KASKUS

Kisah Pemburu Kepala (KPK)

Setelah ane bawa artikel Kasus Sampit ,Ane jadi bingung dan kagum ama ilmu yg digunakan suku dayak,seperti yg ane baca di artikel tersebut,dikatakan bahwa dengan hanya 300 pasukan suku dayak bisa berperang melawan ribuan warga madura.

Quote:Original Posted By saksi mata
Pengakuan seorang pengungsi, Titin (19), asli Lumajang, yang tinggal di Jl. Pinang 20 Sampit mengatakan, suaminya yang asli Dayak Kapuas yang kini ikut pasukan Dayak. Ia menceritakan, suaminya pernah bercerita padanya, mengapa orang Dayak menjadi pandai berkelahi dan larinya cepat bagai kijang.
"Awalnya suaminya enggan menjadi pasukan Dayak untuk membunuhi orang Madura. Tapi karena dihadapkan pada satu di antara dua pilihan, jadi pasukan atau mati, terpaksa suaminya memilih jadi pasukan Dayak. Saat itu ia disuruh minum cairan yang membuatnya ia menjadi berani, kemudian alisnya diolesi dengan minyak yang membuat ia melihat bahwa orang Madura itu berwujud anjing dan akhirnya harus diburu dan dibunuh. Makanya orang Dayak tidak punya takut, tidak punya rasa kasihan, ini menurut Titin karena sudah diberi minuman dan olesan minyak tertentu. Sehingga mereka mirip dengan jaran kepang yang sedang kesurupan, mungkin mereka kerasukan roh nenek moyangnya dan membunuh sesuai dengan perintah panglima perang suku Dayak."


Berdasarkan pengakuan saksi mata tersebut ane coba googling tentang ilmu suku dayak,ane dapetin artikel tentang "Ngayau"
Tradisi pemburu kepala gan

Quote:Original Posted By ngayau



Ngayau merupakan tradisi Suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, baik Dayak yang tinggal di Kalimantan Barat maupun Kalimantan lainnya. Suku Iban dan Suku Kenyah adalah dua dari suku Dayak yang memiliki adat Ngayau. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama ini adalah yang berkaitan dengan berburu kepala (Ngayau). Karya Bock, The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1881 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala”.

Praktik berburu kepala adalah salah satu bentuk komplek perilaku sosial dan sudah memancing munculnya beragam penjelasan dari berbagai penulis, baik dari kalangan “penjelajah” maupun kalangan akademisi.

Bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, tradisi mengayau untuk kepentingan upacara Tiwah, yaitu upacara sakral terbesar suku Dayak Ngaju untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju langit ke tujuh (Riwut, 2003 : 203). Menurut Lebar (1972 : 171), dikalangan masyarakat Kenyah, perburuan kepala penting dalam hubungannya dengan Mamat, yaitu pesta pemotongan kepala, yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat, Suhan, untuk para prajurit perang. Pemburu-pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan sebuah tato dengan desain khusus..Serangan-serangan para pemburu kepala dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh orang laki-laki yang bergerak secara diam-diam dan tiba-tiba. Mereka sangat memperhatikan pertanda-pertanda, khususnya burung-burung. Setelah digunakan dalam upacara-upacara Mamad, kepala-kepala itu digantung di beranda rumah panjang, berhadapan dengan ruang-ruang tengah yang menjadi tempat tinggal ketua rumah panjang. Di masa lalu Suku Dayak Kenyah dilaporkan sebagai pemburu kepala yang paling terkenal di Kalimantan. Seperti halnya suku Dayak Kenyah, suku Dayak Iban juga melakukan upacara perburuan kepala yang disebut Gawai. Upacara ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga melibatkan pesta besar-besaran dengan minum-minuman dan bersenang-senang (Lebar, 1972 : 184).

Miller yang seorang penjelajah, misalnya menulis dalam Black Borneo-nya (1946 : 121), menyatakan bahwa praktik memburu kepala bisa dijelaskan dalam kerangka kekuatan supernatural yang oleh orang-orang Dayak diyakini ada di kepala manusia. Bagi orang Dayak, tengkorak kepala manusia yang sudah dikeringkan adalah sihir yang paling kuat di dunia. Sebuah kepala yang baru dipenggal cukup kuat untuk menyelamatkan seantero kampung dari wabah penyakit. Sebuah kepala yang sudah dibubuhi ramu-ramuan bila dimanipulasi dengan tepat cukup kuat untuk menghasilkan hujan, meningkatkan hasil panen padi, dan mengusir roh-roh jahat. Kalau ternyata tak cukup kuat, itu karena kekuatannya sudah mulai pudar dan diperlukan sebuah tengkorak yang baru. Sementara itu Mc Kinley menggambarkan ritual perburuan kepala itu sebagai sebuah proses transisi, dalam mana orang-orang yang dulunya adalah musuh menjadi sahabat dengan cara memadukan mereka ke dalam dunia keseharian.

Mungkin ada sebuah pertanyaan, dalam tradisi Ngayau tersebut mengapa harus kepala dan bukan bagian-bagian tubuh yang lain yang diambil. Mc Kinley berpendapat (1976 : 124), kepala dipilih sebagai simbol yang pas untuk ritual-ritual ini karena kepala mengandung unsur wajah, yang dengan cara serupa dengan nilai sosial tentang nama-nama personal, merupakan simbol yang paling konkret dari jati diri sosial (social personhood). Jati diri sendiri ini pada gilirannya adalah atribut paling manusiawi milik si musuh dan karenanya menjadi atribut yang harus diklaim oleh komunitas orang itu sendiri.

Dalam kajiannya tentang suku Dayak Iban, Freeman mengatakan bahwa berburu kepala semata simbolik berkaitan dengan kesuburan. Paralel-paralel antara kepala manusia dan kesuburan merupakan sesuatu yang sentral dalam pembahasan tentang praktik berburu kepala. Freeman mengatakan (1979 : 234), puncak dari alegori luar biasa yang menjadi hal yang sentral dalam upacara perburuan kepala yang dilakukan oleh orang-orang Iban yang ketika sudah disenandungkan oleh dukun-dukun pembaca mantra, dilakukan oleh calon-calon pemburu kepala, adalah sebuah ritual yang dikenal dengan nama Ngelampang yang secara harfiah berarti mencincang atau memotong menjadi bagian-bagian kecil. Di dalam bagian alegori ini dipaparkan sebuah deskripsi grafis mengenai ritual membelah kepala tiruan atau antu pala oleh seorang Lang Singalang Burong yaitu dewa perang suku Iban. Lang melakukan ritual ini (sesuatu yang melambangkan pemenggalan kepala musuh yang sesungguhnya) dengan satu tebasan pedang (mandau) yang dilakukannya dengan sangat cepat, dan dari kepala yang dibelahnya itu mengalir benih-benih yang bila ditaurkan akan timbul menjadi sesosok tubuh manusia.

Tidak semua suku Dayak di Kalimantan menerapkan Tradisi Ngayau. Seperti halnya Suku Dayak Maanyan dan Suku Dayak Meratus, dalam adat mereka tidak ada istilah Ngayau, namun berdasarkan cerita para tetuha adat mereka, ketika terjadi perang waktu dulu para ksatria-ksatria Dayak Maanyan dan Dayak Meratus pada saat berperang kepala pimpinan musuh yang dijadikan target sasaran mereka. Apabila kepala pimpinannya berhasil mereka penggal, maka para prajuritnya akan segera bertekuk lutut. Kepala pimpinan musuh tersebut bukan sebagai pelengkap ritual-ritual adat sebagaimana yang dilakukan suku Dayak Kenyah, Iban dan Ngaju, kepala tersebut tetap dikuburkan bersama badannya. Meskipun suku Dayak Meratus dan Maanyan tidak menerapkan tradisi Ngayau dalam adat mereka, namun mereka tetap berpendapat bahwa kepala manusia memiliki arti penting yaitu kepala bagian yang paling atas (tinggi) di tubuh manusia dan memiliki simbol status seseorang.


Menurut kata Wiki :
"Pemburuan kepala adalah praktik mengambil kepala seseorang setelah membunuhnya. Pemburuan kepala pernah dipraktikkan di sebagian Cina, India, Nigeria, Nuristan, Myanmar, Kalimantan, Indonesia, Filipina, Taiwan, Jepang, Mikronesia, Melanesia, Selandia Baru, dan Daerah Aliran Sungai Amazon, juga suku-suku Kelt dan Scythia tertentu di Eropa kuno. Faktanya, praktik ini masih ada di Eropa hingga awal abad ke-20 di Semenanjung Balkan dan berakhir pada Abad Pertengahan di Irlandia dan Skotlandia.[1] Praktik ini juga dilakukan pada Perang Dunia II dan Perang Vietnam.

Sebagai praktik, pemburuan kepala telah menjadi bahan perdebatan di komunitas antropolog menurut peran, fungsi, dan motivasinya. Tema yang muncul dalam karya tulis antropologi mengenai pemburuan kepala meliputi mortifikasi musuh, kejahatan ritual, keseimbangan kosmologi, kejantanan, kanibalisme, dan prestise. Cendekiawan kontemporer setuju bahwa fungsi aslinya adalah seremonial dan merupakan bagian dari proses strukturisasi, pengokohan, dan pertahanan hubungan hierarkis antara komunitas dan individu. Sejumlah ahli membuat teori bahwa praktik ini muncul dari kepercayaan bahwa kepala seseorang berisi "materi jiwa" atau kekuatan kehidupan yang dapat diperoleh melalui pemburuan."


Sumber

Quote:Original Posted By ngayau

Mungkin dari agan2 ada yg tau tentang ilmu dayak dan ingin menambahkan



menarik dan coba2 googling sana sini,,nambahin artikel yang diatas yah terkait masalah perbandingan kebudayaan dayak ngaju dengan dayak meratus...

Quote:suku dayak meratus dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah (Suku Dayak Ngaju), yang banyak menekankan ritual upacara kematian. Suku Dayak Bukit lebih menekankan upacara dalam kehidupan, seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi ngayau yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.

Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga Aruh Ganal. Tarian ritual misalnya tari Babangsai untuk wanita dan tari Kanjar untuk pria. Suku Bukit tinggal dalam dalam rumah besar yang dinamakan balai.

Balai merupakan rumah adat untuk melaksanakan ritual pada religi suku mereka. Bentuk balai, "memusat" karena di tengah-tengah merupakan tempat altar atau panggung tempat meletakkan sesajen. Tiap balai dihuni oleh beberapa kepala keluarga, dengan posisi hunian mengelilingi altar upacara. Tiap keluarga memiliki dapur sendiri yang dinamakan umbun. Jadi bentuk balai ini, berbeda dengan rumah adat suku Dayak umumnya yang berbentuk panjang (Rumah Panjang).

Suku Dayak Bukit menganal tiga kelompok roh pemelihara kawasan pemukiman dan tempat tinggal yaitu :

Siasia Banua
Bubuhan Aing
Kariau

Siasia Banua contohnya :

Siasia Banua Kambat
Siasia Banua Pantai Batung
Siasia Banua Kambat
dan sebagainya

Bubuhan Aing (= komunitas air) contohnya :

Bubuhan Aing Muhara Indan
Bubuhan Aing Danau Bacaramin
Bubuhan Aing Maantas
dan sebagainya

Kariau contohnya :

Kariau Labuhan
Kariau Padang Batung
Kariau Mantuil
dan sebagainya


bagus nih videonya...

===============
biar gak OOT yah

PERJANJIAN TUMBANG ANOI

Salah satu pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan komunitas Dayak adalah semasa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung yaitu ketika pada tahun 1874 Damang Batu (Kepala Suku Dayak Kahayan) mengumpulkan sub-sub Suku Dayak untuk mengadakan Musyawarah Damai Tumbang Anoi. Musyawarah tersebut dikenal dengan Perjanjian Tumbang Anoi. Dalam musyawarah yang konon berlangsung berbulan-bulan lamanya itu, masyarakat Dayak di seluruh Kalimantan mencapai kesepakatan untuk menghindari dan menghilangkan tradisi mengayau. Karena dianggap telah menimbulkan perselisihan di antara suku Dayak. Akhirnya, dalam musyawarah tersebut segala perselisihan dikubur dan pelakunya didenda sesuai dengan hukum adat Dayak.
Meskipun hingga kini tidak ada satupun analisa yang dapat menjelaskan secara pasti dan tepat makna yang tersembunyi dari tradisi Ngayau tersebut karena ritual ini sedemikian kompleks dan sedemikian misteriusnya, namun dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tradisi Ngayau sangat penting bagi penggambaran citra kelompok Dayak yang merupakan salah satu simbol suatu identitas kesukuan. Pemotongan kepala/ngayau kembali muncul ketika terjadi kerusuhan antar-etnis melanda Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu.

Quote:Original Posted By Ekspresi2nd
menarik dan coba2 googling sana sini,,nambahin artikel yang diatas yah terkait masalah perbandingan kebudayaan dayak ngaju dengan dayak meratus...



bagus nih videonya...

===============
biar gak OOT yah

PERJANJIAN TUMBANG ANOI

Salah satu pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan komunitas Dayak adalah semasa pemerintahan kolonial Belanda berlangsung yaitu ketika pada tahun 1874 Damang Batu (Kepala Suku Dayak Kahayan) mengumpulkan sub-sub Suku Dayak untuk mengadakan Musyawarah Damai Tumbang Anoi. Musyawarah tersebut dikenal dengan Perjanjian Tumbang Anoi. Dalam musyawarah yang konon berlangsung berbulan-bulan lamanya itu, masyarakat Dayak di seluruh Kalimantan mencapai kesepakatan untuk menghindari dan menghilangkan tradisi mengayau. Karena dianggap telah menimbulkan perselisihan di antara suku Dayak. Akhirnya, dalam musyawarah tersebut segala perselisihan dikubur dan pelakunya didenda sesuai dengan hukum adat Dayak.
Meskipun hingga kini tidak ada satupun analisa yang dapat menjelaskan secara pasti dan tepat makna yang tersembunyi dari tradisi Ngayau tersebut karena ritual ini sedemikian kompleks dan sedemikian misteriusnya, namun dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tradisi Ngayau sangat penting bagi penggambaran citra kelompok Dayak yang merupakan salah satu simbol suatu identitas kesukuan. Pemotongan kepala/ngayau kembali muncul ketika terjadi kerusuhan antar-etnis melanda Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu.



thanks tambahannya gan

cuma yg dipertanyakan adalah,sebenarnya yg punya ilmu sakti itu adalah suku dayak asli pedalaman ya?
karena ane baca2 kalau suku dayak yang sudah berada di perkotaan sepertinya sudah aga maju kebudayaan dan pola pikir mereka.
dan seperti kasus sampit tersebut bahwa yg menyerang suku madura adalah bala bantauan pasukan suku dayak dari pedalaman hutan.CMIIW
Ilmu pasukan dayak itu sakti2 bro.
Banyak yang kebal senjata tajam


Spoiler for spoiler karena OOT/agak sara:


ntah bener atau nggak ceritanya

balik ke Headhunters, memang konon digunakan untuk ritual ilmu2 hitam.
Quote:Original Posted By andre.geim
Ilmu pasukan dayak itu sakti2 bro.
Banyak yang kebal senjata tajam


Spoiler for spoiler karena OOT/agak sara:


ntah bener atau nggak ceritanya

balik ke Headhunters, memang konon digunakan untuk ritual ilmu2 hitam.


nah itu dia bro,
secara ane masih kagum aja ma ilmu dayak yg konon santer terdengar akan kesaktian.
apalagi panglimanya bro yg di sebut dgn " panglima burung " disebut2 sebagai hal yg gaib.
tapi apa pun itu tetap jadi suatu sejarah dan misteri yg menarik bro
ikut nimbrung gan, kebetulan banget dua hari lalu ane berkunjung ke Pegunungan Meratus. Ane orang meratus, kemaren nemenin dua orang bule backpacking. Ane nginap tidur di rumah adat mereka*divideo yg ditampilin itu lho-ane kenal banget tuh
Dayak Meratus menurut ane adalah suku yang paling ramah dan friendly banget gan, mereka gak segan bantu kami macam-macam padahal mereka sendiri kekurangan, gan.
Stelah baca trit ini baru tau mereka gak lagi ngadain tradisi ngayau. Malam pas kami menginap, kami dapet cerita banyak tentang kehidupan orang sana.
Jujur, mereka orang yg lugu, gan menurut ane. Ane sedih kalau kehidupan modern bakal ngerusak hidup dan adat mereka.
Salah satu keluarga yang ane tanyai bilang, kalau mereka mau hidup punya listrik didaerahnya, yg ane khawatirin mereka gak siap dengan kehidupan modernisasi.
Nice thread, nambah wawasan ane.

Anyway: Bulenya takut lho pas ane ceritain masalah ini, tapi ane jelasin bahwa hal ini udah gak ada lagi dan sepanjang kita gak making mess with them, gak akan ada masalah, malah kita bakal dianggap kayak keluarga..
Eh, btw gigi macan kumbang yang disebut disitu kayaknya salah sebut tuh. Di kalimantan khan gak ada macan kumbang (Panthera pardus). Adanya macan dahan (Neofelis diardi).

Spoiler for :
Quote:Original Posted By andre.geim
Ilmu pasukan dayak itu sakti2 bro.
Banyak yang kebal senjata tajam


Spoiler for spoiler karena OOT/agak sara:


ntah bener atau nggak ceritanya

balik ke Headhunters, memang konon digunakan untuk ritual ilmu2 hitam.


ih gila klo cerita lw bener... jgn sampe orang madura ke kalimantan lagi

gw pernah liat foto ketua adat dayak pedalaman, matanya satu bro di tengah gitu, sayang potonya ga boleh gw uplod, gw juga ngeri kenapa" ntr

yang ngasi liat potonya temen gw orang kalimantan...
Quote:Original Posted By wedocare


ih gila klo cerita lw bener... jgn sampe orang madura ke kalimantan lagi

gw pernah liat foto ketua adat dayak pedalaman, matanya satu bro di tengah gitu, sayang potonya ga boleh gw uplod, gw juga ngeri kenapa" ntr

yang ngasi liat potonya temen gw orang kalimantan...


sekarang udah oke kayaknya...udah banyak kok orang madura balik ke Sampit dan beberapa daerah kalimantan lagi...
kan waktu itu cuma dendam...dendamnya ilang ya udah damai lagi (mudah2an)


ada satu lagi nih cerita temen gw...

Spoiler for spoiler lagi, :

Quote:Original Posted By qorianisme
ikut nimbrung gan, kebetulan banget dua hari lalu ane berkunjung ke Pegunungan Meratus. Ane orang meratus, kemaren nemenin dua orang bule backpacking. Ane nginap tidur di rumah adat mereka*divideo yg ditampilin itu lho-ane kenal banget tuh
Dayak Meratus menurut ane adalah suku yang paling ramah dan friendly banget gan, mereka gak segan bantu kami macam-macam padahal mereka sendiri kekurangan, gan.
Stelah baca trit ini baru tau mereka gak lagi ngadain tradisi ngayau. Malam pas kami menginap, kami dapet cerita banyak tentang kehidupan orang sana.
Jujur, mereka orang yg lugu, gan menurut ane. Ane sedih kalau kehidupan modern bakal ngerusak hidup dan adat mereka.
Salah satu keluarga yang ane tanyai bilang, kalau mereka mau hidup punya listrik didaerahnya, yg ane khawatirin mereka gak siap dengan kehidupan modernisasi.
Nice thread, nambah wawasan ane.

Anyway: Bulenya takut lho pas ane ceritain masalah ini, tapi ane jelasin bahwa hal ini udah gak ada lagi dan sepanjang kita gak making mess with them, gak akan ada masalah, malah kita bakal dianggap kayak keluarga..


itu suku dayak pedalaman ya gan?
apakah mereka ngerti bahasa indonesia gan?
sayang ga ada foto2 disana gan.
coba ada,bisa post dimari gan
kakek istri ane juga dari suku dayak,
kata mertua ane sih,suku dayak punya kebiasaan pesta makan dan minum sepuasanya bila sudah berkumpul.
jadi disana kerukunan sangat terjaga gan.
Quote:Original Posted By andre.geim


sekarang udah oke kayaknya...udah banyak kok orang madura balik ke Sampit dan beberapa daerah kalimantan lagi...
kan waktu itu cuma dendam...dendamnya ilang ya udah damai lagi (mudah2an)


ada satu lagi nih cerita temen gw...

Spoiler for spoiler lagi, :



sadis amat ilmunya gan
ampe tit*tnya bisa copt gitu
anu disimpan ama istrinya di toples,ntar mau pipis gmn ya ? ....
Quote:Original Posted By andre.geim


sekarang udah oke kayaknya...udah banyak kok orang madura balik ke Sampit dan beberapa daerah kalimantan lagi...
kan waktu itu cuma dendam...dendamnya ilang ya udah damai lagi (mudah2an)


ada satu lagi nih cerita temen gw...

Spoiler for spoiler lagi, :



sadis amat ilmunya gan
ampe tit*tnya bisa copt gitu
anu disimpan ama istrinya di toples,ntar mau pipis gmn ya ? ....
bro ini kan forum sejarah dan xenologi, kok malah pada OOT membahas ilmu2 dayak ya? kalau mau lebih lengkap ke ilmu dayak ke forum budaya saja, disana ada threadnya, isinya lebih lengkap malah.
Quote:Original Posted By renn
bro ini kan forum sejarah dan xenologi, kok malah pada OOT membahas ilmu2 dayak ya? kalau mau lebih lengkap ke ilmu dayak ke forum budaya saja, disana ada threadnya, isinya lebih lengkap malah.


sebenarnya yg mau ane share adalah sejarah ilmu dayaknya bro,bukan soal ilmu dayaknya
tapi thx gan masukannya
seruuu, lanjutin lg dongg ceritanya...
Quote:Original Posted By antony_djs


sebenarnya yg mau ane share adalah sejarah ilmu dayaknya bro,bukan soal ilmu dayaknya
tapi thx gan masukannya



Orang yang disebut Dayak itu hanyalah ada di Kalimantan, sedang kenapa mereka disebut Dayak atau “Orang Dayak“ dalam bahasa Kalimantan secara umum berarti “Orang Pedalaman“ yang jauh dan terlepas dari kehidupan kota.

Dulunya memang begitu. Di mana-mana ada perkampungan suku dayak. Mereka selalu berpindah ke satu daerah lain, jika di mana mereka tinggal itu ada orang dari suku lain yang juga tinggal atau membuka perkampungan di dekat wilayah tinggal mereka.

Disebut ‘Dayak’ berarti tidaklah hanya untuk satu suku, melainkan bermacam-macam seperti Suku Dayak Kenyah, Suku Dayak Hiban, Suku Dayak Tunjung, Suku Dayak Bahau, Suku Dayak Benua, Dayak Basaf, dan Dayak Punan yang masih pula disertai puluhan “Uma “ (anak suku) dan tersebar diberbagai wilayah Kalimantan.

Pada kurun waktu sebelum abad 20, secara keseluruhan Suku Dayak ini tak mengenal agama Kristen dan Islam. Yang ada pada mereka hanyalah kepercayaan pada leluhur, binatang-binatang, batu batuan, serta isyarat alam pembawaan kepercayaan Hindu kuno. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka mempercayai berbagai pantangan yang tandanya diberikan oleh alam. Pantangan dalam kehidupan masyarakat Dayak hanya ada dua. Yaitu pantangan yang membawa kebebasan sehingga populasi mereka bertambah banyak dan ada pula karena pantangan berakibat populasi mereka semakin sedikit dan kini malah hampir punah. Seperti misal kehidupan yang tak boleh berbaur dengan masyarakat lain dari suku mereka.

Pantangan ini membuat mereka selalu hidup tak tenang dan selalu berpindah pindah. Sehingga kehidupan mereka tak pernah maju bahkan cendrung tambah primitif. Misalnya saja seperti Suku Dayak Punan. Suku yang satu ini sulit berkomunikasi dengan masyarakat umum. Kebanyakan mereka tinggal di hutan hutan lebat, di dalam goa-goa batu dan pegunungan yang sulit dijangkau. Sebenarnya hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Namun karena budaya pantangan leluhur yang tak berani mereka langgar terjadilah keadaan demikian. Hal ini sebenarnya adalah kesalahan dari leluhur mereka.

Dalam riwayat atau cerita, leluhur mereka ini asal-usulnya datang dari negeri yang bernama “Yunan “ sebuah daerah dari daratan Cina. Mereka berasal dari keluarga salah satu kerajaan Cina yang kalah berperang yang kemudian lari bersama perahu-perahu, sehingga sampai ke tanah Pulau Kalimantan. Karena merasa aman, mereka lalu menetap di daratan tersebut. Walau demikian, mungkin akibat trauma peperangan, mereka takut bertemu dengan kelompok masyarakat manapun. Mereka kuatir pembantaian dan peperangan terulang kembali sehingga mereka bisa habis atau punah tak bersisa. Karena itulah oleh para leluhur mereka dilakukan pelarangan dan pantangan bertemu dengan orang yang bukan dari kalangan mereka.

Memang pada Abad ke 13, daratan Cina penuh dengan pertikaian dan peperangan antara raja-raja yang berkuasa untuk menentukan salah satu kerajaan besar yang menguasai seluruh daratan Cina. Karena saling tak mengalah, maka terjadilah peperangan sesama mereka untuk menentukan kerajaan mana yang paling besar dan menguasai seluruh daratan Cina itu.

sumber : (http://banuadayak.wordpress.com)
namun ada versi lain mengenai suku dayak

asal mula suku dayak
Suku Dayak adalah Suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok dan tinggal di daerah pedalaman seperti di gunug dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah“Menteng Ueh Mamut”, yang bearti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak mengenal menyerah atau pantang mundur.

ASAL MULA SUKU DAYAK

Pada tahun 1977-1978 (?) saat itu benua Asia dan pulau Kalimantan merupakan bagian nusantara yang menyatu yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.

Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, suku Dayak hidup terpencar-pencar diseluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama,mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan.Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku yang brebeda-beda.

uku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum).

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan

>< UPACARA TIWAH

Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke sandung yang sudah dibuat. Sandung adalah tempat semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia.

Upacar Tiwah bagi suku Dayak sangatlah sakral, Pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang mati tersebut diantarkan dan diletakan di tempatnya (Sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain, Sampai akhrinya tulang-tulang itu diletakan pada temapatnya (sandung).

>< DUNIA SUPRANATURAL

Dunia Supranatural bagi suku Dayak memang sudah sejak zaman dulu merupakan ciri khas Kebudayaan Dayak.Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya suku Dayak adalah suku yang sangat Cinta Damai asal mereka tidak diganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok MeraH

Mangkok merah merupakan media persatuan suku Dayak. Mangkok merah beredar jika Suku Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. “PANGLIMA” atau suku Dayak sering menyebutnya Pangkalima biasanya mengeluarkan isyiarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang diedarkan dari kampung ke kanpung secara cepar sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak mengetahui siapa pangkalima suku Dayak itu. Orangnya itu bisa-biasa saja, hanya saja ia memiliki kekuatan Supranatural yang luar biasa.

Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bisa diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah.

Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek ke bapak, dari bapak ke anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh dengan ” Palangka Bulau”. >>> Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tanduk yang suci, gandar yang suci dari emas turun ke langit yang sering disubut juga ” Ancang atau Kalangkang”.

sumber : disini
wah menarik. ilmu pedalaman, memang sjak jaman dulu di nusantara ini yg namanya suku pasti punya banyak ilmu mistis, cuma aku mau nanya, kalau dibandingin ama "banten" menang mana terus apa bedanya?
mengenai ilmu mistis, sebenarnya belum tentu juga suatu suku mempunyai atau berhubungan dengan sesuatu yang demikian. Terkadang, hal yang mistis tersebut tidak berbeda dengan sebuah makna filosofis yang mungkin sulit untuk dicerna.

sebagai contoh mungkin, sebelum manusia bisa mengerti bahwa air juga bisa dijadikan bahan bakar (kendaraan hidrogen) mungkin air yang meledak akan dianggap mistis. Begitu juga kemungkinan dengan hal lain. Walaupun di satu sisi ane tidak menghilangkan bahwa selain yang tampak tentunya ada yang tidak tampak.

beberapa agan diatas juga menuliskan mengenai sesuatu yang dihubungkan dengan mistik di Kalimantan yang secara tidak langsung tergambarkan bahwa mistis itu menyeramkan. namun tanpa memberikan asal muasal kenapa bisa demikian. Jika diteruskan menuliskan demikian akan mungkin terciptanya suatu pelabelan sosial yang tidak seharusnya. Sebaiknya tidak diteruskan.

Masyarakat Dayak baik dalam sub suku apapun tidak berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ada agan yang bilang diatas juga ada foto ketua suku Dayak bermata satu. Secara tidak langsung juga tergambarkan itu berbeda. Padahal ane yakin mereka tidak berbeda. Kalau mungkin yang dilihat agan bermata satu itu ini, ada penjelasannya bahwa itu potosop. http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=8462855 . Lagipula, yang dimaksud agan, ketua dari suku mana? apakah salah satu yang ada disini? http://id.wikipedia.org/wiki/Kategor...ig Grin"/>ayak

Ane bukan dari suku apapun, jadi koment ane bukan maksud untuk membela siapapun. Hanya mungkin, dalam pendapat ane, sebaiknya tidak membedakan suatu manusia dengan sebuah stigma. Mungkin itu bisa menjadi wujud kita menghargai sang pencipta.

Ngayau ini sudah tidak ada lagi, begitu juga dengan sebuah lambang tato tertentu yang ada di badan yang menjelaskan sudah berapa kali mengayau. Panglima burung, itu orangnya kalem gan. Begitu juga dengan Udin Bahlok atau Panglima Kumbang. Begitu juga dengan masyarakat Dayak pada umumnya, tidak berbeda juga dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kalem, sabar, ramah, bijak.

Kalau bisa jangan menilai seseorang hanya dari sebuah event tertentu saja. Jika mungkin memang harus melihat dari sebuah event saja, alangkah baiknya melihat paling tidak dengan 2 pandangan, negatif dan juga positifnya. Namun, lebih daripada itu, alangkah lebih baiknya tidak menilai suatu kelompok dengan pelabelan yang sama. Setiap pribadi belum tentu mau disamakan. Maaf jika ada salah-salah kata. Menyimpulkan sesuatu terlalu cepat terkadang ada tidak baiknya juga.

ada agan yang juga bertanya mengenai Banten diatas. Jika memang mau melihat sejarahnya, maka sebenarnya Banten ada hubungan sejarah yang kuat dengan Kerajaan samu-samu.Namun jika ditanyakan lebih kuat mana, sudah jelas jawabnya. Ilmu bukan untuk hebat-hebatan. Ane yakin, benar apa yang pernah dikatakan oleh Raja Benny Samu-samu jika ada mutiara yang hilang dari sejarah kerajaan di Indonesia. Memang sampai sekarang belum semua kerajaan yang dulu pernah ada di Indonesia terungkap.
×