KASKUS

Kesalahan/Kelemahan Albani Dalam Menilai Hadis

Albani mendloifkan sejumlah hadits Imam Bukhori dan Muslim

Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof

Dalam kitab Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, hal. 27-28? (edisi kedelapan, Maktab al-Islami) oleh Syeikh Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), Albani berkata bahwa hadis apapun yang datang dari koleksi Imam Bukhori dan Imam Muslim adalah Shohih, bukan karena ia diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, tetapi karena pada faktanya hadis-hadis ini memang shohih. Akan tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan apa yang ia katakan sebelumnya, setelah ia mendhoifkan sejumlah besar hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan imam Muslim !? Baik, marilah sekarang kita melihat bukti-buktinya : SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II

No. 1 : (Hal. 10 no. 1)
Hadis : Nabi SAW bersabda : Allah SWT berfirman bahwa Aku akan menjadi musuh dari tiga kelompok orang : 1). Orang yang bersumpah dengan nama Allah namun ia merusaknya, 2). orang yang menjual seseorang sebagai budak dan memakan harganya, 3). Dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja dan mendapat secara penuh kerja darinya (sang pekerja -pent) tetapi ia tidak membayar gajinya (HR. Bukhori no. 2114 -versi bahasa arab, atau lihat juga versi bahasa inggris 3430 hal. 236). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu, 4111 no. 4054?. Sedikitnya apakah ia tidak mengetahui bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra. !!!

No. 2 : (Hal. 10 no. 2)
Hadis : Berkurban itu hanya untuk sapi yang dewasa, jika ini menyulitkanmu maka dalam hal ini kurbankanlah domba jantan !! (HR. Muslim no. 1963 - versi bahasa arab, atau lihat versi bahasa inggris 34836 hal. 1086). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu, 664 no. 6222?. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibn Majah dari Jabir ra. !!!

No. 3 : (Hal. 10 no. 3)
Hadis : Diantara manusia yang terjelek dalam pandangan Allah pada hari
kiamat, adalah seorang lelaki yang mencintai istrinya dan istrinya
mencintainya juga, kemudian ia mengumumkan rahasia istrinya (HR. Muslim No. 1437 - versi bahasa arab). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu, 2197 no. 2005?. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Sayid ra. !!!

No. 4 (Hal. 10, no. 4)
Hadis : Jika seseorang bangun pada malam hari (untuk sholat malam -pent), hendaknya ia mengawali sholatnya dengan 2 rakaat yang ringan (HR. Muslim No. 768). Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu I213 no. 718?. Walaupun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

No. 5 : (Hal. 11 no. 5)
Hadis : Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang
bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu .. (HR. Muslim No. 246). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu 2/14 no. 1425?. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!

No. 6 : (Hal. 11 no. 6)
Hadis : Kepercayaan paling besar dalam pandangan Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang tidak mengumumkan rahasia antara dirinya danistrinya (HR. Muslim no. 124 dan 1437). Al-Albani menyatakan bahwa hadisini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu, 2192 no. 1986?. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud dari Abi Sayidra. !!!

No. 7 : (Hal. 11 no. 7)
Hadis : Jika seseorang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi,ia akan terlindungi dari fitnah Dajal (HR. Muslim no. 809). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini Dhoif dalam Dhoif Al-Jami wa Ziyadatuhu, 5233 no. 5772?. Kalimat yang digunakan oleh Imam Muslim adalah menghafal dan bukan membaca sebagaimana klaim Al-Albani ! Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal ! Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Nasai dari Abu Darda ra. (Juga dinukil oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin 21021 - versi bahasa inggris) !!!

BERBAGAI KONTRADIKSI YANG DILAKUKAN ALBANI DALAM MENILAI PERAWI HADIS

No 38 : (Hal. 157 no 1 )
KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani berkata dalam Shahihah, 3/481? :
Kanaan dianggap hasan, karena ia didukung oleh Ibn Muin. Al-Albani
kemudian membuat pertentangan bagi dirinya dengan mengatakan, Hadis dhoif karena Kanaan (Lihat Kitab Dhoifah, 4/282?)!!

No 39 : (Hal. 158 no. 2 )
MAJAA IBN AL-ZUBAIR : - Al-Albani telah mendhoifkan Majaa dalam Irwaal-Ghalil, 3/242?, dengan mengatakan bahwa: Sanad ini lemah karena Ahmad telah berkata : Tidak ada yang salah dari Majaa, dan Daruqutni telah melemahkannya .

Al-Albani kemudian membuat kontradiksi lagi dalam kitab Shahihah, 1/613?,dengan mengatakan : Orang ini (perawi hadis) adalah terpercaya kecuali Majaa, dimana ia adalah seorang perawi hadis yang baik. Sungguh kontradiksi yang menakjubkan !?!

No 40 : (Hal. 158 no. 3 )
UTBA IBN HAMID AL-DHABI : - Al-Albani telah mendhoifkannya dalam kitab Irwa Al-Ghalil, 5/237?, dengan mengatakan : Dan ini adalah sanad yang dhoif karena tiga sebab Salah satunya adalah sebab kedua, karena lemahnya Al-Dhabi, Al-Hafiz berkata : perawi yang terpercaya namun sering salah (dalam meriwayatkan hadis -pent).

Al-Albani kembali membuat kontradiksi yang sangat aneh dalam kitab
Shahihah, 2/432?, dimana ia menyatakan bahwa sanad yang menyebutkan Utba : Dan ini adalah sanadnya hasan, Utba ibn Hamid al-Dhabi adalah perawi terpercaya namun sering salah, dan sisanya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya ???

No 41 : (Hal. 159 no. 4 )
HISHAM IBN SAAD : Al-Albani berkata dalam kitab Shahihah, 1/325? : Hisham ibn Saad adalah perawi hadis yang baik. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab Irwa Al-Ghalil, 1/283? dengan menyatakan: Akan tetapi Hisham ini lemah hafalannya. Lihat betapa menakjubkan ???

No 42 : (hal. 160 no. 5 )
UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab Shahihah, 1/371?, dimana ia berkata : Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya namun ia pernah melakukan pemalsuan yang sangat buruk yang membuatnya tidak terpercaya… Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab Sahihah, 2/259? dengan menerimanya dan menggambarkannya sebagai perawi yang terpercaya pada sanad yang didalamnya menyebutkan Umar ibn Ali. Al-Albani berkata : Dinilai oleh Al-Hakim, yang berkata : A shohih isnad (sanadnya shohih -pent), dan Adz-Dzahabi menyepakatinya, dan hadis (statusnya -pent) ini sebagaimana yang mereka katakan (yaitu hadis shohih -pent). Sungguh menakjubkan !?!

No 43 : (Hal. 160 no. 6 )
ALI IBN SAEED AL-RAZI : Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab Irwa, 7/13?, dengan menyatakan : Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi. Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab-nya yang lain yang menakjubkan yang ia karang yaitu kitab Shahihah, 4/25?, dengan berkata : Ini sanad (hasan) dan para perawinya adalah terpercaya. Maka berhati-hatilah ?!?

No 44 : (Hal. 165 no. 13 )
RISHDIN IBN SAAD : Al-Albani berkata dalam kitabnya Shahihah, 3/79? : Didalamnya (sanad) ada perawi bernama Rishdin ibn Saad, dan ia telah dinyatakan terpercaya. Tetapi ia kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia adalah Dhoif dalam kitab Dhoifah, 4/53?; dimana ia berkata : Dan Rishdin ibn Saad adalah Dhoif. Maka
berhati-hatilah dengan hal ini !!

No 45 : (Hal. 161 no. 8 )
ASHAATH IBN ISHAQ IBN SAAD : Sungguh aneh pernyatan Syeikh Albani ini ?!? Dia berkata dalam kitab Irwa A-Ghalil, 2/228?: Statusnya tidak diketahui dan hanya Ibn Hibban yang mempercayainya. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri sebagaimana biasanya ! karena ia hanya menukil dari kitab dan tidak ada hal lain yang ia lakukan, kemudian ia sebatas menukilnya tanpa pengetahuan yang memadai, hal ini terbukti dalam kitab Shahihah, 1/450?, dimana ia berkata mengenai Ashath : Terpercaya. Sungguh menakjubkan apa yang ia lakukan !?!


PENUTUP

Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani oleh Al-Alamah Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof dimana dalam kitab-nya tersebut beliau (Rahimahullah) menunjukkan 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas


NB : Dinukil dan disusun secara bebas dari kitab Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof yang berjudul Tanaqadat al- Albani al-Wadihat
(Kontradiksi yang sangat jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Nuh Ha Mim Killer dan kawan-kawan, dalam versi bahasa Inggris dengan judul AL-ALBANIS WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIMS AHADITH

IJASAH SANAD SYEIKH AL-ALBANI

Ada artikel menarik mengenai tidak adanya ijazah (sanad yg muttashil) syaikh Albani. Ini di dapat dari seorang ahli hadits, syaikh Shu‘ayb al-Arna’ut yang merupakan satu kampung dengan Sykeh Albani. Sama-sama merantau dari Albania ke Damascus. Artikel dalam bahasa Inggris.

Silakan lihat di http://www.masud.co.uk/ISLAM/nuh/masudq6.htm
Quote:Original Posted By jual.buku.islam


Silahkan baca

Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Duluan mana Ibnu Abbas lahir dari pada abul-Hasan Al-Asy’ariy..?

dan juga ini'

Abul-Hasan Al-Asy’ariy Bertaubat ke ‘Aqidah Asy’ariyyah atau Salafiyyah ?

apakah Asy'ariyyah sekarang sudah sesuai Aqidah-nya dengan abul-Hasan Al-Asy’ariy setelah rujuk pada fase ke 3..?

dan baca juga

Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy, Asyaa’irah (Asy’ariyyah), dan Bahasan Pemalsuan Kitab Al-Ibaanah ‘an Ushuulid-Diyaanah

Apakah Aqidah Asyaa’irah sekarang sudah sesuai dengan Kitab Al Ibanah..?

contoh :
Spoiler for :


Nah ta'wil Istiwa dengan Istilaa (menguasai) dan pengertian tangan Allah dengan Nikmat Allah itu adalah Aqidah golongan Asy'ariyah yang telah diingkari oleh Abul Hasan sendiri...


Ibn taimiyah telah menjelaskan bahwa sesungguhnya Imam Al asy'ari menetapkan sifat khobariyyah seperti sifat maknawiyah bukan dengan pengertian aen [dzat/organ],kemudian ia menyelisihi pndapat Imam Al Asyari dgn mengatakan bahwa lafad2 tsbt adalah aeniyah [dzat/organ] bukan maknawiyah [scra makna/sifat] dan dalil yang di pakai oleh ibnu taemiyah adalah mengqiyaskan yang gaib dengan yang nyata/kelihatan,sebagaimana ia katakan dalam kitabnya bayan talbis 1/126 cet: utsmaniyyah:

( الوجه الحادي والأربعون : وهو قوله: "معلوم أن اليد والوجه بالمعنى الذي ذكروه مما لا يقبله الوهم والخيال"
أ‌- إما أن يريد به المعنى الذي يذكره المتكلمة الصفاتية الذين يقولون هذه صفات معنوية , كما هو قول الأشعري والقلانسي , وطوائف من الكرامية وغيرهم , وهو قول طوائف من الحنبلية وغيرهم .
ب‌- وإما أن يريد بمعنى أنها أعيان قائمة بأنفسها.
فإن أراد به المعنى الأول : فليس هو الذي حكاه عن الحنبلية فإنه قال: "وأما الحنابلة الذين التزموا الأجزاء والأبعاض فهم أيضا معترفون بأن ذاته مخالفة لسائر الذوات" إلى أن قال: "وأيضا فعمدة مذهب الحنابلة أنهم متى تمسكوا بآية أو خبر يوهم ظاهره شيئا من الأعضاء والجوارح صرحوا بأنا نثبت هذا المعنى لله على خلاف ما هو ثابت للخلق فأثبتوا لله وجها بخلاف وجوه الخلق ويدا بخلاف أيدي الخلق ومعلوم أن اليد والوجه بالمعنى الذي ذكروه عما لا يقبله الوهم والخيال"
فإذا كان هذا قوله , فمعلوم أن هذا القول الذي حكاه هو قول من يثبت هذه بالمعنى الذي سماه هو (أجزاءً وأبعاضاً) , فتكون هذه صفاتٍ قائمة بنفسها كما هي قائمة بنفسها في الشاهد، كما أن العلم والقدرة قائم بغيره في الغائب والشاهد لكن لا تقبل التفريق والانفصال كما أن علمه وقدرته لا تقبل الزوال عن ذاته وإن كان المخلوق يمكن مفارقة ما هو قائم به وما هو منه يمكن مفارقة بعض ذلك بعضاً , فجواز ذلك على المخلوق لا يقتضي جوازه على الخالق , وقد عُلم أن الخالقَ ليس مماثلاً للمخلوق وأن هذه الصفاتِ وإن كانت أعياناً فليست لحماً ولا عصباً ولا دماً ولا نحو ذلك ولا هي من جنس شيء من المخلوقات..) .

:metode yang ke 41:yaitu ucapan: "scra maklum lafad wajah,yad itu dgn arti maknawi sbgmn tlh di sebutkan dari semua yang tdk bs di sangkakan dan di hayalkan:
A.ada kalanya yang di maksud dgn arti scra maknawi adalah seperti yang di sebutkan oleh ahli kalam dalam sifat, yang mana mereka berkata:"ini adalah sifat2 maknawiyah sebagaimana pendapat Abul hasan Al asyari dan Al qolanisi,dan sekelompok dari kaum karomiyah dan yang lainnya,dan itu juga pendapat kaum hanabilah dan yg lainnya.

B. ada kalanya yang di maksud adalah aen [dzat/organ] yang berdiri dgn sendirinya.
Maka kalau yang di maksud dgn maknawi adalah yang pertama,maka itu bukanlah seperti yang di riwayatkan dari kaum hanabilah, maka sesungguhnya ia berkata: adapun kaum hanabilah yang melazimkan juz dan bagian2,maka mereka pun mengakui bahwa dzatNya berbeda dgn seluruh Dzat mahluq",sampai pada ucapannya:"maka inti dari madhab hambali adalah ketika berpegang pada ayat dan khobar yang dohirnya memberi sangkaan pada organ dan bagian maka mereka menjelaskan: 'Kami menetapkan makna ini utk Allah dgn makna yang berbeda dari makna yang di tetapkan terhadap mahluq,maka mereka menetapkan wajh utk Allah dgn makna wajh yang berbeda dgn mahluk,dan menetapkan tangan dgn tangan yang berbeda dgn makna tangan mahluk,dan secara ma'lum bahwa tangan ,wajh dgn makna yang tlh di sebutkan, itu adalah sesuatu yang tdk bisa di sangkakan dan di hayalkan",dan ketika perkataanya seperti ini, maka di ketahui bahwa perkataan yang di hikayatkan ini adalah perkataan orang yang menetapkan arti yang di sebut dgn "juz dan bagian",maka sifat2 ini berdiri dgn sendirinya sbgmn ia berdiri sendiri dalam hal yang bisa kita lihat [ciptaan], sebagaimana sifat ilmu dan qudrot berdiri pada sesuatu yang lain dalam hal yang gaib ataupun yang kelihatan, tetapi sifat2 itu tdk menerima terpisah, sebagaimana ilmu dan qudrotNya tdk menerima lepas dari dzatNya, walau pun mgkn saja bagi mahuk,adanya sifat2 itu atau sebagiannya bs terpisah dari dirinya,dan bisa terpisahnya hal itu dari mahluk tdk melazimkan boleh terpisahnya sifat2 itu dari pencipta, dan sungguh telah di ketahui bahwa pencipta tdk menyerupai ciptaan,dan sesungguhnya sifat2 ini walau pun berupa ain [dzat/organ],maka semua itu bukanlah berupa daging,otot dan juga bukan berupa darah dan bukan semisal dgn semua itu,dan juga bukan merupakan jenis sesuatu dari jenis mahluk [ciptaan].


Pertama: Para ulama yang membawakan pendapat Imam Asy'ari itu di sertai menuqilkan juga isbat sifat khobariyah sebagaimana pemahaman dari Imam Asy'ari dan juga menuqilkan darinya kenafian adanya tersusun dan organ tubuh dalam sifat2 tersebut", dan itulah yang di pegang oleh madhab Imam Asy'ari sekarang,ini berbeda dgn keyakinan femahamn isbat wahabi bahwa isbat sifat adalah menetapkan tersususnnya Allah dari juz dan organ....!! sungguh telah datang dalam kitab mujarod almaqolat Al asyari hal 40:

(( فأما ما يثبت من طريق الخبر , فلا يُنكر –أي الإمام الأشعري- أن يرد الخبر بإثبات صفات له تُعتقد خبراً , وتطلق ألفاظها سمعاً , وتحقق معانيها على حسب ما يليق بالموصوف بها , كاليدين والوجه والجنب والعين .
لأنها فينا : جوارح , وأدوات , وفي وصفه نعوت وصفات , لما استحال عليه التركيب , والتأليف , وأن يوصف بالجوارح والأدوات ) .

an adapun sifat2 yang di tetapkan dgn jalan khobar, Maka ia [imam asyari] tdk mengingkari untuk mendatangkan khobar dgn isbat [menetapkan] sifat yang di itiqodkan sebagai khobar dan juga di ucapkan lafadnya sbgmn yang di dengar dan di tetapkan maknanya dgn sesuatu yang layak utk [mausuf] yang di sifati' dgn sifat tsbt, seperti dua tangan,wajah,pinggang,mata, karena semua itu ketika di sandarkan pada kami itu bermakna anggota tubuh dan alat, dan dalam mensifati ALLAH itu semua adalah sifat-sifat semata, karena mustahil bagi Allah adanya tersusun dan mustahil jg di sifati dgn organ dan alat".

Maka dgn perkataan ini,lenyaplah klaim wahabi atas tuduhan bahwa ulama2 yang menuqilkan madhab asyari juga menyebarkannya" itu tdk menuqilkan isbat sifat khobariyah dari Imam Al Asy"ari, toh isbat imam As'ari adalah isbat dgn tanpa memahami dengan makna tersusun,organ dan alat.

Ke dua: definisi sifat menurut Imam Al asy'ri adalah makna yang berdiri pada mausuf [yg di sifati], dan sifat bukanlah ain [dzat] sebagaimana yang di katakan oleh Ibnu taemiyah, Dan barang siapa memperhatikan apa yang tercatat dalam ktb mujarod almaqolat,maka ia akan mengetahui hal tersebut ,malah kapan pun akan di temukan bahwa setiap masalah sifat khobariyah yang di fahami oleh madhab asyariyah itu berpijak atas pendapat bahwa sifat adalah yang berdiri pada mausuf, dan pendapat imam Asyari itu bisa di fahami dari ingkarnya beliau atas adanya sifat yang berdiri pada sifat, dalam alasan beliau:

( لأن ذلك يؤدّي إلى قيام معنى بها , فلا يتحمّل المعنى معنى) .

:karena hal itu akan menimbulkan berdirinya makna di atas sifat,maka makna tdk bisa berdiri di atas makna [mujarod almaqolat:39]

maka ungkapan di atas menjadi bukti bahwa sifat menurut Imam Al asyari adalah makna yang berdiri pada dzat,dan bukanlah dzat itu sendiri..maka ketika beliau menyebutkan sifat yad,istiwa dll,itu tdk dgn pengertian aen/dzat [organ/fisik],fahamilah ini....!!

Ke tiga: Imam2 madhab Al asyari telah menuqilkan daripada Imam Al asyari tentang isbat [menetapkan] nya beliau terhadap sifat2 khobariyah dan juga menuqilkan penafian beliau atas makna hakikat lafadnya,ini berbeda dgn pandangan kaum wahabi yang berkata isbat dgn makna hakikat, berkata Imam As sanusi dalam syarh Al wustho:

( اختلف في أشياء وردت في الشرع مضافة لله تعالى، وهي الاستواء واليد والعين والوجه، بعد القطع بتنزهه تعالى عن ظواهرها المستحيلة عقلا إجماعا، فقال الشيخ أبو الحسن الأشعري: إنها أسماء لصفات تقوم بذاته تعالى، زائدة على الصفات الثمانية السابقة، والسبيل إلى إثباتها عنده السمعُ لا العقل، ولهذا تسمى على مذهبه: صفات سمعية، والله تعالى أعلم بحقيقتها )

: telah berbeda pendapat [ikhtilaf] dalam lafad2 yang di sandarkan kepada Allah seperti lafad istiwa,yad,aen,wajah setelah memastikan dgn qot'i akan sucinya Allah dari dhahirnya lafad2 itu,karena mustahil secara aqal dan ijma, mka berkata Imam Al asyari: sesungguhnya itu [sifat khobariyah] adalah nama2 untuk sifat yang berdiri pada dzat Allah SWT yang merupakan tambahan atas delapan sifat [wujud-irodat] yang telah di sebutkan,dan jalan isbat [menetapkan] nya adalah secara sam'i [sbgmn terdengarnya saja] bukan secara aqal, oleh karena itu lafad2 seperti itu dalam madhabnya di sebut sifat sam'iyyat: [sifat yang terbatas pada apa yang di dengar dari Al quran-Al hadis],dan Allah yang tau haqiqatnya.

kemudian beliau berkata:

( وأما الشيخ الأشعري فاعتمد في إثبات هذه الصفات ـ أي السمعية ـ على ظواهر من القرآن؛ أمّا الاستواء فاحتج على ثبوته بقوله تعالى: ﴿عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾[طه:5] فقال: الاستواء بمعنى الاستقرار والتمكن والجلوس مستحيلٌ عقلًا وإجماعاً، وتأويله بالاستيلاء على العرش بالقدرة يوجب أن لا يكون لتخصيص العرش بذلك فائدة ؛ إذ سائر الممكنات تماثل العرش في ذلك، فوجب أن يحمل الاستواء على صفة تليق به جل وعز، والله تعالى أعلم بحقيقتها

an ada pun Imam Al as'ari dalam menetapkan sifat2 ini yakni sifat sam'iyyat, pada dhohir lafadnya saja sebagaimana dalam Al quran, dalam menetapkan sifat istiwa,ia berhujjah dgn ayat عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى [toha 5], lalu ia berkata: istiwa dgn makna istiqror; menetap dan tamakun: menempat dan julus; semayam itu mustahil secara aqal dan ijma, dan juga mentakwilnya dgn istiila;menguasai atas arasnya dgn kuasanya itu melazimkan tdk adanya faidah dalam menentukan arasy dgn istiwa, karena semua ciptaan semitsal dgn Aras dalam hal itu, maka wajib membawa istiwa kepada makna sifat yang layak bagi Allah jalla wa azza dan Allah lbh tau hakikatnya.

Dan berkata Imam An nafrawi dalam alfawakih ad dawani:

( ولفظ الاستواء من جملة المتشابه كاليد والوجه والعين والأصابع ونحو ذلك مما ظاهره مستحيل على الباري سبحانه ، ولا يعلم معناه على القطع إلا الله سبحانه وتعالى ، وأما العلماء فقد اتفق السلف والخلف على وجوب اعتقاد حقيقة وروده على وجوب تنزيه الباري عن ظاهره المستحيل واختلفوا بعد ذلك على ثلاث طرق :

an lafad istiwa termasuk dalam jumlah nas mutasyabihat seperti lafad yad,wajah,mata,jari dan semisalnya dari lafad2 yang dohirnya mustahil bagi Allah swt,dan tdk di ketahui maknanya secara qoth'i kecuali hanya Allah swt,,dan adapun para ulama,maka telah mufakat salaf dan kholaf atas wajibnya mengitiqodkan hakikat datangnya lafad2 itu disertai wajibnya mensucikan [tanzih] Allah dari makna dhohirnya, dan setelah ijma atas tanzih, mereka terbagi kepada 3 jalan:

- طريق أبي الحسن الأشعري إمام هذا الفن أنها أسماء لصفات قائمة بذاته تعالى زائدة على صفات المعاني الثمانية أو السبعة التي هي العلم والقدرة والإدراك على القول به ونحو ذلك من بقيتها ، والدليل عنده على ثبوتها السمع لورودها إما في القرآن أو السنة لذلك تسمى على مذهبه صفات سمعية .

ertama jalan abul hasan Al Asyari imam dalam fan ini,bahwa lafad2 itu adalah nama utk sifat yang berdiri pada dzat Allah swt halnya tambahan dari sifat2 ma'ani yang delapan atau tujuh,yakni sifat ilmu,qudroh,idrok sbgmn pndpt orang yang mengatakan adanya sifat itu, dan juga sifat semisalnya dari sisa sifat maani tsbt,dan adapun dalil atas isbat sifat2 tsbt adalah sam'iyyat karena datang dalam alquran atau pun al hadits,oleh karena itu dalam madhabnya ada sifat2 yang di namai dgn sifat sam'iyyat.

- وطريق السلف كابن شهاب ومالك الإمام ومن وافقهما من السلف الصالح تمنع تأويلها عن التفصيل والتعيين ، ونعتقد أن له تعالى استواء ويدا وغير ذلك مما ورد به الشرع لا يعلم معناه على التفصيل إلا الله .

: Dan kedua jalan salaf seperti Ibn syihab dan Imam Malik dan orang2 yang sejalan dgn mereka berdua melarang mentakwil dan menentukan maknanya,dan kami mengitiqadkan bahwa Allah memiliki sifat istiwa,yad dll dari lafad2 yang datang dari syara dgn tdk mengetahui maknanya secara detail kecuali Allah.

- وطريق الخلف تؤول المتشابه على وجه التفصيل قصدا للإيضاح ولذلك تسمى المؤولة ، فأولوا الاستواء بالاستيلاء واليد بالقدرة

: Dan ke tiga jalan kholaf mereka mentakwil ayat2 mutasyabih dgn mendetail dgn tujuan utk menjelaskan,oleh karena itu mereka dinamai dgn meawwilah,maka mereka mentakwil estiwa dgn istaula,yad dgn kuasa dst...

Dan berkata Imam Al Amidi dalam kitab ibkar al ifkar:

(ذهب الشيخ أبو الحسن الأشعرى فى أحد قوليه , والأستاذ أبو اسحاق الاسفرايينى والسلف الى أن الرب تعالى متصف بالوجه , وأن الوجه صفة ثبوتية زائدة , على ماله من الصفات , متمسكين فى ذلك بقوله تعالى [ ويبقى وجه ربك ذو الجلال والاكرام ] لا أنه بمعنى الجارحة.
ومن المشبهة من أثبت الوجه بمعنى الجارحة

:telah memberjalankan Syaikh Abul hasan Al asyari dalam salah satu dari dua pendapatnya dan juga Ustadz Abu ishaq Al isfiroini,begitu juga salaf bahwa sesungguhnya Robb di sifati dgn wajh dan sesungguhnya wajh adalah sifat yang tetap dan tambahan dari sifat2 yang lainnya, dgn hujjah firman Allah: ويبقى وجه ربك ,dan sesungguhnya wajh bukan bermakna jarihahrgan, dan kaum musyabihah memaknai wajh dgn makna jarihah: organ. Dan yang haq atas semua itu adalah dgn mengatakan:tidak ada jalan utk isbat [menetapkan] wajah dgn makna organ.....!!

bantahan bagi yang mencela aqidah kaum ays'ariyah:


الحمد لله، والصلاة والصلام على مصطفاه، وآله وصحبه ومن والاه، أما بعد:
Beberapa bantahan bagi yang mencela aqidah kaum ays'ariyah:
Pertama: bahwa mereka itu adalah ulama yang membawa dan menuqilkan syariat pada bidangnya dari para pendahulunya, hal ini[MENCELA] tidak di katakan kecuali oleh orang bodoh. mereka termasuk ulama pembawa agama yang di bersihkan sebagaimana dalam hadis sayidina usamah bin zaid RA dati Nabi SAW,sungguh beliau berkata:
: «يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله: ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين»


: "Ilmu ini akan dipikul oleh setiap khalaf (orang yang kemudian) dari kalangan yang adil daripadanya, yang menafikan tahrif (penyelewengan) orang yang melampaui batas , kepincangan golongan pembuat kebatilan dan takwilan dari orang-orang jahil". [Hadith diriwayatkan secara mursal dalam sebahagian riwayat (Misykat Al-Mashabih) dan disambung secara sanadnya kepada sahabat kepada Rasulullah s.a.w. oleh Al-Imam Al-'Ala'ie. As-Safarini mengatakan sahih dalam kitab Al-Qaul Al-'Ali m/s: 227]


Berkata Al alamah alqustolani dalam irsydu sari syarah soheh bukhari 1/4;

« حديث أسامة بن زيد -رضي اللَّه عنه- عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ أنه قال: «يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله: ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين».
وهذا الحديث رواه من الصحابة علي، وابن عمر، وابن عمرو، وابن مسعود، وابن عباس، وجابر بن سمرة، ومعاذ، وأبو هريرة -رضي اللَّه عنهم-.
وأورده ابن عدي من طرق كثيرة كلها ضعيفة صلى الله عليه وسلم؛ كما صرح به الدارقطني، وأبو نعيم، وابن عبدالبر، لكن يمكن أن يتقوى بتعدد طرقه، ويكون حسنًا كما جزم به ابن كيكلدي العلائي»


Hadis udamah bin zaid RA dari Rasul SAW :: "Ilmu ini akan dipikul oleh setiap khalaf (orang yang kemudian) dari kalangan yang adil daripadanya, yang menafikan tahrif (penyelewengan) orang yang melampaui batas , kepincangan golongan pembuat kebatilan dan takwilan dari orang-orang jahil".Hadis ini di riwayatkan oleh para sahabat di antaranya dari Imam Ali,Ibnu umar,Ibnu amr,Ibnu masud,Ibnu abbas,jabir bin samroh,madz,abi hurairoh RA. Dan ibnu adi mendatangkan jalan jalannya yang sangat banyak,kesemuanya dhoif sebagaimana di jelaskan oleh ad dzarqutni,abu nuaim,dan ibnu abdil barr...tetapi bisa saling menguttkan di antara jalan2 nysa yang banyak,dan menjadi hadis hasan sebagaimana tela mantap dengan hal ini ibnu kaikaladi al ala'i

lalu beliau berkata lagi:

... والمخالف في ذلك، الطاعن في علماء الملة ينطبق عليه فتوى العلامة ابن رشد الجَدَّ القرطبي المالكي رحمه الله تعالى –كما في "فتاوي ابن رشد"(2/802)- وفيهم قال: "فهم الذين عنى رسول الله صلى الله عليه وسلم بقوله : ( يحمِل هذا العِلْمَ من كل خَلَفٍ عُدُولُه، ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المُبْطِلين، وتأويلَ الجاهلين .
(فلا يَعْتَقِدُ أن الأشاعرة على ضلالة وجهالة إلا غَبِيٌّ جاهل، أو مبتدع زائغ عن الحق مائل، ولا يسبهم وينسب إليهم خلاف ما هم عليه إلا فاسق، وقد قال الله عز وجل: (والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا) .
فيجب أن يُبَصَّرَ الجاهلُ منهم، ويؤدب الفاسق، ويستتاب المبتدع الزائغ عن الحق إذا كان مستسهلا ببدعة، فإن تاب وإلا ضرب أبدا حتى يتوب، كما فعل عمرُ بن الخطاب رضي الله عنه بصَبِيغ المتهم في اعتقاده، من ضربه إياه حتى قال: ( يا أمير المؤمنين إن كنت تريد دوائي فقد بَلَغْتَ مني موضع الداء، وإن كنت تريد قتلي فأجهِز عَلَيّ) فخلى سبيله، والله أسأله العصمة والتوفيق برحمته"انتهى.

Dan yang menyelisihi dalam hal yang telah di sebutkan,itu sama dengan mencela ulama agama yang pas untuknya seperti fatwa Ibnu Rusyd [kakek] laqurtubi al maliki sebagaimana dalam fatawa iBnu rusyd 2/802:dan mereka [para ulama agama] adalah orang orang yang di maksud oleh Rasul SAW DENGAN SABDANYA:[ "Ilmu ini akan dipikul oleh setiap khalaf (orang yang kemudian) dari kalangan yang adil daripadanya, yang menafikan tahrif (penyelewengan) orang yang melampaui batas , kepincangan golongan pembuat kebatilan dan takwilan dari orang-orang jahil"],MAKA TIDAKLAH MENG'ITIQADKAN BAHWA KALANGAN ASYARIYAH SESAT DAN BODOH kecuali orang orang yang tolol dan bodoh,atau ahli bidah yang menyimpang dari kebenaran,dan jangan mencela mereka,dan tidaklah menisbatkan kepada mereka hal yang tidak tepat kecuali ia adalah orang fasiq,dan nyata Allah telah berfirmanan orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (Al-Ahzab: 58).,maka wajib bagi yang jahil di antara mereka untuk menajamkan pandangannya,dan wajib Belajar adab atas orang yang fasiq, dan di perintahkan taubat kepada ahlu bidah yang menyimpang dari kebenaran jika ia meringankan bidahnya,kalau ia taubat,maka itu baik,kalau tidak maka pukul lah sampai ia bertauubat ,sebagaimana yang di lakukan khalifah umar bin khotob Ra TERHADAP shobig yang yang ragukan itiqodnya dengan memukulnya ,sehingga ia [shobig] berkata:wahai amirul mukminin;kalau engkau mengingimkan mengobatiku,maka engkau telah sampai pada tempat penyakitnya,dan jika engkau menginginkan kematianku,maka urusilah jenazahku.

Kedua; terjadinya perbedaan kalangan asyariyah dengan kalangan hanabilah [madhab imam ahmad],dan perbedaan yang masyhur di antara keduanya adalah dalam masalah sifat as sam'iyat/sama'i [sifat yang di terima sebagaiman apa yang di dengar dari Rasul] ,maka pembesar kalangan hanabilah menetapkan sifat tersebut di sertai imror;melewati lafadnya dan juga tanzih;mensucikan Allah dari keserupaan dengan ciptaanya,berbeda dengan pembesar kalangan asy'ariyah yang mentakwil sifat samiyat/sama'i],dan dalam hal ini,telah berkata Qodi Abu ya'la al faro al hambali dalam thobaqot alhanabilah:

"وقد أجمع علماء أهل الحديث ، والأشعرية منهم على قبول هذه الأحاديث ،فمنهم من أقرها على ما جاءت وهم أصحاب الحديث ،ومنهم من تأولها وهم الأشعرية وتأويلهم إياها قبول منهم لها ،إذ لو كانت عندهم باطلة لا طرحوها كما اطرحوا سائر الأخبار الباطلة .وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال:" أمتي لا تجتمع على خطأ ولا ضلالة"انتهى


an telah ijma ahli hadis,dan juga al asy;ariyah termasuk di dalamnya, atas menerima hadis hadis ini,di antara mereka ada yang menetapkannya sebagaimana datangnya dan mereka adalah ahlu hadis,dan diantaranya lagi mentakwilnya,mereka adalah kalangan asy'ariyah,dan takwil mereka itu merupakan bukti bahwa mereka menerima hadis hadis tersebut,karena seandainya mereka mengangap hadis hadis itu batil,maka mereka akan membuangnya sebagaimana mereka membuang hadis hadis yang batil,dan telah di riwayatkan dari Nabi SAW:Umatku tidak akan sepakat untuk melakukan kesalahan. Umatku tidak akan sepakat untuk melakukan kesesatan

PERKATAAN imam Abu ya'la ini tidak bermaksud BAHWA tidak haram takwil,beliau mengharamkannya, walaupun pendapatnya ini berbeda dengan mayoritas ahlussunnah, namun imam abu ya'la dengan pendiriannya bahwa takwil itu haram, tetapi beliau tidak mengeluarkan kalangan asy'ariyah dari cakupan ahlussunnah wal jamaah,ini hanyalah perbedaan ilmiah dalam cabang aqidah saja.

Oleh sebab itu telah berkata Imam as safaroini al hambali dalam lawamiul anwar:

: أهل السنة والجماعة ثلاث فرق:الأثرية وامامهم أحمدبن حنبل والأشعرية وامامهم أبو الحسن الأشعري والماتريدية وإمامهم أبو منصور الماتريدي وأما فرق الضلالة فكثيرة جداً . ا.هـ


:Ahlu sunnah wal jamaah adalah tiga kelompok,al atsariyah dengan imamnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal,dan al asy'ariyah dengan Imamnya Aul hasan al asyari,juga almaturidiyah dengan Imamnya Abu manshur al maturidi,dan adapun kelompok sesat,maka sangat banyak sekali.

Dan juga telah berkata Imam Al Qudumi al hambali dalam kitab al manhaj al ahmad:

5 لأن أهل الحديث والأشعرية والماتريدية: فرقة واحدة متفـقون في أصُول الدين على التوحيد، وتقد يــر الخير والشر، وفي شروط النبوة والرسالة، وفي موالاة الصحابة كلهم، وما جرى مجرى ذلك: كعـــد م وجوب الصلاح والأصلح، وفي إثبـات الكسب، وإثبات الشفـاعة، وخروج عصاة المُوَحِّـــد يــن من النار والخلافُ بينهم في مسائل قــليلة.


Karena sesungguhnya Ahli hadis dan Al asy'ariyah juga al maturidiyah adalah kelompok yang satu,mereka sepakat dalam usul usul [pokok] agama di atas tauhid,dan dalam masalah taqdir baik dan jelek,dan dalam masalah syarat kenabian dan kerasulan,dan dalam pringkat semua para shahabat,dan yang berlaku dalam jalan yang telah di sebutkan seperti masalah tidak wajibnya bagi allah menghendaki al aslah dan sholah [yang terbaik dan maslahat] dan juga dalam masalah kasab pada hamba,juga dalam penetapan syafaat,dan masalahh akan kelauarnya ahli tauhid dari neraka,perbedaan di antara mereka cuma dalam hal yang kecil dan sedikit.

Lihatlah bagaimana ulama kalangan hanabilah juga mengakui aqidah ulama asyariyah...lalu sipakah yang pertama kali memisahkannya ??? dan siapa mereka yang mengikuti pendapat orang yang memisahkan itu???...........................................!!!
@CiungWanara..... Kasihan ana sebenar-nya sama agan...

Kopas panjang-panjang tapi tidak paham inti dari apa yang dimaksut, asal beda dan berlawanan dengan salafi langsung dikopas disini tanpa memahami-nya...

Biar jelas, silahkan agan jawab pertanyaan ana dibawah ini...

1. Dimana Allah ?

2. Apakah wajah Allah bermakna hakiki ?

3. Apakah tangan Allah bermakna hakiki ?

Silahkan dijawab jika memang anda niat diskusi dan agar anda kesannya tidak merusuh di thread ana ini.
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
@CiungWanara..... Kasihan ana sebenar-nya sama agan...

Kopas panjang-panjang tapi tidak paham inti dari apa yang dimaksut, asal beda dan berlawanan dengan salafi langsung dikopas disini tanpa memahami-nya...

Biar jelas, silahkan agan jawab pertanyaan ana dibawah ini...

1. Dimana Allah ?

2. Apakah wajah Allah bermakna hakiki ?

3. Apakah tangan Allah bermakna hakiki ?

Silahkan dijawab jika memang anda niat diskusi dan agar anda kesannya tidak merusuh di thread ana ini.



Lagu lama di putar kembali kalau sudah kefefet nanya balik
Newbie yah, Salam Newbie



Quote:Original Posted By dialog lucu
Wahabi Sawah : “Maulid dan zikir bareng itu bid’ah, tidak ada di zaman Nabi saw.”
Santri Aswaja : “Terus terang, Muka anda juga bid’ah, karena tidak ada di zaman Nabi Saw dan Terus terang anda baca alquran tanpa harokat adalah bid'ah karena dizaman Nabi Saw adanya arab gundul dan saya biasa ngaji kitab gundul”

Wahabi Sawah : “Allah swt itu bertempat, bathil dan haram hukumnya berkata bahwa Allah swt tidak bertempat”
Santri Aswaja : “Kasihan sekali Tuhanmu lemah, diserupakan dengan mahluk yang butuh tempat.”
Quote:Original Posted By CiungWanara.


Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof



kenali dulu Aqidah-nya seseorang yang akan kamu ambil ilmunya

Inilah 'Aqidah Hasan As-Saqqaaf

Manhaj Salaf/Salafi/Salafiah Palsuh nan Bauk Amis Darah



Suaraaswaja


Siapakah sebenarnya kelompok yang mengklaim sebagai ‘Salafi’ yang akhir-akhir ini mulai marak? Kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini, dahulu dikenal dengan nama Wahabi. Tidak ada perbedaan antara Salafi yang ini dengan Wahabi. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Satu dari sisi keyakinan dan padu dari segi pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun, ketika diekspor ke luar Saudi, mereka mengatasnamakan dirinya dengan ‘Salafi’, khususnya setelah bergabungnya Muhammad Nashiruddin al-Albani, yang mereka pandang sebagai ulama ahlihadis.

Pada hakikatnya, mereka bukanlah Salafi atau para pengikut Salaf. Mereka lebih tepat jika disebut Salafi Wahabi, yakni pengikut Muhammad ibnu Abdul Wahab yang lahir di Uyainah, Najd, Saudi Arabia tahun 1115 Hijriah (1703 Masehi) dan wafat tahun 1206 Hijriah (1792 Masehi). Pendiri Wahabi ini sangat mengagumi Ibnu Taimiyah, seorang ulama kontroversial yang hidup di abad ke-8 Hijriyah dan banyak mempengaruhi cara berpikirnya (Lihat: Muhammad Abu Zahrah: Tarikh al-Mazhahib al-lslamiyah al-Fiqhiyah, Dar al-Fikr al-Arabi, Cairo, h. 232).

Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang “Ahlussunnah” -yang seringnya tanpa diikuti dengan kata “wal Jamaah”-, karena mereka merasa risih dengan penisbatan tersebut dan mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya. Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al- Buthi dalam bukunya, as-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madzhab Islami. Dia mengatakan bahwa, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan berganti nama menjadi “Salafi” karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan nama Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, yakni Muhammad ibnu Abdul Wahab.Apalagi, para ulama berhasil menguak borok dan penyimpangan Wahabi. Di antara para ulama yang telah membuka kedok Salafi Wahabi yaitu al-Allamah al-Kautsari, al-Allamah al-Qusyalri, Mufti Mesir; Syaikh Prof. Dr. Ali Jum’ah, al-Muhaddtis Sayyid Muhammad al-’Alawi al-Maliki, Syaikh Hasan ibnu Ali Assegaf, Syaikh Ahmad al-Ghimari, Syaikh Abdullah al-Harari, dan Iain-Iain. Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin menamakan mereka dengan Salafi Palsu atau Mutamaslif.

Untuk menarik simpati umat Islam, Wahabi berupaya mengusung platform dakwah yang sangat terpuji yaitu, memerangi syirik, penyembahan berhala, pengkultusan kuburan, dan membersihkan Islam dari bid’ah dan khurafat. Namun mereka salah kaprah dalam penerapannya, bahkan dapat dibilang, dalam banyak hal mereka telah keluar dari ajaran Islam itu sendiri. Persis seperti ungkapan Sayyidina Ali ketika menumpas kaum khawarij , “Qaul al-Haq yuradu bihi al-bathil” (kalimat yang benar tapi digunakan untuk kebathilan). Para sahabat nabi SAW, imam madzhab, ulama salaf, dan umat islam yang tidak sejalan dengan mereka dikafirkan bahkan tak segan mereka bunuh (Lihat: Aqidah ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah, Hasan bin Ali as-Saqqaf , Dar al-Imam an-Nawawi cetakan pertama hal. 213).

Tidak ada satu pun riwayat shahih yang sampai kepada kita menerangkan bahwa ada di antara para sahabat Nabi Saw., ulama salaf dan imam mujtahid (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Ahmad ibnu Hanbal, Imam Tsauri dan lainnya) yang menyebut diri mereka dan para pengikutnya sebagai kelompok Salafi. Hingga para Imam ahli hadis sekalipun -seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan yang lainnya-, tidak ada yang menyebut dirinya sebagai Salafi.

Sebagai sebuah bahasa, kata “salaf’ -yang berarti pendahulu sudah lama muncul dalam khasanah perbendaharaan kata dalam agama Islam, bahkan sejak zaman Nabi Saw., tetapi tidak untuk arti “sekelompok orang yang memiliki keyakinan sama” atau sebuah mazhab dalam Islam. Sebagai contohnya, lihat saja misalkan ucapan salam yang diajarkan Nabi Saw. kepada umatnya saat berziarah kubur yaitu, “Assalamu’alaikum ya ahla al-qubur yaghfirullahu lana wa lakum antum salafuna wa nahnu bi al-atsar: keselamatan untuk kalian wahai ahli kubur, semoga Allah mengampuni kami dan kalian, kalian adalah para pendahulu kami, sedangkan kami nanti pasti akan menyusul.” (HR. Tirmidzi dan Thabarani bab Ma Yaqul ar-Rajul Idza Dakhal al-Maqabir 4/208 no. 975. Ath-Thabarani: al-Mu’jam al-Kabir bab 3, 10/254 no. 12447). Dalam hadis ini tertera kata “salaf’ yang artinya “para pendahulu”.

Adapun awal mula munculnya “Salafi” sebagai istilah adalah di Mesir, setelah usainya penjajahan Inggris. Tepat- nya, saat muncul gerakan pembaruan Islam (al-ishlah ad- dtni) yang dipimpin oleh Jamaluddin al-Afghani dan muridnya, Muhammad Abduh, di akhir abad ke-19 Masehi, yang dikenal dengan gerakan Pan Islamisme. Untuk menumbuhkan rasa patriotisme dan fanatik yang tinggi terhadap peijuangan umat Islam saat itu, di samping dalam rangka membendung pengaruh sekulerisme, penjajahan dan hegemoni Barat atas dunia Islam, Muhammad Abduh mengenalkan istilah “Salafi”.

Lalu, dari manakah munculnya istilah “Salafi” untuk menggelari orang yang mengklaim dirinya sebagai satu- satunya penerus ajaran as-salafu ash-shalih, yakni para sahabat, tabiln dan tabi’at-tabim? Yang jelas, bukan dari sahabat Nabi Saw., bukan dari para ulama salaf terdahulu, bahkan bukan pula dari para imam ahli hadis sekalipun. Nashiruddin al-Albani lah yang pertama kali mempopulerkan istilah SALAFI ini, sebagaimana terekam dalam sebuah dialognya dengan salah satu pengikutnya, yaitu Abdul Halim Abu Syuqqah, pada bulan Juli 1999/Rabiul Akhir 1420 H (Lihat Majalah As-Sunnah edisi 06\IV\1420, h. 20-25.)

Seiring dengan kelihaiannya dalam ‘mengaduk-aduk’ hadis , Albani sebagai pendatang baru di ranah Wahabi, juga lihai dalam meracik nama baru untuk me-refresh dan meremajakan faham yang kian memiliki image negatif di dunia Islam itu. Dia sangat berjasa bagi kelanjutan dakwah Salafi Wahabi dengan ide istilah “salafi”-nya itu.

Yang patut direnungkan, bukankah penggunaan istilah seperti itu juga merupakan “hal baru dalam agama” alias bid’ah, suatu kata yang selalu mereka dengung-dengungkan dalam menghantam umat Islam?

Spoiler for Baca Selengkapnya disini gan:


Ciri Wahabi/Salaf/Salafi/Salafiah

Inilah Sebagian Dari Ajaran Sesat Salafi Wahabi Yang Dibagikan Kepada Jama’ah Haji

  1. Membagikan Tauhid kepada 3 Kategori yakni Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ was-Sifat.
  2. Sering mempertanyakan dimana Allah.
  3. Meyakini Tuhan punya Tangan (anggota badan).
  4. Meyakini Tuhan punya Muka (wajah asli).
  5. Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam) di atas ‘Arasy.
  6. Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk.
  7. Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.
  8. Meyakini Tuhan punya betis.
  9. Meyakini Tuhan punya jari-jemari.
  10. Mendakwa dirinya ber-Manhaj Salaf dalam aqidah (tapi sangat bertentangan dengan aqidah Ulama Salaful ummah).
  11. Memahami Nash-Nash Mutasyabihat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk ke kitab Ulama.
  12. Mengkafirkan pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi (dua Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah).
  13. Mengkafirkan Sufi, dan menganggap Tasawwuf bukan ajaran Islam.
  14. Sangat anti dengan sifat 20 pada Allah ta’ala.
  15. Menuduh Imam Abu Hasan Asy’ari telah bertobat dari aqidah Asy’ariyah yang di yakini oleh kebanyakan ummat dan para Ulama terdahulu, padahal telah diakui kebenarannya oleh para ulama Ahlussunnah
  16. Menolak Ta’wil dalam bab Mutasyabihat.
  17. Menuduh Ayah dan Ibu Rasulullah kafir dan tidak akan selamat dari Neraka.
  18. Menuduh syirik Tawassul, Tabarruk dan Istighatsah dengan para Anbiya, Aulia dan Shalihin.
  19. Memakai selogan kembali ke Al-Quran dan as-Sunnah untuk membatalkan ijtihad para ulama Salaf.
  20. Sangat anti dengan pendapat Imam Madzhab dan pengikut Madzhab, dan menuduh para Imam Madzhab hanya bermadzhab dengan Hadits shohih saja.
  21. Mudah membid’ah-sesatkan amalan yang tidak sharih dan shahih menurut mereka.
  22. Menuduh Maulid itu Tasyabbuh dan Sesat.
  23. Menuduh Tahlilan, Yasinan itu Tasyabbuh dan Sesat dan bahkan ada yang menuduhnya bukan dari ajaran Islam
  24. Menyamakan orang baca Al-Quran di kuburan dengan penyembah kubur.
  25. Mengaku Salafi dan Ahlussunnah Waljama’ah, tapi sangat menyimpang dari ulama Salaf dan semua ulama Ahlussunnah
  26. Dan masih banyak sekali [silahkan rujuk kepada para ulama untuk mengetahui lebih detail]

Sesungguhnya berita ini bukan isu semata atau kebencian atau buruk sangka, akan tetapi ini semua memang begitu adanya, seandainya bukan karena kewajiban untuk menyampaikan, sungguh kami tidak akan menyampaikannya demi menjaga persatuan ummat ini, dan semua telah kami sampaikan dengan tanpa berlebihan, dan tanpa bermaksud membuka aib atau merendahkan, dan harapan kami semoga para jama’ah haji kita tidak tergoda dan terpedaya dengan trik dan tipu daya mereka, dan semoga mendapat haji yang mabrur, insya allah.

Wallahu a’lam
Manhaj SARAF
ngeeeeriiiiiiiiiiiii gaaaaannnnnnnnnn...
kayak "komedi putar" hehee

ini buku-nya gan yang dimaksut..




yang ana Bold itu semua Ulama dan Ustad Wahhabi gan, termasuk yang nulis Kitab ini adalah Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Kebetulan setiap Ahad Pagi di mesjid Imam Ahmad Bin Hambal tanah baru bogor kajian-nya lagi membahas Kitab ini gan (Mulia Diatas Manhaj Salaf) oleh Ustad Yazid-nya langsung.

Mudahan dan InsyaAllah, Allah meringankan Hati dan langkah agan untuk menghadiri mejelis Ilmu-nya, =========================================================

Bukunya sih katanta bagus,.....tapi ketika mau dibahas sama seorang ustadz dari Ponpes dari Bogor juga....eeeh si penulis buku malah kabur ke saudi, kasih perwakilan seorang ustadz salafy jg yg ga ngerti apa-2 cuma pelanga pelongo...xixixixixixixi

si Ustadz Jawws juga berlindung kepada seorang Kyai ahli Bid'ah di Bogor....
Quote:Original Posted By jual.buku.islam


Tujuan para perusuh disini untuk menimbulkan Debat yang tidak jelas yang ujung-nya moderator menggembok thread ini..

Padahal postingan yang mereka bawa kesini sudah dijelaskan berulang kali...


sejak kapan jadi peramal & dah tau isi hati orang boss ????
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
@CiungWanara..... Kasihan ana sebenar-nya sama agan...

Kopas panjang-panjang tapi tidak paham inti dari apa yang dimaksut, asal beda dan berlawanan dengan salafi langsung dikopas disini tanpa memahami-nya...

Biar jelas, silahkan agan jawab pertanyaan ana dibawah ini...

1. Dimana Allah ?

2. Apakah wajah Allah bermakna hakiki ?

3. Apakah tangan Allah bermakna hakiki ?

Silahkan dijawab jika memang anda niat diskusi dan agar anda kesannya tidak merusuh di thread ana ini.


hakiki itu arti lainnya apa yah boss?
Quote:Original Posted By jual.buku.islam
@CiungWanara.....

Biar jelas, silahkan agan jawab pertanyaan ana dibawah ini...

Dimana Allah ?

Silahkan dijawab jika memang anda niat diskusi dan agar anda kesannya tidak merusuh di thread ana ini.


izin njawab ya gan..

1. Dimana Allah ?....pertanyaan dalam kalimat bahasa arab nya adalah.."man aynama Allah ?"..

Ini pertanyaan yg salah jika dilihat dari segi nahwu, kenapa bisa salah ?..karena jawaban dari "aynama" pasti akan menunjuk pada isim mufrod "hadza, hadzihi, dzalika, dan tilka".

Dan penggunaan ke -4 isim mufrad tersebut adalah ditujukan pada makhluk yg berjenis kelamin laki2 atau wanita.

Jadi ketika seseorang bertanya, "man aynama Allah"...nah ini sudah salah, karena apa ?..karena merendahkan isim Allah untuk di samakan dengan isim mufrod yg fungsinya dijadikan kata tunjuk untuk laki atau perempuan.

Berbeda jikalau pertanyaanya adalah..." Man huwa Allah / Siapakah Allah itu ?"....nah ini dari segi nahwu pertanyaanya bisa dijawab dan dari segi nahwu benar secara kalimat.



Quote:Original Posted By modmodol


izin njawab ya gan..

1. Dimana Allah ?....pertanyaan dalam kalimat bahasa arab nya adalah.."man aynama Allah ?"..

Ini pertanyaan yg salah jika dilihat dari segi nahwu, kenapa bisa salah ?..karena jawaban dari "aynama" pasti akan menunjuk pada isim mufrod "hadza, hadzihi, dzalika, dan tilka".

Dan penggunaan ke -4 isim mufrad tersebut adalah ditujukan pada makhluk yg berjenis kelamin laki2 atau wanita.

Jadi ketika seseorang bertanya, "man aynama Allah"...nah ini sudah salah, karena apa ?..karena merendahkan isim Allah untuk di samakan dengan isim mufrod yg fungsinya dijadikan kata tunjuk untuk laki atau perempuan.

Berbeda jikalau pertanyaanya adalah..." Man huwa Allah / Siapakah Allah itu ?"....nah ini dari segi nahwu pertanyaanya bisa dijawab dan dari segi nahwu benar secara kalimat.





makasih atas tambahannya gan
Ane tambahin lagi ya...

Coba agan TS buka spoiler di bawah ini...

Spoiler for Muslim.or.id:


Salafi memahami Allah dengan bertempat di langit, akan tetapi coba agan lihat di image di atas yg di kasih tanda merah..

Ini artikelnya ane ambil langsung dari situs muslim.or.id...

Kira-kira ada keanehan gak dari artikel tsb dalam meng-artikan ayat yg ane kasih tanda merah tsb ?..

Ini belum masuk ke pembahasan nahwu ya..
Ane langsung to the point aja ya..

Ambil contoh ayat seperti yg dikutip di web muslim.or.id..misal al 'araf ayat 54 yg berbunyi..

"tsuma istawa 'alal arsy"....

di web nya muslim.or.id diartikan ayat tsb menjadi "Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana)."..

Ini peng-artian ayat al 'araf ayat 54 yg dilakukan oleh web muslim.or.id adalah SALAH BESAR !!.

seharusnya dipahami ayat nya adalah " Kemudian beristawa di atas arsy".

Nah kesalahan fatalnya ini adalah pihak salafi tidak memahami kata istawa tersebut sebagai suatu fi'il mudhori atau kata kerja yg dilakukan terus menerus..

Begitu juga di surat Thaha ayat 5 yg berbunyi "arrahmanu istawa 'alal arsys", pihak web tsb memahami dengan mengartikan “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Lagi-lagi inipun salah besar juga, dan sama seperti ayat sebelumnya di atas yg tidak memahami apa itu istawa..

Istiwa bukanlah dipahami sebagai suatu khobar majrur yg menunjukan kepada makna tempat / zhorful makaan keberadaan Allah, akan tetapi dimaknai sebagai suatu fi'il kata kerja yg dilakukan Allah di arasy.



.....sundul dulu ah...biar ada yg menyanggah dengan keilmuan juga dari pihak salafi.
Quote:Original Posted By modmodol
Ane langsung to the point aja ya..

Ambil contoh ayat seperti yg dikutip di web muslim.or.id..misal al 'araf ayat 54 yg berbunyi..

"tsuma istawa 'alal arsy"....

di web nya muslim.or.id diartikan ayat tsb menjadi "Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana)."..

Ini peng-artian ayat al 'araf ayat 54 yg dilakukan oleh web muslim.or.id adalah SALAH BESAR !!.

seharusnya dipahami ayat nya adalah " Kemudian beristawa di atas arsy".

Nah kesalahan fatalnya ini adalah pihak salafi tidak memahami kata istawa tersebut sebagai suatu fi'il mudhori atau kata kerja yg dilakukan terus menerus..

Begitu juga di surat Thaha ayat 5 yg berbunyi "arrahmanu istawa 'alal arsys", pihak web tsb memahami dengan mengartikan “Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Lagi-lagi inipun salah besar juga, dan sama seperti ayat sebelumnya di atas yg tidak memahami apa itu istawa..

Istiwa bukanlah dipahami sebagai suatu khobar majrur yg menunjukan kepada makna tempat / zhorful makaan keberadaan Allah, akan tetapi dimaknai sebagai suatu fi'il kata kerja yg dilakukan Allah di arasy.



.....sundul dulu ah...biar ada yg menyanggah dengan keilmuan juga dari pihak salafi.


waaah manstaaab nih gan penjelasannya, kalo dah pake nahwu , sorof, balagoh, mantik.....tapi btw si TS & co pada bisa ga yah? ane sih memang jujur ga bisa...hehehehehe