KASKUS

[saveorangutan]Habitat Habis, Orangutan Masuk ke Permukiman

THANKS UDAH DIJADIKAN HT

[update]
kabar terbarunya tadi ada link berita di metro

http://www.metrotvnews.com/read/news...erbakar-Mati/6

orang utan itu sudah mati

semoga ke depan tidak ada lagi kejadian miris seperti ini

orang utan



gubernur yang menjabat : cornelis



Quote:VIVAnews - Ada pemandangan tak lazim bagi warga Kampung Parit Wadongkak, desa Wajok Hilir, kecamatan Sianten, Pontianak, Kalimantan Barat, Minggu, 26 Agustus 2012. Seekor orangutan jantan terlihat meloncat-loncat di atas batang pohon di kebun milik salah seorang warga.

Tak ayal ratusan warga pun beramai-ramai menyaksikan polah hewan langka ini. Ali Zakaria (60 tahun), salah seorang warga, menuturkan sejak puluhan tahun ia tinggal, baru kali ini ada orangutan yang masuk ke pemukiman warga.

"Sudah 60 tahun saya tinggal di sini, baru kali ini ada orangutan masuk kampung di sini. Warga jadi takut, apalagi yang ibu-ibu," kata Ali Zakaria.

Orangutan juga disebut Ali sering merusak tanaman. "Buah tandan kelapa sawit, durian dimakan. Baru tiga hari ini orangutan di sini. Sempat bikin sarang tadi malam. Kami tadi malam itu menjaganya supaya jangan lari ke mana-mana,"tutur Ali Zakaria.

Ali pun menjelaskan, orangutan masuk ke permukiman karena hutannya habis. "Tempatnya tidak ada lagi. Hutannya habis untuk kebun kelapa sawit di sini," ujarnya.

Upaya Evakuasi

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan sejumlah LSM yang bergerak di bidang lingkungan berupaya mengevakuasi orangutan tersebut bersama ratusan warga setempat.

"Kami memfokuskan evakuasi orangutan itu. Saat ini kami kesulitan evakuasi, karena banyak warga sekitar yang mendekati lokasi. Orangutan ini sudah stres, karena sudah dibius dengan cara menembakan obat bius ke orangutan.

Kami sering melakukan evakuasi orangutan, akan tetapi tidak sesusah ini," kata Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Niken Wuri Handayani.

Niken menjelaskan, orangutan terancam kehilangan habitat akibat perluasan perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, dan pembalakan liar hutan. Masuknya orangutan ke permukiman pun diharapkan semakin meningkatkan kesadaran akan ancaman makin terancamnya jumlah populasi orangutan. (ren)


jangan cuman bersedih dan meratapi, hal sekecil apapun sangatlah besar peranan penyelamatan orangutan,
semisal bikin trendingtopic world wide #saveorangutan
atau dengan cara yang lain
ada dengar kemarin akan terjadi pengawasan yang ketat dari pemerintah pusat dan daerah soal kelapa sawit (penyempitan lahan kelapa sawit menjadi hutan lindung) , tetapi belum ada bukti sama sekali :


untuk tau saja, sekarang sedang diadakan pilkada kalbar

FOTO Evakuasi Orangutan yang Sekarat Terbakar



VIVAnews -- Terusir dari habitatnya, seekor Orangutan jantan yang masuk ke pemukiman penduduk pun dihela. Ia akhirnya berhasil dievakuasi dalam kondisi lemah, kesakitan, bulu juga kulit terkelupas akibat luka bakar dari api yang disulut warga.

Pongo pygmaeus itu akhirnya menyerah setelah empat hari bertahan melawan segala upaya yang dilakukan untuk membuatnya turun dari pohon; bius, petasan, bahkan setelah pohon kelapa yang menjadi pijakannya dibakar. Lihat fotonya di tautan ini.

Warga pun melancarkan upaya terakhir: dukun. "Tadi ada ritual atau selamatan dengan maksud ingin menjinakkan orangutan. Kami mendatangkan dukun (orang pintar) bernama Iskandar dari kampung Bakau Mempawah. Ritual dilakukan selama 15 menit berjalan lancar, " kata Daeng Ramli, kepada VIVAnews.

Daeng Ramli mengatakan sebagai bagian dari ritual, warga mengumpulkan bahan-bahan di antaranya daun sirih 3 batang, telur ayam kampung 1 buah, dan sebatang rokok.

"Terus dukun jampi-jampi. Setelah ritual itu orangutan itu agak lemah. Setelah ditembak obat bius, lalu pingsan dan menjatuhkan diri," tutur Daeng Ramli.

Saat ini, Orangutan berusia sekitar 17 tahun itu dibawa ke Daops Manggala Agni Rasau Jaya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. Untuk menjalani pemulihan.

Orangutan pergi, wargapun lega."Karena warga juga takut dengan orangutan itu. Kami tidak bisa berladang," kata Daeng Ramli.

Orangutan diduga terpaksa masuk kampung karena hutan yang jadi habitat aslinya, demi perluasan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Juga menjadi korban pembalakan liar hutan (ilegal logging).


http://foto.news.viva.co.id/read/786...ngutan-sekarat

tambahan berita
[MIRIS] Investor Malaysia Kuasai 2 Juta Hektare Lahan Kelapa Sawit

foto foto udara
:

foto foto

komen yang kontra dengan saveorangutan
Quote:Original Posted By ransa
gan, kalo ga ada kelapa sawit gimana mau dapet untung negara ini ? sedangkan negara ini salahsatu pendapatan terbesar nya di kelapa sawit + warga nya juga kerja di kelapa sawit (petaninya) mereka butuh uang gan, ini dunia emang udah keras, tapi ya itu halal kan kerja jadi petani ?

orang utan emang satwa langka gan tapi gw tanya dengan agan" disini dengan jujur. orang utan bisa ga kasih makan ribuan atau lebih warga

pageone ya.

Persoalan Lahan Sawit Kembali Meresahkan

berita terkait/serupa :
KETAPANG – Persoalan perkebunan kelapa sawit kembali terjadi di Kabupaten Ketapang. Anggota DPRD Ketapang dari Fraksi PPP, Sahrani, memaparkan adanya perusahaan yang membuka perkebunan kelapa sawit di lokasi hutan lindung di kawasan Desa Pangkalan Teluk, Naga Tayap. Menurut dia, sekitar 200 hektar areal hutan lindung diserobot perusahaan tersebut.

“Wilayah itu daerah hutan lindung Gunung Tarak. Menurut informasi masyarakat sudah melewati patok hutan lindung. Pembukaan lahan sawit di lokasi itu sudah berjalan sejak tiga bulan lalu, luasnya sekitar 200 hektar, hingga ke Sungai Berentam. Bahkan informasinya perusahaan akan memperluas areal perkebunan sawit di wilayah tersebut,” ucapnya.

Padahal, apapun alasannya, ditegaskan dia, sama sekali tidak dibenarkan melakukan pembukaan perkebunan kelapa sawit di areal hutan lindung. Terlebih, ditambahkan dia, areal tersebut bersebelahan dengan Taman Nasional Gunung Tarak. Masyarakat, menurut dia, saat ini sudah menyiapkan laporan kejadian itu dan akan melaporkannya ke DPRD. “Foto-fotonya juga ada. Rencananya mereka mau melapor,” katanya.

Sahrani mengingatkan bahwa seharusnya Dinas Perkebunan (Disbun) berperan dengan menahan penggarapan lahan tersebut. Perusahaan, dikatakan dia, mestinya diingatkan terhadap aturan areal hutan lindung. Namun Sahran menyayangkan, mengapa izin penggarapan lahan tersebut bisa keluar, sedangkan di sisi lain dia mempertanyakan bagaiman proses perizinannya. “Sebenarnya kan tidak boleh kawasan hutan lindung ditanami sawit,” imbuhnya.

Untuk mencari tahu, pertengahan bulan ini ia dan anggota DPRD lainnya berencana untuk turun langsung ke lokasi. Mereka berjanji akan menyelidiki bagaimana bisa perusahaan menggarap lahan di areal tersebut. Jika memang kedapatan perusahaan melakukan penggarapan di areal hutan lindung, ia meminta kepada pemerintah daerah untuk segera menghentikannya.“Kalau itu benar, pemerintah daerah harus menyetop. Kedua, harus diselidiki mengapa bisa keluar izin itu? Kalau memang tak punya izin, perusahaan harus ditutup dan disanksi pidana,” pungkasnya. (ash)

kronologi dari agan naruto :
Quote:Original Posted By n@ruto
monggo dibaca kronologinya disini gan :

http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=16194984


update : manfaat orangutan bagi manusia dan hutan
http://edukasi.kompasiana.com/2012/0...utan%E2%80%9D/
disundul biar banyak yang baca

jadi pikirannya gak pilkada mulu

kronologi dari agan naruto :

Laporan Kronologi Penyelamatan dan Evakuasi Orangutan
di Desa Parit Wa’dongka, Kecamatan Wajok Hilir, Kabupaten Pontianak
25-27 Agustus 2012

1. Pada hari Sabtu, 25 Agustus 2012 jam 20.00, masyarakat Desa Parit Wa’dongka, Kecamatan Wajok Hilir, Kabupaten Pontianak menginformasikan kepada Sdr. Nasir (wartawan Metro TV) bahwa ada satu individu Orangutan memasuki kebun masyarakat. Sdr. Nasir kemudian menyampaikan informasi ini kepada Sdri. Dwi Suprapti (WWF-Indonesia Program Kalbar), dan selanjutnya oleh WWF informasi diteruskan kepada pihak Balai KSDA Provinsi Kalimantan Barat sebagai institusi yang memiliki kewenangan dalam penanganan (management authority) konservasi Orangutan di Provinsi Kalimantan Barat.

2. Menyadari bahwa upaya ini membutuhkan koordinasi yang luas dengan berbagai pihak yang berpengalaman dalam proses penyelamatan dan evakuasi Orangutan, BKSDA Provinsi Kalbar dan WWF kemudian berkoordinasi dengan beberapa lembaga pemerhati konservasi Orangutan lainnya seperti Yayasan International Animal Rescue (IAR) Ketapang, Titian, dan Gemawan serta dengan rekan-rekan media untuk menentukan langkah-langkah penanganan dan pemberitaan berikutnya.

3. Malam itu juga, sekitar pukul 21.30 staf Lembaga Gemawan (Tomo) tiba di lokasi, disusul 6 orang petugas Balai KSDA Provinsi Kalbar (Parsaroan Samosir, Niken Wuri Handayani, Taufikurrohman, Asmadi, Uswatun Khasanah, dan Agus Samosir) bersama 2 staf WWF (Jimmy Syahirsyah, Hermayani Putera) dan Sdr Andi Fachrizal (Mongabay.com/Jurnal Nasional) pada pukul 22.30. Tak lama kemudian, ikut bergabung Sdr. Yan Soe (Trans-7), dan 2 staf Titian (Rangga Irawan dan M. Wahyu Putra). Petugas KSDA, Gemawan, WWF, dan media langsung mengecek situasi dan memang menemukan 1 individu Orangutan sedang tidur di sarangnya di atas pohon durian. Petugas lain mencoba menenangkan kerumunan massa di sekitar lokasi penemuan, sekaligus memberikan himbauan dan sosialisasi secara singkat kepada masyarakat yang sedang berkumpul agar tidak mengganggu atau membunuh Orangutan tersebut, melainkan sebaliknya berperan serta untuk menjaga agar Orangutan dapat dievakuasi oleh tim. Setelah sosialisasi ini, masyarakat menyatakan dukungannya terlibat aktif dan kooperatif dalam upaya evakuasi ini.

4. Masyarakat yang berkerumun untuk melihat Orangutan juga menghimbau kepada tim gabungan agar Orangutan segera dievakuasi dari kebun masyarakat. Masyarakat mengakui baru pertama kali ini melihat Orangutan dan tidak memiliki pengalaman dalam penanganan Orangutan, sehingga sangat berharap kepada untuk sesegera mungkin melakukan evakuasi.

5. Untuk memastikan bahwa Orangutan ini dalam kondisi aman dan sekaligus memantau pergerakannya, tim resque gabungan (Balai KSDA, Gemawan, IAR, Titian, WWF, masyarakat) memutuskan bahwa malam itu 1 petugas KSDA bersama 4 wakil masyarakat dan 1 staf Titian ikut berjaga di sekitar lokasi, sementara anggota tim lainnya kembali ke Pontianak pukul 01.00 Minggu, 26 Agustus dinihari untuk mempersiapkan segala hal berkaitan dengan proses evakuasi, dan kembali pada pagi harinya pukul 05.00.

6. Minggu, 26 Agustus 2012, jam 09.00 proses evakuasi dimulai. Dari hasil identifikasi, diketahui bahwa Orangutan tersebut jantan dengan ‘chicpack’ (pipi) yang sudah mulai berkembang, dan diperkirakan berusia di bawah 20 tahun, sekitar 16-17 tahun. IAR mengirimkan satu dokter hewan (drh. Syifa), dilengkapi peralatan senjata bius dari kantor IAR di Ketapang dengan penerbangan pagi, bergabung bersama Sdr. Argito, staf IAR lainnya yang kebetulan sedang berada di Pontianak, dan selanjutnya langsung menuju ke lokasi. Tim WWF (Jimmy, Ismu, Sugeng) kembali ke TKP dengan membawa peralatan dokumentasi (kamera foto dan kamera video), didukung oleh oleh 5 staf WWF dan 1 staf Titian lainnya. Rekan-rekan media (Antara, Jurnal Nasional, Pontianak Post, Trans TV, Trans 7, Metro TV, Viva News) juga ikut berada di lokasi. Proses Minggu pagi ini berjalan lambat karena banyaknya masyarakat yang berkumpul di lokasi. Orangutan yang semula berada di pohon karet kemudian berpindah ke pohon durian dan kemudian bergerak menjauh sekitar 100-200 m menuju pohon karet tertinggi. Selama setengah hari sampai sekitar jam 14.00 Orangutan ini berada di cabang pohon karet tertinggi dan bolak-balik berpindah di sekitar 2 pohon karet tersebut. Berbagai upaya dilakukan untuk menghalau Orangutan tersebut, termasuk menggunakan bunyi-bunyian seperti mercon, petasan, memukul-mukulkan kayu ke pohon, dan meriam minyak tanah agar berpindah dari pohon karet ini. Akhirnya sekitar jam 15.00 Orangutan ini turun dan berpindah ke pohon yang lebih rendah dan pada posisi di pohon sekitar 6 meter, tembakan bius dilakukan kembali dan Orangutan tersebut jatuh ke tanah karena dahan pegangannya patah. Orangutan ini terus melarikan diri masuk ke semak-semak dan menghilang. Kurang lebih 1-1,5 jam tim rescue dan warga membantu mencari keberadaan Orangutan ini. Hasilnya nihil, padahal tim dan masyarakat sudah berpencar menyisir sekitar lokasi. Asumsinya jika sudah terkena tembakan bius dengan dosis 3 kali tembakan sekitar 1,8 cc, mestinya Orangutan tidak akan bisa lari terlalu jauh lagi, namun Orangutan tersebut masih kuat bergerak jauh.

7. Sekitar pukul 16.00 ada informasi bahwa Orangutan tersebut sudah berada di sekitar pemukiman warga sekitar 1 km dari lokasi semula. Tim rescue segera menyusul ke kampung untuk memastikan keberadaan Orangutan ini. Ternyata benar, Orangutan yang sudah ditembak bius ini ternyata sedang duduk di atas sebatang pohon jambu bol. Warga berinisiatif mengepung dan menjaga agar Orangutan ini tidak lari menjauh dan memanjat pohon yang lebih tinggi. Orangutan sempat jatuh ke tanah dan dikepung oleh beberapa warga yang sudah siap dengan jaring pengaman, namun warga tidak berani terlalu mendekat karena Orangutan jantan ini menunjukkan taringnya dengan sikap siap mempertahankan diri dari kepungan warga. Namun upaya ini gagal dan Orangutan kembali memanjat ke pohon karet berukuran sekitar 6-7 m. Sebagian warga hampir menebang pohon karet yang tumbuh di sepanjang tepian parit, namun tim rescue mencegah khawatir Orangutan tercebur ke dalam parit.
8. Sebelum berpindah ke pohon kelapa tinggi ini, kelihatannya pengaruh obat bius mulai bekerja, karena terlihat Orangutan ini mulai terganggu keseimbangannya. Pegangannya pada cabang pohon karet yang kecil mulai labil, dan hampir terjatuh selama berayun-ayun. Namun akhirnya Orangutan ini berhasil pindah ke pohon kelapa dengan ketinggian sekitar 17 m. Upaya penyelamatan dirinya di pohon kelapa ini berlangsung lama, dan Orangutan ini enggan untuk turun kembali. Saat ini waktu senja hampir mendekati maghrib. Sebelum hari gelap, Tim memutuskan upaya terakhir dengan cara pengasapan agar Orangutan ini turun dan berpindah ke pohon yang lebih rendah sebelum menghentikan sementara upaya penyelamatan menunggu keesokan harinya, karena tim sangat kuatir jika obat bius terus bekerja dan posisi Orangutan berada di pohon kepala dengan ketinggian 17 meter. Namun, tiba-tiba angin bertiup kencang dan menimbulkan percikan api dari sumber pengasapan. Percikan api ini terus melayang tinggi lalu menyambar bagian daun kelapa yang kering, dan api terus merambat ke atas, hingga ikut membakar beberapa bagian badan Orangutan.
save mrjack @_@

miris ..,

aduh tetep ada bau pilkada nya
mau pada panen rupiah dari kelapa sawit tapi merugikan primata langka bumi borneo.. miris yaa #saveorangutan
lanjutan dari kronologi ter update id mushashi:

9. Menyikapi kondisi ini dan karena hari sudah gelap, tim melakukan briefing singkat bersama wakil masyarakat di lokasi, untuk menentukan langkah selanjutnya apa yang akan dilaksanakan pasca insiden Orangutan terbakar. Ada beberapa slenario yang disusun dalam diskusi ini. Pertama, menunggu Orangutan tertidur karena pengaruh obat bius dan kemudian ada warga yang naik untuk menyuntik menambah dosis, selanjutnya jika terbius Orangutan akan diturunkan perlahan-lahan dengan menggunakan sarung dan peralatan lainnya yang dimodifikasi untuk kebutuhan evakuasi dari atas pohon. Kedua, Jika Orangutan masih aktif setelah ditunggu 2 jam, maka evakuasi akan dilanjutkan keesokan harinya. Selain itu, perwakilan masyarakat, Pak Wali juga menyampaikan ide agar melakukan upaya lain yaitu mendatangi sesepuh kampung untuk minta petunjuk dan melakukan ritual doa.

10. Setelah ditunggu selama 2 jam, ternyata Orangutan masih aktif bahkan mulai memakan umbut kelapa karena kelaparan selama 2 hari terakhir ini. Orangutan diketahui hanya memakan buah karet di hari pertama dan setelah itu belum makan apapun. Malam ini setelah memakan umbut, kemungkinan besar Orangutan akan beristirahat di pohon kelapa dengan membuat sarang. Karena malam itu hujan turun sangat deras disertai angin kencang, tim memutuskan untuk menunggu hujan reda dan mengecek kondisi Orangutan ini pada keesokan harinya.

11. Senin, 27 Agustus 2012. Mulai jam 05.30 tim rescue dari BKSDA, WWF, IAR, mulai mengamati kondisi Orangutan ini. Pada saat diamati, Orangutan ini sudah berpindah sekitar 10 m ke pohon kelapa lainnya. Briefing tim dan masyarakat pagi hari itu memutuskan untuk membatasi masyarakat mendekati lokasi, dan pengamanan lokasi akan dijaga anggota Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan Kalimantan Barat. Ini perlu dilakukan agar kondisi Orangutan bisa lebih santai dan tenang, satu kondisi yang penting untuk membuat reaksi obat bius yang diberikan bisa bekerja dengan baik. Pada saat briefing berlangsung, Orangutan berpindah dari pohon kelapa, turun ke tanah dan menghilang. Tim dibantu masyarakat mencoba mengejar dan melacak, dan Orangutan ini berpindah ke arah luar sekitar 200 m, melewati parit, lapangan terbuka dan berpindah di pohon rambutan dan makan buah rambutan selama sekitar 3 jam (jam 08.00-11.00). Orangutan dibiarkan makan buah rambutan sepuasnya, sambil petugas menunggu menyiapkan peralatan bius tambahan yang didatangkan lagi dari Ketapang. Hampir sekitar 30% buah rambutan matang di pohon tersebut dimakan Orangutan. Setelah Orangutan berhenti makan, petugas mulai melakukan tembakan bius. Ada 2 kali tembakan yang dilakukan, 1 kali gagal dan kali kedua cairan bius hanya masuk sekitar 0.5 cc. Setelah penembakan bius kedua ini juga gagal, Orangutan mulai bergerak kembali dan berpindah ke pohon karet yang lebih tinggi. Di ketinggian ini, Orangutan kembali membangun sarang untuk beristirahat.

12. Tim kembali merundingkan langkah penanganan selanjutnya sambil beristirahat. Dalam proses diskusi ini, tim terus melakukan koordinasi dan konsultasi dengan Ibu Suci Utami (Forum Orangutan Indonesia/Forina) dan Sdr. Agus Fahroni (Pusat Rehabilitasi BOS Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah). Sdr Argito (IAR) menceritakan kronologis penanganan evakuasi dan proses pembiusan yang sudah dilakukan serta kendala-kendala yang dihadapi kepada Sdr Agus. Berdasarkan saran dan rekomendasi Sdr. Agus, tim menambah dosis obat bius yang digunakan dari semula 1 cc menjadi 1,3 cc. Untuk menghalau Orangutan dari sarang tidurnya di pohon karet, warga kemudian menebang pohon karet ini. Sebelum pohon karet tumbang sempurna, Orangutan kembali berpindah ke pohon karet berikutnya dan akhirnya berpindah lagi ke pohon rambutan. Pohon rambutan dengan ketinggian sekitar 15 m ini akhirnya juga ditebang, dan sebelum pohon rambutan tumbang Orangutan kembali berpindah ke pohon mahang. Pada ketinggian sekitar 15 m juga, Orangutan ini akhirnya beristirahat di pohon mahang sambil mencoba membangun sarang baru.

13. Bagian ini adalah yang paling menegangkan dan dramatis, karena ini merupakan kesempatan terakhir bagi tim untuk membius Orangutan ini, mengingat persediaan obat bius adalah stok kedua terakhir. Tim memutuskan meminta tolong warga yang memiliki ketrampilan menembak untuk memanjat pohon dan membantu melakukan penembakan bius dari jarak dekat dengan posisi yang lebih sejajar dengan Orangutan. Seorang warga bernama Ali diputuskan untuk dilatih secara cepat penggunaaan senjata tembak bius ini dan kemudian Ali memanjat pohon karet di samping pohon mahang ini. Dalam posisi hampir datar dengan jarak sekitar 6 meter, Ali membidik dan berhasil mengenai paha kanan Orangutan sekitar jam 15.05. Berdasarkan pengamatan dengan binokuler, dalam waktu 25 menit Orangutan sudah mulai terbius. Kepalanya mulai terkulai dan kemudian berbaring, berikutnya tangan kiri yang memegang dahan juga terkulai dan akhirnya Orangutan benar-benar terdiam setelah 25 menit. Setelah dipastikan Orangutan benar-benar terlelap oleh obat bius, langkah berikutnya adalah memutuskan penanganan agar Orangutan bisa diturunkan dari pohon dengan meminimalkan risiko cedera terbentur. Diputuskan pohon mahang akan ditebang secara perlahan-lahan sehingga jatuhnya tidak fatal. Sambil menunggu chain-saw diambil, seorang warga mulai menebang mahang bercabang 3 ini menggunakan kampak. Sementara itu, di bawah pohon persis dimana Orangutan terlelap, sepuluh petugas dan masyarakat bersiaga sambil merentangkan jaring untuk memastikan Orangutan ini tidak langsung jatuh ke tanah. Sebelum pohon mulai tumbang, ternyata Orangutan sudah tidak bisa bertahan dan mulai bergerak miring dan terjatuh. Berkat kesigapan tim dan masyarakat, benturan Orangutan dengan tanah bisa diminimalkan.

14. Orangutan yang sudah terjatuh ini langsung dijaga petugas dari warga yang sudah semakin ramai merubung untuk melihat lebih dekat kondisi Orangutan yang sudah dibius. Petugas mencoba menghalau agar warga tidak berkerumun mendekat, sambil membersihkan tubuh Orangutan ini. Setelah lebih bersih, tubuh Orangutan ini digotong beramai-ramai ke tanah lapang untuk mendapat penanganan medis darurat (first aid). Tubuh Orangutan ini dipindahkan di bawah pohon rambutan yang teduh dan petugas medis dan tim mulai mengobati luka bakar, sambil dokter hewan mencari nadi utama untuk pemasangan infus karena diperkirakan Orangutan mengalami dehidrasi pasca pembiusan. 5 orang anggota SPORC dibantu tokoh masyarakat juga ikut membantu menenangkan massa agar tidak terus merubung tim yang sedang bekerja. Beberapa bagian tubuh yang mengalami luka bakar dibersihkan dan diolesi dengan betadine oleh petugas yang menggunakan peralatan standar. Luka bakar kemudian diolesi dengan bioplacenton untuk menutup luka bakar terbuka. Setelah penanganan medis ini selesai dilaksanakan, sekitar jam 16.15 Orangutan seberat sekitar 70 kg ini diangkut 10 orang gabungan petugas dan warga untuk dibawa ke kandang observasi yang sudah disiapkan tidak jauh dari lokasi. Tim akhirnya mengangkut Orangutan ini dengan pengawalan SPORC menuju ke DAOPS Manggala Agni Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya mendapatkan perawatan lebih intensif. Sekitar jam 19.30 seluruh tim telah tiba di lokasi dan Orangutan langsung diamankan di ruang dalam. Hasil observasi sementara luka bakar tidak terlalu parah dan Orangutan sudah mulai bisa makan buah-buahan jeruk, semangka, dan pepaya yang disiapkan petugas. Setelah tim beristirahat dan makan malam, dilakukan briefing tim untuk memutuskan langkah-langkah berikutnya.

15. Beberapa hal yang menjadi pokok bahasan dalam briefing ini adalah: pertama, dibutuhkan kandang yang lebih leluasa bagi Orangutan remaja ini untuk bergerak akan disiapkan oleh petugas KSDA di Ketapang dan Yayasan Palung Ketapang, dan dikirimkan langsung dari Ketapang pada hari Selasa dengan menggunakan kapal ekspress; kedua, mendiskusikan dan sesegera mungkin menetapkan lokasi pelepasliaran di Kalbar khusus untuk sub-jenis Pongo pygmaeus pygmaeus pasca penyembuhan; ketiga, perkiraan waktu yang diperlukan untuk pemulihan Orangutan sekitar 5-7 hari, dan dalam jangka waktu ini tidak boleh ada kunjungan dari siapapun – untuk menghindari stress. Hanya petugas medis, dokter hewan yang ditunjuk dan petugas BKSDA untuk merawat yang boleh mengunjungi Orangutan ini. Hasil observasi medis terakhir hingga Selasa, 28 Agustus 2012 menunjukkan bahwa tingkat stress Orangutan masih sangat tinggi, dan membutuhkan observasi intensif dari tim dokter hewan. Sementara itu, langkah-langkah penanganan berikutnya akan dipikirkan dan dikoordinasikan di bawah kendali BKSDA Provinsi Kalbar.

Demikian Laporan Kronologi ini disusun bersama oleh Balai KSDA Provinsi Kalbar, Yayasan IAR, Yayasan Titian, dan WWF-Indonesia Program Kalbar

Pontianak, 28 Agustus 2012
Quote:Original Posted By didinezh


yah kek gitu lah, tapi fokus pada pemeliharaan hutan lindung, karena orangutan makin dikit, kasian anak cucu kita, cuman tau orangutan lewat gambar

setidaknya belajar dari pengalaman, harimau jawa yang sudah punah


harus fokus dong pada bagiannya masing masing ..,

klo orangkota dijadiin orangutan betapa kasiannya anak cucu ntar
Quote:Original Posted By xiaokim
mau pada panen rupiah dari kelapa sawit tapi merugikan primata langka bumi borneo.. miris yaa #saveorangutan



kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi
Quote:Original Posted By Valuthy


harus fokus dong pada bagiannya masing masing ..,

klo orangkota dijadiin orangutan betapa kasiannya anak cucu ntar


kasian ya val
demi uang, jantung dunia dimusnahkan

foto foto :
Quote:Original Posted By flytosky
bagaimana tidak habis gan, wong hutan kalbar nyaris semuanya dipake buat lahan kelapa sawit. coba aja liat foto foto yang gw jepret dari atas pesawat ini


sekitar daerah sintang - sekadau, kalbar


sekitar sanggau - ngabang

liat sendiri kan? perkebunan kepala sawit nya nyaris sepanjang jalan dari sekitar ngabang - sintang, itu cuman sebagian kecil daerah yan ke foto tuh.

asal tau aja, ngabang - sintang itu jarak antar kota nya sekitar 200an kilometer. bayangkan berapa hektar yang terpakai untuk sawit?

gw sebagai warga kalbar, sebenarnya sangat prihatin dan ga seneng dengan adanya perkembangan perkebunan sawit karena habitat banyak habitat asli binatang yang jadi rusak.

agan TS, kalau berkenan monggo taro di page one ya



\t\t
\t\t\t\t\t\tinShare \t\tprint


Malaysia says no more clearing of forest reserves for oil palm plantations
mongabay.com
June 26, 2008


Update: Sarawak to continue logging forests for oil palm plantations



\t
The Malaysian government said it will prohibit forest clearing for the establishment of oil palm plantations. Only areas zoned for agriculture will be allowed to be converted for palm oil production.

In comments reported Wednesday by the New Straits Times Online, Malaysia's Prime Minister Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi said Malaysia will encourage the use of existing agricultural land for oil palm expansion.

"We don't have to reduce the protected forests to increase new oil palm plantations," Abdullah was quoted as saying. "With more effective management of the plantations and new technologies, production can go up by 30 per cent."

"There is still land available for agricultural expansion. There is no need for permanent forest reserves to be used for this purpose. The government in any case will not encourage deforestation to obtain more land for agriculture," added Datuk Chin Fah Kui, Plantation, Industries and Commodities Minister. "But land currently designated for agriculture or not utilized for the planting of specific crops, can be converted for the cultivation of oil palm."

\t


Oil palm plantation and logged over forest in Malaysian Borneo.

Malaysia has been working to improve the image of its palm oil industry in response to criticism from green groups who say plantation expansion has come at the expense of biodiverse natural forests and can result in significant greenhouse gas emissions when established on carbon-rich peat lands. In April the Malaysian Palm Oil Council held a sustainability conference to look at some of the environmental issues surrounding palm oil production. The conference highlighted some of the measures firms are taking to reduce pollution and greenhouse gas emissions, including treating palm oil mill effluent, replacing chemical pesticides and fertilizers with natural predators and composting techniques, and setting aside forest reserves in riparian zones and hillsides. It also noted that oil palm is presently the world's most productive oilseed with a carbon balance favorable to other oil crops including rapeseed and soy.

Nevertheless some environmental groups have expressed concern that as Malaysia improves the environmental performance of oil palm within its borders, Malaysian firms have lower standards when operating in neighboring Indonesia where much expansion is taking place. Deputy Prime Minister Datuk Seri Najib Tun Razak said Wednesday that Malaysia — the world's second larger producer of palm oil after Indonesia — has already acquired land in Papua, Kalimantan, Aceh and Brazil for future expansion.

To help allay these fears, some producers have banded together to form the Roundtable on Sustainable Palm Oil to establish environmental standards for the industry. Unilever, one of the world's largest buyers of palm oil, said in May that aims to have all its palm oil certified as eco-friendly by 2015.
di kalbar konservasinya gak ada gaung

harusnya beljar mencontoh TN Tanjung Puting di Kaltim, mantep pengelolaannya buat konservasi orang utan
emang orang udah cintanya sama uang yaa
ngga peduli sekitar

padahal mereka kan masih keluarga kita
Quote:Original Posted By mrjack


kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi

kasian ya val
demi uang, jantung dunia dimusnahkan


paru paru apa jantung bang

Quote:Original Posted By van2101
emang orang udah cintanya sama uang yaa
ngga peduli sekitar

padahal mereka kan masih keluarga kita


teralu memikirkan diri sendiri dia mah
klo kembali ke habitat ngeri lagi gan. yang dibabat bukan cuma pohon, tapi juga leher si orangutan
Orang utan, Gajah
sudah semakin kehilangan tempat tinggalnya
Ah ini mah biasanya gak jauh2 akibat dari bisnis bisnis dan bisnis lahan hutan jadi sempit, soalnya dijadiin tambang ato kebon kelapa sawit, wajar klo orang utannya lari ke pemukiman setempat, eh yg parah malah ada kasus orang utannya dibantai ama warga yg dianggap sebagai hama liar . Mana nih tanggung jawab pemda dan lembaga kehutanan, dan badan2 laennya, jgn cman dibebanin ama lembaga konservasi doang dong.....
sekarang manusia mengerti perasaan orang utan yg rumahnya dimasuki

semoga pemerintah bisa mensosialisasikan orang utan supaya bisa beradaptasi dengan kehidupan manusia, tahap pertam segera diajarkan nilai uang
Masalah utama juga dalam melestarikan ekosistem di indonesia, habitat dibabas demi buka lahan, para hewan tersebut terpaksa lari ke pemukiman. Untung saja cepat diamankan orangutannya ini.
lagian habitatnya di babat secara seporadis tanpa di pikirin dampaknya sih
sekarang pusing kan cara nanggulanginnya
waduh uda masuk kepemukiman warga ?
orang kota masuk hutan, orang utan masuk kota
×