Quote:Original Posted By cruts
biar ga saya kasih buat um ganteng

bentar bentar ada yang janggal nih.. kalo roh (khodam) ngikutin tingkah laku kita (baik buruk) lalu buat apa dia ngikutin kita? kalo kita punya roh (khodam) yang bisa bantu kita ningkatin spiritual kita sih ga masalah lha kalo kita nya bejat trus dia ngikut bejat juga kan ga ada guna nya dia ngikutin kita.. mohon saya di koreksi.. rahayu


pertanyaan saya yang ini di cuekin
ta lempar loh becanda mbah

Quote:Original Posted By AhmadKarebet
wuih Puh Acan datang powernya serrreeeeem, mantap

Gini maksudnya PUh, manusia kan punya dua pembawaan, pembawaan baik dan buruk. Yang membedakan jin manusia dan malaikat kan ada pada pembawaan karakter element2 yang terkandung di masing2 makhluk. kalau Malaikat taunya cuman beribadah dan punya akal g punya nafsu, kalau hewan punya nafsu g punya akal. nah manusia kan ada di tengahnya punya akal dan nafsu. maka maksud saya menyebut hewan diatas adalah "kalaau manusia lebih mengedepankan nafsunya ketimbang akalnya itu nantinya jadi mrip sama hewan. lama kelamaan akalnya disetir ama nafsu. sebagaimana yang saya sebutkan dipage one ada roh tawakal. maka ada juga roh rakus. nah , kalau diikuti terus pembawaan rakus, maka roh rakus pun makin kuat dan secara otomatis itu menjadi hhukuman dari Allah dgn wujud penguaasaan roh rakus pada orang itu. Bukankah Sunatulloh itu sebuah sistem yang berasal dari sebab akibat.

Mohon maaf, Mbah Acan. terima kasih sudi mampir


pertanyaan lagi.. pada saat penciptaan roh berarti dia seperti buku yang kosong ya? kita mau tulis apa terserah kita
btw pemahaman roh dan khodam kok melenceng jauh yaa.. apa saya nya yang ga paham

Quote:Original Posted By valentinomarta
xixixi , Gak ngajak" nih si mbah makan soto , Kali aja mangkok nya bisa saya bawa pulang ,
Mari di babarkan mbah


pertanyaan saya belum di jawab.. pilih kasih mbah TS nya
Quote:Original Posted By cruts


pertanyaan saya yang ini di cuekin
ta lempar loh becanda mbah



pertanyaan lagi.. pada saat penciptaan roh berarti dia seperti buku yang kosong ya? kita mau tulis apa terserah kita
btw pemahaman roh dan khodam kok melenceng jauh yaa.. apa saya nya yang ga paham



pertanyaan saya belum di jawab.. pilih kasih mbah TS nya


Sabar mbah bro , mungkin ia masih mengerjekan pekerjaan , mudah"an mbah TS akan menjawab pertanyaan mbah bro ,
Quote:Original Posted By Orang.Buta
mungkin sama seperti hadist yang tentang kalau dirumah ada anjing malaikat enggan masuk kerumah itu,

mungkin maksud anjing/hewan lebih kepada sifat ye, kaya sifat hewani gitu

gitu ye puh..?


mungkin lebih ke sifat secara universal
kalo bahas anjing ada kan yaa anjing yang masuk surga

Quote:Original Posted By BantengMirc
makasih yah kakak


sama2 um paling ganteng sejagad kaskus

Quote:Original Posted By almasy2000


hahaha... serem gimana puh, lah saya imut gini,
owh gitu, soalnya kalo pemahaman saya, roh itu lebih mengajak ke arah kebaikan, sedangkan yang mengajak ke arah buruk itu nafsu,
berdasarkan ayat yang saya kutip di atas, roh itu lah yang mengontrol gerak dan hati manusia mengarah ke kebaikan, jadi ndak ada lagi namanya roh itu buruk, gitu puh, itu pengertian dari saya, maaf kalo ada salah ya puh.

salam salim sungkem mbah cruts, mbah or.but, dan sesepuh lain


nah itu dia pertanyaan saya sebelum nya kagak di jawab sama mbah TS
kalo kita bejad trus roh nya ikut bejad mending ga punya roh aja kali yaa puh acan
Quote:Original Posted By cruts




pertanyaan lagi.. pada saat penciptaan roh berarti dia seperti buku yang kosong ya? kita mau tulis apa terserah kita
btw pemahaman roh dan khodam kok melenceng jauh yaa.. apa saya nya yang ga paham



nanti malah sama pemahamannya roh dengan qorin, mirip di trit sebelah, cuma beda penamaan aja, hehe
Quote:Original Posted By almasy2000
nanti malah sama pemahamannya roh dengan qorin, mirip di trit sebelah, cuma beda penamaan aja, hehe


ga tau juga mbahe.. kita tunggu mbah TS setelah pesan pesan berikut ini
Quote:Original Posted By cruts


mungkin lebih ke sifat secara universal
kalo bahas anjing ada kan yaa anjing yang masuk surga



sama2 um paling ganteng sejagad kaskus



nah itu dia pertanyaan saya sebelum nya kagak di jawab sama mbah TS
kalo kita bejad trus roh nya ikut bejad mending ga punya roh aja kali yaa puh acan

hooh puh
Quote:Original Posted By almasy2000


nanti malah sama pemahamannya roh dengan qorin, mirip di trit sebelah, cuma beda penamaan aja, hehe


wakakakakakakak jadi rame aje ye



@TS puh ahmadkarebet
ane pengen tau pengertian ruh menurut mbah TS itu bagaimana..?
biar nanti sejalan
ijin gosip gosip dong mbahh


Quote:Original Posted By Orang.Buta


dimane ada yang ngomong khodam = malaikat..?

baca dari awal gan

khodam = pembantu / babu / kacung / jongos


oo.. ane khodam dong mbah.. masih jadi office boy di PMI
yang mo daftar jadi khodam kirim cv n poto terbarunya

Roh itu suci dan haq..
Yang kotor itu adalah perangkat dan casing nya..
Sampai hari akhir nanti ruh akan tetap suci..
Dimanakah posisi ruh?
Apa ruh itu?
Untuk apa ruh itu?
Silahkan dilanjut puh TS dan sepuh forsup semua..
Ini pendapat saya pribadi..
Jadi jangan tanya mengapa..
Karna sy tidak berhak membenarkan pendapat sy ini..

CMIIW..
Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :
Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …
“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )
“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.
Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya
Quote:Original Posted By Th3ll
Roh itu suci dan haq..
Yang kotor itu adalah perangkat dan casing nya..
Sampai hari akhir nanti ruh akan tetap suci..
Dimanakah posisi ruh?
Apa ruh itu?
Untuk apa ruh itu?
Silahkan dilanjut puh TS dan sepuh forsup semua..
Ini pendapat saya pribadi..
Jadi jangan tanya mengapa..
Karna sy tidak berhak membenarkan pendapat sy ini..

CMIIW..


wah ada sesepuh Th3ll Salim dulu ah sama sesepuh


Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti.

* Kata روح untuk ruh
* Kata ريح (rih) yang berarti angin
* Kata روح (rawh) yang berarti rahmat.

Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat.3 Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat
روحانيون * روحاني

Digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin.

Dalam al-Qur'an, ruh juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-term yang digunakan al-Qur'an dalam penyebutan ruh, bermacam-macam. Diantaranya ruh di sebut sebagai sesuatu:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. Al-Isra': 85)

Hanya saja, ketika ruh manusia diyakini sebagai zat yang menjadikan seseorang masih tetap hidup
الروح انه ما به حياة النفس

atau seperti yang dikatakan al-Farra'
الروح هو الذي يعيش به الإنسان

Serta jawaban singkat al-Qur'an atas pertanyaan itu (lihat QS. Al-Isra': 85), menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi "rahasia" yang kepastiannya hanya bisa diketahui oleh Allah semata.

Selanjutnya al-Qur'an juga banyak menggunakan kata ruh untuk menyebut hal lain, seperti:

1. Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS. Al-Syu'ara' 193, al-Baqarah 87, al-Ma'arij 4, al-Naba' 38 dan al-Qadr 4.
(الروح الأمين , روح القدس , (والروح الملئكة
2. Rahmad Allah kepada kaum mukminin dalam QS. al-Mujadalah 22
وأيدهم بروح منه
3. Kitab suci al-Qur'an dalam QS. Al-Shura 52.6
وكذلك أوحينا إليك روحا من امرنا

Tentang bagaimana hubungan ruh itu sendiri dengan nafs, para ulama berbeda pendapat mengenainya. Ibn Manzur mengutip pendapat Abu Bakar al-Anbari yang menyatakan bahwa bagi orang Arab, ruh dan nafs merupakan dua nama untuk satu hal yang sama, yang satu dipandang mu'anath dan lainnya mudhakkar.

Makalah berikut ini berusaha menjelaskan beberapa pendapat 'ulama Islam yang berusaha menjelaskan pengertian, kedudukan dan hubungan ruh dengan nafs dalam diri manusia, berdasarkan rentang urutan hidup mereka:
Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)

Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata. Jiwa (ruh) merupakan kesempurnaan awal, dalam pengertian bahwa ia adalah prinsip pertama yang dengannya suatu spesies (jins) menjadi manusia yang bereksistensi secara nyata. Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh sendiri merupakan prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh dengan satu perilaku dari berbagai perilaku8 dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.

Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi 3 bagian yang masing-masing bagian saling mengikuti, yaitu

1. Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan.
2. Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan. Ia mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta menangkap berbagai parsialitas dan bergerak karena keinginan
3. Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada manusia. Jiwa ini melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal.

Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)

Sebagaimana Ibn Sina, al-Ghazali membagi jiwa menjadi tiga golongan, yaitu:

1. Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu kesempurnaan awal baqgi benda alami yang hidup dari segi makan, minum, tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
3. Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda yang hidupdari segi melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang bersifat umum.

Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs al-natiqah/jiwa manusia). Ia sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh, sedangkan setelah masuk ke dealam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-'aql), yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa kalb, ruh dan al-nafs al mutmainnah merupakan nama-nama lain dari al-nafs al-natiqah yang bersifat hidup, aktif dan bisa mengetahui.
Quote:Original Posted By CiungWanara.
Ruh adalah golongan makhluk Allahur Rabbul ‘ alamin yang dikekalkan kehidupannya. Adapun hidup serta kehidupan makhluk yang diliputi ruh selalu tumbuh dan berkembang. Allah Yang Maha Kaya menamai kehidupan langit dan bumi beserta isi keduanya dengan isyarat “Nur” (cahaya atau kehidupan), sebagaimana firman-Nya :
Allahu nuurus samaawaati wal ardhi …
“Allah (pemberi) cahaya (hidup) langit dan bumi ….” QS. 24 An Nuur : Ayat 35.

Innallah khalaqa ruuhan nabiyyi shalallahu ‘alaihi wasalam min dzaatihi wakhuliqal ‘aalamu biasrihi min nuuri muhammadin shalallahu ‘ alaihi wasallam. (Al – HADIS )
“Sesungguhnya Allah menciptakan ruh Nabi saw, daripada Dzat-Nya lalu diciptakan alam sekaliannya dengan rahasia-Nya dari pada Nur Muhammad saw.”

Ruh, termasuk makhluk ciptaan-Nya yang gaib dan hidup meliputi dimensi alam jasmaniah. Dan ruh memiliki sifat yang berlawanan dengan jasmani. Ruh adalah Nurullah! Tapi ruh sebagai Nurullah bukan berarti sebagaimana cahaya yang memancar dari matahari atau lampu. Nur dalam pengertian ayat dan Hadis tersebut di atas bermakna Hidup! Yakni suatu makhluk yang hidup dihidupkan Allah Yang Maha Hidup dengan ruh ciptaan-Nya! Allahul Hayyi jualah yang menghidupkannya dengan memberikan ruh ciptaan-Nya.
Kalimat “Nur” di dalam firman Allahul ‘Azhim sangat banyak, bahkan lebih dari tiga puluh (30) ayat yang menyebut tentang “Nur” sekaligus meliputi atau menjadi simbol berbagai hal seperti Muhammad Rasul Allah saw., Al Qur’aan, Agama Islam, Malaikat, Ilmu serta Hidayah (petunjuk). Istilah “Hidup” yang meliputi kehidupan seluruh makhluk juga dirumuskan dalam bahasa wahyu dengan istilah “Nur”. Apabila ruh diibaratkan nur yang terang benderang maka jasmani diibaratkan suatu tempat yang gelap gulita semisal ruangan. Padahal tidaklah akan tampak terang suatu cahaya bila ia tidak bertempat pada yang gelap gulita. Begitu pula keadaan gelap pekatnya jasmani dikatakan gelap gulita bila tidak ada sesuatu yang meneranginya. Demikianlah pengertian “Ruh” sebagai “Nur” dalam istilah wahyu-Nya


Nuhun Sesepuh , Sebelumnya salim dulu ah sama sesepuh CiungWanara , Niubi mau bertanya nih puh tentang bagian yang sudah saya bold Tepatnya Di Ketikan" Terakhir , Saya ingin bertanya kalau Ruh itu di ibaratkan Nur , berati ruh juga adalah Cahaya? Sebagai mana Pengartian dari Kata "Nur". Dan Kalau Ruh Di ibaratkan ke sifat yang lain akan jadi apa Cerita yang tertulis nanti ? Maaf puh ini saya udah ngasih pertanyaan , apabila menurut sesepuh saya sudah lancang bertanya pada sesepuh tolong di maafkan
Mandi dulu bentar ah , abis itu mau nyari kodok lagi di kampung sebelah
Quote:Original Posted By valentinomarta


Nuhun Sesepuh , Sebelumnya salim dulu ah sama sesepuh CiungWanara , Niubi mau bertanya nih puh tentang bagian yang sudah saya bold Tepatnya Di Ketikan" Terakhir , Saya ingin bertanya kalau Ruh itu di ibaratkan Nur , berati ruh juga adalah Cahaya? Sebagai mana Pengartian dari Kata "Nur". Dan Kalau Ruh Di ibaratkan ke sifat yang lain akan jadi apa Cerita yang tertulis nanti ? Maaf puh ini saya udah ngasih pertanyaan , apabila menurut sesepuh saya sudah lancang bertanya pada sesepuh tolong di maafkan


Nur Muhammad dan wujud pancarannya
syaikh Abdul Qadir al-Jailani menamakan nur Muhammad ini dengan ruh Muhammad atau Hakekat Muhammad. Hal ini sesuai hadis Qudsi yang berbunyi: "Sesungguhnya Aku menciptakan ruh Muhammad itu berasal dari Nur Wajahku."
Ahmad al-Ghumusykhonuwi, dalam kitabnya: Jami' al-Ushul fil-Auliya' menamakan nur Muhammad ini dengan Ruhul A'zhom. Ia adalah nyawa suci yang merupakan penampakan dzat Tuhan, bila dilihat dari segi rububiyahnya (ketuhanannya). Ia tidak dibatasi dan tidak dapat ditembus oleh apapun. Tiada yang mengetahui hakikat ruh ini kecuali Allah sendiri. Ruh ini dinamakan dengan "Akal Pertama", disebut juga dengan "Hakikat Muhammad", disebut juga dengan "Jiwa Pertama", dan disebut juga dengan "Hakikat Asma Allah." Ruh ini merupakan wujud awal ciptaan Allah menurut gambarnya. Ruh ini adalah khalifah Allah terbesar, adalah mutiara cahaya Tuhan, dan inti/awal mula kejadian alam dan isinya. Ruh Teragung di alam ini menampakkan ciptaan-ciptaan Tuhan yang bermacam-macam gerak, sifat, nama dan tingkat kesempurnaan kejadiannya.

Semua yang tampak di alam ini merupakan gambaran wujud ruh itu, yang termasuk di dalamnya adalah wujud manusia Adam. Manusia ini merupakan ciptaan yang paling sempurna. Ia diciptakan menurut gambar Allah SWT. Pada jiwanya dan jasadnya dititipkan perbuatan (af'al) Tuhan, asma dan sifat-sifat-Nya yang dapat dikenal dan dihubungi. Karena itu ada hikmah ulama mengatakan, Siapa mengenal dirinya, maka berarti ia mengenal Tuhannya.

Dilihat dari pembahasan ruh, Syaikh Abdul Karim al-jili dalam kitabnya: Al-Insan Al-Kamil menamakan ruh (nur) Muhammad ini dengan Ruh al-Qudus dan terkadang ia mengistilahkannya dengan Nafsu/Jiwa Muhammadiah. Ia adalah asal-muasal ruh-ruh. Ruh ini terbebas dari komando perintah "Kun". Maka dari itu ia tidak boleh dimasukkan sebagai makhluk, karena sesungguhnya ia adalah wajah khusus dari wajah-wajah Allah yang Maha Haq, yang ditempati oleh segala yang wujud. Ia adalah Ruh, tetapi tidak seperti ruh-ruh lainnya. Karena ia merupakan ruh Allah SWT. Ruh inilah yang ditiupkan kepada Nabi Adam AS seperti dalam Surat al-Hijr ayat 29, atau Surat Shaad ayat 72 yang artinya: Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka mereka tunduk kepadanya dengan bersujud.

Dengan demikian ruh Adam adalah makhluk, sedang Ruh Allah adalah bukan makhluk. Ruh inilah disebut dengan Ruh Quds, yakni ruh yang suci dari kekurangan-kekurangan duniawi. Ruh ini digambarkan sebagai wajah-wajah ketuhanan pada para makhluk. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh ayat 115 pada Surat al-Baqoroh yang artinya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap, maka di situlah terdapat wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.

Maksudnya, di mana saja kalian mengarahkan dengan segenap indera kalian atau dengan pikiran pada benda-benda yang dapat dijangkau, maka di dalam benda-benda itulah terdapat wajah Allah, yang merupakan ruhul Quds. Jadi Dalam Ruhul Quds, Allah Taala menempatkan padanya apa-apa yang wujud di alam ini. Ruhul Quds menjadi nyata dan sempurna pada segala yang wujud, dan wujud ini merupakan Wajah Ilahi. Wajah Ilahi pada segala sesuatu adalah Ruh Allah, sedangkan Ruh Allah pada segala sesuatu tidak lain adalah diri Allah sendiri. Maka wujud ini berdiri dengan diri Allah, sedang diri Allah adalah Dzatnya.

Jadi menurut Abdul Karim al-Jili, setiap sesuatu yang dapat ditangkap dengan indera di alam ini, mempunyai ruh ciptaan yang tampak dengannya wujud/gambarnya. Fungsi ruh bagi benda-benda tersebut bagaikan makna bagi kata. Kemudian pada ruh benda yang diciptakan itu, terdapat ruh Ilahiah (ruh Tuhan) yang menopang ruh benda yang bersifat makhluk tersebut. Ruh Ilahiah itulah Ruhul Quds.

Di samping itu, Abdul Karim al-Jili menamakan Hakikat Muhammad (nur Muhammad) dengan Malaikat Ruh dari segi alam kemalaikatan. Ia di alam ini dinamakan pula dengan al-Haq, atau makhluk yang diciptakan untuk berbuat yang benar. Allah SWT memandang pada Malaikat ini sebagai memandang pada Diri sendiri. Ia menciptakan malaikat Ruh ini dari nurnya, dan seterusnya menciptakan seisi alam ini dari malaikat Ruh atau hakikat Muhammad ini. Malaikat inilah yang dijadikan sebagai tempat pandangan-Nya di alam ini. Termasuk salah satu nama dari beberapa nama yang disandangnya adalah "amrullah". Malaikat ini termulia, tertinggi, teragung kedudukannya, sehingga tidak ada malaikat yang menduduki pangkat di atasnya. Ia merupakan pemimpin para "Muqorrobin" (para malaikat yang dekat dengan Allah), dan paling utama di antara malaikat yang utama. Allah SWT mengitarkan segala yang wujud ini padanya. Ia sebagai pusat putaran atau poros berputar segala makhluk di jagat raya.

Di samping benda-benda ciptaan Allah lainnya, ia mempunyai wajah khusus yang sesuai dengannya. Juga dalam martabat atau tingkatan yang diwujudkan Allah. Baginya ada delapan rupa, mereka adalah para membawa 'Arasy Tuhan. Dari padanya Allah menciptakan para malaikat dengan segenap unsur-unsurnya. Maka bandingan mereka terhadap malaikat Ruh dapat diumpamakan beberapa tetes air dengan air lautan. Bandingan malaikat delapan pembawa 'Arasy dengan Malaikat Ruh itu bagaikan delapan penyanggah wujudnya manusia dengan ruhnya. Penyanggah itu adalah akal, waham (persangkaan), pikir, hayal, pembentuk, pemelihara, penemu, dan nafsu (keinginan)nya.

Karena Malaikat Ruh inilah, Allah SWT menciptakan sesuatu di ufuk, di alam Jabarut, alam Malakut, alam Lahut/ Robbani dan alam mulki sebagai tanda keTuhanan, yang semuanya termanifestasi dari Hakikat Muhammad. Karena itu, Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang paling utama, karena nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya berupa ruh yang mempunyai multi guna. Kegunaan-kegunaan itu antara lain: mengajari Kitab al-Qur'an, meningkatkan derajat iman, menyinari kalbu diri sendiri dan kalbu orang-orang yang dikehendaki Allah mendapat hidayah. Firman Allah tercantum dalam surat as-Syuro, ayat 52 yang artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu ruh (al-Quran) dari urusan Kami.

Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui: Apakah itu al-kitab (al-Quran?) dan Apakah iman itu? Tetapi Kami menjadikan Ruh itu sebagai cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Selanjutnya ketahuilah bahwa Allah menjadikan Malaikat ini sebagai cermin untuk Dzatnya, yakni Allah tidak menampakkan Zatnya kecuali pada malaikat ini. Sedangkan penampakan-Nya pada segenap makhluk ini merupakan penampakan sifat-sifat-Nya. Malaikat ini adalah qutub/poros benda-benda yang berada di alam duniawi dan alam ukhrowi, menjadi kutub bagi penduduk langit dan bumi. Juga menjadi kutub bagi ahli surga, ahli neraka, dan ahli a'raf (tempat antara surga dan neraka).

Telah ditetapkan oleh hakikat Ilahiah di dalam ilmu Allah SWT bahwa Ia tidak mencipta sesuatu kecuali bagi Malaikat Ruh pada sesuatu itu terdapat wajah, yang setiap makhluk atau sesuatu itu mengitari wajah malaikat ini, karena ia merupakan qutub mereka. Malaikat ini tidak memperkenalkan diri kepada siapa pun dari makhluk-makhluk Allah kecuali kepada manusia yang berpangkat 'Insan al-Kamil' (Manusia Sempurna). Maka apabila seorang waliyullah mengenalnya, maka malaikat ini mengajarinya beberapa ilmu (ketuhanan), dan bilamana dengan ilmu-ilmu tersebut, ia mencapai derajat tahkik (hakikat), maka ia menjadi Wali Qutub. Bila mana ia menjadi wali qutub, maka segala yang wujud ini mengitari wali tersebut. Wali ini sebagai ganti malaikat ruh dari segi kedudukan dan kequtubannya di alam wujud ini. Jadi kedudukan kemalaikatan dan kequtuban wali ini meminjam atau mengganti kedudukan dan kequtuban Malaikat Ruh itu. Malaikat inilah yang dituturkan dalam al-Qur'an surat an-Naba' ayat 38 yang artinya: Pada hari Ruh dan para Malaikat berdiri bershaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

Thumbs up Ijin Ngedeprok Puh

wah, dalem banget nih pembabarannya ....

numpang minta ijin ngedeprok sambil baca-baca puh
Quote:Original Posted By CiungWanara.


Nur Muhammad dan wujud pancarannya
syaikh Abdul Qadir al-Jailani menamakan nur Muhammad ini dengan ruh Muhammad atau Hakekat Muhammad. Hal ini sesuai hadis Qudsi yang berbunyi: "Sesungguhnya Aku menciptakan ruh Muhammad itu berasal dari Nur Wajahku."
Ahmad al-Ghumusykhonuwi, dalam kitabnya: Jami' al-Ushul fil-Auliya' menamakan nur Muhammad ini dengan Ruhul A'zhom. Ia adalah nyawa suci yang merupakan penampakan dzat Tuhan, bila dilihat dari segi rububiyahnya (ketuhanannya). Ia tidak dibatasi dan tidak dapat ditembus oleh apapun. Tiada yang mengetahui hakikat ruh ini kecuali Allah sendiri. Ruh ini dinamakan dengan "Akal Pertama", disebut juga dengan "Hakikat Muhammad", disebut juga dengan "Jiwa Pertama", dan disebut juga dengan "Hakikat Asma Allah." Ruh ini merupakan wujud awal ciptaan Allah menurut gambarnya. Ruh ini adalah khalifah Allah terbesar, adalah mutiara cahaya Tuhan, dan inti/awal mula kejadian alam dan isinya. Ruh Teragung di alam ini menampakkan ciptaan-ciptaan Tuhan yang bermacam-macam gerak, sifat, nama dan tingkat kesempurnaan kejadiannya.

Semua yang tampak di alam ini merupakan gambaran wujud ruh itu, yang termasuk di dalamnya adalah wujud manusia Adam. Manusia ini merupakan ciptaan yang paling sempurna. Ia diciptakan menurut gambar Allah SWT. Pada jiwanya dan jasadnya dititipkan perbuatan (af'al) Tuhan, asma dan sifat-sifat-Nya yang dapat dikenal dan dihubungi. Karena itu ada hikmah ulama mengatakan, Siapa mengenal dirinya, maka berarti ia mengenal Tuhannya.

Dilihat dari pembahasan ruh, Syaikh Abdul Karim al-jili dalam kitabnya: Al-Insan Al-Kamil menamakan ruh (nur) Muhammad ini dengan Ruh al-Qudus dan terkadang ia mengistilahkannya dengan Nafsu/Jiwa Muhammadiah. Ia adalah asal-muasal ruh-ruh. Ruh ini terbebas dari komando perintah "Kun". Maka dari itu ia tidak boleh dimasukkan sebagai makhluk, karena sesungguhnya ia adalah wajah khusus dari wajah-wajah Allah yang Maha Haq, yang ditempati oleh segala yang wujud. Ia adalah Ruh, tetapi tidak seperti ruh-ruh lainnya. Karena ia merupakan ruh Allah SWT. Ruh inilah yang ditiupkan kepada Nabi Adam AS seperti dalam Surat al-Hijr ayat 29, atau Surat Shaad ayat 72 yang artinya: Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka mereka tunduk kepadanya dengan bersujud.

Dengan demikian ruh Adam adalah makhluk, sedang Ruh Allah adalah bukan makhluk. Ruh inilah disebut dengan Ruh Quds, yakni ruh yang suci dari kekurangan-kekurangan duniawi. Ruh ini digambarkan sebagai wajah-wajah ketuhanan pada para makhluk. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh ayat 115 pada Surat al-Baqoroh yang artinya: Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap, maka di situlah terdapat wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui.

Maksudnya, di mana saja kalian mengarahkan dengan segenap indera kalian atau dengan pikiran pada benda-benda yang dapat dijangkau, maka di dalam benda-benda itulah terdapat wajah Allah, yang merupakan ruhul Quds. Jadi Dalam Ruhul Quds, Allah Taala menempatkan padanya apa-apa yang wujud di alam ini. Ruhul Quds menjadi nyata dan sempurna pada segala yang wujud, dan wujud ini merupakan Wajah Ilahi. Wajah Ilahi pada segala sesuatu adalah Ruh Allah, sedangkan Ruh Allah pada segala sesuatu tidak lain adalah diri Allah sendiri. Maka wujud ini berdiri dengan diri Allah, sedang diri Allah adalah Dzatnya.

Jadi menurut Abdul Karim al-Jili, setiap sesuatu yang dapat ditangkap dengan indera di alam ini, mempunyai ruh ciptaan yang tampak dengannya wujud/gambarnya. Fungsi ruh bagi benda-benda tersebut bagaikan makna bagi kata. Kemudian pada ruh benda yang diciptakan itu, terdapat ruh Ilahiah (ruh Tuhan) yang menopang ruh benda yang bersifat makhluk tersebut. Ruh Ilahiah itulah Ruhul Quds.

Di samping itu, Abdul Karim al-Jili menamakan Hakikat Muhammad (nur Muhammad) dengan Malaikat Ruh dari segi alam kemalaikatan. Ia di alam ini dinamakan pula dengan al-Haq, atau makhluk yang diciptakan untuk berbuat yang benar. Allah SWT memandang pada Malaikat ini sebagai memandang pada Diri sendiri. Ia menciptakan malaikat Ruh ini dari nurnya, dan seterusnya menciptakan seisi alam ini dari malaikat Ruh atau hakikat Muhammad ini. Malaikat inilah yang dijadikan sebagai tempat pandangan-Nya di alam ini. Termasuk salah satu nama dari beberapa nama yang disandangnya adalah "amrullah". Malaikat ini termulia, tertinggi, teragung kedudukannya, sehingga tidak ada malaikat yang menduduki pangkat di atasnya. Ia merupakan pemimpin para "Muqorrobin" (para malaikat yang dekat dengan Allah), dan paling utama di antara malaikat yang utama. Allah SWT mengitarkan segala yang wujud ini padanya. Ia sebagai pusat putaran atau poros berputar segala makhluk di jagat raya.

Di samping benda-benda ciptaan Allah lainnya, ia mempunyai wajah khusus yang sesuai dengannya. Juga dalam martabat atau tingkatan yang diwujudkan Allah. Baginya ada delapan rupa, mereka adalah para membawa 'Arasy Tuhan. Dari padanya Allah menciptakan para malaikat dengan segenap unsur-unsurnya. Maka bandingan mereka terhadap malaikat Ruh dapat diumpamakan beberapa tetes air dengan air lautan. Bandingan malaikat delapan pembawa 'Arasy dengan Malaikat Ruh itu bagaikan delapan penyanggah wujudnya manusia dengan ruhnya. Penyanggah itu adalah akal, waham (persangkaan), pikir, hayal, pembentuk, pemelihara, penemu, dan nafsu (keinginan)nya.

Karena Malaikat Ruh inilah, Allah SWT menciptakan sesuatu di ufuk, di alam Jabarut, alam Malakut, alam Lahut/ Robbani dan alam mulki sebagai tanda keTuhanan, yang semuanya termanifestasi dari Hakikat Muhammad. Karena itu, Nabi Muhammad SAW merupakan manusia yang paling utama, karena nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya berupa ruh yang mempunyai multi guna. Kegunaan-kegunaan itu antara lain: mengajari Kitab al-Qur'an, meningkatkan derajat iman, menyinari kalbu diri sendiri dan kalbu orang-orang yang dikehendaki Allah mendapat hidayah. Firman Allah tercantum dalam surat as-Syuro, ayat 52 yang artinya: Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu ruh (al-Quran) dari urusan Kami.

Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui: Apakah itu al-kitab (al-Quran?) dan Apakah iman itu? Tetapi Kami menjadikan Ruh itu sebagai cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Selanjutnya ketahuilah bahwa Allah menjadikan Malaikat ini sebagai cermin untuk Dzatnya, yakni Allah tidak menampakkan Zatnya kecuali pada malaikat ini. Sedangkan penampakan-Nya pada segenap makhluk ini merupakan penampakan sifat-sifat-Nya. Malaikat ini adalah qutub/poros benda-benda yang berada di alam duniawi dan alam ukhrowi, menjadi kutub bagi penduduk langit dan bumi. Juga menjadi kutub bagi ahli surga, ahli neraka, dan ahli a'raf (tempat antara surga dan neraka).

Telah ditetapkan oleh hakikat Ilahiah di dalam ilmu Allah SWT bahwa Ia tidak mencipta sesuatu kecuali bagi Malaikat Ruh pada sesuatu itu terdapat wajah, yang setiap makhluk atau sesuatu itu mengitari wajah malaikat ini, karena ia merupakan qutub mereka. Malaikat ini tidak memperkenalkan diri kepada siapa pun dari makhluk-makhluk Allah kecuali kepada manusia yang berpangkat 'Insan al-Kamil' (Manusia Sempurna). Maka apabila seorang waliyullah mengenalnya, maka malaikat ini mengajarinya beberapa ilmu (ketuhanan), dan bilamana dengan ilmu-ilmu tersebut, ia mencapai derajat tahkik (hakikat), maka ia menjadi Wali Qutub. Bila mana ia menjadi wali qutub, maka segala yang wujud ini mengitari wali tersebut. Wali ini sebagai ganti malaikat ruh dari segi kedudukan dan kequtubannya di alam wujud ini. Jadi kedudukan kemalaikatan dan kequtuban wali ini meminjam atau mengganti kedudukan dan kequtuban Malaikat Ruh itu. Malaikat inilah yang dituturkan dalam al-Qur'an surat an-Naba' ayat 38 yang artinya: Pada hari Ruh dan para Malaikat berdiri bershaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.


Oke puh makasih , Tapi saya ingin menanyakan lagi puh , Peran apakah Nur itu Untuk Makhluk" Allah , Kalau memang Ruh itu bisa di ibaratkan Nur , Jadi apakah ia memiliki sifat yang sama dengan Makhluk" Allah yang tercipta Dari Nur
Matur Nuhun puh ,
hihihihi mantapppp :

dilanjut dong mbah mbahh
Sepertinya ada kerancuan makna penggunaan kata khodam.

Begini saudara2ku sekalian. Istilah khodam dalam dunia FORSUP kan sejenis spirit berkekuatan linuwih atau sangat hebat di luar adat. Sebagian ahli FORSUP menamakannya sebagai khodam berjenis bangsa jin. Nah, yang ingin saya sampaikan disini adalah “ada khodam atau spirit berkekuatan linuwih tapi bukan dari jenis bangsa jin”.

Pertanyaannya adalah : kalau bukan dari bangsa jin lalu makhluk apa? (untuk sementara pertanyaan ini di tahan dulu, bagusnya di taruh di pembahasan terakhir biar mantep, krn kita masih proses penyusunan alur runtut pembahasan)

Ada suatu pemahaman yang berbeda mengenai khodam selain jenis jin, yang uniknya saya baru tahu kalau dibahas dalam Al quran (saking newbienya saya), yang mana saya belum pernah ketemu browsing selama ini di google yang membahas mengenai ini(mungkin krn cupunya saya, sampai gak ketemu). Saya sengaja memakai istilah khodam untuk pembahasan diskusi ini untuk memberi wacana baru adanya spirit linuwih selain dari jenis jin. Walau istilah khodam lebih tepat diberikan kepada Jin. Bahkan power dari spirit linuwih ini(asal dari hizib, doa, wirid atau mantra) bisa lebih hebat dari spirit linuwih jin. Contoh Spirit linuwih Asif Barkhoya VS Spirit linuwih Jin Ifrit pada kejadian pemindahan singgasana Ratu Bilqis.

Suatu ketika saya membaca buku Imam Ibnul Qoyum Al jauziyah,. Saya mencoba merenungkan penggalan paragraf yang saya tulis di page satu, dan coba menarik benang merah. Dan ternyata ada suatu persamaan antara karakter roh (spirit linuwih) dengan karakter khodam dalam dunia SUPRA. Dalam firman Allah yang artinya:

“mereka itulah orang orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan roh yang datang darinya.”(Al – Mujadilah :22)

Roh dalam ayat itu beliau tafsirkan sebagai suatu spirit yang memberikan kemampuan manusia untuk beraktifitas. Dan spirit ini adalah hal yang wajar, bagi setiap orang untuk memilikinya, bahkan bisa dikatakan setiap orang punya kemampuan ini(kalau tidak cacat). Termasuk kemampuan melihat karena ada roh penglihatan, bbisa berbicara karena adanya roh berkemampuan berbicara. Bisa berjalan karena ada roh kekuatan berjalan.
Kalau pada tataran orang sakti, spiritnya berkembang menjadi spirit linuwih, kalau orang biasa ya, spirit biasa.

Terkadang kita rancu dalam hal istilah, tapi secara maknawi sebenarnya ada kesamaan antara satu istilah dengan istilah yang lain, kalau pun ada perbedaan tidak terlalu jauh.

Perlu diketahui istilah roh (spirit linuwih) yang saya pakai saat ini bukanlah roh yang ditanyai munkar dan nakir atau roh yang bersifat suci. Atau roh yng dicabut dari badan oleh malaikat izroil. Tapi roh yang melekat pada jasad selain roh yang suci tadi. Kalau membingungkan kita namakan saja roh yang suci itu sebagai jiwa, biar g campur aduk dengan roh yang kita bahas berdasarkan surat Al Mujadilah diatas.

Kembali pada roh tingkat tinggi di dunia supra atau spirit linuwih.
Menurut pendapat saya, roh atau spirit dibagi 2:

1. Spirit biasa berkategori :

a. (bawaan lahir) berupa kemampuan beraktifitas secara normal meliputi segala kebutuhan manusia.

b. karena tindakan atau perbuatan baik atau buruk yang diistiqomahkan. contoh : kalau biasa istiqomah bohong, maka spirit bohong akan datang menyertai kita. kalau biasa jujur, maka spirit jujur yang datang.

2. Spirit Khusus atau linuwih ( hasil olah bathin, atau krn bawaan keturunan orang sakti, atau darah biru, atau Wali).

Jadi kesimpulannya tanpa keberadaaan khodam Jin sekalipun kita aslinya, bisa sakti bahkan bisa lebih sakti dari daya spirit linuwih khodam jin.


Beribu maaf, saya haturkan kepada para sesepuh apabila ada yang tidak berkenan, saya memberanikan diri berbicara dengan harapan agar mendapat bimbingan Anda semua. Terima Kasih
Quote:Original Posted By cruts


biar ga saya kasih buat um ganteng



bentar bentar ada yang janggal nih.. kalo roh (khodam) ngikutin tingkah laku kita (baik buruk) lalu buat apa dia ngikutin kita? kalo kita punya roh (khodam) yang bisa bantu kita ningkatin spiritual kita sih ga masalah lha kalo kita nya bejat trus dia ngikut bejat juga kan ga ada guna nya dia ngikutin kita.. mohon saya di koreksi.. rahayu


Quote:Original Posted By cruts

dia ada karena kita melakukan amalan yang berkarakteristik sepertinya. kalo punya amalan spiritual tingkat tinggi akan mendatangkan roh/spirit linuwih yang memperkecil spirit buruk yang datang
pertanyaan saya yang ini di cuekin
ta lempar loh becanda mbah



pertanyaan lagi.. pada saat penciptaan roh berarti dia seperti buku yang kosong ya? kita mau tulis apa terserah kita
btw pemahaman roh dan khodam kok melenceng jauh yaa.. apa saya nya yang ga paham

penciptaan roh/sprit linuwih terserah pada tindakan kita

pertanyaan saya belum di jawab.. pilih kasih mbah TS nya


Quote:Original Posted By cruts


mungkin lebih ke sifat secara universal
kalo bahas anjing ada kan yaa anjing yang masuk surga



sama2 um paling ganteng sejagad kaskus



nah itu dia pertanyaan saya sebelum nya kagak di jawab sama mbah TS
kalo kita bejad trus roh nya ikut bejad mending ga punya roh aja kali yaa puh acan

roh disini bukanlah roh sucih Mohon maaf, kalau membingungkan Anda semua krn bahasannya berat jadi susah ngomongnya.

Mengenai definisi roh : ROh adalah cahaya bersifat suci langgeng abadi tidak bisa mati walau badan mati. pengertian mati disini mati dunia sebelum kiamat. tapi dihari kiamat semua pasti mati kecuali Allah.

Sedangkan Roh dalam bahasan di page one, maksudnya adalah spirit linuwih.
sedangkan roh suci itu sebagiaan para ahli menamainya Jiwa
Quote:Original Posted By Gararondrong
ijin gosip gosip dong mbahh




oo.. ane khodam dong mbah.. masih jadi office boy di PMI
yang mo daftar jadi khodam kirim cv n poto terbarunya



hehehehehehe iye kali meneketeh

________