KASKUS

Pembongkaran Makam Nabi SAW, Program Lama Kerajaan Arab Saudi

Kontroversi pembongkaran masjid bersejarah termasuk Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad SAW terus bergulir. Hingga kini, Kerajaan Arab Saudi belum mengumumkan rencana pelestarian atau pemindahan ketiga masjid yang telah ada sejak abad ke-7 dengan struktur bangunan era Ottoman tersebut. Termasuk ada tidaknya sebuah komisi arkeologi untuk melakukan penggalian di lokasi bersejarah itu sebelum semuanya dirobohkan.

DIKETAHUI, di Masjid Nabawi terdapat makam Nabi Muhammad SAW. Juga, tembok barat Masjid Nabawi didedikasikan untuk Abu Bakar Siddik AS dan Umar bin Khatab AS, sekaligus penanda tempat Nabi Muhammad SAW diyakini melakukan doa pertama perayaan Idul Fitri.

Seperti dilansir independent.co.uk, pihak Kerajaan kini mendapat protes, karena dianggap mengabaikan sejarah awal Islam. Namun, bagi Kerajaan yang menganut paham Wahabi, langkah itu merupakan cara untuk menghindari umat Islam menyembah berhala, rumah suci, maupun makam. Bagi aliran Wahabi, pembangunan bangunan suci dan kunjungan ke makam yang terjadi di sebagian besar dunia Muslim, dipandang sebagai praktik-praktik yang menodai keimanan.

Namun menurut Dr Irfan al-Alawi dari Yayasan Penelitian Warisan Islam, rencana pembongkaran Masjid Nabawi dengan alasan pembangunan kembali merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengalihkan fokus terhadap makam Nabi Muhammad.

“Alasan mereka untuk membuat lebih banyak ruang untuk menampung 1,6 juta jamaah itu tidak masuk akal. Apa yang mereka inginkan adalah untuk menjauhkan fokus [peziarah] dari makam Nabi,” kata Alawi.

“Diamnya para Muslim atas penghancuran Mekah dan Madinah adalah bencana dan kemunafikan. Jika film terbaru tentang Nabi Muhammad SAW menyebabkan protes di seluruh dunia, mengapa penghancuran tempat kelahiran Nabi, tempatnya berdoa dan mendirikan Islam, malah dibiarkan tanpa kritik apa pun,” sesal Alawi.

Saat ini, lokasi yang menjadi makam Nabi Muhammad ditandai dengan tutup kubah berwarna hijau dan dikenal sebagai pusat Masjid Nabawi. Dalam rencana pengembangan baru sesuai sebuah pamflet yang diterbitkan Departemen Urusan Islam pada 2007, lokasi itu kelak akan menjadi sayap timur masjid baru dengan luas delapan kali ukuran saat ini.

Terkait pengembangan yang dilakukan Kerajaan Saudi, Institut Teluk yang berbasis di Washington memperkirakan 95 persen dari bangunan-bangunan berusia sekitar 1.000 tahun di Mekah dan Madinah telah dihancurkan selama 20 tahun terakhir, atas nama pengembangan dan pembangunan.

Di Mekah, Masjidil Haram, tempat tersuci umat Islam dan tempat semua umat Islam seharusnya berada untuk berziarah dan berdoa, kini dibayangi Kompleks Omar Jabal, sebuah pengembangan apartemen dan hotel pencakar langit, serta menara jam raksasa. Untuk membangun Kompleks Omar Jabal, Pemerintah Saudi telah menghancurkan Benteng Ajyad era Ottoman dan bukit tempatnya berdiri.

Situs bersejarah lainnya yang telah hilang adalah rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad yang kini telah berubah menjadi perpustakaan modern. Juga lokasi bekas rumah istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah, kini telah berubah bentuk menjadi kompleks toilet umum.

Meskipun kalah ramai diberitakan, pembangunan kembali Kota Madinah telah mengakibatkan sejumlah situs dari awal sejarah Islam hilang. Dari tujuh masjid kuno yang dibangun untuk memperingati Pertempuran Parit, sebuah peristiwa penting dalam perkembangan Islam, kini tinggal dua buah.

Ya sebenarnya namanya Masjid dipakai untuk tempat ibadah, pendidikan dan pengajian. Jangan disamain sama kuburan lah.

Muhammad SAW manusia biasa bukan?

apa mau jadi Yesus Jilid 2 ?

btw rancangannya 6x lipat lebih besar.

terlepas berita ini provokatif tapi asal ts tau aja ya....Nabi Muhammad SAW diutus bukan untuk mendirikan masjid yang megah atau meninggikan makam untuk disembah

ternyata kita semua hidup di satu planet yang sama "BUMI"
MasyaAllah gan ane jadi ingat Surah Al-Baqarah ayat 10-12

Quote:Original Posted By Maha.Kaskus
Ya sebenarnya namanya Masjid dipakai untuk tempat ibadah, pendidikan dan pengajian. Jangan disamain sama kuburan lah.

Muhammad SAW manusia biasa bukan?

apa mau jadi Yesus Jilid 2 ?

btw rancangannya 6x lipat lebih besar.



Siapa pula yang samakan masjid dan kuburan. Tetapi maqam Rasul,
masjid nabawi dan masjid haram bukan masjid biasa dan bukan kuburan
biasa.
History dalam agama Islam adalah Rukun, yang tidak bisa ditinggalkan.
contoh Muslim tidak sah hajinya kalau tidak wukuf diPadang arofah,
sedangkan wukuf itu merupakan sunnah nabi Adam As, dia bertobat
dipadang arofah, juga jumroh diMina dan Qurban itu historis dari nabi
Ibrahim As. Dan ingat pernah ada orang yang mau curi mayat Rasul
dengan buat terowongan bawah tanah maka Khalifah saat itu diperingati
melalui mimpi sampai 3 kali, akhirnya orang mau bobol maqam itu
tertangkap. Jadi lokasi maqam Rasul dan Al Masjid tidak bisa diganggu
gugat.
Rasul adalah manusia tetapi bukan manusia biasa, Allah saja bilang
begitu, lihat surat Al Ahzab ayat 6, apa ente lebih tahu dari Tuhan ?.
Atau anggap saja ente tidak percaya Tuhan, adakah manusia yang
setara dengan Muhammad SAW secara logika, siapa ?.
Bila ada orang yang mempetrtuhankan Rasul berarti bukan Muslim.
Dalam Islam amat jelas apa itu Tuhan, thagut dan berhala

Kalau alasan pemindahan hanya masalah kapasitas, jangan tanggung
pindahkan saja ke Indonesia.

Ane baca tulisan ente jadi ingat petuah iblis buat Adam dan Hawa.
no komeng ah... santai bray... 2 kalimat syahadat ajah dah ga usan neko2..
jalanin saja hidup yg semakin sulit ini

( terbongkar sudah ) Isu Pembongkaran Masjid Nabawi untuk Mengadu Domba Umat Islam



Quote:
السعودية تدمر الإرث الإسلامي: عمليات هدم لقبور ومساجد من عهد النبي (ص)
سلطت صحيفة «الاندبندنت» البريطانية الضوء على الانتهاكات التي ترتكبها السعودية بحق الآثار في مكة والمدينة المنورة، ولجوئها إلى هدم الكثير من المواقع الأثرية الإسلامية من أجل توسيع المسجد النبوي ليصبح «أكبر مسجد في العالم» يتسع لحوالي 1,6 مليون مصلّ، إضافة إلى خطط لبناء المراكز التجارية ومحطات التسوق.
وكشف التقرير الموسع، الذي حمل عنوان «السعودية تدمّر تاريخ الإسلام بالبلدوزر»، أن خطط توسيع المسجد ستبدأ مباشرة فور انتهاء موسم الحج، وذلك في ظلّ غياب الخطط التي تعمل على صيانة الآثار والحفاظ عليها، حيث يوجد إلى الغرب من المسجد النبوي قبر الرسول وقبر عمر وقبر أبو بكر.
ولا يقتصر الأمر على هذه المرحلة إذ، وفقاً للتقرير، تمّ في فترات سابقة، وبشكل دوري، جرف عدد من المواقع في مكة والمدينة لبناء الفنادق الفخمة والأبراج السكنية ومراكز التسوق. ويصرّ السعوديون على أن توسيع هاتين المدينتين يعتبر حاجة حيوية لاستقبال عدد أكبر من الحجاج السنويين.
أما الأكثر «ترويعاً» فهو ما حصل من محو لعشرات المواقع الإسلامية القديمة، والتي يعود بعضها إلى عصر النبي محمد نفسه، عن الخريطة. ويعبّر «معهد الخليج العربي في واشنطن» عن «عمق الأزمة» بالكشف أنه في العشرين سنة الأخيرة تم تدمير 95 في المئة من آثار مكة والمدينة التي تعود إلى ما قبل ألف عام.
ويتهم التقرير الفكر الوهابي بتعزيز هذه الممارسات على اعتبار أن القبور والمواقع الأثرية والمقامات «تعزّز الشرك بالله»، ولذلك فمع بعض الاستثناءات مرّ هدم الآثار الإسلامية من دون أي تحديات تُذكر.
وتتساءل «الاندبندنت» في ظلّ انتفاض السعودية لأي شيء قد يمس الرسول، عن السبب الذي جعل منزل خديجة زوجة النبي يستبدل بمراحيض للعموم، أو عن هدم المساجد الخمسة أو السبعة التي شهدت غزوة الخندق؟ أو عن وضع ديناميت لهدم مسجد في مكة يعود لأيام النبي؟
في المقابل، تلفت الصحيفة البريطانية إلى السخط الموجود بين سكان مكة والمدينة الذين يشاهدون ما يحصل للمدينتين المقدستين، لا سيما أولئك الذين تمّ تهجيرهم عنوة من منازلهم التي تقع على خطوط المواصلات إلى «العالم الجديد». في وقت تسلّط الضوء على أولئك الذين يؤيدون إعادة الإعمار في مكة والمدينة وذلك من منظار اقتصادي يسعى إلى تحقيق المنفعة المالية البحتة. وفي النهاية، تشير إلى أن المسلمين وحدهم هم القادرون على حفظ القليل الذي بقي من الإرث الإسلامي القديم في مكة والمدينة.
موقع المنار غير مسؤول عن النص ومضمونه، وهو لا يعبّر إلا عن وجهة نظر كاتبه


dari situs syiah rafidhoh tv almanar

http://www.almanar.com.lb/adetails.p...d=31&fromval=1

Quote:
Isu Pembongkaran Masjid Nabawi untuk Mengadu Domba Umat Islam

Shodiq Ramadhan | Rabu, 31 Oktober 2012 | 13:51:26 WIB | Hits: 172 | 2 Komentar

Jakarta (SI ONLINE) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Amidan mengatakan kabar yang menyebutkan Pemerintah Arab Saudi akan menghancurkan Masjid Nabawi beserta Makam Nabi Muhammad Saw adalah isu belaka. Dia menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk mengadu domba kalangan Muslim. Sebab, seperti diketahui di Arab Saudi kebanyakan menganut aliran Wahabi.

“Memang mau diperluas tapi kondisi makam tidak akan berubah. Selain itu kan makam ada di dalam masjid,” kata Amidhan seperti dikutip merdeka.com, Rabu (31/10/2012).

Dia mengatakan, di Arab Saudi isu tersebut tak beredar. Karenanya, ia mempertanyakan asal isu itu beredar. “Enggak ada sama sekali. Tenang-tenang saja di sini,” kata Amidhan yang saat ini berada di Madinah usai menunaikan haji.

Menurutnya, pemerintah Arab Saudi juga tak bakal berani melakukannya. Sebab, jika hal itu terjadi, Pemerintah Arab Saudi akan didemo seluruh umat muslim di dunia.

“Pasti akan dimusuhi sama semua umat muslim di dunia, pasti akan didemo. Tidak akan tinggal diam pasti umat muslim,” kata Amidan.

Sebelumnya beredar kabar Pemerintah Arab Saudi berencana memperluas Masjid Nabawi di Madinah. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di banyak pihak jika makam Nabi Muhammad akan dihancurkan.

Kabar ini pertama kali dihembuskan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, yang kemudian dikutip sejumlah media di Indonesia, Senin (29/10/2012) lalu.

Menurut kantor berita itu, pengahancuran makam Rasulullah SAW merupakan bagian dari rencana pemerintah Arab Saudi yang akan menghancurkan seluruh situs bersejarah Islam, termasuk Masjid Nabawi dan 3 masjid lainnya yang merupakan masjid tertua di dunia.

Sebagai gantinya, dikatakan, pemerintah Arab Saudi merencanaakan pengembangan proyek ekspansi yang bernilai multi miliar poundsterling.

Bahkan rencana penghancuran Masjid Nabawi di Madinah, tempat di mana Nabi Muhammad SAW dimakamkan, akan dimulai bulan depan seusai musim Haji. Kemudian, di atas tanah situs paling bersejarah tersebut, pemerintah Saudi akan membangun gedung terbesar di dunia yang bisa menampung 1,6 juta orang.

Dikatakan selanjutnya, pengembangan Masjid Nabawi sebagian besar nantinya akan mengambil bagian sayap barat dari masjid. Dalam sayap itu, terdapat makam 2 khalifah sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Siddik RA dan Umar bin Khatab RA.

Mengutip Dr. Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Warisan Islam, Fars menyebutkan rencana itu sudah digulirkan sejak 2007 lalu, dimana Kementerian Urusan Islam Arab Saudi merilis pamflet yang isinya rencana penghancuran makam Rasulullah SAW dan situs bersejarah lainnya. Pamflet tersebut disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh. Bahkan, di dalam pamflet disebutkan, penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh.

Suara Islam Online telah berusaha menghubungi Kedubes Saudi Arabia di Jakarta melalui Atase Pers Nawwaf Algarnas. Tetapi hingga berita ini diturunkan handphonenya dalam keadaan mati. Pesan singkat yang dikirimkanSI Online juga belum dijawab.

red: shodiq ramadhan


http://subhataswaja.wordpress.com/20...ah-arab-saudi/



akhirnya terbongkar sudah tuduhan keji para musuh musuh alloh para budak budak kafir syiah rafidhoh yaitu aswaja

yang melancarkan serangan pada kaum muslim indonesia atas proganda IRAN negeri majusi syiah rafidhoh

menghalalkan dusta taqiyyah

ASWAJA membuktikan diri diri mereka sebagai kesetia kawanan terhadap musuh alloh munafiqun zindiq kafir syiah rafidhoh

maka cukup sudah bukti ini sebagai senjata ampuh untuk memusnahkan aswaja yang berusaha untuk mengadu domba kaum muslimin



TAKBIR

sejak taon 1926 juga sudah ada wacana ini

Kisah ulama Indonesia pertahankan makam Nabi yang hendak digusur

Pada tahun 1924-1925, Arab Saudi dipimpin oleh Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi. Aliran ini sangat dominan di tanah Haram, sehingga aliran lain tidak diberi ruang dan gerak untuk mengerjakan mazhabnya.

Semasa kepemimpinan Ibnu Saud, terjadi eksodus besar-besaran ulama dari seluruh dunia. Mereka kembali ke negara masing-masing, termasuk para pelajar Indonesia yang sedang mencari ilmu di Arab Saudi.

Aliran Wahabi yang terkenal puritan, berupaya menjaga kemurnian agara dari musyrik dan bid'ah. Maka beberapa tempat bersejarah, seperti rumah Nabi Muhammad SAW dan sahabat, termasuk makam Nabi Muhammad pun hendak dibongkar.

Umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz.

Komite Hijaz ini merupakan sebuah kepanitiaan kecil yang dipimpin oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Setelah berdiri, Komite Hijaz menemui Raja Ibnu Suud di Hijaz (Saudi Arabia) untuk menyampaikan beberapa permohonan, seperti meminta Hijaz memberikan kebebasan kepada umat Islam di Arab untuk melakukan ibadah sesuai dengan madzhab yang mereka anut.

Karena untuk mengirim utusan ini diperlukan adanya organisasi yang formal, maka didirikanlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, yang secara formal mengirimkan delegasi ke Hijaz untuk menemui Raja Ibnu Saud.

Adapun lima permohonan yang disampaikan oleh Komite Hijaz, seperti ditulis di situs www.nu.or.id tersebut adalah:

Pertama, memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz pada salah satu dari mazhab empat, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Atas dasar kemerdekaan bermazhab tersebut hendaknya dilakukan giliran antara imam-imam shalat Jum’at di Masjidil Haram dan hendaknya tidak dilarang pula masuknya kitab-kitab yang berdasarkan mazhab tersebut di bidang tasawuf, aqidah maupun fikih ke dalam negeri Hijaz, seperti karangan Imam Ghazali, imam Sanusi dan lain-lainnya yang sudaha terkenal kebenarannya.

Kedua, memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah yang terkenal sebab tempat-tempat tersebut diwaqafkan untuk masjid seperti tempat kelahiran Siti Fatimah dan bangunan Khaezuran dan lain-lainnya berdasarkan firman Allah "Hanyalah orang yang meramaikan Masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah" dan firman Nya "Dan siapa yang lebih aniaya dari pada orang yang menghalang-halangi orang lain untuk menyebut nama Allah dalam masjidnya dan berusaha untuk merobohkannya."

Ketiga, memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif/ketentuan beaya yang harus diserahkan oleh jamaah haji kepada syaikh dan muthowwif dari mulai Jedah sampai pulang lagi ke Jedah. Dengan demikian orang yang akan menunaikan ibadah haji dapat menyediakan perbekalan yang cukup buat pulang-perginya dan agar supaya mereka tidak dimintai lagi lebih dari ketentuan pemerintah.

Keempat, memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.

Kelima, Jamâiyah Nahdlatul Ulama (NU) memohon balasan surat dari Yang Mulia yang menjelaskan bahwa kedua orang delegasinya benar-benar menyampaikan surat mandatnya dan permohonan-permohonan NU kepada Yang Mulia dan hendaknya surat balasan tersebut diserahkan kepada kedua delegasi tersebut.

Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Hijaz yang merupakan respons terhadap perkembangan dunia internasional ini menjadi faktor terpenting didirikannya oeganisasi NU. Berkat kegigihan para kiai yang tergabung dalam Komite Hijaz, aspirasi dari umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah diterima oleh raja Ibnu Saud. Makam Nabi Muhammad yang akan dibongkar pun tidak jadi dihancurkan.
[tyo]

sauce : http://www.merdeka.com/peristiwa/kis...k-digusur.html

ini sejarah yg beneran terjadi bukan hoax haux huex
termasuk pembongkaran kompleks makam baqi, rumah khadijah, & situs2 bersejarah laennya ... sudah terjadi & bukan cuman huex si rafidhah
maaf gan ane cuma mau numpang
Quote:Demi Perluas Masjid Nabawi, Makam Nabi Muhammad Akan Dibongkar

Liputan6.com, Riyadh: Pemerintah Arab Saudi berencana membongkar situs warisan budaya Islam, Masjid Nabawi di Medinah yang di dalamnya terdapat makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq and Umar bin Khatab. Hal ini dilakukan untuk memperluas masjid tersebut.

Pengerjaan proyek perluasan masjid ini akan dilakukan segera pada akhir November. Proyek ini diperkirakan menghabiskan 6 miliar dolar AS (sekitar Rp 57,7 triliun). Setelah direkonstruksi Masjid ini diharapkan dapat menjadi yang terbesar dunia, serta menampung jamaah haji hingga 1,6 juta orang.

Seperti dilansir Russian Today News, Rabu (31/10), pemerintah Arab Saudi bersikukuh menggelar proyek. Bagi pemerintah, hal ini sangat penting untuk mengimbangi jumlah jamaah, umroh dan haji, yang terus meningkat. Jumlah jamaah telah mencapai 12 juta orang setiap tahun. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga mencapai 17 juta per tahun pada 2025.

Sementara itu, pembangunan berbagai bangunan pusat perbelanjaan dan hotel mewah yang terletak di dekat situs warisan budaya Islam terus dilakukan. Mereka pun akan menaikkan biaya hotel mewah di dekat Mekkah menjadi 500 dolar AS (Rp 4,8 juta) per malam.

Menyikapi hal ini, pengamat dari Lembaga Penelitian Situs Warisan Budaya (IHRF) Dr. Irfan Al Alawi menyatakan, proyek perluasan ini hanya upaya untuk mendapatkan uang besar. "Mereka hanya ingin meraup keuntungan yang besar dari peziarah yang kaya. Hal ini bakal memberatkan jamaah yang kurang mampu, karena biayanya akan dinaikkan jauh lebih mahal," kata Dr. Al Alawi kepada RT News.

Pemerintah Arab Saudi juga merencanakan pembangunan kawasan elit besar di Jabal Omar. Kawasan ini disebut-sebut akan menjadi mutiara baru Mekkah yang terdiri dari enam hotel bintang lima, tujuh menara dengan 39 lantai, 520 restoran, dan 360 toko komersial dan pasar swalayan.

Perluasan dan pengembangan ini juga mengancam perumahan penduduk setempat. Tetapi, sejauh ini sebagian besar warga masih diam. Padahal, "Seperti dimuat dalam Alquran, Mekkah adalah kota suci. Kota ini luar biasa, bukan kota biasa. Namun, penduduk setempat diam, tidak melawan pemerintah Wahhabi Saudi," kata Al Alawi. (RT News/YUS)

Kerajaan Arab Saudi dan salafiyun/wahhabiyun lebih menghargai KFC, McDonalds, Starbucks dan budaya-budaya barat lainnya ketimbang makam nabinya. Runtuhlah Kerajaan Arab Saudi!
emang boleh yak sholat di masjid yg ada KUBURAN nya ?


pertanyaan klasik
Quote:Original Posted By Zahin

Kerajaan Arab Saudi dan salafiyun/wahhabiyun lebih menghargai KFC, McDonalds, Starbucks dan budaya-budaya barat lainnya ketimbang makam nabinya. Runtuhlah Kerajaan Arab Saudi!


Quote:Original Posted By sampang2


wahabi islam yg paling murni dewasa ini

tujuan syiah membangun makam adalah untuk cari uang


kuburan pendiri agama syiah


Jadi ingat kasus ini

secrets of al-Yamamah


Glympton, Oxfordshire. The 2,000 acre manor house and sporting estate purchased by Prince Bandar after he arranged the al-Yamamah arms deal. Photograph: INS News

Glympton looks at first sight like a typical English village.

But the entire Cotswolds hamlet and the surrounding 810-hectare (2,000-acre) sporting estate are owned by a rich Saudi.

Prince Bandar [biography] - son of Prince Sultan, the Saudi defence minister - bought Glympton on what are alleged to have been his winnings from Britain's biggest arms deal.

He constructed a complete replica English pub within the walls of his mansion, to entertain his friends.

Not to be outdone, his agent, a Syrian called Wafic Said [biography], built Tusmore Park, a grand stately home in the Palladian manner, nearby.

The British prime minister, Margaret Thatcher, negotiated with Bandar to clinch the so-called al-Yamamah deal [profile] for BAE [BAE's position] in 1985.

And the sums available were mind-boggling.

Over the past 20 years, the warplane programme has brought £43bn in revenue for BAE [profile].

The deal made the career of BAE executive Dick Evans [biography], who rose to chair the company on the strength of it.

Police later calculated that more than £6bn may have been distributed in corrupt commissions, via an array of agents and middlemen.Newly obtained documents and our own investigations have revealed details of where the money may have gone.

Millions went to Bandar, according to US sources. Up to $30m (£15m) at a time is alleged to have been paid into his dollar account at Riggs Bank [profile] in Washington.

More millions were paid by BAE into Wafic Said-linked accounts in Switzerland.

Bandar's father, Prince Sultan [biography], was described by a British ambassador as having "a corrupt interest in all contracts".

Legal sources say BAE disguised many of the payments by making them through an anonymous offshore company, Poseidon.

Large amounts were also alleged to have been transferred in this way to Mohammed Safadi [biography], a Lebanese politician.

He acted for Sultan's son-in-law, Prince Turki bin Nasser [biography], who controlled the Saudi air force.

At least £1bn is said to have gone down the Poseidon route. More payments were allegedly disguised in inflated bills to BAE from local subcontractors.

A relatively minor, although colourful, aspect of this torrent of cash was a £60m "slush fund" maintained by BAE to keep Prince Turki bin Nasser sweet on his visits to the west.

The arms firm provided him with extravagant holidays, fleets of classic cars, planeloads of shopping and blond girlfriends.

BAE claims these treats were "paid for under the contractual arrangements". But in fact bills went to the al-Yamamah contract at the MoD under the misleading phrase "support services" [document].

The cash for all these payoffs came, simply enough, from overcharging.

Accidentally released UK documents [article] reveal that the basic price of the planes was inflated by 32%, to allow for an initial £600m in commissions.

That was only the start. Many UK sub-contractors - for jet engines, weapons and electronics - have revealed that they too were required to pay commissions.[article]

Spare parts, maintenance, construction of local bases - every aspect of al-Yamamah is alleged to have involved corruption.

Former British defence secretary Ian Gilmour told Newsnight:

"If you are paying bribes to high-up people in the government, the fact that it's illegal in Saudi law doesn't mean much."
Asked about allegations of royal corruption in 2001, Prince Bandar said:

"If you tell me that building this whole country ... out of $400bn, that we misused, or got, $50bn, I'll tell you, 'Yes. So what?'."
"We did not invent corruption [...] This has happened since Adam and Eve. It's human nature." [transcript]

But the British government still falls over itself to conceal Saudi behaviour [article]. Michael Heseltine, then defence secretary, was the first of a chorus, claiming:

"The government had no knowledge and no dealings involving commission arrangements."
The documents reveal that, in fact, under the 1977 Cooper directive [document] still in force at the time, the UK government was heavily involved.

BAE was told by the MoD to sign a letter claiming the payments were "accepted by the Saudi authorities".

The commission amounts were then agreed by the head of DSO, Sir Colin Chandler [biography], and personally authorised by the MoD permanent secretary, Sir Clive Whitmore.

Just as it had done on previous deals, the MoD arranged BAE's resultant profit margins.

It also took a 2% management fee from the Saudis and set up an entire London office block [profile] of civil servants to run the government-to-government contract.

The cash for Bandar, described as for "marketing services", was allegedly drawn from Bank of England accounts containing Saudi Arabia's money, jointly controlled by DESO and BAE.

Within days of the deal being announced, an Arab-language magazine reached the desk of Thatcher's chief adviser, Charles Powell [biography].

In detail, it accused Bandar and others of taking huge commissions.

The Whitehall advice was not to attempt any denial: "We suggest MoD should simply refuse all comment." [document]

It might have been more stylish, perhaps, of the civil servants, and more in tune with the occasion, to recommend an old Arab proverb:

"The dogs bark, but the caravan moves on."

For in the end, it was to take more than 20 years for outsiders to krack these squalid secrets of al-Yamamah.

David Leigh and Rob Evans

http://www.guardian.co.uk/baefiles/p...095831,00.html
http://www.guardian.co.uk/world/bae

Smell like hypocrisy here




didiemin ajalah kucing2 persia provokator inih, anggap aja gak ada
nda penting ini
ntar jg kolaps sendiri

numpang nyengir
Quote:Original Posted By sampang2
Nabi Malu makamnya kalah zuhud dan kalah nyunah dgn makamnya raja saudi

padahal nabi sudah berwasiat untuk membongkar bangunan kuburan dan meratakan makam

“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim no. 968)

kuburan Raja Fahd (Raja Saudi Arabia)




hit the ismail eh...nail bgt inih

satu pihak pengen ngeratain kuburan krn ada perintah kanjeng nabi

pihak lain mau kuburan tetap megah krn nilai historis dan utk menghormati kanjeng nabi, walo dgn melanggar perintah kanjeng nabi

jelas bgt ini, pihak mana yg berada diatas kebenaran
Quote:Original Posted By sampang2
Selain itu kuburan nabi juga dijaga polisi, sehingga apabila aswaja/nu mau menyembah kuburan langsung diusir

sekarang juga dijaga askar. Makam nabi itu di dekat gerbang ke luar. Orang yg mau melihat ke dalam membentuk satu barisan sambil berjalan. Kalo ada yang berhenti nanti dihardik askar2 itu karena ada tempatnya sendiri utk bersholawat sekaligus mencegah peziarah memasukkan benda apapun ke dalam ruangan makam nabi melalui kisi-kisinya.
Quote:Original Posted By Ma_79
Jadi ingat kasus ini

secrets of al-Yamamah


Glympton, Oxfordshire. The 2,000 acre manor house and sporting estate purchased by Prince Bandar after he arranged the al-Yamamah arms deal. Photograph: INS News

Glympton looks at first sight like a typical English village.

But the entire Cotswolds hamlet and the surrounding 810-hectare (2,000-acre) sporting estate are owned by a rich Saudi.

Prince Bandar [biography] - son of Prince Sultan, the Saudi defence minister - bought Glympton on what are alleged to have been his winnings from Britain's biggest arms deal.

He constructed a complete replica English pub within the walls of his mansion, to entertain his friends.

Not to be outdone, his agent, a Syrian called Wafic Said [biography], built Tusmore Park, a grand stately home in the Palladian manner, nearby.

The British prime minister, Margaret Thatcher, negotiated with Bandar to clinch the so-called al-Yamamah deal [profile] for BAE [BAE's position] in 1985.

And the sums available were mind-boggling.

Over the past 20 years, the warplane programme has brought £43bn in revenue for BAE [profile].

The deal made the career of BAE executive Dick Evans [biography], who rose to chair the company on the strength of it.

Police later calculated that more than £6bn may have been distributed in corrupt commissions, via an array of agents and middlemen.Newly obtained documents and our own investigations have revealed details of where the money may have gone.

Millions went to Bandar, according to US sources. Up to $30m (£15m) at a time is alleged to have been paid into his dollar account at Riggs Bank [profile] in Washington.

More millions were paid by BAE into Wafic Said-linked accounts in Switzerland.

Bandar's father, Prince Sultan [biography], was described by a British ambassador as having "a corrupt interest in all contracts".

Legal sources say BAE disguised many of the payments by making them through an anonymous offshore company, Poseidon.

Large amounts were also alleged to have been transferred in this way to Mohammed Safadi [biography], a Lebanese politician.

He acted for Sultan's son-in-law, Prince Turki bin Nasser [biography], who controlled the Saudi air force.

At least £1bn is said to have gone down the Poseidon route. More payments were allegedly disguised in inflated bills to BAE from local subcontractors.

A relatively minor, although colourful, aspect of this torrent of cash was a £60m "slush fund" maintained by BAE to keep Prince Turki bin Nasser sweet on his visits to the west.

The arms firm provided him with extravagant holidays, fleets of classic cars, planeloads of shopping and blond girlfriends.

BAE claims these treats were "paid for under the contractual arrangements". But in fact bills went to the al-Yamamah contract at the MoD under the misleading phrase "support services" [document].

The cash for all these payoffs came, simply enough, from overcharging.

Accidentally released UK documents [article] reveal that the basic price of the planes was inflated by 32%, to allow for an initial £600m in commissions.

That was only the start. Many UK sub-contractors - for jet engines, weapons and electronics - have revealed that they too were required to pay commissions.[article]

Spare parts, maintenance, construction of local bases - every aspect of al-Yamamah is alleged to have involved corruption.

Former British defence secretary Ian Gilmour told Newsnight:

"If you are paying bribes to high-up people in the government, the fact that it's illegal in Saudi law doesn't mean much."
Asked about allegations of royal corruption in 2001, Prince Bandar said:

"If you tell me that building this whole country ... out of $400bn, that we misused, or got, $50bn, I'll tell you, 'Yes. So what?'."
"We did not invent corruption [...] This has happened since Adam and Eve. It's human nature." [transcript]

But the British government still falls over itself to conceal Saudi behaviour [article]. Michael Heseltine, then defence secretary, was the first of a chorus, claiming:

"The government had no knowledge and no dealings involving commission arrangements."
The documents reveal that, in fact, under the 1977 Cooper directive [document] still in force at the time, the UK government was heavily involved.

BAE was told by the MoD to sign a letter claiming the payments were "accepted by the Saudi authorities".

The commission amounts were then agreed by the head of DSO, Sir Colin Chandler [biography], and personally authorised by the MoD permanent secretary, Sir Clive Whitmore.

Just as it had done on previous deals, the MoD arranged BAE's resultant profit margins.

It also took a 2% management fee from the Saudis and set up an entire London office block [profile] of civil servants to run the government-to-government contract.

The cash for Bandar, described as for "marketing services", was allegedly drawn from Bank of England accounts containing Saudi Arabia's money, jointly controlled by DESO and BAE.

Within days of the deal being announced, an Arab-language magazine reached the desk of Thatcher's chief adviser, Charles Powell [biography].

In detail, it accused Bandar and others of taking huge commissions.

The Whitehall advice was not to attempt any denial: "We suggest MoD should simply refuse all comment." [document]

It might have been more stylish, perhaps, of the civil servants, and more in tune with the occasion, to recommend an old Arab proverb:

"The dogs bark, but the caravan moves on."

For in the end, it was to take more than 20 years for outsiders to krack these squalid secrets of al-Yamamah.

David Leigh and Rob Evans

http://www.guardian.co.uk/baefiles/p...095831,00.html
http://www.guardian.co.uk/world/bae

Smell like hypocrisy here

Betul, Gan. Saudi memang munafik.
ijin nyimak gan..sepertinya bakal seru nih
kalau gini gue lebih setuju kalau ottoman yang mengusai tanah haram, setidaknya mereka tidak pernah mengusik situs2 budaya & sejarah islam.

Thumbs up 

Quote:Original Posted By the fan


hit the ismail eh...nail bgt inih

satu pihak pengen ngeratain kuburan krn ada perintah kanjeng nabi

pihak lain mau kuburan tetap megah krn nilai historis dan utk menghormati kanjeng nabi, walo dgn melanggar perintah kanjeng nabi

jelas bgt ini, pihak mana yg berada diatas kebenaran


Absolutely agree with you..

Buat apa keluarin duit buat yang sudah mate..toh ngga bisa ngapain2 lagi, kalau perlu diratain aja sekalian. Mending keluarin duit yang banyak buat yang masih hidup..kayak ini

Saudi Prince in Night Club spend one million dollar
http://www.ethiopianreview.com/forum...hp?f=2&t=32513
http://arabnyheter.info/sv/2012/03/1...illion-dollar/



Ini ada intermezo, buat yang ingin mengetahui wahabis seperti apa:
WAHHABISM:  UNDERSTANDING THE ROOTS AND ROLE MODELS OF ISLAMIC EXTREMISM
by Zubair Qamar*
condensed and edited by ASFA staff

http://www.sunnah.org/articles/Wahha...rticleedit.htm