KASKUS

Misteri Danau Rawa Pening

Hi all..ane mau cerita sedikit tentang kemisteriusan danau di kampung halaman ane, yaitu rawa pening.

Tulisan ini adalah repost yang sebelumnya saya unggah di blog sebelah..

Tapi di kaskus ini akan berusaha saya update terus..

oke, enjoy..

Spoiler for foto rawa pening:

Spoiler for cerita:


Kalo suka dengan cerita ane, mohon di y gan..

sedikit update klik disini..
http://www.kaskus.co.id/post/0000000...00000740026945

thanks kaskuser
pertamax
oke ceritanya
ayo ts lanjutkan lg yg brhubgna dngan danau tersbut baik soal legenda dan mitos2 yg mash dipercayai hingga kinu
terntanya dibalik rawa pening dan Rumah makan yang berdiri tersimpan nilai gaib yg tinggi juga...monggo dibabar lagi....


rawa pening ya.......baru klinting ketoke......
wah bagusnya pemandangannya,...
ada kaitannya dgn tombak kyai baru klinthing ga yah
bagus jg t4nya yaa
tempatnya bagus meski agak mistis
padahal tempatnya bagus...cuma mistisnya ajib....ane 3 kali lewat jalur itu pasti merinding disko
cerita lagi gan, ane seneng bacanya.
wahh ane kalo mudik pasti lewat daerah ini gan, btw pemandangan nya bagus gan apa lagi kalo di lihat sore hari ..
danau nya cantik
Quote:Original Posted By banyu2807
terntanya dibalik rawa pening dan Rumah makan yang berdiri tersimpan nilai gaib yg tinggi juga...monggo dibabar lagi....


kok agan tau?iya memeang kabarnya ada salah satu rumah makan yg nyari tumbalnya di sana gan..
Quote:Original Posted By Terow
ada kaitannya dgn tombak kyai baru klinthing ga yah


itu crita panjang gan..menurut legenda tombak itu adalah sisa lidah baruklinthing yg di potong sma bapaknya..
mungkin ada yg bisa trwaang keberadaan pusaka itu bnr ada ato hanya mitos?
Quote:Original Posted By girock
kok agan tau?iya memeang kabarnya ada salah satu rumah makan yg nyari tumbalnya di sana gan..


cuma kelepasan ngomong aja mbah..g usah digugu
Quote:Original Posted By ninjasaga10
oke ceritanya
ayo ts lanjutkan lg yg brhubgna dngan danau tersbut baik soal legenda dan mitos2 yg mash dipercayai hingga kinu


oke gan, ane mo share pengalaman ane waktu masih SD kelas 5..

waktu itu habis ada jambore daerah, dan kebetulan SD saya terpilih sebagai wakil nya..kaerna bangganya, setelah pelaksanaan jamda (jambore daerah) kami masih terbawa semangat jamda sehingga hampir setiap weekend kami berkemah di stasiun tuntang
Spoiler for di pelataran inilah kami dulu berkemah:

Kami selalu berkemah mulai hari sabtu sore, melewatkan malam layaknya anak-anak desa zaman dahulu, membuat api unggun, main bola api, bakar jagung dan singkong hasil mencuri kebun milik kakek teman kami.

Malam itu semua berjalan lancar, hingga sekitar jam 10 malam terdengarlah suara gamelan itu..Kami yang sudah mengerti dan sudah terbiasa akan pertanda tersebut cuma bisa berdoa dan saling pandang menebak apa yang akan terjadi esok.

Esok paginya (hari minggu) seperti biasa kami bangun subuh bersama, menunaikan shalat subuh bersama kemudian berjalan di tepi danau sembari menikmati pemandangan dan sejuknya udara rawa pening. Di tengah perjalanan pulang dari danau, kami berpapasan dengan rombongan anak seumuran anak smp berjumlah 5 orang (saya ingat betul hal ini) yang menuju danau. Mereka berjalan dengan angkuh ala preman kampung yang merasa jago (ababil gitu lah), berjalan memenuhi jalan dan tidak mau memberi jalan kepada kami.

Tetapi kami tidak ambil pusing saat itu, kami hanya bertanya dalam hati, siapa dan darimana rombongan ini karena jika memang dari desa kami tentulah kami mengenal mereka mengingat desa kami yang saat itu tidak seramai sekarang.

Hari sudah makin siang, kami pun merapikan peralatan kami kemudian pulang ke rumah masing-masing. Saya sendiri pulang ke rumah nenek saya yang rumahnya tidak jauh dari stasiun tuntang. Saat sedang asyik menonton doraemon, tiba-tiba terdengar suara kentongan yang dipukul dengan ritme 3 kali pukulan. Ritme seperti itu adalah tanda bahwa ada seseorang yang tenggelam!

Paman saya langsung berdiri dan berlari ke arah sungai sekuat tenaga, sedangkan saya berada dibelakangnya berusaha sekeras mungkin agar tidak tertinggal lebih jauh. Dengan hitungan detik para tetangga sudah keluar rumah, mencari titik kejadian yang mengakibatkan kentongan di pinggir sungai dipukul. Di sana saya lihat 4 orang anak yang berpapasan dengan saya tadi pagi. Mereka basah kuyup, tergeletak lemas di pinggir sungai ditemani seorang pemancing yang juga basah kuyup dan terengah-engah. Ya, hanya 4 orang anak. Masih ada 1 orang lagi yang tersisa dan belum terselamatkan, orang dewasa yang lain menceburkan diri, menyelam di air yang keruh itu, berusaha mencari anak yang masih tertinggal. Tapi sia-sia, sudah terlalu lama..sudah tidak mungkin dia selamat.

Akhirnya beberapa orang mengambil perahu dan tongkat bamboo panjang yang digunakan untuk mendayung perahu sekaligus merasakan kontur permukaan dasar sungai untuk mencari mayat. Mereka meyusuri disekitar lokasi kejadian dan ke arah hilir jika saja mayat anak tersebut terserat arus mengingat pada saat itu debit air sedang tinggi.

Hingga jam 2 siang, masih saja belum ditemukan meski tim sar dan beberapa orang yang dianggap “pintar” sudah datang dan ikut mencari si mayat. Menjelang sore, sebut saja Lek No, nelayan desa kami yang ikut mencari mayat, iseng mendayung perahunya ke arah hulu (berlawanan dengan arus) sekitar 300 m dari lokasi kejadian ketika tongkatnya dirasakannya menyentuh sesuatu yang ganjil. “Ketemu!!” teriaknya..dia langsung menceburkan dirinya dan beberapa saat kemudian dia naik lagi dengan membawa anak yang tertinggal itu yang sudah menjadi mayat kaku.

Mayat si anak dinaikkan ke darat, dan pada saat itulah saya yang melihat dengan mata kepala saya sendiri bersama puluhan penduduk yang menyaksikan, melihat sesuatu yang membuat ngeri..Mayat si anak yang sudah kaku, diketemukan dalam posisi lutut di tekuk, kedua tangan berada di belakang seperti terikat tali yang tidak nampak, dan kepala tertunduk. Ya, mayat si anak berada dalam posisi berlutut seperti diikat layaknya tahanan.
Secara logika pun posisi diketemukannya mayat anak tersebut tidak mungkin, karena mayat tersebut ditemukan di lokasi yang berlawanan arus.

Menurut ke 4 anak yang selamat tadi, mereka diajak oleh seorang kakek tua, di tuntun ke sungai dan di lokasi mereka tenggelam katanya banyak ece (kerang sungai) yang dapat dengan mudah diambil. Mereka ber-5 merasa bahwa di lokasi ini airnya tengan dan jernih sehingga mereka dapat melihat dasar sungai dan terlihta dangkal. Namun anehnya, saya dan teman-teman saya yakin kalo saat kami bertemu mereka, mereka hanya ber5 dan tidak ada kakek tua itu. Pemancing yang menyelamatkan mereka juga mengaku dia hanya melihat mereka ber5 datang ke pinggir sungai, melepas baju lalu menceburkan diri.

lalu siapa kakek itu?
hanya Allah yang tahu..

Yang saya tahu hanya pada malam itu rawa pening kembali bertabuh gamelan..
Quote:Original Posted By banyu2807


cuma kelepasan ngomong aja mbah..g usah digugu


haha, mosok to puh..cerita lah puh..
Quote:Original Posted By la.famusto
cerita lagi gan, ane seneng bacanya.


udah saya pdate dikit mas..monggo di lanjut bacanya..
mantap mbah ts :
salken mbah
×