KASKUS

Sepenggal Cerita Seorang Prajurit di Medan Laga

Sebenarnya ini cerita yang saya tuliskan dari seorang anggota TNI sebut saja

(But) yang mana bisa dikatakan beliau adalah merupakan tetangga saya.

Memang lebih tepatnya cerita ini hanya sekedar cerita ringan yang mana

terkadang menjadi selingan di tengah-tengah obrolan bersama. Apabila hanya

sekedar mendengar ataupun sekedar mengetahui cerita-cerita dari seorang

prajurit, aparat ataupun siapapun yang berhubungan dengan tugas

utamanya, memang terkadang terkesan biasa-biasa saja, apalagi apabila

ceritanya hanya monoton dan terkesan didramatisir. Namun entah bakat

terpendam , terpencar ataupun terkubur, di dalam menceritakan pengalaman-

pengalamannya, bapak But memang sangat lihai dalam melihat pangsa pasar,

terutama kaum muda yang terkadang kurang tertarik dengan hal-hal

semacam itu.



Semua di awali dari pak But yang ditugaskan ke tempat konflik pada kurang

lebih 11 atau 10 tahun lalu. “ya, namanya juga manusia, pasti ada rasa

cemas, takut, was-was di sana, apalagi keluarga di rumah” ujar ringan pak

But. Sesampainya di tempat konflik tersebut, para prajurit yang

diberangkatkan dari markas masing-masingpun lantas diberi penugasan

masing-masing, termasuk juga kopral But. Hingga pada suatu hari datanglah

saat dimana menjadi salah satu bagian momen yang sangat mengujinya.

Singkat cerita, pada saat itu, kopral But sedang makan siang dengan salah

seorang rekannya. Tidak beberapa lama, datanglah sekelompok orang yang

mereka duga sebagai bagian dari orang yang seharusnya mereka cari. Karena

kalah jumlah, serta persenjataan, entah mengapa tiba-tiba rekan kopral But

tadi seperti hilang di telan Bumi. Yang mana setelah ditemui kembali oleh

kopral But, rekannya tadi mengaku bahwa ia ingin ke kamar kecil, “tapi kok

cepet banget (batin)” kata kopral But.



Namun dengan santainya kopral But yang dikenal gagah berani serta lumayan

perkasa ini tetap melanjutkan makan siangnya dengan nyaman. “Memang

saat itu di luar tugas sih, tapi kalau kamu pasti sudah kejang-kejang

ketakutan” celetuk kopral santai. Untung seribu untung, sang kopral pun

selamat dari kontak senjata. Ia pun selamat di minggu pertama dalam

penugasannya tersebut. Di hari lainya, ternyata sang komandan memberikan

penugasan kepada beberapa prajurit untuk melakukan penyerbuan, yang

mana kopral But pun turut serta di dalamnnya. Saat penyerbuan terjadi,

tiba-tiba “dhoorr” letusan pelor musuh pun meletus. Dan disusul dengan

rentetan tembakan lainnya. Tiba-tiba komandan regu yang berada di depan

kopral pun tersungkur, satu persatu rekan dan teman karibnya pun jatuh dan

bahkan beberapa gugur di medan pertempuran
Hingga pada suatu hari Ia berhasil menyelamatkan diri dan berlari ke suatu

tempat. Berada pada keadan yang sangat mendesak dan tidak serta merta

dapat kembali ke pos dan menghindari jangkauan musuh, kopral But pikir ini

yang mengharuskannya bertahan dengan keadaan yang ada. Dan sampailah

Ia di sebuah Puskesmas, dalam penyamarannya, Ia meminta 5 botol Infus

kepada perawat. Apa yang dilakukannya?, ternyata sang kopral meminum

cairan infus tadi untuk sekedar melepas dahaga. Dan tidak disadarinya,

ternyata cairan Infus tadi bisa menahannya bahkan untuk tidak makan

selama tiga hari. Dan untunglah keadaan berangsur-angsur aman, sehingga Ia

pun dapat kembali ke pos dalam keadaan selamat. Namun kopral But tidak

menyangka bahwa temannya satu markas terkaget-kaget saat melihat

sosoknya. Ternyata di pos sendiri, sebenarnya kopral But sudah dikabarkan

hilang kontak dan bahkan sudah dikabarkan tewas. Dengan perasaan yang

senang namun jengkel dan sedikit galau itu, akhirnya sang kopral pun kembali

disambut dengan gembira pula oleh rekan-rekan.



Itulah salah satu bagian dari cerita-cerita panjang kopral But. Singkat cerita,

kopral But dapat dengan selamat menjalani penugasan-penugasannya di

daerah-daerah atau yang biasa Ia sebut titik rawan itu. Dan selamat pula

kembali ke markas hinnga sekarang, dan sampai cerita ini saya tuliskan, masih

terdapat beberapa sisa-sisa perang yang membekas pada Kopral But, yang Ia

tidak mau menjelaskan secara detail sebabnya. Dan sekali lagi Ia sangat

bersyukur atas keselamatan yang masih membawanya hingga sekarang.........



-Wahyu Utomo (Kompasiana 16 Mei 2012 )
hmmm. nice story..
------------------------------------------
tapi sepertinya cerita2 seperti ini udah ada trit nya deh.. usul biar di merge ajah..
Quote:Original Posted By cherrypopper
hmmm. nice story..
------------------------------------------
tapi sepertinya cerita2 seperti ini udah ada trit nya deh.. usul biar di merge ajah..


terima kasih
merger maksudnya gan?digabung?
boleh tau tempatnya dimana? maksud sy digabung kemana?
Quote:Di hari lainya, ternyata sang komandan memberikan penugasan kepada beberapa prajurit untuk melakukan penyerbuan, yang mana kopral But pun turut serta di dalamnnya. Saat penyerbuan terjadi, tiba-tiba “dhoorr” letusan pelor musuh pun meletus. Dan disusul dengan rentetan tembakan lainnya. Tiba-tiba komandan regu yang berada di depan kopral pun tersungkur, satu persatu rekan dan teman karibnya pun jatuh dan bahkan beberapa gugur di medan pertempuran

kayaknya ini kisah nya di Matang Kumbang, Bireun nih
http://www.indosiar.com/fokus/kontak...was_24647.html
http://www.tempo.co/read/news/2003/0...-Gugur-di-Aceh
http://www1.dephan.go.id/modules.php...ticle&sid=4028
http://jurnalis.wordpress.com/2003/0...run-ala-gam-2/
Quote:Original Posted By SaptaKencana
terima kasih
merger maksudnya gan?digabung?
boleh tau tempatnya dimana? maksud sy digabung kemana?


di gabung di trit cerita.. link nya lupa.. ada di halaman belakang2 gitu. ntar mod nya yg gabung biasanya..
kebetulan ada yg buat trit ini numpang cerita


1.MEREBUT JEMBATAN
Tahun 2004 bersama separuh kekuatan batalyon infranteri (yonif) 403 WPparka S mendapat tugas utk melaksanakan operasi keamanan di Aceh, menempati POS wilayah bireun, misinya dalah untuk mengejar berikut menangkap anggota GAM.
Suatu hari tim satu regu menerima perintah untuk merebut salah satu jembatan yang selama ini dikuasai dan di jadikan pintu masuk menuju basis GAM. Jembatan yang menghubungkan 2 desa tersebut juga dikenla jembatan paling angker, mayoritas warga yang tinggal disekitar jembatan mengaku enggan melewati jembatan tersebut dan melilih jalur lain walaupun lebih jauh jaraknya.
Menjelang subuh regu parka S bergerak menuju jembatan, setalah menempuh jarak 3 jam, tiba di ujung jembatan berjarak 50m dr jembatan. Di deteksi jumlah GAM sebanyak 20 org. yang menduduki dan berjaga dan bersenjata lengkap. Tim kemudian menyebar dan menyisir perlahan menuju jembatan kemudian melapskan tembakan keudara sembari bertierak supaya musuh melemparkan senjata kemudian menyerah. Sadar telah di kepung GAM membalas tembakan kontak tembak terjadi dalam waktu kurang dari 15 menit sebanyak 4 musuh tewas dan sebagian melarikan diri
Quote:Original Posted By Uthe18
kayaknya ini kisah nya di Matang Kumbang, Bireun nih
http://www.indosiar.com/fokus/kontak...was_24647.html
http://www.tempo.co/read/news/2003/0...-Gugur-di-Aceh
http://www1.dephan.go.id/modules.php...ticle&sid=4028
http://jurnalis.wordpress.com/2003/0...run-ala-gam-2/


nah.. pantes.. prasaan pernah baca dimana gitu ini cerita..

Catatan Liputan Tragedi Talangsari

Artikel : Djono W. Oesman

Tragedi Talangsari Bag.1

Perang antara GPK (kelompok separatis) melawan prajurit TNI di Talangsari,

Lampung, pada 1989 mengejutkan bangsa kita. Saya dalam kapasitas sebagai

wartawan Jawa Pos, ditugaskan meliput beritanya. Inilah catatan behind the

news tragedi berdarah itu.



Kamis, 7 Feb 1989, pukul 21.00 Kantor Redaksi surat kabar Jawa Pos (JP)

Jakarta, Jl. Prapanca, dalam puncak kesibukan. Deadline sebentar lagi

ditutup. Semua wartawan berpacu, mengetik berita. Mendadak kesibukan

dibelah suara TV yang volumenya diputar kencang. Acaranya: Dunia Dalam

Berita TVRI. Panglima ABRI Jenderal TNI Try Soetrisno berseragam lengkap,

tampil bicara.


Redaktur Pelaksana Nani Wijaya: “Rakyat.... Hentikan pekerjaan sejenak,

perhatikan ini.” Maka, semua wartawan menghentikan kegiatannya, maju

mendekati televisi besar di tengah ruangan. Pada era itu, semua berita

terkait Presiden Soeharto dan ABRI adalah berita sangat penting. Tampilnya

Jenderal Try, pasti ada yang penting.


Jenderal Try: “Saudara-saudara sebangsa, hari ini telah terjadi kerusuhan

kecil di Talangsari, Lampung. Sekelompok GPK melakukan perlawanan

terhadap prajurit TNI yang sedang melaksanakan tugas,” Jenderal Try

menghela napas.


“Dalam kontak senjata, putera terbaik bangsa, Komandan Rayon Militer Way

Jepara, Kapten TNI Soetiman, gugur di medan tugas. Ia terkena panah

beracun pihak GPK. Dua prajurit TNI lainnya terluka parah. Dari pihak GPK

dilaporkan, enam tewas. Situasi di lokasi kejadian kini aman di bawah kendali

prajurit TNI,” tutur Try.


Usai menyimak berita, para wartawan kembali ke mejanya. Tenggelam

melanjutkan ketikan yang belum selesai. Volume TV dikecilkan lagi, suasana

hening. Saya tahu, mereka cepat kembali ke meja masing-masing, bukan

semata-mata deadline. Mereka khawatir ditugaskan ke Talangsari.

Sebagai wartawan, mestinya kami merasa tertantang dengan tugas meliput

apa pun, apalagi perang. Namun, logika mayoritas kawan saya saat itu

terbalik. Tugas katagori sulit cenderung dihindari.


Penyebab: Jika wartawan gagal, pelan-pelan karirnya habis. Sebaliknya bila

sukses, tak ada imbalan. Hanya kebanggaan pribadi, dan tetap bertahan

menjadi wartawan di surat kabar Jawa Pos (JP). Redaktur Pelaksana Nani

sering mengatakan, memang begitulah yang harus dilakukan wartawan.

Namun, orang normal manakah yang mau gambling tanpa imbalan? Lebih baik

menulis berita yang tak berisiko gagal.


Saya hampir menyelesaikan ketikan berita kedua, melakukan trik. Berita yang

sudah hampir jadi itu, saya hapus lagi separonya. Lalu saya ketik lagi.

Tujuannya mengulur waktu.

Nani berjalan keliling, mengamati layar monitor masing-masing wartawan.

Semua mengkeret. Semua tampak serius, terbenam di balik monitor PC

masing-masing. Tiba di dekat saya, Nani berhenti. “Dwo (inisial nama saya)

wartawan yang tepat ke Talangsari. Gaya penulisan human interes dia paling

bagus,” katanya.

Saya menoleh ke Nani. “Setelah ini saya masih punya satu berita bagus lagi,

Bu,” kata saya. Nani lantas mendekati monitor saya, membaca tulisan. Hanya

beberapa detik, “Ah.... ini berita nggak penting. Tadi kamu sudah setor satu

berita, sudah cukup. Sekarang, tinggalkan semua pekerjaanmu. Berangkat

cepat ke Talangsari....”

Sekilas, saya lihat teman-teman tersenyum, tapi tetap serius mengetik.

Wajah-wajah mereka sudah tidak tegang seperti tadi. Sedangkan saya, tidak

mungkin lagi menghindar. Menolak tugas, bisa langsung tamat. Berarti

sekarang saya dipaksa ikut gambling palsu. Gambling tanpa hadiah.

Ratusan kali sudah saya alami situasi ini, dengan skala tingkat kesulitan yang

variatif. Sebab, posisi tugas saya floating (tanpa pos instansi). Setiap saya

dimasukkan dalam “Gambling Tanpa Hadiah” selalu saja saya gemetar,

walaupun saya sudah berpengalaman. Kondisi medan liputan floating selalu

berbeda, baik situasi dan kondisi maupun tingkat kesulitannya.


Kadang, timbul keinginan untuk keluar dari posisi ini. Caranya, harus menjadi

redaktur. Namun, itu tergantung atasan saya. Juga, perasaan ini yang

membuat saya bertahan: Setiap kali saya masuk ke "Gambling Tanpa Hadiah",

selalu gemetar, tapi asyik. Takut tapi selalu ketagihan. Untung, saya tak

pernah gagal. Kalau gagal, saya sudah dipindah ke divisi iklan atau

pemasaran. Malah ada beberapa kawan saya yang dipaksa resign. Itu

peraturan tak tertulis. tidak fair.





Nani lantas keluar ruangan. Ia masuk ke ruang redaksi surat kabar Suara

Indonesia (SI) koran anak perusahaan JP. Kantornya di bagian belakang. Tak

lama, ia keluar diikuti Willy Aplasi (wartawan SI), pemuda tinggi kurus.

“Willy, kamu tanya dwo, apa yang terjadi di Talangsari,” kata Nani sambil

menunjuk saya. Willy yang kebetulan tadi tidak menonton TV, bertanya

macam-macam, saya jelaskan macam-macam.


Saat saya-Wil diskusi, Nani mengacungkan segepok uang. “Uang saya Rp 300

ribu (kurs saat itu USD 1/Rp 1.800, jadi sekitar USD 166,6). Siapa punya 500

ribu lagi? saya pinjam dulu,” ujarnya sambil berkeliling. Tak ada yang

menyahut, tak ada yang menoleh. Itu bukan jumlah sedikit. Gaji saya saat itu

Rp 260 ribu sebulan. Tak ada wartawan yang mengantongi sejumlah itu

kemana-mana.

“Tolong.... kalau ada uang di rumah, cepat ambil. Besok saya kembalikan,”

katanya, mulai berteriak.

Ternyata ada yang menyahut. “Saya ada,” ujar Kar, memecah bisu.

“Hebat..... Kar malam ini pahlawan kita,” ujar Nani tepuk tangan, menghampiri

Kar, menyalaminya. Kar wartawan JP berkumis tebal.

Lalu Nani mendekati saya dan Wil. “Kalian saya beri masing-masing 400 ribu

ke Talangsari. Jangan lupa, semua kuitansi pembayaran harus ada.

Sementara, ini 300 ribu untuk dwo. Sisanya, juga bagian untuk Wil, ikut ke

rumah Kar,” katanya sambil menyerahkan uang ke saya.

Lalu wanita itu mencatat serentetan tugas di selembar kertas. “Ini

untuk dwo. Wil, ikuti saja dwo. Kau belajar menulis dari dia,” perintahnya

sambil menyerahkan kertas ke saya.

Wil dan saya sebaya, baik usia maupun karir jurnalistik. Tapi karena saya

wartawan JP (holding company) dan Wil SI, sehingga perlakuan tugasnya

dibedakan.
Gaya nulisnya mengingatkan pada agan rudy79...
Pukul 21.30 saya, Wil, dan Kar, menghidupkan motor masing-masing,

meninggalkan kantor. Agar cepat, kami berpencar pulang. Saya saat itu

kontrak rumah di sebuah gang sempit di belakang Taman Majam Pahlawan

Kalibata. Willy di lokasi kumuh dekat kantor. Kar tidak pulang ke Depok, tapi

ke rumah orang tuanya di Menteng Pulo.


Rencananya, Kar akan mendatangi rumah saya untuk menyerahkan uang, lalu

saya mendatangi Wil menyerahkan uang sekaligus kami berangkat.

Tak sampai setengah jam saya di rumah, Kar sudah muncul. Begitu dia masuk

ruang tamu, dia geleng-geleng. “Masya Allah... salut aku ke kamu dwo,”

ujarnya sambil duduk di lantai beralas plastik, bergambar keramik warna hijau.

Saya tak tahu, apa maksud dia salut. Mungkin salut pada kemiskinan saya.

Dia lalu – ini brengseknya – menyingkap plastik lantai. Tampaklah tanah

merah. Kering, retak-retak. Dia cepat menutupnya lagi.

Isteri saya (almarhumah) keluar membawa nampan berisi segelas teh untuk

Kar dan segelas kopi untuk saya. Isteri saya dan Kar berkenalan, lalu isteri

masuk kamar. Kepada saya, Kar menyerahkan uang. “Ini uang 500 ribu

pesanan Ibu Nani tadi. Aku nggak lama-lama, dwo. Biar kamu cepat

berangkat,” ujarnya setelah minum teh.

Kar pamit, menyalami isteri saya, “Yang sabar jadi isteri wartawan, Mbak.

Saya dan dwo sudah lima tahun berjuang di JP, tapi kami masih begini,”

katanya. Lalu motornya menghilang di tikungan gang sempit, dekat kandang

kambing.

Gara-gara ucapan Kar tadi, isteri saya kelihatan murung. Dua tahun kami

menikah (akan segera punya anak), cukup bagi saya menganalisis isi hatinya

dari raut wajahnya. Saya tahu dia sedih. Tapi bagaimana menghiburnya?

“Kamu ingin saya belikan apa, sayang?” tanya saya.

Dia diam. Saya hibur. “Jangan sedih. Yang penting kita saling mencintai.

Anak-anak kita nanti cantik seperti kamu, cerdas seperti aku.”

Dia menjawab: “Aku sama sekali gak sedih, Mas. Aku sedang membayangkan,

bagaimana Mas pagi nanti masuk ke sisa-sisa kelompok Warsidi,” katanya.

Saya kaget. Dia memang nonton Dunia Dalam Berita di TV, jadi tahu persoalan

bahwa saya akan meliput berita kelompok separatis pimpinan Warsidi.

Saya: “Ya... sudah. Tenang saja, aku sudah punya cara.”

Di luar dugaan, dia usul: “Mas harus cari masjid kelompok mereka. Lalu shalat

Jumat bersama mereka.”

Wuiih... hebat juga dia, sekaligus mengingatkan saya shalat Jumat. “Ide yang

bagus, sayang. Kamu anaknya prajurit Marinir yang hebat. Bapakmu pasti

bangga ke kamu, begitu juga aku,” kata saya sambil mencium keningnya. Dia

tersenyum manis. Saya berangkat dengan hati mantap.


Rumah Wil ternyata sama parahnya dengan tempat saya. Sama-sama ruang

tamu tanpa meja kursi, tanah merah, ditutup plastik. Bedanya, pembatas

ruang tamu dengan kamar tidur di rumah saya adalah dinding batako, di

rumah Wil adalah gorden kumal warna kuning.

Jadi, rumah Wil berupa ruangan memanjang ke samping. Saya tak tega

bertanya, dimana dapur dan kamar mandi. Saya serahkan 400 ribu sambil

bertanya, “Berapa gajimu, Wil?” Dia jawab, hampir 140 ribu.


“Kita ini pejuang, dwo. Jangan pikirkan gaji,” katanya. Saya mengangguk,

menghormati pendapatnya. Tapi ucapan dia kontradiktif dengan gayanya

ketika mencabut Rp 400 ribu dari tangan saya. Cara dia menerima uang dari

saya, begitu cepat. Lalu dengan pandangan nanar, dia menghitung lembar

demi lembar. Bau uang baru membuat hidungnya mekar-kempis. Bagai kucing

ketemu ikan asin.


Saya menyela, “Tapi, kalau pejuang digaji terlalu kecil bisa mati melet,

sebelum maju bertempur,” sanggah saya. Dia tertawa terbahak karena istilah

“mati melet” itu. Lalu dia mengakhiri, “Ya, sudah... yang penting sekarang

kita pegang duit banyak. Kita makan yang enak,” ujarnya.

Kian jelas, dia menghibur kemiskinan dengan selimut perjuangan. Agar tidak

terlalu nelangsa, dia pompakan semangat bahwa dirinya pejuang. Lalu morfin

pejuang itu dia coba tularkan ke saya. Tentu, perspektif saya beda:

Namun, tak perlu menjelaskan ini ke dia. Biarlah, toh dia terhibur dengan

candu perjuangan.

Malam hitam pekat. Sama persis dengan jaket kulit kami berdua. Motor Wil

Honda CB merah, motor saya Suzuki A 100 tanki hijau, meluncur

meninggalkan rumah Wil.

Selepas Jalan Daan Mogot, Grogol, lalu-lintas sepi. Kendaraan dari arah

Jakarta hanya motor kami. Dari arah sebaliknya, kebanyakan truk. Wil melaju

kencang di depan. Speedometer saya posisi 80, Wil sudah jauh di depan.

Saya kurangi jadi 60 – 70 sebab jalanan gelap dan berlubang.

Kemudian Wil mengikuti irama saya, 60 – 70 km/jam. Tak sampai sejam

setengah, kami tiba di Pelabuhan Merak. Tapi, sekitar 3 km menjelang tiba

tadi, ban belakang Wil bocor. Motor dipaksa juga melaju sekitar 30 km/jam.

Tiba di kawasan pelabuhan, lewat 01.00, kami singgah di kedai kopi, sekaligus

menitipkan dua motor disitu.

Situasi pelabuhan berbeda dari biasanya. Tentara berseragam, lengkap

dengan senjata laras panjang, ada dimana-mana. Setelah beli tiket, hendak

masuk kapal, tas kami diperiksa tentara. Dengan senter, isi tas saya diaduk.

Kamera besar dalam tas, dikeluarkan petugas,

“Buat apa ini?” tanyanya. Saya jawab sambil menunjukkan kartu pers, “Saya

wartawan ditugaskan ke Lampung, Pak.”

Setelah meneliti kartu pers, dia berubah lunak. “Lampung sudah aman, Mas.

Tidak ada berita bagus disana,” ujarnya sambil tersenyum. Wil juga diperiksa.

Setelah petugas tahu bahwa kami wartawan, mereka ramah.



next bag.2
Quote:Original Posted By Uthe18
kayaknya ini kisah nya di Matang Kumbang, Bireun nih
http://www.indosiar.com/fokus/kontak...was_24647.html
http://www.tempo.co/read/news/2003/0...-Gugur-di-Aceh
http://www1.dephan.go.id/modules.php...ticle&sid=4028
http://jurnalis.wordpress.com/2003/0...run-ala-gam-2/


Quote:Original Posted By finandhita
nah.. pantes.. prasaan pernah baca dimana gitu ini cerita..


benar sekali.link itu berkaitan sekali dengan cerita Pak But di kisah ini.
Penyergapan GAM terhadap Patgab Marinir/712 Wiratama.
buat TS: tolong cantumin sumber aslinya...
Quote:Original Posted By kenyot10
buat TS: tolong cantumin sumber aslinya...


sumber?
Kalau yang Tragedi Talangsari pernah dimuat di indonesiarayanews.com per tgl.24 Sept 2011.Itu diatas sudah sy sebutkan penulis aslinya. Wartawan yang meliput langsung kejadian.
Quote:Original Posted By SaptaKencana
benar sekali.link itu berkaitan sekali dengan cerita Pak But di kisah ini.
Penyergapan GAM terhadap Patgab Marinir/712 Wiratama.


yang mengakibatkan 7 personel marinir gugur itu yah gan??
TS avatarnya Dephan
lokasi di........................................Gambir
Quote:Original Posted By SaptaKencana
sumber?
Kalau yang Tragedi Talangsari pernah dimuat di indonesiarayanews.com per tgl.24 Sept 2011.Itu diatas sudah sy sebutkan penulis aslinya. Wartawan yang meliput langsung kejadian.


Menarik banget sharingntya. Kalo bener dari tangan pertama, menjadikan lanjutannya sangat layak ditunggu.

Mohon jangan lama lama lanjutan nya yah. Terima kasih
Quote:Original Posted By alexander hagal
yang mengakibatkan 7 personel marinir gugur itu yah gan??


7 vs 5 (salah satunya wanita/inong bale)
Kopral But ? asumsinya Kopda atau Koptu. salah satu yang ikut dalam kontak tsb bernama Praka ribut...10 thn lalu ( mgkin dah naik pangakt 1 atau 2 kali).
keren postingannya gan,,,saking di filmkan asyk kyaknya nih