Thumbs up [Travelista] Masjid Warna-Warni, Saksi Sejarah Islam di Kerinci



-------------------------------------------------------------
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Gan!!
-------------------------------------------------------------




Kerinci - Kabupaten di Propinsi Jambi - tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan budaya. Arsitektur bangunan masjid tua dengan ornamen ukiran warna-warni merupakan keunikan yang wajib disimak. Masjid-masjid beratap limas khas masjid nusantara , saksi sejarah Islam di Kerinci. Berikut jejak napak tilas masjid-masjid tua di kerinci gan, Check it brot!!!!

Quote:Original Posted By Masjid Kuno Kota Tua



Masjid Kuno terletak di Dusun Koto Tua Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Pada perkembangannya masjid yang menempati lahan 2.650 m2 dinamai Masjid Keramat. Beberapa fenoman alam seperti gempa bumi tahun 1942 dan 1995 serta kebakaran 1903 dan 1939 tidak meluluh lantakan bangunan masjid yang terbuat dari kayu.

Spoiler for tiang utama beranda (kiri);pintu masjid (kanan):

Masjid Keramat didirikan pada tahun 1780 merupakan perlambang kejayaan Islam di Kerinci pada masa itu. Pengagasnya adalah Syech sang ulama Pulau Tengah, terinspirasi Masjid Demak sekembalinya dari Mataram (Jawa) pada tahun 1679.

Spoiler for beranda Masjid Keramat:


Spoiler for eksterior – ornamen ukiran sulur menjadi ciri khas:

Bentuk asli Masjid Keramat terdiri dari bangunan induk berukuran 28 x 28 meter serta 25 buah tiang. Jumlah 25 tiang melambangakan jumlah 25 orang Rasul Allah. Sedangkan 5 tiang yang di dalam ruang menggambarkan jumlah Rukun Islam. Selain itu sebuah tiang besar di tengah ruangan (sokoguru) perlambang nabi Besar Muhammad SAW dan empat buah tiang lain di tengah ruang menggambarkan sahabat Nabi: Abu Bakar, Umar, Usman dan ALi.

Spoiler for sisi lain-Masjid Keramat Pulau Tengah:

Keunikan lain masjid ini adalah ornamen eksterior dan interiornya dipenuhi pola bunga berwarna cerah. Keramik motif bunga dapat dijumpai di dinding pintu masuk dan tiang sokoguru. Ukiran bunga juga memenuhi setiap sudut bangunan merupakan pengaruh budaya Arab, Cina dan Melayu. Dahulu semua ukiran dicat dengan perwarna alami yang berasal dari pinang, tahau, jannou, sarayeu atau lembayung , kunyit dan kapur.


Spoiler for tiang sokoguru di tengah ruangan Masjid Keramat:

Karena nilai historis dan keunikannya, pemerintah menetapkan Masjid Keramat sebagai bangunan bersejarah. Dengan dikeluarkan Monumen Ordonantie STBL 238/1931. Siapapun dilarang merusak , mencoret , memindahkan , mengotori dan mencemarkan masjid tertua di Provinsi Jambi.



Quote:Original Posted By Masjid Agung Pondok Tinggi



Masjid yang terletak di jantung kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi merupakan salah satu masjid tua di Propinsi Jambi. Menjadi ikon kota Sungai Penuh yang berpisah administratif dengan Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Terbukti gambar masjid beratap tiga susun ini terdapat pada logo kota Sungai Penuh.

Spoiler for beduk kecil – berada di halaman masjid terbuat dari kayu utuh yang dilubangi:

Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti model arsitektur masjid asli Nusantara dengan ciri atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit dan bintang. Bagi masyarakat setempat, tiga tingkat atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hidup yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga). Berpucuk satu melambangkan bahwa masyarakat setempat mempunyai satu kepala adat dan beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat tiga ialah simbolisasi dari keteguhan masyarakat dalam menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.

Spoiler for motif sulur dan flora – keunikan ukiran tiang masjid:

Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi menjadi 3 kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang lima), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai dengan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebanyak empat buah tertata membentuk segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bala, dan pada puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang lima) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat dan tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebanyak 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak di ruangan bagian luar.

Spoiler for interior masjid – ditopang oleh 36 tiang penyangga:

Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,5 meter dari lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias dengan ukiran motif tumbuhan dan mempunyai kisi-kisi yang berfungsi sebagai ventilasi. Dilengkapi dengan berbagai hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding terdapat hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat dari ubin. Masjid ini mempunyai 2 buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan ukiran motif tumpal dan sulur-suluran.

Spoiler for dinding masjid-bermotif flora berwarna cerah:

Mesjid Agung Pondok Tinggi mempunyai dua beduk besar. Yang besar disebut “Tabuh Larangan”. Beduk ini dibunyikan, apabila ada kejadian seperti kebakaran, banjir, dan lain-lain. Beduk besar ini berukuran : panjang 7,5 m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yang kecil berada di luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 cm dan bagian belakang 69 cm). Beduk ini dibuat dari kayu yang sangat besar, ditarik beramai-ramai dari rimba, dan dilubangi bergotong-royong.


Quote:Original Posted By Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik




Kerinci merupakan tempat menarik bagi peneliti arkeologi peninggalan masa Islam. Dataran tinggi di lereng bukit barisan Seblat tersebar masjid-masjid kuno bukti peninggalan aktivitas penyebaran agama Islam di Sumatra. Salah satunya adalah Masjid Keramat Tuo Lempur Mudik yang berada di kecamatan Gunung Raya.

Spoiler for ornanem geomteris dan flora di Masjid Keramat Tuo:

Kecamatan Gunung Raya berada 35 km di sebelah Selatan Kota Sungai Penuh. Berada di ketinggian 1000 meter sampai 1600 meter dpl, Lempur Mudik menyimpan kekayaan alam dan budaya. Daerah pertanian subur beriklim sejuk daya potensi wisata yang belum tergali maksimal.

Spoiler for bangunan masjid di dominasi material kayu:

Masjid Keramat Tuo memiliki aristektur atap tumpang bersusun dua bujur sangkar, mirip masjid Demak. Dindin dan pilarnya terbuat dari kayu tanpa paku, hanya pasak. Seperti kebanyakan masjid kuno di Kerinci ornamen flora , sulur dan bentuk geometris menghiasai interior dan eksterior. Warna cerah seperti: hijau, kuning, merah dan putih mendominasi ornamen masjid.

Spoiler for masjid beratap susun – terpengaruh gaya Masjid Demak:

Masjid Keramat Tuo dibangun tahun 1887, berada di pemukiman penduduk bergaya tradisional. Kawasan ini mengingatkan saya suasana kampung tua di Indonesia lainnya.


Spoiler for sumber dan foto :

Red face 

Quote:Kisah dan foto di atas ane dapet pas liburan bulan Mei 2012 ke Kerinci selama satu minggu gan. Untuk agan-agan yang masih bingung di mana Kerinci,ane coba jelasin ya. Kerinci itu kabupaten di Jambi ,letak geografisnya di bukit barisan . Jadi ga heran kalo alamnya bagus dan dingin banget. Dulu ibukota kabupaten kerinci namanya sungai penuh tapi sekarang sungai penuh memisahkan diri jadi kota. Menuju Sungai Penuh bisa melalui Padang atau kota Jambi. Dari Jambi memakan waktu kira-kira 8 jam dengan jalan terjal dan mengocok-ngocok perut. Dan kalao dari Padang 6 jam dengan pemandangan keren memukau. kemaren ane naik dari Jambi , tipsnya minum antimo biar ga mabokkk

Quote:



Sekilas Sejarah Perkembangan Islam Di kerinci

Agama islam mulai masuk ke kerintji dari abad ke 15-17 masehi. Menurut sejarah wilayah kabupaten kerinci merupakan wilayah terakhir atau wilayah paling baru menerima ajaran islam . hal ini dapat di buktikan dengan masih erat nya masyarakat memegang teguh adat serta budaya dan tradisi animisme yang masih dilakukan sampai saat ini. Penyebaran islam ke kerinci masuk melalui Indrapura(indopuro),dan di duga di bawa oleh para pedagang dari arab atau aceh serta dari masyarakat minangkabau yang terlebih dahulu menerima ajaran islam. Selain itu,ada beberapa bukti kuat bahwa masyarakat kerinci menerima ajaran islam dari aceh adalah adanya Tradisi Ratib Saman. Ratib Seman tidak hanya ada di kerinci tetapi juga ada di aceh yang mereka sebut dengan tari Saman. Kemudian Tradisi Megang menjelang Hari hari besaragama Islam juga ada di Kerinci yang jelas jelas berasal dari Aceh yang biasa di sebut dengan Meugang.
Menurut Cerita Orang tua Tua Serta Beberapa Naskah naskah tua Yang masih di simpan Sekarang ini ada Beberapa tokoh penyebar Agama Islam di Kerinci
1.Siak Jeli atau Imam Jeli (Imam Jalil)
Beliau Menyebarkan Islam di Wilayah SIULAK dan Sekitarnya.Makam Beliau Terletak di Koto Jeli (Dusun Tinggi Siulak). Salah Satu Peninggalan Beliau Adalah Batu Sembahyang terletak di bukit sembahyang serta batu Jung di wilayah Koto Jering. Beliau Memiliki Anak Lima Orang Perempuan Dan satu laki laki Yaitu
a. Yang laki laki bernama Benso Derajo
b. Yang perempuan
1. 1. Gento Menggalo Di Siulak Gedang Istri Dari Sultan Gegar Alamsyah Dari Indropura dari kedua orang inilah menghasilkan keturunan yang mewarisi gelar
Rajo Simpan Bumi
Salih Kunin Terawang Lidah kimpoi Dengan Rajo Penghulu Mukai Tengah
mewarisi
Rajo Sulah (Karena Ibu Beliau Berasal Dari Siulak Gedang maka Rajo Sulah memiliki Ajun Arah Di Hilir Dusun Siulak Gedang,lihat blog sebelumnyaTigo Luhah Siulak Gedang)
!. 2. Gento Meh(Gento Emas) Di Siulak Panjang Istri DarI Temenggung Tuo Susun Negri (Anak Datuk Mangkudum Semat Dari Sumanik Alam Pagaruyung)Menghasilkan Keturunan
Mat Catah Gelar Depati Mangku Bumi Kulit putih Suko Dirajo
Salih Hitam Muretap Bumi
Salih Kuning Mendering Sakti
Salih Kecik Selayang Mirat
1. 3 Gento Alat Di Semurup KOto Dua
menghasilkan Keturunan Depati Sibumi Rajo Dan Puti Seterus Mato(selanjutnya Puti Seterus mato Di angkat lagi sebagai anak batino(saudara perempuan Depati Mangku Bumi
1.4 Gento Ayun Di Koto Payang Menghasilkan Keturunan
Rajo Hitam Tanah Mendapo
1.5 Gento Asing Di Koto Majidin
Selain Itu Juga Dikenal di Siulak Ada Beberapa Imam Penyebar Islam Yaitu Imam Bsa (imam Besar ) di Siulak Panjang,Imam Mikrat,Imam Madukun,Imam Beruji Di Siulak Mukai
2.Siak Rajo
menyebarkan Islam di Kawasan Air Hangat Timur (sekitar Wilayah Kemantan,Sungai Medang Dan Penawar). Beliau Menikah Dengan Dayang Bunga Alam Memiliki Lima Orang anak
-Rajo Bujang
-Rajo Genti
-Patih Nyadi
-Sungai Teman
-Sri Bungo Padi
3. Siak Alim Di KOto Beringin Sungai Liuk
Menurut Sejarah nama Asli Beliau adalah Telago Undang
4. Siak Sakti Di Koto Jelatang Hiang Sitinjau Laut
5.Siak Berbut Sakti Di Koto Merantih Tinggi,Tarutung
Ketika kedatangan Pangeran Temenggung,waktu pembagian kekusaan di tarutung beliau tidak mendapat kekuasaan dan tanah pembagian sehingga beliau hijrah ke tanah siulak tepatnya ke koto beringin luhah jagung amarajo indah,disana Beliau Menghasilkan Keturunan
Depati Sungai Langit,di Koto Beringin Siulak
Ninik Gadih Di Siulak Mukai Istri Sijiwa(Depati Marajo Hitam)
6. Siak Haji Di Lunang IndroPuro
7.Siak Majidin(Imam Majidin) Di Koto Majidin
8.Siak Lengih Di Sungai Penuh
Makam Beliau Di Pondok Tinggi Menghasilkan Keturunan
8.1 Ajang Hari atau Jang Hari,Pondok Tinggi
mewarisiskan
Depati Santi Udo
Depati Sungai Penuh
Depati Palawa Negaro
Depati Payung
8.2 Hajang Hangsi,mewarisi,Dusun Baru Sungai Penuh
Depati Simpan Negri
Depati Alam Negri
Depati Sekarto Negaro
8.3 Handir Bingin Istri Depati Rio Dagu Di Sungai Liuk
Mewarisi
Depati Ular
Patih Mediri Atau RIO medihea
Handir Landun
8.4 Handir Cayo
mewarisi
Handir Bulan
Bujang Paniyam
8.5 Handir Ukir
8.6 Handir Macit
8.7 Handir Capa Istri Depati Semurup Pangga Tuo
Mewarisi Rio Jayo Panjang Rambut
8.8 Handir Kunin
8.9 handir Hada
Setelah Islam menyebar di seluruh wilayah kerinci barulah setiap kawasan adat mendirikan masjid masjid dan surau surau bahkan islam berpengaruh besar terhadap adat kerinci sendiri seperti pepatah adat; adat bersendi serak, serak besendi kitabullah,serak kembang kemuko adat kembang kebelakang,adat data pakai selepas.bahkan aturan adat mendirikan sebuah negeri itu harus mempunyai balai(tempat duduk orang adat) dan musajid(Tempat alim ulama dan pendito). Masjid tertua di kerinci adalah masjid Keramat Pulau Tengah Yang berdiri tahun 1789,kemudian masjid agung Pondok tinggi yang di buat tahun 1889.





berikut gan kajian ilmiahnya

Quote:


Hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci
Oleh: Aryandini Novita


Pendahuluan

Wilayah Kerinci secara administratif merupakan salah satu kabupaten dari Provinsi Jambi. Wilayah ini terdiri dari enam wilayah kecamatan, yaitu Gunung Kerinci, Air Hangat, Sungai Penuh, Sitinjau Laut, Danau Kerinci; serta lima kecamatan perwakilan, yaitu Kecamatan Perwakilan Kayu Aro, Rawang, Sei Tutung, Batang Merangin dan Keliling Danau.

Batas wilayah Kabupaten Kerinci pada sebelah utara adalah Daerah tingkat II Solok, Provinsi Sumatera Barat; sebelah barat adalah Daerah Tingkat II Mukomuko, Provinsi Bengkulu; sebelah timur adalah Daerah Tingkat II Bungo Tebo, Provinsi Jambi; dan sebelah selatan adalah Daerah Tingkat II Sarolangun Bangko Provinsi Jambi.


Di wilayah Kerinci banyak ditemui tinggalan-tinggalan arkeologi dari masa prasejarah sampai masa Islam. Beberapa tinggalan arkeologi tersebut menunjukkan adanya kesinambungan budaya seperti penggunaan kembali batu-batu menhir untuk dijadikan nisan. Salah satu tinggalan arkeologi dari masa Islam yang dapat ditemui di wilayah ini adalah Masjid. Dari survei arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang pada tahun 1996, terhitung ada delapan buah masjid kuno yang tersebar di wilayah Kerinci. Berdasarkan persebarannya terlihat masjid-masjid tersebut terbagi menjadi dua wilayah persebaran, yaitu di sebelah barat daya Danau Kerinci dan di sebelah tenggara Danau Kerinci. Masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah barat daya adalah Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, dan Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik. Sedangkan masjid-masjid yang termasuk dalam wilayah sebelah tenggara adalah Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Tamiang Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik (Mujib dan Novita 1996: 27-28).

Secara umum bahan dasar dari masjid-masjid kuno tersebut adalah kayu, namun pada beberapa masjid sudah diganti dengan semen. Bentuk dari masjid yang terbuat dari kayu berupa bnagunan panggung. Meskipun demikian pada masjid-masjid yang terbuat dari semen menunjukkan bahwa benutk awal dari bangunan tersebut berupa bangunan panggung, hal ini dapat diketahui dari tiang-tiang pada ruang utama masjid yang pada bagian bawahnya terdapat lubang-lubang bekas balok penyangga lantai. Denah dari keseluruhan masjid-masjid kuno tersebut adalah segi empat (Mujib dan Novita 1996).

Atap masjid berupa atap tumpang yang terdiri atas dua sampai tiga susun. Pada beberapa masjid terdapat variasi bentuk pada susunan teratas atapnya yang berupa kubah. Dibagian atas atap umumnya terdapat hiasan mustaka yang berbentuk bawang, bulat sabit dan bintang, serta gada dengan lapik berbentu bulat pipih. Umumnya masjid-masjid tersebut dihias dengan ukiran dan tegel keramik (Mujib dan Novita 1996).

Dalam perkembangannya kebudayaan suatu daerah mengalami proses-proses pencampuran yang disebabkan oleh adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tersebut dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing. Proses pencampuran budaya ini dikenal dengan istilah akulturasi (Koentjaraningrat 1989: 247-248). Proses akulturasi akan terjadi karena adanya hubungan dan pergaulan suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat lain, di mana masing-masing masyarakat saling memberikan dan menerima pengaruh (Poespowardojo 1986: 33).

Menurut Soewadji Syafei, bila kedua bangsa tersebut mempunyai tingkat kebudayaan yang hampir sama maka kemungkinan terjadinya percampuran kebudayaan sangat besar, tetapi jika tidak terdapat kesamaan pada pola kebudayaan dari masyarakat atau bangsa tersebut kemungkinan tidak terjadinya percampuan kebudayaan juga sangat besar (1986: 97-98).

Di dalam proses percampuran kebudayaan dikenal istilah local genius. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Quaritch Wales dalam tulisannya The Making of Greater India: A Study in South-east Asia Culture Change, yaitu mengenai bentuk-bentuk kesenian di Jawa, Khmer, dan Indo Cina yang menunjukkan satu sumber yang sama yaitu India tetapi masing-masing mempunyai ciri-ciri tersendiri yang kemudian dianggap oleh Quaritch Wales sebagai local genius. Menurutnya local genius merupakan kemampuan menyerap dari suatu masyarakat pendukung kebudayaan tertentu sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing sampai dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik dan tidak terdapat di daerah asalnya. Dengan demikian local genius merupakan kekuatan yang dimiliki masyarakat setempat yang mampu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan yang mampu pula berkembang untuk masa-masa mendatang. Sehingga dapat dikatakan juga local genius merupakan filter dalam menerima pengaruh kebudayaan asing (Poespowardojo 1986; 33; Subadio 1986: 23; Syafei 1986: 98).

Sebagaimana diketahui bahwa masjid sebagai salah satu bentuk tinggalan arkeologi dari masa Islam tentunya memiliki unsur-unsur kebudayaan baik lokal maupun asing karena pada dasarnya Islam sebagai agama tidak melahirkan corak kebudayaan baru khususnya budaya materi yang mengantikan budya pra Islam (Nawawi 1990: 273-287). Berdasarkan uraan tersebut maka permasalahan yang akan dibahas dalam tulisan ini mengenai akulturasi pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Dalam tulisan ini proses akulturasi yang akan dibahas didasarkan pada pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno tersebut.


Hiasan-hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci

1. Hiasan Ukiran
Hiasan ukiran terdapat di hampir semua masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Hiasan ini terdiri dari beberapa motif, yaitu sulur-suluran, bunga, tali, medalion, dan lidah api. Berikut uraian mengenai motif-motif pada hiasan ukiran tersebut:

1a. Motif Sulur-suluran
Motif sulur-suluran adalah motif yangberupa tumbuh-tumbuhan yang menjalar, motif ini dapat ditemui pada hampir semua hiasan ukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Teknik ukir dari motif hias ini dilakukan dengan dua cara, yaitu teknik ukir tembus dan teknik ukir timbul. Pada mihrab Masjid Agung Pondok Tinggi dan bagian atas pintu masuk Masjid Lempur Tengah terlihat motif sulur-sulurannya membentuk wujud kepala kala seperti yang terdapat pada bangunan candi. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Lempur Tengah motif sulur-suluran ini dipadukan dengan motif bunga. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya merah, hijau tua, hijau muda, kuning, putih, biru tua, dan krem.

1b. Motif Bunga
Motif ini dapat ditemukan di hampir semua hiasan uukiran di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci. Pada Masjid Agung Pondok Tinggi motif bunga terdapat di dinding masjid yang berfungsi juga sebagai ventilasi. Pada Masjid Lempur Mudik motif bunganya dipadukan dengan motif tali. Pada masjid tersebut juga terdapat variasi bentuk dari motif bunga ini, yaitu berbentuk kuncup dan berbentuk bunga yang mekar. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya hijau, merah, kuning, biru, putih, dan coklat.

1c. Motif Tali
Motif ini dapat ditemui pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah dan Masjid Lempur Mudik. Motif ini terdiri dari motif bunga dan motif tali pada sisi-sisinya. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya biru, hijau, merah, kuning, dan putih.

1e. Motif Lidah api
Motif lidah api merupakan istilah lokal Kerinci yang berupa jalinan bentuk lengkung yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai lidah api.Motif ini hanya terdpat di Masjid Nurul Iman Lolo Hilir. Pada masjid tersebut motif ini dipaduikan dengan hiasan antefiks . Warna-warna yang digunakan pada motif ini adalah merah, biru, hijau, dan kuning.

2. Hiasan Baluster
Penyebutan hiasan ini didasrkan pada bentuknya yangmenyerupai baluster, yaitu bagian dari tangga atau balkon yang terbuat dari kayu, batu, logam, atau terakota yang berbentuk melenkung dan menyerupai vas atau botol (Mills 1965: 19). Hiasan ini dapat ditemui di Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ini terbuat dari kayu dan berfungsi juga sebagai ventilasi . Warna-warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya merah, kuning, biru, dan hijau.

3. Hiasan Roster
Istilah roster berasal dari Bahasa Belanda rooster, yaitu lubang-lubang yang berfungsi sebagai ventilasi (Wojowasito 1978: 552). Hiasan roster umumnya terdapat pada bangunan yang masif dan berupa lubang-lubang kecing yang disusung sehingga membentuk pola tertentu. Hiasan ini hanya dapat dijumpai pada masjid-masjid yang terbuat dari semen, yaitu Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir . Warna yang digunakan pada hiasan ini umumnya disesuaikan dengan warna dinding masjid, seperti pada Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik diberi warna putih; sedangkan pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir tidak diberi warna. Hiasan roster yang diberi warna hanya terdapat di Masjid Tamiang Hilir. Warna-warna yang digunakan adalah kuning, merah, dan biru.

bersambung....


Quote:

Hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci

Oleh: Aryandini Novita



4. Hiasan Tegel Keramik
Hiasan ini dapat ditemui di hampir semua masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci kecuali Masjid Lempur Tengah dan Masjid Lempur Mudik. Tegel keramik tersebut secara keseluruhan berukuran 15cm x 15cm; 10cm x 10cm; dan 5cm x 5cm. Motif hias yang terdapat pada hiasan ini berupa motif bunga, burung merak, dan geometri. Berikut uraian tentang motif-motif yang terdapat pad hiasan tegel keramik:

4a. Motif Bunga
Motif ini dapat ditemui di Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Keramat Pulau Tangah, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Warna-warna yang digunakan pada motif ini adalah merah tua dan merah muda. Warna dasar tegel keramik yang bermotof bunga umumnya berwarna putih dengan variasi warna tambahan hijau, biru, dan kuning.

4b. Motif Burung Merak
Motif ini hanya dapat ditemui di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Motif burung merak ini digambarkan secara natural dan diberi warna hijau pada bulu-bulunya serta biru pada bagian tubuhnya. Warna dasar dari tegel keramik yang bermotif burung merak ini adalah putih.

4c. Motif Geometris
Sama dengan motif burung merak, motif ini hanya terdapat di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Warna-warna yang digunakan pada motif ini umumnya merah dan hitam.

Pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci memperlihatkan bahwa hiasan ukiran yang bermotif sulur-suluran hadir di hampir semua masjid, yaitu di Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif bunga dapat terlihat pada Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif tali dapat terlihat pada Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, Masjid Lempur Tengah, dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan ukiran dengan motif medalion hanya terdapat di Masjid Lempur Mudik, demikian juga hiasan ukiran dengan motif lidah apai hanya terdapat di satu masjid, yaitu Masjid Nurul Iman Lolo Hilir. Hiasan baluster hadir di Masjid Lempur Tengah. dan Masjid Lempur Mudik. Hiasan Roster hadir di Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Hiasan tegel keramik dengan motif bunga dapat ditemui di hampir semua masjid, yaitu di Masjid Agung Pulau Tengah, Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir, Masjid Keramat Pulau Tengah, Masjid Nurul Jalal Tanjung Pauh Mudik, Masjid Nurul Iman Lolo Hilir, dan Masjid Tamiang Hilir. Hiasan tegel keramik dengan motif burung merak dan geometris hanya terdapat di Masjid Raya Tanjung Pauh Hilir. Pada tabel 1 dapat dilihat keberadaan hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno tersebut berdasarkan kehadiran (present) dan ketidakhadiran (absent).

Secara keseluruhan keletakan hiasan-hiasan tersebut juga dapat dilihat pada tabel 2. Pada tabel ini hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran umumnya diletakan di sudut dinding, tiang, mihrab, pipi tangga tempat adzan, mimbar daun pintu, bagian atas pintu, dan bingkai pintu. Hiasan ukiran dengan motif bunga umumnya diletakkan di dinding, sudut dinding, pagar tempat adzan, tiang, dan mihrab. Hiasan ukiran dengan motif tali umumnya diletakan di konstruksi penyangga atap, dinding dan tiang. Pada konstruksi penyangga atap juga terdapat hiasan ukiran dengan motif lidah api. Hiasan ukiran dengan motif medalion hanya diletakkan di dinding demikian juga dengan hiasan baluster.

Keberadaan hiasan roster terlihat pada dinding, mihrab, bagian kaki menara, dan pagar tubuh menara. Hiasan tegel keramik denga motif bunga dapat ditemui di mihrab, pipi tangga masuk, dinding, umpak, bagian kaki menara, anak tangga naik menara, dan tubuh menara. Hiasan tegel keramik dengan motif burung merak dan geometris dapat ditemui di pipi tangga masuk, dinding, mihrab, dan mimbar.


Pembahasan

Telah diuraikan sebelumnya bahwa Islam memberikan toleransi pada kebudayaan setempat untuk dikembangkan sesuai kepentingannya, selain itu Islam juga memberikan peluang pada kebudayaaan asing lainnya yang melakukan kontak dengan daerah setempat. Dalam hal ini sikap toleransi tersebut dapat dilihat pada hiasaan-hiasan di masjid-masjid kuno di wilayah Kerinci.

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi Palembang diketahui hiasan ukiran dengan motif sulur-suluran dan lidah api merupakan motif hias lokal wilayah Kerinci (Mujib dan Novita 1996: 24); sedangkan hiasan tegel keramik yang terdapat pada masjid-masjid kuno tersebut berasal dari Eropa. Selain itu terdapat juga motif-motif hias yang berasal dari luar wilayah Kerinci lainnya, yaitu hiasan ukiran dengan motif tali dan bunga yang merupakan motif hiasa Minangkabau (Mujid dan Novita 1996: 25).

Keadaan ini menunjukkan adanya proses akulturasi pada masjid-masjid kuno tersebut. Sebagaimana diketahui Islam tidak memiliki aturan-aturan khusus dalam pendirian sebuah masjid dan sikap toleransi yang cukup tinggi memungkinkan terjadinya proses-proses akulturasi dalam pendirian bangunan keagamaannya.

Motif sulur-suluran sebenarnya telah ada sejak masa pra Islam, yaitu masa klasik. Hal ini dapat dilihat pada relief-relief candi yang juga mengenal motif tersebut. Bukti-bukti pengaruh Hindu-Buddha di wilayah Kerinci samapi saat ini masih sangat kurang, karena tinggalan dari masa tersebut hanya berupa arca Avalokitesvara yang ditemukan di sungai Penuh. Tetapi jika diamati lebih seksama terlihat pengaruh Hindu-Buddha pada Masjid Agung Pondok Tinggi dan Masjid Lempur Tengah, yaitu motif sulur-sulurannya dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai kepala kala, demikian juga motif sulur-suluran di Masjid Nurul Iman Lolo Hilir yang motif sulur-sulurannya berbentuk antefiks.

Selain motif sulur-suluran, motif medalion, dan bunga pada hiasan ukiran juga berasal dari masa klasik, hal ini dikarenakan motif-motif tersebut juga ditemui di relief-relief pada bangunan candi. Selain moptif-motif tersebut motif hias yang menggambarkan binatang juga ditemui di relief pada bangunan candi. Penggambaran motif-motif hias yang berupa mahluk hidup pada masa pra Islam umumnya digambarkan secara naturalis, tetapi pada masa Islam penggambarannya disamarkan. Hal ini dapat dikaitkan dengan Hadits Nabi yang melarang penggambaran mahluk-mahluk bernyawa. Hadits ini pada dasarnya diturunkan untuk meghindari adanya praktek pemujaan pada mahluk-mahluk yang digambarkan tersebut (Israr 1958:48)

Kenyataannya di masjid-masjid kuno di wilayah Kerinci, motif hias yang berupa mahluk hidup tersebuut tidak disamarkan melainkan digambarkan secara natural. Keadaan ini dapat dikaitkan dengan kronologi masjid yang memiliki motif hias tersebut yang didasari oleh bahan dan ragam hiasnya diperkirakan masjid tersebut didirikan pada pertengahan abad XIX (Mujib dan Novita 1996: 27) yang merupakan puncak perkembangan Islam di Kerinci. Pada saat itu pemehaman kaidah-kaidah Islam pada masyarakat Kerinci dianggap sudah cukup kuat sehingga munculnya motif-motif mahluk hidup pada masjid-masjid tersebut semata-mata hanya berfungsi sebagai hiasan.

bersambung...





Quote:
Hiasan pada Masjid-masjid Kuno di Wilayah Kerinci

Oleh: Aryandini Novita


Penutup

Akulturasi pada dasarnya adalah proses percampuran budaya yang terjadi karena adanya kontak antara masyarakat pendukung kebudayaan tertentu dengan masyarakat pendukung kebudayaan asing. Dalam proses tersebut umumnya kebudayaan yang ada sebelum kebudayaan asing masuk tetap dipertahankan sehingga proses ini sama sekali tidak menghilanhkan kebudayaan setempat, kemampuan ini dikenal dengan istilah local genius.

Berdasarkan pengamatan terhadap hiasan-hiasan pada masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci menunjukkan adanya proses percampuran antara budaya Kerinci dengan budaya asing. Unsur-unsur budaya asing yang mempengaruhi hiasan pada masjid-masjid tersebut berasal dari Minangkabau dan Eropa.

Unsur-unsur lokal Kerinci pada hiasan masjid-masjid kuno di wilayah Kerinci berupa motif sulur-suluran dan lidah api; sedangkan unsur asing berupa motif tali dan hiasan tegel keramik. Motif sulur-suluran yang merupoakan unsur lokal Kerinci dapat dikatakan sebagai local genius.

Penggambaran motif binatang pada salah satu masjidkuno di Wilayah Kerinci diwujudkan secara natural. Hal ini terlihat tidak seperti penggambaran motif tersebut pada umumnya, keadaan ini dapat dikaitkan dengan kronologi pendirian masjid yaitu pada masa puncak perkembangan Islam di Kerinci sehingga dapat dikatakan tujuan pemakaian motif tersebut hanya sebagai hiasan.

Ketika Agama Islam berkembang di nusantara, terlihat adanya pemakaian budaya-budaya lokal seperti arsitektur bangunan daerah setempat antara lain bentuk bangunan panggung dan penggunaan kayu sebagai bahan bangunannya. Keadaan ini terlihat di masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci sehingga dapat disimpulkan meskipun hiasan-hiasan yang digunakan oleh masjid-masjid tersebut mendapat pengaruh dari luar Kerinci dan pengaruh masa pra Islam tetapi bentuk dan bahan bangunannya masih mengambil unsur-unsur daerah setempat. Dengan demikian bentuk dan bahan bangunan tersebut dianggap sebagai local genius dari masjid-masjid kuno di Wilayah Kerinci.


Daftar Pustaka

Adiwimarta, Sri Sukesi (et.al)
1983 Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Briggs, M. S.
1965 Chamber’s Encyclopaedia of Architecture

Djafar dan Anas Madjid
1986 Arsitektur Tradisional Jambi. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan dokumentasi Kebudayaan Daerah

Koentjaraningrat
1989 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru

Marah, Risman
1987 Ragam Hias Minang Kabau. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Mills, John Fitz Maurice
1988 The Pergamon Dictionary of Art. Pergamon Press

Mujid dan Aryandini Novita
1996 Laporan Penelitian Masjid-Masjid Kuna di Kerinci (belum diterbitkan)

Munandar, Agus Aris
1997 “Keseninambungan Seni Hias Hindu-Buddha pada Bangunan-Bangunan Masa Awal Masuknya Islam di Jawa” dalam Seminar Hasil Penelitian Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Depok 24 November 1997 (belum diterbitkan0

Nawawi, A Cholik (et.al)
1989 “Kubur Tumpang. Salah Satu Aspek Penguburan dalam Islam” dalam AHPA I hal. 273-287

Poespowardojo, Soerjanto
1986 “Pengertian Local Genius dan Relevansinya dalam Modernisasi” dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Ayatrohaedi (ed.) hal. 28-38. Jakarta: Pustaka Jaya

Rahardjo, Supratikno
1987 “Analisis Kuantitatif untuk Perbandingan Gaya” dalam DIA II hal. 332-354

Sjafei, Soewadji
1986 “Peranan Local Genius dalam Kebudayaan” dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Ayatrohaedi (ed.) hal. 96-99. Jakarta: Pustaka Jaya

Soebadio, Haryati
1986 “Kepribadian Budaya Bangsa” dalam Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius), Ayatrohaedi (ed.) hal. 18-25. Jakarta: Pustaka Jaya

Tjandrasasmita, Uka
1994 “Laporan Survei Kepurbakalaan Islam di Provinsi Jambi” dalam Laporan Sementara Penelitian Arkeolgi dan Geologi Provinsi Jambi (belum diterbitkan)

Watson, D. W.
1979 “Some Comment of Finds of Archaeology Interest in Kerinci” dalam Majalah Arkeologi Th II no 4 hal. 18-25. Jakarta: Jurusan Arkeologi FSUI

Wojowasito, S
1978 Kamus Umum Belanda-Indonesia. Jakarta: Penerbit Ichtiar Baru – van Hoeve

Yudoseputro, Wiyoso
1986 Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia. Bandung: Penerbit Angkasa

*) Tulisan ini telah dimuat dalam Buku “Dinamika Budaya Asia Tenggara – Pasifik. Dalam Perjalanan” diterbitkan oleh Puslit Arkenas, 1998



BONUS!!!!!
Ternyata selama ane napak tilas masjid-masjid tua saksi sejarah banyak hal menarik yang sayang untuk dilewatkan gan. Ngintip YUK gan...

Spoiler for Traditional Pink Pondok Tinggi:


Spoiler for Makam di Tengah Jalan:


Spoiler for Kisah Tanpa Bingkai “Lempur Mudik”:



Informasi Tambahan Dari Kaskuser Kerinci
Spoiler for Info Tambahan:

Spoiler for peta lokasi:


Quote:Original Posted By how to get there

1. Jakarta - Jambi = pesawat (300-500 ribu), bus ( 200 ribu)
.Jambi-Sungai Penuh (500 km)= travel/engkel ( 100-120 ribu, 10 jam perjalanan), pesawat (500 ribu, 1 jam)
2. Jakarta - Padang = pesawat ( 400-700 ribu)
Padang-Sungai Penuh (278 km) = bus / travel (40-70 ribu)
3.Sungai Penuh - Kecamatan Keliling Danau (Masjid Kuno Kota Tua) = ojek ( 25 ribu)
4. Sungai Penuh - Kecamatan Gunung Raya (Masjid Tua Lempur Mudik) = bus 3/4 ( 20 ribu)

Akomodasi Sungai Penuh = rate hotel melati 15-100 ribu

Tips perjalanan = bagi yang gampang mabuk darat tidak direkomendasi transportasi darat Jambi -Sungai penuh. jalanan curam dan terjal.



betapa kayanya budaya ISLAM di Indonesia.....
bagus gan tritnya jadi nambah ilmu tentang sejarah ISLAM di tanah air
mantep banget gan tritnya....

lengkap dari info masjid sama sejarah perkembangan Islam

bener-bener warna-warni masjidnya
Spoiler for yang udah komen makasih ya gan:
kerinci itu bagian mana jambi siihh ...

gak kelewatan jalan lintas .................


ada makam di tengah jalan , jadi penasaran
mantep warna warni , jarang jarang nih ada yang gini ,mantep dah 2
subhanallah..keren tritnya...

udah lama pengen ke kerinci nyobain teh kualitas tinggi yg kabarnya jd royal tea di eropa..

semoga bisa kesana deh..amin...
Kalau mas Danan udah bikin thread, sedap bener dah.
view nya paten Om, cadas abis dah
Lengkap banget thread agan

Ane Bantu rate gan.. Sipa tahu kelak bisa mampir ke Jambi
wah keren banget foto2nya
mina izin di copas yah foto2nya
bagus juga tuh penampakannya mengagumkan