KASKUS

Anggota DPR: Ada Upaya Identikan Teroris Dengan Islam

Anggota DPR: Ada Upaya Identikan Teroris Dengan Islam

Jakarta (ANTARA) - Anggota DPR dari Fraksi PKS Indra mengatakan ada upaya sistematis yang terus menerus mengidentikan terorisme dengan Islam, pesantren, aktivis Islam dan simbol-simbol keislamanan lainnya.

"Padahal tindakan terorisme, sebagai bentuk tindakan teror bisa dilakukan oleh siapa saja dan agama apapun," kata Indra, di Jakarta, Senin.

Menurut dia, fakta yang ada, yakni tindakan teror berupa penembakan dan pembunuhan atas warga sipil dan aparat kepolisian/militer yang terjadi di Papua, tidak disebut sebagai tindakan teroris atau teror yang dilakukan RMS di Maluku juga tidak disebut sebagai teroris, dan sebagainya.

"Jadi jika sampai saat ini tindakan teror masih terus terjadi, jangan lantas pemerintah bersikap kalap dengan menyalahkan dan menyudutkan ulama atau agama Islam," katanya.

Indra mengatakan harus dipahami dan diingat terorisme tidak mengakar pada budaya Islam.

"Islam adalah agama kasih sayang yang rahmatalil alamin," kata anggota DPR ini.

Indra juga mengemukakan apabila penanggulangan terorisme masih berorientasi "proyek dana asing" dan terus menyudutkan serta mengkambing-hitamkan umat Islam, maka terorisme tidak akan hilang di bumi pertiwi ini.

"Sangat mungkin kebijakan pemerintah melalui BNPT & Densus 88 justru membuat `semakin marak` tindakan terorisme," kata Indra.

Dia berharap pemerintah harus jujur dalam mengungkap dan menganalisa sumber serta latar belakang tindakan terorisme.

"Sudah sangat terang-benderang bahwa ketidakadilan, diskriminasi, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kegeraman masyarakat atas prilaku korup, prilaku menyimpang dari pemerintah dan beberapa elit bangsa, merupakan sumber/motivasi utama tindakan teror yang lahir dari kekecewaan/frustasi seseorang atas kondisi-kondisi tersebut," katanya.

Indra juga mengatakan bahwa kefrustasian tersebut sering diperalat dan ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan politik tertentu.

"Lihat saja gejala dan fakta selama ini, isu terorisme biasanya akan marak pada even-even tertentu, misalnya saja menjelang pemilu, menjelang datangnya pejabat dari negara donor program penangulangan terorisme, ketika ada isu/skandal besar menguncang pemerintahan, dan sebagainya," kata Indra.(rr)

waspada  (id.berita.yahoo.com)

waspadalah kejahatan terorganisir besar-besaran yang dilakukan megaloman haus kekuasaan ... siapapun dan apapun dikorbankan demi mencapai ambisinya



TARGET JANGKA PANJANG SINETRON TERRORISME

Quote:Islam Selalu Tertuduh  (old.kaskus.co.id)
MENDADAK TERRORIST  (old.kaskus.co.id)
PESANTREN RIWAYATMU KINI  (old.kaskus.co.id)
KRIMINALISASI PEMIKIRAN ISLAM  (old.kaskus.co.id)



kliping dana asing melawan terror

Quote:pendanaan densus (1)  (old.kaskus.co.id)
pendanaan densus (2)  (old.kaskus.co.id)
negara jangan ikut campur  (old.kaskus.co.id)
AS Menyumbang US$ 15 Juta Memerangi Terorisme  (old.kaskus.co.id)
AS Kembali Membantu Polri   (old.kaskus.co.id)
kliping dana asing untuk perang melawan terror 4  (old.kaskus.co.id)



kejanggalan atau salah skenario dari berbagai peristiwa

Quote:
Pengamat Anggap Janggal Pengakuan Terduga Teroris Solo  (www.kaskus.co.id)
kejanggalan atau salah skenario dari berbagai peristiwa  (old.kaskus.co.id)
Pelaku Teror di Solo Desertir polisi ?  (old.kaskus.co.id)
Mantan Petinggi BAIS: 'Teroris Tambora dan Depok', Rekayasa yang Mudah Ditebak  (old.kaskus.co.id)
Mantan Petinggi BAIS: Bongkar Pertemuan Petinggi BNPT di Markas Kopassus Kartosuro!   (old.kaskus.co.id)


serba serbi

Film “Inside Indonesia’s War and Teror” Dokumentasikan Keterlibatan Negara Dalam Teror di Indonesia  (old.kaskus.co.id)





Quote:Original Posted By Earth.Index
Ya si Ansyaad Mbai itu biang keroknya

Dia kan pimpinan operasional penanganan terorisme dan narkoba di Indonesia

Pengedaran Narkoba kita diatur sama dia, dan sudah jelas sejak jaman kasus ekstasi monas. Selama orang ini masih ada ya susah

Ya jelas aja dia bilang teroris didanai narkoba. Dia punya narkoba, dia punya anak buah di cell2 terroris yg asli. Agenda dia dari dulu udah kelihatan dan sponsornya sudah jelas.

Densus, Mbai, dan Media Sekuler Sembrono; Skenario Orang Rakus  (old.kaskus.co.id)
Harusnya marahin Terorisnya... Kenapa suka bawa2 simbol tersebut dalam aksinya... mana biasanya pake rekaman video sebelum meledukan diri juga suka bawa2 simbol tersebut di videonya...



Hati2 Ada Upaya Menggiring Opini untuk Membenturkan Simbol Suatu Agama dengan Aparat Keamanan RI dalam Memberantas Terorisme...

Opini di Giring Ke Agama... supaya para teroris mendapatkan dukungan mayoritas... Padahal tidak sedikit tindakan Teroris yang ikut mengorbankan Nyawa dan Harta Muslim di Indonesia...:

Mulai Banyak Antek2 dan Jubir-Jubir Teroris di sini... Waspadalah !!!
bukan upaya lagi gan,tapi emang sasarannya itu biar image Islam hancur
Semuanya demi dana yg ngucur dari yg nglancarin perang lawan terorisme ...
2 pihak yg saling musuhan bisa jadi makan dari dana yg sama

Peduli amat dah, yg penting duit masuk kita semua seneng n makan enak:
hati-hati issue begini lagi trend dipakai untuk meraup suara.
tuh di thread sebelah. tsnya sendiri yang nyambung2in, ngebela teroris pake nama islam.
Kok baru sekarang anggota dpr nya ngomong gitu ..... ?

Kemarin ke mana saja

siapa itu densus 88 1

Membongkar Densus 88 Anti Teror


Ada beberapa alasan yang mungkin menjadikan Asia Tenggara menjadi fokus AS dalam memberantas terorisme, antara lain:

  • 1. Seperti yang diberitakan, ada koneksitas antara Asia Tenggara dengan serangan 11 September. Beberapa pembajak, termasuk petinggi-petingginya yaitu Muhammad Atta dan Zacarias Moussaoui yang sejauh ini diklaim AS memiliki keterlibatan dengan serangan11 Septermber.

  • 2. Sebelum serangan 11 September terjadi, AS memperingatkan mengenai operasi kelompok-kelompok diangkapan militan di kawasan Asia Tenggara, termasuk beberapa diantaranya memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaedah, antara lain Al-Maunah (Malaysia), Laskas Jihad (Indonesia), MLF Filipina (Moro Liberation Front).

  • 3.Asia Tenggara adalah rumah dari umat Islam, di mana Indonesia dan Malaysia meyoritas berpenduduk Muslim.


Dengan ketiga faktor diatas, kemudian dengan peristiwa Bom Bali-Indonesia. 12 Oktober 2002, memperkuat kesan bahwa Asia Tenggara akan menjadi kawasan penting dalam “perburuan” AS memperluas hegemoninya dengan instrument “war on terrorisme”.

Densus 88 Anti Teror dan Penanganan Terorisme di Indonesia

Detasemen Khusus 88 Anti Teror atau Densus 88 adalah unit satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan terorisme di Indonesia. satuan khusus yang berkapasitas 400 personel ini mendapat pelatihan khusus dari mantan pasukan khusus AS dari FBI, CIA, dan U.S Secret Service. Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004.

Detasemen berlambang burung hantu ini, personelnya direkrut dari polisi-polisi terbaik dari seluru Indonesia. Untuk mendukung operasional kerja anggota Densus 88, Detasemen ini dilengkapi dengan persenjataan lengkap dari AS, seperti senapan serbu Colt M4, senapan serbu Steyr AUG, HK MP5, senapan penembak jitu Armalite AR-10, dan Shoghun Remington 870, bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya.

kinerja Densus 88 banyak dipertanyakan di kalangan pengamat hukum dan masyarakat, dan banyak melihat Densus sering melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum (unprosedural) serta kurang bisa berkoodinasi dengan lembaga TNI dan BIN. Bukti yang paling nyata adalah kasus penanganan teorisme di Medan (Sumatera Utara) baru-baru ini.

Dengan dipimpin langsung oleh Kalakhar BNN Komjen Gories Mere, Densus 88 Anti Teror ( yang sebenarnya sudah dibubarkan) menyerbu Bandara Polonia Medan tanpa mau melakukan koordinasi dengan TNI Angkatan Udara yang menjadi Tuan Rumah di Bandara Polonia Medan. Densus 88 Anti Teror pimpinan Gories Mere dikecam oleh TNI AU pasca penyerbuan Bandara Polonia Medan, TNI AU melayangkan surat protes secara resmi ke Polda Sumut.

Besarnya gelombang protes dan keluhan dari publik terhadap kinerja Densus 88, adalah bukti lain terhadap buruknya kinerja Densus 88, Keluhan-keluhan tersebut berupa tindakan salah tembak yang telah berulang berkali-kali, penangkapan yang keliru, dan proses persidangan yang didramatisir.

Dan Jika hal ini tidak segera dibenahi maka densus yang sejatinya memberikan rasa keamanan bagi masyarakat malah menjadi momok yang menakutkan di mata masyarakat, dan tak ubahnya dengan teroris bertopeng aparat hukum dan menjadi “teror Negara” kepada masyarakatnya.

Setidaknya, ada beberapa hal yang dipertanyakan publik,
terkait penangkapan yang tak sesuai prosedur hukum,
tembak mati terhadap mereka yang terduga teroris,
hingga persidangan yang penuh rekayasa.
Tak terkecuali, keberadaan senjata yang ditemukan polisi di Tempat Kejadian Peristiwa (TKP),
dan tudingan polisi terhadap aktivis Islam tertentu, atas sangkaan memberi bantuan pendanaan bagi teroris.


Kasus salah tangkap misalnya terjadi saat sejumlah aktifis pengajian Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di Pejaten, pasar minggu, Jakarta Selatan. Dari seluruh aktifis yang ditangkap kemudian dibebaskan karena tidak memiliki bukti yang kuat adanya keterlibatan tindak pidana teroris. Maka tidak salah kalau kemudian pihak TPM mengatakan kalau penangkapan di Pejaten penuh dengan rekayasa dan didramatisir.

Kontroversi lain dari tindakan Densus 88 adalah menembak mati (extra judicial killing) terhadap mereka yang diduga teroris. Padahal masih dugaan, bukan tersangka apalagi terdakwa. Eksekusi di Cawang misalnya, dari tiga yang tertembak, dua dikenali, seorang lagi tidak dikenali identitasnya.

Pertanyaannya, kalau belum dikenal, mengapa mereka dianggap teroris dan langsung ditembak mati. “Jika cara-cara seperti diteruskan, maka akan semakin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban” kata koordinator TPM Mahendradata (Majalah SABILI NO 24 TH XV11 24 Juni 2010).


Tren menembak mati juga merambah pada orang-orang yang selama ini tidak dikenal sebagai teroris. Sebut saja kasus penyerbuan terhadap perangkai bunga Hotel Ritz Carlton, Ibrahim, di dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Penyerbuan yang berlangsung selama 17 jam pada 7 Agustus 2009 itu, awalnya di dalam rumah itu diduga terdapat gembong teroris nomor satu Noodin M Top.

Ternyata, setelah rumah itu hancur lebur, di dalamnya hanya ditemukan sesosok mayat si perangkai bunga yang malam itu. Ibrahim pun dilegitimasi oleh Mabes Polri sebagai anggota jaringan teroris tanpa ada pembuktian secara hukum (Majalah Sabili No. 6 TH XV11 4 November 2010). Begitupun dengan kejadian penembakan orang shalat di rumah Ust. Khairul Ghazali di Jl Bunga Tanjung, Sumut, Ahad malam (19/92010).

Menurut Adnan Buyung Nasition, tindakan salah tembak Densus ini tidak sesuai dengan falsafah doktrin polisi dan tidak sesuai dengan hukum, sebab tugas polisi adalah menangkap dan menyerahkannya ke pengadilan, dan nanti pengadilan yang memberikan hukum dan vonis. Kalaupun terjadi perlawanan polisi atau densus hanya diperkenankan melumpuhkan dan tidak mematikan. Ujarnya saat ditanya oleh detik..com Jumat(12/3/2010).

Kejanggalan lain, juga diungkapkan Presidium Mer-C Jose Rizal Jurnalis, terkait latihan militer di Aceh. Awalnya, orang dikumpulkan untuk berjihad ke Palestina. Lalu datanglah Sofyan Sauri dari Brimob untuk melatih mereka, meski tidak ada pemberangkatan ke Pelestina. Tak lama kemudian, Sofyan kontak dengan orang-orang yang sudah dilatihnya untuk datang ke Jakarta.

Anehnya, Sofyan Sauri berhasil membawa orang-orang ini untuk berlatih menembak peluru tajam di Mako Brimob Kelapa Dua-Depok. “Coba bayangkan, Sofyan Sauri yang dikatakan disersi Brimob berhasil membawa orang-orang ini berlatih menembak di Mako Brimob. Jadi peristiwa Aceh ini direkayasa, untuk bargaining position dengan Amerika, termasuk mengalihkan perhatian dari kasus Century,” kata Jose Rizal. (Majalah SABILI No 24 TH XVII 24 Juni 2010).

Begitu juga dengan kasus penangkapan Ust. Abu Baasyir, yang penuh dengan rekayasa dan didramatisir.

Kepala Divisi HAM Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Ahmad Irwandi Lubis menegaskan, upaya hukum yang dilakukan Densus tidak boleh dengan cara yang justru melanggar hukum, apalagi menafikan Hak Asasi Manusia (HAM).

Hal itu diperlukan karena selain menjunjung asas praduga tidak bersalah (Presumtion Of Innocence), upaya pemberantasan terorisme juga harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan hukum dan masyarakat. Fenomena ini lanjut –menurut Irwandi- menunjukkan bahwa cara kerja Densus 88 sangat membabi buta dan dan unprosedural sehingga berimplikasi pada pelanggaran hukum.

Bahkan dalam pandangan Komisioner Komnas HAM Dr. Saharuddin Daming SH MH, memilih menghabisi tanpa putusan pengadilan yang berketetapan hokum tetap, Densus telah melakukan pelanggaran HAM berat. ”penjelasan pasal 104 UU N 39 Tahun 1999 tentang pelanggaran HAM berat adalah pembunuhan secara sewenang-wenang di luar hukum (Arbitrary/extra judicial killing” tandasnya. (Majalah SABILI No 24 TH XVII 24 Juni 2010).

#Pernah dimuat di buletin Sinai Mesir

  (www.islamicgeo.com)

siapa itu densus 88 (2)

Dana Asing Untuk Densus 88

Selain mendapat pelatihan langsung dari AS, Densus juga mendapat kucuran dana langsung dari AS. Dalam situs World Policy Institut dimuat sebuah laporan mengenai bantuan AS ke Negara-Negara Asing paska peristiwa 11 Semptember (U.S. Military Aid and Arms Transfers Since September 11), Indonesia tepat berada di bawa India dan Pakistan sebagai negara penerima suntikan dana dari AS.

Menurut sumber World Policy Institut, Indonesia tahun 2006 mendapat kenaikan bantuan dari program IMET (International Military and Education Training) sebanyak 800.000 dolar AS yang pada tahun 2004 Indonesia hanya mendapat bantuan sebesar 459.000 dolar AS dan Indonesia menerima bantuan 70 juta dolar AS dari Dana Bantuan Ekonomi, dan 6 juta dolar AS untuk dana anti-terorisme sebagai dana awal dari 12 juta dolar AS.

Hal yang sama juga terjadi pada negara tetangga yang menjadikan negaranya sebagai pangkalan militer AS di Asia Tenggara, Filipina, dengan imbalan bantuan dana yang sangat besar dari AS. Dalam laporan yang sama Filipina menerima antara tahun 2001 sampai 2005 total sebesar 157.300.000 dolar AS, untuk program FMF (Pendanaan Militer Asing/Foreing Militery Financial) sebanyak 145.800.000 dolar AS, dan 11.500.000 juta dolar AS untuk IMET (Bantuan Pelatihan Militer /International Military and Education Training).

Tahun 2006 Manila menerima bantuan FMF 20 juta dolar AS, dan 2.9 juta dolar AS untuk program IMET. Hal ini dilakukan AS untuk membantu Filipina dalam memberantas Pejuang Muslim Moro MLF (Moro Liberation Front) yang dituduh teroris oleh AS.

Sementara sumber East Timur, menyebut Lembaga-lembaga AS yang memberikan bantuan dana Asing dengan program pemberantasan terorisme, lembaga tersebut antara lain.:

Regional Defence Counterterorrorisme Fellowship Program/Regional Defense Combanting Terrorism Program (CTFP/Program Mememerangi Terorisme dan Pertahanan Regional). Lembaga ini memberikan bantuan dari tahun 2002 sampai dengan 2004, Indonesia telah menerima dana CTFP dalam jumlah melebihi Negara-negara penerima lainnya dan dua kali lebih besar daripada Filipina sebagai penerima terbesar urutan kedua.

Di tahun 2005 Indonesia menerima sebesar 878.661 ribu dolar AS dana CTFP, dan tahun 2006 sebesar 715.844 ribu dolar AS, dan untuk tahun 2007 sebesar 525.000 ribu dolar AS.

NADR: Non-proliferation, Anti-terrorism, Demining, and Related Programs (Non-Proliferasi, Anti-Terorisme, Pembersihan Ranjau dan Program Terkait), Lebih dari 30 juta dolar AS telah dialokasikan bagi Indonesia sejak tahun 2002. Unit kepolisian Detasemen 88, unit Kepolisian khusus yang didirikan dengan pengawasan dari pemerintah Amerika Serikat dan dilatih dengan pendanaan dari ATA.

Di tahun 2005 Indonesia menerima sebesar 275.000 dolar AS melalui dana NADR-EXBS dan pada tahun 2006 Indonesia menerima dari dana program yang sama sebesar 450.000 dolar AS, dan untuk tahun 2007 Indonesia menerima sebesar 1.180.000 dolar AS, dan tahun 2008 sebesar 465.000 dolar AS. (http://www.etan.org/news/2007/)

Harian The Age dan Sydney Morning Herald, juga menyebutkan, pemerintah Australia telah mengucurkan dana sebesar 40 juta dolar AS untuk pemberantasan terorisme, sedangkan 16 juta dolar AS diantaranya, rutin dikucurkan Australia setiap tahunnya kepada Densus 88 untuk agenda yang sama, bahkan untuk tahun 2004 bantuan itu meningkat 20 juta dolar AS per tahun. (Sabili Edisi November 2010).

Direktur Eksekutif Center For Indonesia Reform (CIR), Sapto Waluyo membenarkan fakta adanya bantuan dana asing yang mengalir ke kantong Densus, menurutnya beberapa waktu lalu, Human Rights Watch mendesak Pemerintah Australia menghentikan bantuan kepada Densus, hal ini dilakukan karena Densus dinilai melanggar HAM saat menangkap aktifis politik di Maluku dan Papua.

Dan dengan derasnya bantuan dana asing yang masuk ke kanton densus, ditambah dengan minimnya prestasi dan citra yang kurang baik dimata masyarakat, Densus mengajukan penambahan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebelumnya Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Anggaran Irjen Pol Pudjianto mengajukan anggaran operasional sebesar 30 triliun. Alokasi antara lain rp 58,3 miliar untuk dana alut dan alsus menangkal terorisme dan transnasional crime serta mencegah kejahatan terorganisir bersenjata api, dan Rp 30 miliar untuk dukungan operasional Densus. (Sabili edisi November).

Besarnya bantuan dan peran AS dan pihak Asing dalam tubuh Densus, menjadikan Densus terbelenggu oleh pesanan dan keingann pihak Asing. hal itu nampak dari kelakuan "intimidasi" Densus yang tidak berpihak kepada rakyatnya sendiri (umat Islam, dan lebih manut kepada keinginan pihak Asing yang memiliki pandangan stigmatisasi Islam sebagai teroris, radikal, dan fundamentalis, yang kemudian berkembang menjadi "teror negara" terhadap dunia pesantren dan masyarakat Islam.

Issu terorisme bukanlah permasalan pokok yang dihadapi dunia saat ini, issu terorisme yang dikampanyekan AS hanya wajah baru untuk menancapkan hegemoni AS dan melebarkan kekeuasaan dan pengaruhnya melalui penyebaran militernya. Hal pokok yang menjadi ancaman saat ini adalah ancaman kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan yang melanda dunia saat ini. Indonesia sebagai negara yang memiliki kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif tidak bisa mandiri bertindak sebagaimana di era Bung Sukarno yang berani berteriak kepada Amerika " go to hell with your aids", selama negara ini masih tergantung oleh bantuan Asing.

#Pernah dimuat di buletin Sinai Mesir

  (www.islamicgeo.com)
anggota DPRnya mau cari sensasi aja ah, anak2 sd jua tau teroris tuh gada hubungannya dg agama,betulkan gays?

kliping dana asing untuk perang melawan terror

Negara Jangan Ikut Terlibat

Jakarta, Kompas - Negara melalui aparatnya diminta jangan terlibat dan ikut mendalangi aksi terorisme. Besarnya aliran dana dari negara asing untuk membantu pemberantasan terorisme di Indonesia juga dinilai rawan disalahgunakan dengan cara tetap melanggengkan terjadinya teror.

Sejumlah tokoh masyarakat sipil dan lintas agama menyampaikan permintaan tersebut seusai pemutaran film dokumenter Inside Indonesia’s War on Teror di Jakarta, Senin (18/4). Film dokumenter yang dibuat wartawan Australia, David O’Shea, pernah ditayangkan stasiun televisi SBS dalam program ”Dateline” tahun 2005.

Ratna Sarumpaet yang menggagas penayangan film dokumenter ini menyatakan, meski tak setuju dengan keyakinan dan ideologi tokoh Islam yang selama ini disebut fundamentalis dan garis keras, dia masih mempertanyakan pendapat yang menyalahkan para tokoh itu untuk sejumlah aksi teror di Indonesia.

Dalam film dokumenter tersebut, David O’Shea antara lain mengaitkan besarnya bantuan negara asing bagi institusi kepolisian untuk kampanye pemberantasan terorisme dengan sejumlah temuan amunisi yang ternyata milik aparat negara.

Menurut aktivis hak asasi manusia Usman Hamid, film dokumenter David O’Shea menunjukkan adanya keterlibatan aparat negara dalam sejumlah aksi teror melalui suplai bahan peledak dan amunisi.

”Negara tidak akan berhasil melawan terorisme kalau masih ada aparat negara yang justru terlibat,” kata Usman. (BIL)

  (nasional.kompas.com)
Gara2 gerombolan pengangguran tolol bin idiot ini memperparah image teroris.
Quote:Original Posted By citox
Wah, emang jaraaang baaanget FPI bersikap lemah lembut dan lemah gemulai.

Satu lagi, FPI itu lemah lembut ketika memuja teroris.

Di Petamburan Osama Pahlawan, Obama Teroris  (nasional.inilah..com)

Jenazah Dulmatin Disambut Gegap Gempita oleh FPI  (www.tempo.co)


FPI Tolak Hukuman Mati Amrozi Cs  (news.okezone.com)
FPI Berharap Bisa Kawal Amrozi Cs Hingga Liang Lahat  (news.detik..com)

FPI emang lemah lembut bagi sesama penggemar aksi kekerasan. Benar2 fakta yang indah.

kliping dana asing untuk perang melawan terror 2/2002

AS Menyumbang US$ 15 Juta Memerangi Terorisme

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Amerika Serikat akan memberi bantuan dana sebesar US$ 15 juta kepada pemerintah Indonesia sebagai komitmen pendukung upaya memerangi terorisme di Tanah Air. Sedianya, dana itu akan diberikan secara bertahap selama beberapa tahun. Hal tersebut ditegaskan Menteri Luar Negeri AS Collin Powell dalam keterangan pers seusai bertemu dengan Tim Ekonomi Indonesia di Departemen Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (2/8) siang. Powell mengatakan, bantuan diberikan karena pemerintah AS merasa puas dengan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia pascatragedi 11 September 2001.

Sebelumnya, Powell telah menemui Presiden Megawati Sukarnoputri di Istana Negara. Saat bertemu dengan Presiden, Powell menegaskan kembali komitmen AS untuk membantu perekonomian Indonesia dan memerangi terorisme. Pertemuan juga membahas upaya pemerintah AS mendesak Kongres supaya mencabut embargo militer serta kerja sama dengan Polri dalam memerangi terorisme. Dengan topik pembicaraan yang sama, Powell juga bertemu dengan anggota Kabinet Gotong Royong yakni Menlu Hassan Wirajuda, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, dan Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, dan Tim Ekonomi Indonesia. Dalam pertemuan inilah, Powell menyatakan bahwa pemerintah AS akan membantu dana untuk memerangi terorisme [baca: Hassan-Powell Mengkaji Ulang Sejumlah Kesepakatan].

Kunjungan Powell ke Istana Negara sempat diwarnai sedikit ketegangan. Para wartawan kesulitan memperoleh informasi akibat penjagaan yang ketat. Selain itu, pihak keamanan AS juga mewajibkan wartawan mengambil jarak tiga meter dari Powell. Pasukan Pengamanan Presiden dan Protokoler Istana Negara, yang biasa mengatur wartawan istana, kali ini terpaksa harus mengikuti kemauan tamu negara. Pasalnya, tokoh negeri Paman Sam itu diminta sama sekali tak boleh didekati wartawan, meski hanya untuk dipotret. Pihak keamanan AS tidak ada yang mau memberikan komentar atas permintaan mereka dalam pengamanan khusus tersebut. Sementara Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Pers Istana Garibaldi menyatakan, permintaan keamanan Menlu Powell itu dituruti untuk kepentingan kerapian.

Sementara itu, puluhan orang dari Gerakan Pemuda Islam (GPI) dan Komite Perempuan Anti-militerisme (KPAM) berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Jakpus. Kelompok GPI tiba lebih dulu di depan Kedubes AS sekitar pukul 14.10 WIB. Namun setiba di depan kedubes, para pengunjuk rasa yang berjumlah sekitar 40 orang itu langsung ditahan polisi yang telah berjaga-jaga dari pagi. Alhasil, massa GPI hanya dapat berorasi di jalan depan kedubes. Mereka menolak kedatangan Powell karena AS dinilai telah memprovokatori pemerintah Indonesia untuk menangkap sejumlah tokoh Islam, seperti Ja`far Umar Thalib.

Selang 10 menit kemudian, kelompok dari KPAM tiba di depan kedubes. Namun, kedua kelompok itu tidak dapat bergabung karena dihalangi aparat keamanan. Walaupun sama-sama menolak kedatangan Powell, namun kelompok ini menyebutkan alasan yang berbeda. Menurut organisasi massa yang dimotori aktivis Yenni Rossa Damayanti ini, kedatangan Menlu AS hanya akan memperkuat militerisme di Indonesia. Padahal, militerisme telah banyak menelan korban terutama bagi kaum perempuan. Akibat aksi ini, sejumlah warga yang akan berurusan di Kedubes AS terpaksa tertahan di luar pagar karena pintu masuk ditutup.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)

  (berita.liputan6.com)
biasalah kerjaan kaum penyaru yg itu tuh yg suka menghalalkan segala cara demi bertambahnya member

ga heran gw

kliping dana asing untuk perang melawan terror 3/2003


AS Kembali Membantu Polri


Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Amerika Serikat kembali membantu Kepolisian RI. Kali ini, Negeri Adidaya itu bakal mengadakan pelatihan bagi personel RI serta menyumbang peralatan dan kendaraan yang nantinya dikerahkan buat kepolisian di sejumlah kota seperti Makassar, Sulawesi Selatan; Medan, Sumatra Utara; dan Yogyakarta. Demikian yang terangkum dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Duta Besar AS Ralph Boyce dan Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar di Markas Besar Polri Jakarta, Rabu (26/2) malam.

Menurut Boyce, kerja sama ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan profesionalisme kerja Polri yang di mata AS berhasil membuktikan kinerjanya lewat pengungkapan Kasus Bom Bali. Meski demikian, dia membantah bantuan ini berhubungan dengan penanganan terorisme ataupun investigasi kasus yang menewaskan lebih dari 180 orang itu. Selanjutnya, kedua negara sepakat mengadakan pertemuan tiga bulan sekali untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai.

Jika diuangkan, total bantuan yang diberikan AS berjumlah US$ 4,352 juta. Dengan rincian peningkatan pelatihan di lapangan sebesar US$ 2,5 juta, pelatihan hubungan polisi dengan buruh sebesar US$ 500 ribu, memerangi perdagangan manusia sebesar US$ 352 ribu, dan penyediaan 27 kendaraan angkut polisi sebesar US$1 juta. Selain dana itu, menurut Boyce, saat ini AS juga sudah menganggarkan lebih dari US$ 16 juta khusus bagi peningkatan kinerja Polri.

Janji bantuan belasan juta dolar itu sudah dikemukakan pemerintah AS lewat Menteri Luar Negeri-nya Colin Powell, Agustus tahun silam [baca: AS Menyumbang US$ 15 Juta Memerangi Terorisme]. Kala itu, Powell menyatakan akan menyalurkan dana itu secara bertahap selama beberapa tahun sebagai bagian dari komitmen upaya pemberantasan terorisme di Tanah Air.(MTA/Rishnaldi)

  (berita.liputan6.com)


If you like, you can add a score for this thread.
Quote:Original Posted By KimaxKaw
Harusnya marahin Terorisnya... Kenapa suka bawa2 simbol tersebut dalam aksinya... mana biasanya pake rekaman video sebelum meledukan diri juga suka bawa2 simbol tersebut di videonya...



Hati2 Ada Upaya Menggiring Opini untuk Membenturkan Simbol Suatu Agama dengan Aparat Keamanan RI dalam Memberantas Terorisme...

Opini di Giring Ke Agama... supaya para teroris mendapatkan dukungan mayoritas... Padahal tidak sedikit tindakan Teroris yang ikut mengorbankan Nyawa dan Harta Muslim di Indonesia...:

Mulai Banyak Antek2 dan Jubir-Jubir Teroris di sini... Waspadalah !!!


setuju max

up lagi post yang ini buat dilihat kaskuser lainnya

waspadalah terhadap ular dalam selimut
Teroris itu cuma pengangguran stres yang terbelit masalah ekonomi, dan mencari surga dengan kekerasan.
Quote:Original Posted By citox
Terduga Teroris Bayu Ingin Solo Seperti Ambon atau Poso
Isnaini - Okezone
Kamis, 06 September 2012 15:26 wib

JAKARTA - Bayu Setiono (22) terduga teroris Solo yang ditangkap di rumah mertuanya di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (31/8/2012), mengaku aksi penyerangan terhadap polisi, bukan dilatarbelakangi oleh ajakan seseorang.
"Kenapa sasaran kami polisi, karena salah satu pimpinan kami, mengupas dari buku karangan Ustadz Abdurrahman, di situ dia bilang bunuhlah aparat polisi. Karena aparat polisi sering mendzolimi dan menangkap ikhwan-ikhwan yang sedang latihan takrim di satu gunung atau di satu hutan. Dan disitulah dia (polisi) sering menganiaya ikhwan-ikhwan, makanya disitu pula kami merencanakan pembunuhan seorang polisi," tutur Bayu dalam video testimoni yang di putar di Ruang Rapat Divisi Humas Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Nomor I, Jakarta Selatan, Kamis (6/9/2012).

Bayu juga mengakui penembakan di Solo, bertujuan ingin membuat pecah belah kota Solo seperti yang terjadi di Ambon atau Poso.

"Kami ingin membuat pecah Solo seperti Ambon atau Poso. Disitu pula bisa tegaknya syariat Islam, khilafah Islamiah Indonesia," ujarnya.

Bayu menceritakan pertama kali ia mengenal ajaran islam tentang jihad, pada tahun 2007 di Pondok Pesantren Ngruki. "Di situ (PonPes), saya mempelajari Islam dan saya minta pendampingan.Saya ingin mempelajari tentang Islam sebaik-baiknya," jelas Bayu.

Untuk diketahui, Bayu ditangkap di Karanganyar, Jawa Tengah. Penangkapan atas Bayu berselang setelah polisi menyergap Farhan dan Muchsin. Keduanya tewas saat baku tembak dengan Densus 88 pada 31 Agustus 2012.

Kemudian tersangka lainnya, Firman, ditangkap di sebuah rumah di Jalan Raya Kalimulya, Perumahan Anyelir 2, Blok F2, Depok, pada pukul 05.30 WIB. Firman saat ini masih diperiksa oleh Densus 88 di Jakarta. Diduga ia turut berperan dalam rangkaian teror di Solo selama bulan Agustus.

SUMBER  (news.okezone.com)

TERDUGA TERORIS: Bayu Minta Maaf Pada Warga Solo
Kamis, 06/9/2012 14:01 | Wahyu Kurniawan/JIBI/Bisnis | Dilihat: 223 Kali


JAKARTA–Salah seorang pelaku teror di Solo yang ditangkap hidup-hidup oleh Densus 88, Bayu Setiyono alias Bayu Setiawan, menyampaikan permintaan maaf kepada segenap warga Kota Solo dan mengaku menyesal ikut terlibat dalam aksi-aksi teror dengan kedua rekan lainnya.

“Saya meminta maaf kepada segenap warga Kota Solo karena melakukan kesalahan ini. Saya ucapkan ini dari hati saya dan tidak ada tekanan dari pihak manapun termasuk kepolisian,” kata Bayu saat menyampaikan testimoni di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (6/9/2012).

Bayu mengakui turut berperan dalam aksi teror itu, dia bertugas sebagai pengintai dan mencari sasaran sebelum Farhan dan Misbah melaksanakan eksekusinya. Ia bergabung pada 2008 bersama salah seorang pelaku bernama Sigit Qordowi.

“Peran saya pengintai survei dan sasaran, target ditentukan Farhan, sekali lagi saya minta maaf. Saya pulang 2008, nisab kegiatan fai dan jihad ini pertama kali ikuti Sigit Qordowi, saya menegakkan nahi mungkar, cari kerjaan sulit,” katanya.

Seperti diberitakan, Bayu ditangkap Densus 88 di rumah mertuanya di Karang Anyar, Jawa Tengah, Jumat (31/8/2012). Bayu diduga terlibat dalam sejumlah aksi teror di Solo. Di saat bersamaan Densus 88 juga menggerebek dua terduga teroris, Muchsin dan Farhan di Solo. Keduanya tewas ditembak karena melakukan perlawanan saat akan ditangkap.

SUMBER  (www.solopos.com)

Ternyata oh ternyata, penyebab utamanya karena si Bayu pengangguran.

Video testimoni Bayu.
Masalahnya klo pelaku non muslim namanya bukan teroris, tapi kriminal

kliping dana asing untuk perang melawan terror 4

2004 :

berdiri sekolah antiterordi Semarang, Jawa Tengah Sekolah yang didanai oleh Australia sebesar US$ 30 juta ini diperuntukan bagi seluruh polisi dari 17 negara Asia Pasifik untuk menimba ilmu pencegahan terorisme

459.000 dolar AS dari program IMET (International Military and Education Training)

2005:275.000 dolar AS melalui dana NADR-EXBS

2006 :Indonesia menerima dari dana program yang sama sebesar 450.000 dolar AS

2007: Indonesia menerima sebesar 1.180.000 dolar AS

2008: sebesar 465.000 dolar AS

dan terus dan terus

Harian The Age dan Sydney Morning Herald, juga menyebutkan, pemerintah Australia telah mengucurkan dana sebesar 40 juta dolar AS untuk pemberantasan terorisme, sedangkan 16 juta dolar AS diantaranya, rutin dikucurkan Australia setiap tahunnya kepada Densus 88 untuk agenda yang sama, bahkan untuk tahun 2004 bantuan itu meningkat 20 juta dolar AS per tahun


http://news.detik.com/read/2011/10/0...me?nd992203605
http://www.islamicgeo.com/2011/10/me...nti-teror.html