Wel Sie Rio? Fel Mie...................

Selamat datang di trit ane

Ini Proyek iseng untuk mengisi waktu saya yang akhir akhir ini terasa semakin gak mutu

Ini cerita sebetulnya gak bisa disebut cerita sih, lebih tepat opini dan unek-unek yang disampaikan secara narasi. Bukan Romance meski hanya ada dua tokoh yang bakalan tampil di cerita ini (bisa juga bertambah sih). Mungkin juga da sentuhan sedikit, siapa tahu. Saya sendiri belum tahu kemana cerita ini akan dibawa.

Cerita ini, tentu saja murni fiksi

Ini juga proyek tulisan (setengah serius) saya yang pertama sejak 6 tahun lalu. Dan sungguh saya berharap ini bakalan konsisten. Biasanya mutung mulu sih

Oh, Judul, judulnya kira kira artinya : Who are you? I am...........
diambil dari lagu Tindharia no Tane nya Haruka Shimotsuki, ini bahasa buatan hahahahaha

Selamat menikmati

Quote:
Kapan lagi ku tulis untukmu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu

~Jikustik-Puisi

Prelude

Prelude

Mendung......

Bahkan sekarang masih bulan september, dan mendung menggantung begitu rendah di langit. Kelabunya mungkin hanya bisa dikalahkan suramnya musim dingin di daerah empat musim. Harusnya ini timing yang tepat untuk lawakan tentang fifty shades of gray, tapi aku belum membacanya, tak adil menilai buku dari apa kata orang. Bukankah begitu kawan?

La Nina.......

Aku bukan ahli klimatologi tapi pengetahuan umumku cukup untuk tahu arti kata itu. Menarik bagaimana kata feminim – Nina diasosiasikan dengan hujan, dan air sementara fenomena alam lain yang antagonis, dinamakan Nino- kata maskulin – untuk pembawa angin kering. Ah dan menariknya, meskipun Nina dan Nino berasal dari bahasa Spanyol, Spanyol sendiri bukan daerah yang kena pengaruh langsung kedua fenomena ini.

Ah baiklah, Oke – Amerika latin kena pengaruhnya, dan mereka berbahasa Spanyol kecuali Brazil. Jadi kupikir mereka yang bertanggungjawab untuk penamaan yang – tidak terlalu menarik ini.

Dan di depan terbentang.........

Sebuah komplek yang luar biasa luas, bahkan untuk anak kampung sepertiku. Tapi sudah kubilang bukan kawan, aku cukup percaya diri dengan pengetahuan umumku, dan aku yakin tidak banyak komplek yang lebih luas dari Kampus ini di negara ini.

Panjang jalan arteri nya lebih dari 3 kilometer, Dijejali oleh sekolah dari jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi. Pilot Project dari negara ini. Dan jarang sekali yang masuk dari SMA luar sepertiku.

Yang cukup mencemaskan...........

Aku bukan tipikal orang yang mudah berbaur, dan bisa dibilang benci penyesuaian. Mungkin akan lebih mudah jika dalam kelompok berisi orang orang yang sama sekali belum pernah mengenal satu sama lain, semua akan mulai dari nol untuk bersosialisasi. Andai saja, tapi kebanyakan dari mereka yang akan kutemui nanti berasal dari tempat yang sama, percayalah. Akan jauh lebih sulit

Tapi tak apa, ini bagian dari proses dan aku lebih suka bagian yang paling menyakitkan ditaruh di depan


Prelude Off

Chant 1 : Hortensia

Akademi Saraswati tidak mengenal Orientasi bagi para murid baru. Untuk alasan yang bagus, Orientasi cenderung membuat ligkaran setan senioritas, dan tentu saja sebagai Akademi yang beradab, hal seperti itu tak dierlukan bukan. Lagipula semua murid sudah belajar disini sejak masih orok – itu hiperbola tentu saja- , mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
Tapi selalu ada daftar negatif- Dan salah satunya

Dia mendapat beasiswa untuk mengambil studi Ekonomi di Akademi ini. Bukan, dia bukan anak pintar. Lebih karena keberuntungan semata. Ketika ada 5 lowongan dan yang mendaftar 10.000 orang, tak masalah seberapa jenius kau, semua akan kembali ke hukum yang baling dasar : yang beruntunglah yang tertawa. 5 lowongan itu kosong karena ada siswa yang belajar ke Akademi lain di luar negeri, sehingga anggaran yang harusnya dipakai siswa-siswa tersebut tak bertuan. Nah kuberitahu kau kawan, ini lemahnya performance based budgeting. Sebagai pengguna anggaran, itu anggaran harus habis, jika tidak, anggaran tahun depan bakal disunat. Karenanya mereka buang-buang duit buat membiayai sekolah anak yang – tidak terlalu istimewa macam Dan.

Tidak ada Orientasi ini seperti pisau bermata dua buat Dan, dia tak suka dibentak dan disuruh-suruh Senior, tapi tak ada Orientasi artinya masuk kelas tanpa tahu seorang pun. Dan bukan orang yang pandai bersosialisasi dan dia tak terlalu keberatan dengan kesendirian, tapi dia tahu betul lebih dari siapapun bahwa tak mungkin menjalani 4 tahun disini tanpa bersentuhan dengan orang lain.

-----------------

Seorang pengajar berdiri di depan kelas, kelas yang sungguh luar biasa setidaknya bagi anak kampung macam Dan. Ruangan ini berjenjang dan membentuk lengkung besar. Hiasan lampu kristal bergaya Timur Tengah di tengah langit langit. Papan Tulis, 9 buah yang bisa digeser dengan remote oleh sang Pengajar.

“Baiklah” ucap sang pengajar “Karena ini baru pengantar saja, saya cukupkan sampai disini, Untuk tugas, berkelompok dua orang – buat paper tentang inflasi, dikumpulkan minggu depan – ini pasangan kalian”
Dengan klik, layar LCD menampilkan kombinasi nama-nama asing
“Karen? Cewek?” gumamnya

“Aku Karen”
“Aku Dan, senang bertemu......”
“Oho, jadi ini anak baru itu, pantas aku tidak mengenal namamu”

Memotong perkataan orang, ini sulit – pikir Dan. Dan tidak pandai berurusan dengan cewek macam ini, ah koreksi – Dan paling tidak pandai berurusan dengan cewek macam ini – karena secara umum dia tidak pandai bicara, dan berinteraksi

“Maaf” seperti otomatis Dan menjawab
“Ah jangan minta maaf, jadi – bagaimana dengan paper sialan itu. Jangka waktunya masih lama dan ada siaran ulang Balada Kupu-Kupu malam sore ini...” Karen menggantung kalimatnya

“eh.....Aku lebih suka mengerjakan hal yang paling menyakitkan di depan” kata Dan “dan kamu sudah menonton siaran langsung acara itu kan, jadi tidak jadi masalah kalau kita kerjakan sore ini saja” Dan menjawab ragu, 90% yakin cewek yang mengatakan “Tugas Sialan” saat pertama bicara dengan orang asing ini akan menolak mentah mentah usulnya.

Diluar dugaan Karen setuju. Dan jadi, mereka menemukan tempat yang nyaman untuk mengerjakan Tugas Sialan itu. Sebuah gazebo kecil yang bertebaran di setiap pojok kampus.

“Jadi bagaimana kau tahu aku sudah nonton” Tanya Karen curiga
“Cuma menebak, dari nada bicaramu yang agak menggantung, dan bagaimana kau menekankan pada kata siaran ulang” jawab Dan defensif

“Hooo......bocah yang menarik” seringai Karen

Chant 2 : As violent as a mugger

“Astaga, belum mengerti juga” Teriak Karen frustasi. “Bagaimana bisa kau masuk kemari, pasti orang-orang bagian seleksi sudah gila”

Dia telah berusaha menerangkan apa itu inflasi kepada Dan, selama hampir sejam dengan hasil nihil.

“Jadi inflasi gampangnya kenaikan harga barang dan jasa dalam periode tertentu, Demi Tuhan”

“ya, aku tahu. Tapi itu tidak menjelaskan bagaimana cacing yang kau sebut grafik ini berkerja” Jawab Dan membela diri.

“Sudahlah, istirahat dulu, Capek” Dia benar-benar kelihatan frustasi akan kebebalan partnernya.
“Bagaimana mungkin anak yang lulus SMA tidak mengerti masalah dasar macam ini” Karen bertanya, nada tak percaya mengganti nada frustasi.

“Aku ambil IPA di SMA”
“Ha? Yang benar saja, kenapa masuk Ekonomi?”
“yang gratis jurusan ini” Jawab Dan singkat
“itu saja? Gak ada alasan lain? Kau bakal kesulitan sepanjang tahu kau tahu?”
“Aku akan bisa mengatasinya, selama ini juga begitu”
“Heee....orang yang simpel eh” komentar Karen malas sambil menenggak kopi kalengannya.

“Jadi” kata Karen “Inflasi bukan hal buruk, ini alamiah, dan selalu terjadi, kapanpun, dimanapun”
“Interupsi” Dan mengacungkan tangan
“Apa” sahut Karen jengkel
“Itu mengabaikan fakta sejarah, mau dengar sedikit cerita?”
“dari mukamu kau akan cerita meskipun kularang” Karen merengut, tak tertarik

--------------------
“Tahukah kau, tingkat biaya hidup di Amerika Serikat sejak 1665 sampai 1776 adalah sama, tak ada inflasi......................”
“Interupsi tuan sejarawan, bagaimana membandingkan nilai pada jangka waktu yang begitu jauh”

“Ah ya, aku lupa, yang dibandingkan adalah tingkat biaya hidup relatif. Ada variabel lain yang perlu disesuaikan tapi secara umum, Orang butuh makan yang cukup untuk tetap hidup bukan, dan biaya yang dihabiskan untuk makanan itulah yang dihitung. Perhitungan aslinya agak rumit, tapi begitulah, tingkat biaya hidup antara 1665 sampai 1776 adalah sama, sama sekali tak ada Inflasi, dan coba kautebak apa yang terjadi di Amerika Serikat pada 1776”
“Hell if i know” jawab Karen suntuk “oh...tunggu”

“Yap, Perang Kemerdekaan, jadi selama perang mereka kekurangan emas untuk membayar Prajurit, dan sebagai gantinya mereka mencetak uang kertas, pada mulanya uang ini dijamin dengan emas namun pada akhirnya, tidak, emasnya kurang dan semakin banyak uang kertas dicetak. Pihak kerajaan Inggris menyadari hal ini mengedarkan tiruannya, dan segera, nilai Uang Kertas ini jatuh”

“Jadi semua salah uang kertas?”
“Yah, bukan masalah salah atau benar disini. Dan sebagai catatan ketika 1783 perang berhenti dan uang kertas ditarik, tingkat inflasi kembali seperti sediakala. Jadi Ya, inflasi terjadi karena adanya fiat money. Bukan salah fiat money”

“Inflasi kembali naik ketika pecah lagi perang pada 1812 dan 1866” lanjut Dan “tapi segera kembali ke tingkat sama seteah perang berakhir. Disini bisa kita catat penyebab kedua, Perang”
“Kenapa Perang?” tanya Karen, dia tampak benar benar tertarik pada subjek ini kini.

“Karena banyak uang yang diinvestasikan untuk hal hal yang dimaksudkan untuk diledakkan. Ketika bom meledak tidak ada manfaat ekonomis buat negara yang membuat bom itu. Beda cerita kalau uang digunakan untuk membuat infrastruktur”

“Tapi setelah perang tingkat inflasi itu akan balik lagi kan, tak ada masalah” kejar Karen “Pelajaran sejarah yang menarik tuan Sejahrawan. Tapi sekarang Inflasi terus merangkak naik, kenapa?”

“1971, Bretton Woods standard dihapuskan. Sebelumnya nilai mata uang didasarkan pada emas, satu ons emas 35 dollar. Dengan dihapuskannya standar ini, semua mata uang di dunia ini hanya bersandar pada satu hal, Kepercayaan”

“Ah yah, bahkan aku juga tahu kalau itu, misalnya bagaimana negara yang menurut ekonom ekonominya bagus bisa menerbitkan obligasi dengan bunga lebih rendah, kapitalisme” Karen menghela nafas panjang.

Dunia sudah berganti warna menjadi Jingga cerah. Berapa hari ini la nina tampak sudah puas mencurahkan air diatas Akademi. Langit dengan bersitan awan yang juga mulai tersapu warna Jingga, dan burung burung yang mulai kembali ke sarang setelah seharian menghiasi langit.

“Maafkan aku Karen, sepertinya hari ini cukup. Kita masih punya 6 hari untuk tugas ini, aku punya kewajiban. Harus kembali ke asrama”
“Ah tak apa, kurasa itu cukup. Kita kumpulkan saja Linduranmu tadi. Toh Si Pegajar gak bliang apa apa tentang temanya, dia Cuma bilang tentang Inflasi”
“Baiklah, kalau begitu........sampai jumpa” Dan mengemasi isi tasnya dan berbalik.

“Dan...” Panggil Karen, Dan berbalik “Mungkin aku salah sangka, mungkin kau sedikit Jenius”
“Ah...............” Dan ternganga, belum ada yang pernah berkata begitu kecuali orang tuanya
“Jangan besar kepala, aku Cuma bilang sedikit jenius” Karen membalik tubuhnya. Sosoknya dilabur cahaya senja. Dan ternganga, Kalau ini anime mungkin lagu yang dimainkan adalah Yuuhiokanya Polyphonic Branch
“Baiklah, selamat tinggal” kata Dan setelah sadar dari trancenya
“Sampai jumpa besok” sahut Karen
yap, selesai, untuk hari ini.....
sedikit sentuhan Tsundere di akhir, can't help, wakakakakakkaka

untuk referensi :
Spoiler for referensi:
Interlude : On


Diluar jendela asrama, pemandangan yang sama sekali asing terbentang. Sementara kelelahan perjalanan beberapa hari lalu benar benar pulih. Bukan main hari pertama di Akademi hari ini, hari pertama dan tugas paper telah menanti. As expected dari Akademi pilot project.

Dan aku bertemu Dia

Mungkin cewek kota memang macam itu, pikirku. Mungkin hal itu memang sudah biasa. Mungkin aku yang terlalu kampung, atau mungkin ketika kau berada di tengah kumpulan orang aneh, maka yang normallah yang jadi orang aneh. Siapa tahu?

Dan sementara Aku menatap kosong ke arah lampu lampu yang menyemut di kejauhan. Menarik untuk tahu bahwa orang Yunani kuno berpikir saat kita melihat suatu benda, mata kita mengeluarkan semacam sinar, atau satu teori mengatakan bahwa intisari dari benda yang kita lihat masuk ke dalam mata kita. Sampai sekitar 1000 tahun lalu lahir Al Haitam.

Ah aku ngelindur lagi, orang capek memang lebih mudah beralih perhatiannya, meskipun dalam hal ini aku memang sering out of topic

Yap Aku capek. Fisik maupun Otak. Mungkin dia benar, Aku akan kesulitan mengejar pelajaran sepanjang Tahun. Mungkin masuk Akademi ini bukan pilihan bagus. Mungkin lebih baik aku tetap 12 jam perjalanan bus dari sini, di rumah. Mungkin mencari kerja – atau mengejar impian lama yang sudah lama dikunci dalam kotak kaca.

Rumah, “Orang ingin pulang ke tempat mereka dilahirkan sebelum mereka mati” pernah kudengar hal itu di anime lama. Seperti Resus dan Dukuh Paruk, ikatan dengan tempat lahir itu terasa kuat. Apalagi ketika kau berjarak 12 jam dari Rumah. Ya ampun, dan Aku baru disini selama 2 hari.

Ah tapi ini sudah kuputuskan sendiri, tanpa paksaan siapapun. Tidak ada yang bisa disalahkan selain diriku sendiri dan aku tidak ingin menyalahkan diriku sendiri. Lagipula seperti yang ku katakan kepadanya : Aku akan bisa mengatasinya, selama ini juga begitu.

Lalu daya tahan tubuh tak mampu lagi menghalau kantuk yang menggerogoti. Sementara kota yang hampir tak pernah tidur ini terus berputar dengan iramanya sendiri.

I don't regret this life I chose for me.

-Daughtry - Home


Interlude : Off

Chant 3 : Stranger than Fiction

Life.....it;s begin when you first make distinction between yourself and others
From that moment, the world becomes a stage for the story in which you are the main character
Yet, all people exist in an illusion in which they are the main character



Hari-hari berikutnya menjadi sedikit mudah untuk Dan, dia mulai berkenalan dengan beberapa orang yang berada di kelas yang sama, dan meskipun baru dalam tahap ber-hai ketika bertemu di kelas ataupun jalan, itu sudah cukup buat Dan. Setidaknya dia tak lagi merasa terisolasi total.

Begitu pula dengan pelajaran. Perlahan ia mulai mengikuti, setidaknya menerka apa maksud yang diucapkan pengajarnya. Sekalipun harus bekerja dua kali lipat dari mereka yang sudah terbiasa dengan ilmu sosial. Seperti hari ini, setumpuk buku setengah meter di atas meja taman. Belum satupun tersentuh. Ia jenuh

“Yo” sebuah suara memanggil

Dan menoleh, ah Karen. Dua minggu sudah berlalu sejak tugas pertama itu dan Mereka masih saling berjumpa kadang-kadang untuk “Kegiatan Klub”. Entah klub macam apa yang dia maksud.

“Sore”
“Mukamu suram sekali sore ini, sesuram kisah percintaan Boim” ucap Karen bercanda
“Yah” gumam Dan “Nggak seperti kisah percintaanku lebih baik dari dia”
“Apa?”
“Nah, bukan apa-apa” potong Dan malu, “Eh Karen, kenapa kita masih bertemu macam ini, tugas itu sudah selesai kan, tidak ada alasan buatmu untuk kemari” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Nah pembaca sekalian, Dan tidak berpengalaman berbincang dengan orang, apalagi dengan cewek. Dia gak sadar kalau pertanyan macam itu buntutnya akan panjang. Setidaknya buat cewek normal. Untung Karen agak......err.....diatas normal.

“Alasan eh, tidak ada alasan khusus” jawab Karen setelah beberapa saat berpikir
“Bukankah semua harus ada alasannya” sambar Dan “Bahkan ada alasan untuk hal paling konyol sekalipun, misalnya teori bahwa bumi ini bolong dan ada makhluk yang hidup di perut bumi”
“Coba kupikir, alasan............”


“Bagaimana kalau begini, Ini adalah sebuah cerita, kau tokoh utamanya, dan penulis ingin aku jadi temang ngobrolmu, bagaimana?” Karen mengajukan alasan yang luar biasa konyol
“HA” Dan shock, “Dunia ini dalam cerita?”

“Yap” jawab Karen, mukanya santai, bukan muka orang yang ingin melucu, bahkan Dan jadi yakin dia tidak sedang bercanda
“Pernah nonton Stranger than Fiction?, mungkin seperti itulah. Cuma aku belum mendengar narasi dikepalaku. Bagaimana denganmu?” Tanya Karen sambil nyengir.

“Tidak, terima kasih aku belum gila”


Hahahahhahaa, mereka tidak dengar. Mungkin narasiku kurang keras, mungkin haus kunaikkan volume narasiku, mungkin......................


“Yah mungkin saja memang benar begitu” kata dan akhirnya, setelah termenung lumayan lama
“Oi oi” Karen berreaksi, dikibaskan tangannya didepan muka Dan “Yang tadi itu bercanda loh, ber.can.da”
“Pernah dengar Holographic principle?”
“eh...apa?”
“itu teori sains, belum terbukti dan sayangnya bahkan belum ada model matematikanya, tapi sangat menarik untuk dibayangkan, ahahahahahah” Dan tersenyum lebar “Dan terkait dengan apa yang kita bicarakan tadi”

“Kau tampak sangat menikmati sesuatu yang kau tahu dan aku nggak tahu” Karen membuang muka
“Hahahahhaha maaf” balas Dan “Aku juga Cuma tahu kulitna saja sih, Prinsipnya mereka bilang kalau seluruh Alam semesta ini adalah informasi dua dimensi yang ada di horizon kosmologis. Dengan kata lain apa yang kita lihat dan rasakan sebagai kenyataan tiga dimensi adalah proyeksi dari informasi dua dimensi itu. Persis seperti proyektor di bioskop”

“Konyol” sahut Karen “Sama konyolnya dengan teori bumi bolong”
“Mungkin” timpal Dan “atau mungkin juga tidak terlalu konyol, Sains yang kita anggap benar sekarang lebih aneh dan ajaib dari gambaran sihir abad pertengahan. Namun toh itu yang memberi kita semua ini, listrik, telepon, wi-fi, mikrochip”


“Jadi bagaimana denganmu, Kau percaya omong kosong bahwa dunia kia tak nyata?” Debat Karen sengit.
“Aku tidak tahu” jawab Dan tenang “Tapi ini terlihat cukup nyata buatku, fakta bahwa aku duduk disini dan bicara denganmu, dan bagaimana aku menikmati tiap detiknya”
Wajah Karen memerah, “Berisik” katanya “Kau baru mengatakan hal yang memalukan, kau tahu itu”
“Mungkin”
“Berisik, dan jangan jawab aku dengan Mungkin”

Dan hanya bisa tertawa. Saat saat seperti ini Karen terlihat seperti cewek normal. Dan seiring dengan matahari yag semakin tenggelam Dan berpikir, kapan dia terakhir tertawa selepas ini............
yak, trivia time

Spoiler for referensi: