KASKUS

Thumbs up Penetapan Awal Ramadhan 1433 H/2012 M



Assalamualaikum Wr.Wb
saya akan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan2 yang sempat ada
dari teman dan kaskuser yang bertanya kapan sih awal ramadhan itu jatuhnya.
ok langsung saja saya akan mencoba kumpulkan artikel2 yang sudah saya cari dari google dan media2 lain.

mohon untuk disimak dan dibaca dengan teliti, kenapa begitu karena kalau kita gak teliti bisa salah paham dan bisa menimbulkan fitnah. :anggel

Spoiler for HT#3:

Spoiler for cendol dari kaskuser:

Spoiler for BUKA INI DULU:


Spoiler for Vbot:


Awal Ramadhan 1433 H; Sebuah Tinjauan Falak

[/CENTER]
Tahun 1433 H atau 2012 ini akan menjadi perhatian yang cukup serius ketika ummat Islam Indonesia akan memasuki bulan suci Ramadhan, karena secara hisab awal Ramadhan 1433 H akan ada beda antara kriteria Imkan Rukyah dan Hisab hakiki, atau tenarnya antara Hisab vs Rukyat. Hisab akan memulai Ramadhan lebih dahulu ketimbang Rukyat.



HILAL PENUTUP ROJAB 1433 H:

Untuk menentukan kapan awal Ramadhan, mari kita awali dari penentuan tgl 1 Sya’ban 1433 H. Dan untuk memastikan permulaan Sya’ban, saya mencoba melakukan observasi terhadap Bulan penutup Rojab 1433 H. Kegiatan ini tidak jamak dilakukan, namun bagi saya ini hobi saja, namun secara sains juga bisa dimanfaatkan untuk memahami makna Yaasiin:39, “the waning crescent marks the end of Rajab – Urjunil Qadim (Quran 36: 39)“.


Hasil dari observasi terhadap Hilal Akhir Rojab, adalah sebagai berikut:

Cahaya Bumi, pada gambar di atas terlihat dari bentuk bulat Bulan di atas sabit hilal itu adalah cahaya Matahari yang dipantulkan Bumi menuju ke permukaan Bulan, yang akhirnya kita lihat lagi dari Bumi.

Hilal di atas termati pada Senin 18 Juni 2012 selepas Shubuh. Dan pada 19 Juni 2012, Hilal yang sama sudah tidak bisa diamati lagi, dus malamnya akan terjadi Konjungsi atau Ijtimak akhir Rojab 1433 H pada jam 22:03 WIB.

Karena Ijtimak terjadi pada malam hari, maka pada sore-petangnya (maghrib, 19 Juni 2012) hilal masih negatif karena usianya masih -4 jam 33 menit.


HILAL PEMBUKA SYA’BAN 1433 H:

Bulan baru astronomis untuk Sya’ban terjadi pada tanggal 19 Juni 2012, jam 15:02 UT (Selasa, 19 Juni 2012, jam 22:03 WIB).


Visibiltas Hilal:

Hampir semua wilayah dunia tidak akan ada yang bisa menyaksikan munculnya bulan sabit baru pada petang hari tanggal 19 Juni 2012. Baru pada keesokan harinya: Rabu, 20 Juni 2012 (maghrib) bulan sabit akan lebih mudah dilihat.
Spoiler for AWAS BWK:

]Untuk wilayah Indonesia dan sekitarnya, perlu bantuan alat-alat optis untuk bisa menemukan hilal bulan Sya’ban ini, karena Indonesia berada di warna abu-abu.[/COLOR]

Foto Hilal Sya’ban 1433 H:

Pengamatan yang punya peluang melihatnya adalah pada Rabu, 20 juni 2012. Namun di Indonesia cuaca kurang mendukung, Solo mendung. Ada yang berhasil melihat yakni di Kudus. Kudus Astro Club berhasil melihat dan mengabadikannya.

Hilal 1 Sya’ban 1433 H terlihat dari Kudus, dan berhasil diabadikannya dalam foto dan video times-laps.

Hilal 1 Syaban 1433 H dari Kudus

Hilal 1 Syaban 1433 H dari Tanzania

Hilal 2 Syaban 1433 H dari Juwiring-Klaten


Hisab-Rukyat: Sepakat Awal Sya’ban

Secara Hisab dan Rukyat, ada kesepakatan dalam mengawali bulan Sya’ban 1433 H ini. Awal Syaban di Indonesia dimulai secara serempak yakni pada Kamis, 21 Juni 2012. Tanggal 15 Syaban 1433 H akan jatuh pada Kamis, 4 Juli 2012 selepas maghrib sampai Jum’at, 5 Juli 2012 menjelang maghrib.

"HISAB-RUKYAT -> 1 Syaban 1433 H = 21 Juni 2012 M

Hisab-Rukyat: Beda Akhir Sya’ban

Secara Hisab dan Rukyat, akhirnya harus berbeda dalam mengakhiri bulan Sya’ban 1433 H ini. Akhir Sya’ban 1433 H di Indonesia diakhiri secara HISAB pada Kamis, 19 Juli 2012 – saat maghrib. Sementara secara Rukyah, Akhir Sya’ban 1433 H akan jatuh pada Jum’at, 20 Juli 2012 -saat maghrib.

"HISAB -> 29 Sya’ban 1433 H = 19 Juli 2012 M

RUKYAT -> 30 Sya’ban 1433 H = 20 Juli 2012 M


KAPAN RAMADHAN 1433 H ?

Awal Ramadhan 1433 H – HISAB:

Dari perbedaan akhir Sya’ban 1433 H di atas, maka awal Ramadhan 1433 H sudah dapat diprediksi akan berBEDA.

Secara Hisab, konjungsi atau ijtimak akhir Sya’ban 1433 H akan jatuh pada Kamis 19 Juli 2012 jam 11:25 WIB. Maka awal Ramadhan 1433 H akan jatuh pada Jum’at 20 Juli 2012, karena perhitungan ilmu falak kontemporer, Hilal pada sore hari Kamis 19 Juli 2012 sudah positif di seluruh wilayah Indonesia.

Ormas yang menggunakan kriteria HISAB ini akan memulai berpuasa pada Jum’at , 20 JULI 2012.


Awal Ramadhan 1433 H – Rukyat: -Istikmal Sya’ban 1433 H-

Dari pelabuhan Ratu: Hilal pada Kamis 19 Juli 2012 baru setinggi 1,5 derajat. Meski elongasi di atas 4 derajat, namun karena usia juga baru 6,5 jam ; maka dipastikan secara Imkan Rukyah juga mustahil terlihat/terpenuhi. Sehingga sore harinya, atau esok harinya Jum’at 20 Juli 2012 masih masuk bulan Sya’ban 1433 H alias Istikmal untuk Sya’ban 1433 H.

Sehingga, Pemerintah RI yang menggunakankriteria Imkan Rukyah dan ormas yang menggunakan kriteria Rukyat akan mulai berpuasa pada Sabtu, 21 juli 2012.

Simulasi Visibiltas Hilal dari Surakarta, pada hari pertama Rukyah (hari konjungsi/ijtimak):


KESIMPULAN RAMADHAN 1433 H:
"HISAB –> 1 Ramadhan 1433 H = Jum’at, 20 Juli 2012 M

RUKYAH –> 1 Ramadhan 1433 H = Sabtu, 21 Juli 2012 M


SUMBER PERTAMA

SELANJUTNYA
VVV
VV
V

Penetapan Awal Ramadhan 1433 H

Penetapan Awal Ramadhan 1433 H

Bulan Sya’ban 1433 H menyisakan waktu beberapa jam lagi. Ini artinya, dan tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan tamu agung, tamu istimewa; Ramadhan yang mulia.

Ada dua buah do'a yang hampir sama dalam menyambut bulan nan agung Ramadhan. Yang satu sampai kepada kita melalui Imam Ahmad dan yang satu melalui Al Baihaqi dan Thabrani.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad).

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (HR. Al-Baihaqi dan Thabrani).




Penetapan awal Ramadhan 1433 H, antara dua arus besar NU dan Muhammadiyah kembali berbeda. Meski Ramadhan tinggal beberapa hari hari, Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadan atau hari pertama puasa jatuh pada 20 Juli 2012. Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Penetapan Hasil Hisab, Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah Tahun 1433 Hijriah.

Dalam maklumat disebutkan, berdasarkan hasil hisab, PP Muhammadiyah menetapkan tanggal 1 Ramadan 1433 H jatuh pada hari Jumat Kliwon atau 20 Juli 2012 Masehi. Adapun hari Idul Fitri 1 Syawal 1433 H jatuh pada hari Ahad Kliwon, 19 Agustus 2012 M.

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) bisa dipastikan akan menetapkan awal Ramadhan jatuh pada 21 Juli 2012. Perbedaan penentuan awal Ramadan itu disebabkan karena adanya perbedaan dalam pendekatan cara penentuan tanggal. Jika Muhammadiyah menggunakan metode hisab rukyah, NU dengan rukyatul hilal.

Rukyatul hilal adalah melihat hilal dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik. Sedangkan hisab adalah metode perhitungan. Sesuai dengan perhitungan, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan 2012 jatuh pada 20 Juli 2012. Sedangkan ormas NU kemungkinan besar sehari setelahnya atau 21 Juli. Pemerintah sendiri baru akan menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadan pada 19 Juli mendatang.

Koordinator Pendidikan dan Pelatihan Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Izzuddin menyatakan, pada 29 Sya''ban nanti diperkirakan posisi hilal (bulan) masih di bawah 2 derajat sehingga NU memilih menggenapkan umur Sya''ban menjadi 30 hari. Diperkirakan, posisi hilal masuk kategori sulit dilakukan rukyat atau dilihat dengan mata telanjang.

“Pada 1 Ramadan berpotensi jatuh pada Sabtu 21 Juli 2012,” katanya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kata Izzuddin, penetapan yang dikeluarkan oleh pemerintah diperkirakan juga sama, yaitu menggunakan metode rukyat seperti halnya yang dilakukan oleh NU. Sebelum penentuan itu, pemerintah akan melaksanakan sidang isbat (penetapan) terlebih dulu,” ujar Izzudin.

Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang Penetapan Hasil Hisab, Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah Tahun 1433 Hijriah, yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin ini juga berisi sembilan imbauan, khususnya kepada warga Muhammadiyah untuk mengisi bulan penuh berkah atau Ramadan dengan ibadah dan kegiatan yang bermanfaat.

"Kami mengimbau umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, untuk mengggairahkan dan mendorong anak-anak, remaja, dan angkatan muda untuk meningkatkan ibadah puasa Ramadan dan ibadah-ibadah makhdhah lainnya."
Selain itu, PP Muhammadiyah juga meminta industri hiburan, baik media cetak maupun elektronik, untuk mengedepankan nilai-nilai moral dan kebaikan serta tidak menjual komoditi pornografi dan pornoaksi.


SUMBER KEDUA

Quote:Original Posted By bro71
Ane ikut rukyah gan, tapi cukup didepan laptop aja gan...yg ga pake repot, nih hasil pengamatannya...



Lokasi: Pekalongan, hari Kamis, 19 Juli 2012 jam 17:35 dgn menggunakan Stellarium, bisa diunduh di http://www.stellarium.org/

Menurut ane sidang Isbat yg sebentar lagi akan dilaksanakan pada 19 Juli 2012 dan rukyatul hilal pd hari itu adalah tindakan yg sia-sia dan tidak bermanfaat sama sekali, karena berdasarkan pengalaman yg sudah-sudah, MUI & Kementerian Agama dipastikan akan menolak kesaksian mereka yg melihat hilal.
Tapi bolehkah "menolak kesaksian" coba baca disini






SELANJUTNYA
VVV
VV
V


Jakarta Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan awal dimulainya bulan puasa atau 1 Ramadan pada Jumat 20 Juli 2012. Sedangkan Idul Fitri 1 Syawal pada Minggu 19 Agustus.

Pengumuman itu tercantum dalam MAKLUMAT PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH Nomor : 01/MLM/I.0/E/2012 TENTANG PENETAPAN HASIL HISAB RAMADHAN, SYAWWAL, DAN DZULHIJJAH 1433 HIJRIYAH SERTA HIMBAUAN MENYAMBUT RAMADHAN 1433 HIJRIYAH, yang diteken Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin pada 15 Juni 2012.

Penetapan itu berdasarkan hasil hisab Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah 1433 Hijriyah sesuai hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Berikut ini kutipan maklumat yang bisa dilihat di website Muhammadiyah tersebut:

Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan bahwa:
1. Tanggal 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Jumat Kliwon 20 Juli 2012 M.
2. Tanggal 1 Syawwal 1433 H jatuh pada hari Ahad Kliwon 19 Agustus 2012 M.
3. Tanggal 1 Dzulhijjah 1433 H jatuh pada hari Rabu Wage 17 Oktober 2012 M.
4. Hari Arafah (9 Dzulhijjah 1433 H) jatuh pada hari Kamis Pahing 25 Oktober 2012 M.
5. Idul Adha (10 Dzulhijjah 1433 H) jatuh pada hari Jumat Pon 26 Oktober 2012 M.


Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan imbauan kepada jamaahnya mengenai kemungkinan adanya perbedaan penetapan tersebut dengan pihak lain, yaitu:

a. Tetap berpegang teguh kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

b. Dapat memahami, menghargai, dan menghormati adanya perbedaan tersebut serta menjunjung tinggi keutuhan, kemaslahatan, ukhuwah dan toleransi sesuai dengan keyakinan masing-masing, disertai kearifan dan kedewasaan serta menjauhkan diri dari sikap yang mengarah pada hal-hal yang dapat merusak nilai ibadah itu sendiri.


http://news.detik..com/read/2012/07/...tri-19-agustus

Spoiler for tambahan dari kaskuser:

Quote:karena banyak yang tanya apa sih perbedaan Hisab & Rukyat ?
ok akan saya tambahkan pengertian dari hisab dan rukyat.


Hisab dan rukyat

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (maghrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.
Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.
Perbedaan Kriteria

Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri.
Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jumat (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994.Pada tahun 2011 juga terjadi perbedaan yang menarik. Dalam kalender resmi Indonesia sudah tercetak bahwa awal Syawal adalah 30 Agustus 2011. Tetapi sidang isbat memutuskan awal Syawal berubah menjadi 31 Agustus 2011. Sementara itu, Muhammadiyah tetap pada pendirian semula awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.
disambung dibawah gan
vvv
vv
v

sambungan dari atas

Quote:Hisab

'Hisab secara harfiah 'perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi Matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi Matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu salat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender Hijriyah. Hal ini penting terutama untuk menentukan awal Ramadhan saat muslim mulai berpuasa, awal Syawal (Idul Fithri), serta awal Dzulhijjah saat jamaah haji wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah).
Dalam Al-Qur'an surat Yunus (10) ayat 5 dikatakan bahwa Allah memang sengaja menjadikan Matahari dan bulan sebagai alat menghitung tahun dan perhitungan lainnya. Juga dalam Surat Ar-Rahman (55) ayat 5 disebutkan bahwa Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.
Karena ibadah-ibadah dalam Islam terkait langsung dengan posisi benda-benda langit (khususnya Matahari dan bulan) maka sejak awal peradaban Islam menaruh perhatian besar terhadap astronomi. Astronom muslim ternama yang telah mengembangkan metode hisab modern adalah Al Biruni (973-1048 M), Ibnu Tariq, Al Khawarizmi, Al Batani, dan Habash.
Dewasa ini, metode hisab telah menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi. Berbagai perangkat lunak (software) yang praktis juga telah ada. Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak terjadi, yaitu saat Matahari, bulan, dan bumi berada dalam posisi sebidang atau disebut pula konjungsi geosentris. Konjungsi geosentris terjadi pada saat matahari dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu periode sinodik.

Rukyat



Salah satu contoh hasil pengamatan kedudukan hilal
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.
Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya Matahari pertama kali setelah ijtimak (pada waktu ini, posisi Bulan berada di ufuk barat, dan Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (Maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1.
Namun demikian, tidak selamanya hilal dapat terlihat. Jika selang waktu antara ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, maka secara ilmiah/teori hilal mustahil terlihat, karena iluminasi cahaya Bulan masih terlalu suram dibandingkan dengan "cahaya langit" sekitarnya. Kriteria Danjon (1932, 1936) menyebutkan bahwa hilal dapat terlihat tanpa alat bantu jika minimal jarak sudut (arc of light) antara Bulan-Matahari sebesar 7 derajat. [1]
Dewasa ini rukyat juga dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih seperti teleskop yang dilengkapi CCD Imaging. namun tentunya perlu dilihat lagi bagaimana penerapan kedua ilmu tersebut

Kriteria Penentuan Awal Bulan Kalender Hijriyah

Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah dalam agama Islam, seperti bulan Ramadhan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha).
Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis/astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat.
Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai penentuan awal bulan pada Kalender Hijriyah, khususnya di Indonesia:
Rukyatul Hilal
Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad:
Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)".
Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Nahdlatul Ulama (NU), dengan dalih mencontoh sunnah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.
Wujudul Hilal
Wujudul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip: Ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum Matahari terbenam (ijtima' qablal ghurub), dan Bulan terbenam setelah Matahari terbenam (moonset after sunset); maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) Bulan saat Matahari terbenam.
Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dan Persis dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Akan tetapi mulai tahun 2000 PERSIS sudah tidak menggunakan kriteria wujudul-hilal lagi, tetapi menggunakan metode Imkanur-rukyat. Hisab Wujudul Hilal bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak. Tetapi Hisab Wujudul Hilal dapat dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus bulan (kalender) baru sudah masuk atau belum, dasar yang digunakan adalah perintah Al-Qur'an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra': 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 36-40.
Imkanur Rukyat MABIMS
Imkanur Rukyat adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah, dengan prinsip:
Awal bulan (kalender) Hijriyah terjadi jika:
Pada saat Matahari terbenam, ketinggian (altitude) Bulan di atas cakrawala minimum 2°, dan sudut elongasi (jarak lengkung) Bulan-Matahari minimum 3°, atau
Pada saat bulan terbenam, usia Bulan minimum 8 jam, dihitung sejak ijtimak.
Secara bahasa, Imkanur Rukyat adalah mempertimbangkan kemungkinan terlihatnya hilal. Secara praktis, Imkanur Rukyat dimaksudkan untuk menjembatani metode rukyat dan metode hisab.Terdapat 3 kemungkinan kondisi.
Ketinggian hilal kurang dari 0 derajat. Dipastikan hilal tidak dapat dilihat sehingga malam itu belum masuk bulan baru. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
Ketinggian hilal lebih dari 2 derajat. Kemungkinan besar hilal dapat dilihat pada ketinggian ini. Pelaksanaan rukyat kemungkinan besar akan mengkonfirmasi terlihatnya hilal. Sehingga awal bulan baru telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini.
Ketinggian hilal antara 0 sampai 2 derajat. Kemungkinan besar hilal tidak dapat dilihat secara rukyat. Tetapi secara metode hisab hilal sudah di atas cakrawala. Jika ternyata hilal berhasil dilihat ketika rukyat maka awal bulan telah masuk malam itu. Metode rukyat dan hisab sepakat dalam kondisi ini. Tetapi jika rukyat tidak berhasil melihat hilal maka metode rukyat menggenapkan bulan menjadi 30 hari sehingga malam itu belum masuk awal bulan baru. Dalam kondisi ini rukyat dan hisab mengambil kesimpulan yang berbeda.
Meski demikian ada juga yang berpikir bahwa pada ketinggian kurang dari 2 derajat hilal tidak mungkin dapat dilihat. Sehingga dipastikan ada perbedaan penetapan awal bulan pada kondisi ini.Hal ini terjadi pada penetapan 1 Syawal 1432 H / 2011 M.
Di Indonesia, secara tradisi pada petang hari pertama sejak terjadinya ijtimak (yakni setiap tanggal 29 pada bulan berjalan), Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) melakukan kegiatan rukyat (pengamatan visibilitas hilal), dan dilanjutkan dengan Sidang Itsbat, yang memutuskan apakah pada malam tersebut telah memasuki bulan (kalender) baru, atau menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari. Prinsip Imkanur-Rukyat digunakan antara lain oleh Persis
Di samping metode Imkanur Rukyat di atas, juga terdapat kriteria lainnya yang serupa, dengan besaran sudut/angka minimum yang berbeda.
[sunting]Rukyat Global
Rukyat Global adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah yang menganut prinsip bahwa: jika satu penduduk negeri melihat hilal, maka penduduk seluruh negeri berpuasa (dalam arti luas telah memasuki bulan Hijriyah yang baru) meski yang lain mungkin belum melihatnya.



SELANJUTNYA
VVV
VV
V
Quote:Original Posted By malemax
1. "hai orang-orang yang beriman, taatilah allah dan taatilah rasul-nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada allah (al-qur'an) dan rasul (sunahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(q.s. An-nisa [4]: 59)


sudah sangat jelas aturan oleh allah, jadi kita cukup "manut" kepada ulil amri untuk urusan kebajikan.
Hal ini sangat penting untuk menjaga persatuan umat tanpa melanggar perintah allah tentunya.
Kita/ golongan jangan sok pintar dengan ilmu pengetahuan yg dimiliki, cukup ikuti perintahnya & selesai.
Pertanyaannya siapakan ulil amri :
ane : Kaum yg memegang kebijakan dinegrimu
quraish shihab : Yang disebut-sebut sebagai mufassir indonesia, memberi ulasan yang menarik: "tidak disebutkannya kata "taat" pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada allah dan rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran allah dan rasul-nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka. Dalam hal ini dikenal kaidah yang sangat populer yaitu: "la thaat li makhluqin fi ma'shiyat al-khaliq". Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada khaliq (allah)."
jika menganggap pemerintah kita bukan ulil amri krn tidak islami dan amanah, silahkan pergi aja ke negri yg dianggap ulil amrinya bener

2. Jika penetapan awal bulan menggunakan perhitungan (hisab) mohon untuk di share ayat al-quran?
Allah memerintahkan melihat bulan sebagai utama bukan dengan perhitungan krn perhitungan(hisab) adalah perkiraan semata

3. Jika arab saudi sudah mulai ramadhan kenapa kita belum?pdhl bulan yg dilihat adalah sama.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya; dan bertakwalah kepada allah agar kamu beruntung.[al-baqarah [2] :189]
waktu disini jamak jd diartikan beberapa waktu yg berbeda

intinya saran ane :

artinyan & maknai al-quran dengan al-quran jangan pendapat,
meskipun beliau ulama besar. Tidak ada ayat satu yg bertentangan dengan ayat yg lain

cmiiw


Quote:Original Posted By sammymaddog
Wah thanks penjelasannya gan! kumplit banget hehe

Ane mau sharing pengalaman ane nih agan2 semua. Ane bukan termasuk orang muhammadiyah atau NU atau yg lain gan, tapi lebaran kemaren ane "akhirnya" ikut keputusan Muhammadiyah. Dengan beberapa pertimbangan :

1. Ilmu falak/astronomi sudah sebegitu majunya. Kalo dipikir2 formula penghitungan hisab itu sudah dipakai selama ratusan tahun (CMIIW) dan hasilnya presisi. Artinya logikanya selama ratusan tahun lintasan edar bulan gak berubah, maka kecil sekali kemungkinan (hampir impossible) tahun selanjutnya bisa berubah, jadi hasil hisab mungkin cukup solid untuk disimpulkan benar (meskipun setau saya hisab itu sendiri TIDAK bisa dijadikan dasar hukum/keputusan dan menurut saya cuma dasar/pembantu untuk diobservasi di lapangan, CMIIW)

2. Saya kurang sreg (personal nih) dengan keseluruhan metode rukyah di Indonesia. Kemarin keputusan didasarkan pada kondisi jam 10 malam kalo ga salah (CMIIW). Kenapa harus seawal itu? Kalau dihitung pakai hisab pun, apa mungkin jam segitu hasilnya sudah muncul? Bagaimana kalau hilal terlihat jam 2 atau jam 4? Padahal keputusan harusnya dilakukan sesuai kondisi aktual. Lebih tidak masuk akal lagi kalau gara2 keputusan istikmal ada yg masih puasa meskipun sudah jelas bulan baru. True story nih gan, tetangga ane saking fanatiknya atau gimana lah itu sampe masih puasa padahal di australia udah jelas diumumkan bulan baru

Karena dua pertimbangan di atas maka saya jadi agnostik sama pemerintah dan semua ormasnya, yaudah saya bikin keputusan sendiri
Saya putuskan kalo emang hari itu sampe ada hilal diumumkan di 3 negara sewaktu, ane batalin puasa. Akhir cerita ane puasa hari itu. Ternyata jam 5 pagi, ada pengumuman di 3 negara (hasil googling, ada fotonya juga) jadi sesuai hadits ya ane batalkan hari itu, dan sekalian salat Ied pagi itu.

Nah itu pengalaman ane taun lalu. Sekarang ane juga kayanya akan lakuin hal yang sama, soalnya ngeri juga kalo seharusnya puasa tapi nggak puasa atau sebaliknya
Semoga bisa jadi inspirasi buat yg lain.

Akhir kata : Marhaban ya Ramadhan. Selamat berpuasa buat yg menunaikan.
Orang Indonesia cerdas2 lah. Perbedaan pendapat jangan dijadikan bahan musuh-musuhan, tapi untuk mempererat persaudaraan.
Bukannya motto kita Bhinneka Tunggal Ika?





selanjutnya
vvv
vv
v

tambahan dari kaskuser

Quote:Original Posted By yueliangwang
“dan (katakanlah): ‘sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-nya. Yang demikian itu diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (qs al-an’am 153).

para imam madzhab seperti imam malik, imam syafi’ie, imam hanafie, dan imam hambali berbeda pendapat. Namun mereka tidak saling membid’ah atau menganggap sesat yang lain. Begitu pula para pengikutnya.

Dalam khasanah islam, para ulama salaf dikenal dengan sikap kedewasaan, toleransi, dan objektivitasnya yang tinggi dalam menyikapi perbedaan. Ucapan imam imam syafi’i yang sangat masyhur sebagi bentuk penghormatan perbedaan pada pihak lain adalah, “pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar.”

”…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-nahl: 125).

Berdialog harus dengan cara yang baik (menarik) sehingga bisa mendapatkan simpati dan lawan bicara mau mendengarkan kebenaran yang dibawa. Cara seperti ini terhindar dari sikap yang keras dan kaku, jauh dari perkataan yang menyakitkan dan mengundang antipati.

Penyeru kebenaran adalah orang yang mementingkan dakwah, bukan kepentingan pribadi. Jika bersikap keras dan kaku, berarti telah mementingkan nafsu pribadi sehingga berakibat orang menjauh dari dakwahnya.

“umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” ditanyakan kepada beliau, “siapakah mereka, wahai rasul allah?” beliau menjawab, “orang-orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” (hr abu dawud, at-tirmizi, ibnu majah, ahmad, ad-darami dan al-hakim).

Rasulullah saw bersabda: “inilah jalan allah yang lurus” lalu beliau membuat beberapa garis kesebelah kanan dan kiri, kemudian beliau bersabda: “inilah jalan-jalan (yang begitu banyak) yang bercerai-berai, atas setiap jalan itu terdapat syaithan yang mengajak kearahnya” kemudian beliau membaca ayat :

“dan (katakanlah): ‘sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-nya. Yang demikian itu diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (qs al-an’am 153).

(hr ahmad, ibnu hibban dan hakim) (lihat abdul hakim bin amir abdat, risalah bid’ah, hal. 47-48).


Quote:Original Posted By edhitok
trims gan, ini thread yang bagus.

Sudah dijelaskan panjang lebar di pageone. Untuk pelaksanaanya, silakan kembali kepada keyakinan masing-masing. Yang terpenting disini menurut ane, kita harus bisa bersikap dewasa, toleran dan tidak memaksakan keyakinan kita diikuti oleh orang lain.

- bagi yang berpuasa di hari jum'at, hormatilah saudara kita yang berpuasa di hari sabtu, demikian pula sebaliknya, yang berpuasa di hari sabtu,hormatilah saudara kita yang berpuasa di hari jum'at.

Ini adalah bulan yang penuh berkah, semoga kita bisa merasakan keberkahannya bersama, bersatu dan saling menghormati dengan penuh keikhlasan.

"marhaban ya ramadhan"

Quote:Original Posted By arkalong
Agan thoto
terimakasih atas penjelasanya yang begitu detail

Berikut kesimpulannya;

Jumat 20 Juli 2012M (awal Ramadhan 1433H) 30 Hari
Wujudul Hilal --> Muhammadiyah

Sabtu 21 Juli 2012M (awal Ramadhan 1433H) 29 Hari
Imkanur Rukyat --> Pemerintah & PERSIS (Persatuan Islam)

Saya Belum tau gan kepastiannya??? Bagi yang udah tau tolong di update di sini!
Rukyatul Hilal --> NU (Nahdatul Ulama)

Sabda Nabi; Karena 1 bulan itu kadang-kadang 30 Hari kadang-kadang 29 Hari menurut perhitungan bulan bukan matahari

Tentukanlah diri kita dengan mengikuti Jamaah yang kita yakini, jika sampai saat ini kita belum mempunya pegangan jamaan yang kuat, ikut saja dulu pemerintah. dengan begitu kita tidak sendirian dalam beribadah, karena bagaimanapun alaman kita akan di pertanggung jawabkan.






selanjutnya
vvv
vv
v
mantap,ane nunggu pengumuman d tv aja deh,maklum masih warga indonesia
ane ikut pemerintah aja gan, nice info juga gan

ane bantu rate aja yah
wah infonya berguna gan buat netapin 1 ramadhan.
moga HT nih tritnya
nice inpoh bro ane bantu aja ya
wah calon ht nih
-
keren bang thoto threadnya
-
apa lebarannya dibagi menjadi 2 juga kah

tambahan dari kaskuser

Quote:Original Posted By abunabilla
fatwa para ulama seputar shaum ramadhan bersama penguasa

al-imam ahmad bin hanbal berkata: “seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas) umat islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.” beliau juga berkata: “tangan allah subhanahu wa ta'ala bersama al-jama’ah.” (majmu’ fatawa, karya syaikhul islam ibnu taimiyyah juz 25, hal. 117)

al-imam at-tirmidzi berkata: “sebagian ahlul ilmi menafsirkan hadits ini [1] dengan ucapan (mereka): ‘sesungguhnya shaum dan berbukanya itu (dilaksanakan) bersama al-jama’ah dan mayoritas umat islam’.” (tuhfatul ahwadzi juz 2, hal. 37. Lihat silsilah al-ahadits ash-shahihah jilid 2, hal. 443)

al-imam abul hasan as-sindi berkata: “yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya perkara-perkara semacam ini (menentukan pelaksanaan shaum ramadhan, berbuka puasa/iedul fithri dan iedul adha, -pen.) keputusannya bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa dan mayoritas umat islam. Dalam hal ini, setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan mayoritas umat islam. Maka dari itu, jika ada seseorang yang melihat hilal (bulan sabit) namun penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya untuk mengikuti mayoritas umat islam dalam permasalahan itu.” (hasyiyah ‘ala ibni majah, lihat silsilah al-ahadits ash-shahihah jilid 2, hal. 443).

Asy-syaikh al-muhaddits muhammad nashiruddin al-albani [2] berkata: “dan selama belum (terwujud) bersatunya negeri-negeri islam di atas satu mathla’ (dalam menentukan pelaksanaan shaum ramadhan, -pen.), aku berpendapat bahwa setiap warga negara hendaknya melaksanakan shaum ramadhan bersama negaranya (pemerintahnya) masing-masing dan tidak bercerai-berai dalam perkara ini, yakni shaum bersama pemerintah dan sebagian lainnya shaum bersama negara lain, baik mendahului pemerintahnya atau pun belakangan. Karena yang demikian itu dapat mempertajam perselisihan di tengah masyarakat muslim sendiri. Sebagaimana yang terjadi di sebagian negara arab sejak beberapa tahun yang lalu. Wallahul musta’an.” (tamamul minnah hal. 398).

Beliau rahimahumullah juga berkata: “inilah yang sesuai dengan syariat (islam) yang toleran, yang diantara misinya adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan mereka serta menjauhkan mereka dari segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan. Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski menurut yang bersangkutan benar– dalam ibadah yang bersifat kebersamaan seperti; shaum, ied, dan shalat berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian shahabat radhiallahu 'anhum shalat bermakmum di belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk pembatal wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara sempurna (4 rakaat) dalam safar dan diantara mereka pula ada yang mengqasharnya (2 rakaat). Namun perbedaan itu tidaklah menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di belakang seorang imam (walaupun berbeda pendapat dengannya, -pen.) dan tetap berkeyakinan bahwa shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa daripada pendapat pribadinya pada momen berkumpulnya manusia seperti di mina. Hal itu semata-mata untuk menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan) bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh al-imam abu dawud (1/307), bahwasanya khalifah ‘utsman bin ‘affan radhiallahu 'anhu shalat di mina 4 rakaat (zhuhur, ‘ashar, dan isya’ -pen). Maka shahabat abdullah bin mas’ud radhiallahu 'anhu mengingkarinya seraya berkata: “aku telah shalat (di mina/hari-hari haji, -pen.) bersama nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, abu bakr, ‘umar dan di awal pemerintahan ‘utsman 2 rakaat, dan setelah itu ‘utsman shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan diantara kalian (sebagian shalat 4 rakaat dan sebagian lagi 2 rakaat, -pen.), dan harapanku dari 4 rakaat shalat itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”

namun ketika di mina, shahabat abdullah bin mas’ud justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada beliau: “engkau telah mengingkari ‘utsman atas shalatnya yang 4 rakaat, (mengapa) kemudian engkau shalat 4 rakaat pula?!” abdullah bin mas’ud berkata: “perselisihan itu jelek.” sanadnya shahih. Diriwayatkan pula oleh al-imam ahmad (5/155) seperti riwayat di atas dari shahabat abu dzar radhiallahu 'anhu.

Maka dari itu, hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan bahan renungan oleh orang-orang yang (hobi, -pen.) berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya shalat witir di bulan ramadhan dengan dalih beda madzhab. Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq, tanpa peduli harus berseberangan dengan mayoritas kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka selalu dalam satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin, karena tangan allah subhanahu wa ta'ala bersama al-jama’ah.” (silsilah al-ahadits ash-shahihah jilid 2, hal. 444-445)

asy-syaikh al-allamah abdul aziz bin baz rahimahullahu pernah ditanya: “jika awal masuknya bulan ramadhan telah diumumkan di salah satu negeri islam semisal kerajaan saudi arabia, namun di negeri kami belum diumumkan, bagaimanakah hukumnya? Apakah kami bershaum bersama kerajaan saudi arabia ataukah bershaum dan berbuka bersama penduduk negeri kami, manakala ada pengumuman? Demikian pula halnya dengan masuknya iedul fithri, apa yang harus kami lakukan bila terjadi perbedaan antara negeri kami dengan negeri yang lainnya? Semoga allah subhanahu wa ta'ala membalas engkau dengan kebaikan.”

beliau menjawab: “setiap muslim hendaknya bershaum dan berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing. Hal itu berdasarkan sabda nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

“waktu shaum itu di hari kalian (umat islam) bershaum, (waktu) berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan (waktu) berkurban/iedul adha di hari kalian berkurban.” wabillahit taufiq. (lihat fatawa ramadhan hal. 112)

asy-syaikh muhammad bin shalih al-utsaimin rahimahullahu ditanya: “umat islam di luar dunia islam sering berselisih dalam menyikapi berbagai macam permasalahan seperti (penentuan) masuk dan keluarnya bulan ramadhan, serta saling berebut jabatan di bidang dakwah. Fenomena ini terjadi setiap tahun. Hanya saja tingkat ketajamannya berbeda-beda tiap tahunnya. Penyebab utamanya adalah minimnya ilmu agama, mengikuti hawa nafsu dan terkadang fanatisme madzhab atau partai, tanpa mempedulikan rambu-rambu syariat islam dan bimbingan para ulama yang kesohor akan ilmu dan wara’-nya. Maka, adakah sebuah nasehat yang kiranya bermanfaat dan dapat mencegah (terjadinya) sekian kejelekan? Semoga allah subhanahu wa ta'ala memberikan taufiq dan penjagaan-nya kepada engkau.”

beliau berkata: “umat islam wajib bersatu dan tidak boleh berpecah-belah dalam beragama. Sebagaimana firman allah subhanahu wa ta'ala:

“dia telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama, apa yang telah diwasiatkan-nya kepada nuh dan apa yang telah kami wasiatkan kepadamu, ibrahim, musa, dan isa, yaitu:’ tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah tentangnya’.” (asy-syura: 13)

-teguhlah kalian semua dengan tali (agama) allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” (ali ‘imran: 103)

“dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah keterangan datang kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (ali ‘imran: 105)


selanjutnya
vvv
vv
v
Pengamatan hilal Ramadhan 1433 H

Pengamatan Hilal 1 Ramadhan 1433 H


Hilal

Karena peredarannya mengelilingi bumi, ada kalanya bulan berada di antara bumi dan matahari. Saat itu terjadi, kita di bumi melihat bulan tak bercahaya yang disebut dengan bulan mati atau bulan baru.

Tak lama setelah terjadi bulan baru, bulan bergeser dari posisinya. Jika dilihat dari bumi, bulan mulai tampak sebagai sabit tipis. Hilal adalah bulan sabit paling tipis yang bisa dilihat mata setelah bulan baru.

Hilal Sya'ban 1433 H diamati di Pantai Pondok Bali, Subang, Jawa Barat tanggal 20 Juni 2012 jam 18.05.58 wib. Usia bulan 19 jam 21 menit (dihitung sejak bulan baru) dengan ketinggian bulan 9,5o dari matahari dan fase kecerlangan 0,7%. Foto oleh Dr. Dhani Herdiwijaya dengan alat bantu teleskop berdiameter 8 cm (f/6.8), telextender 2x, kamera Nikon D90. Waktu bukaan 3 detik dan ISO-400, 300dpi.

Rencana Pengamatan Hilal

Bulan baru terjadi pada tanggal 19 Juli 2012 jam 11.24 WIB. Sehingga pengamatan hilal akan dilakukan pada tanggal 19 dan 20 Juli 2012 jam 16.00 waktu setempat hingga bulan terbenam. Tim dari Observatorium Bosscha akan disebar di lokasi berikut:
Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat
Bukit Kemiling Permai, Bandar Lampung, Lampung
Bangkalan, Madura, Jawa Timur
Kupang, Nusa Tenggara Timur
SPD LAPAN, Biak, Papua
Sedangkan tim dari LAPAN, BMKG, Kementerian Agama, UPI Bandung, Universitas Lampung, UIN SUSKA, UNRAM, UNHAS, RHI Yogyakarta, CASA-Assalam dan Kudus Astronomi Club akan melakukan pengamatan di:
LhokNga, Aceh
Dumai, Riau
Kantor Gubernur Sumut, Medan
Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat
UPI, Bandung, Jawa Barat
SPD LAPAN, Pameungpeuk, Jawa Barat
Kartasura Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah
Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah
RHI, Bukit Bela Belu, Daerah Istimewa Yogyakarta
Denpasar, Bali;
Mataram, Nusa Tenggara Barat
Pantai Jungkat, Pontianak, Kalimantan Barat
Mall GTC, Makassar, Sulawesi Selatan
Kegiatan pengamatan ini merupakan program bersama yang dikoordinasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan didukung oleh PT. Telkom.

Pengamatan akan ditayangkan secara online melalui web streaming di halaman http://bosscha.itb.ac.id/hilal dan http://hilal.kominfo.go.id. Tujuan dari penayangan ini adalah untuk mengajak masyarakat menyaksikan hilal bersama-sama dan menunjukkan penggunaan alat bantu (teleskop) dalam pengamatan hilal.


Posisi Bulan Tanggal 19 dan 20 Juli 2012
Tanggal 19 Juli 2012, ketinggian bulan kurang dari 2 derajat di atas cakrawala pada saat matahari terbenam. Bulan akan terbenam 8 menit setelah matahari terbenam. Probabilitas melihat hilal pada saat itu diperkirakan sangat kecil baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan peralatan.
Sedangkan di tanggal 20 Juli 2012, peluang melihat hilal lebih besar.

Data astronomis untuk pengamat hilal di Observatorium Bosscha (6o 49’ 30” LS & 107o 36’ 59” BT) adalah sebagai berikut:

Data\t Tanggal 19 Juli 2012\t Tanggal 20 Juli 2012
Matahari terbenam\t jam 17.55 WIB\t jam 17.55 WIB
Bulan terbenam\t jam 18.03 WIB\t jam 18.53 WIB
Usia bulan\t 6 jam 31 menit\t 30 jam 31 menit
Tinggi bulan saat matahari terbenam (geosentris)\t 2o 50' 09"\t 14o 36' 37"
Beda azimuth bulan dan matahari (geosentris)\t -4o 30' 24"\t -6o 13' 26"
Jarak sudut (elongasi) bulan-matahari
saat matahari terbenam (geosentris)\t 5o 19' 26"\t 15o 51' 50"
Tinggi bulan saat matahari terbenam (toposentris)\t 1o 54' 39"\t 13o 41' 55"
Beda azimuth bulan dan matahari (toposentris)\t -4o 30' 10"\t -6o 12' 05"
Jarak sudut (elongasi) bulan-matahari
saat matahari terbenam (toposentris)\t 4o 53' 25"\t 15o 01' 19"
Posisi bulan relatif terhadap matahari\t Di sebelah kiri atas matahari\t Di sebelah kiri atas matahari



Posisi bulan (geosentris) saat matahari terbenam tanggal 19 Juli 2012 (atas) dan tanggal 20 Juli 2012 (bawah)

Awal Ramadhan 1433 H
Hasil pengamatan yang didapat oleh Observatorium Bosscha dan lembaga/institusi lain akan digunakan dalam sidang itsbat di Jakarta untuk menentukan awal Ramadhan 1433 Hijriah.

Observatorium Bosscha tidak pernah membuat pernyataan tentang kepastian kapan bulan Ramadhan/Syawal dimulai. Sebagai tempat penelitian astronomi, Observatorium Bosscha hanya merilis data astronomi berikut kemungkinan dapat/tidaknya hilal terlihat. Selanjutnya, Observatorium Bosscha menyerahkan keputusan penentuan awal bulan Ramadhan/Syawal kepada pemerintah melalui Kementerian Agama.

http://bosscha.itb.ac.id/in/berita/artikel.html


SELANJUTNYA
VVV
VV
V
Info bagus, gan... Berarti jumat jam 2 pagi ada acara bang Komeng buat menemai sahur

Visibilitas hilal

Prediksi Awal Bulan Ramadhan 1433 Hijriyah

Kamis 19 Juli 2012 sore merupakan saat pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadhan 1433 Hijriyah. Hal ini berdasarkan pada Taqwim Standard Indonesian hasil rukyat pada bulan sebelumnya yang menyimpulkan sama. Hari itu dari Pos Observasi Bulan Bukit Bela-belu Parangkusumo, Matahari terbenam pada pukul 17:36 WIB pada azimuth 290°48' atau 20,8° di Utara titik Barat. Tinggi Hilal saat Matahari terbenam 1°40' atau 1,7° di atas ufuk mar'i di kiri-atas Matahari. Bulan terbenam pada 17:45 WIB pada azimuth 286°6'. Pada kondisi seperti ini secara astronomis Hilal mustahil dirukyat baik menggunakan mata telanjang maupun teleskop. Namun demikian kegiatan rukyat tetap dilaksanakan sesuai perintah rukyat yang harus dilakukan pada setiap tanggal 29 bulan berjalan serta pembuktian di lapangan ketidak nampakan hilal.
RHI Yogyakarta akan melakukan rukyatul hilal secara resmi bersama Tim BHR DIY di POB Bela-belu Parangkusumo Yogyakarta pada Kamis, 19 Juli 2012 di POB Bela-belu Parangkusumo, Bantul Yogyakarta. pada hari berikutnya Jumat, 20 Juni 2012 di tempat yang sama juga akan dilakukan rukyatul hilal untuk membangun data visibilitas hilal. Seperti halnya tahun lalu, tahun ini juga RHI Yogyakarta menjadi salah satu Tim rukyat nasional dari 16 lokasi Rukyat Nasional di Indonesia kerjamasama antara BHR Kemenag DIY, Telkom DIY, Kominfo dan Bosscha. Tahun ini menyusul RHI Solo dan RHI Kudus juga menyusul menjadi salah satu anggota Tim. Hasil Streaming online Hilal 2012 ini dapat dilihat di website berikut :
http://hilal.depkominfo.go.id .:. http://bosscha.itb.ac.id/hilal .:. http://rukyatulhilal.org/live .:

Ijtimak / Konjungsi / New Moon

Kamis, 19 Juli 2012 @ 11:26 WIB - 12:26 WITA - 13:26 WIT atau 04:26 UT

Visibilitas (kenampakan) Hilal pada hari terjadinya Ijtimak selepas Matahari terbenam di seluruh dunia khususnya kawasan Indonesia ditunjukkan pada gambar peta di bawah ini. Peta visibilitas mengacu pada Kriteria Odeh yang mengadopsi Limit Danjon sebesar 6° yaitu syarat sudut elongasi Hilal terhadap Matahari agar dapat terlihat. Kriteria tersebut dikemas dalam sebuah software Accurate Times yang menjadi acuan pembuatan peta visibilitas ini.


KETERANGAN :
Sangat tidak mungkin daerah yang berada di bawah arsiran MERAH (E) dapat menyaksikan Hilal, sebab pada saat itu Bulan terbenam lebih dulu sebelum Matahari terbenam atau ijtimak lokal (topocentric conjunction) terjadi setelah Matahari terbenam.

Daerah yang berada pada area BIRU TUA (D) (tak berarsiran) juga tidak memiliki peluang menyaksikan hilal sekalipun menggunakan alat bantu optik (binokuler/teropong), sebab kedudukan Hilal masih sangat rendah ( <6° ) dan terang cakram Bulan masih terlalu kecil sehingga cahaya Hilal tidak mungkin teramati.

Hilal baru mungkin dapat teramati menggunakan alat bantu optik pada area di bawah arsiran BIRU MUDA (C). Pada area ini pun masih sangat sulit karena dibutuhkan kondisi langit yang sangat cerah terutama di langit Barat.

Wilayah yang berada dalam arsiran UNGU (B) hanya dapat menyaksikan hilal menggunakan alat bantu optik sedangkan untuk melihat langsung dengan mata diperlukan kondisi cuaca yang sangat cerah dan ketelitian pengamatan.

Hilal dengan mudah dapat disaksikan pada area di bawah arsiran HIJAU (A) baik menggunakan mata telanjang apalagi menggunakan peralatan optik dengan syarat kondisi udara dan cuaca cukup baik.

Peta ini dibuat dan hanya berlaku untuk daerah 60° Lintang Utara sampai 60° Lintang Selatan.

Spoiler for selanjutnya bisa dicek disini:



SELANJUTNYA
VVV
VV
V
ini dia nih trit yang ane tunggu2.. makasi ya gan buat infonya...
Marhaban Ya Ramadhan...

tambahan dari kaskuser

Quote:Original Posted By TransMemory
Terima kasih gan sudah dirangkum lengkap meski saya kurang paham dengan istilah2 sains astronominya. Ilustrasi gambarnya juga bagus.

layak mendapat:

Awalnya saya tahu cuma 2 metode, ternyata ada lagi untuk di negara kita.
Kalau sudah belajar ilmu tersebut dan membandingkan antar metode beserta dalilnya, saya jadi gak ragu untuk menentukan keyakinan. Daripada nanti dibilang cuma ikut-ikutan.

layak mendapat: (he..he.. saya belum iso)

Andai masing-masing orang paham ilmunya sehingga dapat saling menghormati perbedaan karena bagaimanapun setiap metode memiliki dalil dari Quran & Hadits mungkin ga' keluar lagi sindiran/komen2 seperti ini:

"Lu masih puasa ya..? Sudah batalin aja, buka aja sekarang. Haram loh hukumnya lebaran masih puasa."

Beda awal puasa ga terlalu masalah. Justru yang jadi masalah pas mo 1 syawal, masih ada aja yang bercandaan dan mengeluarkan komentar seperti di atas. Kalo yang disindir bisa kuat karena sudah tahu ilmunya, klo engga bisa sebaliknya... jadi diliputi keraguan.

layak untuk di

Alhamdulillah saya jadi tau ilmunya. Mudah2an agan dapat tambahan pahala ilmu

please gan


Quote:Original Posted By sammymaddog
Wah thanks penjelasannya gan! kumplit banget hehe

Ane mau sharing pengalaman ane nih agan2 semua. Ane bukan termasuk orang muhammadiyah atau NU atau yg lain gan, tapi lebaran kemaren ane "akhirnya" ikut keputusan Muhammadiyah. Dengan beberapa pertimbangan :

1. Ilmu falak/astronomi sudah sebegitu majunya. Kalo dipikir2 formula penghitungan hisab itu sudah dipakai selama ratusan tahun (CMIIW) dan hasilnya presisi. Artinya logikanya selama ratusan tahun lintasan edar bulan gak berubah, maka kecil sekali kemungkinan (hampir impossible) tahun selanjutnya bisa berubah, jadi hasil hisab mungkin cukup solid untuk disimpulkan benar (meskipun setau saya hisab itu sendiri TIDAK bisa dijadikan dasar hukum/keputusan dan menurut saya cuma dasar/pembantu untuk diobservasi di lapangan, CMIIW)

2. Saya kurang sreg (personal nih) dengan keseluruhan metode rukyah di Indonesia. Kemarin keputusan didasarkan pada kondisi jam 10 malam kalo ga salah (CMIIW). Kenapa harus seawal itu? Kalau dihitung pakai hisab pun, apa mungkin jam segitu hasilnya sudah muncul? Bagaimana kalau hilal terlihat jam 2 atau jam 4? Padahal keputusan harusnya dilakukan sesuai kondisi aktual. Lebih tidak masuk akal lagi kalau gara2 keputusan istikmal ada yg masih puasa meskipun sudah jelas bulan baru. True story nih gan, tetangga ane saking fanatiknya atau gimana lah itu sampe masih puasa padahal di australia udah jelas diumumkan bulan baru

Karena dua pertimbangan di atas maka saya jadi agnostik sama pemerintah dan semua ormasnya, yaudah saya bikin keputusan sendiri
Saya putuskan kalo emang hari itu sampe ada hilal diumumkan di 3 negara sewaktu, ane batalin puasa. Akhir cerita ane puasa hari itu. Ternyata jam 5 pagi, ada pengumuman di 3 negara (hasil googling, ada fotonya juga) jadi sesuai hadits ya ane batalkan hari itu, dan sekalian salat Ied pagi itu.

Nah itu pengalaman ane taun lalu. Sekarang ane juga kayanya akan lakuin hal yang sama, soalnya ngeri juga kalo seharusnya puasa tapi nggak puasa atau sebaliknya
Semoga bisa jadi inspirasi buat yg lain.

Akhir kata : Marhaban ya Ramadhan. Selamat berpuasa buat yg menunaikan.
Orang Indonesia cerdas2 lah. Perbedaan pendapat jangan dijadikan bahan musuh-musuhan, tapi untuk mempererat persaudaraan.
Bukannya motto kita Bhinneka Tunggal Ika?



tambahan kaskuser
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...&postcount=909
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...&postcount=379
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...&postcount=454
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...&postcount=720
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...postcount=1008
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...postcount=1303
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...postcount=1327
http://old.kaskus.co.id/showpost.php...postcount=1472




sekian dan terima kasih semogga bisa diambil hikmahnya amin
selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan
wassalamualaikum Wr.Wb





KUNJUNGI THREAD TERBARU ANE GAN

tambahan dari kaskuser

Quote:Original Posted By rantojuh
Siapa Ulil Amri ???

kutanya oppung google, ketemu salah satunya ini:

Makna Ulil Amri dalam Kitab Tafsir
Nadirsyah Hosen
\t
Kata Ulil Amri merupakan kata yang akrab ditelinga kita. Seringkali dalam perbincangan sehari-hari kita menggunakan istilah ini. Istilah Ulil Amri sebenarnya dirujuk dari Al-Quran Surat An-Nisa: 59 : "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu...".

Akan tetapi apa sebenarnya makna ulil amri yang dimaksud dalam ayat tersebut? Tulisan berikut ini mencoba merujuk kepada sejumlah kitab tafsir untuk menjawab akan makna Ulil Amri di dalam ayat 59 surat an-Nisa.
Tafsir Makna Ulil Amri

Tafsir at-Thabari, sebuah kitab tafsir klasik yang ditulis oleh ulama besar Abu Jafar Muhammad bin Jarir at-Thabari dan banyak dirujuk oleh para mufassir berikutnya, menyebutkan bahwa para ahli ta'wil berbeda pandangan mengenai arti ulil amri. Satu kelompok ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah umara. Berkata sebagian ulama lain, masih dalam kitab tafsir yang sama, bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi wal fiqh (mereka yang memiliki ilmu dan pengetahuan akan fiqh). Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah-lah yang dimaksud dengan ulil amri. Sebagian lainnya berpendapat ulil amri itu adalah Abu Bakar dan Umar. (Lihat lebih jauh dalam Tafsir at-Thabari, juz 5, h. 147-149)

Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya menyebutkan ada empat pendapat dalam mengartikan kalimat "ulul amri" pada QS An-Nisa:59. Pertama, ulil amri bermakna umara (para pemimpin yang konotasinya adalah pemimpin masalah keduniaan). Ini merupakan pendapat Ibn Abbas, as-Sady, dan Abu Hurairah serta Ibn Zaid. Imam al-Mawardi memberi catatan bahwa walaupun mereka mengartikannya dengan umara namun mereka berbeda pendapat dalam sabab nuzul turunnya ayat ini. Ibn Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays as-Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sariyah (perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah saw.). Sedangkan As-Sady berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Amr bin Yasir dan Khalid bin Walid ketika keduanya diangkat oleh Rasul sebagai pemimpin dalam sariyah.

Kedua, ulil amri itu maknanya adalah ulama dan fuqaha. Ini menurut pendapat Jabir bin Abdullah, al-Hasan, Atha, dan Abi al-Aliyah. Ketiga, Pendapat dari Mujahid yang mengatakan bahwa ulil amri itu adalah sahabat-sahabat Rasulullah saw. Pendapat keempat, yang berasal dari Ikrimah, lebih menyempitkan makna ulil amri hanya kepada dua sahabat saja, yaitu Abu Bakar dan Umar. (Tafsir al-Mawardi, jilid 1, h. 499-500)

Ahmad Mustafa al-Maraghi menyebutkan bahwa ulil amri itu adalah umara, ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan dan seluruh pemimpin lainnya dan zuama yang manusia merujuk kepada mereka dalam hal kebutuhan dan kemaslahatan umum. Dalam halaman selanjutnya al-Maraghi juga menyebutkan contoh yang dimaksud dengan ulil amri ialah ahlul halli wal aqdi (legislatif ?) yang dipercaya oleh umat, seperti ulama, pemimpin militer dan pemimpin dalam kemaslahatan umum seperti pedagang, petani, buruh, wartawan dan sebagainya. (Tafsir al-Maraghi, juz 5, h. 72-73)

Imam Fakhur Razi mencatat ada empat pendapat tentang makna ulil amri. Pertama, makna ulil amri itu adalah khulafa ar-rasyidin. Kedua, pendapat lain mengatakan bahwa ulil amri bermakna pemimpin perang (sariyah). Ketiga, Ulil amri itu adalah ulama yang memberikan fatwa dalam hukum syara dan mengajarkan manusia tentang agama (islam). Keempat, dinukil dari kelompok rawafidh bahwa yang dimaksud dengan ulil amri adalah imam-imam yang mashum. (Tafsir al-fakhr ar-Razi, juz 10, h. 144)

Senada dengan sejumlah kitab tafsir di atas, al-Alusi, pengarang tafsir Ruh al-Maani, mendata adanya beberapa pandangan tentang makna ulil amri. Ada yang mengatakan bahwa ulil amri itu adalah pemimpin kaum muslimin (umara al-muslimin) pada masa Rasul dan sesudahnya. Mereka itu adalah para khalifah, sultan, qadhi (hakim) dan yang lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah pemimpin sariyah. Juga ada yang berpendapat bahwa ulil amri itu adalah ahlul ilmi (cendekiawan?). (Tafsir Ruh al-Maani, juz 5, h 65)

Ibn Katsir, setelah mengutip sejumlah hadis mengenai makna ulil amri, menyimpulkan bahwa ulil amri itu adalah, menurut zhahirnya, ulama. Sedangkan secara umum ulil amri itu adalah umara dan ulama" (Tafsir al-Quran al-Azhim, juz 1, h. 518)

Dr. Wahbah az-Zuhaili, ulama masa kini yang semasa dengan Dr. Yusuf Qardhawi, dalam kitab tafsirnya, at-Tafsir al-Munir, menyebutkan bahwa sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa makna ulil amri itu adalah ahli hikmah atau pemimpin perang. Sebagian lagi berpendapat bahwa ulil amri itu adalah ulama yang menjelaskan kepada manusia tentang hukum-hukum syara'. Sedangkan syiah, masih menurut Wahbah Az-Zuhaili, berpendapat bahwa ulil amri itu adalah imam-imam yang mashum. (at-Tafsir al-Munir, juz 5, h. 126). Dalam kitab ahkam al-Quran, Ibn al-arabi berkata: "yang benar dalam pandangan saya adalah ulil amri itu umara dan ulama semuanya". (Ahkam al-Quran, juz 1, h. 452)
Refleksi

Dari sejumlah kitab tafsir yang dikutip di atas dapat diberikan catatan singkat sebagai berikut: Para ulama berbeda pendapat mengenai makna ulil amri. Ada yang mencoba meluaskan makna ulil amri dengan semua ulama dan umara. Ada pula yang mencoba menyempitkannya dengan khusus pada Abu Bakar dan Umar semata. Ada yang hanya melihat pada ulama saja (ahlul ilm) dan ada yang hanya berpegang pada arti pemimpin perang.

Sejumlah kitab tafsir, khususnya kitab tafsir klasik semisal Tafsir at-Thabari dan Ruh al-Maani, hanya menyebutkan contoh ulil amri itu pada jabatan atau profesi yang dipandang krusial pada masanya. Sedangkan Tafsir al-Maraghi, yang merupakan kitab tafsir yang ditulis pada abad 20 ini, menyebutkan contoh-contoh ulil amri itu tidak hanya berkisar pada ahlul halli wal aqdi, ulama, pemimpin perang saja; tetapi juga memasukkan profesi wartawan, buruh, pedagang, petani ke dalam contoh ulil amri.

Sebagai catatan akhir, kita memang diperintah oleh Allah untuk taat kepada ulil amri (apapun pendapat yang kita pilih tentang makna ulil amri). Namun perlu diperhatikan bahwa perintah taat kepada ulil amri tidak digandengkan dengan kata "taat"; sebagaimana kata "taat" yang digandengkan dengan Allah dan Rasul (periksa redaksi QS an-Nisa: 59). Quraish Shihab, yang disebut-sebut sebagai mufassir Indonesia, memberi ulasan yang menarik: "Tidak disebutkannya kata "taat" pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka. Dalam hal ini dikenal kaidah yang sangat populer yaitu: "La thaat li makhluqin fi ma'shiyat al-Khaliq". Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah)."

Demikianlah uraian singkat mengenai makna Ulil Amri. Semoga ada manfaatnya.

Nadirsyah Hosen adalah dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

http://media.isnet.org/isnet/Nadirsy.../ulilamri.html






pendapat ane sih, karena negara ini bukan negara Islam, menteri agama
bukan menteri agama Islam tapi menteri semua agama yang ada di Indonesia ini, tak perlulah ada sidang itu besok, karena toh masing-masing ormas udah tentukan sendiri, cukuplah sang menteri (politisi kan dia) mengumumkan keputusan masing-masing ormas itu (kapan awal ramadhan dst) lalu meminta kepada umat ini untuk mengikuti mana yang cocok sesuai seleranya (ente NU ya ikut NU, ente mau puasa mulai Jumat ya silakan, mo ikut Persis - monggo). Kan lebih damai jadinya. Lagi pula perbedaan itu kan RAHMAT.

Jadi ulil amri ya para kiai pemimpin ormas itulah, bukan menag

__________________________________________________

MENGAPA MUHAMMADIYAH MEMAKAI SISTEM HISAB DALAM PENETAPAN AWAL BULAN QAMARIYAH?

13 Juli 2012 09:56 WIB

Penulis : MPI PWM Kalsel

Oleh:
Drs. H. Tadjuddin Noor, SH, MH.
Wakil Ketua PW. Muhammadiyah Kalsel


Argumen Muhammadiyah dalam berpegang kepada Hisab seperti yang disampaikan Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. berikut:
Pertama,semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS. 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS. Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Kedua,jika spirit Qur’an adalah hisab, mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az-Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi Saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim, “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari.”

SELANJUTNYA
VVV
VV
V
Dlm kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qardawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.
Ketiga,dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.
Keempat,rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajat dan di bawah lintang selatan 60 derajat adalah kawasan tidak normal, dimana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melebihi 24 jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.
Kelima,jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.
Keenam,rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijjah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.
Argumen" di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras di seluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita memegangi hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat.”
Sebagaimana diketahui pada garis besarnya sistem penetapan awal bulan Qamariyah ada dua yaitu hisab dan ru'yah. Kedua sistem ini bermaksud untuk mengamalkan sabda Rasulullah SAW tentang penentuan awal bulan khususnya bulan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah, yaitu :
Ru'yatuI hilalyang dalam istilah astronomi disebut observasi secara langsung awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawwal yaitu sabda Rasulullah SAW yang artinya: "Berpuasalah kamu ketika melihat bulan (bulan sabit Ramadhan) dan berbukalah kamu ketika melihat bulan (bulan Syawwal) maka jika mendung hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya'ban tiga puluh hari. (hadis ru'yah, dalam Kitab Shahihul al-Bukhari, hadis yang ke-940). Menurut prinsip ru'yat penentuan awal bulan harus dibuktikan dengan melihat bulan sabit (hilal) di atas ufuk pada hari yang ke 29. Jika hilal tidak berhasil dilihat karena mendung atau tertutup awan maka harus diistikmalkan/disempurnakan 30 hari. Ru'yah berasal dari akar kata ra'a yang artinya melihat dengan mata telanjang sebagaimana di zaman Rasulullah Saw. Jadi golongan ahli ru'yah ini berpatokan kalau sudah melihat bulan sabit (baru), baru hidup bulan (datang bulan baru). Kalau tidak melihat bulan karena mendung atau tertutup awan maka bulan masih belum hidup (masih tanggal 30), sehingga tanggal satu bulan baru pada besok lusa. demikianlah pendapat ulama dari kalangan mazhab Syafi'i antara lain Ibnu Hajar Al Haitami dalam kitab Tuhfah juz ke IIIhal 374 yang intinya mewajibkan puasa dikaitkan dengan ru'yatul hilal yang terjadi setelah terbenam mata hari bukan karena wujudnya hilal walaupun bulan sudah tinggi di atas ufuk kalau bulan tidak terlihat belum masuk bulan baru.
Sistem hisabmenurut Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A.yang disampaikan dalam pengajian Ramadhan 1431 H PP Muhammadiyah di Kampus Terpadu UMY. “Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtima', ijtima' itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk.”
Pada prinsipnya hisab berdasarkan sistem ijtima, yaitu antara bumi dan bulan berada pada satu garis lurus astronomi. Bulan menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi bumi dalam waktu 29 hari 44 menit 27 detik atau satu keliling. Jika ijtima terjadi setelah matahari terbenam pada hari ke 29 maka besoknya terhitung hari yang ke 30 (bulan baru belum wujud), tetapi jika ijtima terjadi sebelum mata hari terbenam hari yang 29 maka besoknya terhitungbulan baru atau tanggal 1. Hisab ini berdasarkan firman Allah Surah Yunus ayat 5 yang artinya :
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.
Dalam hadis Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya: Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari maka janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat bulan dan janganlah kamu berhari raya sebelum kamu melihat bulan, jika mendung "kadarkanlah" olehmu untuknya.
Para ulama berbeda pendapat tentang arti kata-kata "kadarkanlah". Ada yang menafsirkan sempumakanlah 30 hari. Ada pula yang berpendapat arti "kadarkanlah" tersebut adalah "fa'udduhu bil hisab" artinya kadarkanlah dengan berdasarksn hisab dari pendapat lbnu Rusyd dalam kitabnya Bidayalul Mujtahid. Demikian pula Ibnu Syauraidi Mutarrif dan Ibnu Qulaibah bahwa yang dimaksud "kadarkanlah" ialah dihitung menurut ilmu falak. Ulama Syatriyah yakni Imam Ramli dalam kitabnya Nihayatul Mujtahid Juz III hal. 148 menyatakan: Bahwa bagi ahli hisab dan orang orang yang mempercayainya wajib berpuasa berdasarkan hisabnya. Demikian pula kalau ada orang yang mengaku telah melihat bulan padahal menurut perhitungan hisab bulan belum terwujud maka kesaksian ituditolak (Tuhfah Juz IIIhal. 382). Aliran baru Imam Qalyubi menjelaskan ada 10 pengertian yang dikandung dalam hadis shumu liru'yatihi, diantaranya adalah ru'yah diartikan pada ilmu pengetahuan, maka pendapat ahli hisab tentang bulan atau tanggal dapat diperpegangi (Qalyubi Juz II hal 49), jadi ru'yah tidak mesti dengan mata telanjang.

Mengapa Muhammadiyah memakai sistem hisab ?
Prinsip yang selalu dianut oleh persyarikatan Muhammadiyah adalah setia mengikuti perkembangan zaman kemajuan sains dan teknologi yang menyelaraskan dengan hukum-hukum Islam. Inilah yang dikenal sebagai tarjih & pemikiran. Apalagi masalah keumatan khususnya dalam penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal, para ahli hisab Muhammadiyah yang tergabung dalam Majelis Tarjih dan Tajdid telah memberikan pendapatnya kemudian dituangkan dalam surat keputusan pimpinan pusat Muhammadiyah tentang penetapan awal Ramadhan dan Syawal.
Hukum yang ditetapkan Muhammadiyah harus berangkat dari dalil Naqli Al-Qur'an dan As-Sunah Shahihah dan dari acuan pokok tersebut dikembangkan berdasarkan kaedah Ushul Fiqh.
Muhammadiyah dalam penentuan awal bLn menggunakan sistem hisab hakiki wujudul hilalartinya memperhitungkan adanya hilal pada saat matahari terbenam dan dengan dasar Al-Qur'an Surah Yunus ayat 5 di atas dan Hadis Nabi tentang ru'yah riwayat Bukhari. Memahami hadis tersebut secara taabudi atau gairu ma'qul ma'na/tidak dapat dirasionalkan, tidak dapat diperluas dan dikembangkan sehingga ru'yah hanya dengan mata telanjang tidak boleh pakai kacamata & teropong dan alat-alat lainnya, hal ini terasa kaku dan sulit direalisasikan. Apalagi daerah tropis yang selalu berawan ketika sore menjelang magrib, jangankan bulan, matahari pun tidak kelihatan sehingga ru'yah mengalami gagal total.

SELANJUTNYA
VVV
VV
V
mantap gan

kalo ane sih nunggu pemerintah rapat aja sih

nih yang butuh sms ucapan Kumpulan SMS Ucapan Selamat Puasa,Lebaran,Tahun Baru [Update]



Posted with kaskusBetaQR