari Singasari, semenanjung Malaya telah meminta perlindungan raja Jawa itu. Namun, puncak dari hal tersebut diketahui terjadi pada masa raja-raja Majapahit.

Menurutnya, dominasi Jawa di Semenanjung Malaya dapat diketahui dari peninggalan arkeologis di tempat tersebut. Peninggalan arkeologi lebih memperlihatkan pengaruh Majapahit di Semenanjung Malaya yang sangat kuat.

"Di wilayah Melayu ditemukan artefak berupa kesenian bermotif Jawa. Bentuknya adalah arca Kala Makara dan Dewi Prajnaparamita yang memperlihatkan ciri kesenian khas Jawa Majapahit. Selain itu, juga banyak ditemukan gerabah yang lebih berciri Trowulan. Ada kesinambungan yang terjadi antara hubungan Melayu dengan kerajaan Jawa (Majapahit)," tandasnya.

Ia menerangkan, bentuk definisi jajahan pada masa lampau dengan sekarang berbeda. Sebab, sistem penjajahan di masa kini lebih berarti monopoli. Padahal, hubungan antara Majapahit dan daerah jajahannya tidak seperti hal itu. Menurut sejarah, hubungan Majapahit dan Melayu bahkan saling menguntungkan.

Menurutnya, Majapahit kemungkinan besar hanya mengirim tentara ke daerah jajahannya dalam keadaan tertentu. Sebab itu, pengaruh Majapahit yang sangat mempengaruhi daerah jajahannya lebih berorientasi pada bentuk kebudayaan.

"Salah satu tanda kebudayaan itu adalah terakota. Kemungkinan besar bukan dibuat di Jawa tapi di Pattani (Thailand Selatan) yang meniru bentuk kebudayaan Jawa. Pengaruh Trowulan, Kebudayaan khas Majapahit, sudah ada di sana dan sangat mempengaruhi," tegasnya.

Bukti Arkeologi di Singapura Berorientasi ke Jawa

Miksic mengatakan, banyak tinggalan arkeologi di Singapura bercirikan artefak yang ditemukan di Jawa Timur. Menurutnya, di Stanford Road pernah ditemukan benteng kuno seperti yang ditemukan di Kota Jawa, Sumatera Utara.

Namun, seiring pembangunan di wilayah tersebut, benteng kuno lenyap. Bukti lain yang memperlihatkan pengaruh Jawa adalah Pancur Larangan.

"Pancuran di Singapura meniru di Candi Belahan, Jawa Timur. Banyak sekali persamaan antara penemuan arkeologi arsitektur di Singapura dan Majapahit," tambahnya.

Selain adanya kesamaan peninggalan arsitektur kuna berupa fitur, ada hal yang serupa dalam penemuan artefak. Penggalian yang dilakukan di Singapura memperlihatkan gerabah yang dipengaruhi kebudayaan Majapahit.

Selain gerabah, tandasnya, ada temuan mata uang kepeng China yang lazim digunakan Majapahit. Selain mata uang, ornamen artefak yang ditemukan di Keramat Iskandar Shah memperlihatkan kesamaan dengan bentuk pengarcaan Adityawarwan.

Arca Adityawarman ditemukan di Padang Roco Sumatera Barat. Figur Adityawarman tersebut, terangnya, berdasarkan bukti naskah kuna sangat dekat dengan kerajaan Majapahit.

"Menurut sumber naskah itu, Adityawarman dilahirkan di Jawa. Beberapa pusaka di Pagaruyung, Sumatera Barat, kemungkikinan besar dari masa Adityawarman yang ada kesamaan budaya dengan Majapahit," tandanya.

Lebih jauh ia menambahkan, dalam memperebutkan wilayah Singapura, Majapahit dan Siam atau Thailand sempat bertikai. Pada abad ke-14 M, Siam menyerang Singapura yang saat itu dikuasai pengaruh Majapahit. Namun, Majapahit tidak dapat ditundukkan Siam.

Pengaruh Majapahit di Singapura, lanjutnya, semakin dikuatkan di bukit Larangan. Bentuk itu, terangnya, adalah pendirian beberapa bangunan bata khas Majapahit yang didirikan utusan dari Jawa.

Spoiler for Bukit larangan singapura:


"Bukit itu kini menjadi rumah Raffles. Dulu di sana ada Candi Bata. Namun sejak rafles mendirikan bangunan di sana, semuanya hilang tak berbekas," pungkasnya.
Quote:Original Posted By joeraygaul

Ini kan bukan DC has, mengenai benar atau tidaknya tentang apa yang dianut oleh Gajah Mada memang perlu riset lanjutan, karena Islam memang sudah lama masuk Nusantara dan para saudagar Muslim sudah menjalin hubungan dagang dengan wilayah2 Nusantara, apalagi Majapahit termasuk toleran terhadap pemeluk agama lain walau menerapkan doktrin surya majapahitnya.
Apa sopan kalau saya langsung mengajukan argument frontal dan malah disangka flaming?


makasih gan dibantu
HAYAM WURUK
Dyah Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1351 - 1389, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Di masa pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaan, didampingi patihnya, Gajah Mada. Hayam Wuruk adalah putra pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Kertawardhana (Cakradhara). Ibunya adalah putri
Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singasari bergelar Bhre Tumapel.
Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (kemudian bernama Deli, dekat Medan sekarang). Majapahit juga menghancurkan Palembang, sisa-sisa pertahanan Kerajaan Sriwijaya (1377). Dalam tahun-tahun pemerintahan Hayam Wuruk ini pun terlahir beberapa karya sastra fenomenal, di antaranya kitab Kakimpoi Sutasoma (yang memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa) yang disusun oleh Mpu Tantular dan kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca (1365).


TRIBHUWANATUNGGADEWI
Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit yang memerintah tahun 1328-1351. Dari Prasasti Singasari (1351) diketahui gelar abhisekanya ialah Sri Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.
Nama asli Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah Dyah Gitarja.
Ia merupakan putri dari Raden Wijaya dan Gayatri. Memiliki adik kandung bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri bernama Jayanagara. Pada masa pemerintahan Jayanagara (1309-1328) ia diangkat sebagai penguasa bawahan di Jiwana bergelar Bhre Kahuripan.
Suami Tribhuwana bernama Cakradhara yang bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkimpoian itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja (raja muda) bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Netarja sebagai Bhre Pajang.

GAJAH MADA
Gajah Mada atau Patih Gajah Mada merupakan salah satu tokoh besar di Kerajaan Majapahit. Menurut berbagai kitab dari zaman Jawa Kuno, ia menjabat sebagai patih (mentri besar), kemudian mahapatih (perdana mentri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya bersama Raja Hayam Wuruk.
Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Di Indonesia pada masa kini, ia dianggap sebagai salah satu pahlawan penting dan merupakan simbol nasionalisme. Bahkan Sumpah Palapa yang dianggap sebagai simbol pemersatu tersebut diabadikan menjadi nama untuk satelit Indonesia, Satelit Palapa.
Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1351-1389) yang menggantikan Tribhuwanatunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sesak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

LEMBU SORA
Adalah pengikut Raden Wijaya (Nararya Sanggramawijaya) yang berjasa besar dalam perjuangan mendirikan Kerajaan Majapahit. Ia sering dianggap sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia, namun akhirnya mati sebagai "pemberontak" di halaman istana Majapahit. Dalam beberapa karya sastra, Mpu Sora juga disebut dengan nama Lembu Sora, Ken Sora, Andaka Sora, atau kadang disingkat Sora saja.

MPU NAMBI
Adalah pemegang jabatan rakryan patih pertama dalam sejarah Kerajaan Majapahit. Ia ikut berjuang mendirikan kerajaan tersebut namun kemudian gugur sebagai korban fitnah pada pemerintahan raja kedua Majapahit, Jayanagara.


RANGGALAWE
Pengikut Raden Wijaya yang berjasa besar namun meninggal sebagai "pembelot" pertama dalam sejarah kerajaan ini. Nama besarnya dikenang sebagai pahlawan oleh masyarakat Tuban, Jawa Timur. Ranggalawe merupakan seorang ksatria tanggguh. Keahliannya dalam memainkan senjata pedang membuat Ranggalawe menjadi seorang Makadga tanpa tanding.

RA TANCA
Merupakan ahli pengobatan istana. Keahliannya dalam mengolah dan memilih tumbuh-tumbuhan serta hewan untuk dijadikan obat tidak diragukan lagi. Hal ini membuat dia menjadi tabib kerajaan yang dihormati. Ra Tanca pandai dalam menentukan kandungan serta unsur yang berguna bagi pengobatan. Dari berbagai jenis tanaman, obat dan ramuannya tercipta.

PANJI SAPRANG
Kebesaran nama Panji Saprang memang tidak semahsyur Gajah Mada atau Airlangga dalam catatan sejarah di Nusantara. Namun ketika membicarakan Ken Angrok (Ken Arok) maka nama Panji Saprang mungkin akan sedikit disinggung. Panji Saprang dikisahkan menjadi seorang ksatria Mamanah (ahli panah) yang jumawa.

KEBO ANABRANG
Dikenang atas peristiwa yang menyebabkan terbunuhnya Ranggalawe. Ia adalah komandan pasukan yang ditugaskan Raden Wijaya untuk meredakan pasukan Ranggalawe. Keduanya mati terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kebo Anabrang berhasil memperdaya Ranggalawe. Namun ia terbunuh Lembu Sora, paman Ranggalawe yang menjadi sekutunya sendiri.

MENTERI
Atau manteri, berasal dari istilah Sansekerta mantrin, yang berarti pejabat atau menteri negara. Dalam bahasa Jawa Kuno kata ini mengacu kepada kelompok cendekiawan seperti ahli hukum, agama, penyair, dan para ahli yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan. Pejabat tinggi kerajaan yang membantu raja dalam mengelola dan mengatur pemerintahan kerajaan. Pada zaman Majapahit, menteri menjadi motor penggerak kemajuan kerajaan.

BHAYANGKARA
Bhayangkara adalah satuan pasukan elit laki-laki dari Kerajaan Majapahit. Pasukan bhayangkara ini sangat terkenal ketika masih dalam pimpinan Gajah Mada. Ditakuti di medan laga dan disegani di istana.

BHAYANGKARI
Adalah satuan pasukan elit perempuan dari Kerajaan Majapahit. Bhayangkari memiliki kemampuan khusus dalam pertempuran dan penyusupan ke daerah lawan.

WADYABALA
Adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pasukan perang dan prajurit. Wadyabala dilatih ilmu pertempuran baik pertempuran individu maupun pertempuran kelompok.
oke2 gw akuin kebesaran majapahit.....