Wink [Travelista] Menjelajahi Misteri Gunung Pusuk Buhit Samosir Sumatera Utara

Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya mendaki Gunung Pusuk Buhit. Mungkin banyak orang yang belum tahu tempat apa yang saya maksudkan ini. Pusuk Buhit merupakan salah satu dari rangkaian gunung supervolcano Toba yang berada di daerah Pangururan Pulau Samosir Sumatera Utara. Menurut legenda setempat, Pusuk Buhit merupakan tempat asal mula orang batak. Jadi, nenek moyang orang Batak berasal dari Pusuk Buhit. Berikut ini merupakan cerita legenda mengenai Pusuk Buhit….



"Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah. Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.
Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak (http://tanobatak.wordpress.com)"


Saya berinisiatif ingin menuju ke Pusuk Buhit dari pada gunung lainnya yang berada dikawasan Sumatera Utara bukan karena ingin menaklukan ketinggian tapi saya lebih tertarik dengan misteri-misteri yang ada. Ada beberapa info yang saya baca mengatakan bahwa Pusuk Buhit termasuk dalam rangkaian gunung Supervolcano Toba yang pernah meletus kurang lebih 75000 tahun yang lalu dan hampir memusnahkan umat manusia pada saat itu. Erupsi dari letusan gunung itulah yang menyebabkan terbentuknya Danau Toba. Dan ternyata dari seluruh rangkaian gunung Supervolcano Toba yang meletus itu, diketahui hanya Gunung Pusuk Buhit yang tidak meletus. Gunung Pusuk Buhit pun masih aktif saat ini dan ada sumber yang mengatakan bahwa kemungkinan apabila Pusuk Buhit meletus maka akan mengakibatkan aktifnya rangkaian gunung-gunung yang lain dan itu sangat membahayakan. Letusan Gunung Krakatau saja diibaratkan cuma sendawa dari Supervolcano ini. Dan masih banyak lagi cerita mengenai Pusuk Buhit yang bermacam-macam.
Ok, kita langsung saja ke cerita pendakian gunung misteri yang satu ini. Dalam perjalanan kali ini saya hanya pergi berlima dengan teman-teman saya. Dimana dua orang berangkat dari kota Sibolga dan saya dengan teman lainnya berangkat dari kota Medan. Dari Medan kita menuju ke daerah Pangururan yang letaknya tepat di bawah kaki Gunung Pusuk Buhit. Dari Medan kita bisa menggunakan transportasi umum yaitu travel-travel yang berada di daerah Padang Bulan. Kita bisa mencari travel yang mempunyai trayek Medan - Pangururan dengan ongkos sekitar 65rb rupiah. Perlu kita ketahui bahwa Pulau Samosir itu bukanlah pulau sebenarnya. Jadi kita bisa menuju pulau samosir itu tidak hanya dengan menaiki kapal Feri (lewat daerah Parapat) tapi bisa juga dengan melewati jalur darat yakni melewati daerah Tele.

Hari itu begitu sangat cerah dan terasa tepat untuk melakukan perjalanan liburan. Dari Medan kami melintasi daerah pegunungan & menuju ke Berastagih. Perjalanan begitu menyenangkan karena kami bisa merasakan udara sejuk dari dalam kendaraan dan melihat pemandangan yang bagus. Setelah sedikit melewati Berastagih, travel kami singgah di salah satu rumah makan untuk makan siang. Dari Medan kami berangkat sekitar pukul setengah 9 pagi dan perjalanan sekitar 1,5 jam menuju Berastagih. Karena merasa masih kenyang maka saya memutuskan untuk tidak makan dulu di rumah makan itu. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali hingga akhirnya travel kami melintasi komplek perumahan PLTA Renun. Dan tak jauh setelah melintasi komplek PLTA tersebut. Travel kami berbelok ke kiri dan memasuki jalanan yang cukup jelek menuju ke daerah Tele. Dalam perjalanan menuju daerah Tele setelah berbelok ke kiri tadi kami banyak menjumpai bendungan PLTA. Perjalanan dari komplek perumahan PLTA Renun menuju Tele sekitar 1,5 jam. Dan pada saat travel kami sampai di daerah Tele, saya benar-benar berdecak kagum melihat pemandangan di daerah Tele tersebut. Pemandangan begitu sangat indah sekali namun sayangnya kami naik kendaraan umum sehingga kami tak bisa berhenti. Namun, suatu saat nanti saya akan pergi ke Tele dan memuaskan diri melihat pemandangan yang luar biasa itu. Melihat daratan hijau menghampar luas dan bentuk jalan yang meliuk-liuk sungguh menyenangkan. Kemudian setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Medan akhirnya kami sampai juga di daerah Pangururan dan bertemu dengan teman kami yang duluan sampai disitu. Kami lalu menuju ke salah satu cabang kantor kami di sana untuk singgah sebentar guna mempersiapkan perjalanan pendakian yang akan kami lakukan di malam harinya. Kami meletakkan barang-barang kami di kantor tersebut dan mencari rumah makan untuk makan siang. Dan sebagai catatan, kita perlu banyak bertanya dengan penduduk sekitar tempat rumah makan muslim di sana, karena mengingat daerahnya mayoritas non muslim. Namun kita tak perlu khawatir, karena di sana tidaklah sulit untuk menemukan rumah makan muslim. Kemudian kami berbelanja keperluan untuk pendakian. Kami membawa banyak air minum & cemilan serta tak lupa kami membeli senter & lilin untuk penerangan kami.



Kemudian setelah kami membeli perlengkapan untuk pendakian, kami pun membereskan perlengkapan tersebut & bersantai menikmati angin sejuk di pinggir Danau Toba. Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib & Isya’ kami pun berangkat di antar oleh orang kantor dengan mobil pick up menuju ke jalur pendakian Pusuk Buhit. Sebelum menuju jalur tersebut kami membeli nasi goreng untuk makan malam kami diperjalanan. Mobil pun bergerak kencang di malam itu dan kami pun bercerita di bak belakang mobil itu sambil melihat bintang-bintang & kerlap kerlip lampu yang begitu indah terlihat. Di sekitar jalan yang kami lewati, saya melihat banyak makam-makam leluhur orang batak terdahulu. Makamnya besar-besar & bentuknya menyerupai rumah adat orang batak.





"foto diambil saat siang hari"

Akhirnya, mobil pun sampai pada jalur pendakian pusuk buhit & di mana mobil sudah tidak bisa lewat lagi. Kemudian kami pun membuka bekal nasi goreng yang kami beli tadi dan memakannya sesaat setelah kami turun dari mobil dan makan ditengah cahaya remang-remang lilin yang kami nyalakan. Setelah selesai makan malam, kami pun berdoa bersama & mulai melakukan pendakian.



Jalan menuju puncak Pusuk Buhit berbatu-batu dan berkelok-kelok namun luas jalannya seperti muat untuk satu mobil atau dua kendaraan bermotor. Kita harus berhati-hati karena kanan atau kiri kita merupakan jurang yang curam & cukup berbahaya. Banyak rumput ilalang yang tinggi di kanan kiri jalan yang kami lewati. Tapi beberapa saat setelah 2,5 jam berjalan kami bisa melihat pemandangan di bawah kami berupa kerlap kerlip lampu perumahan penduduk di sekitar pinggiran Danau Toba. Dan di atas kami terhampar bintang-bintang yang bisa terlihat lebih banyak dari yang biasa saya lihat. Malam itu begitu cerah dan sangat tepat untuk melakukan pendakian & beberapa kali kami berhenti karena teman-teman saya kelelahan. Jalan yang ditempuh merupakan jalan berbatu dan menanjak sehingga membuat kita menjadi cepat letih. Di setiap tikungan yang kami lewati, terkadang kami menjumpai puntung rokok & bekas plastik makanan yang kemungkinan dibawa oleh pendaki lainnya yang datang sebelum kami. Jalanan begitu gelap dan sunyi dan samar-samar terdengar suara serangga. Senter yang kami beli tadi begitu sangat membantu perjalanan kami dan saya pun menjadi memimpin jalan paling depan sambil memegang parang untuk menebas rumput ilalang yang tinggi.





*Bersambung ke post " 1 "

Wink Sambungan [Travelista] Menjelajahi Misteri Gunung Pusuk Buhit Samosir Sumatera Utara

Jam menunjukkan sekitar pukul 24.00wib lebih & teman-teman pun sudah sangat kelelahan. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, kami terus melanjutkan perjalanan walau harus sering berhenti. Hingga setelah melewati kurang lebih 18 tikungan (dari perjalan awal pendakian) akhirnya kami berada di puncak dengan jalanan buntu dihadapan kami. Kami pun sempat kebingungan karena puncaknya seperti tidak ditemukan. Karena teman-teman begitu letih, maka kami pun memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Kami pun mulai mencari kayu bakar & menghidupkan perapian itu dengan menggunakan api lilin yang kami bawa. Daerahnya begitu dingin dan lembab dan kami pun agak sedikit kesulitan untuk menghidupkan api. Sementara dua orang teman kami menghidupkan api dan mempersiapkan tempat bermalam. Saya dan dua orang teman lainnya mengecek kondisi di sekeliling tempat kami bermalam tersebut. Dan ternyata tak jauh dari situ, kami menemukan jalan setapak menuju ke arah atas & kami bertiga menyusuri jalan tersebut selama kurang lebih 3 menit hingga akhirnya sampai di puncaknya.
Setelah kami perhatikan ternyata puncak itu merupakan puncak Pusuk Buhit yang kami ingin tuju selama ini. Kami lihat di situ terdapat tugu yang menunjukkan bahwa itu merupakan puncak pusuk buhit, tiang bendera yang bendera merah putihnya sudah usang dan altar sesajen dengan 7 mangkok sesajennya. Setelah melihat-lihat kondisi puncak tersebut lalu kami kembali ke tempat kami akan bermalam.

Kami pun mengumpulkan banyak kayu bakar & melakukan piket jaga untuk keamanan kami di sana. Karena hanya dengan modal nekat, kami pun tidak menggunakan tenda untuk bermalam. Tapi hanya menggunakan sleeping bag sebagai alas tidur sekaligus selimut. Cuacanya sangat dingin & lembab mungkin sekitar 10 derajat Celcius namun untungnya cuaca sedang tidak hujan. Kalau pun terjadi hujan kami pun bingung harus berlindung ke mana walaupun kami masing-masing sudah membawa jas hujan. Kami pun berganti-gantian piket jaga sambil makan cemilan yang kami bawa.
Bangun di waktu subuh dan ternyata udara lembab sampai tembus ke kantong tidur dan udara dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang. Saya dan teman saya pun melaksanakan ibadah sholat Subuh dengan azan terlebih dahulu dipuncak Pusuk Buhit itu. Menurut saya, “mungkin kami bukan orang pertama yang mendaki gunung Pusuk Buhit, tapi kami mungkin orang pertama yang adzan & sholat di puncak Pusuk Buhit itu “. Setelah itu kami membereskan tempat tidur kami dan berjalan menuju ke puncak Pusuk Buhit. Di sana kami menunggu sunrise yang sebentar lagi akan datang. Namun, sayangnya matahari sebagian ditutupi oleh kumpulan awan tebal. Tapi kami tetap bisa melihat keindahan pemandangan pengunungan dari atas puncak. Kami pun dengan antusias mengabadikan gambar kami saat berada di puncak Pusuk Buhit. Banyak gambar yang kami ambil dan tentunya kami sangat puas telah sampai di puncak Pusuk Buhit yang konon katanya merupakan asal mula dari orang Batak.
Ini gambar kondisi puncak Pusuk Buhit





















Setelah puas menikmati puncak Pusuk Buhit, kami pun bergegas turun. Saya benar-benar dibuat kagum dengan pemandangan yang ada & kami pun terus mengabadikan gambar sambil terus berjalan menuruni Pusuk Buhit. Selama dalam perjalanan turun ke kaki gunung. Kami menjumpai tempat-tempat yang mungkin dikeramatkan.













Kami menemukan jalan-jalan pintas yang membuat kami lebih cepat turun dan sesaat terkadang berhenti untuk beristirahat sekaligus menikmati pemandangan yang sangat indah itu.



















Kami pun akhirnya sampai pada titik awal pendakian kami walau dengan kondisi yang begitu sangat letih & teman saya satu orang sudah kepayahan & hampir KO. Di tempat itu kami pun beristirahat dan saya pun tidur di pinggir jalan di bawah semak belukar dan sebagian teman saya tiduran di aspal di bawah semak-semak juga.
Setelah menghubungi pihak kantor, kami pun dijemput lagi dan kembali ke basecamp kantor untuk beristirahat serta membersihkan diri. Setelah berbenah diri, kami pun pamit dengan orang kantor cabang tersebut dan naik angkutan umum dari Pangururan menuju daerah Tomok. Karena tidak seperti perjalanan pergi, saya dan teman-teman akan menuju Medan dengan melewati daerah Parapat dengan sebelumnya naik kapal fery dari pelabuhan Tomok. Untuk menuju daerah Tomok dari Pangururan, kami menggunakan travel dengan ongkos 10rb rupiah per orang. Travel melaju dengan kencang & kami pun akhirnya sampai tepat sebelum kapal fery terakhir berangkat menuju ke Parapat. Kapal ferry terakhir berangkat sekitar jam 4 sore dengan biaya 5rb rupiah per orang. Kami pun menikmati pemandangan Danau Toba dari dalam kapal. Dan sekitar 45 menit akhirnya kami sampai ke pelabuhan kapal fery di daerah Parapat.
Dari Parapat kami langsung menuju Medan dengan menaiki bus angkutan umum dan di Parapatlah kami berpisah dengan teman-teman yang tujuan pulangnya ke daerah Sibolga. Sekitar jam 5 sore kami berangkat dari parapat dan dengan rasa letih yang begitu kuat akhirnya kami sampai di Medan sekitar pukul 11 malam. Walau begitu letih, tapi saya sangat menikmati perjalanan yang kami lakukan & menghapus segala pertanyaan di benak saya mengenai Pusuk Buhit......


NB: Sebagai tambahan, kita perlu untuk membawa banyak persediaan air minum, makanan secukupnya, tenda, jas hujan & untuk membuat api unggun cukup dengan menggunakan lilin dan kertas yang nantinya bisa ditambahkan dengan kayu bakar/ranting pohon.



From agan Medan87 "INFO BIAYA /JULI 2009"

Rute Perjalanan:
Medan-Parapat-Pangururan-Pucak Pusuk Buhit-Limbong-Pangururan-Pulao Tao/Simanindo-Tomok-Parapat-Medan


Biaya:
4 hari perjalanan rata-rata dulu kami cuma habis 350.000/orng all in sudah termasuk termasuk belanja konsumsi 50.000 per orng, fyi biaya terbesar itu transportasi 60% dr total cost perjalanan,sisa nya sewa tenda dan nesting, beli gas dan buat jajan makan B2 ....

Jalur Trip dan Ongkos Perjalanan:
Naik angkot ke amplas 10 menit, (3000/orng) naik bus sejahtera ke parapat 5-6 jam (25.000/orng), naik kapal dr parapat ke pangururan sejam (6000/orng), naik becak ke pangururan 20 menit (15.000/becak), mendaki via pangururan sekitar 6 jam, nginap di atas, turun via sagala/limbong sekitar 7-8 jam, mandi air sipitu dai, jalan kaki sampai simpang tele sekitar setengah jam, naik pick up sayur balik ke pangururan sejam (20.000/mobil), nginap di dermaga, mandi aer hangat (tiket:15.000/orng sudah termasuk indomie dan mangga parapat 5 kg karena manjat sendiri dr pohon nya ), naik becak ke simanindo 45 menit (15.000/becak), naik kapal ke pulao tao 15 menit (150.000 pulang pergi besoknya di jemput ,sudah termasuk sewa pulau gratis makan kelapa panjat sendiri ), nginap mandi di dano, nangkap ikan kalau berani berenang ke pula seberang bisa lihat banyak bangao, besoknya di jemput ke sebrang sejam karena keliling2 dulu, langsung ke museum (tiket masuk: 5000/orng), lihat sigale2, naik mobil sewa ke tomok sekitar sejam(100.000/mobil), belanja, cari saksang , pulang naik kapal ke parapat 30 menit(6000/orng), pulang dah ke medan naik bus sejahtera lagi 5-6 jam (25.000/orng)
(juli-2009)
padahal baru tujuh belas kemaren diajak kawan naek ke Pusuk Buhit
sayang saya cuma sampai di Danau Toba saja.
cakep gan...gunungnya bersejarah banget yah
Mantap ceritanya, sedikit saya tambahkan saja.
Dari Pangururan ke Tomok itu setahu saya naik angkutan L-300, karena kalau dibilang travel kesannya angkutan tersebut antar ke tempat dan tidak menaikkan penumpang di jalan
Dari Tomok ke Parapat ada 2 jenis kapal, 1 kapal Ferry (bisa mengangkut kendaraan roda 4). Dan yang satu lagi adalah kapal cepat yang hanya mengangkut penumpang, beberapa barang dan beberapa sepeda motor. Dan kapal ini relatif lebih cepat (kurang lebih 45 menit)
Kalau kapal cepat, dari Tomok paling akhir jam 5, karena trip terakhir dari Parapat jam 6 sore
Satu lagi, mungkin bisa sebagai referensi, ongkos bus dari Parapat ke Medan 25K.




sekolah percepatan
Quote:Original Posted By PriNx
padahal baru tujuh belas kemaren diajak kawan naek ke Pusuk Buhit
sayang saya cuma sampai di Danau Toba saja.


wah... dicoba aja dilaen waktu gan, lakukan persiapan dengan mateng. ada tips yg udh dpaparin dicerita ane di atas.
Quote:Original Posted By Apeglie
cakep gan...gunungnya bersejarah banget yah


iya gan, sangat bersejarah & misterius gan. kl ada kesempatan dicoba aja gan naek ksana
Quote:Original Posted By persetandotcom
Mantap ceritanya, sedikit saya tambahkan saja.
Dari Pangururan ke Tomok itu setahu saya naik angkutan L-300, karena kalau dibilang travel kesannya angkutan tersebut antar ke tempat dan tidak menaikkan penumpang di jalan
Dari Tomok ke Parapat ada 2 jenis kapal, 1 kapal Ferry (bisa mengangkut kendaraan roda 4). Dan yang satu lagi adalah kapal cepat yang hanya mengangkut penumpang, beberapa barang dan beberapa sepeda motor. Dan kapal ini relatif lebih cepat (kurang lebih 45 menit)
Kalau kapal cepat, dari Tomok paling akhir jam 5, karena trip terakhir dari Parapat jam 6 sore
Satu lagi, mungkin bisa sebagai referensi, ongkos bus dari Parapat ke Medan 25K.




sekolah percepatan


nice info gan

mantab threadnya gan ..
kampung Halaman Gue neh
Quote:Original Posted By Loe.Joe
mantab threadnya gan ..
kampung Halaman Gue neh


thx gan,,
smg mengobati kerinduan agan sm kampung halaman
Nice story gan. Ditunggu cerita selanjutnya lagi
Quote:Original Posted By Rolley
Nice story gan. Ditunggu cerita selanjutnya lagi


ok gan, ntar ane kasih cerita lagi
Wow..... infonya jadi mengingatkan ane nih gan, ngga jauh dr situ, kampung halaman Ibunda ane

ditunggu cerita perjalanan selanjutnya gan.

:iloveindonessia
cakep gan...gunungnya bersejarah banget yah

wah, nampaknya keren nih,
kapan ya bisa naik ke sana?
Jadi Inget Kampung ane yg di Huta Ginjang
Waah...ane baru denger tentang nama Gunung Pusuk Buhit ini

tapi daerahnya sepertinya keren ya gan...hijau dan seger


Quote:
[SILAHKAN] DOWNLOAD GRATIS EBOOK PENINGGI BADAN Alami

INILAH 5 MANFAAT SEHAT Dari CIUMAN

6 PENYEBAB BERCINTA Menjadi KURANG NIKMAT

Krim PENGENCANG VAGINA Yang Memicu KONTROVERSI




Congratulation ! Your Thread Just Visited By. TRAVEL LOVERS 1 Second ago .
beh, mantep banget pemandangannya, masih jarang orang yg tau juga lagi
Quote:Original Posted By
Kali ini saya akan menceritakan perjalanan saya mendaki Gunung Pusuk Buhit. Mungkin banyak orang yang belum tahu tempat apa yang saya maksudkan ini. Pusuk Buhit merupakan salah satu dari rangkaian gunung supervolcano Toba yang berada di daerah Pangururan Pulau Samosir Sumatera Utara. Menurut legenda setempat, Pusuk Buhit merupakan tempat asal mula orang batak. Jadi, nenek moyang orang Batak berasal dari Pusuk Buhit. Berikut ini merupakan cerita legenda mengenai Pusuk Buhit….



"Konon Siboru Deak Parujar turun dari langit. Dia terpaksa meninggalkan kahyangan karena tidak suka dijodohkan dengan Siraja Odap-odap. Padahal mereka berdua sama-sama keturunan dewa. Dengan alat tenun dan benangnya, Siboru Deak Parujar yakin menemukan suatu tempat persembunyian di benua bawah. Alhasil, dia tetap terpaksa minta bantuan melalui burung-suruhan Sileang-leang Mandi agar Dewata Mulajadi Nabolon berkenan mengirimkan sekepul tanah untuk ditekuk dan dijadikan tempatnya berpijak. Namun sampai beberapa kali kepul tanah itu ditekuk-tekuk, tempat pijakan itu selalu diganggu oleh Naga Padoha Niaji. Raksasa ini sama jelek dan tertariknya dengan Siraja Odap-odap melihat kecantikan Siboru Deak Parujar. Akhirnya Siboru Deak Parujar mengambil siasat dengan makan sirih. Warna sirih Siboru Deak Parujar kemudian semakin menawan Naga Padoha Niaji. Dia mau tangannya diikat asal yang membuat merah bibir itu dapat dibagi kepadanya. Namun setelah kedua tangan berkenan diikat dengan tali pandan, Siboru Deak Parujar tidak memberikan sirih itu sama sekali dan membiarkan Naga Padoha Niaji meronta-ronta sampai lelah.
Bumi yang diciptakan oleh Siboru Deak Parujar terkadang harus diguncang gempa. Gempa itulah hasil perilaku Naga Padoha Niaji. Namun ketika guncangan itu mereda Siboru Deak Parujar mulai merasa kesepian dan mencari teman untuk bercengkerama. Tanpa diduga dan mengejutkan, diapun bertemu dengan Siraja Odap-Odap dan sepakat menjadi suami-istri yang melahirkan pasangan manusia pertama di bumi dengan nama Raja Ihat dan Itam Manisia. Pasangan manusia pertama inilah yang menurunkan Siraja Batak sebagai generasi keenam dan menjadi leluhur genealogis orang Batak (http://tanobatak.wordpress.com)"


Saya berinisiatif ingin menuju ke Pusuk Buhit dari pada gunung lainnya yang berada dikawasan Sumatera Utara bukan karena ingin menaklukan ketinggian tapi saya lebih tertarik dengan misteri-misteri yang ada. Ada beberapa info yang saya baca mengatakan bahwa Pusuk Buhit termasuk dalam rangkaian gunung Supervolcano Toba yang pernah meletus kurang lebih 75000 tahun yang lalu dan hampir memusnahkan umat manusia pada saat itu. Erupsi dari letusan gunung itulah yang menyebabkan terbentuknya Danau Toba. Dan ternyata dari seluruh rangkaian gunung Supervolcano Toba yang meletus itu, diketahui hanya Gunung Pusuk Buhit yang tidak meletus. Gunung Pusuk Buhit pun masih aktif saat ini dan ada sumber yang mengatakan bahwa kemungkinan apabila Pusuk Buhit meletus maka akan mengakibatkan aktifnya rangkaian gunung-gunung yang lain dan itu sangat membahayakan. Letusan Gunung Krakatau saja diibaratkan cuma sendawa dari Supervolcano ini. Dan masih banyak lagi cerita mengenai Pusuk Buhit yang bermacam-macam.
Ok, kita langsung saja ke cerita pendakian gunung misteri yang satu ini. Dalam perjalanan kali ini saya hanya pergi berlima dengan teman-teman saya. Dimana dua orang berangkat dari kota Sibolga dan saya dengan teman lainnya berangkat dari kota Medan. Dari Medan kita menuju ke daerah Pangururan yang letaknya tepat di bawah kaki Gunung Pusuk Buhit. Dari Medan kita bisa menggunakan transportasi umum yaitu travel-travel yang berada di daerah Padang Bulan. Kita bisa mencari travel yang mempunyai trayek Medan - Pangururan dengan ongkos sekitar 65rb rupiah. Perlu kita ketahui bahwa Pulau Samosir itu bukanlah pulau sebenarnya. Jadi kita bisa menuju pulau samosir itu tidak hanya dengan menaiki kapal Feri (lewat daerah Parapat) tapi bisa juga dengan melewati jalur darat yakni melewati daerah Tele.

Hari itu begitu sangat cerah dan terasa tepat untuk melakukan perjalanan liburan. Dari Medan kami melintasi daerah pegunungan & menuju ke Berastagih. Perjalanan begitu menyenangkan karena kami bisa merasakan udara sejuk dari dalam kendaraan dan melihat pemandangan yang bagus. Setelah sedikit melewati Berastagih, travel kami singgah di salah satu rumah makan untuk makan siang. Dari Medan kami berangkat sekitar pukul setengah 9 pagi dan perjalanan sekitar 1,5 jam menuju Berastagih. Karena merasa masih kenyang maka saya memutuskan untuk tidak makan dulu di rumah makan itu. Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali hingga akhirnya travel kami melintasi komplek perumahan PLTA Renun. Dan tak jauh setelah melintasi komplek PLTA tersebut. Travel kami berbelok ke kiri dan memasuki jalanan yang cukup jelek menuju ke daerah Tele. Dalam perjalanan menuju daerah Tele setelah berbelok ke kiri tadi kami banyak menjumpai bendungan PLTA. Perjalanan dari komplek perumahan PLTA Renun menuju Tele sekitar 1,5 jam. Dan pada saat travel kami sampai di daerah Tele, saya benar-benar berdecak kagum melihat pemandangan di daerah Tele tersebut. Pemandangan begitu sangat indah sekali namun sayangnya kami naik kendaraan umum sehingga kami tak bisa berhenti. Namun, suatu saat nanti saya akan pergi ke Tele dan memuaskan diri melihat pemandangan yang luar biasa itu. Melihat daratan hijau menghampar luas dan bentuk jalan yang meliuk-liuk sungguh menyenangkan. Kemudian setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Medan akhirnya kami sampai juga di daerah Pangururan dan bertemu dengan teman kami yang duluan sampai disitu. Kami lalu menuju ke salah satu cabang kantor kami di sana untuk singgah sebentar guna mempersiapkan perjalanan pendakian yang akan kami lakukan di malam harinya. Kami meletakkan barang-barang kami di kantor tersebut dan mencari rumah makan untuk makan siang. Dan sebagai catatan, kita perlu banyak bertanya dengan penduduk sekitar tempat rumah makan muslim di sana, karena mengingat daerahnya mayoritas non muslim. Namun kita tak perlu khawatir, karena di sana tidaklah sulit untuk menemukan rumah makan muslim. Kemudian kami berbelanja keperluan untuk pendakian. Kami membawa banyak air minum & cemilan serta tak lupa kami membeli senter & lilin untuk penerangan kami.



Kemudian setelah kami membeli perlengkapan untuk pendakian, kami pun membereskan perlengkapan tersebut & bersantai menikmati angin sejuk di pinggir Danau Toba. Setelah menunaikan ibadah sholat Maghrib & Isya’ kami pun berangkat di antar oleh orang kantor dengan mobil pick up menuju ke jalur pendakian Pusuk Buhit. Sebelum menuju jalur tersebut kami membeli nasi goreng untuk makan malam kami diperjalanan. Mobil pun bergerak kencang di malam itu dan kami pun bercerita di bak belakang mobil itu sambil melihat bintang-bintang & kerlap kerlip lampu yang begitu indah terlihat. Di sekitar jalan yang kami lewati, saya melihat banyak makam-makam leluhur orang batak terdahulu. Makamnya besar-besar & bentuknya menyerupai rumah adat orang batak.





"foto diambil saat siang hari"

Akhirnya, mobil pun sampai pada jalur pendakian pusuk buhit & di mana mobil sudah tidak bisa lewat lagi. Kemudian kami pun membuka bekal nasi goreng yang kami beli tadi dan memakannya sesaat setelah kami turun dari mobil dan makan ditengah cahaya remang-remang lilin yang kami nyalakan. Setelah selesai makan malam, kami pun berdoa bersama & mulai melakukan pendakian.



Jalan menuju puncak Pusuk Buhit berbatu-batu dan berkelok-kelok namun luas jalannya seperti muat untuk satu mobil atau dua kendaraan bermotor. Kita harus berhati-hati karena kanan atau kiri kita merupakan jurang yang curam & cukup berbahaya. Banyak rumput ilalang yang tinggi di kanan kiri jalan yang kami lewati. Tapi beberapa saat setelah 2,5 jam berjalan kami bisa melihat pemandangan di bawah kami berupa kerlap kerlip lampu perumahan penduduk di sekitar pinggiran Danau Toba. Dan di atas kami terhampar bintang-bintang yang bisa terlihat lebih banyak dari yang biasa saya lihat. Malam itu begitu cerah dan sangat tepat untuk melakukan pendakian & beberapa kali kami berhenti karena teman-teman saya kelelahan. Jalan yang ditempuh merupakan jalan berbatu dan menanjak sehingga membuat kita menjadi cepat letih. Di setiap tikungan yang kami lewati, terkadang kami menjumpai puntung rokok & bekas plastik makanan yang kemungkinan dibawa oleh pendaki lainnya yang datang sebelum kami. Jalanan begitu gelap dan sunyi dan samar-samar terdengar suara serangga. Senter yang kami beli tadi begitu sangat membantu perjalanan kami dan saya pun menjadi memimpin jalan paling depan sambil memegang parang untuk menebas rumput ilalang yang tinggi.





*Bersambung ke post " 1 "



http://islamterbuktibenar.net
http://prusyariahagy.blogspot.com/20...an-rezeki.html
http://www.facebook.com/photo.php?fb...type=1&theater
75000 tahun yg lalu bukannya blum ada manusia gan