KASKUS

Lightbulb Sepenggal Kisah Pemikul Tandu Jendral Sudirman





Quote:TRIMS YA MOD & MIN TRIT ANE INI JADI HT, TAPI SAYANG SKALI ANE LAGI DILUAR KOTA WAKTU TRIT INI HT, IRONIS.....


Sebelumnya Mohon di

Moga-Moga no

Jangan Lupa Komengnya Gan Biar Ga Tenggelem

Quote:
"MEMPERINGATI HUT RI KE-67 ANE PENGEN BERBAGI KISAH SEPUTAR KEMERDEKAAN GAN MUDAH-MUDAHAN BIA JADI BAHAN RENUNGAN"




Quote:
Kisah Pemikul Tandu Jendral Sudirman



Agan mungkin masih inget foto yang ada di buku sejarah. Kalau melihat gambar hitam putih ada orang ditandu, kita langsung berpikir. Jederal Sudirman. Kini tandu tersebut diabadikan di museumMuseum Satria Mandala





Lalu bagaimana dengan nasib para pemikul tandunya? Berikut tulisan tentang nasib mereka.

Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia memang takkan pernah dilupakan rakyat. Akan tetapi, tak banyak sosok pejuang yang bisa diingat rakyat. Djuwari (82 tahun), barangkali satu dari sekian banyak pejuang yang terlupakan. Kakek yang pernah memanggul tandu Panglima Besar Jenderal Soedirman itu, kini masih berkubang dalam kemiskinan.

Tepat pada peringatan proklamasi 17 Agustus, Malang Post berusaha menelusuri jejak pemanggul tandu sang Panglima Besar. Djuwari berdomisili di Dusun Goliman Desa Parang Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri, kaki Gunung Wilis. Kampungnya merupakan titik start rute gerilya Panglima Besar Sudirman Kediri-Nganjuk sepanjang sekitar 35 km.

Dari Malang, dusun Goliman bisa ditempuh dalam waktu sekitar empat jam perjalanan darat. Kabupaten Kediri lebih dekat di tempuh lewat Kota Batu, melewati Kota Pare Kediri hingga menyusur Tugu Simpang Gumul ikon Kabupaten Kediri. Terus melaju ke jurusan barat, jalur ke Dusun Goliman tak terlalu sulit ditemukan.

Sejam melewati jalur mendaki di pegunungan Wilis, Malang Post pun tiba di pedusunan yang tengah diterpa kemarau. Rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman memang sangat jauh dari keramaian kota. Titik start gerilya berada di kampung yang dikepung bukit-bukit tinggi dan tebing andesit.

"Inggih leres, kulo Djuwari, ingkang nate manggul Jenderal Soedirman, sampeyan saking pundi?"(iya benar, saya Djuwari, yang manggul Jenderal Soedirman, anda dari mana?) kata seorang kakek yang tengah duduk sambil memegang tongkat di sudut rumah warga Dusun Goliman.

Melihat sosok Djuwari tak nampak kegagahan pemuda berumur 21 tahun yang 61 tahun lalu memanggul Panglima Besar. Namun dipandang lebih dekat, baru tampak sisa-sisa kepahlawanan pemuda Djuwari. Sorot mata kakek 13 cucu itu masih menyala, menunjukkan semangat perjuangan periode awal kemerdekaan.

Sang pemanggul tandu Panglima Besar itu mengenakan baju putih teramat lusuh yang tidak dikancingkan. Sehingga angin pegunungan serta mata manusia bebas memandang perut keriputnya yang memang kurus. Sedangkan celana pendek yang dipakai juga tak kalah lusuh dibanding baju atasan.

Rumah-rumah di Dusun Goliman termasuk area kediaman Djuwari tak begitu jauh dari kehidupan miskin. Beberapa rumah masih berdinding anyaman bambu, jika ada yang bertembok pastilah belum dipermak semen. Sama halnya dengan kediaman Djuwari yang amat sederhana dan belum dilengkapi lantai.

"Sing penting wes tau manggul Jenderal, Pak Dirman. Aku manggul teko Goliman menyang Bajulan, iku mlebu Nganjuk,"(yang penting sudah pernah manggul jenderal, pak Dirman, saya manggul dari goliman sampai bajulan, itu masuk nganjuk) ujar suami almarhum Saminah itu ketika ditanya balas jasa perjuangannya.

Dia bercerita, memanggul tandu Pak Dirman (panggilannya kepada sang Jenderal) adalah kebanggaan luar biasa. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apapun.

Sepanjang hidupnya menjadi eks pemanggul tandu Soedirman, keluarga Djuwari beberapa kali didatangi cucu Panglima Besar. Pernah suatu kali diberi uang Rp 500 ribu, setelah itu belum ada yang datang membantu. Pemerintahan yang cukup baik kepadanya adalah pada zaman Soeharto, sesekali dia digelontor bantuan beras.

"Biyen manggule tandu yo gantian le, kiro-kiro onok wong pitu, sing melu manggul teko Goliman yaiku Warso Dauri (kakak kandungnya), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) karo Djoyo dari (warga Goliman),"(dulu manggulnya ya gantian, kira2 ada 7 orang, yang ikut manggul dari goliman itu Warso dauri, martoredjo, sama Djoyo) akunya.

Perjalanan mengantar gerilya Jenderal Soedirman seingatnya dimulai pukul 8 pagi, dengan dikawal banyak pria berseragam. Rute yang ditempuh teramat berat karena melewati medan berbukit-bukit dan hutan yang amat lebat. Seringkali perjalanan berhenti untuk beristirahat sekaligus memakan perbekalan yang dibawa.



(ILLUSTRASI)
"Teko Bajulan (Nganjuk), aku karo sing podho mikul terus mbalik nang Goliman. Wektu iku diparingi sewek (jarit) karo sarung," (sampai bajulan (Nganjuk), aku sama yg ikut mikul pulang ke Goliman, pas itu di kasih kain sama sarung) imbuhnya.


Ayah dari empat putra dan empat putri itu menambahkan, waktu itu, istrinya (sudah dipanggil Tuhan setahun lalu) amat senang menerima sewek pemberian sang Jenderal. Saking seringnya dipakai, sewek itupun akhirnya rusak, sehingga kini Djuwari hanya tinggal mewariskan cerita kisahnya mengikuti gerilya.
"Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh," (Pak Dirman pesen, hidup itu yang rukun, sama tetangga harus berbagi, se desa harus rukun semua) katanya.
.

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah memanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Putra Kastawi dan Kainem itu masih memiliki kisah dan semangat masa-masa perang kemerdekaan. Ketika ditanya soal periode kepemimpinan Presiden Soekarno hingga SBY, Djuwari dengan tegas mengatakan tidak ada bedanya.


Foto Bpk. Djuwari

Spoiler for open:


SUMBER


Sedikit potret pejuang indonesia masa lalu:
Spoiler for open:


Bandingkan pejuang "berdasi" masa kini:

Spoiler for open:


Quote:ANE CUMAN MIRIS LIAT PEJUANG-PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA, YANG DULU IKUT MEMERDEKAKAN NEGARA INI DENGAN MENGORBANKAN SEGALANYA, BAHKAN NYAWA UNTUK KITA GENERASI SEKARANG, TAPI APA YANG KITA LAKUKAN SEKARANG KITA HANYA MENYIA-NYIAKAN MEREKA, JAUH DARI SEGI MATERI BAHKAN SEDIKIT PENGHORMATAN PUN TIDAK ADA UNTUK MEREKA, MAAF BUKAN MAKSUD ANE MENGGURUI ANE PUN MELAKUKAN HAL YANG SAMA, SEMOGA INI BISA JADI RENUNGAN KITA BERSAMA, UNTUK LEBIH MAJU LAGI!!! MERDEKA !!!!!!



Quote:KALO BERKENAN BOLE KASI ANE BATA GAN MERAH DARAH KU!!!


TAMBAHAN DARI KASKUSER:
Quote:Original Posted By tabakpan
nambahin dikit gan, masih ada kaitannya dengan tandu pak dirman

ane pernah denger cerita di kalangan taruna akmil gan (angkatan darat) kan biasanya mereka ada tradisi napak tilas rute gerilya pangeran sudirman... dengan tujuan meningkatkan nasionalisme dan jiwa2 kejuangan, termasuk menghargai sosok panglima besar sudirman juga, mereka bergantian menandu tandu pak dirman (walau mungkin replika) menyusuri rute gerilya... nah ada kalanya tuh tandu tiba2 berat (kayak ada orang/ beban yang menaiki) ... saat tandu tiba-tiba terasa berat, pantangannya satu, jangan menoleh/menengok ke tandu.. pernah ada seorang taruna yang nekat melanggar pantangan , mungkin karena spontan atau jengkel kok tandunya makin berat dia nengok ke tandu, hasilnya mukanya langsung pucat kemudian pingsan, setalah sadar ia bilang bahwa saat menengok ia melihat sosok yang sangat2 mirip Pak Dirman sedang duduk di dalam tandu itu...

taruh pekiwan dong gan

ijin nyimak yah gan keren neh gan orang2nya
wadoh panjang amat gan??
ane baca dulu dehh
Miris gan kisahnya...
Jadi sedih ane... Jiwa pejuangnya masih ada yah.. Hebat...
kasian gan..
masih banyak lgi gan yg nasibnya sama..
seperti itukah yg namanya merdeka yah gan ?
Quote:Original Posted By asep.yuyi13
kasian gan..
masih banyak lgi gan yg nasibnya sama..
seperti itukah yg namanya merdeka yah gan ?


nah itu gan yang ane maksud !! cerdas ente!!
kasian banget kisah orang yang manggul itu
harusnya pemerintah memperhatikan
para pejuang tanpa jasa ini
suatu hari nanti, mungkin beliau akan dibalas kebaikannya
jadi inget kakek ane, kakek ane jg pejuang gan..
ane bangga..
Quote:Original Posted By kemaren
kasian banget kisah orang yang manggul itu
harusnya pemerintah memperhatikan
para pejuang tanpa jasa ini


stuju gan apa jadinya negara ini kalo ga ada mereka, mereka brhak atas penghargaan....
Quote:Original Posted By syalvanatero
jadi inget kakek ane, kakek ane jg pejuang gan..
ane bangga..


slamat gan ente cucu yg beruntung, tetep selalu bangga gan!!!
inget mbah ane gan prajurid , pas perang di ponorogo gan ,
gan, kalimat2 yg masih dalam bahasa jawa bisa translate ke bahasa indonesia?? ga semua orang tau dan ngerti bahasa jawa
inilah secuil kisah di negri ini... masih banyak yg lebih miris tak terekspos media gan.
Quote:Original Posted By KzThona
inget mbah ane gan prajurid , pas perang di ponorogo gan ,


mantab gan!!! boleh share dimari dong critanya ane mo denger
Quote:Original Posted By grinning
gan, kalimat2 yg masih dalam bahasa jawa bisa translate ke bahasa indonesia?? ga semua orang tau dan ngerti bahasa jawa


bahahahaha ane juga ga ngerti gan ane orang sunda GUBRAAAAAAAAAK !!!!!
Quote:Original Posted By Atazoth


bahahahaha ane juga ga ngerti gan ane orang sunda GUBRAAAAAAAAAK !!!!!


okelah klo bgitu, anggap saja itu kalimat2 bijak/berwibawa...
ternyata masih hidup gan orangnya sampai sekarang?
Quote:Original Posted By grinning
okelah klo bgitu, anggap saja itu kalimat2 bijak/berwibawa...


bahahhahaa iya gan nggap aja petuahh, gada translate jawa ke melayu ya ane juga penasaran ini artinya
×