KASKUS

Baru sadar setelah 1 tahun

Pengalaman berikut nyata TS alami sendiri sekitar tahun 2003 yang lalu, semoga agan² dapat turut mengambil pelajaran, hikmah serta meluruskan cara pandang terhadap semua kejadian

Waktu itu aq adalah pekerja level terbawah pada pabrik konveksi. Hubungan kerja dengan sesama rekan sangat baik. Aq kerja ditempat kerja tersebut tahun 2002 sampai akhir 2008, 6 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk cukup tahu seluk beluk perkerjaan apalagi sifat pekerjaan tersebut monoton dan itu-itu saja, 6 tahun juga bukan waktu yang terlalu pendek untuk cukup tahu sifat masing-masing rekan kerja dan atasan dari a sampai z.



Bukan rahasia lagi, banyak pabrik di Indonesia ini memberi upah hanya sekitaran UMR, yang “M” disini berarti orang akan hidup dalam kenyataan yang serba minim jika hanya mengandalkan satu sumber penghasilan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk seorang bujang penghasilan tersebut cukup bisa membiayai keperluan pokok sehari-hari, dan memang cukup untuk bertahan sambil sedikit² menyisakan uang sebagai tabungan masa depan.

"Badai baru saja datang"
Awal masa kerja disitu relationship ku dengan rekan² kerja cukup bagus dan bersinergi dengan baik sampai pada suatu hari masuk seorang karyawan baru si “X” yang dikemudian hari memporakporandakan kebersamaan yang sudah berjalan cukup harmonis selama ini.

Tidak habis pikir juga, ada orang sepicik dirinya. Memang diakui si “X” memiliki kinerja yang sangat baik, cekatan, mampu mencapai target, penurut pada atasan, namun di sisi lain. sifat negatifnya sangat kelewatan, diantaranya adalah suka mencari muka. Cara carmuk yang dia pakai tidak sekedar menunjukkan kebaikan serta prestasi untuk merebut hati atasan , tapi juga dengan menjelek-jelekkan dan bahkan “mencelakakan” rekan kerjanya agar “gagal” mencapai target kerja harian masing-masing. Bisa ditebak, dalam waktu singkat dia sangat disukai atasan dan seolah menjadi anak emas dari segala sisi.

Kami sebagai rekan² senior awalnya masih cukup sabar, namun lama kelamaan isu tersebut menjadi sangat sensitif dan membuat kami kehabisan kesabaran saat diadakannya uang tambahan berupa bonus bulanan.
ya... tentu saja itu menjadi hal yang sangat sensitif sebab bonus bulanan tersebut banyak sedikit nominalnya dihitung berdasar pencapaian target.
Bukankah angin segar, gaji kami yang hanya lebih sedikit dari UMR diiming-iming dengan tambahan yang seharusnya lumayan namun terpaksa hanya mendapat nominal kecil gara-gara dijegal si anak baru tersebut.
Muak rasanya, dan sebenarnya memalukan bahwa kami jadi saling mendendam, persaudaraan pecah berkeping-keping demi perebutan "tambahan uang belanja bulanan" beberapa ratus ribu rupiah saja. Apa yang telah terbina cukup baik selama ini seolah berubah menjadi sesuatu keadaan yang belum pernah ada. sungguh.. kami serasa bekerja bersama seekor binatang buas yang siap mencelakakan kami jika sampai lengah dan kurang berhati-hati. dongkol... dongkol... dan terus bertambah dongkol yang berkepanjangan.


Solusi Damai
Sebagai senior, juga sebagai orang yang lebih “waras” sekaligus tidak ingin keributan. Aq memilih cara sendiri untuk menjauhi semua “kebusukan” interaksi kerja yang kian hari kian memanas. Berbekal tekad, waktu itu aq hampir setiap hari kewarnet mencari-cari lowongan kerja, tujuannya untuk mencari tempat kerja baru dan mencari sumber penghasilan lain yang diharapkan lebih menentramkan hati.
Selain mengirim ratusan lamaran via online aq juga menempuh cara lain yaitu datang ke kantor pos langsung, karena di kantor pos tersebut banyak ditempel lowongan kerja lokal yang biasanya terus bergulir. Hasil kegigihan ini luar biasa, dalam beberapa bulan aq menerima puluhan panggilan interview kerja, bahkan pernah dalam sebulan mendapat 15 panggilan interview. Rata-rata semuapanggilan aq datangi, bahkan pernah kejadian dapat dua panggilan ditempat yang jauh berbeda pada hari dan jam yang sama. posisiku memang masih bekerja di pabrik konveksi yang “memanas” tersebut. Namun meski demikian tidak ada kesulitan untuk sekedar ijin atau tukar shift dengan teman lain agar dapat memenuhi panggilan interview yang ada. ya... teman-teman lain cukup toleran, mereka tahu upayaku menghindari "global warming" di pabrik konveksi dan bahkan beberapa diantara mereka juga mencoba hal yang sama.

"Petualangan interview"
Banyak tes dan interview yang sudah aq datangi, banyak yang menawarkan gaji besar, beberapa perusahaan cukup jauh dari tempat tinggalku (aq jadi mundur, sebab sayang aq juga masih sambil kuliah), kebanyakan perusahaan tempat interview menawarkan status awal sebagai karyawan kontrak (klo dipikir² aq jadi ragu lagi, sebab sayang… bagaimanapun di pabrik konveksi yang “memanas” tersebut statusku sudah karyawan tetap jadi masih berat untuk meninggalkan) oleh karenanya di beberapa perusahaan aq langsung bilang mundur saat diinterview dengan berbagai alasan yang menurut perhitunganku tidak bisa ditawar².
Memang beberapa perusahaan gagal kumasuki, namun tidak sedikit yang menyatakan aq diterima walau akhirnya tidak aq datangi. Bagaimana tidak bingung, rasanya masih takut melepas status karyawan tetap untuk menuju tempat kerja baru dengan status kontrak, aq juga takut kuliahku kacau jika mengambil tempat kerja baru yang terlalu jauh, dsb…dsb…


"Tak kenal lelah"
Perjuangan tidak berhenti sampai disitu, aq masih terus berjuang mencari-cari kerja berbulan-bulan, sehingga lama-kelamaan aq mendapati tingkatan seolah interview kerja adalah tantangan untuk mengalahkan trik debat interviewer selain untuk mencari kesempatan diterima. nekat hanya dengan berbekal banyaknya pengalaman interview sebelumnya. (sedikit menyeleweng dari tujuan awal mencari kerja). Tapi meski demikian tetap saja pada setiap interview, aq coba cari informasi bonafiditas perusahaan yang memanggil tes wawancara tersebut. Hingga suatu hari…. Jreng.. Jreng… Perusahaan yang sangat keren (gedungnya ok, gossip² gajinya disitu sangat besar) memanggilku untuk interview kerja disuatu pagi jam 9.

Aq sudah sangat bersemangat dari saat berangkat, bahkan tambah tersanjung saat baru memarkir kendaraan di depan perusahaan tersebut handphone sudah ditelepon lagi agar cepat² masuk. Pokoknya sangat wow, sejak masuk perusahaan diri ini sudah dibuat merasa “gue banget” karena dari ruang lobby sampai kedalam² system gedungnya full automatisasi dan hi tech.
Ya… aq adalah satu-satunya pendaftar yang dipanggil interview untuk lowongan teknisi dengan persyaratan paham pemrograman PLC (salah satu system pemrograman controller untuk automatisasi mesin). Rasanya semakin berbesar hati, sebab meski saat itu aq bekerja di pabrik konveksi namun berpengalaman kerja pada bagian manufacturing engineering di perusahaan yang aq pernah kerja sebelumnya dan sehari-hari bergelut dengan PLC . (ket: sebelum kerja di pabrik konveksi, aq sudah pernah kerja di 2 pabrik lain dengan bidang kerja yang berbeda).

Pada kesempatan interview tersebut aq tidak sekedar disidang oleh 3 orang berdasi yang tentu saja mereka adalah orang-orang yang menduduki top level management. namun ditambah satu lagi yaitu seorang supervisor pada departemen yang akan aq masuki,
aq dites langsung dengan disuguhi beberapa komponen automatisasi dan sebuah console kecil yang digunakan untuk programming. Aq dituntut untuk membuat program dalam waktu setengah jam, agar dapat menjalankan simulasi mesin dengan flow sesuai dengan yang para interviewer inginkan. Dan BERHASIl….. senang rasanya, hilang sudah rasa deg-degan yang sempat merusak konsentrasi. Kulihat reaksi mereka cukup puas, ... ya.. bayangkan saja anda seperti tes praktek belok² saat mencari SIM, dan anda tidak sedikitpun menyenggol apalagi menjatuhkan pembatasnya.... seperti itu lah kesenangannya. terasa sempurna tes yang telah dilalui..
setelah tes itu nampaknya ada interview tambahan lagi oleh orang² tadi dan hanya memberi tahu bahwa keputusan aq diterima atau tidak diperusahaan tersebut baru akan dikabarkan lewat telpon sekitar seminggu lagi. well... that's not too long...

"Mungkin mukaku tampak senantiasa berseri"
Besoknya, Aq kembali menjalani kerja di pabrik konveksi yang “memanas”, namun kali ini suasana kerja sudah tidak mengusik batin sama sekali. Karena aq sudah sangat bahagia mempunyai harapan kerja baru yang sangat menjanjikan, dan sangat sesuai yang aq impi-impikan. aneh ya.... ternyata semua keadaan hanyalah sebatas bagaimana kita menghadapi dan menanamkannya dihati... buktinya waktu penungguan seminggu itu terasa adem-adem saja walau masih dikelilingi "bara-bara" Mr X. hehehe....

"Deg deg plus"
Akhirnya seminggu kemudian tibalah hari keputusan yang ditunggu-tunggu, dari pagi aq sudah memasang telingga, tak lupa handphone sudah kondisi batere full. Semua OK, aq tinggal menunggu akan disuruh bersiap bagaimana besok saat hari pertama masuk kerja. Namun….. dag dig dug…. Berkali-kali aq mengecek hp yang disaku, tidak ada panggilan masuk, tidak pula ada sms. Pagi kuharap siang, siang kuharap sore, hingga malam menjelang…… Ya Allah….... Memang kabar yang kuharapkan tersebut tidak pernah aq terima.
Sungguh, seolah tidak percaya... hingga hari-hari besoknya aq masih sempat berharap mendapat kabar tersebut meski diawali dengan kosakata "maaf mas kami terlambat baru ngasih tahu sekarng....." tapi memang semua mimpi itu tidak juga kunjung terjadi..

"Kembali ber sauna ria"
berat rasanya menerima kenyataan tersebut, seperti terpukul…... apa yang salah? Padahal interview semua oke oke saja, tes praktek aq berhasil, ditambah lagi aq lah satu-satunya orang yang dites.
Kucoba ikhlas meski berat, kucoba menghibur diri ini semua sudah takdir tuhan, namun satu hal yang membuatku merasa pahit adalah bahwa ini berarti aq harus kembali pada kenyataan tetap kerja di tempat yang kian hari kian “memanas”.

Cukup lama sampai benar-benar berhasil mencoba untuk tabah, bukankah masih banyak tempat kerja lain, bukankan sebelumnya aq dengan enteng justru menolak banyak tempat kerja baru, ya .. tidak bisa dipungkiri kejadian tersebut membuatku down untuk “berpetualang” mendatangi panggilan-panggilan interview lain…. Ah sepertinya memang Allah berkehendak mendewasakanku atau bermaksud mengajarkan sisi kehidupan dengan cara yang kurasa berat di pabrik konveksi ini.


"Saat sudah melupakan"
Satu tahun kemudian, aq jalan-jalan santai dengan sepeda motor. tanpa rencana mau kemana, hanya sekedar jalan-jalan mengisi waktu sambil cuci mata. Tidak sadar, aq melewati depan perusahaan yang dulu sempat membuat hatiku membumbung tinggi berharap bekerja disitu…, Lho......tunggu... tapi mana perusahaannya???.... seolah tidak percaya... ini tidak sedang bermimpi... mana perusahaanya?.....
Masya Allah….. Allahu akbar, perusahaan tersebut sudah "rata dengan tanah…"..
dan yang terlihat disitu hanyalah alat-alat berat yang sedang menyelesaikan tugasnya

Alhamdulillah….. percaya atau tidak. Hari itu aq benar-benar merasa sangat bersyukur dulu tidak diterima diperusahaan tersebut, apa jadinya kalau dulu diterima pasti aq sudah menjadi pengangguran karena perusahaann gulung tikar.
Alhamdulillah…. Sungguh kerdilnya manusia, menilai sesuatu hanya secara sempit berdasar pada panca indera, hati dan akal… padahal yang menggenggam dunia ini adalah Allah, semua sudah berjalan dalam pegaturannya yang luar biasa seimbang.
Subhanallah… Alhamdulillah, meski berat sekali namun aq bersyukur masih tetap bekerja di pabrik konveksi walau suasana memanasnya tak kunjung reda. Namun berbekal "kurikulum" pelajaran Tuhan ini sekarang aq sudah memiliki positif thinking yang jaaauuuh lebih besar, bahwa semua sudah diatur oleh Allah tinggal kujalani saja dengan penuh husnudzan dan suatu saat hikmahnya aq temui…..
Astagfirullahal’adzim, dulu aq sempat kecewa, sungguh Maha besar Allah dengan segala ilmu tiada batas yang ada pada-Nya. Allahu Akbar.... Allahu Akbar....


"Hikmahnya"
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi agan² sekalian, bahwa semua pengalaman hidup ini adalah untuk kebaikan kita juga. Tinggal bagaimana kita menjalani dengan ikhlas dan penuh kesyukuran, sedikitpun jangan pernah berprasangka buruk pada Allah, kita hanyalah makhluk yang sangat kecil dibanding dengan kuasa- Nya. Semua hanya akan terjadi atas kehendak dan ijin Allah SWT, dan Insya Allah semua kejadian itu adalah untuk kebaikan kita juga...... Subhanallah

Mampir Gan:
Masih berani bikin trit di Kaskus?
Aku benci berJILBAB... (Lihat ini ...!!!)
Jangan takut repost!
Inilah yang seharusnya ditakuti


By: F16







.
baca koran siang-siang
semoga kedepan lebih baik ya gan
panjang bener

baca koran siang2 jg dah
oh share pengalaman kerja tah, aku kirain apa.
Subhanalloh.....nice info gan
pertamax kah
panjang banget.
numpang baca dulu gan
Quote:Original Posted By Ikrom85
Subhanalloh.....nice info gan


Hikmahnya luar biasa gan, sampai sekarang pengalaman tsb membantu ane untuk selalu berpositif thinking
terharu ane baca cerita ente...
menarik gan ceritanya
itu biasa koq gan dalam dunia kerja..
cerita yang menyentuh..
Buah dari kesabaran....
panjang bener gan....laen kali dikasih gambar dikit kek biar ga bosen...hahaha becanda

ane nyimak dulu ya gan
kok sepertinya anda ini type yg pasrah ya

kalau gw kerja. ada pesaing yg mampu bekeja lebih baik kan

merupakan suatu tantangan , bagaimana biar nggak sampai

kalah,

jangan jadi orang yg gampang menyerah
Quote:Original Posted By sanam
kok sepertinya anda ini type yg pasrah ya

kalau gw kerja. ada pesaing yg mampu bekeja lebih baik kan

merupakan suatu tantangan , bagaimana biar nggak sampai

kalah,

jangan jadi orang yg gampang menyerah



bukan masalah menyerahnya gan, tp persaingannya gw tetep berpedoman pada cara yang sehat. gw tipe org memilih menjaga etika, daripada tu org ngajak ribut klo curang dibales curang mending gw cari opsi yg laen. agan sih ga ketemu lgsg seperti apa orangnya
panjang gan
ane berharap di ringkas lagi jadi 1 paragraf ( 5 kalimat)
Ceritanya menarik gan , penuh makna ya.
×