Quote:Original Posted By nidhi


jgn suka berandai2...
yang pasti2 saja bagaimana menyelamatkan kaum ahwat dari fitnah



oke kasih contoh nyata aja deh

tetangga ane seorang akhwat, lama tinggal di ponpes salaf. bahkan ane terakhir liat wajah dia pas masih anak2 sampe kini udah usia 20an ga pernah liat bentuk dia lagi
nah, kebetulan ortu si akhwat itu meninggal, dan dia (sbg anak pertama tertua) jd tulang punggung adik2nya masih kecil2

singkat cerita pas ane lg ngepom bensin, ane melihat cwe dg wajah ayu dan ga asing sedang melayani pembeli, dia bekerja sbg petugas pom
DG BAJU SERAGAM YG KETAT DAN MEMPERTONJOLKAN BENTUK TUBUH dan CELANA SKINNY JEANS
tak lain tak bukan dia adalah TETANGGA ANE YG selama ini tertutup rapat

mungkin cari kerja sulit
apa aja asal dapet panggilan cepet dapet duit cepet
sampe2 lupa akidah maap2 nih ane jg ga begitu paham soal akidah, tp ane ga nyangka aja dia M-A-U kerja disitu
Quote:Original Posted By sukamerah


oke kasih contoh nyata aja deh

tetangga ane seorang akhwat, lama tinggal di ponpes salaf. bahkan ane terakhir liat wajah dia pas masih anak2 sampe kini udah usia 20an ga pernah liat bentuk dia lagi
nah, kebetulan ortu si akhwat itu meninggal, dan dia (sbg anak pertama tertua) jd tulang punggung adik2nya masih kecil2

singkat cerita pas ane lg ngepom bensin, ane melihat cwe dg wajah ayu dan ga asing sedang melayani pembeli, dia bekerja sbg petugas pom
DG BAJU SERAGAM YG KETAT DAN MEMPERTONJOLKAN BENTUK TUBUH dan CELANA SKINNY JEANS
tak lain tak bukan dia adalah TETANGGA ANE YG selama ini tertutup rapat

mungkin cari kerja sulit
apa aja asal dapet panggilan cepet dapet duit cepet
sampe2 lupa akidah maap2 nih ane jg ga begitu paham soal akidah, tp ane ga nyangka aja dia M-A-U kerja disitu


Pom bensin mana tuh gan? jadi penasaran
Quote:Original Posted By sariputra
Ujung-ujungnya maen kafir-kafiran juga.
Kirain udah 2013 ente sekalian udah ada kemajuan
Ternyata masih "lagu lama-kaset rusak"



Agama oh agama


Quote:Original Posted By Mr.tompel


pengkafiran terhadap perbuatan dan kepada seseorang berbeda ya saudaraku yang mulia



o gitu yak?
Yg lebih mulia yang mana puh di antara keduanya ?
Face to Face, Sarkub vs Salafi

Sangat disayangkan ternyata ustadz Wahabi Salafi itu tidak bisa baca kitab kuning atau kitab gundul (kitab bahasa arab tanpa harakat tanda baca, red). Dia mengajarkan ilmu agama kepada kelompoknya hanya asal-asalan cuma berbekal buku-buku agama dan terjemahan Al-Qur’an – Hadits saja. Capek deeeech…!

Hal tersebut terungkap dalam sebuah pertemuan antara Petinggi Sarkub: KH. Thobary Syadzily M.Kub dengan Ustad Wahabi Salafi di rumah kediaman salah seorang anggota kelompoknya.

Ustadz Wahabi Salafi dan kelompoknya tidak mengakui dan menolak tuduhan jika mereka dikatakan telah memvonis bid’ah dan musyrik terhadap amaliah masyarakat di sekitar kediamannya.

Kemudian, ustadz Wahabi Salafi itu minta tolong kepada beliau, selaku Komandan Densus 99 Sarkub tersebut, agar dia dilindungi dari kemarahan dan ancaman masyarakat sekitar yang merasa disakiti olehnya atas tuduhan bid’ah dan musyrik tersebut. Sungguh aneh, “Kok kenapa harus minta tolong kepada saya? Bukankah itu perbuatan musyrik?”, ujar KH. Thobary Syadzily M.Kub (harusnya minta tolong hanya kepada Allah SWT semata, red)

Ketika berhadapan dengan Guru Besar Universitas Menyan Indonesia tersebut, mereka pada kelimpungan mati kutu dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam seribu bahasa, tidak ada komentar, bantahan maupun sanggahan, ketika KH. Thobary Syadzily M.Kub berikan argumen: “bahwa setiap amalan yang dilakukan ulama ada dalil-dalilnya dan saya punya bukti-buktinya berupa kitab-kitab karangan ulama-ulama klasik / ulama-ulama salaf “. (bukan ulama salafi abal-abal alias ulama wahabi lhooo).

Read more: http://www.sarkub.com/2013/face-to-f...#ixzz2GtXqMnKT
Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | 140014749377806 on Facebook
Quote:Original Posted By sariputra




o gitu yak?
Yg lebih mulia yang mana puh di antara keduanya ?


Pertanyaan-nya

Apakah seseorang yang tidak berhukum dengan hukum Allah bisa menyebabkan kekafiran..?

Kalau jawaban anda bisa menjadi kafir..

apakah bisa langsung seseoang itu dikatakan kafir..?

apakah anda tau apa itu kafir mu'ayan..?

Lightbulb Istiwa dan Duduk

Sebuah rumor disebarkan oleh orang-orang tertentu bahwa Ibnu taimiyah memaknakan istiwa dengan duduk serta menetapkan sifat duduk kepada Allah layaknya makhluk.Lantaran persangkaan tersebut mereka mengatakan bahwa Ibnu taimiyah adalah seorang Mujassimah.

Dengan bermohon pertolongan dari Allah yang Dzatnya tinggi diatas Arsy, Saya akan membahas rumor ini agar hal yang samar menjadi jelas.

Rumor ini tersebar lewat perkataan seorang alim ahli Tafsir yang bernama Abu Hayyan al Andalusi. Beliau mengatakan:

وقد قرأت في كتاب لأحمد بن تيمية هذا الذي عاصرناه وهو بخطه سماه ‏كتاب العرش: “إن الله يجلس على الكرسي وقد أخلى مكانا يقعد معه فيه رسول الله ‏”، ‏تحيَّل عليه مح مد بن عبد الحق وكان أظهر أنه داعية له حتى أخذه منه ‏وقرأنا ذلك فيه


Aku telah membaca sebuah kitab milik Ibnu Taimiyah yang sejaman denganku, kitab tersebut merupakan tulisannya yang dia namakan “kitab al Arsyi” : Sesungguhnya Allah duduk diatas kursi dan ia mengosongkan tempat untuk duduk Rasulullah bersamanya.

Makna Istiwa

Para ulama ahlussunnah mengatakan bahwa istiwa memiliki 4 makna.

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam Nuniyahnya:

فلهم عبارات عليها أربع ** قد حصلت للفارس الطعان

وهي “استقر” ، وقد “علا” ، وكذلك “ار ** تفع” الذي ما فيه من نكران

وكذاك قد “صعد” الذي هو رابع ** وأبو عبيدة صاحب الشيباني

يختار هذا القول في تفسيره ** أدرى من الجهمي بالقرآن


Mereka memiliki beberapa ungkapan tentangnya

Sesungguhnya telah terjadi pada prajurit berkuda yang banyak menikam

Yaitu istaqarra, ála demikian juga irtafaa

Yang tidak ada penolakan padanya

Demikin pula shaida menjadi yang keempat

Sedang abu Ubaidah sahabat asy Syaibani

Memilih pendapat ini dalam tafsirnya

Dia lebih tahu tentang Alqur’an daripada Jahmi

Berdasarkan bait Nunniyah ini kita ketahui bahwa makan istiwa terkait sifat Allah ada 4. Secara rinci sifat-sifat tersebut adalah

al-uluw (tinggi)

arti ini sesuai dengan tafsir dari Mujahid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Kitabnya :وقال مجاهد: ﴿استوى على العرش﴾ أي: علا على العرش

al Irtifa’ (meninggi)
arti ini sesuai dengan tafsir dari Abu Aliyah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya dan ia jadikan Judul bab:باب: ﴿وكان عرشه على الماء﴾، ﴿وهو رب العرش العظيم﴾: قال أبو العالية: ﴿استوى إلى السماء﴾ ارتفع ﴿فسواهن﴾ فخلقهن، وقال مجاهد: ﴿استوى﴾ علا ﴿على العرش

al Imam al Baghawi ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 29 beliau menukil dari Ibnu Abbas dengan mengatakan:

قال ابن عباس: وأكثر مفسري السلف أي ارتفع إلى السماء


Ibnu Abbas berkata: kebanyakan ahli tafsir dari kalangan Salaf mengartikan meninggi kelangit

as Suud (naik)
makna ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas melalui al Farra’. Syaikh albani menerangkan bahwa sanad alfarra ke ibnu abbas melwati rijal-rijal yang Tsiqah

makna ini juga dipilih oleh abu Ubaidah sahabat Imam syaibani berdasarkan penuturan dari Ibnu Qayyim dan al Dzahabi

Al istiqrar (menetap)
al Dzahabi mentolerir makna Ini sekalipun cenderung tidak menyetujuinya, beliau berkata:

قال الذهبي: ((قال الإمام محيي السنة أبو محمد الحسين بن مسعود البغوي الشافعي عن قوله تعالى ﴿ثم استوى على العرش﴾: ”قال الكبي ومقاتل: استقر، وقال أبو عبيدة: صعد“ قلتُ [أي الذهبي]: لا يعجبني قوله استقر، بل أقول كما قال مالك الإمام: الاستواء معلوم))

al Dzahabi berkata: berkata al Imam Penghidup Sunnah abu Muhammad al Husain bin Mas’ud al Baghawi al Syafii tentang firman Allah Taala ; ثم استوى على العرش berkata al Kabî dan Muqatil : menetap, berkata abu Ubaidah; Naik. aku (al Dzahabi) katakan: aku tidak heran kalau dia mengatakan maknanya menetap, tapi aku katakan seperti yang dikatakan Imam Malik: istiwa itu diketahui

kata istiwa dalam bahasa arab memiliki makna yang banyak hingga belasan, namun paling tidak makna tersebut bisa dibagi menjadi empat bagian:

Jika kata Istiwa tersebut mujarrad (tidak disandarkan kepada huruf apapun setelahnya)
salah satu arti istiwa disini berarti: sempurna,lengkap. Allah berfirman:ولما بلغ أشده فاستوى

dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya (QS. Al-Qhasas: 14)

yang disandarkan dengan huruf (إلى) Maka artinya adalah إرتفع وعلا (naik dan tinggi). Sebagian ahli ilmu mengartikan dengan قصد (menuju) seperti yang disebutkan oleh Ibnu katsir ketika mentafsirkan Al baqarah ayat 29, namun makna yang pertama lebih banyak dipilih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Allah berfirman:

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ


“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap” (QS. Fushilat: 11)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ


“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” (QS. Al-Baqarah: 29)

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ


“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit” (QS. Al-Baqarah: 29)

Yang terikat dengan huruh ( على ), maka tidak ada artian lain kecuali :’naik, tinggi, menetap’. Allah berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى


“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5)

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ


“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)

فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ


dan tegak lurus di atas pokoknya (QS. Al-Fath: 29)

وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ


dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi (QS. Hud: 44)

yang terhubung dengan Wawu maiyah maka berarti sama atau rata, dalam kitab Mukhtashar jiddan disebutkan contoh Mauf’ul maahاستوى الماء و الخشبة

Ketinggian air dan kayu itu sudah sama atau rata

Demikianlah bahasan ringkas tentang makna istiwa berdasarkan pendapat para ulama

Bersambung......

Istiwa dan Duduk (Bagian ii)

Istiwa dan Duduk (Bagian iii)

Lightbulb Istiwa dan Duduk

Sifat Duduk Allah

Permasalah tentang penetapan Julus dan quud bagi Allah Subhanahu Taala merupakan masalah rumit yang berkutat seputar tafsir dari firmanNya :

عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا


kebanyakan ahli tafsir memaknakan مقاما محمودا sebagai syafaat nabi kepada Ummatnya dihari akhir, Namun Imam Mujahid yang merupakan sayyidul Mufassirin memiliki pendapat lain sebagaimana dinukil Oleh para Ulama diantara oleh al imam At thabari ketika menafsirkan Surat al Isra ayat 79 setelah ia memaparkan pendapat kebanyakan ulama yang mengatakan ayat tersebut terkait dengan syafaat Rasulullah. Beliau berkata:

وهذا وإن كان هو الصحيح من القول في تأويل قوله ( عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا ) لما ذكرنا من الرواية عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه والتابعين ، فإن ما قاله مجاهد من أن الله يقعد محمدا صلى الله عليه وسلم على عرشه ، قول غير مدفوع صحته ، لا من جهة خبر ولا نظر ، وذلك لأنه لا خبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن أحد من أصحابه ، ولا عن التابعين بإحالة ذلك


Semua ini, sekalipun inilah yang benar dari tafsir firman Allah عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا berdasarkan apa riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan dari Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam, para sahabat, dan tabiin. Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bahwa Allah mendudukkan Muhmmad shallallahu alaihi Wasallam diatas Arsy-Nya adalah perkataan yang tidak bisa ditolak kesosihannya baik dari segi khobar maupun nadzar. Hal itu karena tidak ada berita dari Rasulullah dan tidak satupun dari sahabat maupun tabiin tentang kemustahilannya.

Dari keterangan diatas, jelaslah bahwa at Thabari cenderung memilih pendapat bahwa ayat ini terkait dengan masalah Syafaat Rasulullah diakhirat kelak, namun begitu dia mentolerir pendapat Mujahid yang menyatakan bahwa مقاما محمودا adalah Allah mendudukkan Rasulullah diatas Arsyi-Nya.

Mengenai tafsir مقاما محمودا, para ahli tafsir banyak sekali yang membicarakan hal ini dan mereka ada membenarkan atau mentolerir seperti yang dilakukan Oleh at Thabari dan al Syaukani dalam Fathul Qadir. Sebagian mereka ada yang hanya menukil riwayat mujahid tersebut tanpa memberikan komentar sama sekali seperti yang dilakukan Oleh Imam Khozin dan al Baghawi. Fakta paling mengherankan adalah Abu Hayyan al Andalusî juga menukil pendapat mujahid dan mendiamkannya. Hal berbeda yang dia lakukan hanyalah membawakan bantahan al Wahidi tentang pendapat Mujahid tersebut tanpa membenarkan Atau menyalahkan. beliau berkata:

الخامس : ما قالت فرقة منها مجاهد ، وقد روي أيضا عن ابن عباس أن المقام المحمود هو أن يجلسه الله معه على العرش . وذكر الطبري في ذلك حديثا وذكر النقاش عن أبي داود السجستاني أنه قال : من أنكر هذا الحديث فهو عندنا متهم ما زال أهل العلم يحدثون بهذا . قال ابن عطية : يعني من أنكر جوازه على تأويله .


Kelima:Apa yang dikatakan oleh sebuah firqah diantaran Mujahid, Da telah meriwayatkan juga bahwa مقاما محمودا bermakna Allah mendudukkan dia (Rasulullah, pent) bersamanya diatas Arsy. At Thabari menyebutkan beberapa hadits tentang hal tersebut dan menyebutkan An Nuqqas dari Abu Dawud al Sijistanî bahwa beliau berkata: siapapun yang mengingkari hadits ini maka disisi kami termasuk orang yang tertuduh selama ahli ilmu tetap membicarakan hal ini. Berkata Ibnu Athiyyah: yaitu mengingkari kebolehan penakwilannya. (mengingkari bahwa takwil مقاما محمودا adalah Allah mendudukkan Rasulullah bersamanya diatas Arsyi-Nya, pent)

Ibnu katsir menyebutkan sebuah cerita yang terjadi pada tahun 317 Hijriah[1]

وفي سنة 317 وقعت فتنة ببغداد بين أصحاب أبي بكر المروذي الحنبلي وبين طائفة من العامة اختلفوا في تفسير قوله تعالى

عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا فقالت الحنابلة يجلسه معه على العرش وقال الآخرون المراد بذلك الشفاعة العظمى فاقتتلوا بسبب ذلك وقتل بينهم قتلى فإنا لله وإليه راجعون

وقد ثبت في صحيح البخاري أن المراد بذلك الشفاعة العظمى


Pada tahun 317 hijriah terjadi fitnah di Baghdad antara pengikut Abu Bakr al Marwadzi al Hambali dan sekelompok orang. Mereka berselisih tentang firman Allah Taala عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا Hanabilah (pengikuat Al Marwadzi, pent) berpendapat Bahwa Allah mendudukkannya diatas Arsy sedangkan yang lain berkata bahwa maksud ayat tersebut adalah Syafaatul Udzma. Mereka kemudian saling bunuh dan jatuhlah Korba. Innalillaahi Wainna ilaihi Rajiun. Sungguh telah valid didalam sohih Bukhari bahwasanya yang dimaksud adalah Syafaatul udzma yang merupakan Syafaat

Imam Marwadzi merupakan orang yang amat Fanatik terhadap pendapatnya ini dan bahkan mengarang kitab khusus untuk membela pendapat mujahid ini.

Terlalu banyak riwayat dari para ulama yang mengungkapkan dalil tentang didudukkannya Rasulullah Shallallaahu alaihi Wasallam diatas Arsy-nya. Orang yang paling banyak mengungkapkan dalil-dalil tersebut adalah al Imam Al Khallal dalam kitabnya Assunnah. Beliau membawakan Puluhan[2] riwayat yang mendukung pendapat beliau tersebut

Beberapa riwayat tersebut antara lain:

وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ , قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ حَمَّادٍ الْمُقْرِئُ صَاحِبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ الْمِصْرِيُّ , قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ , قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ : {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبَّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} قَالَ : يُقْعِدُهُ عَلَى الْعَرْشِ , قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ حَمَّادٍ : مَنْ ذُكِرَتْ عِنْدَهُ هَذِهِ الأَحَادِيثُ فَسَكَتَ عَنْهَا فَهُوَ مُتَّهَمٌ , فَكَيْفَ مَنْ رَدَّهَا وَطَعَنَ فِيهَا , أَوْ تَكَلَّمَ فِيهَا


telah bercerita kepada kami Abu bakr, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Hammad al Muqri sahabat Abu Abdillah Ahmad Bin Hambal dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin solih al Mishri, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail dari Laits dari Mujahid

: {عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبَّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} dia berkata: Dia mendudukkannya diatas Arsy, berkata abu Bakr Hammad: Siapapun yang disebutkan hadits ini kepadanya kemudian diam, maka dia tertuduh, apalagi yang menolak dan mencelanya atau membicarakan (penolaknnya, pent)

وَذَكَرَ أَبُو بكر المروذي فِي مختصر كتاب الرد عَلَى من رد حديث مجاهد، سألت أَبَا عبد اللَّه عَن

الأحاديث الَّتِي تردها الجهمية فِي الصفات والرؤية والإسراء وقصة العرش، فصححها أَبُو عبد اللَّه وَقَالَ: قد تلقتها الأمة بالقبول تمر الأخبار كَمَا جائت


Abu Bakr al Marwadzi menyebutkan pada Mukhtashar kitab bantahan terhadap siapapunyang membantah hadits Mujahid, aku bertanya kepada Abu Abdillah (imam Ahmad, pent) tentang hadits-hadits yang ditolak oleh Jahmiyah tentang Sifat, ru’yah, isra’, dan cerita tentang Arsy, Maka Abu Abdillah mensohihkannya dan berkata: Sungguh Umat telah sepakat untuk menerima dan perlakukanlah khobar tersebut sebagaimana dia datang.

Syaikh Albani dan al Imam al Dzahabi mendhoifkan semua riwayat tentang didudukkannya Nabi diatas Arsy. Ketika membawakan biografi Muhammad bin Mush’ab yang merupakan syiakhnya ulama Baghdad bernomor 461 dalam kitabnya Al uluw Al Dzahabi mengatakan:

وقال المروذي سمعت أبا عبد الله الخفاف سمعت ابن مصعب وتلا عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا قال نعم يقعده على العرش ذكر الإمام أحمد محمد بن مصعب فقال قد كتبت عنه وأي رجل هو

فأما قضية قعود نبينا على العرش فلم يثبت في ذلك نص بل في الباب حديث واه وما فسر به مجاهد الآية كما ذكرناه


فقد أنكر بعض أهل الكلام فقام المروذي وقعد وبالغ في الإنتصار لذلك وجمع فيه كتابا وطرق قول مجاهد من رواية ليث بن أبي سليم وعطاء بن السائب وأبي يحيى القتات وجابر بن يزيد

فممن أفتى في ذلك العصر بأن هذا الأثر يسلم ولا يعارض أبو داود السجستاني صاحب السنن وإبراهيم الحربي وخلق بحيث أن ابن الإمام أحمد قال عقيب قول مجاهد أنا منكر على كل من رد هذا الحديث وهو عندي رجل سوء متهم سمعته من جماعة وما رأيت محدثا ينكره وعندنا إنما تنكره الجهمية وقد حدثنا هارون بن معروف حدثنا محمد بن فضيل عن ليث عن مجاهد في قوله عسى أن يبعثك ربك مقاما محمودا قال يقعده عن العرش فحدثت به أبي رحمه الله فقال

لم يقدر لي أن أسمعه من ابن فضيل بحيث أن المروذي روى حكاية بنزول عن إبراهيم بن عرفة سمعت ابن عمير يقول سمعت أحمد بن حنبل يقول هذا قد تلقته العلماء بالقبول

Berkata al Marwadzi: aku mendengar Abu Abdillah al Khoffaf aku mendengar Ibnu Mush’ab dan ia membaca ayat عسى أن يبعثك ربك مقاما ia berkata ‘yah’ Dia mendudukkannya diatas arsy. Imam Ahmad menyebutkan Muhammad bin Mush’ab kemudian ia berkata: aku telah menulis darinya dan memangnya dia siapa?”

Adapun permasalah terkait didudukannya nabi kita diatas Arsy, maka tidak ada satupun Nash yang valid, bahkan dalam bab tersebut terdapat hadits yang lemah. Apa yang ditafsirkan oleh Mujahid tentang ayat ini sebagaimana yang telah diingkari oleh ahli kalam. Maka al Marwadzi bersikeras membela dan mengumpulkan tulisan terkait hal tersebut dan memasukkan qaul Mujahid dari riwayat Laits bin abi Sulaim dan Atha bin Saib dan Abi Yahya al Quttat dan jabir bin Yazid.

Termasuk yang berfatwa pada masa itu bahwa atsar tersebut diterima dan tidak boleh ditentang adalah Abu Daud Al Sijistanî pemiliki kitab sunan dan Ibrahim al Harbi dan lain-lain dimana anak Imam Ahmad berkata setelahi perkataan Mujahid: saya mengingkari setiap orang yang menolak hadits ini, menurutku pengingkar hadits ini adalah orang yang buruk lagi tertuduh. Aku mendengarnya dari banyak orang dan aku tidak mendapati satupun Muhaddits yang mengingkarinya. Disisiku pengingkarnya adalah jahmiyah. Sungguh telah bercerita kepada kami Harun bin Ma’ruf, telah bercerita kepada kami Muhammad bin fudhail dari laits dari Mujahid tentang FirmanNya عسى أن يبعثك ربك مقاما dia berkata: Ia mendudukkanya di Arsy, maka aku ceritakan kepada ayahku (Imam Ahmad) Rahimahullah, kemudian beliau berkata: aku tidak ditakdirkan untuk mendengar dari ibnu fudhail.

al Marwadzi meriwayatkan cerita tentang Nuzul dari Ibrahim bin Arafah, aku mendengar ibnu Umair berkata, aku mendengar Ahmad bin Hambal berkata: Para ulama telah sepakat menerima ini[3]

Lightbulb Istiwa dan Duduk

Ibnu taimiyah adalah orang yang cenderung menetapkan riwayat tentang didudukkannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diatas Arsy meskipun tidak menetapkan persetujuan dan penolakan maupun menakwilnya

Beliau berkata:

وقد صنف القاضي أبو يعلى كتابه في إبطال التأويل ردا لكتاب ابن فورك وهو وإن كان أسند الأحاديث التي ذكرها وذكر من رواها ففيها عدة أحاديث موضوعة كحديث الرؤية عيانا ليلة المعراج ونحوه وفيها اشياء عن بعض السلف رواها بعض الناس مرفوعة كحديث قعود الرسول صلى الله عليه وسلم على العرش رواه بعض الناس من طرق كثيرة مرفوعة وهي كلها موضوعة وإنما الثابت أنه عن مجاهد وغيره من السلف وكان السلف والأئمة يروونه ولا ينكرونه ويتلقونه بالقبول

وقد يقال إن مثل هذا لا يقال إلا توقيفا لكن لا بد من الفرق بين ما ثبت من ألفاظ الرسول وما ثبت من كلام غيره سواء كان من المقبول أو المردود


Sungguh Qadhi Abu Ya’la telah mengarang sebuah kitab yang bernama Ibthal al Ta’wil sebagai bantahan terhadap Ibnu Fawraq, sekalipun dalam kitab tersebut ia memberikan sanad hadits-hadits yang dan menyebutkan rawinya, namun didalam kitab tersebut banyak sekali hadits-hadits maudhu. Misalnya hadits melihat Allah dengan mata telanjang di malam Mi’raj dan semisalnya. ada beberapa perkara dari sebagian Salaf yang diriwayatkan oleh sebagian orang secara marfu seperti hadits duduknya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diatas Arsy, hadits tersebut diriwayatkan oleh sebagian orang dari banyak jalan yang marfu namun semuanya Maudhu. Hadits yang Valid hanya dari Mujahid dan selain beliau dari kalangan Salaf dan mereka serta para imam meriwayatkannya, tidak mengingkarinya dan sepakat menerimanya[4].

Kadang-kadang dikatakan bahwa hal semacam ini bersifat tauqifi, namun perlu dibedakan antara apa yang valid dengan lafadz-lafadz dari Rasulullah dengan yang valid dari perkataan orang lain dalam masalah penerimaan dan penolakan. [5]

Namun demikian beliau memberikan rambu-rambu dalam hal ini dengan mengatakan:

فما جاءت به الأثار عن النبي من لفظ القعود و الجلوس في حق الله تعالى كحديث جفعر ابن ابي طالب و حديث عمر أولى أن لا يماثل صفات أجسام العباد

Semua atsar yang datang tentang nabi dengan lafadz quud dan julus yang terkait dengan Allah Taala seperti hadits Ja’far bin abi Thalib dan hadits Umar lebih utama untuk dikatakan tidak menyerupai Sifat Jism Hamba

Dari riwayat-riwayat yang telah saya sebutkan baik dari yang menyetujui maupun tidak, adalah jelas bahwa Ibnu Taimiyah tidak mengada-ngada apalagi terjerumus kedalam bid’ah Tajsim. Beliau hanya mengikuti pendahulunya dari kalangan Salaf Seperti At thabari, al Marwadzi, Imah Ahmad, Abdullah Bin Ahmad, Abu Daud al Sijistani pemilik sunan Abu Daud, al Khallal, Ibrahim bin Harbi, Muhammad bin Mush’ab dan bahkan dikatakan hal itu juga menjadi pendapat Imam Syafii seperti yang dituturkan oleh Al Dzahabi dalam Biografi Muhammad bin Mush’ab dan banyak lagi. Al Ajurri Juga membuat bab khusus tentang hal ini dalam kitab beliau ‘al syariah’.

Jika kita mau jujur, kenapa kita tidak bersikap seperti At thabari yang mentolerir pemahaman sebagian orang tentang makna مقاما محمودا yang berarti Allah mendudukkan Muhammad diatas Arsy-Nya. atau kalau mau bersikeras mengkafirkan Ibnu Taimiyah, lakukanlah itu juga pada ulama-ulama yang membela Mujahid. Naudzubillah Min dzalik.

Perlu Saya tekankan bahwa disini saya tidak mentarjih pendapat manapun terkait tafsir ayat tersebut. Tulisan ini hanya untuk membela ibnu Taimiyah dari tuduhan orang yang menuduh Ibnu Taimiyah Mujassimah karena mengabarkan riwayat-riwayat yang telah saya sebutkan.

Antara Istiwa dan duduk


Masalah lain muncul terkait riwayat-riwayat didudukkannya nabi diatas arsy, yaitu apakah istiwa juga bermakna duduk? Ibnu Utsaimin pernah mendapat pertanyaan tentang hal ini:

سئل العلامة ابن عثيمين رحمه الله في لقاء الباب المفتوح

فضيلة الشيخ : عثمان الدارمي في رده على بشر المريسي أورد أن الاستواء يأتي بمعنى الجلوس ، مارأي فضيلتكم ؟

الجواب : الاستواء على الشيء في اللغة العربية يأتي بمعنى الاستقرار والجلوس قال تعالى (لتستووا على ظهوره ) الزخرف: 13

والانسان على ظهر الدابة جالس أم واقف ؟

هو جالس ، لكن هل يصح أن نثبته في استواء الله على العرش ؟ هذا محل نظر

فإن ثبت عن السلف أنهم فسروا ذلك بالجلوس فهم أعلم منا بهذا والا ففيه نظر

والا نقول : الكيف ـ أعني ـ الاستواء مجهول ، ومن جملة الجهل ألاّ ندري أهو جالس أم غير جالس ، ولكن نقول : معنى الاستواء : العلو ، هذا أمر لاشك فيه

Dalam sebuah acara pertemuan terbuka, al Allamah Ibnu Utsaimin pernah ditanya:

Fadhilatus Syaikh: Utsman al Darimi ketika membatah Bisyr al Muraisy mengatakan bahwa salah satu makna istiwa adalah duduk, bagaimana pendapatmu?

Jawab:

Istiwa diatas sesuatu dalam bahasa arab bermakna menetap dan duduk. Allah berfirman

لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ


“Supaya kamu duduk di atas punggungnya” (QS. Az-Zukhruf: 13)

Manusia diatas punggung hewan tunggangan duduk atau berdiri?

Dia duduk. Tetapi apakah boleh kita menetapkan makna tersebut pada istiwa Allah diatas Arsy? Inilah objek penelitiannya. Namun demikian kita katakan bahwa kaif (bagaimana) istiwanya Allah itu adalah majhul, termasuk dalam konsep majhul tersebut adalah kita tidak tahu apakah dia duduk atau bukan duduk. Tapi kita katakan makna istiwa adalah “tinggi”. Inilah yang tidak diragukan. [6]

Mungkin wacana atau tersebarnya istiwa dengan makna Julus atau quud terkait dengan riwayat dari Kharijah bin Mush’ab yang mengatakan:

روى الإمام عبد الله عن أحمد بن سعيد الدارمي عن أبيه قال: سمعت خارجة يقول ))الجهمية كفار، بلغوا نساءهم أنهن طوالق وأنهن لا يحللن لأزواجهن، لا تعودوا مرضاهم، ولا تشهدوا جنائزهم. ثم تلا {طه ، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى} إلى قوله عز وجل: {الرحمن على العرش استوى} وهل يكون الاستواء إلا بجلوس


Imam Abdullah meriwayatkan dari Ahmad bin Said Al Darimi dari bapaknya dia berkata: aku mendengar Khorijah berkata (jahmiyah itu kafir, Sampaikan oleh kalian bahwa isteri-iseri mereka telah terthalaq dan mereka tidak halal bagi suami mereka, jangan dijenguk ketika sakit,dan janganlah jenazah mereka disaksikan (dianggap baik) kemudian beliau membaca

{طه ، ما أنزلنا عليك القرآن لتشقى} إلى قوله عز وجل: {الرحمن على العرش استوى}


bukankah istiwa itu dengan duduk!

Perlu diketahui bahwa Ibnu Taimiyah begitu juga muridnya Ibnul Qayyim al Jauziyah hanya menyebutkan kata duduk terkait tafsir dari Mujahid tentang surat al isra ayat 79, bukan memaknakan Istiwa dengan duduk. Yang paling mungkin duduk adalah sifat fi’liyah Allah tersendiri bukan sekedar makna dari Istiwa. Jalan yang saya tempuh adalah seperti syaikh Utsaimin yang cenderung tawaquf dalam masalah istiwa bermakna duduk. Yang jelas penetapan makna-makna istiwa adalah tatabbu’ dan istiqra, bukan hal yang Qathi’. Jika hal itu benar, maka al Imam utsman al Darimi lebih alim dari kita. Lagipula tujuan utama tulisan ini dibuat adalah untuk memberikan informasi tentang kelirunya orang-orang itu mencela ibnu taimiyah untuk hal yang secara jelas dan meyakinkan terdapat dalam riwayat-riwayat para ulama-ulama terdahulu.

Semoga bermanfaat.

Saudaramu: dobdob

[1] Lihat peristiwa-peristwa yang terjadi pada tahun tersebut dalam Bidayah Wan nihayah

[2] Silahkan membaca As sunnah karya beliau bab Dzikru al Maqam al Mahmud mulai riwayat no. 236

[3] al Uluw lil aliyyil Ghaffar hal.170 riwayat no 461 Maktabah Adhwa al Salaf

[4] Kata-kata ini mirip dengan yang diucapkan Imam Ahmad terkait riwayat semacam ini

[5] Dar’ut taarudh aql Wa al naql 3/19

[6] Liqa’ bab al Maftuh pertanyaan nomor 450
Kesimpulan dari semua ini, Ahlul Sunnah Wal Jamaah menetapkan Sifat Al Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza Wajalla atas semua mahluk-Nya, dan terpisah dari mahluik-Nya..

Bagi asy'ariyah atau aswaja, mengingkari ketinggian Allah diatas segala mahluk-Nya.
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
Kesimpulan dari semua ini, Ahlul Sunnah Wal Jamaah menetapkan Sifat Al Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza Wajalla atas semua mahluk-Nya, dan terpisah dari mahluik-Nya..

Bagi asy'ariyah atau aswaja, mengingkari ketinggian Allah diatas segala mahluk-Nya.


ketinggian apanya boss?
Quote:Original Posted By aswajaselalu


ketinggian apanya boss?


Gak usah diketawain kalau ngotot beriman dengan mensifati Allah swt, dengan bahasa "ketinggian" suatu tempat

Kalau ketinggian kuasa-Nya, ya iyalah, sifatnya saja Allah Maha Tinggi dan Maha Kuasa atas segala sesuatu

Kesimpulan, belum waktunya balligh
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
Kesimpulan dari semua ini, Ahlul Sunnah Wal Jamaah menetapkan Sifat Al Uluw (Ketinggian) Bagi Allah Azza Wajalla atas semua mahluk-Nya, dan terpisah dari mahluik-Nya..

Bagi asy'ariyah atau aswaja, mengingkari ketinggian Allah diatas segala mahluk-Nya.


ngomongin tinggi atau tempat sih?

makin bingung....

Lightbulb Syubhat dan Bantahannya Tentang Masalah Tawassul Dengan Orang Mati iii

Kisah Bilal

Kisah Bilal yang antum sebutkan, yang disebutkan dishahihkan oleh Imam Malik, bahwa Bilal bin Harits Radhiyallahu ‘anhu ziarah ke kuburan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di situ beliau berdo’a:

يَا رَسُوْلَ اللهِ اِسْتَسْقِ لأُمَّتِكَ فإِنّهُمْ هَلَكُوْا


“Wahai Rasulullah, mohonlah hujan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka binasa”.

Kemudian Bilal tidur dan bermimpi didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkata: “Hai Bilal, Insya Allah umatku akan diberikan hujan” ketika Bilal terjaga, hujan sudah turun.

Bantahan:

Kisah di atas perlu dicek kebenarannya, benarkah Imam Malik menshahihkan nya?

Kisah seperti itu disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari II/495-496 sebagai berikut:

“Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari riwayat Abi Shalih As-Saman dari Malik Ad-Dar –dia adalah penjaga (baitul mal) Umar- , dia berkata: “Orang-orang tertimpa paceklik di zaman Umar, kemudian datanglan seorang laki-laki ke kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan untuk umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa (terkena paceklik)”. Maka lelaki tadi bermimpi, didatangi seseorang dan dikatakan kepadanya: “Datanglah kepada Umar…”Al-Hadits. Dan Saif telah meriwayatkan di dalam Al-Futuh, bahwa orang yang bermimpi tersebut adalah Bilal bin Al-Harits Al-Muzni, salah seorang sahabat”.

Tetapi kisah ini dibantah oleh Syeikh Al-Albani di dalam At-Tawassul, hal : 131-134, secara ringkas sebagai berikut:

  1. Tidak dapat diterima keshahihan riwayat ini, karena Malik Ad-Dar adalah perawi yang tidak dikenal (sifat) ‘adalah dan kecermatannya, sehingga riwayat ini dha’if. Sedangkan perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas: “Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari riwayat Abi Shalih”, tidak berarti riwayat itu shahih seluruh sanadnya, tetapi artinya sanadnya shahih sampai Abi Shalih.
  2. Hal itu bertentangan dengan apa yang telah pasti di dalam agama, yaitu bahwa disukainya shalat istisqa’ untuk mohon hujan dari langit, yang ini disebutkan d idalam banyak hadits dan dipegangi oleh banyak ulama.
  3. Seandainya riwayatnya shahih, juga tidak dapat diterima, karena orang yang meminta itu tidak diketahui namanya. Adapun disebutnya nama Bilal pada riwayat Saif (Ibnu Umar At-Tamimi) tidak berharga sedikitpun, karena Saif ini disepakati dha’ifnya oleh para ahli hadits.
  4. Riwayat ini tidaklah ada di dalamnya tawassul dengan dzat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hanyalah permintaan doa dari beliau agar Allah menurunkan hujan kepada umatnya. Tawassul dengan ini berbeda, walaupun minta dari Nabi setelah wafatnya juga tidak boleh.”


Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyatakan: “Riwayat ini -seandainya shahih sebagaimana dikatakan oleh pensyarah (Al-Hafizh Ibnu Hajar)- bukanlah hujjah atas bolehnya minta hujan (kepada Allah) lewat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafat beliau. Karena orang yang meminta itu majhul (tidak dikenal), dan karena perbuatan para sahabat menyelisihinya, sedangkan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui terhadap agama.

Tidak ada seorangpun dari mereka mendatangi kubur nabi –atau kubur lainnya- untuk minta hujan. Bahkan ketika terjadi kekeringan, Umar tidak meminta lewat Nabi (setelah wafat beliau), tetapi memohon hujan kepada Allah lewat perantaraan Abbas, dan tidak ada seorangpun dari para sahabat yang mengingkari Umar, maka hal itu menunjukkan bahwa itu adalah haq. Sedangkan yang dilakukan oleh orang tak dikenal itu merupakan kemungkaran, dan sarana menuju kemusyrikan, bahkan sebagian ulama menghukuminya termasuk jenis-jenis kemusyrikan.

Adapun di dalam riwayat Saif yang menyatakan bahwa nama orang yang meminta itu adalah Bilal bin Al-Harits, maka tentang keshahihannya perlu dikoreksi, dan pensyarah (Al-Hafizh Ibnu Hajar) tidak menyebutkan sanad Saif tersebut. Dan seandainya shahih-pun tidak dapat menjadi hujjah, karena perbuatan para pembesar sahabat menyelisihinya, sedangkan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui terhadap Rasulullah n dan agama beliau daripada selain mereka. Wallahu A’lam”. (Fote note Fathul Bari II/495)

Hadits Mimpi

Adapun hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي. رواه أبو هريرة


“Barangsiapa melihatku di dalam mimpi, maka sesungguhnya dia telah melihatku, karena setan tidak dapat menyerupaiku”.

Ini memang hadits shahih, tetapi tidak berarti bahwa setiap orang yang mengaku bermimpi bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia benar-benar bertemu dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bisa jadi dia berdusta, atau bisa jadi setan mendatanginya, bukan sebagaimana wujud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu setan mengaku bahwa dia adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan orang yang bermimpi itu tidak pernah berjumpa dengan Nabi, juga tidak pernah mempelajari Sunnahnya, bagaimana dia dapat mengetahui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!

Hadits Pembuatan Jendela di Atas Kubur Nabi

Adapun kisah pembuatan jendela di atas kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi tersebut, bantahan kami adalah sebagai berikut (Istighatsah, hal:402-404):

  1. Riwayat ini dha’if, karena beberapa perkara:

    • Di dalam sanadnya ada perawi dha’if bernama Sa’id bin Zaid Al-Azdi.
    • Juga ada perawi dha’if lainnya bernama Amr bin Malik An-Nukri.
    • Ada perawi bernama Abu Nu’man, dia berubah hafalannya karena tua, dan tidak diketahui apakah Ad-Darimi mendengar darinya sebelum berubah hafalan atau sesudahnya, sehingga riwayat ini tertolak.
    • Kisah itu hanyalah dari ‘Aisyah, tidak dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya shahih bukan merupakan hujjah, karena bisa jadi hanyalah ijtihad (pendapat) beliau semata.

  2. Syeikhul Islam rahimahullah berkata: “Adapun apa yang diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha , yaitu pembuatan lobang (pada atap rumah) dari kubur Nabi ke langit agar supaya hujan turun, maka itu tidak shahih, sanadnya tidak sah. Termasuk yang menjelaskan kedustaannya adalah bahwa di zaman kehidupan Aisyah Radhiyallahu ‘anha, rumah itu tidaklah ada lobangnya, bahkan tetap sebagaimana di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian beratap, sebagiannya terbuka, dan sinar matahari turun padanya”.
  3. Di dalam tarikh (sejarah) Islam tidak dikenal tahun yang disebut dengan ‘amul fatqi (tahun fatqi).
  4. Seandainya riwayat ini shahih, maka di dalamnya tidak ada dalil bolehnya tawassul dengan orang yang telah mati! Tetapi yang terjadi hanyalah membukakan atap untuk kubur, agar rahmat Allah turun padanya.


Lightbulb Syubhat dan Bantahannya Tentang Masalah Tawassul Dengan Orang Mati iiii

Riwayat seorang Arab yang mendatangi kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Riwayat seorang Arab yang mendatangi kubur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berdoa sambil berdiri, arti doanya adalah: “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk memerdekakan budak, maka inilah habibMu (kecintaanMu/Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan saya budakMu (hambaMu), maka merdekakanlah (selamatkanlah) aku dari neraka di atas kubur habibMu. Maka ada seseorang yang berseru tanpa kelihatan orangnya: “Wahai engkau, engkau minta kemerdekaan (keselamatan) -dari neraka- hanya untukmu sendiri, kenapa engkau tidak minta kemerdekaan (keselamatan) -dari neraka- untuk seluruh kaum muslimin. Pergilah! Sesungguhnya Aku telah memerdekakanmu.”

Bantahan:

  1. Riwayat itu bukan ayat Al-Qur’an, bukan hadits Nabi yang shahih, dan bukan ijma’ , maka tidak dapat diterima sebagai hujjah. Karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak berhujjah dengan hikayat-hikayat! Apalagi yang tidak jelas kebenarannya!
  2. Kisah itu belum tentu shahih, bagaimana kita berhujjah dengannya?!
  3. Seandainya kisah itu shahih, maka orang yang berseru –yang tanpa kelihatan orangnya- itu tidak diketahui siapa dia, mungkin sekali dia adalah setan yang berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Kalau bukan setan, siapa dia? Apa dalilnya? Hal ini adalah masalah ghaib, yang kita tidak dapat berhujjah kecuali dengan Al-Kitab dab As-Sunnah.
  4. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Hikayat-hikayat ini yang terjadi pada orang-orang yang minta tolong kepada sebagian manusia yang telah mati atau orang-orang yang tidak ada di hadapannya, dan memang mereka mendapatkan kebiasaan-kebiasaan itu dilakukan oleh sebagian orang yang memiliki sebagian ilmu agama, melakukan ibadah dan zuhd, tetapi mereka tidak memiliki hadits yang diriwayatkan, dan tidak memiliki nukilan dari sahabat, tabi’i, dan tidak juga perkataan imam yang diridhai (ulama yang terpercaya-Red). Oleh karena inilah ketika orang-orang yang memiliki keutamaan di antara mereka diingatkan, merekapun sadar dan mereka mengetahui bahwa yang mereka lakukan itu bukanlah dari agama Islam, bahkan itu adalah menyerupai para penyembah berhala”. (Al-Istighatsah, hal:375)


Kisah-kisah Para Imam


  1. Riwayat Imam Syafi’i sering sekali mendatangi kubur Imam Abi Hanifah, lalu memberi salam lalu berdo’a kepada Allah dengan bertawassulkan Abi Hanifah dalam usaha terkabulnya do’a.
  2. Demikian juga Imam Ahmad bin Hambal berdo’a bertawassulkan Imam Syafi’i, sampai-sampai anaknya yang bernama Abdullah bin Ahmad bin Hambal menjadi heran, dan Imam berkata kepadanya: “Hai Abdullah, Imam Syafi’i bagi manusia seperti matahari, bagi badan seperti azimat yang bisa menjadi sebab keselamatan, dan seperti obat yang menjadi sebab kesembuhan”.
  3. Dan Imam Syafi’i ketika diberitahu bahwa penduduk Magrib apabila mempunyai hajat, mereka berdo’a kepada Allah dengan bertawassulkan Imam Malik, beliau tidak mengingkari bahkan membenarkan”
.
Bantahan:

  1. Benarkah kisah-kisah tersebut dari para imam itu? Tidak cukup kisah itu tertulis di kitab-kitab, lalu diambil dan dipercayai! Walaupun seandainya kitab-kitab yang memuat kisah-kisah tersebut ditulis oleh orang yang terpercaya, namun dari siapa dia mengambil riwayat itu? Kebenaran kisah-kisah itu harus dibuktikan dengan dua hal, pertama: adanya sanad, dan kedua: sanadnyapun harus shahih!
  2. Seandainya kisah-kisah itu benar, maka juga tidak dapat diterima hujjah dalam masalah agama. Karena hujjah dalam agama adalah Al-Kitab
    As-Sunnah, dan Ijma’.
,

Hadits Abu Hurairah

Arti hadits Abu Hurairah itu adalah: “Abu Razin berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya jalanku melewati (kubur) orang-orang yang telah mati. Adakah perkataan bagiku, yang akan aku katakan jika aku melewati mereka? Beliau menjawab: “Katakanlah: Semoga keselamatan atas kamu wahai penduduk kubur, dari kalangan kaum muslimin dan mukminin. Kamu bagi kami adalah orang-orang yang telah terdahulu (meninggal), sedangkan kami bagi kamu adalah orang-orang yang mengikuti (akan meninggal), dan insya Allah, kami akan menyusul kamu”. Abu Razin bertanya: “Apakah mereka mendengar?” Beliau menjawab: “Mereka mendengar, tetapi tidak mampu menjawab –yaitu jawaban yang dapat didengar oleh orang yang hidup-. Wahai Abu Razin, tidakkah engkau suka para malaikat sejumlah mereka menjawab (salam)mu?

Bantahan:


  1. Hadits ini munkar, sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah no: 5225
  2. Seandainya shahihpun, di dalamnya tidak ada dalil tentang tawassul dengan orang yang telah mati, paling tinggi hanyalah sebagai dalil bahwa orang yang mati itu mendengar, tetapi bukan berarti boleh dijadikan sarana tawassul atau tempat meminta!


Hadits ‘Aisyah

Hadits ‘Aisyah itu diriwayatkan imam Muslim, sebagai berikut:

قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ قُولِي السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ


“Aku (‘Aisyah) berkata: “Apa yang akan aku katakan kepada mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Katakanlah: Semoga keselamatan atas kamu wahai penduduk kubur, dari kalangan kaum muslimin dan mukminin. Dan mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang telah terdahulu (meninggal) dari kami dan orang-orang yang akhir (belum meninggal), dan insya Allah, kami akan menyusul kamu”

Bantahan:

  1. Hadits ini shahih, tetapi di dalamnya tidak ada dalil tentang tawassul dengan orang yang telah mati, paling tinggi hanyalah sebagai dalil bahwa orang yang mati itu mendengar, sebagaimana di atas.
  2. Tentang masalah orang yang mati itu mendengar atau tidak adalah perkara yang diperselisihkan para ulama, tetapi yang rajih (lebih kuat) adalah bahwa pada asalnya orang mati tidak mendengar. [Lihat Majalah As-Sunnah Edisi 10/Th.IV/1421-2000, hal:30-38, rubrik:Aqidah]
  3. Kalau ada yang mengatakan: “Ketika berziarah apa gunanya memberi salam kepada orang-orang yang telah mati, jika mereka tidak mendengar?”. Maka jawabnya adalah: Bahwa hal itu merupakan doa untuk mereka, dan merupakan perkara ta’abbudiyyah, yaitu perkara ibadah yang kita harus taat, walaupun tidak memahami hikmahnya. Sebagaimana jika kita shalat menjadi makmum, maka di akhir shalat kita mengucapkan salam dengan pelan dan salam itu kita niatkan untuk para malaikat pencatat amalan, untuk imam, dan untuk seluruh makmum, walaupun mereka tidak mendengar. Dan hal itu umum di dalam bahasa Arab, tidak tersembunyi bagi orang-orang yang tahu. [Lihat Ayatul Bayinat fii Adami Sama’il Amwat, hal:95, karya Al-Alusi, tahqiq Syeikh Al-Albani]
  4. Seandainya hadits itu menunjukkan orang mati dapat mendengar, tetapi di dalamnya juga tidak ada dalil bolehnya tawassul dengan mereka. Wallahu A’lam
.

Demikianlah jawaban yang kami sampaikan mudah-mudahan dapat menghilangkan syubhat-syubhat yang ada pada penanya khususnya, dan kaum muslimin pada umumnya.

KESIMPULAN:

Di sini kami ringkaskan jawaban kami di atas, yaitu:

  1. Tawassul, yaitu berdoa kepada Allah dengan perantara, ada yang disyari’atkan dan ada yang terlarang.
  2. Tawassul yang disyari’atkan, yaitu: bertawassul dengan:
    • Nama-nama Allah dan sifat-sufatNya.
    • iman dan amal shalih orang yang berdoa.
    • Doa orang shalih yang masih hidup
    .
    Adapun yang terlarang adalah yang tidak ada dalilnya, seperti: tawassul dengan orang yang telah mati, dengan dzat atau kehormatan Nabi, orang shalih, dan lainnya.
  3. Seluruh dalil yang dipakai oleh orang-orang yang membolehkan tawassul dengan orang yang telah mati, ada dua kemungkinan:
    • Dalil itu lemah.
    • Dalil itu shahih, tetapi difahami dengan keliru.



Wallahu A’lam bish Shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422H/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
Quote:Original Posted By cupitebet


ngomongin tinggi atau tempat sih?

makin bingung....


ngak perlu bingung mas gan, pemahaman Ahlul Sunnah Wal Jamaah tidaklah membingungkan. tidak seperti Ilmukalam dan Filsafat yang berbelit-belit.

Lafadh makaan (tempat) dan jihah (arah) tidaklah terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Oleh karena itu kita tidak menetapkannya bagi Allah, karena 'aqidah al-asmaa' wash-shifaat tidaklah ditetapkan kecuali melalui dengan dalil.

Namun jika penolakan ini adalah dimaksudkan untuk menolak keberadaan Allah di atas langit secara hakiki (seperti yang dilakukan oleh Asyaa'irah), maka ini keliru.

Atau dengan kata lain, seandainya penafikan ini maksudnya adalah untuk menafikan Allah berada di atas langit-Nya, di atas 'Arsy-Nya secara hakiki, maka kita pun menetapkannya.

Adapun tafshil mengenai tempat yang itu disandarkan kepada Allah, jika yang dimaksud adalah yang melingkupi sesuatu; maka kita menafikkannya, karena tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang dapat melingkupi-Nya. Allah Maha Besar. Namun jika yang dimaksudkan dengan 'tempat' ini adalah amrun 'adamiyyun yang berada di luar alam, maka ini benar.

paham..?


Quote:Original Posted By jual.buku.islam


ngak perlu bingung mas gan, pemahaman Ahlul Sunnah Wal Jamaah tidaklah membingungkan. tidak seperti Ilmukalam dan Filsafat yang berbelit-belit.

Lafadh makaan (tempat) dan jihah (arah) tidaklah terdapat dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Oleh karena itu kita tidak menetapkannya bagi Allah, karena 'aqidah al-asmaa' wash-shifaat tidaklah ditetapkan kecuali melalui dengan dalil.

Namun jika penolakan ini adalah dimaksudkan untuk menolak keberadaan Allah di atas langit secara hakiki (seperti yang dilakukan oleh Asyaa'irah), maka ini keliru.

Atau dengan kata lain, seandainya penafikan ini maksudnya adalah untuk menafikan Allah berada di atas langit-Nya, di atas 'Arsy-Nya secara hakiki, maka kita pun menetapkannya.

Adapun tafshil mengenai tempat yang itu disandarkan kepada Allah, jika yang dimaksud adalah yang melingkupi sesuatu; maka kita menafikkannya, karena tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang dapat melingkupi-Nya. Allah Maha Besar. Namun jika yang dimaksudkan dengan 'tempat' ini adalah amrun 'adamiyyun yang berada di luar alam, maka ini benar.

paham..?



nah yg tebel itu klo boleh ada dalilnya ustad?


Quote:Original Posted By sariputra




o gitu yak?
Yg lebih mulia yang mana puh di antara keduanya ?


yang saling menasihati dan memebitahukan akan sebab2 seorang muslim dapat terjatuh dalam kekafiran dan menghindari sebab2 itu, karna kita Cinta kepada Allah dan RasulNya sudah sepantasnya menghindari hal2 yg membahayakan keimanan tersebut

*ana blm sepuh
Quote:Original Posted By sukamerah


oke kasih contoh nyata aja deh

tetangga ane seorang akhwat, lama tinggal di ponpes salaf. bahkan ane terakhir liat wajah dia pas masih anak2 sampe kini udah usia 20an ga pernah liat bentuk dia lagi
nah, kebetulan ortu si akhwat itu meninggal, dan dia (sbg anak pertama tertua) jd tulang punggung adik2nya masih kecil2

singkat cerita pas ane lg ngepom bensin, ane melihat cwe dg wajah ayu dan ga asing sedang melayani pembeli, dia bekerja sbg petugas pom
DG BAJU SERAGAM YG KETAT DAN MEMPERTONJOLKAN BENTUK TUBUH dan CELANA SKINNY JEANS
tak lain tak bukan dia adalah TETANGGA ANE YG selama ini tertutup rapat

mungkin cari kerja sulit
apa aja asal dapet panggilan cepet dapet duit cepet
sampe2 lupa akidah maap2 nih ane jg ga begitu paham soal akidah, tp ane ga nyangka aja dia M-A-U kerja disitu


eeer terus kenapa?
kalaupun cerita ini betul..pantaskah kamu mengumbar aib seseorang di sini?
bukannya ditolongin malah dihujat

setidaknya kalau kita tidak mampu menolong diam lebih baik
Ane masih penasaran..,maksud ayat Thaha ayat 5..

arrahmanu 'alal arsys istawa..

Dalam ayat di atas, huruf jar atau kata depan "'ala" itu dipahami sebagai suatu makna yg hakiki atau majazi ?.

Arti dari huruf jar " 'ala " adalah di atas..

Apakah kalimat ayat thaha ayat 5 bisa disamakan makna nya secara tekstual dengan ..."qolamiy 'alal maktabiy"....-> "penaku di atas meja".....yg dipahami sebagai suatu keterangan tempat yg mempunyai jarak..
pasti di bantah lagi hehee...