

Komentar Soeharto Usai Lihat Film G 30 S
Sabtu, 29 September 2012 | 10:23 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Film Pengkhianatan G 30 S/PKI sering dianggap sebagai versi rezim Orde Baru terhadap peristiwa Gerakan 30 September 1965. Presiden Soeharto mengomentari film itu usai menyaksikannya pada Januari 1984. Banyak yang belum diceritakan, ujar Soeharto dalam artikel Pengkhianatan Bersejarah dan Berdarah di Majalah TEMPO edisi 7 April 1984. Karena itu akan dibuat satu film lagi, kelak."
Film Pengkhianatan G30S PKI disutradarai Arifin C Noer. Film ini dianggap sebagai propaganda rezim Orde Baru terkait Gerakan 30 September 1965. Peristiwa itu berbuntut pada tumbangnya Soekarno yang digantikan rezim Soeharto. Film ini membatasi periode sejarah hanya pada enam hari genting dalam sejarah Rl, 30 September sampai dengan 5 Oktober 1965. Pengkhianatan G30 S PKI dianggap cukup kaya dengan detail. Apalagi latarnya berpindah-pindah dari Istana Bogor ke rapat-rapat gelap PKI, kemudian ke rumah Pahlawan Revolusi lalu ke Lubang Buaya. Namun inti cerita diketahui orang banyak dan plotnya sederhana. "Persis diorama di Lubang Buaya," kata sutradara Arifin C Noer.
Dalam Pengkhianatan G30S PKI, terdapat tiga tokoh sentral yang menjadi sorotan: Presiden Soekarno, Mayor Jenderal Soeharto, dan gembong PKI DN Aidit. Soekarno diperankan Umar Kayam, Soeharto dimainkan Amoroso Katamsi, dan DN Aidit dibawakan Syubah Asa.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...at-Film-G-30-S
Film "Box Office" di Indonesia tahun 1984, dan Dampaknya thd Paham Komunis
Tempo, pada September 2000 silam, membuat jajak pendapat tentang pengaruh film yang disutradarai Arifin C. Noer ini. Hasil indoktrinasi lewat buku sejarah dan media propaganda itu sungguh dahsyat. Responden dari 1.110 pelajar SMA di tiga kota (Surabaya, Medan, dan Jakarta) jadi begitu konservatif, menolak semua yang berbau PKI dan komunis.
Menurut sebagian besar responden, komunisme itu melulu paham yang antiagama (69 persen) dan sangat radikal (24 persen). Meskipun komunisme sudah ditumpas puluhan tahun silam dari bumi Indonesia -dan tak laku dijual sebagai ideologi di berbagai negara- banyak yang masih percaya ia akan bangkit kembali (47 persen). Karena itu, separuh responden berpendapat sebaiknya komunisme tak diajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Buku-buku tentang komunisme juga sebaiknya dilarang beredar.
Sebagian besar responden juga percaya adegan yang ada dalam Pengkhianatan G30S/PKI itu benar-benar terjadi. Padahal, faktanya belum tentu demikian. Sulami, seorang bekas anggota Gerwani, organisasi onderbouw PKI, contohnya, menyangkal ada anggota kelompoknya yang menari-nari di Lubang Buaya sewaktu para jenderal dibawa ke sana, seperti yang digambarkan dalam film itu. Kepada Tempo, Sulami bahkan menolak disebut terlibat dalam gerakan penculikan itu.
Menurut data Peredaran Film Nasional yang tertulis dalam situs filmindonesia.or.id judul semula Pengkhinatan G 30 S/PKI adalah SOB (Sejarah Orde Baru). Karya berdana Rp 800 juta tersebut menjadi film terlaris pertama di Jakarta pada 1984 dengan 699.282 penonton. Jumlah ini merupakan rekor tersendiri, yang belum terpecahkan hingga 1995. Tapi ketika reformasi bergulir, pada September 1998, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah mengumumkan film yang dibuat pada 1984 ini diputuskan tidak diputar atau diedarkan lagi. Begitu juga film-film Janur Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1981). Alasannya, berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seorang presiden.
http://www.tempo.co/read/news/2012/0...da-Berhasilkah
Inilah Penjelasan Resmi Soeharti tentang G30S/PKI

Dan inilah tanggapan Presiden Gus Dur atas Soehato, komunis ...

---------------------------------

Sejarah NKRI memang penuh warna-warni semenjak zaman kumpeni VOC dulu. Apa yang dilakukan para pendahulu kita, adalah bagian sejarah dari bangsa ini. Kalau hari ini bangsa kita mulai maju dan mulai makmur, itu juga karena akibat sejarah kita yang pernah terjadi di masa lalu. Indonesia sekarang menjadi bangsa besar dengan penduduk 250 juta jiwa, terbesar ke empat di dunia, sedang menuju menjadi 10 negara maju di abad ini, adalah sebuah realitas yang tak boleh kita pungkiri ... dan itulah salah satu sumbangsih para tetua kita di masa lalu!
Quote:Original Posted By dadoel ►
Kita harus bersyukur dengan Negeri ini,
sebab untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban modern,
kaum komunis atau tepatnya partai komunis nomor 3 di dunia waktu itu (tahun 1960-an, jamaah PKI itu berjumlah sekitar 3 juta orang, nomor 3 setelah Partai Komunis China dan Rusia), bisa mereka hancurkan tanpa sedikitpun ditolong negeri Barat.
Siapa sangka, kekuatan komunis terbesar di luar China dan Rusia itu, bisa dihancurkan rakyat Indonesia dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Begitu efektifnya kita memusnahkan bibit-bibit komunis itu, bahkan Barat pun terheran-heran kalau bangsa ini, dengan caranya sendiri, bisa menghancurkan kekuatan komunis tanpa biaya yang mencapai ratusan miliaran dollar seperti yang mereka lakukan selama perang dingin.
Kehancuran komunis di Rusia, awal 1980-an lalu, diyakini hanya "meneruskan" apa yang pernah dilakukan rakyat Indonesia di tyahun 1960-an lalu.
Makanya, ke depan, ada juga yang percaya, bahwa NEOLIBS pun akan dihancurkan pertama kalinya (seperti komunis itu), juga di negeri ini. Dan tanda-tanda kesana, kini sudah semakin nyata ....





