KASKUS

SYARAT PERTAMA: AL- IKHLASH

Ikhlash adalah mendekatkan diri kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan melakukan ketaatan dan membersihkan niat dan hati dari segala yang mengotorinya. ikhlash adalah beramal karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata dan membersihkan hati dan niat dari yang selain Alloh subhanahu wa ta’ala.

Ikhlash adalah amalan yang berat karena hawa nafsu tidak mendapatkan bagian sedikitpun, namun kita harus selalu melatih diri kita sehingga menjadi mudah dan terbiasa untuk ikhlash.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Alloh tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlash dan hanya mengharapkan wajahNya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Seorang hamba tidak akan bisa selamat dari godaan syaitan kecuali orang-orang yang ikhlash saja, sebagaima firman Alloh subhanahu wa ta’ala yang mengkisahkan tentang iblis: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83).

Orang yang ikhlash adalah orang yang beramal karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata dan mengharapkan kebahagiaan abadi di kampung akhirat, hatinya bersih dari niat-niat lain yang mengotorinya.

Berkata Ya’kub rahimahullah: “Orang yang ikhlash adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.”

Orang yang tidak ikhlash adalah orang yang melakukan amalan akhirat untuk mencari dunia seperti, ingin mendapatkan harta, kedudukan, jabatan, pangkat, kehormatan, pujian, riya’ dll.

Orang yang tidak ikhlash adalah orang yang rugi karena hari kiamat kelak mereka tidak mendapatkan apa-apa dari amalan mereka selama di dunia, bahkan Alloh subhanahu wa ta’ala murka kepada mereka dan memberikan hukuman yang setimpal (yang artinya): “Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokkannya.” (QS. Az-Zumar: 48) . “Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan?” (QS. Al-Furqaan:23)

SYARAT KEDUA: AL-MUTABA’AH


Mutaba’ah adalah melakukan amalan yang sesuai sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam karena setiap amalan ibadah yang tidak dicontohkan Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam pasti ditolak dan tidak diterima oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Jadi semua ibadah yang kita kerjakan harus ada contoh, ajaran dan perintah dari Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam dan kita dilarang melakukan suatu amal ibadah yang tidak ada contoh, ajaran dan perintah dari Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam.

Rosululloh shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada ajarannya dari kami maka amalnya tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam bersabda pula: “Barangsiapa mengadakan perkara baru dalam agama kami yang tidak ada ajarannya maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berkata Ibnu Rajab rohimahulloh: “Hadis ini adalah salah satu prinsip agung (ushul) dari prinsip-prinsip Islam dan merupakan parameter amal perbuatan yang lahir (terlihat), sebagaimana hadis ‘Innamal a’maalu binniyyaat” (Hadis tentang niat), adalah merupakan parameter amal perbuatan yang batin (tidak terlihat).

Sebagaimana seluruh amal perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhaan Alloh subhanahu wa ta’ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala, maka demikian pula halnya segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Alloh subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam juga tertolak dari pelakunya.

Siapa saja yang menciptakan hal-hal baru dalam agama yang tidak diizinkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shollallohu ’alaihi wa ’ala alihi wasallam, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun.

Beliau berkata pula: “Makna hadis (diatas adalah): bahwa barangsiapa amal perbuatannya keluar dari syari’at dan tidak terikat dengannya, maka tertolak.”

Berkata Ibnu Daqiq Al-‘Ied rohimahulloh: “Hadis ini adalah salah satu kaidah agung dari kaidah-kaidah agama dan ia merupakan jawami’ul kalim (kata-kata yang singkat namun padat) yang diberikan kepada Al-Musthafa shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam, karena sesungguhnya ia (hadis ini) dengan jelas merupakan penolakan semua bid’ah dan segala yang dibuat-buat (dalam perkara agama).”

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, pasti Alloh mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ?Imran: 31).

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7).

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzaab: 36)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa ’ala alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena semua perkara baru (bid’ah) dalan agama adalah tersesat.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dll).

Berkata ‘Abdullah bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya perkara-perkara yang paling dibenci oleh Allah adalah bid’ah-bid’ah.” (Dikeluarkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubra 4/316)

Berkata Al-Imam Malik bin Anas: “Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah, karena sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” Maka apa-apa yang tidak menjadi agama pada hari itu, maka tidak menjadi agama pula pada hari ini.” (Al-I’tisham, Al-Imam Asy-Syathibiy 1/64)

Berkata Imam Asy-Syaukaniy rohimahulloh: “Maka, sungguh apabila Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah Allah subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama-Nya?!”

“Seandainya sesuatu (amalan) yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti (mereka mengnaggap bahwa) belum sempurna agama ini kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur`an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama??”

“Ini adalah hujjah yang terang dan dalil yang agung, tidak mungkin orang yang mengandalkan akalnya dapat mempertahankan hujjahnya selama-lamanya. Maka jadilah ayat yang mulia ini (Al-Maa`idah:3) sebagai hujjah yang pertama kali memukul wajah ahlur ra`yi (orang yang mengandalkan dan mendahulukan akalnya daripada wahyu) dan menusuk hidung-hidung mereka dan mematahkan hujjah mereka.” (Al-Qaulul Mufiid fii Adillatil Ijtihaad wat Taqliid hal.38)

PENUTUP

Semua amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi dua syarat, yaitu ikhlashh dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk dan tuntunan Nabi shollAllahu ‘alaihi wassalam). Dua syarat inilah yang menjadikan amalan kita menjadi amalan yang sholih. Cacat dalam salah satunya, maka tertolaklah amalan kita. Alangkah ruginya jika kita melaksanakan amalan-amalan tersebut, namun tidak ada nilainya disisi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Maka sudah seharusnya kita menjadikan ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untukAllah dan kita beribadah hanya dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollAllahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap tarikan nafas dan detik-detik kehidupan kita, semoga dengan demikian kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur, bertaqwa dan diridhoi-Nya.

Wallahu a’lam bish showaab.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan para sahabatnya radiyallahu anhum ajmain dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Maha Suci Engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau, saya memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.
Quote:Original Posted By jual.buku.islam


lantas tahqiq dan di takhrij berarti memalsukan kitab..?

..

Bisa jadi...tuh buktinya banyak kok redaksi kitab2 ulama yg berubah dari cetakan awal nya ketika di tahqiq ulang...Ambil contoh Subulus Salam..atau Syarah Shahih Muslim yg dikarang oleh Imam Nawawi...itu banyak berubah.

Quote:padahal dalam metode-nya diawal mukadimah biasanya yang mentahgig dan takhrij menjelaskan-nya

apa ada tukang tipu menjelaskan penipuannya sebelum menipu

Sungguh cetek pemikiran anda ternyata.


Iye...golongan ente doyan tukang tahqiq dan takrij kitab orang yg beda manhaj......kalo mau sih tinggal bikin kitab tandingan lagi..

Quote:Bilang saja dalam golongan anda tidak berkembang ilmu tahqiq dan di takhrij karena ditakutkan apa-apa selama ini jadi pegangan dalam kitab-nya ternyata ada yang bersandar kepada hadits atau riwayat yang lemah bahkan palsu.

jadi ketika ada golongan yang mengembangkan metode tahqiq dan di takhrij sehingga banyak ditemukan hadits-hadits atau bahkan riwayat dan perkataan yang disandarkan kepada Nabi , Sahabat atau para Imam ternyata lemah dan bahkan ada yang palsu dalam sebuah kitab jadi pada meradang, dituduh-lah memalsukan kitab.


Kasihan anda ini...


Justru yg kasihan itu golongan salafi,,Imam Ibnu Hajar yg bikin Fathul Baari aja kagak pernah melakukan tahqiq atas qoul2 dari Imam Syafi'i...tapi yg dilakukan adalah justru TARJIH....BUKAN TAHQIQ DAN TAKHRIJ YG MERUBAH SUSUNAN REDAKSI DARI KITAB AWALNYA !!!..

Kasihan banget tuh golongan salafi...Saking gak ada kerjaan dan gak bisa bikin kitab kali ya..

KErjaanya tahqiq kitab2 karya orang lain..



:
Assalamualaikum wr. wb.

Sepertinya dikuliti bener2 wahabi salafi ini xixixix

Baiklah kita mulai dengan ketidak konsistenan menhaj salafi terhadap aqidahnya sendiri :

modmodol mencoba membuat tester penalaran sederhana, sehingga TS dan peirsawan bisa membaca alurnya dan bisa menarik sebuah kesimpulan dari sebuah konsep dengan model silogisme ini (arti silogisme sebenernya dipelajari di smu, dan bermain logika sederhana, apa itu silogisme bacadisini).

si TS aka jual.buku.islam menarik kesimpulan seperti ini :

Quote:Original Posted By jual.buku.islam


Ikut logika anda..

Allah maha melihat, namanya melihat pasti pakai mata, terdiri dari bola mata, kelopak mata, kantung mata, bulu mata.

dengan begitu selamat, anda telah berpemahamanMusyabbihah, menyerupakan Allah dengan mahluk-Nya


padahal isi penalaran itu adalah pemodelan dari manhaj salafi kedalam bentuk alur, dan anehnya ketika dikonfirmasi bahwa tanpa sadar si TS itu diajak mengambil kesimpulan akan manhajdnya sendiri. namun ketika tersadar telah terjebak kesimpulannya sendiri, si TS dan fans salafi mengelak tidak mempercayai hasil silogisme, karena silogisme adalah ilmu kalam :

Quote:Original Posted By Mr.tompel
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata:
حُكْمِي فِي أَهْلِ الْكَلَامِ أَنْ يُضْرَبُوا بِالْجَرِيدِ وَيُحْمَلُوا عَلَى الْإِبِلِ وَيُطَافَ بِهِمْ فِي الْقَبَائِل وَالْعَشَائِر ، وَيُنَادَى عَلَيْهِمْ هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّة وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلَامِ
“Hukumku pada ahlil kalam, mereka dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan ke unta, kemudian diarak berkeliling di kabilah-kabilah dan suku-suku, kemudian diserukan tentang mereka ‘Ini balasan orang yang meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan menghadap diri kepada Ilmu Kalam’.”
(Manaqib Asy-Syafii karya Al-Baihaqi 1/462, cet, Dar At-Turots).

Imam Asy-Syafii juga berkata:
مَا أَحَدٌ ارْتَدَى بِالْكَلَامِ فَأَفْلَحَ ،
“Tidak ada seorang pun jatuh dalam ilmu kalam, kemudian dia bisa beruntung.”

jgn terlalu mengedepankan akal, bahaya juragan



Posted with kaskusBetaQR



Quote:Original Posted By jual.buku.islam


disini yang mengaku ber mazhab Syafi'i membela kalau ada Ilmu kalam yang baik.

Apakah Islam membutuhkan kepada Ilmu-ilmu diluar islam untuk memahami-nya seperti ilmu kalam dan Ilmu Filsafat..?

Jika saja ISlam masih membutuhkan kepada Ilmu-Ilmu diluar Islam untuk memahaminyamaka bukanlah dia datang dari Allah

Kemudian dengan apakah Islam mengalami kejayaandi saat datang-nya..?

Bagaimana Islam dipahami saat kedatang-nya..?

Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan sahabatnya mengunakan Ilmu kalam dan filsafat untuk memahami Islam..?

Apakah para Tabi'in dan para Imam memahami Islam dengan metode Ilmu kalam..?

cuma mereka yang mengatakan Ilmu kalam dan filsafat baik yang bisa menjawab...



LAGI-LAGI STANDARD GANDA

Seperti yahudi saja kalian dari gaya cara jawab dan ngelesnya,
Sudah salah gak ngaku, dan jelas2 itu fatwanya si TS sendiri gak ngaku juga.
Apa mungkin karena style manhaj salafi memahami konsep ketuhanan sama dengan konsep ketuhanan YAHWEH ya, bisa jadi xixixixi

Soal kitab yang disangka palsu silahkan kalian cari edisi penulis cetakan pertama dan bandingkan dengan versi cetakan sekarang, ingat cari sendiri biar yakin, soalnya ini hubungannya dengan aqidah! dan silahkan dicek list file pdf yang pernah post diatas, dan bandingkan


semakin keliatan aslinya wahabi...
Quote:Original Posted By jagalk
Assalamualaikum wr. wb.

Sepertinya dikuliti bener2 wahabi salafi ini xixixix

Baiklah kita mulai dengan ketidak konsistenan menhaj salafi terhadap aqidahnya sendiri :

modmodol mencoba membuat tester penalaran sederhana, sehingga TS dan peirsawan bisa membaca alurnya dan bisa menarik sebuah kesimpulan dari sebuah konsep dengan model silogisme ini (arti silogisme sebenernya dipelajari di smu, dan bermain logika sederhana, apa itu silogisme bacadisini).

si TS aka jual.buku.islam menarik kesimpulan seperti ini :



padahal isi penalaran itu adalah pemodelan dari manhaj salafi kedalam bentuk alur, dan anehnya ketika dikonfirmasi bahwa tanpa sadar si TS itu diajak mengambil kesimpulan akan manhajdnya sendiri. namun ketika tersadar telah terjebak kesimpulannya sendiri, si TS dan fans salafi mengelak tidak mempercayai hasil silogisme, karena silogisme adalah ilmu kalam :







LAGI-LAGI STANDARD GANDA

Seperti yahudi saja kalian dari gaya cara jawab dan ngelesnya,
Sudah salah gak ngaku, dan jelas2 itu fatwanya si TS sendiri gak ngaku juga.
Apa mungkin karena style manhaj salafi memahami konsep ketuhanan sama dengan konsep ketuhanan YAHWEH ya, bisa jadi xixixixi

Soal kitab yang disangka palsu silahkan kalian cari edisi penulis cetakan pertama dan bandingkan dengan versi cetakan sekarang, ingat cari sendiri biar yakin, soalnya ini hubungannya dengan aqidah! dan silahkan dicek list file pdf yang pernah post diatas, dan bandingkan




Apapun yang anda katakan kesimpulannya ada disini

Spoiler for Kesimpulan-nya:


Spoiler for kesimpulan:


itulah manhaj Ahlul Sunnah Wal Jamaah dalam Asma wa Sifat, tanpa Tahrif, Ta’thil, Takyif, dan Tamtsil.

Silahkan anda anggap mazhab Asy'ariyah sebagai Ahlul Sunnah, atau sufi dLL jangan merusuh disini, tapi sayang Abu Hasan Al asy'ariy sendiri mengingkari.

Apakah anda tidak percaya diri dengan mazhab anda, atau kebathilan aqidah anda disini terbuka makanya merusuh disini..? cuma anda yang bisa menjawab, walaupun indikasi-nya kesana bisa terlihat jelas disini.
Tuan TS harap tenang ya,
Masalah manhaj ente sudah jadi masalah nasional dan masalah dunia juga
Gak ada asap kalau gak ada apai

Quote:REKOMENDASI HALAQOH NASIONAL I
KYAI PONDOK PESANTREN
AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH
DI PONDOK PESANTREN AL-QUR’AN AL-FALAH 2 NAGREG KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT
14-15 Desember 2012
NOMOR: 040/PHN.PP.A/XII/2012

Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan rahmat Allah subhanahu wata’ala dan mengucap syukur atas inayah dan perlindungan-Nya, serta shalawat dan keselamatan yang dipanjatkan atas junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dengan ini disampaikan sejumlah rekomendasi Halaqoh Nasional I Kiai Pondok Pesantren. Rekomendasi ditujukan kepada pihak pemerintah, pihak pondok pesantren, dan kepada kalangan masyarakat, seperti berikut:

I. Rekomendasi untuk Pemerintah
Pertama, Pemerintah harus mewaspadai adanya konspirasi anti Pancasila dan NKRI yang berbungkus agama, dengan latar belakang pemahaman yang sempit, sempalan, puritan dan radikal. Pemahaman seperti ini telah mempengaruhi sebagian umat, terutama kaum remaja dan mahasiswa, serta dapat disalah-gunakan oleh kepentingan politik praktis kelompok tertentu, termasuk oleh kepentingan asing.

Kedua, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu melakukan reorientasi kurikulum PAI (Pendidikan Agama Islam) dari SD hingga ke Perguruan Tinggi menuju kurikulum PAI yang Islami dan nasionalis, berbasis pada paham Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, serta bebas dari pengaruh ajaran-ajaran radikalisme dan terorisme.

Ketiga, Pemerintah melalui Kementrian Agama Republik Indonesia disarankan:
a. Untuk melakukan langkah-langkah preventif dan kuratif dalam menjaga orisinalitas kitab-kitab Turats dan kutub mu’tabarah dari upaya-upaya tahrif (pengrusakan redaksional dan pembalikan fakta-fakta dalam teks) yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab.
b. Untuk mengembangkan madrasah yang berwawasan religius- nasionalis dalam kerangka memperkuat ketahanan nasional demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
c. Untuk mengembangkan Kurikulum PAI (Aqidah-Akhlak, Qur’an Hadits, Fiqh, SKI) ke arah pembangunan manusia Indonesia yang muslim-nasionalis yang berwawasan budaya lokal dengan basis pemahaman keagamaan yang tasamuh dan tidak ekstrim sesuai dengan paham Ahlussunnah wal jama’ah.

Keempat, Para kiyai melalui Pemerintah RI perlu mengusulkan kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi agar memberikan kesempatan yang sama dan mengizinkan kepada ulama, atau ustadz dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah (al-madzahib al-arba’ah) untuk mengajarkan al-Islam di Masjidil Haram, mengingat :
Pertama firman Allah Q.S Al-Baqarah:125:

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيْمَ وَإِسْمَاعِيْلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاقِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

kedua, orang-orang yang melaksanakan ibadah Haji berasal dari berbagai madzhab (madzhibul arba’ah). Disamping itu pemerintah RI agar menyarankan kepada pemerintahan Arab Saudi untuk mengarahkan dakwahnya kepada pihak-pihak yang belum memegang salah satu madzhab.

Kelima, Berkenaan dengan ditemukannya soal UAS MA Semester Ganjil tahun pelajaran 2012-2013 yang di dalamnya terdapat unsur fitnah dan mendeskreditkan mantan Presiden RI “KH.Abdurrahman Wahid” (salah seorang tokoh Aswaja), maka Pemerintah berkewajiban mengusut tuntas masalah ini dan memperbaiki nama besar almarhum dengan menjelaskan sejarah yang sebenarnya. Adapun kepada para pihak yang terbukti dengan sengaja merusak nama baik almarhum, kami memohon agar diselesaikan secara hukum seadil-adilnya dan diberikan sanksi setegas-tegasnya.

II. Rekomendasi untuk Pondok Pesantren

Pertama, Pondok Pesantren harus merespons upaya tahrif itu yang dilakukan oleh kelompok Salafi/Wahhabi terhadap kitab-kitab Ahlussunnah wal Jama’ah – yang secara sengaja telah di-plintir dan ditulis ulang dengan dusta dan kebohongan untuk kepentingan ideologi mereka dan takfir atas ulama Sunni (NU) yang tidak sealiran dengan mereka. Oleh karena itu, seluruh pimpinan pondok pesantren di seluruh Indonesia dihimbau untuk waspada, berhati-hati, dan teliti terhadap keberadaan kitab-kitab turats (kitab kuning) yang telah ditahrif di dalamnya. Tahrif terjadi pada banyak kitab-kitab turats yang biasa dikaji di pondok-pondok pesantren, baik yang mengkaji masalah akidah/tauhid, syari’ah/fiqh, maupun akhlak/tasawuf. Tahrif dilakukan oleh kelompok tertentu yang tidak sepaham dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Kitab-kitab turats sebagai pusaka dan pustaka ilmiah para ulama salaf shalih yang dijadikan rujukan pondok pesantren, haruslah dijaga orisinalitasnya dari upaya-upaya tahrif. Yaitu dengan membentuk posko-posko pengaduan dari mulai tingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi, untuk menampung temuan-temuan dan fakta-fakta terkait kitab-kitab yang telah di-tahrif.

Kedua, membangun jaringan (networking) yang lebih luas untuk mengembangkan pengaruh Aswaja dalam rangka revivalisme Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah generasi muda yang kini sebagian mulai merasa goyah dengan aksi aliran-aliran sesat-menyesatkan itu. Oleh karena itu, Pondok Pesantren di seluruh Indonesia disarankan untuk secara istiqomah dan intensif menyebarluaskan ajaran Islam yang benar dan komprehensif (menurut paham Ahlissunnah wal Jama’ah). Khususnya mengenai hal-hal yang sering disalah-pahami dan menimbulkan sikap radikal seperti tentang amar makruf nahi munkar, tentang jihad, tentang kehidupan berbangsa dan bernegara (fiqhu-d-daulah), dan sebagainya.

Ketiga, melalui RMI (Rabithathu-l-Ma’ahid se-Indonesia) semua Ponpes se-Indonesia sebaiknya bersepakat untuk menerapkan kurikulum Aswaja, yang harus diajarkan sejak dini kepada para santri. Pemahaman Aswaja tidak dibatasi pada kajian furu’ (perkara-perkara insidental) dalam syari’ah, namun juga hendaknya dimulai dari telaah ushul (pokok-pokok yang prinsipal) dalam ‘aqidah.

Keempat, Pondok pesantren dan NU harus mengusulkan agar manhaj Ahlussunnah wal Jama’aah (Aswaja) yang sudah berakar dan diamalkan oleh umat dan warga NU, Tarbiyah Islamiyah, Mathla’ul Anwar dan Rabithah ‘Alawiyah ini agar dikukuhkan oleh pemerintah sebagai manhaj/paham keagamaan resmi oleh negara yang sudah dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia sejak ratusan tahun. Pengukuhan ini diperlukan untuk menjaga dan melindungi paham-paham keagamaan-nasionalis Aswaja ini dari rongrongan kelompok-kelompok salafi-radikal yang diimpor dari Timur Tengah.

Kelima, Pondok pesantren perlu mewaspadai berbagai bantuan yang diberikan oleh pihak individu dari dalam atau Luar Negeri, atau instansi pemerintah yang bermotif politik dan bernuansa koruptif, karena hal itu tidak sesuai dengan idealisme dan independensi pondok pesantren.

III. Rekomendasi untuk Masyarakat

Pertama, Para ulama, kyai, ustadz, dan cendekiawan muslim sangat dianjurkan melakukan pendekatan rohani kepada generasi muda dan memberikan bimbingan keagamaan, sekaligus mengawasi mereka dari pihak -pihak yang akan menyesatkan mereka, baik dalam aspek tauhid, ubudiah maupun akhlak menurut paham Ahlusunnah Wal Jama’ah.

Kedua, Penanganan terhadap radikalisme harus dilakukan oleh berbagai pihak: pemerintah, masyarakat, keluarga dan lembaga pendidikan seperti sekolah, peguruan tinggi dan pesantren.

Ketiga, KPI harus segera menghentikan Pornografi dan porno aksi yang semakin merajalela di bumi tercinta Indonesia yang ditayangkan melalui siaran TV dalam bentuk apapun termasuk dalam bentuk film, sinetron, entertainment, dan lainnya, karena tidak sesuai dengan budaya dan moral bangsa serta agama. Bagi presenter TV yang beragama Islam agar berbusana sesuai dengan ajaran Islam, dan bagi presenter TV yang non muslim agar berpakaian lebih sopan sesuai dengan moral Pancasila.

Keempat, kepada penanggungjawab halaqah ini perlu segera membentuk team khusus untuk menela’ah dan meneliti kitab-kitab turats yang diindikasikan terkena tahrif.

Kelima, mendorong PBNU untuk selalu pro aktif dan segera merespons terhadap issu-issu Islam Internasional, terutama yang berkaitan dengan tahrif terhadap kitab-kitab turats dan kutub mu’tabarah ini.

Bandung, 15 Desember 2012
Panitia Halaqah Nasional
Ketua, Sekretaris,

Ir.H. Eteng Ahmad Salam H. Ahmad Farizi, M.PdI

Penanggungjawab Halaqah
1. KH.Q. Ahmad Syahid (Pengasuh PP. Al-Qur’an Al-Falah Cicalengka Kabupaten Bandung)
2. KH. A. Aziz (Pengasuh PP. Al-Aziziyyah Denanyer Jombang)

Narasumber:
1. Drs. Surya Darma Ali (Menteri Agama RI);
2. Irjen Pol Purn Ansyad Mbay (Kepala BNPT);
3. KH. Hasyim Muzadi;
4. Dr.KH. Masdar Farid Mas’udi
5. KH. Dr. As’ad Said Ali (Waka PBNU);
6. Prof. Dr. H. Mohammad Baharun (Kabid Hukum MUI Pusat/Rektor Univ. PASIM Bandung);
7. Prof. Dr. H. Rosihon Anwar (Waka PWNU Jabar/Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung);
8. KH. Ali As’ad (PWNU Yogjakarta);
9. KH. Idrus Ramli (Aswaja Center Jatim);
10. KH. Muhyiddin Fattah, M.A (Pengasuh Pondok);
11. KH. Muhammad Thobari (Pengasuh PP. Al-Husna Tangerang)
12. H. Ahmad Baso

Peserta Halaqah: 683 Orang

Rekomendasi dikirimkan kepada:
1. Menteri Agama RI;
2. Ka BNPT;
3. PBNU;
4. Narasumber;
5. Pimpinan Wilayah NU se-Indonesia;
6. Pimpinan RMI se-Indonesia;
7. Beberapa Pondok Pesantren/sesuai zona:
a. Timur (Lirboyo, Termas, Jember/Nurul Islam, Langitan)
b. Tengah (Sarang/al-Anwar, Bambu Runcing Parakan Temanggung, Futuhiyyah Meranggen Demak)
c. Barat (Darut Tauhid Arjawinangun Cirebon/KH. Ibnu Ubaidillah, Haur Kuning Salopa, Asrofuddin Sumedang, KH. Jejen Nagrog Sukabumi, serta
d. Beberapa kiai dan pesantren dari Sumatera dan Kalimantan


Dan ini beberapa list kitab yang dirubah dari penulis aslinya :
TEMUAN KITAB-KITAB YG DIPALSU SALAFI WAHABI.pdf

Masih anget
Selamat nyembah tuhan bertempat ya
Btw enakan jadi astronot keknya lebih dkt ke Tuhan

#cabut dulu brod ...
kl kek gini mulu tinggal nunggu waktu di closed nih thread...

team hore jgn nimbrung mulu ah, dikuliti apaan, ngarti aja kagak..

@TS: ladenin syubhat yg penting2 aja, kl diajak muter2, lebih baik di skip..

Quote:Bila suatu masalah itu sudah jelas kebenarannya menurut Kitab dan Sunnah serta paham salaf, kemudian ada yang berupaya untuk membuka front debat, tinggalkan! Haram hukumnya berdebat dalam perkara yang sudah jelas kebenarannya. [Al Faqih Wal Mutafaqih: 2/32-33]
Quote:Original Posted By Kiyai.Slamet
kl kek gini mulu tinggal nunggu waktu di closed nih thread...

team hore jgn nimbrung mulu ah, dikuliti apaan, ngarti aja kagak..

@TS: ladenin syubhat yg penting2 aja, kl diajak muter2, lebih baik di skip..


Masih TERGUNCANG ya Gan
Firanda dan team hore ngapain yak sekarang setelah lama dikuliti ama cewek, ini FAKTA

Masih trima dinar dari SAUDI g

Sangat betul Gan aye g ngerti cara berpikir manhaj salaf, ilmu copas yang digunakan sj isinya jelas salah masih dinggap kebenaran hakiki

Dan betul Gan g usah diladenin soal syubhat
Kitab rujukan dan Syarah Hadisnya saja di PALSU, Gak penting soal AQIDAH TAUHID, yang penting AMALAN JASMANI

ALIKHSAN g dikenal di AJARAN WAHABI

Jadilah ROBOT dalam BERAMAL SHOLEH, punya OTAK tapi g punya ROHANI, selamanya HATInya akan BUTA

Gwe kasih tahu bocoran sedikit ya, bahwa wahabi salaf/salafi/salafiah masuk grand skenario dari "tentara" dajal untuk mewujudkan new world order.

Jangan TERGUNCYANG lagi Gan, Sabar ...

Ok, Kita sudahi saja g akan ada ujungnya karena IMAN itu BUTA
But kalau kalian muali ngulah lagi dengan kebiasaan sebelumnya yang merasa paling benar sedunia dan mentakfirkan/mensesatkan orang lain, mohon maaf kami tanpa dikomando akan ngulah juga
wah..komennya kok jadi pada kasar gini ya ?

mau’iduna yaumal jana’iz!
Quote:Original Posted By semangkamenor
mau’iduna yaumal jana’iz!


jangan banyak cakap laek...

kafirkan semuaknya ...

bcandak laek...
Quote:Original Posted By Kiyai.Slamet
kl kek gini mulu tinggal nunggu waktu di closed nih thread...

team hore jgn nimbrung mulu ah, dikuliti apaan, ngarti aja kagak..

@TS: ladenin syubhat yg penting2 aja, kl diajak muter2, lebih baik di skip..



makasi gan atas saran-nya

Jazakallah khair..
sudah bubar

jgn tempur terus kelian

adak setan lewat

Manhaj Salaf keseluruhannya bagus mencerahkan, tapi tinggal poles dikit lah..
kekurangannya agar lebih calm dalam bersikap dan berdakwah, tidak ujub......


saya dukung 100%.....

Lightbulb Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam

1. Membenarkan kabar yang disampaikan dalam hadits-hadits Nabi shallallahu 'alihi wa sallam

Diantara keimanan yang sangat urgen adalah meyakini bahwa Nabi shallallahu 'alihi wa sallam ma’sum (terjaga) dari kedustaan dan kebohongan, yang konsekuensi dari hari hal ini adalah pembenaran kepada semua yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu 'alihi wa sallam, baik khabar berita tentang masa silam, masa sekarang, ataupun berita di masa mendatang. Allah berfirman;

﴿وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىمَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى﴾ (لنجم:1-4)


Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak keliru, Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. 53:1-4)

﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ (الحشر: من الآية7)

Apa yang datang dari Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. 59:7)

Lihatlah kepada derajat yang sangat tinggi yang diraih oleh Abu Bakar As-Siddiq yang beriman kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dengan keimanan yang sesungguhnya.Ia membenarkan seluruh perkataan dengan tanpa keraguan sedikitpun.


عن عائشة رضي الله عنها قالت ثم لما أسري بالنبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد الأقصى أصبح يتحدث الناس بذلك فارتد ناس ممن كان آمنوا به وصدقوه وسعى رجال من المشركين إلى أبي بكر رضي الله عنه فقالوا هل لك إلى صاحبك يزعم أنه أسري به الليلة إلى بيت المقدس قال أو قال ذلك قالوا نعم قال لئن قال ذلك لقد صدق قالوا أو تصدقه أنه ذهب الليلة إلى بيت المقدس وجاء قبل أن يصبح فقال نعم إني لأصدقه ما هو أبعد من ذلك أصدقه في خبر السماء في غدوة أو روحة فلذلك سمي أبا بكر الصديق رضي الله عنه

Dari ‘Aisyah, beliau berkata, “Tatkala Nabi shallallahu 'alihi wa sallam isro’ (dijalankan oleh Allah) menuju ke Masjdil Aqsho, maka dipagi harinya orang-orang membicarakan hal itu. Orang-orang yang tadinya beriman kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dan membenarkannya murtad (keluar dari Islam). Beberapa orang dari kaum musyrikin menemui Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Tidakkah engkau menemui sahabatmu (yaitu Rasulullah), dia menyangka bahwa dirinya tadi malam dijalankan ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsho)?”. Abu Bakar berkata, “Apakah dia mengatakan demikian?”, mereka berkata, “Iya”. Abu Bakar berkata, “Jika ia memang mengatakan demikian maka dia telah jujur!”. Mereka berkata, “Apakah engkau membenarkan perkataannya bahwa dia tadi malam pergi ke Baitul Maqdis kemudian tiba kembali (ke Mekah) sebelum subuh?”, Abu Bakar berkata, “Iya, (bahkan) saya membenarkannya pada perkara yang lebih (aneh) dari pada perkara ini. Saya membenarkannya tentang berita yang ia terima dari langit di pagi hari atau di sore hari”. Oleh karena itu Abu Bakar dinamakan As-Siddhiq (yang selalu membenarkan)”[1]

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاة الصبح ثم أقبل على الناس فقال بينا رجل يسوق بقرة إذ ركبها فضربها فقالت إنا لم نخلق لهذا إنما خلقنا للحرث فقال الناس سبحان الله بقرة تكلم فقال فإني أومن بهذا أنا وأبو بكر وعمر وما هما ثم وبينما رجل في غنمه إذ عدا الذئب فذهب منها بشاة فطلب حتى كأنه استنقذها منه فقال له الذئب هذا استنقذتها مني فمن لها يوم السَّبُعِ يوم لا راعيَ لها غيري فقال الناس سبحان الله ذئب يتكلم قال فإني أومن بهذا أنا وأبو بكر وعمر وما هما ثَمَّ

Dari Abu Hurairoh berkata, “Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam sholat subuh kemudian beliau menghadap para jemaah sholat lalu berkata, “Tatkala seseorang menggembala seekor sapi, kemudian diapun menunggangi sapi tersebut dan memukul sapi tersebut. Sapi itupun berkata, “Sesungguhnya aku tidaklah diciptakan untuk ini (untuk ditunggangi), namun aku hanyalah diciptakan untuk membajak.” Orang-orangpun berkata, “Maha suci Allah, sapi berbicara??”. Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya aku beriman terhadap hal ini, demikian juga Abu Bakar dan Umar beriman.” Berkata Abu Hurairah, “Dan tatkala itu Abu Bakar dan Umar sedang tidak ada (tidak bersama mereka sholat subuh-pen)”. Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata, “Dan tatkala seorang penggembala sedang menggembalakan kambing-kambingnya tiba-tiba datang serigala dan membawa lari seekor kambingnya. Maka sang penggembalapun mengejar serigala tersebut dan sepertinya dia berhasil membebaskan kambing tersebut dari cengkraman serigala. Sang serigala tersebut berkata kepada sipenggembala, “Engkau telah membebaskan kambing itu dariku, maka siapakah yang akan menunggui (memperhatikan) kambing ini selain aku pada hari dimana singa datang mengambil kambing ini?[2]” Orang-orangpun berkata, “Maha suci Allah, serigala berbicara?”, Nabi shallallahu 'alihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya aku beriman terhadap hal ini, demikian juga Abu Bakar dan Umar beriman”. Berkata Abu Hurairah, “Tatkala itu Abu Bakar dan Umar sedang tidak hadir”[3]

Berkata Ibnu Hajar, “Kemungkinan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam mengatakan demikian (padahal Abu Bakar dan Umar tatkala itu tidak hadir-pen) karena Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam tahu akan besarnya keimanan mereka berdua dan kuatnya keyakinan mereka”[4]. Beliau juga berkata, “…Dan kemungkinan juga beliau berkata demikian karena mereka berdua akan membenarkan khabar tersebut jika mereka mendengarnya dengan tanpa keraguan”[5]

Coba seandainya kita sampaikan hadits ini kepada orang-orang yang mengagungkan akal mereka, tentu kita akan dapati banyak diantara mereka yang menolak hadits ini. Mungkin diantara mereka akan ada yang berkata “Bagaimana hewan bisa berbicara?, mana akalnya?”, ataupun diantara mereka ada yang mengatakan “Hadits ini lemah karena tidak masuk akal, meskipun dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari!!.”[6]

Padahal Allah mampu untuk melakukan semuanya, jangankan hewan yang masih memiliki otak dan lisan bahkan tangan dan kakipun serta kulit yang tidak berotak dan tidak berlisan akan berbicara pada hari kiamat sebagaimana firman Allah:

﴿الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾ (يّـس:65)

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS. 36:65)

﴿وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾ (فصلت:21)

Dan mereka berkata kepada kulit mereka:"Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami"

Kulit mereka menjawab:"Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan". (QS. 41:21)

Apakah mereka menolak ayat-ayat ini karena menurut mereka tidak masuk akal??

Bersambung....

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian ii)

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian iii)

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian iv)

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian v)

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian vi)

Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian vii)

Lightbulb Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian ii)

Berkata Ibnul Qoyyim, “Maka adab yang paling tertinggi terhadap Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam adalah pasrah menerima apa yang datang dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam, mematuhi dan menjalankan perintahnya, menerima dan membenarkan berita yang datang dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam tanpa mempertentangkannya dengan khayalan yang batil yang dinamakan “masuk akal” atau menolaknya karena syubhat atau ragu atau mendahulukan pendapat orang-orang dan kotoran-kotoran otak mereka diatas berita yang datang dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam…”[7]

Di zaman sekarang ini banyak orang yang menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan alasan bertentangan dengan akal. Apakah mereka lupa bahwa Nabi shallallahu 'alihi wa sallam tidaklah berbicara kecuali dengan bimbingan Allah?? Apakah akal mereka yang lemah itu hendak mereka gunakan untuk menimbang kebenaran berita yang datang dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam??.

Penolakan terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu 'alihi wa sallam semakin banyak jika hadits-hadits tersebut berkaitan dengan perkara-perkara goib. Mereka yang menentang hadits-hadits Nabi tersebut mengukur kebenaran hadits Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dengan akal mereka yang lemah. Mereka mengqiaskan (mengukur) perkara yang ghoib dengan hal-hal yang mereka lihat di alam nyata. Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal karena akal yang sehatpun tidak menerima bahwa alam ghaib disamakan dengan alam nyata. Inilah yang telah menimpa para pendahulu mereka dari kalangan orang-orang musyrik yang menolak dengan akal mereka berita isro’nya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho dalam satu malam. Demikianlah syaitan senantiasa menggelincirkan umat ini dari jalan kebenaran.

Lihatlah perkataan Umar bin Al-Khottob yang telah dijamin masuk surga, yang syaitan tidak berani bertemu dengannya, yang telah diberi oleh Allah kecerdasan dan ilmu yang tinggi, lihatlah perkataan beliau:

قال يا أيها الناس اتهموا الرأي على الدين فلقد رأيتني أرد أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم برأيي اجتهادا فوالله ما آلو عن الحق وذلك يوم أبي جندل والكتاب بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وأهل مكة فقال اكتبوا بسم الله الرحمن الرحيم فقالوا ترانا قد صدقناك بما تقول ولكنك تكتب باسمك اللهم فرضي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبيت حتى قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم تراني أرضى وتأبى أنت قال فرضيت

“Wahai manusia sekalian, curigailah pemikiran kalian dalam permasalahan agama[8]. Sungguh aku telah membantah perintah Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan pendapatku (pemikiranku) karena aku berijtihad. Demi Allah aku bersungguh-sungguh (berijtihad dengan pemikiranku itu) untuk menuju kepada kebenaran. Hal itu terjadi pada waktu kejadian Abu Jandal[9], tatkala buku di antara Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dan penduduk Mekah (yaitu orang-orang musyrik), lalu Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata, “Tulislah Bismillahirrohmanirrahim!”, mereka berkata, “Apakah engkau mengira kami telah membenarkan engkau (adalah utusan Allah)?, tapi engkau tulis saja “Bismikallahumma”. Lalu Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam rela dengan hal itu, adapun aku tidak setuju, hingga Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata kepadaku “Engkau melihat aku telah ridha (setuju) lantas engkau enggan?”. Umar berkata, “Maka akupun rela”[10]

Ungkapan seperti ini juga diucapkan oleh para sahabat yang lain, diantaranya Sahl bin Hunaif, beliau berkata:

أيها الناس اتهموا أنفسكم فإنا كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الحديبية ولو نرى قتالا لقاتلنا فجاء عمر بن الخطاب فقال يا رسول الله ألسنا على الحق وهم على الباطل فقال بلى فقال أليس قتلانا في الجنة وقتلاهم في النار قال بلى قال فعلام نعطي الدنية في ديننا أنرجع ولما يحكم الله بيننا وبينهم فقال يا بن الخطاب إني رسول الله ولن يضيعني الله أبدا فانطلق عمر إلى أبي بكر فقال له مثل ما قال للنبي صلى الله عليه وسلم فقال إنه رسول الله ولن يضيعه الله أبدا فنزلت سورة الفتح فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم على عمر إلى آخرها فقال عمر يا رسول الله أو فتح هو قال نعم


“Wahai manusia sekalian, curigailah diri kalian, sesungguhnya kami bersama Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam pada waktu terjadi perjanjian Hudaibiyah[11] dan jika menurut kami adalah berperang maka kami akan berperang. Lalu datanglah Umar bin Al-Khottob dan berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kebatilan?”, Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam menjawab, “Tentu saja”. Umar berkata, “Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita (jika kita memerangi mereka) masuk surga dan orang-orang yang terbunuh dari mereka masuk neraka?”, Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam menjawab, “Tentu saja”. Umar berkata, “Jika demikian, lantas mengapa kita bersikap merendah pada agama kita?, apakah kita kembali ke Madinah padahal Allah belum memutuskan perkara antara kita dengan mereka?”. Nabi shallallahu 'alihi wa sallam berkata, “Wahai Ibnul Khottob, sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan aku selamanya”. Lalu Umar pergi ke Abu Bakar dan ia berkata kepadanya apa yang telah dikatakannya kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam, Abu Bakarpun berkata kepaanya, “Sesungguhnya ia adalah utusan Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya selamanya”. Lalu turunlah surat Al-Fath dan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam membacakannya kepada Umar hingga akhir surat, lalu berkata Umar, “Wahai Rasulullah, apa itu adalah Al-Fath (kemenangan kita di Mekah kelak)?”, Nabi shallallahu 'alihi wa sallam menjawab, “Iya”[12]

Ali bin Abi Tholib berkata,

لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه


“Jika seandainya agama itu (hanya sekedar) bersandar dengan akal maka bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap (tatkala wudlu-pen) daripada bagian atas khuf. Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam mengusap bagian atas kedua khufnya”[13]

Sungguh indah perkataan Ibnu Taimiyah[14],

فيا ليت شعرى بأي عقل يوزن الكتاب والسنة فرضى الله عن الإمام مالك بن أنس حيث قال أو كلما جاءنا رجل أجدل من رجل تركنا ما جاء به جبريل الى محمد لجدل هؤلاء


“Seandainya saya tahu dengan dengan akal siapakah hendak ditimbang Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam?, Semoga Allah meridhai Imam Malik bin Anas tatkala beliau berkata, “Apakah setiap datang orang yang lebih pandai bedebat daripada orang yang lain lantas kita tinggalkan apa yang diturunkan Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alihi wa sallam karena kepandaian debat mereka??”[15]

Quote:Original Posted By sanudkbps
Manhaj Salaf keseluruhannya bagus mencerahkan, tapi tinggal poles dikit lah..
kekurangannya agar lebih calm dalam bersikap dan berdakwah, tidak ujub......


saya dukung 100%.....



butul2 itu

Quote:
  • Meyakini Tuhan punya Dua Mata *).
  • Meyakini Tuhan punya Tangan *).
  • Meyakini Tuhan punya Muka *)
  • Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam/duduk) di atas ‘Arasy.
  • Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk.
  • Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.
  • Meyakini Tuhan punya betis *)
  • Meyakini Tuhan punya jari-jemari. *)


*) Artinya secara fisik dan hakiki tapi jangan diserupakan dengan mahluk


hakiki sesuai dengn firmanNya
Spoiler for Tuhan duduk:

Lightbulb Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian iii)

2. Mengagungkan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dan tidak menentangnya dengan pendapat sendiri

Diantara bukti yang paling kuat yang menunjukkan kecintaan seseorang kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam yaitu pengagungan terhadap sabda-sabda dan wejangan-wejangan beliau dan tidak menentang keputusan Nabi shallallahu 'alihi wa sallam. Inilah yang telah direalisasikan oleh para sahabat dan para imam kaum muslimin sepeninggal para sahabat.

Allah berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً مُبِيناً﴾ (الأحزاب:36)


Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. 33:36)

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً﴾ (الأحزاب:21)


Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)

﴿وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلاغُ الْمُبِينُ﴾ (النور: من الآية54)


“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.Dan tiada lain kewajiban rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (QS 24:54)

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ (النور: من الآية63)


maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS. 24:63)

﴿أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِداً فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ﴾ (التوبة:63)


Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)

Berkata Al-Humaidi, “Kami sedang bersama Imam Asy-Syafi’i, lalu datanglah seseorang dan bertanya tentang suatu permasalahan. Maka As-Syafi’i berkata, “Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam telah memutuskan permasalahan ini dengan hukum demikian dan demikian”. Orang itu berkata kepada Imam As-Syafi’i, “Bagaimana menurut pendapat Anda?”, maka Imam As-Syafii berkata,

سبحان الله!! تراني في كنيسة؟! تراني في بيعة؟! ترى على وسطي زُنَّارًا؟! أقول لك قضى فيها رسول الله وأنت تقول: ما تقول أنت؟!


“Maha suci Allah, apakah engkau sedang melihatku di gereja?!, apakah engkau sedang melihatku di tempat ibadah orang-orang yahudi?!, apakah engkau melihat di pinggangku ada zunnar (yaitu sabuk yang dipakai oleh orang-orang Nasrani)?!. Aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam memutuskan perkara ini dengan hukuman demikian dan demikian lantas engkau berkata “Bagaimana menurut pendapatmu?”?![16]

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ مُغَفَّلٍ : نَهَى النَّبِيُّ عَنِ الْخَذْفِ وَقَال((إِنَّهَا لاَتَصْطَادُ صَيْدًا وَلاَ تَنْكَأُ عَدُوًا وَلَكِنَّهَا تَفْقَأُ الْعَيْنَ وَتَكْسِرُ السِّنَّ)) فَقَالَ رَجُلٌ : وَمَا بَأْسُ هَذَا؟ فَقَالَ : إِنِّي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ وَتَقُوْلَ هَذَا؟ وَاللهِ لاَأُكَلِّمُكَ أَبَدًا

Dari Abdullah bin Mugoffal bahwasanya Nabi shallallahu 'alihi wa sallam melarang khadzf (mengutik dengan kerikil tatkala berburu untuk melukai hewan buruan-pen) dan Nabi shallallahu 'alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya khadzf (kutikan) itu tidaklah menghasilkan hewan buruan, juga tidak mematikan musuh, namun hanya membutakan mata dan mematahkan gigi”. Orang itupun berkata kepada Abdullah, “Memangnya kenapa dengan khadzf?”, maka Abdullah berkata, “Saya menyampaikan kepada engkau hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam lalu engkau berkata demikian?, demi Allah saya tidak akan berbicara denganmu selamanya!”.[17]

Imam An Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan pemboikotan terhadap ahlul bid’ah dan pelaku kefasikan dan penentang sunnah setelah dijelaskan kepadanya, dan boleh memboikotnya secara terus menerus. Adapun larangan dari memboikot seorang muslim lebih dari tiga hari hanyalah berlaku pada orang yang bersalah karena kepentingan pribadi atau karena persoalan kehidupan dunia. Adapun para ahlul bid’ah dan semisal mereka maka pemboikotan terhadap mereka dilakukan secara terus menerus.[18] Padahal disebutkan dalam riwayat Muslim bahwa pria yang diboikot oleh Abdullah tersebut merupakan kerabat keluarga beliau.

Berkata Ibnu Hajar, “Hadits ini menunjukan akan bolehnya memboikot orang yang menyelisihi sunnah meninggalkan berbicara dengannya, dan hal ini tidak termasuk dalam larangan dari memboikot (saudara sesama muslim) lebih dari tiga hari, karena larangan tersebut hanyalah jika berkaitan dengan pemboikotan karena perkara pribadi”[1]

Lightbulb Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian iiii)

Dari Salim bin Abdillah, bahwasanya Abdullah bin Umar berkata:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : ((لاَتَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأَنَّكُمْ إِلَيْهَا)). فَقَالَ بِلاَلُ بْنِ عَبْدِ الله : وَاللهِ لَنَمْنَعُهُنَّ.

فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ عَبْدِ الله فَسَبَّهُ سَبًّا شَدِيْدًا مَا سَمِعْتُهُ سَبَّهُ مِثْلَهُ قَطٌ, وَقَالَ : أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُلِ اللهِ وَتَقُوْلُ : وَاللهِ لَنَمْنَعُهُنَّ

Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian pergi ke mesjid-mesjid jika mereka telah meminta idzin kepada kalian” Lalu berkatalah Bilal bin Abdullah bin Umar (yaitu putra Abdullah bin Umar-pen), “Demi Allah kami akan melarang mereka (ke mesjid)”. Maka Abdullah bin Umarpun menghadap kepadanya lalu mencelanya dengan celaan yang sangat keras yang saya sama sekali tidak pernah mendengar ia mencela seperti itu, lalu berkata, “Saya mengabarkan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam lantas engkau berkata “Demi Allah kami akan melarang mereka”??”[20] Dalam satu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim فَضَرَبَ فِيْ صَدْرِهِ “Maka Abdullahpun memukul dadanya”

Imam Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan hukuman terhadap orang yang protes terhadap sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam dan yang membantah sunnah dengan pemikirannya. Hadits ini juga menunjukan (bolehnya) hukuman seorang bapak kepada anaknya walaupun sang anak telah dewasa”[21]

Berkata Ibnu Hajar[22], “Tidaklah Abdullah mengingkari putranya Bilal dengan pengingkaran yang sangat keras karena Bilal secara langsung menyelisihi hadits, namun kalau seandainya Bilal berkata misalnya “Sesungguhnya zaman sudah berubah, dan sebagian wanita terkadang nampak dari mereka keinginan pergi ke mesjid namun ternyata mereka punya maksud yang lain” maka yang nampak Abdullah bin Umar tidak akan mengingkarinya (sedemikian rupa) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Aisyah[23]”

Beliau juga berkata, “Dan diambil (faedah) dari pengingkaran Abdullah kepada putranya yaitu pemberian hukuman dan pelajaran kepada orang yang menentang sunnah Nabi dengan berlandaskan pikirannya dan kepada orang alim namun mengikuti hawa nafsunya, dan bolehnya seorang bapak memberi hukuman dan pelajaran kepada anaknya walaupun sang anak telah besar dan dewasa jika ia mengucapkan suatu perkataan yang tidak pantas, serta bolehnya memberi hukuman dengan menghajr (memutuskan hubungan). Telah datang riwayat dari jalan Ibnu Abi Najiih dari Mujahid pada Musnad Imam Ahmad فَمَا كَلَّمَهُ عَبْدُاللهِ حَتَى مَاتَ (Maka Abdullah bin Umar tidak pernah berbicara kepada anaknya (Bilal) hingga wafat)[24]. Jika riwayat ini shahih maka ada kemungkinan bahwa salah satu dari keduanya tidak lama kemudian meninggal setelah terjadinya kisah ini.”[25]

عن عطاء بن يسار : أن رجلا باع كِسرة من ذهب أو ورق بأكثر من وزنها، فقال له أبو درداء : سمعت رسول الله يقول: ((يُنْهَى عَنْ مِثْلِ هَذَا إِلاَّ مَثَلا بِمَثَلٍ)). فقال الرجل: ما أرى بمثل هذا بأسًا. فقال أبو درداء : من يعذرني من فلان؟، أحدثه عن رسول الله ويخبرني عن رأيه، لا أساكنه بأرض أنت بها


Dari ‘Ato bin Yasar, ada seseorang yang menjual sepotong (sebongkah) emas atau perak dengan harga yang lebih berat dari berat bongkahan tersebut. Maka Abu Darda’pun berkata kepadanya, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata ((Dilarang dari yang seperti ini kecuali sama beratnya )antara emas atau perak yang di jual (di tukar) dengan perak atau emas yang di jadikan sebagai pembayar)). Orang tersebut berkata, “Menurut saya tidak mengapa”. Maka Abu Darda’pun berkata kepadanya, “Siapa yang menghalangiku dari orang ini?, aku sampaikan kepadanya hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam lantas dia menyampaikan kepadaku pendapatnya (yang menentang hadits). Saya tidak akan tinggal di tempat yang kamu berada di situ”[26]

عن الأعرج قال : سمعت أبا سعيد الخدري يقول لرجل: أتسمعني أحدث عن رسول الله أنه قال: ((لاَ تَبِيْعُوْا الدِّيْنَارَ بِالدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَمَ بِالدِّرْهَمِ إِلاَّ مَثَلا بِمَثَلٍ، وَ لاَ تَبِيْعُوْا مِنْهَا عَاجِلاَ بِآجِلٍ)) ثم أنت تفتي بما تفتي؟، والله لايؤويني وإياك ما عشت إلا المسجد!"


Dari Al-A’roj berkata, “Saya mendengar Abu Said Al-Khudri berkata kepada seseorang, “Tidakkah engkau mendengarkan perkataanku?, aku sampaikan kepadamu hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bahwasanya ia bersabda ((Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar atau dirham dengan dirham kecuali jika sama sama berat timbangannya, dan janganlah kalian menjualnya dengan tidak kontan)), kemudian engkau berfatwa dengan fatwamu (yang menyelisihi hadits)??. Demi Allah kita tidak akan berada di bawah satu atap selama hidupku kecuali di mesjid”[27]

Berkata Al-Hakim, :”Saya mendengarnya –yaitu Abu Bakar As-Shibgi (wafat pada tahun 342 H)- tatkala dia sedang berbicara dengan seorang ahli fikih, dia berkata, “Sampaikanlah kepada kami riwayat hadits dari jalan Sulaiman bin Harb!”. Maka ahli fiqh itu berkata, حَدَّثَنَا دَعْنَا مِنْ “Tinggalkan kami dari perkataan حَدَّثَنَا (Telah menyampaikan kepada kami), إِلَى مَتَى حَدَّثَنَا وَ أَخْبَرَنَاsampai kapan terus (kita sibuk dengan) حَدَّثَنَا dan أَخْبَرَنَا (Telah mengabarkan kepada kami)??. Maka Abu Bakar As-Sibgi berkata, يا هذا لست أشُمُّ من كلامك رائحة الإِيْمَانِ، وَلاَ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تدخل دَاري “Wahai fulan, saya tidak mencium dari perkataanmu bau kaimanan, dan tidak halal bagi engkau memasuki rumahku”. Kemudian diapun memboikot ahli fikh tersebut hingga dia wafat.[28]

Abul Husain At-Thobsi berkata, “Saya mendengar Abu Sa’id Al-Ashthikhri berkata –dan tatkala itu datang seseorang kepadanya dan bertanya kepadanya, “Apakah boleh beristinja’ dengan tulang?- maka ia (Abu Sa’id) menjawab, “Tidak boleh”. Orang itu berkata, “Kenapa tidak boleh?”, ia berkata, “Karena Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda ((هُوَ زَادُ إِخْوَانِكُمْ مِنَ الْجِنِّ)) “Dia adalah bekal (makanan) saudara-saudara kalian dari golongan jin”. Orang itu menimpali, “Bukankah manusia lebih mulia daripada jin?” ia berkata, “Tentu manusialah yang lebih mulia”. Orang itu berkata, “Jika demikian, lantas mengapa boleh beristinja’ dengan air, padahal air adalah minuman manusia?”, iapun menerjang orang itu dan memegang lehernya dan berkata “Wahai zindik (munafik), engkau menentang sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam??. Lalu ia (Abu Sa’id) mencekik orang itu, kalau tidak segera saya cegah mungkin ia telah membunuh orang itu”[29]

Ibnul Qoyyim berkata, “Apakah ada diantara para sahabat yang tatkala mendengar hadits Nabi lantas memabantahnya dengan qiyasnya?, atau dengan perasaannya?, atau dengan pendapatnya?, atau dengan akalnya?, atau dengan siasat politiknya???...apakah ada diantara mereka yang lebih mendahulukan akal atau qiyas atau perasaan atau politik atau taklid dari pada hadits Nabi shallallahu 'alihi wa sallam ??... Sungguh Allah telah memuliakan dan mensucikan dan menjaga mata mereka dari melihat wajah orang yang demikian halnya (yang menentang hadits Nabi dengan akal atau perasaannya) atau membiarkan ada orang seperti ini dizaman mereka.

Umar bin Khottob telah memberi hukuman pedang kepada orang yang mendahulukan pendapatnya dari pada hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan berkata, “ini adalah pendapatku”.

Ya Allah… bagaimana jika Umar melihat apa yang kita lihat sekarang ini?? Jika Umar menyaksikan musibah yang menimpa kita berupa sikap mengedepankan pendapat si fulan dan si fulan dari pada perkataan Nabi shallallahu 'alihi wa sallam yang terjaga dari kesalahan?? Bagaimana jika Umar melihat penentangan orang-orang yang menampilkan pendapat-pendapat mereka dan lebih mengedepankan pendapat dan pemikiran mereka daripada perkataan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam?? Hanyalah Allah tempat meminta pertolongan, Dari Dialah kita diciptakan dan kepadaNyalah kita kembali”.[30]

Allah berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ﴾ (الحجرات:2)


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dam janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. (QS. 49:2)

Berkata Ibnul Qoyyim mengomentari ayat ini, “Maka Allah memperingatkan orang-orang mukmin dari terhapusnya amalan mereka jika mereka mengeraskan suara mereka di hadapan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam sebagaimana mereka mengeraskan suara mereka diantara mereka.

Dan terhapusnya amalan dalam permasalahan ini bukanlah dikarenakan kemurtadan tetapi dikarenakan kemaksiatan yang bisa menghapuskan amal padahal pelakunya tidak merasa. Bagaimana pula dengan orang yang mengedapankan perkataan, petunjuk, dan jalan selain Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam diatas perkataan, petunjuk, dan jalan Rasulullah??, bukankah orang seperti ini juga telah menghapus amalannya dan dia dalam keadaan tidak sadar??[31]

Lightbulb Bukti-Bukti Cinta Kepada Nabi shallallahu 'alihi wa sallam (bagian v)

3. Tidak mengedapankan perkataan siapapun diatas perkataan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam

As-Sya’bi berkata kepada seseorang, مَا حدَّثُوك عن رسول الله فخذ به وما قالوه برأيهم فَأَلْقِهِ في الحُشِّ “Apa saja yang mereka sampaikan kepadamu dari Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam maka ambillah dan apa saja yang mereka katakan dari pendapat mereka maka buanglah di jamban (tempat buang air)[32]

Berkata Umar bin Abdilaziz, لارأْيَ لأَحَدٍ مع سنةٍ سنَّهَا رسولُ الله “Tidak dilihat pendapat siapapun jika telah ada sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam”[33]

Imam As-Syafi’I berkata, أَجْمعَ الناسُ على أنَّ من استبانتْ له سنةٌ عن رسول الله لم يكن له أنْ يَدَعَها لِقول أحد من النَّاس “Manusia telah sepakat bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya suatu sunnah dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut karena mengikuti perkataan (pendapat) seseorang”. Dan telah sah bahwasanya beliau juga pernah berkata, لا قول لأَحَدٍ مع سنةِ رسولِ الله “Tidak dilihat pendapat siapapun jika telah ada sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam”[34]

Berkata Ibnu Khuzaimah, , لا قول لأَحَدٍ مع رسولِ الله إِذَا صَحَّ الْخَبَرُ غنه “Tidak dipandang perkataan siapapun jika telah sah sunnah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam”[35]

Dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Nabi berhaji tamattu’[36], maka Urwah bin Az-Zubair berkata, “Abu Bakar dan Umar melarang tamattu’”. Ibnu Abbas menimpali perkataannya, أُرَاهُم سَيَهْلَكُوْنَ، أَقُوْلُ قَالَ النَّبِيُّ وَيَقُوْلُوْنَ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَ عُمَرُ “Aku melihat mereka akan binasa, aku menyampaikan kepada mereka “Nabi shallallahu 'alihi wa sallam bersabda demikian”, namun mereka berkata “Abu Bakar dan Umar melarang.”[37]

Dalam riwayat yang lain beliau berkata, يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُونَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ؟؟! “Hampir saja menimpa kalian hujan batu dari langit, aku berkata “Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkata demikian” lantas kalian berkata, “Abu Bakar dan Umar berkata demikian dan demikian”[38]

Berkata Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, “Abu Bakar dan Umar adalah orang yang paling terbaik dari umat ini, dan yang paling dekat kepada kebenaran. Nabi shallallahu 'alihi wa sallam telah bersabda إِنْ يُطِيْعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا “Jika mereka patuh kepada Abu Bakar dan Umar maka mereka akan mendapat petunjuk”[39], dan diriwayatkan juga dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda اِقْتَدَوْا بِالَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ “Teladanilah dua orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar!”[40]. Beliau shallallahu 'alihi wa sallam juga bersabda عَلَيْكُمْ بِسُنّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَجَذَِ “Wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku. Berpegangteguhlah dengannya dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian”[41]. Dan tidak pernah diketahui dari Abu Bakar dan Umar bahwasanya keduanya menyelisihi hadits yang sangat jelas dari Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan akal mereka berdua. Maka jika ada orang yang menghadapkan hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan perkataan Abu Bakar dan Umar maka dikawatirkan akan turun hujan batu dari langit bagaimana lagi dengan orang yang menentang hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dengan membawakan perkataan orang yang jauh di bawah derajat mereka berdua?? Padahal perbedaan antara orang tersebut dengan Abu Bakar dan Umar seperti bedanya langit dan bumi??, tentunya hukumannya lebih parah lagi.[42]”

Berkata Salim bin Abdillah,

إني لجَاَلِسٌ مع ابن عمر في المسجد إذ جاءه رجل من إهل الشام فسأله عن التمتع بالعمرة إلى الحج؟ فقال ابن عمر : حسن جميل. فقال: فإن أباك كان ينهى عن ذلك؟ فقال: ويلك! فإن كان أبي قد نهى عن ذلك وقد فعله رسول الله وأمر به، فبقول أبي تأخذ أم بأمر رسول الله؟ قال بأمر رسول الله. فقال : فقم عني

“Aku sedang duduk bersama Ibnu Umar di masjid tiba-tiba datang seseorang dari penduduk negeri Syam, lalu dia bertanya kepada Ibnu Umar tentang umrah bersama haji?, maka Ibnu Umar berkata, “(Ini adalah perkara yang) baik dan bagus”. Orang itu berkata, “Tapi ayahmu (yaitu Umar bin Al-Khottob) dulu melarang perkara ini?”. Ibnu Umar berkata, “Celaka engkau, jika ayahku telah melarang perkara ini dan perkara ini telah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam dan telah memerintahkannya maka perkataan ayahku yang kau pegang ataukah perintah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam?!”. Orang itu berkata, “Perintah Nabi”. Ibnu Umar lalu berkata, “Menyingkirlah dariku!!”.[43]

Berkata Abu As-Saib, “Kami berada bersama Imam Waki’ lalu beliau berkata kepada seseorang yang termasuk ahlu ro’yi أَشْعَرَ رَسُوْلُ اللهِ “Rasulullah berbuat isy’ar[44]”. Orang itupun menimpali, “Tapi Abu Hanifah berpendapat bahwa isy’ar itu adalah mutslah (penyiksaan dengan mencincang)”. Kemudian orang itu melanjutkan perkataannya, “Telah datang dari Ibrahim An-Nakho’i bawhasanya dia berkata, “Isy’ar itu mutslah”. Maka akupun melihat Imam Waki’ marah besar dan berkata: أَقُوْلُ لَك ٌَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ؟؟ مَا أَحَقَّكَ بِأَنْ تُحْبَسَ ثُمَّ لاَتَخْرُجَ حَتَّى تَنْزِعَ عَن قَوْلِكَ “Aku berkata kepadamu Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda demikian lantas engkau berkata Ibrahim berkata demikian..!!, engkau sungguh sangat pantas untuk dipenjara kemudian tidak keluar dari penjara tersebut hingga engkau mencabut perkataanmu ini!”[45]

Berkata Imam Ahmad:

عجِبتُ من قَومٍ عرَفوا الإسنادَ وَصِحَّتَهُ يذهبون إلى رَأْيِ سُفيانَ واللهُ يقول : ﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ (النور: من الآية63). أتدري ما الفتنة؟ الفتنة شرك، لعله إذا ردَّ بعضَ قوله أَن يقعَ في قلبه شيء من الزيغ فَيهْلِك

“Aku heran terhadap sauatu kaum yang mereka mengetahui tentang isnad dan shohihnya isnad tersebut lantas mereka mengikuti pendapat Sufyan (At-Tsauri yang menyelisihi hadits Rasulullah-pen), padahal Allah telah berfirman: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. 24:63). Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini?, maksudnya adalah keyirikan, karena ia jika menolak sebagian hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam maka akan masuk dalam hatinya suatu penyimpangan lalu ia celaka”[46]

Namun yang sangat menyedihkan apa yang terjadi pada kaum muslimin, banyak dari mereka yang terlalu berlebihan dalam mengagungkan imam madzhab mereka, guru-guru mereka, kiyai-kiyai mereka sampai-sampai mereka lebih mendahulukan pendapat imam-imam mereka daripada hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam.

Ibnu Sirin menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam kepada seseorang lalu orang itu berkata, “Si fulan dan si fulan telah berkata ini dan itu..”, maka Ibnu Sirinpun berkata أُحَدِّثُكَ عَنِ النَّبِيِّ وَتَقُوْلُ قَالَ فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ كَذَا وَكَذَا؟، وَاللهِ لاَأُكَلِّمُكَ أَبَدًا “Aku menyampaikan kepadamu hadits dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam lantas engkau berkata, “Si fulan dan si fulan telah berkata ini dan itu”?, demi Allah aku tidak akan berbicara denganmu selamanya”[47]
×